Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 03

Bagian 03

Di Bagian atas telah diceritakan tentang Tan Ki yang menerjang keluar dari kamar dalam keadaan emosi sehingga bergulingan di atas tanah dan jatuh tidak sadarkan diri lagi.

Dalam keadaan pingsan, tentu saja Tan Ki tidak dapat mengingat apapun. Entah berapa lama dia tidak sadarkan diri, ketika matanya membuka, samar-samar dia melihat sesosok bayangan yang duduk dihadapannya.

Dia adalah si gadis pelayan yang cantik, Kiau Hun. Keringatnya yang harum terus menetes, nafasnya memburu, wajahnya merah padam. Di bawah sorotan lampu yang remang-remang, wajahnya tampak jauh lebih cantik. Rupanya dia sedang menyalurkan hawa murni ke dalam tubuh Tan Ki. Maksudnya tentu saja untuk membantu agar luka dalam yang diderita pemuda itu dapat segera disembuhkan.

Mei Ling berdiri di sudut kamar. Sepasang tangannya meremas-remas sehelai sapu tangan. Bibirnya digigit-gigit sendiri, tampaknya dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Tan Ki.

Saat itu sudah menjelang malam, kegelapan mulai menyelimuti luar jendela. Lampu minyak yang dipasang di atas meja bergerak-gerak, suasana yang sudah tegang menjadi semakin menegangkan.

Lama sekali. Terdengar Kiau Hun menarik nafas panjang. Diangkatnya lengan baju untuk menghapus keringat yang membasahi kening dan dahinya. Kemudian dia menolehkan kepala dan berkata kepada Mei Ling…

“Siocia, mari, kau beri sedikit bantuan kepadanya.”

Mendengar ucapannya, Mei Ling menjadi serba salah. Untuk sesaat dia termangu- mangu.

“Ini… ini…”

Watak gadis ini masih seperti kekanak-kanakan. Tapi dia memegang teguh sekali pendirian bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh bersentuhan, kecuali mereka suami isteri. Dia merasa tidak pantas menempelkan tangan pada tubuh seorang pemuda yang tidak dikenalnya meskipun untuk membantunya menyembuhkan luka dalam. Oleh karena itu dia hanya berdiri termenung tanpa berani melangkahkan kakinya mendekati.

Kiau Hun tidak sabar melihat sikapnya. Terpaksa dia mengerahkan tenaga membantu Tan Ki menyembuhkan luka dalam seorang diri. Sebetulnya dia sudah merasa lelah sekali. Tetapi dia terus menempelkan telapak tangannya ke dada Tan Ki untuk membuyarkan darah yang membeku di tempat tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara keroncongan dari perut Tan Ki. Seperti juga suara air yang beriak-riak. Mei Ling seperti teringat sesuatu hal. Mulutnya mengeluarkan suara terkejut.
“Aduh… dia sudah sehari semalam tidak mengisi perutnya dengan sebutir nasi pun.
Mungkin saking laparnya dia bisa jatuh pingsan!” teriaknya gugup.

Tanpa menunggu jawaban dari Kiau Hun, dia segera berlari keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Tidak berapa lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan sebuah mangkok keramik di kedua tangannya.

Saat itu, luka Tan Ki sudah sembuh seba-giannya. Meskipun dia sekarang menggunakan wajah aslinya, tetapi kedua gadis di hadapannya tidak tahu kalau dialah yang di sebut Cian bin mo-ong yang namanya menggetarkan hati setiap orang Kangouw.

Mei Ling meletakkan mangkok keramik tersebut di atas meja. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang manis.

“Sudah sehari semalam kau tidak makan apa-apa. Aku sengaja membuatkan semangkok sup biji teratai untukmu. Makanlah selagi masih hangat. Dengan demikian tubuhmu akan kuat kembali.”

Tan Ki mendengus dingin.

“Aku tidak mau makan!” sahutnya ketus.

Nada suaranya begitu datar, seolah dia adalah seorang manusia yang tidak mempunyai perasaan sama sekali. Mendengar nada suara dan kata-katanya, kedua gadis itu jadi tertegun.

“Kenapa?” tanya mereka serentak.

Tampang anak muda itu juga begitu dingin. Dia mengalihkan mukanya ke arah lain dan tidak memandang kedua gadis itu sedikitpun. Perasaan Kiau Hun lebih peka. Dia segera dapat menduga apa yang tersirat di dalam hati Tan Ki.

“Siangkong, tampaknya kau mempunyai anggapan yang buruk terhadap keluarga Liur’ tanyanya cepat.

Tan Ki hanya tertawa dingin. Belum lagi dia mengucapkan apa-apa, sudah terdengar seruan terkejut dari mulut Mei Ling.

“Betul. Kemungkinan besar ada ganjalan yang tidak menyenangkan antara dirinya dengan ayahku.”

“Urusan kemarin…” sebetulnya Tan Ki ingin mengungkapkan identitas dirinya, tetapi tiba-tiba dia teringat dirinya sedang terluka parah dan sekarangpun belum sembuh sama sekali. Kalau sampai kedua gadis itu mengeroyoknya, dia pasti tidak dapat menahan sekali saja pukulan mereka. Maka begitu pikirannya tergerak, ucapannya pun dihentikan setengah jalan.

Kiau Hun malah merasa penasaran. Dia langsung mendesak anak muda itu. “Ada apa dengan urusan kemarin?”
Tan Ki tidak tahu kedua gadis itu selalu dipingit di dalam rumah. Mereka tidak banyak mengetahui urusan luar. Kehadiran Cian bin mo-ong yang menggemparkan tadi malam pun, mereka tidak tahu sama sekali. Tetapi Tan Ki mengira mereka pura-pura bodoh. Oleh karena itu, dia langsung tertawa dingin.

“Urusan kemarin boleh kau tanyakan saja pada orangtuamu.” selesai berkata, dia langsung bangkit dari tempat tidur. Tetapi lukanya masih belum sembuh, di tambah lagi perutnya sudah kosong sehari semalam, begitu kakinya mencapai tanah, dia langsung merasa kepalanya pening. Anggota tubuhnya lemas sekali. Kakinya limbung, hampir saja dia terjatuh kembali. Namun Tan Ki memang mempunyai sikap yang tinggi hati. Dia tidak sudi menunjukkan kelemahannya di hadapan kedua gadis tersebut. Oleh karena itu, dia menggertakkan giginya erat-erat. Dipaksakannya kakinya untuk terus melangkah. Dia merasa Bagian dadanya perih sekali. Kadang-kadang menghilang dan terkadang timbul kembali. Tanpa sadar, sepasang alisnya mengerut menahan sakit. Keringat dingin menetes dari keningnya.

Hati Kiau Hun panik sekali. Dia tidak memperdulikan tata krama lagi. Tangannya terulur dan mencekal lengan Tan Ki.

“Kau tidak boleh pergi!” katanya gugup.

Pikiran Tan Ki sedang melayang-layang. Dia seakan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Kiau Hun.

“Apa?”

Setelah berkata, Kiau Hun agak menyesal. Wajahnya merah padam. Siapa sangka Tan Ki malah tidak mendengar dengan jelas sehingga menanyakan sekali lagi. Hal ini membuatnya semakin malu. Hatinya berdebar-debar. Tanpa sadar dia melepaskan cekalan tangannya pada lengan anak muda tersebut. Kepalanya tertunduk dan tidak sepatah katapun terucap dari bibirnya.

Begitu cekalan Kiau Hun terlepas, Tan Ki langsung menerobos keluar dari kamar. Mei Ling seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia memandangi bayangan punggung Tan Ki dengan termangu-mangu. Tetapi dia tidak menghalanginya.

Kiau Hun semakin panik.

“Siocia, masa kau biarkan dia pergi begitu saja?” tanyanya bingung. Mei Ling menarik nafas panjang.
“Kalau dia memang berniat meninggalkan tempat ini, biarkanlah dia pergi.” katanya lirih.

Kiau Hun tertegun. Segulung perasaan yang pedih menyelimuti hatinya. Kelopaknya membasah. Air matanya hampir mengalir. Dia sadar dirinya tidak ingin berpisah dengan anak muda tersebut. Tetapi dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Tampaknya seluruh cinta kasih gadis itu ikut terbawa oleh kepergian Tan Ki. Begitu dia menolehkan kepalanya, dia melihat Mei Ling masih tetap termenung. Dia tidak tahu apa
yang dipikirkan oleh gadis itu. Tapi dia menduga tentunya sebuah urusan yang penting dan janggal baginya.

Suasana di dalam kamar terasa pengap. Kepedihan seakan tidak mau ketinggalan mengiringi. Kedua gadis itu tidak ada sa-tupun yang membuka mulut. Dengan mata terbelalak mereka memandang ke arah pintu.

Dia sudah pergi… dia sudah pergi… hati keduanya seakan tidak berhenti mengeluhkan kata-kata yang sama.

Tiba-tiba terdengar suara Blamm! Yang keras, disusul dengan sesosok tubuh yang terhempas masuk. Kemudian tubuh itu bergulingan dua kali dan menggelinding lagi ke bawah tangga.

Perubahan ini membuat keduanya terkejut. Dalam waktu yang bersamaan, terdengar seruan dari mulut mereka. Begitu mata memandang, rasa terperanjat semakin merayap di hati mereka. Orang yang terhempas jatuh itu tidak lain dari pada Tan Ki yang baru melangkah keluar tadi.

Tampak matanya mendelik lebar-lebar. Rahangnya digertakkan erat-erat. Mulutnya membuka, segumpal darah segar langsung muncrat keluar. Sepanjang undakan tangga terciprat semua. Sungguh suatu pemandangan yang mengerikan!

Kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata. Kedua gadis itu masih merasa terkejut. Belum lagi mereka mengerti apa yang telah terjadi, kembali sesosok bayangan berkelebat dan satu orang lagi masuk ke dalam ruangan.

Rambutnya sudah memutih semua, panjang tergerai sampai ke bahu. Tubuhnya kurus sekali. Dia mengenakan pakaian bermotif kembang-kembang berwarna hijau. Tangannya membawa sebuah tongkat berbentuk aneh, wajahnya jelek sekali. Persis seperti burung gagak yang dikatakan sebagai burung pembawa berita kematian.

Mei Ling dan Kiau Hun yang melihat munculnya nenek tersebut, terkejut setengah mati.
Keduanya langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapannya. “Suhu!” panggil mereka serentak.
Nenek tua itu mendengus satu kali. Dia tidak menyahut panggilan mereka. Tangannya malah menunjuk ke arah Tan Ki.

“Nenek kira kau mempunyai kehebatan yang tidak terkirakan. Tidak tahunya kebisaanmu hanya sedemikian saja.”

Tan Ki marah sekali mendengar ucapannya.

“Mau bunuh, silahkan! Tidak perlu banyak omong. Kalau kau terus memaksa, aku akan memaki-maki dirimu!”

Nenek tua itu tertawa dingin.

“Bagus sekali, aku Ciu Cang Po (Nenek kurus bertongkat) ingin melihat sampai di mana kerasnya tulang belulangmu!”

Tongkatnya yang aneh langsung diangkat ke atas. Terdengar suara hembusan angin yang keras dan tongkatnya segera menyapu ke arah Tan Ki. Tenaga dalamnya sangat hebat. Begitu melancarkan serangan, kecepatannya bagai kilat. Suara angin yang timbul menderu-deru.

Mei Ling dan Kiau Hun melihat gurunya turun tangan dalam keadaan marah. Tanpa sadar keduanya berseru terkejut. Mereka langsung berdiri. Tetapi gerakan tangan Ciu Cang Po demikian cepat. Seadainya mereka berniat menolongpun pasti tidak keburu lagi.

Hati mereka tercekat. Tangan keduanya langsung terangkat ke atas dan tidak berani melihat apa yang bakal terjadi. Mereka sadar serangan gurunya ini paling tidak mengandung kekuatan sebesar ribuan kati. Biarpun tulang Tan Ki lebih keras lagi juga tidak akan sanggup menahannya.

“Habislah… tamatlah riwayatnya kali ini…” kata mereka di dalam hati.

Dalam sekejap mata, suara angin yang timbul dari tongkat Ciu Cang Po memenuhi seluruh ruangan tersebut. Dia melihat anak muda itu tetap memejamkan matanya dengan tenang. Dia tidak berusaha mengelak atau menghindar. Hatinya penasaran sekali.
Pergelangan tangannya memutar, dengan panik dia menarik kembali serangannya.

Mei Ling dan Kiau Hun mengintip dari balik lengan baju. Melihat keadaan yang sudah berubah, hati mereka menjadi agak lega. Keduanya menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian sinar mata merekapun saling pandang.

Terdengar suara bentakan Ciu Cang Po yang memekakkan telinga.

“Mengapa kau tidak menghindar ataupun menyambut seranganku? Apakah kau benar- benar tidak takut mati?”

“Kematian bagiku tidak ada yang perlu ditakuti.” sahut Tan Ki tenang. “Benar?” tanya Ciu Cang Po kurang percaya.
“Kalau kau sanggup turun tangan terhadap seseorang yang tidak bisa melawan, mengapa tidak coba-coba saja? Aku orang she

Tan mengaku diri sendiri sebagai laki-laki sejati. Apabila aku mengerutkan kening sedikit saja, anggaplah aku sebagai binatang anjing yang paling menjijikkan.”

Watak Ciu Cang Po juga sangat sombong. Mendengar ucapan Tan Ki, hawa amarah dalam dadanya meluap seketika.

“Bagus! Biar nenek tua lihat sampai di mana kekerasan hatimu!” bentaknya keras.

Terdengar lagi suara angin berhembus. Dengan sekuat tenaga Ciu Cang Po menghantamkan tongkatnya. Kalau saja tongkat tersebut sampai mengenai tubuh Tan Ki, anak muda itu pasti akan mati dengan kepala gepeng.

Dalam keadaan genting… tiba-tiba tubuh Kiau Hun melesat ke depan secepat kilat.
“Suhu, tunggu dulu!” teriaknya gugup.

Ciu Cang Po marah sekali. “Minggir!” bentaknya.

Telapak tangan kirinya menghantam. Tubuh Kiau Hun terdorong. Sedangkan tongkat di tangan kananya terus meluncur mengancam kepala Tan Ki.

Jurang kematian semakin menganga lebar! Keadaan sudah sedemikian gawat! Untuk sesaat, keadaan semakin menegangkan.

Kiau Hun yang terdorong oleh telapak tangan Ciu Cang Po merasa lengannya ngilu.
Tapi dia tidak mengalami luka sedikitpun. Matanya menatap suhunya yang sedang menggerakkan tongkat untuk menghantam kepala Tan Ki. Hatinya terkesiap sekali. Dia menggertakkan rahangnya erat-erat. Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung menerjang ke depan. Gerakannya itu begitu cepat bagai sambaran kilat. Tepat pada saat itu juga, hatinya telah mengambil sebuah keputusan.

Tampak gadis itu mengulurkan telapak tangannya dan menghantam pergelangan tangan Ciu Cang Po. Serangannya ini mengandung seluruh kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya. Kehebatan maupun kecepatannya benar-benar mengagumkan.

Gerakannya yang tiba-tiba ini sama sekali di luar dugaan Ciu Cang Po. Bermimpi pun dia tidak pernah kalau muridnya berani melakukan hal tersebut. Tiba-tiba dia merasa pergelangan tangannya tergetar, tongkatnya pun melesat dari sasaran dan menghantam tepat di atas tiang kayu di samping Tan Ki.

Praak! Terdengar suara gemuruh, pecahan kayu berhamburan. Tiang penyangga loteng itu patah seketika. Beberapa orang langsung tertegun. Ciu Cang Po tidak pernah membayangkan muridnya berani menentangnya secara terang-terangan. Bahkan menghantam pergelangan tangannya. Meskipun tenaga dalamnya tinggi sekali, namun pukulan yang tidak terduga-duga itu membuat tangannya menjadi sakit.

Bahkan Tan Ki juga ikut terpana. Dia tidak menyangka bahwa seorang gadis yang tidak mengenalnya berani mengkhianati guru sendiri untuk menyelamatkan dirinya dari kematian.

Perlu diketahui, bahwa di dunia Bulim ada sebuah peraturan yang amat keras, yakni tidak boleh mengkhianati guru sendiri. Tidak perduli siapapun orangnya, hukumannya tetap kematian. Dosa ini lebih berat dari pada membangkang terhadap orangtua sendiri. Dalam keadaan panik, Kiau Hun langsung turun tangan menyelamatkan Tan Ki, namun dirinya sudah melanggar dosa yang paling berat di mana dia harus menebusnya dengan kematian.

Yang lainnya menjadi tertegun akan perubahan yang mendadak ini. Sebaliknya sikap Kiau Hun justru demikian tenang seakan tidak pernah terjadi apapun. Penampilannya yang acuh tak acuh membuat rasa amarah Ciu Cang Po semakin meluap.

Apa yang kau lakukan?” bentaknya kesal.

Tampaknya Kiau Hun agak menyesal juga. Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya dan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Begitu marahnya Ciu Cang Po sampai-
sampai rambutnya yang berwarna putih berjingkrakan ke atas. Mulutnya mengeluarkan suara tertawa dingin.

“Bagus… muridku yang baik juga berani menentang aku sekarang.” katanya.

Hati Kiau Hun terasa pedih. Air matanya langsung mengalir dengan deras membasahi pipi. Dalam keadaan terdesak, seseorang pasti akan membayangkan banyak persoalan. Terlebih-lebih masa lalunya.

Saat itu juga, berbagai ingatan melintas di benak gadis itu. Sejak kecil, dia sudah yatim piatu. Dia menjual dirinya kepada keluarga Liu sebagai seorang budak. Sejak kanak-kanak dia sudah biasa mendengar omelan dan berbagai caci maki. Dia tidak mempunyai hak untuk berbicara ataupun kebebasan sama sekali.

Setelah dewasa, Siocia menerimanya sebagai pendamping. Kehidupannya berubah lebih layak. Mei Ling sangat baik kepadanya. Gadis itu juga menganggapnya seperti saudara sendiri. Dari seorang budak yang bekerja serabutan, dia mengganti profesi menjadi sahabat karib nonanya. Sebetulnya dia sudah harus merasa cukup puas. Hatinya menuntut lebih. Dia masih terus merasa ti-dak ada sedikitpun kebebasan. Perasaan rendah diri menyelimuti hatinya.
Entah pada tahun berapa, Ciu CangPo yang berwatak aneh dan keras menerima Mei Ling sebagai murid. Dia mengatakan bahwa baik Mei Ling maupun Kiau Hun sama-
sama memiliki bakat yang tinggi untuk belajar silat.

Tetapi dia hanya menerima Mei Ling sebagai murid. Sedangkan dirinya tidak. Mengapa?
Mengapa harus pilih kasih?

Tentu saja. Dirinya hanyalah seorang pelayan yang berkedudukan rendah, sedangkan Mei Ling adalah nona besar. Kedudukan mereka sudah jauh berbeda. Apalagi Mei Ling merupakan putri tunggal Bu Ti Sin-kiam seorang pendekar yang namanya sudah terkenal di mana-mana. Semuanya itu merupakan kelebihan sang nona. Dia sendiri, tidak ada yang dapat dibanggakannya.

Setelah dia memohon terus menerus, akhirnya Ciu Cang Po bersedia juga menerimanya sebagai murid yang tidak diangkat secara resmi. Hal ini justru membuat perasaan rendah dirinya semakin mendalam. Tetapi selama ini dia memendamnya dalam hati. Dia tidak menunjukkannya di hadapan siapapun.

Saat ini, hanya karena sepatah ucapan Ciu Cang Po yang membuatnya teringat akan nasib dan riwayat hidupnya, untuk sesaat hatinya digelayuti keperihan yang tidak terkirakan. Tanpa dapat di tahan lagi air matanya mengucur dengan deras.

Perlahan-lahan Kiau Hun mendongakkan kepalanya. Di pipinya masih terlihat bekas air mata.

“Tecu belum mengenal orang ini secara mendalam. Tetapi hati Tecu tidak rela melihatnya terluka ataupun mati di tangan Suhu. Hal ini disebabkan semacam perasaan yang aneh. Tecu tidak dapat menerangkannya…”
Mendengar ucapannya, Ciu Cang Po terkejut sekali. Hatinya tergetar. Diam-diam dia berpikir: ‘Rupanya kau sudah jatuh cinta kepada orang ini, tapi dirimu sendiri masih tidak menyadarinya? Tanpa sadar, dia mengangkat tangannya dan mengelus wajahnya sendiri. Wajah yang sangat buruk dan menyebalkan…

Siapa yang sangka kalau tiga puluh tahun yang lalu, wajahnya itu tidak kalah cantiknya dengan wajah Kiau Hun maupun Mei Ling sekarang? Siapa yang nyana kalau wajahnya dulu pernah membuat puluhan laki-laki tergila-gila?

Memang benar, dahulunya dia adalah seorang gadis yang cantik jelita. Banyak sekali tokoh-tokoh Bulim yang menaruh hati kepadanya. Kemudian, dia mencurahkan seluruh cinta kasihnya kepada seorang pemuda. Tetapi pemuda itu mengkhianatinya.

Orang itu bukan saja merenggut kesucian dirinya, tetapi juga membuat wajahnya menjadi rusak seperti sekarang ini. Dari seorang wanita yang cantik jelita, dia berubah seperti seorang nenek sihir yang menyeramkan. Perasaan sakit dalam hatinya tidak teruraikan oleh kata-kata!

Setiap kali teringat akan hal ini, ingin rasanya dia membunuh habis seluruh laki-laki yang ada di dunia ini. Justru karena hal ini pula, ketika Tan Ki berjalan keluar sampai di halaman dan tanpa sengaja membentur tubuhnya, dia menjadi kalap. Yang satu berwatak keras dan tinggi hati. Yang seorang lagi menderita sakit di hati dan membenci kaum laki- laki. Karena beberapa patah ucapan yang tidak menyenangkan, mereka langsung berkelahi.

Ciu Cang Po merenungi masa lalunya. Dia seakan tidak mendengarkan kata-kata selanjutnya yang diucapkan oleh Kiau Hun. Tiba-tiba terdengar suara Mei Ling yang lembut…

“Hun moay, kau tidak boleh kurang ajar kepada Suhu. Cepatlah minta maaf kepada dia orangtua.”
Kiau Hun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya masih terus mengalir. “Tecu menolong orang ini sehingga tanpa sadar menyalahi Suhu. Biar bagaimanapun
Tecu menjelaskan, dosa ini sudah tidak terelakkan. Tecu bersedia menerima hukuman dari Suhu.”

Wajah Ciu Cang Po dingin sekali. “Sejak hari ini, kau bukan muridku lagi. Pergilah!” Ciu Cang Po mengangkat tongkat di tangannya dan mengarahkannya ke ubun-ubun Kiau Hun.

Tentu saja nenek itu bermaksud memusnahkan seluruh ilmu silat yang dimilikinya.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang memekakkan telinga. Serangkum tenaga yang dahsyat menyusul setelah suara bentakan dan terhantam ke arah Ciu Cang Po. Perubahan ini memang terjadi secara mendadak, tetapi Ciu Cang Po seakan telah menduganya.
Dengan marah dia membentak…

“Bocah busuk, kau benar-benar ingin mati?” tongkatnya segera bergeser dan disapukan ke samping.
Kekuatan tenaganya mengandung kekejian yang tidak terkirakan. Tan Ki menarik kembali jurus serangannya dan mundur beberapa langkah. Dia mengerti keadaannya sekarang sangat lemah. Tenaga dalamnya hampir musnah. Mana mungkin dia berani mengadu kekerasan dengan nenek tua itu?

Namun gerakannya tadi sudah menyelamatkan Kiau Hun dari kecacatan tubuh yang akan dialaminya apabila ilmu silatnya dimusnahkan oleh Ciu Cang Po. Keadaan semakin menegangkan.

Mei Ling melihat keadaan semakin lama semakin kacau. Ingin rasanya dia mencegah, tetapi tidak tahu harus berbuat bagaimana. Dia masih berdiri di sudut dengan mata jelalatan dan hati cemas.

Begitu pandangannya beralih, dia melihat Tan Ki dan Ciu Cang Po sudah mulai bergebrak. Dalam sesaat, suara sapuan tongkat dan hantaman telapak tangan terdengar silih berganti.

Tenaga dalam Tan Ki masih terpaut jauh dengan Ciu Cang Po. Dengan tangan kosong menghadapi tongkat nenek kurus, dia semakin terjepit keadaannya. Setelah belasan jurus, dia mulai terdesak dan kondisinya mulai membahayakan.

Waktu merayap dengan perlahan-lahan. Hawa kematian semakin terasa. Secara menyolok dapat terlihat jelas, bahwa yang akan kalah dalam pertarungan ini pasti Tan Ki. Air mata Kiau Hun mengalir semakin deras. Dia berdiri mematung tanpa bergerak sedikitpun. Pikirannya seperti melayang-layang. Kadang-kadang bibirnya tersenyum.
Kadang-kadang wajahnya kembali muram. Ada kalanya dia mengangguk seorang diri. Tampaknya dia masih belum menyadari bahwa Tan Ki dan Ciu Cang Po sudah mulai bergebrak.

(Bersambung ke Jilid 3) Jilid : 3
Dia sedang membayangkan kehidupannya di masa mendatang. Bencana?
Keberuntungan? Kesedihan yang menggerogoti seumur hidup? Atau kebahagian yang abadi? Dia tidak tahu. Dia juga tidak dapat menduganya, tetapi dia rela membayangkannya dengan khayalannya sendiri.

Hanya Mei Ling yang berdiri sambil meremas-remas jari tangannya. Matanya terpaku memandangi perkelahian di antara kedua orang tersebut. Dia khawatir gurunya akan dikalahkan, namun dia juga tidak ingin melihat pemuda itu terluka.

Tidak ada perasaan yang istimewa dalam hatinya. Dia hanya merasa siapapun yang terluka atau berdarah, tetap bukan hal yang menyenangkan.

Tiba-tiba terdengar Ciu Cang Po mengeluarkan suara tertawa dingin. Tongkatnya langsung dihantamkan ke depan. Kekuatannya, sapuannya, mengandung kekejian yang dahsyat. Dia melihat Tan Ki tidak mempunyai kesempatan untuk menghindarkan diri lagi. Dalam sekejap mata anak muda itu pasti akan terluka parah. Hatinya terkejut sekali.
Tanpa sadar Tan Ki mengeluarkan seruan terkejut… “Aduh…!”
Suara teriakannya membuat Kiau Hun tersentak dari lamunannya. Cepat-cepat dia menolehkan kepalanya memandang. Kejadiannya terlalu cepat!

Terdengar suara jeritan dari mulut Tan Ki. Lengan kirinya memutar di udara dan tiba- tiba telapak tangannya menghantam. Jurus Tian Ping Tiang Ciang (Prajurit dan Jenderal Langit) yang dikerahkan sangat aneh. Telapak tangannya meluncur dengan gerakan yang berubah-ubah. Kadang-kadang seperti menepuk, kadang-kadang seperti mencengkram.

Ciu Cang Po merasa jurus yang dilancarkannya berbeda dengan orang lain. Seumur hidup dia belum pernah melihat jurus seaneh ini. Bayangan tangannya berubah menjadi puluhan. Dia sendiri tidak mengerti Bagian tubuh sebelah mana yang diincar oleh anak muda itu. Hatinya menjadi tercekat. Cepat-cepat dia menarik kembali serangannya.

Dia tidak tahu bahwa ilmu yang digunakan oleh Tan Ki adalah salah satu jurus dari Tian Si Sam-sut. Dia hanya merasa kekuatan serangan ini kuat bukan main dan benar-benar di luar dugaannya. Kenyataan ini membuatnya kebingungan bagaimana harus mengelakkan diri ataupun menangkis.

‘Ternyata anak muda ini mempunyai beberapa macam kepandaian yang dapat diandalkan,’ pikirnya dalam hati.

Begitu pikirannya tergerak, perasaan memandang ringan lawannya tersapu bersih dalam hati. Dia memusatkan perhatian dengan sungguh-sungguh dan menyerang dengan tongkatnya kembali.

Serangannya ini lebih hebat dari yang pertama. Dia telah melipatgandakan tenaga dalamnya. Dalam sekejap mata saja Tan Ki sudah terdesak sampai mengucurkan keringat dingin. Dia hampir kehabisan tenaga untuk membalas serangan. Dalam keadaan yang genting, kembali dia melancarkan jurus Tian Si Sam-sut yang lain yakni Tian Lo-te Bang (Jerat Langit dan Bumi). Jurus ini tidak kalah aneh dengan yang sebelumnya. Lagi-lagi Ciu Cang Po menjadi kelabakan dan terpaksa menarik kembali serangannya.
Beberapa jurus berlalu lagi. Semakin lama hati Ciu Cang Po semakin cemas. “Kalau begini terus, sampai kapan aku bisa mengalahkannya? Jangan kata
membunuhnya, untuk menyentuh ujung lengan bajunya saja tidak ada peluang sama sekali.” katanya dalam hati.

Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya. Dia seperti sudah menemukan akal yang baik. Di wajahnya tersirat hawa pembunuhan yang tebal. Cepat-cepat dia himpun tenaga dalamnya dan menanti kesempatan yang baik. Ketika telapak tangan Tan Ki meluncur ke arahnya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke Bagian punggung anak muda itu. Sambil meraung terdengar raungan yang keras dan sebuah dengusan berat dalam waktu yang hampir bersamaan.

Tampak Tan Ki memuntahkan darah segar dua kali berturut-turut kemudian tubuhnya terhempas di atas tanah. Rupanya ketika Ciu Cang Po bergerak dengan cepat, hatinya sudah curiga. Dia segera memutar tubuhnya dan menghantamkan telapak tangannya.

Dengan meraung keras, Ciu Cang Po menggerakkan tangannya dan telapak tangannya menghantam dengan kekuatan penuh yang telah dihimpun sebelumnya. Tenaga dalam kedua orang itu memang terpaut terlalu jauh. Dengan cara mengadu pukulan
mengandalkan keras lawan keras, otomatis Tan Ki yang mendapat kerugian besar. Itulah sebabnya dia langsung memuntahkan darah segar sebanyak dua kali.

Baik Kiau Hun maupun Mei Ling terkejut setengah mati. Keduanya langsung menjerit kaget. Kiau Hun terlebih-lebih tidak dapat menahan perasaan hatinya. Air matanya yang sudah mengering mulai mengalir lagi.

Dikiranya Tan Ki sudah mati. Tanpa berpikir panjang lagi, dia berlari menghambur ke samping anak muda itu dan memeluknya sambil menangis meraung-raung. Suara tangisannya lebih mirip ratapan kepiluan hatinya.

Mei Ling tidak tahu bahwa cinta kasih Kiau Hun sudah tercurah pada anak muda tersebut. Senjata atau golok yang setajam apapun tidak akan bisa memutuskan benang kasih yang ada dalam hatinya. Dia malah mengira Kiau Hun merasa berhutang budi karena anak muda itu tadi telah menolongnya.

Ciu Cang Po berdiri tanpa bergeming sedi-kitpun. Wajahnya kelam dan tidak enak di lihat. Tiga puluh tahun yang lalu, dia juga pernah menangis meratap sedemikian rupa. Dia tidak menyangka kalau tiga puluh tahun kemudian, dia akan menyaksikan pemandangan yang serupa di depan matanya.

Malam semakin larut. Di luar jendela yang terlihat hanya kegelapan. Seakan sedang meratapi nasib manusia yang demikian tragis dan menyayat hati. Tanpa sadar Ciu Cang Po menarik nafas panjang.

‘Nasib yang dialami Hun Ji hampir sama dengan apa yang kualami tiga puluh tahun yang lalu. Dia sudah cukup menderita. Mana boleh aku menepuk ubun-ubunnya untuk memusnahkan ilmu silatnya. Bukankah hal ini berarti menambah penderitaan yang telah ia rasakan sekarang?’ pikirnya dalam hati.

Sembari berpikir, matanya melirik ke arah gadis itu. Kiau Hun sudah menghentikan ratapannya. Wajahnya yang cantik saat itu seperti tidak memiliki perasaan apa-apa. Dia sudah memastikan apa yang akan dilakukannya dan tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi.

Kemudian, tampak gadis itu mengulurkan tangannya dan membopong tubuh Tan Ki.
Perlahan-lahan dia berjalan keluar dari ruangan tersebut. Langkah kakinya terasa demikian berat. Lentera yang tergantung bergoyang-goyang. Seperti sedang menggelengkan kepala melihat cinta kasih kedua pemuda-pemudi itu yang demikian mengenaskan…

****