Dendam Asmara BAB 27. TIANG KENG MENGUNTIT MURID-MURID UN JIE GIOK

 
BAB 27. TIANG KENG MENGUNTIT MURID-MURID UN JIE GIOK

Saat In Kiam, Tiang Keng dan Tiong Teng masih berdiri diam, tiga orang melangkah mendekati mereka. Ketiga orang itu dandanannya rapi sekali, sikap mereka pun halus namun tampak gesit. Mereka memberi hormat.

"Semoga Tuan-tuan dalam keadaan baik-baik saja," kata mereka.

In Kiam sedang berpikir keras, melihat kedatangan mereka, In Kiam tertawa.

"Ah, rupanya kalian murid-murid yang pandai dari Cio Loo- ya-cu!" kata In Kiam yang mengenali mereka itu. In Kiam menoleh ke arah puteranya. "Tiong Teng, beri hormat pada mereka! Mereka ini murid-murid Cio Loo-ya-cu dari Yan Bu Piauw Kiok yang ternama. Sudah sepuluh tahun kita tak bertemu, aku girang melihat kalian begini gagah! Sudah lama Cio Loo-ya-cu tak meninggalkan kota, apa beliau sehat-sehat saja!" Saat mendengar kata-kata In Kiam wajah ketiga orang itu berubah jadi murung.

"Eh mengapa kalian ini?" kata In Kiam. Salah seorang maju sambil memberi hormat.

"Suhu kami telah menutup mata tiga tahun yang lalu..." katanya.

Mendengar jawaban itu I n Kiam terkejut. "Ah benarkah?" kata In Kiam. "Oh, sungguh tak kusangka, baru beberapa tahun, aku telah kehilangan lagi seorang sahabat kekalku... Pantas, setelah banyak yang tua-tua meninggal, dunia Kang- ouw jadi begini, setiap hari badai dan gelombang bermunculan!"

Tampak In Kiam berduka sekali

Tiong Teng turut berduka, ia diam saja. Sesaat kemudian In Kiam mengangkat kepalanya.

"Hiantit, kalian bertiga meninggalkan Kotaraja, apakah akan pergi ke Thian-bak-san?" tanya In Kiam pada ketiga orang itu.

"Benar, Loo-ya-cu," jawab mereka.

In Kiam tersenyum, tapi saat ia menoleh ia kaget. "Mana Tiang Keng?" tanyanya dengan suara keras dan

heran.

Tiong Teng ikut terkejut. Ia pun menoleh, ia tak melihat anak muda itu berada di situ. Rupanya saat In Kiam bicara dengan tiga orang itu diam-diam Tiang Keng ngeloyor pergi.

In Kiam berduka alisnya berkerut.

"Ah Tiang Keng!" keluhnya. "Ke mana dia?"

Sesudah berkata begitu In Kiam lari ke depan, ia lihat orang-orang masih berkerumun dan lalu-lalang di jalan raya. Ia tak melihat keponakannya ada di sana. Ia berbalik akan mencari di tempat lain, tapi tetap sia-sia.

"Mungkin Tiang Keng menemukan sesuatu," Tiong Teng menduga-duga. Ia tahu Tiang Keng tak akan pergi begitu saja tanpa sebab. Memang Tiang Keng masih muda namun anak itu cerdas dan cekatan.

Tiga murid Cio Loo-ya-cu tersenyum, mereka memberi hormat pada Tiong Teng seraya berkata,"In Siauw-hiap, jika Anda ada urusan, silakan besok saja kami menemui kalian!"

Sesudah itu mereka pergi karena mereka mengira ayah dan anak itu sedang sibuk dan banyak urusan hingga mereka tak ingin mengganggunya.

"Terima kasih," kata Tiong Teng sambil mengangguk.

Setelah mereka pergi Tiong Teng pun bergegas akan mencari ayahnya. Setelah bertemu keduanya bersama-sama mencari Tiang Keng, tapi belum juga menemukan anak muda itu. In Kiam bingung dan masgul.

"Ke mana perginya dia?" kata In Kiam bingung.

0oo0

Saat nona-nona berpakaian merah itu pergi. Tiang Keng sedang berpikir keras.

"Aku tahu Un Jie Giok memasang perangkap di Thian- baksan, tapi di mana perangkap itu diletakkan? Jika aku tunggu sampai saat pembukaan, aku rasa aku terlambat. Mereka akan menemui Un Jie Giok, sebaiknya aku kuniii mereka untuk mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Jika aku sudah tahu di mana perangkap itu diletakkan, aku bisa bertindak mendahuluinya ”

Saat berpikir begitu ia lihat nona-nona itu hampir lenyap dari pandangan Tak ayal lagi ia bergerak menyusul mereka tanpa memberitahu lagi In Kiam dan Tiong Teng. Ia lari membuka jalan di antara kerumunan orang hingga ada yang terlanggar hampir jatuh. Sebelum orang itu melihat siapa yang menabrak nya, Tiang Keng sudah lenyap menyusul nona-nona itu.

Nona-nona itu berjalan menuju Keluar kota, ketika itu langit pun agak gelap, berbeda dengan keadaan di dalam kota.

Apalagi saat itu sudah larut malam Karena itu Tiang Keng jadi kehilangan buruannya. Padahal samar-samar ia lihat mereka menuju ke arah itu. Ketika ia pasang telinga, yang terdengar hanya suara angin yang samar-samar bercampur dengan suara roda kereta Maka tak ayal lagi ia berlari ke arah suara itu.

Saat Tiang Keng sedang berlari kencang samar-samar ada bayangan berkelebat di sampingnya. Tapi tak dihiraukannya, ia berlari terus hingga tak tahu itu bayangan apa. Karena cepatnya Tiang Keng berlari tak lama samar-samar ia sudah melihat sosok sebuah kereta di depan dia. Ia lari terus dan jaraknya semakin dekat hingga tampak jelas kereta itu bercat hitam mengkilap Sebuah kereta mewah yang ditarik oleh empat ekor kuda. Di dalam kereta itu memancar cahaya dan terpeta bayangan orang yang duduk di kereta itu. Samar- samar Tiang Keng mendengar suara tawa yang diseling oleh suara roda-roda kereta yang berisik.

Tiang Keng bisa mendengar suara tawa itu dengan jelas, hingga ia yakin ia tak salah kuntit. Segera ia mempercepat larinya untuk menyusul, lalu melompat dengan gerakan yang ringan ke atas belakang kereta itu, hingga sekarang ia tak perlu berlari-lari lagi seperti tadi. la menempel di belakang kereta itu, membonceng

Kereta tetap dilarikan dengan kencang, debu mengepul ke udara. Tiang Keng tak menghiraukan debu yang membubung di belakangnya. Dia hanya berpikir bahwa dia sedang berusaha menyelamatkan orang banyak. Jalan yang dilalui sangat jelek, kereta sering berguncang keras, hingga Tiang Keng harus berpegangan keras agar tubuhnya tak terpelanting dari atas kereta.

Tak lama dari dalam kereta terdengar suara tawa dan kata- kata, "Coba bayangkan, lucu tidak, orang yang cecongornya seperti dia berniat mendapatkan Nona?"

Terdengar suara tawa.

"Ya." kata yang lain. "Mereka semua undangan kita. memang di antara mereka banyak yang tak semenggah, tapi semuanya baik, hanya dia seorang yang paling menjemukan, maka tak heran kalau nona kita memotong hidungnya!"

Kembali terdengar suara tawa riang. "Sungguh kejam!" pikir Tiang Keng.

la mengerutkan alisnya tapi wajahnya tampak senang entah apa yang membuat dia senang.

"Memang dia menjemukan," kata nona yang ketiga. "Katanya duapuluh tahun yang lalu dia ternama. Sedang kita masih muda, tak heran kalau kita belum pernah mendengar nama Hoa-long Pit-ngo. Dulu ia terkenal, tapi sekarang lain! Kau lihat, tadi saat ia mendaki tanjakan menggunakan ilmu meringankan tubuh bernama "Leng-po Sip-pat-coan! Untung Nona yang melayaninya, kalau orang lain. aku kuatir. "

Nona ini bicara sambil tertawa la baru berhenti nona lain menyambung pembicaraannya.

"Kalau kau yang menghadapinya, mungkin kulitmu dikeset seperti kambing dan tubuhmu dilemparkan ke pembaringan!" kata nona lain.

Wajah Tiang Keng berubah merah, tak lama ia mendengar suara tawa riuh dari nona-nona itu.

"Awas!" kata nona yang digoda. "Sekali lagi kau ngaco-belo akan kurobek bacotmu!" Sekali lagi terdengar suara tawa riuh.

Nona yang lain sambil tertawa berkata, "Kau...Aku tahu kau.. Hatimu telah tergoda Lihat saja ketika kau awasi si

Jangkung yang bajunya berwarna gelap itu Segera saja kau

mendahului kami berlari ke arah dia dan menyerahkan kartu undangannya. Malah kau tak tahu malu berkulit muka tebal bicara padanya. —

"Aduh!—Ah, awas kau, kalau kau cubit lagi aku, akan kukatai kau tergila-gila padanya, sedangkan dia tak sudi padamu! Pantas kau bilang Hoa-long Pit-ngo ganteng, tapi dia tak menyukaimu "

Kembali wajah Tiang Keng panas mungkin berubah merah.

Ia tak bisa mendengar senda-gurau. Ia tahu dialah yang dimaksud dengan sebutan "si Jangkung berbaju warna gelap". Sekalipun ia mendongkol tapi ia merasa geli juga. Biar bagaimana senang juga ia mendengar dipuji-puji oleh si nona.

Nona yang digoda itu tak mau mengerti.

"Bagus kau ya, apakah kau kira aku tak tahu? Aku tahu siapa yang kau sukai! Tahukah kalian, yang ia sukai adalah pemuda yang ditangkap oleh Couw-koh, yaitu pemuda berbaju kuning yang dikurung di dalam goa. Saat pemuda itu kita kepung dengan Nie Tong Sian Bu, dia sudah menyukai pemuda itu, tak heran saat dia menotok ia totok dengan ringan sekali "

Tiang Keng kaget rupanya Gim Soan tertangkap oleh Couw- koh (Nenek) dan dikurung di sebuah goa oleh Un Jie Giok.

"Guru Gim Soan ialah Ban Biauw Cin-jin," pikir Tiang Keng. "Padahal Ban Biauw dan Un Jie Giok segolongan, mengapa Jie Giok menahan muridnya? Aneh sekali!"

"Kalian berdua keterlaluan," kata seorang nona. "Di mana saja kalian bertemu, kalian adu lidah! Itu kebiasaan buruk! Belum pernah aku bertemu orang lebih buruk dari kalian. Awas jika kalian tak mau berhenti "

Mendengar sampai di situ Tiang Keng geli sekali. "Mereka ini semua baik, sayang mereka anak buah si

wanita hantu." pikir Tiang Keng. Coba mereka tahu kalau undangan itu mirip dengan panggilan maut, entah bagaimana perasaan mereka?"

Saat cambuk dibunyikan tiba-tiba kereta berbelok. Tiang Keng sedikit terkejut, hingga pikirannya terganggu. Tiba-tiba ia mendengar suara nona lain.

"Tahukah kalian aku juga agak heran " tapi suara itu

berhenti sejenak. Kata-katanya serius. Mungkin si nona pikir tak layak ia meneruskan kata-katanya.

"Kau keterlaluan, Ci," kata beberapa nona. "Kau biasa bicara sepotong-sepotong, kau tak tahu perasaan orang lain "

Nona yang tadi bicara itu agaknya kewalahan.

"Baiklah, nona-nona " Ia berkata pula. "Baik aku berterus

terang. Mari. kuberitahu, aku heran karena "

Lagi-lagi ia tak meneruskan kata-katanya. Tiang Keng heran.

"Mengapa ia ragu-ragu?" pikir Tiang Keng.

Tapi tak lama si nona mulai bicara, ia takut kawannya rewel.

"Tahukah kalian, siapa pemuda berbaju kuning itu?" katanya. "Tahukah kalian murid siapa dia?"

"Mana kutahu!" kata seorang nona sambil tertawa. "Sebaiknya Enci tanya dia, dia pasti tahu!"

Tiang Keng tersenyum. “Ah nona ini Jenaka sekali, tapi bandel sekali. Dia mulai lagi membuat gara-gara." pikir Tiang Keng.

Memang benar tak lama Tiang Keng mendengar si Enci ini bicara lagi.

"Kau ini memang bandel! Katanya. "Orang sedang bicara serius kau malah bergurau. Awas, sekali lagi kau ngaco. aku tak mau bicara!"

"Baik, Ci! Baik aku tak akan bicara lagi..." kata si bandel.

Nona yang lain tertawa riuh.

0oo0