Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 08

Bagian 08
Sementara itu, dari sekitar Cui Sian Lau dan ujung jalan, keluar sekerumunan orang. Ada Rahib, Tosu, Nikouw, Hwesio dan berbagai kalangan. Tampak langkah kaki mereka semuanya sangat ringan. Gerakan tubuh juga sangat cepat. Hal ini membuktikan bahwa mereka bukan tokoh sembarangan.

Untuk apa mereka datang ke tempat ini? Melihat keadaan ini, Tan Ki yang bersembunyi di kegelapan menjadi terkejut setengah mati. Pengalaman memberitahukan, bahwa kedatangan orang-orang ini yang mana termasuk tokoh-tokoh dari lima partai besar, pasti bukan sekedar kebetulan.

Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat. Lok Hong dan Cian Cong saling susul menyusul melayang ke atas tanah. Begitu mata memandang, keduanya menjadi tertegun.
Tampaknya, mereka juga tidak tahu apa yang direncanakan orang-orang ini.

Seorang angkatan tua dari Siau Lim Pai, yakni Pun Bu Taisu, merupakan orang pertama yang segera menghampiri. Dia merangkapkan sepasang tangannya dan mengucapkan nama Budha.

“Entah bagaimana kabar Cian Sicu setelah sekian lama tidak berjumpa?” sapanya ramah.

Sepasang biji mata Cian Cong jelalatan ke sana ke mari.

“Apakah kau Hwesio busuk ini mengharap aku mati cepat-cepat atau mati kekenyangan makan daging anjing?” sahutannya malah merupakan gerutuan.

Tampaknya Pun Bu Taisu sudah paham sekali watak Cian Cong yang suka ceplas- ceplos. Ucapan seperti ini entah telah didengarnya berapa puluh kali. Oleh karena itu, terhadap sahutan Cian Cong, dia hanya tersenyum simpul.

“Mana mungkin, mana mungkin. Tentunya Sicu hanya bergurau.”
“Untuk apa kalian datang ke mari? Untuk menyaksikan si pengemis tua berkelahi dengan si nenek kurus itu bukan?”

Pun Bu Taisu masih tersenyum-senyum.

“Dapat menyaksikan kehebatan Cian Sicu, sungguh merupakan keberuntungan bagi kami. Tetapi, sebetulnya kedatangan kami ini adalah untuk menunggu seseorang.”

Tampaknya Cian Cong tertarik sekali dengan ucapannya. Dia langsung tertawa lebar- lebar.

“Siapa yang kalian tunggu?” “Cian bin mo-ong!”
Cian Cong tertegun.
“Bagaimana kau bisa tahu kalau Cian bin mo-ong benar-benar akan ke tempat ini?” “Cian Sicu merupakan salah satu dari dua tokoh sakti di dunia Bulim. Dan malam ini
mengadakan perjanjian untuk bertarung dengan Ciu Cang Po. Pertandingan ini pasti sangat seru dan mendebarkan hati. Dalam hati pinceng berpikir Cian bin mo-ong memiliki ilmu silat yang tinggi. Masa dia tidak mendengar berita ini dan bergegas datang untuk menyaksikan keramaian? Oleh karena itu, pinceng segera mengajak beberapa orang kawan dan menunggu di sini untuk berjaga-jaga, tapi…”

Cian Cong tertawa terkekeh-kekeh. “Tapi, orang yang kalian tunggu ternyata tidak datang bukan?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Biar aku beritahukan kepadamu, Kwesio busuk. Beberapa malam yang lalu, si pengemis tua justru sudah bertemu dengan Cian bin mo-ong. Bahkan kami sempat bergebrak. Sayangnya dia hanya terkena satu pukulan si pengemis tua, akhirnya dia berhasil meloloskan diri…” kata-katanya terhenti dan tangannya menunjuk ke arah Lok Hong. “Pangcu dari Ti Ciang Pang ini juga mende-ngar kabar tentang tindak tanduk Cian bin mo-ong yang menimbulkan huru-hara di dunia Kangouw. Perbuatannya tidak mengenal bumi dan langit. Dia sengaja meninggalkan markas Ti Ciang Pang dan bersiap- siap diri bertemu dengan Cian bin mo-ong. Si pengemis tua tahu, setelah terkena pukulanku, dalam waktu tiga atau lima hari pasti belum pulih. Lebih baik kita menuju gedung keluarga Liu untuk sementara. Biar kita tidak usah menganggu dia beberapa hari, sekalian merundingkan cara menghadapi Cian bin mo-ong ini.”

“Bisa memperoleh bantuan dari Cian Sicu serta Lok Sicu ini, meskipun urusan yang lebih hebat juga pasti dapat diselesaikan.” sahut Pun Bu Taisu.

Si pengemis tua tertawa terkekeh-kekeh.

“Jangan cepat-cepat menempelkan emas di muka si pengemis tua ini. Siapa tahu kalian kelak yang tidak becus, sehingga belum apa-apa sudah ketakutan. Hal inilah yang akan menjadi bahan tertawaan.” ucapannya ini seperti tidak berani memandang rendah Cian bin mo-ong.

Kemudian, dengan diiringi si pengemis sakti Cian Cong dan Lok Hong, tokoh-tokoh dari kelima partai besar berbondong-bondong menuju gedung kediaman keluarga Liu. Dalam sekejap mata, kerumunan orang itu sudah bubar sampai bersih.

Meskipun dalam masalah tadi, Tan Ki tidak ikut campur, tapi melihat saja hatinya sudah tergetar. Tahu-tahu keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya!

‘Rupanya tokoh-tokoh dari kelima partai besar masih belum sudi melepaskan diriku.’ pikirnya dalam hati.

Mendadak mulutnya memperdengarkan suara tawa yang dingin.

‘Pada suatu hari nanti, Cian bin mo-ong akan berkunjung kelima partai besar dan menantang kalian satu persatu.’ katanya dalam hati.

Mendadak, terdengar suara Liang Fu Yong yang membersin. “Adik, ke mana lagi tujuan kita setelah ini?” tanyanya kemudian. Tan Ki menggelengkan kepalanya.
“Aku sendiri tidak tahu.”

Dia tahu Cian Cong, Lok Hong dan yang lain-lainnya semua berada di rumah Liu Seng. Apabila dia ingin membunuh Liu Seng untuk membalaskan dendam ayahnya, sekarang ini dia juga tidak sanggup menandingi mereka. Satu-satunya jalan hanyalah menghindari mereka selam tiga atau lima hari.

Tetapi, dalam waktu beberapa hari ini, apa yang harus dilakukannya? Dan ke mana dia harus pergi? Tidak ada.

Dia tidak mempunyai rumah. Meskipun dunia ini begitu luas, tetapi dia tidak tahu harus pulang ke mana?

Berpikir sampai di sini, tanpa sadar dia menarik nafas panjang. Kepalanya tertunduk dalam-dalam dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Kemudian, perlahan-lahan dia mendorong tubuh Liang Fu Yong.

“Mari kita pergi pesiar saja.” katanya kemudian.

Liang Fu Yong mengangkat sebelah tandannya dan merapikan rambutnya yang acak- acakan. Dengan penuh perasaan dia mengembangkan seulas senyuman.

“Terserah engkau saja. Pokoknya dalam tiga bulan ini, ke manapun kau pergi, Cici akan mengikutimu. Aku tidak akan banyak tanya ataupun membantah.”

Sinar mata Tan Ki segera beredar ke sekitarnya.

“Lebih baik kita cari rumah penginapan dan beristirahat sejenak.”
Demikianlah, kedua orang itupun segera meninggalkan toko tahu dan mencari penginapan yang sederhana. Tan Ki meminta dua kamar tidur dan berpencar dengan Liang Fu Yong untuk beristirahat.

Hal ini malah membuat perasaan Liang Fu Yong menjadi tertekan.

‘Hari ini terpaksa aku memeluk bantal seorang diri…’ katanya dalam hati.

Keesokan paginya, kedua orang itu mencari kuda tunggangan dan mengambil arah ke Lung Si. Satu hari… dua hari telah berlalu…

Tan Ki menceritakan berbagai kisah para wanita yang menjadi pahlawan bangsa dan tri

==================

Jilid 5 Hal 50 51 Hilang

Kalo ada yang punya silahkan contact lavilla.dry@gmail.com

==================

seorang tokoh persilatan. Meskipun ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, tapi mungkin dia bisa mengenali senjata-senjata rahasia ini!’

Tetapi, begitu dia menghambur ke dalam kamar ibunya, ternyata di sana tidak ada seorangpun. Hatinya tercekat. Dia merasa aneh sekali. Kembali hatinya berpikir: ‘Mungkinkah ibu mendengar suara ayah yang berkelahi dengan seseorang, maka dia lalu keluar dengan tergesa-gesa?’

Matanya menerawang, di tembok masih tergantung sepasang golok berbentuk bulan sabit. Pasangan golok itu merupakan senjata yang digunakan oleh ibunya sehari-hari.
Kalau dia tidak membawanya, pasti dia bukan keluar untuk melihat ayah.

Tiba-tiba dia melihat sehelai sapu tangan laki-laki di tengah-tengah kamar, hatinya berdebar-debar, cepat-cepat dia memungutnya. Sekali pandang saja dia sudah tahu bahwa benda itu bukan milik ayahnya.

Untuk apa seorang laki-laki asing masuk ke kamar ibunya?

Pikiran ini melintas di kalbunya yang masih bersih. Tanpa sadar dia menjadi marah sekali. Meskipun usianya masih kecil, tetapi terhadap urusan laki-laki dan perempuan, cukup banyak yang diketahuinya.

‘Ketika ayah sedang dalam keadaan di ambang maut, ibu malah kabur dengan seorang laki-laki.’ pikirnya dalam hati.

Semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa dugaannya tidak salah. Tanpa sadar, air matanyapun mengalir dengan deras. Dia sudah menjadi seorang anak yatim piatu…

Sampai saat ini, dia baru mengerti apa yang dinamakan penderitaan. Ayahnya sudah mati, ibunya kabur dengan seorang laki-laki, dalam keadaan dilanda dua macam pukulan bathin, diapun menangis meraung-raung.

Sebab sebelumnya, dia adalah seorang bocah yang cerdas dan lincah, hidupnya bahagia dengan keluarga yang harmonis. Dia tidak tahu hal lainnya kecuali kegembiraan. Tetapi, dalam waktu yang singkat, dunianya seakan ambruk. Diapun berubah menjadi dewasa.

Dia tahu apa yang dinamakan kegagahan seorang laki-laki. Dia sudah dapat memburu para laki-laki sehingga menggemparkan dunia persilatan. Setiap malam dia selalu bercinta dan melampiaskan hasrat hatinya. Kadang-kadang dalam satu malam dia mencari tujuh atau delapan orang laki-laki.

Tetapi sejak mengikuti Tan Ki, ternyata dia dapat juga menuruti nasehat anak muda itu dan berusaha menenangkan gairah yang bergejolak dalam dadanya. Meskipun baru tiga hari yang singkat, tetapi sebetulnya tidak mudah. Kalau dia merasa iseng atau sumpek, hal ini tidak boleh disalahkan.

Kemudian terdengar lagi suara Liang Fu Yong yang merdu, “Adik, bolehkah aku datang ke kamarmu dan bercakap-cakap?”

“Apa yang akan kita percakapkan?”

Kamar sebelah menjadi hening. Tampaknya Liang Fu Yong sedang merenung. Agak lama kemudian, terdengarlah suara tawanya.

“Kita bicarakan masalah apa saja. Kalau tidak, kau boleh bercerita lagi. Saat ini Cici tidak dapat pulas. Hanya ingin berbincang-bincang saja denganmu.” sahutnya.

“Baiklah, kau datang saja ke mari.”

Terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa, tiba-tiba tampak sesosok bayangan menyelinap masuk lewat jendela kamar. Pertama-tama Tan Ki tertegun kemudian dia tersenyum simpul.

“Mungkin dulu kau selalu menggunakan cara seperti ini untuk menyelinap ke dalam kamar seorang laki-laki…” tiba-tiba dia merasa kata-katanya ini bisa menyinggung perasaan Liang Fu Yong, maka dari itu dia tidak jadi melanjutkan. Tetapi di wajahnya sudah terlihat jelas rona kemerah-merahan.

Liang Fu Yong tertawa-tawa. Tampaknya dia tidak mengambil hati terhadap ucapan Tan Ki barusan. Dia langsung duduk di tepi tempat tidur. Tan Ki menegakkan badannya dengan maksud turun dari tempat tidur. Tapi Liang Fu Yong segera mencegahnya.
Bibirnya tersenyum.

“Kau berbaring saja. Cici hanya ingin melihatmu, tidak ada niat lainnya.”

Begitu mata memandang, wajah Tan Ki yang tampan begitu polos bagai bayi yang baru dilahirkan. Bersih dan menawan hati. Di bawah sorotan cahaya lampu yang remang- remang, tampangnya semakin memukau.

Hatinya langsung berdebar-debar, seakan ada terselip perasaan jengah yang naik ke atas kepala. Cepat-cepat dia menundukkan wajahnya dan tidak berani memandang lebih lama. Tiba-tiba telinganya mendengar suara Tan Ki.

“Konon ada seorang wanita, namanya Liang Ang Giok. Dia hidup sebagai seorang penyanyi yang melayani tamu-tamu di rumah pelesiran. Begitu cantiknya dia sampai namanya terkenal ke daerah-daerah yang jauh…”

Liang Fu Yong merasa hatinya gelisah. Pikirannya melayang-layang. Dia sedang memikirkan sesuatu hal. Apa yang dikatakan oleh Tan Ki selanjutnya sama sekali tidak masuk dalam pendengarannya.

Lambat laun, dari sepasang sinar matanya menyorot cahaya yang aneh…

Suasana di dalam ruangan juga seakan dipenuhi gairah yang misterius. Yang seorang terus berbicara, sedang yang satunya lagi mendengarkan dengan setengah hati.

Orang yang bercerita justru memusatkan perhatian pada kisah yang diceritakan. Bagaimana wanita bernama Liang Ang Giok itu terpaksa menjual diri guna menutupi hutang-piutang suaminya. Orang yang mendengarkan malah membiarkan pikirannya melayang-layang dan saat itu seperti ada kobaran api di dalam hatinya yang naik semakin tinggi.

Tiba-tiba dia memejamkan matanya dan berteriak, “Tidak usah diteruskan lagi!” Tan Ki jadi tertegun.
“Apakah kau tidak senang dengan cerita yang satu ini?” tanyanya bingung. Perlahan-lahan Liang Fu Yong menggigit bibirnya yang sebelas atas.
“Tidak, adik. Apapun yang kau ceritakan, Ciri selalu senang mendengarnya. Biarpun kau memarahi aku juga tidak apa-apa. Tetapi saat ini, aku… aku…”

Entah mengapa, kata-kata yang selanjutnya begitu sulit dicetuskan oleh Liang Fu Yong.
Sebelumnya, apabila dia berhadapan dengan laki-laki manapun, dia selalu mencetuskan perasaannya terang-terangan, bahkan tanpa perasaan malu sedikitpun. Siapa nyana, saat ini, di hadapan Tan Ki dia malah merasa jengah dan tidak sanggup membuka mulut.

Tan Ki merasa terpana. “Ada apa dengan dirimu?”
“Aku… aku…” setelah setengah harian, dia juga belum sanggup mengatakan apa yang tersirat dalam hatinya.

Tan Ki melihat sinar matanya yang pilu. Air mata berderai dengan deras. Hatinya timbul sebuah pemikiran yang menyeramkan. Tanpa sadar tubuhnya menggigil.

Tiba-tiba… dengan gerakan spontan, Liang Fu Yong menerjang ke tubuh Tan Ki.
Gerakannya yang tidak disangka-sangka ini membuat Tan Ki terkejut setengah mati. Dia segera dapat merasakan bahwa peristiwa malam ini agak tidak beres.

Telinganya menangkap gumaman Liang Fu Yong…
“Adik, aku membutuhkan… membutuhkan…” suaranya gugup. Nafasnya memburu. Di balik semua ini seakan terkandung sesuatu permintaan.

Hati Tan Ki semakin tercekat. Dalam waktu yang bersamaan, dia segera sadar apa yang dibutuhkan oleh Liang Fu Yong. Tiba-tiba dia berusaha menegakkan badannya, namun dia ditekan kembali oleh Liang Fu Yong. Dalam keadaan panik dia malah sulit memberikan perlawanan.

Begitu terkejutnya Tan Ki sehingga gerakannya semakin gugup. ‘Datang lagi, datang lagi. Kali ini habislah…!’ jeritnya dalam hati.
Dia mengerti apa yang akan dilakukan oleh Liang Fu Yong. Tetapi, meskipun sebetulnya dia merupakan seorang anak muda yang cerdas, namun menghadapi kejadian seperti ini, yang belum pernah dialaminya seumur hidup. Dia juga tidak tahu harus bertindak apa.

Tampak selembar wajah Tan Ki yang tampan menjadi merah padam saking paniknya.
Kadang-kadang wajahnya berubah pucat pasi. Tetapi untuk sesaat dia tidak dapat meluapkan kemarahannya. Perlahan-lahan Liang Fu Yong mengangsurkan wajahnya yang merah membara mendekati…

Tiba-tiba Tan Ki merasa nafasnya memburu, perasaannya menjadi tegang, sepasang tangannya entah harus diletakkan di sebelah mana. Suasana semakin panas, kalau saja ada orang lain yang menyaksikan, mereka tentunya dikira sepasang pengantin baru yang masih hijau dalam urusan tempat tidur…

“Tidak boleh… Cici, tidak boleh begini…!” teriak Tan Ki.

Tapi kalau ada yang mencuri dengar percakapan yang berlangsung di dalam kamar itu, tentu orang tersebut akan merasa heran mengapa yang mengeluarkan jeritan justru pengantin laki-lakinya.

“Adik, aku harap kau bersedia membantu, Cici benar-benar tidak sanggup mempertahankan diri lagi…” di bawahnya masih ada kata-kata yang lain, tetapi dia tidak berani mengatakannya.

Mendadak Liang Fu Yong menempelkan sepasang bibirnya di atas wajah Tan Ki. Pada saat itu juga, Tan Ki merasa seperti ada arus listrik yang menjalari seluruh tubuhnya. Dan dia langsung tergetar.

“Cici, kau tidak boleh melakukan hal seperti ini. Tidak boleh…!” seru Tan Ki panik sekali.

Kali ini bibirnya yang disekap oleh Liang Fu Yong. Tan Ki hanya merasa suatu benda yang hangat dan harum bermain di atas bibirnya. Tan Ki dicium sedemikian rupa sampai gelagapan. Ciuman itu demikian hangat dan mesra.

Benda-benda yang ada di sekitar seperti lenyap satu persatu. Meskipun dunia ini sangat luas, tetapi sepertinya hanya milik mereka berdua. Liang Fu Yong hanya digelayuti satu macam pikiran. Yaitu apa yang dikehendakinya sekarang…..

Sedangkan di pihak Tan Ki, begitu terkejutnya dia sampai tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Matanya terbelalak lebar-lebar……

Sepasang tangannya telah basah oleh keringat dingin, jantungnya berpacu cepat seperti orang yang baru saja berlari dalam jarak jauh. Segulung demi segulung bau harum yang terpancar dari tubuh perempuan itu menerpa hidungnya. Dia merasa pikirannya mulai kacau, sepasang matanya berkunang-kunang… tetapi di hati kecilnya masih terselip sedikip kesadaran.

Tegang! Romantis! Panas! Merangsang!

Suasana yang hangat memenuhi kamar itu. Sungguh saat-saat yang mendebarkan hati dan sulit melepaskan diri!

Tiba-tiba… Tan Ki berteriak sekeras-kerasnya. Dengan kuat dia mendorong tubuh Liang Fu Yong dan melonjak turun dari tempat tidur tersebut. Perubahan yang mendadak ini, membuat Liang Fu Yong termangu-mangu. Dia tidak menyangka kalau Tan Ki dapat melepaskan diri dari rangsangan bi-rahi yang hampir memenuhi benaknya.

Dalam keadaan tertegun, dengan sekali loncat Tan Ki sudah keluar dengan menerobos jendela. Liang Fu Yong terkejut setengah mati.

“Adik, jangan pergi!” kakinya menutul dan diapun menyusul dari belakang.

Di bawah sorotan rembulan yang terang, tampak kedua orang itu berlarian dengan saling mengadu kecepatan. Dalam waktu yang singkat, mereka sudah berlari sejauh dua belas li.

Tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya dan berdiri di atas puncak sebuah bukit dengan tidak bergerak sama sekali. Hembusan angin membawa keharuman yang terpancar dari tubuh seorang perempuan. Liang Fu Yong sudah mendarat di sampingnya.

Tempat ini sudah tidak jauh dari hutan. Daerahnya agak tinggi. Begitu di Bagian de-i pan bertiup segulungan angin malam, tanpa terasa tubuh Liang Fu Yong menjadi menggigil. Kobaran api dalam dadanya pun padam seketika.

Matanya beralih, dia melihat Tan Ki sedang mendongakkan wajahnya menatap langit. Matanya menerawang, seakan ada sesuatu hal yang menggelayuti pikirannya. Dia berdiri tegak tanpa mengucapkah sepatah katapun.

Kurang lebih sepeminum teh kemudian, dia baru menarik nafas panjang. “Cici, tidak seharusnya kau berbuat begitu terhadapku.”
Mula-mula Liang Fu Yong tertegun. Dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Tan Ki. Sesaat kemudian, akhirnya dia tersadar. Otomatis wajahnya jadi merah padam dan kepalanya tertunduk dalam-dalam.

Tan Ki melihat tampangnya seperti orang yang menderita malu. Oleh karena itu dia segera tersenyum.

“Aku juga mengerti. Selama ini tindak-tandukmu selalu mengikuti kata hati. Apa yang ingin kau lakukan, tidak pernah dihalangi oleh siapapun. Kalau mengharapkan kau
berubah dalam waktu beberapa hari, tentu tidak mungkin. Apa yang terjadi barusan, anggaplah tidak pernah terjadi. Biarkanlah berlalu begitu saja.”

Perlahan-lahan Liang Fu Yong mendongakkan kepalanya. Di wajahnya yang merah jengah sudah mengalir dua tetes air mata.

“Adik, apakah kau marah kepadaku?”

Air matanya menetes bukan karena perasaannya takut ataupun sedih. Justru karena dia merasa malu sekali. Hati Tan Ki jadi tergerak.

Dia juga bisa mengeluarkan air mata, hal ini membuktikan bahwa di otaknya masih ada sedikit kesadaran dan belum tertutup sama sekali. Kalau aku menasehati lebih gencar lagi, mungkin tidak sulit mengajaknya kembali ke jalan yang lurus dan menjadi orang baik-baik, pikirnya dalam hati.

Setelah mempunyai renungan seperti itu, bibirnya langsung mengembangkan seulas senyuman.

“Urusan kecil seperti ini, tidak mungkin aku memasukkannya ke dalam hati.”

Kata-kata ini diucapkan dengan nada tulus. Justru membuat perasaan Liang Fu Yong semakin tergugah.

Kalau saat ini Tan Ki mendampratnya habis-habisan, mungkin perasaan Liang Fu Yong lebih lega. Tetapi Tan Ki justru mengucapkan kata-kata yang wajar dan tidak mengandung sedikit kemarahan pun. Hatinya segera dilanda perasaan rendah diri. Perlahan-lahan dia membalikkan tubuh dan menuruni bukit tersebut.

Gerakannya dilakukan dengan tiba-tiba, Tan Ki menjadi termangu-mangu. Dia tidak mengerti mengapa Liang Fu Yong mendadak pergi begitu saja. Sebetulnya, dia memang tidak memahami perasaan seorang perempuan. Dia merasa hati seorang wanita paling sulit diraba. Mimpi pun dia tidak mengira bahwa justru sikapnya yang terbuka dan lembut serta kata-katanya yang menghibur itulah yang bukan saja terpatri dalam-dalam di sanubari Liang Fu Yong. Malah membuat perempuan itu merasa dirinya begitu rendah dan tidak tahu malu. Serta merasa baik tindak-tanduknya maupun mutu dirinya sendiri tidak dapat dibandingkan dengan anak muda tersebut.

Biar bagaimana dia hanya seorang perempuan yang jalang, genit dan rendah. Kepergian Liang Fu Yong meninggalkan Tan Ki, sebetulnya karena dia tidak berani menghadapi kenyataan yang terpampang didepannya.

Tan Ki sama sekali tidak memikirkan bahwa menjelang kepergiannya, hati Liang Fu Yong digelayuti berbagai macam tekanan bathin. Setelah tertegun sejenak, dia segera menggerakkan langkahnya mengejar.

“Cici, cici, mengapa kau pergi?” Liang Fu Yong menyahut dengan suara tersendat- sendat.

“Aku ingin meninggalkan tempat ini, meninggalkan engkau dan meninggalkan semuanya yang ada…”
Hatinya seperti dipenuhi berbagai katakata, tetapi dia tidak sanggup mencetuskan-nya.
Setelah mengucapkan beberapa patah kata di atas, tiba-tiba mulutnya membungkam.

Pada saat berbicara, dia sudah menghentikan langkah kakinya. Tetapi dia masih belum membalikkan tubuh. Dia berdiri memunggungi Tan Ki, dia takut menatap wajahnya yang selalu tersenyum dan matanya yang berbinar-binar…

Terdengar Tan Ki tertawa getir.

“Kau tidak boleh pergi. Kecuali kalau kau mempunyai keyakinan bahwa kau tidak akan mengulangi perbuatanmu yang dulu, tentu kau boleh pergi. Tetapi kalau kau belum mempunyai kesanggupan untuk merubah tindak-tandukmu, lebih baik kau ikut denganku. Dengan demikian, masih ada orang yang mengawasimu sehingga perbuatan terkutuk itu tidak akan terulang lagi.” kata-katanya yang terakhir diucapkan dengan tegas. Suaranya juga serius sekali serta mengandung kewibawaan yang tidak dapat ditolak.

Liang Fu Yong menggelengkan kepalanya.

“Untuk apa? Di dalam hatiku telah tertanam akar jahat yang tidak dapat dicabut lagi.
Dan aku juga tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Setiap gairah itu datang, aku seperti tidak memperdulikan hal lainnya lagi. Bahkan sikapku berubah menjadi demikian rendah serta tidak tahu malu. Dengan bisa memperoleh perhatianmu, sebetulnya aku sudah merasa bahagia. Apa lagi yang aku inginkan? Namun, di dalam hatiku justru terselip perasaan pesimis dan rendah diri yang bertambah berat sehari demi sehari…”

Tan Ki memutar tubuhnya dan berdiri dihadapannya. Dia segera meraih tangan Liang Fu Yong dan menggenggamnya erat-erat. Bibirnya tersenyum lembut. “Kau salah. Orang yang tahu kesalahannya sendiri dan berniat merubah, merupakan

pahala yang besar sekali. Siapa orangnya yang berani menyatakan bahwa dirinya tidak pernah melakukan kesalahan? Para dewa yang sudah menetap di atas langit juga tidak berani mengucapkan kata-kata yang demikian takabur, apalagi kita yang terlahir sebagai manusia biasa?”

“Apakah kau benar-benar memaafkan aku dan tidak menaruh benci sedikitpun terhadap perbuatanku tadi?”

“Cici, apakah kau tetap tidak percaya?” suaranya demikian tulus, persis seperti sebilah pedang tajam yang langsung menembus jantung hatinya.

Sedemikian terharunya Liang Fu Yong sampai-sampai air matanya mengalir dengan deras. Yang diteteskan olehnya adalah air mata persahabatan yang tulus dan perasaan kasih yang dalam.

Perlahan-lahan Liang Fu Yong memejamkan sepasang matanya.

“Adik, kalau kau benar-benar memaafkan aku, sudikah kau memeluk aku… walaupun hanya sekejap saja?” tanyanya dengan nada berat.

Tan Ki tersenyum lembut. Kedua tangannya terulur dan dia memeluk Liang Fu Yong erat-erat. Tubuh perempuan yang mungil itupun terjatuh dalam pelukannya…
Dia merasa nafasnya sesak, seluruh tubuhnya lemas, menggunakan kesempatan ini dia menyelusup ke dalam pelukan Tan Ki. Untuk sesaat, suasana jadi sepi senyap, tetapi mengandung keperihan yang dalam.

Lama, lama sekali… dia masih tetap memejamkan sepasang matanya, tubuhnya tidak bergerak sedikit juga. Saat itu juga, apa yang didambakannya dan benda yang diharapkannya seperti terlampias dalam pekikan anak muda tersebut.

Tiba-tiba matanya mengejap. Dua tetes air mata mengalir turun membasahi pipinya.
Tan Ki mengusapkan wajahnya pada rambut Liang Fu Yong.

“Cici, yang lalu biarkanlah berlalu. Tidak perlu dipikirkan lagi. Yang kita kejar sekarang hanya kecerahan masa depan… kau mengerti maksudku bukan?” nada suaranya demikian tulus. Seperti seorang ibu yang bijaksana yang menasehati putrinya dengan suara lembut dan tidak kenal jenuh.

“Aku tahu, lain kali aku pasti bisa berubah.” Tan Ki tersenyum lebar.
“Baiklah, kita sudah harus pulang sekarang.”

Malam semakin larut, angin yang dingin tetap berhembus…

Tan Ki dan Liang Fu Yong segera mengembangkan ilmu meringankan tubuh dan kembali ke penginapan. Kemudian, Tan Ki mengantarkan Liang Fu Yong ke kamar sebelah. Dia memperlakukan perempuan itu bagai perlakuan seorang ibu terhadap putrinya. Dia menyelimuti tubuh perempuan itu, bahkan menyenandungkan lagu…

Sampai Liang Fu Yong tertidur dengan pulas, dia baru menghembuskan nafas panjang dan kembali ke kamarnya sendiri.

Tiba-tiba… Liang Fu Yong menarik nafas panjang dan membuka matanya. Di sudut matanya terlihat buliran air mata yang menggantung. Sebetulnya, dia belum tertidur. Namun dia hanya pura-pura terpulas.

Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin dia dapat tidur dengan nyenyak? Tindak- tanduk Tan Ki membuat dia menekan keras-keras kobaran birahi di dalam dadanya.
Namun setelah dia pergi, otomatis gairah itu terbangkit kembali.

Terjadi peperangan di antara kesadaran serta keinginan di dalam hatinya. Liang Fu Yong membolak-balikkan tubuhnya tanpa bisa pulas sedetikpun. Memangnya dia sendiri tidak berniat berubah, tetapi, ada semacam keinginan yang kuat di dalam bathinnya yang terus menerus merongrongnya dan membuatnya tidak dapat mengendalikan diri!

Dia rela meloncat dari sebuah tepi jurang yang dalam… terjun ke bawah…

Cahaya lampu di dalam kamar lambat laun menjadi suram, malam telah bertambah larut. Liang Fu Yong merasa, di dalam tubuhnya terdapat setungku api yang terus berkobar-kobar, semacam keinginan yang mendesak yang membuat pikirannya menjadi kebal… Dari sepasang sinar matanya tersorot cahaya yang dipenuhi oleh hasrat yang kuat, namun justru membuat wajahnya semakin cantik.

“Aku tidak sanggup lagi… aku tidak dapat menahannya… aku ingin…” gumamnya seorang diri.

Terdengar desahan nafas yang lirih, di mimik wajahnya mulai tersirat gairah yang meluap-luap. Pada saat itu juga, dia sudah tahu apa yang akan diperbuatnya. Walaupun bagaimana Tan Ki berusaha menasehatinya, akhirnya semua sia-sia.

Dia sadar mengapa dirinya begitu gelisah… justru karena kesadarannya hampir lenyap dari benaknya. Tampak bayangan manusia berkelebat. Cahaya lampu berkibar-kibar. Dia sudah menyelinap keluar dari kamarnya.

Gerakannya pesat bagai kilat, namun langkah kakinya tidak menimbulkan suara sedikitpun. Cahaya rembulan yang suram, sesosok bayangan meninggalkan tanah seakan terbang, dan menerjang terus ke depan.

Sekali lagi perbuatan terkutuk akan diulanginya.