Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 31

 
Bagian 31

Serangan ini dilakukan dengan kecepatan kilat. Lok Hong terkejut setengah mati. Dia membentak nyaring dan kakinya menerjang ke depan. Dengan jurus Rajawali Sakti Mengepakkan Sayap dia langsung mengulurkan tangannya mencengkeram.

Ilmu silat orangtua ini sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Begitu tangannya terulur untuk mencekal, meskipun dilancarkan dalam keadaan mendadak, namun mengandung kekuatan yang dahsyat. Suara angin yang ditimbulkannya menderu-deru, di angkasa. Serangannya belum sampai, terpaan anginnya sudah terasa.

Tan Ki menggeser kakinya dan tubuhnya memutar setengah lingkaran. Dia berhasil menghindarkan diri dari serangan Lok Hong yang ganas. Namun lima jari tangan kirinya tetap mencekal pergelangan tangan Lok Ing erat-erat.

Bagi Lok Ing yang pergelangan tangannya dicekal erat-erat, seBagian tubuhnya terasa kesemutan. Dia tidak sanggup lagi mengerahkan tenaga untuk memberontak. Tanpa dapat ditahan lagi, kakinya terseret, tubuhnya berputar lalu terjatuh ke dalam pelukan Tan Ki.

Ketika tubuhnya berputar untuk menghindari serangan Lok Hong, tangan kanan Tan Ki sudah diangkat ke atas dan tenaga dalamnya sudah dihimpun. Baru saja dia bermaksud menghantamkannya ke bawah, tiba-tiba dia melihat Lok Ing membuka matanya dan menyorotkan sinar seakan menyesalkan. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang tipis.

“Apakah kau ingin membunuh aku?”

Tan Ki jadi tertegun. Dia merasa suara gadis itu bagai genta yang berdentang nyaring dan menusuk gendang telinganya. Tanpa dapat ditahan lagi jantungnya langsung berdebar-debar. Diam-diam dia berpikir: ‘Antara aku dan dia tidak ada kaitan dendam apapun, mengapa aku harus membunuhnya?’
Biar bagaimana, Tan Ki adalah seorang pemuda yang berotak cerdas. Begitu pikirannya tergerak, dia merasa sikapnya sangat tidak pantas. Hawa pembunuhan yang tersirat di wajahnya lenyap seketika. Perlahan-lahan dia menurunkan tangannya kembali dan mem- buyarkan tenaga dalam yang telah dikerahkan sebelumnya.

Siapa kira watak Lok Ing justru angin-anginan. Dia memang senang mencela apapun yang dilakukan oleh orang lain. Melihat kemarahan Tan Ki telah reda, bahkan menurunkan kembali tangannya yang sudah diangkat ke atas, dia justru merasa tidak senang. Mulutnya tertawa dingin dan hidungnya mendengus berat.

“Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Kau menganggap dirimu sendiri sebagai seorang laki-laki yang gagah, mengapa apa yang kau lakukan justru ada awal tanpa akhirnya…? Kalau memang ingin membunuhku untuk melampiaskan kebencianmu, seharusnya langsung memberikan sebuah kepuasan kepadaku. Dengan demikian baru patut disebut sebagai seorang laki-laki yang gagah. Tidak seperti sikapmu sekarang ini yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan…”

Tan Ki tertawa dingin. Dia langsung menukas perkataan Lok Ing, “Laki-laki sejati ti-dak berdebat dengan kaum perempuan. Aku juga malas melayanimu lagi!” pergelangan ta- ngannya dihentakkan, pergelangan tangan Lok Ing pun terlepas dari cekalannya. Tanpa memperdulikan gadis itu lagi, dia langsung membalikkan tubuh dan melangkah pergi.
Lok Ing melihat tampangnya dingin dan angkuh. Bilang tidak ingin melayani dirinya, dia benar-benar tidak memperdulikan sama sekali. Malah membalikkan tubuh dan pergi begitu saja. Tiba-tiba dia merasa dadanya seperti ditinju oleh seseorang dengan keras. Tanpa dapat ditahan lagi, kakinya menyurut mundur dua langkah. Seluruh tubuhnya bergetar kemudian terkulai ke dalam pelukan Lok Hong.

“Ya… ya… bu… nuhlah dia…” katanya dengan suara lirih.

Suaranya juga gemetar, seakan beberapa patah kata itu diucapkan dengan seluruh ke- kuatan yang terkandung dalam dirinya. Selesai bicara, orangnya pun jatuh tidak sadarkan diri dalam pelukan Lok Hong.

Hati orangtua itu menjadi perih melihat keadaan cucu kesayangannya. Rambutnya yang sudah memutih sampai berdiri semua. Dia membentak dengan suara keras.

“Berhenti!”

Pada saat itu, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Tan Ki. Suara bentakan Lok Hong yang menggelegar seakan tidak terdengar oleh telinganya. Dia tetap melangkahkan kakinya ke depan dan tidak menoleh sekalipun.

Biar bagaimana, Lok Hong merupakan

Pangcu Ti Ciang Pang generasi sekarang. Kedudukannya sangat tinggi, namanya sudah menggemparkan dunia persilatan. Biasanya dia disegani oleh setiap orang.
Kewibawaannya membuat orang merasa sungkan. Mana pernah dia menerima penghinaan seperti ini. Melihat sikap Tan Ki yang meneruskan langkahnya dengan membisu serta tidak memperdulikan sama sekali, wajahnya langsung berubah hebat. Hawa amarah dalam dadanya seperti hendak meledak. Tetapi bagaimanapun perasaan sayangnya kepada cucu melebihi segalanya. Dia menarik nafas panjang-panjang kemudian berusaha menekan hawa amarah dalam hatinya.

“Anak manis, bagaimana keadaanmu?” tangannya segera meraba kening Lok Ing, sua- ranya sangat lembut dan wajahnya menampilkan perasaannya yang khawatir dan cemas.

Oey Ku Kiong mengeluarkan sebuah botol berwarna hijau dari dalam saku pakaiannya. Dia menuangkan dua butir pil berwarna merah putih dan berjalan menghampiri Lok Hong. Wajahnya serius sekali.

“Cucu Tuan mendapat pukulan bathin yang hebat, hawa murninya memenuhi hati.
Itulah sebabnya dia menjadi tidak sadarkan diri.

Obat Cayhe ini dapat menyegarkan pikiran dan membuyarkan hawa murni yang mengendap. Setelah diminumkan kepadanya, pasti akan…”

Lok Hong mendengus dingin.

“Minggir! Siapa yang tahu apa yang terpendam dalam hatimu, entah obat asli atau obat palsu yang kau berikan kepadaku, memangnya baru pingsan atau luka seringan ini saja, aku tidak bisa mengobati sendiri?” bentaknya ketus.

Oey Ku Kiong kali ini benar-benar kena batunya. Wajahnya langsung berubah hebat.
Tetapi sesaat kemudian, tampangnya sudah normal kembali seperti biasa. Tetapi dia justru memaki-maki dalam hati.

‘Kalau bukan karena Cen Kouwnio yang memesankan berulang kali agar aku melayani kalian baik-baik, sehingga rencananya dapat berhasil, mana sudi aku menerima penghinaan dan bentakan seperti sekarang ini. Setelah urusan ini selesai, aku pasti akan mengunjungi Ti Ciang Pang kalian dan meminta pelajaran barang beberapa jurus ilmu kalian yang hebat itu!’

Tetapi di luar bibirnya malah menyunggingkan senyuman dan menyurut mundur kembali.

Setelah mengundurkan diri, Lok Hong langsung menghimpun hawa murninya dan sebelah tangannya terjulur ke depan dan menempel di punggung Lok Ing. Dia mendorong hawa murni dalam tubuhnya dan menyalurkannya ke jantung Lok Ing agar hawa panas yang mengendap dapat buyar.

Kurang lebih sepeminum teh kemudian, baru terdengar Lok Ing menghembuskan nafas panjang. Perlahan-lahan dia membuka matanya. Beberapa tetes air mata tiba-tiba mengalir turun dari bulu matanya sebelah bawah. Pakaian Lok Hong di Bagian dadanya sampai basah oleh tetesan air mata tersebut.

Rambutnya indah beterbangan tertiup angin malam. Tampangnya sungguh menyayat hati dan mengenaskan. Sepasang matanya mengerling, dia melihat bayangan punggung Tan Ki yang kekar dan angkuh di kejauhan. Anak muda itu melangkah dengan cepat. Lok Ing menudingkan jari tangannya, tetapi teng-gorokkannya bagai tercekat berbagai macam benda sehingga sepatah katapun tidak terucap oleh bibirnya. Tampangnya bagai memendam gejolak perasaan, mimik wajahnya seperti orang yang menderita sekali.

Lok Hong meletakkan cucu kesayangannya agar berdiri tegak. Dia berkata dengan suara yang lembut.

“Berdirilah di sini diam-diam, Yaya akan membawanya kembali.”

Wajahnya mendongak lalu menarik nafas dalam-dalam. Dari dalam perutnya keluar suara seperti suitan panjang, kumandangnya bagai menembus awan biru. Sepasang tangannya merentang, bagai seekor rajawali sakti tubuhnya melesat ke udara. Ilmu silatnya sudah mencapai tingkat kesempurnaan, hawa murninya tinggi sekali, dia dapat menggerakkannya sesuai keinginan hati.

Begitu melonjak ke atas, kecepatannya tak perlu ditanyakan lagi. Dia mengerahkan segenap kemampuannya, udara bagai tertembus. Pakaiannya sampai mengibar-ngibar sehingga menimbulkan suara angin yang menderu-deru.

Ketika tubuhnya mencelat ke udara lalu melayang turun kembali. Dia mendarat tepat menghadang di depan Tan Ki. Tangannya terulur dan mendorong ke depan.

“Kembali!” bentaknya lantang.

Serangkum tenaga yang dahsyat terpancar keluar dari dalam lengan bajunya. Kekuatan itu meluncur ke arah dada Tan Ki yang sedang berlari dengan cepat.

Tan Ki merasa serangannya itu bagai gulungan ombak yang melanda ke arahnya. Ta- jamnya bagai belahan kapak, kekuatannya dahsyat mengejutkan. Hatinya tercekat.
Dengan panik, dia mengempos hawa murni ke arah dada dan mendadak mencelat mundur sejauh lima depa. Lok Hong mendengus dingin. “Gerakan yang bagus sekali!” kaki kirinya terangkat ke atas lalu melakukan gerakan menyapu. Tubuh Tan Ki baru berhenti dengan tegak. Melihat serangan itu, dia menarik tubuhnya ke belakang, namun tahu-tahu telapak tangan Lok Hong sudah meluncur ke depan dan jaraknya hanya tinggal setengah depa saja.

Gerakannya begitu cepat dan mendesak ke depan, hal ini membuat Tan Ki tidak mempunyai pilihan lain, kalau tidak ingin dadanya terhantam telak. Dia terpaksa melancarkan telapak tangannya dan menyambut serangan Lok Hong dengan cara keras lawan keras. Oleh karena itu, dia segera memutuskan untuk melakukan hal yang terakhir. Telapak tangannya memutar dan meluncur ke depan menyambut datangnya serangan Lok Hong.

Dia merasa meskipun serangan itu sangat cepat tetapi tidak mengandung tenaga yang kuat. Baru saja hatinya merasa heran, tiba-tiba dia merasa ada serangkum kekuatan yang tidak berwujud tahu-tahu mendesak ke Bagian perutnya!

Rupanya Lok Hong tidak mengerahkan tenaga dalamnya benar-benar ke arah telapak tangan. Ketika kedua kekuatan beradu, barulah dia mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya dan melancarkannya secara diam-diam ke arah lawan. Lok Hong bermaksud melukai anak muda itu dalam sekali gerak dan meringkusnya hidup-hidup ke hadapan cucu kesayangannya untuk diberi hukuman yang pantas.

Termakan serangan yang dilancarkan secara diam-diam itu, tubuh Tan Ki langsung tergetar. Tanpa dapat ditahan lagi kakinya menyurut mundur lima langkah. Tubuhnya terhuyung-huyung dan kakinya tidak dapat berdiri dengan mantap.

Lok Hong tertawa dingin.

“Sinar kunang-kunang saja berani menentang cahaya matahari, cepat menggelinding kembali!” sepasang bahunya tampak bergerak, kakinya mendesak ke depan. Tangan kanannya mengambil posisi menahan di depan dada lalu mendorong keluar.

Tan Ki merasa dirinya bagai dicelupkan ke dalam kolam es. Tubuhnya menggigil.
Hatinya tergetar. Melihat Lok Hong melancarkan sebuah serangan lagi, mulutnya langsung mengeluarkan suara teriakan lantang, keberaniannya dibangkitkan. Kembali dia mengulurkan telapak tangannya dan menyambut serangan Lok Hong dengan kekerasan.

Kali ini dia melakukan serangan balasan dengan mengerahkan sepuluh Bagian tenaga dalamnya. Tetapi kekuatan yang dahsyat itu tidak menimbulkan suara sedikitpun. Hal ini merupakan serangan tingkat tinggi dari seorang yang sudah tergolong jago kelas satu.

Begitu kedua kekuatan beradu, persis seperti selembar daun yang jatuh ke atas tanah. Tidak sedikitpun suara yang terdengar, namun Lok Hong mengeluarkan suara dengusan yang berat. Tubuhnya langsung mencelat ke udara, sedangkan Tan Ki tergetar mundur sampai lima enam langkah baru dapat berdiri kembali dengan tegak.

Tampak sepasang mata Tan Ki mendelik lebar-lebar. Cahaya yang terpancar sangat dingin.

“Bagaimana kalau kau menyambut satu lagi serangan dari Lohu?” tanyanya dengan nada membentak. Telapak tangan kanannya dengan tergesa-gesa melancarkan sebuah pukul-an, dalam waktu yang bersamaan tubuhnya juga mendesak ke depan.

Serangannya ini tidak sama dengan dua gerakannya yang pertama, begitu telapak ta- ngannya terulur keluar, langsung terasa angin kencang yang menderu-deru bagai badai dahsyat seketika melanda ke arah Tan Ki.

Mimik wajah Tan Ki berubah menjadi serius sekali. Dia berdiri tegak bagai sebuah patung, tahu-tahu tangannya menjulur ke depan dan melancarkan sebuah pukulan.

Dari dua gebrakan pertama tadi, Tan Ki sudah tahu bahwa tenaga dalam Lok Hong sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Tampaknya orangtua ini juga melatih sejenis Lwekang yang mengandung daya Im sehingga tenaganya mengandung getaran yang menggi-gilkan dan dapat menggetar putus urat nadi lawannya. Oleh karena itu, pukulannya kali ini dilancarkan dengan hati-hati sekali.

Ketika kedua kekuatan kembali beradu, terjadilah angin topan yang kencang. Di da- lamnya juga terkandung hawa dingin dan menerobos ke arah pukulan Tan Ki yang dilancar-kan untuk melindungi diri. Begitu serangan itu melanda datang, tubuhnya langsung terasa disusupi hawa dingin sehingga pori-porinya jadi menyusut namun bulu kuduknya merinding semua. Hatinya terkejut sekali. Cepat-cepat dia mencelat ke udara setinggi kurang lebih lima depa.

Beberapa serangan Lok Hong yang gencar membuat Tan Ki terpaksa menggerakkan tangan menyambut. Kakinya terdesak mundur dan mundur lagi. Tanpa terasa dia sudah mun-dur kembali ke tempat semula, namun dia sendiri masih tidak menyadarinya.

Tiba-tiba Lok Hong memperdengarkan suara tawa yang keras.
“Hati-hatilah!” bentaknya keras. Tangannya terulur dan dengan perlahan-lahan kembali dia melancarkan sebuah pukulan. Tangan kanan Tan Ki mengibas, sebuah serangan dilancarkan dengan jurus Bintang-Bintang Berputaran di Langit, tubuhnya menggeser ke samping sejauh lima depa. Dengan cara ini dia menghindarkan diri dari serangan Lok Hong.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, secara berturut turut dia sudah bergebrak dengan berbagai tokoh tingkat tinggi dunia Bulim. Pengalamannya semakin bertambah. Hatinya maklum, dengan mengandalkan nama besar yang telah dipupuk oleh Lok Hong, serangan yang tampaknya biasa-biasa saja ini pasti mengandung kekuatan yang mengejutkan.
Bahkan mungkin merupakan suatu jurus yang mematikan. Kalau tujuannya bukan hendak memancing lawan, pasti di baliknya terdapat keistimewaan yang tidak dapat dianggap enteng. Oleh karena itu, dia segera menggeser kakinya menghindar dan berjaga-jaga terhadap serangan yang tidak terduga-duga.

Dalam sekejap mata kedua telapak tangan segera beradu, ternyata di balik serangan Lok Hong yang tampak sederhana itu mengandung segulungan tenaga yang tidak berwujud dan membuat Tan Ki tidak dapat mendesak lebih maju. Dalam serangan itu juga terkandung rangkuman kekuatan yang dapat mendorong tenaga Tan Ki sehingga memantul kembali kepada dirinya sendiri.

Hatinya merasa panik, tiba-tiba terlihat kaki Lok Hong bergerak. Dengan kecepatan seperti kilat tubuhnya mendesak ke depan, telapak tangannya mengambil posisi menahan di depan dada kemudian didorongkan ke depan sekuat tenaga untuk menghantam tubuh Tan Ki. 

Kejadian itu berlangsung dalam waktu sekedipan mata saja. Terdengar suara yang menggelegar. Serangkum kekuatan yang dahsyat sekali sudah menghantam telak dada anak muda tersebut.

Tenaga yang terkandung dalam serangannya ini hebat bukan main. Terdengar mulut Tan Ki mengeluarkan suara keluhan lalu membuka dan memuntahkan segumpal darah segar. Tubuhnya sempoyongan seperti orang mabuk dan dengan terhuyung-huyung menyurut mundur ke belakang.

Sepasang bahunya tampak bergerak-gerak. Hatinya bermaksud memantapkan langkah kakinya dan tidak ingin tubuhnya terjatuh ke atas tanah. Setiap kali melangkah mundur, dia menjejakkan kakinya kuat-kuat di atas tanah, sampai menimbulkan suara debuman. Tetapi akhirnya keinginan hati itu tidak terlaksana juga. Setelah menyurut mundur dengan limbung sejauh tujuh delapan langkah, tubuhnya terkulai juga di atas tanah.

Apabila dua orang ahli silat bergebrak, kejadiannya hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Jumlah jurus yang dilancarkan kedua orang itu keseluruhannya hanya empat serangan saja. Dari awal hingga akhir hanya memakan waktu kurang lebih sepenanakan nasi. Oey Ku Kiong dan Kim Yu yang menyaksikannya sampai ikut terkesiap. Mereka merasa bahwa setiap serangan maupun tangkisan yang dilancarkan kedua orang itu mengandung keanehan yang jarang terlihat. Meskipun akhirnya Tan Ki terluka di tangan Lok Hong, namun mereka merasa kekalahannya itu didapatkan dengan gemilang.

Lok Hong tertawa terbahak-bahak. Dia melangkah ke depan dengan cepat. Tampak dia membungkukkan tubuhnya dan mengangkat Tan Ki yang sedang terluka parah. Gerakan-
nya sangat cepat dan luwes sekali. Sekejap mata saja dia sudah kembali lagi ke samping Lok Ing. Mulutnya merekahkan tertawa yang lebar.

“Orang ini aku serahkan kepadamu. Apapun yang ingin kau lakukan, jangan ragu-ragu sedikitpun. Mati hidup tergantung dirimu sendiri. Segala akibatnya Yaya akan bertanggung jawab. Kau tidak perlu khawatirkan hal ini!”

Meskipun mulutnya berkata demikian, tetapi hatinya khawatir Tan Ki pura-pura ter- duka parah dan tiba-tiba melancarkan sebuah serangan kepada cucunya. Secara diam- diam dia mengulurkan jari tangannya untuk menekan sebuah urat darah di Bagian pinggang anak muda itu.

Sepasang mata Kim Yu mengerling ke sana ke mari. Diam-diam dia mempertimbangkan keadaan di sekitarnya. Hatinya berpikir bahwa perdebatan di antara kedua pihak lawan masih belum berakhir, tentu mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengurus hal lainnya. Kalau pertikaian itu memakan sedikit waktu lagi, maka berarti dia mempunyai kesempatan beberapa menit untuk melarikan diri dari tempat itu. Tetapi dia melihat sudut bibir Oey Ku Kiong terus menerus mengulumkan seulas senyum yang membuat hatinya menjadi sebal. Matanya yang menyorotkan sinar dingin tidak henti-hentinya melirik ke arah dirinya. Lagaknya seperti sengaja juga tidak, seakan secara diam-diam mengawasi dirinya serta gerak- geriknya, sehingga untuk memberi isyarat kepada rekannya yang lain saja tidak ada peluang sama sekali. Tanpa dapat ditahan lagi, dia mendengus satu kali dengan penuh kebencian. Hatinya semakin kesal juga panik memikirkan keadaannya sendiri.

Pikirannya terus melayang-layang memikirkan cara menyelamatkan diri, tiba-tiba te- linganya menangkap raungan kemarahan. Cepat-cepat dia mendongakkan wajahnya untuk melihat. Tampak lengan kanan Lok Hong dikibaskan. Orangtua itu berteriak dengan suara keras.

“Minggir!”

Mata dan telinga Lok Hong peka bukan kepalang, baru saja teriakan itu terucapkan, indera pendengarannya telah menangkap suara desiran senjata yang menerobos diantara angin yang bertiup. Sepasang bahunya tampak bergerak dan tubuhnya langsung bergeser sejauh tiga langkah.

Meskipun saat itu dia sedang membopong Tan Ki, sehingga menambah beban dirinya, tetapi kelebatan tubuhnya tetap begitu cepat sampai sulit diikuti pandangan mata.

Segurat sinar berwarna putih melesat lewat cahaya rembulan yang suram bagai luncuran anak panah melayang datang. Lok Hong memiringkan tubuhnya. Senjata rahasia itu lewat di samping telinganya dan mengeluarkan suara dentangan seakan menghantam ke tem-bok pekarangan. Terdengar gema suaranya yang lirih kemudian menyatu dengan keheningan suasana.

Lok Hong masih belum mendongakkan kepalanya, namun mulutnya sudah mengeluar- kan suara bentakan.

“Siapa? Berani-beranian membokong Ld-hu!”

Terdengar suara sahutan berupa tawa dingin yang lembut.

“Coba lagi gerakan Man Tian Hua-ho alias Hujan Bunga di seluruh penjuru bumi ini!”

Baru saja ucapannya selesai, sekumpulan sinar berwarna keperakan meluncur datang dengan berpencaran. Serangan orang itu kali ini aneh sekali. Sasarannya tidak langsung ke Bagian tubuh Lok Hong, tetapi berputaran dan memercik ke mana-mana. Begitu sampai ke tempat Lok Hong berdiri, sinar itu baru berkumpul menjadi satu lalu meletus bagai bunga api. Segulungan demi segulung garis putih bagai mempunyai sukma masing-masing meluncur pesat bagai kilat. Cahayanya memijar bahkan memencar sampai jarak lima depa.

Bahu Lok Hong agak dimiringkan, tubuhnya mendadak melesat ke atas. Tampak jubahnya yang panjang dan longgar berkibar-kibar bagai sedang menari-nari. Gerakannya lak-sana segumpal awan yang perlahan-lahan berarak ke atas. Dan meskipun gerakannya itu lambat, tetapi sinar putih yang meluncur pesat itu tidak dapat mendekatinya lebih jauh dan satu depa.

Rembulan hampir menyembunyikan seluruh dirinya di balik awan. Suasana gelap sekali, tetapi sinar putih keperakan itu berkilauan, juga menimbulkan suara angin yang berdesir lalu melesat lewat di bawah kaki Lok Hong.

Ketika tubuhnya mendarat turun ke atas tanah, tiba-tiba dari balik kegelapan kembali terdengar suara tawa yang dingin tadi. Sepasang alis Lok Hong terjungkit ke atas, perasaan tidak senang langsung tercetus keluar.
“Memangnya apa kehebatan Man Tian Hua-ho milikmu itu?” bentaknya marah. Suara yang lembut namun ketus itu kembali berkumandang sepatah demi sepatah,
“Masih ada lagi Bintang Jatuh Sebesar Jempol Jari!”

Begitu ucapannya selesai, tidak terdengar sedikitpun desiran senjata rahasia. Meskipun Lok Hong menjaga martabat dirinya dan sampai sekarang belum melakukan serangan balasan, tetapi cara turun tangan yang lain dari biasanya serta tenang mencekam ini justru membuat hatinya bergetar. Tanpa dapat menahan rasa penasaran di hatinya, dia segera mendongakkan kepalanya dan mempertajam indera penglihatannya. Tampak serenceng sinar berwarna keperakan membawa cahaya yang panjangnya kurang lebih sedepa sedang meluncur ke arahnya.

Rencengan sinar ini menyatu dan tidak memencar seperti yang sebelumnya.
Gerakannya lamban tidak tergesa-gesa. Jauh berbeda dengan rangkaian titik-titik seperti hujan yang terlihat sebelumnya. Namun di balik cahaya yang bergerak lurus itu terselip ketegangan yang tidak terkatakan. Lagipula rencengan senjata rahasia ini bergerak lurus dan meskipun Kampaknya lamban namun sebetulnya meluncur dengan pesat. Semuanya berkumpul menjadi sebuah titik garis yang panjang. Meskipun Lok Hong sudah mempertajam indera penden-garannya, tetap dia tidak dapat menafsir berapa jumlah senjata rahasia itu sebenarnya. Hatinya terasa terperanjat, tidak menunggu sampai luncuran senjata rahasia itu mendekat ke arahnya, tubuhnya langsung bergerak dan melesat ke samping kira-kira lima depaan.

Baru saja tubuhnya bergerak, tiba-tiba terdengar suara Ting! Tang! Bintang berwarna perak yang meluncur pertama-tama mendadak melesat cepat bagai seekor kuda liar yang terlepas dari tali kendalinya. Gerakannya semakin cepat, luncurannya seperti roh
gentayangan yang terus mengikuti dari belakang. Cara mencapai sasarannya yang aneh itu sampai sulit diuraikan dengan kata-kata.

Kemudian disusul lagi dengan dua kali suara desiran yang lirih. Tiga titik bintang perak yang dari lurus luncurannya berubah menjadi beterbangan ke mana-mana. Kemudian terdengar lagi serentetan: Tang! Ting! Tang! Yang berbunyi terus-terusan. Serenceng cahaya perak kembali memijarkan cahaya ke sekitar tempat itu. Bagai curahan hujan yang deras dan semuanya menjadi satu menuju ke tubuh Pangcu dari Ti Ciang Pang tersebut.

Malam yang dingin sebentar lagi akan berlalu. Kumpulan bintang mulai memudar, waktu ini merupakan detik-detik paling sunyi menjelang fajar. Namun suara dentangan itu terus saling susul menyusul menimbulkan ke-bisingan. Suara yang menggetarkan itu bagai lonceng kematian yang menandakan ajal telah tiba. Belum lagi senjata rahasianya sampai, suaranya sudah menimbulkan kejutan yang mengerikan. Orang yang berdiri menyaksikan hal tersebut hanya merasa matanya berkunang-kunang.

Sepasang mata Lok Hong membuka lebar-lebar. Sinarnya menusuk bagai sebatang anak panah yang tajam. Dia memperhatikan titik bintang berwarna perak itu lekat-lekat juga hujan perak yang memencar di sekitarnya. Tampangnya demikian tenang seakan tidak ambil perduli sama sekali.

Tubuh Lok Hong mencelat ke udara, sebentar saja dia sudah keluar dari kurungan hujan senjata rahasia tersebut. Ketika dia menolehkan kepalanya, dia melihat setitik sinar perak yang mula-mula meluncur tadi sudah mengancam Bagian punggungnya dalam waktu yang singkat.

Tanpa dapat ditahan lagi hatinya terkesiap setengah mati. Justru di saat yang paling menentukan mati hidupnya ini, tiba-tiba Lok Hong mengulurkan tangannya. Dengan kece- patan yang tak terkirakan dia menyentil. Terdengar suara dentingan yang lirih, cahaya perak yang sedang meluncur itu dengan telak kena disentilnya sehingga buyar seketika dan memercik ke mana-mana.

Setelah mengulurkan jari tangannya menyentil, dengan posisi tidak berubah tubuh Lok Hong mencelat ke udara. Bagai telah diatur olehnya, percikan cahaya perak tadi terbagi dua kelompok berderai jatuh di kiri kanan tubuhnya.

Oey Ku Kiong dan Kim Yu yang menyaksikan hal itu tanpa sadar meneriakkan suara pujian.

“Sentilan yang hebat… gerakan tubuh yang bagus!”

Sinar mata Lok Hong mengerling sejenak, lalu berhenti pada gerombolan semak yang jaraknya kurang dua depaan. Dia berkata dengan suara lantang.

“Lohu sudah menyambut dua serangan senjata rahasia anda secara berturut-turut, entah ada ilmu apa lagi yang mengejutkan?”

Dari balik gerombolan semak itu terdengar suara seorang wanita yang lebih mirip rata- pan, “Kau majulah ke depan lima langkah, coba sambut lagi ilmu Tiga Kakak Beradik Bergandengan Tangan serta Pelangi Membias Sehari Penuh!”

Lok Hong merenung sejenak.

“Kalau ingin Lohu menjajal dua macam ilmu itu boleh saja, tetapi kau harus berdiri di depan agar Lohu dapat melihat siapa adanya anda ini?”

Dari balik kegelapan berjalan keluar seorang wanita setengah-baya dengan dandanan dan pakaian sederhana. Di Bagian punggungnya menggembol sepasang golok bulan sabit. Dia melangkah dengan perlahan-lahan.

Bagi orang-orang yang ada di sekitar tempat itu, wanita setengah baya ini tampak asing sekali. Tanpa terasa Lok Hong jadi termangu-mangu sesaat. Sepasang matanya dirapatkan perlahan-lahan, dia sedang memeras otaknya. Tetapi biar bagaimanapun dia tidak mengingat kalau di dunia Bulim ada seorang tokoh wanita seperti nyonya di hadapannya ini. Dalam pikirannya, dia masih mengira kalau cucu kesayangannya yang sehari-harinya sangat ugal-ugalan dan tidak memakai peraturan telah berbuat kesalahan kepada nyonya ini. Oleh karena itu sepasang alisnya langsung mengerut dan tanpa dapat ditahan lagi dia melirik sekilas kepada Lok Ing. Tetapi mimik wajah gadis itu juga seperti orang yang kebingungan, tampaknya gadis itu sendiri tidak pernah mengenal wanita setengah baya ini. Hatinya benar-benar merasa penasaran, perasaannya menjadi bimbang tidak menentu.

Tiba-tiba dia melihat Tan Ki yang lemas dan terkulai dalam pelukan Lok Ing berubah hebat wajahnya sejak kemunculan wanita setengah baya ini. Matanya membelalak lebar- lebar. Mukanya mengerut-ngerut seakan menahan perasaan hatinya yang bergejolak, namun diantaranya juga tersirat perasaan marah. Dua macam perasaan yang berbeda, yakni marah dan terharu berkecamuk dalam hati anak muda itu. Hal ini membuat mimik wajahnya menjadi aneh, sehingga menimbulkan kesan seperti orang yang gembira sekaligus marah. Tampangnya luar biasa aneh dan tidak sedap dipandang.

Wanita setengah baya yang berpakaian sederhana itu menatap sekilas ke arah lengan pakaian Lok Hong. Dia berkata dengan suara lirih.

“Kalau dilihat dari sulaman telapak berwarna emas yang ada di ujung lengan bajumu, tampaknya kau ini orang dari Ti Ciang Pang?”

Lok Hong mendengus satu kali.

“Pandangan Nyonya hebat sekali. Lohu memang kepala dari perkumpulan Ti Ciang Pang tersebut.”

“Tokoh kelas tinggi di kolong langit ini banyaknya seperti awan di langit, tetapi orang yang dapat menghindar dari serangan Man

Tian Hua-ho dan Ci Bu Liu-sing milikku, mungkin hanya ada beberapa orang saja. Hal ini membuktikan bahwa ilmu silatmu pasti cukup tinggi, apalagi di ujung lengan bajumu terdapat sulaman telapak emas. Dengan demikian aku jadi teringat bahwa kau tentunya berasal dari Ti Ciang Pang di wilayah Sai Pak.”

Lok Hong melihat wanita setengah baya ini berwajah cantik. Pakaiannya sederhana, penampilannya keibuan dan lemah lembut, namun ilmu senjata rahasianya sangat menge- jutkan. Dapat dipastikan kalau wanita ini bukan tokoh sembarangan. Oleh karena itu dia memasang wajah serius sambil bertanya, “En-tah siapa nama Saudari yang mulia?”
“Aku bernama Ceng Lam Hong…”

Wanita setengah baya itu sambil mengembangkan senyuman yang datar. Hati Lok Hong jadi tertegun.

“Ternyata memang wanita yang namanya tidak pernah terdengar di dunia Bulim, tidak heran kalau Lohu tidak mengenalnya.”

Kemudian tampak orangtua itu menarik nafas pancang dan diam-diam mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya.

“Sekarang juga Lohu akan menyambut dua macam ilmu yang anda sebutkan tadi!”

Perasaan hati Tan Ki saat ini bagai aliran sungai yang deras, beribu-ribu kenangan melintas di kalbunya. Perlahan-lahan dia memejamkan matanya, maksudnya ingin mengatur pernafasan dengan ilmu yang baru dikuasainya. Dengan demikian mungkin gejolak perasaan di dalam hatinya dapat tenang kembali. Tetapi malah kegagalan yang didapatkan. Dalam keadaan seperti itu, konsentrasinya tidak dapat dipusatkan. Berbagai bayangan melintas di depan pelupuk matanya, berbagai ingatan juga tidak mau ketinggalan ikut bersatu dalam benaknya. Dia teringat akan dendamnya yang belum terbalaskan, persahabatan yang belum tuntas, juga berbagai kegembiraan, kesedihan, kegetiran yang telah dialaminya sejak menerjunkan diri di dalam dunia Kangouw.

Matanya terpejam rapat-rapat. Rasanya ingin membandingkan suara ibunya sekarang dengan masa kecil ketika dia ditinggalkan. Dia berharap dari suara yang lebih mirip ratapan tadi, ingatannya dapat kembali ke masa kecil yang bahagia. Tetapi setelah memikirkan sejenak, diam-diam dia menertawakan dirinya sendiri. Mengapa perasaan ini selalu demikian melankolis? Kalau kenyataannya wanita ini sudah mengkhianati ayahnya dan kabur bersama laki-laki lain, mengapa dia harus mengingat kembali masa lalunya?
Bukankah hal ini cuma menambah penderitaan dan penyesalan dalam hatinya?

Tetapi pandangan yang picik dan sudah berakar dalam sanubarinya malah bertentangan dengan semacam kerinduan yang tidak dapat dihilangkan secara keseluruhan di dalam hatinya. Dia merasa tindakan ibunya yang meninggalkan dirinya tanpa pesan apa-apa dan kabur dengan seorang laki-laki serta berbuat kesalahan besar sebagai seorang isteri, mem-buat perasaannya yang memang sudah hampa dan menderita melahirkan lagi segulungan ke-bencian yang tidak terkirakan. Namun begitu bertemu dengan ibunya, di balik kebencian yang sudah berakar, juga menyelinap perasaan kasih.
Biar bagaimana Ceng Lam Hong adalah ibu kandung yang melahirkannya.

Perasaan hatinya bagai kitiran angin yang dalam waktu singkat telah memutarkan ber- bagai bayangan. Dia melihat tampang Lok Hong maupun ibunya demikian kelam. Seakan sejenak lagi akan terjadi pertarungan yang dapat menentukan mati hidup mereka. Tanpa dapat ditahan lagi dia berteriak sekeras-kerasnya.

“Kalian jangan berkelahi lagi!”

Geng Lam Hong tersenyum lembut. Pundaknya bergetar, sambil menghambur datang dia berseru, “Anakku,..!”

Dalam hatinya seakan terdapat ribuan kata-kata yang ingin diutarakan. Tetapi setelah memanggil satu kali, dalam tenggorokannya seakan tercekat sesuatu benda. Bibirnya
gemetar, tetapi tidak ada sepatah katapun yang terucapkan. Seakan sepatah panggilan tadi tercetus keluar setelah dia mengerahkan segenap kekuatannya. Suaranya bagai ratapan, nyaring serta melengking tinggi. Dalam suasana menjelang fajar seperti ini semakin lantang dan gemanya memantul sampai ke seluruh taman bunga itu.

Tiba-tiba dia menarik nafas panjang-panjang. Wajahnya menjadi serius lalu berkata kepada Lok Ing.

“Turunkan anakku!”

Lok Ing tertawa dingin

“Mengapa aku harus mendengarkan kata-katamu?”

Ceng Lam Hong mendengus satu kali. Dia berjalan menghampiri Lok Ing. Tiba-tiba terasa kibaran angin melintas di samping. Tubuh Lok Hong bergerak bagai seekor burung besar berwarna hijau melayang turun di samping cucu kesayangannya, sinar matanya tajam menusuk. Dia menatap Ceng Lam Hong lekat-lekat, seakan tahu wanita setengah baya ini mengandung niat yang kurang baik pada cucunya. Dengan kecepatan bagai kilat, dia melancarkan sebuah pukulan.

Saat itu suasana semakin menegangkan. Tan Ki memperhatikan ibunya sekejap kemu- dian menolehkan wajahnya melirik Lok Hong sekilas. Dia melihat hawa pembunuhan telah tersirat di alis kedua orang itu. Diam-diam hatinya menjadi tercekat.

Tetapi ketika dia mengerling matanya kembali, tiba-tiba dia melihat di atas tembok pekarangan, entah sejak kapan telah berdiri seseorang yang mengenakan pakaian putih. Dengan mengandalkan indera penglihatannya yang tajam, setelah memperhatikan sejenak, dia juga belum dapat melihat orang itu dengan jelas. Kecuali tubuhnya dibalut pakaian putih, dalam ingatannya tidak tertanam sedikitpun kesan yang lain.

Jantungnya berdebar-debar. Tanpa dapat menahan rasa penasaran dalam hatinya, dia menatap orang itu sekali lagi. Setelah memperhatikan sejenak, tiba-tiba hatinya bagai diselimuti perasaan yang menggidikkan.

Tampang orang itu sebetulnya tidak terlalu jelek, tetapi dari keseluruhan dirinya tidak terdapat setitik pun hawa manusia hidup. Tampak wajahnya bagai diselimuti selaput berwarna kehijauan sehingga perasaan hatinya tidak dapat diterka. Persis seperti sesosok mayat di dalam peti mati, mukanya kaku, sehingga melihatnya sekilas saja orang merasa hatinya tergetar dan merasa seram.

Tan Ki menarik nafas panjang-panjang. Matanya dibelalakkan lebar- lebar. Diam-diam dia berpikir di dalam hati: ‘Kok di dunia ini ada manusia yang tampangnya begini?’

Ketika pikirannya masih bergerak, tiba-tiba dia melihat tangan kanan orang berpakaian itu menyusup ke dalam saku pakaian dan mengeluarkan sesuatu. Matanya mengerling ke sana ke mari, seakan sedang memperhitungkan jarak antara Ceng Lam Hong dan Lok Hong.

Semakin diperhatikan, hati Tan Ki semakin merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa terasa dia berkata dengan suara lirih, “Lok Kouwnio, cepat suruh kakekmu dan ibuku menghentikan pertikaian!”

Lok Ing tertawa lebar. “Kenapa? Apakah kau khawatir kakekku tidak dapat mengalahkannya?”

Tan Ki segera menggelengkan kepalanya. “Tidak.”

Mata Lok Ing melirik sekilas. “Kalau begitu kau takut kakekku akan melukainya?” Kembali Tan Ki menggelengkan kepalanya.
“Kalau mereka sampai bergebrak, kalah dan menang adalah sesuatu yang wajar. Tetapi aku sama sekali tidak ambil pusing masalah ini…”

Lok Ing menjadi bingung mendengar ucapannya.

“Ini bukan, itu juga bukan. Apa kau kehabisan bahan pembicaraan sehingga mengoceh sembarangan saja?”

Sepasang alis Tan Ki langsung terjungkit ke atas. Dia mendengus satu kali. “Coba kau palingkan kepalamu dan lihat di atas tembok pekarangan. Setelah itu kau baru mencaci maki juga masih belum terlambat!” gerutunya kesal.

Lok Ing menuruti perkataannya dan menoleh ke belakang. Saat itu juga dia langsung tertegun.

“Orang-orang ini manusia atau setan?”

Melihat tampang orang itu, mulutnya tanpa dapat ditahan lagi kelepasan bicara. Tetapi setelah mempertimbangkan sejenak, dia mengingat dirinya juga mempunyai kedudukan yang cukup tinggi di dunia Kangouw. Seandainya benar-benar setan, juga tidak perlu ketakutan seperti itu, oleh karena itu cepat-cepat dia menghentikan kata-katanya.

Mata Tan Ki ikut melirik sekilas. Tanpa dapat ditahan lagi dia juga ikut terpana. “Aneh sekali! Mengapa dalam sekejap mata saja jumlah mereka bisa bertambah?”
Rupanya di atas tembok pekarangan itu, saat ini sudah berdiri berjajar dua orang manusia yang bentuk tubuhnya hampir sama dan sama-sama berpakaian putih. Bahan pakaian mereka terbuat dari bahan belacu yang kasar. Wajah mereka sama-sama dilapisi selaput berwarna hijau. Biar bagaimana pun tajamnya indera penglihatan seseorang, dalam waktu yang singkat juga tidak dapat membedakan keduanya.

Tampaknya kehadiran kedua manusia berpakaian putih itu juga mengejutkan Lok Hong.
Tapi bagaimanapun usianya lebih tua dari yang lainnya. Pikirannya juga lebih dalam.

Meskipun dalam hatinya merasa terperanjat, tetapi dari luar dia tetap mempertahankan ketenangannya. Dia berdiri dengan mulut membungkam. Namun pikirannya terus bekerja, dia berusaha mengingat-ingat siapa tokoh di dalam dunia Kangouw yang tampangnya seperti kedua orang ini.

Tetapi setelah berpikir bolak-balik, dia tetap tidak dapat mengingat kalau di dunia Kangouw ini ada tokoh yang tampangnya seperti mayat hidup ini.

Tiba-tiba terdengar Ceng Lam Hong berkata dengan suara rendah, “Aku sudah mengatakan bahwa kau harus meletakkan anakku, apakah kamu masih tidak mendengarnya?”
Lok Hong tertawa dingin. Sebelah tangannya mengelus-elus jenggotnya yang panjang. “Lepaskan bocah itu sih mudah saja, asal kau menangkan dulu sepasang telapak ta-
nganku ini.”

Sepasang alis Ceng Lam Hong perlahan-lahan terjungkit ke atas. “Kalau begitu maafkan kalau aku bertindak kasar.”
Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba dia menyurutkan langkahnya mundur ke belakang dua tindak. Telapak tangan kanannya terulur ke depan dan digerak-gerakkan sedikit, seakan sedang mengukur jarak antara dirinya dengan Lok Hong.

Lok Hong melihat telapak tangan wanita itu perlahan-lahan mengepal. Dia seakan menggenggam sekumpulan senjata rahasia. Hatinya sadar, kalau sampai disambitkan ke depan, kecepatannya tentu bagai sambaran kilat, serta menggetarkan hati. Dengan demikian, dia segera menarik nafas panjang-panjang dan mengerahkan tenaga dalamnya secara diam-diam. Otomatis dia tidak berani menganggap ringan musuhnya.

Melihat keadaan itu, Tan Ki menarik nafas perlahan-lahan. Dia berkata dengan suara lirih.

“Lok Kouwnio, maukah kau membawa aku meninggalkan tempat ini?” “Apakah kau tidak memperdulikan ibumu lagi?”
“Aku merasa benci kepadanya. Lagipula urat darahku dalam keadaan tertotok. Ber- gerak saja tidak bisa. Meskipun ada niat untuk menghentikan pertikaian ini, namun aku tidak mempunyai kemampuan untuk turut campur.”

Lok Ing memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Aku justru mempunyai akal agar ibumu tidak jadi berkelahi.” Tan Ki jadi tertegun mendengar ucapannya.
“Bagaimana?”

Lok Ing tidak menjawab pertanyaannya atau memperdulikannya. Tiba- tiba dia ber-kata dengan suara lantang.

“Kalian jangan berkelahi lagi. Siapa yang menginginkan keselamatan Tan Ki, dengarlah perkataanku!”

Mendengar ucapannya, wajah Ceng Lam Hong yang cantik segera berubah hebat. Ter- nyata seperti apa yang diduga Lok Ing, dia segera membuyarkan tenaga dalam yang telah dikerahkannya secara diam-diam.

“Permainan apa yang kau rencanakan?” tanyanya ketus.

Perlahan-lahan Lok Ing meletakkan Tan Ki di atas tanah. Dia merentangkan telapak tangannya. Di bawah cahaya rembulan yang semakin suram, tampak di atas telapak tangannya terdapat dua butir pil berwarna merah. Dia memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Yang kugenggam ini adalah racun. Setelah menelan obat ini, kurang lebih satu kentungan kemudian, pasti akan…”

Ceng Lam Hong merasa dadanya seakan tiba-tiba ditinju dengan keras oleh seseorang.
Tubuhnya terhuyung-huyung, mendadak dia menyurut mundur setengah langkah. Tampaknya seperti tidak kuat berdiri tegak. Namun dia mempertahankan diri sebisanya, tetapi mungkin setiap saat ada kemungkinan terkulai jatuh.

Lok Ing meneruskan ucapannya sepatah demi sepatah.

“Benda ini merupakan racun yang biasa digunakan dalam Ti Ciang Pang kami untuk menghukum murid yang berkhianat. Kalau kau merasa tidak percaya, boleh coba sendiri!”

“Ternyata… hati… mu be… gitu… ke… ji!” sahut Ceng Lam Hong dengan suara
terputus-putus. Tampaknya saat itu hati wanita setengah baya ini tengah bergolak dengan hebat. Penderitaan yang dirasakannya sangat luar biasa. Setiap patah kata yang diucapkannya terdengar bergetar dan tidak sanggup diselesaikan.

Melihat tampangnya yang sangat menderita dan demikian mengenaskan, Lok Ing justru merasa gembira sekali. Dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terkekeh-kekeh.

“Bagaimana? Apakah kau bersedia mencoba kemanjuran racunku ini?” Kembali tubuh Ceng Lam Hong menggigil seperti orang yang kedinginan.
“Nona, apapun yang kau inginkan agar aku melakukannya, boleh saja. Tetapi jangan menyiksa anakku di hadapanku. Perbuatan…mu terlalu sadis…” katanya lebih mirip orang yang sedang meratap.

“Aku tidak ingin kau melakukan apa-apa. Asal kau segera tinggalkan tepat ini dan ja- ngan mencampuri urusan ini lagi. Kalau bisa pergi sejauh-jauhnya.” kata Lok Ing sambil menggelengkan kepalanya.

Ceng Lam Hong merenung sejenak. Kemudian tampak dia menghentakkan kakinya ke atas tanah keras-keras.

“Baik, aku menyetujui permintaanmu. Tetapi kalau ada seujung kuku saja dari tubuh anakku yang terluka, maka aku akan mencarimu untuk membuat perhitungan!”

Sinar matanya yang lembut dan penuh kasih melirik Tan Ki sekilas. Tiba-tiba dia mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara suitan yang pilu. Tubuhnya bergerak lalu melesat cepat ke arah ruangan depan.
Dalam waktu yang singkat, bayangannya sudah tidak kelihatan lagi. Yang tertinggal hanya gema suitannya yang panjang dan memecahkan keheningan. Orang yang mendengarnya langsung merasa hatinya tergetar dan mengenaskan.

Sepasang alis Lok Hong mengerut-ngerut.

“Ing ji, tidak seharusnya kau mempermainkan orang lain seperti itu, kalau sampai ter- jadi…” katanya dengan suara lirih.

Tiba-tiba telinganya menangkap suara tawa yang panjang seperti ratapan burung han- tu. Cepat-cepat dia membungkam mulutnya dan kepalanya pun menoleh. Dari balik gunung-gunungan meloncat keluar dua orang yang mengenakan pakaian hitam dan bertopi putih. Di Bagian pinggangnya terikat seutas tali yang ketat.

Kedua orang itu persis mayat hidup. Ketika bergerak, kedua pahanya tegak lurus dan hanya meloncat-loncat seperti per yang turun naik. Sepasang lengannya lurus ke depan, ma-tanya membelalak marah. Dilihat dari sudut manapun tidak ada menampilkan sedikitpun kesan seperti manusia hidup umumnya.

Lok Ing yang melihatnya sampai merasa menggidik. Dia menghembuskan nafas dingin.

Tetapi biar bagaimanapun dia merupakan seorang gadis yang berhati keras dan selalu ingin menang sendiri. Setelah menggigil sejenak, dia mendengus satu kali dan menekan pera-saan takut dalam hatinya. Mulutnya mengeluarkan suara tertawa yang dingin.

“Mengapa orang yang ditemui hari ini, semuanya tidak seperti manusia…? Benar-benar menyebalkan!”

Ketika gadis itu masih berbicara, dia melihat kedua orang yang meloncat-loncat itu sudah berhenti dan suara tawa yang menyeramkan itu juga sirap seketika.

Dari balik gunung-gunungan yang tinggi tiba-tiba berjalan keluar lagi seorang manusia berkepala besar, bermata sipit dan mulutnya monyong ke depan. Dia mengenakan jubah panjang berwarna hitam. Tingginya kurang dari semeteran lebih.

Biar bagaimana Lok Hong merupakan seorang tokoh aneh di dunia Bulim saat ini, pengalamannya banyak sekali. Dia merasa bahwa orang yang baru muncul ini memang tidak enak dipandang, tetapi langkah kakinya yang perlahan menimbulkan kesan keangkuhan dan tinggi hati. Tampaknya dia merupakan pimpinan dari rombongan manusia yang tampangnya seperti mayat dan terdiri dari dua kelompok yang masing- masing dua yang mengenakan pakaian hitam dan dua lagi mengenakan pakaian putih.

Ketika pikirannya masih tergerak, dia melihat orang berkepala besar itu diiringi oleh dua kelompok manusia berpakaian hitam dan putih menghampiri ke arahnya dengan perlahan- lahan.

Ketika Kim Yu melihat kehadiran orang-orang ini, dia bagai menemukan dewa peno- long. Mimik wajahnya yang semula tampak khawatir dan cemas lenyap seketika. Cepat- cepat dia menyambut mereka dan membisikkan beberapa patah kata di samping telinga manusia berjubah hitam itu. Sikapnya penuh hormat dan sungkan.
Manusia berjubah hitam yang matanya sipit itu segera mendengus satu kali. Matanya melirik sekilas ke arah Tujuh Serigala dan meneruskan langkahnya ke depan.