Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 38

 
Bagian 38

Hati Tan Ki saat ini bagai digelayuti berbagai masalah yang rumit. Dia tidak melirik sedikitpun. Perlahan-lahan dia berjalan melalui hadapan mereka. Tetapi setelah melangkah kurang lebih belasan tindak, tanpa sadar dia menolehkan kepalanya melihat sekilas ke arah kedua gadis itu. Tampak wajah Lok Ing mengembangkan senyuman yang dingin dan sinar matanya memancarkan perasaan rindu. Sedangkan Kiau Hun malah membelalakkan matanya lebar-lebar dan di dalamnya terkandung sinar kemarahan.

Diam-diam hati Tan Ki merasa geli, dia menggelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang. “Hati kaum perempuan memang paling sulit di duga…”

Karena kedua perempuan itu memang mempunyai watak dan perasaan yang berbeda terhadap dirinya. Yang seorang mengira dirinya keracunan hebat dan sebentar lagi akan mati, malah dia sudah mengambil keputusan bahwa setelah dirinya mati, akan mencari sua-tu tempat yang tenang dan membangun sebuah makam raksasa lalu menutup dirinya dari dalam dan menemaninya seumur hidup…

tetapi dia tidak tahu bahwa kedua jenis racun di dalam tubuh Tan Ki saling menyerang di mana akhirnya daya kerja keduanya menjadi musnah. Bahkan dia telah mencekoki anak muda itu dengan obat penyembuh luka dalam, dalam jumlah yang banyak dengan maksud agar dia dapat mempertahankan kehidupannya sementara. Siapa sangka obat-obatan itu justru menambah kekuatan tenaga dalamnya setelah racunnya hilang sehingga dia dapat memenangkan pertandingan dengan gemilang di atas panggung.

Meskipun Kiau Hun juga sangat mencintai Tan Ki, tetapi dia malah memilih jalan yang salah. Tanpa berpikir panjang, dia rela mengorbankan kesuciannya dan akhirnya diterima menjadi selir Tocu Bu Sin To dari Lam Hay. Dianggapnya dengan demikian derajat maupun kedudukannya akan terangkat lebih tinggi. Di samping itu dia juga mempermainkan cinta kasih Oey Ku Kiong yang tulus dengan memperalat anak muda itu menuruti kemauannya.

Berpikir sampai di sini, Tan Ki menarik nafas panjang sekali lagi. Tiba-tiba langkah kakinya dipercepat dan menghambur pergi. Karena sampai sekarang ini, dia masih belum tahu apa yang harus dilakukannya menjelang pertandingan nanti malam apabila dia bertemu lagi dengan Kiau Hun.

Hatinya kacau, pikirannya melayang-layang. Sejak semula dia memang sudah tidak menaruh perhatian terhadap pemandangan yang indah di sekitarnya. Angin yang sejuk berhembus dari depannya. Tetapi anak muda ini malah seakan lupa di mana dirinya berada.

Tanpa terasa, dia sudah berjalan ke arah balik bukit tersebut. Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat batu-batuan berserakan, pepohonan tumbuh dengan subur. Suara kicauan burung sayup-sayup masuk ke dalam telinganya.

Tiba-tiba saja perasaannya menjadi segar. Suasana tempat ini sunyi dan tenang, dipadu dengan keindahan alam yang masih murni dan jarang terinjak kaki manusia. Semangatnya seakan terbangkit. Gulungan perasaan dalam hatinya yang rumit mulai menghilang sedikit demi sedikit. Baru saja dia berpikir untuk mendongakkan wajahnya menentang langit dan bersiul sekeras-kerasnya agar perasaan hati yang sumpek dapat tersalurkan, tiba-tiba telinganya menangkap suara samar-samar pembicaraan seorang wanita.

Ilmu yang dimiliki Tan Ki saat ini, sudah tergolong jago kelas satu di dunia Bulim.
Meskipun suara itu begitu halus dan lirih, tetapi berkat pendengarannya yang tajam serta suasana tempat itu yang tenang dan sunyi, maka dia dapat mendengarnya dengan jelas.

Dengan membawa perasaan hatinya yang penasaran, dia berjalan mengikuti arah dari mana suara itu datang.
Begitu pandangan matanya dialihkan, jantungnya langsung berdegup dengan kencang.
Dia merasa aliran darah dalam tubuhnya seakan bertambah cepat dan perasaannya menjadi bergejolak hebat.

Mengapa? Rupanya dia melihat Ceng Lam Hong sedang berlutut di depan sebuah makam. Di hadapannya terdapat tiga batang hio yang masih menyala dan memancarkan bau harum yang khas. Saat ini wanita tersebut sedang menundukkan kepalanya dan sembahyang dengan khusuk.

Setelah tertegun sejenak, Tan Ki masih tidak mengerti juga. Diam-diam hatinya berkata: ‘Tiba-tiba Ibu berlutut seorang diri di sini, entah makam siapa yang sedang disem-bahyanginya?’

Ketika hatinya masih bertanya-tanya, segulung suara yang lirih dan sendu bagai ratapan menyusup ke dalam gendang telinga. Ternyata Ceng Lam Hong sedang bergumam seorang diri:

“Ciok San, keadaan selama sepuluh tahun ini, isterimu sudah menjelaskannya secara terperinci. Sekarang anak Ki dalam usianya yang masih begitu muda sudah mendapat perhatian yang besar dari orang-orang gagah bahkan dalam pertandingan sudah mencapai gelar Pendekar pedang tingkat lima. Mungkin urusan balas dendam kelak, tidak sulit lagi terwujud. Isterimu justru berharap tahun depan pada hari yang sama bisa membawa kepala si iblis Oey Kang dan bersembahyang di hadapanmu agar sukmamu menjadi tenteram…”

Nada suara yang terdengar dari mulutnya penuh dengan penderitaan. Setiap patah maupun kalimat yang terdengar bagai sebilah pisau yang tajam menusuki perasaan Tan Ki.

“Ciok San, semasa hidupmu, kau paling tidak senang mencari ketenaran nama dan berhati mulia. Tetapi oleh para sahabat di dunia Bulim, kau malah dianggap sebagai tokoh netral yang termasuk golongan lurus tidak, sesat-pun tidak. Ini masih tidak terhitung apa- apa. Kalau ditinjau dari segala segi, kesalahan sebenarnya terletak pada dirimu sendiri.
Kehidupan kita yang sudah tenang dan tenteram kau abaikan, malah membentuk apa yang dinamakan Wi Lu Sam-kiat dan mengangkat saudara segala macam. Sejak isterimu ini melahirkan anak Ki, aku sudah tahu kalau Oey Kang dan Yibun Samsiok sama-sama memendam perasaan cinta kasih terhadap isterimu ini. Hal ini memang benar-benar di luar dugaan. Isterimu sendiri merasa terkejut sekali. Tetapi karena kedua orang itu adalah saudara angkat sehidup semati Siangkong, isterimu ini takut hubungan kalian akan rusak. Oleh karena itu, terpaksa isterimu ini memendam semuanya dalam hati dan tidak mengatakannya kepada siapapun. Siapa nyana Jisiok mempunyai hati yang demikian keji serta menakutkan. Cinta kasihnya yang tidak tercapai berubah menjadi kegusaran hebat di dalam ba-thinnya. Rupanya secara diam-diam dia menyimpan perasaan benci itu selama sepuluh tahun. Hal ini tentu tidak mudah bagi orang biasa. Justru pada suatu malam yang turun hujan deras, dia datang dengan wajah tertutup topeng. Penampilannya bagai seorang musuh besar yang hendak membalas dendam. Ternyata malam itu juga dia berhasil membunuh Siangkong dengan berpuluh macam senjata rahasia andalannya…”

Berkata sampai di sini, tampaknya Ceng Lam Hong tidak dapat menahan kepedihan hatinya lagi, untuk sesaat dia tidak dapat meneruskan kata-katanya.
Tan Ki berdiri di belakang punggung ibunya, sulit baginya untuk melihat mimik wajah wanita itu. Tetapi dari sepasang pundaknya yang bergerak-gerak naik turun, Tan Ki dapat menduga bahwa ibunya sedang menangis terisak-isak.

Setelah berhenti beberapa saat, terdengar Ceng Lam Hong melanjutkan kembali kata- katanya:

“Ketika aku melihat Siangkong mati dengan cara mengenaskan, untuk sesaat perasaan marah dan sedih membaur dalam hati. Tanpa sempat mengambil senjata lagi di kamar, aku langsung mengejar penjahat bertopeng itu. Pada saat itu isterimu ini masih tidak tahu kalau orang itu adalah samaran Jisiok. Ketika aku berhasil mengejarnya dan mendesaknya dengan serangan-serangan, kemudian dia terpaksa melancarkan serangan balasan, baru aku tahu dia adalah Oey Kang. Tentu saja aku tahu dari jurus-jurus yang dikerahkannya. Akhirnya, aku terluka parah dan pingsan di tempat itu juga. Kebetulan sekali Samsiok lewat di tempat kejadian, sehingga Oey Kang terkejut dan mengundurkan diri. Dengan demikian selembar nyawa yang malang ini pun terselamatkan. Ketika luka yang penderita sudah agak sembuh, aku pulang lagi ke rumah. Tahu-tahu anak Ki lenyap entah ke mana. Selama sepuluh tahun ini, aku selalu merindukan anak Ki dan tidak bisa melupakan dendam kematian suami dan hilangnya anak tunggal kita itu. Isterimu ini akhirnya tinggal bersama Samsiok di puncak bukit. Meskipun dia memperlakukan aku dengan sopan dan hormat serta memandang aku seperti seorang dewi, tetapi untunglah dari awal sampai akhir, biar bagaimana dalamnya perasaan Samsiok itu, kami tidak pernah melakukan apapun yang di luar batas. Sayangnya anak Ki masih terlalu muda dan pandangannya belum terbuka. Dia selalu mencurigai isterimu ini, malah memandang aku sebagai musuh…” kembali terdengar Ceng Lam liong menarik nafas panjang lalu melanjutkan lagi kata-katanya. “Biarpun menderita sampai bagaimana, tetap aku tidak akan menyalahkan anak Ki. Tetapi aku mohon semoga arwah Siangkong melindunginya, supaya dia dapat mendapatkan nama besar di dunia Kangouw, membalas dendam ayahnya dengan tangan sendiri. Dengan demikian semua penderitaan yang isterimu rasakan, telah mendapatkan imbalan yang sesuai.”

Bisikan hati seorang ibu yang penuh kasih, dapat terdengar jelas dari kata-katanya yang terakhir. Kelembutannya yang tersirat nyata, membuat orang yang mendengarnya menjadi terharu. Tan Ki sampai gemetar seluruh tubuhnya bagai disengat aliran listrik. Dia merasa perasaanya bergejolak hebat dan tanpa dapat ditahan lagi dua baris air mata mengalir dengan deras membasahi pipinya.

Dendam kesumat selama sepuluh tahun, boleh dibilang sekarang ini sudah menjadi terang. Oey Kang mendapat Sam Jiu San Tian-sin, ilmu senjata rahasianya boleh dibilang tidak ada tandingannya lagi di dunia ini. Tidak heran mayat ayahnya penuh dengan berbagai senjata rahasia, bahkan jumlahnya sampai empat puluh delapan!

Akibatnya dia membunuh orang tanpa sebab musabab yang pasti. Hatinya hanya ingin memperhitungkan dendam atas kematian sang ayah. Dalam waktu setengah tahun ini, dia menganggap sedang membalaskan dendam ayahnya. Dua puluh tujuh tokoh hitam dan putih di dunia Bulim mati di tangannya…

Berpikir sampai di sini, timbul perasaan tidak enak dalam hatinya. Kemudian suatu ingatan melintas dalam benaknya. Diam-diam dia berpikir, “Mulai sekarang, nama Cian Bin Mo-ong akan lenyap dari dunia persilatan. Aku tidak akan bertentangan lagi dengan golongan putih… mungkin suatu hari nanti, aku harus mengumumkan masalah ini kepada
semua orang dan memohon pengertian. Dengan demikian aku telah menunjukkan bahwa aku benar-benar menyesal atas perbuatanku yang tidak menggunakan akal sehat itu…”

Pikirannya masih melayang-layang, tiba-tiba telinganya menangkap suara tawa yang panjang. Begitu kerasnya sehingga bagai geluduk yang memecahkan keheningan. Tahu- tahu di hadapan Ceng Lam Hong telah berdiri si raja iblis Oey Kang. Laki-laki itu mengembangkan seulas senyuman yang menyebalkan.

Orang ini memang patut mendapat sebutan si raja iblis nomor satu di dunia Kangouw.
Suara tawanya belum lagi sirap, orangnya sudah melayang turun. Kecepatannya bagai hembusan angin yang berlalu dan mengejutkan orang yang melihatnya.

Tampaknya Ceng Lam Hong juga terkesiap bukan main melihat kemunculannya yang tidak terduga-duga itu.

“Untuk apa kau datang ke mari?” Oey Kang tertawa terbahak-bahak. “Hari ini adalah ulang tahun kematian Toa-ko yang ke sepuluh. Sebagai seorang adik sudah seharusnya aku memberi penghormatan.” selesai berkata, dia benar-benar membungkukkan tubuhnya dalam-dalam ke arah kuburan itu.

Ceng Lam Hong mendengus satu kali. “Kau sudah mencelakai Toako sehingga menemui ajalnya, apakah kau masih belum merasa puas sehingga…”
Kembali Oey Kang tertawa terbahak-bahak kemudian menukas perkataannya. “Sehingga masih ingin mendapatkan diri Toaso? Apanya yang salah, Toaso seperti
orang buta yang kehilangan tongkat. Sesudah Toako mati, tinggal Toaso sendirian menanggung sepi dan kerinduan hati, tidak ada yang menemani. Usia Toaso pun justru sedang matang-matangnya sehingga sulit menanggung rasa dahaga akan asmara dan belaian seorang laki-laki yang…”

Sepasang alis Ceng Lam Hong bertaut erat mendengar ucapannya. Dia langsung membentak marah, “Tutup mulut anjingmu!”

Oey Kang tersenyum simpul.

“Biar mulut ini disumpal dengan kain sekalipun, kau tetap tidak bisa menghindari sepasang mata ini, bukan?” Sembari berkata, sepasang matanya yang mengandung niat busuk dari awal hingga ak-hir terus menatap wajah Ceng Lam Hong lekat-lekat. Dia seakan ingin mencari sesuatu dari wajah wanita itu, tetapi juga seperti orang yang ingin menatap setiap lubang pori-porinya sampai tidak setitik pun yang ketinggalan.

Mendengar ucapannya yang kurang ajar, wajah Ceng Lam Hong sampai merah padam saking marahnya. Dia juga merasa kesal sekali. Tetapi ketika pandangan mereka bertemu, tanpa terasa kepalanya tertunduk dalam-dalam dan tidak berani melihat lebih lama lagi.
Kali ini, Tan Ki yang sedang bersembunyi di balik sebuah batu besar merasa hawa amarah dalam dadanya seakan meledak. Dia mendongakkan kepalanya dan mengeluarkan suara suitan yang panjang. Tubuhnya langsung mencelat keluar dari tempat persembunyiannya. Orangnya masih melayang di tengah udara, tangannya segera mengeluarkan pedang sulingnya, dengan jurus Lautan Selatan Menggelora, tampaklah bayangan suling serta kilauan cahaya pedangnya yang mengibar-ngibar. Tubuhnya bergerak seiring dengan senjatanya langsung meluncur ke depan.

Oey Kang merasa ada gulungan hawa pedang yang melanda datang dari udara. Tanpa terasa wajahnya langsung berubah. Dengan panik dia mengempos hawa murninya. Seiring dengan pundaknya yang bergerak, tubuhnya pun mencelat ke belakang sejauh dua depa. Gerakan tubuhnya demikian ringan dan cepat sehingga mungkin sulit dicari tandingannya di dunia ini.

Melihat serangannya tidak mengenai sasaran, kemarahan dalam hati Tan Ki semakin berkobar-kobar. Pedang suling di tangannya direntangkan ke sebelah kiri. Anak muda itu sudah siap melancarkan serangan kedua. Tiba-tiba terdengar suara bentakan Oey Kang yang menggelegar.

“Tunggu dulu!”

Wajah Tan Ki kelam sekali. Dia berdiri tegak dengan menggenggam pedang sulingnya erat-erat. Ditampilkannya sikap seorang jago kelas tinggi yang siap menghadapi musuh.

Mulutnya memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Entah penjahat tua ada pesan apa lagi, Cayhe bersedia membersihkan telinga mendengarkan amanatmu yang terakhir…!”

Oey Kang tersenyum simpul.

“Aku ingin mengucapkan selamat kepadamu atas keberhasilanmu mencapai gelar Pendekar pedang tingkat lima. Nanti malam apabila bertanding lagi, entah berapa tingkat lagi yang dapat kau capai…”

Tan Ki mendengus dingin satu kali. “Apa hubungannya dengan dirimu?”
“Sepuluh tahun lamanya berlatih dengan keras, tidak ada berita besar di dunia ini yang tidak sampai di telingaku. Aku tidak ingin membanggakan diriku sendiri sebagai jago tanpa tandingan. Tetapi kalau ditinjau dari ilmu yang kau miliki saat ini, masih terpaut jauh dengan diriku. Kalau diungkapkan secara kasar, kau masih belum sanggup menerima satu kalipun serangan dariku, kecuali kalau kau dapat merebut kedudukan Bulim Bengcu.”

Tan Ki mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak. “Bagus sekali! Biar Cayhe buktikan dulu kebenaran kata-katamu!’
Pedang sulingnya perlahan-lahan digetarkan, timbul bayangan bunga pedang berbentuk segitiga. Tampaknya dia sudah siap melancarkan serangan.

Ceng Lam Hong sangat menyayangi putranya ini. Cepat-cepat dia menghampiri dan menarik tangan Tan Ki lalu berbisik kepadanya dengan suara lirih, “Orang ini banyak akal busuknya. Hatinya juga licik sekali. Kalau belum ada buktinya jangan percaya. Apabila sudah melihat dengan mata kepala sendiri, kau baru boleh mempercayai ucapannya.”

“Tidak apa-apa. Aku akan menghadapinya dengan ilmuku yang paling hebat. Kalau tidak bisa juga membalaskan dendam dengan tangan sendiri hari ini, aku akan mundur
dulu dan mencari kesempatan lagi kelak. Untuk menjaga diri saja aku masih mempunyai keyakinan yang cukup besar!”

Ceng Lam Hong merasa bimbang untuk beberapa saat, kemudian dengan penuh kekhawatiran dia berkata, “Rasanya aku masih mencemaskan keadaanmu…”

Selama sepuluh tahun ini, Tan Ki baru mendengar lagi kata-kata ibunya yang penuh perhatian dan kekhawatiran. Hatinya menjadi pilu, tiba-tiba darahnya mengalir dengan cepat, perasaannya diselimuti keharuan yang tidak terkatakan. Dalam tenggorokannya bagai ada suatu benda yang menyangkut, dengan nada parau dia memanggil, “Ibu…” dua bulir air mata, tanpa dapat di tahan lagi menetes jatuh membasahi pipinya.

Air mata yang mengalir ini bukan air mata ketakutan ataupun air mata yang keluar karena rasa terkejut, tetapi air mata yang terurai dari hatinya yang tulus, juga karena rasa rindu yang terpendam selama sepuluh tahun. Dapat juga dikatakan sebagai air mata yang paling berharga di dunia ini.

Tetapi Ceng Lam Hong adalah seorang wanita yang sudah mengalami pahit getir hidup ini. Hatinya sudah cukup tabah menghadapi berbagai penderitaan. Otomatis dia dapat mengendalikan perasaan dan menekan keharuan dalam hatinya. Oleh karena itu, cepat- cepat dia menarik nafas dalam-dalam dan mengembangkan seulas senyuman yang lembut.

Tan Ki mengejapkan matanya berkali-kali serta mengusap air matanya yang masih membekas di pipi. Dibalasnya senyuman ibunya dengan secercah senyuman yang manis.

“Membiarkan dendam berlalu tanpa membalas, apa pantas disebut seorang anak berbakti? Kalau kali ini membiarkan dia lari hecritn saja, mungkin sulit lagi mendapat kesempatan untuk bertarung dengan dia satu per satu. Biar bagaimana aku harus membalas dendam sedalam lautan ini!”

Oey Kang tertawa terbahak-bahak. ‘Sungguh-sungguh ucapan yang gagah, gagali sekali. Kalau kau memang ingin membalas dendam, aku terpaksa mengiringi ke-mauanmu. Tetapi tidak bisa di tempat ini!”

Tan Ki marah sekali mendengar sindirannya.

“Terserah kau, di mana saja kapan saja! Dengan membawa sebatang suling. Cayhe akan menemani sampai kau puas!”

“Bagaimana kalau Pek Hun Ceng-ku yang terkenal itu? Meskipun di dalamnya semua dilapisi pintu baja dan penuh dengan alat rahasia, tetapi kali ini aku berjanji akan membunuhmu dengan tangan sendiri!”

Tan Ki tersenyum gagah.

“Pek Hun Ceng yang begitu kecil, memangnya Cayhe pandang sebelah mata? Tempat itu tidak bedanya dengan goa kelinci, sama sekali tidak ada yang perlu ditakutkan!”

“Bagus sekali! Kalau begitu kita berangkat sekarang juga…!” kata-katanya selesai, orangnya sudah mencelat ke atas. Terdengar suara desiran pakaian yang dikibarkan
angin, dalam waktu sekedipan mata, orangnya sudah berada pada jarak kurang lebih tiga empat de-paan..

Biar bagaimana usia Tan Ki masih muda, tentu saja mudah dipanas-panasi oleh si raja iblis yang licik itu. Ditantang sedemikian rupa, hawa amarahnya semakin meluap. Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung mengeluarkan suara bentakan yang nyaring kemudian mengerahkan ginkangnya mengejar.

Melihat keadaan itu, Ceng Lam Hong terkejut sekali. Hatinya mencelos, dengan panik dia berteriak, “Anak Ki, jangan sembrono, cepat kembali!” otomatis kakinya bergerak dan dia juga ikut mengejar dari belakang.

Pada dasarnya Ceng Lam Hong adalah seorang putri dari keluarga ternama. Sejak kecil dia sudah mendapat warisan ilmu silat. Apalagi selama sepuluh tahun ini dia berlatih keras, begitu ilmu ginkangnya dikerahkan, kecepatannya luar biasa sekali. Tetapi Siapa nyana, ilmu silatnya sekarang ini masih terpaut jauh apabila dibandingkan dengan Tan Ki, apalagi dengan Oey Kang. Semakin berlari jarak mereka terpaut semakin jauh. Setelah berlari melewati dua buah bukit, dia telah kehilangan jejak kedua orang itu. Begitu paniknya wanita ini sampai menghentakkan kaki berkali-kali dengan air matanya yang mengalir deras.

Tiba-tiba dia melihat empat lima sosok bayangan bagai anak panah cepatnya meluncur datang ke tempat di mana dia berada.

Ceng Lam Hong mempertajam pandangannya. Dia melihat si Pengemis cilik Cu Cia, Hek Lohan Sam Po Hwesio, dan tiga pemuda yang asing baginya. Dalam sekejap mata, mereka sudah sampai di hadapannya.

Si pengemis cilik Cu Cia mengibas-ngibaskan rambut kepalanya yang kusut. Dialah yang pertama-tama membuka suara.

“Ceng Pek-bo (Bibi Ceng) ke mana perginya Ki-heng? Ketiga sahabat ini mendengar bahwa dengan sebatang seruling dia berhasil memenangkan lima pertandingan secara berturut-turut, mereka merasa kagum sekali kepadanya dan sekarang ingin berkenalan dengan

Ki-heng.”

Sam Po Hwesio segera menukas.

“Kalau cocok, kita malah ingin memasang hio mengangkat saudara dengannya!” tiba- tiba dia melihat sepasang mata Ceng Lam Hong merah membengkak. Tampangnya seperti orang yang baru menangis pilu. Tanpa dapat ditahan lagi dia jadi termangu-mangu.

“Pek-bo, ada apa?” tanyanya kemudian.

Wajah Ceng Lam Hong sedih sekali. Setelah menarik nafas panjang dia baru menyahut. “Dia sudah pergi.”
Baik Cu Cia maupun Sam Po Hwesio terkejut sekali mendengar kata-katanya.
“Apa?” teriak mereka serentak.

Sekali Ceng Lam Hong menarik nafas panjang. Kemudian dia menceritakan prihal Oey Kang yang membakar hati Tan Ki sehingga akhirnya anak muda itu terpancing kata- katanya lalu mengikutinya ke Pek Hun Ceng.

Bukan main terkesiapnya hati Cu Cia dan Sam Po Hwesio mendengar cerita Ceng Lam Hong. Bahkan ketiga pemuda yang asing itu juga merasakan bahwa urusan ini tampaknya gawat. Sepasang alis mereka langsung bertaut erat.

Si pengemis cilik Cu Cia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bibirnya bergerak-gerak seperti menggumam seorang diri.

“Bagaimana harus menyelesaikan masalah ini? Bulim Tayhwe sudah dimulai, dia justru pergi di saat seperti ini.” dia menundukkan kepalanya merenung beberapa saat. Kemudian tampak dia menggertakkan giginya erat-erat seperti orang yang sudah mengambil ke- putusan terakhir. Lalu dia berkata kepada Ceng Lam Hong. “Pek-bo, tolong kau sampaikan kepada Suhuku, lihat apa yang dikatakannya tentang masalah ini. Si pengemis cilik beserta Sam Po Hwesio, Yang Jen Ping, Ban Jin Bu dan Goan Yu Liong berempat akan mengikuti Ki-heng dari belakang dan lihat apakah kami bisa memberikan bantuan.”

“Cara ini rasanya kurang baik. Jangan kata kau sudah terluka akibat pukulan anak Ki, di dalam Pek Hun Ceng saja terdapat alat rahasia dan perangkap yang bukan main banyaknya. Belum tentu kalian bisa masuk ke sana tanpa diketahui.”

Tampak Cu Cia tersenyum simpul.

“Luka sekecil ini, si pengemis cilik masih bisa menahannya. Apalagi Goan Yu Liong Hengte sudah memberi sebutir pil yang manjur kepada keponakanmu ini. Dijamin tidak akan terjadi apa-apa. Mengenai perjalanan ini, kami pasti berhati-hati dan bergerak mengikuti situasi. Kalau bisa perang, tentu kita harus berperang. Tidak bisa memenangkan pihak lawan, otomatis ambil langkah seribu. Inilah semboyan hidup si pengemis cilik selama ini. Pek-bo tidak perlu khawatir, lagipula dengan bergabungnya kami berlima menghadapi musuh, rasanya tidak sampai begitu mudah dicelakai lawan.”

Ceng Lam Hong mendengar kata-katanya yang seakan yakin sekali kepada kekuatannya sendiri dan cara pengungkapannya juga lucu, tanpa dapat ditahan lagi dia jadi ikut tersenyum.

“Hian-tit (Keponakan) mempunyai nyali yang besar dan berjiwa pendekar. Bahkan berbudi mulia, benar-benar membuat Pek-bo ini jadi terharu. Tetapi apapun yang kalian katakan, aku tetap merasa khawatir.”

Sam Po Hwesio merekahkan bibirnya dan ‘tertawa lebar. Tangannya meraba-raba kepalanya yang gundul.

“Kalau memang perlu, Pek-bo boleh berangkat bersama-sama kami!” Cu Cia langsung menepuk tangannya keras-keras.
“Bagus sekali. Kalau Pek-bo memang merasa perlu ikut dengan kami, ikut saja.
Sekarang ini waktu sangat berharga, kita tidak boleh bimbang lebih lama lagi. Si pengemis
cilik akan meninggalkan beberapa patah pesan untuk Suhu. Dengan demikian beliau akan tahu ke mana tujuan kita.”

Selesai berkata, dia segera membungkukkan tubuhnya dan membersihkan dedaunan yang berserakan di atas tanah. Setelah itu dia mengulurkan jari tangannya dan dikerahkannya tenaga dalam untuk menggores tujuh belas huruf di atas tanah tersebut. Akhirnya dia berdiri lagi dan menepuk-nepuk tangannya yang kotor lalu berkata. “Mari kita berangkat sekarang juga!” tanpa menunda waktu lagi dia langsung mengerahkan ginkangnya dan berlari ke depan mendahului yang lain.

Beberapa rekannya yang lain tidak mau ketinggalan. Masing-masing mengerahkan ilmu ginkangnya yang paling hebat dan mengejar si pengemis cilik. Otomatis Ceng Lam Hong yang mencemaskan keselamatan anaknya juga ikut berlari di belakang mereka.

Setelah berlari kurang lebih sepuluhan li, si pengemis cilik sangat mengkhawatirkan Tan Ki. Tampak sepasang alisnya terus berkerut. Dia menolehkan kepalanya dan memperhatikan Ceng Lam Hong sekilas. Wanita itu masih terus berlari. Wajahnya menyiratkan kecemasan hatinya, sinar matanya sayu. Namun biar begitu, keanggunannya sama sekali tidak berkurang. Diam-diam Cu Cia berpikir dalam hati.

‘Meskipun usianya sudah lebih dari empat puluh, tetapi kecantikannya masih terlihat jelas. Gerak-geriknya bagai bidadari turun dari khayangan. Tampangnya begitu suci sehingga menimbulkan rasa hormat dalam hati orang. Tidak heran Yibun Susiok memilih tidak menikah dan masih mencintainya secara diam-diam!’

Ketika pikirannya masih melayang-layang, beberapa orang itu sudah memasuki sebuah dusun. Meskipun dusun ini tidak terlalu besar, toko-toko didirikan dengan sederhana dan seBagian besar menggelar dagangannya di bawah pohon, tetapi ramainya luar biasa. Di mana-mana terlihat penduduk hilir mudik seakan sibuk sekali kehidupan dalam dusun tersebut.

Yang Jen Ping menjadi penunjuk jalan. Ceng Lam Hong, Ban Jin Bu, Goan Yu Liong mengikuti dari belakang. Mereka berjalan menuju sebuah kedai arak di tengah dusun. Si pengemis cilik Cu Cia sudah menunggu di depan pintu sambil menggapaikan tangannya.

“Ceng Pek-bo, Si pengemis cilik ini sudah memesankan hidangan dan arak untuk kalian, cepat santap dulu setelah itu kita baru melanjutkan perjalanan lagi.”

Rekan-rekannya mengiakan sambil tertawa. Berbondong-bondong mereka masuk ke dalam kedai arak tersebut. Tampak di sebelah kiri ada sebuah meja yang sudah tersedia berbagai hidangan. Hek Lohan Sam Po Hwesio duduk seorang diri dan sedang meneguk arak dengan nikmat. Setiap kali cawannya terisi, dia langsung meneguknya sampai kering.

Melihat kemunculan Ceng Lam Hong dan yang lain-lainnya, dia langsung berdiri sambil tertawa lebar.

“Hwesio, arak dan daging seperti diriku ini kalau sudah melihat arak, cacing di perut pasti berkelahi dengan sengit. Apalagi kalau lihat saja dan tidak segera menyikatnya, wah… rasanya lebih menderita daripada disuruh mendaki bukit golok. Kalian jangan mengira si pengemis cilik itu orangnya baik. Kalian belum sampai, hidangan sudah dipesankan. Malah menunggu kalian di depan pintu. Padahal sebelumnya dia sudah meneguk dua kendi besar arak Lian Hua Pek. Hwesio adalah umat Bud-dha yang tidak
boleh berdusta. Buddha mempunyai sukma yang dapat melihat segalanya. Apa yang aku katakan semuanya merupakan kenyataan. Kalau tidak percaya, kalian boleh menanyakannya kepada pelayan kedai ini.”

Si pengemis cilik menuding Hek Lohan sambil menggerutu.

“Kau Hwesio cilik ini jangan suka mencari muka. Dengan segala ketulusan hati Si pengemis cilik mengundang kau makan dan minum, kau malah menempeleng pipiku. Dengarlah, Ceng Pek-bo orangnya supel, tidak mungkin dia mempersoalkan biaya makan minum yang sedikit ini. Kau tidak usah membakar-bakar hati orang.” meskipun nadanya mengomel, tetapi mulutnya tetap saja tertawa lebar.

Sementara keduanya masih berdebat, Ceng Lam Hong dan yang lainnya sudah duduk di sekeliling meja. Yang Jen Ping dan dua rekannya baru saja minum arak di Tok Liong- hong, saat ini tidak ada selera lagi untuk minum. Hanya si pengemis cilik dan Hek Lohan terus mengangkat cawan araknya. Dalam waktu yang singkat mereka sudah menghabiskan delapan kati arak.
Si pengemis cilik meletakkan cawannya di atas meja sambil tertawa-tawa. “Nikmat, nikmat sekali! Si pengemis cilik sudah belasan hari tidak minum arak.
Sekarang begitu masuk perut lagi, rasanya harum bukan main!” selesai berkata, tangannya merenggut lagi sebuah kendi arak di atas meja kemudian meneguknya sekaligus. Begitu asyiknya sampai menimbulkan suara Glek!
Glek! Glek! Caranya seperti minum air putih saja. Setelah sekendi arak itu kembali dikeringkan, dia langsung berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya. Wajahnya mengembangkan senyuman yang lebar.

“Mari kita teruskan perjalanan!” sembari berteriak, tangannya menyambar tangan Hek Lohan dan mengajaknya lari ke depan. Goan Yu Liong melihat kedua orang itu langsung saja menghambur dari kedai arak tersebut. Dia menggelengkan kepadanya sambil tertawa.

“Si tukang minta-minta itu memang cukup menderita juga beberapa hari ini. Hari ini mungkin dia sendirian saja ada minum arak sebanyak lima enam kati.”

“Aku rasa malah lebih dari sepuluh kati. Dulu aku pernah minum bersama-sama dengannya, mungkin lebih dari sepuluh kati. Kalau sampai ribuan cawan, aku belum berani memastikannya, tetapi kalau di atas lima ratus cawan, mungkin masih bisa. Selamanya aku tidak pernah melihat dia mabuk. Kali ini takaran minum mereka agak berkurang, mungkin karena tergesa-gesa akan mengadakan. perjalanan, kita juga jangan sampai ketinggalan.”
Ceng Lam Hong segera memanggil pelayan untuk menghitung harga makanan dan minuman mereka. Ternyata kedua orang itu benar-benar menghabiskan dua puluh kati Lian Hua Pek.

Ban Jin Bu menggelengkan kepalanya sambil tertawa.

“Dua orang menghabiskan Lian Hua Pek yang keras, hm…. tampaknya si hwesio cilik sendiri juga ada minum sebanyak sepuluh kati lebih.”
Baru saja ucapannya selesai, dari luar kedai arak tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda. Dua ekor kuda yang gagah berhenti di depan kedai arak tersebut. Tampak dua sosok bayangan berkelebat, kemudian mereka juga melangkah masuk ke dalam kedai.

Yang pertama-tama masuk adalah seorang laki-laki berusia kurang tiga puluh lima tahunan. Wajahnya berbentuk persegi dengan telinga yang besar, cambangnya lebat sekali sampai memenuhi sebagaian besar wajahnya. Tingginya kurang lebih tujuh kaki dan dia mengenakan pakaian busu (pesilat) yang ketat berwarna hitam. Pundaknya menyandang buntalan kain berwarna hitam pula, kepalanya diikat dengan selendang putih. Kakinya mengenakan sepatu berikat tali yang biasa digunakan oleh kaum pengelana. Pundaknya kekar dan pinggangnya lebar. Tampangnya menimbulkan kesan kegarangan dan sekali lihat saja sudah dapat dipastikan bahwa laki-laki ini termasuk orang yang kasar.

Di belakangnya justru mengiringi seorang pemuda bertampang pelajar. Dia mengenakan jubah panjang berwarna biru langit, wajahnya seperti dilapisi bedak yang tipis. Kepalanya juga ditutupi selendang yang diikat ke belakang. Tampangnya tampan dengan sepasang alis yang tebal serta mata yang indah. Langkahnya tenang dan anggun. Kalau dibandingkan dengan laki-laki kekar yang di depannya, satu kuat satu lemah, jauh sekali perbedaannya.

Setelah masuk ke dalam kedai arak, mereka memilih tempat duduk Bagian sudut yang merapat dengan tembok. Pemuda bertampang pelajar itu mempunyai sepasang mata yang menyorotkan sinar tajam. Dia melirik sekilas ke arah rombongan Yang Jen Ping sembari mulutnya berbicara dengan pelayan kedai arak tersebut.

“Bawakan delapan macam sayuran, beberapa kendi arak bagus dan empat pasang sumpit serta cawan!”

Yang Jen Ping dan yang lain-lainnya diam-diam merasa heran. Mengapa dua orang saja memesan sumpit dan cawan sampai empat pasang. Apakah mereka sama dengan si pengemis cilik Cu Cia dan Hek Lohan yang datang terlebih dahulu dan di belakang masih ada kawan yang akan menyusul? Ketika hati mereka bertanya-tanya, langkah kaki mereka tidak berhenti. Saat ini baru saja bertindak keluar dari kedai arak.

Tiba-tiba terdengar si laki-laki kasar itu tertawa lebar sambil berkata, “Coba kau lihat, apakah orang ini serombongan dengan orang-orang itu? Wanita yang di tengah-tengah itu boleh juga, malah lebih cantik dari dua perempuan yang dirobohkan Mei Hun kemarin.”

Berkata sampai di sini, terdengar si pelajar langsung menukas, “Toako, penyakitmu ini benar-benar sudah terlalu parah dan tidak bisa diubah. Asal lihat saja mulut langsung berkoar tidak bisa diam. Ada saja yang kau persoalkan. Orang yang mendengarnya pasti bisa salah paham.”

Mendengar pembicaraan kedua orang itu, sekali lagi hati Yang Jen Ping tergerak. Diam- diam dia berpikir: ‘Kata-kata ‘Mei Hun’ yang diucapkannya pasti nama seorang perempuan. Tetapi entah siapa orangnya?’

Pikirannya melayang-layang, tanpa terasa dia berdiri tertegun di depan pintu. Melihat dia menghentikan langkah kakinya, otomatis yang lain juga berdiam diri.
Kedua orang yang di dalam kedai arak itu tampaknya menyadarinya juga. Mereka merasa agak terkejut. Terdengar si pelajar tertawa terbahak-bahak.

“Bagaimana? Orang tidak jadi pergi kan? Tampaknya kali ini kau mencari kesulitan lagi buat dirimu sendiri!”

Laki-laki kasar itu mengerling sejenak kemudian ikut tertawa terbahak-bahak.

“Hengte, mengapa kau berubah jadi begitu pengecut dan bernyali kecil? Masa aku tidak boleh membuka suara sama sekali? Aku justru tidak percaya ada orang yang bisa menutup mulutku ini!”

Selesai berkata, dia malah mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak.
Tawanya begitu keras dan gila-gilaan seakan di sekitarnya tidak ada orang lain.

Di dalam rombongan Ceng Lam Hong, usia

Goan Yu Liong yang terhitung paling muda. Tampaknya kesabarannya mulai menipis melihat mereka seakan ditantang. Oleh karena itu dia segera memalingkan kepalanya dan bermaksud menerjang masuk lagi ke dalam kedai. Ban Jin Bu cepat-cepat menarik tangannya dan berbisik dengan suara lirih, “Gerak-gerik kedua orang ini sangat aneh.
Asal-usul mereka juga tidak jelas. Sebaiknya kita jangan mencari perkara dengan mereka.”

Sebagai orang yang usianya paling muda, tentu saja adat Goan Yu Liong juga mudah tersinggung. Mendengar ucapan Ban Jin Bu, dia memperlihatkan tampang kurang senang.

“Kita beberapa orang melakukan perjalanan bersama-sama, mana bisa menerima penghinaan orang lain begitu saja. Biarpun mereka adalah tokoh sakti dari Si Yu atau Lam Hay, aku tetap ingin menjajal sampai di mana kehebatan ilmu mereka sehingga membuka mulut begitu besar!”

Ceng Lam Hong sedang mengkhawatirkan jejak anaknya dan bagaimana keadaan Tan Ki sekarang. Rasanya ingin sekali di punggungnya tiba-tiba tumbuh sayap sehingga dapat terbang secepat mungkin ke Pek Hun Ceng untuk melihat bagaimana perkembangan yang terjadi di sana. Melihat tampang Goan Yu Liong yang merah padam dan adatnya yang berangasan, dia takut bisa terjadi sesuatu yang menunda perjalanan mereka. Tetapi biar bagaimanapun, anak muda itu ikut dengan mereka dengan niat baik. Tentu Ceng Lam Hong merasa tidak enak untuk menengurnya. Hanya sepasang alisnya yang bertaut dengan erat dan berdiri di sudut dengan wajah muram.
Ban Jin Bu menepuk pundak Goan Yu Liong perlahan-lahan. Bibirnya tersenyum lembut. “Kalau kau masih ribut terus, pasti akan terjadi perkelahian di antara kedua pihak.
Seandainya terjadi sesuatu pada diri Ki-heng justru karena perjalanan kita yang tertunda, bagaimana kau akan memberi tanggung jawabmu kepada Pek-bo?” selesai berkata, dia tidak memberi kesempatan lagi kepada Goan Yu Liong untuk membantah. Di tariknya tangan anak muda itu dan diseretnya keluar dari kedai arak tersebut.

Beberapa orang itu langsung melanjutkan lagi perjalanannya. Setelah keluar dari dusun tersebut, mereka berlari lagi kurang lebih sepuluh li. Tiba-tiba Yang Jen Ping seakan teringat sesuatu hal. Dia menghentikan langkah
“pakinya.

Tiba-tiba telinga mereka mendengar derap kaki kuda yang berlari dengan kencang. Di Bagian belakang tampak gumpalan debu yang melayang di angkasa. Kedua laki-laki yang ada di dalam kedai arak tadi menunggang kuda .masing-masing dan memacu kudanya dengan kecepatan tinggi.. Tampaknya mereka tergesa-gesa sekali. Dalam waktu yang singkat, kedua ekor kuda itu sudah sampai di hadapan mereka.

Yang Jen Ping melihat kedua ekor itu mendatangi dengan pesat. Beberapa orang itu segera menarik nafas dalam-dalam dan mencelat kedua tepian jalan. Dua ekor kuda itupun melintas lewat di hadapan mereka.

Bagaimana pun Ceng Lam Hong adalah . seorang wanita yang usianya sudah setengah baya. Perasaannya lebih peka. Dia merasa bahwa gerak-gerik kedua orang itu sangat mencurigakan. Rombongan mereka yang beberapa orang ini sejak keluar dari kedai arak terus berlari tanpa berhenti sekalipun untuk beristirahat. Kalau memang mereka berdua sudah selesai makan dan minum, tentu setidaknya menghabiskan waktu yang tidak sedikit. Biar bagaimana tentu tidak mudah mengejar mereka dalam waktu yang singkat. Tetapi mengapa mereka memesan hidangan dan arak? Seandainya di depan ada kejadian yang serius dan gawat, masa mereka bisa meramal apa yang terjadi sehingga menyusul secepat mungkin? Apalagi selama mereka berlari sepanjang perjalanan ini, mereka tidak bertemu’ dengan siapapun.

Semakin dipikirkan, semakin bingung Ceng Lam Hong akan asal-usul kedua orang tadi. Tetapi hatinya berkata, seandainya dia menghabiskan waktu untuk merenung terus dan kesempatan untuk mencari kedua orang itu hilang, mungkin sulit lagi ingin bertemu dengan mereka. Untung saja arah yang diambil kedua orang tadi sama dengan tujuan mereka. Terdengar dia menarik nafas panjang kemudian berteriak:

“Kejar!”

Beberapa orang yang ikut bersamanya merupakan pemuda-pemuda berdarah panas. Sejak semula mereka sudah merasa kalau gerak-gerik kedua orang itu sangat aneh. Juga mengandung misteri yang membuat penasaran sehingga dalam hati ingin sekali mengetahui rahasianya. Mendengar perintah Ceng Lam Hong agar mereka segera mengejar kedua orang tadi, tanpa menunda waktu lagi masing-masing mengerahkan ilmu ginkangnya yang paling hebat dan berlari mengejar. Hati Goan Yu Liong paling panik.
Makanya larinyalah yang paling cepat. Dalam waktu singkat dia sudah berlari sejauh ratusan li. Orangnya seperti seekor kuda liar yang lepas kendali dan berlari dengan kalap.

Siapa nyana tunggangan yang digunakan kedua orang tadi merupakan jenis kuda unggul dari suku Biao. Dalam satu hari dapat berlari kurang lebih tujuh atau delapan ratus m Meskipun rombongan Ceng Lam Hong berlari terus tanpa berhenti, tetapi kalau dibandingkan dengan tunggangan mereka yang terdiri dari kuda jempolan, tentu saja masih terpaut jauh. Oleh karena itu, jarak mereka pun tprtarik semakin panjang. Hati Goan Yu Liong gugup sekali. Dia menggertakkan giginya erat-erat dan berlari secepat mungkin. Padahal dia yang berada di ..paling depan. Begitu dihimpunnya tenaga dalam serta hawa murni dalam tubuh, dalam sekali loncatan dia dapat mencapai sepuluh depa. Tetapi jarak antara dirinya dengan kedua ekor kuda di depan masih ada ratusan langkah. Tiba-tiba terdengar si laki-laki bercambang lebat itu mengeluarkan suara siulan yang panjang. Setengah badan sebelah atasnya memutar sedikit, tangan kanannya mengibas, dari pipa cangklongnya melesat keluar dua carik sinar putih yang berkilauan.

Goan Yu Liong merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Cepat-cepat dia mengempos semangatnya dan sepasang pundaknya ditarik ke belakang. Dengan demikian gerakan tubuhnya jadi terhenti. Ketika dia menundukkan kepalanya, dia melihat ada dua batang anak panah yang halus menancap di ikat pinggangnya.

Meskipun dia belum sampai terluka oleh serangan ini, tapi rasa terkejutnya jangan ditanyakan lagi. Wajahnya sampai pucat pasi dan berdiri di tempat dengan termangu- mangu.

Di belakangnya terdengar suara langkah kaki yang ramai. Rupanya rekan-rekannya sudah menyusul tiba. Melihat perubahan yang tidak di duga-duga ini, mereka tidak jadi mengejar kedua orang itu, tetapi beramai-ramai mengerumuni Goan Yu Liong untuk melihat apa yang terjadi dengan anak muda itu.

Yang Jen Ping mencabut kedua batang senjata rahasia dan meletakkannya dalam telapak tangan untuk diperiksa secara teliti. Dia melihat senjata rahasia itu memang agak mirip dengan anak panah, tetapi Bagian depannya agak pipih dan ada beberapa lembar bulu halus yang berwarna warni, tajamnya bukan main. Tetapi setelah diperhatikan sekian lama, dia tetap tidak dapat menduga jenis senjata rahasia apa yang ada di tangannya itu. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya langsung mengerut.

“Senjata rahasia ini benar-benar jarang terlihat di dunia Kangouw. Siau-heng juga sudah cukup lama berkelana di dunia persilatan, berbagai jenis senjata rahasia yang aneh sudah pernah kutemui, tetapi aku tetap tidak tahu apa nama senjata rahasia ini dan dari mana asalnya. Benar-benar membingungkan. Orang itu sanggup menimpukkan senjata rahasia di atas kuda yang sedang berlari, baik gerakan maupun keseimbangan tubuhnya dapat dikatakan bukan hal yang sanggup dilakukan sembarang orang. Kalau dia memang berniat melukai orang, sejak semula adik Liong pasti, sudah terkapar di atas tanah. Kalau menurut pendapat Siau-heng, meskipun tampang orang itu kasar dan bicaranya ketus, tetapi tidak mengandung niat mencari musuh dengan membunuh orang. Kawan atau lawan, sementara ini kita masih belum dapat memastikan. Mungkin dia menimpuk senjata rahasia ke Bagian luar pakaian adik Liong hanya sebagai peringatan saja.”

Ban Jin Bu menundukkan kepalanya merenung sejenak. Kemudian terdengar dia menukas.

“Apapun maksudnya, lebih baik kita meneruskan perjalanan sampai dusun di depan, setelah itu baru kita rundingkan kembali. Sekarang kedua orang itu pasti sudah jauh, kita berdiam di sini juga tidak ada gunanya. Siapa tahu kita akan bertemu lagi dengan mereka di dusun sebelah depan sana.”

Selesai berkata, Ban Jin Bu melihat mimik wajah beberapa orang itu berlainan. Goan Yu Liong seperti sedang marah, Yang Jen Ping masih merasa terkejut, Ceng Lam Hong malah seperti orang yang kebingungan. Sejak awai hingga akhir dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya kakinya yang terus melang kah ke depan.

Ban Jin Bu tahu bahwa perasaan mereka sedang bergejolak, berbagai pikiran berkeca- muk menjadi satu. Dia sendiri jadi enggan «berbicara. Dengan perasaan hati yang tertekan, mereka melanjutkan perjalanan. Selama itu tidak ada seorangpun yang membuka suara. Lambat laun mereka mulai memasuki daerah pegunungan. Ban Jin Bu mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tampak awan
bergulung-gulung, di ujung langit hanya tinggal segurat cahaya berwarna keemasan. Di dalam hati mereka semua seakan terdapat ganjalan yang berat. Sejak tadi mereka tidak ingat untuk mencari tempat bermalam. Tampaknya malam ini mereka terpaksa melanjutkan perjalanan di tengah pegunungan.

Beberapa orang ini merupakan ahli-ahli silat yang mempunyai kepandaian cukup tinggi.
Mereka tidak takut adanya binatang buas atau ular melata, tetapi daerah pegunungan gelap dan sunyi. Belum lagi hawanya yang dingin menyengat, tentu saja hati mereka merasa kurang puas terpaksa melakukan perjalanan ataupun menginap di tengah pegunungan sepanjang malam.

Untung saja malam ini tidak begitu gelap. Rembulan bersinar terang, cahayanya memancarkan warna putih berkilauan, sehingga pemandangan masih dapat terlihat. Suasana seperti ini membawa keunikan tersendiri, sayangnya di hati beberapa orang itu sedang ada masalah, sehingga tidak ada minat sama sekali menikmati keindahan alam.

Jalan di pegunungan semakin ditempuh semakin memencil. Pemandangan di sekitar pun semakin indah mengagumkan. Di bawah cahaya rembulan tampak lekukan-lekukan yang seakan tiada batasnya. Di kejauhan terlihat segumpal uap seperti kabut putih yang membuat pandangan jadi samar-samar.

Tiba-tiba tampak bayangan seseorang berkelebat. Sam Po Hwesio mendadak muncul dari lekukan celah gunung dan menghadang di tengah jalan. Hwesio cilik itu tertawa terbahak-bahak seakan ada sesuatu yang menggembirakannya.

“Kalian mungkin sudah merasa agak lapar setelah berjalan sekian jauh bukan? Di dalam dusun tadi, si pengemis cilik dan Hwesio cilik diundang makan oleh kalian. Sedangkan di daerah sini merupakan pegunungan yang terpencil dan sepi, meskipun punya uang juga tidak ada gunanya. Sekarang gantian si Hwesio cilik dan si tukang minta-minta yang jadi bos mengundang kalian.” sembari berkata, tangannya menunjuk ke arah di mana gumpalan uap putih tadi terlihat.

Rupanya yang terlihat dari kejauhan itu bukan kabut atau uap putih, tetapi asap yang timbul dari tungku api. Terdengar Sam Po Hwesio melanjutkan lagi kata-katanya… “Si tukang minta-minta itu benar-benar punya keahlian tersendiri. Dia telah membuatkan hidangan yang istimewa buat kita semua. Kalau kalian merasa lapar, maka jangan tunda waktu lagi. Hayo ikut aku!” tubuhnya langsung melesat dan berlari menuju lembah yang jaraknya lebih seratusan depa.

Di dalam lembah itu terdapat bunga-bunga liar yang tumbuh dengan subur. Saat itu semuanya sedang bermekaran. Angin malam membawa serangkum bau harum. Di samping sebatang pohon siong yang besar sekali, tampak ada seonggok api unggun. Si pengemis cilik Cu Cia sedang membakar potongan daging. Paduan antara harum bunga ada hawa daging bakar terendus di hidung seiring hembusan angin, membuat perut beberapa orang yang sudah lapar itu semakin menggelitik dan hampir menetes air liurnya.

Si pengemis cilik mendongakkan kepalanya dan melihat kedatangan beberapa orang tersebut. Dia langsung berteriak, “Cepat ke mari, si pengemis cilik dengan susah payah berlari sejauh dua tiga li akhirnya baru mendapatkan kijang kecil ini.”

Ketika sudah mendekat, beberapa orang itu baru melihat di sampingnya terdapat setumpukan kulit kijang, sedangkan daging kijang itu sudah terpotong-potong menjadi
beberapa Bagian dan seBagian besarnya sudah dibakar matang. Saat ini siapapun tidak ada yang sungkan lagi, masing-masing segera meraih sepotong daging kijang bakar itu.

Tampaknya Goan Yu Liong masih kesal karena peristiwa tadi. Wajahnya masih cemberut terus. Melihat rekan-rekannya menikmati hidangan sambil membakar sisa daging kijang, dia malah menyingkir ke sudut. Tangannya menggenggam sepotong daging bakar dan duduk menyendiri di bawah sebatang pohon siong.

Tiba-tiba dari atas pohon terdengar suara yang bening dan nyaring… “Nona…! Nona…!”
Suara panggilan itu tidak berhenti-berhen-ti. Nyaring dan tajam, rasanya seperti suara seorang gadis.

Mendengar suara yang muncul secara tidak terduga-duga ini, Goan Yu Liong terkejut setengah mati. Dia segera mendongakkan kepalanya melihat ke atas pohon. Tinggi pohon itu kira-kira tujuh delapan depa. Persis seperti sebuah payung besar yang disoroti cahaya rembulan.

Meskipun malam ini rembulan cukup terang, tetapi saking lebatnya dedaunan pohon itu, keadaan di dalamnya tidak dapat terlihat jelas. Setelah didengarkan dengan seksama. Suara tadi memang muncul dari dalam gerombolan dedaunan yang lebat tersebut.