Dendam Asmara BAB 32. LEE-TO-JIE DIKALAHKAN TIANG KENG DENGAN KELINGKING

BAB 32. LEE-TO-JIE DIKALAHKAN TIANG KENG DENGAN KELINGKING

Lee-to Jie maju. Dia hampiri si anak muda. "Siapa namamu?" dia tanya Tiang Keng, sikapnya jumawa.. "Mau apa kau lari ke mari. nah?" Dia diam sejenak karena sadar kata- katanya tak jelas, ia menambahkan, "Mau apa kau datang ke mari? Aku pikir sebaiknya kau mengikuti teladan kedua orang tadi, segera kau pulang ke rumahmu!"

Tiang Keng tak puas pada sikap Lee-yo Jie, sepasang alisnya berdiri.

"Jika aku mau ke sini, tak ada orang yang bisa melarangku!" kata Tiang Keng dengan suara nyaring.

Orang Hay-Iam (Hai-nan) itu tertawa. Ia mengulur tangannya dan tiga buah jarinya ia tekuk, masing-masing telunjuk, jari tengah dan jari manisnya ke bawah jempol, kemudian ia menunjukkan kelingkingnya yang ia lambai- lambaikan ke muka Tiang Keng. Kemudian ia tertawa aneh.

"Jangan kau anggap kau ini lihay, ya! Di depanku, kau tak lebih seperti ini!" kata Lee-to Jie.

Tiang Keng melengak, kiranya orang menyamakan dirinya dengan kelingkingnya, ia jadi dongkol bukan main

"Kau gila!" bentak Tiang Keng.

Sebelum tawa Lee-to Jie berhenti, tiba-tiba ia menghunus pedangnya, ia langsung meggeser kirinya ke samping, dan ia majukan kaki kanannya, langsung ia menikam muka orang dengan pedangnya itu. Tetapi saat pedangnya tinggal tiga dim dari wajah Tiang Keng, ia menahan pedangnya.

"Kau mau turun gunung atau tidak?" ia mengancam.

Bukan main dongkolnya Tiang Keng, tiba-tiba ia sentil pedang Lee-to Jie dengan kelingkingnya, lalu ia meniru perbuatan Lee-to Jie tadi. ia tunjukkan jari kelingkingnya dan berkata.

"Aku tak mau turun, kau mau apa? Kau yang seperti ini!" kata Tiang Keng.

Lee-to Jie melongo. Semula ia kira orang melengak karena kagum pada gerakan pedang lawannya itu. Saat dia menggerakkan pedang itu ia gunakan tenaga sepenuhnya. Ia heran saat ia lihat Tiang Keng pun mengulurkan tangannya, Tiang Keng menyentil pedangnya lalu menunjukkan jari kelingkingnya.

"Tring!" terdengar sebuah suara yang nyaring.

Tangan Lee-to Jie terasa kesemutan oleh sentilan istimewa itu. la mundur sambil terhuyung sejauh dua langkah. Untung ia masih, bisa memegang pedangnya yang tersentil itu, hingga pedangnya tak sampai terlepas, tetapi telapak tangannya terasa panas dan nyeri. Mau tak mau sekarang ia yang melengak kaget. Tiang Keng tertawa.

"Tahukah kau apa nama sentilanku itu?" tanya Tiang Keng.

Lee-to Jie diam, mereka saling pandang dengan kedua saudaranya. Jelas mereka tak tahu nama sentilan itu.

Menyaksikan mereka tercengang. Tiang Keng tertawa pula, ia melangkah maju, lalu berjalan melewati Lee-to Jie. Ia terus mendaki. Ketika ia menoleh ke arah kereta, sekarang ia tak melihat apa-apa lagi. Baik kusir maupun nona-nona berbaju merah itu telah lenyap semua. Sekarang yang ada tinggal kereta kosong yang tetap nongkrong di tepi jalan. Ia terus mendaki hingga hampir tiba di tempat tujuan. Ia tak mau turun, jika ia turun pasti ia akan jadi bahan tertawaan.

Memang Tiang Keng ini besar kepala, ia tak pernah mau mengalah. Perlahan-lahan ia terus mendaki. Sambil mendaki ia berpikir, memikirkan cara menghadapi musuh andaikata ia dirintangi. Sambil mendaki ia sering menoleh ke belakang, melirik ke arah tiga orang kate dari Hay-lam itu. Lee-to Toa dan dua saudaranya masih saling mengawasi. Otak mereka sedang berpikir, "Bagaimana sekarang? Yang pasti Tiang Keng harus mereka rintangi atau tidak! Jika tak mereka rintangi, bagaimana dengan nama baik mereka? Nama "Hay-lam Sam Kiam" atau "Tiga Jago Pedang Dari Hay-lam" Jika mereka menghadang, bisakah mereka mengalahkan Tiang Keng? Sungguh hebat! Kalau mereka kalah mereka bakal mendapat malu besar.

Setelah saling pandang, mereka melihat ke sekelilingnya.

Keadaan gunung sunyi-sunyi saja. Di tempat itu tak ada orang lain kecuali mereka bertiga, sedang Tiang Keng sedang mendaki dengan tenang. Setelah berpikir dan saling mengawasi mereka diam.

"Di tempat ini tak ada orang lain jika kita kabur tak ada yang melihatnya habis perkara dan tak ada yang tahu..." pikir mereka.

Mereka bukan sahabat baik Un Jie Giok, jelas mereka tidak ingin mengorbankan jiwa mereka secara sia-sia di atas gunung itu. Setelah mereka saling pandang kembali, ketiganya lalu berjalan turun meninggalkan gunung....

Tiang Keng berjalan perlahan, ia sadar ia bisa dibokong jika orang ingin membokongnya. Ia heran dari arah belakangnya keadaan tetap sunyi. Kembali ia menoleh ke belakang. Ia heran ia tak melihat ketiga orang Hay-lam itu di sana. Samar- samar ia melihat mereka sedang berjalan menuruni gunung di balik pohon-pohon.

"Lucu juga," pikir Tiang Keng.

Tadi ketiga orang itu demikian galak tapi sekarang mereka pergi dengan diam-diam. Ia mengawasi ke atas. Ia diam.

Keadaan tempat itu sunyi hingga suasana di tempat itu menyeramkan. Di tempat yang sesunyi itu bukan tak mungkin ada orang sedang bersembunyi di balik pepohonan..... "Ke mana aku harus mencari Un Jie Giok?" pikir Tiang Keng. "Aku tak boleh terus mendaki seperti ini Sedang

nona-nona berbaju merah dan kusir itu entah ke mana perginya. Aku jadi tak punya penunjuk jalan lagi. Apa lebih baik aku turun gunung saja "

Ia baru berpikir sampai di situ. tiba-tiba ia tertawa.

"Tidak bisa!" Ia berpikir lagi. "To Tiang Keng, kau tak boleh pergi. Jika kau tak berani naik gunung, dan kau akan pergi seperti ketiga orang itu, oh bodohnya. Kau jangan mencari alasan yang tidak-tidak! Jika kau sekarang tak mencari mereka, apa kau kira mereka kelak tak akan mencarimu?"

Tiang Keng lalu membusungkan dadanya, dan kakinya kembali melangkah naik. Keadaan di sekitarnya tetap sunyi. Tiang Keng jadi iseng sendiri. Tanpa terasa ia bersenandung. Ia berharap akan muncul seseorang, tak peduli siapa dia...

.Tapi kesunyian tetap menguasai tempat itu...

"Ah!" Tak lama Tiang Keng bersenandung lagi, suaranya makin keras. Di tempat yang mendaki itu ia tak bisa menggunakan ilmu berlari kencang. Untuk mencari Ang-ie Nio- nio ia harus mendaki perlahan-lahan. Ia berjalan terus dan akhirnya ia melihat beberapa bangunan di depannya. Ia mempercepat langkahnya. Sesudah dekat, ia lihat bangunan itu ternyata sebuah wihara (vihara). Wihara itu dibangun di atas sebuah tanjakan, merknya "Thian Sian Sie" Itu sebuah wihara yang sudah rusak, papan namanya pun sudah luntur dan tidak lagi.

"Ah, sayang," kata Tiang Keng sambil menghela nafas. Ia yakin wihara rusak ini tak ada sangkut-pautnya dengan Un Jie Giok. Dengan tak acuh Tiang Keng masuk ke pendopo. Samar- sama ia lihat patung-patungnya masih lengkap. Sebuah patung paling besar yang berada di tengah, tingginya setombak lebih, alis patung itu turun seolah ia sedang memuji demi keselamatan umat manusia... Di empat penjuru ruangan penuh dengan gambar-gambar Sang Buddha saat beliau memperoleh penerangan di bawah pohon Bodhi.

Tiang Keng tak mengira hari itu ia bakal memasuki rumah suci. Ia maskul. Kembali ia menghela napas. Kemudian ia bersihkan sebuah pou-toan dan di sana ia duduk. Dalam kesunyian kembali ia berpikir. Tak lama ia mendengar suara alat sembayang dibunyikan.

"Tok..tok...tok..." Itu adalah suara bok-gie, alat sembahyang dari kayu mahoni yang biasa dipakai oleh seorang pendeta, suara itu datang dari arah belakang wihara.

"Heran?" pikir Tiang Keng. Ia berusaha mendengarkan datangnya suara alat itu.

Tiba-tiba Tiang Keng melompat. Ia masih mendengar suara tok-tok itu terus berbunyi. Itu sebenarnya tak mengherankan terjadi di sebuah kuil, wihara atau kelenteng, yang mengherankannya ia dengar suara alat itu di Thian-bak-san dalam suasana sunyi seperti itu.

Untuk memastikan lebih jauh. Tiang Keng berjalan cepat ke belakang wihara. Di sebuah pekarangan dalam, ia lihat ada cahaya api, datangnya cahaya itu dari sebuah ruangan yang jendelanya masih utuh. Ini sungguh luar biasa. Ia jadi curiga dan ingin memperoleh kepastian. Ia melompat naik ke payon. Daun jendela kamar itu tertutup rapat, di bagian atasnya terdapat erang-erang atau kisi-kisi, dari sana Tiang Keng mengintai ke dalam kamar itu.

Di ruangan itu cuma ada sebuah meja terletak di tengah ruangan, di atas meja terletak sebuah Leng-pay (Papan nama yang biasa disembahyangi), di samping papan iyu ada sebuah pelita yang cahayanya suram. Pada leng-pay itu terdapat tulisan yang tak terlihat jelas oleh Tiang Keng, entah apa bunyi tulisan itu. karena dari atas payon hurufnya tak terbaca. Apa yang luar biasa di situ berlutut seorang perempuan, tapi yang dilihat oleh Tiang Keng hanya bagian belakang atau punggungnya saja. Rambut perempuan itu lebat hitam dan indah.

"Aneh. siapakah wanita ini?" pikir Tiang Keng. "Mengapa ia sendirian saja di sini?"

Perempuan itu sedang membaca doa dan suaranya perlahan sekali. Suara Bok-gie mendatangkan rasa haru....

0oo0