Dendam Asmara BAB 17. GIM SOAN MENYURUH TIANG KENG MENINGGALKAN LIM-AN

BAB 17. GIM SOAN MENYURUH TIANG KENG MENINGGALKAN LIM-AN

Si nona tertawa. "Pertanyaanmu banyak sekali!" kata dia perlahan. "Bagaimana aku menjawabnya? Begini saja! Mari aku ajak kau untuk melihat sendiri! Dengan begitu kau bakal tahu semuanya."

Tiang Keng mengawasi nona itu. Nona itu benar-benar cantik. Rambutnya pun bagus. Ia pernah membaca kitab yang menyebut-nyebut tentang "wanita cantik", tetapi ia tak tahu batas kecantikan itu, dan bagaimana wanita yang disebut elok itu. Sekarang setelah ia melihat nona ini, barulah dia mengerti. Agaknya sukar mencari nona yang melebihi kecantikan si nona serba merah ini.

Tiba-tiba Tiang Keng ingat nasihat ayahnya agar dia berlaku jujur, murah hati dan bijaksana seperti ajaran Nabi Khong Hu Cu dan Beng Cu.

"Ayahku telah menjadi manusia sempurna," pikir Tiang Keng. "Jadi Ayah tidak perlu malu. Kenapa Ayah meninggal dengan cara yang sangat menyedihkan. Oh, Ayah, kau selalu mengasihani orang lain, tetapi siapa yang bersedia berduka untukmu?"

Tiang Keng ingat pada ibunya. Ia ingat saat ia masih anak- anak, dan dia beerada di persembunyian di atas gunung. Dia harus memeras keringat dan membanting tulang untuk memiliki ilmu silat seperti sekarang ini. Selama itu ia telah kehilangan kasih sayang orang tuanya dan tidak pernah mencicipi masa bahagia sebagai seorang bocah ....

Melamun sampai di situ. Tiang Keng ingat pada kata-kata si nona yang tadi menunjukkan tangannya sambil bertanya kepadanya, apakah tangan yang sehalus dan semulus itu dapat dipakai membunuh orang. Baru berpikir sampai di situ, di depan mata Tiang Keng terbayang wajah ayahnya yang berlumuran darah sedang mendamprat kepadanya. "Anak tidak berbakti! Aku mati, kau bukan membalas sakit hatiku, malah kau memikirkan murid musuh kita! Untuk apa kau memikirkan wanita cantik itu? Buat apa aku punya anak sepertimu?"

Tiba-tiba ayahTiang Keng menampar mukanya dengan keras. Tiang Keng kaget, ia menjerit kesakitan. Tubuhnya jatuh dari atas pohon., walau tidak jatuh terbanting keras. Ketika ia memandang ke sekekelilingnya, rimba itu kosong dan sepi! Di situ tak ada ayahnya, juga si nona maupun imam yang usil itu. Ketika ia mengepalkan tangannya, telapak tangan itu basah oleh keringat.

la memang mengeluarkan keringat dingin tanpa terasa.

Jelas ia sedang ngelamun hebat! "Ah, gila betul!" ia mengeluh.

Ia bingung. Sekarang ke mana ia harus mencari si nona? Bantuan apa yang ingin si nona minta dari tauw-to itu, entah bagaimana jawaban si nona atas pertanyaan tauw-to itu ....

Karena sulit memikirkan soal itu, Tiang Keng berdiri terpaku. Meski pun ia termasuk orang yang cerdas, tetapi pada detik itu pikiran Tiang Keng memang sedang kusut. Ia sangsi untuk menyusul si nona ke Thian Bak-san. Jika ia berhasil menemui si nona, apa yang bisa ia lakukan? "Sekarang lebih baik aku mencari In Loo-pee dan puteranya dulu," pikir Tiang Keng, cepat ia mengambil keputusan. Ia merasa seperti bocah yang membutuhkan pimpinan orang tua. Ia tidak insaf bahwa di luar tahunya, ia sudah terlibat soal asmara ....

Sambil menghela napas Tiang Keng berjalan keluar dari dalam rimba. Tiba-tiba ia mendengar suara tawa di belakangnya. Dengan ceoat ia berpaling dengan cepat ia jadi heran ketika ia melihat si baju kuning yang tadi bertempur dengannya di atas tembok kota berdiri mengawasinya.

Pemuda itu memegang janggut dengan tangan kiri dan sementara tangan kanannya diletakkan di iga kiri sambil tersenyum mengawasinya. Sikapnya tawar.

Tiang Keng heran, ia tidak kenal pada orang itu. Tadi mereka bertempur tanpa sebab dan entah kenapa. Karena pikirannya sedang kusut, ia tidak sudi melayani orang itu. Ia memutar tubuh akan pergi. Ia lebih suka memikirkan si nona yang cantik, murid si wanita jelek she Un musuh besarnya itu.

"Sungguh takabur!" kata si baju kuning sambil tertawa mengejek. "Tapi tak berdaya hanya untuk mengejar seorang nona saja!"

Tiang Keng berpaling dengan cepat. Ia heran mengapa pemuda itu mencari gara-gara dan mengganggu terus padanya.

Si baju kuning tertawa, matanya berputar-putar, lalu berkata dengan suara dingin, "Tuan, kau masih muda, akan tetapi ilmu silatmu lihay! Sungguh orang sepertimu sukar didapat!"

Tiang Keng mengelak. Ia merasa orang ini aneh dan jahil.

Apa salah dia hingga ia harus diejek terus?

Si baju kuning menggeser kedua tangannya ke punggungnya, ia menengadah mengawasi langit, lalu kakinya melangkah perlahan. "Meski begitu, Tuan, jika kau ingin mendapatkan si Ratu Bunga, itu sangat sulit! Karena ilmu silatmu masih terlalu rendah!"

Mendengar ucapan itu, habis sudah kesabaran Tiang Keng terhadap pemuda berbaju kuning itu.

"Tuan!" kata Tiang Keng. "Kita tidak saling mengenal satu sama lain. Kau berani menghinaku, apa maksud kata-katamu itu?"

Pemuda baju kuning yang jumawa itu, tanpa melihat ke arah Tiang Keng, menjawab dengan dingin. "Maksudku ialah untuk minta agar kau jangan usil dan mengejar-ngejar nona itu! Dari mana Tuan datang, ke sana Tuan harus pergi selekasnya! Jika tidak . . . Hm! Hm!"

Dia cuma bersuara "hm" kata-katanya tidak diteruskan. "Aneh!" pikir Tiang Keng. Ia sadar pemuda baju kuning

mengejek dia karena dia ingin memancing kema rahannya.

"Dari mana aku datang dan ke mana aku akan pergi, apa hubungannya denganmu, Tuan? Terlebih lagi dalam hal aku mencari gadis itu, itu bukan urusanmu! Itu urusanku sendiri!"

Mata pemuda baju kuning dipentang lebar dengan tajam, sinar matanya memandang ke arah Tiang Keng.

"Tuan!" kata dia pula. "Jika dalam tempo dua hari kau tidak meninggalkan kota Lim-an ... hm! ... Aku khawatir, di saat kau hendak angkat kaki, waktunya sudah terlambat!" Setelah berkata begitu dia mengibaskan tangan bajunya, lantas melangkah pergi. Tiba-tiba matanya seperti berkunang- kunang. Dengan hanya sekali mencelat, dia telah dihadang oleh Tiang Keng.

Tiang Keng dengan roman dingin dan mata tajam mengawasi orang takabur itu.

"Apa katamu barusan?" tanya Tiang Keng. Pemuda baju kuning itu terkejut sebentar, kemudian dia sudah menunjukkan kembali keangkuhannya.

"Hm! Hm!" kembali dia mengejek. "Di dalam tempo dua hari, jika Tuan tidak meninggalkan Kota Lim-an ini, hm "

Tapi sebelum ia berhenti bicara atau tangan Tiang Keng sudah menyambar pada unjung bajunya!

"Bukankah dua hari yang lalu kau orang yang telah meninggalkan surat di kamar orang Hoay Too Hwee dan Ang Kin Hwee?" tanya Tiang Keng dengan bengis.

Pemuda baju kuning itu tidak menyangka ujung bajunya berhasil disambar oleh Tiang Keng. Ia bengong sebentar, alisnya bangkit dan wajahnya berubah menjadi bengis, la tekuk tangan kanannya untuk dipakai menangkap tangan Tiang Keng, sedang tangan kirinya atau tiga buah jarinya yang kuat menusuk ke arah rusuk lawan. Itu adalah jalan darah thian-tie Tiang Keng. Sambil berbuat demikian, ia bertanya dengan bengis. "Kalau aku, kau mau apa? Kalau bukan aku, kau juga mau apa?"

Tiang Keng menarik tangan kanannya, sambil menarik yangannya ia pun mengibas. Gim Soan, si pemuda baju kuning itu terkejut, dia terhuyung tiga langkah mundur ke belakang. Tiang Keng heran. Ia tidak menyangka kibasannya mengenai tangan kiri lawan dan pemuda baju kuning itu terpaksa harus mundurdan hampir terguling.

Gim Soan mempertahankan tubuhnya, mukanya jadi pucat.

Dia hendak membuka mulurnya tetapi Tiang Keng sudah mendahuluinya. Tiang Keng menegaskan, "Jadi beberapa ratus jiwa orang-orang Koay Too Hwee dan Ang Kin Hwee itu, semua telah mati secara menyedihkan di tanganmu yang jahat? Jadi kau sendiri yang melakukan kekejaman itu?"

Kembali Gim Soan melengak. Begitu ia sadar, tanpa berkata-kata lagi, dia membentak sekali dan melompat menerjang. Dia menyerang dada lawannya. Ketika serangannya tiba, dia berseru. "Mau apa kalau aku yang membunuhnya? Mau apa kalau bukan aku yang membunuhnya?"

"Kalau begitu, baiklah!" jawab Tiang Keng seraya menyedot dada dan perutnya, sedang kedua tangannya dimajukan menyerang dengan keras. Sekali lagi mereka berdua beradu tangan.

Tiang Keng gusar, ia mengerahkan tenaga di tangannya.

Gim Soan terhuyung mundur satu tindak. Tidak menanti orang sempat memperbaiki diri. Tiang Keng menyusul serangan nya.dengan kedua tangan.

Mengetahui lawan itu tangguh, Gim Soan lantas melayani sambil selalu berkelit. Dia gesit sekali, tubuhnya sangat ringan. Baik berkelit maupun meloncat tinggi, ia membuat dirinya seperti berada di sekitar tubuh Tiang Keng. Saat berbuat begitu, ia selalu mengirim pukulan-pukulan yang dahsyat.

Tadi di atas tembok kota, Tiang Keng sudah belajar kenal dengan pemuda baju kuning ini. Ia tahu orang ini lihay, sekarang ia berkelahi dengan hati-hati dan waspada. Ia kaget mendapatkan lawan yang demikian lincah, oleh sebab itu semakin kuat terkaan Tiang Keng bahwa pemuda baju kuning ini algojo orang-orang Koay Too Hwee dan Ang Kin Hwee.

Karena orang itu lihay, ia tidak dapat segera merobohkan pemuda itu. Saat mereka di atas tembok kota, Gim Soan belum mengeluarkan seluruh kepan daiannya. Sesudah bertempur beberapa puluh jurus lamanya, kedua pihak tampak sama unggulnya. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara tetabuhan yang terbawa angin, mereka sedang bertempur seru, keduanya tidak memperhatikan suara itu. Baru kemudian, setelah suara itu terdengar semakin jelas dan dekat serta lagunya luar biasa, mereka jadi heran. Itu bukan suara seruling, suara itu tajam dan sedap terdengar di telinga. Keduanya tak dapat menerka, suara itu suara alat tetabuhan apa dan bagaimana macamnya. Meskipun mereka mendengar suara itu, mereka tetap bertempur tak kurang serunya. Konsentrasi kedua pihak tidak terpecah oleh suara merdu itu, jika konsentrasi mereka terpecah maka mereka bisa celaka.

Belasan jurus telah dilewatkan. Mendadak mereka mendengar suara wanita yang suaranya tajam. "Siapa yang berani bertempur di sini? Apa kalian tidak mau segera berhenti bertarung! Berapa banyak batok kepala kalian sehingga kalian berani mengganggu perjalanan pulang dari Nio-nio kalian?"

Suara itu tegas sekali. Tiang Keng jadi berpikir.

"Nio-nio kalian?" ia berpikir. "Apa ini Permaisuri Raja yang sedang pesiar?"

Gim Soan juga mengira demikian. "Nio-nio adalah panggilan mulia untuk seorang Ratu atau isteri raja. Dengan sendirinya mereka sama-sama melompat mundur lima lamgkah jauhnya. Mereka melompat secara bersama-sama untuk menghentikan pertarungan mereka. Setelah itu semuanya menoleh dengan cepat.

Di situ terlihat rombongan nona-nona cantik berpakaian serba merah sedang mendatang ke arah mereka. Langkah mereka elok, tangan mereka masing-masing memegang sepotong bambu berwarna hijau. Ada yang panjang, dan ada yang pendek, semua tidak berlubang. Rupanya itulah alat tetabuhan yang menerbitkan suara merdu tadi.

"Apa nama alat musik itu? Mengapa suaranya demikian merdu dan aneh?" pikir kedua pemuda itu. Dalam benak mereka masing-masing, mereka bertanya-tanya.

Kedua pemuda ini masih hijau, mereka belum pemah merantau sampai ke wilayah Tiong-ciu. Tak heran jika mereka jadi tidak tahu tentang seruling semacam itu, seruling yang menjadi alat tetabuhan istimewa suku bangsa Biauw di daerah Biauw-kiang. Dari hanya mengawasi rombongan itu, kedua anak muda ini saling mengawasi satu sama lain. Sesudah itu Gim Soan berpaling hingga ia tak menghiraukan lagi pada Tiang Keng.

Tiang Keng heran, ketika ia tahu orang itu tidak memperhatikan dia lagi. Tiang Keng pun menoleh ke arah rombongan nona-nona itu. Sesudah rombongan nona-nona pengiring itu lewat, tampak sebuah kereta yang dipajang indah sekali. Semua

perlengkapan kereta itu pasti mahal sekali. Di kiri-kanan kereta itu terdapay empat orang nona berbaju merah, dan sebelah tangan mereka masing-masing mendorong kereta, sedang tangan yang lain mengipas dengan kipas bulu angsa. Perlahan mereka mengipasi orang yang ada di kereta itu.

Nona-nona itu tersenyum ketika mereka melihat ada dua pemuda berdiri bengong mengawasi rombongan mereka di tepi jalan, tetapi mereka tidak ada yang berani tertawa.

Kemudian sambil berjalan, mereka mengangkat suling bambu itu ke mulut mereka dan meniupnya bersama-sama. Maka terdengarlah suara bangsing yang merdu itu. Saat melewati kedua pemuda itu, mereka masih mengawasi ke arah kedua pemuda itu sambil terenyum manis.

Gim Soan seorang yang sombong. Adatnya tinggi hati, ia tidak mudah terpengaruh oleh paras cantik, akan tetapi kali ini dia jadi berbeda dari biasanya. Sekarang malah dia mengawasi dengan bersemangat rombongan nona-nona cantik itu. Sama sekali dia tak memperlihatkan sikap yang memandang enteng pada semua orang-orang itu.

Tiang Keng sebaliknya dari Gim Soan. Mula-mula ia awasi mereka, ia heran, sesudah itu ia berdiri diam bagaikan orang yang sedang bersemedi. Cuma otaknya saja yang bekerja keras memikirkan rombongan wanita cantik itu. Dia jadi penasaran sekali, siapa wanita yang ada di dalam kereta indah yang mirip kereta seorang ratu itu. Ia berdiri diam di tepi jalan sampai rombongan itu mulai lewat di depan dia. jalan kereta dan rombongan nona-nona cantik itu tetap perlahan-lahan.

Tiba-tiba Tiang Keng ingat sesuatu. Ia awasi kereta indah itu. Ia lihat orang yang ada di dalam kereta itu sedang duduk dengan tenang. Dia adalah seorang wanita tua, tubuh wanita itu kurus kering dan hanya tertutup oleh pakaian berwarna merah. Tempat duduk wanita tua itu berwarna merah juga. Dari jauh. orang sukar melihat tubuh yang tua itu.

Empat orang nona yang mendorong kereta, mata mereka selalu diarahkan ke kedua anak muda yang berdiri di sisi jalan itu. Mereka berempat bertubuh lebih besar dari nona-nona peniup bangsing. Mereka semua cantik-cantik.

Sinar mata Tiang Keng berpindah dari wajah nona-nona cantik ke wajah si Nyonya Tua di dalam kereta itu yang jelek dan bengis.

Nyonya tua itu mengonde rambutnya menjadi konde "kuda jatuh". mirip konde wanita atau nyonya-nyonya muda pada masa itu, suatu model rambut yang paling digemari pada zaman itu. Ia sudah tua tetapi rambutnya masih hitam, perhiasan di kondenya lengkap, sedang di telinganya, si nenek memakai anting-anting emas. Perhiasan kepa lanya bertabur mutiara, tampak terang berkilau. Tapi selain rambutnya yang hitam dan dandanannya itu. wajah sangat jelek, hingga orang sulit untuk terkecoh olehnya apalagi hanya karena dandanannya yang mewah itu

Tiang Keng mengawasi nenek itu sambil melengak sekian lama. dan dengan perlahan-lahan kereta itu lewat di depannya.

Mata Gim Soan terus mengikuti punggung si nona-nona berpakaian serba merah. Pakaian mereka itu tertiup angin, berkibaran, indah dipandangnya

0oo0