Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 35

 
Bagian 35

“Siapa?”

Yibun Siu San menyahut sepatah demi sepatah… “Cian Tok Kui Ong alias Raja setan seribu racun!”
Keempat kata-kata ini diucapkan dengan panjang dan lama. Seakan setiap kata itu diucapkan dengan pengerahan tenaga yang sepenuhnya. Sehingga akhirnya dapat juga tercetus keluar dari mulutnya. Tetapi orang yang mendengarkan justru bagai diselimuti ketegangan yang tidak terkirakan.

Tampak tubuh Kaucu Pek Kut Kau itu agak bergetar, tetapi sekejap kemudian sudah normal kembali seperti biasa. Dia malah tertawa dingin.
“Apa hubungannya dengan diriku?”

“Orang ini merupakan raja iblis di daerah Tionggoan. Baik golongan putih maupun hitam yang mendengar namanya pasti tergetar hatinya. Siapapun tidak ada yang berani mencari perkara dengan orang ini, tetapi dia justru berasal dari daerah yang jauh dan ilmu silat yang dikuasainya juga bukan ilmu silat dari Tionggoan…”

Wajah Kaucu Pek Kut Kau langsung berubah hebat. Tampangnya menyiratkan kegusaran hatinya.

“Jadi kau bermaksud mengatakan bahwa Cian Tok Kui Ong itu merupakan orang wilayah Si Yu kami?”

Yibun Siu San tertawa dingin.

“Aku mempunyai jodoh bertemu beberapa kali dengan orang ini. Kalau ditilik dari nada bicaranya sehari-hari, dia bukan saja berasal dari wilayah Si Yu, malah ada hubungan yang erat dengan engkau, Kaucu Pek Kut Kau ini.”

Kaucu Pek Kut Kau menghentakkan kakinya ke atas tanah dengan kesal. “Omong kosong!”

Kembali Yibun Siu San tertawa dingin.

“Kalau menurut pendapatku, Cian Tok Kui Ong itu memang anggota perkumpulan Pek Kut Kau dan kemungkinan pernah berbuat kesalahan atau ganjalan dengan dirimu sehingga dia diusir olehmu dan keluar dari Pek Kut Kau. Oleh karena itu, Cian Tok Kui Ong melarikan diri ke daerah Tionggoan yang jauh dan mencari kesempatan untuk membalas dendam. Tadinya mungkin dia ingin membandingkan kepandaiannya dengan para jago dari Tionggoan sehingga mempunyai kesempatan muncul dengan wajah lain untuk menggemparkan dunia Kangouw. Sayangnya orang-orang yang pernah bergebrak dengannya merupakan tokoh-tokoh kelas dua dan kelas tiga. Tidak ada satupun yang sanggup menerima satu jurus serangannya. Atau bisa mengimbangi kekuatan tenaga dalamnya. Itulah sebabnya Cian Tok Kui Ong kecewa sekali. Dan harapannya seperti kandas seketika. Kemudian terbersit berita bahwa dia teringat suatu tempat di mana dia dapat mencuri kitab peninggalan para jago di daerah Tionggoan. Dia-pun lalu berusaha menggabungkan ilmu kepandaiannya sendiri dengan ilmu hasil curiannya sehingga dengan demikian ilmunya dapat maju lebih pesat lagi…”

Terdengar suara deheman dari bibir Kaucu Pek Kut Kau tersebut. “Lalu?”
“Akibatnya, mungkin seperti apa yang diceritakan oleh anak Ki. Akhirnya meskipun dia berhasil meloloskan diri, namun lukanya sudah terlalu parah sehingga lama-kelamaan dia tidak dapat bertahan lagi dan menemui ajalnya.”

Mendengar kata-katanya, Kaucu Pek Kut Kau itu seakan telah berhasil membuktikan kematian Cian Tok Kui Ong. Pikirannya yang ruwet seperti menjadi ringan seBagian. Oleh karena itu dia menghembuskan nafas lega.
“Orangnya toh sudah mati, apakah sukmanya masih bisa berkeliaran sehingga menyatakan bukti kepada kita semua?”

Yibun Siu San tertawa dingin.

“Cerita takhyul memang selamanya tidak dapat dibuktikan atau diandalkan. Siapa yang bisa percaya begitu saja? Tetapi ketika dia pergi, dia memang meninggalkan seorang bayi perempuan. Sayangnya induk semang yang bertugas menjaga bayi itu, justru tanpa sengaja menjatuhkan bayi perempuan itu ke dalam lautan ketika sedang mengadakan perjalanan jauh. Sampai saat ini mati hidupnya tidak jelas lagi…”

“Terhadap masalah ini, Kaucu tidak tertarik sama sekali.”

Kemudian tampak dia mengibaskan lengannya dan perlahan-lahan meneruskan langkah kakinya.

Kim Yu mengajak beberapa rekannya yang terluka dan mengiringi dari belakang.

Pertarungan kali ini, meskipun belum sempat membuat seluruh tokoh dari Si Yu lenyap dari muka bumi, tetapi seBagian besar dari mereka sudah terluka cukup parah. Hal ini membuktikan kerugian yang besar di pihak mereka.

Dengan demikian, karena pertarungan ini pula, nama Tan Ki langsung menjulang tinggi.
Di antara jago-jago kelas satu di dunia Bulim, boleh dibilang sudah ada sebuah tempat bagi dirinya.

Sementara itu, Yibun Siu San menatap bayangan punggung Kaucu Pek Kut Kau yang semakin lama semakin menjauh. Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengatakan sesuatu namun dibatalkannya lagi. Akhirnya dia menahan perasaan hatinya dan menarik nafas panjang. Dia menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir.

Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya dan mendekat ke samping Tan Ki. Dengan suara lirih dia bertanya, “Apa yang kau pikirkan?”

Suara yang rendah serta mengandung kasih sayang yang dalam. Tan Ki pun tersadar dari lamunannya. Mulutnya mengeluarkan seruan terkejut kemudian menggeleng- gelengkan kepalanya.

“Tidak ada apa-apa.”

Yibun Siu San tersenyum lembut.

“Biar kau tidak mengatakannya, aku juga mengerti. Sekarang ini perasaan hatimu sedang kalut sekali. Dan sekaligus banyak hal yang terpikirkan olehmu, bukankah demikian?”

Tan Ki tidak memberikan jawaban. Betul, sebetulnya apa lagi yang masih dipikirkannya?

Kehidupannya sudah di ambang pintu ke-matian. Begitu daya kerja obat yang diminumnya mulai mereda, dia pasti akan mati!”
Apabila seseorang dapat mengetahui waktu kematiannya, seharusnya merupakan hal yang ajaib dan aneh. Biar bagaimana, Tan Ki adalah seorang pemuda yang bersemangat tinggi. Meskipun saat ini dia sedang bertentangan dengan maut, tetapi dia dapat menenangkan hatinya untuk menunggu datangnya dewa elmaut. Segala ketegangan yang melanda hatinya menjadi sirna. Perasaannya malah menjadi lega. Otomatis banyak sekali pikiran yang melintas di benaknya. Dendam ayahnya, urusan ibunya dan keenam perempuan yang ada hubungan erat dengan dirinya.

Banyak sekali yang dipikirkannya. Tetapi semakin dipikirkan semuanya menjadi semakin samar. Hanya satu hal yang diketahuinya dengan jelas, yakni riwayat hidupnya segera akan berakhir. Segenap dendam kesumat, perasaan cinta kasih akan hilang dari dirinya untuk selamanya. Dia akan meninggalkan dunia ini dengan membawa sukma yang kosong melompong dan berikut segala keruwetannya.

Terdengar Yibun Siu San menarik nafas panjang. “Bulim Tay Hwe akan dimulai sebentar lagi…” Tan Ki tertawa sumbang.
“Sayang sekali dalam tubuh keponakanmu ini mengendap racun yang dalam. Kasih sayang dan perhatian yang besar dari Siok Siok dan Cian Locianpwe akhirnya hanya sia-sia saja.”

Kata-kata yang keluar dari bibirnya bagai tercekat seBagian di tenggorokan. Ucapannya tersendat-sendat bagai seorang pendekar yang menemui jalan buntu menghadapi masa depannya.

“Manusia hidup di dunia ini sudah ditentukan takdirnya. Kau tidak perlu merasa cemas karena hal ini.”

“Terima kasih atas kata-kata hiburan Siok Siok ini. Kalau keponakan mempunyai umur panjang dan tidak jadi mati, tentu tidak akan menyia-nyiakan harapan Siok Siok serta hadirin untuk merebut kedudukan Bulim Beng-cu. Sayangnya… sekali lagi Tan Ki tertawa sumbang. Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya dan membungkam. Perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah ruangan besar.

Yibun Siu San segera berteriak: “Anak Ki, kau mau ke mana?”

“Aku tidak ingin Ibu melihat wajahku ketika menjelang kematian. Hal ini pasti akan membuat hatinya terpukul sehingga jatuh sakit. Lebih baik aku berjalan dulu dan mencari sebuah tempat yang tenang untuk mengubur diri. Dengan demikian aku akan menghadapi kematian dengan hati yang tenteram…” meskipun mulutnya menjawab pertanyaan Yibun Siu San, namun kakinya tidak pernah berhenti sekalipun. Begitu ucapannya selesai, tiba- tiba dia mempercepat langkah kakinya dan menghambur pergi.

Dapat dipastikan bahwa dia sedang menahan penderitaan dalam hatinya dan tidak ingin orang lain melihat wajahnya yang penuh dengan air mata.

Melihat dia memalingkan kepalanya dan pergi begitu saja, Yibun Siu San jadi tertegun.
Kemudian tampak dia tersenyum sendirian, bibirnya bergerak-gerak dan menggumam
seorang diri, “Kalau ditilik dari kata-katanya yang memikirkan keadaan ibunya. Hal ini membuktikan bahwa dia sudah mengalami perubahan.”

Angin pagi bertiup sepoi-sepoi, harum bunga semerbak, tetapi keadaan hati Tan Ki saat ini sama sekali tidak membayangkan keindahan dunia ini. Pikirannya terpusat pada keadaan dirinya sendiri yang sebentar lagi akan mati.

Hatinya sangat tertekan. Kakinya bagai diganduli bola besi yang beratnya ribuan kati.
Langkahnya demikian lambat hampir seperti siput yang merayap. Setelah berjalan beberapa saat, tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya.

Diam-diam dia berpikir dalam hati: ‘Kalau sekarang aku meninggalkan gedung keluarga Liu, dan seandainya di tengah jalan luka atau racun dalam tubuh ini tiba-tiba kambuh, serta mati di tempat, bukankah seluruh penduduk kota ini akan gempar dan ketakutan?
Lebih baik aku cari tempat yang tenang di sekitar gedung ini…’

Begitu pikirannya tergerak, dia langsung berjalan menuju taman bunga di halaman belakang. Sinar mentari yang terik menyoroti bayangan punggungnya yang tampak kesepian. Dengan demikian, kentara sekali bahwa hati anak muda ini digelayuti berbagai pikiran dan penderitaan yang tidak terkirakan.

Berturut-turut dia melewati tiga ruangan dan tiba-tiba hidungnya mencium bau harum bunga yang menyegarkan. Anginpun terasa sejuk. Tan Ki menghentikan langkah kakinya, sepasang matanya mengedar. Dia melihat bunga-bunga yang berwarna-warni bermekaran, ada anggrek, ada seruni. Meskipun saat ini musim semi hampir berlalu, tetapi rumput-rumput masih menghijau, bunga-bunga tumbuh subur. Apalagi dihiasi dengan rumpun bambu yang terawat rapi sehingga menimbulkan kesan bahwa taman bunga ini demikian indah dan membuat perasaan menjadi tenang.

Diam-diam Tan Ki memuji dalam hati: ‘Tempat ini cocok sekali dipilih menjadi tempat menunggu kematian.’

Dia segera memilih sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu dan menjatuhkan dirinya duduk di sana.

Dia merasa berbagai macam pikiran menggelayuti dadanya. Tetapi ketika Tan Ki berusaha menyimak apa yang sedang dipikirkannya, dia malah merasa benaknya kosong melompong. Dia sendiri tidak tahu apa sebetulnya yang terpikirkan olehnya.

Keadaan yang rumit ini, merupakan hal yang belum pernah ia alami seumur hidup. Dia sendiri sampai merasa heran. Hatinya bermaksud menggerakkan hawa murni dalam tubuhnya sesuai dengan ajaran dalam kitab yang ditemukannya. Dia berpikir bahwa mungkin dengan cara demikian, perasaannya yang gundah bisa menjadi tenang. Oleh karena itu, dia segera memejamkan matanya dan mengatur pernafasan.

Siapa sangka, begitu dia mengerahkan hawa muminya, tiba-tiba dia merasa lengan kirinya nyeri bagai digigit ribuan semut. Hawa murni dalam tubuhnya pun tidak dapat mengalir dengan lancar. Tubuhnya menjadi lemas. Hatinya terkejut setengah mati. Ketika dia menundukkan kepalanya, dia melihat siku kirinya yang tadi terkena serangan Kim Yu, entah sejak kapan telah timbul bekas darah berwarna keungu-unguan. Hatinya semakin
terkesiap. Tapi warna yang menghiasi sikunya itu sangat tipis sehingga kalau tidak diperhatikan dengan seksama, maka sulit menemukannya.

Luka yang biasa dan tidak ada keistimewaannya ini, kalau bagi orang lain, tentu tidak akan menganggapnya sama sekali. Tetapi Tan Ki justru menatapnya dengan wajah penuh ketegangan. Lama kemudian baru dia pulih kembali kemudian tampak dia menarik nafas panjang. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang pahit.

‘Rupanya ilmu yang dipelajari oleh Kim Yu juga merupakan sejenis ilmu golongan sesat. Dalam kuku jarinya telah dilumuri racun keji. Sedang tubuhku ini entah diracuni oleh siapa, cepat atau lambat aku toh akan mati. Serangannya ini paling-paling hanya mempercepat kematianku saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan…’

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa dia memejamkan matanya. Kepalanya menggeleng dan berulang kali dia menarik nafas panjang. Hampir saja air matanya mengalir lagi mengingat nasibnya yang malang. Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki yang lirih yang menghampiri ke arahnya.

Saat ini perasaan hati Tan Ki sudah hambar. Malah dia sudah kehilangan kegembiraannya sama sekali. Meskipun dia tahu bahwa ada seseorang yang sedang berjalan mendekatinya, tetapi dia merasa malas membuka matanya untuk melihat sekejappun.

Terdengar suara langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat. Sekarang jaraknya paling-paling empat lima depa dari hadapannya. Kemudian langkah kaki itu berhenti.
Mungkin orang itu sudah melihat Tan Ki maka menghentikan gerakan tubuhnya.

Sekejap kemudian, terdengar lagi suara langkah tadi yang semakin jelas menghampiri tempatnya berada.

Keadaan ini membuat rasa penasaran Tan Ki bangkit juga. Oleh karena itu, dia membuka matanya sedikit dan mengintip. Tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan seruan terkejut. Kemudian wajahnya menyiratkan rona merah jambu.

Rupanya orang ini sama sekali tidak asing bagi dirinya. Justru gadis ini yang selalu membuat perasaannya menjadi jengah setiap kali bertemu, yakni Cin Ying dari Lam Hay.

Sejak hujan badai yang dialaminya tadi malam, di mana dia memperkosa Liang Fu Yong tanpa sadar. Justru dirinya sial sekali karena kepergok oleh gadis ini. Malah dia pula yang mengantarkan dua stel pakaian guna menutup diri mereka yang bugil. Teringat kembali hal yang demikian memalukan, bagaimana wajahnya tidak menjadi merah padam?

Justru ketika merasa tidak tenang karena malu setengah mati, terdengar gadis itu bertanya dengan suara yang lembut.

“Apakah kau duduk di sini menunggu kedatangan seseorang?” suaranya begitu tenang sehingga orang tidak dapat menduga apa yang tersirat dalam hatinya. Apakah dia sedang marah atau gembira.

Tan Ki menggelengkan kepalanya. “Aku sedang menunggu kematian!”

Cin Ying jadi tertegun mendengar kata-katanya. “Apa? Menunggu kematian?”
Tan Ki tertawa getir.

“Tidak salah, aku memang sedang menunggu kematian.”

Sepasang mata Cin Ying yang indah membelalak lebar-lebar. Dari dalamnya menyorot sinar yang tajam, dia memperhatikan Tan Ki dari atas kepala sampai ke bawah kaki seakan ingin menyelidiki apakah anak muda ini tiba-tiba saja menjadi kurang waras.
Sementara itu, bibirnya tetap berbicara, “Kata-katamu itu tiada ujung tiada pangkalnya. Orang yang mendengar akan sulit untuk memahami. Bagaimana kalau kau menceritakannya lebih jelas dan lihat apakah aku sanggup menolongmu…” kata-katanya terhenti sejenak, kemudian dia menarik nafas panjang. “Hawa racun yang terpancar dari dirimu tampaknya sudah mencapai taraf yang parah sekali…”

Tan Ki tertawa sumbang, “Meskipun kau bisa melihat bahwa diriku sedang keracunan, tetapi biar bagaimana kau pasti tidak dapat menghilangkan dua jenis racun yang segera menunjukkan reaksinya dalam waktu yang bersamaan.”

“Benarkah sudah separah itu?” kalau ditilik Bari nada suaranya, tampaknya gadis itu masih kurang percaya.

Tan Ki mendongakkan wajahnya dan tersenyum gagah.

“Pertama-tama ada seseorang yang meracuni tubuhku. Begitu hebatnya sampai aku pendiri tidak tahu bagaimana caranya dan ti-dak menyadarinya sama sekali. Barusan aku bertarung dengan jago dari Si Yu, akibatnya aku terkena serangan kuku beracun dari adik seperguruan Kaucu Pek Kut Kau itu. Dua jenis racun berkumpul menjadi satu dan sebentar lagi akan menunjukkan reaksinya. Meskipun aku memiliki tenaga dalam yang lebih hebat lagi, dan dapat memperpanjang umurku sampai senja nanti, tetapi tetap saja tidak sempat melihat mentari esok pagi. Apabila kedua racun ini sudah kambuh, aku pasti akan menemui ajal.”

Wajah Cin Ying lambat laun menjadi kelam. Segulung perasaan sedih tiba-tiba saja menyelimuti hatinya. Tumbuh semacam perasaan khawatir yang dalam. Air matanya mengembang lalu menetes turun membasahi pipinya.

Mendadak tampak tubuh Tan Ki bergetar hebat sekejap. Dia seolah mendadak ditinju oleh seseorang dengan keras. Sepasang alisnya bertaut dengan erat. Begitu sakitnya sehingga keringatnya mengucur dengan deras.

Melihat keadaan itu, jantung Cin Ying seakan berdegup dengan kencang. Cepat-cepat ia membungkukkan tubuhnya dan berjongkok di samping Tan Ki.

“Kenapa kau?”

“Sebentar lagi aku akan mati. Maukah kau mendengar beberapa patah perkataanku?” kata-kata ini diucapkan dengan gugup, tampaknya dia sedang menahan penderitaan yang
hebat. Selesai berkata, cepat-cepat dia memejamkan matanya dan mendekap dadanya sendiri. Nafasnya seakan mendadak menjadi sesak.

Cin Ying mengulurkan tangannya dan menempelkannya di dahi anak muda itu. Begitu tersentuh olehnya, dia merasa dahi anak muda itu panas membara bagai kobaran api. Dia bagai menyentuh besi yang dibakar di atas tungku. Hatinya tercekat bukan kepalang. Air matanya mengalir dengan deras.

“Seandainya Siangkong mempunyai kepentingan yang mendesak, harap katakan saja.
Semoga Cin Ying mempunyai kesanggupan untuk membantu…”

Mendadak Tan Ki membuka sepasang matanya. Sepasang bola matanya mengerling ke sana ke mari, kemudian perlahan-lahan dia menarik nafas panjang. Meskipun dia sudah bersiap menunggu datangnya malaikat el-maut, tetapi wajahnya saat ini menyiratkan kepanikan dan kecemasan yang tidak terkatakan. Perlahan-lahan dia mengulurkan tangannya dan mencekal pergelangan tangan Cin Ying.

“Aku sudah hidup selama dua puluh tahun lebih. Tetapi aku justru membuat banyak kericuhan di dunia Kangouw. Aku tidak takut mati, juga tidak ada hal yang perlu kuberatkan. Satu-satunya masalah yang membuat aku tidak dapat menutup mata dengan tenang, hanya karena ibuku yang malang itu. Tidak ada orang lagi yang memperhatikan dan merawat dirinya. Ketika aku berusia belasan tahun, ayahku mati secara mengenaskan. Sedangkan saat itu dia masih merupakan seorang wanita yang baru menjelang usia matang…”

Dari kata-katanya ini, Cin Ying sudah dapat menduga sedikit apa yang dimaksudkannya. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Tan Ki menggenggam tangan Cin Ying erat-erat. Tiba-tiba dia menambah sedikit kekuatannya dan menggeser tubuhnya merapat kepada gadis itu.

Melihat wajahnya yang basah oleh keringat dingin dan tampangnya yang mengenaskan itu, Cin Ying tidak tega kalau sampai tubuhnya terjatuh. Dia juga tidak ingin menambah penderitaan anak muda itu. Akhirnya terpaksa dia merentangkan sepasang lengannya perlahan-lahan dan memeluk tubuh Tan Ki.

Serangkum bau harum yang menyegarkan memencar ke mana-mana. Tan Ki malah menarik nafas panjang.

“Aku tahu hatimu pasti merasa serba salah. Tetapi sebentar lagi aku akan mati. Tidak ada orang yang dapat kutinggalkan pesan. Lagipula baru pertama kali ini aku mengajukan permohonan kepada seseorang, juga merupakan permohonan yang terakhir kalinya…”

Selama hidupnya, belum pernah Cin Ying menghadapi hal seperti ini. Juga belum pernah ada orang yang memohonnya dengan suara demikian tulus. Serangkum hawa panas bergejolak di dalam hatinya seketika. Hatinya merasa tergugah juga sekaligus diliputi kebimbangan yang tidak terkirakan..

Dia mendongakkan wajahnya menatap awan putih di atas langit. Gerakan awan itu terasa begitu lambat dalam pandangannya. Dalam hatinya dia justru berpikir: ‘Ini merupakan peristiwa yang luar biasa dan berat. Kalau aku mengabulkan permintaannya,
maka untuk seumur hidup aku harus merawat ibunya baik-baik. Aku harus menganggapnya sebagai ibu kandungku sendiri…’

Kalau didengarkan saja, tampaknya urusan ini sangat sederhana. Tetapi untuk melaksanakannya justru memerlukan tanggung jawab yang tidak kepalang tanggung beratnya.

Perlahan-lahan Tan Ki mendongakkan kepalanya. Dia melihat gadis itu sedang menatap langit dan dengan pandangan menerawang. Dia segera maklum bahwa gadis itu sedang mempertimbangkan permintaannya matang-matang. Tan Ki mempunyai kecerdasan yang melebihi orang lain. Malah dia pernah berkelana di dunia Kangouw seorang diri, meskipun usianya masih cukup muda, tetapi segala macam hal sudah pernah ditemuinya. Dia mengerti sekali bahwa orang yang tidak mudah mengucapkan janji, justru sekali mengabulkan akan melaksanakannya sebaik mungkin. Seperti sebuah palang besi yang dipantekkan dalam hatinya dan untuk selamanya tidak dapat diubah.

Dia berusaha memberontak agar tubuhnya dapat bergeser dan kemudian menyusupkan kepalanya di atas bahu gadis itu. Dengan demikian perasannya menjadi lebih tenang dan rasa sakitnya pun agak berkurang.

Justru karena dia mengerti sekali perasaan orang yang tidak mudah mengucapkan janji ini, maka dia juga tidak ingin Cin Ying mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Hatinya berpikir, asal kematian belum menjemputku dan aku bisa mendapatkan janjinya, maka semuanya sudah lebih dari cukup.

Perlahan-lahan pikirannya mulai melayang-layang. Wajahnya yang tampan malah mengembangkan seulas senyuman yang tenang. Laksana sebatang pohon siong yang dilanda gelombang badai, kemudian secara tiba-tiba dipindahkan oleh seseorang ke dalam rumah. Hatinya terasa nyaman, tenang dan tidak menyiratkan ketakutan menjelang ajal sedikitpun.

Perlahan-lahan dia menggerakkan tangannya yang lemah tidak bertenaga lalu meletakkannya di atas dadanya sendiri. Matanya terbuka lebar-lebar menatap awan putih di atas langit. Diam-diam hatinya berpikir…

‘Orang-orang di dunia ini selalu menganggap kematian sebagai suatu hal yang mengerikan. Orang yang bagaimana gagahnya pun atau pendekar yang namanya menjulang tinggi, juga tidak dapat menahan ketegangan diri dalam menghadapi kematian dan hatipun berdebar-debar. Tetapi aku malah tidak merasa takut sama sekali. Hatiku de- mikian tenteram dan tenang. Aku akan membawa seulas senyuman dan mati dalam pelukannya.’

E Tampaknya Cin Ying sudah mengambil sebuah keputusan yang besar. Dia menghembuskan nafas panjang dan menatap ke arah Tan Ki.

“Aku berjanji bahwa untuk seumur hidupku! Kini aku akan menjaga ibumu baik-baik dan menganggapnya sebagai ibuku sendiri!”

Tan Ki merasa terhibur sekali mendengar kata-katanya. Bibirnya merekahkan seulas senyuman yang manis.
“Aku tahu, kalau kau sudah berjanji maka hatimu bagai telah dipantek oleh sebuah palang besi. Meskipun lautan bisa berubah, tetapi kata-kata yang telah kau ucapkan selamanya tidak akan pernah diingkari.”

Cin Ying tersenyum datar.

“Siangkong terlalu memuji diriku.” dia berhenti sejenak. “Tetapi, sebelum aku mengabulkannya tadi, hal ini memang membuat hatiku bimbang sekali. Aku telah memikirkan banyak hal. Seumpamanya, istri yang baru kau nikahi, kau juga pernah berjanji untuk mengambil adik Cin Ie sebagai selir. Masih ada lagi Liang Fu Yong, Lok Ing… pokoknya beberapa perempuan ini. Meskipun aku telah berjanji untuk merawat ibumu, tetapi tidak pernah menunjukkan bahwa aku akan menikah denganmu, tetapi kalau hal ini sampai terdengar oleh mereka, mungkin bisa timbul gelombang badai yang dahsyat.”

“Sebelum kematian menjemput, aku dapat mendengar kata-katamu, rasanya aku pasti dapat memejamkan mata dengan tenang.”

Cin Ying tertawa datar. “Bagaimana perasaanmu saat ini?”
“Hampir. Sebentar lagi pasti aku mati.” Cin Ying mendongakkan wajahnya menatap langit.

“Apakah kau sendiri merasa bahwa jiwamu benar-benar tidak tertolong lagi?” tanyanya sendu.

“Tidak ada jalan lagi. Saat ini detik ini, biarpun ada orang yang mengantarkan obat dewa yang dapat menyembuhkan segala macam racun, tetap saja tidak mungkin dapat menawarkan dua jenis racun sekaligus.”

Terdengar suara keluhan dari mulut Cin Ying. Diam-diam dia berpikir: ‘Kalau begitu, dia sudah pasti akan mati. Meskipun tidak ada harapan sama sekali untuk menyembuhkannya, tetapi aku juga harus mengerahkan segenap kemampuan dan mencoba mencari jalan keluar…’

Tiba-tiba dia merasa sepasang lengan Tan Ki yang sedang memeluk dirinya semakin mengencang. Dalam waktu yang bersamaan, telinganya menangkap suara anak muda itu yang lirih dan lembut: ‘Maukah kau memelukku lebih erat lagi, biar aku merasakan agak tenteram?”

Nada suaranya begitu tulus dan mengandung permohonan yang dalam. Hal ini justru membuat Cin Ying merasa tidak sampai hati menolaknya. Dia menarik nafas panjang lalu menuruti permintaan Tan Ki memeluknya lebih erat lagi. Dalam waktu yang bersamaan, dia memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang.

Tiba-tiba Tan Ki merasa di dalam hatinya terdapat gejolak yang melonjak-lonjak.
Keringatnya mengucur dengan deras. Pikirannya berkata bahwa saatnya sudah hampir tiba. Perlahan-lahan dia memejamkan matanya dan berkata, “Sudah hampir, aku telah merasakannya, peluklah aku lebih erat lagi!”
Diam-diam Cin Ying juga berpikir: ‘Sebentar lagi dia akan mati, bagaimana aku masih mempersoalkan segala macam peradatan dan batas-batas duniawi sehingga membuat perasaannya terluka? Kelak apabila adik Cin Ie mengetahui urusan ini, aku yakin dia tidak akan menyalahkan diriku…’

Dengan membawa pikiran demikian, sepasang lengannya dipererat dan ia memeluk Tan Ki dengan sepenuh tenaga. Ketika dia menundukkan kepalanya memperhatikan, dia melihat tampang anak muda itu begitu tenang. Wajahnya yang tampan mengembangkan senyuman. Tidak tersirat sedikitpun rasa takut menjelang kematian. Bahkan hawa kehijauan yang terdapat di keningnya, juga entah sejak kapan, tahu-tahu sudah lenyap tidak terlihat lagi. Bahkan dia juga tidak melihat ada penderitaan yang ditahan oleh Tan Ki. Diam-diam hatinya merasa kagum sekali.

‘Jarang sekali orang yang memandang ke-matian seperti pulang ke rumah. Dia boleh dibilang seorang pemuda yang hebat. Banyak orang gagah di dunia ini, tetapi dalam menghadapi kematian, pasti terhitung jari orang yang dapat demikian pasrah dan tidak menyiratkan ketakutan sedikitpun!’

Angin musim semi yang berhembus di dalam taman membawa bau harum bunga- bungaan yang menyegarkan. Suara gerakan bambu yang berderak-derak terus merasuk ke dalam gendang telinga, berpadu dengan desah nafas Tan Ki yang berirama serta membawa serangkum hawa kelaki-lakian yang terus menerpa indera penciuman gadis itu.

Tampak cahaya mentari yang menyoroti bambu-bambu seakan menindak maju satu liangkah lagi. Diam-diam dia menghitung waktu yang terus berlalu. Rasanya mereka berdiam diri sudah ada kira-kira sepenanakan nasi lamanya.

Ketika dia mempertajam indera pendengarannya, terasa nafas Tan Ki begitu teratur dan tidak menunjukkan seperti orang yang sudah hampir mati. Malah seperti orang yang tertidur pulas dan bermimpi tentang suatu yang indah. Sudut bibirnya tetap menyunggingkan seulas senyuman.

Semakin diperhatikan, hati Cin Ying semakin curiga. Orang yang mati nafasnya pasti berhenti. Urat nadi dan jantungpun akan berhenti berdenyut. Sekarang Tan Ki justru pernafasannya begitu teratur, bibirnya masih bisa tersenyum lagi. Mana mirip dengan orang yang hampir mati. Oleh karena itu, dia segera mengguncang-guncangkan sepasang lengannya dan memanggil dengan suara rendah.

“Tan Siangkong, Tan Siangkong…!”

Perlahan-lahan Tan Ki membuka sepasang matanya dan memperhatikan Cin Ying lekat- lekat. Lamat-lamat dia membuka suara, “Apakah aku sudah mati?”

Cin Ying menggelengkan kepalanya.

“Tidak mungkin. Sedikitpun kau tidak mirip dengan orang mati.”

Tiba-tiba Tan Ki menegakkan tubuhnya dan melepaskan diri dari pelukan Cin Ying.

Sepasang matanya persis obor api dan berputar mengawasi sekelilingnya. Dia mengangkat tangannya dan mengetuk batok kepalanya perlahan-lahan. “Aneh sekali…”
Kemudian dia mengangkat tangan kanannya dan menggigitnya sedikit. Mulutnya mengeluarkan suara seruan terkejut, “Mungkinkah aku sedang bermimpi di siang bolong dan belum mati?”

Cin Ying mengeluarkan suara dengusan yang dingin dari hidungnya. Dia segera tertawa dingin.

“Kau memang belum mati, malah aku dibuat sampai berdebar-debar malah menangis seperti orang kurang waras.”

Tan Ki menarik nafas panjang.

“Di dalam tubuhku mengendap dua jenis racun yang berlainan, hal ini merupakan kenyataan. Tetapi mengapa aku tidak mati?”

Hati Cin Ying langsung tergerak. Tiba-tiba dia ingat rumus suatu ilmu pengobatan yang pernah dibacanya dalam sebuah kitab. Yakni dongan daya Kang (keras) menolak daya Im (lembut). Ada seperti tidak ada. Dirinya seperti tersentak sadar, mulutnya segera mengeluarkan seruan terkejut.

“Aku mengerti sekarang!” Tan Ki menjadi panik.
“Apa yang kau mengerti? Kalau aku memang sengaja mendustaimu, biar aku tidak mendapatkan kematian yang layak!” tampangnya tegang sekali. Dalam sekejap saja tampak keringatnya jatuh bercucuran, seperti orang yang merasa gugup sekali.

Cin Ying tertawa lebar.

“Mengapa kau jadi gugup seperti itu, aku toh tidak mengatakan bahwa kau mendustai aku!”

Tan Ki mengangkat tangannya ke atas dan mengusap keringat yang membasahi kening serta wajahnya.

“Tetapi aku tetap saja merasa heran. Mengapa aku kok bisa tidak jadi mati?”

“Dua jenis racun saling bertentangan, akhirnya malah menghilangkan daya kerja racun itu masing-masing. Kalau dalam ilmu pengobatan, hal ini disebut racun lawan racun.
Mungkin begitulah kejadiannya. Pertama-tama tubuhmu diracuni oleh seseorang, kemudian tergores kuku beracun jago dari Si Yu. Kebetulan kedua jenis racun ini memang tidak cocok satu dengan lainnya sehingga saling menggempur di dalam tubuhmu dan menimbulkan keajaiban yakni keduanya menjadi lenyap tidak berbekas…”

“Aku tahu, aku diracuni oleh orang tidak diketahui secara diam-diam dan racun itu mengandung daya Im sedangkan ilmu yang dipelajari oleh Kim Yu menggunakan racun yang mengandung daya Kang. Dua jenis racun saling menyerang, Im dan Kang saling memakan sehingga akhirnya malah musnah kedua-duanya.”

Cin Ying tertawa lebar.
“Kurang lebih begitulah penjelasannya…”

Tiba-tiba dia teringat bahwa dirinya telah mengabulkan permintaan Tan Ki, tak urung diam-diam dia menarik nafas panjang dan menghentikan kata-katanya.

Tan Ki jadi tertegun melihat sikapnya. “Kenapa kau?” tanyanya bingung.
Cin Ying memaksakan sebuah senyuman dan mengalihkan pokok pembicaran.

“Enghiong tayhwe sudah dimulai di wilayah luar kota Para jago yang ada di gedung keluarga Liu, kemungkinan besar semuanya sudah menuju ke sana. Tadinya aku berpikir akan meninggalkan adik Ie di sini dan aku akan Kembali seorang diri ke Lam Hay. Tetapi aku pernah berjanji kepada Tan Siangkong bahwa akan membantumu merebut kedudukan Bulim Bengcu dan mencarikan jalan yang baik untuk membalas dendam bagi kematian ayahmu. Oleh karena itu, terpaksa aku membatalkan maksudku dan menunggu sampai semua urusan ini selesai, barulah aku terbebas dari segala ikatan.”

Tan Ki menarik nafas perlahan-lahan.

“Rasanya aku masih segan memperebutkan segala nama kosong itu…” Wajah Cin Ying yang cantik langsung berubah mendengar kata-katanya. “Omong kosong!” dia membentak dengan suara keras.
“Bagaimana kau bisa membalas dendam atas kematian ayahmu, bagaimana kau harus menunjukkan mukamu di hadapan ibumu dan beberapa gadis yang memujamu itu? Kau boleh pertimbangkan sendiri baik-baik, aku sendiri tidak perduli apa nama besar atau bukan, pokoknya untuk perjalanan ini mau tidak mau kau tetap harus pergi!”

Tampak pergelangan tangannya memutar dan secara tiba-tiba terulur ke depan untuk mencengkeram. Kecepatannya bagai kilat, tahu-tahu tangan Tan Ki telah tercekal olehnya. Dia tidak memberi kesempatan sedikitpun kepada Tan Ki untuk memprotes, diseretnya anak muda itu dan diajaknya pergi dari sana.