Dendam Asmara BAB 04. PARA TAMU IN KIAM DITANTANG

BAB 04. PARA TAMU IN KIAM DITANTANG UNTUK KE THIAN-BAK-SAN

Saat Kiauw Cian diam. Koan It Cay memandang ke sekitarnya, sambil menjura. dia berkata dengan suara nyaring,

"Tuan-tuan, izinkanlah aku mohon diri!" kata Koan It Cay.

Dia langsung berjalan, lewat di samping Gim Soan, dan berbisik. Anak muda berbaju kuning itu tersenyum.

Menyaksikan kejadian itu, Kwi Eng-ji heran, dia menduga- duga. pikirnya. "Aneh It Cay yang tadi besar kepala! Sesudah kalah, mengapa dia bersikap manis pada musuh yang mengalahkannya?"

Koan It Cay menurunkan ujung bajunya yang tadi dia selipkan di pinggangnya. Sesudah itu tanpa menoleh lagi kepada tuan rumah, dia memutar tubuh dan segera pergi meninggalkan tempat pesta....

ln Tiong Teng tidak puas. dia awasi orang itu dari jauh, tiba-tiba tubuhnya bergerak. Akan tetapi sebelum dia melangkah, lengannya sudah dicekal orang dan ditarik. Ketika dia menoleh, dia ternyata dicegah oleh ayahnya.

Mata Kiauw Cian berputar seketika, tak lama dia pun tertawa. "Tuan-tuan, jangan berdiri saja!" kata Kiauw Cian. "Mari kita masuk untuk melanjutkan minum arak! Kedatanganku selain membawa bingkisan untuk ln Loo-ya-cu. juga untuk memberi selamat pada beliau, aku membawa kabar baru untuk Tuan-tuan semua!"

Tiong Teng menenangkan diri, dia mengundang semua tamu-tamunya masuk lagi k ruang pesta. Mereka duduk kembali di tempatnya masing-masing.

ln Kiam saling melirik dengan Ciok Ciam Liong. lalu keduanya menghampiri Gim Soan, untuk memberi hormat sambil mengangguk kepada tamu muda itu.

"Heng-tay, kau masih muda dan gagah!" kata tuan rumah sambil tertawa, "Aku sebagai orang tua. kagum sekali kepadamu!"

Anak muda itu membalas hormat dari In Kiam. Mendadak dia tertawa dan berkata "Loo-cian-pwee, apakah kau tidak puas oleh sikapku barusan?"

Mata In Kiam bersinar, lantas sirna. Dia tertawa terbahak- bahak.

"Jangan berkata begitu, Gim Siauw-hiap," kata In Kiam. "Kau lihat, semua orang sudah masuk ke dalam, mengapa kau tidak mau ikut masuk? Mari kita minum! Aku pun ingin menanyakan sesuatu kepadamu!"

Gim Soan tertawa, dia mengangguk, terus dia berjalan masuk. Dia langsung ke kursi bekas Koan It Cay. Ketika dia mengawasi ke sekelilingnya, orang banyak pun sedang melirik ke arahnya.

In Kiam tertawa, dia mengundang tamunya minum arak. Ketika itu Tiong Teng berdiri berendeng dengan Leng-ho

Tie. Si Rubah Sakti dan Kwi Eng-ji Kiauw Cian. Tamu ini segera menghampiri In Kiam. Dia mengepit gulungan gambar dan mengangkat kotak yang dibawanya. "Keponakan Kiauw Cian menghaturkan selamat kepada Loo-jin-kee!" kata dia sambil tertawa. "Aku cuma menghaturkan sepasang buah poan-toh."

ln Kiam tertawa, sambil menyambut pemberian itu.

Semua mata diarahkan kepada kotak itu. semua ingin tahu apa isinya.

Begitu tuan rumah membuka tutupnya, di dalam kotak itu lantas melesat keluar sepasang anak-anakan, boneka anak lelaki dan perempuan, tingginya tidak sampai satu kaki. Kedua boneka itu bagus dan mungil sekali, tangannya masing-masing memegang sepasang buah poan-toh kemala. Anak-anakan itu sendiri terbuat dari kumala. Kedua boneka itu merupakan boneka pelayan Ong Bo Nio-nio, yang diberi nama Kim Tong dan Giok Lie.

Semua tamu sangat gembira, In Kiam sendiri tertawa lebar.

Kemudian tuan rumah meletakkan hadiah itu di atas meja Kiauw Cian tampak puas.

"Tadi telah kukatakan aku datang terlambat. Aku menyesal sekali. Sebenarnya itu tak selayaknya terjadi Jika yang terlambat tamu lain, itu bisa dimaklumi," kata Kiauw Cian. "Apa boleh buat malah aku yang terlambat, itu terjadi karena sangat terpaksa."

Lalu dia ulurkan tangannya.

"Karena aku mendengar sebuah berita dan aku yakin semua Tuan-tuan pun pasti ingin tahu. bukan? Tapi mungkin Tuan-tuan tak akan percaya. Aku pun mula-mula berpendapat begitu. Itu sebabnya aku terpaksa pergi ke gunung Thian-bak- san untuk menyaksikan sendiri. Setiba di sana. baru aku percaya!"

Kiauw Cian baru berkata sampai di situ, orang-orang sudah sangat tertarik, termasuk anak muda berbaju kuning ikut tertarik juga. Kwi Eng-ji menarik tongkatnya, sambil tersenyum, dia menyambung kata-katanya.

"Tuan-tuan. siapa yang merasa mempunyai kepandaian, aku anjurkan untuk membungkus barang bawaan kalian dan segera pergi ke gunung Thian-bak-san! Kuingatkan supaya kalian jangan menyesal jika tak pergi ke sana! Aku jamin pasti puas." kata Kiauw Cian.

Dia awasi semua tamu dan dia lihat mereka sangat penasaran sekali.

"Hian-tit. (keponakan) teruskan Kau jangan bicara separuh- separuh!" kata In Kiam.

Kiauw Cian tertawa geli.

"Bukan begitu, Loo-ya-cu." kata dia.

"Aku pergi ke sana dan tak sia-sia. Bagaimana pendapat Tuan-tuan? Jika aku membuka rahasia itu, apa yang akan kau hadiahkan untukku?"

Ucapan Kiauw Cian membuat orang tertawa. "Kiauw Sam-ya, (Tuan Kiauw ketiga), kami bersedia

memberimu hadiah!" kata seorang tamu, karena dia kenal baik tabiat si Bayangan Iblis. "Cuma aku mau tanya, apakah kau setuju pada bingkisan kami itu?"

Seorang yang lain berkata sambil tertawa.

"Kiauw Sam-ya, kau senang bergurau, aku yakin sekarang pun kau sedang bergurau! Aku senang mengembara, tapi aku tak tahu apa yang kau maksudkan menyesal jika kami tak ke sana?"

Kembali terdengar riuh suara gelak tawa tamu-tamu In Kiam itu. Seolah sekarang orang-orang seperti sudah melupakan peristiwa yang baru saja terjadi tadi. In Kiam pun kelihatan tidak percaya, ia kira keponakannya sedang bergurau.

Kiauw Cian mendorong cawan arak yang ada di atas meja, maksudnya agar meja bebas dari gelas-gelas itu, dan meja itu pun jadi leluasa untuk menaruh apa-apa. Dengan hati-hati dia meletakkan tiga buah gulungan gambar yang dia bawa-bawa ke atas meja. Sesudah itu dia menengadah dan kemudian berkata, "Tuan-tuan, kalian sangka aku sedang bergurau, bukan? Kalian keliru! Sekarang di Thian-bak-san telah dibangun sebuah lui-tay (panggung untuk mengadu silat). Jika Tuan-tuan berani naik ke lui-tay dan berhasil keluar sebagai juara. Tuan-tuan berhak atas semua gambar-gambar ini!"

Kwi Eng-ji mengangkat sebuah gulungan gambar itu, terus dia beberkan di depan para tamu. Ketika semua orang melihatnya, semuanya kagum. Itu adalah lukisan uang emas yang jumlahnya sangat banyak, entah berapa jumlahnya, karena lukisannya bagus, gambar itu indah sekali. Emas yang ada dalam gambar pun gemerlap mirip emas tulen.

Anak muda berbaju kuning segera mengeringkan arak dari cawannya. Dia menjepit sepotong hay-som. (tripang/ lintah laut) untuk dimasukkan ke dalam mulutnya dan dia kunyah makanan itu. Dia cuma melirik sekilas ke arah gambar uang emas itu. lalu sikapnya jadi acuh tak acuh.

Sebaliknya di antara hadirin banyak yang penasaran dan melotot melihatnya.

Tidak berapa lama, Kiauw Cian sudah mulai menggulung kembali gambar itu dengan hati-hati sekali.

"Ini belum mengherankan!" kata dia kemudian. "Sekarang silakan lihat gambar yang kedua!"

Dia letakkan gambar pertama, dia angkat gambar yang kedua untuk terus dibeberkan. Sekali lagi para hadirin jadi kagum dan gempar, semua mata mereka dipentang lebar- lebar. Hingga si anak muda berbaju kuning pun ikut melirik. Gambar itu melukiskan gambar pedang yang jumlahnya cukup banyak. Semua gambar pedang itu bercahaya. entah bahan apa yang dipakai melukisnya.

Kiauw Cian memegang gambar dengan tangan kirinya, dengan telunjuk tangan kanannya, dia menunjuk, "Ini Kim Coa Kiam, ini TengCoa Kiam, Hui Hong Kiam dan Yu Liong Kiam!

Tuan-tuan tentu pernah mendengar nama semua pedang ini, tetapi belum tentu Tuan-tuan semua pernah melihat pedangnya itu sendiri! Atau, siapakah di antara Tuan-tuan yang pernah melihatnya?" Dia sengaja membuat suaranya keras dan lama, kemudian dia tertawa dan menambahkan, "Tapi sekarang, jika Tuan-tuan pergi ke Thian-bak-san dan naik ke atas panggung pertandingan untuk memperlihatkan kepandaian Tuan-tuan, nah, pasti sebuah pedang ini bakal menjadi milik Tuan-tuan!"

"Eh, Kiauw Sam-ya!" kata seorang tamu, "Apa tak salah?

Bukankah kau sekarang sedang inemperdaya kami?"

Sin Tiauw berpaling dengan cepat, dia mengenali orang itu, yang suaranya nyaring sebagai Kwee Tok Peng, jago pedang Sam Cay Kiam dari Kamg-lam.

Kiauw Cian tertawa sambil berkata, "Kwee Toa-ya, kapan Kiauw Cian pernah memperdayai kau? Jika kau bersilat menggunakan pedang Hui Hong Kiam, ah, pasti tak akan ada orang yang sanggup melayanimu!"

Dengan tidak menunggu ucapan Kiauw Cian selesai. Tok Peng sudah maju, ke arah si Malaikat Copet, dia mengawasi dengan tajam. Sesudah itu dia memberi hormat kepada tuan rumah baru ia berkata, "In Loo-ya-cu, harap kau maafkan aku yang rendah hendak berangkat lebih dahulu!"

Kemudian dia memberi hormat ke empat penjuru, tanpa menunggu tuan rumah mencegah atau mengiyakan, dia sudah angkat kaki. Orang tersenyum. Mereka sudah tahu bagaimana tabiat Tok Peng memang ia orang yang sembrono.

Si baju kuning kelihatan tetap tenang, dia tetap asyik makan seolah dia tak tertarik sedikit pun pada harta karun itu.

In Kiam mengerutkan alis ketika menyaksikan tamunya sudah menghilang.

"Kiauw Hian-tit," katanya kemudian. "Bukankah kau sengaja sedang membual? Hebat sekali permainan sandiwaramu itu!"

Kiauw Cian tidak meladeni teguran tuan rumah yang menyangka dia sedang bergurau. Lalu dia gulung gambar itu. untuk diganti dengan gambar nomor tiga, sesudah itu dia tertawa.

"Jangan khawatir, Loo-ya-cu!" kata dia. "Jika keponakanmu cuma bergurau, kau boleh memerintahkan Tiong Teng menghajar batok kepalaku sampai hancur!" Dengan hati-hati. dia membeber gambar itu.

Kali ini si baju kuning sangat tertarik. Dia mendorong cawan yang sedang dipegangnya dan bangkit, untuk bisa melihat lebih jelas.

Para hadirin bersorak riuh.

Gambar itu bukan gambar emas atau pedang, tapi gambar seorang nona yang

wajahnya cantik sekali. Seperti dua gambar yang pertama, lukisannya pun tampak hidup dan indah sekali. Nona di dalam gambar itu memakai konde tinggi, mukanya berwarna dadu dan di pipinya ada sujennya. Alisnya lentik, hidungnya bangir, sepasang matanya jeli sekali. Sedangkan kedua baris giginya putih dan rata serta bibirnya berwarna merah. Pakaian nona itu pun indah sekali. Rambutnya hitam mengkilat. Sorakan para hadirin tiba-tiba berhenti mereka semua berdiri mematung dan terkesima, mata mereka melongo memandang kosong. Ruangan pesta yang luas itu pun tiba- tiba jadi sunyi senyap.

Tie Sie orang pertama yang paling dulu membuka suara.

Mula-mula dia menghela napas.

"Kiauw Sam-ya, kau telah membuat aku si orang tua harus membuka mata!" demikian kata Tie Sie. "Aku sudah pernah merantau ke selatan dan utara tetapi belum pernah aku menemui nona cantik manis seperti yang ada di gambar itu!"

Kiauw Cian terus memegangi gambar itu dengan tangan kirinya, dengan tangan kanannya dia urut kumisnya sambil tertawa dia berkata lagi.

"Tuan-tuan, dengar baik-baik! Aku katakan terus terang, jika aku tidak melihatnya sendiri nona itu, akupun tidak akan percaya seperti kalian sekarang! Baik kalian ketahui, meskipun si pelukis seorang ahli, dia tak mampu melukiskan kecantikan yang sebenarnya dari si nona tersebut." kata Kiauw Cian.

Si baju kuning perlahan-lahan duduk lagi, dia benar-benar keheranan dan jadi sangat tertarik oleh gambar itu. Ada sesuatu yang membuatnya berpikir keras. Itu karena dia seperti pernah kenal pada si nona, tapi dia lupa kapan dan di mana dia pernah bertemu dengannya?

Kiauw Cian tertawa, gambar itu dia angkat lebih tinggi. "Tuan-tuan!" kata Kiauw Cian dengan suara nyaring. "Jika

Tuan-tuan pergi ke gunung Thian-bak-san dan kalian naik ke

atas lui-tay sambil menunjukkan kegagahan juga bisa mengalahkan semua lawan pasti kalian akan jadi pemenang. ha, ha, ha!"

Kiauw Cian tak meneruskan kata-katanya karena dia tertawa keras. Dia tunjuk gambar nona itu. "Bukan saja ribuan mutiara dan laksaan potong uang emas bakal menjadi milikmu, tapi juga si cantik ini akan menjadi teman hidupmu di gedungmu yang indah! Cuma... ya, cuma. '* kembali Kiauw Cian tak meneruskan kata-katanya.

Seperti sengaja Kiauw Cian menghentikan kata-katanya sejenak. Gambar tadi diangkat perlahan-lahan dan biji mata Kiauw Cian berputar-putar.

Semua hadirin berdiri, semuanya mengawasi sambil pasang telinga.

To Pie Sin Kiam tertawa.

"Kiauw Hian-tit, bicaralah!" dia menganjurkan keponakannya bicara terus. "Lekas, jangan kau buat orang jadi tak sabar semua!"

Kwi Eng Ji Kiauw Cian tertawa.

"Cuma bagi barang siapa yang berpikir ingin menjadi suami si nona cantik manis ini." dia meneruskan, "Orang itu tidak boleh orang tua dan dia juga harus masih bujangan. Misal orang sepeitiku, apalagi ilmu silatku rendah, seandainya lihay pun. aku cuma bisajadi penonton saja! Aku sudah beristeri dan punya anak. Jika dulu aku tahu bakal ada kejadian seperti ini, aku terus terang tak akan terburu-buru menikah! Ha, ha, ha.ha."

Orang semua tertawa hingga suasana jadi ramai. Karena si Bayangan Iblis jadi jenaka sekali.

"Benarkah syaratnya harus seorang jejaka?" seseorang bertanya.

Kiauw Cian menoleh. Dia awasi orang yang bertanya itu, dia mengenalnya sebagai Touw-Eng In Loo-ngo si Rajawali Botak, guru silat termasyur di Kang-pak. Sebelum mejawab, Kiauw Cian tertawa. "Benar, tidak salah!" sahut Kiauw Cian "Jangankan orang sepertimu, sekalipun dia jelek atau matanya picek pun asal dia lihay dia bisa jadi suami nona itu!"

In Loo Ngo menepuk kepalanya, mukanya yang merah jadi bersinar.

"Kalau benar begitu, aku In Loo Ngo harus pergi ke Thian- bak-san!" katanya.

Kembali dia duduk untuk menghirup arak, kemudian dia tarik ikat kepalanya yang model swastika, hingga terlihat kepalanya yang botak!

Orang bersorak, sesudah itu mereka duduk kembali.

Kiauw Cian menggulung gambar itu lalu dia kumpulkan menjadi satu. Lalu dia ikut duduk.

"Kiauw Hian-tit," kata tuan rumah kemudian. "Kau sudah bicara, maka sekarang datang giliranku untuk bertanya.

Sebenarnya, bagaimana duduk perkaranya? Siapakah yang membangun panggung pertandingan silat itu? Aku heran! Kenapa orang sampai menyediakan harta dan dirinya sendiri siap untuk menjadi isteri sembarangan lelaki?"

Kwi Eng Jie Kiauw Cian mengangkat cangkir araknya, dia tenggak isinya.

"In Loo-ya-cu," kata Kiauw Cian sambil tertawa. "Kejadian yang sebenarnya, aku sendiri tidak tahu secara jelas. Tapi ini benar-benar bukan isapan jempol. Siapa yang mau pergi ke sana, baik yang lihay maupun tidak, dia tidak akan rugi!"

Sepasang alis In Kiam berkerut.

"Jika begitu katamu, mungkin aku juga bakal pergi ke sana untuk melihat-lihat," kata In Kiam. "Aku yakin sebelum dua bulan di Thian-bak-san bakal berkumpul dan muncul orang- orang gagah dari seluruh negeri!" Baru saja In Kiam berhenti bicara terdengar suara tawa nyaring. Ketika orang menoleh, mereka segera tahu yang tertawa itu adalah si pemuda berbaju kuning.

"Menurutku yang tak berkepandaian tinggi, sebaiknya jangan pergi!" kata dia. "Karena percuma saja, selain buang waktu juga buang biaya saja! Membuang beras untuk umpan ayam yang sia-sia, karena ayamnya tak berhasil ditangkap."

ln Tiong Teng, yang sejak tadi berdiri diam, dia ikut campur bicara.

"Kalau begitu katamu. Tuan," katanya. "Bukankah sudah cukup andaikata kau sendiri saja yang pergi ke sana?"

In Kiam mengerutkan alisnya, dia menoleh ke arah anaknya. In Kiam seperti menyesalkan ucapan puteranya itu. Karena ucapan itu bagaikan orang seolah mencari gara-gara. Dia merasa yakin sudah tahu asal-usul si baju kuning itu.

"Benar, benar!" jawab Gim Soan sambil tertawa dingin. "Contohnya orang sepertimu. Tuan. lebih baik tidak pergi ke sana!"

Alis Tiong Teng bangun. Banyak orang yang parasnya segera berubah. Sebaliknya si baju kuning bersikap tenang- tenang saja. Dia seperti tak menghiraukan orang-orang itu. Semua orang diam, kemudian dia berpaling pada Kiauw Cian.

"Tuan. tiga buah gambarmu itu sebaiknya jangan kau bawa-bawa terus!" kata si baju kuning sambil tertawa.

Sesudah itu dia ulurkan tangannya, akan mengambil ketiga gambar itu. Kiauw Cian terkejut.

"Tak perlu kau usil. Tuan!" kata Kiauw Cian, dengan tangan kanan yang memegangi cawan arak. dia tekan keras ketiga gambarnya itu.

Si baju kuning tertawa dingin. Tangan kirinya sudah tiba pada gambar itu. Mendadak Kwi Eng-Ji Kiauw Cian kaget sekali. Tangannya yang dipakai menekan gambar terasa panas sekali. Mendadak arak dalam cawannya menyembur naik seperti air mancur, muncrat mengenai tubuh Kiauw Cian.

Semua orang kaget. Itu bukti dari lihaynya tenaga dalam si anak muda berbaju kuning. Tanpa bisa dicegah lagi, ketiga gambar sudah berpindah tangan ke tangan si anak muda itu, sambil tertawa dia berkata, "Lebih baik gambar ini diserahkan kepadaku!"

Muka Kiauw Cian pucat. Sudah biasa baginya, jika tidak sangat terpaksa, dia tidak mau berkelahi dengan siapa pun juga. Sekarang keadaannya jadi lain, dia telah sangat dihina. Mendadak dia membungkuk seraya kedua tangannya diluncurkan ke rusuk pemuda itu.

"Sahabat, kau terlalu angkuh!" bentak Kiauw Cian. "Eh, kau mau turun tangan?" tegur Gim Soan. Matanya

mendelik, suaranya keras. Dengan cepat tangan kirinya yang

memegang gambar diluncurkan ke nadi si Malaikat Copet! Sambil duduk, kedua orang jago itu telah mulai bertarung.

Ciok Ciam Liong, yang duduk di sisi Gim Soan, jadi tidak senang.

"Sahabat, di sini bukan gelanggang pertempuran!" dia tegur si baju kuning.

Ciok Ciam Liong menyikut dengan tangan kirinya ke iga kanan lawan.

Pemuda itu gesit. Dengan tangan kirinya yang sedang memegang gambar, dia jagai tangan Kiauw Cian, dengan tangan kanan, dia dahului menotokjalan darah kiok-ti Ciam Liong. Hingga gagallah serangan orang she Ciok itu.

Waktu itu terlihat sesuatu berkelebat menyerang ke arah muka si baju kuning, dengan begitu dia jadi diserang dari tiga arah. Dia benar-benar lihay, ketika tubuhnya mencelat, dia telah lenyap dari sasaran lawannya!

Serangan Kiauw Cian dan Ciam Liong gagal, sedang sinar yang banyaknya dua buah itu melayang ke arah batok kepala botak ln Loo-Ngo!

Si Rajawali Botak kaget. Dia bangun sedang kedua tangannya mengebuti pakaiannya. Syukur dia berhasil menangkis serangan itu, hingga kedua senjata rahasia itu mental ke luar ruangan.

Ternyata senjata itu sepasang sumpit, yang ditimpukkan oleh tuan ramah, yang hatinya jadi panas.

Melihat si baju kuning menyingkir bersama-sama kursinya, waktu itu Tiong Teng duduk tepat di depan meja Pat-sian (Delapan Dewa) yang terdapat siu-toh, "buah'" persik sebagai lambang panjang umur. Si baju kuning duduk sambil tersenyum tawar.

Cian Liong dan Kiauw Cian mendorong cangkir arak mereka. Keduanya berdiri.

Si baju kuning tetap duduk tenang, bahkan perlahan-lahan dia buka satu gulung lukisan itu. Kelihatan sinar matanya bengis luar biasa.

Seorang pelayan. yang membawakan makanan di atas nampan, berdiri bengong.

Saat suasana demikian tegang, dari luar terdengar suara tertawa nyaring disusul dengan kata-kata merdu.

"Sepasang sumpit ini indah sekali, sayang kalau sampai jatuh dan rusak!..

Semua orang heran, semuanya berpaling ke arah luar.

Di ambang pintu terlihat berjalan masuk dua orang perempuan memakai konde tinggi, berbaju merah, romannya cantik dan pinggangnya langsing. Setiap nona itu pada tangannya yang putih memegang sumpit yang disampok oleh si kepala gundu.!

Setelah melihat si nona, Kiauw Cian terperanjat heran. Setelah melengak sejenak, dia berjalan menghampiri untuk menyambut kedua wanita itu.

Kedua nona itu memandang ke seluruh ruangan, mereka mengangkat tangan kirinya menutup mulut mereka. Mereka tertawa tertahan yang satunya terus berkata. "Kiranya Kiauw Sam-ya ada di sini!" katanya.

Sesudah berkata begitu, dia tertawa lagi.

Orang terpesona mendengar suara tawa yang merdu itu, semua mata diarahkan ke arah kedua nona itu.

Kiauw Cian mendekati kedua nona itu, dia memberi hormat sambil menjura.

"Mengapa nona-nona malah datang ke mari?" tanyanya dengan sangat hormat.

Kedua nona itu mengulur masing-masing tangannya menyerahkan sumpit yang ada di tangan mereka pada si

Malaikat Copet, lalu dengan tangannya itu mereka menyingkap rambut mereka. Kembali keduanya tertawa.

"'Kami juga datang untuk menghaturkan selamat!" kata nona yang satu. "Kiauw Sam-ya, tolong kau perkenalkan kepada kami! Mana ln Loo-ya-cu yang menjadi tuan rumah dan tengah merayakan ulang tahunnya itu?"

Ketika itu ruang yang lebar itu tetap terang bagaikan siang hari. Di pekarangan luar, obor pun tidak disingkirkan. Ruang sunyi lagi. Para hadirin kagum oleh kedua wanita itu. lebih- lebih untuk romannya yang mirip satu dengan yang lain.

Sejenak tak ada yang bisa memilih mana yang lebih istimewa .

ln Kiam segera berjalan menghampiri mereka secara perlahan-lahan. Dia menduga kedua nona itu ada sangkut- pautnya dengan nona pada lukisan yang dibawa-bawa oleh Kiauw Cian.

Kedua nona itu pun berjalan ke arah tuan rumah, mereka buru-buru memberi hormat sambil membungkuk, pada wajah mereka tersungging senyuman manis.

"Pasti kami sedang berhadapan dengan In Loo-ya-cu!" kata mereka sambil tertawa "Kami kakak beradik datang terlambat untuk memberi selamat, kami mohon diberi maaf!"

Tuan rumah menyingkap janggutnya sambil tertawa. "Kalian baik sekali. Nona-nona!" kata In Kiam. "Kedatangan

kalian ini suatu kehormatan besar yang aku tidak berani menerimanya

Tuan rumah berlaku tenang walaupun semua kejadian di rumahnya itu sangat mengherankan.

Kedua nona itu berdiri, mulut mereka ditutup dengan tangannya. Mereka tertawa geli. "Kata-katamu membuat kami malu, Loo-ya-cu!" kata mereka. "Nona kami sering berkata bahwa pada zaman sekarang ini. Loo-ya-cu adalah Loo-cian- pwee nomor satu. sudah sepantasnya nona kami mengutus kami memberi selamat. Kami menerima tugas ini senang luar biasa. Kami minta Loo-ya-cu jangan sungkan-sungkan."

Para hadirin heran ketika mengetahui kedua nona itu pelayan si nona yang ada di Thian-bak-san. Oleh karena itu mereka menduga-duga. entah bagaimana roman si "nona" majikan mereka. Mereka pun menduga jangan-jangan si nona majikan itu si nona dari Thian-bak-san. karena itu mereka bertambah bersemangat ingin pergi ke gunung itu . .

In Kiam tertawa. Ketika dia mau berkata lagi, kedua nona itu pun tertawa, dan yang satu berkata. "Kami terlalu banyak bicara, sampai kami lupa!"

Mereka berjalan ke ambang pintu, sesudah itu salah seorang bertepuk tangan perlahan beberapa kali, sambil berbuat begitu, nona yang satu berkata lagi. "Nona kami menyuruh menyerahkan bingkisan beberapa macam barang untuk Loo-ya-cu. Nona juga minta disampaikan maafnya karena dia tak dapat datang sendiri."

In Kiam merendahkan diri.

Ketika itu di muka pintu terlihat dua budak perempuan yang masih muda sekali, pakaian merekajuga merah, dan tangan yang satu membawa sebuah kotak emas yang berkilauan. Entah isi kotak itu apa, tetapi kotaknya saja sudah berharga sekali.

Para tamu keheranan. Tapi, sebelum lenyap keheranan mereka itu, tiba-tiba mereka melihat munculnya dua budak perempuan yang lain, yang pakaiannya sama berwarna merah dan tangannya membawa kotak emas juga, bahkan kali ini sepasang!

In Kiam bertindak ke pintu.

"Nona-nona, tak usah . . " kata ln Kiam tapi belum sempat bicara terus sudah berhenti karena dari luar sudah terlihat datangnya delapan pasang nona-nona yang membawa sebuah kotak emas, mereka semua berpakaian merah, langkah mereka rapi. Setiba di depan tuan rumah, dengan sikap menghormat sekali mereka menyerahkan kotak itu.

Semua tamu keheranan hingga mereka jadi melongo. Cuma si baju kuning yang tetap duduk tenang di kursinya, tangannya membeber gambar, matanya mengawasi tajam pada lukisan si nona cantik di dalam gambar itu. Kelihatan dia sedang berpikir keras.

"Beberapa barang bingkisan ini tidak berarti apa-apa." kata salah satu di antara kedua nona itu. Sambil berkata mereka selalu sambil tersenyum manis. "Karena itu harap Loo-ya-cu jangan sungkan menerimanya. Kami pun ingin memberikan secangkir arak kebahagiaan kepada Loo-ya-cu!" Mereka menghampiri meja untuk mengambil arak, kemudian mereka dilayani seorang pria. ln Kiam sendiri sudah berjalan menghampiri mereka, untuk menyambut arak pemberian selamat itu sambil berkata, "Baiklah, aku terima ucapan selamat kalian. Terima kasih!"

Dia teguk kering isi cawannya.

Kedua nona mencicipi arak itu dari cawan mereka masing- masing, kemudian yang satu berkata kepada orang banyak. "Loo-ya-cu merayakan hari ulang tahun hingga banyak orang gagah yang datang dari berbagai tempat, maka itu. harap terima salam hormat dari kami berdua! Mari kita keringkan cawan kita!"

Semua tamu menyambut kata-kata itu dan mereka pun meneguk arak mereka masing-masing. Mereka tidak bilang apa-apa. mereka seperti telah terpengaruh oleh kedua nona itu.

Sesudah itu. kedua nona tersebut mengawasi pada si anak muda berbaju kuning yang tak menghiraukan sesuatu yang sedang terjadi. Melihat demikian. Kwi Eng-ji Kiauw Cian menghampiri kedua nona itu dan berkata dengan suara perlahan. Mata kedua nona terangkat, tapi cuma sekejap, mereka sudah tertawa lagi.

"Sungguh kami tidak menyangka!" kata nona yang satu. "Kedatangan kami ke mari masih sempat bertemu seorang tamu yang masih muda dan gagah! Karena itu kami semua saudara, harus memberi selamat juga!"

Berbareng dengan berhentinya kata-kata si nona. nona yang berdiri di pojok kanan sudah segera melemparkan cawan araknya ke arah si anak muda bebaju kuning. Arak itu melayang namun tidak tumpah, bahkan sambil berpaling anak muda itu menyedot dan meniupnya kembali ke arah para nona itu! Semua tamu jadi heran, tidak terkecuali kedua nona itu.

Tak lama nona yang berada di kanan sudah menyambut cawan kosong yang menyambar ke arahnya.

Habis minum arak itu, si anak muda tertawa.

"Arak yang harum dan nikmat!" dia memuji. "Jika nona tidak suka gambar ini ada di tanganku, akan kukembalikan!"

Dia tertawa sejenak kedua tangannya diluncurkan untuk melemparkan gambar itu ke arah kedua nona berbaju merah itu. Bagaikan senjata rahasia, gambar itu melesat ke arah kedua nona itu.

Melihat kejadian itu, Ciok Ciam Liong terkejut, dia ingin mengibaskan tangannya untuk menangkis serangan gambar yang ditujukan pada kedua nona itu, tapi batal karena dia lihat aksi kedua nona itu.

Mereka tidak berani menyambut serangan anak muda itu. lalu mereka berkelit, saat gambar sudah lewat baru mereka melompat untuk menyusul.

Anak muda itu bertepuk tangan, dia tertawa dan bersorak "Bagus!" serunya. "Kalian menghormati aku dengan

secawan arak. aku membalasnya dengan segumpal mega

untuk dipakai mengantar dewi-dewi terbang melayang hingga sang angin meniup kun-nya!"

Kedua nona itu tiba di luar. mereka pun tertawa dan berkata. "Kami menginjak mega. Tuan menjadi si Dewa Mabuk! Kalau Tuan sudi, mengapa Tuan tidak turut kami naik mega bersama untuk pergi pesiar mendaki langit?"

Enam belas nona-nona pembawa berbagai kotak tadi semuanya tertawa, mereka meletakkan kotak mereka, lalu mereka berlari-lari menyusul kedua nona yang membawa gambar bagaikan mega itu. Mereka berputar-putar di pekarangan rumah yang luas itu. Semua tamu keheranan dan kagum sekali. Mereka berlarian menuju ke pintu depan untuk menonton. Anak muda berbaju kuning itu menyusul keluar sambil tertawa.

"Sungguh kalian mirip dengan Dewi di atas mega!" kata si baju kuning.

Dia melompat akan menyusul kedua nona itu. Akan tetapi kedua nona itu tertawa dan menyambutnya dengan serangan empat tangan mereka kepundak dan dada si pemuda berbaju kuning! Mau tak mau, pemuda berbaju kuning itu membatalkan niatnya

menyusul mereka.

0oo0