Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 04

Bagian 04

“Mau ke mana kau?” bentak Ciu Cang Po.
Kiau Hun yang baru sampai di depan pintu segera menghentikan langkah kakinya. “Tecu akan mencari tabib yang sakti untuk mengobatinya…” kata-katanya berhenti.
Sinar matanya beralih sekilas ke arah Mei Ling. “Di dalam rumah Siocia, Tecu masih
merupakan murid engkau orangtua. Tetapi setelah melangkah keluar dari pintu ini, kita
tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi… terhadap perhatian dan kasih sayang yang telah Suhu curahkan, Tecu tidak akan melu-pakannya seumur hidup.”

Perlahan-lahan dia membalikkan badan dan melangkah pergi.

Kata-katanya itu diucapkan dengan nada yang datar, dia seolah sudah tidak perduli lagi terhadap mati hidupnya sendiri. Meskipun Ciu Cang Po sudah cukup berpengalaman di dunia Kangouw, tetapi menghadapi urusan seperti ini, dia juga tidak tahu bagaimana harus menyelesaikannya.

Mei Ling segera maju beberapa langkah. “Hun Moay, tunggu dulu!” panggilnya.
Kiau Hun memalingkan kepalanya. Bibirnya mengulum seulas tertawa yang sumbang. “Suhu sudah tidak menginginkan aku, untuk apa lagi Siocia memanggilku?”
“Tidak, tidak. Suhu hanya sedang emosi karena perbuatanmu. Maka dia mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hatimu. Nanti kalau hawa amarahnya sudah padam, pasti dia masih menganggap kau sebagai muridnya.” kata Mei Ling gugup.

“Maksud baik Siocia, budak hanya dapat mengenangnya dalam hati. Tapi watak Suhu bukannya kau tidak tahu. Apa yang sudah diucapkannya, selamanya tidak pernah di tarik kembali…”

Mei Ling menarik nafas panjang.

“Sebetulnya, kau tidak perlu memukul Suhu hanya untuk menolong orang itu.” Kembali Kiau Hun tertawa sumbang.
“Demi dirinya, aku rela berkorban apa saja.”

Mei Ling jadi tertegun mendengar ucapannya. Dia merasa heran sekali.

“Kenapa? Kau toh tidak ada hubungan apa-apa dengannya?” nada suaranya seakan tidak mempercayai kata-kata Kiau Hun.

Kiau Hun tertawa getir. Dia tidak mengatakan apa-apa. Perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya dan meneruskan langkah kakinya. Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan berkelebat dan Ciu Cang Po sudah menghadang di depan pintu.

“Letakkan anak muda itu!” katanya tegas.

“Suhu, dia sudah terluka sedemikian parah. Apakah kau benar-benar menginginkan kematiannya baru merasa puas?”

“Aku bilang letakkan!” bentak Ciu Cang Po.
Watak orang ini keras sekali. Kata-kata yang telah diucapkannya tidak pernah bisa dirubah oleh siapapun. Mei Ling mengerti sekali sifat gurunya. Tampak dia menarik nafas panjang.

“Hun Moay, letakkan orang itu.”

Kiau Hun merasa bimbang sejenak. Tadinya dia sudah hampir meletakkan tubuh Tan Ki di atas tanah, tapi tiba-tiba dia menggertakkan giginya erat-erat.

“Tidak!” sahutnya tegas.

“Bagus sekali, kau juga berani membantah apa yang akan kulakukan!” kata Ciu Cang Po. Di wajahnya mulai tersirat hawa pembunuhan.

Kiau Hun seakan sudah dapat menduga bahwa sebentar lagi pasti akan terjadi sesuatu yang mengerikan, namun penampilannya demikian datar dan tenang. Tidak tampak sedikitpun ketakutan menjelang kematian.

Begitu paniknya Mei Ling sampai-sampai dia terus menggigit bibirnya sendiri. Hatinya terkejut sekali tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa.

Tendengar suara dengusan dingin dari hidung si nenek kurus. Tongkat di tangannya langsung dikibaskan ke kepala Kiau Hun. Hati Mei Ling tercekat melihat keadaan itu.
Tanpa sadar mulutnya mengeluarkan suara seruan terkejut.

Kiau Hun sama sekali tidak menghindar. Dia hanya memejamkan sepasang matanya rapat-rapat dan menunggu datangnya dewa kematian. Sebetulnya hati gadis ini sadar sekali, biarpun dia berusaha menghindar, tetapi tetap saja dia bukan tandingan Suhunya. Dari pada dia melanggar dosa melawan guru, lebih baik dia menghadapi kematian dengan perasaan tenang.

Tampak tongkat Ciu Cang Po dengan gerakan yang cepat serta keji menyapu datang.
Tiba-tiba…

Terdengar suara tertawa yang panjang berkumandang memenuhi seluruh ruangan.
Sesosok bayangan berkelebat di depan mata dan melewati bahunya. Kumandang suara itu datangnya begitu mendadak. Gerakan tubuh orang itu tidak terduga-duga. kembali terdengar suara benturan yang tidak seberapa keras, dan tahu-tahu Ciu Cang Po bersuit marah sambil mundur tiga langkah. Hatinya tergerak, dia tahu di tempat itu telah kedatangan seorang tokoh berilmu tinggi.

Pandangan matanya beralih, di hadapannya telah berdiri seseorang, rambutnya riap- riapan. Sebelah lengan bajunya koyak seBagian. Dia adalah seorang pengemis, pakaiannya penuh tambalan. Tetapi karena dia berdiri membelakangi Ciu Cang Po, nenek kurus itu tidak dapat melihat bagaimana tampang orang itu.

Ciu Cang Po memperhatikan orang itu lekat-lekat. Hatinya terkejut sekali. Serangan yang dilancarkannya tadi paling tidak mengandung kekuatan sebesar ribuan kati. Tetapi dengan mudah orang ini dapat menahan serangannya sehingga buyar begitu saja.
Pengalamannya mengatakan bahwa orang ini bukan tokoh sembarangan dan bukan lawan yang dapat dipandang ringan.
“Siapa kau?” bentaknya dengan suara keras.

“Pengemis tua! Orang-orang biasa memanggilku si lengan koyak. Lengan bajuku yang koyak inilah yang menjadi lambang diriku.”

Timbul sedikit perasaan tegang dalam hati Ciu Cang Po.

“Rupanya salah satu dari dua tokoh sakti di dunia. Nenek tua benar-benar beruntung dapat berjumpa denganmu di tempat ini!”

Cian Cong mengibas-ngibaskan tangannya.

“Sudahlah, sudahlah. Tidak usah berbasa basi…” dia memperhatikan sejenak tongkat aneh di tangan si nenek kurus. “Apakah kau yang dipanggil Ciu Cang Po?”

“Tidak salah!”

“Sebetulnya apa kesalahan kedua bocah cilik ini sehingga kau ingin membunuh mereka? Si pengemis tua sudah hidup sampai setua ini. Kecuali makan dan minum, apapun tidak ada yang bisa kukerjakan. Tadi aku mendengar suara ribut-ribut, aku masih mengira pasangan pengantin baru sedang bertengkar maka sengaja aku menyelinap ke tempat ini untuk menyaksikan keramaian. Tidak tahunya seekor kucing tua sedang menghina dua ekor tikus kecil. Malah tampaknya bangga sekali. Si pengemis tua paling tidak biasa melihat pemandangan seperti ini. Oleh karena itu, aku terpaksa untuk menanyakan persoalannya sampai jelas.” kata Cian Cong panjang lebar.

Ciu Cang Po tertawa dingin.

“Ini merupakan urusan pribadi keluarga kami, kau tidak perlu turut campur!” sahutnya ketus.

“Biar bagaimanapun si pengemis tua tetap ingin mencampuri urusan ini. Tidak bisa tidak, harus ikut campur!” teriak Cian Cong.

Tampaknya dia seperti mengerti sekali kebiasaan Ciu Cang Po yang aneh dan angkuh. Sengaja dia mengeluarkan kata-kata yang membuat amarahnya meluap. Benar saja! Ciu Cang Po sampai menjingkrakkan kakinya berkali-kali saking jengkelnya.

“Bagaimana kalau aku tidak mengijinkannya?”

“Kalau perlu, kita tentukan lewat perkelahian.” sahut Cian Cong.

Watak orangtua yang satu ini agak angin-anginan. Urusan main tinju atau pukul baginya merupakan pekerjaan yang ringan. Atau mungkin semacam rekreasi yang menyenangkan. Selesai berkata, wajahnya masih tetap tersenyum simpul seperti orang yang tidak serius menantang lawannya. Tidak tampak sedikitpun kecemasan tersirat pada mimik wajahnya.

Pandangan Kiau Hun terpusat pada diri orangtua tersebut. Sinar matanya menyorotkan perasaannya yang kagum sekali.
‘Kalau aku mempunyai setengah dari sikapnya yang tenang dan santai saja, apabila bertemu dengan musuh tangguh kelak, berarti aku sudah menang satu langkah,’ pikirnya dalam hati.

Baru saja pikirannya tergerak, tiba-tiba dia merasa tubuh yang digendongnya bergeliat- geliat. Rupanya Tan Ki sudah siuman dari pingsannya. Tampaknya dia sama sekali tidak membayangkan kalau dirinya tersadar dari pingsan bisa berada dalam bopongan seorang gadis. Begitu matanya memandang, wajahnya merah padam seketika. Perlahan-lahan ia berusaha memberontak dan kemu-dian turun dari gendongan Kiau Hun.

Dalam keadaan panik, dia terlupa akan luka dalam yang dideritanya. Ketika sepasang kakinya menginjak tanah, dia merasa dadanya sakit sekali. Hampir saja dia terjungkal ke atas tanah.

Untung saja jarak Mei Ling tidak jauh dengannya. Begitu melihat keadaan Tan Ki, tangannya bergerak dengan cepat. Dia mengulurkan pergelangan tangannya dan mencekal anak muda itu, meskipun demikian, Tan Ki sudah kesakitan sehingga mengucurkan keringat dingin. Kepalanya berdenyutdenyut.

Tiba-tiba Mei Ling tersadar bahwa dirinya adalah seorang gadis suci, tentu tidak pantas memeluk laki-laki seperti itu, wajahnya berona merah, cepat-cepat dia melepaskan tangannya dan mundur setengah langkah.

Meskipun dia masih polos, tetapi segulungan perasaan jengah sebagaimana layaknya seorang gadis tetap saja ada dan hal ini membuat wajahnya jadi tersipu-sipu.

Dengan santai Kiau Hun berjalan menghampiri. Dia memegang tangan Tan Ki dan berdiri berendengan. Walaupun di sekitarnya terdapat beberapa orang tetapi dia tidak merasa malu sedikitpun. Selamanya dia selalu beranggapan, seorang gadis atau wanita juga mempunyai hak untuk menunjukkan rasa senangnya. Apa yang ingin dilakukan kontan dilakukannya tanpa berpikir dua kali. Ia merasa tidak perlu berpura-pura, yang akhirnya menyesal sendiri. Asal perbuatan yang tidak melanggar hukum Thian, boleh saja dilakukan sesuka hati.

Kedua gadis itu tumbuh besar bersama sejak kanak-kanak, tapi cara dan sikap dalam melakukan sesuatu jauh berlainan. Kalau Mei Ling pemalu dan takut-takut dalam bertindak, maka Kiau Hun supel serta romantis.

Tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar!

Di antara Cian Cong dan Ciu Cang Po telah beradu tenaga dalam. Begitu kerasnya sehingga meja dan kursi dalam kamar itu beterbangan ke mana-mana. Kedua orang ini telah beradu keras lawan keras. Ciu Cang Po merasa telapak tangannya menjadi panas, lambat laun terasa nyeri yang berdenyut-denyut. Serangkum tenaga berarus deras menerpa datang dan tanpa dapat menahan diri lagi, dia tergetar mundur setengah langkah.

Sedangkan di pihak Cian Cong, sepasang alisnya mengerut. Tubuhnya bergoyang- goyang sejenak. Begitu keduanya mengadu telapak tangan, kalah menang sudah dapat ditentukan. Ilmu silat kedua orang ini sebetulnya hampir seimbang. Hanya Cian Cong lebih tinggi segaris.
Untuk sesaat keduanya berdiri terpaku dengan mata saling pandang. Mereka tidak bergeming sedikitpun. Keduanya terpana oleh kehebatan ilmu silat yang dikuasai masing- masing lawannya.

Tentu saja mereka sadar telah bertemu dengan lawan yang setanding. Tampak kedua pasang mata mereka menyorotkan sinar tajam bagai kilatan cahaya dan menatap lekat- lekat pada lawannya. Mata mereka mendelik tanpa berkedip sama sekali.

Apabila tokoh silat kelas tinggi saling bergebrak, kejadiannya berlangsung dengan cepat. Begitu telapak tangan beradu, diri mereka segera berpencar kembali. Dalam sekejap mata, mati hidup sudah dapat ditentukan.

Mereka berdua merupakan tokoh kelas tinggi yang sudah sulit dicari tandingannya di dunia ini. Mereka sadar kelihaian masing-masing. Maka dari itu, setelah memencarkan diri, mereka segera menghimpun tenaga kembali dan bersiap-siap untuk melancarkan serangan.

Awan bergerak dan angin berhembus. Pertandingan yang hebat segera akan berlangsung. Setelah gelombang tegang yang pertama, kali ini malah terasa suasana sunyi mencekam. Tidak ada seorangpun yang membuka suara.

Waktu merayap perlahan-lahan…

Kedua tokoh kelas tinggi itu masih tidak bergerak sedikitpun. Siapapun di antara keduanya tidak ada yang sudi mendahului lawannya melancarkan serangan. Mereka bagai mengadu tingkat kesabaran dalam hati masing-masing.

Diam-diam Kiau Hun melirik Tan Ki. Pemuda itu sedang menatap Mei Ling dengan terpesona. Matanya sampai tidak berkedip. Dari sinar matanya menyorot cahaya yang aneh. Hati gadis itu menjadi tertegun. Harapannya yang bergairah menjadi mendatar setengahnya.

Dia tidak habis mengerti, dia sudah dua kali menempuh bahaya untuk menolong pemuda ini, tetapi mengapa perhatiannya kepada Siocia lebih besar dan kesannya lebih dalam? Kenapa?

Apakah pemuda, ini juga belum paham, walaupun dia sudah mencetuskan perasaannya lewat perbuatan dengan terang-terangan? Rasanya mustahil kalau dia tidak mengerti!
Kalau dikatakan bahwa pemuda itu merasa dia menyebalkan, mengapa dia membiarkan tangannya dipegang?

Akh… betul, Siocia adalah keturunan orang yang berada dan tokoh terkenal, sedangkan aku hanya seorang pelayan yang menjual dirinya pada keluarga tersebut…

Dengan membawa pikiran demikian, hatinya langsung merasa pedih dan hancur seketika. Akhirnya dia mengerti, pandangan orang di dunia ini hanya berdasarkan kulit luarnya saja. Dengan menempuh bahaya, Kiau Hun telah menyelamatkan Tan Ki sebanyak dua kali. Tetapi kesan yang ditimbulkannya toh masih kalah dengan asal-usul Mei Ling.
Padahal kesohoran dan kekayaan baginya hanya merupakan nama kosong saja.

Riwayat hidup Kiau Hun sangat mengenaskan. Perasaan rendah diri di dalam hatinya otomatis lebih hebat daripada orang lain. Dengan membawa pikiran demikian, tanpa sadar
dia melepaskan pegangannya pada tangan Tan Ki. Perlahan-lahan dia melangkah mundur dua tindak.

Barusan dia sudah membayangkan hal-hal yang indah. Dia bersedia melewati hidup ini dengan Tan Ki selama-lamanya. Berdua sampai tua dan tidak terpisahkan lagi…

Tetapi pada saat ini, ketika dia melepaskan genggaman tangannya dan melangkah mundur, hatinya pun hancur berkeping-keping. Tan Ki tidak bergeming sedikitpun. Tadinya dia bersandar pada diri Kiau Hun. Tetapi waktu ini, matanya sedang terpaku menatap Mei Ling. Dia malah tidak merasakan ketika Kiau Hun melepaskan genggamannya.

Kiau Hun merasa hatinya dilanda serangkum kepedihan. Air mata sebesar kacang kedelai menetes turun membasahi pipinya. Dia merasa kedudukannya lebih rendah daripada orang lain. Nasib juga seakan dipermainkan oleh kedudukannya…

Otaknya melintas banyak penderitaan yang dialaminya, tanpa sadar dia tertawa sumbang. Tawa di sudut bibirnya melambangkan ratusan kuntum bunga yang berguguran. Pilu dan sendiri…

Perlahan-lahan dia mengangkat lengan bajunya untuk menghapus air mata yang berderai di pipinya.

“Selamat tinggal, kekasih pujaanku…” ratapnya dalam hati. Pinggangnya yang kecil melenggok, sebentar saja dia sudah menghambur keluar dari kamar tersebut. Dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah menghilang.

Seorang gadis yang malang telah pergi. Kepergiannya tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Juga tidak seorangpun yang menahan kepergiannya. Seumur hidup dia belum pernah mencelakai siapapun. Tetapi, ketika dia pergi secara diam-diam, hatinya yang hancur berkeping-keping pun mengikuti langkah kakinya yang berat.

Sementara itu, di dalam kamar berkumandang dua kali suara yang menggelegar!

Cian Cong dan Ciu Cang Po sudah mengadu pukulan lagi. Keduanya merupakan tokoh kelas tinggi dunia Bulim. Kehebatan serangan maupun kekuatan tenaga dalam serta cara memukul maupun menahan diri, tidak ada satu pun yang dapat dipandang ringan dan semuanya mengandung kekejian yang mengerikan.

Suara pukulan menghempas-hempas. Bayangan tongkat membuat mata berkunang- kunang, tampak bayangan kedua orang itu kadang melesat ke udara dan kadang melayang turun kembali. Kadang berputaran dengan cepat dan kadang berjungkir balik membuat salto di udara. Mei Ling terpesona sekali memandang pertandingan tersebut. Berkali-kali tanpa sadar dia bertepuk tangan dan berseru. Bagus!

Pandangan mata Tan Ki masih terpusat pada wajahnya. Seakan dia sedang mencari sesuatu yang masih belum ditemukannya sejak tadi. Tiba-tiba Mei Ling memalingkan wajahnya dan menatap ke arahnya. Saat itu juga dua pasang mata bertemu. Mereka berdua merasa hatinya tergetar. Cepat-cepat keduanya memalingkan wajah ke arah yang lain.
Dalam waktu yang bersamaan, mereka berdua merasakan wajahnya menjadi panas dan rona merah menjalar sampai ke leher. Mereka bagaikan baru meminum beberapa cawan arak dan hatipun berdebar-debar.

Sampai saat itu, Tan Ki. baru menyadari kepergian Kiau Hun. Mulutnya mengeluarkan suara seruan terkejut dan dia segera membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat tersebut. Dia sadar isi perutnya terluka cukup parah. Itulah sebabnya dia tidak berani berlari namun berjalan perlahan-lahan.

Mei Ling tidak tahu untuk apa dia keluar dari ruangan tersebut. Hatinya menjadi penasaran dan dia pun membuntuti dari belakang. Toh Suhunya sedang bertanding dengan Cian locianpwe. Ilmu silat keduanya hampir seimbang. Dalam waktu yang singkat, tentu sulit menentukan siapa yang akan kalah dan siapa yang akan meraih kemenangan.

Di Bagian depan, Tan Ki melangkah dengan perlahan-lahan. Dalam sekejap mata dia sudah sampai di taman bunga. Tampak cahaya keperakan berkilauan, ratusan bintang bertaburan di langit. Sungguh malam yang indah.

Segulungan angin yang lembut membawa keharuman bunga yang berlainan jenis. Di dalam taman itu ditanami bermacam-macam jenis bunga yang indah. Pemandangannya membuat orang terlena.

Tan Ki seperti tidak tertarik dengan keindahan pemandangan yang terbentang di ha- dapannya. Dia hanya ingin menemukan Kiau Hun secepatnya. Dia berjalan lagi beberapa depa. Ehem! Begitu matanya memandang, tampak sesosok bayangan hitam berdiri mematung di bawah sebatang pohon yang rimbun. Dia adalah seorang gadis yang berdiri memunggunginya. Badannya langsing. Tampaknya usia orang ini tidak lebih dari delapan belas atau sembilan belas tahunan.

“Cen kouwnio…!” panggil Tan Ki sambil menghambur ke arahnya. Dia tidak berani berteriak terlalu keras karena takut akan mengejutkan Bu Ti Sin-kiam Liu Seng. Kalau sampai asal-usulnya terbongkar, tentu akan datang banyak kesulitan bagi dirinya. Oleh karena itu sapaanya hanya lirih saja.

Mendengar panggilannya, gadis itu membalikkan tubuh. Begitu Tan Ki memandang, dia menjadi tertegun. Pinggangnya memang ramping dan kecil. Pakaiannya berwarna hitam. Di punggungnya terselip sebatang pedang panjang. Sepasang matanya menatap Tan Ki dengan curiga. Tapi dia bukan Kiau Hun yang dicari oleh anak muda tersebut.

Setelah tertegun beberapa saat, lambat laun Tan Ki mengundurkan langkah kakinya. “Tunggu dulu!” terdengar suara bentakan gadis itu yang dingin dan berat.
Hati Tan Ki tergetar. Namun dia segera menghentikan langkah kakinya. Tampaknya nyali gadis berpakaian hitam itu sangat besar. Dia langsung melangkahkan kakinya menghampiri. Dalam jarak kira-kira tiga empat cun, dia berhenti.

“Apa hubunganmu dengan keluarga Liu?” tanyanya ketus. “Tidak ada hubungan apa-apa.” sahut Tan Ki.
Perlahan-lahan bibir gadis itu mengembangkan seulas senyuman.

“Bagaimana caranya membuktikan bahwa kata-katamu itu bukan dusta belaka?” Tan Ki menjadi termangu-mangu.
“Mengapa harus dibuktikan? Aku dan engkau toh tidak saling mengenal…” dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan kembali. “Aku sedang mencari seseorang.”

Tiba-tiba gadis itu tertawa dingin.

“Seumur hidupku, paling jarang aku sembarangan berbicara dengan orang lain. Malam ini aku melanggar pantangan dan berbicara agak banyak denganmu. Lebih baik kau tinggalkan tempat ini secepatnya. Jangan sampai menempuh bahaya yang tidak diinginkan. Aku lihat usiamu masih muda, tidak tampak seperti orang Kangouw. Itulah sebabnya aku menasehatimu. Urusan malam ini sangat berbahaya dan lain dari biasanya…”

“Benar?” mendengar ucapannya, Tan Ki terkejut sekali.

“Kemungkinan iblis yang gemar membunuh orang itu akan datang kembali. Aku justru sedang menantikannya di sini.” sahut gadis itu.

“Apakah yang Kouwnio maksudkan adalah Cian bin mo-ong?” “Tidak salah.”
Diam-diam Tan Ki menghela nafas lega. Mimiknya yang tegang pun rada mengendur. ‘Aku justru sedang berdiri di hadapanmu.’ katanya dalam hati.
Sementara itu, gadis berpakaian hitam mengibaskan tangannya perlahan-lahan. “Cepat pergi, jangan mengoceh sembara-hgan di sini.”

Tampaknya watak gadis ini sangat tidak sabaran. Malah terkesan agak angkuh. Ketika berbicara wajahnya sudah mulai tampak garang. Kalau saat itu Tan Ki masih tidak pergi juga, kemungkinan akan mendapat gebukan darinya.

Oleh karena itu, Tan Ki segera mengembangkan seulas senyuman dan membalikkan tubuh meninggalkan tempat tersebut. Tujuannya hanya ingin mencari Kiau Hun, dia tidak ingin ada masalah lain yang timbul. Lagipula luka dalamnya masih belum sembuh.
Tenaganya pun masih belum dapat dikerahkan sepenuhnya.

Tampaknya dia masih belum sadar kalau Mei Ling masih membuntutinya dari belakang. Setelah mencari kurang lebih sepeminuman teh lamanya, akhirnya dia melihat bayangan hitam seorang gadis.

Gadis itu terus mondar-mandir di bawah tembok pekarangan. Dia memang Kiau Hun adanya. Tampangnya mengenaskan sekali. Perasaannya bagaikan tertekan. Tiba-tiba Tan Ki merasa jantungnya berdebar-debar. Hatinya tegang sekali. Setelah bimbang sejenak, akhirnya dia melangkah perlahan-lahan mendekati.

“Cen Kouwnio.” panggilnya lembut.

Mulut gadis itu mengeluarkan suara desahan dan tubuhnya seperti bergetar. Hatinya merasa terharu. Banyak sekali kata-kata yang ingin diucapkannya, tetapi tidak ada sepatahpun yang keluar dari mulutnya.

Tan Ki juga memandanginya dengan termangu-mangu. Dia tidak tahu harus bagaimana memulai percakapan. Di bawah sorotan cahaya rembulan, dua bayangan tubuh rebah di atas rerumputan tanpa bergeming sedikitpun.

Sinar mata keduanya saling tatap menatap. Mereka seakan sedang mengukir wajah lawan jenisnya agar terlekat di dalam hati. Sampai lama tidak ada seorangpun yang membuka suara. Dalam keheningan… saat ini suasana menjadi mencekam. Begitu sunyinya sehingga terdengar desahan nafas dan degupan jantung kedua orang tersebut.

Perasaan kaum perempuan biasanya memang lebih peka. Mei Ling yang bersembunyi di balik gunung-gunung buatan mendadak mengerti apa yang sedang berlangsung di hadapannya. Dia merasa bergairah menghadapi situasi seperti ini. Juga merasa penasaran. Tetapi hatinya sangat baik dan sifatnya polos, maka dia seperti samar-samar mengerti tentang urusan hati laki-laki dan perempuan. Dia tidak pernah membayangkan yang
bukan-bukan.

Lama…! Lama sekali… Tan Ki mencoba membangkitkan keberaniannya.

“Cen Kouwnio, atas budi pertolonganmu tadi, suatu hari pasti akan kubalas…” “Apakah hanya beberapa patah kata itu yang ingin kau ucapkan kepadaku?”
Tan Ki mendongakkan kepalanya. Dia tiba-tiba merasa bahwa dalam pancaran sinar mata Kiau Hun terkandung perasaan yang hangat dan penuh harapan. Hatinya perlahan- lahan mulai tergetar. Cepat-cepat dia palingkan wajahnya ke tempat lain dan tidak berani memandang lagi ke arah Kiau Hun.

Setelah hening sesaat lagi, tiba-tiba telinganya mendengar suara yang lembut namun mengenaskan.

“Tan Siangkong, kau kira mengapa aku menempuh bahaya kematian untuk menolong dirimu?”

“Atas perhatian Kouwnio yang dalam, Cayhe pasti akan membalasnya.” sahut Tan Ki.

Kiau Hun tahu dia sengaja mengalihkan diri dari pokok pertanyaannya. Yang dijawabnya malah urusan yang lain. Tanpa sadar dia mengembangkan seulas senyuman yang pilu. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang.

Dia mengerti bahwa Tan Ki tidak mempunyai perasaan apapun terhadap dirinya. Tentu saja, hal ini karena riwayat hidupnya yang hina dan membuat orang lain menganggapnya rendah. Tapi bagaimanapun dia tidak habis pikir mengapa dirinya bisa mencintai pemuda itu demikian dalam? Kenapa?

Apakah percintaan antara seorang pemuda dan pemudi demikian rumitnya dan begitu anehnya sehingga dia sendiri tidak sanggup memberi penjelasan kepada dirinya sendiri?
‘Orang dulu sering mengatakan jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin hal inilah yang terjadi pada diriku sekarang.’ pikirnya dalam hati.

Mengingat hal itu, kembali dia tertawa getir. Tampangnya menjadi muram tanpa semangat sedikitpun. Tiba-tiba dia seperti mengingat suatu hal, bibirnya tersenyum.

“Tan Siangkong, kau mengatakan bahwa kau kelak akan membalas budiku. Entah bagaimana cara kau membalasnya?” tanyanya.

Tan Ki benar-benar merasa di luar dugaan bahwa dia akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Dia tertegun beberapa saat.

“Satu budi dibalas satu kali. Ini sudah pasti. Tetapi bagaimanapun harus dilihat dari situasi yang akan dihadapi kelak. Sekarang ini apabila Cayhe disuruh menjelaskan, tentu saja belum bisa.” sahutnya kemudian.

Kiau Hun tersenyum.

“Tidak usah menunggu sampai kelak. Sekarang juga sudah ada, asal kau bersedia saja.” katanya.

“Cayhe bersedia mendengar penjelasan Kouwnio. Asalkan Cayhe dapat melakukannya, tentu permintaan Kouwnio tidak akan ditolak.”

Kiau Hun mengangkat tangannya dan merapikan rambutnya yang terurai angin.
Tampak mimik wajahnya seperti tersipu-sipu.

“Aku tidak menginginkan apa-apa darimu. Hanya… hanya ingin meme…luk dirimu sekejap.” katanya dengan suara lirih.

Wajah gadis itu menjadi merah padam, kepalanya tertunduk dalam-dalam dan seperti orang yang kemaluan. Tan Ki sama sekali tidak membayangkan bahwa kata-kata seperti itu dapat terucap dari mulut seorang gadis. Hatinya terkejut sekali. Untuk sesaat dia tidak sanggup menyahut sepatah katapun.

Kiau Hun tetap menunggu. Lama sekali dia tidak mendapat jawaban dari Tan Ki.
Perlahan-lahan dia mendongakkan wajahnya dan bertanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

“Tan Siangkong, apakah kau tidak bersedia memenuhi permintaanku?”

Suaranya demikian pilu, bagai ucapan syair seseorang yang sudah putus asa. Siapa pun yang mendengarnya pasti turut merasa pilu. Sinar mata Tan Ki bertemu pandang dengannya sekilas. Tiba-tiba dia menyadari bahwa sorotan matanya mengandung harapan yang besar. Juga tersirat kepedihan yang tidak terkatakan, hatinya menjadi lemah, dia tidak tega menyakiti perasaan gadis itu. Oleh karena itu cepat-cepat dia memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.

“Baiklah, aku bersedia memenuhi permintaanmu…” belum lagi ucapannya berhenti, tiba-tiba dia mengendus keharuman yang terpancar dari rambut Kiau Hun.
Matanya dipejamkan rapat-rapat, dia tidak dapat melihat pemandangan apapun.
Namun dia tetap seorang manusia hidup yang mempunyai perasaan peka. Dia merasa di dadanya menempel sesosok tubuh yang lembut. Yang mana dengan perlahan-lahan bersandar padanya. Perasaannya bagai dihinggapi kegairahan yang panas dalam waktu seketika.

Dikatupnya rahangnya erat-erat. Hawa murni ia himpun segera. Diam-diam dia berusaha mengosongkan pikiran agar gairah yang tidak menentu dapat tersapu bersih. Namun biar bagaimanapun Tan Ki juga seorang perjaka yang belum pernah berpelukan dengan seorang perempuan. Meskipun dia sudah berusaha sekuat kemampuan, perasaan aneh itu tidak dapat dihilangkan sampai tuntas. Dia merasa gadis itu memeluknya demikian erat seperti takut sekali kehilangan dirinya.

Sambil memeluk anak muda itu erat-erat, perlahan-lahan Kiau Hun mendongakkan wajahnya. Matanya menatap Tan Ki lekat-lekat dengan pandangan sayu dan kelopak mengembangkan air mata. Dia seakan takut Tan Ki akan lenyap dari pandangannya…

Tetapi, apa yang diharapkannya, pada saat itu juga telah memberinya kepuasan yang tidak terkirakan. Lambat laun, bibirnya mengembangkan seulas senyuman penuh penderitaan. Hatinya sadar, kelak dia harus meninggalkan anak muda ini untuk selama- lamanya.

Dia berharap dapat memperoleh kelembutan dan kasih sayang sesaat dari pelukan itu.
Kelak, dia tidak mungkin punya harapan dari permohonan lagi, dia ingin menggunakan waktu yang singkat ini dan menjadikan kenangan yang tidak akan terlupakan olehnya seumur hidup.

Cahaya rembulan yang terang menyoroti bayangan mereka. Satu panjang dan yang satu pendek…

Mei Ling melihat apa yang sedang berlangsung di hadapannya dari tempat persem- bunyiannya. Sepasang matanya yang indah membelalak lebar-lebar. Semacam perasaan yang aneh seperti kehampaan tiba-tiba merasuki hatinya. Lambat laun dia merasa wajahnya menjadi panas membara.

Dia sendiri tidak dapat menguraikan apa yang tersirat di hatinya saat itu. Dia hanya merasa bahwa yang terpendam dalam hatinya pasti adalah sesuatu hal yang memalukan. Kemudian, pandangan di depan matanya membuat hatinya berdebar-debar, jantungnya berpacu dengan cepat. Dia merasa bergairah namun jengah.

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, perlahan-lahan Tan Ki mendorong tubuh Kiau Hun.

“Cen Kouwnio, ke mana tujuanmu setelah ini?” tanyanya lembut. Kiau Hun tertawa sumbang.
“Suhu sudah mengusir aku dari pintu perguruan. Aku sendiri juga tidak tahu ke mana tujuanku. Pokoknya di mana aku sampai, di sanalah tujuanku.” sahutnya pilu.

“Di mana orangtuamu?”
“Mereka sudah meninggal.” Tan Ki menarik nafas panjang.
“Meskipun kolong langit ini luas sekali, jalanan juga sangat panjang. Tetapi kau tidak mempunyai rumah untuk kembali…”

Pada saat itu juga, perasaan ibanya terhadap Kiau Hun terbangkit seketika. Setelah berhenti sejenak dia baru meneruskan kembali kata-katanya. “Sama halnya dengan diriku, aku juga termasuk yatim piatu. Meskipun aku mempunyai seorang kakak misan yang menikah di daerah Barat, sayangnya sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengannya.
Entah sekarang dia masih hidup atau sudah mati.”

“Apakah Tan Siangkong bermaksud mencarinya?” tanya Kiau Hun. “Betul.”
Hati Kiau Hun menjadi gembira.

“Bagaimana kalau kita jalan bersama?” tukasnya segera.

Watak gadis ini sangat terbuka. Apa yang dipikirkannya dalam hati langsung dicetuskannya keluar. Lagipula, Tampaknya dia masih belum putus asa mendekati Tan Ki. Cintanya yang dalam kemungkinan sudah mencapai titik akhir.

Siapa kira, sikapnya yang berani dan terus terang justru membuat Tan Ki merasa tidak tenang. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali.

“Urusan ini boleh sih boleh saja, tetapi di daerah ini aku masih ada beberapa macam urusan yang harus diselesaikan…”

Kiau Hun tidak membiarkan dia melanjutkan kata-katanya. “Aku bisa menunggu.” tukasnya cepat.
Mendengar ucapannya, Tan Ki merasa serba salah. Biar bagaimana dia merupakan wujud asli dari Cian bin mo-ong, mana mungkin dia membiarkan orang tahu identitas dirinya. Apabila dia berjalan bersama-sama gadis itu, ada kemungkinan rahasianya bisa terbongkar. Namun melihat tampangnya yang mengenaskan dan penuh harapan, dia merasa tidak sampai hati menolaknya. Di tundukkannya kepala dalam-dalam sambil berpikir. Akhirnya dia menarik nafas panjang.

“Boleh juga, sementara ini kau cari penginapan di tengah kota dan tunggu di sana.
Setelah urusanku selesai, aku akan menemuimu di tempat itu.” Kiau Hun segera tersenyum manis.
“Baik, aku akan menunggumu. Sehari kau tidak datang, aku menunggumu satu hari. Sepuluh hari kau belum datang, aku akan menunggumu sepuluh hari. Seumur hidup kau tidak datang, aku akan menunggumu seumur hidup.” sahutnya.
Air matanya yang sebesar kacang kedelaipun menetes turun dengan deras. Tan Ki mengulurkan tangan kanannya dan dengan lembut mengusap air mata di pipinya.

“Jangan curiga, aku bukan manusia semacam itu.” katanya menghibur. Sembari menangis, Kiau Hun mengembangkan seulas senyuman.
“Aku pergi sekarang, aku akan menunggu di sebelah barat kota setiap hari.” dia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Sekejap saja bayangannya sudah menghilang dari pandangan.

Orangnya memang sudah pergi, tetapi cinta kasihnya yang dalam masih tertinggal. Tan Ki memandangi bayangan punggungnya sampai menghilang di kejauhan. Dia berdiri termangu-mangu sesaat. Kemudian dia melangkahkan kakinya yang berat dan kembali ke rumah Mei Ling.

Dia masih tidak sadar bahwa Mei Ling sudah mendahuluinya beberapa saat. Sekejap mata dia sudah sampai di kamar gadis itu. Begitu mata memandang, dia melihat Cian Cong dan Ciu Cang Po masih bertarung dengan sengit.

Ini merupakan pertarungan kelas tinggi di antara dua tokoh yang namanya sudah menggetarkan dunia persilatan!

Meskipun dalam hal tenaga dalam Cian Cong masih menang setingkat dari Ciu Cang Po, tetapi mengenai jurus pukulan ataupun tendangan, sulit membandingkan siapa yang lebih hebat diantara keduanya.

Sampai saat ini, ribuan jurus telah berlalu, namun masih belum tampak pihak mana yang akan tumbang terlebih dahulu.

“Bertarung dengan cara seperti ini, sampai kapan baru ada penyelesaiannya?” kata Tan Ki dalam hati.

Pikirannya masih bertanya-tanya, tiba-tiba…

Ciu Cang Po mengeluarkan suara suitan panjang. Tongkatnya yang aneh melancarkan tiga jurus berturut-turut, Cian Cong sampai terdesak mundur sejauh dua langkah. Nenek itu pun segera melesat keluar dari arena.

“Tunggu dulu!’ bentaknya.

Cian Cong mendelikkan sepasang matanya lebar-lebar.

“Teriak apa, si pengemis tua masih belum puas berkelahi!” sahutnya kesal. Wajah Ciu Cang Po semakin kecut. Dia menunjuk ke arah luar jendela. “Coba kau lihat, sekarang sudah waktu
apa?”

Cian Cong mengikuti arah telunjuknya. Tanpa sadar mulutnya berseru terkejut.

“Akh… rupanya sudah pagi. Masa bodoh! Pokoknya kita harus bertarung lagi sebanyak tiga ratus jurus!” sepasang telapak tangannya memutar, dia sudah bersiap-siap melancarkan sebuah serangan.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang lantang…

“Locianpwe, harap berhenti sebentar!” kumandang suaranya masih belum sirap, dari luar kamar telah terdengar suara derap langkah kaki.

Tampak bayangan berkelebat, secara berturut-turut masuk tiga orang ke dalam kamar itu. Tan Ki menolehkan kepalanya. Pertama-tama masuk Bu Ti Sin-kiam Liu Seng ke dalam kamar dengan tergesa-gesa. Ciong San Suang-siu, Cu Mei dan Yi Siu mengikuti di belakangnya.

Tenyata Cian Cong mempunyai sikap yang ugal-ugalan. Dia tidak pernah memperdulikan segala tata krama atau etiket. Seorang diri dia berjalan ke taman bunga dan kemudian duduk terkantuk-kantuk di tempat tersebut. Tadi malam secara berturut- turut Ciu Cang Po memukul hancur tiang penyangga loteng dan beberapa pot bunga serta pajangan di dalam kamar Mei Ling. Kegaduhan itu membuat si pengemis sakti yang paling benci segala macam kejahatan jadi tergugah. Oleh karena itu, dalam keadaan yang membahayakan, dia keburu muncul sehingga jiwa Kiau Hun dan Tan Ki sempat tertolong olehnya.

Tetapi, meskipun dia sudah lama menggetarkan dunia persilatan serta dikagumi orang banyak, namun dia mempunyai semacam kebiasaan yang menyebalkan. Yaitu gaya hidupnya yang santai. Dia boleh tidak tidur atau berkelahi selama tiga hari tiga malam.
Tetapi kalau suruh orangtua ini tidak makan setengah harian saja, dia merasa lebih baik dibunuh mati. Belum lagi seleranya yang tinggi. Dia tidak dapat makan kalau tidak ada daging ayam, ataupun arak bagus. Setiap hari menjelang pagi, selera makannya justru bertambah besar. Secara diam-diam dia menyelinap ke dalam dapur dan makan serta minum sepuasnya. Dengan demikian dia baru dapat mempertahankan diri dan tidur nyenyak. Kalau tidak, entah rumah makan besar atau kedai arak mana yang akan tertimpa kesialan karena dapur mereka kebobolan. Pemilik rumah makan atau kedai tersebut malah mengira kalau tempat mereka telah digerayangi siluman serigala.

Liu Seng paham sekali kebiasaan orangtua ini, itulah sebabnya setiap malam dia menyuruh para pelayannya menyiapkan hidangan yang lezat serta arak yang harum di dapur. Siapa tahu pagi ini ketika dia melongok ke dapur, hidangan dan arak masih belum tersentuh sedikitpun. Berdasarkan pengalamannya yang luas, Liu Seng segera merasa telah terjadi sesuatu yang tidak beres. Dengan tergesa-gesa dia mengajak Ciong Sang Suang-siu mencari ke taman bunga. Kebetulan dia mendengar suara perkelahian dan segera menuju kamar Mei Ling.

Ciu Cang Po melihat pihak lawannya telah kedatangan bala bantuan, langsung tertawa dingin. Tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

****