Dendam Asmara BAB 44. UN JIE GIOK MEMOTONG TELINGA PIT SU

 
BAB 44. UN JIE GIOK MEMOTONG TELINGA PIT SU

Mendengar pertanyaan Tiang Keng. Un Kin menggeleng kan kepala. Mendadak Un Kin ingat sesuatu, tiba-tiba parasnya berubah. Sebelum para penonton di bawah lui-tay menonton dengan diam. Padahal di antara para penonton itu terdapat sahabat-sahabat Pit Su yang dapat membantunya. Tapi aneh mereka tak bergerak dan hanya diam.

Kiranya hal itu ada sebabnya, pertama mereka tidak berani dengan kelihayan Tiang Keng. Kedua mereka tak ingin membuat kesalahan terhadap Un Kin. Mereka sadar murid Un Jie Giok ini pun lihay sekali. Namun ketika mereka mendengar jeritan Pit Su dari kejauhan, mereka berdiri serentak dan berpaling ke arah suara yang mengerikan itu.

Saat menoleh, mereka melihat dua sosok bayangan sedang berlari-lari mendatangi, tak lama kedua bayangan itu sudah dekat dengan mereka. Tiang Keng mengenali kedua bayangan itu. mereka adalah Siauw Tin dan Siauw Keng. dua nona yang pernah ia lihat saat anggota Ang Kin Hwee binasa. Ketika ia memperhatikan tangan Siauw Tin. tangan nona itu sedang memegang sebuah bungkusan dari kain berlumuran darah, pasti isinya anggota tubuh manusia. Saat Tiang Keng memperhatikan dengan tegas, ia terperanjat. Ternyata isi kain itu sepasang telinga dan sebuah hidung manusia. Tiang Keng berseru tertahan.

"Apa arti semua ini?" tanya Tiang Keng.

Kedua nona itu tidak menjawab pertanyaan Tiang Keng. Keduanya saling mengawasi, kemudian dengan wajah dingin mereka berjalan mendekati Un Kin dan berdiri di depannya. Melihat itu. alis Un Kin berkerut.

"Couw-ko memerintahkan kami berdua untuk menyampaikan benda ini kepada Nona." kata salah seorang nona. Kemudian nona ini menambahkan. "Kata Couw-ko bagaimana pun sikap Nona kepadanya, jika ada orang yang berani kurang ajar kepadamu. Couw-ko tak mau tinggal diam dan mengawasi saja. Maka Couw-ko telah mewakili Nona memotong sepasang telinga dan hidung Pit Su. Beliau lalu memerintahkan kami untuk mengantarkannya pada Nona!"

Sambil berkata demikian Siauw Tin menyodorkan kedua tangan untuk menyerahkan bungkusan sepasang telinga dan hidung itu. Tiang Keng kelihatan heran, ia berpikir Un Jie Giok benar-benar lihay. "Dia tak kelihatan batang hidungnya, bagaimana ia bisa tahu dengan jelas keadaan di tempat ini?" pikir Tiang Keng

Un Kin melongo mengawasi kedua pelayan itu, ia awasi sapu tangan yang berlumuran darah di tangan Siauw Tin. Pikirannya pun jadi kacau.

Tahu barang di tangannya tak disambut oleh Un Kin. Siauw Tin mempermainkan matanya, lalu ia membungkuk dan meletakkan bungkusan sepasang telinga dan hidung itu ke tanah. Sambil menghela nafas, ia berkata. "Jika Nona tak mau menerimanya, maka kuletakkan benda ini di sini. Cukup sudah asal Nona tahu bagaimana sikap Couw-ko kepadamu "

Mata Siauw Keng pun berputar-putar, ia ikut bicara. "Couw- ko menyuruhku menyampaikan pesan padamu. Jika Nona tetap ingin mencari beliau untuk menuntut balas. Couw-ko siap akan memuaskan hati Nona! Dia bilang nanti malam ia akan menunggumu di ruang kuil tadi malam "

Mata Siauw Keng mendadak merah, dengan suara perlahan ia melanjutkan kata-katanya.

"Couw-ko bilang ia juga mengundang To Siang-kong agar datang bersama Nona " kata Siauw Keng.

"Sebentar lagi akan tiba saatnya kami bakal berkumpul di sana menunggu Nona berdua." kata Siauw Ini "Sejak kecil kami berdua sudah hidup bersama dengan Nona. kami senang Nona tak menganggap kami ini budakmu. Maka kami berjanji di kemudian hari kami akan membahu, kebaikan Nona. Akan tetapi "

Siauw Tin berhenti sejenak, matanya mengawasi ke bawah. "Akan tetapi jika nanti malam kita bertemu, saat itu kami telah menjadi musuh-musuh Nona Maka jika kau akan membunuh Couw ko. maka kami harap kau juga bunuh kami "

Sesudah itu Siauw Tin menghela nafas panjang, melanjutkan kata katanya.

"Kami tak sepandai Nona. namun kami sudah mendengar kata-kata mu. Kami tak peduli Couw-ko orang seperti apa. tetapi sedemikian lama ia telah memperlakukan kita dengan baik sekali juga kepadamu Nona…”

Ucapan kedua nona itu membuai kepala Un Kin pusing sendiri, la di.uu dari sudut matanya keluar air. Un Kin menunduk. Tiang Keng mengawasi la sudah mendengar semua pembicaraan kedua nona itu. ia mau bicara tapi selalu dibatalkan.

Tiba-tiba Un Kin bicara “Sakit hati orang tuaku luar biasa, hingga aku pikir tak mungkin aku bisa hidup bersama musuh besarku!" kata Un Kin “Kalian telah bicara, aku mengerti dan aku menyesal, tetapi "

Siauw Tin mendongak.

"Kami tahu isi hatimu. Nona!" kata Siauw Tin yang memotong kata-kata Un Kin. "Pasti kami juga tak akan memaksa Nona dan kami juga pernah mendengar tentang peristiwa zaman dahulu yaitu dongeng tentang memotong jubah dan memutuskan ikatan hubungan persaudaraan serta menggaris tanah membuat batas ”

Kata-kata Siauw Tin berhenti sejenak. Siauw Tin menggerakkan tangannya. Dia masukkan ke sakunya, lalu mengeluarkan sebilah pisau belati. Kemudian dengan tangan kirinya ia sambar ujung bajunya, dan dengan pisau di tangan kanan ia membabat ujung bajunya. Terpotonglalah ujung bajunya menjadi dua potong. Sesudah itu sambil merapatkan giginya, dia berkata lagi. "Sejak saat ini Nona dan aku tak saling mengenal lagi!"

Setelah itu ia menancapkan pisau belatinya ke tanah, sesudah melemparkan pisau itu. Siauw Tin diam. tak urung air matanya mengalir juga. Ketika ia lirik, ia lihat Un Kin pun menangis Kedua nona itu saling mengawasi.

Tiang Keng menghela nafas, ia berpaling ke jurusan lain. la heran mengapa di dunia terjadi kejadian seperti itu ,

Semua penonton terpaku diam. Mereka tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Beberapa penonton itu sudah ada yang ngeloyor pergi Siauw Keng menghela nafas panjang. "Sesudah urusan jadi begini rumit, aku tak tahu harus bilang apa?" katanya. "Kami sadar. Nona cerdas melebihi kami berdua, kami yakin Nona punya jalan keluar yang terbaik. Tapi..." ia berhenti bicara, lalu ia berpaling ke arah Tiang Keng. Kemudian ia berkata pada si anak muda.

"To Siang-kong. kau cerdas, maukah kau menjawab pertanyaanku?" kata Siauw Keng.

"Katakan saja." kata Tiang Keng.

"Seorang ibu yang melahirkan anak harus mendapat balasan dari sang anak. namun seseorang yang merawat anak dari kecil, sekalipun bukan anak kandungnya, bukankah budi yang besar pantas mendapat balasan?" kata Siauw Keng.

Tiang Keng berpikir sejenak, ia tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan itu. Tetapi Siauw Keng tak menunggu jawaban dari Tiang Keng. bersama Siauw Tin keduanya membalik tubuh dan pergi.

Beberapa nona-nona yang lain mengawasi dengan heran tanpa bicara mereka pun ikut pergi.

Un Kin berdiri diam. pikirannya kacau. Ia bingung, apakah sakit hati orang tuanya perlu dibalas? Tapi kasih sayang Un Jie Giok yang merawatnya sejak kecil, juga budi yang harus ia balas, saat itu ia dibingungkan oleh ucapan Siauw Keng dan Siauw Tin berdua. Ini rumit, masalah antara budi dan permusuhan. Un Kin jadi bingung dan sulit berpikir. Sesudah sekian lama baru ia angkat kepalanya. Ia lihat tempat itu telah sunyi. Semua orang yang tadi berkerumun di lui-tay sudah pergi semuanya. Un Kin hanya melihat Tiang Keng sedang berdiri diam. bahkan To-su Tauw-to pun entah ke mana perginya.

Matahari memancar dengan sinarnya yang terang, hingga golok yang dijadikan patok berkilauan cahayanya. Un Kin membungkuk mengambil belati yang tadi ditinggalkan oleh Siauw Keng dan Siauw Tin. Lalu pisau itu ia satukan dengan pedangnya.

Saat itu angin bertiup perlahan hingga Un Kin merasakan hawa dingin, la menoleh ke arah Tiang Keng. Sekian lama ia diam saja. Mendadak ia tubruk Tiang Keng. tak lama ia lepaskan dirinya dari rangkulan Tiang Keng. Kemudian dia menangis meraung-raung. Barang kali ia anggap hanya Tiang Keng-lah yang menjadi andalannya. Ia merasakan hawa hangat saat Tiang Keng merangkulnya.

Setelah agak tenang dan berhenti menangis, ia berkata perlahan pada Tiang Keng.

"Bagaimana sekarang?" kata Un Kin. "Apa yang harus kulakukan. Tiang Keng?"

Tiang Keng menunduk. Dadanya berdebar-debar, dada Tiang Keng bagaikan  telaga  yang  berombak  tapi perlahan Ia usap-usap rambut Un Kin dengan lembut. Un

Kin yang tadi sudah berhenti menangis, tiba-tiba menangis lagi. ia terisak-isak. Kehalusan Tiang Keng membuat rasa sedihnya bangkit lagi. Tapi tangis itu ada baiknya bagi Un Kin. dengan demikian hati si nona jadi agak lega.

Tiang Keng bingung oleh kata-kata Siauw Keng. Budi membesarkan anak sama dengan budi melahirkannya. Itu memang benar.

"Bisakah ia membiarkan si Nona menuntut balas pada Un Jie Giok" pikir Tiang Keng sangsi. "Atau harus kuanjurkan agar dia balas budi?"

Lama Tiang Keng berpikir, tapi kemudian ia mengambil keputusan. secara perlahan-lahan ia tepuk-tepuk bahu si nona.

"Mari kita pergi!" kata Tiang Keng. Un Kin mengangkat kepalanya, ia awasi Tiang Keng. lalu ikut berjalan mengikuti anak muda itu. Mereka berjalan perlahan-lahan, tak ada yang mau menggunakan ilmu meringankan tubuh.

Sekarang mereka telah tiba ke tepi jalan, di tempat banyak peti-mati Melihat peti-peti mati itu. pikiran Tiang Keng yang sedang mumat lalu berteriak, ia menyerang ke arah peti mati itu. tak ampun lagi peti mati itu jadi berentakan. Berbareng dengan hancurnya peti mati itu. ada tubuh manusia terlempar sambil mengeluarkan suara jeritan mengerikan. Tubuh itu jatuh dan diam tak bergerak lagi. Tiang Keng kaget. Ia melompat menghampiri tubuh orang itu. la menyaksikan wajah orang berpakaian hitam itu menyeramkan. 

Tubuh orang itu terlentang. wajahnya seperti kaget dan ketakutan. Un Kin terkejut, ia menoleh ke sekitarnya. Tapi keadaan di tempat itu tetap sunyi. Tak lama mereka melihat sesuatu yang luar biasa. Beberapa peti mati bergerak perlahan-lahan, berjalan. Un Kin hampir tak percaya pada matanya. Padahal saat itu hari masih siang, tapi hati si nona tak urung gentar juga...

0oo0