Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 21

 
Bagian 21

Agak lama kemudian, debu yang mengepul memenuhi udara mulai sirna sedikit demi sedikit. Begitu mata Tan Ki mengedar, dia menjadi terbelalak dan terperanjat bukan kepalang!

Tampak tubuh Mei Ling yang langsing berdiri tegak di samping pohon yang rubuh tadi. Angin yang bertiup sepoi-sepoi mengibarkan pakaiannya. Debu masih beterbangan, tam- pangnya memang masih agak lemah, tetapi tidak mengurangi kecantikannya yang gemilang. Sepasang matanya yang sayu menyorotkan sinar terharu dan kesucian seorang gadis.

Begitu Tan Ki melihat dengan jelas, dia menjadi terperanjat sekaligus gembira. Keju-tan yang tidak terduga-duga ini malah membuatnya jadi tertegun beberapa saat. Kemudian dia tersadar kembali. “Mei Ling! Mei Ling!” teriaknya keras-keras.

Tiba-tiba, dia menghentikan langkah kakinya. Jaraknya dengan Mei Ling kurang lebih dua mistar. Dia merasa ada ribuan kata-kata yang memenuhi hatinya dan ingin dicetuskannya segera. Tetapi dia malah seperti orang terpana, tidak sepatah katapun terucapkan olehnya. Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Untuk sesaat, dia hanya berdiri memandangi Mei Ling dengan termangu-mangu. Wajahnya menyiratkan mimik seperti orang yang serba salah.

Mei Ling sendiri sebenarnya sudah mempersiapkan berbagai ucapan yang romantis yang ingin dibicarakannya bersama Tan Ki. Tetapi melihat tampang anak muda itu yang termangu-mangu memandanginya, dia benar-benar merasa di luar dugaan. Pada dasarnya dia memang seorang gadis yang pemalu, tentu saja dia tidak berani membuka pembicaraan terlebih dahulu. Dia takut harga dirinya sebagai seorang gadis malah jadi jatuh akibatnya”.

Suasana menjadi hening seketika. Tetapi malah membuat orang menjadi tidak sabar menghadapinya. Tidak ada yang membuka suara. Kedua muda mudi itu hanya berdiri saling memandang untuk sekian lama. Dua pasang mata saling menatap, di dalamnya terkandung isi hati masing-masing.

Kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, tiba-tiba…

Tan Ki mengangkat tangannya dan menepuk batok kepalanya sendiri. Mulutnya mengeluarkan suara terkejut. “Mei Ling, apakah kedua pukulanku tadi sempat melukaimu?”

Coba kalau pertanyaan ini diajukan lebih awal, di dalamnya pasti tersirat cinta kasih serta perhatian yang dalam. Setelah lewat beberapa saat baru dicetuskan, bukannya tidak bermanfaat, setidaknya dapat memecahkan keheningan yang mencekam.

Mei Ling menggigit-gigit bibirnya sendiri. Kemudian terdengarlah suaranya yang merdu dan polos.

“Tidak. Tadinya aku memang berdiri di belakang pohon itu, tapi karena tumbangnya ke samping, akupun tidak mendapat luka apa-apa.”

Tan Ki menghembuskan nafas lega. kekhawatirannya menjadi hilang. Rupanya setelah Yibun Siu San pergi, dia memutar dari belakang ke arah depan. Malah Tan Ki mencarinya sampai kalang kabut.

Anak muda itu tersenyum lembut, dengan penuh perhatian dia bertanya, “Apakah penyakitmu sudah sembuh?”

“Penyakit apa?” mendengar pertanyaannya, Mei Ling jadi bingung. Untuk sesaat dia lupa keadaannya sendiri selama beberapa hari ini.

“Setelah kau diculik oleh Oey Kang, dia mencekokimu dengan semacam racun, yakni Li Hun Tan. Kesadaranmu jadi hilang. Apakah kau sendiri tidak mengetahuinya?”

Mulut Mei Ling mengeluarkan seruan terkejut.

“Rupanya begitu kejadiannya. Setelah aku disuruh meminum sejenis ramuan oleh si raja iblis Oey Kang, rasanya aku langsung tertidur dan tidak tahu apa-apa lagi. Tetapi seperti juga orang yang sedang bermimpi, semuanya menjadi samar-samar dan hanya berbentuk bayangan. Aku tidak tahu bagaimana aku melewati hari. Pokoknya ada orang yang memerintahkan aku berbuat begini, begitu, aku hanya menurut saja. Meskipun ada terselip keinginan untuk menolak, tetapi tidak sedikit pun aku memiliki kesanggupan.
Kalau bukan Yibun Lopek yang menceritakan apa yang kualami, aku sendiri tidak tahu kalau kesadaranku sudah hilang, bahkan tidak dapat mengenali orangtua maupun sanak
kenalan sendiri…” berkata sampai Bagian yang sedih, tanpa dapat ditahan lagi airmatanya mengalir dengan deras.

“Jangan bersedih hati. Pokoknya sekarang penyakit jahat itu sudah hilang, kau seharusnya merasa gembira.” hibur Tan Ki.

Perlahan-lahan Mei Ling mengusap air matanya.

“Aku tahu kau sangat memperhatikan aku, malah kau yang menolong aku keluar dari Pek Hun Ceng…”

“Jangan ungkit lagi masalah itu. Aku telah menerima budi pertolongan Nona sebanyak dua kali. Sampai sekarang aku masih belum membalas semuanya. Kalau Nona masih mengatakan terus, malah membuat aku merasa malu.”

“Dalam hal ini bukan masalah budi pertolongan saja, tetapi masih terselip sesuatu hal lainnya.”

“Hal apa?”

“Cinta!”

Begitu kata-kata ini terucapkan, Mei Ling seolah telah menggunakan segenap keberanian hatinya. Setelah tercetus keluar, dia malah merasa pipinya menjadi panas. Hatinya malu sekali. Cepat-cepat dia menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Tan Ki.

Mendengar ucapannya, Tan Ki terkejut bukan kepalang. Dia merasa di luar dugaan bahwa gadis itu berani mengucapkan kata-kata seperti itu. Setelah tertegun beberapa saat ke-sadarannya baru pulih kembali.

“Mengapa kau bisa berkata demikian?” tanyanya lirih.

“Yibun Lopek yang mengatakan kepadaku, kau sangat mencintai aku bukan?”

Tentu saja Tan Ki tidak berani menjawab sepatah katapun. Pada saat itu juga, dia mendadak merasa Mei Ling seperti berubah menjadi orang lain. Sikapnya yang terlalu kolot, serta sifat kekanak-kanakannya sudah lenyap. Dia malah berubah menjadi dewasa dan terbuka. Setiap kata-kata yang diucapkannya, tampaknya wajar dan tidak dibuat-buat.

Karena tidak mendapat jawaban, hati Mei Ling malah menjadi panik.

“Katakanlah, pertama-tama ketika kau bertemu dengan Yibun Lopek, bukankah kau sedang menangisi aku? Malah kau mengucapkan ‘Aku cinta padamu…”, bukankah benar?”

Di desak sedemikian rupa, hati Tan Ki menjadi kelabakan. Tetapi karena pada dasarnya dia memang mencintai Mei Ling, terpaksa dia mengaku terus terang. Setelah mengumpulkan keberaniannya, akhirnya dia menyahut dengan tersendat-sendat.

“Kata-kata…! Itu… me… mang aku mengucapkan… nya.”

Dengan perasaan puas Mei Ling mengembangkan seulas senyuman yang manis.

“Sebetulnya, ketika Yibun Lopek menceritakan hal ini kepadaku, aku masih tidak percaya. Ketika kau datang bersama Cian Locianpwe, aku bermaksud menguji dirimu. Ternyata memang tidak salah dugaan Yibun Lopek, apabila kau tidak berhasil menemukan diriku, kau pasti akan menerjang keluar dengan kalap. Malah dua batang pohon yang tidak bersalah apa-apa jadi sasaran kekesalan hatimu.”

Tan Ki terperanjat mendengarnya.

“Rupanya kau sengaja menyembunyikan diri. Apakah Yibun Locianpwe juga yang menyuruhmu berbuat demikian?”

Mei Ling menganggukkan kepalanya, “Betul, dia malah mengatakan… malah mengatakan…”

Tiba-tiba dia merasa kata-kata yang diba-wahnya tidak pantas diutarakan. Karena membuat dirinya menjadi malu. Oleh karena itu, setelah bimbang sekian lama, dia masih belum sanggup melanjutkan kata-katanya.

Tan Ki menjadi panik.

“Apa yang dikatakan lagi oleh Yibun Locianpwe?” “Dia mengatakan…”
“Cepatlah katakan. Aih… aku jadi bingung setengah mati.”

Wajah Mei Ling jadi merah padam. Dengan terpaksa dan tersipu-sipu akhirnya dia mengatakan juga…

“Dia mengatakan bahwa dia akan menjadi comblang kita.”

Mendengar keterangannya, hati Tan Ki langsung terlonjak. Dia terkejut juga gembira. Semacam gerakan refleksi yang tidak di duga-duga membuatnya langsung menubruk ke arah gadis itu dan memeluknya erat-erat.

“Benar?”

Dengan tersipu-sipu, Mei Ling memejamkan matanya. Dia membiarkan Tan Ki meme- luknya. Dia membiarkan sepasang lengan Tan Ki yang kokoh merangkul pinggangnya yang kecil…

Tiba-tiba, di dalam hatinya ada semacam rahasia besar yang tidak berani diutarakan- nya!

Dia merasa takut!

Seandainya dia berterus terang kepada Tan Ki, dia khawatir anak muda itu akan memalingkan wajahnya segera dan pergi meninggalkan dirinya.
Sebetulnya, Mei Ling sendiri tidak berharap untuk jatuh cinta kepada laki-laki manapun, karena dirinya mempunyai suatu penyakit. Apabila dia menikah dengan laki-laki manapun, dia tidak sanggup memberi kebahagiaan kepada lawan jenisnya.

Dia tidak takut Tan Ki membencinya. Sebaliknya, apabila Tan Ki tidak mencintainya, dia malah lebih senang. Dia takut Tan Ki akan mencintainya semakin dalam sehingga tidak dapat melepaskan diri darinya lagi. Tentu dia akan membuat hidup anak muda itu menjadi sengsara selamanya…

Tetapi meskipun dia sudah berusaha mengendalikan perasaannya sendiri, malah dia menjadi terharu melihat kesetiaan Tan Ki. Dia melihat dengan mata kepala sendiri, begitu tidak menemukannya, anak muda itu menjadi kalap seperti orang gila. Bahkan dia melancar-kan pukulan untuk melampiaskan hawa amarah dalam dadanya dengan menumbangkan dua batang pohon. Apalagi Tan Ki merupakan pemuda pertama yang pernah ditemuinya seumur hidup. Sedangkan Tan Ki demikian tampan, baik hati serta penuh perhatian. Bagaimana dia tidak tertarik dengan pemuda seperti ini?

Oleh karena itu, dia juga tidak sampai hati menolak pelukan Tan Ki. Malah dirinya sendiri ikut terbuai oleh kesetiaan anak muda itu. Tubuh kedua orang itu saling berangkulan. Otomatis kulitpun saling bersentuhan. Di dalam tubuh mereka bagai ada aliran listrik yang sedang mengalir. Kira-kira sepeminum teh kemudian, perlahan-lahan Mei Ling membuka matanya. Wajahnya masih tersipu-sipu.

“Ki Koko, urusan kita, meskipun keputusan kita pribadi, tetapi bagaimanapun harus melewati ijin orangtua, baru terhitung sah. Sebelum Yibun Lopek menyatakan lamaran kepada ayahku, aku tidak mengijinkan kau menyatakan perasaanmu secara menyolok di depan umum. Kalau kau merasa rindu kepadaku, boleh mengajak aku keluar ketika tidak ada siapa-siapa.”

Tan Ki tertawa getir. Dengan gaya pasrah sepasang bahunya terangkat ke atas.

“Kalau pandanganmu masih demikian kolot, aku juga tidak berani mengatakan apa-apa lagi.”

“Aku hanya terharu karena cintamu yang tulus. Kalau kau tidak bersedia mengabulkan permintaanku,sudahlah.”

Tan Ki jadi terkejut setengah mati.

“Tidak, tidak. Aku tidak mempunyai maksud demikian. Tetapi kalau kau yang merasa rindu padaku, bagaimana?”

“Aku sendiri bisa mengendalikan perasaan dalam hatiku.” Mei Ling tersenyum simpul.
Dia melanjutkan lagi kata-katanya. “Kalian para lelaki lebih banyak diatur oleh emosi. Sedikit-sedikit tidak bisa menahan diri dan…”

Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya, wajahnya jadi berubah merah padam. Dengan tersipu-sipu dia menundukkan kepalanya. Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya dan berlari ke dalam rumah peristirahatan.
Tan Ki memandangi bayangan punggungnya yang indah, diam-diam dia menarik nafas panjang, bibirnya tersenyum simpul. Akhirnya, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, asal Yibun Siu San bersedia mewakilinya melamar gadis itu, urusan kan pasti beres.

Justru tidak lama setelah Mei Ling baru memasuki rumah peristirahatan, dia merasa di belakang punggungnya ada angin yang berhembus, disusul dengan suara kibaran lengan baju. Hatinya tercekat seketika, tangannya mendorong ke belakang dan tubuhnya pun segera melesat ke depan kira-kira dua depa, setelah itu dia baru berani memalingkan kepalanya.

Begitu mata memandang, dia melihat Yibun Siu San dan Cian Cong berdiri berdam- pingan sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Tampaknya ketika naik ke atas puncak bukit, mereka sudah merundingkan banyak hal.
Malah ada Bagian yang menyangkut diri Tan Ki. Itulah sebabnya mereka tergesa-gesa kembali lagi ke bawah.

Kedua orang itu saling lirik sekilas, mula-mula Cian Cong si pengemis sakti yang membuka suara.

“Kami sudah merundingkan suatu hal, yang mana kau yang harus melaksanakannya.” Tan Ki menarik nafas panjang.
“Boanpwe sudah berkali-kali menerima budi pertolongan dari Locianpwe. Masalah se- besar apapun, asal ada kesanggupan, pasti Boanpwe akan memberi balasan yang memuaskan hati Locianpwe.”

“Bagus sekali kalau begitu. Kami berdua telah meneliti cukup lama. Akhirnya kami mengambil keputusan bahwa pertemuan besar para enghiong kali ini, hanya kau seorang yang pantas memanggul beban seberat ini. Apalagi kau merupakah keponakan tunggal Yibun Loji, dia bersedia membantumu melenyapkan segala kesulitan dan mengangkat namamu menjadi terkenal.”

Mendengar keterangan yang tidak diduga-duga ini, Tan Ki terkejut setengah mati. Dia tidak pernah membayangkan bahwa hasil rundingan kedua orang itu adalah memilih dirinya menjadi Bulim Bengcu, Setelah rasa terkejutnya agak reda, dia segera menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.

“Tidak mungkin, ilmu silat Boanpwe masih belum cukup tinggi. Lagipula seorang Bulim Bengcu harus berhati mulia dan memikirkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Dan bukan atas kehendak Locianpwe berdua saja. Kedudukan Bulim Bengcu selalu melalui pertandingan ilmu silat dan penilaian orang banyak. Kemampuan Boanpwe masih jauh dari cukup. Tidak mungkin menerima perintah ini.”

Cian Cong tertawa terbahak-bahak.

“Urusan yang telah dipertimbangkan matang-matang oleh si pengemis tua, selamanya tidak pernah salah. Tetapi juga paling tidak suka memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Kalau kau tidak menerimanya juga tidak apa-apa. Marilah, tua bangka.”
Dia langsung menarik lengan Yibun Siu San serta membalikkan tubuhnya pergi dari tempat itu.

Dengan perasaan menyayangkan, Yibun Siu San menatap Tan Ki sekilas. Seperti se- ngaja tapi juga tidak, dia menarik nafas panjang.

“Kau tidak menerima urusan ini, masalah pernikahan dengan Liu Kouwnio juga tidak usah diungkit lagi. Si Bu Ti Sin-kiam Liu Seng itu merupakan seorang tokoh yang sudah pu-nya nama besar di dunia Kangouw, pergaulannya luas sekali. Sedangkan kau hanya seorang bocah tanpa nama, siapa yang sudi menyerahkan anak gadis kesayangannya begitu mudah kepadamu? Kalau kau tidak mencari sedikit nama di luaran, pasti sulit mendapat…”

Kata-katanya belum selesai, kedua orang itu sudah berlari belasan depa. Sedikit lagi mereka akan sampai di ujung bukit dan menghilang di sana.

Hati Tan Ki menjadi panik. Dia merasa kata-kata paman ketiganya itu sama sekali tidak salah. Setelah tersentak, dia segera berteriak sekeras-kerasnya, “Liongwi tunggu dulu sebentar, Boanpwe menerima…”

Baru mengucapkan beberapa patah kata, tiba-tiba dia merasa serangkum angin mener- pa ke arahnya. Tahu-tahu Cian Cong dan Yibun Siu San sudah berdiri lagi dengan ber- dampingan sambil tersenyum simpul tanpa mengucapkan apa-apa.

Rupanya mulut mereka memang mengatakan akan terus pergi, tetapi langkah kakinya seperti berat sekali karena memang sengaja mengulur waktu. Ketika Tan Ki membuka mulut menyatakan kesediaannya, dengan gerakan secepat kilat mereka kembali lagi. Pergi dan datang hanya menghabiskan waktu sekejap saja.

Tan Ki langsung mengetuk kepalanya sendiri.

“Rupanya kalian memang memaksa aku menerima urusan ini!” Cian Gong tertawa terbahak-bahak.
“Kalau jurus ini masih tidak mempan, si pengemis tua terpaksa memutar otak mencari akal yang lain. Tetapi si pengemis tua yakin, demi pernikahan dengan Liu Kouwnio, meskipun urusan yang lebih sulit lagi, kau tetap akan menerimanya.”

Dia menolehkan kepalanya dan mengedipkan mata kepada Yibun Siu San. Kedua orang itu pun langsung tertawa terbahak-bahak.

“Ilmu silat Boanpwe masih cetek. Belum tentu bisa merebut kedudukan Bulim Bengcu.
Apakah Locianpwe berdua mempunyai keyakinan?”

Cian Cong mengidapkan tangannya. Bibirnya tersenyum simpul.

“Liu Loji menyatakan akan mengumpulkan para jago dari seluruh dunia dalam setengah bulan ini. Dengan mempergunakan waktu yang ada, si pengemis tua dan Yibun Loji ini secara bergantian akan memberikan pengarahan kepadamu tentang pelajaran menyalurkan hawa murni serta jalan pernafasan.”
Sembari berbicara, mereka bertiga masuk kembali ke dalam rumah peristirahatan…

****

Waktu satu hari berlalu dengan cepat.

Yibun Siu San dan Cian Cong berdua mulai mengajarkan ilmu lwekang golongan putih.
Pada dasarnya otak Tan Ki memang cerdas, lagipula dia mempunyai bakat yang tinggi dalam mempelajari ilmu silat. Sedangkan tokoh-tokoh yang mengajarinya, satunya merupakan salah seorang dari Lu Wi Sam-kiat yang namanya pernah menggetarkan dunia Kangouw belasan tahun yang lalu, sedangkan yang satunya lagi merupakan salah satu dari tokoh sakti yang ada di dunia saat ini. Keduanya bekerja sama memusatkan segenap perhatian memberikan pelajaran kepada Tan Ki. Hanya dalam jangka waktu satu hari saja, anak muda itu sudah mendapat pengarahan yang tidak sedikit. Hawa murninya sekarang dapat dialirkan dengan lancar ke seluruh tubuh.

Dalam waktu satu hari itu pula, perasaan cinta di dalam hati Tan Ki dan Mei Ling se- makin bertambah.

Setelah hari kedua…

Ilmu lwekang Tan Ki berkembang semakin pesat. Hubungannya dengan Mei Ling seperti alat perekat. Keduanya tidak terpisahkan sedetikpun. Meskipun mereka selalu bersembunyi-sembunyi dan menghindari pandangan mata Cian Cong maupun Yibun Siu San, tetapi malah membuat perasaan rindu mereka semakin menggebu-gebu. Cinta kasih mereka semakin mendalam. Bahkan Mei Ling sudah bersumpah dalam hati, kalau tidak dengan Tan Ki, dia tidak mau menikah dengan siapapun.

Hari ketiga.

Suasana malam ini lain dari biasanya. Bahkan Cian Cong yang terkenal ugal-ugalan serta tidak bisa diam, juga acap kali mengerutkan sepasang alisnya. Dia berdiri di depan jendela dan melongokkan kepalanya keluar sambil memandang ke sekeliling.

Pasti hatinya sedang diganduli masalah yang berat dan tampaknya dia juga sedang menantikan kedatangan seseorang. Diam-diam Tan Ki bertanya-tanya dalam hati. Dia menjadi khawatir. Namun dia melihat Yibun Siu San juga duduk di atas tempat tidur dengan memejamkan matanya sambil mengatur pernafasan. Tentu saja dia tidak berani mengganggu kedua orang itu dengan berbagai pertanyaan. Terpaksa dia memendam rasa ingin tahu dalam hatinya dan menemani Mei Ling duduk di samping meja sambil berdiam diri.

Saat demikian seakan lewat dengan merayap. Bahkan setiap detik maupun menitnya dapat terhitung. Sebuah lampu minyak yang terdapat di atas meja menyorotkan sinar yang remang-remang. Cahaya apinya berkibar-kibar terhembus angin yang bertiup dari arah jendela.

Suasana terasa mencekam, hal ini membuat perasaan mereka menjadi sumpek dan iseng.

Tiba-tiba…
Suara siulan yang panjang sayup-sayup berkumandang ke dalam gendang telinga. Tan

Ki segera merasa bahwa orang yang mengeluarkan suara siulan itu memiliki tenaga yang kuat sekali, bahkan jauh lebih hebat daripada dirinya sendiri. Tanpa dapat ditahan lagi, wajahnya langsung berubah hebat. Secara refleks dia berdiri dari tempat duduknya. 

Cian Cong tertawa lebar.

“Ternyata tidak salah, si iblis tua sudah datang.” dia mendorong jendela di depannya agar terentang lebih lebar dan menyelinap keluar.

Yibun Siu San mendengus dingin. Dia juga langsung bangkit dari tempat tidur.
Sepasang kakinya menutul dan tubuhnya pun melesat keluar. Secara berturut-turut mereka menghambur keluar dari rumah peristirahatan tersebut. Kecepatan gerakan mereka benar-benar mengejutkan!

Hampir bersamaan waktu dengan melayang turunnya kedua orang itu, terasa angin menerpa, tepat pada saat itu juga melayang turun seseorang yang mengenakan jubah hijau.

Laki-laki setengah baya ini sama sekali tidak asing bagi Tan Ki. Dialah Pek Hun Ceng- cu, si raja iblis nomor satu saat ini, Sam Jiu San Tian-sin Oey Kang.

Begitu melihat Oey Kang, apalagi setelah menatap wajahnya yang menyiratkan kelici- kan, dia segera membayangkan pengalaman, Liang Fu Yong ketika diperkosa oleh orang ini. Suara ratapan gadis itu yang menyayat hati seakan berkumandang lagi di telinganya. Hatinya jadi benci bukan kepalang. Kalau Yibun Siu San tidak memerintahkan agar dia menjaga Mei Ling yang tubuhnya belum sehat kembali, rasanya dia ingin menerjang keluar dan menguji sampai di mana kemajuan ilmu silatnya setelah mendapat pengarahan selama tiga hari oleh Cian Cong dan Yibun Siu San.

Tanpa sadar, dia melangkahkan kakinya ke arah jendela. Di bawah sorotan cahaya rembulan yang kekuningan, dia melihat jelas bayangan ketiga orang itu. Keadaan di bawah sana tampaknya sangat menegangkan.

Tiba-tiba hidungnya mengendus bau harum yang samar-samar, entah sejak kapan Mei Ling sudah mendekati dirinya. Lengannya yang lembut melingkar di tangan kirinya. Seakan dia takut sekali mengetahui kehadiran si iblis Oey Kang.

Suara tawa yang panjang tiba-tiba memecahkan keheningan malam. Yibun Siu San berkata dengan suara lantang.

“Kentungan pertama baru berlalu, rembulan malam ini hanya remang- remang, me- ngapa Jiko juga datang ke tempat yang sunyi seperti ini?”

Oey Kang tersenyum lembut.

“Tanpa memperdulikan perjalanan yang panjang, Giheng sengaja datang ke sini untuk mengunjungi Toaso, harap Samte bersedia mengijinkannya.”
Orang ini benar-benar mempunyai watak yang licik. Sudah terang keadaan di hadapannya amat berbahaya, menegangkan, bahkan pertarungan antara mati hidup dapat terjadi kapan saja, tetapi dia masih bisa pura-pura seakan tidak ada sesuatupun. Mimik wajah-nya tampak wajar sekali. Bahkan dirinya terus mengembangkan senyuman.

Yibun Siu San seakan teringat sesuatu yang mengerikan, tubuhnya sampai bergetar.
Tetapi sesaat kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

“Memangnya siapa Toaso itu, mana sudi dia bertemu dengan orang yang mengkhianati toakonya! Pergilah, jangan menimbulkan hawa amarah dalam hatiku!”

Tan Ki dapat mendengar bahwa dalam suara tawa Yibun Siu San terkandung pende- ritaan yang tidak terkirakan. Malah suara tawanya ini timbul dari perasaan hatinya yang terlalu pilu.

Tanpa dapat ditahan lagi, hati Tan Ki jadi tergetar. ‘Rupanya antara Sam Siok dan Oey Kang juga ada dendam yang belum diselesaikan,’ pikirnya diam-diam.
Belum lagi pikirannya selesai, terdengar lagi suara tertawa dingin dari mulut Oey Kang. “Kalau kau mengijinkan juga tidak apa-apa. Biar Giheng naik sendiri ke atas.” perlahan-
lahan dia melangkahkan kakinya, ternyata dia benar-benar menuju ke atas bukit.

Terdengar Yibun Siu San membentak dengan suara keras. “Berhenti!”
Mendengar bentakannya, Oey Kang pun menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh ke belakang.

“Apakah kau memanggil aku?” tanyanya tenang.

“Tentu saja memanggil engkau. Apakah di sini ada orang lain lagi?” dengan kesal dia melanjutkan kata-katanya. “Aku tahu selama beberapa hari ini kau terus menyelidiki sekitar tempat ini, Aku yakin, Toaso tinggal di puncak bukit juga sudah kau ketahui sebelumnya.”

Oey Kang tertawa lebar.

“Terima kasih atas pujianmu.” sambil berbicara dia mengeluarkan sebatang kipas dari balik sakunya. Dia membuka kipas itu dan mengibas-kibaskannya dengan gaya angkuh.

Dengan penuh kebencian, Yibun Siu San mendengus keras-keras.

“Toaso pernah berpesan kepada Siaute, siapapun yang bermaksud mendaki ke atas bukit, Siaute harus menghalanginya. Mau bunuh atau hanya melukai, tergantung Siaute sen-diri.”

“Kalau begitu, kau ingin menghalangiku dengan kepandaianmu?” “Rasanya terpaksa demikian.” suara sahutan Yibun Siu San datar sekali.
Tampaknya Oey Kang tidak merasa takut sama sekali. Tiba-tiba dia tertawa terbahak- bahak.

“Coba saja…!” suaranya belum sirna, tiba-tiba lengannya terentang, tubuhnya bagai se- batang anak panah yang dibidikkan dari busurnya dan dengan kecepatan tinggi melesat ke depan.

Gerakannya ini menggunakan kecepatan yang tidak teruraikan dengan kata-kata dan dilakukan secara tidak terduga-duga. Hal ini di luar perkiraan Yibun Siu San. Dia terkejut setengah mati. Tetapi sekejap kemudian dia sudah pulih kembali seperti biasa. Setelah mengempos semangat sambil berteriak keras, dia menghambur ke depan mengejar si raja iblis itu.

Ilmu silat kedua orang ini, merupakan jago kelas satu di dunia Bulim saat ini. Yang satu lari, yang lain mengejar. Sama-sama menggunakan kecepatan tinggi. Tubuh mereka bagai segulungan angin yang menghempas ke depan. Dalam waktu yang singkat, mereka sudah berada dalam jarak dua belas depaan.

Tiba-tiba…

Lengan Oey Kang mengibas ke belakang. Terpancarlah segumpal kabut atau asap yang memenuhi udara. Hanya terlihat tebaran bayangan berwarna keputihan tertiup ke belakang.

Rupanya Oey Kang sudah mempersiapkan segumpal debu dari hancuran batu dan menggunakannya sebagai senjata rahasia. Benda seperti itu sangat ringan dan halus. Tetapi jangan lupa bahwa orang ini mempunyai julukan Dewa Kilat Bertangan Tiga, keahliannya menggunakan senjata rahasia sudah tersohor di dunia Kangouw. Belum pernah ada saingannya. Bahkan debu yang disebarkannya dapat menusuk mata lawan. Dengan kerahan tenaga dalamnya, butiran debu itu bagai biji perak yang kecil-kecil berjumlah ratusan me-luncur datang. Terdengar suara yang berde-sing-desing memecahkan kesunyian.

Perubahan yang mendadak itu benar-benar mengejutkan!

Yibun Siu San terperanjat setengah mati. Cepat-cepat dia mencelat mundur dan dalam waktu yang bersamaan dia mengibaskan lengan bajunya ke depan, matanya pun segera dipejamkan.

Bahkan si pengemis sakti Cian Cong yang berdiri di belakangnya juga tidak berani memandang ringan debu beracun itu. Mulutnya mengeluarkan suara siulan. Dengan posisi me-nahan di depan dada, dia menghantamkan sepasang telapak tangannya. Tenaga dorongannya yang kuat membuyarkan debu-debu itu seketika.

Tepat pada saat itu juga, udara dipenuhi dengan debu berwarna putih. Tersebar ke ma- na-mana. Kurang lebih sepeminum teh kemudian, debu itu perlahan-lahan membuyar.
Sinar rembulan memancarkan cahayanya, lambat laun pemandangan pun menjadi jelas kembali.

Begitu mata memandang, tanpa dapat ditahan lagi, Yibun Siu San dan Cian Cong ber- seru serentak. Wajah mereka langsung berubah hebat. Dalam waktu yang singkat, Oey Kang sudah sampai di pertengahan bukit. Apabila naik lagi kurang lebih seratusan depa,
dia akan mencapai rumah peristirahatan Yibun Siu San, bagaimana mereka tidak menjadi tercekat?

Hampir dalam waktu yang bersamaan, mereka mengempos semangatnya serta menge- rahkan ginkang untuk mengejar. Hanya dalam beberapa detik saja, mereka sudah menghilang. Hatinya pun menjadi agak lega. Pikirannya juga tidak begitu tertekan lagi.
Tiba-tiba serangkum suara tawa yang dingin seperti es berkumandang dari belakang punggungnya. Datangnya suara tawa ini begitu mendadak. Dalam waktu yang bersamaan, Tan Ki serta Mei Ling terkejut bukan kepalang. Tanpa dapat ditahan lagi, keduanya segera menolehkan kepala.

Entah sejak kapan, kurang lebih tiga mistar di belakang mereka tahu-tahu sudah berdiri sepasang laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bertubuh tinggi besar, wajahnya penuh dengan benjolan-benjolan daging. Dia mengenakan pakaian tosu dan tangannya menggenggam serenceng tasbih.

Orang satunya adalah seorang wanita setengah baya yang jeleknya jangan dikatakan lagi. Pakaian atasnya berlengan pendek dengan warna hijau pupus, Bagian bawahnya merupakan gaun lebar dengan warna yang sama. Pada Bagian pinggangnya tersampir pita ikatan berwarna merah menyala. Tubuhnya pendek dan gemuk. Hidungnya seperti singa, matanya seperti babi. Dua buah gigi depannya besar dan tonggos. Warnanya kuning pula. Benar-benar tidak ada Bagian yang enak untuk dilihat. Entah dosa apa yang dipikul orangtua-nya sehingga melahirkan anak seperti itu.
Hati Tan Ki sampai sebal melihatnya. Sepasang alisnya langsung terjungkit ke atas. “Siapa kalian? Aturan mana yang membolehkan kalian sembarang memasuki rumah
orang lain?” bentaknya marah.

Pinggang wanita yang jelek itu melenggok-lenggok, dia malah sengaja mengeluarkan gaya yang memuakkan.

“Kami memang sengaja datang mencarimu!” Wajah Tan Ki jadi merah padam.
“Ngaco belo! Kalau kalian masih tidak mau menjelaskan maksud kedatangan kalian ini, jangan salahkan kalau aku bertindak kurang sopan!” kakinya segera memasang kuda- kuda, tampaknya dia sudah siap menghadapi lawan. Sedangkan sepasang matanya memancarkan sinar yang dingin menusuk. Seakan setiap saat dia dapat melancarkan serangan yang hebat.

Wanita yang jelek itu malah tertawa terkekeh-kekeh.

“Buat apa kau begitu serius? Seperti orang yang baru keluar dari goa saja. Aku Lu Sam Nio tidak akan menyantap dirimu.”

Pada dasarnya perempuan ini sudah jelek setengah mati. Sekarang dia sengaja memperlihatkan gaya seperti seorang gadis remaja yang sedang dalam masa puber. Tentu saja kelakuannya makin menyebalkan orang yang melihatnya.
Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya. Dengan nyali yang cukup besar dia me-rapat ke arah Tan Ki. Sepasang alis anak muda itu mengerut ketat. Hawa pembunuhan mulai timbul dalam dadanya. Tangan kanannya direntangkan untuk melindungi Mei Ling.

“Wanita jalang, kau benar-benar cari mati!”

Terdengar deruan angin, telapak kirinya langsung mengirimkan sebuah pukulan ke de- pan. Tenaga pukulannya hebat bukan main. Hawa dalam ruangan itu menjadi sesak. Ser- angannya bagai gunung berapi yang siap meletus menerjang ke arah perempuan jelek itu.

Tampaknya wanita gemuk pendek lagi jelek itu tidak takut menghadapi serangannya.
Mulutnya pura-pura mengeluarkan seruan terkejut. Kakinya terhuyung-huyung seperti orang yang ketakutan, dengan gerakan gemulai dia bergeser ke samping tiga langkah. Tidak lebih jauh ataupun lebih dekat, tetapi dengan tepat ia dapat menghindarkan diri dari serangan pukulan Tan Ki.

Gerakannya itu seperti dibuat-buat, tetapi kecepatannya sungguh mengagumkan. Tan Ki yang melihatnya jadi termangu-mangu. Padahal hatinya terperanjat sekali. Rupanya ilmu silat wanita yang jelek ini tidak berada di bawah dirinya sendiri.

Pikirannya tergetar, mulutnya segera mengeluarkan suara raungan yang keras. Telapak tangan kiri dan kanannya serentak dihantamkan ke depan.

Baru saja dua pukulan dilancarkan keluar, terdengar Tosu yang berdiri di sampingnya tertawa seram.

“Sam Nio, jangan main-main lagi. Toa Ie (bibi) mengirimkan surat lewat merpati pos, isinya demikian mendesak. Kalau sampai karena sedikit kecerobohan akhirnya gagal, tentu wajah engkau dan aku tidak enak dilihat lagi.” sembari berbicara, tahu-tahu orangnya menerjang datang sambil membentak…

“Biar aku yang menghadapi bocah ini. Kau cepat bawa ‘barang permintaan’ meninggalkan tempat ini!” pergelangan tangannya memutar, tampak bulu kuduk di tangannya meremang semua. Setelah mengibas dua kali berturut-turut, dengan mudah dia sudah berhasil melepaskan diri dari serangan kedua pukulan Tan Ki.

Tampaknya ilmu silat orang ini bahkan lebih tinggi setingkat daripada Lu Sam Nio. Baru saja melepaskan diri dari serangan Tan Ki, tiba-tiba tubuhnya merapat ke depan dan tahu- tahu dia sudah melancarkan tujuh delapan jurus serangan.

Angin yang timbul dari pukulannya tampak bagai ombak yang bergulung-gulung.
Kekuatan tenaganya hebat bukan main. Serangan tasbihnya demikian cepat. Untuk sesaat, ru-angan itu dipenuhi bayangan tasbih yang tidak terhitung jumlahnya. Benar-benar ilmu yang tidak dapat dipandang enteng.

Serangannya yang gencar ini membuat Tan Ki terdesak sampai mengelak ke kiri, menangkis ke kanan. Langkah kakinya terus mundur ke belakang. Apabila dua tokoh kelas tinggi bergebrak, mati hidup hanya ditentukan dalam sesaat saja. Begitu serangannya gagal, kedudukan Tan Ki semakin membahayakan. Tosu yang garang itu terus mendesak maju, sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk mengatur nafas. Tasbihnya terus bergerak ke sana ke mari, bahkan menimbulkan suara yang berdesing-desing. Dengan
sengit dia melancarkan dua jurus. Kaki kirinyapun menendang dalam waktu yang bersamaan. Kecepatannya bagai kilat. Sasarannya Bagian bawah perut yang mematikan.

Saat ini Tan Ki sudah terdesak sampai bawah jendela. Di belakangnya adalah dinding rumah. Tidak ada tempat lagi untuk mundur. Meskipun hatinya tercekat melihat dua jurus serangan serta sebuah tendangannya, tetapi pada dasarnya dia merupakan manusia yang banyak akal. Meskipun menghadapi bahaya, ia tetap dapat mempertahankan ketenangan. Ce-pat-cepat dia menghimpun hawa murninya. Dengan jurus Pelangi Di atas Langit, dia segera membalas serangan yang hasilnya segera terlihat, memecahkan dua jurus dan sebuah tendangan yang keji itu.

Pertarungan ini merupakan pertempuran dua jago kelas tinggi yang seakan sedang me- ngadu jiwa. Satu jurus atau satu gerakan, sudah cukup untuk membunuh orang. Baik menyerang ataupun melindungi diri, semua dilakukan dengan cepat. Baru dilancarkan tahu-tahu sudah ditarik kembali. Setelah belasan kali, sulit lagi membedakan mana lawan dan mana diri sendiri.

Tiba-tiba…

Sebuah suara teriakan yang mengejutkan memecahkan keheningan!

Hati Tan Ki langsung tergetar. Meskipun dia sedang menghadapi lawan tangguh, na- mun dengan jelas dia mengetahui bahwa jeritan yang barusan terdengar keluar dari mulut Mei Ling yang dicintainya.

Hatinya menjadi panik. Dengan gencar dia melancarkan beberapa serangan ke arah la- wannya. Untuk beberapa saat, tosu itu sampai terdesak mundur. Matanya segera beralih, tanpa dapat ditahan lagi hatinya jadi tergetar. Jantungnya bagai terlonjak keluar pada saat itu juga!

Entah sejak kapan, wanita yang jelek itu sudah berhasil meringkus Mei Ling dan seka- rang gadis itu sudah berada dalam gendongannya. Pada saat itu juga, hawa amarah dalam dadanya jadi meluap. Jurus Menggetarkan Langit dan Bumi yang belum pernah digunakannya langsung dilancarkan. Serangan ini menggunakan segenap kekuatannya yang ada.

Selama tiga hari berturut-turut, dia menerima gemblengan dua tokoh sakti dunia Kangouw saat ini. Tenaga dalamnya sudah berlipat ganda dan dapat dilancarkan sesuka hati. Sekarang ini dikerahkan dalam keadaan gusar. Seluruh kekuatannya dihimpun dan tentu saja kejinya bukan main. Suaranya melengking tinggi.

Tosu itu biasanya paling memandang tinggi dirinya sendiri. Melihat serangannya itu, tampaknya dia tidak gentar sama sekali. Malah dia tertawa terbahak-bahak. Tasbihnya dipindahkan ke tangan kiri, telapak tangannya dihantamkan ke depan untuk menyambut serangan Tan Ki.

Serangkum angin yang kuat segera menerjang ke arah serangan Tan Ki yang dilancar- kan dalam keadaan gusar. Terdengar suara menggelegar yang memekakkan telinga.
Seluruh rumah peristirahatan itu jadi bergetar bahkan bergoyang-goyang beberapa detik, setiap waktu selalu ada kemungkinan ambruk ke bawah.
Setelah pukulan itu beradu, ternyata tubuh kedua orang itu terhuyung-huyung beberapa saat. Sulit membedakan siapa yang lebih unggul. Serangan yang dilancarkan Tan Ki lebih kuat dari biasanya, apalagi hatinya sedang gusar sekali. Kalau ditinjau dari hal ini, tentu anak muda ini masih kalah setingkat dari tosu jahat itu.

Tepat pada saat itu, terdengar suara Lu Sam Nio…

“Im Ka Toyu, orangnya sudah berhasil kudapatkan. Kita sudah boleh kembali membe- rikan laporan. Mari pergi!” matanya melirik ke arah Tan Ki sambil tersenyum menyeramkan. Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan pergi dari rumah itu.

Perubahan yang tidak terduga-duga ini berlangsung cepat sekali. Tan Ki jadi tertegun sesaat. Tiba-tiba Im Ka Tojin kembali menyerangnya secara gencar tiga jurus berturut- turut, Tan Ki sampai terdesak mundur tiga langkah.

Untuk sesaat, dia merasa hatinya dilanda keperihan yang tidak terkatakan, melebihi luapan amarah dalam bathinnya. Mendadak dia mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara siulan yang pilu. Sepasang kakinya menutul, tubuhnya melesat ke udara dan menerjang ke arah wanita jelek itu.

Im Ka Tojin tertawa dingin.

“Diri sendiri saja masih belum tentu selamat, saat ini masih berpikir untuk menolong orang lain!”

Lengan kanannya menghantam ke udara, timbul kekuatan yang dahsyat sekali, men- ghadang tubuh Tan Ki yang sedang melesat. Dalam waktu yang sekejap saja, Lu Sam Nio sudah menerjang keluar dan menghilang dalam kegelapan.

Tan Ki terhalang jalan perginya oleh hantaman Im Ka Tojin yang kuat. Tubuhnya ter- huyung-huyung beberapa saat, hawa murninya tidak dapat dikerahkan dengan lancar, akibatnya diapun terjatuh di atas tanah.

Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat. Im Ka Tojin sudah melesat ke arah pintu. Ilmu silat orang ini sangat tinggi. Begitu berkelebat, kecepatannya bagai kilat. Dalam dua kali lon-catan dia sudah sampai di depan pintu.

Hati Tan Ki panik sekali, dia langsung melonjak bangun dan meraung sekeras-kerasnya.
Dia melihat gerakan tosu itu demikian cepat, apalagi jaraknya kurang lebih satu depaan, untuk menghadang tentu tidak keburu lagi. Lengan kanannya segera terulur, dia men- cekal sebuah kursi kemudian dengan sepenuh tenaga dia menyambitkannya ke arah tosu tersebut.

Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga. Kursi yang dilemparkan sekuat tenaga itu tidak mengenai diri tosu itu malah membentur daun pintu. Pecahan kayu langsung berhamburan ke mana-mana.

Begitu mata memandang, Im Ka Tojin sudah melesat keluar dari rumah peristirahatan itu. Kepedihan yang berlebihan, membuat Tan Ki berdiri dengan termangu-mangu. Untuk se-saat dia lupa menyelamatkan Mei Ling. Sebetulnya dia dapat menyandak Im ka Tojin, toh ilmu mereka memang seimbang. Mana ada kesempatan baginya untuk menolong orang?

Oleh karena itu, hatinya tertekan sekali…

Air matanya pun mengalir dengan deras. Dia merasa tidak pernah mengenal kedua orang tadi. Mengapa mereka harus menculik Mei Ling?

Dia benar-benar tidak habis pikir apa alasannya, dia hanya merenung seperti orang bodoh. Impiannya yang indah kandas sudah…

***