Dendam Asmara BAB 43. TIANG KENG MENGALAHKAN PIT SU

 
BAB 43. TIANG KENG MENGALAHKAN PIT SU

Si nona tak melihat Tiang Keng mengawasinya, namun ia tahu pasti anak muda itu sedang mengawasi ke arahnya, la puas. Tiba-tiba ia menghentikan tawanya. Sedang Pit Su yang sejak tadi asyik menikmati kecantikan si nona jadi menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Cantik! Sungguh cantik!" kata Pit Su terus memuji kecantikan si nona.

Tiba-tiba ia bertekuk lutut di depan si nona cantik, kedua tangannya ia pentang. Menyaksikan sikap tengil orang tua itu Un Kin melengak. ia mundur tiga langkah, lalu berjalan ke tepi tak mau mengawasi orang tengik itu.

"Loo-cian-pwee, apa maksudmu berbuat begitu?"' tanya si nona.

Pit Su menengadah lalu berkata.

"Apa kau benar-benar tidak tahu maksudku?" katanya. Un Kin menggelengkan kepala.

"'Aku benar-benar tidak tahu." jawab si nona. Pit Hu membuka kedua tangannya yang ia lekatkan ke dadanya.

"Benarkah kau tak tahu?" ia menegaskan. "Sebenarnya aku sedang melamarmu agar kau mau menikah denganku. Ketahui olehmu, sekalipun aku kakaknya Pit Ngo. tetapi wajahku lebih muda dari Pit Ngo Jika kau menolak cinta Pit Ngo. itu wajar sekali, tapi pasti kau tak akan menolak cintaku!"

Tiang Keng dan Un Kin tercengang mendengar ucapan Pit Su tersebut. Kok masih ada orang setua itu tak tahu malu.

Mau tertawa tak bisa. tersenyum pun tidak mampu mereka lakukan. Tiba-tiba di sekitar panggung terdengar suara tawa para hadirin. Saat itu Giok Long Pit Su masih berlutut di depan Un Kin.

"Aku rela berlutut di hadapan orang banyak dan kau. ini membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu " kata Pit Su.

'"Apa kau tega akan mencelakakan aku. tak mungkin bukan?"

Mendengar ucapan itu Tiang Keng yang sejak tadi diam saja. sekarang habis sabarnya dan jadi dongkol sekali.

"Tua bangka. tutup mulutmu!" bentak Tiang Keng.

Pit Su diam dan sedikit kaget, ia awasi orang yang membentak dirinya.

"Aku bicara sendiri, apa hubungannya denganmu? Apakah kau cemburu?" jawab Pit Su dengan kesal.

Wajah Tiang Keng merah padam. “Bangun!" bentak Tiang Keng dengan suara keras.

Pit Su mengangkat mukanya yang keriput mirip kulit jeruk itu. Matanya melotot tajam dan alisnya berdiri tegak.

"Siapa kau? Beraninya kau kurang ajar! Hm! Rupanya kau sudah bosan hidup. ya?" bentak Pit Su tak kalah sengitnya.

Sikap Pit Su yang tadi halus, berubah jadi garang sekali, la lupa saat itu ia masih berlutut di depan si nona. Menyaksikan tingkah Pit Su yang tengil itu. ketiga nona pelayan itu tak tahan untuk tidak tertawa, namun mereka berusaha menahan tawanya. Tiang Keng gusar sekali. Ketika ia hendak membentak, tapi telah didahului oleh suara tawa Pit Su. "Aku bicara dengan nona ini. Jika ia bersedia mendengarkan kata-kataku, tak ada yang boleh ikut campur. Dasar bocah tak berguna, hm. kau mau mampus ya?" bentak Pit Su dengan garang. "Kau terlalu usil. bocah!"

Mendengar ucapan itu Tiang Keng melengak. ia teringat sesuatu, kata orang perempuan senang dipuji-puji. sekarang Pit Su pun sedang memuji-muji Un Kin.

"Orang she Pit. aku sudah mendengar ocehanmu yang tak karuan dan aku belum mengusirmu atau mencacimu. Tahukah kau kenapa begitu?" kata Un Kin.

Ketika itu Pit Su sedang gusar, wajahnya merah padam.

Saat mendengar kata-kata Un Kin yang merdu, kemarahan Pit Su pun reda.

"Barangkali karena cintaku yang sungguh-sungguh, hingga hati Nona tergerak..." Sebelum kata-kata Pit Su selesai Un Kin membentak. "Bukan!" Pit Su terperanjat, ia berhenti bicara.

"Kalau begitu karena suaraku enak didengar, maka... " kata Pit Su lagi.

"Bukan!" bentak Un Kin lagi. "Lalu?" kata Pit Su.

“Karena aku ingat semasa masih kecil." jawab Un Kin. "Ketika itu aku sedang duduk berjemur mandi cahaya matahari. Tiba-tiba datang seekor anjing gila yang berlari-lari ke arahku, lalu anjing itu kuhajar hingga anjing itu lari terbirit- birit! Tapi. ketika itu datang Louw-ko-ku. dia gusar, lalu menegurku. Dengan gusar aku dimaki-maki. Dia bilang. Anak perempuan harus tenang dan sabar. Mengapa aku harus meladeni anjing gila?"

Un Kin tersenyum manis, saat itu matahari menyorot ke wajahnya yang menambah keelokan si nona. Menyaksikan kecantikan si nona Pit Su jadi bengong. "Benar! Sekarang pun Nona begini sabar, aku yakin sejak kecil kau mendapat pendidikan yang sempurna.. " kata Pit Su sambil tertawa. Un Kin tersenyum manis sekali.

"Belum tentu aku tenang dan sabar." kata si nona. "Tapi yang benar, aku tak mirip seekor anjing gila. Kelak jika datang anjing gila lagi. maka akan kubiarkan dia menggonggong.”

Sejenak Un Kin diam. ia awasi Tiang Keng baru ia melanjutkan kata-katanya.

"Jika detik ini ada anjing gila lagi yang menggonggong di depanku, pasti tak akan kudiamkan lagi. Aku sudah..." Si nona menunduk dan tertawa, hingga kata-katanya tertunda sejenak. "Sekarang telah ada orang yang melindungiku." si nona melanjutkan.

Mendadak si nona menoleh ke arah Tiang Keng. "Tiang Keng. maukah kau mengusir anjing gila ini?" kata si nona.

Sejak tadi Tiang Keng memang sangat dongkol karena Un Kin terus meladeni Pit Su. saat ia mendengar kata-kata si nona. Tiang Keng sadar, la jadi geli sekali, la sadar si nona sedang mempermainkan Pil Su. hingga dalam keadaan genting pun si nona masih bisa melucu. Ia awasi Pit Su yang wajahnya jadi merah-padam. Tiba-tiba Pit Su bangun, ia awasi si nona sambil membentak.

"Perempuan celaka! Kau benar-benar tak tahu diri!" kata dia. "Kau...

Sebelum Pit Su selesai bicara, tiba-tiba ia merasakan dorongan keras ke arah dadanya. Ini dorongan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia kaget buru-buru menghindar dan melompat lima kaki jauhnya untuk menghindari serangan hebat itu. Baru kemudian ia mengawasi ke arah si penyerang, ternyata itu adalah Tiang Keng.

Wajahnya bengis, ia sedang mengaw asi ke arahny a. "Jika kau tetap berdiri di sini. sebanyak tiga kali akan kukibaskan tanganku. Jika kau terluka. jangan katakan aku tak bermurah hati padamu!" kata Tiang Keng.

Tiang Keng melaksanakan ucapannya, hingga Pit Su pucat. Dia kaget oleh dorongan keras itu. hingga mundur sejauh tiga langkah. Sia-sia Pit Su bertahan, terpaksa ia meninggalkan gelanggang. Tiang Keng pun tak tega mencelakai lawan, la menyesal telah melukai Gu It San hingga tewas. Saat itu Tiang Keng melihat Pit Su yang tampak tidak gusar, malah berbalik ia akan pergi. Tapi di luar dugaan, tiba-tiba ia berbalik dan

menyerang bagaikan kilat ke arah Tiang Keng. Tiga kali tangannya menyerang secara bergantian. Pit Su menyerang ke arah tiga jalan darah ciang-tay. hian-kwan dan leng-coan.

Jarak Pit Su dan saat itu Tiang Keng sangat dekat, ditambah lagi senjata rahasia Pit Su itu luar biasa.. Tiba-tiba mata Tiang Keng jadi silau karena senjata lawan sudah di depannya. Un Km kaget bukan main. wajahnya pucat, sedang mulutnya berseru tertahan. Un Kin melompat ke arah Tiang Keng.

Sedang si anak muda tak bergerak untuk menghindar, la hanya menarik mundur dadanya, tak heran jika ketiga senjata rahasia itu mengenai tubuhnya. Mata si nona berkunang- kunang, kepalanya pening, ia terhuyung beberapa langkah hingga hampir terguling. Sebaliknya Pit Su yang angkuh tertawa terbahak-bahak karena puas.

"Kau sangat sombong, bocah! Sekarang kau ketahui kelihayan Pit Toa-yamu!" kata dia. Saat Pit Su maju. ia merandek kaget karena secara tiba-tiba Tiang Keng membusungkan dadanya dan ketiga senjata rahasia Pit Su berjatuhan ke tangan Tiang Keng. Pit Su kaget, ia heran bagaimana musuh yang terkena senjatanya tak terluka.

Penonton pun kaget. Sekarang mereka lihat anak muda itu berdiri tegak tak kurang suatu apa. Saat Un Kin sadar, ia membuka matanya, la jadi kaget dan girang saat tahu Tiang Keng tak kurang suatu apa. mulutnya jadi ternganga keheranan.

Tiang Keng tersenyum ke arah Pit Su. Tiba-tiba tangan Tiang Keng terayun dan ..dan berbareng tiga batang jarum halus melayang ke arah Pit Su yang kejam itu Jarum itu

bernama Ngo-leng Kong-ciam, jarum inilah yang telah mengangkat nama Pit Su hingga jadi sangat ternama. Sekalipun tak sehebat jarum milik Un Jie Giok yang bernama Bu-eng Sin-ciam. namun jika jarum itu mengenai lawan, akibatnya cukup fatal. Konon katanya tak peduli orang telah berlatih ilmu Kim-ciong-tiauvv. Tiat Pou Sam atau Cap-sha Thay -po Hang-lian. ia tetap akan celaka jika terkena jarum itu.

Pit Su tak menduga, mimpi pun tidak, kalau Tiang Keng mampu menangkap tiga jarum itu dan menyerang Pit Su dengan senjata milik Pit Su ke arah mukanya. Mau tak mau Pit Su harus mendek untuk menghindarinya hingga ketiga jarum itu melayang di atas kepalanya. Saking kagetnya ia jadi jadi mandi keringat dingin, la baru sadar pada apa yang artinya jerih, la jadi bingung dan penasaran, la tak tahu mengapa Tiang Keng bisa begitu kebal dan lihay. Pit Su tak mengetahui kalau Tiang Keng mengenakan baju buatan Su Khong Hoa yang kebal senjata, terbuat dari kulit ular di gunung Hong-san. Untuk memperoleh bahan pakaian kebal itu. tidak mudah. Tak heran jika Un Jie Giok pun bersedia melakukan perjalanan yang jauhnya ribuan lie. Khasiat pakaian kulit ular itu selain tak mempan senjata juga tak tembus air dan tahan api.

Jarum milik Pit Su tersedot, sehingga kekuatan serangannya tak hebat lagi. ditambah lagi jarum itu mengenai baju tak mempan senjata itu. Tiang Keng berdiri tegak, ia beroman gagah luar biasa.

"Eh. kau masih tak mau pergi !" bentak Tiang keng. Pit Su kaget mendengar bentakan itu. ia melongo.

Sementara wajahnya pucat-pasi. Diam-diam ia menghela nafas panjang, lalu ia membalikkan tubuhnya hendak pergi. Tiba-tiba..

"Tahan!" bentak Un Kin dingin. Terpaksa Pit Su merandek. "Kau telah menggonggong lama di sini. apa kau akan pergi

begitu saja°" kata Un Kin.

Tiba-tiba si nona mencelat, tahu-tahu ia sudah ada di samping Pit Su,

"Adik kesayanganmu telah meninggalkan sepotong telinganya, kau pun harus memberi tanda mata untuku!" kata Un Kin.

Pit Su kaget bukan main. ia mendongkol juga bingung. Un Kin tak peduli orang itu jerih, ia menggapai ke arah tiga budaknya, salah seorang berlari menghampiri. Dengan sepasang tangannya pelayan ini mengangsurkan sebilah pisau belati satu kaki panjangnya pada Un Kin. gagangnya indah sekali. Saat pisau itu dihunus, terlihat berkilauan. Un Kin menyambut pisau belati itu dengan tangannya yang putih halus, kemudian ia menyentil dan terdengar suara nyaring. "Tring!"'

"Apa yang hendak kau tinggalkan, hidung atau telinga?" kata Un Kin. 'Tapi keduanya juga boleh!"

Bukan main kagetnya Pit Su. keringat dingin tanpa terasa keluar dari tubuhnya. "Celaka aku.,." keluhnya.

Dalam kagetnya ia tak punya pilihan lain. juga tak mau dipermalukan di depan umum. la sadar bukan tandingan Tiang Keng. tapi sebisanya ia akan melawan. Saat ia sedang berpikir, tiba-tiba ada angin berkesiur dari belakang, ia kaget dan menoleh. Ia jadi bertambah kaget ketika ia melihat Tiang Keng telah berada di dekatnya.

"Sudahlah, biarkan ia pergi!"" kata Tiang Keng pada Un Kin. Kata-kata ini melegakan hati Pit Su yang sudah ketakutan setengah mati. Mendengar permintaan Tiang Keng tersebut Un Kin tertawa.

"Aku tak akan meniru kelakuan mereka, tadi aku hanya ingin menggertak!:" kata si nona sambil tertawa.

"Bagus!" kata Tiang Keng sambil melambaikan tangannya ke arah Pit Su. "Apa kau tak mau segera pergi?"

Tiang Keng tampak senang karena Un Kin menuruti kata- katanya, padahal biasanya Un Kin bersikap berandalan

Tiga pelayan itu heran, tiba-tiba nona mereka berubahdan sangat taat pada si anak muda. Pit Su dongkol, ia awasi Tiang Keng penuh kebencian. Tiba-tiba ia menghela nafas panjang.

"Ya. gunung yang biru tak berubah, sungai yang hijau terus mengalir "

Bersamaan dengan kata-katanya itu. Pit Su melompat jauh dan menghilang. Dari kejauhan terdengar suara Pit Su yang masih bergema. "Budi dan kebaikan ini. kelak akan kubalas!" kata Pit Su.

Un Kin mengawasi kepergian Pit Su. lalu ia berbisik kepada Tiang Keng.

"Kau berbuat baik padanya, tapi belum tentu ia berterima kasih padamu. . Apa kau dengar apa katanya tadi? Mungkin dia bukan akan balas budi. tapi membalas dendam padamu! Kenapa kau bersikap demikian kepadanya?" kata Un Kin.

"Kita harus jadi manusia yang tak perlu kecewa." kata Tiang Keng. "Tentang orang lain yang akan berbuat apa terhadapku, terserah dia saja! Aku berbuat baik bukan untuk mengharapkan balasan!"

Sambil berkata Tiang Keng mengawasi Un Kin. Matanya basah oleh air mata. Tiang Keng terharu namun ia girang karena ia berhasil merebut hati si nona. Un Kin sejak kecil di bawah asuhan Un Jie Giok. sekarang hatinya telah berubah jadi baik.

"Ada sesuatu yang belum kau ketahui." kata Tiang Keng. "Coba sejak kecil kau ikut dengan guruku pasti kau...”

Sebelum Tiang Keng menerus-kan kata-katanya, mereka mendengar suara jeritan yang mengerikan. Suaranya menyayat hati. suara itu jauh tapi datangnya dari arah Pit Su pergi...

Wajah Tiang Keng berubah guram.

"Itu suara Pit Su," kata Tiang Keng pada Un Kin. "Apa artinya ini?"

0oo0