Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 13

 
Bagian 13

Tan Ki tahu kali ini semuanya sudah selesai. Segulung api kemarahan seakan berkobar- kobar dalam hatinya!

Tampangnya yang terlongong-longong berbaur dengan kepedihan hatinya. Penasaran, kecewa semuanya campur aduk menjadi satu. Dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya berdiam diri sambil menguraikan air mata. Sampai saat ini, apalagi yang dapat dikatakannya?

Dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak berguna, tidak mempunyai kesanggupan untuk menolong Cicinya. Telinganya menangkap suara ratapan dan isak tangis yang terputus-putus terpancar dari dalam kamar. Suara itu bagai sebilah golok, sebatang
pedang yang tajam menusuk dan menyayat kalbunya. Yang mana membuat air matanya mengalir tambah deras.

Sekitar ruangan tersebut masih sunyi senyap seperti sebelumnya. Gedung ini sangat besar tetapi seakan tidak ada penghuni lainnya. Tidak ada seorang pun yang menyusul ke tempat tersebut untuk melihat apa yang telah terjadi. Atau… mereka sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Juga tidak terdengar suara seorangpun… hanya ratap tangis dari bibir Mei Ling.

Kurang lebih satu kentungan telah berlalu. Hati Tan Ki masih dilanda kesedihan. Tiba- tiba dia mendengar suara alat rahasia yang berderak-derak. Setelah berbunyi sesaat, baru pikiran Tan Ki tergugah, tahu-tahu kedua belah pintu besi telah bergerak dan menyusut ke dalam dinding.

Begitu matanya memandang, dia melihat Liang Fu Yong duduk di ujung tempat tidur tanpa bergerak sedikitpun. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu.
Rambutnya acak-acakkan, pakaiannya tidak karuan. Tampangnya kusut serta terlihat letih. Seakan badai topan yang baru melanda dirinya telah menguras habis tenaganya.
Wajahnya juga pucat pasi, dia telah kehilangan kecemerlangan yang terpancar dari kedua pipinya tadi. Oey Kang sendiri entah kabur ke mana. Dia tidak berada di dalam kamar.

Setelah menatap sejenak, perasaan Tan Ki menjadi sedih dan iba. Dia memanggil dengan suara sekeras-kerasnya.

“Cici…!”

Sambil merangkak dan menggelinding, dia menerjang ke dalam kamar. Liang Fu Yong yang melihat Tan Ki seperti orang kalap menghambur ke dalam kamar hanya menganggukkan kepalanya sedikit. Bibirnya mengembangkan senyuman yang pilu.

Belum lagi dia sempat mengucapkan sepatah katapun, air matanya sudah berderai dengan keras.

Di Bagian sebelumnya telah diceritakan tentang pengorbanan Liang Fu Yong demi aib yang akan dialami oleh Mei Ling. Begitu melihat perempuan itu, Tan Ki segera menerjang ke dalam kamar.

Liang Fu Yong yang melihat Tan Ki menerjang bagai orang kalap, tidak bergerak sama sekali. Dia hanya menganggukkan kepalanya sambil tertawa sumbang. Badai topan yang melandanya kali ini seperti membuat dirinya menjadi tua beberapa tahun dalam waktu yang sekejap. Butiran air matapun tidak sekilau kemarin-kemarinnya.

Tan Ki menghambur ke dalam kamar. Dia tidak memperdulikan lagi batas antara laki- laki dan perempuan, sekali loncat dia langsung menyusup ke dalam pelukan Liang Fu Yong dan menangis dengan sedih.

“Cici, mengapa kau begitu ceroboh, mengapa bersedia mengorbankan diri sendiri sehingga menyerahkan tubuhmu…?” kata-katanya belum selesai, tenggorokannya seperti tercekat, dia tidak sanggup melanjutkan kembali. Air matanya mengalir semakin deras.

Sekali lagi Liang Fu Yong tertawa sumbang.
“Laki-laki di kolong langit ini, entah sudah berapa banyak yang pernah berhubungan badan denganku. Ditambah satu lagi tidak ada artinya. Buat apa kau menangis meraung- raung seperti anak kecil?” sahutnya dengan mengeraskan hati.

Tampaknya kata-kata Liang Fu Yong benar-benar di luar dugaan Tan Ki. Dia menjadi termangu-mangu untuk beberapa saat.

“Apakah penghinaan semacam ini tidak membuat hatimu menjadi pedih?” tanyanya penasaran.

Wajah Liang Fu Yong agak berubah. Tangan yang tadinya hampir terulur untuk membelai kepala Tan Ki ditariknya kembali. Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya dan berdiam diri.

Penerangan di dalam kamar bagai dihimpit oleh kegelapan malam. Cahaya semakin mere-mang. Tapi Tan Ki dapat melihat jelas sepasang alis Liang Fu Yong yang terus mengerut. Isak tangis yang lirih menyusupi indera pendengarannya. Untuk sesaat dia menjadi maklum akan isi hati perempuan itu. Kata-kata yang diucapkannya tadi pasti bermaksud meringankan beban hatinya. Akhirnya Tan Ki menatapnya sambil menarik nafas panjang.

“Sebetulnya kau juga tidak dapat disalahkan. Kalau ada yang harus disalahkan, Thian- lah yang mengatur sampai semua ini terjadi. Sayangnya aku juga tidak mempunyai kebi- saan apapun, benar-benar manusia yang tidak berguna!” gerutunya kepada diri sendiri.

Liang Fu Yong tertawa getir.

“Anak bodoh, Oey Kang sudah meninggalkan tempat ini lewat jalan rahasia… buat apa kau menyalahkan dirimu sendiri?”

“Aku benci… benci kepada diriku yang tidak bisa memberi pertolongan kepada Cici!” de- ngan kalap dia meninju ujung tempat tidur sekeras-kerasnya. Sekejap saja tangannya sudah merah membengkak.

Liang Fu Yong menangkap pergelangan tangannya dan mencegah Tan Ki meneruskan perbuatan tolol itu.

“Meskipun telapak tanganmu sampai hancur, tidak akan ada orang yang perduli. Lagi pula kau juga tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi. Tenangkanlah hatimu dan dengarkan ucapan Cici ini.”

Tangannya terulur dan diangkatnya bantal bersulam di sisinya. Di bawah bantal tersebut terdapat sebuah bungkusan kertas. Kelihatannya biasa-biasa saja. Tidak ada keistimewaannya sama sekali. Tetapi Liang Fu Yong malah memandangnya seperti barang pusaka, dia mengambilnya dengan hati-hati.

“Pertemuan beberapa hari, meskipun belum membuat aku mendapatkan apa-apa, tetapi kesungguhan hatimu yang ingin mengubah aku menjadi orang baik-baik serta kembali ke jalan yang lurus, aku menyadari sekali. Bahkan kau tidak menganggap aku hina serta bersedia memanggil Cici kepadaku. Di antara laki-laki yang pernah kukenal, aku tidak pernah bertemu dengan seorangpun yang hatinya lebih mulia dari padamu…!” tiba- tiba Liang Fu Yong merasa, apabila kata-katanya diteruskan hanya menambah kepedihan
hatinya saja. Dan apa yang diharapkannya, mungkin akan diketahui oleh Tan Ki. Oleh karena itu dia menarik nafas panjang dan memadamkan kobaran api dalam hatinya. “Sekali bertemu, kita terhitung memiliki jodoh. Obat penawar ini anggaplah sebagai hadiah perpisahan. Semoga kelak namamu akan menjulang tinggi di dunia Kangouw dan mempunyai masa depan yang cerah.”

Hati Tan Ki terkesiap. “Apa, hadiah perpisahan?”

“Tidak salah. Aku sudah mengambil keputusan untuk tetap menetap di sini. Mungkin sepanjang hidupku, aku tidak akan keluar lagi ke dunia ramai. Mengingat persaudaran kita yang meskipun baru terjalin dalam beberapa hari, tunggulah sejenak, nanti ada orang yang mengantarmu keluar dari perkampungan ini. Pergilah ke depan sana.”

Kata-katanya yang terakhir, walaupun diucapkan dengan nada yang kaku serta tegas, namun dia juga tidak sanggup menutupi kepiluan hatinya menjelang perpisahan ini.
Perasaannya semakin tertekan. Di kelopak matanya kembali menggenang air mata yang siap berderai setiap waktu.

Tanpa disangka-sangka, Tan Ki mengibaskan tangannya dan melempar bungkusan obat itu ke atas tanah. Dia tertawa sumbang dua kali. Saking kesalnya, air matanya ikut mengalir turun.

“Rupanya kau mengorbankan diri, hanya…

untuk menolong aku. Kata-kata apa yang kau ucapkan barusan? Meskipun obat ini dapat merubah aku menjadi dewa, aku juga tidak mau meminumnya!”

Mendengar perkataannya yang tulus dan air matanya yang berderai deras, tanpa dapat ditahan lagi, serangkum rasa pedih menyusup dalam sanubarinya. Tetapi dia menguatkan hatinya agar air matanya jangan menetes. Berulang kali dia mengibaskan tangannya dan sengaja berkata dengan suara yang dingin serta ketus.

“Pergilah, pergilah! Di sini bukan tempat yang baik untuk berdiam lama-lama!”

Tiba-tiba terlihat Tan Ki mengangkat lengan bajunya untuk mengusap air mata yang membasahi pipinya, kemudian dia memeluk Liang Fu Yong erat-erat.

“Cici, katakanlah terus terang. Apakah kau mengorbankan diri hanya untuk memohon obat penawar ini? Katakanlah, aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri…!”

Liang Fu Yong tetap berdiam diri. Dia tidak menyahut sepatah katapun. Namun kepedihan hatinya tidak tertahankan lagi. Dua butir air mata berurai ke bawah. Tan Ki semakin panik melihatnya. Dia mengguncang tubuh

Liang Fu Yong keras-keras… “Katakanlah!”

“Jangan memaksa aku mengatakan apa-apa! Jangan memaksa aku…!” suaranya semakin parau dan tiba-tiba dia mengulurkan “sepasang lengannya serta memeluk Tan Ki erat-erat. Dengan wajah bersandar pada pundaknya, dia menangis tersedu-sedu.

Air mata kepedihan terus mengalir…
Bukan kerena takut atau terkejut, tetapi air mata yang berderai karena curahan kasih dalam hati. Penerangan dalam kamar semakin lama semakin suram. Suasana dingin mencekam. Hanya terlihat sepasang pemuda-pemudi yang saling berpelukan sambil terisak-isak… sungguh suatu pemandangan yang menyentuh hati.

Setelah menangis beberapa saat, perasaan Tan Ki menjadi agak tenang.

“Cici, terima kasih…” baru mengucapkan sepatah kata, hidungnya terasa pedih kembali.
Kata-kata selanjutnya tidak sanggup ia lanjutkan kembali.

Perlahan-lahan Liang Fu Yong mendorong tubuhnya. Dia mengeluarkan sehelai sapu tangan dan diusapnya bekas air mata yang membasahi pipi Tan Ki. Gerakannya sangat lembut dan penuh perhatian. Persis seperti seorang ibu yang menghibur putranya yang sedang bersedih hati.

“Orang sebesar ini masih menangis meraung-raung…” tiba-tiba dia teringat bahwa dirinya sendiri juga tidak berbeda, wajahnya menjadi merah dan cepat-cepat kata-katanya dihentikan.

Tan Ki tersenyum lembut. Dia tidak langsung menyahut kata-kata perempuan itu.
Delipan mata yang memancarkan perasaan penuh kasih, dia menatap Liang Fu Yong lekat- lekat.

“Cici, maukah kau menikah denganku?” tanyanya kemudian. “Apa?”
Liang Fu Yong terkejut sekali. Sepasang matanya memandang terpana. Hampir saja dia tidak berani mempercayai pendengarannya sendiri, padahal dia mendengarnya dengan jelas.

“Jangan sembarang mengoceh, mana boleh…”

“Ucapan yang kukatakan tadi bukan gurauan. Malah aku sudah mempertimbangkannya matang-matang. Sekarang kita sudah mendapatkan obat penawar, ilmu silatku dapat pulih kembali. Walaupun tidak ada yang mengantar kita keluar dari Pek Hun Geng ini, dengan asal terjang aku yakin kita bisa menemukan jalan keluarnya. Pada waktu itu, samudera luas dan batas langit kapan saja dapat kita datangi. Kau hanya perlu menunggu aku membalaskan dendam ayahku, kemudian kita cari pegunungan yang sunyi dan berpemandangan indah sebagai tempat tinggal kita di hari tua…”

“Tidak bisa…” Tan Ki tertawa lebar.

“Bukan masalah bisa atau tidak, tetapi kau bersedia atau tidak?”

“Aku adalah seorang perempuan yang penuh dosa, mana pantas aku bersanding…” Tiba-tiba Tan Ki mengangkat tangannya dan menutup bibir perempuan itu.
“Jangan berkata apa-apa lagi. Aku tahu sebetulnya kau bersedia. Hanya perasaan harga dirimu yang mencegah kau mengatakannya.”
Mendengar ucapan Tan Ki, Liang Fu Yong tahu isi hatinya telah terbongkar oleh anak muda tersebut. Dengan tersipu-sipu dia menundukkan kepalanya, jari jemarinya mempermainkan ujung pakaian. Dia tidak berani menatap sinar mata Tan Ki. Sedangkan jantungnya berdegup semakin keras.

Ketika perasaannya masih malu dan wajahnya tersipu-sipu, dia mendengar Tan Ki me- lanjutkan kata-katanya.

“Kau duduk saja di sini, tunggulah aku sebentar. Aku akan bersemedi sesaat untuk me- mulihkan tenaga dalamku, setelah itu, kita bersama-sama melarikan diri dari tempat ini.”

Tan Ki langsung membalikkan tubuh dan memungut bungkusan obat yang tadi dilem- parkannya di atas tanah. Dia segera membuka bungkusan obat itu dan menelannya sekaligus. Sejenak kemudian terasa serangkum hawa yang sejuk mengalir di dalam tubuhnya, dia merasa nyaman sekali.

Setelah itu, Tan Ki duduk bersila di atas tanah. Dia mengembangkan seulas senyuman lembut kepada Liang Fu Yong. Kemudian matanya dipejamkan rapat-rapat dan mulai bersemedi. Mata Liang Fu Yong memandang wajah tampan Tan Ki lekat-lekat. Dia sendiri tidak tahu apa yang terasa dalam hatinya. Sakitkah? Pedihkah? Terkejut? Atau gembira? Mendengar lamaran Tan Ki yang dinyatakan secara langsung. Sejenak dia tertegun tanpa tahu keputusan apa yang harus diambilnya.

Beberapa hari menempuh perjalanan bersama, membuat hati Liang Fu Yong jadi memiliki semacam perasaan yang aneh terhadap pemuda di hadapannya ini. Tetapi masa lalunya terlalu suram sehingga dia tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaan yang terkandung di dalam hatinya.

Apalagi setelah dia membandingkannya, ketampanan, keceriaan, kegagahan Tan Ki membuat Liang Fu Yong merasa dirinya semakin rendah dan hina. Sedangkan pada saat seperti ini, tiba-tiba Tan Ki melamarnya, tentu saja hati perempuan ini menjadi curiga.

Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun bergaul dengan kaum laki-laki, Liang Fu Yong dapat melihat bahwa tindakan anak muda itu hanya lampiasan emosinya sesaat. Dia belum mempertimbangkannya dengan matang-matang. Seandainya ada orang yang mengatakan bahwa pernikahan semacam ini dapat membawa kebahagiaan, maka di dunia tidak ada tragedi lagi.

Meskipun demikian, bayangan Tan Ki sudah terpatri dalam hatinya. Dia tahu perasaan ini ajaib sekali. Biar bagaimanapun sulit baginya untuk menghapuskan bayangan tersebut, tetapi dia tidak tahu mengapa. Perasaannya saat ini seperti bercampur

aduk, asam manis, pahit, pedas, semuanya bersatu di dalam kalbu. Air matanya bagai untaian mutiara yang jatuh berderai. Hati kecilnya ingin sekali menerima lamaran Tan Ki, namun perasaan rendah dirinya seperti mencegah. Dia menjadi serba salah.

Burung-burung kecil yang berkeliaran di atas jendela tidak hentinya mencuit-cuit.
Suaranya terputus-putus seakan menambah di dalam kamar itu menjadi semakin mengenaskan.
Entah berapa lama sudah berlalu, di atas ubun-ubun kepala Tan Ki terlihat uap putih yang mengepul ke atas. Perlahan-lahan memenuhi ruangan. Tampaknya semedi anak muda itu sudah hampir mencapai puncaknya dan sebentar lagi akan selesai.

Liang Fu Yong sadar bahwa sejenak lagi Tan Ki akan membuka matanya. Dia mengger- takkan giginya erat-erat dan menarik nafas panjang dengan wajah yang muram.
Dirapikannya pakaiannya yang tidak karuan. Matanya yang mengandung kasih sayang dan penyesalan diri terus menatap Tan Ki lekat-lekat. Dia seperti khawatir Tan Ki tiba-tiba akan menghilang dari pandangannya. Dia tidak mengedipkan matanya sama sekali. Tetapi langkah kakinya perlahan-lahan bertindak menuju pintu.

Tan Ki sedang bersemedi, dia seperti meragakan kalau Liang Fu Yong akan meninggal- kannya. Tiba-tiba sepasang matanya membuka dan melihat ke arah perempuan itu. Saat itu keadaannya sedang pada puncak krisis. Mulutnya tidak boleh bicara sama sekali.
Melihat Liang Fu Yong melangkah perlahan-lahan dengan maksud pergi dari situ, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan keras, wajahnya menunjukkan kepanikan.

Dua pasang mata saling pandang, hati Liang Fu Yong menjadi tertekan. Wajahnya berubah hebat. Dia merasa dari sinar mata Tan Ki terpancar semacam kekuatan yang memaksa dirinya untuk kembali. Untuk sesaat tubuhnya terasa lemas. Dia tidak mempunyai tenaga untuk melangkah. Cepat-cepat dia memejamkan matanya dan bersandar pada daun pintu. Dia mengatur nafasnya beberapa saat.

Ketika Liang Fu Yong memaksa diri untuk membuka matanya. Tampak dua bulir air mata telah membasahi wajah Tan Ki. Air mata yang mengalir dari cinta kasih dalam hati pemuda itu membuat pikiran Liang Fu Yong seakan mendapat pukulan bathin yang hebat. Dia berteriak sekeras-kerasnya dan menghambur keluar dari tempat tersebut.

Rupanya di dalam hati perempuan itu telah tertanam semacam perasaan rendah diri yang dalam. Dia menganggap dirinya sebagai perempuan jalang dan rendah, sama sekali tidak pantas bersanding dengan Tan Ki. Melihat air mata kepedihan yang keluar dari sepasang kelopak mata Tan Ki, hatinya semakin menderita. Dua arus perasaan yang berbeda, yakni sesat dan lurus berkecamuk di dalam bathin-nya. Untuk sesaat dia menjadi kehilangan akal sehat dan menerjang keluar seperti orang yang kerasukan setan.

Hati Tan Ki sendiri bertambah panik. Dengan kalap dia melonjak bangun dan bermaksud mengejar. Siapa nyana saat itu semedinya sedang mencapai puncak krisis, hawa murninya sedang mengalir mengelilingi seluruh tubuh. Mendadak dia melonjak bangun, otomatis hawa murni yang sedang mengalir itu seperti kehilangan kendali dan buyar seketika. Malah secara perlahan-lahan menyerang isi perutnya sendiri. Ketika kakinya baru berdiri tegak, dia sudah merasakan sesuatu yang tidak beres. Dia langsung menjerit keras-keras dan terkulai di atas tanah.

Agak lama kemudian, lambat laun dia mulai tersadar dari pingsannya. Dia merasa kepalanya seperti digelayuti beban yang berat dan terasa pusing tujuh keliling. Tubuhnya seperti terserang penyakit yang parah serta tidak bertenaga sama sekali. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia memuntahkan darah segar beberapa kali berturut-turut.

Tan Ki juga tidak memperdulikan bercak darah yang membasahi pakaiannya, dia juga tidak menghapus sisa darah di ujung bibirnya. Matanya mengedar ke sekeliling.
Penerangan sudah padam. Ruangan tersebut menjadi gelap gulita. Untung saja penglihatannya sangat tajam. Biarpun malam gelap sekali, dalam jarak tiga depa dia masih
dapat melihat dengan jelas. Tetapi dia tidak berhasil menemukan bayangan Liang Fu Yong. Meja maupun kursi di dalam ruangan tersebut masih sama dengan sebelumnya. Tanpa sadar dia menarik nafas dalam-dalam. Dia memaksakan dirinya untuk bangun. Sepasang tangannya bertumpu pada dinding ruangan. Setindak demi setindak dia berjalan keluar dari kamar tersebut.

Karena emosi sesaat, hawa murni dalam tubuhnya malah berbalik arah melukai isi perutnya sendiri. Meskipun tenaga dalamnya dapat pulih kembali, tapi dia sudah mendapatkan kerugian yang besar.

Setelah berjalan sejenak, dia keluar dari halaman lewat koridor yang panjang. Dia sudah kelelahan. Keningnya berkeringat. Dihentikannya langkah kakinya, wajahnya di- dongakkan dan menatap rembulan.

“Meskipun dapat keluar dari tempat ini, tapi dalam waktu tiga kentungan, luka ini mungkin dapat mengakibatkan kematian.” katanya kepada diri sendiri.

Berkata sampai di sini, gambaran dirinya menjelang kematian seakan membayang di depan pelupuk mata. Tanpa sadar dia menarik nafas dengan tampang mengenaskan!

Angin bertiup rumputpun melambai-lambai, daun serta ranting pepohonan menimbulkan suara yang gemerisik. Seakan mengalunkan irama yang menyayangkan umur Tan Ki yang pendek. Tiba-tiba terdengar suara kibasan baju yang terpancar dari empat penjuru. Meskipun hati Tan Ki dalam keadaan gundah dan sedih, tetapi pendengarannya justru semakin peka. Begitu mendengar sedikit suara, dia langsung tersentak. Matanya segera mengedar dengan seksama. Justru dalam waktu yang sekejap ini, di Bagian depan dan belakangnya telah berdiri tiga puluh enam lakilaki berpakaian hitam. Mimik wajah mereka masing-masing sangat kaku. Mata mereka membelalak, seperti manusia yang tidak mempunyai sukma. Mereka juga tidak bergerak. Ketika angin malam berhembus, perasaan Tan Ki seperti sedang dikelilingi oleh sekumpulan hantu gentayangan.

Dalam hati timbul firasat yang buruk. Diam-diam dia berpikir…

‘Kalau ditilik dari gerakan mereka, tentunya semua orang ini tergolong tokoh tingkat tinggi. Tapi mengapa tampang mereka lebih mirip dengan mayat hidup, berdiri termangu- mangu dengan mata membelalak. Sehingga perasaan orang yang melihatnya jadi tidak karuan’.

Baru saja pikiran ini melintas dalam benaknya, tiba-tiba matanya terasa berkunang- kunang, gulungan tenaga yang kuat dalam jumlah yang tidak terkira telah mendesak ke arahnya. Begitu kerasnya sehingga tubuh Tan Ki berputaran beberapa kali dan hampir tidak dapat tegak kembali.

Pekarangan ini luasnya sedang-sedang saja. Dikatakan besar tidak, dibilang kecil juga tidak. Laki-laki berpakaian hitam yang berdiri di sana ternyata tidak merasa sesak, tetapi apabila bertambah satu orang lagi, malah terasa seperti tidak ada tempat lagi untuk berdiri.

Tan Ki justru berdiri di tengah-tengah pekarangan. Dalam keadaan seperti ini, dengan hadirnya sedemikian banyak laki-laki berpakaian hitam, di tambah lagi dengan dirinya
seorang, seakan terasa berlebihan. Seperti sebutir abu di dalam mata, yang mana terasa menusuk dan menimbulkan perasaan tidak enak.

Sejak tadi dia sudah menghimpun tenaga dalam untuk melindungi dirinya. Secara tiba- tiba dia didesak oleh rangkuman tenaga dalam dari kiri kanan depan belakang, tentu saja timbul serangkum tenaga tolakan yang membuat tenaga yang mendesaknya seperti buyar seketika.

Setelah itu, dengan kecepatan kilat dia mengirimkan dua pukulan ke arah lawannya.
Terdengar suara bentakan yang menggelegar. Empat rangkum angin pukulan yang dahsyat menerjang ke arahnya.

Rupanya para laki-laki berpakaian hitam ini merupakan Barisan Jenderal Langit yang dididiknya sendiri. Ketiga puluh enam orang ini terbagi dalam sembilan kelompok. Setiap kelompok mempunyai keahlian masing-masing yang berbeda. Ada yang menggunakan pukulan untuk melancarkan serangan, ada yang menggabungkan tenaga dalam meraih kemenangan. Hal ini membuat pihak lawannya sulit meraba bagaimana cara bekerjanya barisan itu dan mengadakan persiapan sejak semula.

Sedikit saja kurang berhati-hati, hampir saja Tan Ki terjerat dalam perangkap. Dengan panik dia menghimpun tenaga dalamnya ke arah telapak tangan dan dengan posisi menahan di depan dada, dia mendorong ke depan.

Meskipun serangan ini dilancarkan dalam keadaan terluka, tetapi kekuatannya tidak dapat dipandang ringan. Gagahnya bukan main, meskipun manusia berpakaian hitam itu menyerangnya dengan cara menggabungkan tenaga dalam empat orang sekaligus, tetapi dia berhasil menahannya.

Mengadu pukulan dengan kekerasan yang hanya berlangsung satu jurus itu, tubuh Tan Ki hanya terhuyung-huyung sedikit kemudian tegak kembali. Telinganya menangkap suara desiran angin, serangan kelompok ketiga sudah menerjang tiba. Serangan kali ini tentu saja berbeda dengan yang sebelumnya. Empat orang itu memencarkan diri menjadi dua orang di kiri dan duanya lagi di kanan. Suara yang terpancar dari kepalan tangan dan bayangan telapak menerjang ke arahnya.

Diam-diam sepasang alis Tan Ki mengerut dengan ketat. Mulutnya mengeluarkan suara bentakan yang keras. Sepasang telapak tangannya ditekapkan di bawah ketiak kemudian dihantamkan kedua arah yang berlawanan.

Baru saja dia berhasil mendesak mundur orang-orang dari kelompok ketiga, orang- orang dari kelompok keempat sudah menyerbu ke arahnya. Serangan demi serangan dilancarkan dengan gencar. Semuanya memiliki keahlian yang berbeda-beda. Apalagi serangan mereka semakin lama semakin kuat dan juga semakin membahayakan.

Dengan berturut-turut dia menyambut serangan sembilan kelompok dari barisan tersebut. Diam-diam hatinya menjadi gelisah.

“Mereka menyerang dengan cara bergiliran. Tampaknya tidak ada henti-hentinya. Kalau begini terus, sampai kapan aku harus bertarung, sampai kapan baru berhenti? Tenagaku yang seorang ini melawan tenaga mereka yang menggunakan cara bergilir, kalaupun tidak terpukul mati, lambat laun pasti akan mati lemas. Apalagi luka dalamku sangat parah, apabila dipaksakan, malah bisa-bisa mempercepat kematian. Lebih baik himpun seluruh
tenaga dan menerjang keluar. Siapa tahu benar-benar berhasil keluar dari kepungan barisan ini.” katanya kepada diri sendiri.

Baru saja pikirannya tergerak, dia langsung mengumpulkan seluruh tenaganya dan bersiap-siap melancarkan beberapa pukulan yang dahsyat. Dia berniat menggunakan siasat menggertak terlebih dahulu, kemudian menerjang. Tiba-tiba telinganya menangkap suara siulan yang nyaring dan berkumandang dari kejauhan. Laki-laki berpakaian hitam itu mendadak menghentikan gerakannya dan mundur ke tempat semula.

Tampak sebelah telapak tangan mereka menahan di depan dada dan berdiri dengan termangu-mangu. Wajah mereka tidak menunjukkan perasaan sedikitpun. Empat orang dalam setiap kelompoknya berbaris dengan rapi. Apabila diperhatikan, barisan itu tampak angker sekali.

Hati Tan Ki terkejut setengah mati.

‘Mungkin kali ini, seluruh barisan akan bergerak serentak.’ pikirnya dalam hati.

Suatu ingatan melintas di benaknya. Cepat-cepat dia maju dua langkah, telapak tangannya mengambil posisi menahan di depan dada, seakan-akan dia ingin melancarkan sebuah serangan ke arah kelompok yang berjarak satu depa di depannya.

Ilmu silat Tan Ki sudah tergolong jago kelas satu dalam dunia Kangouw. Meskipun sedang terluka parah dan hawa murninya telah terhambur banyak, tetapi kecepatan gerakannya ini bukan alang kepalang. Lawannya baru melihat jelas kakinya melangkah maju dua tindak, tahu-tahu dirinya sudah kembali pada posisi semula.

Ternyata di Bagian belakang punggungnya terasa melanda tiba sebuah kekuatan yang besar. Kekuatan itu demikian besar laksana ombak yang bergulung-gulung. Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat. Secepat kilat dia membalikkan tubuhnya dan menghantamkan sepasang telapak tangannya.

Begitu matanya memandang, tanpa terasa dia jadi tertegun. Ternyata dibelakangnya tidak ada orang yang mengejar, hanya sekelompok orang-orang dari barisan yang berdiri berbaris. Masing-masing mengulurkan telapak tangan kanannya dengan gaya mendorong ke depan. Jarak mereka kira-kira setengah depa dari tempat Tan Ki, tapi ternyata gulungan tenaga yang terpencar dari pukulan mereka sudah sampai di belakang punggung anak muda tersebut.

Kumpulan laki-laki berpakaian hitam itu merupakan tokoh-tokoh dari dunia Bulim yang dipaksa dengan berbagai macam cara oleh Oey Kang untuk mengikuti perintahnya.
Mereka juga mendapat didikan langsung dari iblis tersebut. Kekuatannya tidak dapat dipandang ringan, setiap orang memiliki keahlian tersendiri. Begitu gabungan tenaga dalam mereka dilancarkan, otomatis kekuatannya jadi melipat ganda. Tadinya Tan Ki berpikir, apabila orang yang mengejar di belakangnya tiba, dengan tidak terduga-duga dia akan melancarkan sebuah serangan yang mengandung seluruh kekuatannya agar kelompok itu dapat terdesak mundur. Dengan demikian, dia bisa merebut posisi menyerang duluan kemudian menerjang keluar. Tetapi kenyataannya berbeda dengan apa yang dibayangkan. Justru dia yang terkejut setengah mati.

Kalau diceritakan memang panjang, kejadiannya sendiri berlangsung dengan cepat sekali. Tenaga dalam yang terpancar dari telapak tangannya baru beradu dengan
kekuatan gabungan empat orang tersebut, tiba-tiba dia membentak marah, lengannya tergetar dan tubuhnyapun mencelat ke tengah udara. Dia merasa tenaga hantaman keempat orang itu terus meluncur di bawah kakinya, kalau saja dia tidak bersiap sedia dengan menghimpun tenaga dalamnya, akibatnya sulit diba-yangkan. Sungguh detik-detik yang menegangkan!

Begitu terpental, dia segera melambungkan tubuhnya sampai setinggi tiga depa, kepalanya menoleh ke bawah. Ternyata barisan ini memang hebat sekali. Gerakan mereka sangat kompak. Di dalamnya juga terkandung kekuatan yang dahsyat.

Pada saat ini, kesembilan kelompok dari barisan itu sudah bergerak serentak ke arah pusat. Tampak bayangan manusia berkelebat ke sana ke mari, tetapi kibaran pakaian mereka tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Sementara itu, tubuhnya pun sedang meluncur ke bawah. Entah mengapa, tenyata orang-orang dari barisan itu tidak ada satupun yang mendongakkan kepala memandangnya. Hati Tan Ki segera tergerak, dia meliukkan pinggangnya dan merubah gerakan jurusnya, sebuah pukulan ia lancarkan ke arah seseorang yang di Bagian penutup kepalanya tertancap sekuntum bunga merah.

Apabila pukulan ini mencapai sasarannya, orang itu pasti akan terkapar mati seketika. Siapa nyana orang itu sama sekali tidak ambil perduli, dia tetap melangkahkan kakinya ke pusat barisan. Ketika pukulan Tan Ki hampir mencapai sasarannya, tiba-tiba serangkum tenaga dari samping menyampoknya sehingga angin pukulannya menghantam ke bawah tanah.

Saat itu dia sudah kehabisan akal dan kehilangan tenaga, dia tidak tahu apa lagi yang harus diperbuatnya. Dia merasa tenaga dalam tersebut sedemikian kuat sehingga tubuhnya tergeser ke samping dan kecepatannya semakin bertambah ketika menukik ke bawah.

Dia sudah kehilangan banyak hawa murni dalam tubuhnya. Dengan mengandalkan ke- kerasan hati dan kenekatannya dia tidak sampai rubuh dan dapat mempertahankan diri beberapa saat. Tetapi setelah mengadu kekerasan beberapa kali dengan pihak lawan, tenaga dalamnya sudah banyak terkuras, tubuhnya sudah basah oleh keringat. Dia sadar, apabila mengadu kekerasan dua kali lagi dengan pihak lawan, dia pasti tidak kuat lagi dan pasti rubuh. Apalagi saat ini tubuhnya sedang menukik ke bawah, tentu saja sulit baginya untuk mengedarkan hawa murni guna melindungi badannya. Terdengar suara gubrakan yang keras, Tan Ki pun terjatuh di atas tanah dalam posisi duduk.

Beberapa perubahan yang mendadak ini terjadinya begitu cepat. Begitu terjatuh di atas tanah, Tan Ki langsung merasa kepalanya pusing tujuh keliling, matanya sampai berkunang-kunang. Belum lagi kesadarannya pulih semua, tiba-tiba terlihat orang-orang yang dari kelompok di hadapannya sudah mengulurkan telapak tangan dan berjalan menghampirinya.

Dari jauh saja kekuatan tenaga dalam yang terpancar dari pukulan mereka sudah terasa. Herannya gerakan mereka sangat kompak dan barisan itu begitu rapi seperti barisan para prajurit yang sudah terlatih.

Kali ini, siapa yang lemah dan siapa yang kuat sudah terlihat jelas. Keadaan sungguh membahayakan. Tan Ki sudah tidak bisa menghindar lagi. Semacam perasaan yang
merupakan harapan mencari kehidupan di ambang kematian tiba-tiba menyusup dalam hatinya. Dia meraung sekeras-kerasnya. Telapak tangannya terulur ke depan dan dipaksakannya untuk melancarkan beberapa pukulan sekaligus. Kedua pukulan ini dilancarkan dalam keputusasaan. Hampir seluruh kekuatan dalam tubuhnya dihimpun sekaligus. Tampak deruan angin yang bergulung-gulung, kehe-batannya malah seperti berlipat ganda. Tenaga dalam yang merupakan gabungan dari kelompok tersebut ternyata berhasil ditolaknya. Begitu kerasnya benturan itu sehingga tubuh keempat orang itupun terpental dan melayang ke belakang. Namun setelah melancarkan dua buah pukulan tersebut, Tan Ki pun tidak dapat mempertahankan diri lagi. Mulutnya membuka dan segumpal darah segar terlihat muncrat dari mulutnya.

Baru saja Tan Ki meghantam.empat orang yang sebelumnya sehingga terpental ke belakang dan dirinya sendiripun memuntahkan segumpal darah segar, satu kelompok yang lain telah tiba di sampingnya. Tinju dan pukulan bagai curahan hujan menerpa di atas tubuhnya.

Terdengar suara bentakan Tan Ki, sepasang lengannya bergerak dengan kalap. Dengan memberontak dia melonjak bangun, ditangkisnya serangan tinju dan pukulan dari keempat orang tersebut. Tiba-tiba kepalanya terasa pening, langkah kakinya menjadi goyah kemudian ia terpaksa mundur dua tindak.

Tepat pada saat itu juga, otaknya langsung diasah, kalau dia tidak mengerahkan jurus yang ampuh melukai orang-orang ini, malah dirinya sendiri yang akan rubuh dan mati tanpa kuburan.

Dengan tujuan mencari hidup, pikirannya pun bekerja keras. Suatu ingatan mendadak melintas di benaknya. Dia seperti melihat bayangan-bayangan yang keadaan posisinya berbeda-beda. Ada yang berdiri, ada yang membungkuk, ada lagi yang pahanya direntangkan ke depan dan ada yang tangannya diangkat ke atas. Semuanya berputaran di depan pelupuk matanya.

Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan ingatannya, secara kilat kedua tangannya terulur dan tahu-tahu dia sudah berhasil mencekal dua orang lawannya. Dengan bertumpu pada kedua orang tersebut, sepasang kakinya dihentakkan meninggalkan tanah dan dua orang manusia berpakaian hitam lainnyapun tertendang jatuh.

Gerakannya ini merupakan salah satu jurus dari Te Sa Jit-sut, yakni Si Goat-liu Sing (Malam Purnama Bintang Kejora). Apabila telah terlatih sampai mencapai kesempurnaan, begitu tangan terulur untuk mencekal, pasti tidak akan luput. Meskipun baru kali ini Tan Ki menggunakannya, tetapi rumus ilmu itu sendiri sudah dihapalnya luar kepala. Di saat ilhamnya datang, tiba-tiba dia mengerahkan jurus yang ampuh tersebut. Begitu tangan terulur dan kaki menendang, empat orang sekaligus rubuh olehnya.

Seandainya pikiran dan kesadaran orang-orang ini masih ada, tentu mereka, akan terkejut mengetahui bahwa dalam waktu yang singkat ilmu silat Tan Ki seakan bertambah tinggi. Sayangnya orang-orang ini telah dice-coki semacam obat oleh Oey Kang, sehingga kesadarannya hilang. Mereka seakan tidak mempunyai perasaan lagi. Meskipun melihat dengan mata kepala sendiri keempat rekan mereka terluka oleh pihak lawan, tidak ada satupun yang menerjang datang atau melampiaskan kemarahannya.
Tan Ki memperdengarkan suara tawa yang dingin. Diam-diam dia mengedarkan hawa murninya agar jalan darah yang terguncang tadi dapat pulih kembali. Kemudian telapak tangannya kembali bergerak, dia melancarkan sebuah jurus lain dari Te Sa Jit-sut. Dalam waktu yang singkat dia sudah berhasil menotok tujuh manusia berpakaian hitam.

Ketujuh manusia berpakaian hitam yang tertotok urat nadinya, tetap berdiri tanpa bergeming sedikitpun. Tan Ki mengulurkan tangannya dan mencekal Bagian punggung orang tersebut. Dikerahkannya tenaga dalam sambil membentak keras. Orang itu dilemparkan pada kelompok orang-orang yang paling dekat dengannya. Baru tangannya bergerak, kembali dia mencekal manusia berpakain hitam lainnya dan dilemparkannya kembali ke sebelah kiri.

Dua kelompok manusia berpakaian hitam itu tampaknya tidak bersiap siaga. Melihat rekannya sendiri melayang datang, keraguan sempat menyelinap dalam hati mereka. Sebelum sempat mengambil tindakan apa-apa, tubuh rekannya sudah membentur keras ke arah mereka.

Terdengar suara bentakan dan seruan terkejut. Dua manusia berpakaian hitam segera terhantam ke belakang dan bergulingan di atas tanah. Seluruh bentuk barisan menjadi kacau balau.

Seandainya saat itu Tan Ki membangkitkan keberaniannya untuk terus menyerang, serta menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk membuka jalan, meskipun belum tentu dapat memecahkan barisan tersebut tetapi ada kemungkinan untuk meloloskan diri.

Tetapi, justru pada saat ini luka dalamnya kambuh. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Bukan saja dia tidak dapat menggerakkan kakinya untuk melangkah, bahkan untuk berdiri tegak mengatur nafas saja sulitnya bukan main. Dia merasa keringatnya menetes terus dan matanya berkunang-kunang. Tubuhnya bergetar hebat. Rasanya dia ingin membaringkan tubuhnya di atas tanah. Dengan demikian mungkin keadaannya lebih lumayan.

Penderitaan di masa kecilnya membuahkan semacam watak pada dirinya. Dia sama sekali tidak membiarkan tubuhnya terkulai. Bayangan di benaknya melintas secepat kilat. Dia sedang merenungkan jurus lain dari Te Sa Jit-sut. Pikirannya terpusat. Dia sampai lupa bahwa dirinya berada dalam kepungan musuh-musuh yang tangguh. Dia malah berdiri termangu-mangu.

Justru ketika pikirannya terpusat penuh, Tiba-tiba dia merasa Bagian punggungnya tergetar. Tahu-tahu dia sudah termakan sebuah pukulan. Pukulan ini mengandung kekuatan yang dahsyat. Jantungnya serasa membalik. Tubuhnya terhuyung-huyung dan diapun terjatuh sejauh empat lima langkah.

Begitu tubuhnya terjatuh di atas tanah, kembali ada sekelompok orang yang menerjang ke arahnya. Kecepatan gerakan mereka bagai kilat. Begitu melesat langsung sampai.
Delapan buah lengan dari empat orang tersebut menyerang Bagian berbahaya di tubuh Tan Ki dalam waktu yang bersamaan.

Tiga empat rangkum tenaga yang kuat secara bergulungan menerpa tiba. Kalau sampai terhantam telak, meskipun tubuhnya terbuat dari baja, tetap saja dia tidak sanggup mempertahankan diri. Terdengar suara angin yang menderu-deru. Keadaannya sungguh
membahayakan. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang kemudian memejamkan matanya menunggu kematian.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara teriakan yang memecahkan keheningan. Entah apa sebabnya, serangan telapak tangan, tinju maupun pukulan yang gencar menjadi terhenti seketika.

Tan Ki jadi termangu-mangu diserang rasa terkejut yang di luar dugaannya. Cepat- cepat dia mengalihkan matanya memandang. Dia segera melonggo, wajahnya jadi berseri- seri seketika. Entah sejak kapan, Liang Fu Yong sudah berdiri di sampingnya.

Tampak tangannya mengibarkan sebuah bendera merah, dia sedang mengatur barisan manusia berpakaian hitam tersebut. Bendera merah itu panjangnya kira-kira tiga mistar, kalau diperhatikan seperti biasa-biasa saja. Tidak ada keistimewaan apa-apa. Entah mengapa, manusia berpakaian hitam yang tadinya berwajah kaku menyeramkan, begitu melihat bendera ini, tampang mereka seperti setan kecil di hadapan iblis besar. Mimik wajah mereka yang tidak menunjukkan perasaan apa-apa, tiba-tiba juga menunjukkan kilasan rasa ketakutan setengah mati. Dengan ber-pencaran mereka mengundurkan diri.

Setelah mengatur beberapa saat, Liang Fu Yong menggebah orang-orang itu seperti gembala yang menggebah kambing-kambing pulang ke kandang. Dalam waktu yang singkat, pekarangan itu langsung bersih dan hanya tersisa mereka berdua. Perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya sembari menyimpan kembali bendera merah tersebut. Matanya beralih menatap Tan Ki.

Setelah memperhatikan beberapa saat, dia tetap tidak mengucapkan sepatah katapun.
Wajahnya yang cantik masih tersirat kepedihan, membuat orang yang memandangnya menaruh rasa iba kepadanya.

Dalam waktu yang kurang lebih sepena-nakan nasi itu, Tan Ki sudah mengatur hawa murninya kembali. Tenaga dalamnya pun sudah pulih walaupun lukanya masih belum sembuh. Tiba-tiba dia melonjak bangun dengan bibir tersenyum.

“Cici, kembali kau menolongku. Sekarang aku tidak akan membicarakan masalah balas budi segala, tetapi kali ini aku juga tidak akan membiarkan kau pergi lagi.”

Liang Fu Yong mendengar Tan Ki mengungkit masalah tadi, wajahnya jadi merah padam seketika. Bibirnya mengembangkan tertawa yang getir.

“Aku memang dilahirkan dengan nasib yang buruk, tidak pantas merasakan kebahagiaan, mengapa kau mendesak aku sedemikian…”

Wajah Tan Ki langsung berubah.

“Asal aku masih mempunyai sedikit nafas, tetap aku tidak membiarkan kau berdiam di tempat seperti ini dan menjadi permainan tua bangka itu. Kecuali kalau dirimu sendiri senang melakukannya!” katanya kesal.

Tanpa menunggu jawaban dari Liang Fu Yong, tubuhnya tiba-tiba bergerak, jurus Bulan Purnama Bintang Kejora kembali dikerahkan, tahu-tahu pergelangan tangan perempuan itu sudah tercekal olehnya dan langsung diseret meninggalkan pekarangan tersebut.
Hati Liang Fu Yong jadi panik. “Mana boleh begini?”
Meskipun mulutnya menolak, tetapi karena tangannya ditarik oleh Tan Ki, mau tidak mau langkah kakinya jadi terseret mengikuti gerakan Tan Ki yang menghambur secepat kilat.

Para manusia berpakaian hitam yang berada di luar pekarangan seperti menyandang beban bathin yang berat, mata mereka melihat kedua orang itu meninggalkan tempat tersebut, tetapi tidak ada satupun yang mencegah. Wajah mereka masih kaku seperti sebelumnya dan berdiri tegak tanpa bergerak sedikitpun.

Di bawah cahaya rembulan yang remang-remang, tampak dua sosok bayangan yang berlari dengan kecepatan tinggi, gerakan mereka seakan tidak menginjak tanah. Setelah melewati taman bunga, mereka sudah keluar dari

Pek Hun Ceng (Komplek Awan Putih, nama tempat tinggal Oey Kang). Begitu mata me- mandang, seluruh permukaan bumi seperti samar-samar, sulit menentukan mana Barat dan mana sebelah Timur. Tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya dan berulang kali mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

Rupanya karena keadaannya masih letih dan hawa murninya banyak berkurang dan sekarang malah memaksakan diri untuk berlari, lukanya menjadi kambuh kembali.
Keadaannya saat ini hampir seperti lampu yang kehabisan minyak. Baru saja langkah kakinya berhenti, dia segera menyandarkan kepalanya pada bahu Liang Fu Yong, dia tidak mempunyai tenaga lagi untuk bergerak. Tapi tangan-nya yang mencekal pergelangan tangan perempuan itu semakin erat, seakan takut Liang Fu Yong akan kabur meninggalkan dirinya.