Dendam Asmara BAB 28. TIANG KENG MENDENGARKAN SEBUAH RAHASIA BERHARGA

 
BAB 28. TIANG KENG MENDENGARKAN SEBUAH RAHASIA BERHARGA

Kemudian enci ini tertawa juga. Ia tak tahan melihat kejenakaan kawannya itu. "Kalian ingat tidak?" katanya melanjutkan. "Dulu saat kalian masih kecil, ada seorang imam sudah tua, tapi kelihatan tak terlalu tua, dia datang ke tempat kita hendak mencari Couw-koh!"

Tiang Keng tercekat. "Apa yang si nona maksudkan Ban Biauw Cin-jin?" Tiang Keng menduga-duga.

Segera ia memperhatikan kata-kata nona itu. Di dalam kereta terdengar gumaman nona-nona itu agak perlahan.

"Aku sudah lupa." kata seorang nona. Ada juga yang berkata, "Ya. aku ingat!"

"Saat itu usiaku lebih tua dua tahun dari kalian." kata si Enci. "Dan aku masih ingat benar! Mengapa ia berani mencari Couw-koh? Apa ia tidak tahu kalau Couw-koh paling benci pada pria? Tapi imam itu kelihatannya baik, maka aku bersedia mengantarkannya ke kamar Couw-koh " Suara nona ini perlahan sekali, rupanya ia bicara sambil berpikir.

"Saat Couw-koh melihat imam itu. kelihatan dia sangat benci!" kata si nona melanjutkan. "Aku tak berani masuk ke kamar Couw-koh, tapi aku pun serasa berat untuk meninggalkan kamar Couw-koh. Lalu aku mencuri dengar di balik pintu kamar.

"Ah kiranya Enci juga tak tahu aturan!" sela si nona bandel itu sambil tertawa.

"Ah, nona ini benar-benar bandel," pikir Tiang Keng.

Si Enci mendongkol tapi ia tak menghiraukan ucapan si bandel.

"Kudengar Couw-koh bertanya bengis. 'Mau apa kau datang ke mari?' si imam menyahut suaranya perlahan, hingga aku tak mendengar apa yang ia katakan. Aku dengar bentakan Couw-koh, 'Lekas pergi!" Aku terus menunggu. Aku tak mendengar suara apa-apa dan si imam pun tak keluar dari kamar Couw-koh. Aku khawatir mungkin si imam telah dibunuh..

Kemudian di dalam kereta jadi sunyi. Tak terdengar lagi suara tawa. kecuali suara si nona bandel. Rupanya ia tertarik oleh cerita si Enci.

Tiang Keng pun tertarik sekali. Ia yakin cerita si nona sangat penting baginya.Ia coba mendengarkan lagi.

"Ketika itu nona kita ada di belakang gunung," kata si enci yang ia maksudkan

Un Kin. "Sedang kalian entah ke mana, hingga tinggal aku sendiri di depan kamar Couw-koh. Aku dengar Couw-koh mencaci tak hentinya, suaranya keras. Kemudian perlahan- lahan suara Couw-koh sirna. Sedang imam itu tetap berada di dalam kamar " Dia berhenti bicara sebentar, lalu melanjutkan lagi dengan suara berat.

"Kejadian itu terpendam dalam hatiku sampai saat ini.

Sampai sekarang aku tetap heran. Sekarang kuberitahukan pada kalian, tapi ingat kalian jangan cerita lagi pada orang lain! Jika kalian cerita, jiwa kalian bisa melayang!"

Tiang Keng menghela nafas panjang.

"Begini sulitnya wanita menyimpan rahasia," pikir Tiang Keng. "Dia sendiri tak bisa menyimpan rahasia, bagaimana ia minta orang lain tak membuka rahasia?"

Terdengar suara enci yang rupanya puas dan lega hatinya karena bebannya selama ini telah buyar.

"Semula aku ingin mengintip ke dalam kamar," ia melanjutkan. "Tapi aku takut, selang tak berapa lama aku dengar lagi suara Couw-koh. Dia memanggilku, aku jadi terkejut dan ketakutan bukan main. Aku takut Couw-koh mengetahui aku menguping di luar kamar, aku juga tak berani tidak datang setelah dia memanggilku "

Suara nona itu perlahan ditambah lagi suara roda kereta sangat berisik. Hal ini membuat Tiang Keng harus bersusah payah memasang telinganya.

Keadaan di dalam kereta sunyi. sampai ada nona yang bertanya.

"Lalu Couw-koh memanggilmu mau apa?" Dan ada pula yang berkata,"Kalau aku yang dipanggil, aku tak berani datang, bagaimana kalau Couw-koh menghukumku?"

Si Enci menghela nafas.

"Waktu itu aku juga berpikir sama denganmu," kata dia. "Tapi aku memberanikan diri, aku berjalan masuk. Aku lihat si Couw-koh sedang berbincang dengan si imam, aku tak melihat Couw-koh sedang gusar, malah dia tersenyum. Aku dibawa ke gunung sejak aku berumur tujuh tahun, belum pernah aku melihat Couw-koh tertawa. Aku tak mengira ia bisa bicara sambil tertawa dengan seorang pria. Ketika itu aku jadi heran sekali hingga aku diam saja."

Semua nona-nona itu menahan nafas. Tak lama terdengar mereka bertanya dengan bernafsu

"Benarkah begitu? Apa benar?" kata mereka.

Si Enci tidak langsung menjawab. Tak lama ia melanjutkan ceritanya.

"Aku heran, tapi keherananku tak kutunjukkan. Couwkoh menyuruhku menyiapkan makanan dan arak. Lalu aku disuruh menunggu di luar. Tak seorang pun boleh masuk, begitu pesan Couw-koh padaku. Si imam mengawasiku ia tertawa, agaknya dia sangat puas. Tadinya kesanku baik padanya entah mengapa aku jadi benci padanya." Si nona menarik nafas dan melanjutkan. "Saat si imam datang ketika itu lewat tengah hari. Itu saat nona kita belajar. Aku menunggu sampai keadaan gelap. Si imam tetap tak keluar juga. Aku lapar sekali. Mereka berbincang perlahan sekali, terkadang terdengar suara tawa mereka. Tapi suara mereka makin lama makin perlahan, bahkan sampai tak terdengar lagi. Aku heran, apa yang mereka lakukan berdua di dalam kamar itu?"

Di dalam kereta tak terdengar suara lagi, rupanya mereka sedang memikirkan sesuatu seperti si enci ini. Mereka memikirkan dan ingin tahu apa yang dilakukan si nenek dan si imam di dalam kamar itu.

Tiang Keng pun berpikir ia hampir tak percaya pada kata- kata nona itu. Tapi ketika Tiang Keng ingat ucapan si nenek tadi pagi Tiang Keng baru sadar.

“Bukankah Un Jie Giok membenci pria karena wajahnya jelek?" pikir Tiang Keng. "Dia tahu tak akan ada pria yang menyukainya, sedang Ban Biauw bisa menggunakan kelemahannya itu. mungkin si imam bisa membujuk dan merayunya, hingga robohlah hati si nenek. Jika benar begitu, sungguh hina perbuatan Ban Biauw Cin-jin itu! Tapi mengapa Ban Biauw berbuat demikian?"

Tiang Keng berusaha memecahkan teka-teki itu dengan kemampuan otaknya. Namun, sebelum ia mendapat jawaban mengenai teka-teki itu, ia dengar si enci bicara kembali.

"Saat cuaca sudah gelap, si nona muncul dari ruang belakang," kata dia. "Lalu kuhadang si nona untuk mencegah agar dia tidak masuk ke kamar Couw-koh. Tapi si nona memaksa mau masuk juga, aku jadi ketakutan setengah mati. Kalian tahu adat nona kita. jadi mana mampu aku mencegahnya. Aku takut....Aku takut "

Sampai dua kali kata-kata "aku takut" itu diulanginya, la diam. Sekalipun dia tak mengatakannya, tapi orang sudah bisa menerkanya. Kembali di dalam kereta jadi sunyi, jelas mereka mengkhawatirkan keselamatan si nona.

Sementara itu kereta sudah mendekati Thian-bak-san dan kota Lim-an sudah tertinggal jauh sekali.

Kereta dilarikan dengan kencang tapi sayang jalannya rusak berat, hingga kecepatan kereta agak terhambat. Seandainya orang naik kuda pasti dia sudah sampai di atas gunung itu.

Setelah sunyi sekian lama si enci menghela nafas dan mulai bicara lagi.

"Aku takut dan bingung," kata dia. "Aku ingin menarik tangan nona kita. Tapi bukan aku bisa menariknya malah aku tertarik dan masuk bersamanya. Bukan main ngeri dan takutku hingga aku memejamkan mataku. Tiba-tiba aku dengar suara Couw-koh. "Hai sedang apa kalian main tarik- menarik? Lepaskan tangan kalian!” Aku tercengang, lalu kubuka mataku " Ia berhenti sejenak. Tiang Keng

keheranan, ia jadi tegang dan ingin tahu kelanjutan cerita si nona. Hampir ia bertanya, tapi untung ia bisa menahan diri. Sebaliknya beberapa nona bertanya seperti yang akan dilakukannya.

"Bagaimana eh?" kata mereka. Yang ditanya menghela nafas. "Di dalam kamar hanya ada Couw-koh sendirian," kata si nona. "Couw-koh rebah sambil bersandar di pembaringan. Si imam tak ada entah kapan ia pergi

Nona-nona itu menghela nafas lega, begitu pun si enci. "Sejak saat itu," dia melanjutkan lagi. "Tabiat Couw-koh

berubah sekali, mungkin kalian tak mengetahuinya, dia

semakin aneh! Adakalanya dia ramah sekali, tapi terkadang galak sekali. Aku tahu sebabnya, tapi tetap kusimpan dalam hati, mana berani aku mengatakannya."

Sampai di sini Tiang Keng sadar bahwa antara Un Jie Giok dan Ban Biauw Cin-jin ada hubungan rahasia sangat istimewa. Jika ia tak mendengar dari si enci, ia sulit percaya Ang-ie Nio- nio bisa berlaku seperti itu. Sekarang ia sadar apa yang ia dengar tadi pagi dan belum jelas, sekarang menjadi jelas sejelas-jelasnya.

"Sejak itu, beberapa tahun terakhir ini," si enci melanjutkan, ia jadi senang bicara. "Diam-diam aku menaruh perhatian! Sejak itu aku sering melihat si imam kerap kali datang menemui Couw-koh. Mungkin di antara kalian pun pernah melihat kedatangannya. Tapi mungkin kalian tak tahu di antara Couw-koh dan si imam ada hubungan apa-apa.

Setiap ia pergi aku pernah mengintai, si imam selalu membawa sebuah bungkusan. Aku juga tahu setiap saat barang simpanan milik Couw-koh makin berkurang dan semakin sedikit. Malah kadang-kadang Couw-koh turun gunung seorang diri dan lama tak pulang-pulang. Dia tak pernah bicara, tapi aku tahu dia sedang mencari siapa "

Kemudian terdengar suara tawa nona-nona itu.

Tak lama terdengar suara si nona bandel berkata sambil tertawa. "Sekarang aku tahu, Ci. Imam itu bernama Ban Biauw Cin- kun!" katanya.

0oo0