Dendam Asmara BAB 03. PU-BU

BAB 03. PU-BU ANTARA KOAN IT CAY DAN IN TIONG TENG;

In Kiam menyambut ajakan untuk minum arak itu. Dia ingin melegakan dan menyenangkan hatinya yang sedang kusut tersebut.

Tiba-tiba Koan It Cay memperdengarkan suara tawanya yang dingin, tanpa diminta. Dia berkata perlahan tetapi nadanya angkuh.

"Memang To Ho Jian gagah sekali, tetapi jika dikatakan tak bisa dikalahkan, itu tidak mungkin! Tapi heran sekali ke mana larinya dia sampai sepuluh tahun lamanya tanpa ketahuan bayangannya lagi? Mustahil dia bisa terbang naik ke langit atau masuk ke dalam tanah?" kata Koan lt Cay.

Suaranya terdengar tidak sedap. Sepasang alis tuan rumah bangun, ia lantas bangkit dari tempat duduknya

"Sayang, sayang!" kata In Kiam dengan keras.

Dia menengadah sambil tertawa kemudian dia berkata lagi. "Sayang Hek Bie Tan baru bangkit selama dua tahun ini! Kalau tidak. Koan To-cu, mungkin sebutan To Ho Jian itu menjadi milik To-cu (ketua)!"

Koan It Cay tidak gusar oleh ucapan itu. tapi dia berkata dengan dingin, "Itu mungkin saja!"

Dilawan secara tawar dan dingin begitu. To Pi Sin-Kiam jadi mendongkol juga. Tadi dia sudah duduk, tetapi dia menepuk meja sambil bangkit kembali dari kursinya. Lantas dengan suara dalam dia berkata.

"Koan To-cu. hari ini kau datang untuk memberi selamat kepadaku, aku menghaturkan banyak terima kasih! Sekarang upacara ini sudah selesai, aku si Tua tak bisa menahanmu lama-lama di sini. karena itu. silakan, silakanlah!"

Dia terus menoleh kepada putera-nya. untuk memerintahkan pada sang pulera mengantarkan tamunya itu pergi. Dengan demikian dia telah mengusir tamunya itu secara halus.

""Tiong Teng. kau wakili aku mengantarkan tamuku itu pulang!" kata In Kiam.

Bukan main gusarnya tuan rumah hingga dia mengusir tamunya itu dengan kasar sekali

It Cay seorang yang luar biasa. Mula-mula dia tidak menerima perlakuan tuan rumah yang dianggapnya kasar itu. Entah bagaimana cara dia mendapat semacam kepandaian, karena itu dia telah mendirikan perkumpulan Hek Bie Tan (Pemujaan Ketan Hitam).

Dengan berdirinya perkumpulan itu dia melakukan sesuatu hingga dia berhasil mengangkat namanya. Sebagai seorang ternama, dia tidak merasa malu diusir oleh tuan rumah. Dia tidak mau mengerti padahal dia yang mula-mula mencari gara-gara dan usilan. Dia telah menghina tuan rumah.

Wajahnya jadi suram. Tapi pada wajahnya tetap kelihatan tersenyum sinis. Sambil menuding ke arah tuan rumah, dia membentak, "Orang she In. kau pikir baik-baik! Kau berani kurang ajar begini kepadaku, rupanya kau si Tua Bangka sudah bosan hidup ya! Sebentar lagi, di hadapan semua orang gagah, aku hendak memberi pelajaran kepadamu!"

Koan It Cay berdiri sambil menggulung tangan bajunya.

In Kiam gusar bukan main dia dorong meja yang ada di hadapannya, sampai meja itu terbalik. Piring dan mangkuk yang ada di atas meja itu berjatuhan hingga makanannya pun berantakan di lantai. Untung orang yang duduk di situ bisa segera melompat mundur hingga tak terkena tumpahan sayur panas.

Semua orang terkejut, mereka tampak mulai tak puas.

Dengan muka pucat saking gusar, liong Teng menegur tamunya itu.

"Sahabat she Koan, apa yang kau lakukan? Rupanya kau hendak membuat malu keluarga In!"

"Lalu kau mau apa?" tanya Koan It Cay sambil tertawa mengejek. "Lain orang jerih terhadap keluarga In, tapi aku tidak sama sekali! Bocah she ln, jika kau tetap mau mengurus piauw-kiok (perusahaan ekspedisi) kau boleh catat namaku si orang she Koan!"

Leng Ho maju ke tengah gelanggang, kedua tangannya dilambai-lambaikan.

"Koan To-cu. aku minta kau suka memandang muka Tie Sie!" kata Leng Ho. "Dan kau. Kakak ingatlah hari ini hari apa?"

Kemudian dia berkata pada orang banyak.

"Saudara-saudara, silakan semua mengambil tempat duduk kalian masing-masing! Mari kita ucapkan selamat kepada tuan rumah!" Ajakan Tie Sie tidak bisa membujuk para tamu, sebab orang telah jadi kacau.

To Pie Sin Kiam masih mendongkol, dia berkata dengan suara keras.

"Kalian boleh main gila terhadapku, tapi tidak terhadap saudara Ho Jian! Siapa yang berani menghinanya, aku harus ikut campur, aku ingin menguji dia!"

Tiong Teng membujuk ayahnya, di lain pihak, dia pun menegur Koan It Cay.

Ketua "Hek Bi Tan" tidak takut, dia tetap membawa sikap angkuhnya. Dia kelihatan garang sekali. Melihat demikian. Jin Gie Kiam-kek In Tiong Teng habis sabar. Maka ia menuding dan berkata. ""Orang she Koan, kau benar-benar mau mengacau di sini! Mari, mari. hadapi aku ln Tiong Teng, aku ingin belajar kenal denganmu!"

Sesudah itu dia singkap ujung bajunya, In Tiong menjejak lantai dan melompat. Gerakannya sangat gesit hingga orang- orang yang menyaksik.ui memuji ilmu meringankan tubuhnya itu Koan It Cay menyusul keluar. Cam dia melompat membuat para hadirin heran. Dia bisa bergerak dengan lebih gesit lagi dibanding Tiong Teng. Melihat itu In Kiam buru-buru ikut keluar.

Karena itu, semua tamu meninggalkan kursinya masing- masing, kecuali seorang yang duduk di pojok meja Orang itu seperti tidak meng-hiraukan apa yang terjadi saat itu, orang itu terus sibuk dengan makanan yang sedang dinikmatinya. Dia seperti tak melihat dan tak mendengar apa-apa. Dia adalah tamu yang masih muda berbaju kuning. Wajahnya tampan, sikapnya angkuh. Kemudian ia baru bangun, matanya masih mengawasi ke piring daging ayam. Dia menghela napas, terus dia menyambar sepotong ayam, untuk dirobek dan dimasukkan ke mulutnya. Dia menikmati daging ayam itu dengan lahapnya. Sesudah itu, dia bertindak keluar, menyelak di antara tamu-tamu lainnya.

Ketika itu pekarangan depan menjadi sangat sunyi. Orang yang ratusan jumlahnya itu semuanya bungkam. Karena tak lama pertempuran sudah dimulai, pertempuran di antara jago Ciat-kang Timur dengan tuan rumah yang masih muda itu.

Dengan langkah perlahan, si pemuda berbaju kuning berjalan keluar. Kedua jago yang bertempur itu tidak membuka baju mereka yang panjang. Ujung bajunya mereka selipkan saja di pinggang mereka. Sepatu mereka pun tak sempat ditukar lagi. Toh gerak-gerik mereka tidak terganggu karenanya.

Tiong Teng tampak sangat gesit, Koan ItCay malah kelihatan lebih gesit. Mata orang banyak hampir kabur melihat gerak-gerik kedua orang itu.

Ciok Ciam Liong mendampingi tuan rumah, tetapi tidak ada seorang pun yang berani bertindak apa-apa. Mereka cuma berharap Tiong Teng bisa memenangkan pertarungan itu.

Ketika itu hari sudah malam, tak heran di atas tembok dan di sekitarnya telah ditambah dengan puluhan obor. ini membuat seluruh pekarangan menjadi terang sekali. Karena semua obor itu terbuat dari cabang pohon cemara, sehingga saat obor menyala senantiasa terdengar suara pereteknya yang berisik.

Tanpa terasa, kedua pihak sudah bertempur seratus jurus lebih. Ini tidak mengherankan, semua orang sudah menduga tidak mungkin pertempuran akan berakhir dalam tempo singkat.

Lama-lama, Koan It Cay jadi tidak sabaran. Ia segera mendesak dengan serangannya yang hebat.

Semua mata ditujukan terutama kepada Tiong Teng yang selama ini sikapnya sangat tertutup. Orang ingin tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana kepandaian putera In Kiam ini.....

In Kiam tampak tenang-tenang saja. padahal sebenarnya hatinya sangat tegang. In Kiam sudah siap sedia untuk menolong puteranya andaikata puteranya itu dikalahkan oleh Koan It Cay.

It Cay menyerang dengan kedua tangannya secara berbareng. Itu adalah pukulan maut.

Tiong Teng tidak menangkis serangan itu. Ketika serangan It Cay tiba. mendadak tubuh Tiong Teng berputar, hingga dalam tempo singkat, dia sudah berada di belakang lawannya. Kedua tangan It Cay ternyata meluncur ke tempat kosong, angin serangannya membuat sebuah obor di atas tembok hampir padam.

Gesit sekali, jago Ciat-kang itu pun segera bergerak menghindari serangan dari Tiong Teng. Dengan demikian dia bebas dari serangan balasan Tiong Teng. Dia menggunakan jurus "Thian Onggi-kah" atau tipu silat "Raja Langit melepaskan jubah perang".

In Kiam menyaksikan adegan itu dengan hati mencekam.

Sekarang dia sadar mengapa ketua "Hek B i Tan" begitu cepat bisa mengangkat namanya hingga jadi termasyur. Kiranya dia benar-benar sangat lihay. Nyata sudah, sekalipun anaknya telah mewarisi kepandaiannya, dia masih kalah unggul oleh Koan It Cay. Dia jadi masgul sendiri. Terutama ia sangat menyesal, di hari baiknya itu, ada orang yang datang mengacau pesta ulang tahun di rumahnya. .

Pertempuran berlanjut terus. Tiong Teng berada di bawah angin dan terdesak oleh lawannya. Tapi dia masih dapat bertahan.

Dalam keadaan yang sangat gawat itu, tiba-tiba orang mendengar suara tertawa dingin. Suara itu datang dari ambang pintu. Suara itu sangat tidak sedap di telinga. Menyusul suara tawa itu, terdengar pula kata-kata orang yang tertawa tadi, dia bicara dengan ayal-ayalan.

"Pertempuran macam begini mana ada artinya? Aku yang bodoh diherankan oleh ilmu silat kalian berdua! Jelas banyak celah yang bisa diserang oleh lawan! Mengapa kalian tidak bisa saling melihat celah dan kelemahan kalian masing- masing?"

Mendengar ucapan orang itu semua jadi keheranan Semua berpaling. Mereka melihat orang yang tertawa mengejek itu. Ternyata orang itu adalah si baju kuning. Lagaknya temberang. Dia berdiri di anak tangga di muka pintu, kedua tangannya digendong ke belakang. Dia bicara dengan roman acuh tak acuh, karena dia bertubuh tinggi, jadi dia kelihatan jelas di antara orang banyak. Pinggangnya ceking, di mukanya masih terlihat sisa senyum ejekannya!

Orang jadi heran. Di mata mereka, dia seorang pemuda yang tidak dikenal. Dia sebaliknya tenang-tenang saja. Dia juga tidak menghiraukan semua mata diarahkan kepadanya.

Di dalam kesunyian, sekalipun suara orang ini perlahan, kata-katanya itu terdengar jelas oleh dua orang yang sedang bertempur itu. Mereka pun jadi heran Saking tertarik hatinya, mendadak keduanya sama-sama melompat mundur, hingga pertempuran mereka itu tertunda seketika.

Para penonton, karena herannya, banyak yang menduga- duga mungkin si baju kuning seorang yang otaknya miring, sebab dia berani mencela dua orang jago yang bertarung mati-matian. Sedang orang lain tidak melihat cacat dari ilmu silat kedua jago yang sedang bertarung itu.

Cuma In Kiam berpikir lain, dia sependapat dengan pandangan anak muda itu. Dia melihat sendiri gerakan puteranya. Mungkin karena anaknya itu letih, gerakkannya jadi kacau. Karena itu. anaknya sedikit lengah, untung lawannya tak melihatnya. Gelanggang jadi bertambah sunyi. Semua hadirin kaget.

Koan It Cay dan Tiong Teng berdiri diam. Sebagai orang- orang gagah, mereka tidak bisa memaki pada tamu yang jahil dan telah mencela ilmu silat mereka.

Si baju kuning tertawa terbahak-bahak.

"Bagus, Tuan, bagus! Kalian pandai merendahkan diri!" kata si baju kuning. "Cuma bagaimana aku bisa memberi petunjuk padamu dalam tempo begini singkat? Celah itu banyak sekali!"

Sesudah itu si baju kuning berpaling ke arah Tiong Teng sambil tertawa dan dia menambahkan. "Kepandaianmu sama dengan kepandaiannya, itu yang dikatakan setengah kati ialah delapan tail, maka itu jika kau tidak belajar lebih jauh dengan sungguh-sungguh, ada kemungkinan di kemudian hari, jika kau bertemu dengan orang lihay, kau bakal tak sanggup bertahan hanya untuk tiga jurus saja! Bukankah itu akan sangat memalukan?"

Muka Koan It Cay dan Tiong Teng jadi pucat, keduanya merasa sangat malu.

Tiong Teng memandang dengan tajam, dia tertawa dingin, akan tetapi ketika dia mau membuka mulut, tiba-tiba dia mendengar ayahnya berdehem dan batuk-batuk. Dia mengerti itu cegahan untuk dia agar tak melakukan apapun. Terpaksa Tiong Teng membatalkan niatnya akan melakukan sesuatu terhadap tamu yang lancang ini.

Sebaliknya Koan lt Cay si ketua "Hek Bi Tan" yang takabur itu tak bisa menguasai diri lagi.

"Sahabat!" kata Koan It Cay sambil tertawa dingin. "Dengan kata-katamu ini rupanya cuma kaulah orang pandai itu! Jika benar, aku minta kau suka mempertunjukan kepandaian itu di hadapan orang banyak ini! Aku si orang she Koan yang tidak berguna, aku ingin benar-benar yakin bahwa aku tidak sanggup bertahan hanya dalam tiga jurus olehmu!"

Sesudah itu jago Ciat-kang ini sudah bersiap untuk bertarung lagi. Orang banyak mengawasi kedua orang itu. Mereka tak puas terhadap si anak muda berbaju kuning, tapi juga berbareng mereka khawatir untuknya. Mereka semua mengetahui kelihayan si "Rajawali Tak Bersayap", yang kejam itu

Sedikitpun anak muda berbaju kuning itu tidak jerih pada lawannya, malah kembali dia tertawa terbahak-bahak.

"Aku bukan orang gagah!" kata si baju kuning. "Akan tetapi, untuk melayanimu. rasanya cukup dengan tiga sampai lima jurus saja! Jika kau tidak percaya, mari kita coba! Hanya, menurutku, lebih baik sudahi saja masalah ini! Bukankah Tuan berada di hadapan begini banyak orang? Buat apa memaksakan diri mencari malu sendiri?"

Sambil berkata si baju kuning tertawa!

Orang-orang benar-benar keheranan. Pemuda berbaju kuning ini sangat jumavva.

In Kiam, Ciok Ciam Liong dan Tie Sie juga heran, mereka pikir anak muda berbaju kuning itu bukan orang sembarang. Jika tidak, mana mungkin dia begitu sombong.

In Kiam senang Tiong Teng mau mendengar kata-katanya. Karena Tiong Teng tak bereaksi, In Kiam memperkirakan Koan It Cay yang akan menggantikan menjadi lawan si baju kuning. Terkaannya ternyata memang tepat. Maka In Kiam jadi diam terus, untuk menyaksikan perkembangan lebih jauh.

"Sahabat, kau baik sekali!" kata jago dari Ciat-kang itu. Koan It Cay mencoba menyabarkan diri sekalipun hatinya sangat panas. "Baiklah, aku suka belajar kenal dengan kepandaiamu! Mari, sahabat, aku tak sungkan-sungkan lagi!" kata Koan It Cay. Anak muda berbaju kuning itu tertawa terbahak. "Jika Tuan memaksa, baiklah!" ia menerima tantangan itu sambil tertawa.

Mendadak dia berhenti tertawa, sekarang terlihat sinar matanya yang bengis.

"Harap Tuan tidak menyalahkan aku! . Ayo, siapa yang mau menjadi saksi? Jika dalam tiga jurus aku tidak bisa merobohkannya, aku akan pergi dari sini dengan cara merangkak sampai di luar! Kalau . . ."

Dia awasi Koan It Cay dengan sinar matanya dan dia memandang rendah pada sang lawan.

"Bagaimana kalau Tuan ini yang kalah?" kata Tiong Teng. Meluap amarah Koan lt Cay mendengar kata-kata Tiong

Teng hingga dia membentak.

"Terserah kau!" kata lt Cay.

Dia melompat maju seraya menantang: "Silakan mulai, sahabat!"

Sekali bergerak Koan It Cay sudah berada di sisi kiri anak muda berbaju kuning itu, tangan kanannya tiba-tiba meluncur ke bahu kiri si anak muda, sedang kedua jari tangan kanannya menotok ke jalan darah hiat-hay!

Saat itu Koan lt Cay langsung menyerang. Sekalipun dia sedang marah, lt Cay bersikap sungguh-sungguh dan waspada, perhatiannya dipusatkan. Tenaganya dikerahkan. Dia turun tangan dengan sangat cepat.

Si baju kuning tidak menangkis atau mengelak, anak muda itu cuma berkelit dan menghilang dalam sekejap. Bu Ki Sin Eng terkejut, karena tiba-tiba dia mendengar suara nyaring di belakang dia.

"Ini jurus pertama!" kata si baju kuning. Dalam kagetnya. Koan It Cay membuang diri, tanpa memutar tubuh lagi. dia jungkir balik berakrobat ke depan, mengulingkan tubuhnya dan melompat bangun. Itulah tipu silat "La\ louw ta kuii" atau "Keledai malas bergulingan".

Tipu silat itu tidak hebat dan biasanya digunakan oleh orang bukan ahli silat, dan tak pernah dipakai oleh

seorang jago silat pada umumnya.

Terdengar suara tawa para penonton yang menyaksikan kejadian itu.

Bukan saja orang menganggap tipu silat itu tidak pantas digunakan oleh seorang jago silat, kali ini malah digunakan pada jurus yang pertama serangan si baju kuning! Sangat memalukan sekali.

Ketika Koan It Cay memandang ke arah lawannya, ternyata si baju kuning sedang tersenyum ke arahnya.

"'Masih ada dua jurus lagi!" kata si baju kuning.

Koan It Cay mendongkol dan malu bukan main. tetapi dalam gusarnya, hatinya toh jadi sedikit ciut. Hanya dalam segebrakan saja dia sudah mengerti bahwa musuhnya benar- benar lihay.

To Pie Sin-Kiam juga berubah paras mukanya. Ia mengawasi si anak muda berbaju kuning, mendadak dia ingat pada seseorang. Dia yakin dan dia tidak akan salah lihat.

Anak muda berbaju kuning mengangkat kepalanya, mengawasi jago dari Ciat-kang itu.

"Masih ada dua jurus!" dia mengulang kata-katanya, suaranya terang dan jelas.

Mendengar ucapan itu, hati Koan It Cay tercekat. Kata-kata itu seperti anak panah yang menikam ke ulu hatinya.

Sekarang dia telah banyak pengalaman. Tiba-tiba matanya yang tajam-bengis berubah menjadi layu, terus dia menghela napas.

"Sayang aku si orang she Koan. punya mata tetapi tidak ada bijinya, hingga tidak bisa mengenali kau ini sebenarnya orang lihay, sahabatku," kata Koan It Cay perlahan. "Sahabat, aku menyerah kalah, dua jurus selanjutnya tak usah dilanjutkan lagi!"

Semua orang jadi keheranan, mereka saling berbisik.

Namun, hanya sebentar, mereka bungkam kembali.

Alis ln Kiam rapat satu pada lain, dia berbisik pada Ciok Ciam Liong. Atas bisikan itu, Heng Kang Kim So. Ciok Ciam Liong mengawasi ke arah anak muda berbaju kuning itu.

"Oh!" kata si baju kuning tak lebih saat menanggapi ucapan Koan It Cay.

Atas pengakuan menyerah dari "Bu Ki Sin Eng" itu si baju kuning tidak berubah sikap, dan tidak jadi galak atau menyesal.

"Sahabatku!" kata Koan lt Cay kemudian, "Tolong beritahukan nama besarmu yang mulia? Supaya semua orang gagah di sini mengetahui, karena kini telah muncul satu bintang baru!"

Sikap jago Ciat-kang ini sungguh luar biasa, dalam tempo yang singkat itu, sikapnya jadi lain sekali. Dari sangat jumawa dia jadi bersedia merendahkan diri.

Tentu saja. semua orang memasang telinga mereka masing-masing. Memang, mereka juga ingin mengetahui siapa sebenarnya pemuda ini. Sekarang mereka tak menghiraukan lagi sikap orang yang angkuh atau takabur itu.

Anak muda berbaju kuning itu mengawasi ke sekitarnya.

Mendadak dia tertawa nyaring. "Sahabat she Koan, kau baik sekali, kau tidak kecil hati karena kekalahanmu ini, kau sangat terbuka!" kata si baju kuning "Sahabat, kau membuat aku kagum! Aku harap kau suka memaafkan aku."

Koan It Cay diam, tetapi hatinya lega. Tahulah dia. pemuda itu masih hijau dan senang dipuji.

Si baju kuning mengawasi, baru dia berkata lagi. "Sahabat, namaku Gim Soan. Aku baru muncul di dunia

Kang-ouw. maka aku minta kau mau melindungiku Tadi kau

menyebut tentang bintang baru. itulah sebutan yang aku tidak berani menerimanya."

Sesudah itu Gim Soan tertawa, matanya menyapu ke arah orang banyak, seolah dia ingin mengetahui bagaimana reaksi orang banyak sesudah dia memperkenalkan diri.

Orang banyak masih terus mengawasi pemuda asing ini.

Saat si baju kuning tertawa, dari luar terlihat orang berlari masuk sambil melompat Sambil lari dia berseru berulang- ulang, "Oh, oh. Aku orang she Kiauw datang terlambat!

Celaka, celaka betul! ln Loo-ya-cu. kedatanganku untuk menghaturkan selamat panjang umur kepadamu!'"

Semua orang heran, semuanya berpaling Mereka lihat orang yang kalanya datang terlambat ini ternyata seorang beitubuh kecil dan kurus, dia memakai baju sulam, tangan yang satu memegang sebuah kotak kayu cendana, tangan yang lain memegang tiga gulung gambar. Dia berlari-lari cepat sekali.

Melihat kedatangan orang she kiauw. riuhlah suara tawa para hadirin. Karena bagi yang telah lama hidup merantau, mereka sudah kenal siapa orang she Kiauw itu? Lain lagi dengan si baju kuning, dia menghentikan tawanya, sepasang alisnya berkerut sambil mengawasi ke arah orang yang baru datang itu. Orang she Kiauw menghampiri In Kiam. dia memberi hormat sambil berlutut. "Keponakanmu Kiauw Cian menghaturkan selamat kepada Loo-ya-cu. semoga murah rejeki dan panjang umur!"

In Kiam tertawa terbahak-bahak. Dia membungkuk untuk membangunkan orang yang mengaku keponakan itu.

"Bagus, keponakanku!" kata In Kiam girang dan dia menoleh pada puteranya.

"Tiong Teng. lekas kau bangunkan Kakak ketigamu itu!" kata In Kiam.

Tiong Teng melompat maju. dia bangunkan Kiauw Cian "Bangun, sha-ko'" kata Tiong Teng. "Ah, kau membawa

barang apa itu?"

Si kate kurus bangun sambil tertawa Memang namanya Kiauw Cian. Dia bukan orang gagah tetapi di kalangan Rimba Hijau, namanya terkenal sekali. Dia bergelar "Kwi Eng-ji" si "Bayangan Iblis". nama itu diperoleh karena ilmu meringankan tubuhnya yang mahir sekali. Sedang kepandaiannya sebagai pencopet atau pencuri membual dia mendapat gelar Sin lauw (Malaikat copet).

Dia bukan turunan orang sem-barangan. orang tuanya seorang hartawan, sekalipun dia suka mencuri, tapi tak pernah merugikan orang miskin, maka itu. dia dianggap maling budiman.

Kiauw Cian berdiri. Dia mengawasi ke seputarnya, dia tertawa lagi.

"Lihat, bukankah ln Loo-ya-cuku berbahagia sekali?" kata dia. "Bukankah aku telah berdosa? Semua sahabat Rimba Persilatan sudah datang semua, tetapi aku malah datang terlambat. Dia awasi si baju kuning, yang berdiri dengan wajah tak puas. Dia diam saja. Ketika dia awasi Koan It Cay, dia sadar apa yang telah terjadi di tempat itu. Kembali dia tertawa

"Mula-mula aku heran mengapa bukan berpesta tapi kalian berdiri diam di sini. kiranya ada orang yang mengadu kepandaian di sini untuk meramaikan pesta ulang tahun In Loo-ya-cu! Nah, silakan Koan Toa-ya, silakan lanjutkan pertunjukannya, adikmu akan berdiri di pinggir menyaksikannya!"

Tiong Teng batuk-batuk.

"Kiauw Cian sudah tua bangka tapi tabiatmu masih seperti bocah cilik saja. tak pantas kau mengadukan orang lain .. " pikir Tiong Teng.

"Kiauw Sha-ko, kau keliru!" kata Tiong Teng dengan cepat untuk mencegah kekacauan bertambah rumit.

Baru saja Tiong Teng berkata begitu, Koan It Cay sudah memotong sambil berkata dengan suara keras.

"In Tiong Teng, tak perlu kau menolong muka terangku!

Aku Koan lt Cay. tidak bisa menerima kebaikanmu'

Kiauw Loo Sam, aku beritahukan dengan terus terang kepadamu, tadi kita sudah bertempur!"

Mata Kwi Lng-ji berputar, dia agaknya heran.

"Kiauw Loo Sam, mari aku beritahukan lebih jauh!" kata orang she Koan ini. "Kita baru bertempur satu gebrak, tapi aku sudah dikalahkannya! Kau beruntung hari ini! Mari, akan kuperkenalkan kau dengan pemuda gagah yang menggemparkan dunia! Ini dia si pemuda gagah, she Gim namanya Soan!"

Kiauw Cian membuka lebar kedua matanya. Ia benar-benar heran Bu-ki Sin Eng roboh hanya dalam segebrakan saja. Dia awasi si baju kuning. Gim Soan kurang puas tetapi mendengar Koan lt Cay memujinya, dia merasa senang, dia tersenyum. Karena ini, dia jadi terkesan baik terhadap lawannya itu.

Pemuda berbaju kuning ini meniru gurunya, seorang yang lihay dan tabiatnya luar biasa. Dia dibawa dari rumahnya lebih dari sepuluh tahun yang lalu. dia diajari ilmu silat, sekarang ia mulai merantau. Dia kurang pengalaman, sepak terjangnya cuma menuruti hatinya saja. sesenang hatinya, dia tidak peduli perbuatannya itu, tepat atau tidak

***