Dendam Asmara BAB 38. UN KIN MENGETAHUI RAHASIA BESAR

BAB 38. UN KIN MENGETAHUI RAHASIA BESAR

Un Jie Giok bergerak dengan cepat dan berat. Setiap serangannya dibarengi dengan tenaga yang keras. Mau tak mau Tiang Keng pun harus mengeluarkan tenaga, hingga Tiang Keng sangsi apakah ia mampu menghadapi lawan yang tangguh ini sampai seratus jurus.

Meja tempat sembahyang dan yang tadi dipakai duduk oleh Un Jie Giok telah roboh akibat tendangan si nyonya tua bengis dan bertenaga besar itu. Tiang Keng sadar tanpa senjata ia akan kewalahan. Suatu ketika Tiang Keng berhasil menyambar salah satu kaki meja yang berantakan itu. Saat serangan L'n Jie Giok tiba. kaki meja itu ia gunakan sebagai senjata untuk menangkis. Ia pegang kaki meja itu dengan tangan kirinya, maka tangan kanannya bisa setiap saat menotok ke arah Jie Giok Malah tangan kanannya itu menyambar ke kepala si nyonya tua.

Jie Giok bergerak mendek sambil berseru dan mundur.

Kesempatan ini digunakan oleh Tiang Keng untuk menyerang Jie Giok dengan kaki meja di tangan kirinya. Dia gunakan kaki meja itu seperti pedang dan dengan sebelah kakinya, ia menendang. Maka dalam gebrakan itu ia telah menggunakan empat macam pukulan. Sungguh hebat kaki meja yang bergerak seperti pedang itu.

Sekalipun Un Jie Giok terancam serangan lawan, namun ia tetap tenang dan tak ciut hatinya. Ia tertawa nyaring dan tajam, sedang tubuhnya bergerak dengan cepat. Dengan tangan kirinya dia mencoba merampas kaki meja yang ada di tangan kiri Tiang Keng. Dengan demikian ia menggunakan ilmu silat tangan kosong melawan senjata Tiang Keng harus waspada, sedikit ayal. maka kaki meja akan terampas oleh lawan.

Un Jie Giok menggunakan tangan kanan untuk menotok Tiang Keng. Sebagai alat totok ia gunakan bumbung kecil di tangannya. Bumbung itu berkilauan keemasan hingga menyilaukan mata Tiang Keng.

Demikian mereka bertarung hebat, menguji kepandaian dan tenaganya. Kedua lawan memiliki keistimewaan masing- masing. Yang satu masih muda dan gagah, sedang lawannya sekalipun sudah tua tapi gesit dan berpengalaman.

Tiang Keng melayani dengan setiap saat ia harus mengerahkan tenaga dalamnya. Hal itu penting agar ia bisa tetap bertahan. Ia kalah latihan, tapi ia murid seorang ahli silat ternama, maka ia keluarkan seluruh kepandaiannya.

Demikian hebatnya pertarungan itu. tanpa terasa sudah seratus sepuluh jurus telah mereka lewati. Saat Tiang Keng ingat ia tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan nyaring.

"Hanya dalam lima puluh jurus kau akan membunuhku!

Tapi, hm aku khawatir... "

Sebelum Tiang Keng tutup mulut, ia lihat Un Jie Giok sudah melompat ke arah kaki meja. Tiang Keng kaget! Jika kaki meja itu berhasil dirampas musuh, setiap saat dia bisa ditotok oleh bumbung lawan yang lihay. Karena ia tak sempat berkelit, ia lalu menangkis dengan keras.

Dua senjata beradu keras sekali, tangan Tiang Keng bergetar. Bumbung menekan, terpaksa Tiang Keng bertahan. Ia rasakan tenaga Jie Giok kuat sekali. Untuk memperkuat kuda-kudanya. Tiang Keng berseru, ia mengempos semangatnya.

Mutiara yang menggelinding sudah sampai ke depan pintu.

Tiang Keng mencoba tetap bertahan.Saat itu ia rasakan dorongan yang semakin kuat dan bertambah kuat saja.

Datangnya serangan itu bagaikan bergelombang, yang satu punah, datang yang lain. Saat demikian sekalipun ia berpikir akan menghunus pedangnya, ia tak punya kesempatan lagi. Saat ia perhatikan wajah si hantu perempuan itu, wajah itu tampak kejam dan bengis sekali.

Mendadak Un Jie Giok tertawa "Aku takut kau bukan orang yang cerdas!" kata dia. "Jika kau sudah mati, maka rahasiaku tak akan ada orang yang tahu! Untuk selamanya Un Kin akan jadi milikku!"

Jantung Tiang Keng bergetar. Tak disadarinya peluh telah mengucur deras. Diam-diam Tiang Keng menghela nafas.

Jelas ia tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Tapi Tiang Keng pantang menyerah, ia masih ingin mncoba kekuatannya yang terakhir. Tapi..

Mendadak sebuah tubuh berkelebat di pintu, bagaikan bayangan tubuh orang itu menghampiri. Dia seorang yang mengenakan pakaian berkabung dan rambut terurai.

Wajahnya pucat, tapi sepasang matanya bersinar. Mula-mula ia menghela nafas panjang, lalu berkata dingin.

"Tak perlu kau bunuh dia. rahasia itu telah kuketahui!" katanya.

Baik Tiang Keng maupun Un Jie Giok kaget. Masing-masing melompat mundur. Keduanya berpaling ke arah pintu. Di sana berdiri nona Un Kin. cahaya mutiara menyinari wajahnya yang pucat.

Un Jie Giok menggigil, dia mundur lima langkah, lalu dia sandarkan tubuhnya ke tembok. Sambil mengulur tangannya yang kurus kering dan suara sember karena gemetar, dia bertanya. "Kau... Kau... Mengapa kau sudah kembali?"

Un Kin mengawasi dengan wajah tanpa perasaan. Ia angkat kakinya hendak melangkah masuk ke ruangan.

la membungkuk, untuk memungut leng-pay yang menggeletak di lantai. Kemudian leng-pay itu ia rangkul, ia berdiri tegak dan matanya memandang tajam ke arah gurunya, sedang dari mulutnya terdengar suara dingin, sepatah demi sepatah.

"Ayahku telah kau bunuh, benar atau tidak!" kata Un Kin. Kata-kata itu tajam menusuk ke hati Un Jie Giok, hingga tiba-tiba tubuhnya menggigil. Tanpa merasa ia mundur ke pojokan.

Un Kin terus menatap dengan tajam.

"Aku sudah tahu ayahku kau yang membunuhnya." kata si nona. "Benar. Tidak ? Katakan benar tidak?"

Sambil berkata si nona melangkah mendekati si nyonya tua perlahan-lahan.

Tiang Keng menyeka peluh di dahinya, ia sadar telapak tangannya pun telah berpeluh. Hatinya goncang. Itu adalah saat-saat berbahaya bagi Un Kin.

Makin lama nona Un makin dekat pada gurunya. "Berhenti!" tiba-tiba Un Jie Giok membentak nyaring. Un Kin kaget, ia menghentikan langkahnya.

Setelah membentak Un Jie Giok menghela nafas, kemudian ia menunduk."Ya, aku yang membunuh ayahmu." kata dia perlahan. "Aku yang membunuhnya "

Un Kin meraba rambutnya yang bagus, tiba-tiba ia melompat sambil tertawa nyaring seperti orang kalap.

"Kau membunuh Ayahku!" kata Un Kin. "Ya. kau bunuh Ayahku! Juga kau bunuh Ibuku." Un Kin tertawa hanya kali ini tawanya sedih.

Tiang Keng merasa tangannya dingin. Suara tawa itu menusuk hati sangat tajam.

Un Kin mulai melangkah lagi.

"Ibuku juga kau yang membunuhnya, kan?" kata si nona. air matanya meleleh deras.

"Benar tidak?" ia menegaskan. Ia melangkah maju. langkahnya berat, setiap langkah begitu berat seolah seperti godam ribuan kati yang siap menimpa jantung Un Jie Giok....

Perempuan jelek itu terus bersandar di tembok sambil menggigil.

"Jangan mendekat padaku!" Jie Giok membentak.

Tangannya ia tudingkan. "Jangan mendekat, kau tahu tidak. Jangan kau paksa aku membunuhmu! Jangan kau paksa aku membunuhmu!"

Un Kin tertawa dengan suara sedih.

"Kau hendak membunuhku?" kata Un Kin sambil tertawa. "Memang lebih baik kau bunuh aku! Kau toh sudah membunuh Ayah dan Ibuku..

Tapi kata-kata Un Kin itu dipotong oleh suara tawa Un Jie Giok, tubuhnya mencelat ke arah pintu. Kemudian terdengar kata-katanya yang tajam.

"Aku telah membunuh ibumu! Ha haa! Aku telah

membunuh ibumu!" kata Jie Giok.

Tiang Keng terkejut sejenak, ia tak melihat si nyonya tua karena sudah menghilang di balik pintu. Hanya dari kejauhan masih terdengar suara tawa dan kata-katanya yang ia ulang- ulang.

"Aku telah membunuh ibumu! Aku telah membunuh ibumu!" begitu ia berteriak-teriak seperti orang edan.

Dalam sekejap ruangan itu jadi sunyi, yang terdengar hanyalah nafas Tiang Keng dan Un Kin berdua.

Un Kin berdiri mematung, ia seolah kehilangan sukma. Saat ia sadar tubuhnya gemetar, kemudian ia menangis tersedu- sedu. la tak bisa berbuat apa-apa, karena ia tak kuat melawan kesedihan hatinya, maka ia menumpahkan semua derita itu ke dalam tangisnya....  Tiang Keng lihat tubuh Un Kin terhuyung, ia terkejut dan lupa segalanya. Tak ia sadari ia menubruk dan menyambar pinggang Un Kin, agar nona itu tidak sampai terjatuh ke lantai.

"Nona!" ia berteriak. "Kau kenapa. Nona?"

Un Kin diam saja dia hanya terisak. Bukan main susah hatinya. Di luar dugaan dia ternyata gurunyalah musuh besarnya, orang yang membunuh orang tuanya! Bertahun- tahun ia dirawat oleh gurunya itu dengan penuh kasih-sayang. tapi ternyata..

"Lalu bagaimana aku sekarang?" kata si nona. "Ayah. Ibu mengapa kalian tak memberi kesempatan agar aku bisa melihat wajah kalian!”

Ia terisak, karena saat itu ia tak melihat wajah kedua orang tuanya, kecuali dalam khayalan. Sedang wajah Un Jie Giok tak pernah hilang dari matanya.

"Ah. mengapa nasibku begini buruk?" Un Kin mengeluh.

Tanpa terasa nona ini menangis, air matanya membasahi tubuh Tiang Keng.

Tiang Keng tidak berani bergeser, ia tak tega menggeser tubuh si nona. la tetap merangkul si nona. ia biarkan si nona menangis maupun melamun dalam pelukannya.

Tak berapa lama kemudian dari luar sudah tampak cahaya terang meskipun masih samar-samar. Sang fajar sudah merayap mendatangi, bersamaan dengan itu bertiuplah silir angin yang dingin sekali.

Tiang Keng tetap diam. la tak mau mengganggu kesedihan si nona. Karena ia pikir tangisnya itu bisa melegakan hati si nona. Jika ia tegur pasti si nona akan bertambah duka.

Tak lama fajar pun menyingsing, tandanya sang siang sudah datang. Ketika itu sudah lama Tiang Keng tak mendengar suara isakan si nona. Sekalipun suara napasnya terdengar berat. Rupanya ketika itu tak terasa Un Kin tertidur lelap. Nyenyak dalam rangkulan si anak muda yang memeluknya erat-erat.

Tiang Keng tetap diam. ia mencoba merapatkan matanya untuk mencoba menenangkan hatinya. Dengan demikian ia pun bisa beristirahat.

Tiba-tiba nona Un bangun. Ia rasakan hawa dingin sekali. Ia membuka matanya, dan ia angkat kepalanya hingga ia bisa melihat wajah si anak muda.

Tiang Keng merasa tubuh si nona bergerak, ia duga si nona terjaga, maka ia pun menunduk untuk melihatnya, karena itu sinar mata mereka jadi beradu pandang.....

Sesudah menengadah nona Un tunduk kembali.

Jantungnya berdebardebar. Ia sadar malu dan terperanjat. Segera ia bangun, untuk duduk di lantai. Dari mulut si nona terdengar helaan nafas. Agaknya ia ingin bicara tetapi selalu gagal.

Tak lama ia duduk lalu berdiri, la mengawasi pintu, lalu menarik nafas lagi.

"Sudah terang tanah." kata si nona perlahan. "Aku harus pergi ”

la menoleh, sinar matanya sayu. Tiang Keng mengawasinya.

"Tanpa kuberi penjelasan, kau pasti tahu aku akan pergi ke mana." kata Un Kin. "Aku akan mencari musuh besarku.. Kau juga akan berangkat, bukan? Sekarang sudah pagi!"

Sesudah itu Un Kin melangkah ke arah pintu, la seperti ingin melihat apa benar sekarang sudah pagi. Ternyata kabut sudah buyar. Un Kin menoleh, ia mengawasi si anak muda. Ia seolah merasa tak akan bisa bertemu lagi dengan pemuda itu.

Bukankah ia pun hendak mencari musuh besarnya. Mungkin ia bakal menghadapi bahaya maut! Dengan demikian seolah ia sedang mengantarkan jiwa.

0oo0