Dendam Asmara BAB 46. RAHASIA PEMBUNUHAN DI KOTA LIM-AN TERBONGKAR

 
BAB 46. RAHASIA PEMBUNUHAN DI KOTA LIM-AN TERBONGKAR

Mendengar kata-kata Kiauw Cian, Tiang Keng tersenyum.

Ia heran dan tak mengira sama sekali ada orang seperti Kiauw Cian. "Tak kusangka dia begitu sayang pada jiwanya, dan tak menghiraukan nama baik maupun derajat, kepercayaan dan kemerdekaannya. Bukankah setiap orang tak akan lolos dari kema-tian? Sungguh luar biasa jika setiap orang gagah saat mati meninggalkan nama harum " pikir Tiang Keng.

Entah mengapa Tiang Keng jadi tak mau melihat muka Kiauw Cian.

"Hm! Enak saja kau bicara." kata Un Kin. "Kau berani tawar-menawar denganku, sesuai kesalahanmu masih bagus jika kau diberi ampun, sepantasnya kau dibinasakan!"

Di antara orang berpakaian hitam itu ada seorang yang melangkah maju. Melihat hal itu Un Kin mengerutkan alis.

"Kau siapa? Mau apa kau?" kata Un Kin.

Sesudah maju beberapa langkah lagi ia memberi hormat pada Un Kin.

"Namaku Tong Gie. aku murid tingkat tiga dari keluarga Tong dari tanah Siok. " kata orang itu.

Un Kin sedikit kaget, ia sadar dan berpikir. "Pantas mereka lihay-lihay sekali, kiranya mereka murid keluarga Tong yang terkenal dari tanah Siok."

Tong Gie kembali memberi hormat. "Jika Nona ingin menanyakan sesuatu, tanyakan saja padaku, aku akan menjawabnya dengan jujur." kata Tong Gie. "Tetapi kumohon Nona mengizinkan aku membawa pulang orang she Kiauw ini ke tanah Siok. "

Tiang Keng ikut bicara. "Silakan kau bicara!"

Kembali orang she Tong itu memberi hormat. "Sebenarnya Kiauw Cian tak punya hubungan erat dengan keluarga Tong. Beberapa bulan yang lalu. tiba-tiba ia datang ke rumah kami. Ia membawa sehelai kertas yang ia katakan gambar rahasia. Dia bilang gambar itu ia peroleh dari Ang-ie Nio-nio. Itu gambar cara membuat jarum rahasia Bu-eng-sin-ciam. Ketika itu ketua kami tak ada di tempat, dia disambut oleh Su-siok- couw kami yang ketiga.....

"Bukankah Su-siok-couw itu yang bergelar Sam-ciu Twie- hun Tong To?" kata Un Kin.

Tong Gie mengiyakan sambil mengangguk. "Su-siok-couw jarang mengembara, tak heran jika ia bisa dikelabuhi oleh orang ini." kata Tong Gie melanjutkan. "Gambar itu lalu dikirim ke bengkel senjata kami di Cit-leng-ciang. Senjata itu akan dibuat dalam waktu 50 hari. sedang jumlahnya 3000 batang. Murid-murid tingkat tiga bekerja keras membuat senjata itu siang dan malam. Baru 45 hari. kami berhasil menyelesaikan seluruh pesanan itu "

"Apa mungkin semua senjata itu buatan kalian?" sela Tiang Keng.

Ditanya demikian Tong Gie berpikir. "Tampaknya ia lihay sekali, tapi pengetahuan dan pengalamanya cetek sekali.

Tentu saja senjata itu buatan keluarga Tong. bahkan kaum Rimba Persilatan (Bu-lim) mengetahuinya dengan baik.

Mengapa dia malah bertanya begitu?"

Tapi Tong Gie tetap berdiri sambil menjawab pertanyaan itu "Benar, sudah ratusan tahun bengkel Cit-leng-cian adalah bengkel yang membuat senjata rahasia keluarga kami. Dan kali ini yang pertama kami membuatkan senjata rahasia pesanan orang lain. Setelah selesai pesanan akan kami serahkan ke Thian-bak-san. Kemudian Kiauw Cian bicara dengan manis pada ketua kami.Namun "

Sebelum kata-katanya selesai Tiang Keng memotong bicaranya.

"Siapa ketuamu itu?" kata Tiang Keng.

Tong Gie melengak. kali ini kelihatan ia kurang senang.

Siok Tiong Tong Bun atau Keluarga Tong dari tanah Siok. Su- coan ini terkenal di seluruh Tiongkok. Mereka itu dikenal sebagai Tong Bun Sam Kiat atau Tiga Jago She Tong. Tong Gie merasa aneh kalau

Tiang Keng tak pernah mendengar nama mereka itu. hingga Tong Gie mengira Tiang Keng hendak menghina keluarganya itu. la melirik ke arah Tiang Keng dan memberi hormat seperti biasa, tak kelihatan kalau ia tak puas.

"Ketua kami disebut. " Sebelum Tong Gie selesai bicara, ia telah dipotong oleh Un Kin.

"Dia adalah Tek-seng Sia-goat Bu-tek-sin Tong Hui!" kata Un Kin.

Tong Gie tersenyum ia memberi hormat kepada Un Kin. "Setelah ketua kami mendengar ocehan orang she Kiauw.

ketua kami mengurung diri selama tiga hari di kamarnya. Sesudah itu ia titahkan kami murid dari tingkat tiga sebanyak 70 murid dan aku bersama tujuh paman kami pergi ke Thian- bak-san. Tujuan kami ingin mendapatkan pedang dan obat seperti yang dikatakan orang she Kiauw itu.. " kata Tong Gie.

Un Kin tersenyum. "Kekayaan Siok Tiong Tong Bun mirip dengan negara, aku yakin mereka tak butuh harta-benda." kata Un Kin.

Tiang Keng heran, la kira Un Kin sangat menghargai Keluarga Tong dari Su-coan ini. Nama besar keluarga ini sudah terkenal tak kalah dari kaum Siauw -lim-pay maupun Bu-tong-pay. Sekali pun memang benar banyak murid dari keluarga ini yang menyeleweng dan jahat, namun keluarga ini tetap terhormat dan dihargai oleh kaum Rimba Persilatan.

Un Kin kemudian berkata lagi. "Nama Tong Tay-hiap terkenal hingga disebut si Muka Besi. Sungguh heran mengapa ia mau mendengar kata-kata orang she Kiauw ini. Apa itu tidak aneh?" kata Un Kin.

Wajah Tong Gie berubah merah. "Mengenai sikap ketua kami. aku sendiri tak tahu." kata Tong Gie. "Setahuku memang ada maksud lain dari ketua kami, konon sepulang dari Thian-san ketua kami bermusuhan entah dengan siapa, sehingga ia membutuhkan pedang istimewa dan obat mujarab itu..."

Tong Gie diam sebentar lalu melanjutkan. "Tapi kumohon pada Nona agar rahasia ini jangan sampai tersiar keluaran, sebab jika orang tahu aku yang menceritakan rahasia ini. maka bagianku adalah mati! Aku girang jika Nona bersedia merahasiakannya "

kata Tong Gie.

Un Kin tertawa. "Jadi maksudmu ingin membawa orang she Kiauw untuk kau serahkan pada ketuamu? Atau ada maksud lain?"

Tong Gie menahan geram.

"Setiba kami di sini. " kata dia dengan sengit. "Dari mulutnya yang manis, dia minta agar kami membujuk tujuh orang paman kami serta meminta bantuan bibi-bibi kami di kota Lim-an untuk mengirimkan undangan ke Ang Kin Hwee dan Koay Too Hwee. Lalu kami diminta membuat mereka bingung dan ketakutan, dan malamnya dua perkumpulan itu ditumpas habis. Dia minta kami bersembunyi di rumah-rumah tepi jalan dan menyerang mereka dengan jarum beracun milik kami!"

Mendengar kata-kata itu Tiang Keng kaget. "Jadi inipun perbuatan dia." kata Tiang Keng. Un Kin tersenyum sejenak, lalu menghela nafas.

"Tak dikira masalah begitu berbelit-belit. " kata Tiang Keng. "Semula aku kira Hai kau mau lari ke mana?" Begitu Tiang Keng berteriak ia melompat mengejar Kiauw Cian. Orang ini sejak tadi diam saja. tiba-tiba ia bergulingan lalu melompat bangun dan kabur.

Un Kin pun ikut melompat, saat kakinya menginjak tanah kembali ia melompat, kali ini tangannya terayun dan tiga batang senjata rahasia menyambar, kemudian disusul jeritan mengerikan dari Kiauw Cian. Dia roboh ke tanah lalu bergulingan dan diam tak berkutik.

Tiang Keng pun segera sampai di tempat itu."Dia sudah mampus!" kata Tiang Keng.

Un Kin tersenyum.

"Dia mati dengan cara begini sungguh terlalu enak baginya." kata Un Kin.

Un Kin menyambar tangan Kiauw Cian yang ia seret dan ia lemparkan ke hadapan Tong Gie.

Tong Gie menghampirinya, ia lihat tubuh Kiauw Cian tidak bergerak seolah mati. Ketika diperiksa ia terserang jalan darah cie-tong. di tempat itu menancap jarum Bu-eng-sin-ciam ha- nya tak dalam. Jelas akibatnya tak sampai merampas jiwa orang itu. Tong Gie melirik ke arah Un Kin. Sebagai seorang ahli senjata rahasia ia kagum pada Un Kin yang mahir melepas senjata rahasia itu. Setelah diam sejenak Tong Gie berkata terus terang.

"Saat kami menyerang anggota perkumpulan Ang Kin Hwee dan Koay Too Hwee. kami heran mengapa jarum-jarum kami bisa luput dari sasaran. Sekarang kami menyaksikan Nona demikian pandai menggunakan senjata rahasia itu. Kalau begitu orang yang menggagalkan serangan kami hingga Ang Kin Hwee maupun orang Koay To Hwee banyak yang selamat ialah Nona sendiri!" kata Tong Gie.

"Ketika itu aku juga heran, aku mengira itu senjata rahasia Bwee-hoa-ciam atau Tiat-kie-lee yang lihay. dan perbuatan Ban Biauw Cin-kun In Hoan atau Hoa-long Pit Ngo. Karena itu aku berniat menyelidiknya " kata Un Kin sambil melirik ke

arah Tiang Keng. Kemudian dia melanjutkan. "Tapi ketika itu aku dikejar olehmu, hingga aku gagal melakukan penyelidikan. Sama-sekali tak kuduga ternyata serangan itu dilakukan oleh pihak Keluarga Tong dan tak mengira mereka menggunakan Bu-eng-sin-ciam "

Tiang Keng terperanjat ia baru sadar. "Pantas Un Kin pernah bilang, kalau ia melepas senjata rahasianya untuk menolong orang." pikir Tiang Keng. "Ternyata dia tak bersalah. Hampir aku salah duga. ah dunia Kang-ouw memang sungguh berbahaya!"

Ia melirik ke arah Un Kin sambil tersenyum dengan wajah merasa bersalah dan minta maaf dari si nona. Un Kin tertawa sambil menunduk, kelihatan ia sangat puas.

"Tak kusangka orang she Kiauw ini jahat sekali!" kata Tiang Keng. "Bukankah dia tak bermusuhan dengan orang Ang Kin Hwee dan Koay Too Hwee. mengapa ia tega turun tangan demikian jahat0!"

"Pasti jahanam ini punya maksud maka ia berbuat demikian." kata Tong Gie. "Pertama ia ingin mengacau orang- orang Dunia Persilatan, setelah kacau dia akan menggunakan kesempatan itu untuk memungut hasilnya. Kedua ia ingin menimpakan bencana kepada Ang-ie Nio-nio. supaya kaum Rimba Persilatan mengira kejahatan itu perbuatan Ang-ie Nio- nio. Ketiga, ia memang bermusuhan dengan Koay -to Teng Cit dan tiga jago Ang Kin Hwee. Dengan cara itu sekaligus ia ingin melampiaskan dendamnya. Keempat ia dengan senga-ja melibatkan kami. agar bermusuhan dengan kaum Rimba Persilatan (Kaum Bu-lim Eng-hiong). Jika dia buka rahasia, bukan tak mung-kin golongan Ang Kin Hwee dan Koay Too Hwee akan datang ke Su-coan untuk mencari kami dan membalas dendam. Kelima, ia ingin agar pihak-pihak lain lemah sedang pihaknya jadi kuat! Keenam, aku dengar ia berniat membangun partai baru. maka jika ia berhasil memusnahkan partai-partai lain. maka ia akan bisa berdiri kokoh. Nona. dia jahat luar biasa! Dia tak perlu diberi ampun. Aku sudah mengetahui rahasianya, kami sangat benci padanya, tetapi aneh paman-paman kami percaya kepadanya. Aku benci tapi bukan aku saja. saudaraku yang lain juga.

Maka itu aku ingin membawa dia ke Su-coan agar kami bisa menyerahkan dia pada ketua kami. Sekarang setelah Nona tangkap, dia akan buka rahasia. Tapi kami tahu pasti dia akan membusukkan nama kami agar Nona memusuhi kami. Maka itu kubeberkan rahasianya itu pada Nona. Dia jahat dan pantas menerima hukuman!"

Tong Gie melengak dan menghela nafas. "Aku menyesal telah membuka rahasia.'" kata Tong Gie. "'Aku buka rahasia karena ingin melindungi keluarga kami. Tetapi…”Ia tak meneruskan kata-katanya.

Tiang Keng mengerutkan alis.

"Di mana ketujuh paman gurumu itu. mengapa mereka tak ada di sini?" kata Tiang Keng.

"Jelas ini termasuk perbuatan licik si jahanam ini." kata Tong Gie. "Pada malam itu dia ajak kami ke mari. disuruhnya kami bersembunyi di dalam peti mati. Tetapi paman-paman guru kami ia ajak menemui tamu-tamu lain. Konon katanya agar besok mereka bisa menghadiri pertemuan di Thian-bak- san. Pada saat pertemuan besar itu berakhir, pasti semua orang akan lewat di jalan ini. Kami disuruh menyerang mereka secara serentak. Ketujuh paman guru kami itu diminta membantu si jahanam agar bisa bekerja-sama.”

Tiang Keng kaget dan berkeringat dingin. "Jika mereka berhasil membokong pada waktu malam, akibatnya sungguh hebat sekali!" pikir Tiang Keng. "'Oh, jahatnya orang ini. Dia ingin membasmi semua jago silat di kalangan Kang-ouw dengan sekali gebrak saja. Syukurlah rencananya gagal dan tak kukira kedatanganku ke mari kebetulan sekali hingga kami bisa menumpas kejahatannya!"

Saat itu Tiang Keng melirik ke arah Un Kin. diam-diam sekarang timbul rasa

saling mengerti di antara mereka..

0oo0