Dendam Asmara BAB 02. TO TIANG KENG DISELAMATKAN

BAB 02. TO TIANG KENG DISELAMATKAN OLEH SU-KHONG GIAUW

Bukan main panasnya hati In Hoan karena maksudnya tak tercapai. Pada malam pernikahan To Ho Jian dengan It Nio. In Hoan menyatroni kamar pengantin. Agar dia bisa berhasil merebut pengantin perempuannya, dia menggunakan cara rendah dan hina. Dia gunakan hio wangi yang mengandung obat tidur bernama Ngo-kouw Kee- beng Hoan-hun-hio. Untung Ho Jian tidak mudah diakali dan dipermainkan, ternyata dia sangat waspada, sebelum hio itu dinyalakan, dia sudah mendahului menyerang in Hoan.

Hio obat tidur itu disebut juga"Sian Ho Ki" atau "Sayap Jenjang Sakti". Karena bubuk hio itu dimasukkan ke dalam alat mirip burung terbuat dari kuningan. Jika bubuk hio itu dinyalakan maka kedua sayap burung kuningan itu bergerak- gerak, bagaikan sayap burung sedang terbang dan asap hionva segera mengepul masuk ke dalam kamar seseorang, hingga orang itu akan tidur nyenyak karena terbius.

Ho Jian menyerang In Hoan dengan serangan pukulannya sebanyak tiga kali secara beruntun, serangan itu berhasil melukai lengan kanan si imam bernama In Hoan tersebut. Ho Jian tidak ingin membinasakan In Hoan yang jahat itu.

pertama malam itu merupakan pertama, yang kedua dia ingin menjaga nama baik isterinya.

Sesudah lengannya terluka In Hoan kabur. Dia tidak berani melayani si Jago Tiong-goan yang gagah itu. Dia sakit hati sekali. Dia kabur ke daerah Biauw-kiang yang termasuk wilayah suku Biauw.

Ketika In Hoan muncul kembali, dia telah salin rupa.

Sekarang dia sudah menjadi seorang Too-su atau seorang imam agama Too. Selain ilmu silatnya telah mendapat kemajuan yang pesat, hati busuknya pun tidak berkurang buruknya. Dia tak pernah melupakan rasa penasarannya itu. maka tak heran dia jadi sering mengganggu Ho Jian dan It Nio. Untung bagi In Hoan, Ho Jian selalu berlaku sabar, dia cuma sekadar diancam agar jangan mengulangi kejahatannya.

Di luar dugaan, kali ini In Hoan muncul lagi. Setelah dia mengikuti Ho Jian dan tahu Ho Jian sedang terkena racun makhluk aneh yang sangat berbisa, maka lawannya ini dia serang. Tapi dia jadi kaget dan kagum karena ternyata Ho Jian tangguh sekalipun ia dalam keadaan sedang keracunan yang hebat. Ternyata Ho Jian tak dapat diperlakukan sembarangan. dia masih gagah dan gesit. Untuk menghadapi Ho Jian maka terpaksa In Hoan cuma main kelit dan menghindar saja, si imam berharap lama-lama Ho Jian akan kepayahan dan pada saat itu akan diserangnya secara habis-habisan.

Mata Ho Jian merah berapi-api. Dia sudah menduga siasat si imam licin itu dan ia juga tahu apa maunya. Dia juga sadar lama-lama dia bakal kehabisan tenaga dan akan roboh sendiri. Maka itu, setelah melakukan serangan berbahaya secara beruntun tanpa hasil, mendadak Ho Jian melompat mundur jauhnya sekitar satu tombak dari si imam.

"'Orang she In," kata Ho Jian, dengan kedua tangan diturunkan. "Aku menyesal ternyata aku terlalu lemah dan dulu aku telah membiarkan kau bebas. Sekarang akibatnya aku harus menerima nasib buruk darimu, tapi aku tak akan menyesali nasib burukku hari ini. Dan aku harap kau masih punya sedikit rasa pri-kemanusiaan, aku siap binasa di tanganmu dengan tak mengerutkan alis

In Hoan tertawa dingin.

"Bagus, bagus sekali kata-katamu itu. Tay-hiap!" kata In Hoan. "Memang penasaran sekali Tay-hiap harus binasa di tanganku si orang rendah ini

Imam ini melayani Ho Jian bicara. Dia sadar benar bahwa makin berlama-lama, itu berarti makin hebat kerjanya sang racun di tubuh Ho Jian. In Hoan pun tahu diri ia tak mau mendekat pada lawannya, dan ia sengaja berdiri sedikit jauh dari jago lawannya itu.

Tubuh Ho Jian gemetar menahan sakit dan geram hatinya.

Dia coba menahan amarahnya sambil mengerahkan tenaga dalamnya, ini agar dia bisa bertahan dari serangan sang racun.

"Orang she In, memang kita bermusuhan, jika benar kau seorang yang terhormat, kau boleh membuat perhitungan denganku seorang saja! Aku bersedia mati dengan cara apa pun juga. asal kau berani berjanji!"

In Hoan tertawa keras dan panjang. matanya menyala tingkahnya menyebalkan sekali.

"Jangan khawatir. To Tay-hiap!" kata In Hoan. "Sekalipun di matamu aku ini manusia rendah, aku tidak akan main gila terhadap seorang bocah anakmu itu! Mengenai puteramu, sekarang dia sedang tidur dengan tenang bersama murid- muridku! Jika Tay-hiap telah pergi ke alam baka, dia bakal hidup bahagia. Tentang…”

In Hoan sengaja bicara dengan sangat ayal-ayalan, dan matanya menatap dengan tajam ke arah Ho Jian. untuk melihat bagaimana perubahan air muka lawannya. Sambil tertawa, dia meneruskan kata-katanya: "Tentang isterimu. aku berani jamin, setelah kau menutup mata, dia bakal hidup senang dan lebih berbahagia disbanding ketika bersamamu!

Aku si orang she In akan melayani dia dengan telaten sekali, maka itu lebih baik legakan saja hatimu!"

Tanpa menunggu orang berhenti bicara Ho Jian sudah melompat menerjang I n Hoan. Rupanya sudah habis kesabaran Ho Jian saat itu. tiba-tiba dia jadi nekat. Dia membentak dengan nyaring sambil menyerang.

In Hoan buru-buru berkelit untuk menghindari serangan tersebut. Ketika Ho Jian secara beruntun menyerangnya, dia berkelit terus men ghindar Sambil berkelit dia tertawa dingin. Dia cukup cerdik. Dia berpikir, dia ingin agar lawannya roboh sendiri tanpa dia serang.

Tatkala itu angin terus bertiup halus. Dari arah timur, tampak tanda tibanya sang fajar. Tidak berapa lama segera terlihat jelas wajah si imam, yang menyeringai menakutkan dan bengis. Itu roman licik dan tak kenal belas kasihan!

Di dalam lembah, kecuali berbagai bangkai binatang yang telah binasa, sisanya yang masih berjumlah cukup banyak sudah mulai mengundurkan diri. mereka menyingkir ingin dari mara bahaya. Semua mundur dengan kepala ditundukkan dengan ekor bergoyang-goyang, suatu tanda mereka masih jeri. Anehnya macan tutul dan harimau pun seolah semuanya jadi jinak seperti binatang peliharaan saja .

Tepat saat itu, dari kejauhan terlihat dua sosok bayangan orang sedang berlari-lari mendatangi. Di tempat jauh, mereka tampak seperti dua sosok bayangan saja. Begitu cepat mereka berlari, mirip mereka sedang terbang. Baru setelah dekat, tubuh mereka kelihatan jelas terpeta.

Salah seorang dari kedua orang itu, tubuhnya jangkung, dia mengenakan pakaian berwarna merah dan ringkas atau ketat. Rambutnya memakai konde tinggi seperti wanita zaman Tong.

Itu konde nona-nona. yang diberi nama

"Kuda Jatuh". Sedang pinggangnya dililit oleh ikat pinggang yang digantungi gelang yang dapat berbunyi nyaring manakala dibawa berlari-lari. Wajah perempuan ini jelek dan dapat mengagetkan orang yang melihatnya. Selain mulutnya lebar sekali, bibirnya pun dipulas dengan yan-cie (pemerah bibir) yang tebal, merah seperti darah.

Tangan kanan wanita itu sedang menuntun seorang bocah perempuan yang baru berumur 12-13 tahun, anehnya bocah ini lain dengan wanita itu. Dia cantik manis, matanya jeli. sepasang sujen menghiasi kedua pipinya yang montok.

Begitu sampai, wanita berbaju merah itu acuh saja pada mereka yang sedang bertarung mengadu jiwa itu. Matanya terus mengawasi ke arah lembah di tempat banyak berbagai bangkai binatang, juga ke arah lubang goa. Baru kemudian dia menoleh ke arah In Hoan dan Ho Jian yang sedang bertarung mati-matian. Wanita itu mengerutkan alisnya, lalu menoleh ke arah bocah cantik itu.

"Anak Kin, kau takut tidak?" kata si wanita berbaju merah pada si bocah cantik itu.

Suara perempuan jelek itu halus tapi nyaring dan lembut suatu tanda dia amat sayang pada bocah perempuan cantik itu.

Kedua mata bocah manis itu memain, pertama matanya di arahkan ke lembah, ke goa itu baru kemudian ke gelanggang pertempuran. Wajahnya menunjukkan sedikit jeri. tapi ketika ditanya dia menggelengkan kepalanya perlahan.

"Aku tidak takut. Bu!" kata si bocah.

Wanita jelek itu tertawa hingga gigi-giginya kelihatan jadi menakutkan.

"Kalau begitu kau diam di sini. jangan ke mana-mana!" kata si wanita berbaju merah pada si bocah.

"Ibu mau ke mana?" tanya si bocah.

"Aku akan menemui dua pria busuk itu, aku akan menanyai mereka!" jawab wanita jelek itu.

Bocah itu mengangguk.

Sekali bergerak wanita jelek itu sudah berada di tempat In Hoan dan Ho Jian yang sedang berkelahi. Tangannya meluncur ke arah dua lelaki yang sedang bertarung, seketika itu juga perkelahian itu terhenti. Keduanya terdorong dan terpisah menjadi agak berjauhan.

Ketika wanita jelek itu datang Ho Jian tak mengetahuinya, saat itu dia sedang sibuk menangkis serangan In Hoan.

Ditambah lagi bisa ular yang ada di tubuhnya makin keras menyerang dirinya. Ketika ia tahu ada yang datang, dia mengira wanita jelek itu kawan In Hoan. In Hoan terpaksa melompat mundur, dia juga berpikir sama dengan Ho Jian, ia mengira orang itu kawan Ho Jian yang hendak membantu lawannya. Tapi sesudah melihat jelas pada si wanita jelek itu, In Hoan buru-buru tertawa manis.

"O kiranya Nona Un!" kata In Hoan setengah kaget. "Aku tak menyangka. Nona Un ada di sini! Mengapa Nona tak tinggal di daerah Biauw-kiang saja? Dulu ketika aku bertemu denganmu, aku senantiasa mengenang wajahmu setiap saat. Tidak aku duga. Nona. Wajahmu tetap seperti dulu bahkan mirip seorang Dewi saja!"

Wanita jelek yang dipanggil Nona Un itu menatap tajam ke arah ln Hoan. Dia bersikap dingin tak marah juga tidak tertawa. Tiba-tiba dia membentak nyaring.

"Hai bocah tak perlu kau memuji-mujiku, aku tak butuh itu!" bentak Nona Un. "Aku Un Jie Giok tak butuh pujianmu!"

ln Hoan tak menghiraukan bentakan kasar dari Nona Un, dia tetap bersikap hormat.

"Kau sudah tiba. pelajaran apa yang hendak Nona berikan padaku?" kata In Hoan.

"Hm I" Nona Un mengeluarkan suara di hidung. "Kalian mau bertarung, silakan! Aku tak peduli. Hanya aku ingin tahu ke mana perginya makhluk aneh di lembah itu?!"

"O maaf Nona Un, aku tidak tahu ke mana perginya makhluk aneh itu. Tapi jika Nona mau. tanyakan saja padanya'" kata In Hoan sambil tertawa menunjuk ke arah Ho Jian. "Dia adalah Tay-hiap To Ho Jian yang namanya termasyur di seluruh Tiongkok. Apakah Nona kenal dengannya?"

Sejak tadi Ho Jian diam saja. karena matanya terasa ingin dipejamkan saja. Saat itu dia sedang menyalurkan tenaga dalamnya berusaha untuk mengusir racun di tubuhnya. Ketika dia sudah tahu nama wanita jelek itu, dan ternyata dia adalah wanita jago yang aneh dari tanah Biauw-kiang. Orang-orang biasa memberi nama "Siu Jin" atau si "Wanita Jelek", tapi ia lebih dikenal dengan sebutan Ang-Ie Un Jie Giok, "Si Wanita Berbaju Merah" Sifat jago wanita ini sangat aneh. dia menyebut dirinya "Wanita Jelek" tapi jika ada yang mencela wajahnya jelek, dia marah dan dengan berbagai cara ia akan membunuh si jahil yang mencela wajahnya itu. Karena sudah tahu tabiat wanita itu maka tak ada orang yang berani usil padanya. Bahkan kebanyakan orang Kang-ouw menyebut dia sebagai "Ang-i Nio-nio" atau "Ratu Berbaju Merah" atau Ang-ie Sian-cu atau si "Dewi Berbaju Merah".

Ho Jian sadar tak mudah ia bias lolos dari tangan si imam jahat In Hoan. Itu sebabnya dia diam saja. Dia sedang mengumpulkan tenaga untuk bertarung lagi agar ia bisa lolos atau paling tidak bisa mati bersama-sama dengan musuhnya itu.

Mendengar saran dari In Hoan itu Un Jie Giok menoleh ke arah Ho Jian. Saat dia lihat orang diam saja dia langsung menegur.

"Hai. kau! Kau dengar tidak pertanyanku?!" kata Un Jie Giok dengan bengis.

Ho Jian mencoba membuka matanya. Buru-buru dia memberi hormat. Dia berpikir dia tidak perlu mencari musuh baru, maka itu dia akan segera membuka mulut.

Tapi sebelum Ho Jian bicara, In Hoan sudah mendahuluinya.

"Nona Un." kata In Hoan yang licik ini "Dia seorang jago Tiong-goan. biasanya dia tak peduli pada kata-kata orang lain!"

"Hm!" terdengar wanita jelek itu mengeluarkan suara dari hidungnya.

Kemudian dia awasi Ho Jian dengan teliti. "Kau dengar tidak ucapanku tadi?" kata Un Jie Giok.

Ho Jian kurang puas diperlakukan demikian. Dia anggap orang itu sangat memandang rendah kepadanya. Dia mendongkol, menyesal bercampur malu. Jika dia tak ingat isteri dan anaknya berada di tangan musuh, saat itu juga dia sudah bunuh diri karena tak mau terhina.

"Un Tay-hiap!" kata Ho Jian dengan terpaksa. "Aku sedang terkena bisa ular hingga aku tidak memperhatikan ucapanmu tadi. Maka aku "

Ho Jian tak bias menghabiskan kata-katanya. Berat rasanya bagi dia untuk minta maaf padahal dia tak melakukan kesalahan apapun pada Nona Un tersebut.

Ban Biauw Cin-jin In Hoan yang licik dan cerdik itu berniat meminjam tangan untuk membunuh Ho Jian Dia berharap Un Jie Giok marah dan segera turun tangan, maka itu dia akan membuka mulut. Tapi tak sempat karena Un Jie Giok sudah mendahuluinya.

"Aku tanya kau, ke mana perginya makhluk aneh bernama Cian-lian Senu-cu (katak yang berusia ribuan tahun) itu?" kata Un Jie Giok.

Mendengar keterangan itu Ho Ji.in jadi terkejut berbarengjuga kagum I )in tak mengira Un Jie Giok m-iI-iii" memburu binatang itu. bahkan dia mhI.iIi tahu nama binatang itu.

"Binatang itu berhasil kulukai," kata Ho Jian scara merendah dan terpaksa. "Malah dua kali!"

"Benarkah begitu?" menegaskan Un Jie Giok.

Ho Jian mencoba menenangkan hatinya. Lalu ia mengisahkan pengalamannya ketika bertarung dengan kodok raksasa yang sudah berumur seribu tahun itu. "Jadi kodok itu masih berada di lembah sana?" kata Un Jie Giok.

Ho Jian mengangguk mengiyakan.

Dengan tak bicara lagi Un Jie Giok melompat ke dalam jurang. Ho Jian kaget, dia menduga di tubuh kodok raksasa itu pasti terdapat benda mustika. Un Ji Giok dan ln Hoan rupanya menginginkan benda mustika itu.

Sesudah Un Jie Giok pergi, ln Hoan mengawasi ke arah Ho Jian. Sesudah tertawa dingin dia berbalik dan pergi meninggalkan musuhnya. Rupanya dia kabur untuk menyusul Un Jie Giok karena ia takut keduluan mendapatkan mustika itu.

Buru-buru Ho Jian mengerahkan sisa kekuatannya. Dia memaksakan diri untuk berlari ke tempat tadi dia meninggalkan isteri dan anaknya. Karena dia sendiri sudah tak punya harapan bisa hidup lebih lama lagi. Dia akan membawa isteri dan anaknya ke tempat yang aman.

Begitu sampai di tempat itu dia kaget, karena isteri dan anaknya tak ada di situ. Ditambah lagi dadanya terasa sesak seakan mau muntah. Tapi dia paksakan untuk mencari isteri dan anaknya.

Tiba-tiba Ho Jian mendengar ada orang bicara. Buru-buru Ho Jian melompat ke arah suara itu. Di situ dia lihat ada tiga orang bocah sedang bicara di balik sebuah batu besar.

Begitu Ho Jian sampai ketiga bocah itu kaget dan menghentikan bicaranya. Mata mereka mengawasi dengan mendelong keheranan. Ho Jian kaget lak jauh dari mereka dia lihat isteri dan anaknya sedang tergeletak tidak berdaya. Ho Jian sadar isteri dan anaknya itu telah ditotok. Ketika Ho Jian menolong akan membebaskan mereka, dia menjerit kaget karena seolah tulang-tulangnya lepas dari sambungannya.

Tubuhnya jadi lemas bukan main. Dari mulut Ho Jian menyembur darah segar. It Nio kaget melihat suaminya datang dan tiba-tiba muntah darah, tapi dia juga girang karena dengan tibanya sang suami maka jiwanya tak akan terancam bahaya lagi. Karena tubuhnya kaku ditotok oleh In Hoan, sang isteri hanya bisa mengawasi tak berdaya.

Ho Jian sadar dia sedang menghadapi bahaya maut. maka yang ada di otaknya saat itu adalah buru-buru membebaskan totokan pada isteri dan anaknya. Dengan sisa tenaganya dia akan membebaskan jalan darah khi-hay Sambil mengutuk musuhnya dia bergerak ke arah isterinya. tapi mendadak ada orang yang menahan tubuhnya....

Tenaga orang itu keras sekali. Ketika Ho Jian menoleh dia mengenali suara ln Hoan dan Un Jie Giok. Rupanya sesudah mereka tak berhasil mencari makhluk aneh itu mereka kembali ke situ. Kebetulan Ho Jian baru membebaskan isterinya dari totokan ln Hoan.

"Ke mana larinya binatang aneh itu?" tegur In Hoan dan Un Jie Giok hampir bersamaan.

Tapi mendadak lt Nio bangun sambil mendamprat ke arah ln Hoan.

"Hai bangsat yang harus mampus!" kata It Nio. "Kau tak berbeda dengan babi atau anjing....Kau kau…”

Sebagai perempuan baik-baik It Nio tidak bisa terus mengeluarkan kata-kata tak senonoh di depan umum seperti itu.

Un Jie Giok mengawasi ke arah In Hoan yang sedang menarik tubuh Ho Jian.

"Lepaskan tanganmu!" bentak Un Jie Giok pada Ban Biauw Cin-jin In Hoan.

Terpaksa ia lepaskan cekalan pada tubuh Ho Jian dan ln Hoan pun tertawa dingin.. Ketiga bocah berbaju kuning segera menghampiri In Hoan. Sebaliknya Un Jie Giok mengawasi dengan tajam ke arah Ho Jian.

"Hai aku tanya kau, ke mana perginya makhluk aneh itu?" bentak Un Ji Giok.

Ho Jian diam saja. Tubuhnya lemas dan gemetar.

Bukan main marahnya Ang-ie Siu Jin ini. Wajahnya berubah merah padam, kelihatan wajahnya bertambah buruk. Dia gerakan tanganrna ke arah Ho Jian.

"Nah rasakan Kiu Im Ciat Kut Ciu ini!" kata Un Jie Giok. "Jika kau tetap membungkam, jangan salahkan aku kejam!"

Ho Jian tetap diam hingga Un Jie Giok keheranan. Ketika dia hampiri jago Tiong-goan itu, ternyata Ho Jian telah meninggal karena ia telah kehabisan tenaga.

Hui Hong-hong lt Nio menjerit ketika melihat wanita jelek itu menghampiri suaminya.

"Hai perempuan jelek mau kau apakan suamiku" bentaknya.

It Nio belum mengetahui kalau suaminya sudah meninggal.

Ketika itu It Nio tanpa sengaja telah menyinggung perasaan Un Jie Giok yang dikatai jelek. Saat itu Ang-ie Sian-cu memang sedang mendongkol. Lalu dia lemparkan Ho Jian dan dengan tangan yang lain dia serang It Nio.

"Nona Un tahan! Jangan bunuh dia!" teriak In Hoan saking kaget.

Dia akan mencoba menyelamatkan wanita cantik isteri Ho Jian yang dicintainya itu. Tapi sudah terlambat.

Tubuh It Nio langsung terpental jauh terkena hajaran tangan Un Jie Giok yang kejam itu In Hoan kaget melihat tubuh It Nio terbanting ke tanah dengan keras dan putus jiwanya. Buru-buru In Hoan menghampiri tubuh It Nio yang sudah tidak bernyawa itu. Ternyata It Nio telah menyusul arwah suaminva ke alam baka....

Dengan sangat menyesal In Hotui bangun sambil mengawasi ke arah Un Jie Giok, sebaliknya Jie Giok pun sedang mengawasi ke arahnya dengan tajam. Hingga kedua pasang mata itu saling mengawasi dengan tajam

"Bagaimana bocah ini “tanya Un JieGiok pada si imam.

Sementara To Tiang Keng. putera To Ho Jian yang tak berdaya karena ditotok jalan darahnya, hanya bisa mengawasi kejadian yang mengharukan mengenai kedua orang tuanya itu. Tapi dia tidak berdaya.

Tatkala itu matahari sudah tinggi, angin bertiup kencang sekali...

"It Nio telah mati, apa gunanya aku bentrok dengan Un Jie Giok?" pikir Bian Biauw Cin-jin In Hoan.

Baru berpikir begitu mendadak dia mendengar suara tawa, dan disusul oleh suara nyaring gelang yang terikat di pinggang Ang-ie Sian-cu.

Suara itu membuat ketiga bocah itu buru-buru menutupi telinga mereka.

Menyusul suara tawa Un Jie Giok tiba-tiba muncul seorang berpakaian dari bahan rumput dan agak longgar, dia mengenakan sepatu rumput juga. Tubuh orang itu tinggi tapi punggungnya bungkuk seperti unta. Wajahnya berewok.

Sepasang mata orang itu tajam luar biasa. Pada tangan orang itu tergenggam seekor ular yang sudah mati, ular aneh yang bertarung dengan Seng-cu si kodok aneh. Ular itu berlumuran darah.

Belum habis suara tawa orang itu dia sudah ada di depan In Hoan dan Un Jir Giok, hingga kedua orang itu kaget. Wajah mereka berubah pucat-pasi. Buru-buru Un Jie Giok mundur selangkah sambil menarik bocah perempuan cantik yang ikut bersamanya.

Dalam kagetnya Ban Biauw Cin-jin ln Hoan tertegun sejenak; tapi buru-buru dia membungkuk untuk memberi hormat. Sesudah itu In Hoan menghampiri ketiga bocah yang ikut bersamanya, lalu mereka pergi.

Orang tua itu berdiri tegap. Angin meniup baju rumputnya. Dia awasi tubuh It Nio dan Ho Jian yang sudah tak bernyawa itu. Sepasang alisnya dikerutkan. Sesudah menggelengkan kepala, orang tua itu lalu mengawasi ke arah To Tiang Keng yang rebah tak berdaya karena ditotok. Orang tua itu lalu menghampirinya, kemudian dua kali mengusap tubuh Tiang Keng. Sesudah batuk-batuk Tiang Keng bisa merangkak bangun. Tiba-tiba Tiang Keng menangis, ini adalah tangis pertamanya selama ini. Dia berduka karena orang tuanya binasa di depan matanya sendiri.

Dengan tubuh sempoyongan Tiang Keng menghampiri kedua orang tuanya itu. Lalu ia berlutut untuk memberi hormat, penghormatan yang terakhir.

"Terima kasih Loo-peh, terima kasih." kata Tiang Keng pada si orang bungkuk.

Mayat ibunya lalu dipindahkan dan didekatkan ke dekat mayat ayahnya. Sesudah itu Tiang Keng menangis lagi dengan diawasi oleh orang tua itu yang juga ikut berduka.

Orang tua itu menghampiri Tiang Keng untuk mengusap kepalanya.

"Sudahlah, Nak.Kau jangan menangis terus. Orang yang sudah mati tak akan bisa hidup kembali!" kata si orang tua. "Percuma saja kau menangis, malah kau harus bangga pada ayah dan ibumu yang gagah itu. Kau harus meniru hidup mereka dan menjadi laki-laki sejati!" Sambil menangis Tiang Keng mengangguk perlahan. Dia sangat berduka.

“Takdir, takdir.. " kata si orang tua. "Jika aku tak buru-buru menutup lubang goa, tak akan terjadi peristiwa semacam ini. Sudah 30 tahun lamanya aku tidak mencelakakan orang, hari ini hampir-hampir aku tak sanggup mengendalikan diriku "

Suaranya perlahan tapi jelas. Mendadak dia ingat sesuatu. "Nak. jangan menangis!" kata si orang tua. "Kau

busungkan dadamu, nanti akan kubantu kau menguburkan

kedua mayat orang tuamu "

Dia sangsi sejenak, akhirnya dia melanjutkan kata-katanya. "Sesudah mayat orang tuamu aku kuburkan, kau boleh ikut

denganku. Aku akan mengajarimu berbagai ilmu agar di kemudian hari kau bisa membalaskan sakit hati orang tuamu "

Sambil berlutut Tiang Keng berkata. "Terima kasih. Loo- peh." kata Tiang Keng.

Sang paman tua pun menangguk senang.

"Tak kusangka aku Su-khong Giauw yang sudah tua ini bisa punya seorang murid lagi " kata si orang tua.

0oo0

Di bagian utara kota Bu-ouw. sebuah kota yang terletak di daerah Kang-lam. di pinggir sebuah jalan besar yang menghadap ke arah selatan, ada sebuah rumah berukuran besar. Pagarnya tinggi dan pintu pagarnya yang dicat hitam juga besar. Pada pintu itu masih terlihat tulisan ucapan Selamat lahun Baru Imlek (Selamat Musim Semi), tertulis pada sehelai kertas merah yang menempel di pintu besar itu.

Di depan pintu tampak dua buah patung batu singa yang besar yang tampak menyeramkan Karena hanya orang besar yang pintunya dipasangi Cio-say (patung batu singa-singaan). Ketika itu hampir magrib hingga sinar matahari yang menyinari kedua cio-say itu bayangannya mengarah ke arah timur. Kedua pintu pekarangan yang besar itu jibi terpentang lebar, karena dari situ hilir-mudik kereta-kereta tamu dan tamu-tamu keluar masuk. Orang-orang yang datang pada umumnya bertubuh kekar atau wajahnya keren, di antaranya ada yang berpakaian seperti saudagar.

Gedung itu milik To-pi Sin-kiam In Kiam (Si Pedang Saktii Berlengan Banyak). Dia seorang guru silat ternama di daerah Kang-lam, hari itu dia sedang merayakan hari ulang tahunnya yang ke-70; itu sebabnya orang banyak berdatangan untuk mengucapkan selamat panjang umur kepadanya. Selain para pembesar, para hartawan juga berdatangan, juga para jago silat dari berbagai penjuru negeri ikut hadir.

Selain ln Kiam sangat terkenal, anak sulungnya yang bernama In Tiong Ten;-pun cukup dikenal orang. Dia berhasil hingga namanya diperhitungkan orang. Dia mengepalai 18 kota di Kang-lam Mereka datang untuk menghormati piaue-su muda itu. Para tamu sudah disambut saat baru datang dan sampai di depan pintu pagar rumah besar itu

Gedung itu terdiri dari lima tingkat, ruang yang dipakai tempat pesta ialah lantai pertama yang luas, di tempat itu terdapat banyak meja yang penuh dengan berbagai hidangan lezat. Ruang pesta terang benderang karena di tempat itu sudah dinyalakan beratus-ratus buah lilin besar dan terdapat dua batang lilin yang sangat besar. Di tempat itu diletakkan buah siu-toh (persik) terbuat dari tepung berukuran besar.

Buah itu dimaksudkan sebagai lambang panjang umur.

Tuan rumah In Kiam duduk di tengah ruangan, rambutnya sudah kelihaian terdapat yang sudah putih, tapi dia masih tampak sehat dan segar Hingga dia tak mirip dengan mang yang sudah berumur 70 tahun. Tampak ln Kiam girang sekali dan selalu menebal senyumnya. Dia melayani tamu-tamunya dengan sangat ramah. Ketika itu ln Tiong Teng putera sulung In Kiam duduk mendampingi ayahnya. Tiong Teng ketika itu mengenakan baju ungu. Dia memelihara kumis pendek, jika tak kenal orang akan mengura ia seorang sastrawan saja. Tiong Teng selain sebagai pendamping ia juga orang yang memperkenalkan tamu-tamunya pada sang ayah yang tak semua dikenal oleh ayahnya

lak hentinya tamu-tamu itu berdatangan sampai akhirnya muncul seorang pemuda yang mengenakan pakaian kuning, tamu ini luar biasa, la bertubuh jangkung dan wajahnya keren sekali. Di depan tuan rumah dia hanya memberi salam tanpa membungkukkan tubuhnya, ini sangat berbeda dengan tamu- tamu yang lain yang memberi hormat sambil membungkukkan badannya.

In Kiam tidak peduli pada tamu itu. tapi Tiong Teng lain.

Dia awasi pemuda baju kuning yang bermata tajam dan bertubuh jangkung itu. Tamu itu langsung mencari tempat duduk tanpa memperkenalkan diri lagi.

"Siapakah dia ini?" pikir liong Teng. "Tampaknya dia mempunyai kepandaian silat cukup tinggi"

Sekalipun heran dan tidak puas. Tiong Teng terpaksa diam.

Dia sibuk harus menyambut tamu-tamu lainnya Akhirnya Tiong Teng pun melupakan tamu aneh itu

Tak berapa lama pesta sudah dimulai, di ruang itu terdapat 36 buah meja besar sedangkan jumlah tamu yang hadir tak kurang dari 300 orang banyaknya. Sekarang In Kiam sedang ditemani oleh tujuh orang jago tua. Enam dari mereka sudah mengundurkan diri dan Dunia Persilatan; kecuali yang seorang lagi. Dia baru berumur 40 tahun, hidungnya bengkok ke bawah, matanya tajam.

Orang itu duduk diapit oleh In Kiam. tuan rumah dan seorang jago di perairan sungai Tiang-kang. yaitu Heng-kang Kim-so Ciok Ciam Liong (Si Rantai Emas), Tak jauh dari situ tampak seorang jago terkenal. Dia bernama Bu-ci Sin-eng Koan It Cay atau Si Rajawali Tak Bersayap; dia menjadi Cong- to-cu (Ketua) perkumpulan "Hek Bie Pan" di daerah Kang-lam.

Orang heran ketika mengawasi ke arahnya. Mereka tak percaya pada penglihatan sendiri. Karena mereka tahu It Cay sangat sombong dan tak menghargai orang lain. In Kiam tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh tamu-tamunya itu. ln Kiam menyilakan tamu-tamunya makan dan minum. Dia angkat cawannya dan ia mengajak tamu-tamunya bersulang. Kemudian mereka makan sepuas-puasnya.

"Koan To-cu kau bersedia meringankan kakimu datang dari tempat yang jauh," kata ln Kiam pada lt Cay. "Selayaknya kau minum lebih banyak."

Mata It Cay bersinar terang.

"Terima kasih, In Loo-eng-hiong!" kata It Cay sambil mengucapkan selamat ulang tahun.

In Kiam tiba-tiba menghela napas.

"Tamu-tamuku sangat banyak, tapi sayang masih kurang satu yang aku harap-harap. " kata In Kiam.

Sikap In Kiam ini membuat heran para tamunya. "Saudara In aku tahu apa yang kau keluhkan itu " kata

seorang yang bertubuh pendek.

Ketika dia menoleh dia tertawa "Baik Rubah Tua. aku ingin tahu apa kau mampu menebaknya atau tidak?"

Kata ln Kiam. "Jika kau gagal kau buang saja gelarmu sebagai Leng-ho Tie Sie

(si Rubah Sakti)." Tie Sie tertawa.

"Kau memikirkan To Ho Jian. bukan?" kata Tie Sie. "Dasar Rubah Tua. kau menebaknya tepat sekali!" kata In Kiam. "Sudah 10 tahun dia pergi, sampai hari ini dia belum kembali juga!"

Kelihatan In Kiam bingung.

"Aku tak tahu ke mana perginya dia? Khabarnya pun tak kita peroleh " kata ln Kiam.

Melihat tuan rumah berduka memikirkan saudara angkatnya atau kakak angkatnya itu. Ciok Ciam Liong malah tertawa.

"In Toa-ko." kata Ciam Liong. "Jangan berduka ini hari ulang tahunmu! In Toa-ko. mari minum!"

0oo0