Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 09

Bagian 09

Malam semakin larut. Di sekitar yang terlihat hanya kesunyian. Tampak di bawah sorotan cahaya rembulan, sesosok bayangan melesat bagai kilat menerjang terus ke depan.

Angin malam bertiup kencang, tidak henti-hentinya menyapu wajah Liang Fu Yong, namun hembusan angin yang dingin itu tidak dapat memadamkan api yang berkobar- kobar di dalam dadanya. Sebaliknya, malah menambah hasrat di dalam kalbunya yang menuntut hal yang didambakannya.

Dalam waktu yang singkat dia sudah berlari sejauh sepuluh li. Di depan terdapat sebuah kota, begitu mata memandang, yang terlihat hanya kegelapan, tidak ada cahaya lampu setitikpun. Tentu saja, para penduduk saat ini sedang pulas dalam mimpi. Siapa yang akan menduga bahwa seorang perempuan yang terkenal kejalangannya akan mencari mangsa di kota mereka.

Sesaat kemudian, dia menghentikan langkah kakinya. Seperti biasa, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Beberapa saat kemudian, tubuhnya berkelebat dengan kaki menghentak, dia menuju ke arah sebuah gedung besar yang ada di sebelah kiri. Sepasang kakinya segera menutul, tubuhnya melayang ke atas dan orangnya pun mendarat di taman belakang.

Sekali lagi dia mengedarkan pandangannya. Di hadapannya terdapat sebuah ruang perpustakaan. Di sana masih ada cahaya lampu yang menyorot lewat dedaunan yang rimbun di depan jendela.

Sayup-sayup, hembusan angin membawa suara seseorang yang sedang membaca syair. Dari pengalamannya, Liang Pu Yong segera mengetahui bahwa yang ada dalam ruangan itu pasti seorang pelajar yang lemah. Lagipula, keadaan di dalam ruangan itu begitu hening. Seakan tidak ada pihak ketiga di sana.
Bibirnya tersenyum simpul. Dengan berani dia melangkah ke arah ruangan tersebut dan mengetuk daun jendelanya.

“Siapa?” dari dalam terdengar suara seorang laki-laki bertanya. Sekali lagi terlihat seulas senyuman di bibir Liang Fu Yong.
Dengan berani dia menyahut, “Aku.”

“Oh, apakah Ie Cin Moay-moay yang datang? Sekarang sudah larut sekali, kau datang ke mari…”

Belum lagi kata-katanya selesai, secercah sinar menerobos keluar, orang itu sudah membuka jendelanya.

Dia langsung tertegun.

Selembar wajah yang tampan namun menunjukkan perasaannya yang kebingungan muncul di depan mata Liang Fu Yong.

Kenyataannya, laki-laki itu balikan tidak pernah bermimpi bahwa pada saat ini dan tempat ini akan muncul seorang perempuan yang cantik jelita serta bukan Ie Cin Moay- moay seperti yang diduganya.

Kejadian yang benar-benar di luar dugaan itu, membuat dirinya terkejut untuk sesaat. Diapun berdiri dengan termangu-mangu. Hanya terlihat Liang Fu Yong bergerak sedikit, tahu-tahu orangnya sudah masuk ke dalam ruangan dengan menerobos jendela. Dia malah merapatkan daun jendela ruangan tersebut. Dia berdiri sambil menatap laki-laki itu lekat-lekat. Pancaran matanya me-ngandung perasaannya yang terang-terangan dan senyumannya juga begitu mesra.

Dia sedang memperhatikan laki-laki itu. Tapi pihak lawan justru begitu ketakutannya sehingga pucat pasi.

“Siapa… kau… sebenar…nya?” tanyanya gugup. Liang Fu Yong tersenyum simpul.
“Aku adalah aku. Memangnya siapa? Tetapi, kau adalah seorang laki-laki sedangkan aku adalah seorang perempuan…” senyumnya itu bagai sekuntum mawar yang baru mekar namun mempunyai duri yang tajam dan dapat menusuk.

Diam-diam timbul perasaan ngeri di dalam hati laki-laki itu. Tanpa sadar tubuhnya bergetar. Tampangnya yang tegang dan menyiratkan perasaan takutnya, membuat Liang Fu Yong yang sedang menatapnya malah bertambah senang. Dia berjalan menghampiri sambil menepuk bahunya beberapa kali.

“Apa yang kau takuti? Laki-laki sejati harus mendongakkan kepala menatap langit dan menginjakkan kaki di bumi dengan keras. Kalau terhadap seorang perempuan saja sudah takut sedemikian rupa, bukankah orang yang menyaksikannya bisa tertawa terbahak- bahak sampai giginya copot?”
Laki-laki itu membangkitkan keberaniannya dan memaksakan sebuah senyum di bibirnya.

“Aku hanya seorang pelajar yang miskin. Aku tidak mempunyai apa-apa. Apabila Li Enghiong mencari harta benda atau batu permata, harap mencari di tempat lain saja.”

Liang Fu Yong mencibirkan bibirnya dan tersenyum mengejek. “Aku tidak ingin segala harta benda ataupun batu permata.” Laki-laki itu jadi tertegun.
“Lalu apa yang kau inginkan?” “Sesuatu yang ada pada tubuhmu.”
Mula-mula laki-laki itu terpana. Sesaat kemudian dia menjadi gusar.

“Perempuan tidak tahu malu, cepat menggelinding dari sini! Aku berasal dari keluarga yang taat pada ajaran Kong Beng, mana boleh aku melakukan perbuatan rendah seperti itu?” bentaknya keras.

Liang Fu Yong malah cengar-cengir menatapnya.

“Aduh, galak benar!” dia sengaja melangkah maju dan merapat kepada laki-laki itu.
Laki-laki itu semakin ketakutan. Cepat-cepat dia mundur dua langkah.

“Pergi! Kalau kau tetap tidak mau pergi, aku akan berteriak sekeras-kerasnya!” ancam laki-laki itu.

Tiba-tiba, terdengar suara prang! Prang! Beberapa kali. Rupanya laki-laki itu begitu panik sehingga sebuah pot kembang yang terdapat di atas meja tersentuh sikut tangannya dan pecah berantakan. Suasana semakin menegangkan dan membuat jantung berdebar- debar. Liang Fu Yong seperti seekor kucing yang maju setindak demi setindak mendesak ke arah tikus kecil tersebut. Berani sekali dia!

Laki-laki itu mundur lagi beberapa langkah. Akhirnya dia sudah merapat pada ujung tempat tidur. Dalam keadaan seperti ini, dia sadar dirinya sudah dalam ambang bahaya, tanpa dapat di pertahankan lagi, mulutnya terbuka lebar-lebar dan berteriak sekeras- kerasnya.

“Tolong! Tolong!”

Dia masih ingin berteriak terus, tetapi tiba-tiba terdengar suara aduhan dari mulutnya dan diapun terkulai di atas tanah. Rupanya Liang Fu Yong sudah menotok jalan darah laki- laki tersebut. ”Di dalam ruangan itu terdapat sebuah lampu gantung yang cahayanya terang sekali. Saat itu tengah menyinari wajah Liang Fu Yong yang telah berona merah dan membuat diri perempuan itu semakin menawan.

Perlahan-lahan dia mengangkat laki-laki itu dan meletakkannya di atas tempat tidur.
Meskipun dalam keadaan tertotok, tetapi pikiran maupun perasaannya masih tetap sadar. Menilik situasi yang dihadapinya, biar seorang yang paling pandir sekalipun, tetap dapat
menduga apa yang akan terjadi. Hatinya menjadi mangkel dan marah. Pada, dasarnya dia memang seorang pemuda yang sopan dan berpendidikan. Meskipun mulutnya ingin mencaci maki, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Untuk sesaat dia menjadi termangu-mangu tanpa tahu harus mengucapkan apa.

Dengan tenang Liang Fu Yong membaringkan laki-laki itu di atas tempat tidur. Bibirnya tersenyum manis.

“Aku tidak akan menelan dirimu. Kau jangan khawatir.”

Dengan marah laki-laki itu memalingkan wajahnya. Dia tidak memperdulikan Liang Fu Yong. Tetapi bathinnya justru sedang membara, jantungnya berdegup-degup. Telinganya mendengar segulungan suara yang merdu dan membetot sukmanya.

“Koko yang baik, kau tidak perlu merasa takut. Kau hanya diminta untuk meminjamkan tubuhmu malam ini kepadaku. Kalau tidak bisa juga, bayangkan saja aku sebagai Ie Cin Moay-moay, kekasihmu itu.”

‘Perempuan yang tidak tahu malu. Kata-kata yang begitu rendah masih bisa diucapkan dengan santai!’ makinya dalam hati.

Ketika benaknya sedang bergerak, tiba-tiba dia merasakan selembar wajah yang panas merapat ke arahnya. Hatinya semakin berdebar-debar. Dia merasa pikirannya menjadi tegang. Nafasnya sesak dan keringat dingin mulai membasahi keningnya.

Dia ingin membuka mulut dan berteriak sekeras-kerasnya, namun tidak ada suara sedikitpun yang keluar. Dua belah bibir yang hangat dan harum tahu-tahu telah menempel di atas bibirnya.

Pada saat itu juga, dirinya bagai kena sambaran petir. Sehingga dia merasa seluruh tubuhnya dijalari perasaan yang aneh. Perasaan itu demikian janggal, ajaib dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sampai-sampai dia sendiri tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya…

Dalam waktu yang singkat, dia seperti tiba-tiba menjadi dewasa.

Dia mulai mengerti bahwa di antara laki-laki dan perempuan terselip hubungan yang demikian ajaib. Hatinya menjadi lemas. Dia tidak dapat mempertahankan diri dari keindahan bayangan di hadapannya. Ciuman yang mendadak itu telah membuat hatinya menjadi luruh.

Entah mendapat kekuatan dan keberanian dari mana, tiba-tiba dia menggulingkan tubuhnya dan menindih Liang Fu Yong. Terdengar suara tawa yang genit, centil, dan bebas. Seakan seluruh manusia di dunia ini juga tidak dapat menolak suara tawa yang satu ini.

Terdengar suara hembusan angin, Liang Fu Yong menghantamkan sebuah pukulan jarak jauh dan lampu di dalam ruangan itu-pun padam seketika. Di dalam ruangan sekarang yang ada hanya kegelapan.

Hening seketika, yang terdengar hanya suara desiran baju yang dibuka. Sesuatu yang luar biasa akan berlangsung di dalam ruangan tersebut.

Tiba-tiba… dari luar jendela berkumandang serangkum suara tawa yang dingin!

Datangnya suara tawa ini demikian mendadak, sehingga benar-benar di luar dugaan. Tapi sempat membuat dua orang yang sedang bergelut di atas tempat tidur itu menjadi tertegun. Otomatis gerakan tangan pun terhenti.

Dalam kegelapan, wajah Liang Fu Yong yang cantik segera berubah hebat. Hawa pembunuhan mulai tersirat di keningnya. Dalam waktu yang singkat, dia sudah mengenakan kembali pakaiannya. Karena dia sadar, musuh yang datang di luar jendela pasti merupakan seorang tokoh dari aliran lurus!

Sedangkan laki-laki itu langsung menundukkan kepalanya dengan wajah pucat pasi. Dia meringkuk di sudut tempat tidur tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Dia takut orang yang ada di luar jendela adalah Ie Cin Moay-moay atau keluarganya. Kalau urusan yang memalukan ini sampai tersebar keluar, dimana dia harus menyembunyikan wajahnya.

Berpikir sampai di sini, tanpa dapat tertahan lagi, keringat dingin pun membasahi tubuhnya. Gairah yang berkobar-kobar dalam dadanya pun padam seketika. Tepat pada saat itu, kembali terdengar suara tertawa dingin dari luar jendela.

“Siau Yau Sian-li, keluarlah!” bentak orang itu.

Liang Fu Yong menjadi tertegun. ‘Mengapa orang ini bisa mengenali aku?’ tanyanya dalam hati.

Di samping itu, hatinya juga merasa marah, peristiwa menyenangkan yang sudah di depan mata, jadi gagal gara-garanya. Bagaimana hatinya tidak jadi benci!

Oleh karena itu, dia meraung sekeras-kerasnya. Sebuah kursi bundar langsung ditimpukkannya keluar jendela. Sepasang kakinya menutul, seiring melayangnya kursi tadi, tubuhnya pun menerobos keluar.

Ketika sepasang kakinya baru menginjak tanah, dia melihat kibaran pakaian berwarna hijau melesat ke arah depan. Dia tidak tahu orang yang tertawa dingin sengaja memancingnya keluar dari gedung tersebut. Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera mengejar.

Telinganya menangkap suara gaduh dari belakang. Bayangan manusia berbondongbondong mengejar keluar. Rupanya suara jendela pecah karena sambitan kursi Liang Fu Yong telah mengejutkan seisi gedung tersebut dan merekapun keluar beramai-ramai untuk melihat apa yang telah terjadi.

Di bawah sorotan cahaya rembulan yang remang-remang, kedua orang itu berlari dengan cepat. Yang satu kabur dan yang satu lagi mengejar. Dalam waktu yang singkat, mereka sudah berlari sejauh dua puluh li.

Tiba-tiba terlihat orang itu menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya.
Tepat pada saat itu, Liang Fu Yong sedang berlari dengan kecepatan tinggi. Nyaris dia tidak dapat mengendalikan keseimbangan tubuhnya dan bertumbukan dengan orang itu.
Untung saja ilmu silatnya cukup tinggi. Dengan gugup dia menahan gerakan tubuhnya dan berputaran sebanyak dua kali baru perlahan-lahan berhenti. Begitu matanya memandang, dia melihat orang itu mengenakan pakaian berwarna hijau, usianya sekitar empat puluh tahunan. Wajahnya pucat pasi

dan datar sekali. Tidak dapat kita menentukan bagaimana perasaan orang itu yang sebenarnya.

Tampang yang menyeramkan muncul di tengah malam yang dingin mencekam.
Meskipun nyali Liang Fu Yong cukup besar namun tanpa dapat di tahan lagi, tubuhnya juga bergidik. Kakinya sampai mundur dua langkah.

“Siapa kau?” bentaknya.

“Cian bin mo-ong!” sahut orang itu dengan nada suara yang sinis.

Keempat huruf itu diucapkan dengan lambat dan panjang. Di dalamnya seakan terkandung ketegasan seorang laki-laki yang penuh wibawa. Mendengar kata-katanya, Liang Fu Yong terkejut setengah mati. Wajahnya berubah hebat dan tanpa sadar kakinya sampai mundur dua langkah.

Cian bin mo-ong yang namanya telah menggetarkan dunia persilatan dan membuat para tokoh di dunia Bulim jadi pusing kepalanya, ternyata muncul di hadapan dirinya sendiri. Hal ini bahkan tidak pernah terbayang dalam impiannya. Tentu saja, dia masih belum tahu kalau Cian bin mo-ong merupakan samaran dari Tan Ki.

Dalam keadaan terkejut dan ketakutan, Liang Fu Yong meliriknya sekali lagi. Dia berusaha memberanikan dirinya dan memperdengarkan suara tawa yang genit.

“Setiap orang mengatakan bahwa Cian bin mo-ong dapat merubah dirinya menjadi ribuan orang. Bahkan kabarnya dapat membunuh orang dalam sekejap mata. Tapi dalam pandanganku, biar bagaimana kau juga tetap seorang manusia biasa.”

Cian bin mo-ong Tan Ki tersenyum simpul, “Betul, aku juga manusia. Tidak mempunyai tiga kepala atau enam pasang tangan. Gerak-gerikku juga tidak mirip dengan setan gentayangan. Adik Tan Ki juga sering menasehati bagaimana caranya menjadi manusia yang wajar, apakah kau sudah melupakah kata-katanya?”

Hati Liang Fu Yong tercekat mendengar ucapannya.

“Bagaimana kau bisa tahu urusan ini?”‘ tanyanya dengan suara tajam. Tan Ki tertawa lebar.
“Cian bin mo-ong sudah berkelana menjelajahi seluruh Kangouw. Tentu saja mempunyai kepandaian yang tidak dimiliki orang lain. Urusan sekecil ini, seandainya dapat mengelabui pandanganku, mana pantas aku mendapat sebutan iblis nomor satu di dunia ini?” berkata sampai di situ, tiba-tiba dia berhenti. Wajahnya berubah menjadi serius dan penuh wibawa. “Kau sudah mengadakan perjanjian dengan Tan Ki bahwa dalam waktu tiga bulan ini kau tidak akan melakukan perbuatan yang merugikan ataupun mencelakai orang lain. Kalau malam ini dihitung juga, kau baru menepati janjimu selama tiga hari dan
mengulangi lagi perbuatan yang terkutuk itu. Apakah kau kira Tan Ki itu orang yang bodoh sehingga tidak mengetahuinya sama sekali?”

Liang Fu Yong mendengar kata-katanya semakin lama semakin keras. Di dalamnya terkandung kemarahan yang meluap-luap. Bahkan orang itu sampai menghentakkan kakinya beberapa kali saking jengkelnya. Sedangkan di bathinnya sendiri, semakin didengarkan, perasaannya semakin menggigil. Entah mengapa, di dalam hatinya timbul semacam ketakutan. Dia khawatir Cian bin mo-ong akan membeberkan urusan malam ini kepada Tan Ki.

Liang Fu Yong tidak sempat mempertimbangkan lagi keadaan yang terbentang di depan matanya. Mengapa orang ini begitu jelas tentang dirinya sendiri, seperti orang yang menatap telapak tangannya sendiri. Mengapa ketika mengungkit persoalan Tan Ki, nada suaranya begitu marah dan tajam, mengapa…?
Pada saat itu juga, dia merasa otaknya seakan menjadi kosong melompong. Perlu diketahui bahwa hubungannya dengan Tan Ki berlangsung selama tiga hari.
Meskipun semuanya masih demikian singkat, tetapi di dalam hati Liang Fu Yong telah timbul perasan hormat yang dalam pada adik Tan Ki-nya. Dia merasa setiap tindak- tanduknya demikian wajar, lembut, penuh perhatian dan mengandung curahan kasih yang tidak terkatakan.

Meskipun dia sudah pernah bertemu dengan ratusan bahkan ribuan laki-laki, tetapi ia belum pernah melihat orang seperti Tan Ki. Orang yang mana dapat membuat perasaannya tergugah. Bahkan setiap ucapan maupun senyum anak muda itu, tidak ada satupun yang membuat dirinya bertambah gagah dan tampan. Perempuan manapun yang bertemu dengannya, tentu sulit menahan rasa simpatinya. Rasa hormat yang timbul dalam hati Liang Fu Yong kepada Tan Ki adalah berda-sarkan perasaannya yang tulus. Dia merasa adiknya yang satu ini membuat sejarah hidupnya bertambah dengan terukirnya nama seorang laki-laki. Tetapi dia masih belum sadar bahwa perasaan hormat yang ada sekarang merupakan Bagian dari cinta kasihnya yang mulai tumbuh. Dalam pikirannya, apabila dia dapat berdekatan dengan adiknya itu, hatinya sudah merasa puas dan senang. Apabila Cian bin mo-ong memberitahukan urusan malam ini kepada Tan Ki, akibatnya sungguh tidak berani ia bayangkan. Mungkin, saking marahnya, Tan Ki akan meninggalkannya begitu saja. Dan pasti untuk selamanya tidak sudi memperdulikan dirinya lagi.

Berpikir sampai di sini, sekali hatinya tergetar. Dia segera mengambil sebuah keputusan. Mulutnya memperdengarkan suara tertawa dingin.

“Apakah kau bermaksud menceritakan urusan malam ini kepada adikku?” tanyanya serius.

“Tidak salah!”

Wajah Liang Fu Yong berubah hebat. Segulung hawa pembunuhan yang tebal segera merasuki jiwanya. Sekali lagi dia tertawa dingin.

“Kalau begitu aku terpaksa membunuh agar mulutmu bungkam!” kata-katanya yang terakhir baru terucap, telapak tangannya segera mendatangkan serangkum angin dari diapun menghantam ke depan.

Saat itu, hawa amarah yang memenuhi hatinya telah berganti dengan niat membunuh. Begitu pukulannya dilancarkan, kekuatannya mengandung kekejian yang tidak tertandingi. Tampak angin yang timbul dari telapak tangannya laksana putaran roda. Batu-batu kerikil maupun debu-debu beterbangan. Kehebatannya sungguh tidak dapat dipandang enteng. Apalagi serangannya itu begitu cepat bagai sambaran kilat.

Untuk sesaat Tan Ki tidak menduga kalau dia akan diserang sedemikian rupa. Hatinya tercekat. Dengan panik dia meliukkan pinggangnya dan mencelat mundur tiga langkah.

Setelah serangannya yang pertama berhasil membuat lawan terdesak, Liang Fu Yong tentu saja tidak sudi berhenti setengah jalan. Setelah berteriak lantang, sepasang tangannya langsung mengeluarkan pukulan-pukulan. Dalam sekejap mata dia sudah melancarkan tiga pukulan dan tujuh totokan.

Serangan yang gencar ini jauh lebih hebat dari yang pertama. Setiap pukulannya mengarah pada Bagian yang mematikan. Setiap totokannya mengincar tempat mematikan.

Diam-diam hati Tan Ki jadi tercekat.

“Tidak disangka ilmu silatnya juga setinggi ini. Kalau berganti orang lain, mungkin sulit meloloskan diri dari tiga pukulan dan tujuh totokannya ini.” katanya dalam hati.

Sambil membawa pikiran seperti itu, tubuhnya berputaran beberapa kali. Dia berhasil mengelakkan diri dari serangan yang gencar itu dan malah membalas dengan sebuah serangan.

Ilmu silat yang dimilikinya sekarang adalah hasil curian dari kitab-kitab peninggalan ketua Ti Ciang Pang. Jurus serangannya ini kelihatannya biasa-biasa saja. Tetapi begitu dilancarkan, terdapat kekompakan yang serasi diantara setiap gerakannya. Liang Fu Yong terpaksa menyelamatkan dirinya terlebih dahulu. Dengan gugup dia mencelat mundur tiga langkah.

Apabila tokoh kelas tinggi berkelahi, kecepatannya bagai kilat. Liang Fu Yong meng- gerakkan tubuhnya menghindar. Begitu kakinya menginjak tanah, Tan Ki segera menggunakan kesempatan ini untuk mengatur nafasnya dan bergerak kembali.

Tiba-tiba, Liang Fu Yong meraung keras, dan kembali dia melancarkan sebuah serangan. Secercah bau harum berhembus mengiringi gerakannya. Sepasang telapak tangannya bagai beterbangan di udara dan menimbulkan hempasan angin yang kuat. Yang mana semuanya memenuhi sekitar tubuh Tan Ki.

Di antara bayangan pukulan, terlihat lengan baju Tan Ki berkibar- kibar. Dia menerobos dari kiri dan mengelak ke kanan. Kecepatannya bagai terjangan seekor srigala.

Biarpun bayangan telapak tangan memenuhi sekitarnya, namun jangan kata mengenai di-rinya, bahkan menyentuh ujung bajunya pun tidak.

Tampak Tan Ki hanya membalikkan telapak tangannya, tetapi Liang Fu Yong langsung terdesak mundur. Perempuan itu sulit menemukan kesempatan untuk mendekati Tan Ki. Hal ini bukan karena ilmu silat anak muda itu mengandung jurus-jurus yang aneh atau tenaga dalamnya yang jauh lebih tinggi dari pada Liang Fu Yong. Tetapi setiap
serangannya selalu mempunyai kecepatan yang tidak terduga-duga, dan lagi Bagian yang diarahnya selalu di luar dugaan perempuan itu.

Kadang-kadang, secara nyata dia mempunyai kesempatan untuk melukai Liang Fu Yong, tetapi entah mengapa, setiap kali pula dia selalu merubah gerakannya di tengah jalan atau merubah sasarannya ke arah yang lain sehingga membuat perempuan itu mendapat kesempatan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Biar bagaimana bodohnya, Liang Fu Yong tetap menyadari bahwa Cian bin mo-ong sengaja mengalah kepadanya. Hanya saja dia tidak mengerti mengapa dia melakukan hal seperti itu.

Tiba-tiba… Tan Ki berteriak lantang, lengan kirinya membuat lingkaran di tengah udara.
Telapak tangan segera terulur ke depan. Jurus Tian Ping Tian-ciang pun dilancarkan dengan keras, jurus ini merupakan jurus pertama dari Tian Si Sam-sut. Di dalamnya terkandung kekuatan tenaga yang dahsyat. Terasa angin yang menderu-deru menerpa dari depan!

Melihat serangan itu, hati Liang Fu Yong langsung tercekat. Dia tidak sempat lagi me- lancarkan jurus serangan ke arah lawannya. Dengan cepat dia meliukkan Pinggangnya dan mendadak mencelat mundur ke belakang sejauh tujuh delapan depa. Pada saat itu juga, sukmanya seakan melayang dan jantungnya berdegup dengan kencang.

Tidak usah diragukan lagi, Liang Fu Yong juga seorang tokoh kelas tinggi di dunia Bulim. Tenaga dalamnya cukup kuat. Tetapi setelah bergebrak dengan Cian bin mo-ong sebanyak dua puluhan jurus, dirinya seperti ombak kecil dihantam ombak besar. Setiap serangannya berhasil dielakkan dengan mudah. Tampaknya ilmu silat kedua orang itu terpaut agak jauh.

Diam-diam hatinya merasa kagum.

“Ternyata Cian bin mo-ong tidak bernama kosong. Ilmu silatnya memang benar-benar mengejutkan!” pikirnya.

Pada saat itu, api yang berkobar-kobar dalam hatinya, sudah lenyap tanpa bekas sejak tadi. Tetapi hawa pembunuhan yang tersirat di wajahnya masih kentara dengan jelas.
Dalam waktu yang bersamaan, dia juga mendapatkan sebuah kenyataan yang mengejutkan hatinya, yakni ilmu silat Cian bin mo-ong ternyata lebih tinggi dari pada dirinya. Begitu pikirannya tergerak, mulutnya mengeluarkan suara siulan panjang dan tubuhnya mencelat ke belakang.

Tan Ki jadi tertegun. Dia masih belum dapat menebak maksud perbuatan lawannya, tiba-tiba dia melihat Liang Fu Yong berputaran dengan gerakan yang gemulai. Tangannya menari dan kakinya diangkat ke atas. Ternyata dia memang benar-benar menari di hadapan Tan Ki!

Tentu saja Tan Ki jadi termangu-mangu. Perubahan gerakan lawannya yang tiba-tiba ini membuat dia tidak mengerti apa yang telah terjadi. Tetapi hati kecilnya seperti memperingatkan bahwa urusan malam ini semakin lama semakin membahayakan.

Kalau tidak, mana mungkin Liang Fu Yong malah menari pada saat segenting ini?
Begitu matanya memandang, dia melihat cahaya rembulan yang remang-remang menyoroti rambut perempuan itu sehingga tampak berkilauan. Angin malam pun mengibar-ngibarkannya sehingga beterbangan. Di antara gerakan kaki dan tangannya, tampak seperti mengandung tenaga namun lemah sekali. Liuk pinggangnya yang gemulai membuat hati orang tergerak.

Beberapa menit telah berlalu, Liang Fu Yong masih terus berputar. Tariannya semakin lama semakin cepat. Mata Tan Ki sampai berkunang-kunang melihatnya. Dia sendiri jadi bingung. Hatinya tetap khawatir kalau Liang Fu Yong tiba-tiba akan melancarkan serangan. Diam-diam dia menghimpun hawa murninya untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tiba-tiba terdengar suara desiran angin, tahu-tahu Liang Fu Yong telah melepaskan pakaian luarnya. Dia mengangkat tangan-nya ke atas dan melempar ke mari. Pada saat itu, Tan Ki merasa jantungnya berdebar-debar dan pikirannya menjadi kacau. Tanpa sadar dia mengulurkan tangannya menyambut. Begitu telapak tangannya menyentuh pakaian tersebut, dia merasa pakaian itu begitu lembut dan serangkum bau yang harum terpancar keluar dari pakaian tersebut.

Dia hanya merasa hatinya tergetar dan wajahnya menjadi panas!

Begitu matanya memandang, dia melihat Liang Fu Yong kembali melepaskan gaunnya yang panjang. Sepasang pahanya yang putih dan berkilauan langsung terlihat jelas. Pada saat itu juga, gerakannya semakin erotis seakan mengandung kekuatan yang dahsyat dan membuat orang yang melihatnya tidak sanggup mengalihkan pandangan.

Padahal Tan Ki tidak mengerti sedikitpun tentang nyanyian dan tarian. Tetapi karena dia memusatkan perhatiannya dan menatap dengan lekat-lekat setiap lekuk tubuh Liang Fu Yong, maka dia merasakan bahwa setiap kali perempuan itu bergerak seakan mengiringi irama debaran jantungnya.

Setiap melihat gerakan yang dilakukan oleh perempuan itu, hatinya tergetar pasti.
Ketika tariannya semakin cepat, jantungnya berdegup dengan keras. Hatinya berdebar- debar. Perasaannya pun menjadi tidak tenang.

Begitu dia memandang sekali lagi, kali ini hatinya malah seperti terlonjak keluar dari dadanya. Wajah Tan Ki berubah hebat. Rasa terkejutnya segera menyentak kesadarannya.

“Kalau dia menari lebih cepat lagi, bukankah jantungku bisa terputus saking kerasnya berdegup-degup?” pikirnya dalam hati.

Kesadarannya tersentak, cepat-cepat dia menjatuhkan diri dan duduk bersemedi. Dengan menghimpun hawa murni dan memaksakan dirinya menolak daya tarik yang terpancar dari tarian tersebut.

Perlu diketahui bahwa ilmu silat Tan Ki keseluruhannya merupakan hasil curian. Tidak ada seorang gurupun yang memberi pelajaran kepadanya. Mengenai ilmu pengaturan nafas maupun cara menghimpun hawa murni untuk diedarkan ke seluruh tubuh, dia memang tidak mengerti sama sekali.
Baru saja dia menjatuhkan diri untuk bersemedi, tiba-tiba dia merasa dadanya dipenuhi hawa yang sesak. Dia tidak sanggup mencairkannya agar normal kembali seperti semula. Hatinya menjadi kalut dan sedih.

Kali ini, begitu paniknya Tan Ki sampai seluruh tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin. Dia tidak pernah menduga bahwa tarian Liang Fu Yong yang erotis dan indah ini ternyata mengandung kekuatan yang demikian dahsyat!

Hatinya menjadi gelisah. Dengan panik dia memejamkan matanya kembali dan berusaha mengosongkan pikirannya. Saat ini, keadaan Liang Fu Yong tetap telanjang bulat. Sembari menari, lambat laun dirinya semakin merapat ke arah Tan Ki. Kulit yang mulus dengan bentuk yang indah, di bawah sorotan cahaya rembulan malah menimbulkan rangsangan yang tidak terkirakan. Semakin membetot sukma orang yang melihatnya.

Seumur hidup, Tan Ki belum pernah melakukan hubungan seks dengan seorang perempuan. Dalam keadaan seperti ini, dia memandang sampai matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar. Padahal tadi dia sudah memejamkan matanya, namun ada semacam perasaan aneh yang membuat hatinya tidak tahan untuk melihat. Saat ini, hampir saja dia melonjak bangun dan memeluk Liang Fu Yong erat-erat.

Suasana semakin menegangkan!

Suasana yang panas dan mendebarkan itu ditambah lagi dengan gejolak birahi yang meluap-luap. Tampak wajah Tan Ki sudah berubah pucat pasi. Seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat. Rasanya dia tidak sanggup mempertahankan diri lagi. Tetapi, dia tetap menggertakkan rahangnya erat-erat dan memaksakan dirinya duduk bersila tanpa bergerak sedikitpun. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres di balik semua ini.
Apabila dia melihat terus, tentu hanya ada satu jalan kematian yang dapat ditempuhnya. Hatinya mengambil keputusan untuk tidak memperdulikan banyak lagi. Bunuh saja perempuan itu, baru pikirkah akibatnya nanti. Oleh karena itu, sebelah telapak tangannya pun perlahan-lahan diangkat ke atas.

Siapa nyana baru saja tangannya terangkat, tiba-tiba terkulai kembali. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang dan menggelengkan kepalanya. Ternyata ketika tangannya terangkat ke atas, dia baru merasakan bahwa tenaganya seakan lenyap. Dia tidak mempunyai kekuatan sedikitpun. Tentu saja, semua ini merupakan pengaruh dari tarian Liang Fu Yong yang mengandung kekuatan aneh. Hal mana membuat tenaganya bagai terkuras dan tidak dapat memberikan perlawanan.

Hatinya bertambah panik. Tiba-tiba dia merasa segulungan hawa panas menerjang ke atas dan terhenti di rongga tenggorokannya. Kemudian terdengar suara ‘Hoakk!’ yang keras dan diapun memuntahkan darah segar yang muncrat bagai anak panah. Tan Ki tidak dapat mempertahankan diri lagi. Dia berusaha untuk berdiri, tetapi tubuhnya malah terkulai jatuh di atas tanah.

Kali ini rasa terkejutnya tak terkatakan lagi. Terdengar suara bentakan nyaring dari mulut Liang Fu Yong, orangnya pun langsung menerjang datang!

Saat-saat yang membahayakan!

Tan Ki sudah kehilangan daya untuk melawan. Seandainya dia terkena satu pukulan atau sekali tendangan dari Liang Fu Yong, kalau tidak sampai mati, dia pasti akan terluka
parah. Dalam keadaan yang membahayakan, tiba-tiba Tan Ki mengeluarkan suara tawa yang sumbang.

“Cici, tindakanmu sungguh keji…!” dia berusaha berteriak dengan suara sekeras- kerasnya.

Liang Fu Yong langsung tertegun. Panggilan “Cici” tadi membuatnya merasa bingung. Tetapi dia sudah menghentikan gerakan tubuhnya dan tidak jadi mengeluarkan pukulan. Setelah tertegun sejenak, dia segera membentak.

“Siapa kau?” meskipun dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Cian bin mo-ong memanggilnya ‘Cici’, tetapi dia dapat merasakan bahwa suara itu sama sekali tidak asing di telinganya. Suara itu seperti amat dekat dengan dirinya.

“Aku… tentunya Cian bin mo-ong!” baru berkata sampai di sini, kembali mulutnya membuka dan lagi-lagi dia memuntahkan segumpal darah segar.

Bercak darah yang berwarna merah segar seakan mewakili sesuatu yang tidak kelihatan. Begitu mata Liang Fu Yong memandang, tanpa terasa tubuhnya juga menggigil. Bulu kuduknya meremang seketika. Setelah berusaha memberanikan dirinya selama beberapa saat, dia memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Siapa yang tidak tahu kalau kau adalah Cian bin mo-ong? Yang kutanyakan adalah wujudmu yang asli!” tampangnya dingin dan mengandung hawa pembunuhan yang tebal. Kata-katanya bahkan terdengar sangat sinis.

Sepasang mata Tan Ki membalik. Dia tahu isi perutnya sudah terluka parah sekali.
Tetapi dia m menggertakkan giginya erat-erat dan menahan rasa sakit yang menggigit.

“Aku… aku ada… lah… a… dik… mu…Tan… Ki…” dia memaksakan dirinya mengucapkan beberapa patah kata itu.

Ucapan yang terakhir tercetus dari bibirnya, orangnya pun langsung jatuh tidak sadarkan diri. Keempat anggota tubuhnya terasa dingin dan nafasnya lambat laun menjadi lemah!

Sekali lagi Liang Fu Yong tertegun mendengar kata-katanya. Orang yang ada dihadapannya berusia sekitar empat lima puluh tahunan. Mana mungkin adiknya Tan Ki? Hal ini benar-benar sulit diterima oleh akal sehat.

Tetapi, suaranya memang suara adik Tan Ki! Dua macam pikiran yang saling bertentangan melintas di benak perempuan itu. Dia malah menjadi kalang kabut dan untuk sesaat tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Matanya menatap ke arah Tan Ki dengan wajah termangu-mangu. Bahkan dia sampai lupa mengenakan pakaiannya.

Tiba-tiba dia mencengkeram lengan Tan Ki dan menyingkapkan lengan bajunya.
Ternyata tidak salah, di bawah sikutnya terdapat sebuah andeng-andeng berwarna hitam. Ketika dia bermaksud memperkosa Tan Ki tadi, dia sempat melihat andeng-andeng tersebut. Sekarang bukti sudah ada, saking terkejutnya dia menjadi terpana seketika.
Betul, orang yang ada dihadapannya memang Tan Ki, adiknya. Ternyata dialah yang merupakan wujud asli dari Cian bin mo-ong. Tetapi rasa takut di dalam hatinya malah lebih dalam daripada rasa terkejutnya barusan.

Perlu diketahui bahwa Tian Ti Mo-bu (Ta-rian Iblis Tubuh Surga) merupakan semacam ilmu sesat yang sudah ratusan tahun menghilang. Ilmu ini dapat membetot pikiran sampai kita kehilangan kesadaran. Siapa nyana Tan Ki menggunakan tenaga dalamnya untuk menolak daya tarik yang timbul dari tarian iblis tersebut. Dia menggunakan tenaga dalamnya untuk menolak daya tarik yang timbul dari tarian iblis tersebut. Dia menggunakan cara keras lawan keras. Hal ini membuat hawa murni di dalam tubuhnya berbalik arah dan menghantam isi perutnya sendiri sehingga terluka parah.

Meskipun Liang Fu Yong menguasai ilmu Tian Ti Mo-bu ini, tetapi terhadap luka yang diakibatkannya, dia tidak mempunyai kesanggupan untuk mengobati. Pikirannya tergerak, hatinya semakin panik. Air mata menetes dengan deras namun mulutnya mengeluarkan suara tawa yang pilu.

“Adik, aku telah mencelakaimu..,” suaranya lirih, di dalamnya terkandung penyesalan yang tidak terkirakan. Sayangnya Tan Ki sudah tidak dapat mendengarnya lagi.

Angin malam bertiup sepoi-sepoi. Dia merasa udara semakin dingin. Dan dalam waktu yang bersamaan dia baru menyadari bahwa dirinya belum mengenakan pakaiannya kembali. Dengan lembut dia mengusap wajah Tan Ki. Hatinya seakan hancur berkeping- keping, pilunya tidak terkatakan. Dua bulir air mata bagai pancuran terus mengalir membasahi kedua pipinya. Sampai lama sekali dia berdiam diri, akhirnya dia menarik nafas panjang dan melangkah ke tempat di mana bajunya berserakan.

Cahaya rembulan bagai air yang beriak menyoroti tubuh yang mulus dan indah serta melenggok dengan gemulai…

Ini merupakan pemandangan yang dapat membuat manusia terlena!

Tiba-tiba… sebuah suara tawa yang panjang, berkumandang memecahkan keheningan.
Suara tawa yang keras dan menggetarkan hati. Bayangan manusia berkelebat, seorang laki-laki setengah baya yang mengenakan pakaian berwarna hijau tahu-tahu telah berdiri di depan mata.
Gerakan orang ini demikian cepat sehingga sulit ditangkap oleh penglihatan. Apalagi kehadirannya tidak menimbulkan suara sama sekali. Ketika Liang Fu Yong melihat
bayangan berkelebat, tanpa terasa hatinya menjadi tercekat, kakinya sampai mundur tiga langkah!

Begitu matanya memandang, manusia berpakaian hijau itu seakan melihat sesuatu yang ada di luar dugaannya. Dia menatap

Liang Fu Yong lekat-lekat. Sinar, matanya menyiratkan keheranan, penasaran, gembira… dan sesuatu yang kurang, beres.

Tanpa sadar, dia menundukkan kepala dan melihat keadaannya sendiri. Tiba-tiba dia menjerit kaget. Sepasang lengannya segera bergerak untuk menutupi dua Bagian terpenting di tubuhnya. Sepasang pahanya merapat dan meringkukkan badannya.

Dulu, dia memandang kaum laki-laki bagai harta benda, sering dia menggunakan keindahan tubuhnya untuk merayu mereka dan menukar kegembiraan dengan mereka. Tetapi saat ini, dia juga bisa merasa malu?

Apakah ini termasuk keahliannya, yakni berpura-pura? Tidak. Dalam hatinya telah terukir bayangan Tan Ki. Suaranya, nasihatnya, setiap saat melintas di dalam benaknya. Membuat hatinya mempunyai keinginan untuk, merubah wataknya. Malam ini, dia menghindari Tan Ki dan mencari pelajar itu untuk bertukar kesenangan. Semua ini merupakan spontanitas di mana untuk sesaat dia tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.
Sekarang di depan matanya tiba-tiba muncul manusia berpakaian hijau ini, se dangkan dirinya dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Bagaimana
hatinya tidak menjadi tegang dan malu setengah mati.

Justru ketika dia meringkukkan badannya, selembar wajahnya sudah berubah merah padam. Ya panik, ya malu, ingin rasanya dia menyelusupkah dirinya ke dalam sebuah liang di tanah agar tidak kelihatan lagi.

Manusia berjubah hijau itu menatap Liang Fu Yong sekian lama, akhirnya dia seperti telah memuaskan pandangan matanya, bibirnya tersenyum.

“Kouwnio, apakah kau yang dipanggil Siau Yau Siau-li?” Hati Liang Fu Yong tercekat.
“Tolong lemparkan pakaian yang ada di bawah kakimu,” katanya gugup. Manusia berpakaian hijau itu semakin acuh tak acuh.

“Malam demikian dingin dan berkabut pula. KouWnio tidak takut masuk angin? Dengan bertelanjang bulat seperti ini, sebetulnya…” bibirnya tersenyum simpul. Dia menggelengkan kepalanya dan menghentikan kata-katanya. Tetapi tubuhnya tidak bergeming, tampaknya dia memang tidak ingin Liang Fu Yong mengenakan pakaiannya.

Saat itu Liang Fu Yong hanya merasa takut dan malu. Wajahnya yang cantik menyiratkan kegelisahan. Begitu paniknya sampai dia ingin meraung keras-keras. Akhirnya terpaksa dia berkata dengan suara memohon…

“Pek Pek yang baik, berbuatlah sedikit kebaikan, lemparkanlah pakaian itu untukku.”

Manusia berpakaian hijau itu melirik sekilas ke atas tanah. Kaki kirinya ternyata menginjak di atas pakaian dalam yang berwarna merah. Tiba-tiba hatinya tergerak. Terdengar suara tawanya yang licik.

“Kau ambillah sendiri!”

Melihat tampangnya yang cengar-cengir, Liang Fu Yong langsung sadar bahwa orang itu mengandung maksud yang tidak baik. Hatinya menjadi bimbang dan tidak berani maju ke depan. Tetapi kalau begini terus, tidak lama lagi fajar akan menyingsing dan pasti ada
orang yang berlalu lalang di sekitar tempat itu. Hai ini juga bukan jalan yang baik. Setelah berpikir ke sana ke mari, dia malah menatap orang itu dengan termangu-mangu.