Dendam Asmara BAB 33. TIANG KENG DIBUAT HERAN DENGAN SIKAP UN KIN

BAB 33. TIANG KENG DIBUAT HERAN DENGAN SIKAP UN KIN

Setelah mengawasi sekian lama. Tiang Keng melompat turun dari payon. Kemudian dia terus mengawasi bayangan itu sambil berpikir.

"Entah siapa dia?" pikir Tiang Keng. "Mengapa tengah malam begini ia datang ke wihara untuk bersembahyang? Apa ia seorang pendeta yang memelihara rambut dan datang karena menyukai tempat sunyi ini? Ah. pasti orang ini tak tahu tentang keadaan Thian-bak-san vangjadi sarang penjahat ganas Jika telah tiba saatnya, dia bakal tak mendapatkan

tempat setenang dan sesunyi ini untuk beribadat...

Tiang Keng berpikir keras. "Dia tinggal di sini, tahukah dia tentang gerak-gerik Ang-ie Nio-nio?"

Tiang Keng pun melangkah ke arah pintu. Baru saja ia sampai di ambang pintu, ia mendengar suara perlahan dan dingin, "Mari masuk!"

"Heran!" pikir Tiang Keng. Memang ia tak menggunakan ilmu meringankan tubuh, namun langkahnya perlahan sekali, di luar dugaan perempuan itu bisa mendengar suara langkah kakinya, padahal waktu itu ia sedang sembahyang dan bok- gienya sedang dibunyikan tak hentinya.

"Maafkan, aku yang rendah ingin menanyakan sesuatu. Aku minta maaf karena telah mengganggu..." kata Tiang Keng.

"Hm" terdengar suara dingin yang tak jelas. Suara bok-gie pun berhenti.

Tiang Keng mendorong pintu kamar itu. ia melangkah masuk, la lihat perempuan itu tetap berlutut membelakangi pintu. Sedikitpun ia tak bergerak, hanya leng-pay yang tadi ada di atas meja sekarang sudah tak ada. Kemudian dia batuk-batuk.

Setelah itu. terlihat kepala perempuan itu bergerak, berbalik perlahan sekali. Begitu ia lihat wajah perempuan itu Tiang Keng heran dan terperanjat, tapi tetap bungkam.

Perempuan itu juga sudah melihat siapa yang masuk ke kamar itu. dia juga terperanjat, kemudian menghela nafas panjang...

"Kiranya kau!" kata dia perlahan. Kecuali terperanjat dia tak menunjukkan roman atau sikap yang bermusuhan.

Tiang Keng mengawasi orang itu. Kkini ia berhadapan dengan seorang nona. itulah Un Kin. Nona yang paling disayang oleh Un Jie Giok. Tian Keng membayangkan saat mereka bertemu untuk pertama kalinya. Pertama-tama sikap nona ini manis sekali, lalu ia besikap bengis sekali, tetapi sekarang ia mengenakan pakaian putih. Alisnya berkerut, ia tampak lesu dan alim. Dia kini bukan nona nakal dan berandalan lagi.....

"Kiranya kau Nona Un." kata Tiang Keng perlahan. Tiang Keng mundur sampai ke ambang pintu. "Tiang Keng, ingat apa maksud kedatanganmu ke Thian- bak-san? Bukankah kau ingin mencari perempuan ini?

Mengapa sekarang kau mau pergi?" pikir Tiang Keng.

Karena itu ia maju lagi selangkah, bertanya dengan suara dalam.

"Malam selarut ini. mengapa kau datang ke mari?" tanya Tiang Keng.

Un Kin meletakkan bok-gienya. lalu ia menarik nafas. "Beberapa hari yang lalu, kau dan aku bermusuhan satu

sama lain," kata Un Kin. suaranya perlahan. "Tetapi sekarang

aku tidak berpikir untuk memusuhimu lagi. . Tapi soal aku ada di sini. itu tak ada hubungannya denganmu. Sebaiknya kau segera pergi dari sini...!"

Sekejap tampak mata si nona bercahaya.

Tiang Keng menyaksikan sinar mata si nona. ia heran. Ia tak tahu bagaimana ia harus menghadapi nona ini. Diam sesaat kemudian ia bertanya, "Nona, kau sedang menyembahyangi siapa?"

Nona Un mengawasi Tiang Keng. matanya bercahaya kembali.

Sesaat kemudian Tiang Keng ingat cerita si imam berkopiah kuning. Kemudian Tiang Keng ingat leng-pay yang tiba-tiba lenyap dari hadapan si nona. Sebagai pemuda yang cerdas.

Tiang Keng segera sadar lalu menghela nafas.

"Aku ingat sekarang, aku pernah mendengar sebuah cerita." kata Tiang Keng akhirnya. "Konon dulu di kalangan Kang-ouw hidup sepasang jago silat yang dikenal orang sebagai Nio Beng Siang Hiap. Nona apakah kau tahu nama pasangan yang gagah itu?"

Suara Tiang Keng perlahan saat ia berkata begitu, ia memperhatikan wajah si nona. Ia lihat tubuh si nona gemetar saat mendengar Tiang Keng menyebut nama Nio Beng Siang Hiap. Sinar mata si nona yang semula bercahaya, jadi suram dan sayu menunjukkan sinar mata duka dan penasaran..,,

Nona itu tidak menjawab pertanyaan Tiang Keng. malah ia balik bertanya. "Apakah kau To Tiang Keng"

Sekarang Tiang Keng yang heran.

"Eh mengapa dia tahu she dan namaku?" pikir Tiang Keng.

Saat Tiang Keng akan menjawab, tiba-tiba di luar kamar itu terdengar bentakan keras, disusul dengan berkelebatnya sebuah bayangan manusia yang bertubuh tinggi besar.

Bersamaan dengan itu angin pun bertiup masuk seiring masuknya tubuh si bayangan yang disusul dengan suara beradunya logam. Akibatnya api di kamar itu hampir padam.

Tiang Keng terkejut, saat ia lihat senjata panjang sedang menyerang ke arahnya.

"Siapa kau?!" ia melompat ke samping.

Segera terdengar suara benturan keras karena senjata itu tak mengenai sasaran melainkan mengenai lantai. Lantai yang terhajar keras jadi berantakan. Itu sebuah serangan yang sangat hebat.

Sebelum Tiang Keng sempat melihat tegas penyerangnya, senjata lawan sudah kembali menyerangnya. Sekarang ke arah pinggang Tiang Keng. Dari suaranya, sekalipun Tiang Keng tak melihat orangnya, ia tahu siapa orang itu. Ia coba menghindar lalu menjejak lantai dan melompat tinggi, hingga senjata lawan tepat di bawah kakinya.

"Tay-su. tahan!" teriak Tiang Keng.

Tiang Keng tak meladeni penyerang itu. Tadi dengan melompat ia telah sampai ke penglari. lalu mengawasi ke bawah dan mengulangi kata-katanya. Orang itu mengangkat kepalanya mengawasi dengan melongo. Ia heran, dua kali serangannya yang berbahayanya bisa dihindarkan oleh anak muda itu. Padahal serangan itu adalah serangan ilmu silat Siauw-lim-pay yang sangat lihay.

"Entah dari mana bocah ini, kenapa ia bisa muncul di sini?" pikirnya.

Namun tabiat orang ini keras, ia jadi penasaran. Dengan tak menghiraukan ucapan Tiang Keng, ia berteriak. "Hai. Nak! Jika berani turun, hadapi aku! Atau aku yang akan naik menghajarmu sampai mampus!"

Tiang Keng diam dan mengawasi.

Un Kin sejak tadi diam saja agaknya ia tak sadar, ia mengangkat kepala ke atas.

"Kau turun." kata Un Kin sabar menoleh pada si penyerang dan berkata "Tay-su, kau jangan turun tangan”

Pendeta itu diam sejenak. Ialu berkata, "Barusan aku sedang duduk di pouw-toan. kemudian aku pergi sebentar untuk buang air. Tak kukira secara lancang bocah ini masuk kemar “

"Pantas pouw-toan ini bersih rupanya tadi dipakai duduk oleh pendeta ini." pikir Tiang Keng

Ternyata ia mengenali pendeta itu To-su Tauw-to Bu Kin. pendeta itu senang ikut campur urusan orang. Ia ikut Un Kin ke Thian-bak-san dan di Thian-bak-san ia tak kerasan kiranya di tempat ini banyak orang sesat maka tak cocok ia ingin segera turun gunung tapi Un Kin membujuknya kemudian pendeta itu menurut, la senang dengan sikap Un Kin yang hormat kepadanya maka ia tetap diam dan tak bercampur dengan orang-orang yang tak disukai itu.

Begitulah, saat Un Kin Ini bersembahyang ia menungguinya di situ bertugas mencegah kedatangan orang yang tak berkepentingan Namun Tian Keng masuk saat ia buang air, maka ia jadi gusar. Dia tambah heran melihat pemuda yang dulu dikatakan oleh Un Kin orang jahat lalu tanpa berbicara lagi. ia serang pemuda itu, ia diam saat diminta agar tidak menyerang anak muda itu. Ia mengawasi dengan mata keheranan. Ia berharap si nona memberi penjelasan padanya.

Un Kin menghela nafas panjang.

"Dia bukan orang jahat," kata si nona. "Sabar, aku Aku

mau bicara dengannya Aku minta Tay-su bersedia keluar

sebentar dan jaga jangan sampai ada orang lain masuk ke mari!"

To-su Tauw-to heran ia melengak sejenak, kemudian ia banting-banting kakinya.

"Kalian orang muda sangat aneh!" kata dia. Sambil membawa senjata Hong-pian-san-nya. ia pergi.

Tiang Keng geli melihat pendeta itu menurut pada si nona.

Setelah pendeta itu pergi. Tiang Keng melompat turun. "Kau benar To Tiang Keng?" kata si nona.

Tiang Keng mengangguk. "Ya." jawab Tiang Keng.

Si nona tampak berduka, ia menghela nafas. Wajahnya lesu. Sebelum ia berkata lagi ia mengeluarkan serupa benda.

Tiang Keng tahu itulah leng-pay yang tadi berada di atas meja.

Si nona meletakkan leng-pay itu ke dekat lilin, hingga sekarang Tiang Keng bisa melihat tegas. "Sin-cie almarhum Ayah Beng Kong dan Ibu Thay-hu-jin"

Membaca tulisan itu hati Tiang Keng bergetar. Dia jadi heran.

"Mengapa si nona bisa mengetahui asal-usulnya?" pikir Tiang Keng. "Barang kali sekarang ia belum tahu, siapa musuh besarnya. Orang yang membinasakan orang tuanya, justru gurunya sendiri..."

Pada mata si nona berlinang air matanya, air mata itu turun melalui pipinya yang putih halus. Ia tak bisa menahan turunnya air matanya, tapi buru-buru ia susut dengan tangannya yang putih mulus.

"Nasibku sangat malang. " Kata si nona perlahan. "Baru

kemarin aku tahu siapa ayah dan ibuku Hanya aku belum

mengetahui mengapa kedua orang tuaku itu meninggal dunia ”

la menangis tersedu-sedu.

Tiang Keng jadi terharu, ia ikut berduka tapi ia diam saja.

Si nona bangkit menghampiri Tiang Keng. la tetap berdiri diam sambil mengawasi si nona. ia kasihan pada si nona.

"Nona, sebaiknya kau " ia tak meneruskan kata-katanya,

la ingin menghibur nona itu, tapi tak bisa memilih kata-kata yang pantas.

Un Kin terus menghampiri Tiang Keng, sesampai di depan si anak muda. ia berlutut.

"Nona... Nona " kata Tiang Keng kaget. "Apa artinya ini?"

Ia segera melompat ke samping. Semula ia akan mengulurkan tangannya akan mengangkat si nona supaya bangun, tapi tak jadi. Ia tak ingin berbuat lancang. Lalu ia membalas hormat si nona sambil berlutut.

Pada saat yang sunyi kedua muda-mudi itu berlutut berhadapan, tapi mereka tetap diam tak bicara apa-apa. Si nona tampak bingung, begitu pun Tiang Keng tak tahu harus bilang apa.

To-su Tauw-tu berjaga di luar sekian lama, ia tak mendengar suara apa pun di dalam kamar itu, karena heran ia ingin melihat ke dalam. Begitu ia melangkah dan melihat apa yang terjadi di dalam, ia jadi keheranan dan mengawasi kedua anak muda itu.

"Dasar anak-anak muda yang aneh," pikir si imam. Ia melangkah perlahan meninggalkan kamar itu.

Tiang Keng tetap berdiam diri. Un Kin menangis dan matanya basah.

"Aku tahu, kau pun tahu," kata si nona.

Tiang Keng melongo, ia tak mengerti apa maksud kata-kata si nona itu

"Tahu apa?" akhirnya Tiang Keng bertanya.

Si nona menyeka air matanya. Ia juga kaget mendengar pertanyaan Tiang Keng. Ia sadar kata-katanya tadi tak karuan, ia geli tapi tak bisa tertawa karena ia sedang berduka. Ia hanya terisak-isak sedih.

"Aku tahu, hanya kau yang tahu mengenai meninggalnya orang tuaku itu tapi hanya kau yang tahu siapa pembunuh orang tuaku. Benarkah begitu?" kata si nona.

Tiang Keng heran bukan main.

"Mengapa ia tahu kalau aku tahu asal-usul orang tuanya?" pikir Tiang Keng.

Sebelum sempat menjawab pertanya an si nona, ia teringat sesuatu.

"Barangkali si nona sudah bertemu dengan si imam berkopiah kuning?" ia menduga-duga. "Aku heran, jika si imam sudah bertemu dan memberitahu nama orang tua si nona. kenapa dia tak sekalian mengatakan musuh besarnya?"

0oo0