Dendam Asmara BAB 10. KEMATIAN THAN LOO-KIE YANG MISTERIUS

BAB 10. KEMATIAN THAN LOO-KIE YANG MISTERIUS

Koay Too Teng Cit menghela napas karena berduka. "Pada mulanya aku pun berpikir demikian," katanya. "Koay Too Hwee anggotanya berjumlah seribu jiwa lebih, apa yang harus ditakutkan? Setelah kami berunding, kami mengambil keputusan untuk tidak menghiraukan peringatan itu, kami berpikir akan melihat perkembangan lebih jauh. Siapa tahu tadi malam telah terjadi peristiwa hebat itu "

Mata ketua Koay Too Hwee ini menunjukkan sinar kekhawatiran, ia meraba batok kepalanya.

"Tadi malam kami tiga saudara tidak tidur," ia melanjutkan keterangannya. "Habis minum arak sedikit, kami menanti di dalam kamar. Kami mendengarkan kentongan tanda waktu dibunyikan, sampai jam dua malam tak ada apa-apa.

Kentongan jam tiga pun berbunyi, keadaan tenang-tenang saja dan kami yakin tidak akan terjadi sesuatu. Begitulah, Than Loo-jie pergi ke luar, maksudnya untuk buang air. Berdua Kong Loo-sam aku menunggunya. Aku heran dia keluar lama sekali, sampai setengah jam. Dia belum juga kembali. Kami tertawa dan mengatakan entah sedang apa dia di luar. Suaranya pun tak terdengar sama sekali. Ketika kemudian timbul kecurigaan, kami berdua pergi ke luar untuk menyelidikinya. Bukan main kagetnya kami mendapatkan Than Loo-jie rebah tak berkutik dan di tubuhnya tak kedapatan luka. Dia mati dengan mata terbuka lebar, seperti ia sedang mengawasi kami untuk minta agar kami membalaskan dendam untuknya.. "

Tangan Tiong Teng mengepal, ia merasa tangannya itu basah karena keringat. Entah kapan, keringatnya telah keluar. Ketika ia melirik ke arah ayahnya. sang ayah sedang mengerutkan alis dan paras mukanya tampak suram.

Orang-orang yang lain pun telapak tangannya basah.

Kiong Kie membuka sepasang matanya, biji matanya tampak merah.

Cuma Tiang Keng yang sikapnya tidak berubah. Dia sedang memperhatikan penuturan Teng Cit. Ia berdiri diam saja.

Sang malam semakin larut

Teng Cit menghela napas, sesudah itu baru ia melanjutkan penuturannya. "Sekian lama kami berdua berdiri melongo.

Kami merasakan tubuh kami dingin tak karuan. Kemudian kami pondong tubuh Than Loo-jie untuk dibawa ke dalam. Begitu masuk kami jadi kaget sekali, di atas meja kami terdapat sehelai kertas kuning yang lainnya. Kali ini kertas kuning itu bertuliskan kata-kata 'sebelum malam terang bulan, lekas tinggalkan kota Lim-an! Jika tidak, kalian akan pulang ke akherat tanpa sakit lagi!'. Begitu isi tulisan pada kain kuning tersebut."

Ketika itu angin yang dingin bertiup masuk dari celah-celah pintu, hingga api lampu hampir padam karena tipuan angin. Teng Cit menutup rapat bajunya, ia menutur lebih jauh. "Aku sudah merantau dua puluh tahun lebih, sudah biasa aku menghadapi banyak pertempuran Aku tidak akan mengerutkan alis. seandainya ada orang yang menikam aku sebanyak tiga kali sekalipun. Tetapi sekarang aku tak malu mengatakan bahwa hatiku jadi ciut sendiri hingga aku berpikir menyesal aku tidak bisa segera angkat kaki meninggalkan kota Lim-an ini. Aku tak punya kegembiraan untuk menonton keramaian itu."

Ia menarik napas sambil mengancingkan bajunya satu demi satu. Lalu ia meneruskan kisahnya. "Setelah terang tanah, aku memberitahu semua saudara kami agar mereka siap sedia untuk pulang ke Thay Heng-san. Bahkan aku berpikir kami akan cuci tangan dan mengundurkan diri dari Kang-ouw. Aku pikir memang kami tak akan selamat jika hidup seperti ini.

Selain itu Thay Heng-san-pa-too dari tiga buah golok itu, sekarang tinggal dua orang. Apa yang bisa kami perbuat? Jangan kata untuk menuntut balas, musuh kami saja tak tahu siapa dan kami tak dapat mencarinya! Mana mungkin kami punya muka untuk hidup lebih lama di dunia Kang-ouw?"

To-pie Sin-kiam In Kiam batuk-batuk, ia memotong. "Tapi perbuatan orang itu bukan perbuatan seorang gagah! Tombak yang menyerang terang-terangan mudah untuk dikelit, panah gelap sukar untuk ditangkis!"

"Meski benar begitu, Loo-ya-cu. tapi..." kata Teng Cit bingung.

"Di antara kami bertiga, Than Loo-jie paling tangguh. Tapi ternyata dia menemui ajalnya tanpa ada perlawanan!

Bukankah itu suatu bukti bagaimana lihaynya lawan? Tidakkah itu membuat hati orang gentar? Maka waktu itui, hatiku menjadi sangat tawar. Ketika saudara-saudara kami sedang berkemas-kemas, tiba-tiba kami kedatangan dua orang nona berpakaian serba merah. Mereka dengan sekonyong-konyong masuk. Kami heran karena mereka datang dengan wajah berseri-seri. Begitu kami sudah berhadapan, mereka memberi hormat pada kami. Para wanita itu bertanya mengapa tanpa mendaki gunung Thian Bak-san lagi kami tergesa-gesa hendak pulang! Coba Loo-ya-cu pikir, orang seperti kami mana berani buka rahasia bahwa kami jerih kepada kedua nona manis itu? Tidakkah itu memalukan sekali? Maka kami jawab saja dengan sembarangan. Tapi kedua nona itu berkata pada kami mereka meminta kami dengan sangat agar tak pulang. Mereka bilang, jika kami batal pergi ke Thian Bak-san, itu berarti kami tidak hormat pada majikan mereka "

In Kiam dan puteranya saling mengawasi. Mereka tahu dengan baik sekali kedua nona itu ialah nona yang membawa bingkisan di hari ulang tahunnya. Bahkan hati Tiong Teng bercekat. Bukankah tadi ia telah melihat kedua nona itu di tempat kebakaran?

"Hatiku sedang pepat, aku tidak berselera melayani nona- nona itu bicara," kata Teng Cit melanjutkan ceritanya. "Maka itu aku bilang dengan keras bahwa kami tak bisa pergi! Atas jawaban kami itu kedua nona itu tertawa geli, mereka mendekati aku dam mendadak mengulurkan tangannya masing-masing. Di luar dugaan aku dibuat jumpalitan!"

Tiang Keng geli dalam hati. "Koay Too Teng Cit benar- benar polos! Ia tak malu-malu membeberkan rahasia sendiri saat dirobohkan oleh orang demikian! Pantas kalau dia jadi kepala dari Koay Too Hwee," pikir Tiang Keng.

Oleh karena itu Tiang Keng jadi bersimpati kepada si Golok Cepat.

Ketika itu Teng Cit, sambil memperagakan dengan tangannya melanjutkan keterangannya. "Ketika itu aku kaget berbareng gusar sekali. Begitu aku melompat bangun, aku lihat Kiong Loo-sam sudah membantuku mendahului menerjang kedua nona itu. Kesudahannya aku menjadi bertambah heran. Belum tiga jurus, Loo-sam telah dirobohkan. Tatkala itu kami berada di dalam rumah penginapan Ban A n di ruang sebelah barat, di sana ada belasan saudara-saudara kami. Apa lacur mereka semua berhasil dipermainkan oleh nona-nona itu. Semua rebah akibat totokan dan tak berkutik. Aku menyesal bukan buatan. Ingin rasanya aku segera mati saja saat itu. Sungguh, aku belum pernah dirobohkan orang secara demikian!"

Saking sengit, ketua Koay Too Hwee ini menepuk tangan. "Sudah itu kami mendengar kedua nona itu berbicara

sambil tertawa riang. Mereka mengatakan barang siapa telah datang ke Lim-an, mereka harus Thian Bak-san dan menemui majikan mereka. Tidak ada yang boleh pergi begitu saja kecuali jika sudah tidak bernapas lagi! Sesudah berkata begitu, dengan cepat mereka membebaskan kami dari totokannya. Setelah itu baru dengan tenang mereka pergi.

To-pie Sin-kiam In Kiam menghela napas. Ia tidak bisa berkata apa-apa, ia percaya keterangan itu sebab ia sudah pernah menyaksikan sendiri lihaynya kedua nona itu.

Sinar mata Tiang Keng berkilau. Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi batal.

"In Loo-ya-cu," kata Teng Cit kemudian. "Coba Loo-ya-cu tolong katakan, apa yang kami harus lakukan sekarang? Kami mau pergi tapi tak bisa! Jika kami tidak pergi, apa jadinya dengan kami? Kami toh sudah kehilangan kemerdekaan kami? Di depan kami ada serigala, di belakang kami ada harimau, maju atau mundur tetap saja salah! Maka itu bersama Loosam aku berpikir nekat, tetapi "

Sinar matanya lantas menjadi suram. Tak lama dia mulai melanjutkan kisahnya lagi. "Loo-ya-cu tentu telah mengetahui apa yang tadi terjadi atas diri kaum Ang Kin Hwee dari Gan Tong-san. Mereka tidak ada hubungannya dengan kami dan kami tidak mengetahui bagaimana terjadinya kecelakaan mereka itu. Kami cuma menduga nasib mereka sama dengan nasib kami Loo-sam dan aku berpikir, jika kami mati, kami pasti bakal binasa berdua. Tidak tahunya, contoh di sana hebat sekali. Orang rupanya berpikir untuk menumpas habis. Aku tidak takut mati tetapi tidak bisa mengorbankan semua saudaraku! Maka aku pikir akhirnya untuk tidak mundur saja, tapi akan melawan dengan nekat sekalipun

Diam-diam Tiang Keng mengangguk. Ia mengagumi orang she Teng ini yang mulai terbangun semangat kejantanannya.

"Begitulah aku mengumpulkan saudara-saudaraku dan menitahkan mereka bersiap sedia di jalan besar," kata Teng Cit. "Aku ingin menyaksikan, apa yang mereka bisa mereka lakukan terhadap kami! Dapatkah kami yang berjumlah dua ratus jiwa binasa semua secara bersamaan?"

Teng Cit memaksakan diri tertawa, tangannya menunjuk ke sekitarnya.

"Lihat!" kata Teng Cit. "Lihat, aku masih mempunyai sahabat-sahabat yang sejati! Sekarang aku juga memperoleh bantuan Loo-ya-cu serta In Tay-hiap. dengan begitu hatiku jadi bersemangat kembali!"

To-pie Sin-kiam In Kiam menghela napas. Ia tertarik pada penjelasan itu. Lalu ia melihat keadaan cuaca saat itu.

"Segera langit akan menjadi terang," kata In Kiam. "Mungkin "

Baru saja jago tua ini berkata demikian, dari luar terdengar suara jeritan. Semua orang terkejut, sedangkan wajah Teng Cit dan kawan-kawannya menjadi pucat seketika. Teng Cit melompat ke pintu, kedua tangannya mendorong dengan keras. Maka daun pintu yang kuat itu pun segera menjeblak terbuka. Dari ambang pintu, ia melompat jauh ke luar, matanya mengawasi dengan tajam ke depan, ke kiri dan kanan. Di antara sinar rembulan yang cahayanya lemah, kelihatan orang-orang Koay Too Hwee berdiri diam dalam kegelisahan. Rupanya mereka kaget dan amat ketakutan...

Kecuali orang-orang Koay Too Hwee, di situ tidak ada orang lain lagi.

Teng Cit lari lebih jauh ke depan. Telinganya mendengar berbagai jeritan tak putusnya, matanya melihat orang- orangnya dengan golok panjang di tangan roboh satu demi satu meskipun tubuh mereka besar dan kekar.

Sesudah maju lagi, Teng Cit tidak melihat seorang pun. Ada pintu-pintu yang dibuka sedikit lalu segera digabrukkan lagi.

Itu dilakukan untuk menyelamatkan diri. Ini pertanda bahwa mereka takut dan tak mau ikut campur

Setelah melihat ke sekelilingnya. Teng Cit melompat naik ke atas genting.

In Kian dan puteranya menyusul keluar. Mereka pasang mata dengan terang. Setelah itu, mereka menghampiri korban-korban untuk diperiksa lukanya dan ingin tahu apa yang menyebabkan mereka roboh. Setiap korban dadanya berlubang. Dari lubang itu darah mengucur keluar. Itu luka senjata rahasia. Tapi, senjata rahasia apakah itu dan dari mana datangnya serangan itu? Tidak ada orang yang melihatnya!

Tiong Teng menghunus pedang lunaknya. Dia mendampingi ayahnya sambil memasang mata dengan tajam. Ia melihat masih ada orang-orang yang roboh tak berdaya tapi penyerangnya tak tampak sama sekali. Mau tak mau, diam- diam hatinya gentar juga.. . Teng Cit bagaikan sedang kalap. Dia bergerak ke empat penjuru, maksudnya untuk mencari musuh yang tak terlihat itu. Semua orangnya sudah bersikap membela diri. Mereka berdiri belakang-membelakangi, golok mereka dibolak-balik di depan dada mereka. Tapi senjata rahasia yang seperti ada matanya itu, dapat menerobos di antara golok itu dan menemui sasaran. Setiap kali dilepaskan membuat sasaran itu roboh terkulai tanpa bersuara lagi....

Sekarang yang setiap kali terdengar ialahjeritann korbannya....

Walaupun mereka terancam bahaya, semua orang Koay Too Hwee tetap diam di jalan besar itu. Tak ada yang lari untuk menyingkir. Ini suatu tanda bahwa mereka sangat patuh pada tata-tertib dan sangat setia satu sama lain.

Tiang Keng memuji kepatuhan dan semangat orang-orang Koay Too Hwee itu. Karena itu ia tidak bisa diam saja. Tadinya ia cuma menyusul In Kiam dan Tiong Teng, sekarang ia melompat maju ke depan seorang Koay Too Hwee untuk pasang mata, sedang tangannya dikibaskan. Tak lama ia berdiri di situ, sesudah melihat ke sekitarnya, ia melompat mundur untuk berdiri di tempat yang terbuka. Di sini ia membuka sebelah kepalannya, maka pada telapak tangannya terlihat sebuah peluru besi kecil yang ada di depan batang durinya. Ia masih hijau tapi pengetahuannya luas. Ketika itu ia bisa segera mengenali ilmu silat Ngo Bie Pay yang ada pada diri Yo It Kiam. Akan tetapi sekarang ia harus mengerutkan alis, ia tak mengenali senjata rahasia ini meskipun ia sudah mengingat-ingat berulang kali. Senjata rahasia itu bagus dan hebat daya kerjanya. Sebab setiap kali dilepas pasti minta korban.

Di antara sinar yang suram dari sang fajar yang sedang mendatangi, memang sulit untuk bisa melihat sambaran senjata rahasia peluru berduri yang sangat kecil itu.

Tiang Keng memperhatikan jalan besar yang lurus itu. Di kedua sisinya terdapat rumah dan toko-toko milik penduduk yang semua pintunya tertutup rapat. Jadi tak mungkin penyerangan datang dari arah pintu rumah atau toko itu.

Teng Cit tahu, kalau ia berkumpul di sebuah rumah ia dengan mudah diserbu. Maka itu ia mengatur semua saudaranya bersiap di tempat terbuka yang sukar untuk dibokong atau disergap oleh musuh. Siapa tahu perhitungan itu keliru. Justru mereka menjadi sasaran senjata gelap yang luar biasa itu. Jangankan melawan, membela diri saja pun mereka tidak sanggup. Sedangkan untuk melarikan diri. mereka pantang. Teng Cit melihat kegagalannya itu. Dia menyesal sesudah terlambat.

Dengan lewatnya sang waktu, jumlah korban terus bertambah. Korban-korban itu sudah mendekati hampir separuh jumlah orang Koay Too Hwee ....

Melihat demikian, Tiong Teng jadi khawatir. Dia lantas bersilat guna menjaga ayahnya sambil sekalian membela diri.

Teng Cit juga membela diri berjaga dari setiap serangan gelap musuh sampai akhirnya dia bersuara.

"Sahabat baik dari mana yang sedang sembunyi? Silakan keluar sahabatku!" demikian kata Teng Cit. "Silakan kau temui Teng Cit secara berhadapan! Jika kau tetap bersembunyi, jangan gusar jika aku mencaci habis kau sampai pada leluhurmu!"

Percuma suara keras Teng Cit itu. Tak ada jawaban dari empat penjuru angin. Kesudahan dari teriakan Teng Cit ini, hebat sekali. Sesudah sekian lama dapat bertahan, akhirnya runtuhlah semangat orang-orang Koay Too Hwee itu. Dengan sebuah seruan, mereka bergerak untuk kaour secara berpencaran ke berbagai arah. Tapi langkah mereka itu mempercepat kebinasaan mereka.

Tiang Keng menenangkan diri. Dengan sabar ia terus memasang mata ke segala jurusan. Ia dapat kenyataan senjata rahasia itu datang dari berbagai penjuru tetapi ia tetap tak menemukan penyerangnya. Akhirnya baru ia bertindak.

Dengan tiba-tiba ia melompat sambil berseru nyaring. Tubuhnya mencelat tinggi, sebelah tangannya diayunkan. Dia menyerang ke arah payon dari sebuah toko yang berdekatan. Di bawah payon itu, seluruhnya gelap.

Hebat serangan Tiang Keng ini. Dengan suara berisik, runtuhlah payon itu. balok dan papannya berjatuhan hingga debu pun mengepul. Mendahului itu, sesosok bayangan melesat. Kalau tubuh Tiang Keng datang dari satu arah, bayangan itu kabur ke arah yang sebaliknya dan berkelebatnya dia cepat bagaikan halilintar....

0oo0