Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 40

 
Bagian 40

Si pengemis cilik segera memusatkan perhatiannya. Ternyata tebakannya memang tidak salah. Kedua orang itu tidak lain dari laki-laki kasar yang menimpuk Goan Yu Liong dengan senjata rahasia serta si pelajar berwajah putih.

Meskipun dalam hati anak muda ini memang bimbang terhadap ketiga gadis yang seperti bidadari dari khayangan, kadang-kadang terasa seperti kawan tetapi kadang- kadang juga seperti lawan. Tetapi melihat Tan Ki yang muncul secara tidak terduga-duga, bahkan mengucapkan kata-kata bahwa kedatangannya untuk mengakui kesalahan, tanpa dapat ditahan lagi dia merasa terkesiap dan heran. Untuk sesaat dia malah jadi termangu- mangu.

Tampak kedua laki-laki itu berjalan keluar lalu berhenti di depan Tan Ki. Perasaan si pengemis cilik semakin cemas dan panik. Tanpa berpikir panjang lagi dia langsung
mengeluarkan suara bentakan, tubuhnya menerjang ke depan melesat keluar lewat jendela.

Melihat tindakannya, yang lainnya segera mengikuti. Di bawah cahaya rembulan terlihat bayangan tubuh berkelebat, suara angin berdesir, boleh dibilang dalam waktu yang bersamaan, di samping Tan Ki telah berdiri lima enam orang. Sikap masing-masing serius sekali, mereka seakan ingin melindungi Tan Ki dari kiri kanan.

Tampaknya Tan Ki sendiri merasa heran dan terkejut atas kemunculan ibu serta si pengemis cilik. Tetapi sesaat kemudian tampangnya sudah pulih kembali. Hanya tampak sepasang alisnya yang bertaut dengan erat dan wajahnya kusut seperti orang yang habis bekerja keras. Mungkin juga dalam beberapa hari ini dia tidak dapat tidur dengan nyenyak. Sepasang matanya merah membengkak. Melihat kemunculan beberapa orang itu, seolah-olah banyak sekali kata-kata yang ingin diutarakannya, tetapi setelah bibirnya bergerak-gerak dua kali, tiba-tiba dia tertawa sumbang. Mulutnya malah membungkam namun sikapnya tampak kurang wajar.

Ceng Lam Hong tertawa sendu.

“Aku kira kau bertekad untuk membalas dendam sehingga mengikuti permintaan Oey Kang bertemu di Pek Hun Ceng, siapa nyana kita justru bisa bertemu di tempat ini…” berkata sampai Bagian yang sedih, tanpa dapat ditahan lagi dua bulir air mata jatuh membasahi pipinya.

Tan Ki memaksakan dirinya tersenyum. Matanya mengalih kepada Cu Cia.

“Yang ini mungkin murid utama Cian Locianpwe yang mendapat julukan si penge mis cilik Cu-heng?”

Cu Cia menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa lebar.

“Bagus sekali, bagus sekali. Karena pertandingan di atas panggung, hati si pengemis cilik jadi kagum bukan main terhadap dirimu, bahkan beberapa sahabat ini ikut-ikutan rela menjadi pendukung yang paling setia.” saat itu juga dia memperkenalkan Yang Jen Ping, Ban Jin Bu dan Goan Yu Liong bertiga kepada Tan Ki.

Tan Ki langsung menjura ke kiri kanan kemudian dia baru berkata, “Kesalahan tangan ketika pertandingan, benar-benar bukan suatu kesengajaan. Di sini Siaute menyatakan menyesal dan mohon maaf.” selesai berkata, dia segera membungkukkan tubuhnya rendah-rendah.

Sam Po Hwesio mengelus-elus kepalanya yang gundul. Baru saja dia ingin menanyakan maksud kedatangan Tan Ki, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin dari si pelajar berwajah putih.

“Apakah kau anak muda yang memukul Liok Giok sehingga terbuka?”

“Tidak salah. Memang Cayhelah orangnya. Harap Saudara berdua masuk ke dalam dan laporkan kepada majikan kalian bahwa Pendekar tingkat lima dari Tionggoan, Tan Ki mohon dapat bertemu.”

Pelajar yang tampan itu mendonggakkan wajahnya menatap warna langit.

“Saat ini baru memasuki kentungan pertama, majikan kami sedang berlatih ilmu.
Mungkin memerlukan waktu kurang lebih satu kentungan lagi, baru selesai. Kau boleh pergi dulu ke tempat lain dan kembali lagi pada kentungan ketiga nanti.”

Mendengar kata-katanya, sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas, tampaknya dia mulai merasa kesal. Oleh karena itu dia segera menyahut dengan suara lantang.

“Yang suruh aku datang kalian, sekarang yang mencari alasan menunda-nunda waktu kalian juga. Apakah kalian kira aku ini manusia yang mudah dipermainkan? Disuruh pergi langsung pergi, disuruh datang cepat-cepat datang? Melihat tingkah laku kalian lyang menyebalkan ini, entah apa sebenarnya yang terkandung dalam hati kalian?”

Wajah si laki-laki bercambang perlahan-lahan mulai berubah.

“Buat apa kau berteriak keras-keras, apakah kau sengaja ingin mengganggu majikan kami yang sedang melatih ilmu? Kalau kau tidak senang, boleh keluarkan senjatamu dan kita berdua berkelahi sebanyak tiga ratus jurus dan lihat siapa di antara kita yang lebih unggul!”

Ceng Lam Hong melihat hawa kemarahan mulai berkobar di antara keduanya. Mungkin setiap saat bisa meledak menjadi pertikaian besar, cepat-cepat dia menarik tangan Tan Ki dan tersenyum lembut.

“Anak Ki, jangan berkeras sehingga timbul masalah dengan orang. Lebih baik kita ikuti saja kata-katanya. Sekarang kita kembali dulu ke ruangan yang kita sewa, nanti kentungan ketiga baru kita kembali lagi.”

Tan Ki memandang si laki-laki kasar dengan tatapan marah. Dia seakan tidak dapat menahan kegeraman di dalam hatinya, tetapi dalam hatinya ada sesuatu yang dipertimbangkan sehingga akhirnya dia cuma menarik nafas panjang. Setelah menghentakkan kakinya di atas tanah keras-keras, dia mengikuti Ceng Lam Hong dari belakang menuju ke ruangan yang disewa oleh rombongan rekan-rekannya. Telinganya menangkap suara tertawa dingin yang terpancar dari belakang punggungnya. Saking kesalnya dia sampai menggertakkan gigi erat-erat dan hampir saja air matanya mengalir keluar.

Beberapa saat kemudian, mereka sudah duduk di dalam ruangan tamu. Usia Goan Yu Liong paling muda dan dalam segala hal selalu tergesa-gesa. Cepat-cepat dia menyatakan kehendak hati mereka yang ingin mengangkat persaudaraan dengan Tan Ki. Siapa nyana anak muda itu menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir.

“Setelah kentungan ketiga nanti, selembar nyawaku ini entah masih dapat dipertahankan atau tidak, masih belum jelas. Perasaan adik Liong yang tulus, Siaute hanya dapat memendamnya dalam-dalam di hati.”

Si pengemis cilik melihat tampang Tan Ki muram sekali, tetapi bukan seperti sengaja dibuat-buat, diam-diam hatinya jadi terkesiap. Tetapi di luar dia masih berlagak santai seakan tidak ada apa-apa.
“Kata-kata Ki-heng ini benar-benar membuat si pengemis cilik jadi tidak mengerti. Keadaan Ki-heng sekarang kan baik-baik saja, mengapa mengucapkan kata-kata yang bukan-bukan seperti tadi?”

Mata Tan Ki perlahan-lahan mengedar ke beberapa orang di dalam ruangan tersebut. Dia melihat wajah mereka menunjukkan rasa ingin tahu serta penasaran apa sebetulnya yang terkandung dalam ucapannya barusan. Tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas panjang dan menuturkan apa yang dialaminya.

****

Rupanya si pengemis sakti Cian Cong sebagai panitia penyelenggara Bulim Tayhwe memang paling sulit disuruh duduk berdiam diri. Sejak pagi dia sudah duduk di belakang meja dan tidak pernah bergerak sedikitpun. Hal ini membuat seluruh tubuhnya menjadi tidak enak seperti orang yang dipenjara saja. Melihat Tan Ki secara berturut-turut berhasil menjalankan enam kali pertandingan dengan angka lima menang satu kali seri sehingga akhirnya mendapat gelar Pendekar pedang tingkat lima, hatinya merasa terhibur juga.

Siapa tahu ketika menjelang malam, pertandingan akan dimulai lagi, bayangan anak muda itu malah tidak kelihatan.

Tanpa dapat ditahan lagi, baik Cian Cong maupun Yibun Siu San jadi kelabakan setengah mati. Begitu paniknya kedua orangtua itu sampai keringat dingin bercucuran. Akhirnya Cian Cong terpaksa meninggalkan panggung pertandingan untuk mencari Tan Ki. Setelah ubek-ubekan kurang lebih dua kentungan lamanya, akhirnya Cian Cong menemukan tulisan atau pesan yang ditinggalkan oleh Cu Cia.

Kali ini, Cian Cong benar-benar memaki-maki muridnya sendiri sebagai manusia paling goblok di dunia ini. Biarpun tokoh tua ini terkenal panjang akalnya, namun saat itu dia juga kebingungan. Sepasang alisnya sampai mengerut terus menerus. Hatinya menyimpan kasih sayang yang besar terhadap Tan Ki. Dia berharap anak muda itu akan menjadi seekor naga sakti di dunia Kangouw dan merebut kedudukan Bulim Bengcu. Oleh karena itu, diam-diam dia berpesan kepada Cu Cia dan Sam Po Hwesio agar mengintil di belakang Tan Ki dan memperhatikan gerak-geriknya. Di satu pihak untuk mengawasi, di lain pihak juga untuk melindungi. Tetapi justru pada hari pertama diadakan pertandingan silat, kedua orang itu malah kehilangan sasarannya.

Setelah berpikir bolak-balik, akhirnya dia mengambil keputusan untuk pergi ke Pek Hun Ceng seorang diri. Tokoh tua ini memiliki ilmu silat yang tinggi serta bernyali besar.
Selama malang melintang di dunia Kangouw selama tujuh puluhan tahun, belum pernah dia mendapat tandingannya. Meskipun dia sadar bahwa Oey Kang disebut sebagai Raja iblis nomor satu di dunia serta memiliki berbagai macam kepandaian, termasuk ilnri racun. Juga ilmu Mo Hun Cap Pek-cao atau Delapan Jurus Meraba Awan, yang membuat namanya terkenal di dunia persilatan. Dengan mengandalkan sepasang telapak tangannya serta tenaga dalamnya yang sudah hampir mencapai taraf kesempurnaan, dia juga tidak memandang sebelah mata terhadap lawannya itu. Cepat-cepat dia meninggalkan sebaris tulisan untuk Yibun Siu San kemudian berangkat menuju Pek Hun Ceng.

Ilmu ginkang si pengemis sakti ini tak perlu ditanyakan lagi sampai di mana ketinggiannya. Mendaki gunung, melintasi bukit bagai tanah datar saja. Gerak tubuhnya laksana seekor burung besar yang terbang pesat. Pada hari kedua dia sudah sampai di Pek To San. Dia sudah pernah datang ke Pek Hun Ceng satu kali. Jalanan di sekitar tempat ini
telah dikenalnya dengan baik. Dengan mengambil arah memutar lewat hutan kecil, dia menerobos masuk ke dalam perkampungan tersebut.

Begitu pandangan matanya beredar, dia melihat cahaya pedang berkilauan dari arah padang rumput kecil di sebelah kiri. Ada dua orang yang sedang bertarung sengit di sana. Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata kedua orang itu bukan Oey Kang dan Tan Ki. Malah si perempuan yang rela mengorbankan diri bagi Tan Ki, yakni Liang Fu Yong dan seorang laki-laki berpakaian putih yang tampangnya seperti mayat hidup dan kurusnya seperti tengkorak kering. Liu Mei Ling justru berdiri di tepian dan memandang jalannya pertarungan sambil berdiri dengan pedang siap di tangan.

Si pengemis sakti Cian Gong pernah dengar bahwa pada malam pengantinnya, Tan Ki pernah bertarung melawan empat orang Hu-hoat dari perkumpulan Pek Kut Kau asal Si Yu. Melihat jalannya pertarungan ini, dia menjadi terperanjat. Diam-diam dia berpikir di dalam hati: ‘Tokoh-tokoh sesat dari Si Yu mengapa bisa tiba-tiba muncul di tempat ini?’

Selagi pikirannya masih tergerak, tiba-tiba dia mengeluarkan suara bentakan, tangannya terangkat ke atas dan timbullah serangkum angin kencang dan dengan keras dia memisahkan kedua orang yang sedang bertarung dengan sengit itu.

Tampak keringat sudah membasahi seluruh tubuh Liang Fu Yong. Rupanya pertarungan ini sudah menguras tenaganya habis-habisan. Sedangkan si mayat hidup berpakaian putih segera mencelat ke belakang. Sepasang matanya yang menyeramkan menatap Cian Cong lekat-lekat, mulutnya tidak mengucapkan sepatah katapun. Entah apa yang terkandung dalam hatinya.

Cian Cong tersenyum lembut.

“Kalian dua bocah perempuan ini, baik-baik di Tok Liong Hong kok tiba-tiba bisa muncul di perkampungan setan ini?”

Liu Mei Ling mengedip-ngedipkan matanya yang besar. Bibirnya tersenyum simpul. “Abang Ki juga datang ke mari, tentu saja kami segera menyusul.”
. Mendengar ucapannya yang tidak berujung pangkal, si pengemis sakti Cian Cong jadi kebingungan. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya jadi berkerut-kerut. Melihat keadaan ini, Liang Fu Yong segera tampil ke depan menjelaskan…

“Tadinya kami ingin mencari Tan Ki merundingkan suatu hal, tanpa sengaja menemukan pesan yang ditinggalkan murid Locianpwe…”

Sepasang mata Cian Cong langsung mendelik, dia berkata dengan nada dingin, “Lalu kalian takut Tan Ki akan menemui kesulitan sehingga cepat-cepat menyusul ke mari bukan?” orangtua ini selamanya paling suka bergaul dengan orang muda, candanya selalu terdengar dan hampir tidak pernah benar-benar marah. Tetapi nada ucapannya kali ini begitu datar dan dingin sehingga terasa seperti menyalahkan kedua gadis itu. Hati Liang Fu Yong dan Mei Ling jadi ciut mendengarnya.

Tiba-tiba terdengar Cian Cong menarik nafas panjang dan wajahnya pulih kembali seperti biasa.
“Aih, sebetulnya dalam hal ini kalian juga tidak dapat disalahkan. Yang satu mencemaskan suaminya, yang satu lagi mengkhawatirkan kekasih hatinya. Sekarang kalian sudah datang ke perkampungan setan ini, si pengemis tua terpaksa berusaha sekuat kemampuan untuk mengajak kalian keluar dari tempat ini!”

Kata-katanya mengandung makna yang dalam. Hati Mei Ling yang polos masih tidak merasakan apa-apa. Liang Fu Yong yang mendengarnya justru menjadi merah padam wajahnya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Melihat sikapnya yang tersipu-sipu seperti gadis belasan tahun, si pengemis sakti Cian Cong seperti teringat akan sesuatu hal. Dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak.

“Si hidung kerbau Tian Bu Cu tempo hari menyuruh kau menyampaikan sepucuk surat, si pengemis sakti sudah membacanya. Melihat sikapmu akhir-akhir ini yang terus berusaha mengubah diri, biar masa lampau kau terkenal jahat dan dikatakan segala macam yang buruk, si pengemis sakti tetap akan membantumu sekuat tenaga. Tetapi jangan sampai telinga tua ini mendengar lagi kisah yang tidak menyenangkan tentang dirimu. Perlu kau ketahui bahwa si pengemis tua paling menentang segala macam kejahatan. Sepasang telapak besi ini tidak pernah membiarkan seorang penjahatpun yang berhasil meloloskan diri…”

Belum lagi ucapannya selesai, terdengar suara Krok! Yang panjang dan mengerikan seperti raungan setan. Manusia berpakaian putih itu tiba-tiba menghentakkan sepasang kakinya dan mencelat ke udara sejauh dua depa, sepasang tangannya tegak lurus ke depan dan dengan membawa serangkum angin” yang dingin dia menerjang ke arah pengemis sakti Cian Cong.

Sepasang alis Cian Cong langsung terjungkit ke atas. Mulutnya memperdengarkan suara tertawa yang dingin.

“Lagakmu bisa benar, sepasang tangan pakai direntangkan ke depan dan jalanpun meloncat-loncat seperti mayat beneran. Tapi sayang si pengemis tua selamanya tidak percaya setan atau hantu gentayangan!” sembari berbicara, lengannya bergerak dan sebuah pukulan yang mengandung kekuatan dahsyat langsung dihantamkan ke depan.

Manusia berpakaian putih itu melihat serangan Cian Cong demikian hebat dan mengandung tenaga dalam yang tidak terkirakan, dirinya sadar bahwa tenaganya sendiri tidak akan sanggup menyambut serangan tersebut, tiba-tiba dia mengeluarkan suara pekikan yang aneh, di atas udara tubuhnya berjungkir balik kemudian menghindar ke samping. Dengan gerakan yang ringan, dia sudah berdiri kembali di tempatnya semula. Namun tindakannya itu hanya sekejap mata, mendadak tubuhnya mencelat lagi ke udara dan kembali menerjang ke arah Cian Cong.

Si pengemis sakti Cian Cong tertawa terbahak-bahak. Tangannya terulur dan segulung angin kencang langsung menerpa ke depan. Si manusia berpakaian putih langsung terdesak mundur ke belakang.

Manusia aneh berpakaian putih itu merupakan orang yang wataknya keras kepala.
Melihat terjangannya dua kali tidak membawa hasil, dia menjadi marah sekali. Mulutnya terus-terusan mengeluarkan suara pekikan yang mendirikan bulu roma dan terjangannya
juga semakin kalap. Dengan demikian, serangan yang dilancarkan oleh si pengemis sakti Cian Cong semakin lama juga semakin gencar.

Kedua belah pihak terus menerjang dan menyerang. Sampai kurang lebih sepeminum teh, mendadak terdengar suara siulan yang panjang, nadanya lebih mirip lolongan srigala di malam hari. Begitu menusuk telinga dan tidak enak didengar. Diam-diam hati si pengemis sakti Cian Cong jadi tergetar. Mendadak dia mengeluarkan suara bentakan nyaring dan melancarkan dua buah serangan yang hebat ke arah tubuh manusia berpakaian putih yang sedang menerjang datang ke arahnya.

Serangannya kali ini, secara berturut-turut dilancarkan sebanyak dua kali. Jarak waktunya hanya terpaut sekian detik. Sebelumnya si pengemis sakti sudah menghimpun hawa murninya kemudian menyalurkan tenaga dalam ke Bagian sepasang lengan. Begitu dilancarkan, serangannya bagai ombak yang bergulung-gulung kemudian berkumpul menjadi satu lalu melanda dahsyat ke depan.

Dalam keadaan panik, tampaknya si manusia berpakaian putih tidak menyangka pihak lawan sudah mengerahkan tenaga dalam dan secara mendadak melancarkan dua buah serangan berturut-turut. Ilmu lwekang yang mengandung daya kekerasan ini, apabila diserang oleh pihak lawan, bagaimanapun harus bisa dihindarkan. Kalau tidak, bisa muntah darah dan mati seketika. Si manusia berpakaian putih juga bukan tokoh yang tidak tahu bahaya. Dengan rasa terkejut, dia menggerakkan sepasang lengannya untuk menjaga keseimbangan tubuh sambil menarik nafas dalam-dalam. Dengan berusaha segenap kemampuan dia menarik kembali tubuhnya yang sedang meluncur ke depan dan bergerak mundur sejauh dua depaan.

Cian Cong tertawa dingin, Hawa murninya dikerahkan dan tenaga dalamnya ditambah, serangannya yang sudah hebat bukan main sekarang malah jadi berlipat ganda. Tubuh si manusia berpakaian putih sedang melayang di udara, meskipun cara menghindarkan dirinya sudah termasuk cepat tetapi serangan Cian Cong lebih cepat lagi mengejar gerakan tubuhnya. Tahu-tahu dia merasa Bagian punggungnya terhantam oleh tenaga yang kuat, tubuhnya langsung bergetar. Setelah berjungkir balik di udara sebanyak dua kali berturut-turut, hawa murninya tidak dapat dihimpun lagi. Otomatis tubuhnya melorot turun kemudian menghempas keras di atas tanah dengan menimbulkan suara berdebum yang memekakkan telinga.

Boleh dibilang tepat pada saat si manusia berpakaian putih terhempas di atas tanah dalam keadaan terluka parah, terdengar suara angin berdesir serta kibaran pakaian. Di atas padang rumput itu telah bertambah empat orang lainnya. Yang pertama-tama adalah seorang laki-laki berjubah hitam longgar, matanya sipit mulutnya tebal serta lebar. Tinggi badannya kurang lebih lima kaki. Sehingga kelihatan gemuk dan pendek dan tidak enak dilihat. Di belakangnya mengikuti dua manusia berpakaian hitam dan seorang manusia berpakaian putih yang kemungkinan rekan dari manusia berpakaian putih yang tergeletak dalam keadaan terluka parah. Tetapi kalau dilihat dari sikap mereka, tampaknya si manusia berjubah longgar itulah yang menjadi pimpinan rombongan itu.

Si pengemis sakti Cian Cong melihat gerakan tubuh si manusia berjubah hitam seperti terbang. Sikapnya pun angkuh serta congkak. Diam-diam hatinya menjadi tercekat. Cepat- cepat dia menarik nafas panjang dan segera mengerahkan tenaga dalamnya. Dari luar penampilannya tetap biasa-biasa saja malah menunjukkan tertawa yang santai.
“Apakah yang datang ini Kaucu dari Pek Kut Kau yang menguasai wilayah Si Yu?” Manusia berjubah hitam langsung mende-ngus dingin satu kali.

“Kalau ditilik dari tampangmu, tampaknya kau ini si kepala pengemis Cian Cortg?”
Begitu bertemu, keduanya sudah tidak ada, yang mau mengalah. Ucapan mereka seperti

saling berdebat. Melihat keadaan ini, hati Liang Fu Yong dan Mei Ling langsung merasa tidak tenang. Dua pasang mata yang indah sebentar-sebentar melihat ke arah Kaucu Pek Kut Kau dan sejenak kemudian beralih lagi kepada si pengemis sakti Cian Cong. Suasana sedemikian mencekam sehingga menimbulkan rasa tegang yang membuat sulit bernafas.

Terdengar si pengemis sakti Cian Cong tertawa terbahak-bahak.

“Semangka buntet tidak pergi ke tempat lain malah mengunjungi perkampungan setan ini, apakah ingin menggaet si iblis tua agar mau bekerja sama dengan pihak kalian?”

Kaucu Pek Kut Kau menyahut dengan nada dingin, “Perkiraanmu hebat sekali, sedikitpun tidak salah!”

Cian Cong tertawa dingin. Mimik wajahnya langsung berubah menjadi serius.

“Kalian golongan sesat dari Si Yu ini menganggap diri sendiri memiliki beberapa jurus ilmu yang lumayan langsung ingin naik ke atas langit. Segala kejahatan bersedia dilakukan, tidak perduli akibat tindakan kalian ini berapa banyak orang yang akan menjadi korban. Tidak perduli terjadi pertumpahan darah di mana-mana. Malah menggabungkan diri dengan pihak Lam Hay yang kebusukannya tidak kalah dengan kalian. Segala bencana yang akan terjadi semuanya berkat keserakahan hati kalian sendiri…”

Kaucu Pek Kut Kau tidak memberi kesempatan kepadanya untuk melanjutkan lebih jauh, dia segera menukas ucapan orangtua itu.

“Bukan roda nasib di bumi saja yang berputar, tetapi roda takdir dari atas langit juga sama saja. Wilayah Tionggoan demikian luas, memang merupakan daerah yang paling cocok bagi kami pihak Kaucu Pek Kut Kau maupun Lam Hay untuk mengembangkan sayapnya. Setiap manusia mencari kemajuan, bagaimanapun caranya. Di dalam menunjukkan kekuasaan, tidak heran kalau ada yang harus berkorban. Kau kira dengan mengandalkan beberapa orang jago dari Tionggoan yang kau kumpulkan akan berhasil menghalangi niat kami dan pihak Lam Hay. Jangan bermimpi! Siapa yang tidak tahu bahwa di dalam daerah Tionggoan sendiri setiap saat timbul pertikaian untuk mencari nama dan saling berusaha untuk menguasai. Kau juga sudah tua, tidak perlu melelahkan diri sendiri dengan urusan tetek bengek seperti ini. Bisa-bisa akibatnya malah kehilangan selembar n.yawa!”

Mendengar kata-katanya, Cian Cong kesal sekali sehingga rambutnya yang putih berjingkrakan ke atas. Matanya mendelik lebar-lebar.

“Semangka buntet tidak perlu menjual omongan di sini. Hari ini di dalam perkampungan setan kita boleh bertarung sepuas hati. Lihat siapa diantara kita yang lebih unggul. Kalau bukan si pengemis sakti yang terkubur di dalam perkampungan ini maka kaulah yang akan mati terkapar dengan seluruh tubuh bermandikan darah!”
Selesai berkata, dia mengeluarkan pedang bambu dari selipan ikat pinggangnya. Tetapi dia tidak langsung melancarkan serangan. Malah menyurut mundur setengah langkah.
Sikapnya keren sekali, karena dia sendiri sudah melihat bahwa gerakan kaki Kaucu Pek Kut Kau itu demikian ringan. Di kedua keningnya terlihat sedikit urat bertonjolan. Hal ini membuktikan bahwa tenaga dalam orang itu sudah nencapai taraf yang tinggi sekali. Oleh karena itu, dia tidak berani memandang ringan lawannya sama sekali. Dengan sikap serius, dia berdiri menggenggam pedang bambunya dan mengeluarkan gaya tokoh kelas tinggi yang siap menghadapi tantangan lawan.

Hati Kaucu Pek Kut Kau juga tergetar melihat sikap Cian Cong, wajahnya langsung berubah kelam, sikap angkuhnya agak berkurang namun dia tetap berdiri dengan sepasang tangan kosong.

Untuk sekian lamanya kedua orang itu berdiri berhadap-hadapan. Pek Kut Kaucu mulai kehabisan rasa sabarnya, kakinya maju satu langkah ke Bagian pusat. Dengan jurus Menerobos Awan Memetik Rembulan, dia melancarkan sebuah serangan yang diiringi gelombang angin yang kencang. Sepasang kaki Cian Cong langsung menutul di atas tanah, tubuhnya mencelat ke udara. Kaucu Pek Kut Kau tidak memberi kesempatan baginya untuk membalas serangan. Jurus kesatu belum selesai dijalankan, dia sudah melancarkan jurus kedua. Angin yang timbul dari totokan jari tangannya meluncur ke arah pundak si pengemis sakti Cian Cong. Terdengar Cian Cong mengeluarkan suara tawa terbahak-bahak. Telapak tangan kirinya melancarkan sebuah pukulan dan pedang bambu di tangan kanannya digetarkan. Tam-pak bunga-bunga berjatuhan dalam bentuk bayangan dari gerakan pedang bambunya. Dengan gencar meluncur ke arah dada Kaucu Pek Kut Kau tersebut.

Melihat serangan pukulannya yang dahsyat, Kaucu Pek Kut Kau itu tidak berani memandang ringan. Bayangan yang timbul dari gerakan pedang bambunya demikian hebat. Meskipun kedua serangan itu dilancarkan, pada saat yang berlainan, tetapi begitu cepatnya sehingga seperti terjadi dalam waktu yang bersamaan. Hatinya langsung tergetar melihat kenyataan itu. Diam-diam dia berpikir: ‘Tidak heran si pengemis tua ini sombongnya setengah mati, ternyata dia benar-benar memiliki ilmu yang hebat. Baik tenaga dalam maupun kecepatan gerakannya, kalau bukan orang sudah berlatih keras selama puluhan tahun. Tentu tidak mungkin melancarkan dua buah serangan dalam waktu yang hampir bersamaan.’

Tadinya Kaucu Pek Kut Kau lah yang melakukan serangan. Menghadapi serangan serta kibasan pedangnya yang begitu dahsyat, mau tidak mau dia menyelamatkan dirinya terlebih dahulu. Lengan kanannya ditarik secara mendadak dan dengan kekerasan dia menyimpan kembali serangan yang telah dilancarkannya. Pergelangan tangannya memutar. Dengan jurus Burung Kecil Mengais Pasir, kembali dia menangkis serangan pedang Cian Cong. Sementara itu, tenaga dalam yang terhimpun dalam telapak kirinya meluncur keluar menyerang si pengemis sakti dengan gencar.

Sulit sekali melukiskan bagaimana yang terjadi sebenarnya dalam pertarungan kedua orang itu. Selain gerakannya yang terlalu cepat, setiap jurusnya mengandung perubahan yang tidak terkirakan hebatnya.

Tiba-tiba terdengar suara benturan tenaga dalam yang keras. Blam! Dua rangkum kekuatan yang dahsyat mengakibatkan pasir dan batu-batu kerikil beterbangan di udara. Cian Cong mendapat kesempatan lebih dulu memukul lawan, dengan demikian dia masih dapat mempertahankan diri dan menang segaris. Tubuhnya hanya terhuyung-huyung
beberapa saat, sedangkan Kaucu Pek Kut Kau itu tidak berhasil meraih peluang sehingga tubuhnya terdesak dan tergetar mundur sejauh tiga langkah.

Mendapat kesempatan menjaga keseimbangan tubuhnya terlebih dahulu, dia langsung melancarkan serangan kembali. Pedang bambunya berkelebat dengan gencar sehingga menimbulkan angin yang menderu-deru. Dalam waktu yang singkat dia telah menyerang sebanyak empat belas jurus secara berturut-turut.

Apabila dua tokoh kelas tinggi bertarung, tidak boleh terjadi kesalahan sedikit juga. Secara gencar Cian Cong melakukan penyerangan, semuanya mengandung jurus-jurus yang keji. Dia seakan tidak memberi kesempatan bagi Kaucu Pek Kut Kau untuk membalas menyerang. Saat ini manusia berjubah longgar itu hanya mendapat kesempatan menangkis dan lambat laun keadaannya bisa tidak menguntungkan dirinya sendiri.

Tampak bayangan pedang bambu bergulung-gulung bagai badai juga cepat bagai kilat. Sasarannya selalu Bagian yang mematikan. Begitu terdesaknya Kaucu Pek Kut Kau sampai terpaksa berputaran ke sana ke mari. Semakin lama semakin sulit dia menghadapi si pengemis sakti yang benar-benar sakti ini. Tetapi biar bagaimana, manusia berjubah longgar ini adalah ketua sebuah perkumpulan yang mempunyai wilayah kekuasaannya sendiri. Walaupun mula-mula dia agak terdesak, tetapi berkat ilmunya yang tinggi dan pengalaman bertempurnya yang sudah banyak, lambat laun dia dapat menguasai diri dan mengikuti keadaan. Setelah dua puluh jurus lebih berlalu, kondisinya sudah kembali seperti semula dan mulai dapat mengimbangi serangan yang dilakukan si pengemis sakti.

Gerakan Cian Cong semakin lama semakin cepat, serangannya semaian lama juga semakin keji. Kelebatan tubuhnya bagai seekor naga perkasa yang mengibaskan ekor di langit. Tetapi gaya si Kaucu Pek Kut Kau juga tidak kalah indahnya. Perubahan jurus- jurusnya selalu mengejutkan dan tidak terduga-duga.

Cian Cong melihat dia dapat menahan bahkan membalas serangannya dengan kecepatan yang hebat. Ternyata orang ini benar-benar salah satu tokoh tertangguh yang pernah dihadapinya seumur hidup. Oleh karena itu, dia segera mengeluarkan suara siulan panjang. Tubuhnya berkelebat dan gerakannya pun berubah. Dia telah mengerahkan ilmu Delapan jurus Pedang Pengejar Sukma yang membuat namanya menjulang tinggi di dunia persilatan. Jangan dilihat kalau ilmu ini hanya terdiri dari delapan jurus, tetapi justru Cian Cong menciptakannya dengan memeras otak selama sembilan tahun. Setiap kekurangannya diperbaiki perlahan-lahan sehingga akhirnya menjadi satu ilmu yang sempurna. Di dalamnya terkandung perubahan-perubahan yang dahsyat. Anehnya justru delapan jurus ilmu pedang itu seperti berantai sehingga dapat dimainkan terus tanpa berhenti. Dari jurus pertama sampai jurus kedelapan, lalu kembali lagi ke jurus pertama tanpa disadari oleh lawannya.

Cian Cong telah berkecimpung di dunia persilatan selama berpuluh-puluh tahun. Dia jarang mengerahkan Delapan Jurus Pedang Pengejar Sukma, tetapi keadaan sekarang tidak dapat disamakan. Musuh tangguh sudah di depan mata. Sedangkan sampai saat ini Oey Kang masih belum kelihatan, mati hidup Tan Ki masih menjadi tanda tanya baginya. Oleh karena itu, sejak semula dia sudah bertekad untuk melakukan pertarungan dengan cara kilat.

Setelah suara siulannya sirap, Delapan Jurus Pedang Pengejar Sukma pun segera dikerahkan. Pedang bambunya menimbulkan angin dahsyat bagai topan yang melanda.
Tampak persis seperti badai di tengah lautan yang menghempas-hempas tinggi. Pedangnya seperti berubah menjadi ribuan batang yang menusuk ke depan.

Kaucu Pek Kut Kau melihat gerakan tubuh si pengemis sakti ini tiba-tiba berubah.
Pedang bambunya menimbulkan bayangan berkotak-kotak yang tidak terhitung jumlahnya. Diam-diam hatinya menjadi tergetar. Dia sendiri termasuk tokoh paling hebat di wilayah Si Yu, ilmu yang dipelajarinya khusus menggunakah kecepatan mengincar yang lambat. Begitu gerakan tubuh Cian Cong berubah, tiba-tiba saja di hadapan matanya bagai muncul berpuluh-puluh Cian Cong yang lain dan juga pedangnya seperti berubah jadi tidak terhitung banyaknya. Baru saja dia merasa keadaan kurang menguntungkan dirinya, tahu- tahu orangnya sudah terkurung oleh bayangan pedang tersebut.

Dua manusia berpakaian hitam dan seorang lagi manusia berpakaian putih melihat keadaan Kaucu mereka terjerumus dalam bahaya, kalau dibiarkan pasti akan celaka. Mereka tidak memperdulikan lagi peraturan dunia Bulim. Setelah mengeluarkan suara pekikan yang aneh, ketiga orang itu langsung menerjang ke depan. Masing-masing meluncurkan sebuah serangan yang sama dahsyatnya, sehingga timbul angin yang bergulung-gulung.

Manusia berpakaian putih itu pernah kehilangan sebelah lengannya di tangan Tan Ki.

Tetapi gabungan ketiga orang itu benar-benar tidak dapat dianggap enteng. Cian Cong merasa ada serangkum angin kencang yang menerpa dari samping tubuhnya. Dia segera tahu bahwa dirinya dibokong oleh anak buah Kaucu Pek Kut Kau tersebut.

Cepat-cepat dia menarik kembali serangannya lalu mencelat mundur sekitar satu depa.
Lengan kanannya bergerak dan dikirimkannya sebuah pukulan ke samping. Blam! Terdengar suara benturan yang keras. Hawa panas beterbangan menyelimuti bumi dan pasir pun berhamburan ke mana-mana.

Reaksi si pengemis sakti Cian Cong cepat sekali, tetapi dia merasa tubuhnya bagai diterpa oleh serangkum angin yang dingin. Diam-diam hatinya menjadi tercekat. Untung saja tenaga dalamnya tinggi sekali, dan hanya sapuan angin yang melanda Bagian depan tubuhnya. Cepat-cepat dia mengatur pernafasannya dan segera dia merasa pulih kembali. Tetapi untuk sesaat sempat juga dia tertegun. Meskipun wilayah Si Yu terkenal dengan golongan sesatnya, tetapi ilmu silat yang mereka kuasai benar-benar tidak dapat dipandang ringan.

Begitu pikirannya tergerak, mulutnya langsung mengeluarkan suara tertawa terbahak- bahak.

“Bagus sekali! Dasar sesat selamanya memang sesat. Kalian ingin main keroyok? Silahkan turun tangan semuanya, si pengemis tua paling benci orang yang suka main bokong dari belakang!”

Pedang bambunya digetarkan, tampak beribu-ribu bayangan memenuhi seluruh tubuhnya. Dengan kesal dia meluncurkan sebuah serangan yang dahsyat ke depan!

Kaucu Pek Kut Kau menggeser langkahnya ke kiri, tubuhnya memutar setengah lingkaran, sambil menghindarkan diri dari serangan Cian Cong, mulutnya membentak.
“Menggelinding mundur semuanya! Siapa yang suruh kalian ikut campur. Cian Locianpwe merupakan tokoh sakti di daerah Tiong-goan, hampir belum pernah dia menemukan tandingan. Dengan mengandalkan beberapa jurus kasar yang aku ajarkan kepada kalian, lalu kalian kira bisa memberikan bantuan yang berarti? Apakah kalian benar-benar ingin menjatuhkan pamorku sebagai ketua sebuah partai?”

Suara Kaucu Pek Kut Kau itu tajam menusuk. Ketiga orang yang mendengarnya sampai merasa ngilu ulu hati mereka, tetapi tidak ada seorangpun yang berani membantah.
Serentak mereka mengundurkan diri ke tempat semula.

Cian Cong tertawa terbahak-bahak.

“Saudara memang tidak malu sebagai seorang ketua sebuah partai besar. Berani bersikap terus terang dan sportif. Hari ini si pengemis sakti melupakan nyawa sendiri menemani seorang kuncu bertarung mati-matian.” tangannya kembali bergerak dan menimbulkan serangkum angin yang dahsyat.

Kaucu Pek Kut Kau juga menghimpun hawa murni dalam tubuhnya. Secara berturut- turut dia melancarkan dua buah pukulan yang mengandung hawa dingin. Dalam sesaat keduanya sudah mengerahkan hawa murni masing-masing. Terdengar suara angin yang menderu-deru. Begitu hebatnya pertempuran itu sehingga dedaunan di atas pohon bergetaran dan seBagian besar rontok jatuh di atas tanah.

Kaucu Pek Kut Kau langsung merasa aliran darahnya mengedar dengan cepat, matanya seperti berkunang-kunang. Sedangkan si pengemis sakti Cian Cong juga sampai tergetar mundur sejauh empat lima langkah.

Watak si pengemis sakti Cian Cong selamanya terkenal tidak mau mengalah. Mana sudi dia mengunjukkan kelemahan dirinya. Setelah keseimbangannya pulih kembali, tubuhnya langsung mencelat ke udara. Tangan kiri mengirimkan serangan dengan gencar, tangan kanannya yang menggenggam pedang bambu mengibas ke sana ke mari bagai orang kalap. Angin yang timbul dari kelebatan pedangnya panas dan tajam menusuk.

Kaucu Pek Kut Kau mendengus satu kali, sepasang tangannya direntangkan ke depan dan dengan keras dia menyambut serangan lawan.

Kali ini masih juga keras lawan keras. Tubuh Kaucu Pek Kut Kau tergetar oleh dorongan tenaga Cian Cong yang hebat sehingga melayang sejauh satu depa lebih. Di udara tubuhnya berjungkir balik dua kali dan kemudian terhempas jatuh di atas tanah.
Sedangkan Cian Cong juga termakan pukulan Kaucu Pek Kut Kau tersebut sehingga tergetar mundur sejauh tujuh delapan langkah, akhirnya dia jatuh terduduk di’atas tanah.

Kedua orang itu bertarung dengan cara keras lawan keras. Setelah dua jurus berlalu, wajah mereka sama-sama berubah hebat. Keringat bercucuran membuat tubuh mereka basah kuyup. Padahal mereka sama-sama menyadari kalau bertarung dengan cara ini terus menerus, pasti ada satu yang mati dan lainnya terluka parah. Siapapun tidak ada yang keluar sebagai pemenang.

Baik Liu Mei Ling maupun Liang Fu Yong dan anak buah Kaucu Pek Kut Kau itu sampai termangu-mangu sekian lama menyaksikan pertarungan hebat yang sedang berlangsung. Untuk beberapa saat tidak ada seorangpun yang sanggup membuka suara.
Saat ini tampak Cian Cong menumpu sepasang tangannya di atas tanah dan tubuhnya kembali mencelat ke udara. Mulutnya malah mengeluarkan suara tertawa yang terbahak- bahak.

“Kaucu Pek Kut Kau… hari ini kalau bukan kau yang mati, maka aku yang mampus.
Kalau kau memang hebat, terima lagi satu pukulan si pengemis tua ini!”

Justru suara tertawanya masih berkumandang, tangannya sudah meluncur keluar mengirim sebuah pukulan lagi.

Setelah bertarung sekian lama dengan si pengemis sakti Cian Cong, diam-diam nyali Kaucu Pek Kut Kau itu menjadi agak ciut. Pukulannya yang selama ini membuat dirinya menjadi tokoh paling terkemuka di wilayah Si Yu ternyata tidak sanggup melukai si pengemis tua itu. Hatinya sudah enggan mengadu kekerasan lagi, seandainya Cian Cong tidak terlalu mendesak, dia juga enggan mengerahkan tenaga dalamnya menyambut pukulan itu.

Serangan yang dilancarkan si pengemis sakti Cian Cong kali ini mengandung seluruh tenaga dalam yang ada pada dirinya. Akibatnya hawa amarah dalam dada Kaucu Pek Kut Kau itu jadi meluap juga. Setelah mengeluarkan suara pekikan seperti setan di neraka, dia juga mengulurkan tangannya dan menyambut pukulan itu dengan segenap kekuatan.

Liang Fu Yong, Liu Seng serta ketiga anak buah Kaucu Pek Kut Kau itu sama-sama dapat melihat keadaan yang genting itu. Serentak mereka mengeluarkan teriakan, “Tidak boleh…!”

Ucapan tercetus, orangnyapun bergerak. Lima sosok bayangan secepat kilat menerjang ke depan, tetapi tetap saja gerakan mereka agak lambat sedikit. Sekali lagi terdengar suara ledakan yang memekakan telinga, kedua tenaga dalam kembali sudah berbenturan di udara.

Dalam gebrakan kali ini, keduanya mengerahkan hawa murni serta segenap tenaga dalam yang ada. Kaucu Pek Kut Kau mendengus berat satu kali. Matanya berkunang- kunang dan telinganya berdengung. Isi perutnya seakan hampir termuntah keluar saking hebatnya kena getaran pukulan si pengemis sakti Cian Cong. Tubuhnya terhuyung-huyung dan memaksakan dirinya jangan sampai terjatuh di atas tanah. Matanya segera dialihkan. Dia melihat Cian Cong memejamkan sepasang matanya, wajahnya pucat seperti selembar kertas dan keringat sebesar-besar kacang kedelai terus menetes di keningnya.

Pada saat itu, para anak buah Kaucu Pek Kut Kau itu sudah terlebih dahulu sampai di hadapan majikannya. Salah seorang di antaranya memperdengarkan suara tertawa dingin, tahu-tahu tangannya terulur dan tubuhnya menerjang ke arah si pengemis sakti Cian Cong.

Untuk sesaat orangtua itu sampai lupa bahwa keadaannya sudah hampir seperti lampu yang kehabisan minyak. Tenaga dalamnya hampir terkuras habis dan hawa murninya buyar terlalu banyak. Tubuhnya terluka di Bagian dalam. Melihat orang itu melancarkan sebuah serangan, dia merasa dirinya masih sanggup menyambut pukulan itu. Tetapi sayangnya sudah agak terlambat. Untung saja kesadarannya masih ada, pikirannya masih belum kacau. Setelah melancarkan sebuah pukulan, tubuhnya terdorong oleh tenaga pukulan lawan. Dia masih sempat menyurutkan sedikit tenaga yang dilancarkan dalam telapak tangannya.

Tetapi meskipun demikian, terhantam pukulan yang datangnya secara tidak terduga- duga ini, tubuh si pengemis sakti sampai terpental sejauh dua depaan. Tiba-tiba dia merasa kepalanya pening. Mulutnya membuka dan memuntahkan segumpal darah segar kemudian baru terhempas jatuh di atas tanah.

Si manusia berpakaian putih melihat ada kesempatan emas di depan mata, mana mungkin dia melepaskan begitu saja. Tubuhnya meluncur dari atas. Dengan jurus Mencari Jarum di Dalam Lautan, lima jarinya membentuk cengkeraman dan meluncur ke arah dada si pengemis sakti Cian Cong!

Dia memang sudah berniat melenyapkan tokoh sakti ini. Gerakan serangannya bagai kilat. Cian Cong yang melihat serangan dahsyat sudah di depan mata sempat panik sesaat, kemudian dia memejamkan matanya serta kembali memuntahkan segumpal darah segar. Namun muntahan darahnya kali ini lain dengan yang sebelumnya. Kali ini merupakan muncratan yang bagai senjata rahasia besar kecil meluncur ke arah wajah si manusia berpakaian putih tersebut.

Si manusia berpakaian putih tampaknya tidak menyadari bahwa Cian Cong yang dalam keadaan terluka parah dapat memuntahkan darah yang digunakan sebagai senjata untuk menghadapi dirinya. Hal ini benar-benar di luar dugaannya, apalagi jarak di antara mereka begitu dekat. Mana mungkin dia masih sempat menghindar? Cepat-cepat dia memejamkan sepasang matanya dan menjaga agar Bagian yang paling penting itu jangan sampai terluka akibat semburan darah tersebut.

Jangan dikira segumpal darah itu gumpalan darah yang biasa-biasa saja. Memang tidak dapat disamakan dengan senjata rahasia lainnya yang tajam bukan main, tetapi semburan itu dilakukan oleh Cian Cong dengan sisa tenaga dalamnya yang masih ada, kecepatannya bagai kilat. Selembar wajah si manusia berpakaian putih itu sampai terpecah-pecah kulitnya akibat semburan darah tersebut. Hampir dalam waktu yang bersamaan, terdengarlah suara jeritan yang histeris serta menyeramkan dari mulut si manusia berpakaian putih. Darahnya sendiri berbaur dengan darah yang disemburkan oleh Cian Cong sehingga terus menetes dan membasahi seluruh pakaiannya.

Dengan sisa tenaga yang tinggal sedikit, Cian Cong mengeluarkan suara bentakan dan kembali menghantamkan sebuah pukulan ke depan.

Wajah si manusia berpakaian putih terluka cukup parah, belum lagi rasa terkejutnya hilang. Kembali Cian Cong menggunakan salah satu jurus terkeji dari ilmu Delapan Jurus Pedang Pengejar Sukma untuk melakukan serangan. Tiba-tiba dia merasa matanya berkunang-kunang, dadanya sekali lagi terhantam pukulan orangtua itu. Di daerah perkampungan yang sunyi itu kembali berkumandang suara jeritan yang menyayat hati. Suara itu mirip lolongan serigala, kumandangnya bergema terus di sepanjang lembah dan menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya.

Seiring dengan suara jeritan yang menyeramkan itu, tangan si manusia berpakaian putih mengibas. Sepuluh batang jarum beracun segera melesat keluar bagai kilat.

Cian Cong sudah mulai merasa payah, urat nadinya bagai tergetar sehingga seluruh tubuhnya terasa lemah. Mana bisa lagi dia menghindarkan diri dari serangan yang tidak terduga-duga itu, tetapi dia masih sempat mengangkat sepasang lengan bajunya menutupi Bagian mata dan wajah. Dari sepuluh batang jarum beracun itu, lima batang
langsung mengenai tubuhnya dengan telak. Tiga di pundak kanan, dua lagi di pundak kiri. Di daerah yang terluka itu langsung terasa kebal. Sebagai orangtua yang sudah banyak pengalaman dan makan asam garam, dia segera tahu bahwa jarum itu mengandung racun yang cukup keji.

Diam-diam hatinya jadi tercekat. Wajahnya berubah hebat. Tetapi dalam waktu yang singkat, rasa terkejutnya sudah hilang dan tampangnya pun pulih kembali. Dia malah mendongakkan wajahnya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Satu nyawa diganti dengan satu nyawa. Si pengemis tua sama sekali tidak rugi.
Matipun tidak perlu di khawatirkan!”

Belum lagi ucapannya selesai, manusia berjubah hitam yang pendek gemuk itu sudah memperdengarkan suara tawanya yang dingin.

“Kau ingin mati begitu saja? Tidak begitu mudah. Aku akan membuat kau merasakan hukuman terberat yang ada dalam perguruan kami sehingga tulang belulang dalam tubuhmu hancur lebur tetapi nafasmu masih belum berhenti!”

Tadinya dia bersama-sama rekannya yang lain sedang memapah tubuh Kaucu Pek Kut Kau. Tetapi ketika berbicara, dia segera menyerahkan majikannya kepada rekannya, sedangkan tubuhnya sendiri mencelat ke udara lalu langsung menerjang ke arah si pengemis sakti Cian Cong.

Apa yang dituturkan di atas merupakan kejadian yang berlangsung dalam sekejap mata saja. Pada saat ini, tubuh Liang Fu Yong dan Liu Mei Ling ikut melesat keluar. Liang Fu Yong tidak banyak bicara lagi, pedangnya langsung bergerak dengan jurus Sambil Tersenyum Menunjuk ke arah Selatan. Tampak cahaya pelangi berpijar dari pedangnya, gerakan secepat kilat meluncur ke arah tubuh manusia berpakaian hitam yang sedang menerjang datang.

Manusia berpakaian hitam itu mengeluarkan suara dengusan dingin satu kali. Tubuhnya bergerak memutar kurang lebih lima cun. Pedang yang membawa hawa dingin melintas di depan dadanya. Jaraknya dekat sekali, tetapi orang itu sama sekali tidak menghentikan gerakannya. Dia tetap menerjang ke arah Cian Cong.

Liu Mei Ling melihat gerakan tubuh lawan gesit dan aneh, namun dengan mudah ia berhasil menghindarkan diri dari serangan Liang Cici. Diam-diam hatinya tergetar. Setelah membentak nyaring, pergelangan tangannya menggetarkan tenaga. Dengan jurus Menghindari Gunung Jatuh ke Laut, dia melancarkan sebuah serangan ke depan.

Sejak kecil dia memang sudah belajar ilmu silat. Meskipun tampaknya serangan itu hanya sebuah jurus yang sederhana, tetapi dalam keadaan panik karena ingin menolong orang maka kehebatannya tidak dapat dianggap enteng. Angin yang timbul dari kelebatan pedangnya menimbulkan suara suitan panjang.

Manusia berpakaian hitam itu mendengus satu kali. Dia menghimpun hawa murninya dan sepasang lengannya langsung menyapu ke depan. Serangkum tenaga yang dahsyat berbenturan dengan badan pedang, begitu keras getarannya sehingga lengan Mei Ling terasa kesemutan. Hampir saja pedang pusakanya terlepas dari genggaman dan melayang di udara, otomatis serangan yang dilancarkannya melemah. Di saat yang sama lawan
mengangkat tangannya dan meneruskan serangan ke dada Cian Cong. Cepatnya bagai sambaran kilat di musim hujan.

Setelah tiga kali berturut-turut mengadu tenaga dalam dengan Kaucu Pek Kut Kau, Cian Cong sekali lagi dihantam oleh seorang manusia berpakaian hitam lainnya. Isi perutnya sudah tergetar dan memuntahkan darah segar. Hanya mengandalkan kekuatan tenaga dalam yang telah dilatihnya lebih dari tujuh puluh tahun, dia masih sanggup mempertahankan diri. Dengan sisa tenaga terakhir dia berhasil membunuh manusia berpakaian putih. Hawa murni dalam tubuh Cian Cong benar-benar terkuras habis.
Meskipun orang lain tidak turun tangan, tokoh sakti yang namanya sudah menggetarkan seluruh rimba hijau dan sungai telaga ini juga tidak mungkin bisa hidup lebih dari dua puluh empat kentungan lagi. Apalagi ketika dia melancarkan serangan kepada manusia berpakaian putih, sepasang pundaknya juga terkena sambilan jarum beracun sebanyak lima batang. Bila saat ini ia dihantam lagi oleh manusia berpakaian hitam, sudah pasti Cian Cong tidak dapat lagi menghindarkan diri apalagi menangkis. Oleh karena itu, dia segera menarik nafas panjang dan menutup matanya rapat-rapat menunggu datangnya malaikat elmaut.

Tiba-tiba sesosok bayangan membawa desiran angin yang kencang melayang turun dari udara. Belum lagi serangan si manusia berpakaian hitam mengenai tubuh Cian Cong, orang itu sudah sampai lebih dahulu. Dia menghadang di depan Cian Cong, lengan pakaian sebelah kanannya yang longgar langsung mengibas ke depan, serangkum angin yang kencang segera menghempas keluar.

Manusia aneh berpakaian hitam itu mengulurkan tangannya menyambut. Siapa yang lebih kuat langsung terlihat saat itu juga. Orang yang baru melayang turun itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya sedikit-pun. Sementara itu si manusia berpakaian hitam segera merasa kedua telinganya berde-y ngung, seluruh tubuhnya terpental bahkan melayang di udara. Setelah berputar dua kali, baru ia terhempas jatuh di atas tanah.

Orang yang baru muncul itu rupanya seorang tojin. Dalam satu gebrakan saja dia sudah berhasil mementalkan seorang tokoh tingkat tinggi dari wilayah Si Yu. Bahkan sekaligus menyelamatkan selembar nyawa si pengemis sakti Cian Cong. Liang Fu Yong dan Liu Mei Ling tidak banyak bicara, mereka segera maju ke depan untuk memapah tubuh si pengemis sakti itu.

Manusia berpakaian hitam itu menenangkan perasaannya sesaat. Setelah itu baru dia mendongakkan kepalanya melihat. Tampak orang itu sudah tua sekali, rambutnya sudah berwarna putih, jenggotnya yang panjang berwarna keperakan. Wajahnya bersih dan enak dilihat. Penampilannya anggun serta berwibawa, sorot matanya tajam namun lembut. Hal ini membuat orang yang melihatnya menaruh rasa hormat yang tinggi. Tanpa dapat ditahan lagi si manusia berpakaian hitam jadi terma-ngu-mangu sekian lama. Beberapa waktu kemudian baru dia membentak dengan nada marah…

“Tenaga dalam totiang ini hebat sekali! Hal ini membuktikan bahwa totiang pasti bukan tokoh sembarangan. Mohon tanya di mana kuil totiang dan apa nama gelarannya, mungkin suatu saat aku yang rendah bisa menyempatkan diri berkunjung untuk meminta pelajaran barang beberapa jurus lagi!”

Tosu itu tersenyum lembut.
“Seumur hidup pinto hanya tahu menenangkan diri memperdalam ilmu agama, memahami sabda Buddha yang mengandung arti dalam. Selamanya tidak pernah bertikai dengan siapapun. Tetapi kalau kau tetap ingin mengunjungi Pinto, tentu saja kesempatan seperti itu pasti ada. Meskipun dunia ini luas tetapi semuanya tetap merupakan tetangga, mana mungkin tidak bisa bertemu. Di puncak Yang Sim An, pinto setiap saat setiap waktu dengan senang hati menerima kedatangan Si-cu.”

Ketika orangtua ini sedang berbicara, Liu Mei Ling dan Liang Fu Yong sudah menjatuhkan diri mereka berlutut di hadapannya.

“Tecu, Liu Mei Ling dan Liang Fu Yong menanyakan kesehatan Locianpwe!”

Tosu itu mengibaskan lengan bajunya, serangkum tenaga yang dahsyat langsung menahan diri kedua gadis itu sehingga mereka tidak dapat menekuk lututnya lebih dalam. Orangtua itu mengembangkan seulas senyuman yang lembut dan bibirnya berkata, “Di sini bukan tempat yang sesuai untuk bercakap-cakap, kalian juga tidak usah banyak peradatan.”

Mei Ling dan Liang Fu Yong tahu kalau Locianpwe yang hatinya bijaksana dan mulia ini tidak suka segala macam peradatan, terpaksa mereka menurut dan berdiri. Mereka tetap memapah tubuh si pengemis sakti Cian Cong dari kiri dan kanan.

Tosu tua memperhatikan wajah si pengemis sakti Cian Cong dengan sinar matanya yang tajam bagai kilat. Matanya lalu beralih kepada Kaucu Pek Kut Kau yang sedang memejamkan matanya mengatur pernafasan. Perlahan-lahan dia menganggukkan kepalanya.

“Orang ini sudah terluka parah, Pinto sebagai orang yang beragama selalu mementingkan kedamaian hati dan jiwa yang bersih. Harap saudara melihat muka Pinto dan melepaskan selembar nyawanya, tentunya saudara tidak keberatan, bukan?”

Manusia aneh berpakaian hitam itu mengerlingkan matanya satu kali kemudian menundukkan kepala merenung beberapa saat.

“Apa yang totiang katakan seharusnya aku turuti, tetapi si pengemis tua she Cian ini sudah melukai majikanku. Sebelumnya dia juga sudah membunuh dua orang rekanku. Totiang lihat sendiri, yang mati ada yang terlukapun ada. Meskipun Boanpwe bersedia melepaskan selembar nyawanya, tetapi bagaimana Boanpwe harus bertanggung jawab kepada majikan serta kedua kawanku itu? Untuk hal ini Boanpwe terpaksa minta maaf kepada totiang. Cayhe sendiri menyadari bahwa ilmu silat yang Cayhe miliki masih terlalu rendah, otomatis bukan tandingan Locianpwe yang sakti, tetapi di dalam wilayah Si Yu kami terdapat banyak pendekar-pendekar yang berilmu tinggi dan pemberani…”