Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian Bagian 52

Bagian 52

“Suheng, tentu saja kau sudah menduga bahwa siaute menemukan sebuah peristiwa yang luar biasa. Tetapi kalau harus diceritakan dalam sesaat, rasanya bingung bagaimana harus memulainya. Oleh karena itu, siaute harus menyusun dulu uraian yang tepat agar dapat menceritakannya dengan jelas dari awal hingga akhir. Apalagi kau tahu selamanya siaute tidak pandai berbicara…”

Wajah Kaucu Pek Kut Kau berubah agak lunak mendengar kata-katanya. Dia menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Cukup beralasan juga kata-katamu itu.”
Sementara mereka berbincang-bincang, kedua-duanya sudah berlari sejauh lima puluhan li. Tiba-tiba terlihat sebuah lekukan di Bagian depan. Bentuk tempat itu agak aneh, di kiri kanan mereka terdapat bukit bebatuan yang tinggi. Keadaan tempat itu pun sepertinya agak berbahaya. Ada kemungkinan tiba-tiba terjadi tanah longsor. Apabila benar demikian, tidak ada tempat lagi untuk melarikan diri sehingga mereka bisa terkubur hidup-hidup di tempat tersebut.

Setelah membelok di lekukan tadi, mereka memasuki lembah yang terjal. Di depan pintu masuk lembah itu, terdapat empat orang laki-laki bertubuh kekar dan bersenjata tajam menjaga di sana.

Melihat keadaan ini, Tan Ki tahu mereka sudah sampai di tempat tujuan. Matanya mengerling dua kali, tiba-tiba timbul sebuah akal bagus di benaknya.

“Suheng, kita sudah sampai di markas sementara, begitu masuk ke dalam pasti banyak orang-orang dari Lam Hay Bun. Kalau siaute menceritakan kejadian aneh yang siaute temui, mungkin akan berpengaruh terhadap nama baik pihak kita. Jangan-jangan mereka berpikir bahwa para tokoh Si Yu hanya mengandalkan penemuan ajaib saja baru mempunyai ilmu yang tinggi.. Dengan demikian pamor Pek Kut Kau kita jadi merosot.”

Mendengar kata-katanya sepasang alis Kaucu Pek Kut Kau langsung menjungkit ke atas.

“Masa begitu hebat pengaruhnya?”

“Sebelum beristirahat malam nanti, siaute akan menceritakan semuanya sampai jelas.
Suheng nanti pasti akan mengerti sendiri benar tidaknya ucapan siaute ini.”

Terhadap kata-kata Tan Ki, Kaucu Pek Kut Kau itu seakan ikut bergairah. Dia percaya sepenuhnya apa yang diucapkan anak muda tersebut. Oleh karena itu, dia juga tidak mendesak lebih lanjut.

Setelah berjalan kurang sepenanakan nasi, mereka memasuki celah yang sempit, kemudian masuk ke dalam sebuah jalan berbentuk terowongan. Keadaan langsung berubah, di hadapan mereka terdapat sebuah ruangan batu yang luas sekali. Di sana sudah banyak berkumpul orang-orang dari kedua pihak, tetapi melihat munculnya Kaucu Pek Kut Kau dengan adik seperguruannya, mereka segera membalikkan tubuh dan menjura dengan hormat.

Sembari berjalan, secara diam-diam Tan Ki memperhatikan keadaan di dalam goa itu dengan seksama. Tempat mana kira-kira yang terdapat alat rahasia atau perangkap.
Semuanya dihapal luar kepala. Seandainya dia gagal dalam tugas, mungkin masih ada harapan untuk mengundurkan diri.

Sementara dia sedang memperhatikan keadaan tempat itu dengan seksama, suasana di hadapannya jadi berubah. Keadaan di hadapannya terang benderang, rupanya mereka sudah sampai di sebuah tanah kosong yang cukup luas. Di sekitar tumbuh rumput-rumput liar dan ada beberapa pondok yang dibangun asal-asalan. Mungkin hanya sebagai tempat perlindungan untuk sementara. Tetapi siapa yang menyangka bahwa di lembah yang terpencil ini justru berdiri markas orang-orang Lam Hay Bun.
Sepasang mata Tan Ki memperhatikan dengan seksama pondok yang ada di tengah- tengah. Pondok yang satu ini jauh berbeda dengan pondok-pondok di kiri kanannya.
Tampaknya pondok tersebut jauh lebih kokoh dari yang lainnya. Ukurannya juga jauh lebih besar. Dia segera menduga bahwa pondok yang satu ini merupakan tempat tinggal sementara si tocu sakti dari Lam Hay Bun yang belum pernah bertemu muka dengannya, namun selalu berhasrat mencabut nyawanya itu.

Ternyata dugaannya memang tidak salah. Kaucu Pek Kut Kau langsung mengajaknya menuju pondok tersebut.

Kalau Tan Ki bukan seorang pemuda bernyali besar, pasti hatinya dilanda ketegangan yang tidak terkirakan masuk ke sarang harimau ini. Tetapi sejak awal hingga akhir, penampilannya masih begitu tenang dan wajar.

Dulu dia sudah sering menyamar sebagai berbagai tokoh yang berlainan. Tua, muda, bungkuk, pincang, semua pernah dicobanya. Kali ini menyamar sebagai Kim Yu, hanya mengulangi apa yang sudah dilakukannya dulu. Pokoknya dia harus bertindak sesuai perkembangan yang terjadi.

Di depan pondok juga terdapat empat orang laki-laki kekar bersenjata tajam yang menjaga. Sikap mereka seperti orang yang akan menyambut musuh tangguh. Begitu masuk ke dalamnya, langsung timbul perasaan yang janggal.

Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat kedua Bun Bu-siang dan ketiga orang tongcu dari Lam Hay Bun duduk di atas selembar permadani yang tebal. Mereka sedang memejamkan mata dengan kepala tertunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun, seakan sedang menguras otak memikirkan suatu masalah yang rumit. Sikap mereka juga seperti menunggu kedatangan seseorang. Tampang mereka semuanya serius. Juga menunjukkan penampilan yang sopan.

Melihat situasi ini, hati Tan Ki sempat bimbang sesaat. Di samping itu dia juga khawatir kalau terlalu banyak bicara malah mendatangkan bencana. Kemungkinan kedoknya bisa terbuka. Terpaksa dia mengikuti Kaucu Pek Kut Kau berjalan ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata atau menyapa siapapun. Mereka mencari tempat yang kosong dan duduk di sana.

Setelah menunggu kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, tiba-tiba terdengar suara dentingan logam yang menyusup ke dalam gendang telinga. Sumbernya dari luar pondok dan semakin lama semakin mendekat. Kemungkinan tujuannya memang pondok yang satu ini.

Mendengar suara dentingan ini, orang-orang yang tadinya duduk di atas permadani dan beberapa buah kursi di samping langsung berdiri serentak. Mereka menghadap ke depan pintu. Sikap mereka menunjukkan hormat yang tidak terkirakan.

Meljhat sikap mereka, Tan Ki sempat merasa bingung. Tetapi akhirnya terpaksa dia ikut berdiri seperti orang-orang lainnya. Terdengar suara lonceng berbunyi sebanyak tiga kali, sedangkan suara dentingan logam tadi langsung berhenti.

Kemudian terdengar lagi seseorang berteriak dengan lantang, “Toa Tocu tiba!” Diam-diam Tan Ki memaki dalam hati: ‘Huh! Sungguh besar lagak si Toa Tocu itu!’

Orang yang berjalan di Bagian depan merupakan seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, tubuhnya gemuk pendek, telinganya besar dan matanya bulat. Kalau ditilik dari penampilannya, kemungkinan dia inilah sang tocu yang misterius itu.

Di samping kirinya mengiringi Hua Pek Cing yang berwajah pucat seperti orang sakit parah. Sedangkan di samping kanannya berjalan dua orang gadis, mereka adalah kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie.

Begitu orang-orang ini masuk ke dalam pondok, suasana semakin hening mencekam.

Tampak anggota Lam Hay Bun berdiri dengan dada membusung, tangan lurus ke bawah dan bernafas pun tidak berani keras-keras. Menunggu sampai Toa Tocu itu duduk di atas singgasananya yang terdapat di tengah-tengah, baru mereka duduk kembali di tempat masing-masing.

Tan Ki menggunakan kesempatan ini memperhatikan Toa Tocu tersebut lekat-lekat.
Yang paling ditelitinya justru sinar mata orang itu, karena sampai di mana tingginya tenaga dalam seseorang biasanya dapat terlihat dari sinar matanya yang menyorot tajam.

Tetapi ketika pandangannya menatap sinar mata Tocu itu, untuk sesaat tanpa dapat ditahan lagi dia jadi tertegun. Ternyata Tocu yang berambisi besar itu mempunyai sinar mata yang tidak berbeda dengan orang biasa. Namun bola matanya justru lebih bening dan berkilauan daripada bola mata seorang gadis.

Bagian LVI

Sekonyong-konyong… sepasang alis Toa Tocu itu berkerut-kerut, dia berkata dengar nada suara yang berat, “Aneh sekali, di sini terdapat serangkum hawa pedang yang tajam!”

“Hawa pedang?”

Mendengar kata-katanya, tanpa sadar mereka serentak mengulangi kata-kata Toa Tocu tersebut. Rupanya mereka tercekat oleh ucapan Toa Tocu tadi.

Perlu diketahui bahwa kepandaian Toa Tocu dari Lam Hay ini sudah mencapai taraf yang tidak terkirakan tingginya. Hawa pedang yang dikatakan olehnya merupakan kiasan bahwa tempat tersebut mengandung hawa pembunuhan yang tebal!

Oleh karena itu, para hadirin yang ada di dalam pondok itu menjadi tergetar hatinya. Untuk sesaat mereka malah termangu-mangu. Tampak Toa Tocu itu berdiri dari tempat duduknya perlahan-lahan. Matanya menyapu ke arah para hadirin.

“Aku bisa mengatakan pada saudara-saudara sekalian, bahwa di dalam pondok ini terdapat seseorang yang mempunyai niat tidak baik…”

Begitu kata-katanya terucapkan, orang-orang yang ada di dalam pondok itu langsung saling pandang antara yang satu dengan yang lainnya. Tidak ada seorangpun yang berani menyahut.

Mendadak Tong Ku Lu merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan berdiri menjura dalam-dalam.

“Apakah Tocu sudah menemukan siapa adanya orang itu?”

“Untuk sementara ini masih sulit dipastikan. Hawa pedang ini terasa sangat mendesak dan tajam sekali. Kalau bukan karena aku sudah mempelajari ilmu Kiu Coan Sikang atau ilmu ketajaman Indera Sembilan Putaran, mungkin aku sendiri juga tidak akan merasakannya.”

Mendengar ucapannya, hati Tan Ki malah menjadi lega. Di samping itu otaknya juga berputar mencari jalan untuk menghadapi musuh agar tugasnya dapat berhasil.

Mendadak sebuah ilham muncul di benak kepalanya, dia teringat suatu cerita legenda yang pernah dibacanya. Diam-diam dia berpikir dalam hatinya: ‘Mengapa aku tidak meniru perbuatannya yang menggunakan kesempatan membunuh kaisar?’

Pikirannya tergerak, perlahan-lahan dia berdiri.

“Mendengar kata-kata Toa Tocu yang mengatakan hawa pedang yang tajam, aku jadi teringat suatu hal.” sembari berkata, dari selipan ikat pinggangnya dia mencabut sebatang pedang, kemudian terdengar dia melanjutkan kata-katanya. “Pedang ini aku dapatkan dari tubuh Bulim Bengcu wilayah Tionggoan, Tan Ki. Karena perasaan suka, aku menyimpannya. Kemungkinan hawa pedang yang Toa Tocu maksudkan terpancar dari pedang pendek ini.”

Toa Tocu melirik ke arahnya sekilas. Kemudian terdengar dia mendengus dingin. “Aku mengenali pedang tersebut sebagai hadiahku untuk Kiau Hun!”
Tan Ki tersenyum simpul. Dia berjalan ke depan dua langkah. Sepasang tangannya menyandang pedang tersebut dan perlahan-lahan melangkah mendekati Toa Tocu. Tidak seorangpun yang tahu hatinya saat ini sudah merencanakan suatu kejahatan. Segulung angin topan sebentar lagi akan melanda…

Tampak sinar mata orang-orang yang ada dalam pondok itu terpusat pada diri Tan Ki.
Mereka tidak mengerti apa maksud perbuatan Tan Ki ini.

Justru ketika hati mereka masih bertanya-tanya, kembali Tan Ki menghentikan langkah kakinya. Jaraknya dengan Toa Tocu itu hanya tinggal tiga langkah saja.

Setelah tersenyum ramah, dia menggerakkan pedang itu ke depan, tampak segurat sinar berwarna hijau yang berkilauan, pandangan mata menjadi samar dan serangkum hawa dingin menyelimuti pondok tersebut. Sembari tertawa Tan Ki berkata, “Mata Toa Tocu tajam bagai kilat, apakah Toa Tocu dapat melihat kejanggalan yang ada pada pedang ini?”

Sembari berkata, dia menyodorkan pedang itu ke hadapan Toa Tocu, tetapi arahnya justru dada sang Tocu tersebut.
Siapa kiranya Toa Tocu itu? Melihat cara Tan Ki menyodorkan pedangnya, sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas. Cara Tan Ki menyodorkan pedangnya jauh berbeda dengan cara yang digunakan orang biasa. Justru saat itu di hatinya sudah timbul perasaan curiga…

Mendadak Tan Ki membentak dengan suara keras. Tangannya yang menyodorkan pedang sekonyong-konyong menjadi cepat. Ca-haya berkelebat, dia langsung melancarkan sebuah serangan ke Bagian urat darah yang mematikan di dada Toa Tocu.

Perubahan yang tidak disangka-sangka ini begitu mengejutkan, sehingga orang-orang yang hadir dalam pondok itu menjerit kaget. Serentak mereka melonjak berdiri dari tempat duduk masing-masing.

Kejadiannya hanya sekejap mata.

Tiba-tiba Toa Tocu menghentakkan tubuhnya ke belakang, orang dengan kursinya sekaligus menggelinding mundur. Tampak gerakan pedang di tangan Tan Ki mengandung kecepatan yang tidak terkirakan. Meskipun ilmu Toa Tocu sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, tetapi dia juga tidak sempat menghindar. Secarik cahaya lewat di depan matanya, pundak kirinya terasa dingin, tahu-tahu terlihat darah segar menetes di atas tanah.

Kaucu Pek Kut Kau yang melihat adik seperguruannya tiba-tiba melancarkan serangan pada Toa Tocu dari Lam Hay Bun, tanpa dapat ditahan lagi hatinya menjadi tercekat. Dia segera membentak dengan suara keras, “Kau sudah gila!” sepasang kakinya menutul, tubuhnya berkelebat ke depan.

Sampai saat ini dia masih tidak tahu bahwa adik seperguruannya itu merupakan samaran orang lain. Ketika dia melesat ke depan, tiba-tiba dia melihat Tan Ki memutar tangannya dan menikam kepadanya. Angin kencang menderu-deru, Bagian wajahnya terasa diterpa hawa dingin. Rupanya serangan Tan Ki kali ini telah menggunakan tenaga dalamnya sebanyak tujuh Bagian.

Terdesak oleh serangan Tan Ki yang begitu hebat, Kaucu Pek Kut Kau terpaksa menarik kembali serangannya dan mencelat mundur. Untuk sesaat, hatinya merasa kesal juga marah. Akhirnya dia malah jadi termangu-ma-ngu. Tidak sepatah katapun sanggup diucapkannya.

Keadaan di dalam pondok itu menjadi agak kacau karena perubahan yang mendadak ini. Hua Pek Cing tergesa-gesa maju ke depan dan membangunkan gurunya. Sedangkan kedua Bun Bu-siang, Tong Ku Lu dan Cia Tian Lun langsung mengepung Tan Ki.

Sementara itu ketiga Tongcu saling lirik sekilas kemudian berdiri di belakang punggung Tan Ki. Apabila dia hendak melarikan diri, mereka akan menggunakan serangan secepat kilat untuk menahannya.

Bokongannya yang tidak membawa hasil tadi malah menjerumuskan dirinya dalam perangkap. Saat ini hati Tan Ki sudah bertekad untuk gugur sebagai pahlawan. Lagipula racun yang diberikan oleh Tian Bu Cu hanya dapat memperpanjang hidupnya sebentar lagi. Daripada mati tanpa diketahui oleh seorang-pun, lebih baik mengamuk di markas musuh. Apabila dapat membunuh beberapa orang jago dari pihak lawan, berarti dia juga
sudah meringankan rekan-rekan Bulim yang lain. Oleh karena pemikiran itulah, gayanya saat ini begitu tenang serta tidak terlihat kegentaran sedikitpun.

Toa Tocu mengerahkan hawa murninya untuk menghentikan darah yang mengalir.
Setelah itu tampak dia maju ke depan dua langkah dan membentak dengan suara tajam.

“Kau mendapat perintah dari siapa sehingga berani demikian kurang ajar terhadap diriku?”

Tan Ki tertawa lebar.

“Aku selamanya bertindak seorang diri. Tidak pernah ada orang yang berani memerintah diriku, juga belum pernah ada orang_ yang sanggup membuat aku takluk pada perintahnya!”

Toa Tocu itu tertegun sejenak.

“Mengapa nada bicaramu jauh berbeda dengan dulu?”

“Tentu saja. Kim Yu adalah Kim Yu, aku adalah aku! Bagaimana dua orang yang berlainan dapat dibandingkan persamaannya?”

Mendengar ucapannya, sekali lagi Toa Tocu tertegun. Dengan heran dia bertanya, “Lalu siapa kau sebenarnya?”

“Kalau kau ingin tahu boleh saja, tetapi jangan kau kira pikiranku sudah kurang waras!” sambil berkata, Tan Ki mengangkat tangannya lalu mengulapkan tangan itu ke wajahnya.

Puluhan pasang mata seperti terhipnotis, mata mereka membelalak lebar-lebar.
Semuanya memperhatikan Tan Ki lekat-lekat. Seakan sebentar lagi akan terjadi suatu keajaiban.

Perlahan-lahan… selembar wajah yang tampan dan gagah muncul dalam pandangan orang-orang yang ada dalam pondok itu. Otomatis hati mereka tergetar, rasa terkejutnya kali ini tak perlu ditanyakan lagi. Terutama Cin Ying dan Cin Ie, mereka lebih heran dari pada orang lainnya. Karena mimpipun mereka tidak menyangka bahwa pada saat dan tempat seperti ini Tan Ki bisa muncul di hadapan mereka.

Pikiran Cin le lebih polos, baru saja pundaknya bergerak sedikit, maksudnya ingin melesat ke depan, tahu-tahu Cin Ying telah menarik tangannya.

“Jangan gegabah! Dengan seorang diri Tan Siangkong menempuh bahaya seperti ini, pasti mempunyai alasan tersendiri. Lebih baik kita perhatikan dulu keadaannya baru mencari jalan. Kalau tidak, begitu kau keluar, mereka pasti akan mengetahui bahwa selama ini kita ada hubungan dengan orang-orang wilayah Tionggoan!”

Ketika mereka sedang berbicara itulah, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang keras. Serentak mereka memalingkan kepalanya, tampak Tan Ki sudah mulai bergebrak dengan salah satu Bun Bu-siang, Tong Ku Lu.
Kepandaian kedua orang itu hampir seimbang. Selisihnya tipis sekali. Begitu kekuatan mereka beradu, tubuh keduanya langsung terhuyung-huyung, kemudian tergetar mundur sejauh setengah langkah.

Hati Tan Ki sudah bertekad untuk mengadu jiwa di markas musuh ini. Pokoknya dia ingin membunuh lawannya sebanyak mungkin. Oleh karena itu, tanpa mengatur pernafasannya lagi, dia langsung menerjang kembali. Dengan jurus Kuda Berlari di Tengah Pegunungan, dia langsung melancarkan -sebuah serangan yang dahsyat.

Miao Fei Siong melihat anak muda ini langsung menerjang ke arah Tong Ku Lu tanpa memperhatikan sekitarnya. Dia mengira ini merupakan kesempatan yang bagus baginya untuk membokong. Tanpa bersuara sedikit-pun, dia langsung mendesak dari arah kiri. Telapak tanan kanannya terangkat dan secepat kilat dia menghantam ke depan.

Sepasang alis Tan Ki perlahan-lahan menjungkit ke atas. Dia menggeser ke kanan setengah langkah. Dengan jurus Naga Kuning Mengibaskan Ekor, dia menyambut datangnya serangan Miao Fei Siong dengan kekerasan. Pedang di tangan kanannya masih tetap pada posisi semula, yakni menikam ke arah Tong Ku Lu.

Jurus yang satu ini dikerahkannya dengan menempuh bahaya, karena perhatiannya harus terbagi kepada dua orang lawan. Dengan demikian tenaga dalamnya juga harus diatur agar seimbang. Sembari membalas dengan sebuah serangan, tangannya yang satu lagi harus menyambut bokongan yang lain pula.

Dalam waktu sekejap mata, benturan tenaga dan senjata langsung terjadi. Terdengar suara keluhan dan dengusan dingin yang berturut-turut. Bayangan tubuh manusia terus menerus berkelebat. Tong Ku Lu maupun Miao Fei Siong sama-sama terpental ke belakang.

Tan Ki sendiri masih berdiri tegak bagai gunung yang kokoh. Tubuhnya tidak bergeser sedikitpun, tetapi di sudut bibirnya terlihat darah mengalir. Sudah barang tentu, meskipun Tan Ki memiliki tenaga dalam yang hebat, namun menghadapi gabungan tenaga dua lawan tangguh yang mempunyai kekuatan dahsyat, tubuhnya tergetar sedemikian rupa. Dia merasa isi perutnya seperti membalik. Telinganya berdengung dan matanya berkunang-kunang.

Pada saat itu dia memang sudah bertekad gugur sebagai pahlawan. Dia tidak memikirkan keselamatan dirinya lagi. Ia juga sadar, apabila pertarungan ini diteruskan, kesempatannya untuk hidup tipis sekali. Namun dia tidak putus asa. Teringat akan harapan si pengemis sakti Cian Cong dan pamannya Yibun Siu San yang besar, semangatnya jadi semakin berkobar-kobar. Apalagi sebelumnya dia sudah menelan sebutir pil beracun pemberian Tian Bu Cu. Walaupun dia sanggup meloloskan diri dari tempat ini, tetap saja tidak sanggup meloloskan diri dari kematian.

Berpikir sampai di sini, tanpa dapat ditahan lagi bibirnya menyunggingkan seulas senyuman. Tetapi senyuman itu begitu mengenaskan dan pilu.

Tiba-tiba Tan Ki mendongakkan wajahnya mengeluarkan suara siulan yang panjang.
Nadanya melengking tinggi sehingga menggetarkan gendang telinga. Kemudian pergelangan tangannya berputar. Dengan jurus Bunga-Bunga Berguguran, pedangnya menimbulkan desiran angin yang bergulung-gulung. Sasarannya kali ini salah satu dari ketiga Tongcu Lam Hay Bun yang lihai, Ho Tiang Cun. Telapak tangan kirinya memainkan
sebuah jurus yang hebat, yakni Mengais Pasir di Atas Tanah. Dalam waktu yang bersamaan dia melancarkan sebuah serangan kepada Tio Hui.

Satu jurus dua gerakan, masing-masing menggunakan tenaga dalam yang berlainan. Hawa pedang dan angin yang terpancar dari pukulannya seperti menuju jalan masing- masing. Laksana dua orang yang menggunakan jurus berlainan, tetapi melancarkan serangannya dalam waktu yang bersamaan.

Ho Tiang Cun dan Tio Hui melihat serangannya begitu gencar dan dahsyat. Untuk sesaat mereka malah tidak berani menyambutnya dengan kekerasan. Pinggang meliuk dan kaki menggeser. Masing-masing mencelat mundur sejauh tiga langkah.

Sinar mata Tan Ki menyorotkan hawa pembunuhan yang tebal. Secara berturut-turut kembali dia melancarkan tiga belas jurus serangan. Cahaya berkilauan timbul dari pedang di tangannya. Pancarannya begitu kuat sehingga memenuhi jarak sekitar satu depaan.

Tiga orang tongcu, dua orang Bun Bu-siang dan Kaucu Pek Kut Kau dalam waktu seketika menjadi kalang kabut karena serangan Tan Ki yang dahsyat. Mereka terdesak mundur sehingga keadaan di dalam pondok itu menjadi kacau balau.

Tiba-tiba Tan Ki mengeluarkan suara bentakan yang keras. Kakinya bergerak mengejar Miao Fei Siong dari belakang. Tampak pedang pendek di tangannya meluncur cepat menikam ke depan. Dalam sekejap mata, dia menarik kembali jurus serangan yang telah dilancarkannya. Jurus ini dikerahkan dengan kecepatan yang tidak terkirakan. Baru saja pedangnya bergerak ke depan, tahu-tahu sudah ditarik kembali. Begitu cepatnya sehingga orang-orang yang ada dalam ruangan itu tidak sempat melihat jelas bagaimana cara tangannya melakukan gerakan.

Justru ketika dia melancarkan pedangnya kemudian menarik kembali, dalam waktu yang bersamaan terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Darah memercik ke mana- mana. Tubuh Miao Fei Siong terhuyung-huyung ke belakang seperti orang mabuk, kemudian terhempas di atas tanah dengan nyawa melayang.

Orang-orang di dalam pondok itu melihat gerakan tubuh dan tangan Tan Ki demikian hebat sehingga sulit dilukiskan dengan kata-kata. Hati mereka tercekat bukan kepalang. Wajah mereka menyiratkan perasaan ngeri yang tidak terkirakan.

Toa Tocu dari Lam Hay sendiri juga melihat cara Tan Ki yang begitu cepat sehingga sanggup membunuh salah seorang jagonya dalam sekejap mata, tetapi dia hanya mengeluarkan suara tawa yang dingin serta menyaksikan dari samping. Tampaknya dia menganggap Tan Ki seperti seekor ikan di dalam jala. Tentu saja dia tidak perlu turun tangan sendiri. Biar bagaimanapun sulit baginya untuk meloloskan diri dari tempat itu. Oleh karena itu, dia juga tidak perduli melihat salah seorang jagonya dapat terbunuh oleh Tan Ki dalam seke-japan mata.

Sementara itu, gerakan Tan Ki terlihat melemah. Tong Ku Lu segera menggunakan kesempatan itu untuk membalas menyerang. Biar bagaimana orang ini merupakan salah satu Bun Bu Siang dari Lam Hay Bun. Ilmunya tinggi sekali. Begitu jurus serangannya dikerahkan, segera terasa ada serangkum angin kencang yang menimbulkan suara siulan panjang.
Tubuh Tan Ki berkelebat, dia menghindarkan dirinya dari pukulan Tong Ku Lu. Belum sempat dia membalas menyerang, tanpa menimbulkan suara sedikitpun Ho Tiang Cun menerjang datang dari sebelah kiri. Pukulan dihantamkan ke depan sekaligus jari tangannya melancarkan sebuah totokan. Secara berturut-turut dia mengerahkan tiga jurus serangan.

Tio Hui seakan mengimbangi pukulan yang dilancarkan oleh Ho Tiang Cun. Dia melancarkan dua buah pukulan dan sebuah tendangan.

Menghadapi serangan yang gencar ini, mau tidak mau Tan Ki mencelat mundur berkali- kali. Kesempatannya melancarkan serangan terlebih dahulu hilang, keadaan jadi berbalik. Dia merasa situasi di hadapannya saat ini bukan main gawatnya. Apalagi saat ini dia tidak mempunyai peluang lagi untuk membunuh Toa Tocu, diam-diam hatinya merasa panik.

Ketika pikirannya sedang gelisah, tiba-tiba terdengar Tong Ku Lu berteriak dengan lantang, “Siapkan Tian Si Liok-tou (Enam Bintang Penggetar Langit)!”

Mendengar teriakannya, Tan Ki justru jadi tertegun.

Rupanya setelah bergebrak dengan Tan Ki sebanyak beberapa jurus, Tong Ku Lu sadar tenaga dalam mereka hampir seimbang. Tetapi jurus serangannya justru kalah aneh dan keji. Apabila pertarungan ini diteruskan, meskipun mereka dapat menggabungkan tenaga beberapa orang untuk meringkus Tan Ki, tetapi paling tidak harus melewatkan lima ratusan jurus. Oleh karena itu, pikirannya segera tergerak. Dia berniat menggunakan barisan Lam Hay Bun yang terkenal untuk mengepung Tan Ki. Setelah itu mereka tinggal menggunakan obat bius atau senjata rahasia untuk merubuhkannya.

Mendengar kata-katanya, Cia Tian Lun beserta rekan-rekannya yang lain langsung duduk bersila di atas tanah. Hua Pek Cing juga mencelat, keluar dan di Bagian pusat. Dia menggantikan kedudukan Miao Fei Siong yang sudah mati terbunuh oleh Tan Ki.

Barisan yang terdiri dari enam orang itu sudah dipersiapkan. Daya kerjanya langsung dilancarkan. Sebagai pembuka jalan, Kaucu Pek Kut Kau yang pertama-tama menghantamkan sebuah pukulan ke depan.

Indera penglihatan Tan Ki sangat tajam sekali. Otaknya juga cerdas. Setelah melihat sekilas, dia segera mengetahui bahwa keenam orang itu membentuk barisan dengan telapak tangan saling menempel. Seperti orang yang mengerahkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka dalam. Tanpa dapat ditahan lagi hatinya segera tergerak. Dengan cara saling menempelkan telapak tangan seperti itu, mereka dapat menggabungkan tenaga enam orang pada satu orang. Setiap serangan yang dilancarkan berarti merupakan kekuatan enam orang yang tentu saja dapat dibayangkan kehebatannya.

Diam-diam hati Tan Ki tercekat. Di samping itu dia juga ingin membuktikan dugaannya sendiri. Oleh karena itu dia segera menghimpun hawa murninya dan mendorong telapak tangannya ke depan menyambut serangan Kaucu Pek Kut Kau.

Begitu kedua telapak tangan saling beradu, Tan Ki langsung merasa jantungnya bagai dihantam oleh sebuah palu yang besar. Tubuhnya terpental ke atas satu kali, kakinya goyah dan sepasang pundaknya terhuyung-huyung.
Wajah Tan Ki perlahan-lahan berubah. Diam-diam dia berpikir di dalam hati: ‘Sungguh barisan Tian Si Liok-tou yang hebat!’

Sementara pikirannya masih tergerak, tiba-tiba Cian Tian Lun yang posisinya di tengah- tengah kembali melakukan penyerangan. Tenaga dalamnya bagai gunung yang rubuh, demikian dahsyatnya sehingga membuat hati Tan Ki tergetar.

Anak muda itu tahu, apabila dia menyambut lagi serangan Cia Tian Lun ini, pasti keadaannya tidak berbeda dengan sebelumnya. Berarti dia mengadu tenaga dalam dengan enam orang lawan sekaligus. Paling tidak dia akan terluka parah. Oleh karena itu, untuk sesaat dia tidak berani menyambut dengan kekerasan. Dia menggeser ke sebelah kiri satu langkah, pedang di tangannya digetarkan. Dengan sebuah jurus yang hebat, pedang di tangannya menimbulkan lingkaran cahaya dengan ukuran besar kecil.
Serangannya ditujukan kepada salah satu Bun Bu-siang dari Lam Hay Bun, yakni Tong Ku Lu.

Menghadapi serangannya yang begitu dahsyat, Tong Ku Lu malah seperti menganggap remeh. Dia tetap bersila di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun. Justru Ho Tiang Cun dan Hua Pek Cing yang masing-masing menghantamkan sebuah pukulan menahan serangan pedang Tan Ki.

Hawa amarah dalam dada Tan Ki jadi meluap. Jurus-jurus yang aneh serta keji dilancarkannya secara gencar. Saat itu juga, kilauan pedang memijar-mijar dan mendesak kepada enam orang tersebut.

Tidak tahunya Tian Si Liok-tou itu merupakan ilmu tingkat tertinggi dalam perguruan Lam Hay Bun. Ilmu itu merupakan cip-taan tocu sebelumnya, Gin Tong yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk merampungkannya. Orang yang diserang justru tidak mengelakkan diri ataupun menangkis, tetapi telapak tangannya ditempelkan pada telapak tangan rekan di sebelahnya dan rekannya itulah yang melancarkan serangan balasan. Hal ini berarti orang yang pertama itu menerima saluran tenaga dalam dari rekan lainnya sehingga kekuatannya menjadi dahsyat. Meskipun ilmu pedang Tan Ki aneh dan dapat menimbulkan hawa pedang yang tajam, tetapi setelah melancarkan serangan beberapa kali berturut-turut, tetap saja dia tidak sanggup melukai satu orangpun dari pihak lawan. Diam-diam hatinya menjadi panik, keringat dinginnya terus mengucur dengan deras.

Dia merasa setiap kali melancarkan sebuah serangan, musuh tidak menghindar ataupun balas menyerang, tetapi malah mempertahankan diri. Lambat laun dirinya sendiri yang terperangkap dalam barisan itu. Walaupun pedang pendek di tangannya masih bisa digerakkan ke sana ke mari, tetapi wawasan dirinya sendiri semakin lama semakin simpati.

Setelah lewat beberapa jurus, dia merasa Bagian depan belakang kiri atau kanan tubuhnya bagai ada lingkaran kekuatan tanpa wujud yang mendesak dirinya sehingga udara terasa pengap. Dengan demikian gerakan tubuhnya juga jadi lambat dan tidak bisa berputar atau bergeser secara leluasa. Dia pun merasa sulit melangkahkan kakinya.
Walaupun akhirnya dia sanggup menindakkan kakinya satu langkah, namun dia harus menguras tenaga yang banyak. Hatinya sadar bahwa apabila pertarungan ini diteruskan, dirinya tentu tidak luput dari bencana.

Begitu pikirannya tergerak, tiba-tiba muncul niatnya untuk melarikan diri…
Siapa nyana baru saja niat itu muncul, tiba-tiba lingkungannya terasa semakin sempit. Barisan Tian Si Liok-tou itu sudah bergerak sekaligus. Apalagi barisan itu seperti dipimpin oleh orang yang ada di tengah-tengah. Karena di kiri kanannya ada orang lain yang melindungi, maka tidak mudah bagi lawan untuk mencari peluang menyerangnya.
Sementara itu gerakan barisan tersebut semakin lama semakin cepat. Baru saja Tan Ki mengerahkan jurus Cahaya Keperakan di Atas Lautan dengan gerakan seperti mengundurkan diri, tiba-tiba terdengar suara bentakan Hua Pek Cing yang langsung melancarkan sebuah serangan.

Dia pernah tergetar isi perutnya karena serangan hawa pedang Tan Ki. Sebetulnya keadaan anak muda itu sudah sedemikian parah, bahkan ilmu silatnya sempat musnah. Tetapi toa tocu dari Lam Hay bukan hanya seorang yang berilmu tinggi, ilmu pengobatannya juga hebat sekali. Ke manapun dia pergi, dia selalu membawa Hiang Lian- jau (Rumput teratai harum) yang merupakan keluaran Lam Hay Bun. Setelah dipadu dengan bantuan saluran tenaga dalam dari beberapa bawahan gurunya, dalam waktu tiga kentungan saja mereka sudah berhasil menarik Hua Pek Cing dari jurang kematian. Hanya saja tubuhnya masih lemas dan tenaga dalamnya sudah jauh melemah dibandingkan dengan sebelumnya. Serangannya kali ini yang merupakan tenaga gabungan dari kelima orang lainnya, tentu saja tidak dapat dipandang ringan karena memang dahsyat sekali.

Serangan yang dilakukan oleh Hua Pek Cing tepat sekali. Dengan tepat dia menghadang jalan mundur Tan Ki. Keadaan jadi berbahaya. Begitu terdesaknya Tan Ki sehingga dia cepat-cepat mengempos semangatnya, kemudian tangannya mendorong ke depan menyambut serangan tersebut.

Terdengar suara benturan kedua telapak tangan yang menggelegar memekakkan telinga. Bagian atas tubuh Hua Pek Cing bergoyang-goyang, sedangkan Tan Ki yang terhantam dorongan tenaga demikian dahsyat tidak dapat mempertahankan injakan kakinya lagi di atas tanah. Akhirnya setelah terhuyung-huyung beberapa kali, kakinya terpaksa menindak ke depan satu langkah.

Keadaan yang demikian genting ini membuat perasaan hati Cin Ying dan Cin Ie yang melihatnya sampai terkejut setengah mati. Tanpa terasa mereka maju satu langkah.
Begitu melihat Tan Ki dalam keadaan bahaya, tanpa memperdulikan segalanya mereka bersiap melesat ke depan memberikan pertolongan.

Tampak bayangan telapak dan hawa pedang bergulung memenuhi sekitar tempat tersebut. Semakin lama pertarungan mereka berlangsung semakin cepat. Justru ketika dia tidak tahu bagaimana harus berbuat, tiba-tiba dari luar pondok terdengar sayup-sayup suara pekikan rajawali. Nadanya melengking tinggi sehingga membuat gendang telinga menjadi ngilu.

Kemudian terdengar suara siulan panjang mengiringi pekikan rajawali tadi. Namun suara siulan itu demikian lembut seakan mengandung kerinduan hati seorang kekasih yang sudah lama berpisah…

Orang-orang yang ada dalam pondok itu sampai termangu-mangu mendengarkannya. Mereka seperti terpengaruh oleh suara siulan tadi. Hawa pembunuhan yang menyelimuti pondok tersebut serasa menyurut cukup banyak.

Tiba-tiba Tan Ki mengeluarkan suara bentakan keras, secara berturut-turut dia melancarkan tiga serangan. Dia sadar bahwa saat ini merupakan kesempatan emas
baginya. Kalau dia tidak mencari akal menerobos keluar dari barisan tersebut, mungkin dia terpaksa mati oleh serangan keenam orang yang berilmu tinggi-tinggi itu. Oleh karena itu, serangannya yang gencar ini mengandung tenaga dalam yang bukan main dahsyatnya.
Dia tidak memberi kesempatan bagi lawan untuk melancarkan serangan balasan. Dengan jurus ‘Ikan Lele Melompat-lompat’, tubuhnya berjungkir balik di udara kemudian melesat keluar dari barisan tersebut.

Tan Ki tidak pernah membayangkan bahwa dia dapat menerjang keluar tanpa menemukan kesulitan sedikitpun. Oleh karena itu gerakannya juga tidak terlalu cepat. Di samping itu secara diam-diam dia juga mengerahkan hawa murninya menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Tetapi urusannya benarbenar di luar dugaan Tan Ki. Baik Tong Ku Lu maupun Hua Pek Cing tidak ada yang turun tangan mencegahnya.

Begitu pandangan matanya dialihkan, entah sejak kapan, di depan pintu telah berdiri seorang gadis berpakaian hijau. Rambutnya dikepang dua dan kecantikannya luar biasa.

Gadis ini sama sekali tidak asing dalam pandangan Tan Ki. Dia adalah pelayan si gadis berpakaian putih yang selalu menunggang burung rajawali, yakni Mei Hun adanya.

Kepala Tan Ki berpaling ke arah yang lain. Pandangan mata orang-orang di dalam pondok itu seakan terkesima terhadap kecantikan si gadis cilik yang baru muncul ini. Sekonyong-konyong suatu ingatan melintas di benak Tan Ki. Dia segera berkata kepada Mei Hun, “Tempat ini merupakan markas sementara golongan sesat, sedangkan kau berani-beraninya muncul di sarang harimau.”

Mei Hun mengerlingkan matanya sebanyak dua kali. Bibirnya tersenyum manis. “Maksudmu, tempat ini sangat berbahaya bukan?”
“Kalau kedatanganmu ini tidak diiringi majikanmu, sudah tentu berbahaya bagi dirimu!” Senyum Mei Hun semakin lebar.

“Belum tentu.” katanya santai.

Orangnya sendiri memang sudah cantik bukan main, begitu tersenyum, otomatis terlihat semakin menawan. Tampak tubuhnya bergerak dengan lemah gemulai. Selangkah demi selangkah dia berjalan masuk dan terus menuju tempat Toa Tocu dari Lam Hay Bun.

Kemunculannya yang tidak tersangka-sangka sudah mengejutkan orang-orang yang ada di dalam pondok tersebut. Ternyata dia malah berani menghampiri Toa Tocu.
Besarnya nyali gadis itu benar-benar sulit disamakan oleh orang lain. Mereka merasa gerak-gerik gadis ini begitu misterius, maksud kedatangannya membingungkan. Tanpa dapat ditahan lagi, orang-orang yang ada di di dalam pondok itu merasa tidak paham sehingga saling menukar pandangan. Hua Pek Cing yang pernah kena batunya, terlebih- lebih merasa gelisah melihat kemunculannya itu.

Sepasang alis Tan Ki menjungkit ke atas. Pedang ditangannya digenggam erat-erat.

Pandangan mata Toa Tocu menyorotkan sinar yang berkilauan. Tiba-tiba wajahnya menjadi kelam. Dia membentak dengan suara keras, “Untuk apa kau datang ke mari?”

Mei Hun mengembangkan seulas senyuman yang sangat manis.

“Tentu saja untuk mengambil batok kepalamu!”

Mendengar perkatannya, Toa Tocu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Sungguh seorang budak cilik yang bermulut tajam! Kau kira siapa aku ini?”

“Aku tidak perduli siapa dirimu. Tetapi karena aku sudah menaksir batok kepalamu, meskipun tidak sudi menyerahkannya kau juga tidak bisa melarangku.”

Toa Tocu mengeluarkan suara tawa yang dingin. Tampangnya seperti orang yang marah tetapi juga geli mendengar ucapan Mei Hun tadi, sungguh tidak enak untuk dipandang.

Tan Ki melihat di balik senyumnya yang dingin terselip kegusaran. Segurat hawa kehijauan muncul di wajahnya. Demikian samarnya sehingga tidak dapat terlihat oleh orang yang pandangan matanya kurang tajam.

Melihat tampangnya yang aneh dan tidak enak dilihat, wajah Mei Hun langsung berubah. Dia mengeluarkan suara tawa yang dingin.
“Rupanya kau sudah mempelajari ilmu Hawa Sesat dari Mayat yang Seram!” “Tampaknya kau juga bukan orang tanpa asal-usul. Karena sekali lihat saja kau sudah
dapat menebak dengan tepat rahasiaku. Mengingat usiamu yang demikian muda, yang mestinya belum mengerti apa-apa, aku juga malas berdebat panjang lebar denganmu. Cepat katakan asal perguruanmu dan kau boleh segera tinggalkan tempat ini!” kata Toa Tocu.

“Biarpun kau mengusir aku, belum tentu aku bersedia meninggalkan tempat ini.”

Sepasang mata Toa Tocu tiba-tiba menyorotkan sinar yang berkilauan. Seperti dua buah lentera berwarna hijau yang menyeramkan sehingga membuat hati orang tergetar. Ditambah lagi dengan hawa hijau yang menyelimuti wajahnya, semakin membuat hati orang menjadi gelisah dan tercekat. Terdengar dia mengeluarkan suara tawa yang seram.

“Kalau aku berniat mengambil nyawamu, mudahnya seperti membalikkan telapak tangan sendiri…!”

Mei Hun tidak memberi kesempatan kepada Toa Tocu tersebut untuk melanjutkan kata- katanya, dia langsung menukas, “Lalu mengapa kau tidak mencobanya? Lihat apakah membuktikannya mudah atau bicaranya saja yang mudah?”

Toa Tocu adalah seorang pimpinan, di wilayah Lam Hay Bun yang paling disegani.
Mendengar sindirannya yang begitu tajam, tentu saja dia tidak dapat menahan kemarahan dalam hatinya lagi. Oleh karena itu, dia langsung mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara tawa yang mirip dengan pekikan burung hantu di tengah malam.

Tan Ki merasa suara tawa sang tocu tersebut seakan membawa hawa dingin yang menyusup ke dalam dada. Bukan saja tidak enak didengar, malah membuat tubuh orang
menggigil seperti tiba-tiba saja turun salju yang deras sehingga menutupi seluruh pondok tersebut. Bulu kuduknya merinding seketika.

Justru di saat Tan Ki merasa gelisah, tiba-tiba suara tawa sang tocu sirap. Dia langsung maju ke depan sejauh dua langkah.

“Aku akan mengalah kepadamu sebanyak tiga jurus…”

Ucapan ini apabila tercetus dari mulut orang lain, tentu orang-orang yang mendengarnya akan merasa bahwa tocu ini sombongnya bukan main. Tetapi tocu ini bukan sembarang tocu. Ilmunya sudah mencapai taraf yang demikian tinggi sehingga sulit diukur lagi. Mereka merasa kata-kata itu wajar sekali terdengar dari mulutnya, tidak seorangpun yang merasa dia tidak pantas berkata seperti itu.

Tampaknya Mei Hun seperti sengaja mengulur waktu. Ternyata dia tidak langsung melancarkan serangan. Dengan tampang yang dingin dan datar dia berkata, “Kalau kau memang berniat mengalah tiga jurus kepadaku, maka kau tidak boleh melancarkan serangan balasan!”

“Tentu saja!” sahut sang Toa Tocu.

“Apakah kau tidak berpikir bahwa tiga jurus ini mungkin dapat membuat kau rubuh di atas tanah bermandikan darah?”

Wajah Toa Tocu tiba-tiba menjadi serius.

“Aku tidak sudi berdebat terus denganmu! Pokoknya kau lancarkan saja serangan secepatnya!”

Mei Hun tersenyum simpul.

“Meskipun ilmu sesat yang kau pelajari itu mengandung racun yang ganas serta pengaruh yang dahsyat, tetapi kau tidak sanggup mempertahankan hawa murnimu dalam waktu yang terlalu lama. Kalau waktu terus berlalu, kau terpaksa mengendurkan hawa murni yang kau kerahkan. Begitu ilmu beracun itu buyar, kau akan segera berubah menjadi orang yang tidak berguna. Seandainya aku mengucapkan beberapa patah kata lagi untuk mengulur waktu, maka aku akan…”

Toa Tocu mendengar kata-katanya yang semakin lama semakin membuka rahasia yang ada pada dirinya. Hatinya menjadi marah dan terkejut. Dia langsung membentak dengan suara keras menukas ucapan Mei Hun, “Tutup mulutmu! Kalau kau masih belum mau melancarkan serangan, jangan salahkan apabila Toa Tocumu ini menarik kembali kata- kata yang sudah diucapkan dan berbalik turun tangan menyerangmu!”

Mei Hun menggerak-gerakkan sepasang kepang di belakang kepalanya. Bibirnya masih juga tersenyum manis.

“Sekarang bukan saatnya mengadakan pertarungan dengan tergesa-gesa.
Kedatanganku ini sebenarnya karena mendapat tugas yang maha berat. Kalau kau berniat mendengarkannya, maka kau harus memberi waktu agar aku dapat mengatur kata-kata yang baik dan mengatur pernafasan sejenak.”
Toa Tocu melihat gadis itu seperti mengemban tugas penting yang ingin disampaikan.
Tampangnya juga bukan seperti orang yang sedang bergurau. Diam-diam hatinya tergerak. Tetapi biar bagaimanapun dia merupakan seorang tokoh yang licik. Kemarahan atau kesenangan yang dirasakannya tidak mudah terlihat dari mimik wajahnya. Meskipun kedatangan gadis ini begitu misterius dan ia ingin mendengar apa yang akan disampaikan olehnya. Namun dari luarnya dia justru pura-pura gusar.

“Kalau ada ucapan yang ingin kau sampaikan, harap katakan secepatnya. Aku tidak ada waktu bersilat lidah denganmu!”

“Baiklah, aku akan mengatakannya…”

Baru mengucapkan beberapa patah kata, tiba-tiba dia berhenti lagi. Sepasang matanya perlahan-lahan dipejamkan. Seakan sedang merenung bagaimana harus menyampaikan pesannya. Sampai sekian lama dia tidak berkata-kata lagi.

Orang-orang yang ada di dalam pondok itu merasa apa yang ingin disampaikan oleh Mei Hun pasti suatu masalah yang serius. Tanpa terasa hampir seluruh pandangan mata terpusat pada diri gadis itu. Mereka menunggu dengan nafas tertahan dan tidak ada seorangpun yang membuka suara.

Keheningan yang mencekam menyelimuti suasana di dalam pondok tersebut. Kembali waktu selama sepeminuman teh berlalu. Sekonyong-konyong Tan Ki melihat hawa kehijauan yang tergurat di wajah Toa Tocu semakin lama semakin samar. Sinar matanya yang dingin juga tidak menyorotkan sinar setajam tadi lagi. Diam-diam hatinya merasa bingung. Tetapi tangannya tetap menggenggam pedang erat-erat seakan tidak berani gegabah menghadapi situasi yang ada.

Tiba-tiba terdengar lagi suara Mei Hun yang merdu…

“Di luar samudera ada empat puluh delapan pulau. Sebelumnya sudah banyak tokoh- tokoh dari wilayah ini yang menggemparkan daerah Tionggoan, tetapi tokoh-tokoh ini mempunyai pikiran yang panjang dan jiwa yang lapang. Mereka tidak berani sembarangan menginjakkan kakinya ke daerah Tionggoan meskipun hanya satu langkah saja. Selama ratusan bahkan ribuan tahun, ilmu silat terus berusaha dikembangkan, siapapun ingin menciptakan ilmu yang paling tinggi di dunia ini. Selama ratusan balikan ribuan tahun, hubungan antara Lam Hay dengan Tionggoan juga biasa-biasa saja. Boleh dibilang saling menghargai sehingga tidak ada pihak manapun yang berusaha menguasai pihak lainnya. Bahkan bekas Bengcu yang lama, yakni Cin Tong juga tidak berani bertindak gegabah.
Meskipun beliau sering menginjakkan kakinya ke wilayah Tiong-goan dan bertukar pikiran tentang ilmu silat dengan tokoh-tokoh sakti dari wilayah Tiong-goan kami. Tetapi sejak awal hingga akhir, hubungan mereka bagai sahabat yang hanya saling menjajaki ilmu masing-masing. Belum pernah terjadi pertikaian atau sengketa yang menyangkut budi ataupun dendam. Seandainya kau memiliki sepersepuluh dari jiwa besar dari Cin Lo- siansing, maka kau tidak mungkin berambisi demikian besar sehingga berniat menguasai wilayah Tionggoan.”

Toa Tocu memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Aku mempunyai kelebihan dibandingkan dengan manusia biasa. Ambisiku memang ingin menyatukan seluruh Bulim agar tunduk di bawah sebuah bendera yang sama,
dengan demikian tidak akan terjadi lagi perebutan kekuasaan antara satu wilayah dengan lainnya. Mengapa hal ini tidak boleh dilakukan?”

“Apakah kau benar-benar berniat membubarkan setiap partai yang ada dan membuat mereka takluk di bawah benderamu?” tanya Mei Hun.

“Aku memang mengandalkan kekuatanku dan berusaha menguasai seluruh dunia ini…” berkata sampai di sini, tiba-tiba dia seperti teringat suatu hal yang serius. Setelah mendengus dingin satu kali, dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi.

Rupanya ketika keduanya terlibat dalam pembicaraan itulah, hawa hijau yang tersirat di wajahnya lambat laun menjadi sirna.

Kemunculan Mei Hun yang secara tidak terduga-duga di markas pihak Lam Hay ini, memang menerima tugas dari seseorang. Melihat hawa hijau yang tersirat di wajah Toa Tocu sebelumnya sekarang sudah lenyap. Dia maklum bahwa hawa racun yang dikerahkannya juga sudah surut. Apabila dia ingin turun tangan, waktunya justru dalam beberapa menit ini. Sebab beberapa menit kemudian, hawa murni dalam tubuh Toa Tocu tersebut bisa dihimpun kembali dan diapun sanggup mengerahkan ilmu beracunnya lagi. Oleh karena itu, dia segera mengembangkan seulas senyuman yang manis.

“Aku tahu, biar bagaimana kau merupakan seorang tokoh yang paling disegani di wilayah Lam Hay ini. Kata-kata yang kau ucapkan seberat gunung. Niat yang sudah ada dalam hatimu sulit diubah. Seandainya ambisimu memang demikian besar, ingin menguasai seluruh dunia ini di bawah benderamu, aku juga tidak dapat mengatakan apa- apa lagi. Semoga kau dapat mementangkan sayapmu selebar-lebarnya dan berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan. Di sini juga aku memohon diri.” dia segera membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Tan Ki, kemudian mengajaknya menghambur keluar dari ruangan tersebut.

Mei Hun datang secara tidak terduga-duga, sekarang malah mau pergi seenaknya.
Seakan tidak memandang sebelah mata kepada orang lain. Toa Tocu itu pada dasarnya adalah manusia yang tinggi hati, mana mungkin dia sanggup menahan kekesalannya menghadapi tindak-tanduk Mei Hun ini. Pandangan matanya langsung beralih kepada Cia Tian Hun dan membentak dengan suara keras, “Tahan dia!” nada suaranya begitu berat seakan mengandung kegusaran yang tidak terkirakan.

Cia Tian Lun langsung mengiakan. Tubuhnya langsung berkelebat ke depan. Tangan kirinya menjulur keluar, tangan kanannya membentuk cakar, timbul angin yang menderu- deru dan melanda ke arah Mei Hun dan TanKi.

Meskipun kedudukan orang ini hanya sebagai salah satu dari Bun Bu-siang, tetapi ilmu silatnya benar-benar tidak dapat dianggap enteng. Mei Hun merasa cengkeraman yang dilancarkannya mengandung tenaga dalam yang dahsyat. Orangnya belum sampai, anginnya sudah melanda datang. Tanpa dapat ditahan lagi, hatinya merasa tercekat.
Pergeangan kanannya memutar. Dengan sebuah jurus yang hebat, dia mengibas ke depan.

Siapa sangka Cia Tian Lun memang mengharapkan dia melakukan gerakan tersebut.
Tiba-tiba lengannya membalik dan tenaga yang terpancar pada cengkeramannya langsung lenyap. Dari lambat gerakannya menjadi cepat. Begitu tangannya bergerak sekali lagi, tahu-tahu pergelan-gan tangan Mei Hun sudah tercekal olehnya.

Ketika kibasan tangannya menemui kekosongan, Mei Hun merasa ada yang tidak beres.
Niatnya ingin mengibas sekali lagi, tetapi waktunya sudah tidak keburu. Tiba-tiba dia merasa pergelangan tangannya seperti kesemutan dan bagai dijepit oleh sepasang capitan besi yang kuat. Seluruh tenaga dalamnya langsung lenyap seketika.

Namun ilmu silat Mei Hun diajarkan langsung oleh si gadis berpakaian putih yang sakti.
Dalam keadaan seperti itu, kesadaran pikirannya tetap terjaga. Diam-diam dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya dan langsung menutup seluruh jalan darah yang ada di pergelangan tangannya. Meskipun dia merasa tulang pada pergelangan tangannya itu agak sakit, tetapi dalam sekejap mata tenaga dalamnya sudah pulih sebanyak tujuh Bagian. Dia langsung mengeluarkan suara bentakan, tubuhnya agak membungkuk sedikit dan kaki kirinya menendang depan. Sasarannya jalan darah di Bagian pinggang Cia Tian Lun.

Jurus serangannya ini mengandung keajaiban yang tidak terkirakan, lebih-lebih dilancarkan secara tidak terduga-duga. Cian Tian Lun tidak menduga bahwa pergelangan tangannya yang sudah tercekal masih bisa mempunyai tenaga untuk melancarkan serangan balasan. Jarak di antara mereka juga demikian dekat, apabila mengulurkan tangan ke depan, jalan darah utama pada seluruh tubuh lawan dapat terjangkau. Hal ini bukan main gawatnya. Tetapi pengetahuan maupun pengalaman Cia Tia Lun sangat luas. Tentu saja dia sadar betapa bahaya kedudukannya saat itu, terpaksa dia melepaskan kesempatan yang baik dengan mengendurkan cekalan tangannya kemudian mencelat mundur.

Mei Hun masih berdiri di tempatnya semula. Dia juga tidak mengejar lawannya. Hanya terdengar dia berkata dengan bibir tersenyum, “Ilmu silatmu belum seberapa hebat.” selesai berkata, dia langsung membalikkan tubuhnya berjalan pergi.

Mungkin ilmu silatnya yang aneh dan ajaib telah membuat orang-orang di dalam pondok itu merasa terkejut. Ternyata tidak ada seorangpun yang menghadang kepergiannya. Bahkan Toa Tocu sendiri seperti mempunyai rencana yang lain sehingga tidak bergerak setengah langkahpun.

Tampaknya Mei Hun sendiri pura-pura gagah di hadapan musuh. Jalannya juga tenang sekali. Tetapi begitu keluar dari pintu, dia segera berkata kepada Tan Ki dengan suara yang lirih, “Cepat lari! Kita tidak boleh berlama-lama di sini!”

Tan Ki juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba niatnya berubah. Melihat sepasang alisnya yang indah menjungkit ke atas dan langsung menghambur ke depan secepat kilat, dia juga segera mengerahkan ilmu ginkangnya dan menyusul dari belakang.

Setelah berlari beberapa saat, keduanya melihat tidak ada orang yang mengejar mereka. Oleh karena itu, merekapun melambatkan gerakan kakinya. Setelah sampai di mulut lembah yang sempit, mendadak Tan Ki menghentikan langkah kakinya: Dia segera merangkapkan sepasang kepalan tangannya dan menjura dalam-dalam kepada Mei Hun. Dengan perasaan rendah diri dia berkata, “Cayhe sudah berulang kali berbuat kesalahan terhadap majikan nona, tetapi nona sama sekali tidak menyimpan dendam dalam hati.
Malah membalas kebencian dengan budi. Sekarang Cayhe kembali mendapat bantuan dari nona, hati ini sungguh-sungguh merasa malu.”
“Yang menolong engkau bukan aku, saat ini aku hanya menjalankan perintah saja.” meskipun mulutnya menyahut tetapi gerakan kakinya tidak berhenti sama sekali. Dia terus melangkah ke depan, tetapi nada suaranya seperti orang yang menahan kekesalan hati.

Mendengar ucapannya, Tan Ki sempat tertegun sejenak. Dia lalu melangkahkan kakinya mengejar dari belakang.

“Apakah nona mendapat perintah dari majikanmu sehingga sengaja datang untuk menolong aku?”

“Kalau kau kira majikanku masih merindukan dirimu, boleh saja kau menganggap demikian.”

Hati Tan Ki tergetar. Untuk sesaat dia tidak tahu bagaimana harus menjawab perkataan Mei Hun.’

Padahal Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, tetapi dalam keadaan ruwet seperti ini, pikirannya seperti tersumbat.

Suasana menjadi hening. Kedua orang itu berlari lagi beberapa saat. Melihat Tan Ki terus merenung tanpa mengucapkan sepatah katapun, sepasang alis Mei Hun jadi mengerut-ngerut. Tiba-tiba dia bertanya, “Mengapa kau tidak berbicara lagi?”

Tan Ki menarik nafas perlahan-lahan. “Cayhe benar-benar kehabisan kata-kata.”
Tampaknya Mei Hun merasa tidak puas dengan jawabannya itu. Wajahnya menyiratkan mimik yang dingin dan datar. Tiba-tiba langkah kakinya dipercepat dan dia berlari terus ke depan secepat kilat.

Melihat sikap Mei Hun yang kadang-kadang dingin dan kadang-kadang ramah itu, Tan Ki benar-benar tidak tahu bagaimana tanggapan gadis itu terhadap dirinya. Untuk sesaat dia jadi serba salah. Mengejar rasanya salah, tidak mengejar juga salah. Dia malah berdiri termangu-mangu di tempatnya.

Gerakan tubuh Mei Hun benar-benar cepat sekali. Dalam sekejap dia sudah membelok pada sebuah lekukan dan tidak terlihat lagi. Udara yang menyebar di sekitar tempat itu masih menyebarkan keharuman yang terpancar dari tubuh seorang gadis, tetapi keharuman yang terendus ini justru membuat hatinya semakin tertekan. Matanya memandang pemandangan lembah yang sunyi sambil menarik nafas dalam-dalam sekali lagi.

Dia sendiri tidak mengerti mengapa harus menarik nafas panjang. Hatinya seperti merasa kehilangan sesuatu yang sangat disukainya. Dia merasa dirinya begitu sunyi tiada teman dan sanak keluarga…

Untuk sekian lama dia berdiri termangu-mangu. Rasanya sulit menentukan pilihan.
Tiba-tiba tubuhnya tergetar, urat nadi di pergelangan tangannya yang utama telah dicekal oleh seseorang.
Gerakan orang itu begitu cepat bagai kilat. Meskipun ilmu kepandaian Tan Ki sekarang sudah tinggi sekali, tetapi karena perhatiannya terpencar dan tidak berjaga-jaga sama sekali, dia tidak sempat lagi mengelakkan diri, bahkan tidak merasa sama sekali.

Perlu diketahui bahwa urat nadi pergelangan tangan merupakan salah satu dari tiga puluh enam urat terpenting yang terdapat pada tubuh manusia. Aliran darahnya bagai tersumbat, seBagian dirinya kesemutan dan tidak bertenaga untuk mengadakan perlawanan.

Telinga Tan Ki mendengar nada suara seorang tua yang berat berkumandang dari belakang punggungnya, “Meskipun ke ujung langit, lohu tetap akan mencarimu. Siapa tahu Thian memang mempunyai mata sehingga mempertemukan kita di tempat ini.”

Mendengar nada suaranya itu, Tan Ki segera mengetahui siapa adanya orang itu.
Orang itu tak lain adalah Pangcu Tian Ciang Pang, Lok Hong. Tanpa dapat ditahan lagi hatinya menjadi gusar. Baru saja dia ingin meluapkan kemarahannya, mendadak hati anak muda ini tergerak. Diam-diam dia berpikir: ‘Urat nadi pergelangan tanganku sudah tercekal olehnya. Dengan demikian seluruh tenagapun menjadi lenyap. Kalau aku sampai mengucapkan kata-kata yang membuatnya marah, sudah pasti dia akan melukai aku.’

Begitu pikirannya tergerak, cepat-cepat dia menekan kemarahan dalam hatinya dan tersenyum ramah.
“Cara Locianpwe ini sungguh mengejutkan, entah apa kesalahan Boanpwe?” Wajah Lok Hong menjadi merah padam. Dia menjawab dengan rasa jengah. “Selama hidup ini lohu tidak pernah mempunyai niat untuk membokong siapapun.
Tetapi keadaan sekarang jauh berlainan dengan biasanya. Biar bagaimana kau merupakan seorang pangcu dari perkumpulan Ikat Pinggang Merah. Meskipun belum tentu lohu merasa gentar terhadapmu, tetapi ilmu silatmu saat ini sudah termasuk jago pedang tingkat sembilan. Terpaksa aku meringkusmu dengan tidak terduga-duga sehingga dapat menghemat waktu.” seraya berbicara, cekalan tangannya semakin diperkuat.

Tan Ki merasa tulang pergelangan tangannya nyeri sekali. Keringat telah membasahi seluruh tubuhnya. Tetapi kegagahannya benar-benar tidak dapat disamakan dengan orang lain. Dia mengkertakkan giginya erat-erat tanpa mendengus sedikitpun.

Lok Hong tahu keberanian Tan Ki besar sekali. Meskipun pergelangan tangannya sudah tercekal dan menahan sakit tanpa merintih sedikitpun, tetapi apabila perhatiannya terpencar sedikit saja, dia tidak bisa menjamin kalau Tan Ki tidak akan berbuat macam- macam. Oleh karena itu, dia segera mengulurkan tangannya dan menotok dua jalan darah pada tubuh Tan Ki.

Tubuh anak muda itu terhuyung-huyung sebentar. Dia langsung membentak dengan nada marah, “Entah apa maksud Locianpwe mendesak orang sedemikian rupa?” walaupun hiat to alias jalan darahnya telah tertotok sehingga tenaga dalamnya lenyap sama sekali, tetapi yang ditotok oleh Lok Hong bukan urat bisu, sehingga mulutnya masih dapat berbicara sebagaimana biasa.

Loh Hong memperdengarkan suara tawa yang dingin sekali.
“Nyawa cucu kesayanganku sedang di ambang maut. Rasanya tidak mungkin dapat diselamatkan lagi. Kalau dia sudah mati, apa artinya hidup lohu di dunia ini? Tetapi sebelum Ing-ji menghembuskan nafasnya yang terakhir, aku akan mencari seseorang untuk menemaninya.”

“Kalau ditilik dari keadaan sekarang, tampaknya orang yang kau maksudkan itu diriku, bukan?”

Sekali lagi Lok Hong tertawa dingin.

“Bencana ini, kalau ingin dicari dalangnya, terpaksa lohu menunjuk dirimu!” Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas.
“Orang yang mencari gara-gara engkau sendiri, yang membuat cucumu terluka parah juga dirimu sendiri. Mengapa Locianpwe menuduh yang bukan-bukan dan menyalahkan diriku dalam hal ini?”

Terhadap sindiran Tan Ki yang tajam, untuk sesaat Lok Hong seperti kehilangan kata- kata untuk memberikan jawaban. Sempat dia termangu-mangu cukup lama. Kemudian perasaan malu dalam hatinya berubah jadi gusar. Tangannya bergerak ke kiri dan kanan. Secara berturut-turut dia menempeleng sepasang pipi Tan Ki.

“Kalau kau masih berani mengeluarkan kata-kata yang membuat aku marah, jangan salahkan apabila aku menurunkan tangan keji. Sebelum bertemu dengan cucu perempuanku, aku akan menyiksa dirimu dulu secara perlahan-lahan.” seraya berkata, lengan kirinya menjulur ke depan. Tahu-tahu tubuh Tan Ki sudah berada dalam gendongannya. Seperti mengangkat seekor anak ayam, dia langsung mengerahkan ilmu ginkangnya. Dalam dua kali loncatan saja, dia sudah mencapai jarak sejauh tiga empat depa.

Justru ketika belum lama kedua orang itu pergi dari tempat itu, di mulut lembah tiba- tiba melesat keluar dua sosok bayangan. Pakaiannya berwarna hijau dan satunya lagi merah. Mereka mengedarkan pandangannya ke sekitar. Kedua orang itu adalah gadis- gadis pelayan yang melayani si gadis berpakaian putih yang sakti, yakni Mei Hun dan Ciu Hiang.

Tampang Mei Hun menyiratkan perasaan hatinya yang panik. Matanya celingak-celi- nguk ke sana ke mari. Ciu Hiang juga mengedarkan pandangan matanya. Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya.

“Di sini juga tidak ada. Ke mana dia sebetulnya?” Mei Hun merasa sedih dan gugup.
“Bagaimana aku bisa tahu? Tadi aku merasa jengkel sehingga menyindirnya dua patah kata. Aku kira biar bagaimana dia akan mengejar aku dan pergi menemui cujin bersama- sama. Tidak tahunya orang ini benar-benar tinggi hati dan angkuh. Ternyata dia pergi secara diam-diam. Kalau cujin sampai tahu urusan ini dan menyelidiki sebab musababnya, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan.” sambil berkata, secara berturut- turut dia menghentakkan kakinya di atas tanah dua kali. Dia merasa panik juga kesal bukan main.

“Urusan toh sudah jadi begini. Terpaksa kita mencari jalan.

Kalau sampai buntu juga, sebaiknya berterus terang saja.” sahut Ciu Hiang.

Mei Hun mengiakan dengan lirih. Untuk sesaat dia tidak mengatakan apa-apa. Dia menundukkan kepalanya merenung sesaat. Tiba-tiba dia membungkukkan tubuhnya dan menempelkan telinganya di atas tanah. Dia segera mengerahkan ilmu Te Ting-sut (Ilmu mendengarkan tanah).

Ilmu ini merupakan ilmu pendengaran kelas tinggi. Orang yang menguasainya sanggup mendengarkan gerak-gerik di sekitar dari getaran di atas tanah. Orang yang sudah berpengalaman dapat mengetahui gerakan musuh dalam jarak sepuluh li. Sejak kecil Mei Hun tinggal di pegunungan Ming San. Dia sering menggunakan ilmu ini untuk mengincar binatang-binatang liar. Sekarang dia mengerahkan ilmu yang sama dan mendengarkan untuk beberapa saat. Ternyata dia menemukan suara langkah pada jarak tiga li di sebelah tenggara.

Ciu Hiang menunggu sejenak. Dia melihat wajah Mei Hun berseri-seri. Tanpa dapat ditahan lagi dia langsung bertanya, “Bagaimana? Apakah kau menemukan jejaknya?”

Mei Hun mengulurkan jari tangannya menunjuk ke sebelah tenggara.

“Dia menggunakan ilmu ginkang tingkat tinggi dan lari ke sebelah sana!” seraya berkata, dia melonjak bangun. Dia seakan merasa bahwa bagaimanapun dia harus menemukan Tan Ki. Tanpa menunggu jawaban dari Ciu Hiang, dia langsung mengerahkan hawa murninya kemudian melesat ke arah tenggara.

Di bawah sinar mentari yang terik, dua sosok bayangan berlari bagai terbang. Tubuh keduanya bagai gulungan kabut yang terhembus angin. Namun, biar bagaimana kedua gadis ini merupakan orang-orang yang kurang pengalaman. Meskipun ilmu mereka sangat tinggi, tetapi pengetahuan tidak cukup luas. Selama ini mereka memang jarang berkecimpung di dunia Kangouw. Keduanya hanya berpikir untuk mengejar Tan Ki.
Dengan demikian keadaan di sekitar mereka tidak diperhatikan lagi. Entah sejak kapan, di belakang mereka ternyata mengikuti dua orang gadis bercadar hitam.

Sementara itu, Lok Hong yang menggendong tubuh Tan Ki terus berlari. Setelah kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, tiba-tiba dia berganti arah. Dia tidak lagi berlari ke arah tenggara, tetapi menuju sebelah selatan.

Tampak pepohonan seperti mundur ke belakang. Dalam waktu yang singkat dia sudah melewati tiga turunan yang curam dan sampai di depan sebuah goa alami. Di dalamnya terlihat remang-remang, sehingga sulit melihat pemandangan yang ada. Kemungkinan goa ini sangat besar dan dalam. Lok Hong yang memondong tubuh Tan Ki secara berturut- turut melalui tiga buah lekukan, tetapi masih juga belum sampai di tempat tujuan.

Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya. Di hadapannya terdapat sebuah ruangan batu yang tinggi dan besar. Tempat ini tertutup oleh sinar mentari. Itulah sebabnya keadaan di sana jauh lebih gelap daripada di depan tadi. Hawa di dalam ruangan itu pun terasa lembab sehingga menimbulkan pera-saanyang tidak enak. Sepasang alis Tan Ki langsung berkerut-kerut. Terdengar dia tertawa dingin.
“Di dalam goa yang gelap dan menyeramkan ini, apabila ingin membunuh seseorang, pasti sulit diketahui orang dan buktinya mudah dilenyapkan.”

“Kalau lohu memang berniat membunuhmu, mudahnya seperti membalikkan telapak tangan sendiri. Meskipun si pengemis tua yang datang sendiri ke mari, juga harus lihat dulu suasana hatiku. Melepaskan dirimu atau tidak, pokoknya orang lain tidak berhak menentukan!” seraya berkata, dia langsung melangkah masuk ke dalam ruangan batu tersebut.

Begitu pandangan matanya dialihkan, tampak seseorang berbaring di atas sebuah balai-balai yang mungkin dibuat dalam keadaan darurat karena buatannya asal-asalan saja. Di atas dinding yang terdapat di sampingnya tergantung empat buat obor, cahayanya mulai suram dan menyoroti wajah orang itu. Dia adalah seorang gadis. Tan Ki tidak merasa asing terhadapnya. Dia memang cucu kesayangan Lok Hong, yaitu Lok Ing adanya. Wajahnya begitu pucat, tubuhnya seakan demikian lemah. Meskipun saat ini dia sedang tertidur pulas, tetapi siapapun yang melihatnya pasti menyadari bahwa gadis itu sedang sakit parah. Boleh dibilang ia sudah sekarat dan berada di ambang kematian.

Melihat keadaan luka Lok Ing yang ternyata demikian parah, hati Tan Ki menjadi pilu seketika. Gadis yang selama ini malang melintang di Sai Pak dan tidak ada yang berani mencari perkara dengannya ini sudah seperti lampu yang hampir kehabisan minyak, sekarat menunggu datangnya malaikat elmaut…

Pikirannya melayang-layang, tanpa dapat ditahan lagi dia teringat dirinya sendiri yang juga sudah menelan obat beracun. Bunga api dalam hidupnya juga hanya dapat menyala selama setengah bulan lagi. Setelah itu, dirinya akan menjadi sama seperti keadaan Lok Ing sekarang, terbaring di atas tempat tidur, sendirian, tak berdaya menunggu datangnya kematian. Berpikir sampai di sini, tanpa terasa timbul perasaan iba yang dalam terhadap gadis ini. Sepasang matanya dipejamkan dan mulutnya mengeluarkan suara tawa yang getir.

Tiba-tiba telapak kakinya terasa menyentuh sesuatu yang keras. Ternyata dia sudah diturunkan oleh Lok Hong di atas tanah. Kemungkinan orangtua itu takut menimbulkan suara yang keras sehingga cucu kesayangannya akan tersentak bangun. Oleh karena itu, ketika menurunkan Tan Ki di atas tanah, dia melakukannya dengan hati-hati sekali.

Menghadapi tindakannya yang menyatakan sampai di mana kasih sayang terhadap Lok Ing, Tan Ki sempat tertegun juga. Diam-diam dia berpikir dalam hatinya: ‘Orangtua ini sangat mementingkan kehidupan cucunya. Terhadapku malah kadang-kadang dingin, kadang-kadang baik, benar-benar membuat orang tidak mengerti bagaimana perasaan hati orangtua ini yang sesungguhnya.’

Oleh karena itu, Tan Ki pura-pura tenang : menghadapi situasi di hadapannya. “Entah apa maksud Locianpwe mengajak aku datang ke sini?”
“Kau toh mempunyai mata, mengapa tidak kau lihat saja sendiri?” “Lihat apa?” tanya Tan Ki pura-pura.
“Kalau Ing-jiku sampai mati, aku akan menyuruh engkau menemaninya!”
Tan Ki tertawa datar.

“Begitu juga ada baiknya. Toh, aku sendiri tidak bisa hidup lebih dari setengah bulan lagi. Tetapi bagaimana kalau Lok Kouwnio mempunyai peruntungan yang bagus sehingga tidak sampai menemui ajalnya?”

Terhadap pertanyaan ini, Lok Hong malah merasa di luar dugaan sehingga dia menundukkan kepalanya merenung beberapa saat.

“Tentu saja Lohu akan menarik kembali kata-kata tadi dan menggantikannya dengan membantu kau melaksanakan tugas sampai berhasil serta membantumu menjadi orang yang terkenal.”

Tan Ki menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa datar.

“Tidak ada gunanya. Hidup Cayhe tinggal empat belas hari lagi. Walaupun Locianpwe berniat membantu aku, kemungkinan tidak akan…” belum lagi kata-katanya selesai diucapkan, tiba-tiba terdengar suara gesekan selimut, Lok Ing mengeluarkan suara rintihan perlahan dan mendadak bangun dari tidurnya.

Ketika berhasil melihat wajah Tan Ki dengan jelas, Lok Ing seperti orang yang terkena pukulan bathin, seluruh tubuhnya bergetar. Matanya yang sayu membelalak lebar-lebar. Begitu terkejutnya sehingga tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Wajah Lok Hong beruban menjadi lembut. Dia berkata dengan suara perlahan, “Ing-ji, aku telah mengajaknya ke mari menemuimu.”

Terdengar suara deheman lirih dari mulut Lok Ing. Lambat-lambat dia memejamkan matanya. Tetapi dalam sekejap saja, sudut matanya yang menimbulkan perasaan iba itu telah mengalir butiran air mata yang deras. Tampangnya sungguh mengenaskan, seakan di dalam hatinya terdapat penderitaan yang tidak terkirakan.

Dengari suara lirih Lok Hong memanggil Lok Ing sebanyak dua kali. Nada suaranya begitu sendu. Kata-katanya tidak sanggup diteruskan lagi seperti ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya. Pangcu Ti Ciang Pang yang disegani di dunia Kangouw ini ternyata belum dapat melepaskan dirinya dari lilitan kasih sayang dengan darah dagingnya sendiri, meskipun usianya sudah tua sekali. Wajahnya menunjukkan kepiluan hatinya yang tidak terkirakan.

Tiba-tiba terdengar suara Lok Ing yang lirih, “Yaya, aku tidak ingin melihat orang yang ingin kutemui itu dalam keadaan teringkus seperti ini. Bukalah jalan darahnya.”

Mendengar kata-katanya, untuk sesaat Lok Hong merasa bimbang setengah mati.
Matanya menatap Tan Ki kemudian beralih kembali kepada cucu perempuannya. Dia sadar ilmu silat Tan Ki saat ini tidak dapat disamakan dengan tempo dulu lagi. Apabila totokannya dilepaskan, belum tentu dia sanggup meringkusnya lagi dalam lima ratus jurus.

Dia menundukkan kepalanya merenung sekian lama. Akhirnya dia mengkertakkan giginya erat-erat. Dibukanya dua urat nadi Tan Ki yang tertotok, tetapi orangnya sendiri langsung melesat ke depan dan menghadang di depan balai-balai. Apabila Tan Ki berniat turun tangan kepadanya, tentu tidak sampai terjadi sesuatu yang membahayakan keadaan Lok Ing.

Seluruh tubuh Tan Ki tergetar. Dia langsung merasa darah dalam tubuhnya mengalir dengan lancar kembali. Rasa kesemutan juga hilang seketika. Dia segera meliukkan pinggangnya ke kiri dan kanan untuk mengurangi rasa pegal karena tertotok sekian lama.

Terdengar kembali Lok Ing berkata, “Yaya, keluarlah kau sebentar.”

Entah kekuatan apa yang membuat Lok Hong tidak sanggup membantah. Setelah menganggukkan kepalanya, ternyata dia benar-benar berjalan keluar dari goa tersebut.

Melihat keadaan itu, Tan Ki malah jadi termangu-mangu. Diam-diam hatinya berpikir: ‘Entah permainan apa yang sedang berlangsung di antara kedua kakek dan cucu ini?’

Tiba-tiba telinganya kembali menangkap suara Lok Ing yang lemah, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Pikiran Tan Ki menjadi jernih seketika mendengar pertanyaannya. “Tidak ada.” sahutnya lirih.
Lok Ing tertawa getir.

“Aku tahu watakmu sangat angkuh dan tinggi hati. Pasti karena kedatanganmu ke mari dipaksa oleh kakekku sehingga perasaanmu jadi kurang senang bukan? Aku sendiri juga tidak tahu apa sebabnya. Sebelum ke-matian datang menjemputku, rasanya ingin sekali aku melihatmu sekali lagi. Meskipun kita tidak dapat duduk bersama dan berbincang- bincang sebagaimana biasanya, paling tidak kita bisa saling pandang. Tidak tahunya Yaya menganggap serius ucapan yang dicelotehkan oleh orang yang sudah sekarat ini. Rupanya dia benar-benar meninggalkan goa ini dan mencarimu ke mana-mana. Kalau hatimu merasa tidak senang, silahkan umbar kemarahanmu pada diriku…”

Berkata sampai di sini, hatinya terasa pedih sekali. Tetapi dia segera memalingkan wajahnya ke tempat lain dan tidak ingin Tan Ki melihat air matanya yang mengalir dengan deras.

Obor yang mulai meredup di dinding goa itu memancarkan sinarnya sehingga terlihat rambutnya yang tergerai dan berwarna hitam pekat. Tampak sepasang pundaknya bergerak-gerak karena menahan isak tangis. Hal ini membuat suasana di dalam ruangan batu itu semakin pengap dan sumpek sehingga Tan Ki hampir tidak dapat menahannya. Tetapi di balik semua ini juga terselip kepiluan yang mengenaskan hati.

Keadaan ini menimbulkan perasaan iba di hati Tan Ki, tanpa sadar dia duduk di atas balai-balai dan perlahan-lahan digenggamnya tangan Lok Ing. Dia merasa tangan gadis itu demikian lemah dan kurus. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang.

“Baik-baiklah kau menjaga kesehatanmu, aku akan pergi mencari obat…” Lok Ing menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Luka ini sudah sedemikian parah sehingga menyusup ke jantung. Meskipun ada obat yang bagaimanapun mujarabnya, jiwaku ini sulit tertolong lagi.” tiba-tiba dia memalingkan wajahnya. Matanya yang sudah kehilangan cahaya berkilauan mengejap-ngejap dan
memandang wajah Tan Ki lekat-lekat. Bibirnya tersenyum. “Apakah kau benar-benar ingin mencarikan obat buatku atau hanya asal mengatakannya saja karena iba melihat, keadaanku ini?”

“Apapun yang kukatakan, keluar dari hati yang tulus.” sahut Tan Ki. Perlahan-lahan Lok Ing memejamkan matanya kembali.
“Kalau begitu, aku dapat mati dengan tenang. Tidak ada yang kupikirkan lagi.”

Ketika mengucapkan kata-kata itu, hatinya benar-benar merasa gembira dan nyaman. Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman yang tipis. Meskipun Tan Ki adalah seorang pemuda yang berotak cerdas, tetapi dia tidak mengerti bagaimana perasaan Lok Ing saat ini. Dia juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya, sehingga akhirnya dia memilih untuk membisu.

Bagian LVII

Setelah sama-sama berdiam diri kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, tiba-tiba Tan Ki seakan teringat sesuatu hal yang penting. Matanya bergerak-gerak dan semangatnya terbangkit seketika.

“Walaupun di dunia ini tidak ada obat yang dapat membuat manusia tidak dapat mati, tetapi aku tetap akan berusaha sekuat tenaga mencoba mencarinya.”

Lok Ing tertawa getir.

“Seumpamanya kau bisa mengobati luka ini, tetapi kau tetap tidak sanggup memulihkan sakit di bathinku ini.”

Suaranya yang sendu membuat semangat Tan Ki yang baru tergugah menjadi surut seBagian. Orangnya sendiri jadi tertegun. Dia merasa nada bicara Lok Ing yang sendu tadi seakan mengandung makna yang dalam. Kalau didengar sepintas lalu, biasa-biasa saja.
Tetapi apabila direnungkan secara seksama, tentu tidak sulit mengetahui apa yang diharapkannya.

Oleh karena itu, Tan Ki menarik nafas panjang-panjang sekali lagi. Terdengar suaranya yang seperti menggumam seorang diri, juga seperti berkata kepada Lok Ing.

“Aku mengerti apa yang kau pikirkan dalam hati, tetapi keadaanku di depan matamu ini tidak jauh berbeda dengan dirimu sendiri…”

“Tidak berbeda dengan diriku? Aku kok tidak melihat sesuatu pada dirimu keadaan yang kau katakan seperti keadaanku ini?”

Tan Ki tertawa getir.

“Kalau kau dapat mengerti, tentu kau tidak akan merindukan seorang laki-laki yang sudah di ambang ajalnya. Bahkan mungkin kakekmu juga tidak akan memaksa aku datang ke mari menemuimu.” saat itu juga dia menceritakan secara terus terang bagaimana ketua
Bu Tong Pai membuka kedok yang telah ditutupinya selama beberapa bulan terakhir ini. Juga bagaimana kemudian Tian Bu Cu menyuruhnya menelan pil beracun lalu menugaskannya menyelinap ke markas musuh untuk membuktikan penyesalan dirinya atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya.

Tampaknya Lok Ing merasa tertarik sekali akan kisah hidup Tan Ki yang berliku-liku dan banyak terselip keanehan di sana sini. Pergelangan tangan kirinya mencekal tangan Tan Ki yang sedang menggenggam tangannya erat-erat. Bibirnya memaksakan seulas senyuman.

“Jadi sekarang kau sudah bersiap menunggu kematian?”

Sepasang alis Tan Ki menjungkit ke atas. Terdengar dia berkata dengan suara yang gagah…

“Orang hidup di dunia ini, seandainya tidak bisa menikmati kesenangan atau rejeki seperti orang lain, setidaknya harus mati dengan berharga. Tubuh Cayhe berlumuran dosa, mana berani berharap yang bukan-bukan? Tetapi sebelum menghembuskan nafas terakhir, aku akan mengacaukan pihak musuh sampai kalang kabut. Paling tidak aku akan membunuh beberapa orang jagonya agar mereka menderita kerugian besar.’”

Sembari mendengarkan perkataannya, mata Lok Ing menatap ke atap goa. Seakan ada sesuatu yang dipikirkannya sehingga pandangan matanya, begitu terlongong-longong.
Sampai lama sekali, dia baru mengembangkan seulas senyuman. “Sekarang aku jadi tidak ingin mati.” katanya mendadak.
Tan Ki jadi tertegun.

“Apa yang kau katakan?” tanyanya seakan tidak mendengar kata-kata Lok Ing dengan jelas.

“Aku akan menunggu kau mati terlebih dahulu, kemudian membangun sebuah makam raksasa untuk dirimu. Setelah itu aku baru rela mati. Dengan demikian kita akan mati bersama-sama, dikuburkan bersama dalam sebuah peti yang sama. Budi dendam atau kemelut apapun di dunia ini, pada saat itu tidak dapat lagi menganggu ketenangan kita…” berkata sampai di sini, dia merasa kebimbangannya belum hilang semua, cepat-cepat dia melanjutkan kembali, “Dalam keadaan hidup aku tidak dapat memperoleh setitikpun cinta kasih darimu, tetapi setelah mati malah bisa memperoleh orangnya, dengan demikian matipun aku tidak merasa menyesal.”

Mendengar kata-katanya yang semakin lama semakin mencetuskan perasaan hatinya, Tan Ki malah jadi bingung. Diam-diam dia berpikir di dalam hati: ‘Kalau dibiarkan mengoceh terus seperti ini, lama kelamaan aku terpaksa menikah denganmu. Bila tidak, kau tentu tidak dapat menahan perasaan cinta di dalam hatimu dan otomatis penyakitmu akan bertambah parah…’

Begitu pikirannya tergerak, tiba-tiba timbul niat untuk melarikan diri dari tempat itu. Sepasang matanya terus melirik ke arah pintu goa memperhatikan gerak-gerik di sana.

Dia takut Lok Hong masih menunggu di depan goa. Oleh karena itu, dia mempertajam panca indera pendengaran dan penglihatannya untuk meneliti dengan seksama. Tetapi
begitu mendengarkan dengan penuh perhatian, dia merasa ada suara dentingan senjata yang terdengar sayup-sayup di telinganya.

Kemudian menyusul terdengar suara siulan yang panjang. Kumandangnya kali ini begitu keras sehingga wajah Lok Ing yang pucat pasi malah berubah jadi tidak karuan. Tampaknya gadis itu merasa terkejut sekali.

“Yaya bertemu dengan musuh tangguh…”

Tan Ki langsung melonjak bangun. Dia segera menukas ucapan Lok Ing, “Biar aku pergi lihat!” seraya berkata, dia tidak menunggu jawaban dari Lok Ing. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan menghambur pergi dari sana. Sebetulnya, gerakan Tan Ki ini merupakan suatu reaksi spontan karena ingin melepaskan diri dari gadis itu.

Ketika keluar dari ruangan batu tersebut, dia langsung menghembuskan nafas panjangpanjang. Rasa bingung, gelisah yang sebelumnya tersirat pada wajah Tan Ki sekarang lenyap tidak berbekas. Pikirannya juga terasa jauh lebih jernih.

Ketika dia mendengarkan lagi dengan seksama, suara dentingan senjata yang sayup- sayup tadi ternyata sudah berhenti. Seluruh terowongan di dalam goa menjadi hening kembali seperti semula. Ingatan Tan Ki sangat tajam. Walaupun saat ini dia tidak bisa lagi menelusuri kejadian itu dari suara dentingan senjata, tetapi berkat ingatannya dia tahu dari mana sumber suara tadi berasal. Oleh karena itu dia segera menghambur ke sebelah kiri di mana terdapat beberapa buah tikungan.

Dalam dua tiga kali loncatan, telinganya sudah mendengar suara bentakan. Saat itu Tan Ki sudah mencapai jarak empat puluh depaan dari tempatnya semula. Tadinya dia berniat menghentikan langkah kakinya untuk menyelidiki sumber suara tadi. Justru pada saat itulah telinganya kembali menangkap suara bentakan serta suara angin yang menderu-deru dari pukulan seseorang. Begitu kerasnya sehingga meninggalkan gema yang berkepanjangan di dalam goa.

Rupanya tempat di mana Tan Ki berdiri sekarang merupakan sebuah celah yang agak dalam. Oleh karena itu, meskipun suara-suara yang terpancar dari luar dapat terdengar jelas di telinganya, tetapi orang-orangnya sendiri belum terlihat.

Kembali terdengar suara seorang gadis yang agak kekanak-kanakan. “Apakah kau masih tidak mau memberi jalan kepada kami?”
Mendengar nada suaranya itu, Tan Ki merasa tidak asing. Tetapi dalam sesaat dia justru tidak dapat mengingatnya kembali. Cepat-cepat dia menghentikan langkah kakinya dan berdiri sambil menahan nafas. Maksudnya ingin melihat dulu situasi kedua belah pihak baru mempertimbangkan apa yang harus dilakukannya.

Terdengar Lok Hong mengeluarkan suara tawa terbahak-bahak.

“Tahun ini usia lohu sudah mencapai tujuh puluh enam tahun, tetapi belum pernah memberi jalan ataupun mengalah kepada orang lain. Apabila nona ingin masuk ke dalam goa ini, kecuali menerjang masuk dengan paksa, rasanya tidak ada cara lain yang dapat ditempuh.”
Kemungkinan sikap gadis itu juga berangasan dan iseng. Dia langsung membuka mulut memaki Lok Hong, “Tua bangka keras kepala, lihat pukulan!”

Tan Ki bersembunyi di celah yang dalam, otomatis dia tidak dapat melihat jurus apa yang dimainkan oleh gadis itu. Dari suara pukulannya yang menimbulkan siulan, dia dapat menduga bahwa ilmu kepandaian gadis ini setidaknya setara dengan jago pedang tingkat delapan.

Sementara itu, kembali terdengar suara seorang. Tetapi yang satu ini jauh lebih halus dan lembut.

“Ie Moay, jangan berkelahi lagi!”
Gadis yang pertama tadi tampaknya kurang puas terhadap teguran kakaknya.  “Tua bangka keras kepala ini melarang aku bertemu dengan calon suamiku. Benar-
benar tidak tahu aturan. Cici tidak membantu aku memukulnya, malah menyuruh aku
berhenti. Ini juga tidak pakai aturan. Kalau si tua bangka ini sampai mencelakai calon suamiku, bagaimana aku bisa hidup lagi di dunia ini?”

Mendengar kata-katanya, pikiran Tan Ki jadi tersentak. Diam-diam dia berkata di dalam hati: ‘Rupanya yang datang itu Cin Ying dan Cin Ie.’ berpikir sampai di sini, dia langsung melangkah keluar dengan perlahan-lahan. Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat Cin Ying dan Cin Ie berdiri berdampingan. Pada jarak kurang lebih tiga depa di depan mereka, berdiri Pangcu Ti Ciang Pang, Lok Hong.

Mata Cin Ying sangat awas, melihat sesosok bayangan muncul dengan perlahan-lahan dari celah goa, dia segera mengenali siapa adanya orang itu. Tetapi meskipun dia sudah melihat dengan jelas, tetapi dia tidak berani membuka suara menyapa karena takut harga dirinya sebagai seorang gadis jatuh dalam pandangan orang lain.

Sedangkan Cin Ie memang agak ketolol-tololan. Belum lagi Tan Ki sampai di dekat mereka, dia sudah membuka mulut berteriak, “Nah, calon suamiku sudah keluar!” tubuhnya berkelebat, dia langsung menghambur ke depan.

Tiba-tiba terdengar Lok Hong membentak, “Kembali!” telapak tangannya menjulur keluar dan mengirimkan sebuah pukulan. Langsung terasa ada serangkum angin kencang mendesak ke arah tubuh Cin Ie yang sedang menghambur datang. Gadis itu cepat-cepat menjungkir balikkan tubuhnya di udara kemudian melesat ke samping.

Tan Ki maju beberapa langkah. Dia berdiri di antara kedua pihak. “Apa yang terjadi?”
Cin Ie segera menukas, “Kami mengejar dari lembah sampai ke tempat ini. Padahal ada beberapa urusan yang ingin kami sampaikan kepadamu, tetapi makhluk tua ini justru menghalang kami bertemu denganmu.”

Ketika dia sedang menjelaskan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendatangi. Dari celah yang gelap sekonyong-konyong muncul Mei Hun dan Ciu Hiang.

Melihat keadaan ini, sepasang alis Lok

Ie.
Hong langsung berkerut.

“Sebetulnya berapa jumlah rekan kalian yang datang ke tempat ini?”

“Mereka adalah mereka sendiri. Mana aku tahu berapa orang yang datang!” sahut Cin

Mei Hun mengerlingkan matanya, dia menyapu ke arah orang-orang yang ada di
tempat itu sekilas. Kemudian dia menghentikan langkah kakinya dan berkata kepada Tan Ki dengan ketus.

“Kenapa sih kau ini? Aku toh mengajakmu pergi menemui majikanku, tahu-tahu kau malah melarikan diri secara diam-diam. Kalau kau ingin menimbulkan kesulitan kepada diriku, rasanya juga tidak perlu demikian menyolok.”

“Pokoknya kita ajak saja dia menemui Cu-jin, buat apa kau mengoceh panjang lebar lagi?” tukas Ciu Hiang. Selesai berkata, dia langsung mendelikkan matanya lebar-lebar terhadap Tan Ki. Sekaligus mulutnya membentak. “Kau mau ikut dengan kami atau tidak?”

Tan Ki melihat gadis itu berdiri dengan berkacak pinggang. Tampangnya garang sekali, tetapi tampang wajahnya justru terlihat kekanak-kanakan. Seperti anak kecil yang sedang marah-marahan dengan teman bermainnya. Diam-diam dia merasa geli melihat sikap gadis itu.

“Kalau kau mau mengajak aku, sebetulnya mudah sekali. Aku sendiri tidak keberatan, tetapi keadaan di depan matalah yang tidak memungkinkan. Di dalam goa ada seorang sahabat yang sedang terluka parah sehingga memerlukan aku untuk merawatnya. Kalau aku pergi begitu saja, kemungkinan dia akan…” belum lagi dia meneruskan kata-katanya, tiba-tiba dia merasa tidak tepat mengucapkannya. Lok Hong ada di samping, apabila kata- katanya ini menimbulkan pukulan bathin bagi orangtua ini, kemungkinan keempat gadis ini tidak mudah apabila ingin meninggalkan tempat itu. Oleh karena pemikiran ini, maka dia tidak jadi meneruskan kata-katanya.

Tidak tahunya Ciu Hiang justru menggunakan kesempatan ketika dia sedang merenung untuk melancarkan sebuah totokan kepadanya. Tetapi baru saja tubuhnya bergerak ke depan, tiba-tiba terdengar suara bentakan Lok Hong. Orangtua itu mengangkat lengan bajunya dan mengirimkan sebuah pukulan. Serangkum angin yang kencang langsung melanda ke arah Ciu Hiang. Di saat itu pula, Mei Hun mengulurkan sepasang lengannya dan menyerang ke arah Lok Hong.

Gerak-gerik ketiga orang ini mengandung kecepatan yang tidak terkirakan. Walaupun ada yang terlebih dahulu turun tangan dan ada yang belakangan menyerang, tetapi saking cepatnya sehingga terasa seperti dilancarkan dalam waktu yang bersamaan.

Terdengar suara benturan yang keras dan menimbulkan gema di dalam goa. Mei Hun menyambut pukulan Lok Hong dengan kekerasan. Kakinya langsung goyah dan terhuyung-huyung mundur sejauh dua langkah.

Totokan yang dikerahkan oleh Ciu Hiang mendapat bantuan dari Mei Hun sehingga terus meluncur ke arah Tan Ki. Angin yang timbul dari jari tangannya bagai ombak yang bergulung-gulung, sungguh tidak boleh dipandang ringan.
Tiba-tiba terendus serangkum bau harum yang samar-samar menerpa datang dari sebelah kiri. Pada saat yang sama telinganya menangkap suara Cin Ying yang halus dan merdu.

“Nona cilik jangan mendesak orang sedemikian rupa!”

Ciu Hiang merasa ada sebuah telapak tangan yang menempel di punggungnya ketika perkataan tadi sirap. Tanpa dapat ditahan lagi hatinya tercekat. Tubuhnya bergetar, meskipun jari tangan kanannya sudah menempel di tubuh Tan Ki dan tinggal melancarkan tenaga sedikit untuk menotoknya, tetapi dalam waktu yang singkat itu, terpaksa dia menurunkan tangannya kembali. Kemudian dia berdiri tanpa bergerak sedikitpun.

Perubahan yang genting itu terjadi dalam sekejap mata saja, tetapi dalam waktu singkat keadaan di tempat itu menjadi kacau balau. Hatipun terasa tegang tidak terkirakan.

Perlu diketahui bahwa orang-orang yang ada di tempat itu mengandung niat sendiri- sendiri, meskipun tidak ada minat untuk membunuh orang, tetapi mereka masing-masing berusaha menguasai situasi dan mengajak Tan Ki meninggalkan tempat itu.

Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, mana mungkin dia tidak sadar bahwa kekacauan ini sebetulnya timbul dari dirinya sendiri. Hatinya ingin mencegah pertikaian yang tidak ada gunanya ini. Tiba-tiba dia menemukan bahwa di celah seberang yang gelap seperti berkelebat sesosok bayangan yang samar-samar. Setelah diperhatikan lagi dengan seksama, bayangan itu tidak terlihat lagi. Baik pendengaran maupun penglihatan Tan Ki sangat tajam. Dia yakin dirinya tidak salah lihat. Oleh karena itu dia segera mengerahkan hawa murninya untuk melindungi seluruh tubuh sekaligus berteriak dengan keras, “Berhenti!” suaranya bagai guntur yang menggelegar di siang hari, begitu keras sehingga menimbulkan gaung yang berkepanjangan.

Mendengar bentakannya, mula-mula Cin Ying yang langsung mencelat mundur ke belakang. Kemudian menyusul Lok Hong juga melangkah mundur satu tindak.

Menggunakan kesempatan yang baik itu, tubuh Tan Ki langsung berkelebat dan menerjang ke depan.

Tiba-tiba terdengar suara yang memekakkan telinga. Tubuh Tan Ki berkelebat, namun dalam sekejap mata dia mencelat mundur kembali. Rupanya ketika dia melesat ke depan tadi, sekalian dia melancarkan sebuah serangan. Kali ini dia telah mengerahkan segenap kekuatannya. Dengan demikian dapat dibayangkan sampai di mana kedahsyatan serangannya ini. Tidak tahunya lawan juga merupakan seorang tokoh sakti. Begitu dua gulung tenaga dalam beradu, dia langsung merasakan bahwa kekuatan lawannya begitu hebat sehingga dirinya hampir tidak kuat menahannya. Hatinya terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia menarik kembali sepasang pundaknya dan memaksakan dirinya untuk mencelat ke belakang.

Lok Hong melihat keadaan anak muda itu yang melesat ke depan kemudian mencelat mundur kembali, pakaian anak muda itu sampai berkibar-kibar karena hempasan kekuatan yang keras. Dia langsung menduga bahwa urusannya cukup gawat. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya menjungkit ke atas. Kemudian terdengar dia membentak dengan suara lantang, “Siapa?” seraya bersuara, orangnya sendiri langsung melesat ke depan sejauh enam langkah. Dia berhenti tepat menghadang di depan Tan Ki.

Perlahan-lahan Cin Ying memejamkan sepasang matanya, dia menundukkan kepalanya merenung sejenak. Tampaknya dia sedang memikirkan suatu masalah yang serius.
Sepasang alisnya terus berkerut, keningnya dikernyitkan. Sejak tadi dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Tiba-tiba dia membuka matanya kembali kemudian memandang Tan Ki. Wajahnya menyiratkan perasaan terkejut. Tanpa menimbulkan suara sedikitpun, diam-diam dia menarik tangan Cin Ie dan mengajaknya masuk ke dalam goa.

Justru ketika kedua kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie baru saja pergi, Lok Hong sudah mengeluarkan bentakan sebanyak beberapa kali, tetapi dari awal hingga akhir tidak terdengar sahutan apapun. Di Bagian depan celah tersebut yang terlihat hanya kegelapan belaka sehingga pemandangan apapun tidak tertangkap oleh pandangan mata.

Perlu diketahui bahwa watak Lok Hong berangasan sekali. Setelah bertanya beberapa kali tidak mendapatkan sahutan apa-apa, hawa amarah dalam dadanyajadi meluap. Diam- diam dia mengerahkan tenaga dalamnya kemudian menghantam ke arah celah yang gelap itu.

Meskipun serangan yang dilancarkannya ini hanya bertujuan menyelidiki saja, tetapi dalam keadaan marah, tanpa berpikir panjang lagi dia turun tangan. Kekuatannya bagai ombak di lautan yang menghempas-hempas, dahsyatnya tidak terkirakan.

Begitu pukulannya terpancar keluar, timbul suara angin kencang yang menderu-deru.
Tenaga dalamnya terus meluncur ke Bagian celah yang gelap. Tiba-tiba dia merasa telapak tangannya agak bergetar. Tenaganya seperti membentur sesuatu sehingga menahan kekuatannya melaju lebih jauh.

Lok Hong langsung mengernyitkan keningnya.

“Coba sambut lagi serangan lohu ini!” bentaknya keras. Kembali angin berdesir, telapak tangan kirinya langsung menghantam ke depan.

Kali ini dia mengerahkan sepuluh Bagian tenaga dalamnya, berarti kekuatannya berlipat ganda dari sebelumnya. Dia berharap begitu lawan menyambut serangannya ini, orang itu terpaksa menampakkan dirinya. Jurus serangan yang digunakannya memang khusus untuk menyerang musuh yang ada pada jarak sepuluh depa lebih. Walaupun lawannya mungkin sudah bertekad untuk mengadu jiwa, tetapi tentu saja sulit menggerakkan kaki tangannya dengan leluasa di celah yang sempit tersebut. Otomatis dia juga hanya sanggup mengerahkan tenaga dalamnya sebanyak enam tujuh Bagian. Apabila dia tetap berani menyambut serangannya ini, meskipun tidak sampai mati, paling tidak orang itu akan terluka parah. Begitulah menurut pikiran Lok Hong sendiri.

Siapa sangka kenyataannya justru jauh berbeda dengan dugaannya sendiri. Ketika dia menghantam ke depan, mula-mula terasa begitu lancar dan deras bagai air yang meluap di saat banjir melanda. Tetapi setelah sampai pada jarak sembilan sepuluh kaki, tenaganya bagai membentur gunung yang kokoh, serangkum kekuatan yang tidak terkirakan dahsyatnya menahan tenaga dalam yang terpancar dari serangannya, tenaganya sendiri sampai memental balik kembali. Hatinya kali ini benar-benar terkejut, cepat-cepat dia mencelat mundur sejauh lima langkah.
Walaupun gerakannya sudah cukup cepat, namun tetap saja dia sempat tersapu oleh pentalan tenaga dalam tadi. Dia merasa paha kirinya agak nyeri. Ketika kakinya mendarat di atas tanah, tubuhnya sempat bergoyang sebanyak tiga kali.