Dendam Asmara BAB 42. MUNCULNYA SI ORANG TUA ANEH DI TENGAH GELANGGANG

 
BAB 42. MUNCULNYA SI ORANG TUA ANEH DI TENGAH GELANGGANG

Tiang Keng menolong si pendeta Siauw-lim-sie pada saat yang tepat. Sambil bersiul keras ia melompat ke arah si pendeta, ia pegang tangannya yang ia tarik dan bawa menyingkir sejauh satu tombak dari tempat pertandingan. Menyaksikan lawannya telah ditolong oleh Tiang Keng, Gu It San menyerang lagi dengan hebat. Rupanya Gu It San tak senang si pendeta selamat dari serangannya. Ia melompat, lagi-lagi ia gunakan kedua tangannya untuk melemparkan senjata rahasia yang lihay ke arah Tiang Keng dan si pendeta.

Menyaksikan serangan maut yang kejam itu. Tiang Keng mengerutkan dahinya. Dengan menggunakan tangan bajunya, dia menangkis serangan lawan. Tiang Keng mengibas ke belakang, ke arah penyerangnya. Saat ia mengibas, ia gunakan tipu silat Liong Bwee Hui Hong atau Ekor Naga Mengebut Angin

Menyaksikan anak muda itu hendak merintangi maksudnya.

Gu It San tertawa. "Hai. kau mau mencari mampus sendiri, ya?"

Ia angkat sepasang tangannya ke depan dadanya, lalu ia dorong ke depan dengan keras. It San mengerahkan seluruh tenaganya Ia yakin jika tangan mereka beradu maka tangan Tiang Keng akan patah.

Di luar dugaan, sebelum tangannya bentrok dengan tangan Tiang Keng. tiba-tiba ia merasakan dorongan sangat keras ke arah dadanya. Ia sadar bahaya mengancam dirinya. Sialnya. Gu It San tidak sedang berada di tanah, hingga tubuhnya bergoyang. Terpaksa dia mundur tiga langkah. Tapi celaka lima butir sin-cu menghajar punggungnya

Ia rasakan tubuhnya bergetar, hatinya mencelos dingin, sedang mulutnya terasa bau amis. Sambil menjerit darah segar menyembur dari mulutnya. Sebenarnya Gu It San mengerti ilmu Kim-ciong-tiauw (ilmu kekebalan) dan Tiat-pou- san. sehingga tubuhnya tak akan mempan senjata tajam.

Namun karena sedang bergerak, sin-cu berhasil melukainya.

Tiang Keng melompat ke arah pendeta Siauw-lim-sie yang sedang terpesona oleh gerakan Tiang Keng.

"Tay-su, apa kau tak terluka?" tanya Tiang Keng.

Wajah pendeta itu berubah merah, la ingat sikapnya pada pemuda ini tempo hari. Sekarang justru ia ditolong oleh si anak muda. Si pendeta langsung memberi hormat.

"Anak muda. terima kasih. Hari ini aku takluk kepadamu!" kata dia.

Tiang Keng tersenyum, ia membalas hormat itu. "Anda terlalu memuji!" Tiba-tiba Bu-eng Lo-sat (Lo-sat Tanpa Bayangan) melompat ke Ngo Bong Sin Cu Tin. ia berniat mengangkat tubuh Gu It San. Dia bergerak dengan gesit di atas patok golok. Dia bawa mayat sahabatnya itu ke tepi pelataran pertandingan. Lalu ia letakan di situ.

"Ah. kiranya ia sudah tewas!" kata Bu-eng Lo-sat.

Mendengar ucapan Bu-eng Lo-sat Tiang Keng kaget. Dia tak menyangka lawannya tewas. Ia kelihatan sangat menyesal. Ia melompat dari patok golok ke arah Tiat Siauw Hong. "Sahabat mungkin dia masih bisa tertolong!"

Namun Bu-eng Lo-sat mendadak menoleh dan membentak, "Pergi dari sini! Jangan mendekat!"

"Aku bermaksud baik, mengapa kau berlaku kasar begitu?" kata Tiang Keng.

"Apa? Bermaksud baik? Hm! Aku belum pernah mendengar ada kucing menangisi tikus yang diterkamnya!" kata Bu-eng Lo-sat kasar. "Kau tak akan mampu mengelabuiku. Aku bukan anak kecil."

Tiang Keng kaget. Ia mengerti kondisi Bu-eng Lo-san Ia awasi tubuh Gu It San yang mandi darah. Dua matanya melotot dan kelihatan bengis. Sambil memejamkan mata Tiang Keng menghela nafas.

"Sebenarnya maksudku baik. tapi jika kau tak percaya "

Sebelum Tiang Keng selesai bicara, tiba-tiba Un Kin muncul di sampingnya.

"Jika dia tak percaya, ya sudah!" kata si nona. Tiang Keng menarik nafas.

"Aku tak bermusuhan dengannya, aku juga tak sengaja melukainya... aku jadi tak enak hati " kata Tiang Keng.

Si nona tertawa dingin. "Bagaimana jika ia berhasil membunuh Bu Kin Tay-su?" tanya si nona. "Jika kau tak menolongnya, siapa yang akan menyalahkanmu? Apa kau akan membiarkan Bu Kin binasa?" kata Un Kin.

Tiang Keng menunduk dan diam, ia menghela nafas panjang. Tiba-tiba Bu-eng Lo-sat berdiri tegak.

"Aku tak peduli kau bermaksud baik atau jahat," kata Bu- eng Lo-sat. "Yang jelas Gu It San mati di tanganmu! Kelak, keluarganya pasti akan mencarimu!"

Tiang Keng kaget, ia menunduk. "Balas dendam, ya anak Gu It San akan sepertiku menuntut balas! Aku sekarang ingin balas dendam. Ini tak akan ada habisnya! Entah kapan akan berakhir?" pikir Tiang Keng.

Tiba-tiba Un Kin berkata pada Bu-eng Lo-sat Tiat Siauw Hong dengan nyaring. "Kau sahabat Gu It San, jadi kau akan menuntut balas?"

Mata Tiat Siauw Hong berputar sambil mengawasi si nona. "Membalas dendam demi sahabat itu wajib!"

"Jadi kau mau membalaskan sakit hati sahabatmu dan kau akan membunuh orang yang membunuh sahabatmu, bukan?" kata si nona.

Ditanya demikian Tiat Siauw Hong melengak. "Bukankah itu wajar?" Un Kin bersikap tenang. "Memang dia telah membunuh sahabatmu, tapi dia bukan musuhmu, kenapa kau ingin membunuhnya? Apa alasanmu? Adilkah itu?" kata Un Kin.

"Siapa bilang tak beralasan?" kata Siauw Hong. "Aku membalaskan sakit hati sahabatku, aku kira itu pantas!"

'Kau benar, kau akan membunuh orang yang sebenarnya tak bermusuhan denganmu. Kau bilang itu pantas! Sekarang aku tanya, bagaimana jika Gu It San berhasil membunuh si pendeta?" Tiat Siauw Hong melengak. Un Kin tak menunggunya bicara, ia sudah berkata lagi.

"Gu It San jelas akan membunuh sahabat kami, lalu kami menolongnya. Apakah tindakan kami itu tak pantas?" kata Un Kin.

Kata-kata Un Kin yang terakhir membuat Tiat Siauw Hong terdiam dan bungkam. Melihat lawan kalah bicara. Un Kin berkata lagi. "Nah, sudah. Kau bawa mayat sahabatmu itu, mengapa diam saja!" kata Un Kin.

Ia membungkuk lalu ia pondong tubuh Gu It San. tak lama ia berjalan dan menghilang dari tempat itu. Tiang Keng masih kecewa, ia tunduk saja. Tiba-tiba dari satu tempat ia mendengar ada yang bicara.

"Seorang nona yang lihay! Bu-eng Lo-sat dibuatnya pergi seperti seekor tikus!" kata orang itu.

Selesai bicara orang itu melompat ke arah kedua anak muda itu Ketika Tiang Keng menoleh, ia kagum pada ilmu meringankan tubuh orang ini. Ia seorang pria beruban dengan pakaian seperti pakaian perempuan. Namun ia tak memelihara kumis maupun jenggot. Menyaksikan dandanan dan sikap orang itu. Tiang Keng jadi geli tapi itu dia tahan untuk tak tertawa.

"Aku kebetulan sampai, kepandaian silatmu belum pernah kusaksikan. Namun aku kagum caramu menggoyang lidah!" kata orang itu.

Selain pakaiannya yang luar biasa, orang tua ini pun memiliki suara seperti perempuan. Un Kin heran dan dongkol. Ia tak kenal orang ini. ia juga tak tahu kapan orang itu datang. Un Kin menoleh pada para pelayan, mereka iuga bingung. "Maafkan aku. mataku agak rabun. Lo-cian-pwee..." Tapi sebelum Un Kin menyelesaikan kata-katanya, orang itu sudah menyela sambil tertawa.

"Nona, pasti kau heran! Aku ini siapa? Aku diam-diam datang tadi malam dengan maksud mengejutkan kalian semua!" kata si orang tua.

"Jika tadi malam tak terjadi insiden, tak semudah itu kau bisa sampai ke mari " pikir Un Kin.

Sebenarnya di antara orang yang ada di tempat itu ada yang mengenal nya. Tapi mereka hanya diam.

"Nona kau tak kenal aku. tapi aku mengenalmu. Aku si orang tua sudah lama mendengar kecantikanmu, terlebih keganasanmu hingga aku ingin datang ke Thian-bak-san!" kata si orang tua.

Mendadak mata Un Kin melotot. "Kau pernah apa pada Hoa Long Pit Ngo?" tanya Un Kin.

Orang tua itu tertawa, wajahnya sudah keriput dan matanya merah tapi dua baris giginya rata dan putih. "Matamu tajam sekali. Nona! Aku Pit Su, kakakku tak berguna seperti juga aku sendiri!" jawab si orang tua.

Mendengar jawaban orang itu Un Kin sedikit terkejut. "Jadi kau adalah Pit Su yang bergelar Giok Long (Pria Kemala)?"

Mendengar ucapan si nona, orang tua itu tertawa. Sambil membuka dan menutup matanya, orang tua itu mengangguk. Tiang Keng kaget, ia berpikir. Dia ingat saat membonceng kereta ke Thian-bak-san. Dia pernah mendengar para pelayan bercerita bahwa Un Kin pernah memotong hidung Pit Ngo.

Sekarang Pit Su datang untuk balas dendam. Pit Su bergelar Giok Long sedang Pit Ngo bergelar Hoa Long (Pria Bunga).

"Benar kedatangannya pasti untuk balas dendam," pikir Tiang Keng siaga. Dia siap membantu jika Un Kin diserang. Nona-nona pelayan Un Kin juga mengawasi. "Oh jadi kedatanganmu untuk membalas sakit hati adikmu?" tanya Un Kin.

"Sabar, Nona. Aku bukan hendak menuntut balas." kata Pit Su. "Kau salah besar!"

Un Kin dan Tiang Keng tercengang mereka mengawasi dengan heran.

"Pit Ngo sudah tua dan tolol!" kata Pit Su. "Dia tak tahu diri. Siapa suruh dia ingin makan daging angsa kahyangan? Jangan kata kau hanya memotong hidungnya, kau potong telinganya pun aku tak keberatan. Aku bahkan akan bertepuk tangan untuk menyatakan setuju!" kata Pit Su.

Tiang Keng dan Un Kin heran

"Memang sekalipun seekor naga beranak sembilan, sifat anaknya akan berlainan. Sekarang Pit Ngo tak tahu malu. sebaliknya Pit Su berlapang dada. Memang menilai orang tak bisa dari romannya saja."

Kesan Un Kin dan Tiang Keng jadi baik terhadap orang tua ini. "Kalau begitu maafkan," kata Un Kin. "Apakah kedatanganmu untuk menemui guru?"

Un Kin tak ingin semua orang tahu ia sudah bentrok dengan gurunya, maka ia masih menyebut kata guru.

"Bukan! Bukan itu maksudku!" kata Pit Su.

"Orang ini aneh sekali," pikir Tiang Keng. "Mau apa dia?" "Aku bukan seperti Pit Ngo yang bersahabat dengan

gurumu, kedatanganku tentu saja bukan untuk berkunjung pada gurumu. Kalau "

Ia berhenti lalu tertawa dua kali. Setelah itu dengan dibuat- buat ia menyipitkan matanya serta mengawasi ke arah si nona dengan tingkah ceriwis. Dia awasi Un Kin dari atas ke bawah dan sebaliknya..... Un Kin jadi tak enak hati. mau menegur dengan kasar pun jadi serba salah..

"Kalau begitu kedatangan Loo-cian-pwee hanya untuk menyaksikan pemandangan yang indah saja, begitu?" kata Un Kin sambil tersenyum manis sekali.Kebetulan saat itu Tiang Keng mengawasi ke arahnya ia melengak!

0oo0