Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 34

 
Bagian 34
Tepat di saat itu Tan Ki jatuh tidak sadarkan diri karena terluka parah, tiba-tiba… bayangan manusia berkelebat, hembusan angin membawa serangkum bau harum. Di hadapan Tan Ki dalam waktu yang bersamaan muncul tiga orang perempuan. Mereka adalah Ceng Lam Hong, Liu Mei Ling dan Lok Ing. -

Saat itu Yibun Siu San juga segera, melesat datang dan berhenti di samping Ceng Lam Hong. Begitu matanya memandang, dia melihat wajah Tan Ki sudah berubah pucat pasi. Di Bagian keningnya bagai ada guratan garis berwarna hijau. Sepasang matanya terpejam rapat. Nafasnya lemah sekali. Seakan setiap saat setiap detik nafasnya itu bisa berhenti secara mendadak.

Tetapi telapak tangan kanannya tetap menggenggam pedang sulingnya erat-erat. Keadaan yang mengenaskan ini membuat ketiga perempuan itu menguraikan air mata dengan deras. Hanya perasaan hati merekalah yang berbeda-beda.

Ceng Lam Hong mendongakkan wajahnya menatap Yibun Siu San. Air matanya masih mengalir dengan deras.

“Lukanya parah sekali, bukan?”

Yibun Siu San menarik nafas panjang.

“Bukan hanya parah saja, tetapi di dalam tubuhnya juga mengendap sejenis racun yang ganas.”

Kata-katanya ini bagai petir yang menyambar di siang bolong. Hati Ceng Lam Hong sampai tergetar mendengarnya. Tubuhnya langsung sempoyongan lalu terkulai pingsan di atas tanah!

Di pihak lain, Mei Ling sejak kecil biasa hidup dimanja. Selamanya dia belum pernah menghadapi kejadian seperti ini. Melihat Ceng Lam Hong tiba-tiba jatuh pingsan, dia menjadi panik sehingga aliran darahnya seperti bergejolak. Tetapi dia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Untuk sesaat dia menjadi kalang kabut dan malah berdiri sambil menangis kebingungan.

Untung saja gerakan Lok Ing cukup gesit. Tubuhnya segera melesat ke depan serta mengulurkan tangan merangkul. Dengan sigap dia berhasil menangkap tubuh Ceng Lam Hong yang hampir terkulai di atas tanah.

Yibun Siu San menarik nafas perlahan-lahan. Dia seperti bergumam terhadap dirinya sendiri.

“Pertarungan ini telah membuat namanya jadi terkenal.”

Apabila ditilik dari kata-katanya, dia memang mengatakan secara langsung bahwa pertarungan ini telah menggetarkan dunia Bulim dan menjadi perhatian khalayak ramai tetapi seakan mengandung makna bahwa di dunia Bulim kembali muncul seorang tunas muda yang akan menjadi harapan bangsa. Xiu Mei Ling masih menangis tersedu-sedu.

Dia toh sudah hampir mati, apa gunanya mempunyai nama terkenal?”
Suaranya begitu sendu sehingga lebih mirip ratapan seorang gadis yang ditinggal mati kekasihnya. Orang yang mendengarnya pasti akan turut merasa sedih.

Yibun Siu San meliriknya sekilas. Kembali dia menarik nafas panjang. Namun dia tidak mengatakan apa-apa. Dengan perasaan Liu Mei Ling berteriak, “Siok Siok, carilah jalan keluar untuk menolongnya, sebentar lagi dia akan mati…!”

Yibun Siu San malah menukas kata-katanya dengan gumaman yang tidak jelas, “Benar, dia sudah hampir mati…”

Dia tidak ingin mengatakan bahwa luka yang dialami Tan Ki sudah sedemikian parah sehingga mirip lampu yang hampir kehabisan minyak. Meskipun dirinya sendiri mempunyai pengetahuan yang cukup luas tentang ilmu pengobatan, tetapi dia juga merasa tidak punya kesanggupan menyembuhkan keponakannya itu. Akhirnya dia hanya bisa menggumamkan kata-kata yang tidak berujung pangkal.

Tiba-tiba tampak Lok Ing meletakkan tubuh Ceng Lam Hong di atas tanah, tangannya terulur ke dalam saku pakaian dan dikeluarkannya sebuah botol kumala berukuran kecil. Dia membuka tutup botol tersebut kemudian dengan hati-hati menuangkan seluruh isinya lalu dimasukkannya ke dalam mulut Tan Ki.

Yibun Siu San langsung mengerutkan alisnya melihat tindakan gadis itu. “Benda apa itu?”
Lok Ing tersenyum simpul.

“Isi botol ini merupakan obat penyembuh luka yang paling manjur dari Ti Ciang Pang kami. Satu butir saja sudah cukup untuk menyambung kembali tulang yang putus maupun urat nadi yang tergetar. Bahkan dapat membangkitkan kembali tenaga dalam yang lemah. Sekarang aku menuangkan isi seluruh obat dalam botol ini, meskipun orang yang penyakitnya sudah parah sekali, juga pasti bisa bangun kembali dan bergerak dengan leluasa. Malah lebih sehat dari orang umumnya.”

Sepasang mata Mei Ling langsung bersinar terang. “Benarkah obatmu demikian manjur?” tanyanya gugup. Lok Ing tertawa datar.
“Selamanya aku tidak pernah melakukan hal yang diriku tidak merasa yakin. Juga tidak suka mengucapkan kata-kata yang merupakan bualan saja.”

Dia berhenti sejenak. Matanya menyorotkan sinar yang sendu. Kemudian perlahan- lahan meneruskan kembali kata-katanya. “Tetapi, biar bagaimana dia tetap akan mati juga.”

“Apa?” teriak Mei Ling tanpa sadar. Tubuhnya langsung bergetar hebat. Lok Ing tertawa lebar.
“Seseorang hidup di dunia ini mempunyai batas tertentu. Lewat dari usia enam puluh, manusia setiap saat ada kemungkinan dijemput maut. Tetapi aku berhasil mendapat sedikit pengetahuan dari berbagai kejadian yang pernah kualami. Aku menemukan bahwa di dalam tubuh seseorang pasti ada semacam tindakan refleksi yang mengandung kekuatan untuk hidup. Umpamanya, orang yang sudah mati, dalam waktu beberapa hari kukunya tetap dapat tumbuh menjadi panjang. Seperti inilah rumusnya. Kalau kita kembali lagi kepadanya, luka yang diderita Tan Ki sudah parah sekali. Hanya tersisa sedikit denyutan jantung saja. Tetapi karena aku mencekoki obat dalam dosis yang tinggi, hal ini membuat gerak refleksi dalam dirinya jadi tergugah, emosinya pasti akan meluap seketika. Biarpun lukanya lebih parah dari sekarang, asal nadinya masih ada denyutan, tentu bisa menghidupkan dia untuk sementara. Dengan kata lain semangat hidupnya akan kembali untuk beberapa waktu.”

Mendengar penjelasan Lok Ing yang pan jang lebar, Mei Ling yang pada dasarnya masih polos dan tidak mempunyai banyak pengetahuan merasa apa yang diuraikannya, sejak jaman purba sampai sekarang tidak pernah mendengar hal semacam itu. Tanpa dapat dipertahankan lagi dia malah jadi termangu-mangu.

Sesaat kemudian, dia baru bertanya, “Kalau begitu, mengapa dia tetap akan mati?” Lok Ing kembali tersenyum simpul.
“Kalau dia sadar kembali nanti, berarti karena dibantu oleh obat yang ditelannya tadi. Apabila reaksi obat itu sudah habis, maka seperti lampu yang sudah kehabisan minyak, bagaimana masih bisa menyala? Otomatis kekuatan hidupnya juga padam dan diapun tidak dapat hidup lebih lama lagi.”

Mendengar ucapannya, Mei Ling seperti merasa dadanya ditinju dengan keras, seluruh tubuhnya bergetar dan wajahnya pun berubah hebat.

“Kalau begitu, dia… tidak mempunyai harapan lagi walau setitik saja?” “Tentu saja itu yang kumaksudkan.”
Hati Mei Ling menjadi pedih. Dua baris air mata mengalir dengan deras. Untuk sekian lama dia berdiri tertegun tanpa mengucapkan apa-apa.

Tampangnya saat itu persis seperti sebuah patung dewi yang suci. Tubuhnya berdiri tegak, wajahnya anggun dan demikian welas asih. Siapa yang sangka kalau saat ini hatinya persis seperti sebuah perahu yang karam di hantam ombak. Hancur berderai menjadi kepingan-kepingan kecil…

Tiba-tiba terdengar suara pukulan dan suitan nyaring. Entah sejak kapan Yibun Siu San sudah mulai bergebrak dengan kedua manusia berpakaian hitam tadi.

Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin Mei Ling mengurusi persoalan yang lain.
Terdengar suara tangisannya yang terisak-isak.

“Kau… kau… sungguh… keji… sekali…” perasannya yang bergejolak menandakan kepedihan karena harapan yang kandas. Hal ini membuat ucapannya jadi tersendat-sendat seakan memerlukan tenaga yang kuat untuk mengatakannya.
Lok Ing tersenyum lembut, “Tadi malam adalah saat di mana kalian (menyembah langit dan bumi serta mengikatkan diri menjadi suami isteri. Ratusan tamu berdatangan dari segala penjuru Bulim. Tambur berbunyi terus memeriahkan suasana. Bayangkan bagaimana hebatnya penampilan kalian saat itu, bahkan membuat perasaan orang menjadi iri. Sekarang apabila dia masih hidup di dunia ini, biar kapanpun dia tetap merupakan milikmu. Sedangkan bagi diriku, juga sulit menyatakan bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Kalau aku ingin mendapatkan dia, satu-satunya jalan hanya menunggu sesudah mati. Oleh karena itu…”

Mei Ling cepat-cepat menukas, “Oleh karena itu kau menggunakan cara ini agar dia celaka?”

Lok Ing tertawa lebar.

“Aku tidak ingin mencelakai siapapun. Tetapi kalau ditilik dari lukanya yang demikian parah, dan nafasnya yang tinggal satu-satu, waktunya juga tidak seberapa lama lagi.
Lebih baik bangkitkan sisa kekuatannya dan bantu dia mendapatkan nama besar di dunia Bulim. Dengan demikian, kemungkinan ia dapat meninggalkan segurat cahaya yang cemerlang dan bayangkan berapa banyak orang gagah yang akan mengenang dirinya dan menghormatinya…”

Ketika berbicara sampai Bagian yang menyenangkan, tanpa sadar bibirnya tersenyum.
Namun senyum itu begitu menyayat hati.

Tampak wajahnya yang tenang tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Dengan demikian orang yang melihatnya tidak dapat menebak apakah dia sedang bergembira atau bersedih. Tetapi sepasang matanya justru menyorotkan sinar tekadnya yang bulat. Hal ini membuktikan bahwa gadis yang selalu malang melintang di daerah Sai Pak ini tampaknya sudah mempunyai rencana yang matang setelah kematian Tan Ki. Dia tidak takut anak muda itu akan mati dan memberikan pukulan bathin yang hebat kepadanya. Juga tidak takut perasaan hatinya sejak sekarang hanya akan menjadi sebuah harapan yang menggantung dalam angan-angan.

Tiba-tiba tampak wajah Mei Ling berubah hebat.

“Aku akan mengadu jiwa denganmu!” katanya garang.

Telapak tangannya bergerak, telapak tangan kiri menggunakan kesempatan itu mendesak ke depan. Dengan jurus Lima Geledek Sekali Sambar, dia melancarkan sebuah serangan dengan keji.

Suara pukulan yang dahsyat seperti gunting menyobek kain panjang sehingga membuat telinga menjadi ngilu mendengar.

Tubuh Lok Ing bergeser sedikit lalu mencelat ke samping sejauh lima langkah. Deruan angin yang keras melintas lewat di ujung pakaiannya. Tampak bibirnya menyunggingkan seulas senyuman yang manis.
“Diantara kita toh tidak ada dendam apa-apa, mengapa harus mengadu jiwa segala?” “Kau sudah mencelakai Tan Koko, aku tidak mempunyai gairah untuk hidup sendiri di
dunia ini!” sahut Mei Ling ketus.

Lok Ing mendengus satu kali dengan nada dingin dan kecut.

“Dari pada mengadu jiwa dengan diriku sampai mati, lebih baik bunuh diri saja, toh lebih mudah.”

Mei Ling menganggukkan kepalanya sambil menangis pilu.

“Aku akan melakukannya. Aku akan membunuh diriku sendiri dan menemani kematian Tan Koko. Aku tidak ingin sukmanya kesepian di alam baka. Tetapi sebelum aku menutup mata, aku harus membalaskan dendam dulu bagi Tan Koko!”

Lok Ing mendongakkan kepalanya menatap awan yang berarak di langit. Perlahan- lahan dia berkata.

“Kau ingin balas dendam atau tidak, dan menggunakan cara yang bagaimanapun, sama sekali tidak ada hubungannya dengan diriku. Tetapi setelah dia mati, aku akan mencarikan sebuah tempat yang tenang serta terpencil untuk mengubur dirinya. Lalu akan kubangun sebuah makam yang besar sekali agar sukmanya dapat terhibur. Kemudian…”

Mei Ling melihat mimik wajahnya yang seperti tersenyum namun mengandung kesedihan yang dalam. Sehingga menyiratkan keanehan yang tidak dipahaminya. Namun kata-kata yang diucapkannya demikian tegas. Untuk sesaat dia jadi bingung.

“Kemudian bagaimana?”

“Aku akan mengenakan pakaian berwarna putih dan kerudung kepala berwarna putih pula. Dari dalam aku akan mengunci pintu makam besar itu, lalu aku akan menemani di sampingnya, siang dan malam menunggu waktu terus berlalu. Aku akan terus menjaganya, melihat wajahnya melihat seluruh Bagian dari dirinya sampai ajal menjemputku…”

Tanpa terasa tubuh Mei Ling bergetar. Dia benar-benar terkejut sekali. Meskipun pada, dasarnya dia adalah seorang gadis polos yang tidak pernah mempunyai pikiran licik, tetapi dia tetap merasa bahwa apa yang dikatakan Lok Ing terlalu gila-gilaan. Di dunia ini mana ada orang yang menutup dirinya sendiri di dalam sebuah kuburan raksasa dan menemani sesosok mayat selama hidupnya?

Rencana yang gila dan luar biasa ini, memang merupakan suatu peristiwa yang hampir tidak pernah ditemui sejak dulu sampai saat sekarang ini. Namun justru dari rencananya ini, Mei Ling dapat mengetahui sampai di mana dalamnya perasaan cinta Lok Ing terhadap suaminya!

Setelah tertegun beberapa saat, akhirnya Mei Ling menarik nafas panjang. “Cici, aku sungguh kagum kepadamu.”
“Kau tidak merasa marah kepadaku?”

Mei Ling menggelengkan kepalanya, bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang getir tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tampangnya sungguh mengenaskan,
mengandung kesenduan yang tidak terkirakan. Sudah pasti, dia merasa sakit dan menyesal atas nasib Tan Ki yang malang.

Melihat gadis itu berdiam diri sekian lama, akhirnya Lok Ing juga menarik nafas panjang. Perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi.

Mei Ling segera berteriak. “Kau mau ke mana?”
“Aku tidak ingin melihat dia bersedih menjelang kematian. Setelah nafasnya putus, aku akan kembali lagi mengurus mayat membangun makam…” mulutnya menjawab pertanyaan Mei Ling, namun dia terus melangkah dengan tidak menolehkan kepala sekalipun.

Mei Ling merenung sejenak. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan dia langsung mengejar ke depan.

“Cici…!” panggilnya. “Ada apa?”
“Ketika kau membangun makam nanti, bisakah kau menyediakan tempat yang agak besar sedikit saja?”

Lok Ing jadi tertegun mendengar kata-katanya. “Untuk apa?”
“Aku juga ingin tinggal di dalam makam itu!”

Mendengar ucapannya, Lok Ing langsung mendongak menatap langit dan tertawa lebar.

“Bagus sekali, berarti tambah satu orang lagi yang menemani Tan Ki!”

Sembari bercakap-cakap, mereka berjalan semakin jauh, akhirnya bayangan merekapun tidak kelihatan lagi.

Beberapa saat kemudian…

Terdengar suara keluhan dari mulut Tan Ki. Lambat laun matanya membuka, dua bola matanya yang telah pudar sinarnya langsung mengedar ke sekeliling. Tiba-tiba dia melonjak bangun.

Dia merasa ada segulung hawa panas yang mengalir dalam perutnya lalu berpencar ke seluruh urat nadi di tubuhnya. Tanpa dapat ditahan lagi keringat terus menetes saking panasnya. Dia tidak tahu Lok Ing telah mencekokinya obat dalam jumlah yang banyak sehingga menimbulkan keadaan demikian. Sekarang ini, dia hanya merasa aneh.

Begitu matanya memandang, dia melihat tiga sosok bayangan saling berkelebat dan bertarung dengan sengit. Hal ini merupakan pertarungan antara jago-jago kelas tinggi
yang jarang terlihat. Sepasang telapak tangan Yibun Siu San yang kosong menghadapi dua jago kelas satu dari Si Yu. Apabila ingin meraih kemenangan dalam waktu yang singkat, tentu bukan merupakan hal yang mudah.

Perlahan-lahan Tan Ki mengedarkan kembali pandangan matanya dan menatap ibunya yang masih dalam keadaan pingsan terkulai di atas tanah. Setelah memperhatikan sejenak, di dalam hatinya tiba-tiba muncul perasaan kagum yang dalam. Dia merasa manusia hidup di dunia ini, apabila dapat merasakan kasih sayang seorang ibu, tentu merupakan peristiwa yang paling membahagiakan. Tetapi setelah dipikirkan kembali, tanpa terasa dia tertawa getir. Dirinya merupakan calon orang mati, meskipun dapat merasakan kebahagiaan, tetapi tetap saja tidak dapat menyelamatkan keadaannya yang sudah di ambang ajal. Kalau kebahagiaan yang sejenak akan meninggalkan penderitaan yang tidak terkirakan bagi ibunya, untuk apa?

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa sekali lagi dia menarik nafas panjang. Tampangnya menyiratkan kepedihan hatinya yang dalam.
Tiba-tiba, dia menggertakkan giginya erat-erat. Tubuhnya mencelat ke atas lalu menerjang ke tengah arena.

Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga, bayangan manusia berkelebat dan berpencaran dalam waktu yang bersamaan.

Rupanya pukulan yang dilancarkan oleh Tan Ki dari udara telah membuat ketiga orang yang sedang bertarung dengan sengit jadi terpencar. Kekuatan yang dahsyat dari pukulannya sampai membuat Kaucu Pek Kut Kau itu mengerutkan alisnya. Bibirnya sudah bergerak-gerak namun dia tidak jadi mengatakan apa-apa.

Tan Ki mengeluarkan suara batuk-batuk kecil. Kemudian dia membalikkan tubuhnya ke arah Yibun Siu San.

“Sam-siok, biar aku yang menyelesaikan pertarungan ini!”

“Lukamu parah sekali, bagaimana mungkin kau sanggup melawan jago- jago dari Si Yu itu?”

“Tidak apa-apa. Aku sudah bersiap untuk duel sampai mati. Ini merupakan pertarunganku yang terakhir. Biar bagaimana ada awal harus ada akhirnya. Pokoknya aku akan bertarung sampai titik nafas yang terakhir!”

Yibun Siu San tidak langsung menjawab. Sesaat lamanya dia merenung.

“Mati hidup seseorang sudah ada takdirnya. Biarpun orang gagah dan pendekar besar juga pasti akan mengalami kematian. Siok-hu tidak perlu berpikir lama-lama lagi. Ibuku sedang tergeletak pingsan di sana. Harap Siok-hu mengurusnya sebentar. Apabila aku sudah mati nanti…”

Tiba-tiba dia tertawa pilu dan membungkam seribu bahasa.

Yibun melirik ke arahnya sekilas. Setelah menarik nafas dalam-dalam, akhirnya dia mengundurkan diri.
Suasana saat ini masih demikian tenang namun sebetulnya mengandung hawa pembunuhan yang berat sekali!

Mata orang-orang gagah yang hadir di tempat itu semuanya terpusat pada diri Tan Ki.
Sikap mereka serius sekali!

Mereka semua sudah tahu bahwa luka yang dialami Tan Ki sangat parah. Dan dia tetap berkeras hati ingin melawan dua jago dari Si Yu itu.

Tiba-tiba… cahaya golok berkelebat, kedua manusia hitam yang berwajah jelek dan bertubuh gemuk pendek itu serentak mengeluarkan sebuah kaitan yang panjangnya kurang lebih tujuh cun. Mereka berdiri berdampingan.

Tan Ki tersenyum simpul. Perlahan-lahan dia melangkah maju mendekati mereka.
Gerakan kakinya begitu lambat. Tetapi setiap tindakannya yang berat seakan mengandung hawa pembunuhan yang berat sehingga sikap mereka menjadi tegang.

Tiba-tiba manusia berpakaian hitam yang berdiri di sebelah kanan menggetarkan kaitan di tangannya. Timbul secarik cahaya bagai pelangi.

“Berhenti!” teriaknya.

Tan Ki seolah tidak melihat cahaya yang menimbulkan hawa dingin itu. Dia tetap melangkahkan kakinya dan berjalan mendekati mereka.

Kedua manusia berpakaian hitam itu merupakan orang-orang yang wataknya keras sekali, tetapi selamanya belum pernah melihat orang yang demikian tenang seperti Tan Ki. Untuk sesaat keduanya jadi tertegun kemudian tiba-tiba mengeluarkan suara suitan yang keras dan membentak, “Kalau kau berani maju satu langkah lagi, jangan salahkan kalau aku bertindak kejam!”

Wajah Tan Ki yang tampan tetap mengembangkan senyuman. Terang-terangan dia tahu manusia berpakaian hitam itu akan mengatakan sesuatu, dia malah memalingkan wajahnya ke arah yang lain. Kakinya terus melangkah, sama sekali tidak tergesa-gesa dan sikapnya santai sekali seakan bukan sedang berhadapan dengan musuh.

Hawa amarah dalam hati manusia berpakaian hitam itu jadi meluap. Dia menolehkan kepalanya melirik sekilas ke arah rekannya dan secara diam-diam mengerahkan tenaga dalam untuk menjaga segala kemungkinan.

Kedua orang ini sudah menjadi rekanan sekian lama, dengan demikian mereka sudah dapat memahami perasaan hati masing-masing. Begitu melihat lirikan itu, rekannya sudah mengerti rencana apa yang ada dalam hatinya.

Melihat Tan Ki yang berjalan semakin mendekat ke tempat mereka, tiba-tiba manusia berpakaian hitam yang melirik kepada rekannya tadi memperdengarkan suara tertawa yang dingin. Diam-diam dia mengerahkan tenaga sebanyak tujuh Bagian dan lengannya digetarkan sehingga menimbulkan guratan cahaya yang memijar bagai titik-titik hujan lalu meluncur lurus ke depan menyerang Tan Ki!

Serangan ini keji sekali. Cahaya golok yang beterbangan dan berpercikan menimbulkan sinar sejauh beberapa mistar. Mata Tan Ki mengerling sekilas, sikapnya tetap tenang
seolah tidak ada apa-apa yang mengejutkan. Telapak tangan kirinya mengibas ke depan, langsung terasa ada segulungan angin kencang menerpa keluar dan serangan golok lawannya pun tertahan serta tidak sanggup mendesak lebih jauh lagi.

Manusia berpakaian hitam itu merasa kaitan golok di tangannya bagai ditekan oleh gelombang yang kuat. Jangan kata dia berhasrat menusukkannya ke depan, bahkan menggerakkannya sedikit saja tidak bisa. Diam-diam hatinya merasa tercekat dan dengan panik dia menarik nafas dalam-dalam lalu menggeser langkah kakinya mengegos ke samping. Telapak tangannya terulur dan dengan posisi menahan di depan dada, dia menghantamkan sebuah pukulan ke dada Tan Ki.

Tan Ki memperdengarkan suara tawa yang dingin. Tubuhnya miring ke samping dan dengan gerakan yang lincah serta gesit dia menerobos keluar.

Pada saat ini dia sudah tidak memperdulikan mati hidupnya lagi. Seluruh ilmu yang dikuasainya dikerahkan sehebat mungkin. Gerakan tubuhnya barusan ternyata ajaib sekali dan dalam waktu yang bersamaan dia menghindarkan diri dari serangan pukulan dan kaitan golok lawannya.

Tampak tubuhnya berputaran sebanyak dua kali dan entah bagaimana tahu-tahu dia berputar ke Bagian punggung manusia berpakaian hitam tersebut.

Orang itu sungguh tidak menyangka kalau gerakan tubuh Tan Ki demikian hebat dan tidak terduga-duga. Tanpa dapat dipertahankan lagi dia jadi terpana. Tiba-tiba dia merasa ada segulung angin tajam yang timbul dari pedang seseorang menyerang ke arah punggungnya.

Rasa terkejutnya kali ini benar-benar di puncaknya. Hatinya berpikir untuk menghindar, tetapi tidak ada kesempatan lagi. Bayangan kematian segera melintas di benaknya!

Tiba-tiba terdengar rekannya mengeluarkan suara dengusan yang dingin. Kakinya bergerak ke depan setengah langkah dan pergelangan tangannya mengibas, timbullah cahaya yang memijar lalu meluncur lurus kepada Tan Ki. Kecepatan gerakannya persis seperti kilat yang menyambar. Dalam sekejap mata sudah sampai ke depan.

Apabila Tan Ki tidak mengerahkan jurus untuk menangkis dan tetap meneruskan serangannya membunuh manusia, berpakaian hitam yang pertama, otomatis dia juga terkena serangan manusia berpakaian hitam yang kedua.

Dalam keadaan seperti ini, mau tidak mau Tan Ki harus menempuh bahaya untuk meraih

kemenangan. Dengan cepat dia mengempos hawa murninya, pedang suling ditangannya dihentakkannya ke atas dan dengan jurus Kembali Ke Jalan Semula, dia meluncurkan sebuah totokan dengan ujung pedangnya itu.

Jurus ini merupakan jurus keempat dari Te Sa Jit-sut yang baru dipelajarinya.
Kecepatannya hebat bukan main, meskipun orang itu sudah berhasil menyelamatkan rekannya dari bahaya dengan melakukan serangan secara tidak terduga-duga, tetapi tetap Bagian bahunya tertotok oleh ujung pedang yang dilancarkan Tan Ki. Tubuhnya terasa kesemutan dan setelah mengeluarkan suara aduhan, seluruh tenaganya menjadi lenyap dan orangnya pun terkulai di atas tanah.

Hampir dalam waktu yang bersamaan, telapak tangan kiri Tan Ki ikut bergerak.
Sementara tangan kanannya yang menggenggam pedang suling menotok ke arah orang yang membokongnya. Masih dengan jurus Kembali Ke Jalan Semula yang belum selesai dijalankannya, jari tangan kiri mengirim sebuah totokan kembali.

Manusia berpakaian hitam yang pertama baru mendapat pertolongan dari rekannya sehingga terlepas dari maut. Tetapi dia sungguh tidak menyangka kalau sejurus serangan Tan Ki dapat menggempur dua orang sekaligus. Tanpa dapat dipertahankan lagi, dia jadi terkesima. Belum lagi tubuhnya sempat bergerak, jalan darahnya sudah tertotok.
Terdengar suara dengusan satu kali, tubuhnya pun ikut terkulai di atas tanah.

Begitu turun tangan, ternyata dalam waktu yang singkat Tan Ki berhasil menotok rubuh dua manusia berpakaian hitam yang sejak tadi sulit dikalahkan oleh Yibun Siu San. Jangan kata orang lain, dirinya sendiri sampai termangu-mangu karena benar-benar merasa hal itu di luar dugaannya sama sekali.

Saat ini dia baru menyadari bahwa ilmu Te Sa Jit-sut benar-benar mempunyai kehebatan yang istimewa. Pengaruh kekuatannya sampai-sampai tidak terduga oleh dirinya sendiri. Otomatis kepandaiannya yang tinggi telah membuat orang-orang dari kedua pihak merasa terkejut setengah mati.

Tampak Yibun Siu San menarik nafas dalam-dalam. Dia seperti bergumam kepada dirinya sendiri, “Dia benar-benar perkasa!”

Dia seperti teringat akan sesuatu hal. Matanya terpejam dan ia mengatur pernafasannya sejenak. Kemudian dia mendekatkan telapak tangannya ke arah punggung Ceng Lam Hong dan membantunya agar lebih cepat tersadar kembali.

Tetapi sepasang matanya tetap mengawasi gerak-gerik Tan Ki. Dia melihat anak muda itu berdiri tegak di tempatnya dengan menggenggam suling pedangnya erat-erat.
Sikapnya seperti jendral-jendral besar yang sering terlihat di lukisan-lukisan orang-orang terkenal.

Sikap Tan Ki yang anggun dan berwibawa ini justru membuat pihak jago-jago Si Yu menjadi semakin tidak tenang hatinya.

Kaucu Pek Kut Kau sendiri melihat orang-orang dari pihaknya satu per satu berjatuhan tanpa bisa bangun kembali. Dari pihak lawan hanya Oey Ku Kiong seorang yang terluka. Perbandingan yang jauh ini benar-benar membuatnya kehilangan muka. Hawa amarah dalam dadanya terasa hampir meledak. Oleh karena itu dia segera mendengus dingin dan membisikkan beberapa patah kata di telinga Kim Yu. Dia sendiri lalu berjalan menghampiri anak buahnya yang terluka guna memberikan pertolongan.
Tampak bayangan berkelebat dan Kim YU sudah melesat keluar dari tempatnya. Orang ini merupakan adik seperguruan dari Kaucu Pek Kut Kau. Gerakan dan tindak-
tanduknya tentu tidak dapat disamakan dengan yang lainnya. Baru saja terdengar suara
angin yang berdesir, tahu-tahu orangnya sudah berdiri di hadapan Tan Ki.

Suasana semakin tegang.
Di udara bagai ada serangkum hawa yang pengap menyelimuti suasana yang sudah mencekam itu. Tekanan hawa itu begitu hebat sehingga dada setiap orang terasa sesak dan sulit bernafas. Tanganpun mengeluarkan keringat dingin.

“Kau dan aku sudah pernah bergebrak di dekat kuil tua Bagian luar kota. Apakah kau masih mengingatnya?”

“Tidak salah. Buat apa kau menanyakan kembali hal itu?”

Tampak pergelangan tangan Tan Ki memutar. Dia menekan masuk pedangnya ke dalam suling lalu menyelipkannya di ikat pinggang.

“Bukankah waktu itu kau sedang merundingkan gabungan dua pihak dengan seorang perempuan?” mungkin Tan Ki memang bermaksud agar kata-katanya didengarkan oleh orang-orang gagah. Oleh karena itu suara bicaranya makin lama makin keras. Caranya bertanya juga sangat ketus.
Kim Yu mengangkat sepasang bahunya dan mengembangkan senyuman yang licik. “Pertanyaanmu aneh sekali. Benar-benar membuat orang bingung bagaimana harus
menjawabnya.” katanya acuh tak acuh.

Tan Ki mendengus satu kali.

“Kalau aku tidak memaksamu dengan ilmu silat, mungkin kau masih belum bersedia menjawabnya!”

Selesai berkata, tanpa memberi kesempatan sedikitpun kepada Kim Yu, telapak tangannya langsung bergerak dan diapun melancarkan dua buah pukulan secara berturut- turut.

Secara tidak terduga-duga, Tan Ki melancarkan serangan. Gerakannya bagai kilat dan mengandung kekuatan yang dahsyat serta melanda keluar dengan keji.

Tiba-tiba terasa ada hawa dingin yang menyelimuti sekitar tempat itu. Suaranya bagai badai yang mengamuk dan serangannya bagai ombak yang bergulung-gulung. Kim Yu melihat dia melancarkan dua buah

pukulan sekaligus, di sekitarnya timbul bayangan telapak tangan dalam jumlah yang tidak terhitung sehingga mirip hujan yang deras yang tiba-tiba tercurah dari langit dan dalam sekejapan mata sudah sampai di hadapannya. Tanpa terasa hatinya jadi tergetar.

Diam-diam hatinya berpikir: ‘Sungguh pukulan yang ajaib dan dahsyat!’

Tampak tubuhnya berputar setengah lingkaran, kemudian dengan mudah menerobos keluar dari kepungan bayangan telapak tangan itu. Gerakannya ini begitu gesit dan lincah laksana seekor kelinci. Berkelebatnya bagai kilat. Secara berturut-turut Tan Ki melancarkan dua buah pukulan, tiba-tiba pandangannya menjadi pudar dan tahu-tahu dia gagal mencapai sasarannya.

Kali ini giliran hati Tan Ki yang tercekat. Dua jurus yang dikerahkannya tadi merupakan ilmu pusaka yang dia dapatkan dari goa makam leluhur Ti Ciang Pang. Cara turun
tangannya bukan saja mengandung kecepatan yang hebat sekali, tetapi perubahannya sangat aneh. Dalam satu jurus saja mengandung tiga perubahan. Bayangkan saja sampai di mana kedahsyatannya? Sedangkan Kim Yu dapat mengelakkan diri dari serangan itu dengan demikian mudah. Bagaimana hatinya tidak menjadi tercekat?

Tan Ki tertegun sesaat, kemudian mulutnya memperdengarkan suara tertawa yang dingin.

“Gerakan tubuh Saudara benar-benar membuat orang kagum. Bagaimana kalau sambut lagi sebuah seranganku ini!”

“Jangan kata satu buah serangan, biar sepuluh atau seratus kali, juga tidak sanggup mengapa-apakan diriku!” sahut Kim Yu angkuh.

Mendengar kata-kata, api kemarahan dalam dada Tan Ki jadi berkobar-kobar. Dia membentak dengan suara keras, telapak tangannya memutar dan secepat kilat meluncurkan sebuah pukulan.

Tan Ki teringat akan dirinya yang telah keracunan parah sehingga dia sendiri tidak tahu kapan racun itu akan bereaksi. Oleh karena itu dia bertekad untuk menjalankan pertarungan kilat. Serangannya kali ini mengandung kekuatan tenaga dalamnya sebanyak delapan Bagian. Serangkum angin yang kencang langsung menghantam ke depan bagai ombak yang bergulung-gulung.

Dalam waktu yang bersamaan Kim Yu juga meraung keras dan meluncurkan sebuah pukulan ke depan.

Saat yang hanya sekejapan mata…

Hati orang-orang gagah langsung ikut tertekan!

Terdengar suara benturan dua kekuatan yang menggelegar memecahkan keheningan.
Kim Yu langsung tergetar mundur sejauh tiga langkah. Sedangkan tubuh Tan Ki yang kekar tidak bergerak sedikitpun. Sekali lihat saja sudah dapat dipastikan bahwa kekuatan Kim Yu masih kalah setingkat dengan anak muda itu.

Tan Ki sedang terluka parah. Darimana datangnya kekuatan begitu besar sehingga sanggup membuat Kim Yu tergetar mundur?

Rupanya Lok Ing mencekokinya dengan obat mujarab dalam jumlah yang banyak. Dan kebetulan semuanya bekerja pada saat yang tepat. ,Tenaga dalam Tan Ki yang mulai melemah akibat lukanya yang parah seakan dibangkitkan oleh daya kerja obat itu sehingga tiba-tiba menjadi kuat dan tenaga dalamnya jadi berlipat ganda.

Orang-orang gagah yang hadir di tempat itu tentu saja tidak tahu sebab musababnya. Hampir serentak mereka merasa terkesiap. Mereka bagai melihat sesuatu yang ajaib tiba- tiba muncul di hadapan mereka.

Sementara itu, Kim Yu menggertakkan-giginya erat-erat dan mengerahkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh.

“Kau juga coba sambut pukulanku ini!” bentaknya.

Baru saja kata-katanya selesai, kakinya melangkah maju setengah tindak. Jari tangannya menekuk bagai kaitan sehingga menimbulkan suara suitan dan tanpa menunda waktu lagi, lima jari tangannya menyerang dari atas ke bawah!

“Bagus sekali!” bentak Tan Ki.

Pinggangnya meliuk dan secepat kilat dia meloloskan diri dari serangan lawan. Gerakan tubuhnya yang demikian cepat benar-benar mengejutkan Kim Yu. Gerak langkah maupun kecepatannya begitu luar biasa, ringan dan ajaib. Orang yang melihatnya sampai merasa matanya berkunang-kunang.

Kali ini, tentu giliran Kim Yu yang terkesiap. Serangan dan gerak langkah lawannya begitu hebat sehingga sekali lihat saja ia dapat menduga bahwa anak muda ini bukan tokoh sembarangan. Apabila ingin mengalahkannya tentu bukan hal yang mudah dilakukan.

Gebrakan kedua orang ini, meskipun baru beberapa jurus, tetapi dalam hati masing- masing sudah mempunyai perhitungan sendiri-sendiri. Dalam pertarungan ini keduanya sudah mengerahkan segenap kepandaiannya dan otomatis juga menggunakan tenaga dalam sepenuhnya. Mereka sudah mencapai taraf di mana rasanya ingin sekali memukul mati lawannya dalam satu gebrakan saja. Tetapi mereka sama-sama menyadari satu hal. Kim Yu sadar dirinya tidak mungkin mengalahkan lawan dalam waktu yang singkat.
Sebaliknya Tan Ki juga kagum sekali terhadap kepandaian lawan. Meskipun dia mempunyai keyakinan dapat mengalahkan orang ini, tapi waktu yang diperlukannya mungkin cukup panjang.

Begitu pikiran yang sama memasuki benak kedua orang ini, mereka sama-sama tidak berani turun tangan dengan sembarangan. Dua pasang mata saling memperhatikan mimik wajah lawannya. Keduanya tidak mengedipkan matanya sekalipun. Karena pertarungan di antara jago-jago kelas tinggi, kecepatannya bagai kilat. Dalam sekejap mata hidup atau mati sudah dapat ditentukan. Andaikata dalam keadaan seperti ini perhatian terpencar dan teledor sedikit saja, maka segera akan mendapat kerugian besar yang malah mungkin bisa kehilangan nyawa.

Pandangan mata Oey Ku Kiong perlahan-lahan terangkat ke atas. Dia melihat sikap tegang diantara kedua orang yang menunggu siapa dulu yang akan bergerak. Tanpa terasa dia menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Saat ini, setelah mendapat bantuan pengerahan hawa murni dari Kok Hua Hong, lukanya sudah sembuh seBagian besar. Tetapi hatinya terus memikirkan satu hal.

‘Beberapa hari yang lalu, andaikata dia tidak menyerahkan sebotol racun kepada Kiau Hun, tentunya dia juga tidak akan keracunan separah ini. Setelah pertarungan ini, kemungkinan dia akan semakin terkenal sehingga pengaruhnya sampai ke daerah Si Yu…’

Sampai di sini, dia merasa hatinya tertekan. Apabila Tan Ki tidak beruntung sampai mendapat kematian, kelak, mungkin karena kesalahan besar ini, dia akan menyesal seumur hidup.

Tetapi, meskipun dia sudah menganggap Tan Ki sebagai sahabat sejati. Biar bagaimana perasaan cinta kasihnya kepada Kiau Hun lebih dalam lagi. Bahkan gejolak asmaranya
sudah mencapai titik maksimal. Apabila dia harus memilih diantara kedua orang itu, dia pasti akan berdiri di pihak Kiau Hun dan rela mati demi cinta kasihnya. Kalau tidak, dia juga tidak mungkin pura-pura berbuat segala macam kebaikan dengan maksud mengambil hati para orang-orang gagah.

Tiba-tiba tampak wajah Kim Yu yang serius bagai diselimuti hawa kehijauan. Dia berdiri dengan lengan tegak lurus. Namun dari tulang belulangnya terdengar suara gemerutak, tubuhnya bagai menyusut.

Meskipun saat itu hari masih cukup pagi, tetapi penampilannya yang luar biasa justru membawa perasaan seram bagi orang yang melihatnya sehingga merasa seperti berada di alam setan dan hawa dinginpun terasa menyusup dalam tubuh!

Mungkin karena tidak sabar menunggu lebih lama lagi, Tan Ki segera mengerahkan tenaga dalamnya. Tiba-tiba dia meraung dengan keras kemudian secara mendadak melancarkan sebuah pukulan.

Serangkum angin yang kencang bagai gelombang badai yang mengamuk memenuhi tengah arena. Arus yang kuat itu melanda datang serta mengandung tekanan yang kuat sehingga membuat orang merasa terdesak.

Kekuatannya kali ini seakan mengandung keseluruhan tenaga dalam yang ada dalam tubuhnya. Kecepatannya benar-benar di luar akal. Tenaga yang dahsyat itu dengan telak menghantam dada Kim Yu. Begitu kerasnya pukulan itu sampai seluruh tubuhnya mencelat ke udara sebanyak dua kali.

Tampak dia mengerlingkan matanya ke sana ke mari. Seakan pikirannya salah besar terhadap kekuatan tenaga dalam yang dilancarkan oleh Tan Ki. Gelombang kekuatan yang dapat menghancurkan tembok itu pasti mengakibatkan luka yang dapat dibayangkan dalam tubuhnya. Tetapi Kim Yu seperti tidak mengalami apa-apa, Tan Ki jadi tertegun.
Bahkan orang-orang gagah yang ikut menyaksikan jalannya pertarungan juga langsung mengeluarkan seruan terkejut. Mereka menjadi kebingungan. Meskipun manusia yang tubuhnya terbuat dari besi, juga belum tentu dapat menahan serangan Tan Ki yang mengandung tenaga begitu dahsyat. Tetapi mengapa Kim Yu seperti tenang-tenang saja, tubuhnya hanya mencelat di udara namun tidak terlihat luka sedikitpun. Rasanya hal ini benar-benar mustahil!

Justru ketika Tan Ki masih terkesima melihat apa yang terjadi, tiba-tiba… mulut Kim Yu mengeluarkan suara pekikan yang aneh dan pergelangan tangannya memutar lalu mengibaskan sebuah serangan.

Serangan yang dilancarkan secara tiba-tiba ini persis seperti seekor banteng yang mengamuk dan dalam sekejap mata sudah hampir mencapai sasarannya!

Hati Tan Ki diam-diam menjadi terkesiap, tubuhnya bergerak setengah memutar lalu menggeser ke samping satu langkah. Lengan kanannya diangkat dalam waktu yang bersamaan. Dengan jurus Im Yang Membuka Pintu, dia langsung menerjang ke depan.

Sambil mengelakkan diri, Tan Ki segera melancarkan sebuah serangan. Baik gerakan maupun jurus yang dikerahkannya benar-benar luar biasa sehingga dapat merebut kesempatan yang bagus.
Siapa nyana tiba-tiba pergelangan tangannya terasa kesemutan. Padahal gerakannya sudah cukup cepat, ternyata masih kalah sedetik. Begitu dia menundukkan kepalanya melihat, ternyata pada siku tangannya telah terdapat sebuah guratan panjang berwarna putih. Tetapi tidak ada bekas darah sama sekali. Oleh karena itu, dia juga tidak mengambil hati dan meneruskan serangannya.

Terdengarlah suara benturan yang menggelegar. Tahu-tahu dada Kim Yu telah terkena sebuah pukulannya lagi. Kali ini kekuatannya demikian dahsyat sehingga dia tidak dapat mempertahankan dirinya lagi. Mulutnya mengeluarkan suara keluhan tertahan, tubuhnya terhuyung-huyung dan langkahnya agak limbung serta doyong ke samping sejauh dua langkah. Tiba-tiba dia memuntahkan segumpal darah segar.

Tampaknya dia berusaha untuk menunjukkan kekerasan hatinya. Dua kali berturut- turut dia terkena hantaman Tan Ki yang keras. Tetapi dia tetap menggertakkan giginya erat-erat dan bagaimanapun tidak membiarkan tubuhnya terkulai jatuh ke atas tanah.

Hal ini disebabkan karena dia mendapat perintah dari suhengnya untuk melenyapkan Tan Ki. Oleh karena itu, dia terpaksa menempuh bahaya untuk menunjukkan jasanya.
Meskipun hantaman Tan Ki yang pertama sudah menggetarkan isi perutnya, namun dia mempertahankan diri sekuatnya. Sebab apabila dia tidak sanggup membunuh Tan Ki atau sampai mengalami kekalahan, setelah kembali nanti, pasti dia akan mendapat hukuman yang berat sesuai peraturan dalam perkumpulan Pek Kut Kau mereka. Dirinya bagai terjepit dari kiri kanan oleh kata-kata ‘kematian’. Satu-satunya jalan hanya menempuh bahaya dan mempertahankan diri menerima serangan Tan Ki.

Terdengar Kaucu Pek Kut Kau mendengus dingin. “Bagaimana keadaan lukamu?”
Mendengar nada suaranya yang kaku dan dingin, hati Kim Yu seperti diganduli beban yang berat seketika. Tanpa terasa tubuhnya menggigil dan memaksakan sebuah senyuman.

“Masih lumayan.”

“Coba kau himpun hawa murni dalam tubuhmu.”

Dengan berlagak gagah Kim Yu menjawab, “Ilmu silat Tionggoan mana mungkin dalam satu dua jurus bisa meminta nyawaku.”

“Bagus sekali. Hari sudah siang. Kita juga sudah harus kembali!” nada suaranya masih demikian dingin. Persis seperti uap yang keluar dari danau es. Orang yang mendengarnya akan merasa bergidik. Sikapnya begitu angkuh seakan tidak memandang sebelah mata kepada orang lain. Selesai bicara, dia langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.

Tiba-tiba Yibun Siu San mengeluarkan suara bentakan, “Berhenti!” “Apakah kau memanggil aku?” tanya Kaucu Pek Kut Kau.
Yibun Siu San memperdengarkan suara tawa yang dingin.
“Saudara mau datang terus datang, mau pergi juga seenaknya saja. Sikapmu benar- benar tidak menganggap orang lain bukan?”

“Meskipun daerah Tionggoan sangat luas dan mentereng menyilaukan mata. Tetapi di manapun Kaucu ini menginjakkan kakinya, selamanya tidak pernah ada tempat yang tidak bisa didatangi. Tentu saja asal Kaucu senang.” sahut Kaucu Pek Kut Kau itu angkuh.

Yibun Siu San mendengus satu kali lagi. Dia menolehkan wajahnya dan melihat Tan Ki sedang mendongakkan wajahnya menatap langit. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh anak muda itu. Matanya seakan menerawang dengan pandangan kosong. Wajah Yibun Siu San segera berubah serius.

“Aku tidak ingin bersilat lidah denganmu, tetapi ada suatu hal yang ingin kuminta petunjukmu.”

Kaucu Pek Kut Kau itu juga memperdengarkan suara tertawa yang dingin.

“Aku masih banyak urusan yang penting. Malas membuka mulut. Apabila ingin aku menjawab pertanyaanmu, maka harus menunggu sampai aku mempunyai kegembiraan dulu.”

“Urusan ini menyangkut kedua belah pihak. Biar bagaimana harus ada jawabannya!” dengan sikap tegas Yibun Siu San melanjutkan kembali kata-katanya. “Tetapi, kalau kau tetap berkeras tidak mau menjawabnya, aku juga tidak akan memaksa!”

Kaucu Pek Kut Kau tertawa terbahak-bahak.

“Kalau ada keuntungan yang bisa diraih, tentu saja harus disempatkan waktu untuk berunding. Coba kau tanyakan saja, lihat Kaucu bisa menjawabnya atau tidak!”

“Kau pernah mengajukan beberapa pertanyaan kepada anak Ki. Bahkan berusaha mengetahui jejak seseorang. Hal itu malah membuat aku teringat akan seseorang pula. Baik sikap maupun raut wajahnya sama seperti yang diceritakan anak Ki…”