Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 02

Bagian 02

Ketika mata mereka beralih, keduanya melihat di hadapan mereka telah berdiri se- orang laki-laki yang sudah tua sekali. Rambutnya sudah putih semua. Pakaiannya penuh tambalan dan sikapnya sungguh menyebalkan. Tangan kanannya memegang sebuah paha ayam yang hanya sisa tulangnya saja. Sedangkan tangan kirinya menggenggam sebuah kendi arak. Mulutnya mengeluarkan suara tawa terkekeh-kekeh.

Melihat kehadiran orang ini, hampir seBagian besar para hadirin mengeluarkan suara seruan terkejut.

“Po Siu-cu Cian Cong (si lengan koyak Cian Cong)!”

Wajah Liu Seng juga berubah hebat. Tetapi perubahan wajahnya bukan menunjukkan ketakutan tetapi kegembiraan yang di luar dugaan. Tampang orang ini seperti pengemis, raut wajahnya seperti monyet. Benar-benar membuat sebal siapapun yang memandangnya. Tetapi sejak enam puluh tahun yang silam, namanya sudah menggetarkan dunia Kangouw. Orang ini juga disebut sebagai salah satu dari tokoh teraneh zaman itu.

Siapa sangka hari ini, enam puluh tahun kemudian, secara di luar dugaan dia bisa memunculkan diri. Bagaimana hal ini tidak membuat para hadirin terkejut dan gembira? Dengan tergesa-gesa Liu Seng maju ke depan dan menjura penuh hormat. Belum lagi dia sempat membuka mulut, Cian Cong sudah mendengus berat, matanya langsung mengerling ke arah lain.

“Pengemis tua paling benci segala peradatan, pergi sana!” katanya kesal.

Biar bagaimanapun, Liu Seng merupakan tokoh yang sudah berpengalaman. Dia mengerti tokoh aneh yang sudah lama menghilang dari dunia Kongouw ini tidak menyukai segala macam tata krama. Oleh karena itu dia hanya mengembangkan seulas senyuman
dan menepi ke samping. Namun sikapnya tetap terlihat penuh hormat kepada Cianpwe tersebut.

Begitu matanya memandang, dia melihat paha ayam di tangan orangtua ini hanya tinggal tulangnya saja, tetapi tokoh tersebut masih menggerogotinya dengan nikmat. Sampai rasanya sudah tidak ada lagi, dia baru rela memasukkannya kembali ke dalam saku pakaian. 

Sepasang matanya yang menyorotkan kilatan cahaya segera beralih kepada para ha- dirin kemudian berhenti pada diri Tian Tai Tiau-siu.

“Apakah kau yang bernama Kok Hua-hong dan bergelar Tian Tai Tiau- siu?” tanyanya dengan nada berat.

Kata-kata ini diucapkan dengan perlahan namun mengandung kewibawaan yang tidak terkirakan. Hati Kok Hua-hong langsung berdebar-debar. Perasaannya menjadi tidak tenang. Tetapi dia berusaha menenangkan hatinya yang kacau.

“Aku memang Kok Hua-hong. Entah Locianpwe ada petunjuk apa?”

Sepasang alis Cian Cong tampak berkerut. Tampaknya dia mempunyai masalah yang berat yang tidak dapat dipecahkannya. Sejenak kemudian terlihat dia menyunggingkan seulas senyuman.

“Mengherankan! Pengemis tua sudah lama sekali berkecimpung di dunia persilatan. Hal aneh apapun sudah pernah aku jumpai. Tetapi tidak ada yang lebih aneh dari kejadian malam ini!”

Mendengar ucapannya, hati Kok Hua-hong semakin kalut. Wajahnya berubah hebat seketika. Tanpa sadar kakinya mundur dua langkah. Melihat gayanya, rasanya dia sudah menghimpun tenaga dalam dan siap melancarkan serangan.

Sinar mata Cian Cong kembali beredar kepada para hadirin. Dia mengeluarkan suara tertawa yang terbahak-bahak. Kepalanya menoleh ke arah dinding pekarangan yang tinggi.

“Hei, turunlah!” teriaknya dengan suara lantang.

Baru saja ucapannya selesai, dari atas dinding pekarangan melayang turun seseorang.
Gerakannya sangat cepat. Tubuhnya mendarat di atas tanah tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Kepalanya ditutupi dengan sebuah topi pandan. Di pundaknya memanggul sebatang kail yang panjang. Siapa lagi kalau bukan Tian Tai Tiau-siu Kok Hua-hong?

Begitu mata para hadirin memandang ke arah yang sama, tanpa sadar mereka menge- luarkan suara terkejut dalam waktu yang bersamaan. Benar-benar mengherankan! Aneh sekali! Kalau saja mereka tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu mereka tidak akan percaya bahwa keanehan yang terlihat itu adalah kenyataan. Namun buktinya sudah terpampang jelas di depan mata.
Dua orang Tian Tai Tiau-siu yang persis sama. Sekarang mereka berdiri berhadapan.
Biarpun mereka membelalakkan mata selebar-lebarnya, tetap saja sulit menemukan perbedaan di antara mereka. Entah yang mana yang asli dan mana yang palsu!

Untuk sesaat terjadi kegemparan di antara para hadirin. Puluhan pasang mata menoleh ke kiri dan ke kanan. Semakin dilihat hati mereka semakin bingung. Wajah mereka pun menyorotkan sinar tertegun. Sahabat lama Tian Tai Tiau-siu sekalipun, tetap merasa heran dan tidak dapat membedakannya.

Suasana tidak mencekam seperti tadi lagi namun hati para hadirin masih menyimpan ketegangan yang dalam. Tiba-tiba terdengar suara tawa yang dingin dari mulut Cian Cong.

“Siapa kau sebenarnya?” tokoh itu membentak dengan suara marah.

Yang ditudingnya tentu saja Tian Tai Tiau-siu yang tadi bergebrak dengan Liu Seng. Tampak wajah orang itu beberapa kali berubah dalam waktu yang sekejap saja. “Aku adalah aku, memangnya siapa lagi?”

sahutnya tenang. Di dalam nada suaranya tetap terkandung keangkuhan.

Tampaknya Cian Cong tidak menduga akan diberikan jawaban yang demikian. Dia menjadi tertegun seketika. Tiba-tiba dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak- bahak.

“Meskipun si pengemis tua ini paling membenci kejahatan, tetapi lebih benci lagi terhadap orang-orang yang suka menyembunyikan diri seperti kura-kura. Saudara bukan saja menyembunyikan kepala memperlihatkan ekor, malah sikapmu itu demikian sombong. Benar-benar membuat mata tua ini tidak sanggup melihatnya lebih lama!”

Orang itu hanya mendengus sekali. Tampaknya dia sedang berpikir bagaimana men- jawab perkataan tokoh tua tersebut. Cian Cong segera membuang muka dan mencibirkan bibirnya.

“Kau tidak perlu memutar otakmu lagi. Lebih baik biarkan si pengemis tua ini yang mengatakan identitas dirimu. Iblis nomor satu Cian bin mo-ong yang namanya menggetarkan hati setiap sahabat dunia Kangouw, aku rasa tidak salah lagi pasti kau adanya!”

Tampaknya orang itu terkejut sekali. Tanpa sadar kakinya sampai mundur satu lang- kah.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Cian Cong tertawa dingin.
“Kau sudah mengaku? Si pengemis tua ini mempunyai keahlian melihat raut wajah orang. Urusan sekecil ini saja tidak mungkin dapat mengelabui mata tua ini!” dia merandek sejenak. Hatinya seperti sedang diliputi kebimbangan. “Enam puluh tahun sudah, bukan saja si pengemis tua tidak melanggar ketentuan dunia Bulim, si pengemis tua ini juga pantang membunuh. Tetapi demi Cian bin mo-ong, terpaksa aku berkecimpung lagi di dunia Kangouw dan membuka pantangan demi kesejahteraan orang banyak…!”

Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba tampak Cian bin mo-ong mengangkat lengan bajunya untuk menutupi Bagian wajah. Dengan perlahan-lahan dia membalikkan tubuh dan memutar satu kali. Ketika tubuhnya balik pada posisi semula, tangannya pun diturunkan. Para hadirin terkejut setengah mati.

Dalam sesaat, dia bukan lagi seorang tua yang berwajah welas asih. Raut wajahnya sudah berubah menjadi seorang laki-laki setengah baya yang bermata sipit. Wajahnya garang menyeramkan.

Dalam sekejap mata, dia sudah merias wajahnya dan berganti rupa menjadi orang lain.
Keahlian merias wajah dan kecepatan gerakan tangannya sungguh mengagumkan. Semuanya terjadi dalam waktu beberapa detik saja.

Tanpa sadar Cian Cong memandang dengan terpesona. Mulutnya langsung menge- luarkan suara pujian.

“Sungguh ilmu merias wajah yang hebat! Kalau bukan secara kebetulan si pengemis tua menolong Kok Hua-hong yang jalan darahnya tertotok sehingga tidak sadarkan diri. Tentu sampai sekarang si pengemis tua masih belum berhasil membongkar kedokmu itu!”

Cian bin mo-ong tertawa sumbang.

Ilmuku yang satu ini, apabila mudah dibuka kedoknya oleh orang lain, tentu aku tidak akan mendapat julukan “Iblis Seribu Wajah.”

Wajah Cian Cong agak kelam mendengar ucapannya.

“Untuk ilmu yang satu ini, si pengemis tua sudah berterus terang menyatakan kekagumaan. Tetapi entah bagaimana dengan ilmu silatmu?” tantangnya secara halus.

Sepasang alis Cian bin mo-ong langsung mengerut. Diam-diam dia berpikir di dalam hatinya…

“Ilmu silatku ini merupakan hasil curian dari kuburan para angkatan tua Ti Ciang Pang.
Selama sepuluh tahun aku telah berlatih tanpa mengenal lelah. Meskipun sejak berkecimpung di dunia Kangouw, masih belum menemukan tandingan, tetapi sampai di mana sebetulnya ketinggian ilmu silat yang kumiliki, aku sendiri tidak tahu. Mengapa aku tidak menggunakan kesempatan ini untuk menguji diriku sendiri? Orang di hadapanku ini disebut sebagai salah satu dari dua tokoh teraneh di dunia ini. Baik ilmu silat maupun tenaga dalam pasti sudah mencapai taraf yang hebat sekali. Seandainya aku bisa mengalahkan orang ini, tentu harapan untuk membalas dendam ayah akan mudah terlaksana.”
Begitu pikirannya tergerak, dia langsung mengeluarkan seulas senyuman yang mantap. “Boanpwe justru ingin mencoba meminta pelajaran dari Locianpwe. Tempat ini agak
sempit. Lebih baik kita mengadu kepandaian di luar pekarangan saja!”

Baru saja ucapannya selesai, tidak tahu bagaimana dia menggerakkan kakinya, tahu- tahu tubuhnya sudah melesat keluar dari ruangan tersebut dan melayang turun di tengah pekarangan.

Cian Cong tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya pun menyusul melayang turun di hadapan Cian bin mo-ong. Gerakan tubuhnya begitu cepat bagaikan kilat. Tidak ada seorangpun yang melihat bagaimana dia menggerakkan tubuhnya. Hanya sekelebat bayangan yang melintas di depan mata mereka.

Cian bin mo-ong tahu bahwa orang yang ada di hadapannya adalah salah satu dari dua tokoh sakti yang telah menggetarkan dunia persilatan. Sinar matanya menatap lekat-lekat. Dia sama sekali tidak berani memandang ringan lawannya ini. Secara diam-diam dia menghimpun tenaga dalamnya yang kemudian disalurkan pada kedua belah tangan.

Mata Cian Cong sendiri juga mendelik lebar-lebar. Sinarnya yang tajam tertumpu pada diri lawan. Dia malah tidak berkedip sama sekali. Sepenggal bulan dengan merayap perlahan-lahan muncul dari balik awan kelabu. Sinarnya yang redup menyoroti dua sosok tubuh yang berdiri berhadapan tanpa bergerak sedikitpun. Keduanya bagai dua patung kayu yang baru saja dibuat oleh orang-orang yang berkumpul di sana.

Tampak kerumunan orang berbondong-bondong keluar dari dalam aula. Mereka memencarkan diri di sekeliling pekarangan ini. Berpuluh pasang mata dalam waktu yang bersamaan terpusat pada diri kedua orang yang berdiri berhadapan. Mereka seakan merasa bahwa waktu berlalu dengan lama sekali dan mereka mulai penat menunggu.

Perlu diketahui bahwa si Lengan koyak Cian Cong merupakan tokoh yang sudah menggetarkan dunia Kangouw sejak enam puluh tahun yang silam. Kebesaran namanya maupun kehebatannya, tidak ada seorang ta-mu yang hadirpun dapat menandingi. Mereka malah dapat dikatakan merupakan dua angkatan lebih muda dari padanya.

Sedangkan, Cian bin mo-ong belum lama muncul di kancah dunia persilatan. Kalau dihitung-hitung mungkin belum ada setengah tahun. Tetapi tindakannya selama ini yang tidak kenal ampun terhadap orang-orang yang dianggap sebagai musuhnya, sudah diketahui oleh para hadirin.

Empat huruf Cian bin mo-ong saja sudah mewakili kericuhan yang terjadi di dunia Bulim akhir-akhir ini. Kemunculannya bagai badai dahsyat yang melanda. Gelombang ke-kacauan yang dibuatnya menimbulkan kekuatan yang mengerikan para tokoh dunia Kangouw sendiri.

Sekarang kedua orang yang tidak tersangka-sangka berdiri berhadapan sebagai musuh.
Yang satu merupakan tokoh aneh yang sudah lama menghilang dari dunia Kangouw, sedangkan yang satunya merupakan tunas baru tetapi sudah cukup menggemparkan. Saat itu mereka berdua di hadapkan dengan duel antara hidup dan mati!

Siapa yang akan menang? Siapa yang akan kalah?

Hal ini justru merupakan pertanyaan yang jawabannya sedang dinantikan oleh para hadirin. Juga merupakan masalah yang ingin segera diketahui oleh mereka semua.
Suasana semakin mencekam. Perasaan setiap orang tanpa terasa dilanda ketegangan.

Setelah terdiam beberapa saat, tampaknya Cian bin mo-ong tidak sabar. Mulutnya mengeluarkan suara bentakan keras. Dengan gaya kedua tangan menahan di depan dada dia melancarkan pukulannya.
Serangannya ini benar-benar dahsyat.

Walaupun gerakan Cian bin mo-ong sendiri tampaknya tidak terlalu gencar namun me- ngandung segulung arus tenaga yang menimbulkan angin keras. Rasanya serangannya kali ini lebih kuat satu tingkat dibandingkan dengan yang pertama ketika bergebrak dengan Liu Seng tadi.

Cian Cong tertawa dingin. Kedua belah tangannya langsung direntangkan ke depan dan menyambut datangnya serangan Cian bin mo-ong. Dua gulung tenagapun langsung saling beradu. Yang satu mengandalkan kekerasan sedangkan yang lainnya menggunakan daya yang lembut.

Cian bin mo-ong segera merasakan rangkuman tenaga dalamnya yang dahsyat seperti tertelan oleh tenaga lembut pihak lawan. Tenaganya sendiri seakan buyar seketika.
Hatinya menjadi terkesiap.

“Entah ilmu apa yang digunakan pengemis tua ini. Mengapa tenaga dalamku seperti buyar begitu menyentuh telapak tangannya dan tidak berwujud sama sekali?” tanyanya dalam hati.

Meskipun pikirannya tergerak, tetapi dia tidak berhenti begitu saja. Cepat-cepat dia melangkah mundur tiga tindak kemudian menghimpun tenaganya kembali dengan menarik nafas dalam-dalam. Setelah itu dia melancarkan lagi sekaligus tiga buah pukulan. Ilmu silat orang ini merupakan hasil curian dari kuburan para Ciang Bunjin Ti Ciang Pang.
Kehebatannya benar-benar tidak dapat dibandingkan dengan sembarang orang. Begitu serangannya dilancarkan, tenaga yang terkandung dalam setiap pukulan selalu bertambah kuat dibandingkan dengan yang sebelumnya.

Wajah Cian Cong semakin serius. Tampak tubuhnya berkelebat dan dia berhasil menghindarkan diri dari dua pukulan Cian bin mo-ong. Kemudian mulutnya mengeluarkan suara bentakan keras. Tangannya terangkat ke atas dan disambutnya serangan ketiga dari lawannya. Pukulannya kali ini mengandung tenaga dalam yang telah dilatihnya selama puluhan tahun. Dia memang sengaja mengadu dengan kekerasan. Maksudnya ingin menguji sampai di mana kekuatan Cian bin mo-ong itu sebetulnya.

Kejadiannya hanya sekejap mata. Kecepatannya membuat mata para hadirin berku- nang-kunang. Begitu serangannya yang terakhir dilancarkan, Cian bin mo-ong segera merasakan telapak tangannya seakan membentur lempengan baja. Getarannya membuat pergelangan tangannya menjadi sakit. Serangkum tenaga tidak berwujud seperti menolak dari pukulan Cian Gong. Hatinya terkejut sekali. Keringat menetes dari keningnya. Tiba- tiba dia merasa hempasan angin yang terbit dari pukulan lawannya dengan perlahan menyentuh Bagian dadanya. Langkahnya menjadi goyah seketika. Tubuhnya terhuyung- huyung tanpa dapat dikendalikan.

Begitu kedua telapak tangan saling membentur, mereka sama-sama menyadari tenaga dalam siapa sebetulnya yang lebih tinggi. Terdengar Cian Cong tertawa terbahak-bahak.

“Cian bin mo-ong yang menggetarkan dunia Bulim, toh tidak lebih dari sedemikian saja.
Coba sambut lagi tiga pukulan si pengemis tua ini!” bentaknya dengan suara keras.

Ucapannya selesai, tiga jurus langsung dilancarkan. Rupanya dari benturan tadi dia sudah dapat memaklumi sampai di mana ketinggian ilmu silat orang tersebut. Tenaga
dalam yang dilancarkan oleh Cian bin mo-ong memang dahsyat tidak terkirakan. Tetapi sebetulnya hanya merupakan tong kosong yang nyaring bunyinya. Begitu membentur tenaga yang lebih kuat, maka tenaga dalam orang itu pun melemah bagai semangka yang hampir membusuk, dapat dilihat tetapi tidak enak dimakan. Tampaknya kekuatan tenaga dalam orang ini tidak dilatih sebagaimana mestinya sehingga kekuatannya tidak dapat menambal kelembutan tenaga dalam yang dilancarkan oleh Cian Cong tadi. Dia belum mencapai tahap di mana kelembutan dan kekerasan dapat disatukan. Itulah sebabnya Cian bin mo-ong tidak dapat mengendalikan keseimbangannya begitu terhantam pukulan Cian Cong sehingga tubuhnya menjadi ter-huyung-huyung dan hampir terjatuh di atas tanah.

Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan yang riuh timbul dari kerumunan para pe- nonton. Mereka merasa kagum sekali terhadap ilmu silat yang dikuasai oleh Cian Cong. Tanpa sadar mereka mengeluarkan suara pujian dan rasanya ingin sekali meminta tokoh tua tersebut untuk sekali hantam dengan keras di mana Cian bin mo-ong akan terbunuh seketika. Tentunya hal ini akan membuat perasaan mereka gembira tidak terkirakan.

Pertarungan ini sungguh sulit ditemui untuk kedua kalinya. Mereka yang sedang ber- hadapan merupakan orang-orang yang namanya sudah menggetarkan dunia Kangouw meskipun dalam penilaian yang berbeda. Mata mereka sampai berkunang-kunang me- nyaksikannya. Sedangkan perasaan dalam hati tetap dilanda ketegangan, ketakutan bahkan kekaguman. Tingginya ilmu silat Cian bin mo-ong benar-benar di luar dugaan mereka. Apabila malam ini tidak ada tokoh tua seperti Cian Cong yang menampilkan diri, entah apa akibat yang akan mereka hadapi.

Dalam sekejap mata, lima puluhan jurus telah berlalu. Boleh dikatakan hal ini cukup mengherankan. Meskipun Cian bin mo-ong kehilangan tenaga dalam untuk menghadapi lawannya, namun setiap kali dalam keadaan terdesak dia langsung menjalankan sebuah jurus yang aneh. Hal ini membuat tokoh tua Cian Cong terpaksa menarik kembali serangannya dan kehilangan kesempatan melukai musuhnya.

Memang aneh sekali. Gerakan yang dilakukan orang itu tidak sama dengan umumnya.
Begitu melihat datangnya serangan, dia tidak mengulurkan tangan untuk menahan maupun memukul. Bahkan Bagian tubuh yang seharusnya dilindungi dibiarkan terbuka. Hanya pergelangan tangannya yang bergerak sedikit namun mengandung kekuatan yang aneh. Sehingga setiap kali Cian bin mo-ong melancarkan jurus tersebut, mau tidak mau Cian Cong berpikir untuk menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Dia tidak berani mencoba-coba meskipun kekuatan orang itu meragukan. Dengan demikian serangannya pun terpaksa ditarik kembali.

Rupanya Cian bin mo-ong memang merupakan bocah cilik yang dikisahkan pada awal cerita ini, Tan Ki. Setelah mendapat petunjuk dari orangtua yang pernah ditolongnya, dia langsung menempuh bahaya menyelinap ke goa di mana para Ciang Bunjin Ti Ciang Pang dikuburkan.

Akhirnya dia memang berhasil masuk ke dalam goa tersebut bahkan sempat mencuri belajar enam puluh empat jenis ilmu silat yang tersimpan di dalamya. Saat itu usianya masih belia sekali. Melihat sebatang seruling kuno yang ada di sana, dia langsung mengambilnya dan menyimpannya secara diam-diam, terhadap benda pusaka ataupun harta benda lainnya dia tidak tertarik sama sekali. Selama puluhan tahun, dia melatih semua ilmu itu satu per satu sampai berhasil. Hanya ada sebuah kitab pelajaran silat yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Kitab itulah yang tidak berhasil dipelajarinya.
Namun berkat kecerdasan otaknya dia dapat menghapalkan isi kitab tersebut secara luar kepala.

Ti Ciang Pang sudah berdiri selama enam puiuh empat angkatan. Ciang Bunjin yang sekarang, Lok Hong merupakan ketua angkatan keenam puluh empat. Dia masih hidup dalam keadaan segar bugar dan otomatis tidak mungkin dibawa ke goa kuburan tersebut untuk menanti kematian. Biasanya para tokoh di dunia Bulim selalu mengumpulkan semua ilmu kepandaiannya di dalam satu jilid kitab. Jarang ada orang yang menuliskannya sampai dua jilid.

Sekarang Ti Ciang Pang sudah berlangsung selama enam puluh empat generasi. Ketua yang telah meninggal seluruhnya berjumlah enam puluh tiga orang. Tetapi terang- terangan Tan Ki mendapatkan enam puluh empat jilid kitab ilmu silat. Hal ini menandakan bahwa di dalam goa kuburan itu sebenarnya telah kelebihan satu jilid kitab.

Kitab yang lebih itu, justru merupakan kitab ilmu pernafasan yang tidak dapat dipa- hami oleh Tan Ki. Bukan anak muda itu saja yang tidak mengerti akan hal ini, bahkan Lok Hong sebagai Ciang Bunjin generasi keenam puluh empat sendiri tidak mengetahuinya.

Kitab ini sebetulnya sangat tipis. Halamannya hanya berjumlah delapan belas lembar. Delapan halaman yang di depannya merupakan ilmu pernafasan dari perut. Meskipun Tan Ki mengerti membaca dan menulis. Tetapi karena tidak ada orang yang memberi petunjuk kepadanya, maka dia tidak dapat memahami secara mendalam. Apalagi sepuluh lembar belakangnya yang terdiri dari dua macam ilmu silat. Yang pertama bernama Tian Si Sam- sut (Tiga jurus bentangan langit) dan yang kedua bernama Te Sa Jit-sut (Tujuh jurus hamparan tanah).

Tampaknya kedua ilmu tersebut merupakan pelajaran silat tingkat tinggi. Meskipun karena adanya gambar-gambar yang menerangkan cara menjalankan Tian Si Sam-sut, maka dia bisa belajar sedikit-sedikit, tetapi terhadap Te Sa Jit-sut dia benar-benar buta sama sekali. Hal ini bukan berarti dia tidak mencobanya. Selama sepuluh tahun entah sudah beribu kali dia mencoba menguraikan ilmu tersebut, tetapi tampaknya dia tidak mendapatkan hasil apa-apa.

Saat ini dia terdesak oleh pukulan yang dilancarkan oleh Cian Cong sampai kalang kabut. Keadaannya sudah gawat sekali. Dia sadar apabila diteruskan, tentu dirinya akan celaka. Berbagai macam ilmu yang pernah dipelajarinya tetap tidak berhasil melumpuhkan serangan tokoh tua itu. sehingga tanpa sadar dalam keadaan terpaksa, tanpa perduli ada manfaatnya atau tidak, secara serampangan dia menjalankan Tian Si Sam-sut tersebut.

Siapa sangka ketiga jurus bentangan langit itu justru merupakan ilmu perlindungan diri tahap tertinggi. Walaupun asal tubruk, nyatanya hasilnya tepat sekali. Cian Cong merasakan berpuluh jari tangan melintas di depan matanya. Dia sama sekali tidak mendapat akal untuk memecahkan serangan tersebut. Dengan demikian dia terpaksa menarik kembali pukulan yang dilancarkannya tadi. Biarpun dia berusaha menyerang kembali, kejadiannya tetap menimbulkan hasil yang sama.

Meskipun ilmu yang dikerahkan oleh Tan Ki hanya terdiri dari tiga jurus, tetapi bolak- balik dia tetap dapat menghindarkan diri dari serangan Cian Cong. Dengan demikian ratusan jurus telah berlalu tanpa mereka sadari.
Bagi Cian Cong sendiri, semakin dilanjutkan hatinya semakin penasaran, semakin lama dia semakin terkejut. Dengan nama besar yang telah dipupuknya selama ini dia telah dijuluki salah satu dari dua tokoh tersakti di dunia Kangouw saat ini, tetapi tetap tidak sanggup mengalahkan Cian bin mo-ong. Kemungkinan besar, di dalam dunia Kangouw saat ini, kecuali beberapa tokoh yang sudah mengasingkan diri, tidak ada orang lagi yang sanggup menandinginya.

Meskipun dia tahu bahwa ilmu silat Cian bin mo-ong cukup tinggi tetapi belum terlatih secara sempurna, namun dia tidak tahu kalau orang ini masih mempunyai dua macam ilmu simpanan yang merupakan gabungan yang dahsyat. Seandainya Tan Ki berhasil mempelajari kedua macam ilmu tersebut. Kemungkinan besar di dunia Kangouw tidak ada orang lagi yang sanggup menandinginya.

Sayangnya Tan Ki sendiri tidak tahu bahwa ilmu Te Sa Jit-sut adalah sejenis ilmu yang sangat hebat. Malah terhadap Tian Si Sam-sut, dia hanya mengerti kulit luarnya saja.

Sementara itu, pikiran si pengemis sakti Cian Cong segera tergerak, hawa pembunuhan pun memenuhi hatinya. Dia langsung mengangkat lengan kanannya. Dari mulutnya terdengar suara bentakan yang keras dan sebuah pukulan pun dihantamkan ke depan.

Orang ini sudah hampir enam puluh tahun mengasingkan diri di pegunungan yang sunyi. Setiap hari dia berlatih ilmu silat dan mencoba menyingkap setiap rahasia ilmu yang ada di dunia ini. Serangannya kali ini dilancarkan dengan tenaga yang telah dilatihnya selama ini sehingga kehebatannya bisa dibayangkan.

Dalam waktu yang singkat segera terdengar jeritan mengerikan yang berkumandang memekakkan telinga. Tubuh Tan Ki langsung terpental hingga jauh dan memuntahkan darah segar sebanyak dua kali sebelum menghempas tanah.

Dia sudah kalah. Namun kekalahannya dialami dengan kegemilangan. Pengemis sakti Cian Cong sudah lama menggetarkan dunia Kangouw. Sebagai seorang anak muda yang baru berkecimpung di dunia persilatan, kekalahan yang dialami Tan Ki sama sekali tidak memalukan.

Pada wajah setiap tamu yang hadir malam itu, terlihat sinar kegembiraan. Bibir mereka menyunggingkan seulas senyum kepuasan. Tampaknya kematian Tan Ki membawa ke- tenangan dan keriangan yang luar biasa pada diri mereka.

Hanya wajah Cian Cong yang bertambah kelam. Dia berdiri di tempatnya tanpa berge- ming sama sekali. Hatinya sangat menyayangkan. Seorang tunas muda berilmu tinggi harus mengorbankan nyawa di bawah telapak tangannya. Entah berapa banyak ilmu yang harus hilang karena kematian orang ini.

Sekelompok awan kelabu tiba-tiba melintas di atas kepala para hadirin. Keadaan di pekarangan tersebut pun menjadi gelap seketika. Dalam hati para tamu menyelinap serangkum firasat yang tidak enak. Jangan-jangan Cian bin mo-ong masih belum mati, pikir mereka di dalam hati.

Mata mereka segera beralih. Entah sejak kapan, dengan susah payah Tan Ki sudah merangkak bangun. Di sudut bibirnya masih terlihat bekas darah yang mengalir. Dia sama sekali tidak bermaksud menghapusnya.
Malam yang gelap menimbulkan perasaan yang mencekam di dalam hati. Tampang Tan Ki saat itu malah menambah keseraman suasana malam itu. Tanpa sadar para hadirin melangkah mundur tiga tindak. Tubuh mereka menggigil dan bulu kuduk mereka meremang.

Biar bagaimana pun, nama Cian bin mo-ong masih juga membuat hati mereka tergetar, meskipun pada saat itu dia sedang terluka parah. Dengan sebuah telunjuk saja sia-papun dapat mendorongnya hingga terjatuh di atas tanah, tetapi kebesaran nama Cian bin mo- ong selama setengah tahun ini telah menanamkan semacam kengerian di dalam sanubari mereka. Hal ini membuat mereka tidak berani mengambil tindakan apa-apa.

Tepat pada saat itu, Ciong San Suang-siu, Yi Siu dan si gemuk pendek Cu Mei tampak melayang keluar dari kerumunan orang banyak. Sepasang alis Tan Ki langsung terjungkit ke atas.
“Apa yang akan kalian lakukan?” tanyanya dengan nada dingin dan ketus. Suaranya demikian lemah seakan tidak mengandung tenaga sama sekali, tetapi na-
danya tetap dingin dan angkuh. Mendengar kata-katanya, Yi Siu langsung tertawa lebar. “Hengte tidak tahu diri, ingin meminta pelajaran barang beberapa jurus dari saudara.” “Aku… aku sedang terluka parah…”
“Masa? Kalau begitu malah kebetulan sekali. Hengte tidak perlu mengeluarkan tenaga banyak untuk membunuhmu. Hal ini malah memudahkan pekerjaanku, lagipula sejak hari ini dunia Bulim akan tenang kembali.” selesai berkata, tangan kanan Yi Siu langsung terangkat ke atas. Tenaga dalam sudah disalurkan pada telapak tangan dan dia bermaksud melancarkan pukulannya.

Tiba-tiba sepasang mata Tan Ki membelalak lebar-lebar. Sinar matanya menyorotkan cahaya kilat yang tajam dan mendelik ke arah Yi Siu. Di dalam matanya seakan terkandung kewibawaan yang besar dan kekuatan yang aneh. Hati Yi Siu tergetar dibuatnya. Tanpa sadar kakinya mundur satu langkah.

Tampak bibir Tan Ki menyunggingkan seulas senyuman yang dingin.

“Membunuh seseorang yang tidak sanggup memberikan perlawanan, termasuk pen- dekar macam apa kau ini?”

Dalam keadaan emosi, Yi Siu sama sekali tidak memikirkan persoalan ini. Sekarang dia menjadi tertegun.

“Betul! Lohu selalu menganggap diri sendiri sebagai pendekar yang menjunjung tinggi keadilan. Sekarang Cian bin mo-ong sedang terluka parah. Biarpun dia seorang manusia yang dosanya tidak terampunkan, Lohu juga tidak boleh membunuhnya begitu saja. Hal ini tentu akan menjadi bahan tertawaan para sahabat dunia Kangouw lainnya.” katanya dalam hati.

Pikirannya masih bergerak, hatinya sudah mulai bimbang. Tepat pada saat itu ter- dengar kembali suara Tan Ki…
“Seandainya saudara takut akan pembalasan dendam di hari nanti, lebih baik menca- but rumput sampai ke akar-akarnya dari sekarang juga. Jangan sampai setiap malam saudara di datangi mimpi buruk. Angin bertiup, rumputpun akan tumbuh kembali.”

Yi Siu merenung sesaat. Akhirnya dia tersenyum.

“Kau tidak perlu menggunakan tipu muslihat untuk memanas-manasi hatiku. Dile- paskan atau tidaknya dirimu, ada Cian locianpwe yang akan menentukan. Juga ada Liu heng sebagai tuan rumah yang lebih berhak memutuskan. Hal ini bukan hengte yang dapat menentukan.” dengan perlahan-lahan dia menarik tangan Cu Mei dan mengajaknya mengundurkan diri ke tempat semula.

Mendengar ucapannya, diam-diam Liu Seng mendengus di dalam hati.

‘Bagus benar, dengan beberapa patah kata saja kau mengelakkan diri dan menjatuhkan tanggung jawab pada diriku.’ katanya membathin.
Setelah merenung sesaat, Liu Seng langsung menjura kepada Cian Cong. “Bagaimana menyelesaikan masalah ini, boanpwe serahkan saja kepada locianpwe.”
katanya.

Begitu matanya memandang, dia melihat Tan Ki sudah membalikkan tubuh dan me- ninggalkan tempat itu dengan langkah terhuyung-huyung. Kakinya seperti berat sekali sehingga jalannya pun sangat lambat.

Para tamu yang menatap kepergiannya merasa kesal tapi tidak berani mengucapkan sepatah katapun. Mereka harus memandang muka Cian Cong dan lagipula masih tergetar akan kebesaran nama Cian bin mo-ong. Nyatanya tidak ada seorangpun yang berani turun tangan menghalangi kepergiannya.

Berpuluh pasang mata menatap kepergiannya. Sesosok bayangan punggung yang tegar menjauh dengan perlahan-lahan. Diam-diam hati Cian Cong merasa kesepian yang tidak dapat dijelaskan. Dia menarik nafas dalam-dalam.

“Biarkanlah dia pergi. Orang ini sudah terhantam pukulanku. Isi perutnya sudah terluka parah. Meskipun dia dapat merawatnya sampai sembuh. Dalam jangka waktu tiga bulan, belum tentu ilmu silatnya dapat pulih seperti sedia kala. Untuk sementara ini tidak perlu khawatir dia akan berbuat sesuatu yang menggemparkan…”

Sepasang alis Liu Seng tampak berkerut.

“Bagaimana kalau sudah lewat tiga bulan?” tanyanya penasaran. Cian Cong tertawa bebas.
“Si pengemis tua sudah mempunyai pikiran tersendiri untuk mengatasi masalah ini.
Untuk sementara kalian tidak perlu banyak bertanya.” selesai berkata, dia tidak menunggu jawaban dari Liu Seng lagi, orang-tua itu langsung membalikkan tubuh dan keluar dari pekarangan tersebut.
Liu Seng dan Ciong San Suang-siu saling lirik sekilas. Bibir mereka menyunggingkan seulas senyuman pahit, tetapi langkah kaki mereka justru menuju ke dalam ruangan.

***

Di bawah cahaya rembulan yang redup, sesosok bayangan tampak bergerak perlahan.
Dia adalah Cian bin mo-ong, si anak muda Tan Ki!

Saat itu dia masih belum merubah wajahnya yang asli. Tampangnya masih jelek dan menyeramkan. Sungguh membuat hati sia-papun yang melihatnya menjadi muak. Dalam keadaan seperti itu dia sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk merubah riasan wajahnya.

Meskipun dia memiliki kepandaian yang tinggi dalam ilmu merias wajah, tetapi dia tidak bisa menutupi rasa sakit yang diderita akibat luka dalamnya yang parah. Di bawah sorotan cahaya rembulan, tampak keringat dingin menetes terus dari keningnya.

Tan Ki merupakan seorang manusia berhati baja. Dengan menggertakkan gerahamnya erat-erat, dia terus mempertahankan diri melangkah. Hatinya terus mengeluh.

“Aku tidak boleh lemah. Aku tidak boleh tumbang begitu saja. Masih banyak urusan yang harus aku selesaikan…! Kalau aku sampai terjatuh, maka selamanya aku tidak akan sanggup bangun lagi…”

Dengan membawa tekad yang membara, persis seperti sewaktu dia mendaki puncak gunung yang menuju goa kuburan Ti Ciang

Pang, dia terus melangkah tanpa memperdulikan rasa sakit yang semakin terasa. Ka- kinya limbung, tubuhnya gontai dan terhuyung-huyung. Dia sendiri tidak tahu arah mana yang ditempuhnya. Dia hanya mengikuti langkah kakinya saja…

Perlahan-lahan dia mulai merasakan sepasang matanya berkunang-kunang. Pan- dangannya menjadi tidak jelas. Benda-benda pada jarak tiga cun saja sudah tidak terlihat lagi olehnya. Apa yang tertangkap oleh bola matanya hanya bayangan-bayangan.

Dewa kematian seakan telah menggapaikan tangan memanggilnya dan mendekatinya dengan perlahan-lahan. Dia merasa tidak ada kekuatan lagi. Meskipun niatnya tetap bergejolak, namun tenaganya sudah terkuras habis. Dia benar-benar tidak sanggup lagi…

Kakinya masih diseret selangkah demi selangkah. Dia menggertakkan giginya erat-erat.
Dia masih berusaha meneruskan langkah kakinya. Dicobanya membusungkan dada, tubuhnya malah mengayun-ayun. Akhir-

nya dia terjatuh juga di atas tanah. Dia jatuh tidak sadarkan diri!

****

Entah berapa lama sudah berlalu. Perlahan-lahan dia mulai sadar. Indera pencium- annya segera mengendus serangkum keharuman yang menyegarkan. Matanya mulai membuka, lambat-lambat dia membiasakan diri. Akhirnya dia melihat dirinya berada dalam sebuah kamar yang mewah. Saat itu dia sedang terbaring di atas tempat tidur dan ditutupi
sehelai selimut yang tebal. Ruangan itu sendiri ditata dengan apik. Suasananya membuat orang tidak ingin meninggalkan kamar tersebut.

Yang anehnya, di sebelah kiri meja ukiran terdapat pula sebuah meja rias. Tentunya kamar ini milik seorang gadis. Tan Ki demikian terkejutnya melihat kenyataan ini.

‘Mengapa aku bisa berada di dalam kamar ini?’ tanyanya dalam hati.

Perlahan-lahan dia membangkitkan tubuhnya dan berusaha bangun. Namun serangkum rasa nyeri yang tidak terkatakan langsung terasa olehnya. Seluruh tulang belulang dalam tubuhnya bagai patah berserakan. Aliran darahnya terasa ngilu bagai dirayapi ribuan semut. Tanpa tertahankan lagi, dia menjerit kesakitan.

Kejadiannya hanya sekejap mata. Namun keningnya langsung dibasahi keringat dingin saking sakitnya. Nafasnya sampai tersengal-sengal. Tiba-tiba, telinganya menangkap nada suara yang merdu…

“Kau sudah sadar?”

Kata-kata ini diucapkan dengan nada lembut. Orang yang mendengarnya serasa ter- buai dan mendapat perhatian yang besar. Perlahan-lahan Tan Ki mendongakkan wajahnya. Orang yang berdiri di hadapannya ternyata seorang gadis yang cantik jelita!

Dandanannya tidak menyolok, bentuk alisnya indah, matanya bersinar lembut, begitu cantiknya sampai sulit diuraikan menjadi kata-kata. Penampilan gadis itu begitu polos sehingga membuat dirinya semakin menawan.

Hati Tan Ki menjadi terlonjak. Wajahnya menjadi merah padam. Dia menganggap dirinya sebagai seorang pendekar sejati. Tetapi dia justru begitu tidak sopan memandang seorang gadis dengan terpana. Dia merasa malu dengan sikapnya sendiri sehingga cepat- cepat memalingkan wajahnya dan tidak berani memandang lagi.

Gadis itu mencibirkan bibirnya. Terdengar suara tawanya yang halus. “Rupanya kau ini pemalu juga,” katanya.
Tan Ki merasa telinganya menjadi panas. Kepalanya ditundukkan rendah-rendah. “Di mana ini?” tanyanya lirih.
“Tentu saja rumahku. Siang tadi aku menemukan kau tergeletak pingsan di taman.
Cepat-cepat kupanggil pelayan untuk menggotongmu ke mari. Suhu pernah mengatakan bahwa menolong orang adalah perbuatan yang baik…”

Tan Ki memaksakan seulas senyuman di bibirnya.

“Terima kasih atas bantuan kouwnio, kelak pasti akan kubalas.” baru berkata sampai di situ, tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu. Tanpa sadar bibirnya mengeluarkan seruan, dia langsung mengangkat tangan dan meraba wajahnya.

Perbuatan yang tidak terduga-duga itu membuat sang gadis terkejut sekali.
“Apa yang tidak beres?” tanyanya gugup. Tampak Tan Ki menghela nafas lega. “Tidak apa-apa.”
Dia memang ahli sekali dalam ilmu merias wajah. Dia dapat merubah wajahnya hanya dalam waktu beberapa detik saja. Tetapi obat itu hanya dapat dipergunakan dalam jangka waktu dua belas kentungan. Selewatnya waktu itu, dia akan kembali pada wajah aslinya.

Sedangkan Tan Ki tidak tahu sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri. Barusan ingatan itu terlintas di benaknya, untung saja daya kerja obat itu masih belum luntur. Wajahnya saat itu masih jelek dan menyeramkan seperti sebelumnya.

Terdengar suara tawa yang merdu dari mulut gadis itu.

“Mengapa kau bisa terluka?” Sikap gadis ini sangat wajar. Suara tawanya bagai irama lonceng yang merdu. Keseluruhan dirinya sangat mempesona. Hati Tan Ki jadi berdebar- debar. Semacam perasaan yang sulit dilukiskan menyelinap di sanubarinya. Cepat-cepat dia menenangkan perasaannya.

“Cayhe terluka oleh pukulan si Lengan Koyak Cian Cong,” sahutnya lirih.

“Aduh… memangnya kau anggap siapa Cian Locianpwe itu, mengapa kau sampai berkelahi dengannya? Setahuku, dia paling membenci kejahatan dan selalu membela ke- benaran. Kalau begitu, tentunya kau ini orang jahat…”

“Di bilang terlalu baik, tidak, tetapi juga tidak terlalu jahat.” sahut Tan Ki. Mendengar kata-katanya, gadis itu langsung tertawa cekikikan.
“Cara bicaramu lucu juga,” begitu tertawa, tampaklah dua baris giginya yang putih ber- sih. Bentuknya juga indah dan di bawah sorotan cahaya lampu minyak yang terdapat di atas meja malah tampak berkilauan.

Rupanya hari sudah menjelang malam. Sinar mata Tan Ki bertemu dengan pandangan gadis itu. Perasaan yang aneh tadi kembali merayap dalam hatinya. Perasaannya menjadi bergejolak, pikirannya seperti melayang-layang sehingga dia sendiri tidak tahu pasti apa yang sedang melintas di benaknya.

Justru ketika dia sedang termenung-menung itulah, terdengar kembali suara tawa gadis itu yang merdu.

“Aku ada sedikit urusan dan ingin keluar sebentar. Apabila kau menginginkan sesuatu, kau boleh berteriak saja. Oh ya, namaku Mei Ling…” tiba-tiba dari luar terdengar suara langkah kaki yang membuat kata-katanya terputus.

Angin yang berhembus membawa serangkum keharuman yang lain. Tahu- tahu di dalam kamar itu sudah bertambah seorang gadis yang juga sangat rupawan. Sepasang alisnya lebat dan hitam. Pinggangnya kecil sekali seperti bisa putus apabila dia melenggok terlalu kencang. Penampilannya lebih lincah dan matanya berbinar-binar. Dia memakai
gaun panjang dengan motif kembang-kembang. Tampak dandanannya seperti seorang hamba pelayan.

Mei Ling tersenyum-senyum, jari telunjuknya menuding ke arah gadis tersebut namun wajahnya menatap Tan Ki.

“Dia bernama Cen Kiau-hun. Kedudukannya memang disebut pelayan, tetapi hubu-ngan kami sudah seperti saudara kandung. Sejak kecil kami dibesarkan bersama-sama.” katanya menjelaskan.

Tampaknya pelayan bernama Kiau Hun itu tidak suka melihat tampang Tan Ki yang jelek. Sepasang alisnya mengerut ke atas.

“Dia toh sudah sadar, mengapa tidak disuruh pergi saja?” gerutunya sebal.

“Aku sudah mencekokinya dengan tiga butir pil Siau Fan-tan. Meskipun orangnya su- dah sadar, tapi luka dalamnya belum sembuh sama sekali. Walaupun dia dapat berjalan, tetapi lukanya parah sekali. Di mana dia dapat mencari tempat peristirahatan yang tenang. Apalagi tidak ada orang yang merawatnya. Bukankah sama saja kau menyuruh dia menunggu kematian?” sahut Mei Ling.

Kiau Hun terlihat panik sekali mendengar kata-katanya.

“Aduh, Siocia… membiarkan dia di tempat ini bukan jalan yang baik. Nanti kalau Suhu datang…” dia seperti teringat akan sesuatu yang tidak boleh dibicarakan. Kata-katanya jaili terhenti seketika.

“Benar… mengapa aku sampai melupakan hal ini? Seumur hidupnya, Suhu paling benci orang laki-laki. Kalau sampai dia melihat orang ini, tentu urusannya bukan main-main lagi. Jadi… kita harus bagaimana?” sahu Mei Ling gugup.

Kiau Ilun merenung sejenak. Tiba-tiba matanya bersinar terang.

“Aku ada akal, tapi… terpaksa membiarkan dia menderita beberapa saat.” baru saja ucapannya selesai, dia maju dua langkah, dengan mendadak tangannya terulur dan menotok.

Gerakan tangan gadis ini sangat cepat. Tetapi kalau pada hari biasa, mungkin Tan Ki masih bisa mengelakkannya, namun ke-adannya sekarang sedang terluka parah.
Tubuhnya tidak dapat digerakkan dengan leluasa.

Tiba-tiba dia merasa dua urat darah di Bagian pinggangnya seperti kesemutan, belum lagi sempat mulutnya mengeluarkan suara keluhan, orangnya sudah jatuh tidak sadarkan diri. Kiau Hun telah menotok urat nadi bisu dan tidurnya. Dengan bekerja sama, mereka berdua menggotong tubuh Tan Ki dan menyelusupkannya ke bawah tempat tidur. Setelah itu alas tempat tidur tersebut dirapikan kembali sehingga tubuh Tan Ki tidak terlihat sama sekali.

Kiau Ilun langsung tertawa terkekeh-kekeh.
“Biar dia tidur dengan nyenyak. Lagipula dia juga tidak dapat bersuara. Meskipun pendengaran Suhu sangat tajam, juga tidak mungkin mengetahui bahwa ada orang yang disembunyikan di bawah kolong tempat tidur.”

Keduanya pun tersenyum dengan saling berpandangan.

***

Keesokan paginya, kedua gadis itu mengantarkan kepergian Suhunya sampai di depan halaman. Setelah itu mereka masuk kembali ke dalam kamar dan menyeret Tan Ki keluar dari kolong tempat tidur.

Begitu mata mereka memandang, keduanya langsung berseru terkejut. Bahkan mereka sampai melangkah mundur beberapa tindak. Sesuatu yang aneh telah terjadi!

Yang dilihat oleh mereka bukan lagi laki-laki bertampang jelek dan menyeramkan tadi malam, tetapi yang sekarang diseret keluar dari kolong tempat tidur justru seorang pemuda yang tampan sekali. Alisnya berbentuk golok, hidungnya mancung dengan bibir yang tampak indah dipandang.

Pakaiannya masih sama dengan laki-laki yang kemarin, tetapi kedua gadis itu hampir tidak dapat percaya kalau dia merupakan orang yang sama. Untuk sesaat, keduanya tidak dapat mengatakan apa-apa. Keduanya berdiri tertegun dengan mata saling pandang.
Sekian lama mereka terdiam.

Kejadian ini terlalu aneh. Mereka tidak tahu kalau Tan Ki menggunakan sejenis obat untuk merias wajah. Setelah waktunya habis, wajahnya akan kembali seperti semula. Lama… lama… sekali.

Akhirnya Mei Ling tertawa merdu.

“Orang ini benar-benar pintar membuat wajah setan untuk menakuti kita. Ayoh kita angkat dia ke atas tempat tidur dan tanyakan masalah ini sampai jelas.” katanya.

Saat itu juga, rasa sebal dan benci di dalam Kiau Hun seperti sirna entah ke mana.

Malah ada semacam perasaan aneh yang menghinggapi hatinya, seperti jantungnya berdegup dengan cepat dan perasaannya juga tersipu-sipu. Kalau anda adalah seorang gadis, tentu anda tahu bagaimana perasaan Kiau Hun saat itu. Mungkin semacam gairah yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Sejak kecil Kiau Hun dibesarkan bersama-sama Mei Ling. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, yang mereka lakukan hanya membaca syair atau memetik harpa di dalam kamar. Kadang-kadang mereka bermain di taman rumah itu, seperti berlari-larian atau menangkap kupu-kupu. Mereka jarang bertemu dengan orang asing. Paling-paling para pelayan laki-laki dalam gedung itu. Tetapi mereka semua adalah penduduk desa yang tidak mampu dan kasar. Sedangkan Kiau Hun merasa dirinya cukup cantik dan berpendidikan cukup, apalagi Mei Ling menganggapnya sebagai saudara sendiri, mana mungkin dia memandang sebelah mata terhadap para laki-laki yang bekerja di dalam gedung tersebut. Di tambah lagi Suhu mereka yang mempunyai adat aneh. Dia sangat membenci kaum laki-laki. Sedangkan
Mei Ling lebih suka menyendiri setelah menginjak remaja. Gadis itu tekun sekali berla- tih ilmu silat. Dia bahkan jarang bertemu dengan ayahnya sendiri. Hal ini membuat Kiau Hun merasa kesepian.

Taman belakang di mana Mei Ling tinggal tidak pernah diinjak orang lain. Ketika me- reka masih kecil, mereka sering main bersama-sama. Saat itu Kiau Hun masih belum merasakan apa-apa. Namun setelah menginjak usia dewasa, hatinya semakin bergejolak. Seakan ada sesuatu perasaan yang terpendam di dalam hatinya. Namun karena dia giat berlatih ilmu silat, perasaan itu masih dapat ditekannya. Gejolak dalam hatinya menjadi samar-samar saja.

Tetapi begitu melihat Tan Ki, seluruh hatinya langsung terpaut pada anak muda ter- sebut. Perasaan dalam hatinya yang terpendam selama ini seakan meledak seketika.
Sebetulnya keadaan ini tidak berbeda dengan perasaan Tan Ki ketika pertama kali melihat Mei Ling.

Hanya bedanya, kalau yang laki-laki hampir sepuluh tahun berdiam di pegunungan yang sunyi dan berlatih ilmu silat tanpa mengenal waktu karena memendam dendam bagi ayahnya. Sedangkan yang perempuan seperti dipingit sehingga merasa hatinya hampa dan kesunyian. Namun diantara kedua laki-laki dan perempuan tersebut, masing-masing mempunyai kekaguman dan niat yang berbeda.

Di antara mereka bertiga, hanya Mei Ling yang paling lugu dan polos. Dia sama sekali tidak mengetahui kalau dalam waktu semalam saja di dalam hati kedua orang telah tumbuh benih asmara yang tujuannya berbeda.

Pertama-tama melihat Tan Ki, Kiau Hun memang terkejut setengah mati. Tetapi se- telah rasa terkejutnya hilang, hatinya dipenuhi perasaan kagum dan terpesona akan ketampanan wajah anak muda tersebut.

Akhirnya kedua orang itu tersentak dari lamunan dan menggotong Tan Ki ke atas tempat tidur. Meskipun Mei Ling adalah seorang gadis yang polos serta lincah, namun dalam masalah hubungan antara laki-laki dan perempuan, dia tetap berpegang teguh pada adat yang kolot.

“Hun moay, kau bebaskan dirinya dari totokanmu.” katanya dengan tersipu-sipu.

Kiau Hun tersenyum manis. Tangannya terulur perlahan dan dia menepuk dua kali pada tubuh Tan Ki. Terdengar suara keluhan dari mulut anak muda tersebut. Lambat laun dia tersadar. Sinar matahari yang terang membuat matanya silau. Hampir saja dia tidak dapat membuka sepasang matanya.

Setelah lewat beberapa saat, dia baru mulai dapat melihat lebih jelas. Tampak dua orang gadis yang cantik jelita berdiri di hadapannya. Yang satu lembut dan tersipu-sipu. Sedangkan yang satunya lagi supel dan sikapnya agak terbuka. Pemandangan ini membuat perasaan Tan Ki seakan masih terbuai di alam mimpi. Dia berusaha menenangkan hatinya.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ” dia memberanikan diri membuka mulut. “Di mana ini?” pertanyaannya tetap sama dengan tadi malam. Tetapi adanya sinar
mentari membuatnya sadar bahwa satu hari telah berlalu.

Kiau Hun tertawa lebar.

“Lok Yang. Gedung keluarga Liu di Lok Yang.” sahutnya.

Mendengar kata-katanya, Tan Ki terkejut sekali. Badannya langsung bangkit tegak: “Lok Yang? Apa hubunganmu dengan Bu Ti Sin-kiam Liu Seng?” tanyanya cepat. “Beliau adalah ayahku.” sahut Mei Ling.
Wajah Tan Ki berubah hebat mendengar keterangannya. Untuk sesaat dia menjadi termangu-mangu bagai sebuah patung. Tampaknya dia seperti mendapat pukulan bathin yang hebat. Mulutnya terbuka lebar tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar.

‘Dia adalah putri musuhku, bagaimana aku bisa membiarkan dia merawat luka da- lamku ini?’ pikirnya dalam hati.

Begitu pikirannya tergerak, entah mendapat tenaga dari mana, tiba-tiba dia melonjak turun dari atas tempat tidur. Gerakannya yang tidak disangka-sangka itu benar-benar di luar dugaan Mei Ling maupun Kiau Hun. Keduanya terkejut setengah mati.

“Apa yang akan kau lakukan?”

Kata-kata yang mereka ucapkan sama. Namun maksud hati mereka berbeda. Kalau Mei Ling digugah oleh perasaan kependekarannya sehingga mencemaskan keadaan Tan Ki, Kiau Hun malah menganggapnya sebagai kekasih hati.

Tan Ki tertawa sumbang.

“Tidak usah perdulikan aku!” sahutnya ketus. Mei Ling menjadi panik sekali.
“Luka dalammu belum sembuh. Apabila banyak bergerak, kemungkinan akan menjadi parah kembali.” katanya gugup.

Dengan gaya kenes, Kiau Hun segera menghadang di depan Tan Ki.

“Harap Siangkong naik kembali ke atas tempat tidur. Meskipun kami kakak beradik tidak mengerti ilmu pengobatan, tetapi kami pasti akan mencarikan obat yang mujarab bagimu…”

Sikap Tan Ki sangat keras kepala. Apa yang ia yakin tidak boleh dilakukan, tidak ada seorangpun yang dapat mengubah niatnya. Melihat Kiau Hun menghadang di depannya, hawa amarah dalam hatinya meluap seketika.

“Minggir!” kakinya melangkah, dan menerjang ke depan.

Kiau Hun tahu, apabila dia turun tangan, pasti Tan Ki akan berhasil tercekal olehnya.
Namun dia takut hal ini malah akan menimbulkan kesalahpahaman dalam hati anak muda tersebut. Lagipula, apabila dia sampai kesalahan tangan, luka Tan Ki akan lebih parah lagi.
Melihat Tan Ki menerjang ke arahnya, dia malah tidak berani sembarangan turun tangan, hanya tubuhnya menggeser ke samping memberi jalan untuk anak muda itu. Dalam sekejap mata saja tubuh Tan Ki sudah melesat keluar dari kamar tersebut.

Hati Kiau Hun panik sekali. Untuk sesaat dia tidak dapat menentukan apa yang harus dilakukannya. Kelopak matanya membasah, tanpa terasa air matanya mengalir dengan deras. Mei Ling hanya memandang punggung Tan Ki dengan termangu-mangu. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mempunyai pengalaman sama sekali. Menghadapi keadaan seperti ini, dia malah bertambah bingung. Dia juga mencemaskan keadaan Tan Ki. Dia masih belum menyadari bahwa Kiau Hun sudah panik sampai mengeluarkan air mata. Tampak bayangan tubuh Tan Ki terhuyung-huyung di ujung tangga. Hampir saja dia terhempas jatuh di atas tanah.

Kedua gadis itu terkejut setengah mati, dalam waktu yang bersamaan keduanya berserabutan menerjang keluar. Rupanya ketika Tam Ki menerjang keluar dari kamar tersebut, dia hanya mengandalkan perasaannya yang dipenuh emosi. Juga karena hatinya yang angkuh serta tidak sudi menerima pertolongan dari putri musuhnya. Tetapi karena dia terhantam pukulan Cian Cong sehingga terluka parah, meskipun Mei Ling sudah berusaha menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhnya, tetapi lukanya masih belum sembuh sama sekali. Karena sikapnya yang keras kepala, dia langsung menerjang keluar dari kamar. Tiba-tiba tenaganya seperti membuyar. Kedua kakinya lemas dan tidak mau diajak berkompromi. Setelah menge-luarkan suara jeritan, tubuhnya langsung terguling di undakan tangga dan menggelinding sampai ke bawah.

Begitu terjatuh, kepalanya langsung terasa pusing tujuh keliling, matanya berkunang- kunang. Seluruh aliran darah dalam tubuhnya seakan bergejolak. Ketika Mei Ling dan Kiau Hun sedang terkejut, dia sudah terguling jatuh ke lantai bawah. Terdengar suara seperti orang muntah, tahu-tahu Tan Ki sudah menyemburkan segumpal darah segar. Biji matanya bergerak-gerak. Dia jatuh tidak sadarkan diri lagi. Lukanya yang masih belum sembuh menjadi parah kembali.

Perubahan mendadak ini, sejak semula memang sudah berada dalam dugaan kedua gadis tersebut. Tetapi mereka tidak mengira terjadinya demikian cepat. Terdengarlah suara seruan terkejut dari mulut mereka yang keluar dalam waktu bersamaan. Tanpa bersepakat terlebih dahulu, keduanya langsung menghambur ke bawah.

Ilmu ginkang Mei Ling lebih tinggi. Dia yang sampai dahulu di sisi Tan Ki. Dia mem- bungkukkan tubuhnya dengan maksud membopong anak muda tersebut. Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya. Antara laki-laki dan perempuan ada batas tertentu yang tidak boleh dilanggar. Dengan panik dia menyurutkan kembali tangannya yang sudah terulur. Pada saat yang sama, wajahnya tampak merah padam. Dengan tersipu-sipu dia menundukkan kepalanya dan tidak berani memandang ke arah Tan Ki.

Kiau Hun yang menyusul di belakang tidaklah demikian halnya. Dia langsung mem- bopong tubuh anak muda itu tanpa memperdulikan urusan lainnya. Perlahan-lahan dia membawa anak muda itu kembali lagi ke atas loteng. Dia merasa pangkal lengan, tangan dan dadanya menempel dengan tubuh anak muda itu. Ada semacam perasaan yang aneh bergejolak dalam hatinya. Darahnya seakan berdesiran. Wajahnya menjadi merah seketika. Perasaannya menjadi tidak tenang. Dia sendiri tidak mengerti apa yang dirasakannya, namun perasaan itu sulit sekali dihilangkan.

***