Tiga Maha Besar Jilid 33 (Tamat)

  
Jilid 33 (Tamat)

MAKLUMLAH, kalian memang kurang bisa memahami betapa busuknya hati Teng kwik Siu dan komplotannya! ujar Cu Thong, “sejak menjumpai bendungan air itu, Ciang lotau sudah menyadari bahwa ada orang sedang mempersiapkan siasat air bah menyapu enam pasukan berkuda, sejak datang kesini pada hakekatnya Tang Kwik-siu telah mempunyai maksud jahat, tentu saja kalian semua tak akan mampu untuk menebak siasat busuknya yang amat dirahasiakannya itu”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan lagi, “Bagaimana nasib bangsat tua itu? Apakah sadah kalian usir untuk pulang ke akherat?”

“Apanya yang di usir pulang keakherat? bangsat tua itu sudah dilepaskan hidup-hidup!” sahut Ci-wi Siancu dengan gusar.

Mendengar perkataan itu, Dewa yang suka pelancongan Cu Thong segera tertawa terbahak-bahak

“Haaahh…. haahh…. haaahh dilepaskan memang jauh lebih baik daripada dibunuh, anggap saja kita sudah membeli kura-kura busuk dari pasar, karena kura-kura itu cuma beraninya sembunyi melulu maka kita buang kembali ke lain toh tak ada rugiuya bukan? Baiklah tak usah kita bicarakbn soal ini, coba kau lihat seluruh bukit ini sudah dipenuhi oleh bapaknya bajingan, anaknya bajingan, dan cucunya bajingan, bagaimana caramu untuk menggali harta karun itu?”

Buru-buru Hoa Thian-hong menjawab dengan wajah serius, “Locianpwe, dewasa ini kita harus membuang jauh-jauh semua kerugian kita di masa lampau, pada saat inilah segenap kekuatan yang ada dalam dunia persilatan harus bersatu padu dan bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan maha besar ini. Kemarin malam istana Bin yu tiau dari Kiu ci kiong sudah tergali keluar tapi kini penemuan tersebut telah tenggelam oleh air bah yang maha dahsyat, boanpwe ada maksud untuk menunda pekerjaan ini dan berunding lebih dulu dengan pemimpin dari pelbagai pihak, setelah itu membendung kembali aliran air dan menghisap air bah yang menggenangi liang galian ini, sebab hanya dengan berbuat begitulah pekerjaan besar ini baru bisa dilanjutkan kembali.”

Tertegun Dewa yang suka pelancongan Cu Thong setelah mendengar perkataan itu, lama sekali ia baru bisa berkata, “Apa? Jadi setelah lolos dari terkaman air bah, kau masih punya keberanian untuk bekerja sama lagi dengan kawanan manusia telur busuk itu?”

Hoa Thian-hong kualir perkataannya yang amat pedas dan tak sedap didengar ini akan menyinggung perasaan halus orang lain, buru-buru menjawab.

“Locianpwe, sebusuk-busuknya seorang manusia, aku yakin dia masih mempunyai hati yang baik dan liangsim yang mulia, bila kita bersikap luhur dan percaya kepada orang lain, lama kelamaan orang itupun da pat menyelami pula perasaan tulus kita!”

Ia menunjuk ke arah Bong Pay, lalu sambil sambil lanjutnya lebih jauh, “Sekarang toako sudah menjadi menantu kesayangan dari Sin-kie-pangcu, itu berarti orang-orang seperkumpulan sudah merupakan saudara pula dengannya, masa kita harus menganggap asing diri mereka pula?”

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong melototkan sepasang matanya bulat-bulat, mendadak ia berpaling ke arah Bong Pay, rupanya orang tua ini ingin menyelami sikap pemuda itu.

Buru-buru Bong Pay bungkukan badan memberi hormat, katanya dengan suara lirih, “Wan-hong mengatakan bahwa ini merupakan perintah dari supe, Pay ji tak berani membangkang perintah dari kau orang tua maka…. maka Pay ji telah….”

“Aduh, bagus…. bagus…. tata kesopananpun rupanya sudah kau kuasahi, nada perkataan pun lebih luwes dan sedap didengar, coba katakan, semuanya ini adalah hasil pelajaran dari Pek loji ataukah ajaran dari nona Soh-gie binimu itu?” teriak Cu Thong.

Merah padam selembar wajah Bong Pay karena jengah, cepat-cepat dia memberi hormat lagi seraya menjawab, “Apabila Pay ji mendapat sedikit kemajuan dalam segala bidang maka semuanya ini adalah hasil dari jasa supek sendiri!” Sekali lagi Dewa yang suka pelancongan Cu Thong tertegun, akhirnya ia merasa bahwa tidak pantas untuk bicara sembarangan lagi, sesudah termangu-mangu beberapa saat lamanya, dengan suara agak gemetar dia berkata lagi, “Baik! Engkaupun sudah pantas menjadi manusia, Pek Siau-thian memang tidak melantur matanya, ia maui kau sebagai menantlunya ini menandakan kalau pandangan matanya memang cukup tajam. Aku menghormati keagungan Pek hujin dan menganggap nona Soh-gie adalah seorang dara yang saleh dan dapat merawat serta memperhatikan engkau sepanjang hidup, karena itu aku beranikan diri untuk memesan kepada Wan hong untuk menjadi mak comblang dalam perkawinan ini, Dan sekarang perkawinan sudah terlaksana maka semuanya tergantung pada dirimu sendiri, kalau engkau tak dapat menjadi seorang enghiong hohan yang akan meneruskan warisan dari Pek Siau-thian maka hal ini akan merupakan penyesalan bagi Pek loji, sebaliknya kalau engkau tak bisa menjadi seorang kuncu, seorang lelaki sejati yarg akan menyemarakkan nama besar perguruanmu, maka inilah dosa serta kesalahan dari aku yang menja-di supekmu, aku dan gurumu sudah saha bat sehidup semati, maka sampai waktunya aku hanya bisa menggorok leher sendiri untuk menebus dosa pada gurumu. Sebaliknya hidup diantara manusia persilatan yang kasar dan tak beraturan tapi tak hilang sifat gagah dan jiwa pendekarnya, itulah perbuatan yang teramat sukar, semoga engkau dapat menguasainya!”

Air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Bong Pay, dengan penuh rasa hormat dia memberi hormat kepada orang tua itu, katanya, “Apa bila Pay ji tak dapat memenuhi apa yang supek harapkan tak usah supek memberi teguran, Pay ji dapat menyelesaikan kehidupanku sendiri untuk menebus dosa-dosaku kepada mendiang guruku!”

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong merasa terbaru sekali setelah mendengar perkataan itu sampai-sampai sekujur badannya ikut gemetar keras, katanya kemudian, “Bagus, bagus, bagus sekali, pulanglah dahulu, demi engkau aku Cu Thong rela untuk tundukkan kepala kepada Pek Siau-thian, pulang dan berilah kabar lebih dulu kepadanya, katakan sebentar lagi aku akan datang menyambanginya”

“Baik!” sahut Bong Pay dengan penuh perasaan hormat.

Selesai menjura, ia mengundurkan diri dari ruangan itu dan berlalu dari sana.

Pepatah kuno pernah mengatakan: Jika seorang kuncu mempunyai kedudukan yang tinggi maka serta-merta akan muncullah suatu kewibawaan yang besar pada dirinya.

Ini berarti pula bila orang itu dahulunya hanya seorang manusia biasa saja, tapi ketika suatu ketika secara mendadak meningkat kedudukannya, secara otomatis pula akan muncullah suatu kewibawaan pada dirinya, yang mana membuat rekan-rekannya tak berani pandang remeh dirinya lagi.

Begitulah keadaan dari Bang Pay saat ini, selelah ia menjadi menautuaya keluarga Pek maka secara lapat- lapat iapun sudah menjadi satu-satunya ahli waris yang akan memimpin perkumpulan Sin-kie-pang yang maha besar dan maha pengaruh ini, berhadapan muka dengan anak buah anak buahnya yang rata-rata berilmu silat tinggi, tentu saja ia harus pandai membawa diri serta tahu kedudukan dan derajat sendiri pada waktu itu.

Karena itu tanpa ditegur atau diberi peringatan oleh Pek Siau thinn, dengan sendiri Bong pay telah berubah jadi seorang manusia yang lain.

Siapapun juga yang bertemu dengan Bong pay, maka tanpa disadari semua orang akan merasa bahwa tindak tanduk maupun cara berbicara pemuda itu ternyata membawa suatu pengaruh besar yang membuat orang mau tak mau harus mematuhinya.

Tentuu saja bila keadaan pada saat ini dibandingkan dengan keadaannya di masa lampau, boleh dibilang perbedaannya ibarat langit dan bumi, jauh sekali bedanya.

Suatu hari tatkala fajar baru saja menyingsing diufuk sebelah timur, semua orang yang berada dibukit Kui ci sa telah berkumpul diatas sebuah puncak tebing yang amat tinggi berhadapan dengan sebuah selokan besar.

Semua jago persilatan baik itu dari golongan hitam, dari golongan putih maupun dari empat samudera lima telagan semuanya telah berkumpul ditanah perbukitan tersebut. Sinar mata mereka yang setajam sembilu bersama-sama tertuju pada sebuah liang besar yang menganga dibawah tebing tepat di seberangnya, setiap orang dengan membawa perasaan gembira, perasaan tegang dan perasaan bercampur aduk yang sukar dilukiskan dengan kata-kata menantikan tibanya saat yang telah ditunggu- tunggu sekian lama.

Tidak semua jago silat yang hadir ditempat itu datang dengan tujuan mencari harta ada yang datang kesana oleh karena demi orang orang dikasihi, karena ingin membantu orang yang dicintainya mereka rela menyumbang tenaga dan ikat menyingsingkan lengan baju serta bekerja keras.

Kendatipun demikian, oleh karena mereka sudah menyumbangkan tenaga dan waktu yang cukup lama untuk menyukseskan gerakan pencarian harta karun ini, maka menjelang detik-detik yang terakhir ini tak urung mereka ikut berdebar juga.

Malahan ketegangan serta kegembiraan yang mencekam perasaan hati orang-orang ini tak kalah hebatnya dengan mereka yang maksud kedatangannya memang khusus untuk mencari harta karun.

Liang penggalian yang tergenang air bah itu sudah dibikin kering setelah airnya di pompa keluar, sekarang kedalaman liang tersebut telah bertambah dua puluh kaki lagi.

Atas hasil pemikiran dari Hung san su lo, Tiang sun Pou, Ciang Cu gan, Hoa Thian-hong, Pek Siau-thian serta Kiu- im Kaucu akhirnya dugaan mereka dapat diseragamkan yakni letak tempat penyimpanan harta karun yang berada dalam istana Kiu ci kiong sebenarnya berada didalam lambung bukit karang itu.

Menurut hasil catatan peta yang tertera dalam halaman terakhir kitab puaska Thian hua ca ki letak tempat penyimpanan harta karun itu dikelilingi oleh pelbagai lereng dan jalan berliku-liku serta banyak cabangnya, selain itu pintu serta jalan tembusnya banyak, sukar dihitung jumlahnya, tempat itu ibaratnya dikelilingi oleh barisan pembingung sukma yang bisa membetot nyawa.

Tapi apa kenyataannya? Kendatipun mereka telah bersusah payah selama berbulan-bulan lamanya, jangankan tempat penyimpanan harta karun itu, pintu serta jalan tembus yang dimaksudkan pun tak kelihaian sebuah pun.

Tanpa pintu tak mungkin orang bisa mencapai letak tempat penyimpanan harta karun itu dan percuma saja mereka berada di sekitar tanah perbukitan itu tanpa dapat mendekati tempat yang tertuju.

Setelah mengalami patah semangat dan kemurungan selama berhari hari lamanya, terakhir mereka putuskan untuk meledakkan tanah perbu-kitan tersebut untuk mencari pintu masuknya.

Setelah diambil keputusan yang bulat ini, maka oleh Tiangsun Pou beserta Ciang Cu gan, kedua orang itu mulai memenentukan letak daerah yang akan diledakkan. Mula-mula mereka menggali dahulu sebuah tanah lorong yang menjorok masuk kedalam perut bumi dari dasar liang penggalian itu, setelah lorong itu dirasakan cukup dalam, maka bahan peledakpun ditutupi kedalam lorong tersebut, sumbunya diatur jauh diluar liang itu dan akan disulut oleh Hoa Thian-hong.

Hari inilah yang telah ditetapkan oleh kawanan jago itu untuk meledakkan tanah perbukitan itu.

Selang sesaat kemudian, dari dasar liang penggalian yang sangat dalam itu berkumandang suara suitan yang amat panjang dan nyaring, menyusul kemudian kabut yang berwarna hitam dan tebal menggulung keluar dari dasar liang itu.

“Blaaam!!” suatu ledakan dahsyat yang meenggoncangkan seluruh permukaan bumi menggelegar di angkasa, pasir, debu dan batu beterbangan di angkasa.

Li-hoa Siancu paling tak dapat menahan diri, begitu melihat kabut tebal muncul dari dasar lembah, ia segera goyangkan tangannya berulang kali sambil berteriak- teriak keras, “Siao long cepat lari…. ! Siau long cepat lari!”

Gadis-gadis suku Biau adalah gadis yang tak kenal apa arti malu, seorang mulai berteriak maka rekan-rekan yang lainpun ikut berteriak teriak keras. Mendingan kalau gadis-gadis suku Biau ini tidak berteriak, begitu mereka berteriak serentak memancing pula kekuatiran dari kawanan jago lainnya.

Perlu diketahui, selama ini Hoa Thian-hong telah menunjukkan tekadnya yang besar untuk menemukan harta karun itu, kesediaannya untuk berkorban demi kepentingan orang banyak ini, telah menimbulkan rasa kagum dan haru dihati setiap jago, tanpa sadar perasaan tersebut tertanam pula dihati mereka dalam-dalam, siapapun tak mengharapkan terjadinya sesuatu atas diri si anak muda itu pada detik-detik yang terakhir ini….

Dalam waktu singkat, teriakan-teriakan keras dan jeritan- jeritan peringatan berkumandang dari mulut setiap umat jago yang hadir diseputar tanah perbukitan itu, suaranya cukup keras dan menggema diseluruh angkasa.

Pada hal setiap orang tahu bahwa Hoa Thian-hong berilmu tinggi, dengan kecepatan gerakan tubuhnya tak mungkin ia bakal terpengaruh oleh gelombang ledakan yang keras itu.

Namun, kendati begitu toh mereka berseru agar pemuda itu lebih cepat lagi menyingkir dari sana, hal ini bisa menunjukkan betapa hormat dan kasih sayangnya kawanan jago tersebut pada pemuda itu.

Andaikata kejadian ini tidak berlangsung dalam keadaan begini melainkan berhadapan muka secara satu dan satu mungkin saja diantara mereka ada yang tak bisa melupakan dendam lama serta menghilangkan rasa dengki, benci serta dendamnya. Tapi sekarang mereka dalam keadaan bersama-sama, dengan sendiri nya suasanapun jauh berbeda.

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong setelah memegang sumbu bahan peledak itu dengan kecepatan penuh ia lantas melayang keluar dari lorong bawah tanah dan kabar menuju ketebing sebelah depan.

Waktu itu ia mendengar bahan peledak dalam lambung bukit sudah mulai meledak, kemudian terdengar

teriakan-teriakan keras, ber kumandang diri atas puncak, ia tercekat dan kebingungan, pemuda itu tak tahu apa yang terjadi diatas puncak bukit itu.

Maka pemuda itu semakin tancap gas dengan kecepatan yang lebih luar biasa, ia menerjang naik keatas puncak tersebut.

Terdengarlah ledakan keras yang memekikkan telinga menggelegar di angkasa menyusul kawanan jago yang berada diatas puncak tersebut sama-sama berseru kaget dan menghela napas panjang.

Tampaklah bukit karang yang telah didiami oleh kawanan jago itu banyak hari, kini sudah meledak dan retak-retak pada bagian pinggangnya, malahan puncak bukit itu sudah ambruk longsor kebawah.

Dalam waktu singkat terjadilah gempa bumi yang sangat keras diatas tanah bukit tadi semua tanah yang dipinjak kawanan jago itu mulai bergoncang keras, pepohonan dan batu kurang bergetar keras sekali, lama…. lama sekali goncanggan itu bergetar tiada hentinya. Semangkin banyak tanah dan batu karang yang longsor dan bertaburan kedalam jurang, pepohonan serta bangunan darurat yang dipakai oleh kawanan jago selama ini bertumbangan, keadaan betul-betul mengerikan sekali.

Mendadak dari antara celah-celah tanah bukit yang merekah dan longsor itu muncullab sebuah air terjun yang sangat besar dan deras, dengan disertai suara gemuruh yang sangat keras, gulungan air bah itu meluncur datang dengan cepatnya, dalam waktu singkat air terjun tersebut telah berada dihadapan muka mereka.

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong sangat terkejut segera serunya dengan keras

“Celaka jangan-jangan Kok See-piauw bajingan cilik itu bermain gila lagi dengan kita?”

Ciang Cu gan setera menggeleng.

“Tak mungkin bajingan cilik itu berani main gila lagi, aku rasa kejadian tersebut mungkin terjadi lantaran kerak bumi bergoncang keras yang mengakibatkan bendungan tersebut menjadi retak karena air bah pun mengalir kembali melalui saluran yang telah ada seperti sedia kala!”

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan kembali.

“Oleh sebab kerak bumi mengalami menyusutan setelah terjadinya ledakan ditanah perbukitan seberang sana, tanah pada sekitar lambung bukit itu mengalami retakan- retakan yang hebat, aai! Sebelumnya aku tak pernah menghitung sampai kesitu, kalau tidak pasti akan ku kurangi kekuatan bahan peledak yang kita tanam disana!”

“Saudara Ciang, akibat dari ledakan yang kelewat takaran ini, mungkinkah bisa mengakibatkan hancurnya tempat penyimpanan harta karun itu?” tanya Thian Ik-cu secara tiba-tiba.

Ciang Cu gan termenung dan berpikir sebentar, kemudian sabutnya, “Pertanyaanmu itu sulit bagiku untuk menjawabnya pada saat ini. Aaaiiii….! seandainya harta karun itu mengalami kerusakan hebat semuanya itu adalah dosa dari aku Ciang Cu gan, mungkin aku akan merasa menyesal untuk selamanya!”

“Ciang locianpwe, apa gunanya kau mengucapkan kata- kata seperti itu?” tegur Hoa Thian-hong mendadak, “sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga, secerdik-cerdiknya seseorang dalam suatu bidang, kegagalan bukanlah suatu kejadian yang aneh, lagipula masalah ini menyangkut tentang mengerutnya kerak bumi yang berada didalam tanah dan tak bisa dilihat manusia, siapa yang dapat menduganya sampai kesitu? Kalau toh harta karun tersebut akhirnya musnah, kita hanya bisa mengatakan bahwa takdir memang menghendaki demikian!”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, aliran air tersebut telah memancar lewat dengan cepatnya, liang besar itu untuk kedua kalinya tergenang kembali oleh air bah. Dalam pada itu, retakan-retakan pada dinding tebing masih berlangsung terus tiada hentinya, batu-batu cadas yang besar dan berukuran raksasa menggelinding jatuh kebawah dan lenyap dibalik genangan air yang menutupi seluruh liang penggalian tersebut.

Kurang lebih setengah jam kemudian, ledakan dan retakan-retakan dari tebing bukit seberang sana perlahan-lahan mulai mereda kembali, namun peredaran darah ditubuh kawanan jago itu malahan terasa berpu tar makin cepat, jantung mereka serasa berdebar keras. 

Tiba-tiba Thian Ik-cu berseru dengan suara lantang, “Hoa kongcu, aku rasa keadaan pada saat ini sudah mulai menjadi tenang kembali, bagaimana kalau kita bersama-sama menengok keadaan dibekas tanah ledakan tersebut?”

“Baik! mari kita maju bersama-sama kesitu, tapi sebelumnya aku harap saudara sekalian suka mencamkan beberapa patah kataku, ketahuilah peti mati lebarnya cuma enam depa, dan benda sekecil itu tak akan makan tempat selebar satu kaki, selama manusia masih hidup didunia ini maka semuanya takdirlah yang menentukan, ada manusia yang bernasib baik ada pula manusia yang bernasib jelek. Tentunya kalian mengetahui bukan tentang cerita Say-ang yang kehilangan kudanya? Siapa tahu kalau kudanya yang hilang justru mendatangkan rejeki padanya? Kemudian Say-ang mendapat kudanya kembali, tapi siapa yang mengira kalau ditemukannya kembali kuda tersebut justru merupakan bencana baginya?” “Saudara-saudara sekalian, andaikata dalam bukit sebelah sana banar-benar terdapat harta karunnya maka kalian boleh mengambilnya, sebab itulah hasil dari jerih payah saudara sendiri, itulah buah yang harus kalian terima setelah memeras keringat dan tenaga.

“Kita semua tak ada yang menjadi pemimpin rombongan, tak ada seorangpua yang berhak untuk menentukan pilihan bagian saudara sekalian, lagipula berbicara tentang nilai dari harta pusaka itu setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda, setiap orang mungkin saja bisa mengalami sengketa karena pilihan yarg sama, oleh karena itu untuk mengatasi segala hal yang tak diinginkan pada hari ini aku mohon kepada saudra sekalian untuk bertindak menuruti suara hati masing- masing, ambillah benda yang sudah menjadi hak bagi kalian dan bagi mereka yang telah mendapat bagian menyingkirlah dengan segera dan bagilah sisa bagi orang yang lain. Aku harap janganlah disebabkan karena harta yang tak ada harganya ini sehingga menimbulkan bibit bencana dan harus diakhiri dengan pertumpahan darah yang tak berguna, aku rasa saudara-saudara sekalian tentunya bisa menangkap serta memahami apa yang kumaksudkan dan apa yang ku katakan barusan bukan?”

Ketika Hoa Thian-hong menyelesaikan kata-katanya dengan suara keras tapi tegas, Kho Hong-bwee menambahkan pula, “Apa yang barusan Hoa kongcu ucapkan semuanya merupakan kata kata mutiara yang besar dan dalam sekali artinya, semoga kalian dapat mencamkan kata-kata tersebut kemudian meresapi serta melaksana kannya secara baik-baik, dalam menghadapi segala persoalan lebih baik berpikirlah tiga kali sebelum akhirnya mengambil keputusan.

Ia berpaling lantas membentak lagi, “Saudara-saudara dari perkumpulan Sin-kie-pang harap dengarkan baik- baik kata-kata ku ini: ‘Bila kami punya rejeki dan keuntungan maka semua anggota perkumpulan dari atas sampai tingkat paling bawah akan mendapat bagian bersama-sama meresapi keuntungan tersebut’, Pangcu sekeluarga tidak akan memeras dan melupakan kesolidaritasan saudara-saudara sekalian, kendatipun demikian aku minta kalian jangan melupakan peraturan perkumpulan, siapapun asal dia anggota perkumpulan Sin-kie-pang, sebelum mendapat perintah dari pangcu dilarang untuk maju kedepan, barang siapa berani menentang peraturan ini maka akan dijatuhi hukuman setimpal dengan peraturan yang telah tercantum, aku minta peringatan ini suka diindahkan oleh saudara saudara sekalian, sehingga dapat dihindari segala hal yang tidak diinginkan.

Begitu selesai mendengar perintah itu, para anggota perkumpulan Sin-kie-pang serentak menyahut, suaranya keras dan serentak ibarat guntur yang menggelegar di udara.

Thian Ik-cu pun ikut berbicara dengan suara lantang, “Hoa kongcu, kamipun hanya ingin cepat-cepat melihat harta karun itu tapi jangan kau artikan ingin cepat-cepat mendapatkan bagian dari harta karun tersebut, bilamana ada orang ingin menggunakan kesempatan ini untuk menguntungkan dan memperkaya diri sendiri, cukup Hoa kongco memberi komando, serentak kami akan se-kuat tenaga melawan manusia-manusia rakus itu, walau kepala bakal kutung, darah bakal mengalir, kami semua tidak akan merasa gentar atau mundur!”

“Akan ku ingat selalu perkataan dari totiang! ujar Hoa Thian-hong dengan wajah bersungguh-sungguh.

Ia lantas berpaling ke arah Kiu-im-kauwcu, setelah memberi hormat ujarnya kembali, “Kaucu, cianpwe dan para enghiong semua mari kita berangkat untuk menengok keadaan disana!”

Kiu-im Kaucu tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaah…. saudara-saudara sekalian, silahkan berangkat!” katanya pula.

Padahal semenjak tadi semua orang sudah terburu nafsu ingin menuju ketempat penyimpanan harta itu, setelah dipersilahkan maka siapapan tidak ingin banyak berbicara lagi.

Maka ketika berangkat menuju kemuka sekalipun tidak diatur, secara otomatis kawanan jago itu membentuk barisan sendiri secara teratur dan rapi.

Tampaklah Hoa Thian-hong berjalan dipaling depan dengan Pek Siau-thian, Kiu im kancu, Jia Hian serta Thian Ik-cu mendampingi disisinya, dibelakang kelima orang itu menyusul pula para jago lainnya yang menyusun diri jadi lima orang tiap baris, memandang jauh sebelakang sana, barisan itu sangat teratur dan siapapun tiada bermaksud untuk saling mendahului ataupun saling berdesakan.

Pada aliran selokan yang muncul setelah terjadi tempa bumi itu penuh berserakan batu-batu cadas yang mencapai beberapa kaki diameternya, dengan melewati batu-batu cadas tersebut Hoa Thian-hong berlima memimpin kawanan jago lainnya mendaki bukit batu karang itu dan menuju kepuncak bukit yang sudah terbelah oleh ledakan bahan peledak serta goncangan gempa bumi itu.

ooooOoooo 90

SETIBANYA dtatas puncak bukit yang terbelah itu, Hoa Thian-hong tak dapat menahan pergolakan emosinya lagi, timpaklah sekujur tubuhnya gemetar keras, helaan napas panjang segera berkumandang saling menyusul dari mulut kawanan jago tersebut.

Pemandangan yang terbentang di depan mata pada saat ini adalah suatu pemandangan yang aneh serta menakjubkan, puncak bukit yang sudah terbelah oleh ledakan bahan peledak serta goncangan gempa bumi itu sekarang telah berubah jadi sebidang tanah datar yang luasnya mencapai tiga ratus kaki persegi, diatas dataran itu penuh dengan jalan-jalan lorong yang berlika liku dan tak terhitung jumlahnya. Luas lorong yang seolah-olah dipapas dengan pisau itu cuma beberapa kaki, tapi rata teratur dan rapi, panjangnya mencapai sepuluh li atau lebih.

Meskipun panjang lorong mencapai sepuluh li lebih naumn berlika liku kian kemari tak menentu, besar kecilnyapun berbeda satu dengan lainya, berderet-deret bangunan batu seperti sarang tawon berserakan disana sini, hanya saja pada waktu itu hampir separuh bagian bangunan ruang batu serta lorong rahasia itu terbentang diluaran sedang sisanya yang separuh masih terbenam dalam lambung bukit dan tertindih oleh bukit karang yang tinggi dan padat.

Beberapa orang diantara mereka yang merasa berilmu tinggi lantas melompat masuk kedalam lorong rahasia yang terbelah jadi dua itu, mereka mencoba untuk mendekati pusat bangunan tersebut dengan melalui lorong-lorong yang terbentang lebar itu.

Apa yang terjadi? Kendatipun beberapa orang jago itu telah berusaha untuk berputar kesana kemari dengan mengikuti barisan pat kwa ataupun barisan ngo heng yang mereka kuasai, jangankan mendekati puing bangunan yang dimaksudkan untuk mendekati pun ternyata tak mampu.

Lama…. lama sekali…. akhirnya Pek Siau-thiang menuding ke arah tebing sebelah depan sana lalu berkata, “Daripada saudara semua membuang waktu dan tenaga dengan percuma, bagaimana kalau kita jangan melalui jalan lorong yang membingungkan itu?” “Asal melewati jalanan bekas sawah yang ada disebelah sana, kemudian meloncat ke pusat bangunan, toh dengan gampang sekali kita bisa masuk kedalam ruang batu itu?”

Oleh karena tak seorangpun yang memberikan tanggapan atau usul lain, maka kawanan jago itupun meninggalkan jalan lorong yang membingungkan dan menelusuri jalan perbukitan yang tinggi rendah tak menentu di samping lorong-lorong tadi, dengan sangat gampang semua orang dapat mencapai pusat ruang batu di tengah-tengah kurungan lorong rahasia tersebut.

Setelah tiba didekat bangunan tadi, sebagaimana tadinya maka kawanan jago itupun mengatur diri lima orang satu barisan untuk meneruskan perjalananya kedepan.

Semua orang tahu setelah tempat penyimpanan harta karun itu dilindungi oleh lorong-lorong rahasia yang amat membingungkan pikiran serta susah untuk dilewati itu, sebenarnya tanpa dipasangi alat jebakan di sekitar ruang penyimpananpun tak mengapa, sebab tidak gampang orang bisa mencapai ketempat itu.

Berdasarkan analisa inilah, maka setelah rombongan tiba diluar ruang batu itu, semua orang tidak kuatir akan tersesat atau terjebak lagi oleh alat-alat rahasia yang mengerikan, dengan mengatur diri menjadi barisan mereka lanjutkan perjalanan kedalam ruangan.

Perlu diketahui, pada saat ini rombongan kawanan jago itu berada di bukit karang yang letaknya jauh lebih tinggi daripada bangunan istana itu sendiri, ditambah pula separuh bagian bangunan tersebut sudah longsor oleh gempa sehingga boleh dibilang semua bangunan istana Kiu ci kiong seolah-olah terkupas separuh, maka siapapun dapat melihat jelas keadaan di dalam istana tersebut dengan amat jelas.

Tanpa menemui banyak kesulitan, mereka telah berhasil mencapai depan pintu sebuah ruang batu dan memasuki ruangan tersebut.

Ruangan itu panjang sekali dan terbuat dari batu-batu cadas yang sangat kuat, kurang lebih beberapa kaki kemudian sampailah mereka di depan sebuah pintu lagi.

Pintu batu itu tertutup rapat, Kiu-im Kaucu lantas maju kedepan dan mendorong pintu tadi kebelakang.

“Kraaakk!” Pintu batu itu ternyata tak terkunci, sewaktu didorong lantas terbuka lebar, cahaya hijau yang menyilaukan mata seketika itu juga memancar keluar dari balik ruangan.

Apa isi ruangan ini? Sinar mata semua orang tanpa terasa tertuju kedalam ruangan itu.

Luas sekali ruang batu disana, isinya adalah benda-benda terbuat dari batu kumala yang bertumpuk-tumpuk segudang penuh, terbesar benda kumala itu besarnya seperti pembaringan yang panjangnya delapan depa sedang terkecil sebesar biji kelereng untuk perhiasan. Selain itu terdapat pula botol porselen, kaleng porselen, golok kumala, pedang kumala dan semua benda-benda lain yang terbuat dari kumala bertumpuk disana semua.

Suatu pemandangan yang indah, menawan dan mempersonakan hati, namun cukup membuat nafsu rakus, nafsu tamak pada manusia ber munculan diatas wajah masing-masing.

Setelah memandang sekejap benda-benda kumala itu, mendadak Kiu-im Kaucu berpaling lalu membentak keras, “Sebelum mendapat perintah dariku, siapapun dilarang untuk menyentuh benda-benda yang ada disini!”

Sehabis berkata ia melanjutkan kembali perjalanannya menuju keruang yang lebih dalam.

Benda-benda kumala yang berhasil dikumpulkan Kiu-ci Sinkun didalam ruangan itu memang tak terhitung jumlahnya, barang siapa berhasil memiliki benda-benda tersebut, tak ragu lagi niscaya dia akan menjadi seorang manusia yang kaya raya.

Terlihatlah beberapa orang kawanan jago silat itu sudah mulai tak kuasa menahan diri, wajah mereka berubah hebat dan jantungnya serasa berdebar keras.

Tiba-tiba Cu Im taysu maju beberapa langkah kedepan lalu serunya dengan lantang, “Thian-hong, aku rasa cukup bagiku untuk melihat sampai diruang ini saja!”

Selesai berkata, ia lantas putar badan dan berlalu dari ruangan penyimpanan benda-benda kumala ini. Ciu Thian-hau tertawa dia ikut berkata, “Haaahh…. haahhh…. haahh aku juga kuatir tak dapat menguasai perasaan hati sendiri setelah melihat begitu banyak barang bagus, lebih baik tugaskan saja kami untuk berjaga-jaga disebelah atas sana. sekalian menjadi pengawal bagi kamu semua!”

“Betul,” cepat Suma Tiang cing menambahkan, “sekalipun mata melihat seolah tidak memandang, hati berpikir seolah tidak merasakan namun yang terbaik adalah sama sekali tidak melihat dan sama sekali tidak merasakan. Aku juga mundur saja dari tempat ini.”

Selesai berkata, tanpa banyak berbicara lagi, ketiga orang itu lantas mengundurkan diri dari dalam ruangan.

Sepeninggalnya ketiga orang jago itu yakni Cu Im taysu, Ciu Thian-hau serta Suma Tiang cing, rombongan melanjutkan kembali perjalanannya menembusi ruangan- ruangan batu berikutnya.

Setelah melewati gudang penyimpan barang-barang kumala, kawanan jago itu memasuki gudang tempat penyimpanan barang-barang antik.

Kemudian setelah keluar dari gudang penyimpanan barang-barang antik, mereka memasuki sebuah ruangan yang menyimpan pelbagai macam lukisan serta tulisan orang kenamaan, rata-rata tulisan maupun lukisan yang tersimpan dalam ruangan itu merupakan hasil karya dari orang-orang kenamaan banyak pula yang usianya sudah tua sekali, tentu saja barang-barang seperti ini tak ternilai harganya. Ruangan berikutnya adalah sebuah ruangan luas tempat penyimpanan pelbagai macam alat musik, banyak alat musik yang ada disitu merupakan bentuk-bentuk yang aneh serta jarang sekali dijumpai didunia luaran, ada pula alat musik yang sudah langka didunia.

Dari seruling sampai khiem dan tambur tersimpan semua ditempat itu, malahan ada pula alat-alat musik yang terbuat dari emas murni.

Ruang selanjutnya adalah ruang batu tempat penyimpanan intan permata serta mutu manikam yang tak ternilai harganya, bukan saja jumlahnya bertumpuk- tumpuk segudang penuh, bahkan intan permata yang tersimpan disana rata-rata besar dan bercahaya tajam, paling kecil sebesar buah kelengkeng dan paling besar sebongkah batu, bisa dibayangkan sampai dimanakah nilai dsri barang-barang itu.

Rata-rata kawanan jago yang menyaksikan intan permata tersebut sama menjulurkan lidahnya, belum pernah mereka jumpai benda-benda mustika sebesar itu, tak heran kalau banyak diantara mereka yang mulai goyah imannya….

Sementara itu rombongan jago sudah memasuki ruang batu separuh yang terakhir, ruangan itu sudah tertutup oleh lapisan batu pada langit-langitnya karena letaknya sudah menjorok jauh dalam lambung bukit.

Sekalipun gelap suasananya, itu buka berarti sama sekali gelap gulita sehingga melihat kelima jari sendiri pun tak dapat, mutiara mutiara besar yang memancarkan sinar gemerlapan tercecer diantara dinding ruangan dan merupakan alat penerangan yang sangat bagus.

Setelah berjalan sekian lama, tiba-tiba dihadapan mereka muncul sebuah ruangan batu, pintu gerbangnya satu kali lipat lebih besar dari pintu-pintu ruangan lainnya, sebuah papan nama yang terbuat dari batu kumala tergantung diatas pintu gerbang tersebut dan berukirkan tiga huruf besar terbuat dari emas, “Ciang keng cay! atau ruang penyimpan kitab”

Kontan saja kawanan jago itu merasakan hatinya tercekat dan jantung serasa berdebar keras. Kiu-im Kaucu dan Pek Siau-thian serentak maju bersama kemuka, masing-masing melancarkan sebuah pukulun untuk mendorong pintu gerbang itu.

Pek Kun-gie maupun anak murid dari Kiu-im Kaucu selama ini selalu membuntuti di belakang beberapa orang pemimpin itu, begitu pintu batu terbuka, serentak mereka sama-sama melongok kedalam.

Masih mendingan kalau tidak melihat, begitu mereka mengintip kedalam seketika itu juga beberapa orang itu menjerit keras saking kagetnya, dengan rasa kaget dan gugup serentak mereka mengundurkan diri ke belakang.

Ruangan penyimpan kitab itu luasnya enam kaki persegi, disamping kiri dan kanannya masing-masing terdapat sebuah pintu gerbang.

Diatas pintu gerbang yang disebelah kiri tergantung sebuah papan nama bertulisian, Wan Si atau ruang obat. Sedangkan diatas pintu sebelah kanran tergantung sebuah papan nama tertuliskan dua huruf besar, Bu Gu atau Gudang silat.

Kalau diruang sebelah kiri yang menurut catatan papan nama itu merupakan ruangan penyimpan obat terdapat kukusan-kukusan besar dan kukusan-kukusan kecil, maka dibalik ruangan yang bertuliskan gudang silat itu terdapatlah rak-rak buku yang bersusun-susun dengan banyaknya.

Sekilas pandangan saja, semua orang akan melihat dan mengetahui bahwa dalam rak-rak buku itulah tersimpan kitab-kitab pusaka ilmu silat yang diincar serta diidamkan oleh setiap umat persilatan.

Ruangan itu tidak kosong tapi ada penghuninya, sebuah tempat duduk yang bulat datar terbuat dari batu kumala hijau terletak ditengah ruangan itu, diatas tempat duduk bersila seorang kakek berambut perak sepanjang bahu dan berjenggot panjang sedada.

Kakek itu memakai jubah panjang berwarna merah darah, sepasang telapak tangannya berhenti ditengah udara dengan posisi jurus Hun hoa hud liu atau memisahkan bunga mengeburkan pohon liu, matanya terbelalak besar dan senyum manis menghiasi bibirnya, orang itu persis seperti manusia hidup lainya.

Disekitar tempat itu penuh berkerumun manusia-manusia dengan pelbagai dandanan yang aneh, ada yang sedang menjotos, ada yang sedang melepaskan pukulan, ada yang bersikap hendak menubruk, ada pula sedang melompat mundur kebelakang, rupanya orang-orang itu sedang mengerubuti kakek baju merah yang duduk bersila ditengah ruangan itu.

Diatas tanah tampak terkapar pula beberapa orang, tampaknya orang-orang itu menggeletak karena dilukai oleh kakek tersebut.

Setelah memandang sekejap pemandangan disekitar tempat itu, Po-yang Lojin lantas menuding ke arah kakek berbaju merah darah itu kemudian katanya dengan lantang, Orang inilah yang bernama Kiu-ci Sinkun sedang sisanya adalah anak murid orang itu kecuali Cho Thian- hua, tiga puluh lima orang muridnya semua berkumpul disini.

Kiu-im Kaucu mengerutkan dahinya rapat-rapat kemudian berkata, Kalau dilihat dari keadaan disini, tampaknya dalam istana Kiu ci kiong sudah terjadi pemberontakan secara besar-besaran, kawanan anak muridnya telah bersatu padu untuk menghadapi gurunya serta berusaha untuk melenyapkannya dari muka bumi.

Pek Siau-thian mendengus dingin, katanya pula, “Baik gurunya maupun muridnya semua bukan orang baik- baik, rasanya kita tak perlu untuk memikirkan tentang diri mereka lagi, lebih baik dari masing-masing pihak mengeluarkan dua orang wakil untuk menggotong pergi mayat-mayat dari mereka ini, bukankah urusanpun akan menjadi beres den an sendirinya?”

Pertama-tama orang orang dari Sin-kie-pang memberikan reaksinya lebih dulu, muncullah dua orang untuk menggotong pergi mayat yang bergelimpangan disana, menyusul kemudian dari empat penjuru bermunculan dua orang wakil untuk menyingkirkan semua mayat disana.

Kelompok mayat-mayat yang berserakan disana itu sudah mati seratus tahun lebih, sekalipun tampaknya masih utuh seperti sedia kala, akan tetapi begitu diangkat maka mayat itu lantas hancur menjadi abu dan tulang belulang mereka lantas berserakan di atas tanah.

Namun kawanan jago yang bertugas mengangkuti mayat itu tidak ambil pusing apakah kotor atau tidak, dalam keadaan seperti ini mereka hanya ingin cepat-cepat mendapat bagian dari harta karun itu, maka ada yang lantas melepaskan jubahnya untuk mengangkuti abu dan tulang belulang itu, ada pula yang manyapu dengan ujung bajunya lantas diangkut begitu saja dengan tangan.

Diantara sekian banyak jago yang bekerja terdapat pula Tio Ceng tang, ia mendapat tugas untuk mengangkut mayat dari Kiu-ci Sinkun.

Siapa tahu tatkala jari tangannya menyentuh tubuh Kiu-ci Sinkun, mendadak ia melompat mundur sejauh lima depa sembari berteriak keras, “Aduh mak!!”

Apa yang terjadi? Hoa Thian-hong segera menegur dengan perasaan terperanjat.

Sekujur badan Tio Ceng tang gemetar keras seperti orang ketakutan sambil menuding ke arah mayat Kiu-ci Sinkun dengan jari tangan yang gemetar ia berbisik, “Ii…. ituu…. tubuhnya masih hangat mu…. mungkin dia dia masih hidup!”

Suaranya terbata-bata dan nadanya Kurang jelas.

Hoa Thian-hong berkerut kening ia berpaling kepada Hoa In yang berada dibelakangnya, lalu memerintahkan.

“Coba engkau pergilah kesana dan periksalah apa yang sebenarnya telah terjadi”

Hoa in mengiakan dan lantas maju kedepan, sekali cengkeram dia sudah mengangkat mayat Kiu-ci Sinkun dari tempat duduknya kemudian sambil meraba tempat duduk bulat pipih yang terbuat dari batu kumala hijau itu, katanya, “Aaai! Siapa bilang dia belum mati?

Rupanya tempat duduknya ini terbuat dari batu kumala hangat yang telah berusia sepuluh laksa tahun, oleh karena hawa hangat yang terpancar keluar dari tempat duduk ini maka mayat Kiu-ci Sinkun selama ini tidak sampai mengalami kerusakan atau pembusukan!”

Hoa Thian-hong alihkan sinar matanya ke arah tempat duduk bulat pipih yang terbuat dari batu kumala hijau itu, terbaca olehnya empat huruf besar terukir diatas tempat duduk tersebut.

“BU LIM CI CUN” atau Maharaja dari dunia persilatan.

Tanpa terasa diapun berpikir dihati, “Orang ini memang sungguh jumawa dan berlagak sombong aaai! akhirnya toh dia tewas dalam keadaan begini tak ada harganya, inilah yang dinamakan mencari penyakit buat diri sendiri.

Berpikir sampai disitu tak kuasa lagi dia menarik napas panjang panjang.

Setelah berusaha dan bekerja keras, sebentar kemudian semua mayat yang berada dalam ruangan itu sudah disingkirkan, kawanan jago yang berbondong masuk keruangan inipun segera memenuhi setiap sudut ruangan yang ada disana.

Luas ruangan batu itu kurang lebih enam kaki tapi untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan, beberapa orang pemimpin persilatan itu tak mau memasuki ruangan itu terlalu dalam maka orang-orang yang sempat ikut masuk ke dalam ruangan itupun cuma sebagian kecil belaka….

Sisanya yang berjumlah ratusan orang hanya bisa saling berhimpit dan berdesakan diluar ruangan, ada yang berdiri pada tu-mit ada yang menjulurkan lehernya, adapula yang mementangkan matanya lebar-lebar untuk mengawasi keadaan dalam ruangan itu.

Semua sinar mata dan perhatian kawanan jago itu sudah tertuju pada kurungan-kurungan yang berisi obat mujarab serta rak-rak buku yang berisikan kitab-kitab pusaka ilmu silat.

Mereka dapat melihat jelas bahwa kitab-kitab pusaka itu diatur dengan sangat rapi, setiap ujung kitab terdapat selembar kain kecil yang bertuliskan nama diri kitab itu karenanya tanpa harus menarik keluar kitab itu, orang akan tahu buku apakah yang tersimpan disana

Hanya sayangnya tulisan diatas lembaran kain itu kecil sekali, dan lagi pula banyak sekali jumlahnya, kecuali beberapa orang jago silat yang memiliki ketajaman mata luar biasa, boleh dibilang yang lain tak mampu melihat apa-apa kecuali pandangan yang muram.

Tiba-tiba Tio Sam-koh ambil keluar sebuah karung goni yang amat besar, sambil merentangkan tersebut lebar- lebar ia berteriak dengan suara lantang, “Heey! Ada yang mau turun tangan tidak? Kalau semua orang segan untuk mengambil kitab-kitab itu, aku si nenek tua segera akan mengambilkan semua!”

Hoa Thian-hong sangat terperanjat setelah mendengar perkataan itn, dengan cemas ia berkata, “Nenek, engkau jangan bergurau, apa gunanya kita miliki kitab kitab pusaka ilmu silat itu?”

“Kalau engkau tidak mau apa salahnya kalau aku mau? Toh aku bisa menghadiahkan kembali kitab-kitab itu untuk orang lain!” sahut Tio Sam-koh dengan kasar.

Tanpa sungkan-sungkan lagi, selesai berbicara dia lantas meren-tangkan karung goninya lebar-lebar kemudian melangkah maju kedepan menghampiri rak-rak kitab itu.

Hoa Thian-hong jadi serba salah dibuatnya, ia cuma bisa merintis sambil mengerling dengan penuh kecemasan kepada istrinya. Chin Wan-hong tentu saja mengetahui apa maksud dari suaminya itu, cepat dia memburu maju kedepan, sambil menyeret tangan Tio Sam-koh katanya seraya tertawa, “Sam popo kita kan sudah berjanji bahwa kedatangan kita kemari hanya untuk jalan-jalan saja, kenapa kau angkuti semua kitab-kitab pusaka ilmu silat itu?”

“Sekalipun kedatanganku kesini hanya untuk jalan-jalan belaka, masakah aku tak boleh mengambil kitab itu? Toh orang lain tidak mau, apa salahnya kalau aku sinenek mengambilnya?”

Hoa Thian-hong semakin gelisah lagi setelah mendengar perkataan itu, cepat ia berseru lantang, “Semua kitab pusaka ilmu silat telah berada didepan mata, barang siapa punya minat untuk mendapatkan kitab tersebut, silahkan maju untuk mengambilnya sendiri, tapi setiap orang terbatas hanya boleh mengambil sejilid saja, benda-benda yang ada pemiliknya lebih baik jangan diambil, ambil saja kitab yang tak punya tuan!”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, tiba-tiba terdengar seseorang berseru lantang, “Dalam usaha pencarian harta karun, Ji sioca dari perkumpulan Sin-kie- pang yang paling berjasa sepantasnya kalau ji sioca kami mendapat penghormatan untuk memilih pertama kali!”

Tentu saja Hoa Thian-hong tahu bahwa orang yang berbicara itu adalah anak buah dari perkumpulan Sin-kie- pang, meskipun ia tahu bahwa alasannya memang tepat, namun pada hakekatnya ia tak ingin membiarkan Pek Kun-gie memilih nomor satu, hanya saja ia merasa tak enak untuk menolaknya secara terang-terangan, maka setelah termenung sebentar diapun berkata, “Saudara- saudara sekalian, disebelah kiri sana terdapat kamar obat mujarab didalamnya mungkin saja terdapat obat mustika yang dapat membuat orang awet muda dan tetap sehat, disebelah belakang sana ada gudang senjata, didalamnya tentu tersimpan pelbagai senjata mustika yang luar biasa dahsyatnya, berhadapan dengan barang sebanyak ini siapa mengambil dulu belum tentu mendapat keuntungan apa-apa, sebaliknya mereka yang mengambil belakangan juga bukan berarti bakal rugi, bagaimanapun juga setiap orang hanya terbatas boleh memilih satu jenis barang saja, aku anjurkan kepada kalian agar memilihnya secara perlahan-lahan, tunggu saja lah sampai mereka yang punya barang terjerumus dalam istana ini mengambil kembali barangnya yang lainnya barulah mulai memilih!”

Benda mustika yang tersimpan dalam istana itu memang terlalu banyak jumlahnya, siapapun tak berani punya pikiran untuk membegal atau merampok maka siapapun akan memilih bagian yang terbaik dan terlihay untuk diri sendiri tapi oleh kerena jumlahnya terlalu banyak siapapun merasa sulit untuk menentukan pilihannya.

Tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie berkata, “Ayah bolehkah aku memilih lebih dahulu?”

“Tentu saja siapa berani menghalangi niat mu?” sahut Pek Siau-thian dengan angkuh.

Pek Kun-gie tertawa manis, dengan lemah gemulai dia maju kedepan dan menghampiri rak-rak buku itu. Berbicara yang sesungguhnya Pek Kun-gie menang terhitung manusia yang paling berjasa dalam usaha pencarian harta karun kali ini, maka keputusan untuk mempersilahkan dia memilih lebih dahalu bukanlah suatu keputusan yang kelewat batas.

Sebab itulah baik Kiu-im Kaucu maupun Kiu-tok Sianci berlagak bodoh seolah-olah mereka tidak melihat akan kejadian itu.

Pek Siau-thian dengan sinar matanya setajam sembilu mulai menyapu sekejap ke arah rak-rak buku yang ada dihadapannya, dia berharap bisa menemukan sejilid kitab pusaka yang luar biasa dan dapat digunakan untuk menandingi kelihayan kitab Kiam keng yang berhasil dipelajari Hoa Thian-hong, kemudian memberi petunjuk kepada putrinya untuk mengambil.

Apa mau dikata,jumlah kitab pusaka yang tersimpan dalam ruangan itu tak terhitung jumlahnya, setiap jilid Kitab yang ada disana sudah cukup digunakan untuk merajai kolong langit, untuk sesaat ia jadi bingung tak tahu harus memilih yang mana.

Sungguh gelisah dan cemas perasaan Pek Siau-thian pada waktu itu terpaksa dengan ilmu menyampaikan suara ia memberi kisikan kepada putrinya agar mengulur waktu, “Berlagaklah sedang memilih dengan perlahan- lahan, jangan keburu nafsu menjatuhkan pilihannya, bila aku sudah menemukan pilihannya, segera kukirim kabar kepadamu untuk mengambilnya!” Akan tetapi Pek Kun-gie berlagak pura-pura tidak mendengar, mendadak ia mengambil sejilid kitab pusaka yang amat tebal sekali dari rak buku itu, kemudian dengan suara manja serunya, “Ayah, dalam perkumpulan Sin-kie-pang kita sudah terdapat banyak sekali kitab pusaka ilmu silat, aku lihat kitab racun Pek tok keng ini luar biasa sekali, bila kuambil rasanya tidak akan merugikan dirimu bukan?”

Mendengar perkataan itu, baik Hoa Thian-hong maupun Kiu-tok Sianci dan murid-muridnya meresa terperanjat.

Karena sudah diberi peringatan oleh Lan-hoa Siancu agar jangan bercakap-cakap dengan Pek Kun-gie, Hoa Thian- hong tak berani melanggar pantangan tersebut, maka diapun menengadah keatas dan berseru dengan suara lantang, “Saudara-saudara semua mohon perhatian! Bila benda yang diambil ternyata punya pemiliknya, lebih baik janganlah diambil toh isi ruangan ini banyak tak terhitung jumlahnya, ada yang bisa membuat di ri menjadi sakti dan luar biasa, ada pula yang bisa melatih diri sehingga tetap awet muda….”

Tiba-tiba Giok Teng Hujin mendehem berat dan menukas ucapan Hoa Thian-hong yang belum selesai.

Si anak muda itu segera tersadar kembali bahwa ia sudah salah berbicara, ia hanya berusaha mencegah Pek Kun-gie untuk mengambil kitab pusaka Pek tok keng tapi hampir saja sudah membengkalaikan urusan dari Giok Teng Hujin. Pek Kun-gie bukan seorang manusia bodoh, dengan cepat ia dapat menangkap maksud dari deheman itu, tiba-tiba ia berpaling ke arah ayahnya kemudian bertanya, “Ayah, kitab pusaka apakah yang bisa melatih diri menjadi cantik jelita dan tetap awet muda?”

Pek Siau-thian berpikir sebentar lalu menjawab, “Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa kitab pusaka Tuo li sim keng merupakan pelajaran sim hoat tenaga dalam yang membuat seseorang gadis tetap awet muda, katanya bila seseorang dapat melatih tenaga dalamnya hingga mencapai puncak kesempurnaan, maka bukan saja paras mukanya akan bertambah cantik, bahkan akan tetap awet mada dan segar bugar!”

“Ayah, bagaimana kalau kuambil saja kitab pusaka Pek tok keng ini?”

Pek Siau-thian menghela napas panjang, dalam hatinya ia berpikir, “Aaai…. budak ini memang keterlaluan dianggapnya perempuan perempuan dan suku Biau itu bisa diganggu seenaknya?”

Berpikir demikian diapun menjawab dengan lantang, “Kelompok kita adalah kelompok yang mengkhususkan diri berlatih ilmu silat apa bila ilmu yang kita pelajari sudah mencapai puncak kesempurnaan maka sekalipun orang memiliki racun yang lihay juga tak akan mampu mengapa-apakan kita buat apa kita musti mencabut gigi taring orang lain?” Pek Kun-gie memutar sepasang biji matanya, kemudian menyahut, “Baiklah, aku rasa perkataan ayah sudah pasti tak bakalan salah!”

Maka ia mengembalikan kitab Pek tok keng itu ketempat semula, lalu sambil berpaling kembali dia bertanya, “Ayah, kitab pusaka Tuo li sim keng berada dimana?”

“Baris ketiga dinding sebelah kiri, dihitung dari bawah maka berada pada rak nomor dua!”

Pek Kun-gie lantas berjalan menuju ketempat yang ditunjuk dan mengambil keluar kitab Tuo li sim keng dari dalam rak tersebut.

Menyaksikan perbuatan putrinya, Pek Siau-thian jadi keheranan, dia lantas bertanya, “Anak gie, engkau adalah seorang dara yang canik jelita, didunia dewasa ini sukar untuk mencari gadis yang lebih cantik daripada dirimu, apa gunanya kau ambil kitab tersebut, bukankah tindakanmu ini sama artinya dengan menyia-nyiakan hak pilihmu yang bagus ini?”

Pek Kun-gie sama sekali tidak tergerak hatinya oleh perkataan tersebut, ia menjawab dengan manja, “Kecantikan sama dengan ilmu silat, sekalipun orang sudah berilmu tinggi pasti menginginkan ilmu yang lebih tinggi, begitu pula dengan kecantikan, sekalipun orang sudah cantik toh masih ingin lebih cantik lagi!”

Habis berkata, dengan wajah berseri dan penuh kegembiraan ia membawa kitab pusaka Tuo li sim keng itu kembali ketempat semula. Sungguh gelisah dan panik Hoa Thian-hong menghadapi kejadian ini, mukanya telah berubah jadi merah padam, sepasaag matanya merah berapi-api, ia pernah menyanggupi permintaan Giok Teng Hujin untuk mencarikan ilmu yang dapat memulihkan kembali kecantikan wajahnya tapi sekarang setelah janjinya itu akan dipenuhi ternyata Pek Kun-gie telah mendahului dirinya, dengan begitu bukankah ia jadi tak dapat memenuhi janjinya?

Kendatipun begitu, berhubung Pek Kun-gie juga seorang gadis dan pantaslah bagi seorang dara untuk mengambil kitab pusaka Tuo li sim keng, maka walaupun dalam hati merasa gelisah, ia tak mampu untuk menghalangi niatnya itu.

Bagaimana pun juga Chin Wan-hong adalah seorang istri yang saleh, ia dapat merasakan kebingungan serta kepanikan suaminya, selain itu diapun dapat meresapi betapa pentingnya kitab tersebut bagi Giok Teng Hujin maka diapun tertawa.

“Adik Kun gie!” katanya dengan lembut, “hayo cepat kembalikan kitab tim keng itu pada tempatnya semula!”

“Kenapa?” tanya Pek Kun-gie dengan wajah tercengang. Kembali Chin Wan-hong tertawa.

“Dengan wajahmu yang cantik jelita ini kutanggung engkau masih bisa kawin dengan seorang pemuda tampan, bila kecantikan mu bertambah lipat ganda, lagi pula mana ada lelaki tampam dikolong langit ini yang pantas uutuk mendampingimu? Bukankah selama hidup jangan harrap bisa kawin lagi”

Pek Kun-gie bukanlah gadis yang bodoh, sejak permulaan tadi ia sudah dapat meresapi betapa gusar dan paniknya Hoa Thian-hong, apa lagi sekarang sesudah mendengar bahwa ucapan dari Chin Wan-hong itu mengadung arti lain, ia tak berani bertindak gegabah lagi, terpaksa kitab pusaka Tio li sim keng itu dikembalikan ketempatnya semula.

Setelah itu sambil tertawa cekikikan katanya, “Aaaai! Ini tidak cocok itu tidak jadi biarlah kupilih sembarangan saja!”

Habis berkata dia lantas membopong batu pipih terbuat dari batu kumala itu sambil tertawa cikikkan kembali ketempat semula.

Tindakannya ini sama sekali diluar dugaan Pek Siau- thian, ia jadi tertegun dan tidak habis, mengerti pikirnya, “Tolol amat budak ini, meskipun lohu adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, tak akan berani kududuki kursi singgasana yang berukiran kata-kata Maha raja dari dunia persilatan itu, apa gunanya kau ambil benda itu!”

Tentu saja ia tak akan tahu bahwa apa yang dipikirkan Pek Kun-gie bukanlah dirinya, gadis itu tak pernah melayangkan ingatannya untuk menukilkan kepentingan ayahnya. Semenjak ia melangkah masuk kedalam ruangan tadi, sorot matanya sudah tertuju pada tempat duduk pipih kumala itu, pikirnya dihati.

“Kalau aku tidak menikah itu lain soal, andaikata menikah maka kursi kebesaran itu merupakan barang tanda mata yang terbaik dariku akan kusuruh dia mencicipi bagaimana rasanya menjadi Maharaja dari dunia persilatan, otomatis akupun akan menjadi nyonya maharaja alias ratonya…. tentu nikmat rasanya”

Apa yang dipikir gadis itu tentu tak terpikirkan oleh Hoa Thian-hong, pemuda itu hanya merasa bahwa dengan susah payah akhirnya toh persoalan yang maha sulit itu dapat juga teratasi olehnya, maka diapun berpaling ke arah Kiu-im Kaucu.

“Dari pihak Sin-kie-pang sudah ada satu wakil yang maju” katanya, mengapa kaucu tidak maju juga untuk memilih satu macam benda sebagai tanda mata dari gerakan pencarian harta karun dibukit Kiu ci San ini?”

Kiu-im Kaucu tertawa.

“Bukannya aku sengaja bicara sombong atau tinggi hati, terus terang kukatakan bahwa benda yang ada disini tak sebuahpun yang menarik perhatianku!”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang.

“Aaai…. kaucu bermata emas, tentu pilihannya juga merupakan benda-benda yang tak ternilai harganya, aku sudah dapat memahami akan perasaan hatimu itu. Aaaai! Bila engkau ingin mendapatkan kitab pusaka yang jauh lebih hebat dari kitab Kiam keng, aku rasa hal ini merupakan suatu pekerjaan yang amat sulit!”

Kiu-im Kaucu tertawa.

“Mari kita masuk dulu kedalam ruang obat-obatan, bila disanapun tak berjodoh, anggap saja takdir memang menghendaki demikian!” katanya.

Hoa Thian-hong pun tidak banyak bicara lagi, ia berpaling dan menyapu sekejap kawanan jago yang berada dihadapannya, kemudian menegur, “Apakah masih ada para enghiong dari perkumpulan Kiu-im-kauw yang ingin tampil kedepan untuk mengambil harta?”

Giok Teng Hujin segera tampil kemuka, ujarnya dengan lantang, “Harap cianpwe sekalian suka memberi maaf atas kelancangan Ku Ing-ing yang tak kenal adat, sebenarnya aku tak berani berhati tamak, tapi lantaran satu dan lain hal, terpaksa aku harus mendahului kalian semua!”

Tanpa sungkan-sungkan lagi ia maju kedepan dan mengambil kitab pusaka Tuo li sim keng tersebut.

Sebagian besar jago silat yang hadir di tempat itu mengetahui bahwa Giok Teng Hujin mempunyai hubungan yang luar biasa dengan Hoa Thian-hong, karena itu berada dalam keadaan dan saat seperti ini, Pek Siau-thian sendiripun segan untuk banyak bicara, tentu saja orang lain lebih-lebih tak berani banyak bicara apalagi kitab pusaka itu hanya berguna bagi kaum wanita.

Setelah menyimpan kitab pusaka tersebut kedalam sakunya, Giok Teng Hujin maju ke hadapan Kiu-im Kaucu lalu jatuhkan diri berlutut katanya dengan lirih, “Sudah lama Ing ing mendapatkan pendidikan serta kasih sayang dari kaucu, untuk semua budi kebaikan itu, selama ini terjadi suatu kericuan yang bikin kita jadi sama-sama tak enak, namun Ing ing tak berani untuk mendendamnya.

Semoga dengan perpisahan ini kaucu suka menunjukkan kebesaran jiwanya serta melupakan diriku uniuk selamanya”

Hoa Thian-hong ikut memberi hormat, katanya.

“Kaucu adalah seorang pemimpin dunia persilatan, tentunya tak akan mempersulit seorang gadis bukan? Lagipula bila kaucu suka melepaskan pergi maka akupun ikut merasa berhutang budi!”

Sinar mata Kiu-im Kaucu yang setajam sembilu berputar kian kemari menyapu wajah kedua orang itu, mendadak ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…. haaaahh…. haaaahh…. pergilah, semoga suatu ketika perkumpulan Kiu-im-kauw dapat menguasai kembali seluruh jagad, waktu itu bila kau sudah sadar kembali, maka pulanglah kepangkuan perkumpulanmu!”

“Terima kasih atas kebearan jiwa kaucu!” kata Giok Teng Hujin sambil bangkit berdiri kemudian dengan membawa Pui Che-giok berlalu dari tempat itu. Sepeninggal ruangan itu, Giok Teng Hujin sama sekali tidak memandang sekejap pun ke arah Hoa Thian-hong, ia cuma memandang ke arah Chin Wan-hong seraya tertawa, ini membuat pemuda tersebut jadi melongo tercengang dan merasa tidak habis mengerti.

Dalam kasus peristiwa ini, Giok Teng Hujin adalah seorang gadis yang memiliki kekuatan untuk mempersona hati kaum pria, sebaliknya Hoa Thian-hong adalah pemuda yang berilmu tinggi sekalipun Kiu-im Kaucu tidak ingin melepaskan perempuan itu dengan begitu saja, toh akhirnya harus mengabulkannya juga, namun kegusaran yang berkobar dalam dadanya sukar dikendalikan lagi.

Tiba-tiba ia berteriak keras, “Saudara sekalian, dihadapan mata kalian tersedia beratus-ratus jilid kitab pusaka ilmu silat yang dapat membuat tubuh kalian jadi kuat dan ilmu silat kalian jadi lihay, mengapa kalian tetap berdiam diri saja? Hayo majulah dan rampaslah kitab-kitab itu!”

Kiu-tok Sianci mendengus dingin, tiba-tiba ia berseru, “Lan hoa maju kesana dan ambil kembali kitab pusaka Pek tok keng milik kita!”

Semenjak tadi Lan-hoa Siancu sudah tak sabar menunggu, mendengar perintah itu dengan langkah lebar dia lantas maju kemuka dan ambil kembali kitab Pek tok keng milik perguruannya dari susunan rak buku itu.

Hoa Thian-hong diam-diam merasa cemas, tatkala dilihatnya suasana yang semula aman, tenang dan damai itu mendadak terancam oleh ledakan amarah dan sifat tamak manusia, cepat ia menjura kepada Yu ming tiancu seraya berkata, “Disebelah kiri sana terdapat kitab hiat im ceng ciat, sesuai sekali dengan perrguruan Kiu-im- kauw kalian, apa salahnya kalau tiancu pergi mengambilnya?”

Sebagaimana telah diceritakan diatas, Yu ming tiamcu dan Suma Tiang cing pernah melakukan pertempuran yang amat sengit bahhan saling mempertaruhkan jiwa raganya masing-masing oleh karena usia mereka hampir sebaya dan ilmu silatpun seimbang sejak peristiwa tersebut entah apa sebabnya dalam benak Yu ming tiancu selalu timbul bayangan tubuh dari Suma Tiang cing

Kejadian tersebut merupakan rahasia pribadinya yang paling besar tak pernah ia bocorkan kepada siapapun juga hanya karena perasaan itu maka tanpa disadari, timbulah pikiran dan ingatan untuk membantu pihak kaum pendekar.

Sekarang ketika ia dengar seruan dari Hoa Thian-hong, setelah tertawa tanpa minta persetujuan dari kaucunya lagi ia maju kemuka dan mengambil kitab hiat im ceng ciat yang dimaksudkan.

Hoa Thian-hong berpaling pula kepada Pek Soh-gie, kembali ia berseru.

“Cici, dibarisan kedua rak paling bawah terdapat setengah jilid kitab Ci yu jit ciat, kitab itu sepantasnya diberikan kepada toako, pergi dan tolong ambilkan baginya!”

Padahal yang sebenarnya sedari tadi Pek Soh-gie sudah mendapat petunjuk dari ibunya untuk melaksanakan soal itu tapi oleh sebab belum mendapat giliran ia cuma panik dalam hati.

Sekarang setelah dipanggil namanya, sambil tersenyum dia lantas tampil kedepan setelah mengambil kembali setengah jilid kitab Ci yu jit ciat tersebut, dara itu kembali kesamping Bong pay.

Waktu itu sebenarnya Pek Siau-thian sedang mendongkol dan tak senang hati karena Hoa Thian-hong membaiki pihak Kiu-im-kauw, akan tetapi setelah kejadian ini perasaan hatinyapun merasa reda lebih baikan

Terdengar Hoa Thian-hong melanjutkan kembali seruannya, “Huan heng, kitab pusaka Poh ka kun boh berada di rak sebelah kanan dekat pintu, Konsun cianpwe, pedang it ci hui kian berada disudut ruangan dekat dinding kiri cianpwe.”

Tampaknya sebelum itu Hoa Thian-hong sudah menyelidiki baik-baik siapa saja ahli waris dari pemilik pemilik kitab lama yang hadir dalam penggalian tersebut, maka sekarang dengan lancar dan hafalnya satu per satu ia sebutkan nama ke tiga puluh satu orang itu untuk mengambil kembali barang-barang miliknya.

Selang sesaat kemudian, semua orang yang merasa pernah kehilangan bukunya karena dicuri atau dirampas oleh Kiu-ci Sinkun, kini sudah mendapatkan kembali barang miliknya.

Walau demikian, barang yang telah diterima oleh kawanan jago itupun baru seperempat dari jumlah buku yang terdapat didalam ruaagan itu, sisanya tiga perempat masih tetap berada ditempat semula.

Hoa Thian-hong lantas berpaling ke arah Thian Ik-cu dan Jin Hian, katanya, “Aku rasa kalianpun boleh segera maju untuk mengambil kitab yang kalian senangi!”

“Tunggu sebentar!” sela Pek Siau-thian.

Kontan saja Jin Hian melototkan sepasang matanya lebar-lebar, katanya dengan nada seram, “Hmm…. jangan dianggap sudah tiba giliranmu untuk unjukkan kegagahan disini!”

Pek Siau-thian tertawa dingin, katanya, “Hhmmm! Bila aku orang she Pek ingin ribut dengan kau pada saat ini, aku pikir kau pasti tak akan puas, mau berlagak pun akan ku tunggu sampai kau bangkit kembali kedunia persilatan!”

Setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh, “Mulai saat ini, setiap benda setiap barang yang ada dalam ruangan ini harus dibagi menjadi lima bagian, dan barang-barang itu akan diterima oleh masing-masing kelompok yang kemudian dibagi secara rata diantara anggotanya!” Hoa Thian-hong, Kiu-im Kaucu, Jin Hian serta Thian Ik-cu saling berpandangan sekejap, mereka merasa bahwa cara pembagian tersebut memang sangat adil, tidak akan menerbitkan pertentangan ataupun pertikaia, maka siapapun tak suka banyak bicara lagi.

Tiba-tiba Kho Hong-bwee berkata sambil tertawa nyaring, “Thian bong, pekerjaan ini memang agak menyusahkan dirimu, tapi aku rasa sangat adil dan bijaksana, aturlah pembagian ini seadil adilnya!”

“Boanpwe turut perintah!” sahut Hoa Thian-hong sambil menjura.

Dia lantas maju kedepan dan katanya dengan lantang, “Saudara-saudara sekalian, tentunya kalian tahu bukan bahwa aku masih punya janji dengan pihak Seng sut pay? Maka aku minta, seandainya diantara kalian ada yang mendapatkan barang milik mereka, harus segera ditukarkan kepadaku!”

“Thian-hong….!” mendadak dari luar pintu kembali terdengar seseorang memanggil.

Hoa Thian-hong menengadah, ia lihat Cu Im taysu dengan membawa seorang hwesio sedang berjalan masuk kedalam ruangan itu, ia pernah berjumpa dengan padri itu karena dia bukan lain adalah It biau hwesio yang pernah ditemuinya diluar kota Lok yang ketika berunding dengan Huang-san su lo tempo hari.

Terdengar Cu Im tayau berkata, “It biau suheng tidak terhitung seorang manusia persilatan, dia hanya ingin mengembangkan ajaran Buddba didunia ini, oleh karena didengarnya bahwa dalam istana Kiu ci kiong tersimpan setumpuk kitab Buddha, sengaja ia datang kemari untuk mencari derma, semoga saudara sekalian sudilah kiranya memenuhi apa yang dia harapkan!”

“Ucapan itu memang benar, banyak pelajaran kitab Buddha yang tersimpan disini.”

“It biau suhu! Silahkan masuk” kata Hoa Thian-hong.

Dengan kepala tertunduk, It biau hwesio masuk kedalam ruangan mengikuti dibelakang Cu Im taysu, kedua orang inipun lantas berdiri disisi pintu gerbang.

Mendadak salah satu anggota Hong im bwe berseru dengan suara dingin.

“Hmm…. hwesio ini tidak punya kepandaian apa-apa, tapi datang-datang lantas mencari untung, sialan…. siapa yang kesudian memberi bagian kepadanya!”

Walaupun perkataan itu sangat lirih tapi cukup tajam dan pedas dalam pendengaran.

Seketika itu juga paras muka Cu Im taysu berubah jadi merah padam seperti kepiting rebus, cepat-cepat katanya.

“Sebenarnya It biau suheng juga ingin datang kemari untuk menyumbangkan tenaganya, tapi karena ia tak pandai silat maka perjalanannya dilakukan lambat sekali. Aaaii Sayang aku sendiripun tak pernah menyumbangkan tenagaku, kalau tidak niscaya bagianku akan kuserahkan kepadanya!”

“Aku akan menyumbangkan bagian untuk It biau suhu!” cepat Hoa Thian-hong berseru dengan lantang, “asalkan kalian mendapatkan kitab ajaran Budha, silahkan di serahkan kepadaku untuk ditukar dengan kitab pusaka ilmu silat!”

Tidak menunggu tanggapan dari orang lain lagi ia lantas maju kedepan dan mulai membagi kitab.

Tangannya yang satu mengambil kitab dari deretan rak buku sementara tangannya yang lain memindahkan kitab tersebut keatas tanah dan dibagi rata jadi lima tumpuk, semua Kitab ajaran Buddha dan ajaran agama To semuanya diambil atas nama pribadinya.

Buku yang tersimpan dalam ruang batu itu memang banyak tapi tak bisa menandingi kelincahan Hoa Thian- hong, dalam setengah jam pembagian kitab silat telah selesai.

Pada saat ini siapapun tidak sungkan-sungkan lagi, masing-masing pibak segera mengu tus orsng untuk maju dan membungkus kitab-kitab bagiannya dengan kain kemudian mengutus pula jago lihaynya untuk membawa kitab itu serta menyusun pasukan penjaga untuk melindungi kitab-kitab tersebut.

Haruslah diketahui, walaupun kitab-kitab pusaka itu sama sekali tak dipandang sebelah matapun oleh Hoa Thian- hong serta Kiu-im Kaucu, akan tetapi dikolong langit dewasa itu tidak ada dua tiga orang yang memiliki ilmu silat selihay Hoa Thian-hong serta Kiu-im Kaucu, maka bisa dibayangkan betapa penting dan berharganya kitab kitab ilmu silat itu bagi mereka.

Hoa Thian-hong dengan membawa setumpuk kitab ajaran Budha menghampiri dihadapan It biau hwesio, sambil mengangsurkan kitab tersebut, katanya dengan lembut.

“Toa suhu, disini terdapat dua puluh tujuh jilid kitab ajaran Buddha, mungkin semuanya terdiri dari sembilan puluh buku, harap kau terima dengan senang hati, aku rasa kalau toh kitab itu disimpan Kiu-ci Sinkun ditempat ini, tentu tak ternilai harganya!”

Cepat It biau hwesio merangkap tangannya memberi hormat.

“Semoga amal dan bakti siau sicu dapat di berkahi dan dilindungi oleh Budha maha pengasih.”

Sesudah terhenti sebentar, tambahnya lagi.

“Cukup dengan sejilid kitab Tay pe sim huo lo ni keng nilainya sukar dilukiskan dengan kata-kata, amal bakti siau sicu benar-benar mengharukan hatiku”

Ia lantas meroioh sakunya dan ambil keluar sebuah karung kain.

Hoa Thian-hong pun masukan setumpuk kitab tersebut kedalam karung tadi, kemudian dengan membawa setumpuk buku ajaran-ajaran agama To, ia menghampiri Kho Hong-bwee.

Melihat perbuatan si anak muda itu Kho Hong-bwee tertawa terbahak bahak, katanya, “Pay ji serta Soh-gie masih membutuhkan perawatanku, aku sedang mempertimbangkan untuk melepaskan jubah pendeta ini, baiklah kuterima dulu kitab ini dan dibicarakan lagi dikemudian hari!”

Tio Sam-koh maju kemuka sambil membuka kantung kain yang dibawanya ia berseru, “Hayolah, sekarang tiba giliranku untuk menerima bagian!”

Melihat itu Hoa Thian-hong hanya bisa tertawa paksa, katanya, “Popo, banyak orang telah menolong serta membantu aku dalam mengerjakan penggalian ini, pepatah mengatakan: manusia mati lantaran harta, burung mati karena makanan, bagi orang yang belajar silat maka benda itulah yang paling mereka sukai.

Tio Sama koh segera melototkan sepasang matanya bulat-bulat, ia berkata dengan lantang.

Sekalipun harus dibagi, akulah yang akan membagi kitab- kitab ini kepada mereka, selain haarus kuperhatikan cara kerja mereka akan kuselidiki pula tabiat dan tindak tanduknya, aku tak akan berikan kitab ini semaunya sendiri.

Hoa Thian-hong dibuat apa boleh buat, terpaksa semua kitab pusaka ilmu silat bagiannya dimasukkan kedalam karung goni milik Tio Sam-koh. Tio Ceng tang segera menunjukkan muka cemas dan gelisah, sikapnya sangat tidak tenang.

Chin Wan-hong yang melihat itu cepat berseru dengan suara keras.

“Tio locianpwe, ilmu silatmu toh sudah mencapai puncak kesempurnaan, sukar untuk mencari tandingan didunia ini apa gunanya kau mengangkangi semua kitab pusaka itu.”

“Hmm! Aku tak parnah bertarung diatas panggung Lui tay, siapa bilang ilmu silatku sudah tiada tandingannya lagi?” Tio Sam-koh menjengek dengan dingin.

Sebelum gadis itu memberi tanggapan lagi, Kiu-im Kaucu telah membuka pintu dari ruang obat obatan, maka semua orangpun lantas mengikuti masuk kedalam ruangan itu.

Begitulah, selanjutnya semua orang membagi obat- obatan, membagi alat senjata, membagi barang antik, lukisan kenamaan dan akhirnya membagi intan permata serta mutu manikam, sampai senja hari kedua, pembagian tersebut baru selesai.

Orang-orang dari pihak Hong-im-hwie dan Thong-thian- kauw kuatir barang mustika mereka dibegal orang begitu pembagian harta telah selesai, cepat-cepat mereka kabur dari situ dan lenyap entah kemana. Menyusul kemudian orang-orang dari Kiu-im-kauw berlalu dari sana, akhirnya pihak Sin-kie-pang baru menyusul.

Sebelum masuk kedalam istana harta karun itu, baik Kiu- im Kaucu maupun Pek Siau-thian mempunyai niat untuk merampok dan mengangkangi barang pusaka itu, tapi kemudian setelah dilihatnya bahwa diantara kitab pusaka itu tidak terdapat sejilid kitabpun yang bisa melatih ilmu silat mereka sehingga dapat mengalahkan Hoa Thian- hong, diam- diam mereka merasa murung dan tak tenang hati.

Apa mau dikata, harta karun yang berada dalam bukit Kiu ci san memang tak terhitung jumlahnya, sebelum mereka berangkat pulang, mereka lihat bagian dari perkumpulannya begitu banyak dan berlimpah sedikit banyak rasa kecewa merekapun sedikit terobati dimana kemudian perasaan hati merekapun lebih terbuka.

Pada akhirnya mereka sama sekali tidak punya ingatan untuk mengalahkan Hoa Thian-hong lagi.

Setelah rombongan itu berangkat semua, Hoa Thian- hong serta Tio Sam-koh pun ikut bubaran.

Tio Ceng tang dengan mengandalkan hubungan famili serta selembar mulutnya yang pandai merayu, tak sampai satu hari ia telah berhasil menipu Tio Lo tay ini jadi pusing tujuh keliling, bukan saja akhirnya nenek itu tidak berhasil mendapatkan apa-apa, kitab pusaka yang semula berada dalam karungnya pun habis dibagikan kepada kawan kawan jago tak berkelompok yang telah membantu dalam usaha penggali an tersebut.

Rombongan dari Hoa Thian-hong adalah rombongan terakhir yang meninggalkan tempat itu, setiap orang pulang dengan tangan kosong, kecuali senjata masing- masing, boleh dibilang siapapun tidak membawa hasil apa-apa.

Ditengah jalan Tio Sam-koh merasa mendongkol bercampur menyesal, akhirnya saking penasarannya ia mengisi karung goninya dengan batu batu cadas yang amat bessar, kemudian meneruskan perjalanan dengan memanggul batu-batu itu.

Hoa Thian-hong hendak mewakili untuk menggotong karung tersebut, tapi sampai matipun nenek itu tak sudi melepaskan panggulannya.

Sepanjang jalan, tiba-tiba Chin Wan-hong mulai mengeluh, ia mengatakan terlalu sayang kalau batu pipih kumala hijau itu di dapatkan Pek Kun-gie, sepantasnya kalau kursi kebesaran itu didapatkan oleh Hoa Thian- hong, sebab dialah yang memimpin operasi ini. 

Semua orang merasa keluhan tersebut ada benarnya juga, mereka lantas mengusulkan untuk mengejar orang- orang dari Sin-kie-pang dan merampas kembali kursi kebesaran itu, tapi dicegah oleh Hoa Thian-hong.

Menyesal kemudian Chin Wan-hong berkata lagi, bahwa kursi kebesaran tersebut kalau didapatkan dengan cara merampas pasti akan kehilangan nilainya, lebih baik lagi kalau orang lain yang mempersembahkan kursi kebesaran itu kepada mereka.

Maka para jago itupun sibuk putar otak memeras pikiran untuk mencari akal serta memaksa orang Sin-kie-pang untuk menyerahkan kursi kebesaran itu secara sukarela.

Tatkala semua orang sudah bingung tujuh keliling dan tak menemukan jalan keluar, Chin Wan-hong yang cerdik segera mengusulkan kembali untuk meminang Pek Kun- gie dan dijodohkan kepada Hoa Thian-hong, dengan perkawinan itu niscaya kursi kebesaran tersebut akan diboyong kembali kepihak para pendekar kaum lurus.

Biau-nia Sam-sian menolak tegas-tegas usul tersebut, Kiu-tok Sianci pun menyatakan tidak setuju, tapi Chin Wan hong sudah terlalu terpesona oleh kursi kebesaran itu, sepanjang jalan dia ribut terus, malahan setelah berpisabpun dia ngotot terus.

Ketika Hoa Thian-hong berangkat keutara untuk menemui ibunya, Chin Wan-hong meninggalkan suaminya dan ikut gurunya pulang ke wilayah Biau, entah kemudian dengan cara apa, akhirnya jalan yang buntu ini berhasil ditembusi olehnya.

Tahun berikutnya Bong Pay dan Pek Soh-gie secara resmi menikah, kemudian bulan empat tanggal enam belas berikutnya Pek Kun-gie juga keluar rumah.

Apa yang diduga semula memang tidak melesat, beserta kursi kebesarannya kumala hijau itu ia diboyong kembali ke san see. Setelah menikah dengan Pek Kun-gie, Hoa Thian-hong masih saja tak berani untuk menduduki kursi kebesaran itu walaupun akhirnya ia duduk juga diatas kursi kebesaran itu sejenak, itupun karena Chin Wan-hong dan Pek Kun-gie yang menarik tangannya dan memaksa ia untuk menduduki tempat tersebut.

Semua harta karun yang berada dalam istana Kiu ci kiong telah diangkut hingga ludes yang tersisa, tinggal pintu dan ruang batu yang kosong melompong, tak lama setelah Hoa Thian-hong sekalian berlalu dari sana, dari balik batu-batu cadas muncullah Kok See-piauw.

Dengan langkah yang gontai, paras muka yang pucat, Kok See-piauw menerjang masuk keruang penyimpannn kitab tapi ketika ditemuinya ruangan tersebut telah kosong melompong tak ada isinya ia jadi amat sedih, sambil memukul dadanya sendiri menangislah pemuda itu sejadi jadinya.

Tiga hari tiga malam Kok See-piauw menangis terisak dengan sedihnya ditempat itu, sungguh tak nyana justru karena isak tangisnya itulah dia malahan berhasil menemukan suatu penemuan yang sama sekali diluar dugaan.

Sebagaimana telah diketahui, Kiu-ci Sinkun adalah seorang manusia yang mempelajari kembali semua jurus silatnya, setiap hari ia melatih diri dan berhasil ia ciptakan serangkaian ilmu telapak dan serangkaian Sim hoat tenaga dalam yang maha dahsyat. Semua hasil penemuan itu ditambah pula pengetahuannya tentang pelbagai macam ilmu silat telah ia catat dalam sejilid kitab yang bernama kitab pusaka KIU CI CIN KENG.

Kitab Kiu ci cin keng itu disimpan dalam balik dinding ruang penyimpan kitab tersebut, oleh karena terlalu banyak harta pusaka yang berada dalam istana tersebut, tak pernah terpikir oleh Hoa Thian-hong untuk melakukan pencarian jauh lebih kedalam.

Dan akhirnya kitab pusaka Kiu ci cin keng yang maha sakti dan maha luar biasa itu berhasil didapatkan oleh Kok See-piauw.

Akan tetapi, menanti Kok See-piauw telah berhasil menguasai isi pelajaran dari kitab Kiu ci cin keng kemudian muncul kembali dalam dunia persilatan dengan gelar Kiu-ci Sinkun, banyak tahun sudah lewat tanpa terasa.

Pada waktu itu putra Hoa Thian-hong yang dilahirkan Pek Kun-gie telah seringkali melakukan keonaran dalam dunia persilatan.

Sampai dimanakah kehebatan dari bocah itu, sampai di mana tampannya anak itu dan betapa romatisnya putra Hoa Thian-hong dengan Pek Kun-gie ini sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Bila anda ingin mengetahui bagaimana kelihayan dan keromantisan sang bocah yang hebat itu, serta bagaimana caranya Kok See-piauw yang muncul dengan gelar Kiu-ci Sinkun melaksanakan pembalasan dendamnya, silahkan membaca cerita silat lanjutan dari kisah ini dengan judulnya yang baru,

“RAHASIA HIOLO KUMALA” TAMAT

MAKLUMLAH, kalian memang kurang bisa memahami betapa busuknya hati Teng kwik Siu dan komplotannya! ujar Cu Thong, “sejak menjumpai bendungan air itu, Ciang lotau sudah menyadari bahwa ada orang sedang mempersiapkan siasat air bah menyapu enam pasukan berkuda, sejak datang kesini pada hakekatnya Tang Kwik-siu telah mempunyai maksud jahat, tentu saja kalian semua tak akan mampu untuk menebak siasat busuknya yang amat dirahasiakannya itu”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan lagi, “Bagaimana nasib bangsat tua itu? Apakah sadah kalian usir untuk pulang ke akherat?”

“Apanya yang di usir pulang keakherat? bangsat tua itu sudah dilepaskan hidup-hidup!” sahut Ci-wi Siancu dengan gusar.

Mendengar perkataan itu, Dewa yang suka pelancongan Cu Thong segera tertawa terbahak-bahak

“Haaahh…. haahh…. haaahh dilepaskan memang jauh lebih baik daripada dibunuh, anggap saja kita sudah membeli kura- kura busuk dari pasar, karena kura-kura itu cuma beraninya sembunyi melulu maka kita buang kembali ke lain toh tak ada rugiuya bukan? Baiklah tak usah kita bicarakbn soal ini, coba kau lihat seluruh bukit ini sudah dipenuhi oleh bapaknya bajingan, anaknya bajingan, dan cucunya bajingan, bagaimana caramu untuk menggali harta karun itu?”

Buru-buru Hoa Thian-hong menjawab dengan wajah serius, “Locianpwe, dewasa ini kita harus membuang jauh-jauh semua kerugian kita di masa lampau, pada saat inilah segenap kekuatan yang ada dalam dunia persilatan harus bersatu padu dan bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan maha besar ini. Kemarin malam istana Bin yu tiau dari Kiu ci kiong sudah tergali keluar tapi kini penemuan tersebut telah tenggelam oleh air bah yang maha dahsyat, boanpwe ada maksud untuk menunda pekerjaan ini dan berunding lebih dulu dengan pemimpin dari pelbagai pihak, setelah itu membendung kembali aliran air dan menghisap air bah yang menggenangi liang galian ini, sebab hanya dengan berbuat begitulah pekerjaan besar ini baru bisa dilanjutkan kembali.”

Tertegun Dewa yang suka pelancongan Cu Thong setelah mendengar perkataan itu, lama sekali ia baru bisa berkata, “Apa? Jadi setelah lolos dari terkaman air bah, kau masih punya keberanian untuk bekerja sama lagi dengan kawanan manusia telur busuk itu?”

Hoa Thian-hong kualir perkataannya yang amat pedas dan tak sedap didengar ini akan menyinggung perasaan halus orang lain, buru-buru menjawab.

“Locianpwe, sebusuk-busuknya seorang manusia, aku yakin dia masih mempunyai hati yang baik dan liangsim yang mulia, bila kita bersikap luhur dan percaya kepada orang lain, lama kelamaan orang itupun da pat menyelami pula perasaan tulus kita!”

Ia menunjuk ke arah Bong Pay, lalu sambil sambil lanjutnya lebih jauh, “Sekarang toako sudah menjadi menantu kesayangan dari Sin-kie-pangcu, itu berarti orang-orang seperkumpulan sudah merupakan saudara pula dengannya, masa kita harus menganggap asing diri mereka pula?”

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong melototkan sepasang matanya bulat-bulat, mendadak ia berpaling ke arah Bong Pay, rupanya orang tua ini ingin menyelami sikap pemuda itu.

Buru-buru Bong Pay bungkukan badan memberi hormat, katanya dengan suara lirih, “Wan-hong mengatakan bahwa ini merupakan perintah dari supe, Pay ji tak berani membangkang perintah dari kau orang tua maka…. maka Pay ji telah….”

“Aduh, bagus…. bagus…. tata kesopananpun rupanya sudah kau kuasahi, nada perkataan pun lebih luwes dan sedap didengar, coba katakan, semuanya ini adalah hasil pelajaran dari Pek loji ataukah ajaran dari nona Soh-gie binimu itu?” teriak Cu Thong.

Merah padam selembar wajah Bong Pay karena jengah, cepat-cepat dia memberi hormat lagi seraya menjawab, “Apabila Pay ji mendapat sedikit kemajuan dalam segala bidang maka semuanya ini adalah hasil dari jasa supek sendiri!”

Sekali lagi Dewa yang suka pelancongan Cu Thong tertegun, akhirnya ia merasa bahwa tidak pantas untuk bicara sembarangan lagi, sesudah termangu-mangu beberapa saat lamanya, dengan suara agak gemetar dia berkata lagi, “Baik! Engkaupun sudah pantas menjadi manusia, Pek Siau-thian memang tidak melantur matanya, ia maui kau sebagai menantlunya ini menandakan kalau pandangan matanya memang cukup tajam. Aku menghormati keagungan Pek hujin dan menganggap nona Soh-gie adalah seorang dara yang saleh dan dapat merawat serta memperhatikan engkau sepanjang hidup, karena itu aku beranikan diri untuk memesan kepada Wan hong untuk menjadi mak comblang dalam perkawinan ini, Dan sekarang perkawinan sudah terlaksana maka semuanya tergantung pada dirimu sendiri, kalau engkau tak dapat menjadi seorang enghiong hohan yang akan meneruskan warisan dari Pek Siau-thian maka hal ini akan merupakan penyesalan bagi Pek loji, sebaliknya kalau engkau tak bisa menjadi seorang kuncu, seorang lelaki sejati yarg akan menyemarakkan nama besar perguruanmu, maka inilah dosa serta kesalahan dari aku yang menja-di supekmu, aku dan gurumu sudah saha bat sehidup semati, maka sampai waktunya aku hanya bisa menggorok leher sendiri untuk menebus dosa pada gurumu. Sebaliknya hidup diantara manusia persilatan yang kasar dan tak beraturan tapi tak hilang sifat gagah dan jiwa pendekarnya, itulah perbuatan yang teramat sukar, semoga engkau dapat menguasainya!”

Air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Bong Pay, dengan penuh rasa hormat dia memberi hormat kepada orang tua itu, katanya, “Apa bila Pay ji tak dapat memenuhi apa yang supek harapkan tak usah supek memberi teguran, Pay ji dapat menyelesaikan kehidupanku sendiri untuk menebus dosa-dosaku kepada mendiang guruku!”

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong merasa terbaru sekali setelah mendengar perkataan itu sampai-sampai sekujur badannya ikut gemetar keras, katanya kemudian, “Bagus, bagus, bagus sekali, pulanglah dahulu, demi engkau aku Cu Thong rela untuk tundukkan kepala kepada Pek Siau-thian, pulang dan berilah kabar lebih dulu kepadanya, katakan sebentar lagi aku akan datang menyambanginya”

“Baik!” sahut Bong Pay dengan penuh perasaan hormat.

Selesai menjura, ia mengundurkan diri dari ruangan itu dan berlalu dari sana. Pepatah kuno pernah mengatakan: Jika seorang kuncu mempunyai kedudukan yang tinggi maka serta-merta akan muncullah suatu kewibawaan yang besar pada dirinya.

Ini berarti pula bila orang itu dahulunya hanya seorang manusia biasa saja, tapi ketika suatu ketika secara mendadak meningkat kedudukannya, secara otomatis pula akan muncullah suatu kewibawaan pada dirinya, yang mana membuat rekan-rekannya tak berani pandang remeh dirinya lagi.

Begitulah keadaan dari Bang Pay saat ini, selelah ia menjadi menautuaya keluarga Pek maka secara lapat-lapat iapun sudah menjadi satu-satunya ahli waris yang akan memimpin perkumpulan Sin-kie-pang yang maha besar dan maha pengaruh ini, berhadapan muka dengan anak buah anak buahnya yang rata-rata berilmu silat tinggi, tentu saja ia harus pandai membawa diri serta tahu kedudukan dan derajat sendiri pada waktu itu.

Karena itu tanpa ditegur atau diberi peringatan oleh Pek Siau thinn, dengan sendiri Bong pay telah berubah jadi seorang manusia yang lain.

Siapapun juga yang bertemu dengan Bong pay, maka tanpa disadari semua orang akan merasa bahwa tindak tanduk maupun cara berbicara pemuda itu ternyata membawa suatu pengaruh besar yang membuat orang mau tak mau harus mematuhinya.

Tentuu saja bila keadaan pada saat ini dibandingkan dengan keadaannya di masa lampau, boleh dibilang perbedaannya ibarat langit dan bumi, jauh sekali bedanya. Suatu hari tatkala fajar baru saja menyingsing diufuk sebelah timur, semua orang yang berada dibukit Kui ci sa telah berkumpul diatas sebuah puncak tebing yang amat tinggi berhadapan dengan sebuah selokan besar.

Semua jago persilatan baik itu dari golongan hitam, dari golongan putih maupun dari empat samudera lima telagan semuanya telah berkumpul ditanah perbukitan tersebut.

Sinar mata mereka yang setajam sembilu bersama-sama tertuju pada sebuah liang besar yang menganga dibawah tebing tepat di seberangnya, setiap orang dengan membawa perasaan gembira, perasaan tegang dan perasaan bercampur aduk yang sukar dilukiskan dengan kata-kata menantikan tibanya saat yang telah ditunggu-tunggu sekian lama.

Tidak semua jago silat yang hadir ditempat itu datang dengan tujuan mencari harta ada yang datang kesana oleh karena demi orang orang dikasihi, karena ingin membantu orang yang dicintainya mereka rela menyumbang tenaga dan ikat menyingsingkan lengan baju serta bekerja keras.

Kendatipun demikian, oleh karena mereka sudah menyumbangkan tenaga dan waktu yang cukup lama untuk menyukseskan gerakan pencarian harta karun ini, maka menjelang detik-detik yang terakhir ini tak urung mereka ikut berdebar juga.

Malahan ketegangan serta kegembiraan yang mencekam perasaan hati orang-orang ini tak kalah hebatnya dengan mereka yang maksud kedatangannya memang khusus untuk mencari harta karun.

Liang penggalian yang tergenang air bah itu sudah dibikin kering setelah airnya di pompa keluar, sekarang kedalaman liang tersebut telah bertambah dua puluh kaki lagi. Atas hasil pemikiran dari Hung san su lo, Tiang sun Pou, Ciang Cu gan, Hoa Thian-hong, Pek Siau-thian serta Kiu-im Kaucu akhirnya dugaan mereka dapat diseragamkan yakni letak tempat penyimpanan harta karun yang berada dalam istana Kiu ci kiong sebenarnya berada didalam lambung bukit karang itu.

Menurut hasil catatan peta yang tertera dalam halaman terakhir kitab puaska Thian hua ca ki letak tempat penyimpanan harta karun itu dikelilingi oleh pelbagai lereng dan jalan berliku-liku serta banyak cabangnya, selain itu pintu serta jalan tembusnya banyak, sukar dihitung jumlahnya, tempat itu ibaratnya dikelilingi oleh barisan pembingung sukma yang bisa membetot nyawa.

Tapi apa kenyataannya? Kendatipun mereka telah bersusah payah selama berbulan-bulan lamanya, jangankan tempat penyimpanan harta karun itu, pintu serta jalan tembus yang dimaksudkan pun tak kelihaian sebuah pun.

Tanpa pintu tak mungkin orang bisa mencapai letak tempat penyimpanan harta karun itu dan percuma saja mereka berada di sekitar tanah perbukitan itu tanpa dapat mendekati tempat yang tertuju.

Setelah mengalami patah semangat dan kemurungan selama berhari hari lamanya, terakhir mereka putuskan untuk meledakkan tanah perbu-kitan tersebut untuk mencari pintu masuknya.

Setelah diambil keputusan yang bulat ini, maka oleh Tiangsun Pou beserta Ciang Cu gan, kedua orang itu mulai memenentukan letak daerah yang akan diledakkan. Mula-mula mereka menggali dahulu sebuah tanah lorong yang menjorok masuk kedalam perut bumi dari dasar liang penggalian itu, setelah lorong itu dirasakan cukup dalam, maka bahan peledakpun ditutupi kedalam lorong tersebut, sumbunya diatur jauh diluar liang itu dan akan disulut oleh Hoa Thian-hong.

Hari inilah yang telah ditetapkan oleh kawanan jago itu untuk meledakkan tanah perbukitan itu.

Selang sesaat kemudian, dari dasar liang penggalian yang sangat dalam itu berkumandang suara suitan yang amat panjang dan nyaring, menyusul kemudian kabut yang berwarna hitam dan tebal menggulung keluar dari dasar liang itu.

“Blaaam!!” suatu ledakan dahsyat yang meenggoncangkan seluruh permukaan bumi menggelegar di angkasa, pasir, debu dan batu beterbangan di angkasa.

Li-hoa Siancu paling tak dapat menahan diri, begitu melihat kabut tebal muncul dari dasar lembah, ia segera goyangkan tangannya berulang kali sambil berteriak-teriak keras, “Siao long cepat lari…. ! Siau long cepat lari!”

Gadis-gadis suku Biau adalah gadis yang tak kenal apa arti malu, seorang mulai berteriak maka rekan-rekan yang lainpun ikut berteriak teriak keras.

Mendingan kalau gadis-gadis suku Biau ini tidak berteriak, begitu mereka berteriak serentak memancing pula kekuatiran dari kawanan jago lainnya.

Perlu diketahui, selama ini Hoa Thian-hong telah menunjukkan tekadnya yang besar untuk menemukan harta karun itu, kesediaannya untuk berkorban demi kepentingan orang banyak ini, telah menimbulkan rasa kagum dan haru dihati setiap jago, tanpa sadar perasaan tersebut tertanam pula dihati mereka dalam-dalam, siapapun tak mengharapkan terjadinya sesuatu atas diri si anak muda itu pada detik-detik yang terakhir ini…. 

Dalam waktu singkat, teriakan-teriakan keras dan jeritan- jeritan peringatan berkumandang dari mulut setiap umat jago yang hadir diseputar tanah perbukitan itu, suaranya cukup keras dan menggema diseluruh angkasa.

Pada hal setiap orang tahu bahwa Hoa Thian-hong berilmu tinggi, dengan kecepatan gerakan tubuhnya tak mungkin ia bakal terpengaruh oleh gelombang ledakan yang keras itu.

Namun, kendati begitu toh mereka berseru agar pemuda itu lebih cepat lagi menyingkir dari sana, hal ini bisa menunjukkan betapa hormat dan kasih sayangnya kawanan jago tersebut pada pemuda itu.

Andaikata kejadian ini tidak berlangsung dalam keadaan begini melainkan berhadapan muka secara satu dan satu mungkin saja diantara mereka ada yang tak bisa melupakan dendam lama serta menghilangkan rasa dengki, benci serta dendamnya.

Tapi sekarang mereka dalam keadaan bersama-sama, dengan sendiri nya suasanapun jauh berbeda.

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong setelah memegang sumbu bahan peledak itu dengan kecepatan penuh ia lantas melayang keluar dari lorong bawah tanah dan kabar menuju ketebing sebelah depan.

Waktu itu ia mendengar bahan peledak dalam lambung bukit sudah mulai meledak, kemudian terdengar teriakan- teriakan keras, ber kumandang diri atas puncak, ia tercekat dan kebingungan, pemuda itu tak tahu apa yang terjadi diatas puncak bukit itu.

Maka pemuda itu semakin tancap gas dengan kecepatan yang lebih luar biasa, ia menerjang naik keatas puncak tersebut.

Terdengarlah ledakan keras yang memekikkan telinga menggelegar di angkasa menyusul kawanan jago yang berada diatas puncak tersebut sama-sama berseru kaget dan menghela napas panjang.

Tampaklah bukit karang yang telah didiami oleh kawanan jago itu banyak hari, kini sudah meledak dan retak-retak pada bagian pinggangnya, malahan puncak bukit itu sudah ambruk longsor kebawah.

Dalam waktu singkat terjadilah gempa bumi yang sangat keras diatas tanah bukit tadi semua tanah yang dipinjak kawanan jago itu mulai bergoncang keras, pepohonan dan batu kurang bergetar keras sekali, lama…. lama sekali goncanggan itu bergetar tiada hentinya.

Semangkin banyak tanah dan batu karang yang longsor dan bertaburan kedalam jurang, pepohonan serta bangunan darurat yang dipakai oleh kawanan jago selama ini bertumbangan, keadaan betul-betul mengerikan sekali.

Mendadak dari antara celah-celah tanah bukit yang merekah dan longsor itu muncullab sebuah air terjun yang sangat besar dan deras, dengan disertai suara gemuruh yang sangat keras, gulungan air bah itu meluncur datang dengan cepatnya, dalam waktu singkat air terjun tersebut telah berada dihadapan muka mereka. Dewa yang suka pelancongan Cu Thong sangat terkejut segera serunya dengan keras

“Celaka jangan-jangan Kok See-piauw bajingan cilik itu bermain gila lagi dengan kita?”

Ciang Cu gan setera menggeleng.

“Tak mungkin bajingan cilik itu berani main gila lagi, aku rasa kejadian tersebut mungkin terjadi lantaran kerak bumi bergoncang keras yang mengakibatkan bendungan tersebut menjadi retak karena air bah pun mengalir kembali melalui saluran yang telah ada seperti sedia kala!”

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan kembali. “Oleh sebab kerak bumi mengalami menyusutan setelah

terjadinya ledakan ditanah perbukitan seberang sana, tanah pada sekitar lambung bukit itu mengalami retakan-retakan yang hebat, aai! Sebelumnya aku tak pernah menghitung sampai kesitu, kalau tidak pasti akan ku kurangi kekuatan bahan peledak yang kita tanam disana!”

“Saudara Ciang, akibat dari ledakan yang kelewat takaran ini, mungkinkah bisa mengakibatkan hancurnya tempat penyimpanan harta karun itu?” tanya Thian Ik-cu secara tiba- tiba.

Ciang Cu gan termenung dan berpikir sebentar, kemudian sabutnya, “Pertanyaanmu itu sulit bagiku untuk menjawabnya pada saat ini. Aaaiiii….! seandainya harta karun itu mengalami kerusakan hebat semuanya itu adalah dosa dari aku Ciang Cu gan, mungkin aku akan merasa menyesal untuk selamanya!”

“Ciang locianpwe, apa gunanya kau mengucapkan kata- kata seperti itu?” tegur Hoa Thian-hong mendadak, “sepandai- pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga, secerdik- cerdiknya seseorang dalam suatu bidang, kegagalan bukanlah suatu kejadian yang aneh, lagipula masalah ini menyangkut tentang mengerutnya kerak bumi yang berada didalam tanah dan tak bisa dilihat manusia, siapa yang dapat menduganya sampai kesitu? Kalau toh harta karun tersebut akhirnya musnah, kita hanya bisa mengatakan bahwa takdir memang menghendaki demikian!”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, aliran air tersebut telah memancar lewat dengan cepatnya, liang besar itu untuk kedua kalinya tergenang kembali oleh air bah.

Dalam pada itu, retakan-retakan pada dinding tebing masih berlangsung terus tiada hentinya, batu-batu cadas yang besar dan berukuran raksasa menggelinding jatuh kebawah dan lenyap dibalik genangan air yang menutupi seluruh liang penggalian tersebut.

Kurang lebih setengah jam kemudian, ledakan dan retakan- retakan dari tebing bukit seberang sana perlahan-lahan mulai mereda kembali, namun peredaran darah ditubuh kawanan jago itu malahan terasa berpu tar makin cepat, jantung mereka serasa berdebar keras.

Tiba-tiba Thian Ik-cu berseru dengan suara lantang, “Hoa kongcu, aku rasa keadaan pada saat ini sudah mulai menjadi tenang kembali, bagaimana kalau kita bersama-sama menengok keadaan dibekas tanah ledakan tersebut?”

“Baik! mari kita maju bersama-sama kesitu, tapi sebelumnya aku harap saudara sekalian suka mencamkan beberapa patah kataku, ketahuilah peti mati lebarnya cuma enam depa, dan benda sekecil itu tak akan makan tempat selebar satu kaki, selama manusia masih hidup didunia ini maka semuanya takdirlah yang menentukan, ada manusia yang bernasib baik ada pula manusia yang bernasib jelek. Tentunya kalian mengetahui bukan tentang cerita Say-ang yang kehilangan kudanya? Siapa tahu kalau kudanya yang hilang justru mendatangkan rejeki padanya? Kemudian Say- ang mendapat kudanya kembali, tapi siapa yang mengira kalau ditemukannya kembali kuda tersebut justru merupakan bencana baginya?”

“Saudara-saudara sekalian, andaikata dalam bukit sebelah sana banar-benar terdapat harta karunnya maka kalian boleh mengambilnya, sebab itulah hasil dari jerih payah saudara sendiri, itulah buah yang harus kalian terima setelah memeras keringat dan tenaga.

“Kita semua tak ada yang menjadi pemimpin rombongan, tak ada seorangpua yang berhak untuk menentukan pilihan bagian saudara sekalian, lagipula berbicara tentang nilai dari harta pusaka itu setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda, setiap orang mungkin saja bisa mengalami sengketa karena pilihan yarg sama, oleh karena itu untuk mengatasi segala hal yang tak diinginkan pada hari ini aku mohon kepada saudra sekalian untuk bertindak menuruti suara hati masing-masing, ambillah benda yang sudah menjadi hak bagi kalian dan bagi mereka yang telah mendapat bagian menyingkirlah dengan segera dan bagilah sisa bagi orang yang lain. Aku harap janganlah disebabkan karena harta yang tak ada harganya ini sehingga menimbulkan bibit bencana dan harus diakhiri dengan pertumpahan darah yang tak berguna, aku rasa saudara-saudara sekalian tentunya bisa menangkap serta memahami apa yang kumaksudkan dan apa yang ku katakan barusan bukan?”

Ketika Hoa Thian-hong menyelesaikan kata-katanya dengan suara keras tapi tegas, Kho Hong-bwee menambahkan pula, “Apa yang barusan Hoa kongcu ucapkan semuanya merupakan kata kata mutiara yang besar dan dalam sekali artinya, semoga kalian dapat mencamkan kata-kata tersebut kemudian meresapi serta melaksana kannya secara baik-baik, dalam menghadapi segala persoalan lebih baik berpikirlah tiga kali sebelum akhirnya mengambil keputusan.

Ia berpaling lantas membentak lagi, “Saudara-saudara dari perkumpulan Sin-kie-pang harap dengarkan baik-baik kata- kata ku ini: ‘Bila kami punya rejeki dan keuntungan maka semua anggota perkumpulan dari atas sampai tingkat paling bawah akan mendapat bagian bersama-sama meresapi keuntungan tersebut’, Pangcu sekeluarga tidak akan memeras dan melupakan kesolidaritasan saudara-saudara sekalian, kendatipun demikian aku minta kalian jangan melupakan peraturan perkumpulan, siapapun asal dia anggota perkumpulan Sin-kie-pang, sebelum mendapat perintah dari pangcu dilarang untuk maju kedepan, barang siapa berani menentang peraturan ini maka akan dijatuhi hukuman setimpal dengan peraturan yang telah tercantum, aku minta peringatan ini suka diindahkan oleh saudara saudara sekalian, sehingga dapat dihindari segala hal yang tidak diinginkan.

Begitu selesai mendengar perintah itu, para anggota perkumpulan Sin-kie-pang serentak menyahut, suaranya keras dan serentak ibarat guntur yang menggelegar di udara.

Thian Ik-cu pun ikut berbicara dengan suara lantang, “Hoa kongcu, kamipun hanya ingin cepat-cepat melihat harta karun itu tapi jangan kau artikan ingin cepat-cepat mendapatkan bagian dari harta karun tersebut, bilamana ada orang ingin menggunakan kesempatan ini untuk menguntungkan dan memperkaya diri sendiri, cukup Hoa kongco memberi komando, serentak kami akan se-kuat tenaga melawan manusia-manusia rakus itu, walau kepala bakal kutung, darah bakal mengalir, kami semua tidak akan merasa gentar atau mundur!” “Akan ku ingat selalu perkataan dari totiang! ujar Hoa Thian-hong dengan wajah bersungguh-sungguh.

Ia lantas berpaling ke arah Kiu-im-kauwcu, setelah memberi hormat ujarnya kembali, “Kaucu, cianpwe dan para enghiong semua mari kita berangkat untuk menengok keadaan disana!”

Kiu-im Kaucu tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaah…. saudara-saudara sekalian, silahkan berangkat!” katanya pula.

Padahal semenjak tadi semua orang sudah terburu nafsu ingin menuju ketempat penyimpanan harta itu, setelah dipersilahkan maka siapapan tidak ingin banyak berbicara lagi.

Maka ketika berangkat menuju kemuka sekalipun tidak diatur, secara otomatis kawanan jago itu membentuk barisan sendiri secara teratur dan rapi.

Tampaklah Hoa Thian-hong berjalan dipaling depan dengan Pek Siau-thian, Kiu im kancu, Jia Hian serta Thian Ik-cu mendampingi disisinya, dibelakang kelima orang itu menyusul pula para jago lainnya yang menyusun diri jadi lima orang tiap baris, memandang jauh sebelakang sana, barisan itu sangat teratur dan siapapun tiada bermaksud untuk saling mendahului ataupun saling berdesakan.

Pada aliran selokan yang muncul setelah terjadi tempa bumi itu penuh berserakan batu-batu cadas yang mencapai beberapa kaki diameternya, dengan melewati batu-batu cadas tersebut Hoa Thian-hong berlima memimpin kawanan jago lainnya mendaki bukit batu karang itu dan menuju kepuncak bukit yang sudah terbelah oleh ledakan bahan peledak serta goncangan gempa bumi itu.

ooooOoooo 90

SETIBANYA dtatas puncak bukit yang terbelah itu, Hoa Thian-hong tak dapat menahan pergolakan emosinya lagi, timpaklah sekujur tubuhnya gemetar keras, helaan napas panjang segera berkumandang saling menyusul dari mulut kawanan jago tersebut.

Pemandangan yang terbentang di depan mata pada saat ini adalah suatu pemandangan yang aneh serta menakjubkan, puncak bukit yang sudah terbelah oleh ledakan bahan peledak serta goncangan gempa bumi itu sekarang telah berubah jadi sebidang tanah datar yang luasnya mencapai tiga ratus kaki persegi, diatas dataran itu penuh dengan jalan-jalan lorong yang berlika liku dan tak terhitung jumlahnya.

Luas lorong yang seolah-olah dipapas dengan pisau itu cuma beberapa kaki, tapi rata teratur dan rapi, panjangnya mencapai sepuluh li atau lebih.

Meskipun panjang lorong mencapai sepuluh li lebih naumn berlika liku kian kemari tak menentu, besar kecilnyapun berbeda satu dengan lainya, berderet-deret bangunan batu seperti sarang tawon berserakan disana sini, hanya saja pada waktu itu hampir separuh bagian bangunan ruang batu serta lorong rahasia itu terbentang diluaran sedang sisanya yang separuh masih terbenam dalam lambung bukit dan tertindih oleh bukit karang yang tinggi dan padat.

Beberapa orang diantara mereka yang merasa berilmu tinggi lantas melompat masuk kedalam lorong rahasia yang terbelah jadi dua itu, mereka mencoba untuk mendekati pusat bangunan tersebut dengan melalui lorong-lorong yang terbentang lebar itu.

Apa yang terjadi? Kendatipun beberapa orang jago itu telah berusaha untuk berputar kesana kemari dengan mengikuti barisan pat kwa ataupun barisan ngo heng yang mereka kuasai, jangankan mendekati puing bangunan yang dimaksudkan untuk mendekati pun ternyata tak mampu.

Lama…. lama sekali…. akhirnya Pek Siau-thiang menuding ke arah tebing sebelah depan sana lalu berkata, “Daripada saudara semua membuang waktu dan tenaga dengan percuma, bagaimana kalau kita jangan melalui jalan lorong yang membingungkan itu?”

“Asal melewati jalanan bekas sawah yang ada disebelah sana, kemudian meloncat ke pusat bangunan, toh dengan gampang sekali kita bisa masuk kedalam ruang batu itu?”

Oleh karena tak seorangpun yang memberikan tanggapan atau usul lain, maka kawanan jago itupun meninggalkan jalan lorong yang membingungkan dan menelusuri jalan perbukitan yang tinggi rendah tak menentu di samping lorong-lorong tadi, dengan sangat gampang semua orang dapat mencapai pusat ruang batu di tengah-tengah kurungan lorong rahasia tersebut.

Setelah tiba didekat bangunan tadi, sebagaimana tadinya maka kawanan jago itupun mengatur diri lima orang satu barisan untuk meneruskan perjalananya kedepan.

Semua orang tahu setelah tempat penyimpanan harta karun itu dilindungi oleh lorong-lorong rahasia yang amat membingungkan pikiran serta susah untuk dilewati itu, sebenarnya tanpa dipasangi alat jebakan di sekitar ruang penyimpananpun tak mengapa, sebab tidak gampang orang bisa mencapai ketempat itu.

Berdasarkan analisa inilah, maka setelah rombongan tiba diluar ruang batu itu, semua orang tidak kuatir akan tersesat atau terjebak lagi oleh alat-alat rahasia yang mengerikan, dengan mengatur diri menjadi barisan mereka lanjutkan perjalanan kedalam ruangan.

Perlu diketahui, pada saat ini rombongan kawanan jago itu berada di bukit karang yang letaknya jauh lebih tinggi daripada bangunan istana itu sendiri, ditambah pula separuh bagian bangunan tersebut sudah longsor oleh gempa sehingga boleh dibilang semua bangunan istana Kiu ci kiong seolah-olah terkupas separuh, maka siapapun dapat melihat jelas keadaan di dalam istana tersebut dengan amat jelas.

Tanpa menemui banyak kesulitan, mereka telah berhasil mencapai depan pintu sebuah ruang batu dan memasuki ruangan tersebut.

Ruangan itu panjang sekali dan terbuat dari batu-batu cadas yang sangat kuat, kurang lebih beberapa kaki kemudian sampailah mereka di depan sebuah pintu lagi.

Pintu batu itu tertutup rapat, Kiu-im Kaucu lantas maju kedepan dan mendorong pintu tadi kebelakang.

“Kraaakk!” Pintu batu itu ternyata tak terkunci, sewaktu didorong lantas terbuka lebar, cahaya hijau yang menyilaukan mata seketika itu juga memancar keluar dari balik ruangan.

Apa isi ruangan ini? Sinar mata semua orang tanpa terasa tertuju kedalam ruangan itu. Luas sekali ruang batu disana, isinya adalah benda-benda terbuat dari batu kumala yang bertumpuk-tumpuk segudang penuh, terbesar benda kumala itu besarnya seperti pembaringan yang panjangnya delapan depa sedang terkecil sebesar biji kelereng untuk perhiasan.

Selain itu terdapat pula botol porselen, kaleng porselen, golok kumala, pedang kumala dan semua benda-benda lain yang terbuat dari kumala bertumpuk disana semua.

Suatu pemandangan yang indah, menawan dan mempersonakan hati, namun cukup membuat nafsu rakus, nafsu tamak pada manusia ber munculan diatas wajah masing-masing.

Setelah memandang sekejap benda-benda kumala itu, mendadak Kiu-im Kaucu berpaling lalu membentak keras, “Sebelum mendapat perintah dariku, siapapun dilarang untuk menyentuh benda-benda yang ada disini!”

Sehabis berkata ia melanjutkan kembali perjalanannya menuju keruang yang lebih dalam.

Benda-benda kumala yang berhasil dikumpulkan Kiu-ci Sinkun didalam ruangan itu memang tak terhitung jumlahnya, barang siapa berhasil memiliki benda-benda tersebut, tak ragu lagi niscaya dia akan menjadi seorang manusia yang kaya raya.

Terlihatlah beberapa orang kawanan jago silat itu sudah mulai tak kuasa menahan diri, wajah mereka berubah hebat dan jantungnya serasa berdebar keras.

Tiba-tiba Cu Im taysu maju beberapa langkah kedepan lalu serunya dengan lantang, “Thian-hong, aku rasa cukup bagiku untuk melihat sampai diruang ini saja!” Selesai berkata, ia lantas putar badan dan berlalu dari ruangan penyimpanan benda-benda kumala ini.

Ciu Thian-hau tertawa dia ikut berkata, “Haaahh…. haahhh…. haahh aku juga kuatir tak dapat menguasai perasaan hati sendiri setelah melihat begitu banyak barang bagus, lebih baik tugaskan saja kami untuk berjaga-jaga disebelah atas sana. sekalian menjadi pengawal bagi kamu semua!”

“Betul,” cepat Suma Tiang cing menambahkan, “sekalipun mata melihat seolah tidak memandang, hati berpikir seolah tidak merasakan namun yang terbaik adalah sama sekali tidak melihat dan sama sekali tidak merasakan. Aku juga mundur saja dari tempat ini.”

Selesai berkata, tanpa banyak berbicara lagi, ketiga orang itu lantas mengundurkan diri dari dalam ruangan.

Sepeninggalnya ketiga orang jago itu yakni Cu Im taysu, Ciu Thian-hau serta Suma Tiang cing, rombongan melanjutkan kembali perjalanannya menembusi ruangan-ruangan batu berikutnya.

Setelah melewati gudang penyimpan barang-barang kumala, kawanan jago itu memasuki gudang tempat penyimpanan barang-barang antik.

Kemudian setelah keluar dari gudang penyimpanan barang- barang antik, mereka memasuki sebuah ruangan yang menyimpan pelbagai macam lukisan serta tulisan orang kenamaan, rata-rata tulisan maupun lukisan yang tersimpan dalam ruangan itu merupakan hasil karya dari orang-orang kenamaan banyak pula yang usianya sudah tua sekali, tentu saja barang-barang seperti ini tak ternilai harganya. Ruangan berikutnya adalah sebuah ruangan luas tempat penyimpanan pelbagai macam alat musik, banyak alat musik yang ada disitu merupakan bentuk-bentuk yang aneh serta jarang sekali dijumpai didunia luaran, ada pula alat musik yang sudah langka didunia.

Dari seruling sampai khiem dan tambur tersimpan semua ditempat itu, malahan ada pula alat-alat musik yang terbuat dari emas murni.

Ruang selanjutnya adalah ruang batu tempat penyimpanan intan permata serta mutu manikam yang tak ternilai harganya, bukan saja jumlahnya bertumpuk-tumpuk segudang penuh, bahkan intan permata yang tersimpan disana rata-rata besar dan bercahaya tajam, paling kecil sebesar buah kelengkeng dan paling besar sebongkah batu, bisa dibayangkan sampai dimanakah nilai dsri barang-barang itu.

Rata-rata kawanan jago yang menyaksikan intan permata tersebut sama menjulurkan lidahnya, belum pernah mereka jumpai benda-benda mustika sebesar itu, tak heran kalau banyak diantara mereka yang mulai goyah imannya….

Sementara itu rombongan jago sudah memasuki ruang batu separuh yang terakhir, ruangan itu sudah tertutup oleh lapisan batu pada langit-langitnya karena letaknya sudah menjorok jauh dalam lambung bukit.

Sekalipun gelap suasananya, itu buka berarti sama sekali gelap gulita sehingga melihat kelima jari sendiri pun tak dapat, mutiara mutiara besar yang memancarkan sinar gemerlapan tercecer diantara dinding ruangan dan merupakan alat penerangan yang sangat bagus. Setelah berjalan sekian lama, tiba-tiba dihadapan mereka muncul sebuah ruangan batu, pintu gerbangnya satu kali lipat lebih besar dari pintu-pintu ruangan lainnya, sebuah papan nama yang terbuat dari batu kumala tergantung diatas pintu gerbang tersebut dan berukirkan tiga huruf besar terbuat dari emas, “Ciang keng cay! atau ruang penyimpan kitab”

Kontan saja kawanan jago itu merasakan hatinya tercekat dan jantung serasa berdebar keras. Kiu-im Kaucu dan Pek Siau-thian serentak maju bersama kemuka, masing-masing melancarkan sebuah pukulun untuk mendorong pintu gerbang itu.

Pek Kun-gie maupun anak murid dari Kiu-im Kaucu selama ini selalu membuntuti di belakang beberapa orang pemimpin itu, begitu pintu batu terbuka, serentak mereka sama-sama melongok kedalam.

Masih mendingan kalau tidak melihat, begitu mereka mengintip kedalam seketika itu juga beberapa orang itu menjerit keras saking kagetnya, dengan rasa kaget dan gugup serentak mereka mengundurkan diri ke belakang.

Ruangan penyimpan kitab itu luasnya enam kaki persegi, disamping kiri dan kanannya masing-masing terdapat sebuah pintu gerbang.

Diatas pintu gerbang yang disebelah kiri tergantung sebuah papan nama bertulisian, Wan Si atau ruang obat.

Sedangkan diatas pintu sebelah kanran tergantung sebuah papan nama tertuliskan dua huruf besar, Bu Gu atau Gudang silat.

Kalau diruang sebelah kiri yang menurut catatan papan nama itu merupakan ruangan penyimpan obat terdapat kukusan-kukusan besar dan kukusan-kukusan kecil, maka dibalik ruangan yang bertuliskan gudang silat itu terdapatlah rak-rak buku yang bersusun-susun dengan banyaknya.

Sekilas pandangan saja, semua orang akan melihat dan mengetahui bahwa dalam rak-rak buku itulah tersimpan kitab- kitab pusaka ilmu silat yang diincar serta diidamkan oleh setiap umat persilatan.

Ruangan itu tidak kosong tapi ada penghuninya, sebuah tempat duduk yang bulat datar terbuat dari batu kumala hijau terletak ditengah ruangan itu, diatas tempat duduk bersila seorang kakek berambut perak sepanjang bahu dan berjenggot panjang sedada.

Kakek itu memakai jubah panjang berwarna merah darah, sepasang telapak tangannya berhenti ditengah udara dengan posisi jurus Hun hoa hud liu atau memisahkan bunga mengeburkan pohon liu, matanya terbelalak besar dan senyum manis menghiasi bibirnya, orang itu persis seperti manusia hidup lainya.

Disekitar tempat itu penuh berkerumun manusia-manusia dengan pelbagai dandanan yang aneh, ada yang sedang menjotos, ada yang sedang melepaskan pukulan, ada yang bersikap hendak menubruk, ada pula sedang melompat mundur kebelakang, rupanya orang-orang itu sedang mengerubuti kakek baju merah yang duduk bersila ditengah ruangan itu.

Diatas tanah tampak terkapar pula beberapa orang, tampaknya orang-orang itu menggeletak karena dilukai oleh kakek tersebut.

Setelah memandang sekejap pemandangan disekitar tempat itu, Po-yang Lojin lantas menuding ke arah kakek berbaju merah darah itu kemudian katanya dengan lantang, Orang inilah yang bernama Kiu-ci Sinkun sedang sisanya adalah anak murid orang itu kecuali Cho Thian-hua, tiga puluh lima orang muridnya semua berkumpul disini.

Kiu-im Kaucu mengerutkan dahinya rapat-rapat kemudian berkata, Kalau dilihat dari keadaan disini, tampaknya dalam istana Kiu ci kiong sudah terjadi pemberontakan secara besar- besaran, kawanan anak muridnya telah bersatu padu untuk menghadapi gurunya serta berusaha untuk melenyapkannya dari muka bumi.

Pek Siau-thian mendengus dingin, katanya pula, “Baik gurunya maupun muridnya semua bukan orang baik-baik, rasanya kita tak perlu untuk memikirkan tentang diri mereka lagi, lebih baik dari masing-masing pihak mengeluarkan dua orang wakil untuk menggotong pergi mayat-mayat dari mereka ini, bukankah urusanpun akan menjadi beres den an sendirinya?”

Pertama-tama orang orang dari Sin-kie-pang memberikan reaksinya lebih dulu, muncullah dua orang untuk menggotong pergi mayat yang bergelimpangan disana, menyusul kemudian dari empat penjuru bermunculan dua orang wakil untuk menyingkirkan semua mayat disana.

Kelompok mayat-mayat yang berserakan disana itu sudah mati seratus tahun lebih, sekalipun tampaknya masih utuh seperti sedia kala, akan tetapi begitu diangkat maka mayat itu lantas hancur menjadi abu dan tulang belulang mereka lantas berserakan di atas tanah.

Namun kawanan jago yang bertugas mengangkuti mayat itu tidak ambil pusing apakah kotor atau tidak, dalam keadaan seperti ini mereka hanya ingin cepat-cepat mendapat bagian dari harta karun itu, maka ada yang lantas melepaskan jubahnya untuk mengangkuti abu dan tulang belulang itu, ada pula yang manyapu dengan ujung bajunya lantas diangkut begitu saja dengan tangan.

Diantara sekian banyak jago yang bekerja terdapat pula Tio Ceng tang, ia mendapat tugas untuk mengangkut mayat dari Kiu-ci Sinkun.

Siapa tahu tatkala jari tangannya menyentuh tubuh Kiu-ci Sinkun, mendadak ia melompat mundur sejauh lima depa sembari berteriak keras, “Aduh mak!!”

Apa yang terjadi? Hoa Thian-hong segera menegur dengan perasaan terperanjat.

Sekujur badan Tio Ceng tang gemetar keras seperti orang ketakutan sambil menuding ke arah mayat Kiu-ci Sinkun dengan jari tangan yang gemetar ia berbisik, “Ii…. ituu…. tubuhnya masih hangat mu…. mungkin dia dia masih hidup!”

Suaranya terbata-bata dan nadanya Kurang jelas.

Hoa Thian-hong berkerut kening ia berpaling kepada Hoa In yang berada dibelakangnya, lalu memerintahkan.

“Coba engkau pergilah kesana dan periksalah apa yang sebenarnya telah terjadi”

Hoa in mengiakan dan lantas maju kedepan, sekali cengkeram dia sudah mengangkat mayat Kiu-ci Sinkun dari tempat duduknya kemudian sambil meraba tempat duduk bulat pipih yang terbuat dari batu kumala hijau itu, katanya, “Aaai! Siapa bilang dia belum mati? Rupanya tempat duduknya ini terbuat dari batu kumala hangat yang telah berusia sepuluh laksa tahun, oleh karena hawa hangat yang terpancar keluar dari tempat duduk ini maka mayat Kiu-ci Sinkun selama ini tidak sampai mengalami kerusakan atau pembusukan!”

Hoa Thian-hong alihkan sinar matanya ke arah tempat duduk bulat pipih yang terbuat dari batu kumala hijau itu, terbaca olehnya empat huruf besar terukir diatas tempat duduk tersebut.

“BU LIM CI CUN” atau Maharaja dari dunia persilatan.

Tanpa terasa diapun berpikir dihati, “Orang ini memang sungguh jumawa dan berlagak sombong aaai! akhirnya toh dia tewas dalam keadaan begini tak ada harganya, inilah yang dinamakan mencari penyakit buat diri sendiri.

Berpikir sampai disitu tak kuasa lagi dia menarik napas panjang panjang.

Setelah berusaha dan bekerja keras, sebentar kemudian semua mayat yang berada dalam ruangan itu sudah disingkirkan, kawanan jago yang berbondong masuk keruangan inipun segera memenuhi setiap sudut ruangan yang ada disana.

Luas ruangan batu itu kurang lebih enam kaki tapi untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan, beberapa orang pemimpin persilatan itu tak mau memasuki ruangan itu terlalu dalam maka orang-orang yang sempat ikut masuk ke dalam ruangan itupun cuma sebagian kecil belaka….

Sisanya yang berjumlah ratusan orang hanya bisa saling berhimpit dan berdesakan diluar ruangan, ada yang berdiri pada tu-mit ada yang menjulurkan lehernya, adapula yang mementangkan matanya lebar-lebar untuk mengawasi keadaan dalam ruangan itu. Semua sinar mata dan perhatian kawanan jago itu sudah tertuju pada kurungan-kurungan yang berisi obat mujarab serta rak-rak buku yang berisikan kitab-kitab pusaka ilmu silat.

Mereka dapat melihat jelas bahwa kitab-kitab pusaka itu diatur dengan sangat rapi, setiap ujung kitab terdapat selembar kain kecil yang bertuliskan nama diri kitab itu karenanya tanpa harus menarik keluar kitab itu, orang akan tahu buku apakah yang tersimpan disana

Hanya sayangnya tulisan diatas lembaran kain itu kecil sekali, dan lagi pula banyak sekali jumlahnya, kecuali beberapa orang jago silat yang memiliki ketajaman mata luar biasa, boleh dibilang yang lain tak mampu melihat apa-apa kecuali pandangan yang muram.

Tiba-tiba Tio Sam-koh ambil keluar sebuah karung goni yang amat besar, sambil merentangkan tersebut lebar-lebar ia berteriak dengan suara lantang, “Heey! Ada yang mau turun tangan tidak? Kalau semua orang segan untuk mengambil kitab-kitab itu, aku si nenek tua segera akan mengambilkan semua!”

Hoa Thian-hong sangat terperanjat setelah mendengar perkataan itn, dengan cemas ia berkata, “Nenek, engkau jangan bergurau, apa gunanya kita miliki kitab kitab pusaka ilmu silat itu?”

“Kalau engkau tidak mau apa salahnya kalau aku mau? Toh aku bisa menghadiahkan kembali kitab-kitab itu untuk orang lain!” sahut Tio Sam-koh dengan kasar.

Tanpa sungkan-sungkan lagi, selesai berbicara dia lantas meren-tangkan karung goninya lebar-lebar kemudian melangkah maju kedepan menghampiri rak-rak kitab itu. Hoa Thian-hong jadi serba salah dibuatnya, ia cuma bisa merintis sambil mengerling dengan penuh kecemasan kepada istrinya.

Chin Wan-hong tentu saja mengetahui apa maksud dari suaminya itu, cepat dia memburu maju kedepan, sambil menyeret tangan Tio Sam-koh katanya seraya tertawa, “Sam popo kita kan sudah berjanji bahwa kedatangan kita kemari hanya untuk jalan-jalan saja, kenapa kau angkuti semua kitab- kitab pusaka ilmu silat itu?”

“Sekalipun kedatanganku kesini hanya untuk jalan-jalan belaka, masakah aku tak boleh mengambil kitab itu? Toh orang lain tidak mau, apa salahnya kalau aku sinenek mengambilnya?”

Hoa Thian-hong semakin gelisah lagi setelah mendengar perkataan itu, cepat ia berseru lantang, “Semua kitab pusaka ilmu silat telah berada didepan mata, barang siapa punya minat untuk mendapatkan kitab tersebut, silahkan maju untuk mengambilnya sendiri, tapi setiap orang terbatas hanya boleh mengambil sejilid saja, benda-benda yang ada pemiliknya lebih baik jangan diambil, ambil saja kitab yang tak punya tuan!”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, tiba-tiba terdengar seseorang berseru lantang, “Dalam usaha pencarian harta karun, Ji sioca dari perkumpulan Sin-kie-pang yang paling berjasa sepantasnya kalau ji sioca kami mendapat penghormatan untuk memilih pertama kali!”

Tentu saja Hoa Thian-hong tahu bahwa orang yang berbicara itu adalah anak buah dari perkumpulan Sin-kie- pang, meskipun ia tahu bahwa alasannya memang tepat, namun pada hakekatnya ia tak ingin membiarkan Pek Kun-gie memilih nomor satu, hanya saja ia merasa tak enak untuk menolaknya secara terang-terangan, maka setelah termenung sebentar diapun berkata, “Saudara-saudara sekalian, disebelah kiri sana terdapat kamar obat mujarab didalamnya mungkin saja terdapat obat mustika yang dapat membuat orang awet muda dan tetap sehat, disebelah belakang sana ada gudang senjata, didalamnya tentu tersimpan pelbagai senjata mustika yang luar biasa dahsyatnya, berhadapan dengan barang sebanyak ini siapa mengambil dulu belum tentu mendapat keuntungan apa-apa, sebaliknya mereka yang mengambil belakangan juga bukan berarti bakal rugi, bagaimanapun juga setiap orang hanya terbatas boleh memilih satu jenis barang saja, aku anjurkan kepada kalian agar memilihnya secara perlahan-lahan, tunggu saja lah sampai mereka yang punya barang terjerumus dalam istana ini mengambil kembali barangnya yang lainnya barulah mulai memilih!”

Benda mustika yang tersimpan dalam istana itu memang terlalu banyak jumlahnya, siapapun tak berani punya pikiran untuk membegal atau merampok maka siapapun akan memilih bagian yang terbaik dan terlihay untuk diri sendiri tapi oleh kerena jumlahnya terlalu banyak siapapun merasa sulit untuk menentukan pilihannya.

Tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie berkata, “Ayah bolehkah aku memilih lebih dahulu?”

“Tentu saja siapa berani menghalangi niat mu?” sahut Pek Siau-thian dengan angkuh.

Pek Kun-gie tertawa manis, dengan lemah gemulai dia maju kedepan dan menghampiri rak-rak buku itu.

Berbicara yang sesungguhnya Pek Kun-gie menang terhitung manusia yang paling berjasa dalam usaha pencarian harta karun kali ini, maka keputusan untuk mempersilahkan dia memilih lebih dahalu bukanlah suatu keputusan yang kelewat batas.

Sebab itulah baik Kiu-im Kaucu maupun Kiu-tok Sianci berlagak bodoh seolah-olah mereka tidak melihat akan kejadian itu.

Pek Siau-thian dengan sinar matanya setajam sembilu mulai menyapu sekejap ke arah rak-rak buku yang ada dihadapannya, dia berharap bisa menemukan sejilid kitab pusaka yang luar biasa dan dapat digunakan untuk menandingi kelihayan kitab Kiam keng yang berhasil dipelajari Hoa Thian-hong, kemudian memberi petunjuk kepada putrinya untuk mengambil.

Apa mau dikata,jumlah kitab pusaka yang tersimpan dalam ruangan itu tak terhitung jumlahnya, setiap jilid Kitab yang ada disana sudah cukup digunakan untuk merajai kolong langit, untuk sesaat ia jadi bingung tak tahu harus memilih yang mana.

Sungguh gelisah dan cemas perasaan Pek Siau-thian pada waktu itu terpaksa dengan ilmu menyampaikan suara ia memberi kisikan kepada putrinya agar mengulur waktu, “Berlagaklah sedang memilih dengan perlahan-lahan, jangan keburu nafsu menjatuhkan pilihannya, bila aku sudah menemukan pilihannya, segera kukirim kabar kepadamu untuk mengambilnya!”

Akan tetapi Pek Kun-gie berlagak pura-pura tidak mendengar, mendadak ia mengambil sejilid kitab pusaka yang amat tebal sekali dari rak buku itu, kemudian dengan suara manja serunya, “Ayah, dalam perkumpulan Sin-kie-pang kita sudah terdapat banyak sekali kitab pusaka ilmu silat, aku lihat kitab racun Pek tok keng ini luar biasa sekali, bila kuambil rasanya tidak akan merugikan dirimu bukan?” Mendengar perkataan itu, baik Hoa Thian-hong maupun Kiu-tok Sianci dan murid-muridnya meresa terperanjat.

Karena sudah diberi peringatan oleh Lan-hoa Siancu agar jangan bercakap-cakap dengan Pek Kun-gie, Hoa Thian-hong tak berani melanggar pantangan tersebut, maka diapun menengadah keatas dan berseru dengan suara lantang, “Saudara-saudara semua mohon perhatian! Bila benda yang diambil ternyata punya pemiliknya, lebih baik janganlah diambil toh isi ruangan ini banyak tak terhitung jumlahnya, ada yang bisa membuat di ri menjadi sakti dan luar biasa, ada pula yang bisa melatih diri sehingga tetap awet muda….”

Tiba-tiba Giok Teng Hujin mendehem berat dan menukas ucapan Hoa Thian-hong yang belum selesai.

Si anak muda itu segera tersadar kembali bahwa ia sudah salah berbicara, ia hanya berusaha mencegah Pek Kun-gie untuk mengambil kitab pusaka Pek tok keng tapi hampir saja sudah membengkalaikan urusan dari Giok Teng Hujin.

Pek Kun-gie bukan seorang manusia bodoh, dengan cepat ia dapat menangkap maksud dari deheman itu, tiba-tiba ia berpaling ke arah ayahnya kemudian bertanya, “Ayah, kitab pusaka apakah yang bisa melatih diri menjadi cantik jelita dan tetap awet muda?”

Pek Siau-thian berpikir sebentar lalu menjawab, “Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa kitab pusaka Tuo li sim keng merupakan pelajaran sim hoat tenaga dalam yang membuat seseorang gadis tetap awet muda, katanya bila seseorang dapat melatih tenaga dalamnya hingga mencapai puncak kesempurnaan, maka bukan saja paras mukanya akan bertambah cantik, bahkan akan tetap awet mada dan segar bugar!” “Ayah, bagaimana kalau kuambil saja kitab pusaka Pek tok keng ini?”

Pek Siau-thian menghela napas panjang, dalam hatinya ia berpikir, “Aaai…. budak ini memang keterlaluan dianggapnya perempuan perempuan dan suku Biau itu bisa diganggu seenaknya?”

Berpikir demikian diapun menjawab dengan lantang, “Kelompok kita adalah kelompok yang mengkhususkan diri berlatih ilmu silat apa bila ilmu yang kita pelajari sudah mencapai puncak kesempurnaan maka sekalipun orang memiliki racun yang lihay juga tak akan mampu mengapa- apakan kita buat apa kita musti mencabut gigi taring orang lain?”

Pek Kun-gie memutar sepasang biji matanya, kemudian menyahut, “Baiklah, aku rasa perkataan ayah sudah pasti tak bakalan salah!”

Maka ia mengembalikan kitab Pek tok keng itu ketempat semula, lalu sambil berpaling kembali dia bertanya, “Ayah, kitab pusaka Tuo li sim keng berada dimana?”

“Baris ketiga dinding sebelah kiri, dihitung dari bawah maka berada pada rak nomor dua!”

Pek Kun-gie lantas berjalan menuju ketempat yang ditunjuk dan mengambil keluar kitab Tuo li sim keng dari dalam rak tersebut.

Menyaksikan perbuatan putrinya, Pek Siau-thian jadi keheranan, dia lantas bertanya, “Anak gie, engkau adalah seorang dara yang canik jelita, didunia dewasa ini sukar untuk mencari gadis yang lebih cantik daripada dirimu, apa gunanya kau ambil kitab tersebut, bukankah tindakanmu ini sama artinya dengan menyia-nyiakan hak pilihmu yang bagus ini?”

Pek Kun-gie sama sekali tidak tergerak hatinya oleh perkataan tersebut, ia menjawab dengan manja, “Kecantikan sama dengan ilmu silat, sekalipun orang sudah berilmu tinggi pasti menginginkan ilmu yang lebih tinggi, begitu pula dengan kecantikan, sekalipun orang sudah cantik toh masih ingin lebih cantik lagi!”

Habis berkata, dengan wajah berseri dan penuh kegembiraan ia membawa kitab pusaka Tuo li sim keng itu kembali ketempat semula.

Sungguh gelisah dan panik Hoa Thian-hong menghadapi kejadian ini, mukanya telah berubah jadi merah padam, sepasaag matanya merah berapi-api, ia pernah menyanggupi permintaan Giok Teng Hujin untuk mencarikan ilmu yang dapat memulihkan kembali kecantikan wajahnya tapi sekarang setelah janjinya itu akan dipenuhi ternyata Pek Kun-gie telah mendahului dirinya, dengan begitu bukankah ia jadi tak dapat memenuhi janjinya?

Kendatipun begitu, berhubung Pek Kun-gie juga seorang gadis dan pantaslah bagi seorang dara untuk mengambil kitab pusaka Tuo li sim keng, maka walaupun dalam hati merasa gelisah, ia tak mampu untuk menghalangi niatnya itu.

Bagaimana pun juga Chin Wan-hong adalah seorang istri yang saleh, ia dapat merasakan kebingungan serta kepanikan suaminya, selain itu diapun dapat meresapi betapa pentingnya kitab tersebut bagi Giok Teng Hujin maka diapun tertawa.

“Adik Kun gie!” katanya dengan lembut, “hayo cepat kembalikan kitab tim keng itu pada tempatnya semula!” “Kenapa?” tanya Pek Kun-gie dengan wajah tercengang. Kembali Chin Wan-hong tertawa.

“Dengan wajahmu yang cantik jelita ini kutanggung engkau masih bisa kawin dengan seorang pemuda tampan, bila kecantikan mu bertambah lipat ganda, lagi pula mana ada lelaki tampam dikolong langit ini yang pantas uutuk mendampingimu? Bukankah selama hidup jangan harrap bisa kawin lagi”

Pek Kun-gie bukanlah gadis yang bodoh, sejak permulaan tadi ia sudah dapat meresapi betapa gusar dan paniknya Hoa Thian-hong, apa lagi sekarang sesudah mendengar bahwa ucapan dari Chin Wan-hong itu mengadung arti lain, ia tak berani bertindak gegabah lagi, terpaksa kitab pusaka Tio li sim keng itu dikembalikan ketempatnya semula.

Setelah itu sambil tertawa cekikikan katanya, “Aaaai! Ini tidak cocok itu tidak jadi biarlah kupilih sembarangan saja!”

Habis berkata dia lantas membopong batu pipih terbuat dari batu kumala itu sambil tertawa cikikkan kembali ketempat semula.

Tindakannya ini sama sekali diluar dugaan Pek Siau-thian, ia jadi tertegun dan tidak habis, mengerti pikirnya, “Tolol amat budak ini, meskipun lohu adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, tak akan berani kududuki kursi singgasana yang berukiran kata-kata Maha raja dari dunia persilatan itu, apa gunanya kau ambil benda itu!”

Tentu saja ia tak akan tahu bahwa apa yang dipikirkan Pek Kun-gie bukanlah dirinya, gadis itu tak pernah melayangkan ingatannya untuk menukilkan kepentingan ayahnya. Semenjak ia melangkah masuk kedalam ruangan tadi, sorot matanya sudah tertuju pada tempat duduk pipih kumala itu, pikirnya dihati.

“Kalau aku tidak menikah itu lain soal, andaikata menikah maka kursi kebesaran itu merupakan barang tanda mata yang terbaik dariku akan kusuruh dia mencicipi bagaimana rasanya menjadi Maharaja dari dunia persilatan, otomatis akupun akan menjadi nyonya maharaja alias ratonya…. tentu nikmat rasanya”

Apa yang dipikir gadis itu tentu tak terpikirkan oleh Hoa Thian-hong, pemuda itu hanya merasa bahwa dengan susah payah akhirnya toh persoalan yang maha sulit itu dapat juga teratasi olehnya, maka diapun berpaling ke arah Kiu-im Kaucu.

“Dari pihak Sin-kie-pang sudah ada satu wakil yang maju” katanya, mengapa kaucu tidak maju juga untuk memilih satu macam benda sebagai tanda mata dari gerakan pencarian harta karun dibukit Kiu ci San ini?”

Kiu-im Kaucu tertawa.

“Bukannya aku sengaja bicara sombong atau tinggi hati, terus terang kukatakan bahwa benda yang ada disini tak sebuahpun yang menarik perhatianku!”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang.

“Aaai…. kaucu bermata emas, tentu pilihannya juga merupakan benda-benda yang tak ternilai harganya, aku sudah dapat memahami akan perasaan hatimu itu. Aaaai! Bila engkau ingin mendapatkan kitab pusaka yang jauh lebih hebat dari kitab Kiam keng, aku rasa hal ini merupakan suatu pekerjaan yang amat sulit!” Kiu-im Kaucu tertawa.

“Mari kita masuk dulu kedalam ruang obat-obatan, bila disanapun tak berjodoh, anggap saja takdir memang menghendaki demikian!” katanya.

Hoa Thian-hong pun tidak banyak bicara lagi, ia berpaling dan menyapu sekejap kawanan jago yang berada dihadapannya, kemudian menegur, “Apakah masih ada para enghiong dari perkumpulan Kiu-im-kauw yang ingin tampil kedepan untuk mengambil harta?”

Giok Teng Hujin segera tampil kemuka, ujarnya dengan lantang, “Harap cianpwe sekalian suka memberi maaf atas kelancangan Ku Ing-ing yang tak kenal adat, sebenarnya aku tak berani berhati tamak, tapi lantaran satu dan lain hal, terpaksa aku harus mendahului kalian semua!”

Tanpa sungkan-sungkan lagi ia maju kedepan dan mengambil kitab pusaka Tuo li sim keng tersebut.

Sebagian besar jago silat yang hadir di tempat itu mengetahui bahwa Giok Teng Hujin mempunyai hubungan yang luar biasa dengan Hoa Thian-hong, karena itu berada dalam keadaan dan saat seperti ini, Pek Siau-thian sendiripun segan untuk banyak bicara, tentu saja orang lain lebih-lebih tak berani banyak bicara apalagi kitab pusaka itu hanya berguna bagi kaum wanita.

Setelah menyimpan kitab pusaka tersebut kedalam sakunya, Giok Teng Hujin maju ke hadapan Kiu-im Kaucu lalu jatuhkan diri berlutut katanya dengan lirih, “Sudah lama Ing ing mendapatkan pendidikan serta kasih sayang dari kaucu, untuk semua budi kebaikan itu, selama ini terjadi suatu kericuan yang bikin kita jadi sama-sama tak enak, namun Ing ing tak berani untuk mendendamnya. Semoga dengan perpisahan ini kaucu suka menunjukkan kebesaran jiwanya serta melupakan diriku uniuk selamanya”

Hoa Thian-hong ikut memberi hormat, katanya. “Kaucu adalah seorang pemimpin dunia persilatan,

tentunya tak akan mempersulit seorang gadis bukan? Lagipula

bila kaucu suka melepaskan pergi maka akupun ikut merasa berhutang budi!”

Sinar mata Kiu-im Kaucu yang setajam sembilu berputar kian kemari menyapu wajah kedua orang itu, mendadak ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…. haaaahh…. haaaahh…. pergilah, semoga suatu ketika perkumpulan Kiu-im-kauw dapat menguasai kembali seluruh jagad, waktu itu bila kau sudah sadar kembali, maka pulanglah kepangkuan perkumpulanmu!”

“Terima kasih atas kebearan jiwa kaucu!” kata Giok Teng Hujin sambil bangkit berdiri kemudian dengan membawa Pui Che-giok berlalu dari tempat itu.

Sepeninggal ruangan itu, Giok Teng Hujin sama sekali tidak memandang sekejap pun ke arah Hoa Thian-hong, ia cuma memandang ke arah Chin Wan-hong seraya tertawa, ini membuat pemuda tersebut jadi melongo tercengang dan merasa tidak habis mengerti.

Dalam kasus peristiwa ini, Giok Teng Hujin adalah seorang gadis yang memiliki kekuatan untuk mempersona hati kaum pria, sebaliknya Hoa Thian-hong adalah pemuda yang berilmu tinggi sekalipun Kiu-im Kaucu tidak ingin melepaskan perempuan itu dengan begitu saja, toh akhirnya harus mengabulkannya juga, namun kegusaran yang berkobar dalam dadanya sukar dikendalikan lagi. Tiba-tiba ia berteriak keras, “Saudara sekalian, dihadapan mata kalian tersedia beratus-ratus jilid kitab pusaka ilmu silat yang dapat membuat tubuh kalian jadi kuat dan ilmu silat kalian jadi lihay, mengapa kalian tetap berdiam diri saja? Hayo majulah dan rampaslah kitab-kitab itu!”

Kiu-tok Sianci mendengus dingin, tiba-tiba ia berseru, “Lan hoa maju kesana dan ambil kembali kitab pusaka Pek tok keng milik kita!”

Semenjak tadi Lan-hoa Siancu sudah tak sabar menunggu, mendengar perintah itu dengan langkah lebar dia lantas maju kemuka dan ambil kembali kitab Pek tok keng milik perguruannya dari susunan rak buku itu.

Hoa Thian-hong diam-diam merasa cemas, tatkala dilihatnya suasana yang semula aman, tenang dan damai itu mendadak terancam oleh ledakan amarah dan sifat tamak manusia, cepat ia menjura kepada Yu ming tiancu seraya berkata, “Disebelah kiri sana terdapat kitab hiat im ceng ciat, sesuai sekali dengan perrguruan Kiu-im-kauw kalian, apa salahnya kalau tiancu pergi mengambilnya?”

Sebagaimana telah diceritakan diatas, Yu ming tiamcu dan Suma Tiang cing pernah melakukan pertempuran yang amat sengit bahhan saling mempertaruhkan jiwa raganya masing- masing oleh karena usia mereka hampir sebaya dan ilmu silatpun seimbang sejak peristiwa tersebut entah apa sebabnya dalam benak Yu ming tiancu selalu timbul bayangan tubuh dari Suma Tiang cing

Kejadian tersebut merupakan rahasia pribadinya yang paling besar tak pernah ia bocorkan kepada siapapun juga hanya karena perasaan itu maka tanpa disadari, timbulah pikiran dan ingatan untuk membantu pihak kaum pendekar. Sekarang ketika ia dengar seruan dari Hoa Thian-hong, setelah tertawa tanpa minta persetujuan dari kaucunya lagi ia maju kemuka dan mengambil kitab hiat im ceng ciat yang dimaksudkan.

Hoa Thian-hong berpaling pula kepada Pek Soh-gie, kembali ia berseru.

“Cici, dibarisan kedua rak paling bawah terdapat setengah jilid kitab Ci yu jit ciat, kitab itu sepantasnya diberikan kepada toako, pergi dan tolong ambilkan baginya!”

Padahal yang sebenarnya sedari tadi Pek Soh-gie sudah mendapat petunjuk dari ibunya untuk melaksanakan soal itu tapi oleh sebab belum mendapat giliran ia cuma panik dalam hati.

Sekarang setelah dipanggil namanya, sambil tersenyum dia lantas tampil kedepan setelah mengambil kembali setengah jilid kitab Ci yu jit ciat tersebut, dara itu kembali kesamping Bong pay.

Waktu itu sebenarnya Pek Siau-thian sedang mendongkol dan tak senang hati karena Hoa Thian-hong membaiki pihak Kiu-im-kauw, akan tetapi setelah kejadian ini perasaan hatinyapun merasa reda lebih baikan

Terdengar Hoa Thian-hong melanjutkan kembali seruannya, “Huan heng, kitab pusaka Poh ka kun boh berada di rak sebelah kanan dekat pintu, Konsun cianpwe, pedang it ci hui kian berada disudut ruangan dekat dinding kiri cianpwe.”

Tampaknya sebelum itu Hoa Thian-hong sudah menyelidiki baik-baik siapa saja ahli waris dari pemilik pemilik kitab lama yang hadir dalam penggalian tersebut, maka sekarang dengan lancar dan hafalnya satu per satu ia sebutkan nama ke tiga puluh satu orang itu untuk mengambil kembali barang-barang miliknya.

Selang sesaat kemudian, semua orang yang merasa pernah kehilangan bukunya karena dicuri atau dirampas oleh Kiu-ci Sinkun, kini sudah mendapatkan kembali barang miliknya.

Walau demikian, barang yang telah diterima oleh kawanan jago itupun baru seperempat dari jumlah buku yang terdapat didalam ruaagan itu, sisanya tiga perempat masih tetap berada ditempat semula.

Hoa Thian-hong lantas berpaling ke arah Thian Ik-cu dan Jin Hian, katanya, “Aku rasa kalianpun boleh segera maju untuk mengambil kitab yang kalian senangi!”

“Tunggu sebentar!” sela Pek Siau-thian.

Kontan saja Jin Hian melototkan sepasang matanya lebar- lebar, katanya dengan nada seram, “Hmm…. jangan dianggap sudah tiba giliranmu untuk unjukkan kegagahan disini!”

Pek Siau-thian tertawa dingin, katanya, “Hhmmm! Bila aku orang she Pek ingin ribut dengan kau pada saat ini, aku pikir kau pasti tak akan puas, mau berlagak pun akan ku tunggu sampai kau bangkit kembali kedunia persilatan!”

Setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh, “Mulai saat ini, setiap benda setiap barang yang ada dalam ruangan ini harus dibagi menjadi lima bagian, dan barang-barang itu akan diterima oleh masing-masing kelompok yang kemudian dibagi secara rata diantara anggotanya!” Hoa Thian-hong, Kiu-im Kaucu, Jin Hian serta Thian Ik-cu saling berpandangan sekejap, mereka merasa bahwa cara pembagian tersebut memang sangat adil, tidak akan menerbitkan pertentangan ataupun pertikaia, maka siapapun tak suka banyak bicara lagi.

Tiba-tiba Kho Hong-bwee berkata sambil tertawa nyaring, “Thian bong, pekerjaan ini memang agak menyusahkan dirimu, tapi aku rasa sangat adil dan bijaksana, aturlah pembagian ini seadil adilnya!”

“Boanpwe turut perintah!” sahut Hoa Thian-hong sambil menjura.

Dia lantas maju kedepan dan katanya dengan lantang, “Saudara-saudara sekalian, tentunya kalian tahu bukan bahwa aku masih punya janji dengan pihak Seng sut pay? Maka aku minta, seandainya diantara kalian ada yang mendapatkan barang milik mereka, harus segera ditukarkan kepadaku!”

“Thian-hong….!” mendadak dari luar pintu kembali terdengar seseorang memanggil.

Hoa Thian-hong menengadah, ia lihat Cu Im taysu dengan membawa seorang hwesio sedang berjalan masuk kedalam ruangan itu, ia pernah berjumpa dengan padri itu karena dia bukan lain adalah It biau hwesio yang pernah ditemuinya diluar kota Lok yang ketika berunding dengan Huang-san su lo tempo hari.

Terdengar Cu Im tayau berkata, “It biau suheng tidak terhitung seorang manusia persilatan, dia hanya ingin mengembangkan ajaran Buddba didunia ini, oleh karena didengarnya bahwa dalam istana Kiu ci kiong tersimpan setumpuk kitab Buddha, sengaja ia datang kemari untuk mencari derma, semoga saudara sekalian sudilah kiranya memenuhi apa yang dia harapkan!”

“Ucapan itu memang benar, banyak pelajaran kitab Buddha yang tersimpan disini.”

“It biau suhu! Silahkan masuk” kata Hoa Thian-hong.

Dengan kepala tertunduk, It biau hwesio masuk kedalam ruangan mengikuti dibelakang Cu Im taysu, kedua orang inipun lantas berdiri disisi pintu gerbang.

Mendadak salah satu anggota Hong im bwe berseru dengan suara dingin.

“Hmm…. hwesio ini tidak punya kepandaian apa-apa, tapi datang-datang lantas mencari untung, sialan…. siapa yang kesudian memberi bagian kepadanya!”

Walaupun perkataan itu sangat lirih tapi cukup tajam dan pedas dalam pendengaran.

Seketika itu juga paras muka Cu Im taysu berubah jadi merah padam seperti kepiting rebus, cepat-cepat katanya.

“Sebenarnya It biau suheng juga ingin datang kemari untuk menyumbangkan tenaganya, tapi karena ia tak pandai silat maka perjalanannya dilakukan lambat sekali. Aaaii Sayang aku sendiripun tak pernah menyumbangkan tenagaku, kalau tidak niscaya bagianku akan kuserahkan kepadanya!”

“Aku akan menyumbangkan bagian untuk It biau suhu!” cepat Hoa Thian-hong berseru dengan lantang, “asalkan kalian mendapatkan kitab ajaran Budha, silahkan di serahkan kepadaku untuk ditukar dengan kitab pusaka ilmu silat!” Tidak menunggu tanggapan dari orang lain lagi ia lantas maju kedepan dan mulai membagi kitab.

Tangannya yang satu mengambil kitab dari deretan rak buku sementara tangannya yang lain memindahkan kitab tersebut keatas tanah dan dibagi rata jadi lima tumpuk, semua Kitab ajaran Buddha dan ajaran agama To semuanya diambil atas nama pribadinya.

Buku yang tersimpan dalam ruang batu itu memang banyak tapi tak bisa menandingi kelincahan Hoa Thian-hong, dalam setengah jam pembagian kitab silat telah selesai.

Pada saat ini siapapun tidak sungkan-sungkan lagi, masing- masing pibak segera mengu tus orsng untuk maju dan membungkus kitab-kitab bagiannya dengan kain kemudian mengutus pula jago lihaynya untuk membawa kitab itu serta menyusun pasukan penjaga untuk melindungi kitab-kitab tersebut.

Haruslah diketahui, walaupun kitab-kitab pusaka itu sama sekali tak dipandang sebelah matapun oleh Hoa Thian-hong serta Kiu-im Kaucu, akan tetapi dikolong langit dewasa itu tidak ada dua tiga orang yang memiliki ilmu silat selihay Hoa Thian-hong serta Kiu-im Kaucu, maka bisa dibayangkan betapa penting dan berharganya kitab kitab ilmu silat itu bagi mereka.

Hoa Thian-hong dengan membawa setumpuk kitab ajaran Budha menghampiri dihadapan It biau hwesio, sambil mengangsurkan kitab tersebut, katanya dengan lembut.

“Toa suhu, disini terdapat dua puluh tujuh jilid kitab ajaran Buddha, mungkin semuanya terdiri dari sembilan puluh buku, harap kau terima dengan senang hati, aku rasa kalau toh kitab itu disimpan Kiu-ci Sinkun ditempat ini, tentu tak ternilai harganya!”

Cepat It biau hwesio merangkap tangannya memberi hormat.

“Semoga amal dan bakti siau sicu dapat di berkahi dan dilindungi oleh Budha maha pengasih.”

Sesudah terhenti sebentar, tambahnya lagi.

“Cukup dengan sejilid kitab Tay pe sim huo lo ni keng nilainya sukar dilukiskan dengan kata-kata, amal bakti siau sicu benar-benar mengharukan hatiku”

Ia lantas meroioh sakunya dan ambil keluar sebuah karung kain.

Hoa Thian-hong pun masukan setumpuk kitab tersebut kedalam karung tadi, kemudian dengan membawa setumpuk buku ajaran-ajaran agama To, ia menghampiri Kho Hong- bwee.

Melihat perbuatan si anak muda itu Kho Hong-bwee tertawa terbahak bahak, katanya, “Pay ji serta Soh-gie masih membutuhkan perawatanku, aku sedang mempertimbangkan untuk melepaskan jubah pendeta ini, baiklah kuterima dulu kitab ini dan dibicarakan lagi dikemudian hari!”

Tio Sam-koh maju kemuka sambil membuka kantung kain yang dibawanya ia berseru, “Hayolah, sekarang tiba giliranku untuk menerima bagian!”

Melihat itu Hoa Thian-hong hanya bisa tertawa paksa, katanya, “Popo, banyak orang telah menolong serta membantu aku dalam mengerjakan penggalian ini, pepatah mengatakan: manusia mati lantaran harta, burung mati karena makanan, bagi orang yang belajar silat maka benda itulah yang paling mereka sukai.

Tio Sama koh segera melototkan sepasang matanya bulat- bulat, ia berkata dengan lantang.

Sekalipun harus dibagi, akulah yang akan membagi kitab- kitab ini kepada mereka, selain haarus kuperhatikan cara kerja mereka akan kuselidiki pula tabiat dan tindak tanduknya, aku tak akan berikan kitab ini semaunya sendiri.

Hoa Thian-hong dibuat apa boleh buat, terpaksa semua kitab pusaka ilmu silat bagiannya dimasukkan kedalam karung goni milik Tio Sam-koh.

Tio Ceng tang segera menunjukkan muka cemas dan gelisah, sikapnya sangat tidak tenang.

Chin Wan-hong yang melihat itu cepat berseru dengan suara keras.

“Tio locianpwe, ilmu silatmu toh sudah mencapai puncak kesempurnaan, sukar untuk mencari tandingan didunia ini apa gunanya kau mengangkangi semua kitab pusaka itu.”

“Hmm! Aku tak parnah bertarung diatas panggung Lui tay, siapa bilang ilmu silatku sudah tiada tandingannya lagi?” Tio Sam-koh menjengek dengan dingin.

Sebelum gadis itu memberi tanggapan lagi, Kiu-im Kaucu telah membuka pintu dari ruang obat obatan, maka semua orangpun lantas mengikuti masuk kedalam ruangan itu.

Begitulah, selanjutnya semua orang membagi obat-obatan, membagi alat senjata, membagi barang antik, lukisan kenamaan dan akhirnya membagi intan permata serta mutu manikam, sampai senja hari kedua, pembagian tersebut baru selesai.

Orang-orang dari pihak Hong-im-hwie dan Thong-thian- kauw kuatir barang mustika mereka dibegal orang begitu pembagian harta telah selesai, cepat-cepat mereka kabur dari situ dan lenyap entah kemana.

Menyusul kemudian orang-orang dari Kiu-im-kauw berlalu dari sana, akhirnya pihak Sin-kie-pang baru menyusul.

Sebelum masuk kedalam istana harta karun itu, baik Kiu-im Kaucu maupun Pek Siau-thian mempunyai niat untuk merampok dan mengangkangi barang pusaka itu, tapi kemudian setelah dilihatnya bahwa diantara kitab pusaka itu tidak terdapat sejilid kitabpun yang bisa melatih ilmu silat mereka sehingga dapat mengalahkan Hoa Thian-hong, diam- diam mereka merasa murung dan tak tenang hati.

Apa mau dikata, harta karun yang berada dalam bukit Kiu ci san memang tak terhitung jumlahnya, sebelum mereka berangkat pulang, mereka lihat bagian dari perkumpulannya begitu banyak dan berlimpah sedikit banyak rasa kecewa merekapun sedikit terobati dimana kemudian perasaan hati merekapun lebih terbuka.

Pada akhirnya mereka sama sekali tidak punya ingatan untuk mengalahkan Hoa Thian-hong lagi.

Setelah rombongan itu berangkat semua, Hoa Thian-hong serta Tio Sam-koh pun ikut bubaran.

Tio Ceng tang dengan mengandalkan hubungan famili serta selembar mulutnya yang pandai merayu, tak sampai satu hari ia telah berhasil menipu Tio Lo tay ini jadi pusing tujuh keliling, bukan saja akhirnya nenek itu tidak berhasil mendapatkan apa-apa, kitab pusaka yang semula berada dalam karungnya pun habis dibagikan kepada kawan kawan jago tak berkelompok yang telah membantu dalam usaha penggali an tersebut.

Rombongan dari Hoa Thian-hong adalah rombongan terakhir yang meninggalkan tempat itu, setiap orang pulang dengan tangan kosong, kecuali senjata masing-masing, boleh dibilang siapapun tidak membawa hasil apa-apa.

Ditengah jalan Tio Sam-koh merasa mendongkol bercampur menyesal, akhirnya saking penasarannya ia mengisi karung goninya dengan batu batu cadas yang amat bessar, kemudian meneruskan perjalanan dengan memanggul batu-batu itu.

Hoa Thian-hong hendak mewakili untuk menggotong karung tersebut, tapi sampai matipun nenek itu tak sudi melepaskan panggulannya.

Sepanjang jalan, tiba-tiba Chin Wan-hong mulai mengeluh, ia mengatakan terlalu sayang kalau batu pipih kumala hijau itu di dapatkan Pek Kun-gie, sepantasnya kalau kursi kebesaran itu didapatkan oleh Hoa Thian-hong, sebab dialah yang memimpin operasi ini.

Semua orang merasa keluhan tersebut ada benarnya juga, mereka lantas mengusulkan untuk mengejar orang-orang dari Sin-kie-pang dan merampas kembali kursi kebesaran itu, tapi dicegah oleh Hoa Thian-hong.

Menyesal kemudian Chin Wan-hong berkata lagi, bahwa kursi kebesaran tersebut kalau didapatkan dengan cara merampas pasti akan kehilangan nilainya, lebih baik lagi kalau orang lain yang mempersembahkan kursi kebesaran itu kepada mereka.

Maka para jago itupun sibuk putar otak memeras pikiran untuk mencari akal serta memaksa orang Sin-kie-pang untuk menyerahkan kursi kebesaran itu secara sukarela.

Tatkala semua orang sudah bingung tujuh keliling dan tak menemukan jalan keluar, Chin Wan-hong yang cerdik segera mengusulkan kembali untuk meminang Pek Kun-gie dan dijodohkan kepada Hoa Thian-hong, dengan perkawinan itu niscaya kursi kebesaran tersebut akan diboyong kembali kepihak para pendekar kaum lurus.

Biau-nia Sam-sian menolak tegas-tegas usul tersebut, Kiu- tok Sianci pun menyatakan tidak setuju, tapi Chin Wan hong sudah terlalu terpesona oleh kursi kebesaran itu, sepanjang jalan dia ribut terus, malahan setelah berpisabpun dia ngotot terus.

Ketika Hoa Thian-hong berangkat keutara untuk menemui ibunya, Chin Wan-hong meninggalkan suaminya dan ikut gurunya pulang ke wilayah Biau, entah kemudian dengan cara apa, akhirnya jalan yang buntu ini berhasil ditembusi olehnya.

Tahun berikutnya Bong Pay dan Pek Soh-gie secara resmi menikah, kemudian bulan empat tanggal enam belas berikutnya Pek Kun-gie juga keluar rumah.

Apa yang diduga semula memang tidak melesat, beserta kursi kebesarannya kumala hijau itu ia diboyong kembali ke san see.

Setelah menikah dengan Pek Kun-gie, Hoa Thian-hong masih saja tak berani untuk menduduki kursi kebesaran itu walaupun akhirnya ia duduk juga diatas kursi kebesaran itu sejenak, itupun karena Chin Wan-hong dan Pek Kun-gie yang menarik tangannya dan memaksa ia untuk menduduki tempat tersebut.

Semua harta karun yang berada dalam istana Kiu ci kiong telah diangkut hingga ludes yang tersisa, tinggal pintu dan ruang batu yang kosong melompong, tak lama setelah Hoa Thian-hong sekalian berlalu dari sana, dari balik batu-batu cadas muncullah Kok See-piauw.

Dengan langkah yang gontai, paras muka yang pucat, Kok See-piauw menerjang masuk keruang penyimpannn kitab tapi ketika ditemuinya ruangan tersebut telah kosong melompong tak ada isinya ia jadi amat sedih, sambil memukul dadanya sendiri menangislah pemuda itu sejadi jadinya.

Tiga hari tiga malam Kok See-piauw menangis terisak dengan sedihnya ditempat itu, sungguh tak nyana justru karena isak tangisnya itulah dia malahan berhasil menemukan suatu penemuan yang sama sekali diluar dugaan.

Sebagaimana telah diketahui, Kiu-ci Sinkun adalah seorang manusia yang mempelajari kembali semua jurus silatnya, setiap hari ia melatih diri dan berhasil ia ciptakan serangkaian ilmu telapak dan serangkaian Sim hoat tenaga dalam yang maha dahsyat.

Semua hasil penemuan itu ditambah pula pengetahuannya tentang pelbagai macam ilmu silat telah ia catat dalam sejilid kitab yang bernama kitab pusaka KIU CI CIN KENG.

Kitab Kiu ci cin keng itu disimpan dalam balik dinding ruang penyimpan kitab tersebut, oleh karena terlalu banyak harta pusaka yang berada dalam istana tersebut, tak pernah terpikir oleh Hoa Thian-hong untuk melakukan pencarian jauh lebih kedalam. Dan akhirnya kitab pusaka Kiu ci cin keng yang maha sakti dan maha luar biasa itu berhasil didapatkan oleh Kok See- piauw.

Akan tetapi, menanti Kok See-piauw telah berhasil menguasai isi pelajaran dari kitab Kiu ci cin keng kemudian muncul kembali dalam dunia persilatan dengan gelar Kiu-ci Sinkun, banyak tahun sudah lewat tanpa terasa.

Pada waktu itu putra Hoa Thian-hong yang dilahirkan Pek Kun-gie telah seringkali melakukan keonaran dalam dunia persilatan.

Sampai dimanakah kehebatan dari bocah itu, sampai di mana tampannya anak itu dan betapa romatisnya putra Hoa Thian-hong dengan Pek Kun-gie ini sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Bila anda ingin mengetahui bagaimana kelihayan dan keromantisan sang bocah yang hebat itu, serta bagaimana caranya Kok See-piauw yang muncul dengan gelar Kiu-ci Sinkun melaksanakan pembalasan dendamnya, silahkan membaca cerita silat lanjutan dari kisah ini dengan judulnya yang baru,

TAMAT