Dendam Asmara BAB 18. TIANG KENG BERTEMU MUSUH BESARNYA

BAB 18. TIANG KENG BERTEMU MUSUH BESARNYA

Anak muda berbaju kuning itu masih mengawasi rombongan itu. Baru kemudian sambil menoleh dia tertawa dingin dia melangkah menghampiri Tiang Keng.

"Berhenti!" sekonyong-konyong pemuda she To membentak, suaranya keras seperti suara guntur.

Gim Soan terkejut hingga ia nierandek sejenak Begitu suara itu berhenti, tubuh Tiang Keng melesat untuk lari ke arah rombongan kereta yang mirip kereta permaisuri itu .. .

Semua nona mendengar bentakan Tiang Keng itu. Mereka segera menoleh dan melihat ke arah pemuda yang sedang berlari-lari ke arah mereka. Mereka heran dan mereka pun berhenti meniup seruling istimewa itu dan yang sedang mengipaspun berhenti mengipasi majikannya. Gim Soan heran.

"Mau apa anak muda itu?" pikir Gim Soan. Dia jadi ingin tahu, dia melompat dan berlari untuk menyusul Tiang Keng. Tak lama Tiang Keng sudah ada di depan kereta sedang menghadang kereta itu. Kedua mata Tiang Keng bersinar tajam mengawasi ke arah nyonya tua yang ada di dalam kereta itu. Tiang Keng polos. Ia belum tahu tentang asmara. Meskipun nona-nona berpakaian indah itu cantik-cantik, ia tak menghiraukannya. Malah Nyonya Tua itu yang menarik perhatiannya Padahal Nyonya Tua itu beroman jelek sekali.

"Mengapa mereka berpakaian merah semua?" pikir Tiang Keng. "Siapa perempuan tua ini?"

Mendadak ia ingat pada perempuan jelek di kaki puncak Sie Sin-hong sepuluh tahun lalu.

"Apa mungkin dia ini si Jelek Un Jie Giok?" pikir Tiang Keng. Sekarang roman nyonya itu lebih tua dibanding dulu hingga Tiang Keng agak sangsi dibuatnya.

"Sepuluh tahun memang waktu yang lama, tapi Un Jie Giok memiliki tenaga dalam yang sempurna, tak pantas jika ia jadi rongsokan seperti ini " pikir Tiang Keng.

Mendadak Tiang Keng ingat kata-kata si Nyonya Tua itu. ia menyebut dirinya Nio-nio. "Bukankah Un Jie Giok pun sudah biasa menyebut Nio-nio untuk pengganti sebutan dirinya?"

Ingatan ini membuat putera To Ho Jian berseru sambil melompat maju.

Dugaan Gim Soan keliru, ia mengira dia disuruh berhenti oleh Tiang Keng.

"Nyonya, apa kau orang she Un?" tanya Tiang Keng dengan suara keras.

Nyonya Tua itu tetap duduk dengan tenang di bangku kereta, ia tak menghiraukan teguran Tiang keng dan matanya tetap dipejamkannya. Ia mirip orang yang sedang tidur saja. Dan yang bergerak-gerak hanya bajunya saja akibat tiupan angin.

Gim Soan mendengar pertanyaan itu. Ia sudah mendekati rombongan itu semakin dekat. Ia berpikir. "Bukankah Ang-i Nio-cu, si Siluman yang namanya sangat terkenal itu sudah mati setengah tahun yang lalu?"

Oleh karena itu, ia mengawasi perempuan tua jelek di atas kereta itu dengan tajam.

Dua orang nona yang berjalan paling depan sudah berjalan ke belakang, mereka melompat ke samping Tiang Keng dan kini mereka berada di kedua sisi anak muda itu. Mereka segera mengulurkan tangan mereka, kemudian menepuk bahu anak muda itu dengan bungbung bambu hijaunya perlahan, mereka menotok ke kedua jalan darah cun-chong di dekat kedua buah tetek Tiang Keng. "Nio-nio sedang tidur! Mau apa kau berteriak-teriak membuat berisik saja?!"

"Hm!" seru Tiang Keng, kedua tangannya mengibas untuk menangkis serangan kedua nona itu.

Nona itu tak dapat menahan tangkisan Tiang Keng yang keras, hingga keduanya terpaksa harus mundur dan terhuyung tiga langkah ke belakang. Wajah mereka pun berubah jadi pucat-pasi karena kagetnya.

Sementara si nyonya masih tetap tidak berkutik dari tempat duduknya.

Tiang Keng melompat maju setengah Jangkah, kedua tangannya ditekuk melingkar untuk mendorong ke depan. Ia pun membentak, "Orang she Un, apakah kau sudah melupakan peristiwa sepuluh tahun yang lampau di kaki puncak Sie Sin-hong?"

Kibasan tangan Tiang Keng membuat nona-nona di sisi kereta itu merasakan sambaran hawa dingin. Sebaliknya si nyonya tua tidak membuka matanya dan tetap tak bergerak. Tapi tangan bajunya melambai turun. Mendadak dia menyambar tangan Tiang Keng dengan cepat!

Tiang Keng terkejut. Ia tak dapat berkelit. Lalu Tiang Keng meneruskan tangannya itu untuk dipakai menyambar tangan baju nyonya tua itu. Itu tipu silat Eng Jiauw Mui (Kuku Garuda dari Hoay-lam). Tipu silat ini hanya digunakan ketika sangat dibutuhkan. Karena sekalipun ketua Eng Jiauw Mui sendiri, tak akan dapat mengerahkan tenaga sehebat itu.

Kedua tangan baju itu bagaikan punya mata dan keduanya lolos dari sambaran Tiang Keng. Sebaliknya, setelah lolos, tangan baju itu kembali ke tempatnya semula ... Keempat nona di kedua sisi kereta langsung bergerak maju.

Dengan empat batang kipas bulu angsa, mereka terus menepuk ke arah si pemuda.

Mata Tiang Keng jadi merah. Sekarang dia tahu si Nyonya Tua benar-benar Un Jie Giok, musuh besarnya. Sekarang si musuh besar sedang bercokol di hadapannya. Meluaplah dendam selama sepuluh tahun yang ada di dada Tiang Keng. Saking gusarnya di lain gebrakan, ia membuat lengan keempat nona itu terluka.

Keempat nona itu mundur. Mereka merasakan nyeri.

Mereka tidak mengira Tiang Keng demikian gesit.

Tiang Keng tidak menghiraukan keempat nona yang kesakitan itu. Kembali ia maju ke depan kereta. Saat itu justru lima batang bangsing sudah menotok ke arahnya, tiga yang di tengah mencari jalan darah di dada Tiang Keng. Dua yang lainnya ke kiri dan kanan. Kembali ia tidak hiraukan serangan itu, dengan hanya satu gerakan, ia membuat lima batang bangsing itu gagal mengenai sasaran. Tiga nona yang di depan mundur. Yang di kedua sisi Tiang Keng mundur untuk menyerang lagi!

Sekarang Tiang Keng insaf ia sudah terkurung oleh semacam tin atau barisan rahasia. Nona-nona itu tidak lihay tetapi karena gesitnya, mereka dapat berkelahi dengan teratur menuruti jalan tin itu. Tiang Keng berpikir ia akan sulit meloloskan diri. Maka ia harus berkelahi dengan sungguh- sungguh.

Gim Soan menonton dari pinggir. Sekarang ia yakin si Nyonya Tua, Ang-ie Nio-nio, Un Jie Giok. Di kolong langit tidak ada orang yang dapat menggunakan tangan baju seperti senjata seperti yang diperlihatkan oleh nyonya tua ini. Melihat Tiang Keng terkurung oleh nona-nona berbaju merah itu ia puas. Ia baru tahu, meskipun cara bersilat nona-nona itu tidak lebih lihay, sekarang ia tahu Nie Tong Sian Bu tak sederhana. "Jika dulu aku bertemu dengan rombongan mereka ini, pasti aku sudah roboh .. ." pikir Tiang Keng.

Gim Soan maju beberapa langkah. Ia menonton sambil memperhatikan pertarungan itu. Tiang Keng tidak mendapat kesulitan seperti dugaan pemuda berbaju kuning. Benar ia sudah terkepung, tetapi ia bisa melayani dengan siasat membela diri. Jika perlu, setiap kali ia mengibas sedikit keras, ia bisa membuat pengepungnya mundur teratur.

Gim Soan mendekati kereta. Tiba-tiba telinganya mendengar bentakan keras. "Berhenti!"

Gim Soan terkejut karena seolah ia merasa telinganya seperti tertusuk oleh sebuah jarum.

Nona-nona itu taat pada seruan itu, semua nona berbaju merah itu langsung berhenti menyerang Tiang Keng. Mereka segera mengundurkan diri tetapi tidak bubar. Mereka masih mengurung di empat penjuru pada si anak muda.

Tiang Keng pun diam, matanya mengawasi ke kereta. Si Nyonya Tua sudah "bangun" dari tidurnya, ia berdiri di atas kereta. Ketika ia membuka kedua matanya, sinar matanya itu tajam dan bengis. Dia turun dari kereta, berjalan perlahan menghampiri si anak muda. Bajunya yang gerombongan karena tubuhnya demikian kurus kering. Ujung bajunya panjang, dia berjalan tetapi tak terlihat kakinya, hingga ia mirip orang yang sedang berjalan di tengah udara .

Tiang Keng mengawasi nyonya tua itu. Tanpa tahu apa sebabnya, ia agak jeri. Segera ia memusatkan pikirannya. Ia hendak menegur nyonya tua itu

karena ia takut didahului.

"Apa katamu barusan?" si Nyonya Tua bertanya dengan suaranya dingin.

Tiang Keng membusungkan dadanya. "Aku bertanya mengenai peristiwa di kaki Sie Sin-hong sepuluh tahun lalu!" sahut Tiang Keng. "Apakah kau sudah lupa pada peristiwa itu?"

Si Nyonya Tua memandang tajam sekali ke arah Tiang Keng.

"Jadi kau turunan orang she To itu?" tanya si nenek dengan bengis.

"Tidak salah!" sahut si anak muda dengan gagah.

Mata si Nyonya Tua bercahaya. Dia tertawa lama sekali. Kepala si Nyonya Tua menengadah. Suara tawanya mirip suara burung hantu. Tak disangka dia dapat bersuara seperti itu. Sesudah dia tertawa cukup lama, keadaan jadi sunyi. Baru sesaat kemudian, dia membuka mulut lagi.

"Selama beberapa puluh tahun," kata dia sabar. "Orang- orang yang telah binasa di tanganku, jumlahnya sudah masuk dalam hitungan ribuan banyaknya. Sungguh heran karena tak pernah ada anak cucu mereka yang datang mencariku untuk menuntut balas! Hari ini aku melihatnya juga satu di antara mereka, yaitu kau!"

Mata nyonya tua itu bersinar, tapi sekarang dia mengawasi Gim Soan untuk menegur si baju kuning.

"Kau ini siapa? Apa kau datang untuk membantu dia menuntut balas?"

Gim Soan terkejut, la langsung maju tiga langkah ke depan. Ia memberi hormat sambil membungkuk pada si Nyonya Tua dengan sikap hormat.

"Aku tak kenal dengannya, bahkan..." Gim Soan menyahut.

Tapi dia disela oleh si nyonya tua. Sambil menatap tajam nyonya tua itu berkata. "Jadi kau di sini untuk menonton?"

Suara pertanyaan itu tak sebengis tadi, tapi Gim Soan tak puas mendengar sapaan yang dingin itu. Walau demikian, dia sedikit merasa jeri. Ia menjura sambil berkata lagi, "Dengan dia aku yang rendah punya urusan yang harus dibereskan, maka itu ..."

Kembali dia disela oleh si Nyonya. "Apakah kau hendak menanti selesainya urusanku ini dengan dia, baru kau hendak membereskan urusanmu itu?"

Gim Soan mengangguk. Nyonya tua itu tertawa, suaranya nyaring dan tak sedap didengar oleh siapapun.

"Bagus! Bagus!" seru si Nyonya Tua. "Aku tidak sangka kau masih begini muda tetapi kau tahu aturan!"

Kata-kata itu punya arti lain Sebagai orang cerdik, Gim Soan dapat menerka maksud si tua. Tertawa si nvonya menyatakan jika dia menanti urusan si nyonya dan si anak muda beres, itu artinya Tiang Keng sudah tak bernyawa. Ia tidak bilang apa-apa. hanya mengawasi nyonya tua itu. yang sudah langsung berpaling ke arah Tiang Keng.

Sambil menyingkap rambutnya, Un Jie Gie berjalan mendekati pemuda itu. Tangannya kurus seperti tubuhnya.

Angin silir meniup, Gim Soan bulu romannya berdiri. Dia rasa dia bakal menyaksikan peristiwa berdarah yang hebat.

0oo0