Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 43

 
Bagian 43

Cian Cong mendengar orangtua itu seperti menggumam kepada dirinya sendiri. Nada suaranya begitu tegas, seolah dalam ucapannya terkandung maksud tertentu. Walaupun lukanya baru sembuh, tetapi wataknya tetap tidak berubah. Dia masih periang dan ugal- ugalan seperti biasanya. Oleh karena itu dia langsung tertawa terbahak-bahak.

“Hidung kerbau, sebetulnya setan apa yang kau sembunyikan dalam hati kecilmu itu? Bicara seperti menggumam kepada diri sendiri sehingga orang lain dibuat kebingungan setengah mati. Bolehkah kau menjelaskan dengan terperinci, hal apa sebenarnya yang sedang terpikir oleh benakmu itu?”
Tian Bu Cu tersenyum simpul melihat ketidaksabaran si pengemis sakti Cian Cong. “Pinto hidup mengasingkan diri di Yang Sim An, selama enam puluh tahun boleh
dibilang tidak pernah berkelana di dunia Kan-gouw. Oleh karena itu pengetahuan pun dangkal sekali. Dalam perebutan Bulim Bengcu kali ini, Pinto tidak bisa memberikan pendapat apa-apa. Lagipula ilmu silat adalah pelajaran yang paling rumit. Dengan kata lain tidak ada batas tertentu yang dapat dijadikan patokan. Setiap cabang ilmu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pinto juga tidak berani memutuskan ilmu kepandaian siapa yang berhak menjabat kedudukan Bulim Bengcu. Resikonya terlalu besar. Selama beberapa bulan terakhir ini, pinto sudah mengadakan penyelidikan secara teliti. Memang ada satu orang yang cukup memenuhi syarat. Baik ilmu silatnya maupun mutu orangnya serta kecerdasan otaknya, boleh dibilang cukup memuaskan. Pinto adalah seorang beragama yang sudah lama mengasingkan diri, nama besar bagi Pinto tidak berarti apa-apa. Tetapi aku mempunyai niat untuk membantu orang ini menjadi tokoh besar yang mempunyai nama di dunia persilatan. Siapa tahu dia bisa merebut kedudukan Bulim Bengcu kali ini.”

Mendengar kata-katanya, untuk sesaat si pengemis sakti Cian Cong jadi termangu-ma- ngu. Kemudian kesadarannya seakan tersentak sehingga dia mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak. Tangan kanannya mengangkat hiolo araknya dan sebagaimana biasanya dia meneguk beberapa tegukan besar. Tampaknya hati si pengemis sakti ini tibatiba jadi gembira bukan kepalang atas kepu-tusan Tian Bu Cu. Wajahnya berseri-seri dan bibirnya terus tersenyum simpul.

“Apakah yang dikatakan si hidung kerbau ini benar adanya? Si pengemis tua paham sekali watakmu yang suka menyimpan rahasia dalam-dalam. Paling tidak suka memamerkan diri di hadapan orang lain. Padahal ilmu silatmu sudah mencapai taraf yang
tinggi sekali. Apalagi Naga Sakti Delapan Jurusmu yang menggetarkan dunia persilatan itu, terlebih-lebih kau anggap sebagai pusaka. Kalau dibandingkan dengan ilmu ciptaan si pengemis tua Delapan Jurus Pedang Pengejar Sukma, boleh dibilang masih menang satu tingkat. Waktu terus berlalu, rambutpun dengan cepat menjadi putih. Selama enam puluh tahun ini, boleh dibilang si pengemis sakti tidak mendapat kemajuan apa-apa. Sedangkan kau setiap hari bersemedi menghadap tembok. Ilmu Naga Sakti Delapan Jurus-mu itu pasti sudah bertambah hebat karena setiap saat kau tambal kelelahannya serta mengubah gerakannya menjadi sempurna. Entah sahabat mana yang mendapat rejeki demikian besar sehingga memperoleh perhatianmu dan akan mewarisi ilmu hebat yang pernah mengalahkan si pengemis sakti itu?”

Tian Bu Cu tetap tersenyum simpul. “Cian-heng memang suka merendah.”
Sekali lagi Cian Cong mengangkat hiolonya dan meneguk arak di dalamnya. Kemudian tangannya mengusap sisa arak yang masih ada di sudut bibir. Setelah itu kembali dia tertawa terbahak-bahak.

“Siapa orangnya yang mendapat perhatianmu yang besar, rasanya si pengemis sakti dapat menebak sebanyak delapan Bagian. Tetapi ada baiknya kau katakan sendiri sehingga dugaan si pengemis sakti dapat terbukti.”

Tian Bu Cu tersenyum lembut mendengar kata-kata si pengemis sakti Cian Cong yang lebih pantas disebut pancingan.

“Orang yang mendapat perhatian Pinto, tidak lain tidak bukan dari si gadis malang yang berniat kembali ke jalan lurus, nona Liang Fu Yong!”

Begitu kata-kata ini tercetus dari bibirnya, bukan hanya Yibun Siu San yang tertegun, bahkan si pengemis sakti Cian Cong yang mempunyai kebiasaan tidak mau mengalah kepada siapapun ikut-ikutan terkesima karena keputusan Tian Bu Cu benar-benar di luar dugaannya. Tanpa sadar, tubuhnya bergerak dan mencelat ke atas kurang lebih tiga kaki.

“Apakah kata-kata yang kudengar tadi tidak salah? Mungkinkah telinga si pengemis tua tiba-tiba jadi pekak sehingga pendengaran jadi kurang jelas? Kau ingin menerima Liang Fu Yong sebagai murid? Tadinya aku mengira orang yang kau maksudkan adalah pendekar pedang tingkat lima, Tan Ki!”

Tian Bu Cu tertawa lebar.

“Tenaga dalam Cian-heng sudah mencapai taraf tertinggi, selama ini selalu berlatih dengan keras. Dengan demikian baik indera penglihatan maupun pendengaran pasti lebih peka dari orang lain, mana mungkin Cian-heng salah dengar? Sebelum kata-kata ini tercetus dari mulut Pinto, sejak semula pinto sudah memikirkannya matang-matang.
Selamanya Pinto tidak sembarang bertindak apabila belum yakin. Kalau gadis ini benar- benar berniat merubah tabiatnya dan tabah terhadap segala penderitaan, mungkin dalam perebutan Bulim Bengcu besok, dia masih mempunyai kesempatan untuk mencoba-coba.”

Dengan tenang dan santai dia mengucapkan kata-kata ini, nada suaranya cukup tegas.
Orang yang mendengarnya tidak dapat mengetahui rahasia apa yang terselip di dalam hatinya. Namun para hadirin yang mendengar ucapan itu, hampir semuanya memandang
orangtua ini dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar-lebar. Beberapa saat kemudian tampak mereka saling lirik dengan wajah penasaran.

Tampak Tan Ki tersenyum simpul. Dia melirik ke arah Liang Fu Yong yang ada di sampingnya. Sorotan matanya seakan mengatakan: ‘Benar bukan apa yang kukatakan tempo hari?’ dengan demikian dia juga seakan membuktikan bahwa dirinya tidak mendustai perempuan itu.

Kebetulan saat itu, Liang Fu Yong juga sedang mengerling ke arahnya. Dua pasang mata bertemu. Persis seperti besi berani yang saling menarik. Untuk sekian lama keduanya saling memandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hati masing-masing digelayuti perasaan yang berbeda. Pada saat itu juga Tan Ki tiba-tiba merasa Liang Fu Yong yang ada di sampingnya jauh lebih cantik dari sebelumnya. Penampilannya begitu lembut mempesona, begitu menawan.

Liang Fu Yong juga merasa bahwa dalam sinar anak muda itu terkandung perhatian yang besar serta kasih sayang yang dalam. Hal ini belum pernah ditemui perempuan itu sebelumnya. Biasanya dia hanya melihat sinar iba di dalam mata Tan Ki. Untuk sesaat hatinya seperti sangat terhibur. Seakan pengorbanannya selama ini tidak sia-sia. Saat itu juga, dia membalas senyuman Tan Ki dengan seulas senyuman yang tidak kalah manisnya. Setelah itu, perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Telinganya kembali mendengar suara Tian Bu Cu yang welas asih dan penuh kelembutan. Bagi perempuan, suara orang tersebut seakan tiba-tiba menjadi musik yang paling merdu yang pernah didengarnya dalam seumur hidupnya.

“Yibun-heng kali ini menjadi panitia penyelenggara pertandingan ini. Dapatkah Yibun- heng menyediakan sebuah ruangan kosong untuk pinto?”

Yibun Siu San langsung berdiri dari tempat duduknya. Dia menjura sambil mengembangkan seulas senyuman.

“Totiang sudah terbiasa hidup menenangkan diri dalam tempat yang sunyi seperti Yang Sim An. Aku justru sedang khawatir kalau tempat di Tok Liong-hong tidak sesuai untuk totiang. Orang banyak tentu sangat bising, mungkin tidak akan kerasan di sini. Kalau ternyata Totiang tidak mencela tempat ini dan bersedia tinggal, hal ini merupakan rejeki besar bagi aku, Yibun Siu San.” selesai berkata, dia segera memerintahkan seorang laki- laki bertubuh kekar untuk membersihkan sebuah ruangan untuk orangtua tadi. Setelah itu baru dia mengibaskan tangannya agar orang itu langsung mengundurkan diri dan melaksanakan apa yang diperintahkannya.

Tampak Tian Bu Cu merenung sejenak.

“Tapi…” baru mengucapkan sepatah kata, seakan ada sesuatu hal yang teringat olehnya sehingga ucapannya tidak diteruskan.

Namun siapa memangnya Yibun Siu San. Orang ini juga mempunyai pengalaman yang cukup banyak. Melihat Tian Bu Cu agak bimbang, dia segera dapat menduga bahwa orangtua itu masih ada permohonan yang lainnya, hanya saja ragu-ragu dicetuskan. Oleh karena itu dia langsung mengembangkan seulas senyuman yang ramah.
“Apabila Totiang masih ada permintaan yanglain, harap jangan sungkan-sungkan.
Katakan saja. Seandainya masalahnya sangat besar, di hadapan begini banyaknya sahabat, pasti ada jalan untuk menyelesaikannya.”

“Pinto juga minta disediakan dua orang jago berilmu tinggi untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.”

Tiba-tiba terdengar si pengemis sakti Cian Cong menukas, “Si pengemis tua tidak percaya. kalau dalam semalaman saja kau dapat membuatnya menjadi jago dan sanggup mengikuti pertandingan.”

Mendengar ucapannya, tampak sepasang mata Tian Bu Cu mengeluarkan sinar yang tajam tetapi sekejap kemudian dia sudah biasa kembali. Wajahnya masih tetap mengembangkan senyuman.

“Enam puluh tahun sudah berlalu, tetapi sikap keras kepalamu tetap saja tidak berubah. Apa yang terpikir dalam hatimu langsung saja kau cetuskan. Selamanya tidak pernah dipertimbangkan terlebih dahulu. Dalam satu hari, apabila ingin membuat seseorang menjadi tokoh yang terkenal, di dengar sepintas lalu oleh kalian semua seakan sebuah dongeng yang mustahil menjadi kenyataan. Tetapi perlu diketahui bahwa ilmu silat itu demikian luas dan dalamnya sehingga tidak ada batas tertentu atau tingkat tertentu.
Apalagi ilmu Lwekang yang sejati. Jangan kata tiga atau lima tahun, biar dua puluh tahun atau tiga puluh tahun juga tidak pernah berhasil menggali sampai dasarnya yang paling dalam. Seandainya seseorang memiliki kepandaian tinggi, tentu bukan hal yang bisa dicapai dalam sekejap mata. Meskipun di dunia ini sering dijumpai orang yang berusia muda namun ke-pandaianya sudah tinggi sekali. Namun biasanya orang itu menemui keajaiban yang langka, atau kebanyakan bersifat ilmu dari golongan sesat yang setengah dipaksakan. Biarpun bisa mencapai taraf yang cukup tinggi, tapi biasanya juga ada efek sampingan yang kelak akan mencelakai diri sendiri…”

Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya. Sepasang matanya menyorotkan sinar tajam, pandangannya perlahan-lahan menyapu ke arah para hadirin yang berkumpul di ruangan tersebut. Tampak mereka mendengarkan dengan penuh perhatian, tanpa sadar bibirnya mengembangkan seulas senyuman. Setelah itu dia baru meneruskan lagi kata-katanya…

“Umumnya ilmu silat tidak dapat dipilih-pilih jenis tertentu, misalnya ilmu tinju atau pukulan saja. Karena pengaruhnya kurang hebat sehingga mudah dikalahkan lawan. Juga tidak mungkin sekali belajar langsung bisa, kecuali seperti yang pinto katakan di atas tadi.

Umpamanya orang itu menemui suatu keajaiban, boleh dibilang tidak ada cara untuk belajar semacam ilmu dalam waktu yang cepat. Namun selama ini pinto hidup mengasingkan diri di Yang Sim An. Pernah satu kali ketika sedang bersemedi, tanpa sengaja pinto menemukan pengetahuan bahwa ilmu silat dari perguruan manapun mempunyai kelebihan dalam menghadapi lawan. Untuk memecahkan rahasia tersebut, bagi orang yang berotak cerdas tentu tidak sulit untuk memahaminya. Setelah memahami rahasia tersebut, bukan saja waktunya dapat dipersingkat, bahkan pengaruhnya boleh dibilang sangat ajaib. Bukan hal yang dapat dibayangkan oleh orang biasa, Waktu semalam, bagi Pinto sudah lebih dari cukup. Orang yang mempelajarinya dan ingin memahami rahasianya harus memusatkan perhatian yang sepenuhnya, tubuh dan pikiran harus menyatu. Persis seperti seorang pertapa yang masuk dalam detik kehampaan. Tidak boleh terkena sedikitpun rasa terkejut atau gangguan di saat tersebut. Apabila hal ini sampai terjadi, bukan saja ilmu silatnya dapat menyurut, namun ada kemungkinan urat
nadi dalam tubuhnya membengkak sehingga darahnya mengalir secara terbalik. Dengan demikian orang itu akan menjadi cacat seumur hidup. Justru karena sebab inilah, pinto memberanikan diri meminta perlindungan dari dua orang jago berilmu tinggi untuk berjaga-jaga berhadap segala kemungkinan.”

Mendengar kata-katanya yang demikian berat serta serius, Yibun Siu San dapat membayangkan pentingnya masalah ini. Meskipun pada dasarnya dia orang yang cerdas dan banyak akal, tetapi setelah mendengar ucapan Tian Bu Cu yang sangat serius itu, untuk sesaat dia tidak bisa menentukan siapa yang cocok mendapat tugas yang berat ini. Lagipula dia juga tidak enak hati menunjuk seseorang yang belum tentu rela melakukannya. Hanya sepasang matanya yang mengedar kepada paya hadirin.

Cu Mei yang merupakan salah satu dari Ciong San Suang Siu melihat para hadirin semuanya merenung tanpa mengucapkan sepatah sepatah katapun. Dia sendiri juga menundukkan kepalanya berpikir sejenak, ke-mudian dia mendongakkan kepalanya kembali menatap abang angkatnya Yi Siu. Setelah itu tampak bibirnya mengembangkan seulas senyuman.

“Cayhe dua kakak beradik bersedia menjadi pelindung Totiang untuk satu malam…”

Belum lagi ucapannya selesai, tampak Liang Fu Yong berjalan keluar dari tempatnya dengan langkah gemulai. Ketika sampai di hadapan Tian Bu Cu, dia langsung menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan orangtua tersebut. Dari mulutnya terdengar suara yang lembut dan merdu, “Tecu menghadap Insu (guru yang budiman).”

Tian Bu Cu tersenyum simpul. Lengan pakaiannya dikibaskan, serangkum tenaga yang lembut segera terpancar keluar dan menahan tubuh Liang Fu Yong yang akan menjatuhkan diri berlutut di hadapannya.

“Sekarang masih belum waktunya upacara penyembahan menghadap guru, kau bangunlah.”

Liang Fu Yong jadi tertegun mendengar ucapannya. Dia benar-benar tidak mengerti apa sebenarnya yang terkandung dalam hati tokoh sakti tersebut. Terang-terangan dia sudah berani mengumumkan di depan orang-orang bahwa dia akan menerimanya sebagai murid, tetapi mengapa dia tidak mau menerima penghormatannya? Tetapi biar bagaimana Liang Fu Yong tidak berani lancang menanyakan hal tersebut. Perlahan-lahan dia berdiri dan berjalan kembali ke tempatnya semula dengan kepala tertunduk.

Saat ini Cu Mei sudah mendorong mejanya dan bangkit dari tempat duduk. Dia menjura kepada Tian Bu Cu dan berkata, “Silahkan!” dia langsung membalikkan wajahnya dan mengajak Yi Siu berjalan keluar.

Tian Bu Cu juga menjura ke sekeliling ruangan itu untuk menyalami para hadirin.
Kemudian dia menggapai kepada Liang Fu Yong agar mengikutinya. Tampak jubahnya yang longgar berkibar-kibar ketika kakinya melangkah. Tampaknya santai-santai saja tetapi dalam sekejap mata sudah berada jauh dari pandangan.

Setelah keempat orang itu tidak terlihat lagi, Yibun Siu San baru menanyakan pengalaman Tan Ki beserta yang lainnya selama meninggalkan Tok Liong Hong. Ketika mendengar cerita Tan Ki, si pengemis cilik serta Liu Mei Ling yang bertemu dengan si gadis berpakaian putih, sepasang alisnya langsung mengerut. Yibun Siu San sendiri
termasuk orang yang periang. Jarang terlihat dia bermuram durja kecuali ada sesuatu yang gawat sekali. Terdengar suara mendesah dari bibirnya. Untuk beberapa lama dia menundukkan kepalanya merenung. Matanya terpejam rapat-rapat, tampaknya dia ingin memusatkan seluruh pikirannya untuk menebak asal-usul si gadis berpakaian putih. Tetapi sampai cukup lama dia masih tidak terpikir siapa tokoh terkenal di dunia Kangouw ini yang memelihara seekor elang raksasa.

Cian Cong melihat dia memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya merenung sekian lama. Bahkan hampir sepeminuman teh lamanya, sang sahabat tidak mengucapkan sepatah katapun. Tanpa terasa hatinya juga terasa pilu dan getir, karena dia juga seorang tokoh Bulim yang sudah mempunyai nama besar. Mula-mula mendengar cerita Tan Ki tentang si gadis berpakaian putih, dia juga menguras otaknya berpikir sampai lama sekali. Namun seperti juga Yibun Siu San saat ini, dia tidak ingat ada seorang Cianpwe seperti yang dikatakan oleh Tan Ki. Dengan demikian, dia paham sekali bagaimana penasarannya perasaan hati Yibun Siu San saat ini. Melihat keadaan ini, dia merasa iba terhadap rekannya itu, tetapi Tan Ki pernah memohon agar tidak mengatakan siapa gadis itu kepada orang lain, kecuali kalau keadaan benar-benar mendesak. Oleh karena itu dia langsung mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak. Dia sengaja ingin mengalihkan pikiran Yibun Siu San. Setelah itu terdengar dia berkata dengan suara keras.

“Setelah mendengar kalian berunding tadi, tampaknya setelah si pengemis tua meninggalkan Tok Liong-hong, telah terjadi suatu urusan yang hebat. Bahkan si pengemis tua melihat kau sampai mencak-mencak dan seperti cacing kepanasan saja. Sedikit-sedikit mengatakan ingin mengadu jiwa dengan orang. Sebenarnya urusan apa yang membuat kalian demikian panik tidak karuan?”

Mendengar suara tawanya yang memekakkan telinga, Yibun Siu San langsung tersentak dari lamunan. Mulutnya mengeluarkan suara seruan terkejut seakan baru teringat lagi akan masalah itu. Perlahan-lahan dia menepuk batok kepalanya sendiri kemudian tertawa getir.

“Kalau diceritakan sejak awal, tentu memakan waktu yang cukup panjang. Rekan-rekan yang hadir di sini tadinya sudah mempersiapkan diri berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan, tetapi pada saat kejadian, mereka sendiri mendapat lawan yang setimpal.
Aih, diungkit kembali masalah ini hanya mengesalkan saja. Lebih baik tidak usah diceritakan lagi.”

Sepasang mata Cian Cong memancarkan sinar yang tajam.

“Benarkah orang-orang dari Lam Hay dan Si Yu mempunyai nyali demikian besar sehingga berani mengacau di puncak Tok Liong-hong?”

“Apabila Cian-heng ingin melihat buktinya, malam ini atau besok malam ada kemungkinan mereka akan menyelinap lagi ke mari. Pada saat itu Cian-heng dapat’melihat sendiri sampai di mana besarnya nyali mereka. Malah mungkin engkau dan aku terpaksa harus bertarung mati-matian untuk mempertahankan selembar nyawa tua ini.” berkata sampai di sini, tiba-tiba terdengar Cian Cong mendengus dingin. Hatinya jadi tercekat. Dia maklum sekali kalau orangtua yang satu ini mudah sekali terbakar hatinya. Mungkin ucapannya tadi tanpa sadar telah membangkitkan sikapnya yang keras kepala dan tidak mau mengalah kepada siapapun. Oleh karena itu, Yibun Siu San cepat-cepat menghentikan kata-katanya dan membungkam seribu bahasa. Sejenak kemudian dia baru- menoleh ke arah Tan Ki dan si pengemis cilik lalu melanjutkan kata-katanya…

“Orang-orang dari angkatan muda ini pasti lelah sekali setelah melakukan perjalanan yang demikian jauh. Mana wajah mereka begitu kotor seperti sudah satu minggu tidak membasuh diri. Sudah seharusnya kita sebagai yang tua membiarkan mereka beristirahat dan membersihkan tubuh masing-masing. Berdiri di sini mendengarkan orang-orang tua berceloteh tentu mereka tidak biasa. Setelah makan malam nanti, baru kita bagi tugas kepada mereka.”

Si pengemis cilik dan Hek Lohan memang sejak tadi sudah menunggu kata-katanya ini.
Mereka cepat-cepat menjura kepada Yibun Siu San dan Cian Cong. Setelah itu mereka mengajak Yang Jen Ping, Ban Jin Bu dan Goan Yu Liong keluar dari ruangan tersebut.

Tan Ki melirik sekilas kepada Liu Mei Ling, kemudian dia mengajaknya kembali ke kamar mereka.

* * * *

Ketika Mei Ling selesai membasuh diri, dia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun berwarna putih yang indah sekali. Di bawah cahaya lentera yang remang-remang, kesan yang ditampilkan gadis ini benar-benar demikian anggun laksana seorang dewi kahyangan. Semakin diperhatikan rasanya semakin menawan. Tan Ki sampai memandangnya dengan terpesona. Dia merasa isterinya itu semakin cantik dan dewasa setelah mengalami berbagai kejadian yang hebat. Untuk sesaat dia tidak dapat mempertahankan diri lagi dan menghampirinya dengan tergesa-gesa lalu memeluk pinggangnya yang ramping. Dua pasang mata bertemu. Untuk beberapa saat mereka saling pandang. Tidak ada seorangpun yang mengucapkan sepatah kata karena di saat seperti ini, kata-kata sama sekali tidak diperlukan. Dari sinar mata mereka sudah terpancar seribu kalimat.

Kedua pemuda pemudi itu berdiri berpelukan dengan penuh perasaan. Entah berapa lama sudah berlalu. Tiba-tiba Tan Ki menggerakkan tangannya dan merangkul Mei Ling erat-erat.

“Ling Moay, sudah waktunya kita beristirahat.”

Begitu dia menundukkan kepalanya, dia melihat wajah isterinya itu merah jengah dan tersipu-sipu. Matanya menyorotkan sinar yang lembut. Setelah pandangan mereka bertemu, cepat-cepat dia menundukkan kepalanya. Sikapnya seperti pemalu sekali.
Namun mengandung kejinakan seperti seekor domba. Kepalanya menyandar di bahu Tan Ki.

Tan Ki langsung memondongnya menuju tempat tidur…

Saat itu merupakan hari keempat pernikahan mereka. Tetapi baru sekarang mereka mendapat kesempatan berkasih-kasihan sebagaimana layaknya sepasang pengantin baru. Pasti dapat dibayangkan gairah yang bergejolak dalam dada mereka.

****

Waktu berlalu bagai kuda yang dipecut, sebentar saja sudah kurang lebih kentungan kedua. Rembulan yang sejak tadi menyembunyikan diri berusaha mengintai dari balik awan tebal. Cahayanya begitu redup dan angin musim semi bertiup semilir melambaikan dedaunan yang berguguran.

Seluruh Tok Liong-hong dicekam keheningan. Pada saat seperti ini seharusnya setiap orang sudah pulas dalam mimpi indah. Suasana di sekitar bukit tersebut gelap gulita. Tak terlihat setitikpun sinar penerangan. Sebetulnya keadaan seperti itu sudah biasa selama pertandingan berlangsung. Para hadirin maupun orang-orang yang mengikuti pertandingan tentunya sudah merasa letih dan ingin istirahat yang cukup. Namun suasana malam ini memang agak berlainan karena diliputi ketegangan sejak ada gangguan malam yang lalu. Terasa ada bahaya yang mengintai di mana-mana sehingga tidak ada seorangpun yang dapat tidur dengan nyenyak.

Tiba-tiba di bawah sinar rembulan yang remang-remang tampak sesosok bayangan berkelebat. Gerakannya bagai seekor burung yang sangat lincah. Dalam waktu yang singkat, dia sudah berada di pertengahan bukit Tok Liong-hong tersebut. Sekali loncat saja dia dapat mencapai jarak sejauh enam tujuh depa.

Kalau ditilik dari kecepatannya, tampaknya kepandaian orang ini tidak dapat dipandang ringan. Bahkan Kok Hua Hong dan Ban Jin Bu yang bersembunyi di kegelapan menjadi terkejut bukan kepalang. Kemungkinan besar ilmu orang itu malah lebih tinggi dari pendekar pedang tingkat tujuh.

Justru ketika Kok Hua Hong masih menimbang-nimbang, orang yang muncul itu sudah sampai di atas puncak bukit Tok Liong-hong.

Hati Kok Hua Hong menjadi panik. Walaupun sadar dirinya bukan tandingan orang itu, tetapi biar bagaimana dia mendapat tugas untuk menjaga pos pertama. Urusannya bisa gawat sekali. Oleh karena itu dia tidak berpikir panjang lagi, mulutnya segera membentak… 

“Siapa yang nyalinya besar berani menyelinap ke puncak bukit Tok Liong-hong ini?” tubuhnya melesat ke bawah, dia meloncat turun dari gerombolan dedaunan pohon siong yang lebat. Di tengah udara dia mengeluarkan senjatanya yang berbentuk pancingan.
Begitu sampai di atas tanah, tanpa membuang waktu lagi, dia melancarkan sebuah serangan ke arah orang yang menyelinap tadi.

Tampak orang itu menggeser tubuhnya sedikit, lengan jubahnya yang longgar dikibaskan. Segera terasa ada serangkum arus tenaga yang kuat terpancar keluar dan menahan datangnya serangan Kok Hua Hong.

Hati Kok Hua Hong diam-diam tercekat. Dia tidak berani melancarkan jurus kedua.
Tubuhnya menjungkir balik ke belakang dan tahu-tahu dia sudah mencelat mundur sejauh tujuh delapan depa. Begitu pandangan matanya dipusatkan, dia melihat Yibun Siu San sudah mengganti pakaiannya dengan jubah panjang yang longgar. Di belakang pundaknya tersampir sebatang pedang pusaka. Pinggangnya diikat dengan sehelai selendang yang lebar, wajahnya tetap ditutup dengan sehelai cadar tipis. Justru karena penampilannya yang berbeda, maka Kok Hua Hong sampai tidak mengenalinya tadi. Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam, bibirnya tersenyum lembut.

“Tentunya kau terkejut sekali.” katanya. Setelah tertegun sejenak, Kok Hua Hong baru pulih kembali. Dia segera menjura sambil tertawa lebar.

“Tadinya aku mengira gerombolan penjahat itu balik lagi, hampir saja…”

Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba tampak dua titik asap api melesat ke angkasa dari jarak beberapa li di kaki bukit. Setiap cahaya api itu ada tiga titik. Begitu melesat ke angkasa, titik api itu meletus menjadi percikan seperti bintang yang berkilauan, sejenak kemudian baru luruh kembali ke bawah bagai curah hujan.

Melihat pihak Si Yu kembali menggunakan cahaya api sebagai isyarat, Yibun Siu San segera tahu bahwa mereka kali ini ingin berkun-jung secara terang-terangan. Tanpa dapat ditahan lagi hidungnya mengeluarkan suara dengusan yang berat. Dia menoleh kepada Kok Hua Hong seraya berkata, “Bersiap-siaplah, lakukan seperti rencana semula. Sebelum datangnya hujan dan badai, pasti cuaca terang dan keadaan tenang. Aku akan memeriksa tempat lainnya!” selesai berkata, dia tidak menunggu jawaban dari Kok Hua Hong.
Tampak tubuhnya berkelebat. Secepat kilat dia melayang pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah Yibun Siu San pergi, Kok Hua Hong mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut. Setelah yakin tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Dia baru menggerakkan tubuhnya melesat ke atas pohon serta kembali menyembunyikan diri di balik gerombolan dedaunan yang lebat.

Pohon Siong ini tingginya kurang lebih tujuh delapan depa, orang yang bersembunyi di atasnya dapat melihat pemandangan di selatar lembah tersebut sementara jejaknya sendiri tidak mudah diketahui oleh lawan.

Baru saja dia duduk dengan tenang di atas sebatang ranting pohon. Tiba-tiba telinganya menangkap suara siulan panjang yang tidak berhenti-henti. Nadanya kadang melengking kadang rendah, hal ini membuktikan bahwa pihak musuh sama sekali tidak berniat menutupi kedatangan mereka.

Setelah beberapa saat suara siulan tadi terdengar, suasana kembali sunyi seperti semula. Tetapi di balik keheningan ini terselip hawa ketegangan yang mencekam hati. Angin menderu-deru melambai-lambaikan rerumputan. Terdengar suara desiran yang lembut, membuat suasana semakin menyeramkan. Meskipun Kok Hua Hong termasuk tokoh tua yang sudah banyak pengalaman dan Ban Jin Bu adalah seorang pemuda yang pemberani, namun dalam keadaan seperti ini, mereka juga merasa agak ngeri dan jantungpun berdebar-debar.

Justru ketika kedua orang itu merasa tegang dan mulai tidak sabar. Tiba-tiba di puncak bukit terlihat belasan sosok bayangan berkelebat. Gerakan mereka begitu ringan laksana angin yang berhembus. Hal ini menandakan bahwa di antara rombongan ini tidak ada satupun yang kepandaiannya lemah.

Kok Hua Hong yang melihatnya sampai merasa panik. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya mengerut ketat. Diam-diam hatinya berpikir: ‘Tampaknya orang-orang yang datang ini semuanya berilmu tinggi. Apabila mereka nanti menyerbu dengan kekerasan, pos pertama ini pasti sulit dipertahankan lebih lama.

Ketika pikirannya masih bekerja, tiba-tiba telinganya kembali menangkap suara siulan yang panjang. Kali ini nadanya lebih melengking dari yang tadi. Suaranya bagai gerungan seekor naga sakti yang demikian memekakkan telinga. Mendadak belasan sosok bayangan itu berpencaran ke segala penjuru. Setiap rombo ngan terdiri dari tiga orang. Semuanya ada empat kelompok yang dalam waktu bersamaan berpencar ketiga penjuru, yakni utara, timur dan selatan.

Hal ini terjadi dalam sekejap mata. Rombongan yang pertama berlari secepat kilat dan sebentar saja mereka sudah mendekati tempat persembunyian Kok Hua Hong dan Ban Jin Bu.

Terdengar Kok Hua Hong mengeluarkan suara tawa yang panjang. Tubuhnya melesat turun dari atas pohon. Senjatanya sudah siap di tangan dan dia menghadang di hadapan rombongan orang itu. Telinganya mendengar suara kibaran pakaian yang mendesir.
Ternyata Ban Jin Bu juga sudah ikut melayang turun dan mendarat tepat di sampingnya.

Begitu pandangannya diedarkan, dia melihat salah satu dari orang-orang tersebut hanya bermata satu dan bibirnya sumbing. Dia adalah seorang tua yang wajahnya jelek sekali. Di sebelah kanannya berdiri seorang laki-laki setengah baya berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, tubuhnya kekar dan berpakaian seperti tukang pukul. Orang di sebelahnya merupakan orang yang paling pendek dalam rombongan mereka. Tingginya kurang dari satu setengah meter. Dilihat sepintas lalu seperti gelundungan bola saja.
Begitu bulatnya sehingga tampak menggelikan. Wajahnya persis orang yang baru keluar dari tong oli. Hitamnya sampai mengkilap. Begitu gelapnya kulit orang itu sehingga sulit bagi orang untuk menaksir usianya yang tepat. Di bahunya terselip sepasang golok, sedangkan di pinggangnya menggantung serenceng pisau terbang dan piauw. Hal ini menandakan bahwa orang ini mempunyai keahlian dalam bidang senjata rahasia.

Pengetahuan maupun pengalaman Kok Hua Hong cukup luas. Melihat tampang orang- orang itu yang luar biasa lagipula pandangan matanya menyorotkan sinar tajam, dia langsung sadar bahwa masing-masing orang ini mempunyai kepandaian yang tinggi dan istimewa. Diam-diam dia bersiap sedia terhadap segala kemungkinan. Setelah memperhatikan orang itu satu per satu, tampak dia menggetarkan senjatanya yang berbentuk bambu pancingan.

“Saudara bertiga malam-malam menyelinap ke puncak bukit tanpa menyebutkan nama masing-masing dan juga tidak memberitahukan terlebih dahulu. Entah maksud apa yang terkandung dalam hati kalian?” bentaknya keras.

Orangtua yang wajahnya jelek sekali dan rambutnya sudah memutih itu mengeluarkan suara tertawa yang dingin.

“Lohu bernama Ho Tiang Cun, menjabat sebagai Tongcu dari Lam Hay Bun. Selama ini hanya ada orang lain yang memberitahukan ataupun mengirim undangan apabila ingin berkunjung. Lohu sendiri belum pernah melakukan yang sebaliknya, apalagi meminta ijin memasuki suatu wilayah.”

Kok Hua Hong langsung mendengus dingin mendengar kata-katanya yang pongah. “Cukup besar juga mulutmu itu!” sindirnya.
“Lumayan! Lumayan!”

Melihat orangtua itu baru datang saja sudah begitu sombong, tanpa terasa hawa amarah dalam dada Kok Hua Hong meluap juga.

“Di puncak bukit Tok Liong-hong ini sedang berkumpul para jago kelas tinggi dari daerah Tionggoan. Nama mereka sudah terkenal di mana-mana. Kalau dibandingkan
dengan berdirinya dunia Bulim kami yang sudah ratusan bahkan ribuan tahun, satu Lam Hay Bun saja belum berarti apa-apa. Apalagi hanya seorang yang menjabat kedudukan Tongcu, benar-benar bagai seekor katak dalam tempurung yang belum pernah melihat luasnya bumi tingginya langit, sehingga berani mengacaukan daerah Tionggoan!”

Ho Tiang Cun mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak.

“Justru karena hal inilah, maka lohu tidak perduli perjalanan sejauh ribuan li untuk melihat buktinya sendiri. Kau juga tidak perlu menghalangi kegembiraan hati lohu ini. Cepat minggir!” baru saja ucapannya selesai, tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat menerjang ke depan. Kebesaran nyalinya dan kecepatan gerakan tubuhnya benar-benar di luar dugaan Kok Hua Hong maupun Ban Jin Bu.

Wajah Kok Hua Hong langsung berubah hebat. Dia benar-benar terkejut sekali. Baru saja dia bermaksud menggeser kakinya menghindar untuk kemudian baru memikirkan cara menghadapi orang ini, tiba-tiba dia melihat cahaya berkelebat dan suara angin yang mendesir. Rupanya Ban Jin Bu yang berjiwa muda tidak dapat menahan kemarahan hatinya lagi melihat lagak orangtua yang menyebalkan ini. Tanpa berpikir panjang, dia sudah menggerakkan golok pusakanya menyambut ke depan.

Tampak Ho Tiang Cun tertawa terbahak-bahak.

“Anak baru gede sudah cari mati!” telapak tangan kanannya terulur ke depan. Dengan jurus Naga Mencengkeram Dari Balik Awan, serangkum tenaga dahsyat langsung terpancar keluar dan menerjang pergelangan tangan Ban Jin Bu yang menggenggam golok.

Golok milik Ban Jin Bu ini benar-benar merupakan pusaka yang diwariskan turun temurun dalam keluarganya. Bukan saja sangat tipis, tetapi apabila digerakkan akan menimbulkan daya tolak yang lembut. Pengaruh yang terpancar sangat ajaib, namun mempunyai daya yang sangat ringan sehingga orang yang menggenggamnya tidak merasa berat sebagaimana golok biasanya yang mempunyai bobot berat. Jurus-jurus serangannya pun jauh berbeda dengan ilmu golok umumnya.

Ho Tiang Cun mengira tenaga dalamnya yang sudah dilatih kurang lebih tujuh puluh tahun pasti tidak dapat ditahan oleh pemuda ingusan itu. Dari segi pengalaman saja pasti ia jauh lebih banyak daripada Ban Jin Bu. Gerakan serangannya kali ini begitu cepat sehingga sulit diikuti pandangan mata yang kurang tajam. Dia sudah yakin bahwa serangannya kali ini pasti akan mencapai sasaran dengan telak. Entah bagaimana, tiba- tiba terlihat golok di tangan Ban Jin Bu berputaran. Gerakan golok itu berubah tepat di saat serangannya hampir mengenai pergelangan tangan Ban Jin Bu. Perubahan yang mendadak itu benar-benar di luar dugaannya. Tahu-tahu golok itu malah mengincar pergelangan tangannya sendiri!”

Rasa terkejutnya kali ini benar-benar luar biasa. Tetapi biar bagaimana dia adalah seorang pemimpin dari rombongan tersebut. Ilmunya termasuk paling tinggi di antara ketiga orang itu. Tentu memalukan baginya apabila dia sampai tersungkur roboh dalam satu jurus di tangan anak yang baru gede pula. Wajahnya mengeluarkan suara siulan yang keras. Telapak tangan kanannya menekuk sedikit, dengan jurus Burung Bangau Mematuk Ikan dia menyambut datangnya serangan golok Ban Jin Bu.
Ketika dia melancarkan serangan ini, kejadiannya benar-benar cepat sekali, kekuatan yang terpancar sungguh dahsyat, Kok Hua Hong yang melihatnya sampai tertegun, diam- diam hatinya berpikir: ‘Mengapa dia menyambut serangan golok dengan tangan kosong, malah menggunakan cara keras lawan keras pula, bukankah ini yang dinamakan gila- gilaan?’

Tiba-tiba terdengar suara benturan senjata yang terbuat dari logam. Tanpa dapat di tahan lagi dia segera mendongakkan wajahnya memandang. Tampak golok Ban Jin Bu tertangkis oleh orangtua itu begitu kuat. Anak muda itu sampai merasa lengannya kesemutan dan dadanya seperti diselimuti hawa panas, orangnya sendiri berdiri dengan termangu-mangu.

Dari luar memang tampaknya Ho Tiang Cun ini menghadapi lawan dengan tangan kosong dan tidak berbekal senjata apapun. Tetapi sebetulnya tangan kiri orang itu memakai sebuah sarung tangan yang terbuat dari besi. Dengan demikian, selain dia dapat melindungi telapak tangannya, juga dapat digunakan untuk menangkis senjata tajam.
Kalau bukan orang yang mawas sekali, tentu tidak akan tahu kalau tangan itu memakai sarung besi.

Karena mula-mula Ho Tiang Cun memandang ringan lawannya, hampir saja dia terkena serangan Ban Jin Bu. Justru karena hal ini pula, hawa pembunuhan dalam dadanya bangkit seketika. Saat ini melihat Ban Jin Bu masih berdiri dengan terkesima, dengan jurus Bintang Mengejar Rembulan, sarung tangan besinya kembali menghantam ke depan.

Ditangkis dengan tenaga yang kuat oleh Ho Tiang Cun, golok di tangan Ban Jin Bu hampir saja terlepas. Kali ini melihat serangan orangtua itu malah lebih hebat dari yang pertama, mana mungkin dia berani menyambut lagi dengan kekerasan. Tubuhnya mencelat ke udara, setelah berjungkir balik satu kali, dia melayang mundur sejauh satu depa lebih.

Si gemuk pendek berwajah hitam dan laki-laki bertubuh kekar tiba-tiba bergerak dan menghambur ke atas, mereka lewat di samping tubuh Kok Hua Hong dengan niat menyelinap ke puncak bukit.

Kok Hua Hong segera merentangkan bambu pancingannya yang panjang. Mulutnya memperdengarkan suara tawa terbahak-bahak.

“Tunggu dulu, tunggu dulu! Walaupun anak muda itu tidak begitu becus, masih ada aku si tua b angka ini!”

Sembari berkata, dia menghentakkan bambu pancingannya di udara sehingga berputaran dua kali. Saat itu juga tampak gulungan bayangan yang timbul dari pancingannya dan seakan menyelimuti sekitar dirinya. Tenaga dalam Kok Hua Hong sudah termasuk tinggi juga. Meskipun hanya sebuah pancingan yang biasa-biasa saja bahkan halus sekali, namun berkat hentakan tenaga dalamnya yang kuat, maka pancingannya itu dapat menjadi sebatang senjata yang hebat, begitu digerakkan terdengar suara angin menderu-deru. Si gemuk pendek berwajah hitam dan laki-laki kekar tadi terdesak sedemikian rupa sehingga membatalkan niatnya mendaki puncak bukit. Mereka terpaksa membalikkan tubuh lalu menangkis serangan Kok Hua Hong tersebut.

Ilmu silat kedua orang itu boleh dibilang sebanding dengan pendekar pedang tingkat delapan, sedangkan Kok Hua Hong sendiri juga ditaksir oleh Yibun Siu San mempunyai
kepandaian yang setara. Dengan satu melawan dua musuh, tadinya hanya ia lakukan karena emosi sesaat. Dia tidak berpikir panjang lagi. Dengan segenap kemampuan dia menghadapi dua orang lawan itu. Tetapi lama kelamaan, dia mulai kewalahan, keringat sudah membasahi keningnya. Bayangan yang timbul dari pancingannya mulai memudar, kalau tadinya menyelimuti sampai sejauh satu depaan, sekarang hanya kurang dari setengah depa saja.

Si gemuk pendek dan laki-laki kekar pada dasarnya memang orang yang licik. Melihat kesempatan yang bagus itu, mereka segera menggencarkan serangannya. Begitu terdesaknya Kok Hua Hong sampai ia terpaksa menahan di kanan menangkis’di kiri.
Keadaannya mulai terperangkap dalam bahaya.

Ban Jin Bu melihat keringat dingin terus menetes dari kening Kok Hua Hong, selembar wajahnya pun sudah basah oleh keringat. Nafasnya tersengal-sengal. Tahu situasi orangtua itu mulai genting, hatinya menjadi panik sekali. Meskipun dia sadar kepandaiannya sendiri masih tidak berarti apa-apa dibandingkan mereka bertiga, tetapi dia tidak sempat mempertimbangkan lebih banyak lagi. Golok di tangannya berputar, dia berniat menerjang ke depan dan mengadu jiwa dengan kedua orang dari pihak musuh itu. Tiba-tiba telinganya menangkap suara tawa yang keras dan memekakkan telinga, sesosok bayangan hitam melesat datang lewat atas kepalanya. Orangnya belum sampai, sebatang pedang bambu yang ada di tangannya sudah meluncur bagai kilat ke arah laki-laki bertubuh kekar. Kecepatannya tidak kalah dengan hembusan angin, kekuatan yang terpancar dari pedang bambu itu dahsyat sekali.

Laki-laki bertubuh kekar dan bercambang lebat itu langsung tergetar mundur dua langkah oleh serangan yang datangnya mendadak ini.

Kok Hua Hong sendiri segera merasa bebannya jauh lebih ringan karena satu lawannya sudah tergetar mundur. Semangatnya juga terbangkit kembali. Sepasang lengannya digetarkan dan pancingannyapun berputaran di udara. Dengan jurus ‘Bangau Membentangkan Sayap’ dan Im Yang Memutar Arah, sekali gerak dia melancarkan dua jurus serangan. Saat itu juga bayangan pancingannya bergulung-gulung bagai ombak di lautan. Laki-laki gemuk pendek berwajah hitam itu juga melihat semangat Kok Hua Hong sudah terbangkit kembali. Suara yang timbul dari pancingannya menggetarkan hati orang itu. Untuk sesaat dia malah tidak berani menyambut serangan Kok Hua Hong. Dari menyerang sekarang dia malah mempertahankan diri. Kakinya mencelat mundur sejauh lima langkah. Tampak tangannya bergerak ke belakang, terlihatlah cahaya putih yang berkilauan, sepasang golok yang tersampir di punggungnya sudah dicabut keluar.

Kok Hua Hong tertawa terbahak-bahak.

“Sekarang kita duel satu lawan satu. Berarti setali tiga uang, pokoknya belum ada yang rubuh tidak boleh berhenti. Harus bertarung sampai tarikan nafas yang terakhir!”

Pancingannya dihentakkan, dengan sengit dia menyapunya ke depan. Saat itu juga terlihat cahaya golok berpijar-pijar, bayangan pancingan bergulung-gulung. Keduanya merupakan pendekar pedang tingkat delapan. Siapapun mencari peluang untuk melancarkan serangan terlebih dahulu. Dari lambat mereka bertarung, semakin lama semakin cepat. Setelah sepuluh jurus ke atas, sulit lagi membedakan mana kawan dan mana lawan.
Sementara itu, Ho Tiang Cun sudah melihat jelas orang yang tadi muncul memberikan bantuan kepada Kok Hua Hong. Rambut serta jenggotnya sudah memutih. Pakaiannya lusuh serta penuh tambalan. Baik tampang maupun penampilannya menyebalkan. Tangan kanannya menggenggam sebatang pedang bambu, di pinggangnya tergantung sebuah hiolo arak. Kalau ditilik dari semuanya ini, mirip dengan si pengemis sakti Cian Cong yang pernah didengarnya ketika masih di Lam Hay. Oleh karena itu dia segera memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Apakah si tukang minta-minta tua ini Cian Cong sendiri adanya?” tanyanya datar. Cian Cong memperlihatkan senyuman yang angkuh.
“Kalau melihat tampang mukamu itu, masih belum pantas kau menanyakan siapa adanya aku ini!”

Selama hidupnya Ho Tiang Cun terkenal orang yangf tinggi hati. Mana pernah dia menerima penghinaan dari orang lain. Mendengar kata-kata si pengemis sakti Cian Cong, saking kesalnya sampai-sampai seluruh tubuhnya bergetar, wajahnya yang jelek berubah hebat. Sekali lagi dia tertawa dingin. Matanya yang hanya satu ini mengerling ke sana ke mari. Kemudian dia menatap Cian Cong lekat-lekat. Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya dan siap melancarkan serangan.

Tentu saja hal itu tak luput dari perhatian si pengemis sakti. Sebenarnya dia sudah tahu kalau Ho Tiang Cun diam-diam mengerahkan tenaga dalamnya, tetapi ilmunya sangat tinggi dan nyalinya besar sekali. Dia sengaja menatap ke atas langit seakan merenungkan sesuatu dan tetap pura-pura tidak menyadari.

Sikapnya yang acuh tak acuh justru membuat orangtua bermata satu itu menjadi semakin waspada. Dia merasa heran atas ketenangan Cian Cong dan untuk sesaat dia sempat termangu-mangu. Hatinya menjadi bimbang dan tidak berani langsung turun tangan.

Tiba-tiba terdengar suara siulan yang bening berkumandang semakin lama semakin mendekat. Dia segera menolehkan kepalanya. Di bawah cahaya rembulan yang redup, tiba-tiba tampak tiga sosok bayangan berkelebat. Persis seperti kijang yang berlari dengan kencang mendatangi ke arah mereka. Dia langsung sadar bahwa bala bantuan pihak lawan sudah berdatangan. Namun dia masih berdiri dengan angkuh tanpa rasa gentar sedikitpun. Bahkan terdengar suara dengusan dingin dari hidungnya. Tampaknya dia sangat yakin sekali dengan kekuatan pihaknya.

Pada dasarnya gerakan yang mereka lakukan malam ini memang melalui rencana yang matang. Apalagi mereka mempunyai mata-mata di Bagian dalam yang akan memberikan pertolongan seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pokoknya mereka telah dijanjikan akan dilindungi secara diam-diam. Rombongannya ini memang bertugas untuk memencarkan perhatian pihak lawan sehingga kelompok lain yang menuju ke utara, selatan dan timur dapat melaksanakan kewajiban mereka dengan lancar. Tujuan mereka yang terutama adalah merusak tempat pertandingan tersebut dan kalau bisa membunuh pihak musuh sebanyak-banyaknya. Lebih bagus lagi kalau pihak jago musuh bermunculan semua di tempat tersebut.

Meskipun rombongan Ho Tiang Cun ini hanya terdiri dari tiga orang dan tidak dapat dibandingkan dengan jumlah orang-orang gagah yang berkumpul di puncak bukit Tok
Liong-hong, yang rata-rata sudah mempunyai nama besar di Tionggoan, tetapi ketiga orang ini semuanya merupakan tongcu (kepala Bagian) dalam perguruan Lam Hay Bun. Ilmu mereka tinggi sekali. Ho Tiang Cun menjabat tongcu penasehat, kedudukannya tinggi sekali. Boleh dibilang kedudukan itu hanya di bawah ketuanya sendiri yang menguasai empat puluh delapan pulau besar kecil. Laki-laki kekar yang berusia setengah baya bernama Miao Fei Siong itu menjabat sebagai tongcu upacara, dan si gemuk pendek berwajah hitam merupakan tongcu Bagian penyimpanan kitab ilmu silat. Dia juga yang mengurus para murid Lam Hay Bun serta memperhatikan mereka apabila sedang berlatih. Seandainya ketiga orang ini digabungkan menjadi satu, walaupun belum dapat dikatakan jago-jago yang tidak terkalahkan atau sanggup menguasai dunia persilatan, namun sudah lebih dari cukup untuk menghadapi pendekar pedang tingkat delapan saja. Bagi mereka tentu bukan masalah yang berat. Oleh karena itu, begitu Ho Tian Cun melihat bala bantuan dari pihak musuh sudah datang, dia sama sekali tidak merasa gentar. Dengan tenang dan angkuh dia berdiri tegak di tempat semula.

Terdengar suara bentakan yang keras menyusup ke dalam telinga seiring dengan hembusan angin. Kok Hua Hong dan Miao Fei Siong sudah terlibat dalam pertarungan yang sengit. Keadaan kedua orang itu sudah mencapai titik puncak. Mereka sama-sama mengerahkan segenap kemampuannya dalam menghadapi lawan. Tampak cahaya golok memijar, bayangan pancingan berkelebat ke sana ke mari. Masing-masing berusaha mendahului lawannya mencari kesempatan untuk melancarkan serangan yang dahsyat. Apabila ada salah satu saja yang terpencar sedikit perhatiannya, tentu akan terjadi pertumpahan, darah atau terkapar mati di atas tanah.

Cian Cong melihat kedua orang itu semakin bertarung semakin sengit, setiap saat malah ada kemungkinan terjadi hal yang celaka. Meskipun mereka merupakan lawan yang sebanding, sulit menentukan siapa yang lebih unggul di antara mereka. Tanpa terasa sepasang alisnya menjungkit ke atas. Diam-diam dia merasa khawatir akan keselamatan Kok Hua Hong.

Ho Tiang Cun merupakan orangtua yang licik. Melihat perhatian Cian Cong terpencar, dia segera menggenggam kesempatan emas itu sebaik-baiknya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, sepasang telapak tangannya menghantam ke depan. Dua arus tenaga yang saling susul menyusul terasa begitu dahsyat menerjang ke arah si pengemis sakti Cian Cong!

Serangannya ini dilancarkan dalam kemarahan yang meluap serta pertimbangan yang matang. Dengan demikan dapat dibayangkan sampai di mana kehebatannya. Hantaman telapak tangannya sampai menimbulkan suara angin yang menderu-deru, benar-benar sebuah serangan yang tidak boleh dianggap remeh.

Namun ilmu silat Cian Cong sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Kalau dilihat dari luar, tampaknya dia tidak mengadakan persiapan sama sekali. Padahal sejak semula dia sudah mengerahkan tenaga dalam dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Ketika Ho Tiang Cun melancarkan serangannya, tiba-tiba tubuh orangtua itu juga berkelebat. Dalam waktu yang bersamaan, tangan kanannya bergerak membalas sebuah serangan yang tidak kalah dahsyatnya!

Terdengar suara dengusan Ho Tiang Cun yang berat, dia mengempos semangatnya dan tenaga dalamnya pun di tambah lagi satu Bagian. Dengan berani dia menyambut serangan si pengemis sakti Cian Cong.
Terdengar suara benturan dua gulung tenaga dalam. Blammm! Tubuh mereka sama- sama tergetar dan menindak mundur sejauh satu langkah. Ho Tiang Cun langsung memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Rupanya tenaga dalam si pengemis tua tidak lemah juga!” Cian Cong tertawa terbahak-bahak.
“Terima kasih, terima kasih. Kau makhluk tua ini juga lumayan.”

Mata Ho Tiang Cun yang tinggal sebelah mengedar ke kiri dan kanan. Dia marah sekali mendengar sebutan Cian Cong pada dirinya.

“Bersilat lidah panjang lebar tidak ada gunanya! Coba kau sambut lagi dua buah seranganku ini!”

Sembari berkata, telapak tangan kirinya diangkat ke atas. Dengan tenaga dalam yang telah tersalurkan, kembali dia melancarkan sebuah serangan. Segulung angin yang kencang segera terpancar keluar seiring dengan gerakan tangannya. Kekuatannya bagai tanah longsor yang menimbulkan suara keras kemudian menghantam ke depan.

Cian Cong melihat serangan lawan kali ini begitu dahsyat, bahkan lebih hebat dari yang pertama. Sebagai orang yang wataknya keras, tentu saja dia tidak sudi menunjukkan kelemahannya. Lengan kirinya mengulur ke depan dan diapun menyambut serangan itu dengan kekerasan.

Sekali terdengar suara benturan tenaga dalam yang memekakkan telinga. Dua rangkum tenaga dalam yang tidak berwujud kembali beradu, pasir dan debu di atas tanah beterbangan memenuhi udara. Kedua orang itu lagi-lagi tergetar mundur sejauh satu langkah, rupanya mereka masih sama-sama kuat.

Setelah beradu kekerasan sebanyak dua kali, hawa murni di dalam kedua tokoh berilmu tinggi ini sama-sama banyak terhambur. Untuk sesaat keduanya berdiri di tempat masing- masing tanpa bergerak sama sekali, mata mereka dipejamkan rapat-rapat dan segera mengatur pernafasan agar tenaga dapat pulih kembali secepatnya. Tampak dada mereka bergerak turun naik menandakan nafas mereka yang tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi kening dan masih terus menetes membasahi seluruh wajah. Dari sini terlihat bahwa untuk beberapa saat mereka tidak punya tenaga untuk mengadakan perlawanan.
Keduanya menggunakan kesempatan yang terbatas itu sebaik-baiknya. Siapa yang lebih cepat memulihkan tenaga dalamnya, tentu berhasil memenangkan pertarungan ini.

Usia Ban Jin Bu masih muda dan pengalamannya masih cetek. Selama hidupnya dia belum pernah melihat pertarungan yang demikian hebat. Setelah Cian Cong dan Ho Tiang Cun mengadu kekerasan sebanyak dua kali, dia melihatnya sampai terlongong-longong.
Matanya terasa berkunang-kunang. Hatinya berdebar-debar, tetapi dia pernah mendengar dari mulut beberapa orang Cianpwe bahwa mengadu tenaga dalam dengan cara demikian menghamburkan banyak hawa murni dalam tubuh. Sekarang dia melihat nafas Cian Cong tersengal-sengal dan keringat terus mengucur dengan deras. Dia tahu saat ini orangtua itu tidak sanggup bertarung lagi untuk sementara. Sementara itu laki-laki setengah baya bertubuh kekar yang berdiri di belakang Ho Tiang Cun bersikap mencurigakan. Sepasang alisnya menampakkan hawa pembunuhan yang tebal. Matanya menatap lekat-lekat ke
arah Cian Cong. Orang yang bermata awas sekali pandang saja pasti akan mengetahui bahwa orang itu mempunyai niat yang jahat.

Berpikir sampai di sini, hatinya semakin khawatir. Diam-diam dia berpikir…

‘Laki-laki bertubuh tinggi besar ini entah punya maksud apa. Bila dia melakukan sesuatu yang melanggar peraturan dunia Kang-ouw, dengan membokong secara tiba-tiba.

Cian Locianpwe pasti hanya punya harapan tipis untuk mempertahankan selembar nyawanya. Kalau aku maju ke depan memberikan bantuan, dengan mengandalkan sedikit kepandaian yang kumiliki ini, sama saja membenturkan kepala ke batu dan mengantarkan nyawa dengan percuma. Namun melihat adanya bahaya tetapi diam saja, bukan pula sikapku pada dasarnya.’

Pikirannya persis seperti kincir angin yang berputar dengan cepat. Namun belum sempat ia memutuskan langkah apa yang harus diambilnya, tiba-tiba tampak laki-laki bertubuh kekar itu menggerakkan tubuhnya ke atas setinggi lima depaan. Di tengah udara sepasang kakinya berputaran kemudian berjungkir balik dengan kepala di bawah, orangnya sendiri laksana seekor burung yang menukik turun serta melancarkan sebuah serangan!

Ban Jin Bu melihat serangannya begitu cepat bagai kilat, jantungnya seakan berhenti berdetak. Serangan orang itu demikian dahsyat. Apabila sampai mengenai si pengemis sakti Cian Cong, dapat dipastikan nyawa orangtua itu pasti melayang. Kekuatannya paling tidak mencapai ribuan kati. Keadaan sudah demikian mendesak, tidak sempat lagi Ban Jin Bu berpikir panjang. Meskipun hatinya masih agak bimbang, namun mulutnya langsung membentak dengan keras. Lengannya disentak dan tubuhnya mencelat ke udara Dengan jurus Naga Murka Menerjang Langit, goloknya segera menimbulkan lingkaran bayangan yang tidak terhitung jumlahnya. De: ngan kecepatan yang tidak terkirakan, dia menerjang ke arah Miao Fei Siong.

Jurus serangannya ini memang sudah sangat hebat, ditambah lagi suasana hati Ban Jin Bu yang gugup karena ingin menolong orang. Serangannya ini bukan main dahsyatnya.
Dia telah menggunakan segenap kekuatannya dan otomatis pengaruhnya juga ikut bertambah hebat.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin dari mulut Miao Fei Siong. Telapak tangannya menghantam ke depan. Entah bagaimana caranya, tahu-tahu dia sudah berhasil menghindar dari kilatan golok Ban Jin Bu, posisinya sendiri masih belum berubah, dia tetap menerjang ke arah si pengemis sakti Cian Cong.

Ban Jin Bu hanya merasa ada serangkum tenaga yang kuat menahan gerakan goloknya. Dia segera merasa dadanya agak tergetar dan lengannya kesemutan. Golok pusaka di tangannya melayang seketika. Tubuhnya sendiri terpental sejauh tiga depaan. Untung saja sejak kecil dia sudah mendapat latihan ilmu Silat dengan keras. Dalam keadaan seperti itu dia tidak menjadi panik. Cepat-cepat dia menarik nafas dalam-dalam dan merentangkan sepasang lengannya sehingga dengan gerakan yang indah dan perlahan-lahan dia melayang turun kembali di atas tanah tanpa terluka sedikitpun.

Dia segera memusatkan pandangan matanya. Tampak Miao Fei Siong yang menahan goloknya dengan kekerasan hanya menjadi jambat sedikit gerakannya, namun dia tetap menerjang ke arah si pengemis sakti Cian Cong. Jaraknya sudah begitu dekat, andaikata
Ban Jin Bu berniat memberikan pertolongan, rasanya hanya sia-sia saja. Begitu paniknya hati anak muda ini, sampai-sampai air matanya hampir mengalir keluar. Dia hanya memandang lekat-lekat sambil menghentakkan kakinya di atas tanah keras-keras.

Tiba-tiba terdengar suara siulan yang beliung dan nyaring. Kemudian disusul dengan perangkum angin kencang yang menghempas lewat di atas kepala Ban Jin Bu. Sesosok bayangan berwarna hitam menerjang cepat ke arah Miao Fei Siong.

Suara tawa yang panjang dan dengusan berat terdengar dalam waktu yang bersamaan, matanya agak berkunang-kunang. Dua sosok tubuh melayang turun di atas tanah saat itu juga.

Ban Jin Bu segera menenangkan hatinya lalu memusatkan perhatian. Tampak Lok Yang Sin Kiam Liu Seng sudah menghadang di depan si pengemis sakti Cian Cong. Sepasang matanya menyorotkan sinar yang dingin. Wajahnya menyiratkan kegusaran yang tidak terkirakan. Hal ini membuktikan bahwa laki-laki setengah baya yang ilmunya setingkat dengan pendekar tingkat delapan ini sudah meluap hawa amarahnya karena tindakan pihak Lam Hay dan Si Yu yang berkali-kali menyerbu ke Tok Liong-hong dengan berani.

Cian Cong masih memejamkan matanya mengatur pernafasan. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali, tetapi bukan berarti dia tidak tahu bahwa ada orang yang mencoba membokongnya lalu kemudian ada orang pula yang memberikan bantuan kepadanya.
Tiba-tiba dia membuka sepasang matanya dan mendelik ke arah Miao Fei Siong sekilas. Setelah itu cepat-cepat dia memejamkan matanya kembali.

Sementara itu, dari belakang Ban Jin Bu terdengar suara kibaran pakaian, rupanya Mei Ling dan Tan Ki juga sudah sampai di tempat tersebut. Dia menolehkan kepalanya memandang ke arah mereka.
“Tan-heng, bagaimana keadaan di puncak bukit?” tanyanya gembira. Tampaknya hati Tan Ki juga sedang diliputi kegusaran yang tidak terkirakan,
mendengar pertanyaan itu sepasang alisnya langsung mengerut-ngerut.

“Paman Heng Sang Si beserta dua orang pendekar tingkat delapan yang tidak kuketahui namanya dan ada lagi enam orang pendekar pedang tingkat tujuh yang menjaga Bagian penyimpanan ransum…”

Belum lagi ucapannya selesai, di Bagian utara bukit tersebut tiba-tiba terlihat segumpal cahaya berwarna kemerahan, tingginya mencapai sepuluh depaan sehingga seluruh bukit bagai diselimuti awan merah. Dilihat dari kejauhan bagai matahari yang berbentuk setengah lingkaran. Kalau ditilik dari cahaya itu saja, dapat dipastikan bahwa di Bagian tersebut sedang terjadi kebakaran hebat dan rasanya sulit dipertahankan lagi.

Tan Ki memperdengarkan suara tawa yang dingin. Dia menunjuk ke arah kobaran api dan berkata:

“Beginilah akibatnya, meskipun paman Heng Sang Si sudah mempertahankan Bagiannya mati-matian dan sekaligus menghadapi tiga orang lawan, namun rekan- rekannya yang merupakan pendekar pedang tingkat delapan sudah tewas satu sedang yang lainnya terluka parah. Enam orang dari pendekar pedang tingkat tujuh juga sudah ada empat yang rubuh. Untung saja Sam Siok Yibun Siu San cepat mendengar kabar dan
segera menyusul tiba. Bagaimana kejadian berikutnya aku tidak tahu lagi. Dengar-dengar di tempat Tian Bu Cu Locianpwe menutup diri juga sudah terlihat adanya jejak musuh…”

Ban Jin Bu menjadi tertegun beberapa saat mendengar keterangannya. “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Perlahan-lahan Tan Ki menarik nafas panjang.

“Kau kira hati giheng-mu ini tidak panik sebagaimana keadaanmu sekarang? Orang- orang dari pihak Lam Hay dan Si Yu yang muncul malam ini bukan golongan kelas teri atau pesilat murahan. Dari tiap kelompok ada tiga orang, salah satunya pasti mempunyai ilmu yang tinggi dan sebanding dengan pendekar pedang tingkat sembilan. Aku benar- benar tidak berani membayangkan bencana apa yang akan terjadi di Bagian belakang bukit. Tetapi paman Yibun sudah mengutus empat orang pendekar pedang tingkat delapan untuk memberikan bantuan kepada Ciong San Suang Siu…”

Kebetulan pada saat itu Mei Ling sudah memungut golok Ban Jin Bu yang terjatuh di atas tanah dan menyodorkannya kembali kepada anak muda itu. Sementara itu hati Tan Ki mengkhawatirkan keadaan mertuanya sehingga ia tidak jadi melanjutkan kata-katanya.

Begitu pandangan matanya dialihkan, di tengah arena terlihat dua pasang manusia sudah terlibat dalam pertarungan yang sengit. Kok Hua Hong dan Tio Hui sudah bertarung selama setengah kentungan. Baik sepasang golok maupun bambu pancingan melakukan penyerangan dengan jurus-jurus yang keji dan cepat. Lama kelamaan, keduanya tetap mempertahankan diri masing-masing dan berusaha menyimpan tenaga dalam untuk akhir pertarungan nanti.

Di pihak Liu Seng dan Miao Fei Siong, yang satu mengarahkan ilmu pedangnya yang cepat dan gesit. Sedangkan yang satu menggunakan sepasang senjata berbentuk sayap burung dan terbuat dari emas. Perhatian keduanya terpusat pada senjata lawan, cara bertarung mereka agak berlainan dengan Kok Hua Hong yang sedang melawan Tio Hui. Gerakan mereka jauh lebih lamban. Setiap kali salah satu dari mereka melakukan penyerangan, yang satunya bertindak mundur dengan perlahan. Seolah-olah mereka bukan bertarung secara sungguh-sungguh tetapi bagai dua orang yang sedang berlatih. Namun bagi orang yang mempunyai mata tajam serta berilmu tinggi, tentu tahu bahwa cara bertarung seperti mereka ini malah lebih banyak menggunakan hawa murni sehingga keadaannya juga jauh lebih berbahaya apabila dibandingkan dengan duel antara Kok Hua Hong dengan Tio Hui. Suasana yang tegang meliputi sekitar tempat tersebut. Setiap saat ada kemungkinan terjadi pertumpahan darah.

Kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, nafas Liu Seng maupun Miao Fei Siong mulai tersengal-sengal. Yang satu matanya merah membara seakan mengandung kobaran api yang besar. Sedangkan yang satunya mengucurkan keringat terus dan rambutnya seakan berjingkrakan karena menahan kegusaran hatinya.

Sepasang alis Mei Ling tampak mengerut ketat melihat keadaan itu. Perlahan-lahan dia menyenggol lengan Tan Ki.

“Tan Koko, coba kau lihat apakah keadaan ayah membahayakan?”

Mata Tan Ki memperhatikan jalannya pertarungan tanpa berkedip sekalipun.

“Aku tidak tahu, Yok-hu (ayah mertua) merupakan pendekar pedang tingkat delapan.
Ilmu pedangnya sudah mencapai taraf yang cukup tinggi, tetapi senjata lawannya berbentuk aneh dan rasanya sudah dilatih sampai matang. Setiap jurus serangannya mengandung kekejian yang tidak terkirakan. Masing-masing ada kelebihannya tersendiri. Untuk sesaat sulit menentukan siapa yang lebih unggul.”

Tiba-tiba terdengar suara siulan yang nyaring dan dengusan yang berat dalam waktu bersamaan, saat itu juga Kok Hua Hong dan Tio Hui sama-sama rubuh di atas tanah.