Dendam Asmara BAB 31. TIANG KENG DIBANTU OLEH TIGA PENDEKAR KATE

BAB 31. TIANG KENG DIBANTU OLEH TIGA PENDEKAR KATE

Saat nona-nona itu sedang keheranan dan kusir kereta sedang bengong saja, Poan Sun Yang dan Siu Bie To kaget dan mereka pun kuatir. Beradunya senjata mereka membuat telapakan tangan mereka terasa nyeri sekali. Syukur mereka masih sadar hingga keduanya melompat mundur teratur.

Sejak mereka muncul di kalangan Kang-ouw, mereka baru pernah dikalahkan oleh Tiong-goan Tay-hiap To Ho Jian. mereka tak menyangka sekarang mereka dikalahkan oleh seorang anak muda yang mereka tak kenal. Sambil melompat mundur mereka mengawasi Tiang Keng dengan tajam. Mereka pun tak pernah menduga pemuda itu demikian lihay, hingga mereka jadi heran dan bertanya-tanya dalam hatinya, "Siapakah anak muda ini? Mengapa masih demikian muda begitu lihay!"

Poan Sun Yang tabiatnya keras, hingga karena gusarnya dagingnya jadi bergerak-gerak, la ingin sekali menusukdada Tiang Keng hingga tewas. Oleh sebab itu kembali ia menyerang.

Sejenak Siu Bie To tercengang, tak lama ia pun ikut maju pula. Tiang Keng yang tadinya mengira kedua musuhnya otu akan menyerah kalah.tak di kira mereka malah bandel dan tak mau sudah. Dengan nyaring Tiang Keng berseru.

"Aku telah bermurah hati pada kalian, ternyata kalian tak tahu diri. nah jangan kau salahkan aku sangat keterlaluan!" kata Tiang Keng.

Turunnya Tiang Keng ke kalangan Kang-ouw dengan tujuan untuk membalas dendam, namun ia tak ingin membunuh orang sembarangan saja, ia juga tak berniat membunuh kedua orang yang angkuh itu. Tak demikian dengan si Dewa Gemuk dan si Buddha Kerempeng itu. Mereka belum sadar bagaimana lihaynya si anak muda. Mereka menganggap bahwa kekalahan mereka tadi hanya karena mereka kurang waspada saja. Sekarang mereka berkelahi lebih bersungguh-sungguh dan waspada, sedang serangan mereka keras dan berbahaya.

Sekarang Tiang Keng jadi terkepung, hal ini membuat nona-nona yang menontonnya itu jadi kagum karena Tiang Keng seolah membiarkan dirinya terkepung oleh kedua

lawannya itu. Mereka tak tahu kalau Tiang Keng justru sedang berpikir lain.

Tiang Keng tahu mungkin mereka akan mendapat bala- bantuan, tapi ia tak ingin buru-buru menyelesaikan pertarungan itu. Ia tertarik oleh cara mereka bersilat, hingga ia berpikir akan terus melayani mereka. Lagipula ia ingin menyaksikan ilmu silat lawannya itu, sebab dengan melihat tipu-silat mereka pengetahuannya akan bertambah. Jika lawannya bersikap bengis dan keras, ia hanya berkelit menghindar saja.

Lama-lama si imam gemuk dan si pendeta kurus jadi bingung sendiri. Di gunung Thian-bak banyak jago silat. Benar semua berhasil dikumpulkan oleh Un Jie Giok. tetapi di antara mereka ada yang memusuhinya. Jika mereka tak segera bisa mengalahkan Tiang Keng, mereka akan malu karena tak mampu dan akan ditertawakan oleh para penonton.

Karena berpikir demikian mereka langsung berseru dan maju bersama-sama dan mendesak ke arah Tiang Keng. Pedang dan golok saling bergantian menyerang secara bertubi-tubi, sehingga anginnya menderu dan sinar pedang serta golok mereka itu berkilauan cahayanya.

Menyaksikan kedua orang itu demikian kejam dan hendak membunuhnya, Tiang Keng jadi dongkol juga, ia mencari celah untuk balas menyerang mereka, saat ia lihat si imam menyerang ke arah dadanya, ia ulur tangan kirinya. Si imam terperanjat. Ia kira Tiang Keng hendak menyentil pedangnya lagi seperti tadi. Buru-buru ia berkelit ke sebelah kanan. Tiang Keng memang gesit luar bias. Ketika ia lihat lawannya berkelit ke kanan, ia susul dan tangan kanannya ia ulur. Kedua tangan Tiang Keng maju secara bersamaan. Tangan kanan menghadang tangan kiri menyusul menyerang. Maka tak ampun lagi pedang si imam jadi terjepit di antara kedua telapak tangan Tiang Keng. Dan Tiang Keng bergerak lebih jauh, tangan kanannya ia tekuk, sikut Tiang Keng bekerja dengan cepat menyikut hidung si imam.

Itu sebuah serangan yang cepat luar biasa. Dari semula renggang Tiang Keng merapat. Ia berani berbuat demikian karena mengira lawan sedang bingung karena pedangnya dijepit olehnya. Itu merupakan tipu-silat yang sangat langka, yang tak ada di Bu-tong-pay, Siauw-lim-pay maupun di perguruan Kun-lun-pay.

Poan Sun Yang sudah sangat berpengalaman berkelahi, ia banyak mengenal berbagai tipu-silat dari berbagai partai, tapi sekarang ia dibuat bingung sekali. Dia terperanjat Ia coba menarik pedangnya dari jepitan si anak muda. Ia kembali terkejut. Di luar dugaan pedangnya terjepit di antara telapak tangan Tiang Keng dengan keras sekali. Pedang itu terjepit dan tak bisa bergerak hingga ia tak mampu menarik pedangnya. Tiba-tiba siku Tiang Keng mengarah kan serangannya ke hidung lawan, karena takut kena sikut lawan, maka terpaksa ia lepaskan cekalan pada pedangnya, lalu melompat mundur.

Siu Bie To menyaksikan kawannya terancam bahaya, ia melompat sambil membacok hendak menolong sang kawan dari serangan lawan. Semua berlangsung cepat tanpa dipikir lagi.

Saat itu Tiang Keng sedang menghadapi Poan Sun Yang, ia pun sedang menggunakan kedua tangannya, wajar kalau tubuhnya jadi terbuka tak terlindungi. Tapi sedetik saja ia melihat bahaya mengancam atas dirinya, mau tak mau ia harus menyelamatkan dirinya. Ia tak sempat berkelit atau menggeser kakinya. Justru pada saat pedang yang ia jepit dilepaskan oleh Poan Sun Yang, pedang itu ia angkat untuk dipakai menangkis serangan dari Siu Bie To, saat itu pedang lawan masih ia jepit.

Serangan Siu BieTo yang keras mau tak mau beradu dengan pedang kawannya vang ada di tangan Tiang Keng. Hingga akhirnya ia jadi kaget sekali. Golok Siu Bie To terlempar, terlepas dari cekatannya, karena telapak tangannya terasa sangat nyeri. Golok Siu Bie To pun melayang ke arah para nona berbaju merah.

Bukan main terkejutnya nona-nona itu, mereka menjerit dan membubarkan diri dari kerumunan, tak seorang pun ada yang berani menyambut atau menangkis golok yang berbahaya itu.

Pendeta dan imam itu berdiri dengan tercengang-cengang, mereka heran dan penasaran sekali ditambah malu. Mereka berdua dikalahkan dengan cara luar biasa sekali. Siu Bie To bungkam. Sedang Poan Sun Yang mendelik matanya dan berkata dengan nyaring. "Lekas kau bunuh kami. atau tinggalkan namamu, agar kelak kami bisa mencarimu dan membalas kekalahan kami hari ini!" kata Poan Sun Yang dengasn tegas.

Tiang Keng tertawa tawar. Sebelum ia menjawab dari dalam rimba muncul tiga orang, mereka bertubuh pendek dan gemuk. Tiang Keng mengawasi ke arah ketiga orang yang baru muncul itu. Bukan saja tinggi dan gemuknya sama mereka juga mengenakan pakaian seragam. Baju mereka loreng lima macam, pada malam hari baju itu seperti mengeluarkan cahaya berkeredepan, bergerak-gerak di antara tiupan sang angin. Tak tahu pakaian itu dari bahan apa. Di pinggang mereka masing-masing tergantung sebilah pedang, pada sarung pedang mereka itu tertabur batu permata, hingga batu permata itu berkilauan terkena cahaya pakaian mereka.

Poan Sun Yang sudah pendek atau kate, tapi ternyata ada yang lebih kate lagi dari Poan Sun Yang. Hingga orang itu bundar mirip bola saja. Mereka maju perlahan-lahan. Setelah dekat yang di sebelah kanan berkata, "Aku Lee To-toa!".

"Aku Lee To-jie!" kata yang di tengah.

"Aku Lee To-sam," kata yang di sebelah kiri.

Suara mereka sama nadanya dan sama anehnya. Mula- mula Tiang Keng melengak, kemudian baru ia tahu orang memperkenalkan diri tanpa diminta.

Tiang Keng terus mengawasi ketiga orang kate yang baru tiba itu. Bukankah Poan Sun Yang dan Su Bie To menyembunyikan nama mereka, sebaliknya mereka bertiga ini mengobral nama mereka. Nama mereka pun tak kurang anehnya..

Jelas mereka she (bermarga) Lee-to. dan usia mereka jadi rutan dan nama-nama mereka. Toa berarti yang besar, "Jie" yang kedua dan "Sam" yang ketiga. Sebenarnya itu bukan nama tapi panggilan sesuai urutan. Tiang Keng juga merasa heran karena ke Thian-bak-san telah berdatangan orang- orang aneh. Mereka masing-masing mengacungkan jempol mereka sambil berkata.

"Bagus! Bagus!" ucapan itu ditujukan ke arah Tiang Keng.

Tiang Keng mengawasi mereka, ia tak mengerti apa maksudnya.

"Anak muda bagus ilmu silatmu!" kata mereka. "Jelas kau telah berhasil mempelajari ilmu silat dari pulau Hu-song. Sejak aku melihat ilmu silat ini dipraktekkan oleh murid dari partai Ryugyo, belum pernah aku melihatnya lagi cukup lama, selain tadi itu "

Sulit Tiang Keng mendengar dan mengerti maksud ucapan orang itu. Tapi benar sekali ilmu silat itu adalah ajaran dari Su- khong Hoa yang dia peroleh dari Gu-song (Jepang), seorang Ronin (Ronin bahasa Jepang artinya pesilat, red) yang merantau ke Tiongkok. Tapi ilmu silat itu telah diubah dan disempurnakan lagi oleh Su-khong Hoa. Karena Ronin itu melanggar aturan gurunya, ia kabur ke Tiongkok, di Tiongkok ia mencoba mengangkat namanya, tapi ia bertemu dengan

Su-khong Hoa, ia takluk dan kalah oleh ilmu silat Tionghoa. Karena tipu-silat Ronin itu bagus, Su-khong Hoa mengambilnya sebagai dasar dan ia menciptakan jurus yang baru atas dasar ilmu silat itu.

Ketika Su-khong Hoa bercerita pada muridnya sambil tertawa. "Di Tiongkok ini,cuma ada beberapa orang saja yang mengenal tipu-silatku ini." kata guru Tiang Keng.

Sekarang ternyata tiga orang kate itu mengenalnya. Saat Tiang Keng sedang keheranan karena tiga orang kate itu mengenal tipu-silatnya, ia mendengar Lee-to Toa tertawa terkekeh-kekeh, ia awasi si pendeta dan si imam dengan tajam, la Ialu berkata, "Pada mulanya aku kira ilmu silat kalian bagus sekali, tapi tak kukira hi hi hi. ternyata tak bermanfaat sama sekali! Untuk apa kalian banyak laga lagi? Lebih baik kalian segera pergi!" Wajah Poan Sun Yang dan Siu Bie To jadi merah padam serta pucat-pasi. Tubuh si imam bergerak-gerak lagi, keduanya diam saja. Rupanya mereka sedang berpikir keras. Marah salah tidak marah pun salah juga. Gusar tapi mereka tak berdaya dan malu pula. Tiang Keng mengawasi bekas kedua lawannya itu.

"Namaku To Tiang Keng," ia memperkenalkan diri. "Jika kalian ingin menuntut balas, kalian boleh mencariku!"

Mendengar nama Tiang Keng disebutkan Poan Sun Yang terperanjat. "Kau pernah apa pada To Ho Jian?" kata dia.

"Dia ayahku!" jawab Tiang Keng terus terang dan sikapnya hormat sekali.

Kedua orang itu terkejut, mereka saling mengawasi satu sama lain, lalu kedua-duanya menarik napas. Tampak mereka menyesal dan penasaran, karena sebagai jago mereka telah dua kali dikalahkan, baik oleh ayah anak muda ini maupun oleh anaknya. Langsung hati merekajadi dingin. Keduanya lalu mengawasi tiga orang aneh itu. Akhirnya mereka pergi dengan tak memperdulikan golok dan pedang meeka lagi. Tiga orang aneh itu tertawa menyeramkan. Sedang Lee-to Sam berkata dengan nyaring, "Segala manusia tidak berguna, mereka berani muncul di sini!"

Semula Tiang Keng mengira mereka berkomplot, ternyata tiga orang kate dan aneh itu malah mengejek Poan Sun Yang dan Siu Bie To berdua. Ia juga heran mereka memuji dirinya dan mengejek lawan-lawannya. Tiang Keng pun tak mengetahui, kalau ketiga orang kate aneh itu pernah belajar ke Hu-song dan mereka dari Hay-lam-pay, tak heran jika ia mengenal ilmu silat Jepang itu. Saat mereka pulang dari Jepang, mereka diundang oleh Un Jie Giok yang membutuhkan tenaga mereka ini.

Sudah lama mereka tinggal di negeri asing, hingga ia jadi buta mengenal Dunia Persilatan di Tiongkok, malah mereka tak meremehkan pesilat Tiongkok, oleh karena itu mereka jadi tak menghargai Poan Sun Yang dan Siu Bie To yang banyak lagaknya itu.

Sudah beberapa hari mereka saling mengejek, namun karena bahasa Tionghoa mereka sudah tak mahir lagi, mereka kalah bicara sehingga mereka semakin benci kepada si imam gemuk dan si pendeta kurus. Tadi mereka menyaksikan si imam dan pendeta itu dikalahkan oleh Tiang Keng.

Kesempatan itu mereka pergunakan untuk menghina lagi kedua orang itu. Untung Poan Sun Yang dan Siu Bie To sudah kalah pamor dan mati kutu, jika tidak pasti akan terjadi pertarungan hebat di anatara mereka. Saat mereka sedang mengawasi perginya si imam dan si pendeta kurus yang menghilang di tempat gelap, Tiang Keng pun sedang berpikir keras.

"Heran mereka ini! Mengapa bahasanya tak kumengerti, macamnya pun begitu aneh? Pasti mereka lihay. jika tidak mana berani mereka menghina si imam dan pendeta itu.

Siapakah mereka ini, musuh atau kawan?" pikir Tiang Keng agak bingung.

Tiang Keng mengawasi ketiga orang kate itu. Setelah mereka berhenti tertawa, wajah mereka berubah jadi dingin dan semuanya mengawasi ke arahnya dengan tajam.

Sekarang lenyap wajah yang tadi mengaguminya itu.

Melihat hal itu Tiang Keng terpaksa waspada kembali. Ia juga balas mengawasi dengan tajam. Ia kelihatan tak gentar, tapi ia merasa aneh benar-benar di Thian-bak-san terdapat banyak orang lihay. Ini sangat berbahaya jika setiap saat bermunculan orang-orang dari Thian-bak-san satu persatu, jiwanya bisa terancam.

0oo0