Dendam Asmara BAB 01. TO HO JIAN

BAB 01. TO HO JIAN BERTEMU DENGAN MUSUH BESARNYA

Malam itu Puteri Malam sedang memancarkan sinarnya yang indah sekali. Tak heran jika Gunung Hong-san di Propinsi An-hui, Hok-kian, saat itu bagaikan sedang bermandikan cahaya yang warnanya putih jernih bagaikan warna perak, terlebih di kaki puncak Si-sin-hong. Bunga-bunga yang tumbuh di sana juga rerumputan di sana tampak jelas sekali.

Hawa di sekitar tempat itu terasa dingin karena angin terus bertiup walaupun halus. Ketika itu sudah musim rontok.

Pada saat suasana sesunyi itu, di lereng gunung tampak berkelebatnya bayangan. Bayangan itu mengenakan pakaian seorang Too-su (imam), ia mengenakan kopiah dan jubah suci. Tiba-tiba bayangan itu merandek sejenak, lalu memandang ke sekitarnya. Sepasang matanya bersinar tajam, tak lama dia menoleh ke belakang dan tiba-tiba ia tertawa riang. Lalu berkata seorang diri.

"Nah, anak-anak! Baru sekarang kalian bisa melihat keindahan daerah Selatan. Jika bukan aku. gurumu yang mengajak kalian, seumur hidupmu kalian tak akan bisa menyaksikan keindahan alam yang menakjubkan seperti ini!" katanya. Suara imam itu terdengar jelas sekali.

Jawaban dari ucapan imam itu tiba-tiba bermunculan tiga sosok bayangan anak-anak, rambut mereka dijalin rapi.

Mereka tampak lincah, mata mereka pun bersinar terang.

"Suhu, bukankah Suhu tinggal di atas gunung ini-?

Mengapa Suhu tak langsung mengajak kami ke atas? Memang benar kata Suhu, tempat ini indah sekali. Tapi jika Suhu segera mengajak kami ke atas, di sana Suhu bisa segera mengajari kami ilmu silat. Kami rasa untuk menikmati keindahan pemandangan ini, masih banyak waktu nanti!" kata bocah berbaju kuning.

Mendengar ucapan bocah itu si imam tertawa. Begitu berhenti tertawa kedua tangan si imam bergerak. Tangan yang kanan dipakai untuk menyambar bocah berbaju kuning, sedang tangan kirinya dipakai untuk merangkul dua bocah yang lainnya. Dengan cepat imam itu berlari ke arah kiri, di tempat itu terdapat batu cadas agak besar. Tak lama imam itu menghilang.

Baru saja imam itu pergi, di tempat itu terdegar suara yang sangat perlahan karena terbawa angin. Tak lama bermuncullan tiga sosok bayangan orang yang berlari dengan cepat, gerakan mereka sangat lincah.

Orang yang berlari paling depan rambutnya terurai, dia mengenakan pakaian panjang, mirip seorang anak kecil. Dari gerak-geriknya jelas dia pandai silat Sedang dua yang lainnya, seorang pria dan seorang lagi perempuan. Yang pria sudah setengah umur. wajahnya keren tapi tubuhnya sedang-sedang saja. Kawannya yang perempuan baru berumur kira-kira 30 tahun, tubuhnya langsing dan wajahnya cantik sekali. Saat ia melompat, wanita itu memegang tangan temannya yang pria. Mereka sekarang sampai hingga di atas sebuah batu besar di dekat jurang. Di tempat itu, si imam dan tiga orang bocah tadi sedang bersembunyi. Pantas mereka bisa cepat menghilang, ternyata mereka tak pergi jauh, tapi bersembunyi di balik batu besar itu.

Si imam tersenyum ketika menyaksuikan tiga bayangan yang baru tiba itu, sebuah senyuman mengejek. Karena senyumannya itu tampak wajahnya jadi menyeramkan.

Pria berumur pertengahan itu menoleh ke arah perempuan cantik sambil terus memegangi tangan kiri si nona.

"Kau lihat." kata si pria. "Inilah keindahan Hong-san!" katanya. "Di sini selain tenang udaranya pun nyaman sekali, tentu berbeda dengan di kota!"

"Beginilah biasanya kau memutarbalikkan keadaan!" kata si nona sambil tertawa. "Saat kau sedang berkelahi melawan jago Kun-lun-pai, kau ubah ilmu silatmu yang disebut "Siao- yang-pat-it-si" dan berbalik kau gunakan untuk menyerang orang! Hingga si imam geram dan mendongkol sekali kepadamu. Lalu dia bersumpah akan menyembunyikan diri selama 10 tahun untuk belajar kembali ilmu silatnya. Tapi aku khawatir imam itu tidak berumur panjang. Eh tadi kau

memuji-muji keindahan Hong-san, bukan?" Mereka akhirnya tertawa bersama-sama.

Tiba-tiba mereka menghentikan tawa mereka, saat mereka melihat bocah yang bersamanya menunjukkan wajah serius.

"Hai Tiang Keng, ada apa?" tanya si nona atau si nyonya sambil mengerutkan alisnya.

Bocah yang dipanggil Tiang Keng tampak gelisah, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah batu yang sedang diinjak oleh pria dan perempuan itu.

"Dengar! Suara apa itu? Bukankah itu suara yang aneh kedengarannya?" jawab bocah itu. Keduanya memandang ke arah yang ditunjuk oleh si bocah, mereka mencoba mendengarkan dengan baik. Si nyonya segera mendengar suara seperti suara rintihan, tapi mirip suara binatang liar berkaki empat. Namun entah binatang apa? Suaranya makin lama makin jelas dan rupanya binatang itu sedang berlari ke arah mereka.

"Aneh!" kata yang pria. "Setahuku di tempat ini jarang ada binatang buas. Kalaupun ada dan mereka mencari makan, tidak semalam begini, ini saatnya mereka tidur!"

Ketiganya lalu berjalan ke tepi jurang untuk meyakinkan, binatang apa itu.

Si imam dan tiga bocah yang bersembunyi di balik batu besar dan mereka berada di atas ketiga orang itu, segera si imam memberi isyarat agar ketiga bocah yang bersamanya menahan napas. Imam itu sendiri heran ketika mendengar suara aneh itu. Wajahnya berubah jadi tegang.

Tak lama terdengar suara ribut bagaikan suara badai. Tapi anehnya pohon-pohon di tempat itu sedikitpun tak bergoyang seperti biasanya bila ada badai atau angn kencang.

"Pasti telah terjadi sesuatu," kata pria yang berada dekat jurang pada rekannya yang perempuan. "Kita tak boleh sembarangan menampakkan diri. Lebih baik kita bersembunyi untuk melihat keadaan, aku rasa begitu lebih baik!"

Pria yang bicara itu ialah Tiong-goan Tay-hiap To Ho Jian, jago silat dari Tiongkok yang termasyur. Dia pernah menerobos ke ruang Lo Han Tong milik Siao-lim-si dan ia berhasil mengalahkan Sain Leng To-jin. ketua perguruan Kun- lun-pay dengan menggunakan Leng-coa-kiam (Pedang lunak Ular Sakti). Dia juga pernah mengalahkan kaum Hek-to (Kaum Hitam) atau para penjahat dari gunung Im-san. Kali ini ternyata dia sedang mengalami pengalaman yang aneh.

Di atas batu besar, si imam terus mengawasinya dengan hati-hati sekali. "Entah apa maksud kedatangannya?" pikir si imam. "Apakah dia pun datang dengan tujuan yang sama dengan akur”

Saat si imam sedang berpikir. Tiba-tiba To Ho Jian melemparkan bocah yang dipanggil Tiang Keng ke atas batu besar; pada saat bersamaan anak itu sudah hinggap di atas batu yang letaknya tinggi itu, To Ho Jian pun melompat dengan gesit sekali menyusul bocah itu. Itu adalah lompatan yang disebut "Leng Khong Siang Thian Tee" atau "Melayang Mendaki Tangga Langit".

Menyaksikan kehebatan gerakan To Ho Jian itu, tiga bocah yang berada bersama si imam hampir saja mengeluarkan pujian mereka, sedang si imam yang sangat membanggakan kepandaian ilmu meringankan tubuhnya itu pun, jadi keheranan dan tertegun kagum. Dia menghela napas.

Sesudah berdiri tegak dia atas batu To Ho Jian merogoh ke kantung yang tergantung di pinggangnnya. Dari kantung itu dia menarik seutas tambang halus yang panjangnya belasan tombak. Tambang itu dia lemparkan ke bawah, pada wanita yang ada di bawah, perempuan itu segera menyambar tambang yang dilemparkan itu, lalu menariknya. Maka di lain saat wanita itu sudah melayang naik bagaikan terbang ke arah To Ho Jian di atas batu besar.

Si imam yang menyaksikannya sangat kagum berbareng kaget bukan main.

"Kemajuan ilmu orang she To dan isteinya yang bernama Huai Hong-hong Touw It Nio itu maju pesat sekali!" pikir si imam. "Padahal kami baru beberapa tahun saja tak bertemu dengan mereka... Jika demikian sia-sia saja aku memahami ilmu silatku itu "

Suara binatang buas semakin dekat, si imam memandang ke arah jurang dari arah datangnya suara aneh itu Sedang I'o Ho Jian bersama isterinya Hui Hong-hong (si Burung Hong terbang) mengawasi ke arah lembah. Tiang Keng si bocah yang baru berumur 10 tahun turut mengawasi juga.

"Ayah. suara apa itu? Aneh sekali!" tanya Tiang Keng. "Ayah juga belum tahu." jawab ayahnya.

Kemudian To Ho Jian memandang ke arah isterinya.

"Isteriku kau bisa melihatnya tidak?" tanya sang suami. "Tidak kusangka ucapan Suhu tahun lalu, sekarang menjadi kenyataan. Mungkin belum pasti, tapi aku rasa tak akan meleset dari dugaanku "

Isteri To Ho Jian mengawasi ke arah lembah. Tadi dia tak melihat apa-apa, tapi sekarang dia sudah melihat dengan jelas. Entah berapa banyak menjangan, kijang, kambing hutan, kelinci dan binatang lainnya. Binatang-binatang itu berlari kencang ke arah mereka. Suaranya gemuruh menyeramkan.

"Apa yang terjadi?" tanya isterinya. "Apa terjadi kebakaran hutan di sana? Tapi aku tak melihat ada cahaya api di sana!"

Suaminya menggelengkan kepala tak menjawab.

Tiang Keng yang penasaran pun diam tak berani bertanya.

Sesudah rombongan kijang dan manjangan berlalu di belakang mereka tampak bergerak ular-ular, jumlahnya mungkin ribuan mereka terdiri dari yang besar dan kecil.

"Ayah! Ular-ular itu berbahaya. Bukankah Ayah pernah bilang di tempat ini banyak kuil dan rumah penduduk tukang kayu. Ular itu berbahaya bagi mereka. Apa Ayah tak berniat mengusir atau membunuh mereka agar penduduk tak celaka?" kata Tiang Keng.

.Pertanyaan Tiang Keng oleh To Ho Jian tak dijawab. "Ayo maju sedikit," kata Ho Jian. "Kita lihat lebih tegas. Tapi hati-hati pasti banyak ular berbisa, bau bisanya saja sangat berbahaya!"

Begitu To Ho Jian memperingatkan anak dan isterinya.

Sambil berkata Ho Jian mengeluarkan sebuah botol berisi obat berwarna hijau. Obat itu dia bagikan pada anak dan isterinya.

"Tutup hidung kalian dengan pil ini. dan masukkan ke mulut kalian seorang sebuah. Jangan ditelan biarkan dalam mulut saja. Jauhi ular-ular berbisa itu. berbahaya!" kata To Ho Jian.

"Apa tak lebih baik si Keng kita tinggalkan di sini saja?" tanya isteri Ho Jian.

Dia awasi anaknya tapi Tiang Keng justru seperti ingin sekali ikut bersama mereka, maka Ho Jian pun tertawa.

"Dalam dua tahun ini latihan tenaga dalam si Keng sudah maju pesat," kata suaminya. "Ilmu meringankan tubuhnya juga sudah lumayan, kita ajak saja dia aku rasa tidak terlalu berbahaya kok!"

Tiang Keng girang karena ayahnya mau mengajaknya. Memang dia tak akan tahan menunggu kedatangan kedua orang tuanya di situ, apalagi jika terlalu lama.

"Dasar! Kau suka sekali memanjakan anakmu, sekarang tak apa. Bagaimana jika dia sudah besar nanti?" kata isterinya menyalahkan Ho Jian.

To Ho Jian tidak menjawab. Dia cuma tertawa. Lalu dia melompat ke bawah kemudian disusul oleh isteri dan anaknya.

Debu tanah yang dilewati binatang berkaki empat yang kabur seperti kalap itu menyebabkan debu membubung ke atas. Kepindahan Ho Jian bersama isteri dan anaknya membuat si imam dan tiga bocah atau muridnya itu jadi lega.

"Suhu, siapa mereka itu?" tanya si baju kuning. "Ternyata mereka lihai seperti Suhu. Apa yang sedang terjadi Suhu?"

Si imam diam saja seolah ia tak mendengar pertanyaan muridnya yang cerdik itu. Dia cuma mengerutkan alis dan menghela napas panjang. Tapi si baju kuning terus mendesaknya, dan akhirnya si imam mengalah.

"Pria itu she To, dia mengaku dirinya orang gagah nomor satu," jawab si imam. "Yang perempuan itu isterinya, sedang bocah yang mengikutinya adalah anaknya. Sekarang mereka menuju ke tempat yang sangat berbahaya itu. Mungkin mereka sudah bosan hidup!"

Imam itu tersenyum tawar. Tampak dia benci sekali pada To Ho Jian sekeluarga.

"Kalian tunggu aku di sini! Aku akan ke sana sebentar, tak lama aku akan kembali lagi!" kata si imam pada murid- muridnya. "Apapun yang terjadi, kalian jangan meninggalkan tempat ini!"

"Baik, Suhu!" jawab muridnya yang berbaju kuning. "Suhu mau mermbunuh binatang berbisa itu! Jangan khawatir kami akan menunggu sampai Suhu kembali ke sini!"

Imam itu tersenyum dingin, wajahnya yang bengis dan menyeramkan menyeringai.

"Diam. kau tahu apa. Nak. Ular itu memang jahat, tapi ada yang lebih jahat dari mereka sepuluh kali lipat! Semua binatang buas itu sedang mengantarkan jiwa mereka!" kata si imam.

Bocah baju kuning itu keheranan.

"Apa benar. Suhu?" mata si baju kuning membelalak ke arah sang guru. "Sudah lama aku tinggal di sini." kata si imam. "Aku tahu benar keadaan di tempat ini. Di lembah ini hidup binatang yang sangat berbisa!"

"Binatang apa Suhu?"

"Aku belum pernah melihatnya tapi aku yakin kelihaiannya!" jawab gurunya. "Mungkin itu binatang purba. Jika lapar, katanya dia bersuara sambil menyemburkan bisa! Bisanya bisa menyebar sampai 300 li jauhnya. Jika binatang lain mencium bau itu. mereka akan berlarian menghampiri binatang purba itu untuk dimangsa!"

Tiga bocah itu keheranan. Mereka mengawasi gurunya dengan bengong.

Si imam tertawa tawar.

"Biasanya binatang itu muncul di tempat yang banyak ular- ular berbisa." ata si imam lagi. "Sesudah kenyang nakan biasanya binatang itu tidur lyenyak sekali! Binatang yang tak ermakan jadi bisa kabur jauh-jauh. binatang itu berbisa tapi juga bisa digunakan untuk memusnahkan bisa oerbahaya!"

Bocah berbaju kuning sangat tertarik, dia senang mendengarkan cerita gurunya yang seperti dongeng dalam buku "San Hay Keng". Memang dia anak seorang terpelajar yang dibawa kabur oleh si imam.

"Suhu, pengetahuanmu luas sekali," kata si baju kuning. "Bukan aku sombong, Nak," kata si imam. "Selain ilmu silat,

aku juga mengerti obat dan ilmu sihir."

"Kalau begitu," kata si baju kuning. "Mengapa Suhu tak menunggu sampai binatang buas itu kekenyangan dan tidur, baru Suhu turun tangan membunuhnya. Dengan demikian Suhu bisa terhindar dari bencana!"

"Diam, kau tahu apa!" kata gurunya. "Binatang itu hanya menyerang bisa dengan bisanya. Dia tidak menggangguku untuk apa aku bunuh dia. Biar si orang tolol yang mengaku gagah itu saja yang membunuhnya. Tapi jika ada orang yang berani menghina Gurumu, dia harus menglradapiku. Sekalipun dia bertangan enam, dia tak akan lolos dari tanganku!"

Si bocah berbaju kuning kaget dan heran. Dia masih kecil hingga dia tak mengerti dan tak tahu apa arti kata-kata gurunya itu.

Sesudah berpesan lagi melompatlah si iman dengan pesat ke atas, ke tempat

Ho Jian dan anak isterinya berdiri tadi. Lalu memasukan sebutir pil ke dalam mulutnya untuk dikulum. Sesudah mengawasi ke sekitarnya lalu ia melompat, dan bergerak untuk mengikuti jejak Ho Jian, anak dan isterinya.

Dia bergerak dengan sangat hati-hati sekali dan ia berusaha menghindar karena tak mau terlihat oleh To Ho Jian maupun isterinya. Dia sadar To Ho Jian lihai, dia murid Tee- sian Ku-kun, seorang dari kalangan Kang-ouw (Rimba persilatan) luar biasa.

To Ho Jian sekeluarga berada di tepi jurang, mereka sedang mengawasi ke arah lembah. Di sana sekarang tampak kawanan kelabang sedang bergerak. It Nio merasa jijik dan juga ngeri hingga tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.

"Jangan takut. Isteriku," kata Ho Jian.

Ketika Ho Jian melirik ke arah anaknya, dia lihat anaknya tetap tegar sedikitpun tak merasa takut.

Sesudah rombongan kelabang berlalu kemudian rombongan ini diusul oleh sekawanan kalajengking, lalu disusul oleh tokek dan cecak. Karena sudah menutup hidung dan mulut dengan pil berwarna hijau, mereka jadi tahan tak mabuk sampai semua binatang berbisa itu melewati mereka semua. "Isteriku, kata Suhu semua binatang itu bakal binasa oleh binatang buas itu. yang lolos mungkin hanya sedikit. Sesudah kekenyangan binatang itu akan tidur lelap. Saat itu aku bisa membinasakannya. Untuk itu aku minta kau dan si Keng menungguku di sini. Aku akan mengikuti jejak binatang buas itu ke tempat binatang yang lebih buas itu!" kata To Ho Jian.

Sang isteri menggenggam tangan suaminya erat-erat. "Kanda jangan pergi sendiri! Lebih baik aku ikut

bersamamu. Kau bilang binatang itu buas sekali, aku takut kau " isteri Ho Jian tak melanjutkan kata-katanya.

Suaminya tertawa.

"Isteriku jangan cemas. Seperti kau tak kenal aku saja. Saal inilah kesempatan bagiku untuk menguji ilmu "Cap-i Touw- thian Sin-kang" yang aku pelajari. Tenang, jangan takut!" kata suaminya.

It Nio tersenyum.

"Baiklah kalau begitu. Tapi kau harus berhati-hati. Kanda.

Kau harus waspada!" kata isterinya.

Kembali To Hoo Jian tersenyum pada isterinya. "Sungguh beruntung aku menikahimu. sekarang aku pun

punya si Keng. Jangan cemas aku pergi dulu!" kata suaminya.

Sepergi To Ho Jian isterinya menasihati puteranya. "Keng kelak kau harus segagah Ayahmu, Nak." kata sang

ibu.

Tiang Keng mengangguk bangga.

"Baik, Bu. Aku akan membuat kalian berdua kagum!" kata Tiang Keng.

Ibunya senang sekali lalu merangkulnya. Isteri To Ho Jian senang sekali. Tapi sedikit pun mereka tak menyangka, tak jauh dari tempat mereka ada sepasang mata sedang mengintai. Bahkan orang itu berniat membinasakan mereka berdua....

Orang yang mengintai mereka itu sebenarnya kenalan lama Hui Hong-hong, isteri To Ho Jian, dia adalah Ban-biauw-jin In Hoan, yaitu si imam yang sekarang ada bersama tiga muridnya itu.

Dikisahkan To Ho Jian yang berjalan seorang diri mengikuti bekas jejak binatang-binatang itu. Dia kini telah sampai di sebuah selat yang ternyata sebuah selat yang buntu.

Diawasinya selat itu. menurut gurunya selat itu bernama Tiat- coan-thauw. Bentuk selat itu mirip dengan kepala perahu.

Pada dasar tanah di tempat itu terdapat sebuah lubang besar. To Ho Jian mengawasinya dengan seksama.

"Apa lubang itu sarang si makhluk aneh itu?" pikir To Ho Jian.

Keadaan selat ketika itu sudah sunyi. Tapi tiba-tiba terdengar suara nyaring seperti suara tangisan bayi, Ho Jian kaget. Ia bertambah kaget sesudah ia maju beberapa langkah dan melihat makhluk yang seumur hidupnya belum pernah dia lihat itu.

Tak jauh dari situ ada sebuah lapangan yang luas. di situ telah berkumpul berbagai binatang isi rimba yang tadi berdatangan ke tempat itu dan menimbulkan kegaduhan yang luar biasa. Anehnya binatang yang biasanya saling terkam itu, sekarang semua diam. seolah mereka tidak bermusuhan lagi.

Tak jauh dari tempat itu tampak beberapa ekor ular raksasa tergeletak tidak bernyawa. Kepalanya sudah pecah berlumuran darah. Dari empang darah itu tampak ular yang bentuknya aneh. tidak panjang tapi perutnya sangat besar. Kepalanya sebesar gantang, dan pada kepala ular itu terdapat daging lebih seperti tanduk. Tiba-tiba To Ho Jian mendengar suara berisik dari dalam lubang muncullah makhluk aneh mirip ikan raksasa .Sulit untuk menggambarkan binatang buas ini seperti apa. Kepala binatang itu pipih, mulutnya besar dan giginya tajam-tajam. Lubang hidungnya tiga buah. Di badannya tumbuh lima buah tanduk yang tajam. Kukunya bengkok seperti arit. Binatang itu tidak berkaki, ketika ia bergerak dia hanya mengandalkan tanduk dan cakarnya itu.

To Ho Jian kagum tapi juga kaget menyaksikan binatang itu. Tak lama kedua makhluk aneh itu saling mendekat.

Kemudian mereka bertarung dengan hebat. Mereka bertarung hebat sambil bergulingan, hingga ular-ular berbisa yang tertindih oleh mereka mati semua.

To Ho Jian belum pernah menyaksikan kejadian seaneh itu. Kedua binatang yang bertarung itu makin lama makin lemah. Tubuh ular yang panjang itu dibanting-banting ke tebing dan tanah oleh makhluk aneh yang menjepitnya.

Korban pertarungan hebat itu makin banyak. Malah harimau dan binatang buas lain pun mati karena tertindih. To Ho Jian menganggap sudah tiba saatnya bagi dia untuk turun tangan. Maka melompatlah To Ho Jian ke sebuah batu besar. Lalu batu itu dia hajar hingga hancur. To Ho Jian girang, dia senang karena itu berarti ilmu yang dia pelajari telah sempurna.

Tapi tiba-tiba Ho Jian mencium bau amis. Buru-buru ia melompat menjauh. Saat dia berbalik, dia lihat binatang seperti ikan itu sudah mendekatinya. Dari mulutnya menyembur asap hijau, yang merupakan bisanya. Buru-buru Ho Jian melemparkan potongan batu yang dia sambar ke arah binatang itu untuk menghalau.

Tapi lontaran batu itu disampok oleh makhluk aneh itu. Terpaksa To Ho Jian menghunus pedang lunaknya untuk dipakai melakukan perlavvananan. Makhluk aneh itu bergulingan mendekati To Ho Jian yang telah siap menikamnya. Namun dari mulut makhluk aneh itu keluar hawa bau bacin yang membuat orang ingin muntah apabila menciumnya.

Makhluk aneh itu menyambar ke arah tangan Ho Jian yang memegang pedang lunak dan mengeluarkan cahaya kehijauan. Buru-buru Ho Jian menghindar dari sambaran makhluk aneh itu, hingga ia luput dari serangan itu.

To Ho Jian menimpuk binatang itu dengan batu yang dia jemput dengan cepat dari tanah. Timpukan Ho Jian itu jitu sekali. Ternyata binatang itu kebal. Batu yang mengenai dirinya mental.

Ular dalam jepitan makhluk aneh itu kembali melawan hingga keduanya bertarung hebat lagi. Ketika To Ho Jian akan menyerang, makhluk aneh itu. tapi makhluk aneh itu buru- buru masuk ke dalam goa.

"Sayang!" pikir Ho Jian menyesal.

Saat dia sedang berdiri ia kaget sendiri. "'Celaka aku!" teriaknya

Kepalanya terasa pening sekali. Mendadak ia merasa haus bukan main. Buru-buru Ho Jian duduk untuk mengatur pernapasannya. Dia sadar mungkin dia terkena racun sang makhluk aneh itu. To Ho Jian mencoba berusaha menolong dirinya...

Tiba-tiba...

"Ha, ha, ha , ha,!" terdengar suara orang tertawa nyaring. "Hai sahabat baik, sudah lama kita tak saling bertemu!"

kata suara itu. "Apakah kau baik-baik saja. hai sahabat lamaku?"

To Ho Jian mencari-cari arah datangnya suara itu. Tak lama terdengar lagi suara orang itu. "Pertemuan kita ini membuat aku si orang she In gembira sekali!" kata suara itu.

To Ho Jian memutar tubuhnya dengan cepat. Orang yang menyebut dirinya orang she In itu adalah si imam yang bernama Biao Cin-jin In Hoan. Dia tertawa girang sekali

"Tidak kusangka, sesudah lama kita tidak bertemu, aku salah ucap. Aku mengatakan kau baik-baik padahal kau dalam bahaya " kata In Hoan.

"Hai orang she In, apa kau tidak salah? Tujuh tahun yang lalu kau tak mau bertemu lagi denganku. Tapi sekarang malah kau menemuiku lagi. Apa maumu?" kata To Ho Jian

In Hoan masih tertawa terus.

"Walaupun adikmu bodoh, dia tak akan lupa pada apa yang dia pernah ucapkan," kata In Hoan. '"Sekarang adikmu berdiri di sini, terserah apa yang hendak kau lakukan terhadapku, To Tay-hiap!"

Ucapan In Hoan itu suatu tantangan hingga To Ho Jian jadi kaget.

'"Hai mengapa kau diam saja. Apakah kau tak mau menghukumku?" kata In Hoan lagi. "O. aku tahu sekarang. Karena kau akan menyelamatkan orang banyak dan kau mau membunuh makhluk aneh itu. Tapi ternyata kaulah yang terkena racunnya!"

Nada suara In Hoan sangat mengejek dan merendahkan dirinya, hal ini membuat To Ho Jian gusar bukan main. Diam- diam dia salurkan tenaga dalamnya untuk mengusir bisa yang ada di dalam tubuhnya. Dia tidak takut pada In Hoan, hanya sedikit cemas saja. Jika imam itu menyerang dan dia sedang terkena racun bagaimana ia harus bisa bertarung lama. dia khawatir tenagan\ a akan berkurang. Cuma itu.

"Sudah lama kita tak pernah bertemu, dulu kau sering mengatakan aku licik dan licin! Ternyata memang sifatku belum berubah sampai sekarang ini. Tadi sebelum aku menemuimu. karena aku khawatir kau mencelakakan aku. Maka aku telah menyandera isteri dan anakmu itu. Mereka baru akan kugunakan jika aku terdesak olehmu. Ternyata sekarang aku berpendapat tindakanku itu terlalu berlebihan. Karena sekarang kau telah terluka kena bisa makhluk aneh. jadi kau tak berdaya!" kala In Hoan.

Mendengar ucapan lawan To Ho Jian kagert bukan main. Ucapan imam itu berarti bahwa dia telah menawan isteri dan anaknya. Karena bingung dan khawatir To Ho Jian jadi lupa diri. Tak pikir panjang lagi dia melompat menerjang ke arah si imam.

"Orang she In! Ingat baik-baik, asal kau tahu saja. Jika kau berani mengganggu selembar saja dari bulu tubuh isteri dan anakku, maka sekalipun tubuhku hancur-lebur, akan kucincang kau sampai lumat!" kata To Ho Jian.

Lima jari tangan kirinya menyerang ke arah In Hoan, sedang tangan kanannya yang memegang pedang lunak sudah langsung bekerja, ia menusuk ke arah tubuh In Hoan. Serangan itu sangat berbahaya. Itu sebabnya In Hoan pun sudah langsung melompat tinggi dan berusaha menjauh sekitar tujuh kaki jauhnya dari tempatnya berdiri.

Mengetahui serangan berbahayanya gagal, Ho Jian kaget sekali. Biasanya dia tak pernah gagal. Mungkin pengaruh bisa makhluk aneh itu membuat gerakannya jadi kurang cekatan lagi.

In Hoan mentertawakannya hingga Ho Jian makin panas. "Hai Tay-hiap, kau galak amat. Aku tak bisa membiarkan

kau berbuat semau-mau. Tapi ingat jangan katakan aku

kejam. Atau katakan aku menyerangmu saat kau terluka kena bisa! Tapi permusuhan kita memang hebat, maka serahkanlah nyawamu!" kata I n Hoan. In Hoan yang licik ini sangat lihai, begitu dia berhenti bicara tangannya langsung bekerja. Dia serang To Ho Jian secara hebat, hingga keduanya jadi bertarung mati-matian. Sekarang In Hoan bertarung sungguh-sungguh. Sebab dia lihat tadi sekalipun sudah terkena bisa, Ho Jian masih tangguh.

Ho Jian bertarung mati-matian. Tapi ucapan In Hoan memang benar, dia sudah terkena bisa makhluk aneh. Lama- lama tenaganya akan habis. Sudah belasan jurus telah lewat. Tapi keduanya masih saling serang. Ho Jian bingung dia mencemaskan keadaan isteri dan anaknya.....

In Hoan seorang yang sudah berilmu tinggi. Terutama ilmu meringankan tubuhnya. Dalam pertarungan itu Ho Jian seolah sudah dikurung oleh bayangannya yang terus mengitarinya.

Dalam gugup dan panik Ho Jian teringat masa lalunya.

Ketika dia belum menikah dengan isterinya. In Hoan mengenal isterinya lebih dahulu dari padanya. In Hoan hampir berhasil menggaet Hui Hong-hong. Tapi tak lama Hui hong-hong mengetahui, bahwa In Hoan laki-laki jahat yang sering mengganggu anak gadis orang. Sejak itu Hui Hong-hong mencoba menjauhinya.

Karena penasaran I n hoan hendak menggunakan akal busuk untuk mendapatkan Hui Hong-hong It Nio ini. Untung datang To Ho Jian. Dia menyelamatkannya, bahkan It Nio jatuh cinta padanya. Maka mereka pun menikah atas perantaraan In Kiam. seorang jago silat dari Bu-ouw.