Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian Bagian 50

Bagian 50
Oey Ku Kiong langsung menjura dalam-dalam. Tampak dia tertawa getir.

“Perasaan cinta memang selalu menjerat manusia dalam perangkapnya. Sedangkan orang yang sudah terjerat sulit lagi apabila ingin melepaskan diri. Karena hengte sudah jatuh cinta kepadanya, terpaksa menerima dia apa adanya. Baik atau jahat, untuk selamanya hati ini tidak akan berubah. Meskipun hente sudah tahu bahwa diri ini hanya bertepuk sebelah tangan dan hanya menjadi permainannya saja, tetapi perasaan hati ini tetap tidak bisa melupakan dirinya…” jiwanya bagai terkena pukulan bathin yang berat. Kata-katanya lebih mirip gumaman. Rasanya apabila diteruskan hanya merendahkan derajatnya sendiri. Oleh karena itu dia hanya tertawa sumbang dan membungkam seribu bahasa.

Tampak Tan Ki menarik nafas dalam-dalam.

“Kau benar-benar bodoh sekali. Sudah tahu lubang di depan mata, masih rela terjun ke dalamnya. Tampaknya sampai matipun perasaanmu tidak dapat dirubah lagi.”

“Pandangan hidup setiap orang memang berbeda-beda. Meskipun hengte bukan orang baik-baik, tetapi mendengar ucapan Tan-heng tadi, hati ini benar-benar terhibur. Justru karena kau sudi memaki diriku sedemikian rupa, hal ini membuktikan bahwa kau menganggap aku seperti saudaramu sendiri.”

Tan Ki mengulapkan tangannya menghentikan kata-kata Oey Ku Kiong.
“Katakanlah apa yang tersimpan dalam hatimu sekarang ini.”

Rahasia hati Oey Ku Kiong bagai tersingkap oleh Tan Ki. Wajahnya menjadi merah padam. Cepat-cepat dia mengangkat lengan bajunya menutupi mulut dan mengeluarkan suara batuk-batuk kecil. Setelah itu dia baru berkata, “Tentunya Tan-heng sudah tahu perasaan hati hengte yang masih mengkhawatirkan diri Ceng Kouwnio. Hengte rasa apabila dia sanggup memasukkan racun ke dalam arak, tentu dia juga mempunyai akal untuk mendapatkan obat penawarnya. Harap Tan-heng ajukan syarat sebagai pembebasan dirinya, biar hente yang menggantikannya menjadi sandera Tan-heng.”

Mendengar kata-katanya, Tan Ki merasa tercekat. Diam-diam dia berpikir dalam hatinya: ‘Apa maksud ucapannya ini? Terang-terangan kau ingin aku mewujudkan harapanmu yang rela berkorban demi menukar selembar nyawa Kiau Hun. Apakah dia akan kembali membawa obat penawar atau tidak, tentu kau tidak memusingkannya sama sekali…’

Pikirannya bagai kincir angin yang terus berputar. Belum sempat dia membuka suara, tiba-tiba tampak Liu Seng berdiri dari temoat duduknya kemudian menukas, “Dengar- dengar kau adalah putra angkat Oey Kang, bukan?”

Oey Ku Kiong membalikkan tubuhnya dan menjura dalam-dalam. “Boanpwe memang putranya.” sahutnya sopan.
Liu Seng mengeluarkan suara dengusan perlahan. Wajahnya menunjukkan perasaan kurang senang.

“Apakah kau tahu jejak ayahmu akhir-akhir ini?” Oey Ku Kiong menarik nafas panjang.
“Gi-hu mempunyai pandangan hidup tersendiri. Kalau tidak salah dia sudah bergabung dengan pihak Lam Hay…”

“Itu dia…. kalau Oey Kang memegang peranan penting karena bergabung dengan Lam Hay Bun, sedangkan kau mempunyai hubungan sebagai anak dan ayah dengannya. Tentu dia tidak akan turun tangan keras terhadapmu. Apabila kau ingin menolong nona Ceng, lebih baik kau saja yang diutus ke Lam Hay Bun untuk mendapatkan obat penawar.
Sebelum racun dalam tubuh rekan-rekan kami bereaksi, dan kau dapat kembali tepat pada waktunya, selembar jiwa nona Kiau Hun pasti masih dapat dipertahankan. Apabila kau ingin menggantikan kedudukan nona Kiau Hun, hal ini sama sekali tidak boleh terjadi!” kata Liu Seng dengan nada tegas.

Kata-kata yang diucapkannya persis seperti sebatang paku yang dipantekkan dalam- dalam pada dinding batu. Biar bagaimana tidak bisa dirubah kembali. Diam-diam hati Oey Ku Kiong tergetar. Dia menundukkan kepalanya merenung sejenak. Kemudian tampak dia menggertakkan giginya erat-erat dan wajahnya menunjukkan bahwa dia sudah mengambil keputusan yang bulat.

“Hengte rela menempuh bahaya mencobanya. Tetapi harap sebelum matahari terbit, apabila aku berhasil, aku masih sempat melihat wajah nona Ceng dalam keadaan hidup!” sembari berkata, matanya yang mengandung kasih sayang melirik Kiau Hun sekilas.
Kemudian dia menghentakkan kakinya di atas tanah, kemudian membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.

Kiau Hun melihat anak muda itu tidak memperdulikan mati hidupnya sendiri berusaha menolong jiwanya. Hatinya merasa terharu sekali. Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin memanggil Oey Ku Kiong untuk menghiburnya beberapa patah kata. Tiba-tiba dia seperti mengingat suatu masalah yang penting sekali sehingga mendadak wajahnya berubah datar dan mulutnya mengeluarkan suara tertawa dingin. Dia tidak jadi memanggil anak muda itu.

Suasana di dalam ruangan itu semakin mencekam.

Liu Seng menunggu sampai bayangan punggung Oey Ku Kiong sudah menjauh, diam- diam dia mempersiapkan sebatang pisau terbang dalam genggaman tangannya. Kemudian terdengar dia memanggil, “Anak Ki, kemarilah sebentar.”

Tan Ki segera mengiakan dan berlari ke arahnya.

Baru saja kakinya maju ke depan beberapa langkah, sekonyong-konyong dia melihat tangan kanan mertuanya mengibas keluar, cahaya dingin memijar sehingga membentuk carikan sinar berwarna keputih-putihan dan melesat secepat kilat. Tanpa dapat ditahan lagi dia jadi tertegun.

Justru ketika dia menolehkan kepalanya untuk melihat lebih jelas, tiba-tiba telinganya mendengar suara jeritan yang menyayat hati. Dia melihat sepasang alis Kiau Hun mengerut dengan ketat. Sepasang tangannya mendekap dada, wajahnya menyiratkan penderitaan yang tidak terkirakan. Rupanya di tengah-tengah jantung Kiau Hun saat itu sudah menancap sebatang pisau terbang. Yang terlihat hanya gagangnya yang berukuran dua cun. Darah mengalir dengan deras dari tangkai pisau itu kemudian menetes membasahi tanah.

Mula-mula Tan Ki terkejut setengah mati. Sesaat kemudian dia baru mengerti maksud hati mertuanya. Rupanya orang itu takut tindakannya akan dicegah oleh Tan Ki apabila anak muda itu tetap berdiri di samping Kiau Hun. Dengan ketinggian ilmu yang dimilikinya saat itu, kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. Oleh karena itu, dia pura-pura memanggilnya. Ketika Tan Ki melangkah ke depan dan perhatiannya terpencar, dia menimpukkan pisau terbang yang sudah dipersiapkannya dan dengan tepat menembus jantung Kiau Hun. Melihat darah segar berceceran di atas tanah, hatinya merasa pedih tidak terkatakan. Kalau kedudukannya sekarang bukan seorang Bulim Bengcu, rasanya dia ingin menghambur ke dekat Kiau Hun dan menangis sepuas-puasnya. Hal ini bukan karena Tan Ki menyayangkan kematian Kiau Hun.

Tetapi dia merasa bersalah terhadap Oey Ku Kiong, apalagi dia belum sempat membalas budi yang ditanamkan gadis itu pada dirinya…

Dengan susah payah Tan Ki menahan air matanya yang hampir mengalir turun.
Orangnya sendiri seperti sebuah patung batu dan memandang Kiau Hun dengan termangu-ma-ngu. Tidak sepatah katapun terucap dari mulutnya.

Saat itu wajah Kiau Hun sudah berubah pucat pasi, tubuhnya terhuyung-huyung. Dia berusaha mempertahankan dirinya, tapi keadaannya sudah seperti lampu yang hampir kehabisan minyak. Tan Ki melihat bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengatakan
sesuatu. Namun dia sudah lemah sekali, untuk sesaat dia tidak sanggup membendung keperihan hatinya, kakinya langsung melangkah ke depan menghampiri Kiau Hun.

Tangan kanan Tan Ki terulur ke depan meraih pinggang Kiau Hun. Dalam waktu yang bersamaan dia berkata dengan suara lirih, “Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?”

Sepasang mata Kiau Hun yang mulai redup membuka dan menatapnya sejenak. Kemudian dia memejamkan matanya kembali, bibirnya bergerak-gerak beberapa kali akhirnya terdengar juga suaranya yang seperti dengungan nyamuk.

“Pertikaian Cin merupakan takdir, daun Tong rontok sedikit… de… mi… se… di… kit…” entah apakah ucapannya hanya demikian saja atau masih ada kelanjutannya. Tetapi kepala Kiau Hun tiba-tiba terkulai dan jiwanya pun melayang.

Dengan mata tidak berkedip sedikitpun Tan Ki melihat seorang gadis cantik mati dalam pelukannya, tiba-tiba hidungnya terasa perih dan air matanya jatuh bercucuran.

Perlahan-lahan dia meletakkan mayat Kiau Hun di atas tanah, kemudian membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Ini merupakan penghormatan dari hatinya yang paling dalam sebagai tanda penyesalan dirinya.

Orang-orang yang hadir di dalam ruangan itu juga merasa iba melihat nasib gadis itu. Wajah mereka tampak kelam. Perih dan sesal membaur dalam hati mereka. Bahkan Yibun Siu San, Cian Gong serta Tian Bu Cu yang mempunyai kekerasan hati melebihi orang lain juga berubah mimik wajah mereka. Suasana dalam ruangan itu demikian mencekam, ke- matian Kiau Hun yang mengenaskan itu tampaknya menimbulkan kepiluan yang tidak terkirakan.

Sekali lagi Tan Ki menarik nafas panjang. Baru saja dia ingin memanggil beberapa orang untuk mencari tempat yang tenang untuk mengubur mayat Kiau Hun, tiba-tiba suatu ingatan melintas di benaknya. Mendadak dia ingat bahwa kata-kata yang diucapkan Kiau Hun menjelang akhir hidupnya pernah didengarnya dan juga merupakan syair yang menghalau Cia Tian Lun pergi meninggalkan mereka. Hatinya sadar bahwa syair itu merupakan pesan yang dititipkan kepada ibunya oleh kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie. Meskipun tidak persis sama, tetapi makna yang terkandung di dalamnya hampir serupa.
Tentu saja Tan Ki tidak mengerti apa maksudnya. Hanya hatinya merasa heran mengapa menjelang akhir hidupnya Kiau Hun bisa mengucapkan kata-kata itu. Oleh karena itu, pandangan matanya langsung ditujukan kepada kakak beradik Cin yang berdiri di belakang ibunya. Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian dibatalkannya kembali.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendatangi dengan tergesa-gesa. Seorang penjaga menghambur masuk ke dalam ruangan dan berhenti di hadapan Tan Ki.
Kemudian orang itu menekuk sebelah kakinya dan memberikan laporan…

“Regu depan melaporkan, Bagian timur dan selatan sudah terlihat munculnya jejak musuh. Harap Bengcu segera menurunkan perintah!”

Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas.
“Bagus sekali! Mereka tidak perlu makan dan beristirahat lagi langsung datang menyerbu?” tangannya mengibas sebagai isyarat agar penjaga itu mengundurkan diri. Kemudian dia berjalan perlahan-lahan ke tempat duduknya semula.

Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu melihat dia tidak mengucapkan sepatah kata-pun dan menundukkan kepalanya merenung. Mereka tahu bahwa saat itu dia sedang menguras otaknya memikirkan cara menghadapi musuh. Oleh karena itu, mereka menahan nafas dan tidak berani bergerak sedikitpun. Mereka menunggu keputusan yang akan diambil oleh Tan Ki. Orang-orang itu tahu bahwa Tan Ki mempunyai otak yang sangat cerdas, tetapi kali ini mereka menghadapi musuh yang tangguh dari pihak Lam Hay dan Si Yu. Seandainya terjadi kesalahan sedikit saja, maka seluruh pasukan akan terpengaruh. Pertumpahan darah akan terjadi secara mengerikan. Hal ini menyangkut seluruh dunia Bulim sehingga diam-diam hati mereka merasa tegang sekali.

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, tiba-tiba Tan Ki mendongakkan wajahnya dan menarik nafas panjang-panjang. Dia seakan melampiaskan kekesalan dan kegundahan hatinya. Semangatnya seperti terbangkit kembali. Orangnya sendiri langsung berdiri.

“Para Jendral di zaman dahulu mempunyai sebuah pedoman: ‘Air datang, tanah menghadang. Prajurit datang, Jendral menantang!’ Perkumpulan Ikat Pinggang Merah mewakili golongan hitam dan putih dari dunia Bulim. Dengan demikian kita harus menghadapi gabungan pihak Lam Hay dan Si Yu. Meskipun kekuatan musuh di depan mata lebih kuat dari kita, tetapi pertarungan ini menyangkut nasib seluruh Bulim kita. Aku rasa saudara-saudara sekalian dapat bersatu menghadapi musuh-musuh yang tangguh ini.”
Terdengar sahutan serentak dari orang-orang yang hadir di dalam ruangan tersebut. “Kami rela menerima perintah Bengcu dan bersatu menghadap musuh-musuh yang
ingin menanamkan kekuasan di daerah Tionggoan kita.”

Tan Ki tertawa lembut.

“Kalau begitu hatiku baru merasa tenang. Meskipun kekuatan kita kalah banyak, tetapi semangat kita jauh melebihi mereka. Demi kesejahteraan dunia Bulim kita di masa yang akan datang, setiap tetes darah harus mengalir dengan imbalan yang sesuai.” dia menghentikan kata-katanya sejenak, baru kemudian melanjutkan kembali. “Ada suatu berita lainnya yang harus kusampaikan terlebih dahulu kepada saudara-saudara sekalian. TianlBu Cu Locianpwe tadi mengatakan kepadaku bahwa lima partai besar sudah tahu golongan sesat dari luar samudera akan menyerbu kita. Asal kita bersatu dengan segenap kemampuan serta mempertahankan diri sampai besok siang, maka para ketua, pimpinan maupun angkatan tua dari lima partai besar akan keburu sampai di sini memberikan bantuan.” berkata sampai di sini, tiba-tiba suatu ingatan melintas di benaknya. Tanpa sadar sepasang alisnya berkerut, ucapannya terhenti. Wajahnya menunjukkan perasaannya yang gundah.

Tiba-tiba terdengar suara tambur dipukul bertalu-talu, kemudian disusul dengan tepukan tangan yang riuh rendah. Rupanya orang-orang yang hadir menyambut ucapan Tan Ki dengan riang gembira. Semangat mereka juga terbangkit seketika. Mereka malah tidak memperhatikan mimik. wajah Tan Ki yang aneh.
Liang Fu Yong mempunyai sepasang mata yang tajam. Dia sangat mencintai Tan Ki sehingga selalu memperhatikan gerak-gerik anak muda tersebut. Melihat wajah anak muda itu mendadak berubah kelam, dia langsung teringat suatu rahasia yang besar.

Ketika baru terjun ke dunia Kangouw, boleh dibilang secara berturut-turut Tan Ki membunuh dua puluh tujuh tokoh hitam putih dunia Bulim. Kemudian dirinya malah sempat bertikai dengan orang-orang dari pihak lima partai besar. Setelah lewat satu tahun dia baru tahu bahwa pembunuh ayahnya yang sebenarnya adalah paman keduanya, Oey Kang. Tetapi dia sudah terlanjur membunuh sekian banyak orang, hatinya menyesal  sekali. Orang-orang yang mati di tangannya hanya tahu bahwa dirinya adalah Cian Bin Mo- ong, si raja iblis yang menggemparkan dunia Kangouw.

Meskipun sampai hari ini rahasianya masih belum terbongkar, tetapi hati kecilnya terus merasa bersalah. Dia selalu merasa tidak tenang. Oleh karena itu, setiap hal yang dilakukannya selalu mengandung kebimbangan. Begitu tahu bahwa tidak lama lagi dia akan berhadapan dengan orang-orang dari lima partai besar, hatinya menjadi agak kecut. Apalagi dirinya terus digelayuti kisah asmara yang melibatkan beberapa orang gadis.
Meskipun Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, tetapi dalam waktu yang bersamaan harus menghadapi begitu banyak persoalan, pikirannya menjadi galau juga.

Justru ketika pikiran Liang Fu Yong melayang-layang dan hatinya merasa gelisah. Tiba- tiba telinganya menangkap suara Tan Ki yang sengaja dicetuskan seriang mungkin.

“Baru saja Perkumpulan Ikat Pinggang Merah kita didirikan, ternyata kita sudah harus menghadapi cobaan yang demikian berat. Satu tangan tentu sulit melakukan pekerjaan yang banyak. Aku harap saudara dapat bersatu menghadapi musuh, dengan demikian baru kita menjadi kuat.”

Meskipun hatinya sedang gelisah, tetapi di hadapan sekian banyak anggota Perkumpulan Ikat Pinggang Merah, dia terpaksa menunjukkan sikapnya yang optimis dan gagali. Dia harus menjaga wibawanya sebagai seorang Bulim Bengcu. Selesai berkata, dia langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.

Terdengar suara dorongan meja dan kursi yang membisingkan telinga. Rupanya saat itu orang-orang yang ada dalam ruangan berdiri dari tempat duduknya serentak dan mengikuti Tan Ki berjalan keluar. Dalam waktu yang singkat, ruangan yang tadinya penuh sesak jadi kosong melompong. Hanya ada sesosok mayat yang mulai mendingin menggeletak di atas tanah…

Sukma seseorang telah meninggalkan raganya dan kembali ke alam asalnya. Orang- orang yang melihatnya segera timbul rasa pilu yang tidak terkirakan…

Beberapa saat kemudian, Tan Ki membawa orang orang yang terdiri sebagai anggota perkumpulannya menuju pintu gerbang. Begitu pandangan matanya mengedar, dia melihat suasana di sekitarnya sunyi senyap. Sama sekali tidak terlihat jejak musuh. Ketika mengedarkan pandangannya, Tan Ki sempat melirik sekilas kepada Liu Seng.

Meskipun mulutnya tidak mengatakan apa-apa, tetapi diam-diam dia sudah mengambil sebuah keputusan dalam hati. Dia seakan menyalahkan Liu Seng yang tanpa meminta persetujuannya lagi langsung membunuh Kiau Hun dengan pisau terbang. Apabila Oey Ku Kiong yang menempuh bahaya mengambil obat penawar dapat kembali tepat pada waktunya dan berhasil, bagaimana dia harus menyatakan tanggung jawabnya?

Ketika pertama-tama menerima jabatan sebagai Bulim Bengcu, dia sudah menentukan bahwa ‘Harus menjaga kepercayaan orang lain dan menepati janji’ sebagai peraturan ketiga yang tidak boleh dilanggar. Ternyata belum satu hari saja, Liu Seng sudah melanggar peraturan tersebut. Hal ini justru membuat Tan Ki jadi serba salah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Perlu diketahui bahwa Tan Ki sekarang merupakan seorang Bulim Bengcu. Baik perkataan maupun tindak tanduknya mempunyai pengaruh yang besar terhadap dunia Bulim. Dia harus bersikap tegas agar para anggotanya benar-benar takluk dan tidak memilih kasih. Sekarang dengan seenaknya Liu Seng melanggar peraturan yang ditentukan. Sudah seharusnya Tan Ki memberi hukuman kepadanya agar yang lain tidak ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Tetapi justru hubungannya dengan orang itu merupakan mertua dan menantu…

Semakin dipikirkan hati Tan Ki semakin kesal. Dia merasa pikirannya saat itu seperti buntu dan tidak dapat menentukan jalan yang harus dipilihnya. Kalau Oey Ku Kiong tidak berhasil mendapatkan obat penawar, mungkin urusannya tidak begitu rumit. Namun nyawa para anggotannya yang sedang sekarat…? Mungkin lebih baik kalau Oey Ku Kiong berhasil mendapatkan obat penawar tetapi waktunya lebih dari batas yang telah ditentukan, dengan demikian dia masih dapat mengemukakan berbagai alasan…

Justru ketika pikirannya masih bergerak, tiba-tiba dari seberang bukit terdengar suara siulan yang panjang. Kemudian disusul dengan belasan sosok bayangan yang muncul. Di bawah cahaya matahari yang terik, tampak mereka melesat datang dengan cepat.

Mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam, tangannya terangkat ke atas dan menggapai sebanyak dua kali. Orang-orang yang mengikutinya segera memencarkan diri dan mengambil posisi melebar seperti sayap burung rajawali yang direntangkan. Gerakan mereka sangat kompak seperti orang-orang yang sudah lama dilatih. Barisan mereka pun teratur sekali.

Tiba-tiba tampak cahaya merah menerpa pandangan mata, rupanya secara diam-diam orang-orang gagah itu sudah menyiapkan sehelai ikat pinggang merah untuk diri mereka masing-masing dan saat itu langsung digunakan untuk mengikat pinggang mereka.
Panjang pendeknya tidak sama, mungkin karena diselesaikan dengan tergesa-gesa. Hanya Tian Bu Cu seorang yang merupakan kekecualian. Dia tetap berdiri tidak bergerak di tempatnya semula.

Baru saja mereka selesai mempersiapkan diri, pihak lawan sudah mencapai puncak bukit Tok Liong-hong dan berdiri pada jarak tiga depa dari hadapan mereka.

Di sebelah kiri berbaris tiga orang, mereka adalah ketiga tongcu dari Lam Hay Bun, yakni Ho Tiang Cun, Miao Siong Fei dan Tio Hui. Di belakang mereka berbaris lagi lima atau enam belasan orang yang mungkin merupakan jago-jago dari pihak Lam Hay Bun.

Sedangkan di sebelah kanan dipimpin oleh Kaucu dari Pek Kut Kau, di sampingnya berdiri tegak adik seperguruannya, Kim Yu. Kemudian berbaris di belakangnya sepasang siluman berpakaian putih dan beberapa orang lainnya lagi.

Di tengah-tengah berdiri seorang pelajar berpakaian hijau, alisnya tebal berbentuk melengkung seperti golok. Di pundaknya terselip sepasang pedang yang gagangnya
berukuran tiga cun. Di pinggangnya menggantung sebuah kantong kulit yang biasa digunakan untuk menyimpan senjata rahasia. Sikapnya tenang dan penampilannya keren. Di sisi kiri kanannya berdiri kedua Bun Bu-siang, yakni Gia Tian Lun dan Tong Ku Lu.
Kedua orang itu seakan melindungi si pelajar tadi.

Melihat bentuk barisan pihak lawan, Ciu Cang Po benar-benar merasa di luar dugaan.
Terdengar mulutnya terus mengucapkan kata ‘Aneh…!’ berkali-kali.

Si pengemis sakti Cian Cong melirik kepadanya sekilas. Sepasang alisnya langsung mengerut ketat.

“Apa sih yang mulutmu ocehkan itu?” tanyanya kesal.

Ciu Cang Po langsung tertawa dingin. “Si nenek tua mempunyai kegembiraan tersendiri. Apapun yang ingin kulakukan, tidak perlu kau mengurusnya. Tiga bulan yang lalu, si nenek tua menerima sebuah pukulan dari-mu, sampai sekarang masih belum dapat dilupakan. 
Semoga dalam pertarungan kali ini, kaki atau tanganmu jangan sampai patah. Nanti kita cari kesempatan untuk memperhitungkan hutang piutang kita.” sikap nenek ini benar- benar keras kepala dan tidak pernah mengalah kepada siapapun.

Cian Cong tidak merasa aneh lagi dengan sikapnya itu. Dia mengembangkan seulas senyuman yang lembut dan menyahut.

“Seandainya si pengemis tua beruntung tidak mati dalam pertarungan ini, kapan waktu saja aku siap menyambut tantanganmu.”

Begitu pandangan matanya dialihkan, saat ini sikap kedua belah pihak sama-sama serius dan tegang. Biar bagaimana kedua belah pihak mempunyai maksud hati tersendiri. Yang satu ingin memamerkan kekuatannya dan berusaha menguasai dunia Bulim, sedangkan pihak yang lainnya justru ingin mempertahankan kelangsungan dunia Bulim agar tetap seperti sekarang ini. Dengan demikian, sebetulnya mereka tidak perlu menggerakkan lidah karena masing-masing sudah maklum kehendak hati lawannya. Oleh karena itu, sejak bertemu muka, tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun. Dari awal hingga akhir mereka hanya saling menatap dengan mata mendelik lebar-lebar.

Tan Ki menjabat kedudukan sebagai Bengcu. Seorang diri dia mewakili seluruh Bulim di daerah Tionggoan. Dia merasa dengan berdiam diri begini terus, tentu persoalan tidak dapat diselesaikan. Oleh karena itu, dia segera membusungkan dadanya dan berjalan keluar ke depan tiga langkah. Kemudian dia menjura kepada si pelajar berpakaian hijau sebagai salam penghormatan. Terdengar suaranya yang bening dan lantang…

“Apakah saudara sendiri yang dipanggil sebagai Toa Tocu dari Lam Hay Bun?” Pelajar berpakaian hijau itu memperlihatkan tawa yang datar.

“Nama saudara telah menggetarkan seluruh Tionggoan, ternyata pandangan matanya demikian rabun!” setelah mengucapkan kata-katanya, dia tertawa terkekeh-kekeh dua kali.

Mendengar ucapannya, Tan Ki justru tertegun untuk beberapa saat, kemudian baru dia melanjutkan kata-katanya.
“Kalau ditilik dari kata-katamu, tampaknya Toa Tocu sendiri masih belum muncul.
Cayhe sudah lama mendengar bahwa tocu tersebut berilmu sakti. Sekarang kesempatan sudah ada, tetapi malah belum bisa bertemu muka, hati ini benar-benar merasa kecewa.”

Si pelajar berpakaian hijau tertawa lebar.

“Kau anggap siapa guruku itu? Mana mungkin dia sudi bergebrak dengan seorang angkatan muda yang tidak berarti apa-apa seperti dirimu. Itulah sebabnya beliau mengutus aku, Hua Pek Cing sebagai wakilnya mengunjungi kalian.”

Mendengar kata-katanya yang tajam menusuk, hati Tan Ki mulai merasa tidak senang “Apapun yang dikehendaki oleh kita masing-masing tentunya kita sama-sama sudah paham. Apabila pertumpahan darah memang tidak dapat dielakkan lagi, lebih baik secara terang-terangan saja kita nyatakan cara bertarung yang akan dilangsungkan. Buat apalagi kita berbicara panjang lebar?”

Bibir Hua Pek Cing tetap mengembangkan seulas senyuman.

“Apa yang saudara katakan memang tidak salah sedikitpun. Lebih baik kita langsung bergebrak agar pihak mana yang unggul atau kalah akan segera ketahuan. Lihat siapa yang berhak menguasai daerah seluas laksaan li ini!”

Mendengar sampai di sini, Tian Tai Tiau-siu Kok Hua Hong tidak dapat mempertahankan kesabarannya lagi. Dia langsung membentak dengan suara keras, “Kentut busuk!” tubuhnya melesat ke depan dan dia langsung mengirimkan sebuah pukulan yang dahsyat.

Sikap Hua Pek Cing tetap tenang sekali. Tampaknya dia malah tidak perduli dengan serangan Kok Hua Hong yang dahsyat itu. Kejadian itu berlangsung dengan cepat.
Serangan Kok Hua Hong yang sengit belum sempat mencapai tubuh Hua Pek Cing, tiba- tiba telinganya mendengar suara bentakan marah, “Ilmu silat daerah Tionggoan hanya omong kosong saja. Kau kira dirimu pantas bergebrak dengan Sau Tocu (Tocu muda)?”

Serangan yang meluncur datang ini mengandung kekuatan yang bukan main hebatnya.
Begitu beradu dengan pukulan Kok Hua Hong, segera terasa isi perut Kok Hua Hong tergetar. Kakinya goyah dan ternyata dia tidak sanggup menahan serangan orang itu. Oleh karena itu, dia cepat-cepat menarik nafas panjang dan mencelat ke belakang.

Baru saja kakinya berdiri dengan mantap, tiba-tiba tampak seorang kakek kurus mengeluarkan suara tawa yang menyeramkan dan menerjang datang secepat kilat. Orang itu adalah salah satu dari Bun Bu-siang pihak Lam Hay, yakni Tong Ku Lu. Telapak tangan kirinya menjulur ke depan dan tangan kanannya menyusul mengirimkan sebuah serangan. Dalam satu jurus, ternyata orang itu menggunakan dua macam gerakan.

Begitu tergetar mundur oleh rangkum angin yang kencang, Kok Hua Hong segera sadar bahwa tenaga dalam lawannya tinggi sekali. Apalagi ilmu silat pihak Lam Hay kebanyakan terdiri dari ilmu-ilmu golongan sesat. Meskipun gerakan tubuhnya sangat cepat, tetapi tenaga dalam yang terpancar tidak seberapa terasa. Mana mungkin Kok Hua Hong berani memandang ringan lawannya. Cepat-cepat dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, kemudian melancarkan pukulan dengan posisi mendorong dari arah dada.
Bagian LII

Sepasang telapak tangan Kok Hua Hong menghantam ke depan dengan posisi menahan di depan dada. Tadinya dia berpikir ingin menahan serangan Tong Ku Lu, oleh karena itu tenaga dalam yang dikerahkannya dahsyat sekali. Tiba-tiba dia melihat Tong Ku Lu menarik kembali sepasang lengannya, tubuhnya malah mendesak ke depan. Dengan jurus Kerbau Menyeruduk Gunung, sekonyong-konyong dia menghantamkan pukulan ke depan. Kok Hua Hong sudah mengerahkan segenap tenaga dalamnya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Tong Ku Lu mendadak merubah gerakannya dan meluncurkan serangan kembali. Dalam keadaan panik dia tidak sempat mengganti jurusnya lagi, tanpa dapat ditahan lagi hatinya tercekat. Cepat-cepat dia menggunakan jurus Ikan Lele Melompat-lom-pat. Tubuhnya mencelat ke atas lalu berjungkir balik ke belakang.

Tong Ku Lu mengeluarkan suara bentakan yang keras, kaki kirinya mengirimkan sebuah tendangan ke depan. Kok Hua Hong segera merasakan ada serangkum kekuatan yang seperti batang besi membentur punggung sebelah kirinya. Tubuhnya langsung tergetar kemudian menggelinding di atas tanah seperti sebuah hiolo. Sampai jarak dua belas langkah, baru tubuhnya berhenti menggelinding. Kemudian dia membuka mulut dan memuntahkan segumpal darah segar lalu jatuh tidak sadarkan diri.

Hanya dalam dua jurus saja Tong Ku Lu berhasil melukai dengan parah seorang jago sedang tingkat delapan. Wajah Tan Ki beserta Rombongannya langsung berubah hebat. Mereka merasa sedih dan marah.

Si pengemis cilik Cu Cia dan Goan Yu Liong segera menghambur ke depan dan memapah Kok Hua Hong agar dapat segera diberikan pertolongan.

Hua Pek Cing melihat pihaknya berhasil meraih kemenangan dan pertama kali bergebrak langsung mendesak pihak Tionggoan, diam-diam dia merasa puas sekali sehingga tanpa sadar bibirnya menyunggingkan seulas senyuman. Dia mengibaskan tangannya sambil berkata, “Tong Sian-sing, setelah berhasil lekas kembali ke tempatmu, biar orang lain yang melayani babak berikutnya!”

Mendengar ucapannya, tanpa terasa sepasang alis Tong Ku Lu berkerut-kerut. Biar bagaimana dia merupakan seorang Bun Bu-siang dari Lam Hay Bun, kedudukannya tinggi sekali. Boleh dibilang hanya di bawah Toa Tocu seorang. Dia juga merupakan seorang tokoh yang dihormati oleh seluruh kalangan di daerah Lam Hay. Bahkan Hua Pek Cing seharusnya menyebut orangtua itu sebagai Supek, karena dia memang benar-benar Suheng dari Toa Tocu. Tetapi Hua Pek Cing justru menyebutnya Sian-sing (Tuan) di hadapan kedua belah pihak. Diam-diam dia merasa pamornya jatuh. Hatinya menjadi kurang senang. Tetapi dia tahu bahwa Sutenya merupakan seorang tokoh yang selain berilmu tinggi juga cerdas sekali. Setiap melakukan hal apapun selalu mempunyai pertimbangan yang matang. Apabila dia rela menyerahkan tugas seberat ini kepada muridnya, tentu saja dia mempunyai alasan yang kuat.

Begitu pikirannya tergerak, dia terpaksa menahan kemarahan dalam hatinya dan mengundurkan diri ke tempatnya semula. Kemudian terdengar suara tongkat besi yang dihentakkan di atas tanah. Dengungannya memekakan telinga. Seorang nenek tua berjalan keluar ke tengah arena.
“Si nenek tua sudah lama mendengar bahwa Lam Hay mempunyai ilmu yang sakti.
Entah apakah Hua Kongcu sudi memberikan pelajaran barang beberapa jurus?” sembari berkata, sepasang matanya yang menyorotkan sinar tajam bagai kilat menatap diri Hua Pek Cing lekat-lekat. Tidak syak lagi dia ingin membalas kekalahannya tempo hari!

Tiba-tiba Ho Tiang Cun yang menjabat sebagai Tongcu dalam Lam Hay Bun berkelebat keluar. Bibirnya mengembangkan senyuman.

“Kau kira siapa adanya tocu muda kami?

Mana sudi dia turun tangan memberi pelajaran kepadamu. Aku Ho Tiang Cun, seorang saja sudah cukup membuat kau mati dengan mata terpejam!”

Orang ini teria hi r dengan bibir sumbing dan mata sebelah. Lagi pula wajahnya penuh dengan bekas bacokan golok. Jeleknya sungguh seimbang dengan Om Cang Po. Kalau bukan dalam keadaan genting seperti ini, orang-orang lain pasti tertawa melihat kedua orang sama jeleknya itu berdiri berhadapan.

Mendengar ucapannya, Ciu Cang Po gusar sekali. Dia langsung melonjak ke atas dan mengirimkan sebuah pukulan. Dengan tangan kiri, Ho Tiang Cun menangkis serangannya, dalam waktu yang bersamaan terdengar suara terkekeh-kekeh dari mulutnya.

“Kalau tidak mengingat bahwa kau pernah terluka di tangan Tocu muda kami, dengan berani menampilkan diri menantang saja, kau sudah patut dihukum mati!”
Hawa amarah dalam dada Ciu Cang Po benar-benar meluap mendengar ucapannya. “Kentut busuk!” tubuhnya berkelebat, telapak tangan kiri menghantam dan tongkat di
tangan kanannya mengibas ke depan. Dalam waktu yang singkat dia melancarkan tujuh pukulan dan empat serangan tongkat. Tangan kanan Ho Tian Cun dibungkus de-ngan sebuah sarung tangan besi. Tentu saja dia tidak gentar menghadapi senjata apapun, Setelah menangkis sebuah serangan Ciu Cang Po, wajahnya berubah jadi serius. Kaki tangannya segera bergerak cian melancarkan serangan dengan gencar.

Kedua orang ini merupakan tokoh-tokoh berilmu tinggi. Baru bergebrak beberapa jurus, serangan yang dilancarkan semakin lama semakin keji. Tenaga dalam yang dipancarkan pun semakin dahsyat. Angin yang terpancar dari serangan mereka menderu deru, bayangan tongkat bagai layar yang berkibar-kibar. Masing-masing tidak ada yang sudi mengalah. Sekejap mata saja mereka sudah bergebrak sebanyak empat puluh jurus. Tiba- tiba tampak tongkat di tangan Ciu Cang Po melancarkan dua buah serangan. Setelah itu tubuhnya mencelat mundur sejauh setengah depa, sekaligus telapak tangan kirinya menghantam ke depan. Ho Tiang Cun tahu ke marahan, nenek itu telah berkobar, serangannya mengandung tenaga dalam sepenuhnya seakan hendak mengadu jiwa dengan dirinya. Dia juga langsung mengerahkan kekuatannya dan menyebarkannya ke sepasang lengannya. Sebelah matanya menatap diri Ciu Cang Po lekat-lekat, dia sudah bersiap-siap menyambut serangan nenek tua itu dengan kekerasan.

Mata kedua orang itu tampak garang sekali. Mereka menatap lawannya masing-masing tanpa berkedip sekalipun. Keduanya saling menunggu. Hal ini malah membuat suasana menjadi hening serta mencekam.
Sementara itu, telapak tangan Ciu Cang Po telah menghantam ke depan. Ketika tangan kirinya berputar, terasa ada serangkum angin yang kencang dan gencar melanda ke arah Ho Tiang Cun.

Sejak semula Ho Tiang Cun sendiri sudah menunggu musuhnya, melihat nenek tua itu melancarkan serangan, dia langsung mengerahkan tenaga dalam yang sudah dipersiapkannya secara diam-diam dan didorongnya ke depan untuk menyambut serangan Ciu Cang Po dengan kekerasan.

Dua gulung tenaga yang kuat langsung saling beradu. Kaki Ciu Cang Po terlihat goyah.
Dia tidak dapat berdiri dengan mantap, tubuhnya terhuyung-huyung beberapa kali kemudian terpaksa mundur ke belakang kurang lebih tiga langkah.

Ho Tiang Cun sendiri juga tergetar oleh hantaman tenaga dalam nenek tua itu yang kuat sehingga Bagian tubuh sebelah atas limbung dan bergoyang-goyang. Jubahnya yang panjang tampak berkibar-kibar.

Ciu Cang Po mengeluarkan suara dengusan dingin. Ternyata nenek tua itu memang nekat sekali. Tanpa mengatur pernafasannya lagi, lengan kirinya berputaran dan sekaligus dilancarkannya empat buah pukulan.

Ho Tiang Cun sendiri juga cukup keji. Dia tidak mengelak maupun menghindar, secara berturut-turut disambutnya pukulan Ciu Cang Po yang empat kali itu dengan kekerasan.

Situasi jadi panas, angin yang terpancar dari pukulan mereka bergulung-gulung. Yang seorang melancarkan empat pukulan, lawannya menyambut empat pukulan. Wajah keduanya mulai berubah. Nafas Ciu Cang Po tersengal-sengal, sedangkan keringat telah membasahi seluruh wajah Ho Tiang Cun.

Setelah menyambut empat kali pukulannya, Ciu Cang Po melihat keadaan Ho Tiang Cun masih biasa-biasa saja. Hal ini benar-benar membuat kemarahannya meluap. Dia segera membentak dengan suara keras, tubuhnya berkelebat ke depan dan langsung dikerahkannya lwekang kelas tinggi serta melancarkan serangan dari atas.

Pengalaman Ho Tiang Cun sebagai salah seorang Tongcu di Lam Hay sudah banyak sekali. Begitu melihat gerakan Ciu Cang Po, dia sadar nenek tua itu sudah mengerahkan lwekang kelas tinggi seakan hendak mengadu jiwa dengannya. Tanpa terasa sepasang matanya menyorotkan api amarah yang berkobar-kobar.

“Bagus sekali. Rupanya kau benar-benar hendak mengadu jiwa denganku?” teriaknya dengan suara melengking tajam.

Tangan keduanya yang telah diisi dengan tenaga dalam sepenuhnya langsung menghantam keluar menyambut serangan Ciu Cang Po yang dahsyat.

Cara bertarung yang menggunakan kekerasan ini benar-benar tidak dapat dianggap main-main. Lagipula jauh berbeda dengan cara yang digunakan orang-orang biasanya. Terdengar suara benturan yang menggelegar, baik Ciu Cang Po maupun Ho Tiang Cun sama-sama tergetar mundur sejauh empat langkah. Tubuh keduanya sama-sama terkulai di atas tanah kemudian memuntahkan segumpal darah segar.
Perubahan yang tidak disangka-sangka langsung terjadi, keduanya sama-sama rubuh di tengah arena. Ciong San Suang Siu segera maju ke depan memapah tubuh Ciu Cang Po, sedangkan di pihak lawan tampak Miao Siong Fei dan Tio Hui menghambur ke depan membangunkan Ho Tiang Cun.

Terdengar Miao Siong Fei bertanya dengan suara rendah, “Ho Tongcu, bagaimana keadaan lukamu?”

“Sejak semula aku sudah mengerahkan hawa mumi untuk melindungi isi perut. Darah yang kumuntahkan tadi hanya karena tergetar oleh ilmu lwekangnya yang hebat sehingga terdesak keluar. Apabila dia masih bisa melakukan penyerangan, mungkin aku akan mati saat itu juga. Tetapi aku tahu bahwa dia sudah terhantam oleh lwekang yang kupancarkan. Bukan saja dia tidak sanggup bertarung lagi, luka dalamnya bahkan jauh lebih parah dari diriku.”

Selesai berkata, senyumannya ditarik kembali. Cepat-cepat dia menarik nafas panjang satu kali kemudian melepaskan diri dari bim-bingan tangan Miao Fei Siong serta Tio Hui.

Dengan langkah lebar dia kembali ke tempatnya semula.

Hua Pek Cing melihat pihaknya secara berturut-turut telah menang di atas angin. Tetapi salah satu jagonya yang paling diandalkan juga sempat terluka. Sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas, perlahan-lahan dia melangkah maju ke depan.

Para jago dari pihak Lam Hay melihat Tosu muda mereka tampil ke depan seakan ingin turun tangan sendiri menghadapi lawan. Secara berbondong-bondong mereka juga berebutan berjalan keluar. Bahkan Kaucu Pek Kut Kau dari Si Yu juga ikut-ikutan berjalan keluar dari barisan mereka.

Para jago dari Perkumpulan Ikat Pinggang Merah takut pihak lawan akan menyerbu secara mendadak, dengan demikian mereka tentu kewalahan menghadapinya. Cepat- cepat mereka mencabut senjata masing-masing dan menyongsong ke depan.

Para jago dari kedua pihak berbondong-bondong keluar, suasana menjadi tegang tidak terkirakan. Tempat itu bagai telah ditanami puluhan mesiu yang siap meledak setiap saat. Jarak antara kedua pihak semakin mendekat, tampaknya sebuah pertempuran besar- besaran segera akan berlangsung di depan mata. Tiba-tiba Hua Pek Cing menghentikan langkah kakinya serta mengibaskan tangannya.

“Kalian semua mundur!”

Kata-kata itu diucapkan dengan datar, namun pengaruhnya besar sekali. Para jago dari pihak Lam Hay dan Si Yu ternyata langsung mengundurkan diri masing-masing. Hanya Kaucu Pek Kut Kau saja yang masih berdiri di tempat semula.

Hua Pek Cing maklum bahwa orang itu menjaga gengsinya sehingga dia juga tidak ambil hati, bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang datar. Kemudian dia membalikkan tubuhnya kembali dan maju beberapa langkah lagi. Dia segera menjura kepada Tan Ki dan berkata:

“Di dunia Bulim banyak sekali macam ragamnya. Sulit menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Masing-masing mempunyai pandangan hidup tersendiri. Guruku
yang berbudi menyimpan harapan ingin menguasai dunia Bulim, sebetulnya bukan untuk dirinya sendiri. Beliau ingin mempersatukan seluruh Bulim di bawah benderanya sehingga tidak ada lagi yang mendirikan partai masing-masing. Oleh karena itu, tanpa memperdulikan jalan apapun yang harus ditempuhnya, beliau ingin menciptakan kebahagiaan untuk dunia Bulim sampai ratusan tahun yang akan datang. Tetapi ditilik dari keadaan yang ada, ternyata niat ini malah menimbulkan persengketaan. Mungkin hanya dengan ilmu kepandaian kita dapat menentukan siapa yang lebih kuat atau siapa yang berhak hidup. Namun hal ini merupakan urusan kita berdua yang telah terpilih sebagai pemimpin. Oleh karena itulah, segalanya kita yang berhak menentukan. Barusan telah terjadi dua babak pertarungan, meskipun ada menang dan ada yang kalah, tetapi babak ketiga ini lebih baik kita saja yang turun tangan sendiri agar urusan ini dapat diselesaikan secepatnya!”

Dikiranya siapa Tan Ki itu, mana mungkin dia sudi menunjukkan kelemahannya. Perge- langan tangannya memutar dan Pedang Penghancur Pelangi sudah tergenggam dalam telapak tangannya. Segera terpancar hawa yang dingin dari pedang itu. Baru saja dia hendak melangkah keluar. Liu Seng sudah mencelat ke depan dan menolehkan kepalanya.

“Kau merupakan Pangcu dari sebuah perkumpulan, jangan sembarangan turun tangan kalau tidak mendesak sekali. Biar aku yang hadapi dulu babak ini, nanti baru lihat lagi perkembangannya!”

Tan Ki agak bimbang sejenak, kemudian dia berpesan dengan suara rendah, “Ilmu silat pihak Lam Hay selamanya terkenal ganas dan keji. Harap. Yok-hu berhati-hati.”

Liu Seng tersenyum sambil menganggukkan kepadanya. Dengan langkah lebar dia berjalan ke hadapan Hua Pek Cing. Sembari berjalan, dia mengeluarkan pedang besinya yang berat dan telah membuat namanya terkenal di dunia Kangouw.

Hua Pek Cing tersenyum simpul kepadanya.

“Rupanya Lok Yang Sin-kiam, tuan Liu, Hua Pek Cing sudah lama mengagumi dirimu.
Hari ini beruntung dapat bertemu muka, cayhe akan menghadapimu satu lawan satu untuk melihat sampai di mama kedahsyatan ilmu silat daerah Tionggoan dengan tangan kosong menemanimu bermain-main barang beberapa jurus!”

Mendengar sesumbarnya yang begitu besar, untuk sesaat Liu Seng tidak menyangkanya sehingga termangu-mangu.

“Apa?” dia bertanya sekali lagi seakan tadi telinganya masih belum mendengar ucapannya dengan jelas.

Hua Pek Cing tertawa lebar.

“Menghadapi seorang Cianpwe yang namanya sudah menjulang tinggi seperti dirimu ini, rasanya kurang seru apabila menggunakan senjata. Seandainya tuan Liu dapat bertahan dua puluh jurus bergebrak denganku, biarlah babak ini anggap dirimu yang menang.”

Kata-kata yang diucapkannya ini terdengar biasa-biasa saja, tetapi makna yang terkandung di dalamnya justru tajam menusuk. Sepasang alis Liu Seng sampai menjungkit ke atas. Bahkan wajah para jago dari pihak Lam Hay dan Si Yu pun sampai berubah. Liu
Seng sudah berkecimpung di dunia Kangouw kurang lebih tiga puluhan tahun. Sebatang pedang besi yang beratnya mencapai dua belas kati itu pernah menggetarkan sungai telaga. Mana boleh dia disamakan dengan tokoh sem-barangan. Sedangkan Hua Pek Cing mengucapkan kata-kata yang sesumbar di hadapan para jago kedua belah pihak. Dengan tangan kosong dia ingin menghadapi sebatang pedang tua Liu Seng, hal ini benar-benar membuat orang merasa bahwa dirinya sudah lebih dari keterlaluan.

Perlu diketahui bahwa kedua Bun Bu-siang dan ketiga tongcu dari Lam Hay merupakan orang-orang yang usianya sudah setengah baya bahkan ada yang sudah tua sekali.
Kedudukan mereka sangat tinggi dan sudah sejak lama nama mereka terkenal. Tiba-tiba mereka disuruh menerima perintah dari seorang bocah yang baru menginjak dewasa, meskipun mulut mereka tidak mengatakan apa-apa, tetapi dalam hati pasti merasa tidak senang. Tetapi karena pengaruh tocunya yang terhormat, mereka tidak berani memprotes secara terang-terangan.

Sedangkan Hua Pek Cing juga seorang pemuda yang cerdas. Dia maklum bahwa dengan usianya yang begitu muda, sekarang dia harus mengendalikan para jago dari dua partai, tentu sulit meminta mereka merasa takluk begitu saja. Oleh karena itu, dia sengaja tidak mengijinkan para tongcunya turun tangan lagi. Dalam hatinya dia berniat melukai beberapa jago dari pihak lawan agar nyali musuh tergetar lebih dahulu. Sekaligus memamerkan sedikit ilmunya yang sejati agar para jagonya atau jago dari pihak Si Yu tidak berani memandang remeh dirinya.

Sementara itu, Liu Seng yang mendengar kata-katanya, langsung memicingkan matanya. Meskipun dia merupakan seorang tokoh yang sudah mengalami banyak hal, tetapi saat itu hawa amarah dalam dadanya terasa meluap juga mendengar ucapan anak kemarin sore yang begitu menyakitkan.

“Benar-benar mulut yang besar sekali! Lohu berkecimpung di dunia Kangouw selama puluhan tahun, tetapi belum pernah bertemu dengan orang yang begitu menganggap remeh orang lain seakan dirinya sendiri yang paling hebat!” pedang panjangnya diangkat ke atas, dengan jurus Menggetarkan Lonceng Besar, dia menikam ke depan.

Hua Pek Cing tersenyum simpul. Tiba-tiba tubuhnya bergerak mendesak ke arah Liu Seng, ketika pergelangan tangannya bergerak, dengan telak dia melancarkan sebuah totokan ke salah satu urat darah Liu Seng yang mematikan.

Gerakan tubuhnya yang aneh itu mengandung kecepatan yang tidak terkirakan. Orang- orang yang hadir di tempat itu tercekat bukan kepalang. Liu Seng tidak sempat menarik kembali serangannya, terpaksa dia mencelat mundur sejauh tujuh delapan langkah.
Sedangkan Hua Pek Cing masih berdiri di tempatnya semula. Dia tidak mengejar lawannya.

Penampilannya tenang dan keren. Bibirnya mengulumkan seulas senyuman. “Bagaimana kalau yang tadi itu dihitung sebagai jurus pertama?”
Kata-katanya itu bagaikan sebilah pisau yang menikam jantung Liu Seng. Dia berkecimpung di dunia. Kangouw selama puluhan tahun, mana pernah dia menerima hinaan sehebat ini? Begitu marahnya laki-laki setengah baya ini, sehingga dia langsung meraung keras, secepat kilat dia menerjang lagi ke depan, pedang besinya digetarkan.
Timbul angin yang kencang dan kilatan cahaya yang dingin. Serangannya kali ini hebat bukan main.

Hua Pek Cing mengelakkan dirinya sedikit, tampaknya seperti menghindarkan serangan musuh, tetapi sebenarnya dia malah balas menyerang. Jari tangannya meluncur ke depan mengirimkan sebuah totokan.

Jurus yang dikerahkannya seakan mengandung keajaiban. Bukan saja dia berhasil mengelak dari serangan Liu Seng, bahkan dalam waktu yang bersamaan dia mendesak maju dan mengirimkan sebuah totokan. Begitu terdesaknya Liu Seng sehingga terpaksa’ mencelat mundur sejauh tiga tindak. Dengan demikian dia baru berhasil menghindarkan diri dari serangan Hua Pek Cing yang dahsyat.

Dengan gaya yang bukan main santainya, Hua Pek Cing tertawa-tawa.

“Yang ini terhitung jurus kedua. Kau masih mempunyai kesempatan delapan jurus untuk meraih kemenangan!” begitu selesai berkata, kembali dia tertawa lebar. Matanya menyorotkan sinar yang bercahaya terang, tetapi dari sepasang alisnya justru tersirat hawa pembunuhan yang tebal.

Mei Ling dan Tan Ki menyaksikan pertarungan di antara kedua orang itu dengan seksama. Setelah lewat beberapa jurus, bukan saja mereka dapat melihat kelemahan orang-tuanya, tetapi semakin lama justru semakin terdesak di bawah angin. Jangan kata perbandingan tenaga dalam di antara keduanya, jurus-jurus yang dikerahkan Hua Pek Cing demikian ajaib dan aneh sudah cukup membuat Liu Seng kalang kabut. Kalau dia benar-benar bertarung dengan serius, mungkin dalam sepuluh jurus saja, Liu Seng sudah rubuh di atas tanah bermandikan darah.

Ternyata sesumbar yang dicetuskan mulut Hua Pek Cing bukan sekedar bualan saja.
Tanpa dapat ditahan lagi hati sepasang suami isteri itu jadi mengkhawatirkan keadaan Liu Seng. Secara diam-diam mereka mengerahkan tenaga dalamnya dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Apabila keadaan Liu Seng terlihat berbahaya, tentu mereka akan segera turun tangan memberikan bantuan.

Terdengar Hua Pek Cing mengeluarkah suara tawa terbahak-bahak.

“Cayhe sudah lama mendengar bahwa pedang besi tuan Liu mempunyai jurus serangan yang sakti dan dapat mengalahkan lawan sampai takluk. Tetapi apabila melihat kenyataan hari ini, tampaknya berita itu terlalu dibesar-besarkan. Kalau pertarungan ini tetap diteruskan, rasanya tidak seru lagi. Lebih baik tuan Liu mengundang beberapa rekan yang lain agar cayhe merasa lebih puas melanjutkan pertarungan ini, bagaimana?”

Apabila kata-kata ini tercetus dari mulut orang lain, pasti orang-orang dari kedua belah pihak merasa ucapan seperti itu keterlaluan dan tidak pantas diucapkan. Wajah Liu Seng sampai merah padam mendengar perkataannya. Tiba-tiba dia meraung marah dan tubuhnya mencelat ke udara, pedang besi yang be? ratnya mencapai dua belas kati itu langsung melancarkan serangan yang tidak terkirakan dahsyatnya. Tampak pedangnya laksana naga sakti yang meliuk-liuk di angkasa serta mengi baskan ekornya dengan marah.

Serangannya kali ini dilancarkan dalam keadaan marah, dia sudah bertekad menghabiskan nyawa Hua Pek Cing di bawah serangan pedangnya. Dengan demikian
hinaan yang diterima jadi terbalas. Oleh karena itu, setiap jurus yang dikerahkannya selalu mengandung kedahsyatan yang luar biasa kejinya.

Hua Pek Cing tertawa panjang. Tubuhnya bergerak perlahan, jubahnya yang panjang berkibar-kibar. Dia menerobos masuk ke dalam bayangan pedang yang bergulung-gulung. Gerakan tubuhnya bagai seekor kupu-kupu yang menyelinap ke dalam gerombolan bunga. Dia berkelebat ke sana ke mari dalam bayangan pedang Liu Seng.

Secara berturut-turut empat belas jurus telah berlalu. Sebatang pedang Liu Seng seperti hujan yang diterpa angin kencang, melesat ke kiri dan kanan. Tetapi dari awal hingga akhir tetap saja dia tidak sanggup menyentuh ujung pakaian Hua Pek Cing, apalagi tubuh orang itu. Boleh dibilang dalam empat belas jurus tersebut, Hua Pek Cing hanya menghindarkan diri saja. Dia tidak membalas serangan Liu Seng.

Setelah memperhatikan sejenak, orang-orang yang ada di tempat itu segera sadar bahwa ilmu Tocu muda itu memang tinggi sekali…

Setelah empat belas jurus terlewatkan, tiba-tiba Hua Pek Cing tertawa panjang.
Sepasang lengannya berputaran secepat kilat dan menimbulkan angin yang kencang. Sekonyong-konyong dia melancarkan serangan. Tampak gerakan tangannya begitu aneh dan belum pernah dilihat selama hidupnya oleh Liu Seng. Untuk sesaat Liu Seng menjadi kalang kabut dan bingung bagaimana harus menghadapi anak muda itu. Tahu-tahu salah satu jalan darahnya telah tertendang oleh Hua Pek Cing. Tidak sempat mendengus sekalipun, tubuhnya langsung terkulai dan jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah.

Gerakan Hua Pek Cing terlalu cepat. Meskipun Tan Ki sudah berjaga-jaga sejak tadi, tetapi dia tetap tidak keburu memberikan pertolongan. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya menjungkit ke atas. Dia mendengus dingin satu kali kemudian berjalan keluar perlahan-lahan dengan niat hendak menghadapi musuh itu dengan tangannya sendiri.
Tiba-tiba terasa ada serangkum tenaga yang kuat menahan tubuhnya. Begitu menolehkan kepalanya, dia melihat Yibun Siu San memberikan isyarat dengan gerakan tangannya mencegah tindakannya. Sepasang mata orangtua itu menyorotkan sinar yang penuh perhatian “serta kasih sayang.

Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, tentu saja dia mengerti maksud hati pamannya. Biar bagaimana sekarang kedudukannya merupakan Bulim Bengcu. Yibun Siu San khawatir kalau dia sempat terluka parah di tangan Hua Pek Cing. Diam-diam Tan Ki merasa terharu sekali. Setelah menarik nafas panjang-panjang. Dia segera menghentikan langkah kakinya.

Hatinya sendiri sedang gundah. Mana mungkin dia tidak paham bahwa sebagai seorang Bulim Bengcu, pertama kali bergebrak melawan musuh, apabila dirinya sampai mengalami kekalahan, tentu nama besarnya akan hancur seketika. Kepercayaan yang diberikan oleh para anggotanya juga sirna begitu saja. Dan yang paling parah, justru bisa mempengaruhi seluruh Bulim di daerah Tionggoan yang pasti akan dihina secara habis-habisan. Tetapi baru beberapa jurus ilmu yang dipamerkan oleh Hua Pek Cing, sudah membuktikan bahwa kepandaiannya sudah mencapai taraf sedemikian tinggi sehingga sulit dibayangkan. Begitu kuatnya sehingga di luar dugaan orang-orang dari kedua belah pihak.

Kalau ditilik dari kekuatan kedua belah pihak, hanya si pengemis sakti Cian Cong, Yibun Siu San dan Tian Bu Cu yang ilmunya paling tinggi, sedangkan orang-orang seperti Ciong
San Suang Siu, Goan Siang Fei atau mertua Tan Ki sendiri, hanya termasuk pendekar pedang tingkat delapan. Kalau Liu Seng tidak sanggup menghadapi Hua Pek Cing.
Mungkin hanya mengorbankan nyawa secara sia-sia apabila dipaksakan juga. Tetapi Yibun Siu San dan Cian Cong merupakan angkatan tua bagi Tan Ki, sedangkan Tian Bu Cu malah seorang tamu yang hadir atas kehendaknya sendiri. Tentu saja dia merasa tidak enak hati meminta ketiga orang Cianpwe tersebut maju ke depan menghadapi musuh.
Setelah dipikir bolak-balik, mungkin kalau dirinya sendiri yang tampil menghadapi lawan, baru bisa mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak lagi.

Hati Tan Ki sudah bertekad, apabila memang tidak ada harapan untuk memenangkan pertarungan ini, paling tidak dia harus mati sebagai seorang pendekar sejati dan meninggalkan nama yang harum bagi negaranya sendiri.

Justru ketika Tan Ki ingin maju menghadapi lawan dicegah oleh Yibun Siu San, tampak Ciong San Suang Siu dan Mei Ling menghambur ke depan. Mei Ling segera mengangkat tubuh ayahnya untuk memberikan pertolongan, sedang kedua orang Ciong San Silang Siu langsung menerjang ke arah Hua Pek Cing. Baik telapak tangan maupun kipas yang digunakan sebagai senjata oleh Yi Siu bergerak dalam waktu yang bersamaan.

Hua Pek Cing langsung memperdengarkan suara tertawa yang dingin.

“Apakah kalian ingin menggunakan cara bergiliran agar tenaga lawanmu terkuras habis?”

Sembari berkata, tubuhnya bergeser ke samping. Dengan gesit dia menghindarkan diri dari pukulan Cu Mei. Pergelangan tangan kanannya dalam waktu yang bersamaan menjulur keluar, langsung terlihat bayangan jari tangan yang tidak terhitung jumlahnya. Yi Siu menjadi terdesak sedemikian rupa sehingga terpaksa menarik kembali serangan kipasnya, kemudian mencelat mundur sejauh tiga langkah.

Kali ini tampaknya Hua Pek Cing tidak sungkan lagi, tubuhnya bergerak ke depan, tangan kanannya diangkat ke atas sedikit dan dilancarkannya sebuah totokan ke arah teng-gorokan Yi Siu.

Si pendek gemuk Cu Mei melihat keadaan mulai tidak beres, cepat-cepat dia mengeluarkan suara bentakan keras lalu menerjang ke punggung Hua Pek Cing. Lengan kirinya berputar dan telapak tangan kanannya menghantam. Ternyata dalam satu jurus, dia melancarkan dua buah serangan yang berbeda. Namun Hua Pek Cing seperti tidak menyadari datangnya bahaya. Serangan yang ditujukan kepada Yi Siu masih tetap meluncur. Ketika rangkuman angin yang terpancar dari pukulan Cu Mei mulai terasa, lengan kirinya tiba-tiba ditarik kembali tanpa memalingkan kepalanya sedikitpun atau melirik sekilaspun, seakan di punggungnya tumbuh sepasang mata saja. Dia dapat mengetahui jarak Cu Mei dengan tepat. Kedua jari telunjuk dari jari tengahnya langsung dijulurkan ke depan. Dalam waktu yang bersamaan, dia menundukkan kepalanya sedikit sehingga pukulan yang dilancarkan Cu Mei lewat di atas kepalanya.

Tetapi Cu Mei sendiri justru terdesak sedemikian rupa sehingga terpaksa mencelat mundur ke belakang.

Perubahan jurus yang dilancarkan sudah termasuk cepat, tetapi ternyata gerakan Hua Pek Cing terlebih cepat lagi. Tangannya baru terlihat diangkat ke atas, ternyata urat darah Yi Siu telah tertotok, dan hampir dalam waktu yang bersamaan, kakinya menindak mundur
setengah langkah kemudian berputar satu kali. Tubuh Cu Mei baru berdiri dengan mantap, tahu-tahu dia melihat Hua Pek Cing sudah mendesak ke arahnya. Telapak kanan anak muda itu langsung menepuk jalan darah yang terdapat di pundak Cu Mei. Tangan kirinya membentuk cakar serta mencengkeram ke bawah pusar orang gemuk pendek itu.

Cu Mei langsung terdesak hebat oleh dua buah serangan yang dilancarkannya sekaligus. Hatinya tercekat bukan kepalang, cepat-cepat dia mencelat mundur. Tetapi gerakan tangan kanan Hua Pek Cing yang lambat tiba-tiba berubah menjadi cepat. Dalam sekejap mata sudah mengejar di belakangnya. Kejadiannya berlangsung secepat kilat, baru saja Cu Mei bermaksud mengundurkan diri tetapi tidak keburu lagi. Tahu-tahu dia merasa pundaknya seperti kesemutan dan tenaganya lenyap seketika. Kontan tubuhnya terjengkang ke belakang kemudian rubuh di atas tanah.

Dalam beberapa gebrakan saja ternyata Hua Pek Cing sanggup mengalahkan dua orang pendekar pedang tingkat delapan. Semua orang yang hadir di tempat itu merasa terkejut setengah mati. Bahkan kedua orang Bun Bu-siang dan ketiga orang tongcu dari Lam Hay Bun sendiri sampai memandangnya dengan terpana. Perasaan merendahkan dan tidak senang yang tadinya masih tersisip di sudut hati sekarang sirna seketika. Mereka malah merasa malu, kagum dan aneh bukan kepalang.

Pada saat itu, orang yang paling merasa serba salah sudah tentu Tan Ki. Maju salah, tidak maju salah. Dari awal hingga akhir hatinya terus dilanda kebimbangan. Melihat Hua Pek Cing yang setelah mengalahkan Ciong San Suang Siu masih berdiri dengan mengulumkan seulas senyuman, perasaannya semakin gundah. Pihak lawannya masih begitu muda, ilmunya sudah mencapai taraf yang demikian tinggi. Setelah bertarung dua kali, orangnya masih keren dan berwibawa. Tidak tampak wajahnya menyiratkan perasaan lelah.

Bahkan saat itu Hua Pek Cing sedang menatapnya sembari tersenyum simpul.

Hal ini membuat hawa amarah dalam dada :Tan Ki jadi meluap. Dia menolehkan kepalanya menatap Yibun Siu San sambil berkata dengan suara lirih.

“Keponakan tidak sanggup menahan kesabaran lagi. Harap Siok-siok mewakili aku mengatur anggota yang lainnya.” sembari berkata, dia langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar dan dengan membusungkan dada berjalan keluar. Sebetulnya dia khawatir Yibun Siu San akan mencegahnya lagi, oleh karena itu tanpa menunggu jawaban dari pamannya itu, dia langsung berjalan ke depan. Terdengar suara tarikan nafas panjang dari belakang punggungnya. Sudah tentu Yibun Siu San sedang menyesalkan dirinya sendiri yang tidak keburu mencegah tindakan Tan Ki.

Hati Tan Ki jadi tertekan, sekonyong-konyong dia merasakan kegagahannya surut secara tidak terduga. Oleh karena itu, dia segera mendongakkan wajahnya dan menarik nafas dalam-dalam agar hatinya dapat tenang kembali.

Biar bagaimana dia merupakan seorang Bulim Bengcu. Pertarungan yang akan dihadapinya ini, meskipun merupakan persoalan harga dirinya seorang, tetapi sebetulnya menyangkut kesejahteraan dunia Bulim yang sudah berlangsung selama ribuan tahun.

Tampak wajah Tan Ki serius dan berwibawa. Perlahan-lahan dia melangkah ke depan.
Otomatis pandangan mata orang-orang dari kedua belah pihak segera terpusat pada dirinya. Suasana semakin tegang dan mencekam.

Hua Pek Cing langsung tertawa lepas.

“Kalau saudara lebih cepat sedikit turun ke tengah arena, tentu mengurangi jumlah anggotamu yang terluka. Cayhe sudah lama sekali mendengar kehebatan ilmu silat dari daerah Tionggoan. Justru ingin sekali melihat dengan mata kepala sendiri seorang tokoh yang benar-benar sakti!”

Tan Ki tidak menyahut sepatah katapun. Terhadap ucapan yang congkak itu, dia seperti tidak mendengarnya sama sekali. Ketika jarak keduanya kurang lebih tinggal tujuh langkah, tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya. Sepasang matanya menyorotkan sinar yang berkilauan dan menatap Hua Pek Cing lekat-lekat.

Melihat sikapnya yang keren dan penuh wibawa, tanpa dapat ditahan lagi hati Hua Pek Cing dilanda perasaan tegang.

Kurang lebih sepeminuman teh mereka saling menatap tanpa mengucapkan sepatah ka-tapun. Hal ini malah membuat suasana yang hening semakin mencekam. Rasanya udara begitu pengap sehingga nafas orang-orang yang berkumpul di tempat itu menjadi sesak. Bahkan keringat dingin telah membasahi kening mereka.

Setelah menunggu beberapa saat, tampak kesabaran Hua Pek Cing mulai habis. Kaki kirinya maju ke depan satu langkah. Perlahan-lahan dia mengangkat sepasang lengannya, dia menggenggam gagang sepasang pedangnya yang disampirkan di belakang punggung. Tetapi dia masih belum menghunusnya, matanya menatap Tan Ki sembari mengembangkan seulas senyuman.

“Tampang saudara kurang segar, apakah semalam tidak dapat tidur dengan nyenyak?”

Untuk sesaat Tan Ki sempat tertegun. Tetapi tangan kanannya tetap menggenggam pedang Penghancur Pelangi, tubuhnya tidak bergerak sedikitpun.

Kembali terdengar suara Hua Pek Cing berkata, “Pada saat ayahmu menemukan kema- tiannya secara mengenaskan malam itu, mungkin kau sudah tahu gerak-gerik ibumu, rasanya tidak perlu Cayhe menceritakannya lagi secara panjang lebar. Tetapi sebetulnya ada orang yang pernah melihat ibumu bersandar dalam pelukan seorang laki-laki…”

Mendengar kata-katanya, tanpa dapat ditahan lagi sepasang alis Tan Ki menjungkit ke atas. Baru saja dia ingin membantah kata-kata Hua Pek Cing, tiba-tiba suatu ingatan melintas di benaknya. Dia teringat tulisan yang pernah dibacanya dalam sebuah kitab ilmu silat: Apabila berhadapan dengan seorang musuh tangguh, biar lawanmu mengatakan hal yang bagaimana menyakitkan hati, kau sama sekali tidak boleh menyahutnya. Kalau tidak, begitu emosi dalam dadamu terbangkit, pasti lawanmu akan mempergunakan kesempatan baik tersebut untuk melakukan penyerangan yang tidak terduga-duga!

Pikirannya tergerak, Tan Ki langsung mendengus dingin. Sepasang kakinya bagai terpantek di atas tanah, sikapnya tetap menunggu dengan tenang dan perhatian serta kewaspadaannya dibangkitkan.

Secara berturut-turut Hua Pek Cing mengeluarkan ucapan yang menyakitkan hati.
Tetapi sejak awal hingga akhir, Tan Ki tidak menyahut sepatah katapun. Bahkan dia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Melihat Tan Ki tidak terpengaruh oleh kata-katanya, hati
Hua Pek Cing malah berbalik jadi tidak tenteram. Keringatnya mengucur deras bagai curahan hujan.

Rupanya sikap Tan Ki yang berdiri tegak dengan menggenggam pedangnya erat-erat, merupakan pembukaan jurus dari Kiam-sut tingkat tertinggi. Hal ini membuat orang yang melihatnya merasa sikapnya itu demikian angker dan tidak mudah ditaklukkan.

Dalam suasana yang tegang dan mencekam, kedua orang itu masih saling menunggu beberapa saat. Tetapi waktu yang tidak seberapa lama ini justru bagai berabad-abad bagi keduanya. Serasa menit demi menit panjang sekali berlalunya.

Dalam keheningan, tiba-tiba Hua Pek Cing mengeluarkan suara bentakan keras, sepasang pedangnya dihunus, tampak cahaya melesat bagai pelangi, serentak dikirimkannya serangan ke depan.

Justru ketika dia mulai bergerak dari lambat berubah menjadi cepat, lengan kanan Tan Ki tiba-tiba bergerak. Langsung terlihat kilatan cahaya berkilauan yang melesat keluar dengan kecepatan tidak terkirakan, namun orangnya sendiri hampir dalam waktu yang bersamaan, mencelat mundur ke belakang kurang lebih setengah kaki.

Serangan yang dilancarkan Tan Ki ini mengandung kecepatan yang sulit diuraikan dengan kata-kata, begitu melancarkan serangan orangnya langsung mencelat ke belakang. Dia berdiri tegak kembali dengan tangan menggenggam pedang Penghancur Pelanginya erat-erat. Orang lain sama sekali tidak sempat melihat jurus apa yang digunakannya barusan.

Kedua orang itu baru bergebrak satu jurus tiba-tiba memencar kembali, tetapi orang- orang yang hadir di tempat itu sudah dapat melihat bahwa mereka sama-sama mengerahkan ilmu pedang tingkat tertinggi. Dan mereka saling melancarkan sebuah serangan kepada lawannya masing-masing.

Begitu pandangan mata dialihkan, tampak pedang di tangan kiri Hua Pek Cing merentang di depan dada, sedangkan pedang di tangan kanannya terangkat di atas kepala. Nafasnya mulai tersengal-sengal, namun di kening sebelah kirinya justru terlihat luka sepanjang jari tengah orang dewasa. Baik keringat dan darah mengucur deras dalam waktu yang bersamaan.
Melihat keadaan yang berlangsung, terdengar Tian Bu Cu menarik nafas panjang. “Pedang terhunus, darah mengalir. Ini benar-benar yang disebut ilmu pedang tingkat
tertinggi. Hari ini pandangan mata pinto mendapat pengalaman baru lagi!”

Si pengemis sakti Cian Cong mengejap-ngejapkan matanya. Mulutnya merekah tertawa lebar.

“Untung barusan Tan Ki yang maju ke depan, kalau digantikan dengan si pengemis tua, rasanya belum sanggup menghadapi ilmu pedang Hua Pek Cing yang sudah mencapai taraf demikian tinggi. Apabila sampai turun tangan juga, sudah pasti pihak pengemis tualah yang mengalami kekalahan. Tampaknya ilmu pedang benar-benar tidak ada batasnya. Kedua bocah ini baru berusia dua puluhan, tetapi ilmu pedang mereka justru sudah jauh lebih tinggi dari si pengemis tua.”
Sembari berkata, kembali dia menggelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang.
Namun wajahnya justru berseri-seri. Tokoh sakti yang sifatnya angin-anginan ini sangat memperhatikan diri Tan Ki dan menyayanginya bagai putra kandung sendiri.

Begitu pandangan matanya beralih lagi ke tengah arena, dia melihat kedua orang itu sudah bertarung kembali dengan sengit. Tampak secarik cahaya berwarna putih yang berkilau-kilauan serta guratan sinar seperti pelangi yang berwarna kehijauan saling berkelebat memenuhi angkasa. Demikian terangnya cahaya yang terpancar dari ketiga batang pedang tersebut, sehingga tubuh keduanya bagai terbungkus rapat-rapat. Hawa pedang menyelimuti sekitar mereka. Tetapi tidak terdengar suara benturan senjata mereka sedikitpun.

Kurang lebih satu kentungan kemudian, tampak cahaya berwarna hijau semakin lama semakin melebar. Tiba-tiba terdengar suara benturan logam yang nyaring dan membuat gendang telinga serasa ngilu. Kemudian disusul dengan tubuh Hua Pek Cing yang rubuh di atas tanah.

Tubuh Tan Ki sendiri terhuyung-huyung. Secara berturut-turut, kakinya tergetar mundur sejauh lima langkah. Darah segar tampak mengalir dari bahu kirinya, jatuh menetes membasahi tanah.

Bun Bu-siang Cia Tian Lun dan Tong Ku Lu segera menghambur keluar dari barisan mereka. Dipondongnya tubuh Tocu muda mereka.

Di lain pihak Cian Cong dan Yibun Siu San juga berlari ke depan kemudian memapah tubuh Tan Ki.

Tangan kanan Yibun Siu San langsung terjulur ke depan mengirimkan sebuah totokan ke pundak Tan Ki agar darah yang mengalir dapat dihentikan. Kemudian dia mengeluarkan obat luka dari balik pakaiannya dan diborehkannya ke luka Tan Ki. Terdengar dia berkata dengan suara lirih, “Apakah kau masih sanggup bertahan beberapa saat?”

Tan Ki mengembangkan seulas senyuman yang sendu.

“Kalau aku tidak mempertahankan diri supaya jangan sampai terjatuh, bukan hanya pamorku yang jatuh, tetapi akan mempengaruhi nama baik dunia Bulim kita. Pokoknya, biarpun harus kehabisan darah, aku harus mempertahankan diri dan memenangkan babak final ini!”

Yibun Siu San mengulurkan tangannya menggenggam siku Tan Ki erat-erat. Tampak dia tertawa getir.

“Bagus sekali bila kau dapat memahami maksud hati pamanmu ini.” nada suara yang tercetus dari bibirnya terdengar mengandung perhatian dan kasih sayang yang dalam. Sementara itu, terdengar suara tertawa dingin dari mulut Tong Ku Lu. Dia berjalan keluar dengan langkah lebar.

“Ilmu pedang saudara sungguh hebat sekali. Tenaga dalampun demikian tinggi sehingga isi perut tocu muda kami sampai tergetar hancur. Biarpun orang she Tong ini tidak becus, tetapi ingin sekali meminta pelajaran beberapa jurus dari saudara ini!”

“Apakah dia sudah mati?” tanya Tan Ki terkejut.

Tong Ku Lu mendengus satu kali.

“Kata-kata yang saudara ucapkan ini, tampaknya seperti sudah tahu tapi masih bertanya juga. Apakah kau kira kami ini orang-orang bodoh yang tidak tahu apa maksudmu? Tocu muda kami terkena serangan pedang saudara, meskipun dari luar tidak terlihat luka yang berarti, tetapi sebetulnya hanya tinggal sedikit nafasnya, rasanya tidak jauh lagi dari ambang kematian…!”

Tiba tiba saja ucapannya dihentikan. Dia merasa apabila ucapannya diteruskan, toh hanya mencoreng muka pihak Lam Hay Bun sendiri. Setelah berhenti sejenak, maka dia tidak meneruskan lagi kata-katanya tadi. Malah dia mengeluarkan suara batuk-batuk kecil, sepasang pergelangan tangannya berputar. Terdengar suara dentingan logam, cahaya berkilauan langsung menusuk pandangan mata. Tangannya sudah menggenggam sepasang gelang baja. Terdengar dia berkata kembali, “Orang she Tong mohon petunjuk!”

Tiba-tiba Yibun Siu San maju ke depan dan menukas, “Jangan khawatir, biar cayhe saja yang menemani!” pergelangan tangannya bergerak dan tahu-tahu pedang panjangnya telah terhunus. Dengan cepat dia menyongsong ke depan.

Sepasang lengan Tong Ku Lu telah mengerahkan tenaga dalam, dengan sebuah jurus yang keji dia melancarkan serangan.

Terdengar suara benturan logam yang memekakkan telinga. Timbul percikan api yang memenuhi angkasa. Dalam waktu yang bersamaan kedua orang itu mencelat mundur dua langkah.

Bergebrak satu jurus saja, mereka sama-sama menyadari bahwa telah menemukan lawan yang seimbang. Wajah mereka tampak kelam. Keduanya berdiri tegak dan bersiap- siap melancarkan serangan berikutnya.

Dengan mata saling mendelik, mereka berdiam diri beberapa saat. Sampai sekian lama masih belum tampak salah seorang akan melakukan serangan. Suasana di sekitar tempat itu bagai diliputi ketegangan yang tidak terkirakan. Setiap menit yang berlalu bagai mengandung marabahaya yang tidak terkirakan…

Setelah menunggu lagi beberapa saat, tampaknya Yibun Siu San mulai merasa tidak sabar. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara siulan yang panjang dan tubuhnya mencelat ke udara. Orang berikut pedangnya membentuk cahaya putih yang melingkar, dengan sengit dilancarkannya serangan dari atas ke bawah.

Melihat serangan yang dilancarkan Yibun Siu San begitu hebat, Tong Ku Lu semakin waspada, dia tidak berani memandang ringan lawannya. Sepasang gelang bajanya dibagikan ke tangan kiri dan kanan. Yang satu menangkis datangnya serangan dan yang satu lagi langsung diluncurkan ke Bagian yang penting di tubuh Yibun Siu San. Dalam waktu yang bersamaan, sepasang gelang bajanya melakukan dua gerakan yang berbeda. Gebrakan kedua orang itu kali ini saima-saraa menggunakan kecepatan yang tidak terkirakan dan jurus-jurus maut. Masing-masing mencari peluang untuk mendahului lawannya.
Tampak cahaya pedang membentuk lingkaran dan menyilaukan mata. Semakin lama pertarungan antara keduanya berlangsung semakin cepat. Setelah belasan jurus, sulit lagi membedakan sosok tubuh keduanya.

Sejak Yibun Siu San dan Tong Ku Lu mulai bergebrak, sebelah tangan kanan Cia Tian Lun terus menempel di punggung Hua Pek Cing. Dia bahkan tidak melirik sekalipun ke arena pertarungan di mana rekannya sedang bertempur dengan sengit. Tampaknya menang atau kalahnya babak pertarungan tersebut, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri.

Diam-diam si pengemis sakti memperhatikan keadaan kedua belah pihak. Dia menimbang-nimbang kekuatan yang masih ada. Di antara ketiga orang tongcu dari pihak Lam Hay Bun, sudah ada satu yang terluka. Sudah tentu Ho Tiang Cun tidak dapat bertempur lagi untuk sementara ini. Sisa yang duanya lagi tidak terlalu mengkhawatirkan. Sedangkan salah satu dari Bun Bu-siang saat ini sedang bertarung melawan Yibun Siu San, sisanya yakni Cia Tian Lun sedang mengerahkan hawa murninya untuk mempertahankan selembar nyawa tocu mudanya. Tentu dia tidak dapat memencarkan dirinya untuk sementara waktu. Dari pihak lawan, tampaknya hanya sisa Kaucu Pek Kut Kau yang agak telengas dan perlu dipertimbangkan. Apabila orang yang satu ini dapat dikuasai, mungkin pihak mereka dapat meraih kemenangan…

Pikirannya bagai kincir angin yang terus berputar. Kemudian tampak dia membisikkan beberapa patah kata di samping telinga Ceng Lam Hong, setelah itu dia mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak. Dengan langkah lebar dia maju ke depan dan menjura kepada Kaucu Pek Kut Kau.

“Setan keling, bagaimana kalau kita juga bermain-main beberapa jurus?” sembari berbicara, tangannya sudah mengeluarkan pedang bambu yang terselip di pinggangnya.

Kaucu Pek Kut Kau mendengus dua kali. Tiba-tiba tubuhnya bergerak keluar perlahan- lahan. Wajahnya yang seram sungguh tidak enak dipandang. Dia malah tidak mengucapkan sepatah katapun. Matanya yang memancarkan sinar dingin menatap Cian Cong tanpa berkedip sekalipun.

Sepasang mata Cian Cong menyorotkan sinar tajam melihat sikapnya yang sedemikian rupa, dia tahu lawannya secara diam-diam telab. mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya dan siap melancarkan serangan. Tetapi dia tidak menunjukkan perasaan apa-apa, mulutnya malah tertawa lebar.

“Aku ingat ketika di Pek Hun Ceng tempo hari, si pengemis tua bertarung secara konyol dengan dirimu sampai kedua-duanya terluka. Saat itu masih belum sempat menentukan siapa yang lebih unggul diantara kita. Kesempatan ini sulit ditemui, oleh karena itu jangan sampai terlewatkan. Si pengemis tua ingin meminta petunjuk dari ilmu sakti keluarga daerah Si Yu kalian!”

Sepasang mata Kaucu Pek Kut Kau terus mengejap-ngejap. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara tawa yang aneh dan mengilukan gendang telinga. Suaranya itu lebih mirip ratapan setan gentayangan di tengah malam. Tanpa terasa hati Cian Cong jadi tergetar.
Perhatiannya jadi terpencar.

Justru ketika dia masih termangu-mangu, tiba-tiba Kaucu Pek Kut Kau menggunakan kesempatan itu untuk melakukan penyerangan. Lengan kanannya diangkat ke atas,
langsung terasa datangnya serangkum angin yang kencang sekali. Dengan gencar serangannya meluncur ke depan.

Cian Cong mengulurkan tangannya menyambut, dalam waktu yang bersamaan, pedang bambu di tangan kanannya menjulur ke depan. Dengan jurus Kura-Kura Mencari Mutiara, dia langsung melancarkan tikaman ke Bagian dada Kaucu Pek Kut Kau.

Terdengar mulut Kaucu Pek Kut Kau mengeluarkan suara tertawa terkekeh-kekeh sebanyak dua kali. Tubuhnya memutar setengah lingkaran. Dielakkannya serangan Cian Cong yang ditujukan ke Bagian dada. Sekaligus tangan kanannya bergulung-gulung ke depan, kadang-kadang menotok, kadang-kadang pula dia menepuk. Secara berturut-turut dia mengerahkan delapan sembilan jurus.

Cian Cong mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan serangan yang gencar itu. Hampir dalam waktu yang bersamaan dia melancarkan tiga jurus sebagai balasan.

Meskipun Kaucu Pek Kut Kau mempunyai ilmu yang tinggi, tetapi pedang bambu di tangan Cian Cong justru dilancarkan dengan tenaga lwekang murni. Setiap kali pedang Cian Cong melancarkan sebuah serangan, ketajamannya tidak kalah dengan sebatang pedang pusaka. Dalam sekejap mata, keduanya sudah mengerahkan segenap kepandaian masing-masing. Serangan yang dilancarkan semakin lama semakin cepat. Tenaga dalam yang terpancar semakin lama semakin dahsyat. Angin yang kencang segera menerpa sampai sekitar sepuluh depaan.

Tan Ki memperhatikan dengan seksama keempat orang itu terbagi menjadi dua kelompok dan bertarung dengan sengit. Dalam waktu yang singkat tampaknya sulit menentukan siapa yang lebih unggul. Diam-diam sepasang alisnya mengerut, sembari diam-diam dia memperhatikan kekuatan kedua belah pihak. Pikirannya bekerja memikirkan cara memenangkan pertarungan ini.

Justru ketika dia masih termenung-menung, tiba-tiba dari sebelah timur terdengar langkah kaki mendatangi. Perasaan Tan Ki sangat peka. Cepat-cepat dia menghentikan lamunannya dan mengalihkan pandangan matanya. Tiba-tiba seluruh tubuhnya bergetar, darah panas dalam dadanya seperti bergejolak. Hampir saja dia tidak dapat menahan emosi di hatinya. Perasaannya ingin langsung menerjang ke depan. Tetapi akhirnya dia menarik nafas panjang-panjang dan berdiri dengan tenang.

Tampak Oey Kang berlari menghampiri tempat itu dengan memondong seorang gadis berpakaian merah. Di belakangnya mengikuti serombongan laki-laki kekar berpakaian hitam. Jumlahnya mungkin mencapai tiga puluhan orang. Kalau ditilik dari langkah kaki mereka yang ringan dan lincah, tampaknya orang-orang berpakaian hitam itu memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.

Kalau dilihat dari arah datangnya, mungkin orang-orang itu baru saja keluar dari ruang pertemuan dan saat ini menghambur ke sini untuk bergabung dengan pihak Lam Hay dan Si Yu.

Menghadapi musuh besar pembunuh ayahnya, hati Tan Ki diliputi kegusaran yang tidak terkatakan. Emosi dalam dadanya bergejolak. Tetapi dia merupakan seorang Bulim Bengcu saat ini, biar bagaimana dia harus menjaga sikapnya dan menghadapi persoalan dengan kepala dingin. Terpaksa cuma matanya saja yang mendelik memperhatikan Oey Kang
yang melewati dua kelompok yang sedang bertarung dengan sengit kemudian berhenti di hadapan Cian Tian Lun. Untuk sementara dia tidak dapat membalaskan kematian ayahnya dan menyelesaikan dendam di antara mereka berdua.

Pada saat ini, tiba-tiba dia menyadari, meskipun kedudukan Bulim Bengcu sangat tinggi dan setiap orang bermimpi untuk mendapatkannya, tetapi begitu berhasil diraihnya, dirinya bagai dirantai oleh gembok yang besar dan gerak-geriknya jadi tidak bebas. Hal apapun yang akan dilakukannya harus dipertimbangkan matang-matang…

Berpikir sampai di sini, tiba-tiba dia merindukan kembali kehidupannya di alam bebas.
Untuk sesaat pikirannya jadi melayang-layang. Diam-diam dia berjanji dalam hatinya apabila dendam kematian ayahnya telah terbalaskan, dia ingin mencari tempat yang terpencil dan tenang serta hidup mengasingkan diri sampai menjelang akhir hayatnya.

Orang-orang yang berkumpul di tempat tersebut saat ini sedang memperhatikan gerak- gerik Oey Kang, untuk sesaat mereka tidak melihat perubahan di wajah Tan Ki. Gerakan tubuh Oey Kang bagai awan yang berarak menghambur ke tempat di mana Hua Pek Cing berada.

Bagian LIII

Hua Pek Cing terkena serangan hawa pedang yang dilancarkan oleh Tan Ki. Hawa murni dalam tubuhnya membuyar seketika, isi perutnya tergetar. Meskipun lukanya sangat parah, tetapi setelah mendapat bantuan tenaga dari Cia Tian Lun, orangnya perlahan- lahan siuman dari pingsan. Ketika dia membuka sepasang matanya, dia melihat Oey Kang berdiri di hadapannya dengan memondong seorang gadis berpakaian merah. Dia segera mengembangkan seulas senyuman yang tipis.

“Bibikah yang kau pondong itu?” nada suaranya begitu dingin seakan tidak perduli siapa-pun yang digendong oleh Oey Kang saat itu.

Oey Kang mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia sudah mati.” sahutnya perlahan.
Hua Pek Cing tidak memberi komentar, matanya malah dialihkan ke arena pertempuran. Tiba-tiba sikapnya menjadi sendu. Dia menarik nafas panjang sembari berkata, “Dengan kekuatan yang besar dan nama yang menjulang tinggi menyerbu ke daerah Tiong-goan, aku selalu beranggapan bahwa rencana ini akan berhasil dengan gemilang dan wilayah Tionggoan dapat kita kuasai dengan mudah. Tetapi kalau ditilik dari keadaan sekarang ini, tampaknya kekuatan tokoh-tokoh Tionggoan benar-benar tidak dapat dipandang ringan. Seandainya kita ingin mencapai keuntungan, mungkin kita terpaksa harus menggunakan cara yang licik.”

Oey Kang tersenyum simpul mendengar kata-katanya.

“Tiga puluh enam Jendral Langit lohu masih belum terjun ke lapangan, bagaimana kau bisa mengatakan sulit menguasai daerah Tionggoan?”

Hua Pek Cing tertawa sumbang.

“Kalau kau tidak mempunyai kesanggupan, terpaksa aku meminta suhu turun tangan sendiri. Kita persiapkan diri kembali untuk melakukan penyerbuan berikutnya.” luka yang dideritanya sangat parah. Setelah mengucapkan beberapa kalimat, seluruh anggota tubuhnya terasa lemas, aliran darah dalam tubuhnya bagai tersumbat. Cepat-cepat dia mempertahankan tubuhnya yang terhuyung-huyung kemudian bersandar pada pundak Cia Tian Lun. Dengan demikian perasaannya menjadi lebih nyaman.

Diam-diam Oey Kang memaki dalam hatinya: ‘Mulut bocah ini sungguh sesumbar, dikiranya siapa Oey Kang itu? Memangnya aku mendapatkan julukan si raja iblis dengan begitu saja?’ tampak dia membalikkan tubuhnya dan meletakkan mayat Kiau Hun di atas tanah, setelah itu dia berjalan sejauh delapan langkah. Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam. Sekonyong-konyong dia menggapai tangannya di atas kepala sebanyak dua kali.

Tiga puluhan laki-laki kekar segera berpencaran keluar, mereka berdiri berbaris di sudut. Entah sejak kapan, tahu-tahu tangan masing-masing orang itu sudah menggenggam sebuah tabung emas yang ukurannya kira-kira tiga mistar. Pandangan mata orang-orang’itu kosong melompong, mereka berdiri dengan kaku dan tidak pernah mengucapkan sepatah katapun.

Diam-diam Tan Ki menghitung jumlah laki-laki kekar berpakaian hitam tersebut. Tidak lebih tidak kurang, jumlah semuanya ada tiga puluh enam orang. Tampak posisi berdiri mereka seakan tidak menentu dan tidak kentara perbedaan tinggi rendahnya kedudukan. Tetapi gerak-gerik mereka begitu gesit dan tampaknya sudah mendapat latihan yang matang. Di dalam perkampungan Pek Hun Ceng, Tan Ki sudah pernah bertemu dengan barisan ini. Diam-diam hatinya tergerak: ‘Ini merupakan barisan Jendral Langit yang dibina Oey Kang dengan segenap kemampuannya. Tampaknya tabung yang digenggam dalam telapak tangan mereka merupakan Ban Hua-tong (Tabung selaksa bunga) yang dikatakan oleh cici Liang…’

Pikirannya tergerak, sepasang matanya-pun menyorotkan cahaya yang berkilauan.
Matanya menatap lekat-lekat pada diri Oey Kang dan kewaspadaannya pun segera ditingkatkan.

Oey Kang mengeluarkan suara tawa terbahak-bahak. Mendadak dia berteriak, “Liang Fu Yong, cepat kau ke mari!”

Melihat si raja iblis itu tiba-tiba mengeluarkan suara teriakan, ingatannya, langsung melayang ke peristiwa menyakitkan yang dialami oleh cici Liangnya. Wajahnya langsung berubah hebat. Dia menolehkan kepalanya dan membentak, “Cici Liang, tidak usah digubris ocehannya!” kakinya menghentak di atas tanah, tubuhnya pun melesat di udara. Ketika dia mendarat kembali, jaraknya dengan Oey Kang tinggal empat lima tindak saja. Gerakannya begitu pesat seperti lintasan cahaya kilat.

Tampaknya Ceng Lam Hong dan Mei Ling tidak menyangka kalau mendadak Tan Ki akan menghambur ke depan. Untuk sesaat kedua-duanya jadi termangu-mangu. Mereka tidak sempat lagi berteriak mencegahnya.

Liang Fu Yong terus berdekatan dengan suhunya. Hatinya tetap saja merasa khawatir. Tanpa dapat ditahan lagi dia bertanya kepada Tian Bu Cu, “Suhu, coba kau lihat, apakah Tan Ki sanggup melawan si raja iblis Oey Kang?”

Sepasang mata Tian Bu Cu memperhatikan sikap Tan Ki.

“Apabila Oey Kang bertarung dengannya dengan menggunakan ilmu yang sejati, walaupun Tan Ki belum tentu menang, tetapi lebih dari cukup untuk menjaga dirinya sendiri. Tetapi lawannya ini justru seorang manusia yang maha licik. Akal busuknya banyak sekali. Takutnya dia menggunakan racun dalam menghadapi Tan Ki…”

Terdengar desahan dari mulut Liang Fu Yong. Wajahnya menyiratkan perasaan panik yang tidak terkirakan.
Saat itu kembali Oey Kang memperdengarkan suara tawanya yang terbahak-bahak. “Kau berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu yang mulia, hatiku ikut merasa
gembira. Apabila ayahmu yang ada di alam baka dapat mengetahui kejadian ini, tentu arwahnya juga terhibur dan merasa bangga sekali…”
Tan Ki tertawa dingin. Dia segera menukas ucapan Oey Kang yang belum selesai. “Kalau aku bisa melepaskan kepalamu dari batang lehermu itu, tentu almarhum ayahku
akan merasa lebih senang lagi…!”

Sepasang alis Oey Kang langsung menyiratkan hawa pembunuhan yang tebal. Sejenak kemudian keadaannya sudah pulih lagi. Mendengar ucapan Tan Ki yang setiap patah katanya mengandung kebencian yang tidak terkirakan, dia malah tertawa terbahak-bahak.

“Meskipun kita sudah pernah bergebrak, tetapi boleh dibilang belum sempat mengerahkan kepandaian yang sejati. Seharusnya kita bertarung sengit untuk  menentukan siapa yang berhak hidup dan siapa yang harus terkapar di atas tanah. Saat ini begitu banyak tokoh-tokoh persilatan yang hadir di tempat ini, bagaimana kalau kita melanjutkan kembali pertarungan kita yang sempat tertunda tempo hari?”

Tan Ki mengeluarkan suara tertawa bebas. Tangannya bergerak menghunus pedang penghancur pelanginya. Kemudian dia berkata dengan gagah, “Pertarungan kita hari ini, kalau bukan jiwaku yang melayang maka engkau yang harus mati di bawah serangan pedangku.” sembari berkata, kakinya melangkah mundur setengah tindak. Sikapnya begitu angker dan berwibawa.

Oey Kang melihat dia berdiri tegak dengan pedang direntangkan di depan dada. Tanpa dapat ditahan lagi hatinya jadi tergerak. Diam-diam dia berpikir, “Sikap yang ditunjukkannya ini merupakan pembukaan gerak seorang tokoh pedang berilmu tinggi.
Rasanya aku tidak boleh memandang ringan bocah ini…’

Baru saja pikirannya masih tergerak, tiba-tiba dia melihat cahaya seperti pelangi melintas di depan matanya, angin yang dingin menerpa wajah. Tiba-tiba Tan Ki menjulurkan pedangnya melancarkan sebuah serangan. Terasa ada segulung hawa pedang yang tajam melesat datang dengan gencar.

Kipas di tangan Oey Kang langsung direntangkan, tubuhnya bergerak cepat menerjang ke depan. Baru setengah jurus dikerahkan, sekonyong-konyong dia menarik kipasnya kembali. Rupanya mendadak dia ingat bahwa senjata di tangan lawannya menyinarkan cahaya yang berkilauan. Hal ini membuktikan bahwa pedang anak muda tersebut
merupakan sebatang pedang pusaka. Dia takut kipasnya tidak sanggup beradu dengan pedang tersebut sehingga ada kemungkinan patah. Oleh karena itu, baru mengerahkan setengah jurus, mendadak dia menarik kembali kipasnya.

Tenaga dalam Tan Ki bukan saja ajaib, ilmu pedangnyapun demikian aneh sehingga sulit ditahan. Melihat kesempatan yang baik ini, mana mungkin dia melepaskannya begitu saja. Dengan demikian dia membentak dengan suara lantang, serangannya langsung dilancarkan. Sekaligus lima enam tikaman dikerahkannya sehingga Oey Kang terdesak mundur enam tujuh langkah. Untuk sesaat dia tidak mendapat kesempatan membalas menyerang.

Kedua belah pihak yang berkumpul di tempat itu tidak ada satupun yang tidak memperhatikan ilmu pedang Tan Ki dengan seksama. Mereka melihat bahwa setiap perubahan jurus yang dikerahkannya mengandung keajaiban yang tidak terkirakan. Dilihat sepintas lalu mirip dengan ilmu pedang Go Bi Pai ataupun Kun Lun Pai. Namun setelah dilihat dengan teliti, ternyata bukan dari aliran keduanya. Ilmu pedang anak muda itu jauh lebih dahsyat dari ilmu pedang keluaran kedua partai tersebut. Hal ini membuat mereka hanya dapat meraba-raba dan tidak bisa mendapatkan kepastian. Diam-diam seBagian besar merasa kagum sekali.

Oey Kang menahan serangan Tan Ki yang gencar, sekonyong-konyong dia melancarkan serangan balasan. Tampak bayangan telapak tangannya bergulung-gulung. Kecepatannya bagai lintasan kilat. Apabila dalam jangka waktu yang sama orang lain hanya dapat mengerahkan satu jurus serangan, maka dia sudah melancarkan beberapa jurus.

Serangan yang bukan main gencarnya ini berbalik membuat Tan Ki terdesak dan gerakan pedangnya jadi lambat. Tiba-tiba jurus yang dikerahkan kipas Oey Kang berubah, dengan tidak terduga-duga dia melancarkan serangan. Jurus yang dikerahkannya sungguh keji dan sanggup membunuh lawannya seketika.

Meskipun tangan Tan Ki menggenggam sebatang pedang pusaka, tetapi dia tidak sanggup merebut kembali peluang untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu. Lagipula jarak mereka sedemikian dekatnya sehingga dirinya terasa kalang kabut dan banyak jurusnya yang aneh-aneh tidak sempat dimainkan. Dengan susah payah dia menggerakkan pedangnya dengan sekuat tenaga, dengan demikian Bagian dadanya jadi terlindung dan dia-pun menggunakan kesempatan itu untuk mencelat mundur ke belakang.

Baru saja dia menghindarkan diri sejauh beberapa depa, Oey Kang sudah berdiri tegak kembali di tempatnya semula, dia sama sekali tidak mengejar Tan Ki.

Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara seperti gerangan, tangannya menjulur ke depan menghantam. Serangannya kali ini mengandung tenaga dalam yang bukan main dahsyatnya. Ilmu yang digunakannya justru sengaja diciptakan untuk menyerang musuh dari jarak beberapa depaan.

Diam-diam hati Tan Ki jadi tercekat. Pedangnya digeser ke samping sedikit. Ternyata dia berhasil menahan serangan Oey Kang yang hebat, tetapi tubuhnya tergetar sedemikian rupa sehingga terhuyung-huyung kemudian terdesak mundur ke belakang setengah langkah.
Dalam beberapa jurus yang berlangsung, kedua orang itu selalu saling menyerang kemudian mencelat mundur. Tetapi orang-orang yang hadir di tempat itu dapat merasakan bahwa dalam pertarungan itu selalu terselip bahaya yang mengintai setiap saat. Perasaan mereka begitu tegang sehingga setiap orang menyaksikan jalannya pertarungan dengan menahan nafas.

Terdengar Oey Kang berkata dengan suara yang tajam, “Ilmu pedangmu merupakan hasil curian dari Ti Ciang Pang. Memang sangat hebat dan jarang ditemui. Tetapi kalau ditilik dari tenaga dalam yang kau miliki, tampaknya kau masih belum sanggup mengadu jiwa denganku…!”

Wajah Tan Ki menyiratkan keangkeran. Dia berdiri tegak dengan pedang merentang di depan dada.

“Manusia she Oey, kau tidak perlu mengangkat-angkat dirimu sendiri. Orang lain boleh mengatakan bahwa tenaga dalammu sudah mencapai taraf tertinggi, ilmu yang kau kuasai keji sekali. Tetapi di bawah serangan pedangku yang gencar, suatu ketika keburuk-anmu pasti akan terlihat!”

Mendengar nada kata-katanya yang sombong, Oey Kang mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba tubuhnya mendesak ke depan dan menerjang.datang. Dengan jurus Pelangi Menghias Angkasa yang hebat, dia melancarkan sebuah totokan.

Pedang di tangan Tan Ki mengibas. Dengan keras dia menyambut jurus itu. Terdengar suara benturan logam, pedang dan kipas sama-sama tergetar dan terhuyung-huyung sebanyak dua kali.

Tan Ki melihat pedang pusaka di tangannya ternyata tidak sanggup mematahkan kipas Oey Kang. Malah dirinya tergetar sehingga pergelangan tangannya terasa kesemutan serta kakinya goyah. Hampir saja dia tidak dapat mempertahankan diri. Untuk sesaat dia malah jadi termangu-mangu.

Oey Kang adalah seorang manusia yang bukan main liciknya. Melihat adanya kesempatan bagus, mana mungkin dia sudi melepaskan begitu saja. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara bentakan keras, tubuhnya merapat maju. Justru ketika pikiran Tan Ki masih melayang-layang, dia sudah melancarkan serangan. Hatinya yaiig jahat berniat menggunakan kesempatan itu untuk membunuh Tan Ki.

Tan Ki merasa serangannya yang gencar ini mengandung kekuatan yang dahsyat. Jurus yang dikerahkan oleh kipasnya begitu ajaib sehingga sulit dihadapi. Dia bagai dikurung dari delapan penjuru. Hatinya terkejut setengah mati. Terpaksa dia merentangkan pedangnya untuk melindungi Bagian dada dan dalam waktu yang bersamaan mencelat ke belakang.

Kedua orang itu saling menyerang dan menahan. Yang satu maju yang lainnya pasti mundur. Tampaknya dalam waktu yang singkat sulit menentukan siapa yang lebih unggul dan siapa yang lebih lemah.

Orang-orang yang hadir di tempat itu melihat keduanya saling mengerahkan kelebihan masing-masing dan menutupi kelemahan mereka. Setelah bergebrak beberapa jurus kedudukan mereka masih seimbang. Dengan usianya yang masih begitu muda, Tan Ki berhadapan dengan raja iblis nomor satu di dunia saat itu, keadaannya meskipun agak
terdesak tetapi sama sekali tidak memalukan. Diam-diam mereka bersyukur bahwa kelak dunia Kangouw ada generasi penerus yang dapat diandalkan.

Tetapi hati Tan Ki justru tidak merasa gembira karena hal ini. Dia selalu mempunyai pikiran: ‘Dendam selama berpuluh tahun terus terpendam. Sekarang musuh besar sudah di depan mata, rasanya ingin sekali menikam jantungnya dalam sekali gerak agar mati seketika. Tetapi setelah bergebrak beberapa jurus, bukan saja ilmu sejati pihak lawan sudah terlihat jelas, rasanya dalam ribuan juruspun belum tentu dapat menentukan siapa yang lebih unggul di antara kami berdua…’

Semakin dipikirkan hatinya semakin tertekan. Perasaannya demikian panik sehingga keringat dingin mulai membasahi keningnya. Emosi dalam hatinya seakan terus bergejolak.

Entah sejak kapan, tahu-tahu ketiga puluh enam laki-laki kekar berpakaian hitam sudah mengambil posisi membentuk barisan dan mengurung Tan Ki di tengah-tengah.

Tian Bu Cu yang melihat keadaan itu segera merasakan situasi Tan Ki yang mulai gawat. Dia langsung berteriak dengan suara lantang.

“Hati kiri kananmu!”

Justru ketika suara teriakannya baru terdengar, tiba-tiba bunga api berpijar dan melesat keluar ke seluruh Bagian tubuh Tan Ki.

Rupanya tabung yang digenggam ketiga puluh enam laki-laki bertubuh kekar itu merupakan Ban Hua Hwe-tong yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Tabung api selaksa bunga itu dapat menyemburkan asap beracun yang keji. Orang-orang yang melihat api berwarna kehijauan melesat keluar, segera dapat merasakan betapa berbahayanya senjata semacam itu. Dalam waktu yang bersamaan, mereka mengeluarkan suara pekikan terkejut dan terasa seluruh bulu kuduk di tubuh mereka merinding.

Dengan segenap kemampuannya Tan Ki mencelat ke atas, jangkauan loncatannya mungkin mencapai lima kaki lebih. Tetapi dirinya langsung terdesak oleh serangan Oey Kang sehingga mau tidak mau dia berjungkir balik di udara dan mendarat kembali di atas tanah.

Sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas. Matanya menyorotkan sinar yang berkobar-kobar, mimik wajahnya menunjukkan perasaan yang gusar tidak kepalang. Hampir saja dia membuka mulut memaki Oey Kang. Tetapi sekejap kemudian dia hanya mendengus dengan berat dan mencelat ke samping sejauh tujuh tindak.

Baru saja kakinya berdiri dengan tegak, lima carik cahaya kehijauan melesat tiba di tempatnya berdiri tadi. Seandainya Tan Ki tidak keburu menghindar, sungguh sangat ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.

Panah api itu mengandung kekuatan yang dahsyat. Meskipun Tan Ki berhasil mengelakkannya, namun percikan apinya mencapai jarak dua depaan, setelah itu baru padam kembali. Namun tempat di mana api tersebut mendarat, baik rumput maupun bebatuan langsung terbakar. Saat itu juga terendus bau bunga dan rumput yang terbakar.
Tan Ki berteriak dengan suara lantang, pedangnya digetarkan kemudian dihunjamkan ke depan. Tampak secarik cahaya berkilauan yang mengiringi percikan darah, disusul dengan rubuhnya seorang laki-laki berpakaian hitam. Tabung di tangannya menggelinding di atas tanah dan segera ada beberapa batang panah api yang melesat keluar dan membakar rerumputan, di mana senjata rahasia itu mendarat. Rumput-rumput yang terbakar layu menguning seketika.