Dendam Asmara BAB 45. UN KIN DAN TIANG KENG

 
BAB 45. UN KIN DAN TIANG KENG

Un Kin melengak sejenak, tiba-tiba ia arahkan sepasang tangannya ke arah dua peti mati yang sedang bergerak maju. Tangan Un Kin menyambar dua sinar putih ke arah kedua peti, tak lama dua senjata rahasia itu telah tembus ke dalam peti dan disusul oleh suara jeritan mengerikan. Dari dalam peti mengalir darah segar dan menetes ke jalan raya.

Tiang Keng melompat ke sisi Un Kin. mata mereka saling mengawasi. Tiba-tiba dari ujung jalan gunung terdengar suara gembreng tiga kali. suaranya nyaring sekali. Kemudian sisa dari 110 peti mati yang berjejer di tepi jalan, semua tutupnya terbuka.

Melihat kejadian itu hati Tiang Keng terkejut, bersamaan dengan itu berkelebat ratusan cahaya berkilauan halus. Sinar itu menyambar ke arah Tiang Keng dan Un Kin berdua. Dalam kagetnya Tiang Keng sempat menyambar tangan Un Kin. lalu menarik mengajak melompat tinggi. Dengan demikian benda yang berkilauan itu lewat di kaki mereka.

Un Kin kaget hingga ia berseru keras. "Bu Eng Sin Ciam!" kata si nona.

Benda-benda itu adalah senjata rahasia Jarum Tanpa Bayangan yang lihay luar biasa Un Kin agak jerih, sebab sulit menghadapi senjata rahasia yang lihay itu.

Tiang Keng pun tak kurang kagetnya. Syukur ia ingat sesuatu, mendadak dada Un Kin ditolaknya. Un Kin kaget, tapi masih sempat mendorong, dan menangkis serangan Tiang Keng. Akibatnya kedua tubuh mereka terpental mundur tiga tombak jauhnya dari tempat semula dan turun di tepi jalan raya tak kurang suatu apa. Dengan demikian serangan jarum yang kedua pun tak berhasil mengenai mereka.

Tiang Keng yang kaget merasakan telapak tangannya dingin, la merasa ngeri dengan ancaman bahaya itu. Tapi ia pun bersyukur dan tak tinggal diam. Tiang Keng bergerak cepat luar biasa, melompat ke arah suara gembreng. Ia lihat di sebuah peti mati yang tutupnya sudah terbuka, ada orang berpakaian serba hitam. Tangannya memegang sebuah gembreng. Tangan yang lain memegang pemukul gemreng. Saat ia akan memukul lagi gembreng itu. ia lihat Tiang Keng sampai ke tempatnya. Dia kaget dan ketakutan himgga gembreng terlepas dari tangannya. Tiba-tiba ia melompat keluar dari peti mati itu. lalu kabur ke kaki gunung.

"Kau mau lari ke mana?" teriak Tiang Keng. Tiang Keng mengejar orang itu dengan cepat. Un Kin pun ikut mengejar. Orang berpakaian serba hitam itu gesit luar biasa, ia berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh yang lihay sekali. Dia gunakan tipu Pat-pou-kan-siam. Melihat demikian. Tiang Keng berseru pada Un Kin.

"Jangan biarkan dia lolos!"

Kedua muda-mudi ini mengejar dengan kencang, mereka mengeluarkan seluruh kemampuan mereka hingga berhasil menyusul orang berpakaian serba hitam. Makin lama jarak mereka semakin dekat....

Orang itu merasa kalau ia tak akan lolos dari kejaran dua muda-mudi itu. berlari sambol menoleh ke belakang dan berteriak.

"Awas piauw!" kata dia.

Tiang Keng dan Un Kin kaget. Mereka memperlambat pengejarannya. Un Kin cerdas dan matanya awas. begitu orang itu berpaling ia langsung ber-teriak. "Kiauw Cian!"

Pada saat yang bersamaan sebuah benda berkilauan menyambar ke arah mereka berdua.

Tiang Keng gesit, benda itu dia sampok dan berhasil menjatuhkan sebatang piauw atau senjata rahasia lawan, dan benda itu jatuh ke dalam rumpun.

"Apa benar dia Kiauw Cian?" tanya Tiang Keng pada Un Kin.

"Benar." jawab si nona. "Ayo kejar dia!" Keduanya langsung mengejar lagi.

Setelah serangannya gagal orang berpakaian serba hitam itu yang dikenali Un Kin sebagai Kiauw Cian lari kembali. Di depan mereka ada hutan lebat, ke sanalah Kiauw Cian kabur. Melihat ada hutan lebat Tiang Keng penasaran. Karena jika Kiauw Cian berhasil mencapai rimba itu. berarti ia lolos dari kejaran mereka. Dengan cepat Tiang Keng menjejak tanah dan melompat dengan cepat. Saat Tiang Keng melompat kedua tangannya dipentang. mirip sayap burung yang akan terbang. Tiang Keng pun berakrobat, kepala di bawah dan kakinya berada di atas. Begitu cepat lompatan Tiang Keng ini hingga ia berhasil mengejar lawan dan langsung menyerang dengan tangannya.

Kiauw Cian kaget dan ketakutan, la buru-buru menjatuhkan diri dan bergulingan di tanah. Dia berguling masuk ke dalam hutan. Karena berhasil masuk hutan hati Kiauw Cian agak lega sedikit. Ia yakin di dalam hutan ia bakal selamat.

Betapa kagetnya Kiauw Cian saat ia mendengar bentakan keras dari Tiang Keng.

"Mau lari ke mana. Kau?" kata Tiang Keng.

Saat ia mengawasi ke depan, ia jadi lemas karena Tiang Keng ada di depannya. Dia kaget setengah mati. buru-buru ia bergulingan seperti tadi untuk menghindari lawannya itu.

Ilmu bergulingan yang digunakan oleh Kiauw Cian bernama Ciu-tee-sip-pat-kun (Bergulingan delapan belas kali). Ilmu ini adalah ilmu silat yang sangat biasa digunakan oleh kaum Kang Ouw golongan rendah yaitu untuk menyelamatkan diri dengan tak menghiraukan martabat atau wibawanya. Tubuh Kiauw Cian kurus, ia bisa bergerak dengan cepat. Tapi lagi-lagi ia mendengar bentakan Tiang Keng.

"Kau mau lari ke mana?" kata suara itu. Suara itu terdengar di samping Kiauw Cian. Itu adalah suara halus dari seorang perempuan. Tentu saja Kiauw Cian bertambah kaget dan ketakutan, la sadar itu suara Un Kin. murid Ang-ie Nio-nio Un Jie Giok.

Walau ketakutan tetapi ia tak mau menyerah. Ia sudah tahu apa jadinya jika tertangkap. Setelah dihadang dari berbagai arah. ia panik akhirnya jadi nekat. Tiba-tiba tangannya terayun, dari tangan itu tersebar belasan sinar hitam mengkilat.

Un Kin yang diserang tertawa dingin. "Ini yang namanya temberang di depan kawan sendiri!" kata si nona sambil tersenyum.

Un Kin mengibaskan lengan bajunya dan ia berhasil merontokkan senjata rahasia lawan. Kiauw Cian melompat ke samping. Lagi-lagi ia akan masuk ke dalam hutan lebih dalam lagi. Tapi....

Kiauw Cian mendengar bentakan dari belakang dan tak lama ia rasakan pinggangnya ngilu dan lemas. Dengan tak berdaya ia jatuh duduk di tanah. Tiang Keng menggapai ke arah Un Kin.

"Kau jaga jahanam ini. aku akan memeriksa ke sana" kata Tiang Keng.

Tiang Keng berlari kencang ke arah barisan peti mati yang ada di tepi jalan. Tepat Tiang Keng tiba. dari peti mati itu bermunculan orang-orang berpakaian serba hitam.

"Berhenti!" teriak Tiang Keng ke arah orang berpakaian serba hitam itu.

Tiang Keng melompat dengan tipu silat Cian-liong-seng- thian (Naga Melompat ke langit), la melompat sebanyak tiga kali secara beruntun.

Orang berpakaian serba hitam itu kaget, mereka berdiri diam. Mereka lihat Tiang Keng melompat bagaikan terbang di depan mereka. Saat Tiang Keng mengayunkan tangannya ke arah peti mati itu. peti itu hancur berantakan.

"Siapa yang berani lari? Dua peti mati itu contohnya!" kata Tiang Keng mengancam.

Orang-orang itu kaget ketakutan. "Kalian semua berkumpul jadi satu!" perintah Tiang Keng.

Setelah saling mengawasi sejenak mereka menurut dan berkumpul mengikuti perintah Tiang Keng. Tubuh mereka hampir semua gemetar ketakutan. Tiang Keng tersenyum sambil mengawasi mereka. Tak lama Un Kin datang bersama tawanannya. Kiauw Cian. Tubuh tawanan itu ia lempar di depan orang-orang berpakaian serba hitam itu.

"Tiang Keng." kata si nona. "Jahanam mi memang Kiauw Cian. Aku tahu dia jahat, tapi tak kusangka dia akan sejahat ini! Jelas ia ingin membasmi semua orang gagah yang datang ke tempat ini. Jika kita bertemu dengannya di malam gelap, kita bisa celaka di tangannya!"

Sesudah itu Un Kin berjalan ke salah satu peti mati. dari dalam peti ia mengeluarkan bungkusan makanan kering dan air minum.

"Lihat ini!" kata si nona pada Tiang Keng. "Hm!" Tiang Keng mengangguk.

"Sungguh luar biasa, serangan senjata rahasia mereka cepat dan keras, entah darimana Kiauw Cian mendapatkan orang-orang ini?" kata Un Kin.

Tak lama Un Kin membungkuk memungut sebuah benda yang ia serahkan pada Tiang Keng. Anak muda ini memeriksa benda itu dengan teliti. Benda itu kecil berduri, cagaknya tajam sekali, la langsung mengenali benda itu seperti benda yang ia lihat di kota Lim-an. Tiang Keng mengerutkan alisnya.

"Tidak mustahil inipun perangkap Un Jie Giok." kata Tiang Keng.

Un Kin mengangguk, ia berduka.

"Ini jarum rahasia Bu-eng-sin-ciam dan orang lain tak memiliki serta tak akan mampu menggunakannya." kata Un Kin. "Kecuali aku. Siauw Tin dan Siauw Keng. tak ada orang lain lagi. Membuat jarum ini tidak mudah "

Setelah diam sejenak, tiba-tiba Un Kin melompat ke arah belakang Kiauw Cian. Dia tendang punggungnya dengan keras. Ditendang demikian Kiauw Cian yang tubuhnya kurus kecil itu bergulingan tiga langkah. Dari mulurnya menyembur ludah kental. Sesudah bergulingan ia duduk dengan mata tajam mengawasi ke sekitarnya, lalu batuk satu kali dan kepalanya tunduk. Sekarang ia sadar ia telah tertawan musuh, tapi otaknya tetap bekerja keras....

"Aku tanya kau. jawab dengan jelas!" kata Un Kin dingin.

Kiauw Cian mengusap dahinya, ia diam saja. Seolah ia tak mendengar pertanyaan nona Un. Tiang Keng awasi orang itu. Dia lihat wajah Kiauw Cian kurus dan perok (keriput), tulang pipinya menonjol. Mukanya seperti tak berdaging, maka Tiang Keng yakin orang ini licik dan pandai bicara. Tiang Keng benci sekali, alisnya berkerut.

"Dia licik, jika ia menjawab pertanyaanmu aku tak yakin jawabannya benar dan bisa dipercaya!" kata Tiang Keng pada Un Kin.

Un Kin tertawa dingin sambil berkata. "Aku pernah bertemu orang yang sepuluh kali lebih licin dari dia. jika aku tak mampu membuat dia bicara, hm! Tiang Keng. tahukah kau bagaimana cara menghadapi orang seperti dia?"

Tiang Keng mengawasi si nona. ia lihat matanya berkedip. "Baik. akan kutanya dia!" kata Un Kin. "Jika dia diam saja

akan kupotong sebuah jari tangannya! Begitu seterusnya, setiap kali ia tak menjawab, maka jarinya akan kupotong sebuah, sampai semua jarinya itu habis! Aku tak yakin ia benar-benar tangguh sekali. Sesudah jari tangannya habis, kedua telinganya akan mendapat bagian, baru hidungnya! Jika tetap tak menjawab, akan kutarik lidahnya, baru kemudian kukorek kedua biji matanya. Apa kau masih yakin dia tak mau bicara"

Suara Un Kin perlahan, namun kata-katanya menusuk di telinga Kiauw Cian. la berpikir siksaan itu sungguh hebat.

Kiauw Cian masih duduk diam. Tapi dari dahinya sekarang mengucur keringat dingin. Un Kin mengawasinya, ia tertawa dingin.

"Kau tak percaya. Tiang Keng?" kata Un Kin pada si anak muda. "Baik akan kutunjukkan padamu!"

Sesudah berkata begitu Un Kin menghampiri Kiauw Cian. Ia berhenti tepat di depan orang she Kiauw itu. Tak sampai Un Kin bertanya. Kiauw Cian sudah langsung bicara.

"Apa yang akan kau tanyakan. Nona?" katanya. Un Kin tertawa, ia melirik ke arah Tiang Keng.

"Lihat," kata Un Kin. "Bukankah dia ini sangat cerdik?"

Diam-diam Tiang Keng menghela nafas. "Ya. memang selalu ada caranya untuk mengatur orang jahat. " pikir Tiang Keng.

Ternyata kata-kata Un Kin yang perlahan itu berpengaruh besar sekali tehadap Kiauw Cian. Dia ngeri jika sampai jari tangannya satu persatu dipotong oleh si nona. kemudian menyusul anggota tubuhnya yang lain.

"Pertama-tama aku ingin tahu. dari-mana kau peroleh jarum rahasia Bu-eng-sin-ciam ini?" kata Un Kin.

Kiauw Cian membuka matanya.

"Jika kujelaskan semua itu. akan kau apakan aku?" tanya Kiauw Cian.

Alis Un Kin bergerak, suaranya dingin. "Jika kau bicara jujur," kata si nona. "Aku hanya akan memusnahkan ilmu silatmu dan akan ku izinkan kau pergi! Ini kulakukan agar kelak kau tak berbuat jahat lagi!"

Kiauw Cian kaget, keringatnya mengucur deras, ia menunduk lesu. Tiang Keng mengawasinya, otaknya bekerja.

"Jika ilmu silatku dihilangkan, aku akan lebih memilih mati! Aku rasa dia akan memilih lebih baik mati daripada bicara..."

Baru berpikir sampai di situ. tiba-tiba Tiang Keng mendengar suara Kiauw Cian yang nadanya sedih sekali.

"Jika kukatakan semua dan seandainya Nona memberi ampun padaku pun. aku khawatir "

Sebelum meneruskan kata-katanya ia melirik ke arah orang-orang berpakaian serba hitam. Kemudian Kiauw Cian melanjutkan kata-kaanya.

"Sebelum aku sampai di rumah. Pasti tubuhku sudah habis dicincang!" kata Kiauw Cian.

Mendengar kata-kata itu Un Kin heran juga. "Lalu apa maumu?" tanya si nona.

Kiauw Cian menunduk.

"Aku minta agar ilmu meringankan tubuhku jangan dihabisi, agar aku bisa

tetap hidup " kata Kiauw Cian sambil menghela nafas

panjang.

0oo0