Dendam Asmara BAB 50. TOTOKAN PADA DUA MURID IN HOAN

 
BAB 50. TOTOKAN PADA DUA MURID IN HOAN

In Kiam dan Tiong Teng mencari di sekitar gunung. Mereka berusaha terus sampai magrib, dan belum juga mereka menemukan Tiang Keng. Tak lama rembulan mulai menampakkan diri. Mereka semakin penasaran dan berkhawatir juga bingung sekali.

"Gunung begini luas tapi kita belum menemukan dia.

Bagaimana kalau kita mencarinya secara terpencar. Kau ke sana aku ke sini. siapa yang lebih dahulu menemukan dia harus segera dibawa ke mari. Nanti sekalipun tak bertemu dengannya, jika rembulan sudah tinggi kita berkumpul lagi di sini!" kata In Kiam.

"Baik. Ayah." kata Tiong Teng. "Tapi jika berpencar, bagaimana jika Ayah bertemu dengan musuh?"

Sang ayah mengerutkan alis. "Tiong Teng. apa kau kira karena aku sudah tua jadi sudah tak berguna sama sekali?" kata sang ayah.

"Ya. baiklah. Ayah." kata sang putera.

"Sekarang kau ingat-ingat tempat ini. kau berangkat ke arah Barat, aku ke sebelah Timur!" kata In Kiam.

Tiong Teng kembali mengangguk mengiyakan. Sesudah itu ln Kiam dengan tak menoleh lagi langsung berlari ke arah Timur. Tiong Teng menghela nafas. Ia mengawasi ke sekitarnya. Tiong Teng berbeda dengan ayahnya, ia tak sabaran, dan langsung berjalan meninggalkan tempat itu.

Baru beberapa langkah ia sudah berpaling ke belakang, la sudah tak melihat ayahnya lagi. Tiong Teng sekarang hanya mendengar suara angin malam. Keadaan di sekitarnya sunyi. Tiba-tiba Tiong Teng mendengar suara tawa yang terbawa angin malam, la heran lalu lari ke arah pepohonan dan melompat naik ke sebuah pohon untuk bersembuny i di balik dedaunan, la bersikap waspada dan karena tak ingin mengandalkan kepandaiannya saja. la berharap orang yang tertawa itu pemuda yang sedang mereka cari.

Tak lama tampak dua orang sedang berjalan mendatangi.

Wajah mereka kumal. Salah seorang malah terus-menerus mendumal dan menghela nafas. Pakaian mereka berwarna kuning.

"'Mengapa harus bersusah hati terus." kata yang seorang. "Itu percuma saja! Aku yakin Un Jie Giok akan membebaskan totokan kita. Ia tidak akan ingkar janji! Sebentar lagi lebih baik kita pergi ke kelenteng itu "

"Seandainya ia membebaskan totokannya. belum tentu jiwa kita selamat." kata kawannya. "Dosa telah membunuh guru sendiri, itu dosa tak berampun. Thian tak akan mengampuni kita, Tat Jin!"

"Pendapatmu salah." kata Tat Jin sambil tertawa dingin. "Aku yakin tak salah. Coba kau ingat Tentang See Sie dan Hu Cee. Bukankah See Sie telah membunuh suaminya? Apakah ia tak berdosa besar? Tapi orang tidak menyalahkan perbuatannya, malah dia dipuji-puji oleh setiap orang. Dia dikatakan suci bersih! Mengapa bisa begitu, dan tahukah kau apa sebabnya?"

"Tetapi..." kata Cio Peng tak meneruskan kata-katanya.

Mereka berhenti lalu duduk di bawah pohon tua di atas sebuah batu yang datar.

"Aku heran mengapa kau berpikir begitu." kata Tat Jin. "Bukankah nama guru kita terkenal sangat jahat? Cukup asal kita bisa memberi alasan yang masuk akal. orang Rimba Persilatan akan menganggap kita membunuhnya demi keadilan dan perikemanusiaan. Mereka pasti akan memuji kita! Siapa yang akan menyalahkan kita"

"Tetapi " Cio Peng kembali bimbang. Ia awasi

sahabatnya. Tiba-tiba ia tenawa. "Kau benar! Ya, kau benar!"

Tat Jin tersenyum. Hati mereka lega keduanya tertawa berderai.

Di atas pohon Tiong Teng jadi heran. Matanya menyala.

Karena gusar hampir saja ia melompat turun karena sudah tak sabar. Ia yakin saat itu ia bertemu dua orang murid durhaka, mereka membunuh guru mereka. Ketika ia akan melompat ia melihat ada bayangan yang sedang mendatangi.

"Ah, apa itu Un Jie Giok yang datang" pikir Tiong Teng. Terkaan Tiong Teng benar, memang itu bayangan Un Jie

Giok. Dengan cepat ia telah sampai ke tempat kedua orang

itu. Hati Tiong Teng berdebar-debar.

Begitu sampai Un Jie Giok tertawa dingin.

"Apa kalian sudah melaksanakan perintahku itu?" kata Un Jie Giok dingin.

"Sudah!" jawab Tat Jin dan Cio Peng hampir bersamaan. "Bagus!" kata Un Jie Giok.

Dengan tak menghiraukan kedua orang itu ia melompat lari ke sebuah tikungan.

"Loo-cian-pwee!" teriak Tat Jin memanggil nyonya tua itu. Jie Giok berpaling.

"Ada apa?" tanya Jie Giok.

"Bagaimana mengenai totokan Cit-ciat-tiong-cit atas diri kami " kata Tat Jin cemas bukan main. "Ini sudah hampir

duabelas hari "

Sambil tertawa dingin Jie Giok menjawab.

"Masih ada waktu 30 jam." katanya. Bukan main kagetnya kedua orang itu. Tat Jin berkata dengan lirih.

"Sesuai perintah Loo-cian-pwee. kami telah menaruh racun pada teh untuk guru kami. Kami juga melihat sendiri, guru kami meminumnya, maka kami mohon Loo-cian-pwee "

"Kau taat pada perintahku, itu bagus!" kata Jie Giok. "Tetapi aku ingin bertanya siapa yang menyuruh kalian meracuninya?"

"Tetapi, Loo-cian-pwee yang ..” kata Cio Peng yang kaget dan gugup.

"Coba kalian pikirkan lagi." kata Un Jie Giok. "Apa yang kukatakan tadi malam? Apa yang aku katakan dan apa yang kujanjikan pada kalian?"

Dengan tubuh gemetar Cio Peng menjawab.

"Tetapi. . Tapi " Cio Peng tak bisa meneruskan kata-

katanya.

Un Jie Giok tertawa.

"Bukankah aku hanya melemparkan obat itu ke tanah?" kata Un Jie Giok. Tat Jin mengangguk.

"Tapi Loo-cian-pwee juga berkata "

"Aku bilang apa?" kata si nyonya.

"Kau bilang obat itu tanpa tanpa rasa, jika dicampur ke dalam air teh atau arak itu boleh saja. Lagi pula " Tat Jin

ragu-ragu ia tak meneruskan kata-katanya.

"Kau berbakat dibanding anak-anak yang lain." kata Jie Giok. "Ingatanmu juga kuat. Semua yang kukatakan, kau masih ingat dengan baik. Sekarang katakan, apa aku pernah menyuruh kau mencampur obat itu agar ln Hoan keracunan?"

Kedua pemuda itu saling mengawasi. Tiba-tiba keduanya berlutut di depan nyonya tua itu. "Karena kami masih muda kurang periksa, kami harap Loo-cian-pwee menyelamatkan jiwa kami " kedua pemuda itu memohon.

Un Jie Giok tertawa dingin.

"Bukankah aku tak menyuruhmu meracuni gurumu?"

"Kau benar, kau tidak langsung memerintahkan kami. Loo- cian-pwee. " kata Tat Jin sambil berlutut.

"Karena aku tak menyuruh kalian, lalu kapan aku berjanji akan membebaskan kalian dari totokan?" kata Jie Giok.

"Sekalipun tidak berjanji, akan tetapi " kata Tiat Tat Jin.

Tiba-tiba Jie Giok tertawa dingin dan lama. suaranya tajam dan tak sedap didengar.

Mendengar pembicaraan itu Tiong Teng gemetar sendiri. "Ilmu totok Cit-coat-tiong-ciu yang sudah ratusan tahun itu

sudah hilang. Sedang yang mengerti ilmu itu hama tinggal

seorang. Itu aku! Orang yang bisa membebaskannya juga hanya tinggal seorang. Tahukah kau siapa orang itu?" Kedua pemuda itu kaget, tapi setelah berpikir sejenak mereka menjawab sekenanya.

"Cuma Loo-cian-pwee..." kata Tat Jin. Jie Giok tertawa lagi.

"Bukan. Kau salah, orang itu bukan aku." kata Jie Giok.

Tat Jin kaget tanpa merasa ia bertanya. "Lalu siapa?"

Setelah tertawa dingin nyonya itu berkata dengan suara perlahan.

"Orang itu In Hoan yang kalian racun!" kata Jie Giok.

Kedua pemuda itu kaget tak terkecuali Tiong Teng yang sedang mendekam di atas pohon. Wajahnya demikian pucat.

"Loo-cian-pwee. tolong kami. kata Tat Jin meratap.

"Hai apa kau kira aku sedang membohongi kalian?" kata Jie Giok dengan suara dingin.

"Mana berani kami menuduh demikian." kata Tat Jin. "Dulu saat kudapatkan kitab ilmu totok, itu terdiri dari dua

jilid." kata Jie Giok. "Kitab yang satu tentang teori dan cara menggunakan ilmu totok itu. sedang yang lain mengenai memecahkan rahasia ilmu itu dan cara membuat obat pemunahnya. Ketika itu aku.. Ia menengadah ke langit, sinar matanya tajam. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya.

"Tatkala itu. aku yakin sekali gurumu itu orang baik. maka aku tak curiga. Tak dikira..." Sejenak ia berhenti bicara, wajahnya berubah dingin. "Siapa tahu mukanya saja muka manusia, tapi hatinya hati binatang! Saat aku sedang semedi selama 61 hari untuk belajar ilmu totokan itu. dia mencuri barang-barang berharga milikku dan kitab yang sejilid lagi "

Baru sekarang Tiong Teng tahu. bagaimana hubungan Un Jie Giok dengan ln Hoan. Dengan hati berdebar-debar tanpa merasa ia mandi keringat dingin. Ia sadar, jika ia kepergok. Terutama ia malu mencuri dengar pembicaraan orang....

Malam merayap semakin gelap dan larut, keadaan di sekitarnya gelap dan wajah Jie Giok pun tak jelas namun suaranya jelas sekali. In Tiong Teng mengira, pikiran Jie Giok sedang terganggu oleh rasa cinta dan benci kepada I n Hoan.

Cio Peng dan Tat Jin masih berlutut di depan Un Jie Giok. Mereka hanya bisa saling mengawasi dengan perasaan cemas bukan main

Terdengar Jie Giok tenawa dingin, mirip suara burung hantu yang menyeramkan.

"In Hoan! In Hoan! Aku kira aku sudah cukup baik kepadamu! Kiranya di jalan yang gelap kau tak kesepian, karena tak lama lagi kedua muridmu yang sangat kau cintai akan segera menyusul *"

Sesudah itu ia kibaskan ujung bajunya, lalu berjalan ke balik gunung.

Cio Peng melompat ia hendak menyerang perempuan iblis itu. tapi Tat Jin menarik sang kawan. "Kau mau apa?" tanya Tat Jin. "Apa kau sanggup mengalahkan hantu perempuan itu?"

Mata Cio Peng melotot dan berputar-putar. "Sekalipun aku bukan lawannya, aku ingin mengadu jiwa dengannya!" kata Cio Peng.

"Buat apa "

Tat Jin mendadak tertawa.

"Apa kita sudah tak punya harapan hidup lagi?" kata Tat Jin.

Cio Peng melengak.

"Tak mustahil Tak mustahil " kata Cio Peng. Tat Jin menyeka debu di lututnya, wajahnya cerah sekali. "Coba kau renungkan baik-baik." kata Tat Jin. "Bukan saja

kita masih punya harapan hidup, bahkan kita bakal mendapat

kebaikan "

Cio Peng melengak.

Sedang Tiong Teng yang ada di atas pohon keheranan karena tak bisa menerka jalan pikiran kedua pemuda itu.

Tiat Tat Jin mengeluarkan jari tangannya, jempol dan jari tengah, ia mengadukan kedua jari itu hingga mengeluarkan suara cetrek dari tangannya itu.

"Jika kitab itu berisi cara membebaskan totokan. maka cukup jika kita pulang untuk mencari kitab itu!" kata Tat Jin. "Maka kita akan tertolong!"

Mendengar hal itu Cio Peng kelihatan girang sekali.

"Kau benar, kau pandai dan cerdik, aku tak bisa melawan kecerdasanmu!" kata Cio Peng. "Tetapi di mana kitab itu disimpan oleh Suhu?"

Tiat Tat Jin diam. ia kelihatan kurang puas oleh ucapan adik seperguruannya itu.

Cio Peng heran melihat kakak seperguruannya itu. tapi ia segera mengerti.

"Suheng, maafkan aku." kata Cio Peng.

Tiong Teng di atas pohon merasa kurang senang pada kedua orang yang ia kira jahat itu

0oo0