Dendam Asmara BAB 21. DAPAT WEJANGAN DARI MUSUH BESARNYA

 
BAB 21. TIANG KENG DAPAT WEJANGAN DARI MUSUH BESARNYA

Ketika Tiang Keng mendengar teriakan kalap Gim Soan, ia heran. Namun saat ia hendak berpaling untuk melihatnya, tiba-tiba ia mendengar suara dingin dari si Nyonya Tua, "Kau dengar tidak?"

"Aku dengar!" sahut Tiang Keng. Tuang Keng tak biasa mendengar suara tawar si Nyonya Tua akan tetapi ia bisa menahan amarahnya.

Beberapa kali Un Jie Giok memperdengarkan ejekannya, "Hm! Hm!" Dingin suaranya itu. Lalu dia menarik napas dan berkata dengan duka. "Ketika muridku itu masih kecil, ayah dan ibunya sudah menutup mata semua. Dia..." Mendadak dia berhenti bicara. Tiang Keng mengangkat kepalanya memandang ke arah nyonya tua itu, hingga ia melihat beberapa kali paras orang berubah-ubah dan yang paling tegas ialah penyesalannya. Tentu saja ia kembali merasa aneh. Maka berpikir.

"Mungkinkah dulu dia pernah susah hati?" pikir Tiang Keng.

Jie Giok kembali menghela napas. "Dia sampai tak tahu she dan nama ayah dan ibunya," ia menyambung ceritanya. "Oieh karena itu aku sendiri yang memberikan she dan nama padanya, yaitu Un Kin ... Coba kau katakan, nama itu bagus atau tidak?"

Lagi-lagi Tiang Keng melengak. Tapi walau ia ditanya hal yang ada di luar soal, toh ia mengangguk tanpa terasa.

Jawaban itu membuat Jie Giok tersenyum.

"Sejak kutolong dia, Kin selalu ikut aku." ia meneruskan ceritanya. "Tahun ketemu tahun, dia menjadi besar, tetapi tahun ketemu tahun, tawanya mulai lenyap sedikit demi sedikit. Dia belum seharusnya menemukan tahun-tahun kedukaan dan kesusahan hati. tetapi dia berduka melebihi orang lain. Ketika kutanya dia, kenapa berduka, ia tutup mulut, tidak mau memberitahuku. Tapi aku tahu, ia pasti mendukakan dirinya, tentang asal usulnya. Nah, coba kau pikir! Dia seorang anak gadis, usianya masih muda sekali, akan tetapi dia tak kenal ayah dan ibunya, iajuga tidak tahu she dan nama orang tuanya! Tidakkah hal itu sangat menyedihkan?"

Mau tak mau. Tiang Keng menghela napas.

"Kiranya nona berandalan itu punya riwayat yang begini menyedihkan..." pikir Tiang Keng.

Karena itu, tanpa merasa ia jadi simpati. Ia ingat, bukankah ia pun bernasib sama, yaitu yatim piatu? Cuma bedanya, ia tahu siapa ayah dan ibunya, siapa namanya, dan hal-ikhwal orang tua dan dirinya sendiri. Bahkan sekarang ia berdiri di hadapan musuh besarnya!

Karena berpikir demikian, ia jadi bingung sendiri.

Un Jie Giok memandang ke sekelilingnya, lalu tatapannya jatuh pula ke muka si anak muda. Sikapnya dingin, matanya tajam bagaikan pedang.

"'Eh, kau sedang memikirkan apa?" dia menegur keras. Tiang Keng yang sedang termenung jadi terperanjat.

"Apa kau sangka aku tidak tahu?" kata si nyonya tua, "Hm! Hm! Seumurku, aku telah membinasakan orang banyak sekali, akan tetapi belum pernah ada seorang yang berani mencariku untuk menuntut balas! Tapi kau lain... kau ingin berbakti!

Baiklah, nanti akan datang harinya yang aku akan membuat kau bisa mencapai cita-citamu itu...!"

Kembali Tiang Keng melengak.

"Apa artinya kata-katanya itu?" pikir Tiang Keng. Jie Giok tertawa dingin.

"Cuma sekarang kau sebaiknya mendengarkan kata- kataku!" kata dia. "Saat kita bicara, bukan saja matamu tak selayaknya diarahkan ke lain jurusan, juga hatimu tak boleh kacau karena memikirkan yang bukan-bukan! Jika tidak... hm!"

Alis anak muda itu bangun, ia gusar sekali. Tapi cuma sedetik, ia j adi tenang kembali. Ia menghela napas. Lantas ia berkata, "Riwayat Un Kin itu tidak ada sangkut pautnya dengan aku, oleh karena itu lebih dulu memberitahu aku apa yang harus kulakukan ..."

Un Jie Giok tiba-tiba tertawa aneh. "Memang riwayat hidup Un Kin tidak ada sangkut-pautnya denganmu!" katanya. "Tapi itu sekarang! Kalau nanti... maka sangkut-pautnya denganmu besar sekali! ..."

"Bagaimana itu bisa terjadi?" kata Tiang Keng heran.

Un Jie Giok mengangkat tangannya yang kurus untuk merapikan rambutnya yang kusut tertiup angin. Ia tidak menjawab pertanyaan itu, tapi ia langsung berkata lagi.

"Sudah lama aku tinggal di Biauw-kiang." katanya lagi "Maka itu aku jarang sekali pergi ke Kang-lam. Anak Kin selalu ikut aku, sampai sedemikian jauh belum pernah dia berpisah selangkahpun. Maka itu, melihat dia tahun ketemu tahun bertambah duka, lantas aku mencari dan menggunakan segala dayaku agar dia terhibur. Memang dia suka tertawa, akan tetapi hatinya tetap berduka . . ."

Tiang Keng menghela napas. Ia berpikir pula. "Un Jie Giok terkenal kejam. Siapa sangka terhadap anak pungutnya dia begini cintanya. Jadi benar seperti Suhu sering mengatakan, manusia itu walau bagaimana kejam pun, satu waktu atau di suatu tempat, ada rasa prikemanusiaannya. Tadinya aku tidak percaya itu, sekarang aku baru membuktikannya. Un Kin menderita tetapi dia masih mempunyai guru yang menyayanginya, ia masih beruntung..."

Lalu di depan pemuda itu terpeta bayangan wajahnya yang cantik manis si nona Un, yang tertawanya mirip bunga di musim semi. Ketika ia membayangkan hal itu, ia jadi lupa pada pembicaraan yang belum jelas karena Jie Giok tetap belum memberikan penjelasan padanya.

Jie Giok mengangkat kepalanya, lalu ia berkata, "Pada suatu hari anak Kin datang padaku, dia mengatakan ingin melihat orang-orang gagah di seluruh negeri. Dia minta pendapat dan bantuanku. Anak Kin sudah tinggal lama bersamaku, dia tahu dengan baik tabiatku, apa yang orang lain tak berani bicarakan, dia pun tak berani membicarakannya. Dari itu, permintaannya itu membuatku heran. Bagaimana aku dapat membantu dia? Bagaimana aku dapat mengumpulkan orang-orang gagah itu sedangkan semua orang membenciku? Tetapi belum pernah dia minta apa-apa dariku. Inilah yang pertama. Bagaimana aku dapat menolak permintaannya? Aku berpikir sekian lama, aku tak juga mendapatkan jalan..."

Jie Giok berhenti sebentar, tak lama ia melanjutkan lagi, "Pada suatu hari saat aku sedang duduk diam sambil berpiki, mendadak aku ingat peristiwa di puncak Sie Sin-hong itu...

Bukankah kau ingat dengan baik kejadian tersebut?"

"Hm!" Tiang Keng memperdengarkan suaranya yang tawar. "Meskipun tubuhku hancur lebur jadi abu, tak nanti aku melupakan peristiwa itu!" Mata si nyonya tua bersinar, la

terkejut. Ia lantas menatap wajah pemuda itu. Selang sejenak, ia mengangguk dan tersenyum.

"Nak, aku paling menyukai tabiatmu ini!" kata dia. "Ah, meskipun ayahmu sudah meninggal dunia, jika dia mengetahui mengenai dirimu, bahwa dia mempunyai anak bersemangat seperti kau pasti dia tersenyum bangga di alam baka. ."

Nyonya tua ini agaknya menyesal dan berduka berbareng kagum.

Tiang Keng mengangkat kepalanya, ketika ia memandang muka si nenek, ia tidak melihat romannya yang kejam dan tawar. Sebaliknya dia mirip seorang wanita tua yang murah hati. Melihat demikian Tiang Keng tak tahu mesti gusar atau berduka

"Ketika peristiwa aneh itu terjadi di Tiat-coan-tauw di puncak Sie Sin-hong, kau tentu menyaksikannya," kata Un Jie Giok kemudian. "Hari itu, tepatnya sekitar seratus lie di tanah pegunungan, semua binatang berbisa dan binatang liar berkumpul. Semua tahu bakal ada bencana tapi semua datang berbondong-bondong. Semua binatang itu datang untuk mengantarkan jiwa. Ilmu silatmu lihay kau tentu punya guru yang berilmu tinggi. Tapi, tahukah kau apa sebabnya terjadi keanehan itu?"

Tiang Keng diam untuk berpikir. Sebenarnya ia tak sudi bicara akan tetapi ia toh buka mulut juga.

"Ketika itu di Tiat-coan-tauw bersembunyi semacam binatang yang paling berbisa," jawab Tiang Keng. "Binatang itu berbisa tetapi dia dapat menghembuskan bau harum luar biasa hingga tidak ada binatang liar yang dapat menolak pengaruhnya."

Un Jie Giok tersenyum.

"Benar!" kata dia. "Ketika itu aku mendapat pikiran jika aku mengundang orang-orang gagah, orang-orang tidak akan sudi datang. Tapi jika aku gunakan siasat seperti seng-cu atau katak itu, ia menggunakan umpan yang berbau harum, mungkin aku akan berhasil. Tak nanti orang-orang gagah itu menolak pancinganku itu, hingga meskipun mereka membenciku dan takut padaku, mereka pasti datang juga!"

Senang hati si nyonya ini. Dia tertawa.

"Aku tidak seperti kata Seng-cu itu," kata dia lagi. "Aku tak dapat mengeluarkan bau harum, akan tetapi aku punya sesuatu yang lain, melihat hal itu, siapapun pasti tertarik hatinya. Mustika itu hendak kujadikan sebagai bau harumku dan dengan mengandalkan bau harum itu pasti aku dapat mengumpulkan orang-orang gagah dari seluruh negeri, supaya mereka semua datang ke depan si Kin, anakku itu!"

Alis Tiang Keng berkerut. Sekarang ia mengerti duduk persoalannya.

"Ah, kiranya begini asal-usul lui-tay di Thian Bak-san itu "

pikir Tiang Keng. Mendadak sirna suara tawa Un Jie Giok. Kembali ia nampak berduka.

"Tapi si Kin tidak menyetujui seluruh pikiranku itu," kata dia masgul. "Si Kin berkata, walaupun mustikaku itu jadi mustika yang orang inginkan, sekalipun dalam mimpinya ingin memperolehnya, belum tentu ia dapat memancing semua orang gagah berkumpul. Bagaimana jika yang datang itu orang tak karuan? Jika itu terjadi, lebih baik dia tak melihat mereka! Si Kin benar juga. Maka aku harus berpikir lagi"

"Kelihatannya Un Kin cerdas dan jernih pikirannya," ujar Tiang Keng dalam hati.

"Lewat tiga hari sejak pembicaraan kita itu," demikian ujar Un Jie Giok. "Si Kin datang padaku seraya membawa tiga helai gambar lukisan. Dia tunjukkan ketiga gambar padaku dia menerangkan bahwa dia hendak membangun lui-tay di gunung Thian Bak-san untuk mengadakan pertemuan mengadu ilmu silat. Kata dia, dengan caranya ini maka semua orang serakah pasti bakal datang dan selain itu bakal datang anak muda yang masih bujangan. Mungkin ada orang yang tertarik pada barang berharga, tetapi ada orang yang datang karena terpengaruh ingin mengadu kepandaian silat atau untuk menonton saja. Kata dia, manusia itu tak semuanya bebas dari pengaruh harta dan nama, dari paras elok dan gemar pada yang aneh-aneh "

Mendengar demikian. Tiang Keng jengah sendiri. "Sungguh memalukan " pikir Tiang Keng. "Aku tak peduli

pada harta maupun paras elok, tapi benar aku tertarik rasa aneh, rasa ingin tahu. Dengan demikian Un Kin ternyata dapat menerka dengan tepat hati manusia "

Jie Giok melanjutkan ceritanya, "Mendengar pikiran si Kin itu, aku heran. Lantas aku tanya dia, bagaimana jika di akhir pertandingan ternyata si pemenang seorang berkepala gundul? Apakah dia bersedia menikah dengannya? Dia hanya tersenyum, tak men jawab. Sebaliknya dia bertanya apakah aku setuju? Pikir punya pikir, akhirnya aku menerima permintaannya itu. Setelah memberi izin, aku jadi menyesal. Aku ingat, di kolong langit ini pasti tak banyak orang yang dapat mengalahkannya. Beberapa orang itu pasti usianya sudah lanjut atau mungkin tampangnya jelek. Jika si Kin menikah dengan orang semacam itu, apakah dia bukan jadi burung Hong yang mengikuti gagak?"

Berkata sampai di situ, si nyonya tua memandang ke arah si anak muda.

"Hari ini aku melihat kau," kata dia lebih jauh. "Maka aku tahu di kolong langit ini benar-benar ada orang-orang yang luar biasa. Orang yang berhasil mendidikmu menjadi begini lihay pasti kepandaiannya sukar dicari. Meskipun aku tidak tahu dia siapa dan kau pasti tak sudi memberitahu aku mengenai gurumu itu, toh aku mengaguminya! Aku kagum sebab bukan saja ia dapat mengajari ilmu silat yang sempurna, juga dia dapat mendidikmu menjadi seorang laki- laki sejati! Sedemikian jauh yang kuketahui, di dunia ini ada orang-orang yang lihay ilmu silatnya tapi rendah martabatnya!"

la lantas menunjuk ke arah Gim Soan, anak muda berbaju kuning yang tengah terkurung di dalam tarian silat Nie Tong Sian Bu. Saat itu gerakan Gim Soan makin lama makin lemah, suatu tanda tenaganya sudah mulai habis. Ia berkata. "Dia bersama gurunya, masuk hitungan golongan yang rendah martabat itu!" Lagu suara si nyonya menyatakan ia sangat jemu dan benci. Pikiran Tiang Keng jadi kacau. Ia jadi terbawa pergi terpisah jauh dari pokok masalahnya. Ia pun heran Jie Giok sangat membenci pada Gim Soan.

Pikirnya, "Bukankah Jie Giok sebangsa dengan pemuda itu serta guru si pemuda pun begitu? Kenapa sekarang dia bicara begini? Tidakkah ini aneh?" Ia tidak tahu bagaimana bencinya Jie Giok terhadap Ban Biauw Cin-kun In Hoan. Ia memandang ke arah si nyonya tua, yang terus menunduk mengawasi jari tangannya, seperti dia sedang memikirkan apa-apa yang mengganjal di hatinya. Ia lantas berpura-pura batuk. Tapi si nyonya tua diam saja, dia seperti tak mendengar suara batuk itu. la jadi sangsi untuk menanyakan pada si nyonya itu, sebenarnya dia hendak menyuruh melakukan apa. Ia lihat si nyonya itu jadi tenang sekali, lenyap roman bengisnya, hingga sebaliknya, dia tak lagi sebengis tadi.

"Dia pasti sedang berpikir sesuatu yang baik." pikir Tiang Keng lebih jauh. "Dia jahat, mungkin dulu dia tak pernah setenang ini .. .""

Karena itu Tiang Keng batal menegur orang itu, ia berpaling ke arah Gim Soan, yang seperti terus terkurung di antara sinar merah. Kawanan nona-nona itu tetap mengepungnya, tampaknya mereka ayal-ayalan, tapi sebenarnya mereka bergerak sama cepatnya seperti tadi!

Karena itu, tubuh si pemuda

hampir lenyap dari penglihatan . . .

0oo0