Tiga Maha Besar Jilid 28

 
Jilid 28

Po-yang Lojin mengangguk, selanjutnya ia teruskan lagi ceritanya, “Sudah tentu pukulan sakti Huan Teng tak pandang sebelah mata pun atas diri Kiu-ci Sinkun, apalagi berada dihadapan kawanan jago persilatan yang ada dikolong langit, ia lebih-lebih tak ingin kehilangan pamornya, sambil menahan rasa gusar dan mendongkolnya ia cuma mengangguk tiada hentinya sambil menjawab, ‘Bagus….! Bagus….’

Menunggu ia telah selesaikan perkataannya, Huan Teng segera terjun kedalam gelanggang dan terjadilah suatu penarungan sengit di tanah lapang, berlatih silat keluarga Kong sun semua pertarungan dilangsungkan dengan menurut peraturan dunia persilatan.”

Berbicara sampai disini, tak tahan lagi ia menghela napas panjang, katanya lebih jauh, “Aaai, tahun itu Huan Teng sudah berusia enam puluh tahun, ilmu Po kia kun boh tersebut sudah dipelajari selama empat puluh tahun lamanya, sedangkan Kiu-ci Sinkun masih muda dan ilmu pukulan sakti itu pun baru dipelajari dua tahun, apa yang kemudian terjadi? Ternyata kepandaian mereka berdua seimbang alias setali tiga uang, sekalipun sudah bertempur selama liga ratus gebrakan, ternyata menang kalah masih belum dapat ditentukan” “Sesuai dengan namanya yakni Po-kia Sinkun (pukulan sakti penjebol tameng) aku rasa ilmu tersebut semestinya adalah sejenis ilmu pukulan keras yang mengandalkan tenaga gwa kang,” kata Suma Tiang-cing keheranan. “Padahal Huan Teng sudah berlatih selama empat puluh tahun lamanya dengan tekun, semestinya ia lebih tangguh baik dalam kekuatan maupun kematangan, kenapa dia tak mampu menangkan seorang angkatan muda?”

Jawabannya sederhana sekali, sebabnya Kiu-ci Sinkun adalah seorang manusia yang sangat berbakat dalam berlatih ilmu silat, terhadap soal ilmu silat, dia memiliki daya ingat yang luar biasa, selain itu kalau orang lain tiap hati cuma berlatih satu dua jam, maka dalam benaknya kecuali ilmu silat boleh dibilang tak ada pikiran lain yang berkecamuk dalam benaknya, seolah-olah, kecuali makan dan tidur dia selalu menyibukkan diri dengan berlatih ilmu silat, oleh sebab itulah bila dia berlatih satu tahun, sama halnya dengan orang lain berlatih selama lima enam tahun, ditambah pula dengan bakatnya yang bagus serta kecerdasan yang melebihi orang lain, maka satu tahun dia berlatih sama halnya dengan orang lain berlatih melama sepuluh dua puluh tahun lamanya.

Dia menarik nafas panjang-panjang, kemudian lanjutnya, “Dalam pertarungan tersebut, Huan Tong menang karena tenaga dalamnya jauh lebih sempurna, sebaliknya Kiu-ci Sinkun lebih dapat meresapi makna serta inti sari dari ilmu Po- kia Sinkun tersebut, seringkali dia bisa mengeluarkan jurus baru hasil ciptaannya sendiri, kadangkala diapun mengandaikan kelincahan serta kegesitannya untuk mengatasi keampuhan tenaga pukulan lawan, oleh sebab itulah walaupun sepanjang pertarungan itu berlangsung, seringkali dia menghadapi mara bahaya, tapi toh Kiu-ci Sinkun berhasil mempertahankan diri sehingga tidak sampai menderita kekalahan” “Pertarungan itu tidak dibatasi sampai berapa jurus sampai akhirnya toh pasti ada yang kalah atau menang bukan?” tanya Suma Tiang-cing lagi.

Setelah bertarung sampai dua ratus tiga puluh jurus, tiba- tiba Kiu-ci Sinkun menunjukkan kelihayannya, secara beruntun dia melakukan beberapa gerakan yang keliru untuk menipu musuhnya masuk perangkap, kemudian suatu ketika tinjunya langsung disodok kemuka menghajar bahu Huan Teng, mungkin karena terlalu banyak tenaga yang diperlukan untuk mainkan pukulan sakti Po-kia Sinkunnya juga karena usia Huan Teng sudah menanjak sehingga kekuatannya jadi lemah, setelah bertarung lama tanpa hasil, kegusaran yang membakar dada Huan Teng makin membara karena gusar, kekuatannya tak dapat menghimpun dan kelemahan inilah yang telah dimanfaatkan oleh Kiu-ci Sinkun.

“Waah, akhir dari pertarungan itu pastilah diluar dugaan siapapun juga” kata Hoa Thian-hong, entah bagaimana selanjutnya?”

“Sewaktu Kiu-ci Sinkun berlatih ilmu Po-kia Sinkun tersebut, semua pikiran dan ingatannya dipusatkan pada soal keampuhan jurus, dengan sendirinya tiada kekuatan yang dia miliki, dengan mengandalkan kekuatan tenaganya sebagai seorang pemuda, secara dipaksakan dia dapat bertahan sebanyak dua ratus gebrakan lebih, waktu itu tenaganya sudah hampir habis digunakan, karena itu sekalipun pukulannya berhasil menghajar bahu Huan Teng, namun pukul an itu sama sekali tak bertenaga bukan saja tidak terasa malahan Kiu-ci Sinkun sendiri yang terpukul sampai mundur beberapa langkah kebelakang, begitu pertarungan terhenti pemuda itu tak mampu melanjutkan pertarungannya lagi tapi hasil yang dicapainya telah menggemparkan seluruh ruangan, sebagian besar kawanan jago persilatan itu merasa kaget dan terkesiap oleh kejadian tersebut….”

“Menurut peraturan dunia persilatan, pertarungan ini telah dimenangkan Kiu-ci Sinkun, masa dihadapan umum Huan Teng tak mau mengakui kekalahannya?” kata Suma Tiang- cing.

“Pada waktu itu Huan Teng berdiri tertegun ditengah gelanggang tanpa bisa berbuat apa-apa, sedangkan Kiu-ci Sinkun sendiri sudah bura-buru meninggalkan salinan kitab ilmu silat itu, dia hanya berseru, “sampai jumpa tiga tahun lagi!” dengan gerakan cepat dia kabur dari tempat kejadian, meskipun banyak jago persilatan yang merasa tidak puas dengan kejadian itu, tapi dalam keadaan serba kalut semua orang tak tahu apa yang musti dilakukan, menanti mereka sadar kembali dari lamunannya, Kiu-ci Sinkun sudah lenyap tak berbekas.

“Haaah…. haaah…. haah kitab pusaka salinan itu sudah ditinggalkan, lagipula ada janji untuk bertemu tiga tahun lagi, tentu saja orang lain merasa tak enak hati untuk turut campur dalam urusan itu, Waah-Kiu-ci Sinkun memang cukup licik dan cerdik!” seru Cu Im Taysu sambil tertawa tergelak,

Po-yang Lojin tersenyum, ujarnya, “Urusan pun dianggap sudah berlalu dengan begitu saja, semua orang lantas bubar dan kembali kerumah masing-masing. Pukulan sakti Huan Teng sendiri melakukan penggeledahan selama beberapa jam dikota Kay hong, tapi jejak dari Kiu-ci Sinkun bagaikan ditelan keperut bumi saja, sama sekali tidak berhasil ditemukan lagi, dengan putus asa bercampur kecewa terpaksa ia harus pulang kerumah untuk berlatih tekun ilmu silatnya, ia bersiap-siap untuk membunuh Kiu-ci Sinkun dalam pertarungannya tiga tahun mendatang, siapa tahu beberapa bulan kemudian dirumah Kong sun Tong telah terjadi keonaran!” “Apakah kitab pusaka ilmu silatnya juga dicuri orang?” tanya Hoa Thian-hong.

Suma Tiang-cing segera menyela, “Setelah Huan Tong mengalami nasib yang tragis, aku percaya Kong sun Tong pasti bertindak lebih waspada lagi, terutama terhadap kitab pusaka ilmu pedangnya itu, ia tentu menyembunyikan secara sempurna. Kendatipun Kiu-ci Sinkun memiliki daya kemampuan untuk menyusup kerumah lawan dan membongkar almari orang lain, belum tentu ia dapat menemukan kitab sekecil itu!”

Po-yang Lojin tertawa, ceritanya lagi.

“Suatu hari, baru saja Kongsun Tong pulang dari bepergian, tiba tiba temukan secarik keras diatas meja tulisnya ketika di baca ternyata surat dari Kiu-ci Sinkun, dalam surat tersebut ia mencaci maki Kongsun Tong karena berkhianat, oleh sebab itu menggunakan kesempatan sewaktu ia pergi, kitab pusakanya dicuri, bahkan berjanji pula pada tiga tahun mendatang dengan jurus It cia cian li (sekali melesat seribu li) dia akan memahtahkan jurus It nia ban nia (sekali ingat selaksa tahun) kemudian dengan jurus It ki ho seng (sekali jadi berurutan) akan memaksa Kongsun Tong menggunakan It heng sam mey (Satu deret tiga bencana) menyusul mana dengan jurus It thio it si (kadangkala tegang kadangkala kendor) dia akan menghadiahkan sebuah babatan tajam diatas dada kanan kongsun Tong, tapi ia menyatakan pula bahwa jiwa Kongsun Tong tak akan dicabut agar bisa melakukan pertarungan ulangan pada tiga tahun berikutnya.

“Masa orang ini berisi benar–benar mempunyai kepandaian sehebat itu sehingga kitab pusaka milik Kongsun Tong juga ikut dicuri?” tanya Suma Tiang-cing dengan dahi berkerut. Po-yang Lojin tidak menjawab pertanyaan itu, tapi melanjutkan kembali, “Setelah membaca surat tersebut Kongsun Tong mengerutkan dahinya, memang ilmu pedang It ci kui kiam miliknya memakai kata It semua pada permulaan katanya, seperti It sia cian li, It nian ban nia, It ki ho seng, It heng sam mey serta It thio it si semuanya merupakan nama- nama jurus pedang. Ia merasa kitab tersebut tak mungkin bisa dicuri, mungkin semua nama itu dilihat olehnya tatkala kitab pusaka tersebut diperlihatkan kepada Kiu-ci Sinkun tempo hari. Dia merasa kitab itu sudah disimpan sangat rahasia yang tak mungkin bisa dicuri bocah itu, maka dianggapnya surat tersebut sebagai suatu ejekan belaka, ia tidak memperhatikan secara serius!”

“Tapi….” setelah berhenti sebentar, Po-yang Lojin melanjutkan kembali kata-katanya, “Kongsun Tong merasa bahwa kelima jurus serangan yang ditulis Kiu-ci Sinkun tentu punya maksud tertentu, tanpa terasa dia mulai membayangkan secara diam-diam. Masih mendingan kalau tidak dibayangkan, begitu dipikirkan kontan paras mukanya berubah hebat, ia merasa dada kanannya seolah-olah betul- betul ditusuk orang dengan pedang, buru-buru dia masuk kekamar tidurnya, menyingkirkan rak bukunya, menekan tombol dan terbukalah sebuah ruang rahasia diatas dinding, ketika Kongsun Tong menekan tombol rahasia yang lain, pintu besi itu membuka secara otomatis…. apa yang kemudian dia lihat? Kitab ilmu pedang itu masih tersimpan baik-baik dalam ruang rahasia, bahkan tak pernah disentuh orang.

“Waah,kalau begitu maksud Kiu-ci Sinkun meninggalkan suratnya itu tak lain hanya bermaksud mengejek lawannya belaka? kata Cu Im taysu.

“Perkataan tasyu memang ada benarnya cuma tidak tepat keseluruhannya. Ternyata Kiu-ci Sinkun memiliki kecerdikan yang luar biasa, meskipun kitab pusaka itu hanya dilihat sepintas lalu, tapi dia dapat menghapalkan nama-nama dari jurus serangan itu, tampaknya Kiu-ci Sinkun memang berhasrat besar untuk mencuri kitab pusakanya itu. Walaupun begitu diapun tahu betapa liciknya Kongsun Tong, kitab pusaka itu pasti disembunyikan disuatu tempat yang sangat rahasia dan tak mungkin bisa ditemukan orang lain, malahan mungkin jaga kitab itu selalu digembol dalam sakunya.

Berbicara sampat di sini, Po-yang Lojin menghela napas panjang.

“Aaii! Kesabaran dari Kiu-ci Sinkun memang luar biasa sekali, baik siang ataupun malam, tiap hari berjaga-jaga terus didalam rumah Kongsun Tong, ia tidak pernah bersembunyi terlalu dekat, terutama sekali di kala Kongsun Tong sedang berlatih ilmu pedangnya, ia lantas mencuri lihat dari kejauhan dan kemudian dicocokkan dengan nama-nama dari jurus serangan yang dia ingat, begitulah…. setelah mencuri lihat selama beberapa bulan dan berhasil meraba jalannya permainan pedang orang itu, ia mulai melaksanakan siasat melemparkan baru bertanya jalan.”

“Siasat melempar batu bertanya jalan??” tanya Hoa Thian- hong dengan wajah tercengang.

Benar! Oleh karena dia tak tahu dimanakah Kongsun Tong menyimpan kitab pusaka ilmu silatnya, maka setelah meninggalkan surat, dia sendiri bersembunyi diatas atap sambil mengintip terus kebawah, setelah diketahui olehnya letak rahasia dari alat rahasia tersebut, diam-diam dia baru berlalu dari situ.

“Kenapa musti begitu?” tanya Hoa Thian-hong tercengang, rupanya ia merasa keheranan oleh kenyataan tersebut. “Kongsun Tong adalah seorang manusia yang cerdik dan banyak akal muslihatnya, setelah diketahui bahwa kitab pusakanya tetap berada ditempat semula, dia lantas dapat menebak maksud hati lawannya, waktu itu diapun tidak menunjukkan sesuatu reaksi, setelah almari rahasianya dikembalikan pada letak semula dan kitab pusaka itupun disimpan ditempat semula, dia lantas berlalu seperti tidak pernah terjadi sesuatu apa pun.”

“Tapi malamnya, ia melakukan penggeledahan yang teliti di setiap sudut rumahnya, setelah yakin benar kalau disekttar tempat itu tak ada musuh yang bersembunyi, sekali lagi dia buka almari rahasianya dan ambil keluar kitab yang asli, sedangkan kitab tiruan diletakkan sebagai gantinya sedang kitab yang asli di gembol dalam saku. Sejak itulah dia selalu memasang jebakan dan perangkap untuk membekuk pencuri, kadangkala diapun pergi sambil membawa pedang, sekitar wilayah diperiksa dengan teliti apakah ada jejak Kiu-ci Sinkun atau tidak, apa mau dikata ternyata jejak Kiu-ci Sinkun tak ditemukan lagi. Kiranya waktu itu dia sudah berada di wilayah Kanglam dan menjadi muridnya Biau-hua Tojin seorang tosu keji yang berdiam dibukit Mo san!”

“Waah….! Orang ini memang menarik sekali,” kata Cu Im taysu sambil tertawa, “apakah dikarenakan merasa tak mampu menangkan Kongsun Tong maka dia lepaskan mangsanya itu?”

“Hmm! Cerita menarik masih belum dimulai! Dengan kecerdasan serta bakatnya itulah ia belajar giat sekali dibawah pimpinan Biau-hua Tojin, hampir semua ilmunya diturunkan kepadanya, apalagi ketika Biau-hua merasa ada kecocokan dalam watak maupun pembawaan, ia merasa lebih menyayangi muridnya ini, malahan Kiu-ci Sinkun dianggap sebagai murid kepercayaannya dan semua ilmu rahasia yang tak pernah diwariskan kepada orang lain diturunkan semua kepada muridnya yang satu ini.”

“Kiu-ci Sinkun ternyata memang tidak mengecewakan gurunya, cuma dalam dua tahun semua kepandaian yang diwariskan Biau-hua Tojin telah dikuasai semua, ketika tiada kepandaian baru yang bisa dipelajari lagi, ia mulai tertegun dan tidak kerasan, suatu ketika dikala ada kesempatan yang baik baginya, maka kaburlah dia dari atas gunung, bahkan sambil menyelam minum air, ia sekalian mencuri pula semua kitab ilmu pedang, ilmu pukulan, ilmu menangkap setan, ilmu pertabiban dan ilmu jampi-jampi milik imam itu!”

Terbahak-bahak Hoa Thian-hong sesudah mendengar cerita itu, serunya cepat, “Waah…. kepandaiannya sudah dikuras habis, sekarang dia kuras pula semua harta milik gurunya, orang ini memang luar biasa hebatnya!”

“Engkau pernah melihat orang yang suka akan benda- benda antik?” tiba-tiba Po-yang Lojin bertanya.

Hoa Thian-hong menggeleng.

“Belum pernah, tapi boanpwee tahu pasti ada manusia macam itu didunia ini!”

“Bagi Kiu-ci Sinkun, kitab-kitab pusaka, ilmu silat adalah barang antik, bagi orang yang gemar barang antik, sering kali dia mengumpulkan kitab-kitab curiannya itu dan dibaca berulang kali malahan kemudian sekalipun ilmu silat yang dimiliki Kiu-ci Sinkun sudah amat lihay, tapi setiap kali dia mendengar kalau disuatu tempat mempunyai kitab pusaka, maka sekalipun harus menempuh jarak beribu-ribu li, dia tetap mendatangi tempat itu, gagal diminta secara terang-terangan maka dicurinya dengan cara apapun. Kiu-ci Sinkun pada waktu ia sudah mendekati orang yang demam silat “Bagaimana keadaan Biau-hua Tojin selelah mengetahui murid kesayangannya kabur sambil membawa lari kitab kitab pusakanya?” tanya Suma Tiang-cing sambil tertawa geli.

“Apalagi? Tentu saja dikejar dan dicari ubek-ubekan!” “Berhasil ditangkap atau tidak?” tanya Hoa Thian-hong

dengan perasaan ingin tahu.

“Kalau berhasil ditangkap, tak mungkin dia mencarinya sampai ubek-ubekan….!”

Cu Im taysu tertewa tergelak, serunya cepat, “Locinpwe, lanjutkan ceritamu, aku duga Kongsun Tong pasti menderita kerugian besar!”

Memang begitulah, kurang lebih dua tahun kemudian, waktu itu Kongsun Tong sudah hampir melupakan peristiwa masa lalu, apalagi ia merasa kurang leluasa untuk membawa kitab pusakanya kemana-mana, maka kitab pusaka itu ditaruh kembali ke tempatnya semula, sementara itu Kiu-ci Sinkun yang berhasil kabur dari bukit Mo-san langsung menuju ke kota Kay-hong, setelah dua tahun belajar ilmu dari Biau-hua loto bukan saja ilmu silatnya memperoleh banyak kemajuan, segala ilmu setanpun banyak yang dia kuasai, pagi itu dia lihat Kongsun Tong pergi jalan-jalan sambil membawa sangkar burungnya, menanti Biau-hua Tojin dan Kongsun Tong melakukan pencarian besar-besaran keseluruh dunia persilatan, waktu itu Kiu-ci Sinkun sudah kabur puluhan laksa li jauhnya dan bersembunyi diatas bukit Heng an nia untuk melatih ilmu pedangnya!”

ooooOoooo 83 Po-yang Lojin tarik napas panjang-panjang, kembali meneguk air teh untuk membasahi kerongkongannya, tiba-tiba ia berkata.

Orang ini memang lihay dan sepanjang hidupnya sudah banyak pengalaman aneh yang dialaminya, Jite!. Kau teruskan ceritanya, aku sudah capai ngomong terus, tapi ceritanya harus sederhana tapi jelas bagi pendengarnya,”

Baru-buru kakek she Li itu berpikir sebentar untuk mengumpulkan kembali daya ingatnya. setelah itu baru tuturnya.

“Setahun kemudian, tiba-tiba Kiu-ci Sinkun berkunjung kerumah kediaman Huan Teng untuk memenuhi janji tiga tahunnya, ketika itu Biau-hua loto dan Kongsun Tong telah berjaga-jaga disekitar rumah keluarga Huan, ketika Kiu-ci Sinkun munculkan diri, mereka bertiga segera mengepungnya rapat-rapat dan kalau bisa ingin sekali mereka cabik-cabik musuhnya jadi beberapa bagian….!”

“Tapi Kiu-ci Sinkun tetap tenang-tenang saja, sebagaimana caranya yang lama, barang siapa ingin mendapatkan kembali kitabnya yang hilang, dia harus bisa dikalahkan kalau tidak maka tuntutannya itu harus diulangi kembali sampai tiga tahun berikutnya, tentu saja Huan Teng turun tangan lebih dahulu, tapi belum sampai empat puluh gebrakan, jago tua itu sudah dikalahkan menyusul ia beradu pedang dengan Kongsun Tong dan akhirnya ia bertempur melawan Biau-hua loto bekas gurunya, tapi kedua orang jago itu mengalami nasib yang sama, tak sampai dua ratus gebrakan secara beruntun mereka telah dikalahkan dengan cara yang mengenaskan sekali” Ketika kakek tua she Gin melihat Ji ko nya telah kelupaan menceritakan hal yang paling penting, cepat dia menambahkan, “Ketika ia bertempur melawan Huan Teng maka ilmu silat yang dipakai hanya melulu ilmu pukulan Po-kia Sinkun, ketika bertarung melawan Kongsun Tong yang dipakai cuma ilmu pedang It ci hui kiam, sedangkan dikala bertempur melawan Biau-hua loto yang dipakaipun hanya melulu ilmu yang dipelajari dari imam tua ini, sedikitpun tidak mengandung ilmu pukulan Po-kia Sinkun ataupun ilmu pedang It ci hui kiam!”

“Oooh…. ini baru hebat namanya!” seru Hoa Thian-hong, “kalau aku yang harus menjadi dia, susah rasanya untuk membedakan jurus ini adalah jurus milik siapa, jurus itu adalah jurus pukulan apa lagipula ditengah pertarungan seru…. waah, pusing deh rasanya!”

Kakek tua she Li itu menghela napas panjang. “Aaai…. Mula-mula tiga orang itu bertarung secara

bergantian tapi setelah semua dikalahkan, Biau-hua loto

segera mengusulkan untuk main kerubut, maka tiga orang jago lihay itupun serentak menyerbu ke gelanggang dan mengerubuti Kiu-ci Sinkun seorang diri….”

“Selama bersembunyi di bukit Heng an sia entah barang aneh apa saja yang telah dimakan Kiu-ci Sinkun selama setahun lamanya, ternyata tenaga dalam yang dimilikinya peroleh kemajuan yang pesat, ilmu meringankan tubuh yang dia milikipun amat sempurna, sekalipun harus bertempur tiga babak secara beruntun namun ia masih tetap tangguh dan gagah perkasa, ketika dia harus satu lawan tiga mulailah Kiu-ci Sinkun keteter hebat tapi ia masih bertahan terus dengan cara pertarungannya, siapa yang sedang dihadapi jurus serangan apa pula yang dipakai…. “Akhirnya dia menderita luka parah karena tak tahan dikerubuti tiga orang jago, untungnya Biau-hua Tojin sekalian bermaksud menawannya hidup-hidup agar barang mereka yang hilang bisa didapatkan kembali, dengan keuntungan inilah suatu ketika Kiu-ci Sinkun berhasil menembusi kepungan dan melarikan diri”

“Bukankah ia sudah menderita luka parah, masa Biau-hua Tojin sekalian bertiga tidak mampu menangkapnya kembali?” tanya Suma Tiang-cing keheranan.

“Orang ini mempunyai tiga kemampuan, yakni pandai mencuri, pandai melarikau diri serta pandai bersembunyi, belum pernah ketiga macam kepandaiannya ini mengalami kegagalan ataupun salah perhitungan!”

“Bagaimana selanjutnya?” tanya Hoa Thian-hong sambil tertawa.

“Selanjutnya selama dua tahun belakangan dalam dunia persilatan secara beruntun terjadi peristiwa-peristiwa pencurian, banyak jago jago kenamaan baik dari goloogan putih maupun dari golongan hitam kecurian kitab pusakanya, tampuknya kesintingan Kiu-ci Sinkun sudah mencapai pada puncaknya sehingga umat persilatan disatroni olehya, keadaan pada waktu itu jadi kacau balau tak karuan, banyak orang yang kecurian segera menyebarkan diri kedalam dunia persilatan dan mencari jejaknya, sekalipun demikian toh ia tak berhasil ditangkap, sampai belasan tahun kemudian tiba-tiba ia munculkan diri dalam dunia persilatan!”

“Li locianpwe, selama belasan tahun dia telah bersembunyi dimana?” tanya Hoa Thian-hong sambil tertawa.

“Menurut perkiraan orang banyak, kemungkinan besar ia sudah menyingkir ke negeri Thian lok (kini India), hal ini berdasarkan dari ilmu Yoganya yang sangat lihay setelah muncul kembali kedalam dunia persilatan, dengan dasar kepandaian Yoga itulah orang menduga ia pasti menyingkir kesitu!”

Cu Im taysu menyela, “Kitab pusaka ilmu silat berbeda dengan harta kekayaan seperti emas, perak, intan, permata, sebelum dirampas kembali siapa pun tak mau menyerah dengan begitu saja, setelah dia muncul kembali kedalam dunia persilatan, sudah pasti banyak sekali jago silat yang datang membuat perhitungan dengan dirinya?”

“Oooh…. Hal ini sudah jelas”

Setelah berhenti sebentar, Li lojin melanjutkan, “Bagi orang lain, kemunculannya berarti kesempatan untuk menagih hutang lama, sebaliknya bagi Kiu-ci Sinkun, kemunculannya justru untuk mengulangi kembali tingkah polanya dimasa lampau, suasana dalam dunia persilatan waktuitu makin kacau balau!”

“Kali ini bagaimana caranya dia mengacau dunia persilatan?” tanya Hoa Thiasn hong.

“Pada waktu itu, usia Kiu-ci Sinkun baru mencapai tiga puluh tahunan, tapi kelihayan ilmu silatnya sudah tiada taranya sehingga sukar untuk menemukan tandingan, tapi kesenangannya terhadap ilmu silat makin bertambah besar, kesenangan bukan lenyap lantaran ilmu silatnya bertambah lihay, justru sebaliknya makin terperosok semakin dalam, makin melangkah ia semakin jauh, kalau dulu ia main mencuri maka sekarang ia main rampas secara terang-teranganan, boleh jadi memakai gertakan, mungkin juga memakai kekerasan ataupun kelicikan, pokoknya dia berdaya upaya agar semua kitab pusaka ilmu silat yang dimiliki orang lain bisa dimiliki sendiri olehnya.” “Kenapa umat persilatan tidak bersatu padu dan bekerja sama untuk menghadapinya?”

“Siapa bilang umat persilatan tidak bersatu padu dan menghada-pinya bersama? pada jaman itu, untuk menghadapi dia seorang bukan saja umat persilatan dari golongan putih bersatu padu, malahan mereka bekerja sama dengan golongan hitam untuk bersama-sama menyingkikan Kiu-ci Sinkun dari muka bumi….”

“Masa dengan kekuatan Kiu-ci Sinkun seorang diri, dia mampu meng-hadapi kekuatan gabungan dari seluruh umat persilatan didunia ini?”

“Pada waktu itu seorang belum mengenal nama Kiu-ci Sinkun, kebanyakan orang tak tahu pula siapa namanya, maka ada yang sebut si demam silat ada pula menyebut si rase kepadanya, dunia persilatan pada waktu itu ibaratnya hutan pemburuan, semua umat persilatan berkumpul jadi untuk bersama-sama berburu makhluk rase yang licik ini, kemanapun dia pergi umat persilatan segera mengejar diri belakang dan menghadang dari depan, kendatipun siang malam musti ka bur kesana kemari untuk menghindari pengejaran, tapi dia masih sempat pula menyusun rencana untuk mengganggu orang lain.”

“Keanehan orang ini memang luar biasa sekali, rasanya dari dulu sampai sekarang belum pernah ada yang menyamai keanehan dirinya” kata Cu Im taysu, “aai…. pinceng rela hidup dijaman itu kalau bisa, agar dapat kukenali manusia yang sangat aneh ini!”

Li lojin tersenyum, sambungnya, “Begitulah, dunia persilatan dikacau selama dua tahun lamanya, umat persilatan masih tetap tak mampu berbuat apa-apa atas jago lihay yang aneh ini. Pada waktu itulah tiba-tiba ketua dari perguruan keluarga Wi ying ada dikota Goan-ciu berhasil menemukan dua jilid kitab pusaka yang disembunyikan Kiu-ci Sinkun dalam sebuah gua dibukit Ho-lan-san, kitab yang berhasil ditemukan itu adalah kitab ilmu pedang partai Tiam cong serta kitab Ciok yu cap sa kek milik Ciok Yu kek dikota Seng ciu, katanya kitab ini adalah kitab pertabiban yang dibuat dikala jaman dinasti kaisar Sianyan Tee, isinya berupa ilmu pengobatan dan ilmu pertabiban yang sama sekali tak ada hubungannya dengan ilmu silat, kitab itu dicuri oleh Kiu-ci Sinkun pada belasan tahun berselang. yaa….! begitulah ketua dari perguruan keluarga Wi ini bukan saja tidak berhasil menemukan kitab pusaka perguruannya yang tercuri dia malah menemukan barang milik orang lain….”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan kembali kata- katanya, “Kebanyakan barang-barang yang berhasil dicuri dan dirampas Kiu-ci Sinkun disimpan dalam bukit bukit dan lembah-lembah terpencil yang susah ditemukan orang, sekalipun semua kitab pusaka itu adalah milik orang lain tapi setelah berada ditangannya di anggap sebagai barang miliknya sendiri, dia tak ingin mengembalikannya kepada orang lain dan tak sudi pula didapatkan orang, maka setelah dua jilid kitab pusaka disimpannya dalam bukit Ho-lan-san ditemukan orang betapa gusar dan mendongkolnya Kiu-ci Sinkun, setelah berkelana banyak tahun, tiba-tiba timbul ingatan untuk mencari tempat tinggal yang tetap, pilih punya pilih akhirnya ia memilih bukit Kiu ci san, dibangunya sebuah istana yang kuat dan kokoh diatas bukit itu, disana ia menetap dan menyimpan semua harta kekayaannya.”

“Bukankah dia mempunyai banyak musuh yang membenci dirinya? Masakah dia bisa hidup tenang disana?” tanya Hoa Thian-hong. “Tenta saja kehidupannya tak tenang, begitu kabar berita tersebut tersiar kedunia persilatan, orang-orang yang kehilangan kitab pusa kanya segera berdatangan kebukit Kiu ci san, ditambah pula para pembantu yang membantu sobat- sobatnya membuat suasana dibukit Kiu ci san benar-benar sangat ramai sekali, malahan aku dengar lebih banyak orang yang bermaksud mencari kesempatan untuk merampas kitab pusaka daripada mereka yang ingin menuntut kembali kitab miliknya yang di rampas!”

“Dengan kekuatannya seorang diri, masa dia mampu menandingi orang sebanyak itu?” tanya Suma Tiang-cing.

Li lojin menghela nafas panjang.

“Aaai! Waktu itu rata-rata para jago yang hadir didepan istana Kiu ci kiong diliputi emosi dan hawa amarah, sekali komando serentak kawanan jago sebanyak ratusan orang itu menyerbu kedepan dan mengerubuti Kiu-ci Sinkun, dalam keadaan begitu kendatipun ilmu silat yang dimiliki Kiu-ci Sinkun lihaynya bulan kepalang, tak urung juga dibuat jeri dan bergidik!”

“Andaikata orang-orang itu benar-benar menyerbu dengan tujuan adu nyawa, sudah pasti Kiu-ci Sinkun bukan tandingan mereka dan nis caya dia akan mati konyol” kata Hoa Thian- hong.

Li lojin tertawa.

“Sebenarnya orang-orang itu memang bermaksud untuk beradu jiwa, cuma sayang orang-yang dibelakang berteriak- teriak sementara itu yang ada didepan cuma berdiri kaku seperti patung!” Tiba tiba Po-yang Lojin menyela, “Ilmu silat yang dimiliki Kiu-ci Sinkun amat lihay, andaikata benar-benar terjadi pertarungan, yang berada dibarisan depan sudah pasti akan korban lebih dulu, padahal tujuan mereka hanya merebut kembali kitab ilmu silat yang dirampas lawan, dengan sendirinya tak seorangpun para jago yang ada dibarisan depan sudi bergebrak lebih dahulu, rupanya merekapun sempat berpikir kalau mereka adu nyawa, yang untung adalah orang lain, lalu apa guna dan arti kematian mereka? Sebab itulah mereka lebih suka melihat orang lain adu jiwa sedang mereka sendiri berpeluk tangan menjadi nelayan yang beruntung.”

Li lojin berkata pula, “Dibalik kesemuanya itu sebenarnya masih terdapat suatu sebab musabab yang sensitif sekali artinya, yakni sekalipun Kiu-ci Sinkun tergila-gila oleh ilmu silat namun tindak tanduknya sama sekali tidak garang ataupun keji, sepanjang hidup belum pernah ia membunuh seorang manusiapun, bila sedang bangga meskipun wajahnya berseri namun tidak sombong, oleh karena itulah orang orang di jaman itu menyebutnya sebagai Demam silat, ada pula yang memakinya sebagai si Rase, ada pula yang memakinya si Sinting, walaupun begitu antara mereka tak pernah terikat olah dendam sakit hati apapun jua, oleh karena itu antara merekapun tidak mempunyai keharusan untuk beradu jiwa, justru karena wataknya yang sama sekali tidak keji dan bengis inilah, sampai kinipun orang menyebutnya sebagai Sinkun!”

“Ehmmm! Kalau dipikir-pikir, memang disinilah letak kunci yang paling penting” Hoa Thian bong mengangguk, “entah bagai manakah akhir dari kejadian itu?”

“Rupanya Kiu-ci Sinkun sendiripun mempunyai perhitungan yang cukup masak, waktu itu dia berkata begini, “Bukankah tujuan kalian semua adalah minta kembali barang-barang kalian yang hilang? Kalau main kerubut seperti orang kampungan begitu, dari mana tujuan kalian bisa tercapai? Malahan bisa jadi barang sudah hilang nyawapun ikut melayang. Kalau kamu semua mau menuruti perkataanku dan cara yang kukemukakan, siapa tahu kalau apa yang kalian harapkan bisa tercapai? Jangan kuatir, aku toh sudah menetap disini, tak mungkin aku bakal melarikan diri”

“Waaah! caranya ini luar biasa” puji Cu Im taysu sambil tertawa.

Li lojin tersenyum.

“Memang luar biasa sekali. Waktu itu dia berkala pula: ‘Mulai hari ini aku berdiam terus dibukit Kiu ci san ini, jika kalian ingin mendapatkan kembali benda milik kalian, berusahalah dengan giat mulai sekarang carilah kitab-kitab ilmu silat yang berhubungan dengan ilmu silat, ilmu racun, ilmu bangunan, ilmu pertabiban serta ilmu-ilmu kepandaian lainnya atau mencari obat-obat mujarab, pedang mustika, golok mustika, bahkan boleh juga mencari intan permata serta mutu manikam lainnya yang berharga, asal kalian bisa dapatkan salah satu dari benda-benda itu kemudian ditukarkan kepadaku, pokoknya asal aku penujui sudah pasti kitab pusaka milik kalian yang kucuri akan kukembalikan kepada kalian!”

Tertawa Hoa Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, dia berkata, “Cara ini kurang adil rasanya bagi para pemilik barang yang merasa keheranan, mungkin tak ada yang setuju dengan usulnya itu?”

Memang begitulah kenyataannya, para pemilik barang itu segera menjawab, “Kau mencuri barang, kami merampas barang kami, sekarang suruh kami tebus barang kami dengan barang lain, cara ini sama sekali tidak adil dan bijaksana.”

“Apa jawab Kiu-ci Sinkun?” Dia lantas berkata begini: “Kalau kalian tidak setuju dengan caraku ini aku masih ada cara yang kedua, bila istanaku sudah kubangun jadi, maka semua kitab pusaka dan benda mustika yang kumiliki akan kusimpan semua ditempat ini, kalian boleh menirukan caraku dengan mencuri ataupun merampas

barang-barang itu dari tanganku, setiap saat akan kunantikan kedatangan kalian!”

“Waah, waaah cara ini lebih latah lagi sela Suma Tiang-cing segera, tapi kejadian tersebut memang tak dapat dihindari, kenda tipun tidak ia katakan, orang lain toh akan berusaha untuk melakukan juga.”

Li lojin tersenyum.

“Tapi diapun menerangkan pula, cara ini ada syaratnya yakni jika orang yang datang melakukan pencurian adalah pemilik barangnya sendiri, bila tertangkap maka dia akan dipenjara selama tiga tahun tanpa ada hukuman yang lain, tapi bila orang yang melakukan pencurian bukan pemilik barang, jika tertangkap dia akan dijatuhi hukuman sesuai dengan berat entengnya dosa yang di langgar, mereka yang melanggar berat maka ilmu silatnya akan dipunahkan, sedangkan yang enteng ditahan dalam istana sebagai jongos!”

“Hmmm…. bagus juga cara yang dia ajukan ini” ujar Cu Im taysu sambil tertawa.

Selain kedua cara tadi, dia masih mempunyai cara yarg ketiga, dia bilang bila istana Kiu ci kiong sudah didirikan, setiap hari Tong ciu dalam istana akan diadakan pertemuan besar perebutan kitab pusaka yang akan berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, siapapun boleh ikut serta dalam pesta perebutan itu, tertu saja dalam pesta pertemuan itupun disertai pula dengan pelbagai syarat, antara lain yang paling penting adalah para peserta harus mereka yang kehilangan kitab pusaka, dan barang yang diperebutkan juga terbatas pada kitab yang dimilikinya, misalkan si pukulan sakti Huan Teng, dia hanya berhak merebut kembali kitab pusaka Po kia kun boh nya, karena itu dia hanya terbatas untuk bertempur dengan memakai ilmu Po-kia Sinkun pula, bila tahun itu kalah maka tahun berikutnya dipersilahkan untuk turut kembali.

“Orang ini sungguh menarik hati” seru Hoa Thian-hong tanpa terasa, “kalau tidak demikian jika mereka harus bertarung satu lawan satu maka siapapun tak akan mampu menandingi kelihayannya, dan lagi bila dengan memakai ilmu perguruan serdiripun tak mampu menangkan orang lain, kejadian tersebut memang terhitung sangat memalukan”

“Kebaikan yang terutama dari orang ini adalah dia tak ingin mencelakai jiwa orang lain” Li lojin menerangkan, dan lagi dia selalu meninggalkan kesempatan yang baik kepada orang lain untuk merebut kembali barang miliknya, sebab itulah sekalipun dunia persilatan telah dibikin kacau balau tak karuan tetapi tidak sampai menimbulkan bencana besar ataupun banjir darah!”

“Dari pada adu jiwa dan bertempur mati-matian memang lebih baik berusaha dengan menggunakan ketiga macam cara tersebut, lalu bagaimanakah pendapat para pemilik kitab?”

“Bagi para pemilik kitab, dapat bertempur melawan Kiu-ci Sinkun hanya terbatas dalam ilmu silat perguruannya, lagi pula kalau menang bisa memperoleh kembali barang yang hilang, boleh dibilang suatu kesempatan yang baik sekali untuk menangkannya, siapapun yakin kalau ilmu silat perguruan sendiri telah dikuasai penuh dan siapapnn percaya kalau mereka punya harapan untuk menang, toh andaikata kalah tahun berikutnya masih boleh ikut kembali dalam pesta perebutan tersebut, selain itu mereka juga kuatir kalau Kiu-ci Sinkun didesak terus terusan maka dia akan minggat dan susah dicari kembali jejaknya, daripada kitab pusakanya hilang maka para pemilik kitab akhirnya menyetujui juga usulnya itu!”

Tiba-tiba Po-yang Lojin menambahkan, “Didalam kejadian tersebut masih terdapat pula kunci yang amat penting, sebagian besar orang-orang yang hendak mencari keuntungan diair keruh adalah kawanan jago dari kalangan hitam, tatkala para pemilik kitab sudah menunjukkan tanda-tanda setuju mereka malahan coba menghasut dan memarakkan kembali suasara yang mulai reda itu, dalam keadaan demikian inilah tiba-tiba Kiu-ci Sinkun menggunakan serangan yang paling keji dan paling cepat untuk melumpuhkan belasan orang diantara mereka yang berilmu silat paling tinggi, menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki Kiu-ci Sinkun ini, para pemilik kitab semakin tak berani bertindak gegabah.

“Lihay amat cara sidemam silat ini bertindak” puji Suma Tiang-cing sambil tertawa.

Lihaynya sih tidak untuk membangun istana Kiu ci kiong, dia membutuhkan tenaga yang besar dan benda yang banyak, menurut jalan pemikirannya maka orang-orang yang ditangkapnya ini akan dijadikan anak buahnya untuk mengurangi para pekerja pembangangunan.

“Bagaimana kemudian?” tanya Hoa Thian-hong sambil tertawa.

“Selanjutnya….Hey, lebih baik kita cepat-cepat membicarakan soal pencarian harta karun saja, cerita jite terlalu banyak hal-hal yang tak penting, lebih baik samte saja yang lanjutkan!” Kakek tua she Gin itu biru buru meneruskan kembali kisah cerita nya dengan suara nyaring, “Untuk mendirikan istana Kiu ci kiong mereka membutuhkan waktu selama hampir mendekati lima tahun lamanya, pada tahun keenam bulan Tiong ciu untuk pertama kalinya diadakan pesta perebutan barang pusaka, secara beruntun pesta itu diselenggarakan sampai tujuh tahun lamanya, tapi tak seorangpun yang berhasil merebut kembali kitab pusaka perguruan mereka, sepanjang masa itu ada orang yang disekap selama tiga tahun lantaran tertangkap sewaktu hendak mencuri barang pusaka, ada pula yang menjadi pelayan dalam istana Kiu ci kiong, disamping itu banyak pula kawanan jago yang mencari benda- benda a-neh untuk ditukarkan dengan kitab salinan ilmu silat perguruannya masing-masing bahkan ada pula yang secara sukarela masuk istana Kiu ci kiong untuk menjadi seorang anak buah, pokoknya barang-barang pusaka yang bertumpuk dalam istana Kiu ci kiong kian lama kian ber tambah banyak, pengaruh mereka pun kian bertambah besar, hal ini membuat kedudukan Kiu-ci Sinkun bertambah kuat dan mantap, keku- asaannya meliputi seluruh kolong langit, tapi menghasilkan pula suatu persoalan baginya….”

Setelah berhenti sebentar untuk tukar naps, sambungnya lebih jauh, “Selama tahun-tahun terakhir, Kiu-ci Sinkun telah menerima empat orang murid kesemuanya merupakan pemuda-pemuda berbakat bagus yang cerdik dan tekun mempelajari ilmu, dibawah petunjuk Kiu-ci Sinkun yang lihay, ilmu silat keempat orang ini memperoleh kemajuan yang sangat pesat, akan tetapi kemampuan yang mereka miliki masih belum mampu untuk mewakili guru mereka menghadapi para pemilik kitab dalam setiap pesta perebutan barang pusaka”

Rupanya dia kuatir kalau Hoa Thian-hong tidak paham dengan keterangannya ini, cepat dia melanjutkan, “Kita ambil contoh saja pukulan sakti Huan Teng, usianya waktu itu sudah mencapai tujuh puluh tahunan, kekuatan tubuhnya sudah banyak berkurang selama pesta perebutan barang pusaka itu dilangsung kan, ia selalu diwakili oleh putranya Huang Heng, tahun itu Huan Heng baru berusia empat puluh tahunan, tapi ilmu pukulan Po-kia Sinkun yang dikuasainya sudah mencapai puncak kesempurnaan, untuk mengalahkan jago setengah umur itu Kiu-ci Sinkun sendiripun membutuhkan seratus gebrakan lebih baru keinginannya bisa tercapai. Murid kedua dari Kiu-ci Sinkun yang bernama Si Bun kong paling gemar mempelajari ilmu silat aliran keras, terutama sekali ilmu pukulan sakti Po-kia Sinkun, setelah jalan nadi pentingnya Jin dan tok berhasil ditembusi, lalu mendapat pula bantuan dari obat-obatan, tenaga dalam yang dimilikinya sudah jauh melebihi Hoan Teng, akan tetapi kematangan jurus Po-kia Sinkunnya masih kalah jauh dari Huan Tang, oleh sebab itu dia belum dapat mewakili gurunya dalam pesta perebutan barang pusaka itu, padahal jago-jago seperti Kong sun Tong dan Biau-hua Tojin sekalian sudah berlatih tekun lagi selama dua puluh tahun terakhir ini sehingga kepandaian silat mereka mencapai puncak kesempurnaan yang tidak terhingga, tentu saja murid-muridnya Kiu-ci Sinkun lebih tidak mungkin bisa menyusulnya.

Suma Tiang-cing tertawa.

“Dalam keadaan demikian Kiu-ci Sinkun tak mungkin mengingkari janji sendiri, itu berarti dia mencari kesulitan bagi dirinya sendiri,” katanya.

“Manusia berbakat bagus sukar dicari didunia, apa lagi orang yang cerdik sekaligus berbakat, belum tentu tiap generasi bisa di temukan, sebab itulah pada pesta perebutan barang pusaka yang kedelapan kalinya, Kiu-ci Sinkun memberikan suatu pengumuman yang luar biasa, barang siapa dapat menemukan bocah laki atau perempuan yang cerdas dan berbakat bagus, boleh dikirim ke istana Kiu ci kiong untuk ditukarkan dengan barang mustika bahkan akan mendapatkan pula balas jasa yang cukup lumayan….”

“Gila…. benar-benar gila” kata Suma Tiang-cing sambil gelengkan kepalanya dia tertawa.

“Memang terlalu gila-gilaan perbuatannya ini tapi belsan tahun berikutnya setiap tahun paling sedikit Kiu-ci Sinkun menerima seorang, dua orang murid baru, hingga akhir hayatnya ada tiga puluh delapan orang murid laki perempuan yang dia miliki, diantaranya sebagian besar adalah manusia- manusia cerdas yang berbakat, tentu saja kepesatan ilmu silat yang dicapai merekapun amat luar biasa, ketika Kiu-ci Sinkun menanjak keusia tua, hampir semua muridnya mampu untuk mewakili gurunya turun gelanggang, meskipun ada juga beberapa orang jago lihay yang terpaksa harus dihadapi sendiri oleh Kiu-ci Sinkun!”

“Sepanjang sejarah ini, apakah ada orang yang akhirnya berhasil merampas kembali kitab pusaka mereka?” tanya Hoa Thian-hong dengan perasaaa ingin tahu.

“Ada! Selama empat puluh tahun pesta perebutan barang pusaka dilangsungkan, ada tiga orang yang berbasil merampas kembali barang miliknya, tapi selama itu pula hampir sebagian besar barang pusaka yang ada didunia ini telah dikuras dan diboyong masuk kedalam istana Kiu ci kiong.

Bagaimanakah akhirnya nasib dari istana Kiu ci kiong ini!” tanya Hoa Thian-hong sambil menjulurkan lidahnya.

“Mengikuti Kiu-ci Sinkun, terpendam untuk selamanya didalam permukaan tanah, selain semua kekayaannya ikut terpendam bahkan ada tiga puluh delapan orang muridnya dan dua ratus tujuh puluh tiga orang yang ikut terkubur hidup-hidup dalam istana tadi!” “Aaah! Sebenarnya apa yang sudah terjadi?” pemuda itu berseru kaget.

Singkatnya saja, diantara tiga puluh delapan orang muridnya kurang lebih ada dua belas orang adalah mata- mata, kedua belas orang ini sebagian besar adalah anak murid jago silat kenamaan yang sengaja dikirim kedalam istana, adapula yang dipelihara dulu oleh orang luar, setelah mendapat pendidikan yang matang kemudian dikirim kedalam istana untuk menjadi mata-mata, tentu saja orang-orang yang berdiri dibelakang kedua belas orang murid ini bermaksud untuk mengincar barang mustika yang tak ternilai harganya dalam istana Kiu ci kiong.

Perlu ditambahkan, selama masa menerima murid, Kiu-ci Sinkun tidak memikirkan kesoal lain, ia melakukan seleksinya dengan menitik beratkan pada bakat dan kecerdasan walaupun begitu diapan dapat menduga maksud-maksud tidak baik yang terkandung dihati orang lain, cuma saja Kiu-ci Sinkun tak sampai melakukan tindakan yang paling keji untuk memberantas orang-orang itu, sebab justru diantara beberapa orang itu terdapatlah muridnya yang paling berbakat dan muridnya yang paling berhasil menguasai ilmu silat yang diwariskan kepada mereka, oleh karena itu disamping membatasi ruang gerak mereka, diapun berharap dengan perasaan dan hubungan sebagai guru dan murid, sikap mereka iiu perlahan-lahan bisa mengalami perubahan, sayang muridnya terlali banyak, otomatis suasananya ikut kalut dan campur aduk tak karuan, apa yang diharapkan selalu tidak berhasil diwujudkan.

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lagi.

Masalah kedua yang menyulitkan dirinya adalah tentang ahli warisnya, sepanjang masa hidupnya orang ini telah memusatkan semua perhatian dan ingatannya untuk berlatih ilmu, bertanding dan mewariskan ilmu kepada orang lain, namun dia gagal untuk menciptakan murid yang benar-benar ampuh, di antara ketiga puluh delapan orang muridnya tak seorang yang berhasil menuruni kemampuannya untuk menguasai segenap ilmu silat yang ada didunia ini, kepandaian yang berhasil dicapai ketiga puluh delapan orang muridnya selain berbeda beda, karena itu satu diantara ketiga puluh orang muridnya itu tak mampu mengalahkan ketiga puluh tujuh orang rekan lainnya, lagipula diantara mereka, empat orang muridnya yang diterima paling awal memiliki ilmu silat paling tinggi, sedangkan dua tiga orang muridnya yang diterima paling akhir justru memiliki bakat dan kecerdasan paling tinggi, oleh karena itulah suasananya jadi serba kalut dan tak bisa teratasi.

Oleh sebab harta kekayaan yang berada dalam istana Kiu ci kiong kelewat banyak, hal ini membuat siapapun yang bercokol dalam istana tersebut merasa tak sudi meninggalkannya dengan begitu saja, siapapun berharap untuk menjadi pemilik tunggal harta kekayaan sebesar itu, maka mulailah ketiga puluh delapan orang murid saling gontok-gontokan dan saling memperebutkan kekuasaan tertinggi, pikir mereka asal gurunya sudah mati, maka perebutan kekuasaan secara terang-terangan akan segera dimulai.

“Orang-orang itu melakukan perebutan kekuasaan dengan berkomplot ataukah secara sendiri-sendiri?” tanya Sama Tiang cing

“Tentu saja berkomplot, tapi oleh karena ketiga puluh delapan orang itu rata-rata adalah manusia cerdas yang berotak brilian, maka makin brilian mereka makin besar pula perasaan mementingkan diri sendiri dihati masing-masing pihak, semakin sulit pula bagi mereka untuk bekerja sama dengan orang lain, begitulah mereka terbagi menjadi empat lima kelompok, tapi merekapun bertujuan sama yakni saling mempergunakan kemampuan serta kehebatan rekannya bagi tercapainya ambisi mereka pribadi, siapapun tak sudi tanduk kepada yang lain, siapapun tak sudi mendengarkan perintah orang lain, sua sana jadi kacau balau tak karuan, ditambah pula hasutan serta rongrongan dari luar istana, membuat keadaan makin kalut, bayangkan saja siapa yang sanggup mengatasi keadaan seperti itu?”

“Sebenarnya sampai sekarang dalam istana tersebut masih tersimpan benda-benda mustika apa lagi?” tanya Cu Im taysu dengan dahi berkerut.

“Aah….! Apa yang kau inginkan disanalah tersedia, bagi orang yang gemar ilmu silat dalam istana itu tersedia beribu- ribu jilid kitab pusaka ilmu silat, bagi orang yang suka harta dalam istana terdapat intan permata dan emas perak yang melimpah, mau umur panjang dan hidup segar bugar terus dalam istana terdapat obat mujarab yang bisa menambah umur, ingin awet muda di situpun tersedia obat untuk selalu awet muda, barang antik, lukisan berharga, kitab Budha, kitab agama To tersimpan pula dalam istana tadi, bahkan aku dengar setumpuk kitab Buddha yang diambil oleh pendeta Tong Sam cong hoatsu dengan susah payah di langit baratpun, sudah diboyong masuk kedalam istana oleh seorang perompak kenamaan dari samudra timur, malahan aku dengar jika kau ingin menjadi dewa atau malaikatpun dalam istana itu dapat kau temukan kitabnya!”

“Omiotohud! Masa begitu? Baru pertama kali ini kudengar cerita sehebat ini!” seru Cu Im taysu dengan mata terbelalak.

“Locianpwe, kalau toh didalam istana terdapat obat mujarab yang bisa panjang umur, kenapa Kiu-ci Sinkun bisa bisa mati?” tanya Hoa Thian-hong keheranan. “Benar! Kematian Kin ci sinkun memang merupakan suatu teka teki yang tidak terjawab sampai sekarang,” sahut Po- yang Lojin, “berhubung dengan kematian dari Kiu-ci Sinkun, tiba-tiba saja bukit Kiu ci san dilanda oleh gempa yang sangat hebat, bukit ambruk, batu berguguran, istana Kiu ci kiong tenggelam kedasar permukaan tanah, tak seorang pun anggota istana itu berhasil melarikan diri. Kematian Kiu-ci Sinkun juga menjadi teka teki yang tak terjawab hingga kini, tapi yang pasti dalam istana memang terdapat banyak sekali obat-obat mujarab yang bisa menambah umur manusia jadi lebih panjang.”

Li lojin menghela napas panjang, ia berkata pula, “Dalam penggalian harta karun yang diselenggarakan untuk kedua kalinya, beruntung kami empat bersaudara berhasil menemukan sebiji buah cu ko yang berwarna merah, karena kami semua mendapat seperem pat bagian dari buah mustika itu, maka umur kami jadi panjang dan bisa hidup sampai hari ini….!”

“Penggalian harta karun yang kedua kalinya?” seru Hoa Thian-hong tercengeng, “Benar, kami ikut dalam gerakan penggalian harta karun yang kedua kalinya, dan kini gerakan penggalian harta karun yang ketiga kalinya segera akan dimulai!”

Hoa Thian-hong, Suma Tiang-cing serta Cu Im taysu hanya saling berpandangan dengan mulut membungkam mereka tak mampu memberikan komentar apapun.

Sementara itu poyang lojin telah melanjutkan kembali kata- katanya, Setelah istana Kiu ci kiong tiba-tiba tenggelam keperut bumi, sementara orang yang ada diluar lantas memberikan dugaan serta perkiraan-perkiraan mereka, ada yang mengatakan dalam istana itu pasti terjadi pergolakan hebat yang berlangsung antara murid-murid Kiu-ci Sinkun pribadi, sehingga mengakibatkan terjadinya penghan-curan secara besar-besaran oleh Kiu-ci Sinkun, tapi keadaan didalam istana tersebut memang amat kalut, siapapun tak dapat menemukan alasan yang sebenarnya tentu saja mereka hanya menguatirkan soal harta karun yang ada dalam istana itu saja sedangkan terhadap soal yang lain tak ada yang menaruh perhatian.

Suma Tiang-cing beberapa kali hendak buka suara tapi selalu diurungkan, akhirnya ia keraskan juga hatinya seraya bertanya, “Setelah istana itu tenggelam, sudah pasti akan muncul para pencari harta, entah bagaimanakah keadaannya pada penggalian yang diselenggaraksn untuk pertama kalinya?”

“Sejak Istana Kiu ci kiong tenggelam keperut bumi, tiga puluh tahun berikutnya bukit Kiu ci san selalu dipenuhi oleh para pencari harta, diantaranya tercatat dua tahun setelah istana itu tenggelam keperut bumi merupakan tahun pencari harta yang paling besar, sejak bulan ketiga sampai bulan kesembilan yakni selama setengah tahun, kurang lebih seribu orang lebih para pencari harta yang berkumpul dibukit tersebut.”

“Masa sebanyak itu?” seru Hoa Thian-hong dengan dahi berkerut, “dengan kekuatan orang yang begitu banyaknya, sudah tentu mereka mendapatkan hasil yang lumayan bukan?”

“Ketika Kiu-ci Sinkun membangun istana tersebut, tujuannya adalah memusuhi umat persilatan, waktu itu diapun sudah memperhi-tungkan, andaikata suatu ketika ia mengalami kegagalan total, prinsipnya dari pada barang- barang yang berhasil dikumpulkannya selama separuh masa kehidupannya itu terjatuh ketangan orang lain, lebih baik ia berkorban bersama semua hartanya, karena itu bukan saja alat rahasia yang amat dahsyst telah dipasang diseluruh istana tersebut, diapun telah menyiapkan pula alat jebakan yang bisa menenggelamkan istana tersebut keperut bumi, andaikata alat rahasia itu di tekan maka bumi akan goncang dan bukit akan ambruk, bukan saja istana itu akan tenggelam keperut bumi, bahkan diatasnya akan tertutup pula oleh suatu sungai bawah tanah dengan arus air yang sangat deras, karena harus menggali melewati arus sungai dibawah tanah inilah maka selama setengah tahun menggali, tak seorangpun yang berhasil menemukan harta.”

“Tengah malam bulan kesembilan, tiba-tiba ada orang yang menyentuh kerak bumi tanpa sengaja, begitu alat penggalinya menyentuh bagian dari tanah tersebut, dalam waktu singkat rentetan bukit yang berada disebelah kiri longsor kebawah, batu cadas sebesar rumah berguguran menutupi seluruh permukaan tanah, semalaman itu juga ada delapan ratus orang penggali harta yang tewas tertimbun tanah longsor.”

“Akibat dari tanah longsor itu, keadaan medan ditempat itu kembali mengalami perubuhan, tiga ratus orang lebih yang berhasil lolos dari bencana itu kebanyakan menjadi cacad, ada pula yang putus asa dan rata-rata mereka kabur semua dari situ kecuali sebagian kecil yang masih ngotot tetap tinggal disitu meneruskan penggalian nya, dengan demikian berakhirlah gerakan penggalian harta yang pertama kali!”

“Bagaimana pula dengan gerakan yang diselenggarakan untuk kedua kalinya?” tanya Hoa Thian-hong.

oooo0oooo 84

“PENGGALIAN harta karun kedua kalinya diselenggarakan tujuh belas tahun sesudah terjadinya peristiwa tragis itu, cuma saja suasananya ketika itu jauh berbeda,” ujar Poyang lojin degnan sinar mata berki lat tajam.

Paras muka Hoa Thian-hong, Suma Tiang-cing serta Cu Im taysu menunjukkan perubahan, sepasang mata mereka terbelalak lebar, dengan tenang mereka nantikan kata-kata berikutnya.

“Musim semi tahun itu tiba-tiba ada orang yang berhasil menggali sebilah pedang mustika diatas bukit itu!” kata Po- yang Lojin.

Suma Thiang cing adalah seorang pemuda yang amat gemar akan pedang mustika, mendengar ucapan itu tak tahan dia lantas bertanya, “Pedang mustika apakah itu?”

“Pedang Liong swan kiam!”

“Aaah….! Suma Thiang cing berseru kaget, pedang itu adalah salah satu diantara tiga bilah pedang mustika dari Oa ci cu,” ia berhenti sebentar kemudian lanjutkan, “Locianpwe, silahkan melanjutkan kisahmu boan seng tak akan menukas lagi!”

“Murid paling kecil dari Kiu-ci Sinkun yang bernama Cao Thian hua pernah menggunakan pedang kenamaan itu untuk bertanding ilmu melawan Kongsun Tong, setelah pedang tersebut muncul dari perut bumi maka badaipun kembali melanda bukit Kiu ci san, berbondong-bondong kawa-nan jago persilatan berdatangan ke bukit untuk melakukan penca-rian harta karun….”

Setelah termenung sebentar, kembali ia lanjutkan kata- katanya, “Bulan keenam tahun itu, aliran sungai yang berada dibawah tanah tiba-tiba mengering, tanah diatas permukaan istana Kiu ci kiong tersumbul keluar, kesempatan ini semakin menggairahkan para penggali untukbekerja dengan lebih bersemangat, sampai akhir bulan sepuluh, hampir dua ribu orang pencari harta yang telah berkumpul dibukit tersebut.”

“Waduh…. dua ribu orang! Lalu bagaimana caranya untuk melakukan penggalian?” seru pemuda Hoa.

“Sulit rasanya untuk menerangkan kesemuanya itu dengan kata-kata, pokoknya pada waktu itu para pencari harta terdiri dari aneka ragam manusia, ada yang jago-jago silat, ada yang bukan orang persilatan melainkan hanya para pekerja upahan yang memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari uang, ada pula yang berkelompok merupakan satu komplotan tapi ada juga yang berdiri sendiri, dimasa masa penggalian harta karun, suasana diatas bukit Kui ci san ramai sekali ibaratnya sebuah kota kecil, pedagang, penjaja makanan, pekerja, berkumpul menjadi satu di tempat itu.”

“Aaai!” Li lojin menyambung setelah menghela napas, “selama tiga puluh tahun, sudah tak terhitung jumlah orang yang terlantar akibat pencarian harta karun ini, banyak yang menggadaikan rumah untuk membayai penggalian, ada yang meninggalkan anak istri hanya untuk mencari harta tersebut, bahkan tidak terbatas pada orang persilatan saja, banyak diantaranya yang merupakan kaum pedagang dan kaum pekerja, mereka memandang pencarian harta sebagai sumber kekayaan yang bisa membahagiakan kehidupan mereka, bukan saja usahanya ditinggalkan, anak istri juga ditelantarkan, tiap hari tiap detik mereka hanya menggali dan menggali terus….”

“Dosa…. dosa….! Kiu-ci Sinkun memang pembuat bencana bagi umat persilatan” seru Co Im taysu sambil menghela napas dan gelengkan kepalanya berulang kali. Hoa Thian-hong sendiri tertawa seraya bertanya, “Locianpwe, bagaimanakah hasil dari penggalian harta yang di selenggarakan untuk kedua kalinya itu?”

“Singkatnya hanya dua orang yang berhasil mendapatkan benda berharga, satu kelompok adalah kami empat bersaudara berhasil mendapatkan sebiji buah merah yang telah dimakan habis, sedangkan yang lain adalah ciang bunjin angkatan ketiga dari partai Seng sut pay yang berhasil mendapatkan kitab Thian hua ca ki milik Cao Thian hua!”

“Bagaimana sikap orang-orang lain yang tidak berhasil mendapatkan apa-apa?”

“Waktu itu aneka ragam manusia bercampur baur diatas bukit tersebut, keadaannya sangat kalut dan tidak menentu, ketua angkatan ketiga dari Seng sut pay memang cukup cerdik dan cekatan, setelah mendapatkan kitab pusaka Thian Hua ca ki, Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa, dia lantas berpura-pura melanjukan sikap putus asa dan menarik pasukannya mundur dari tempat itu.

Begitulah, dengan membawa kedelapan sembilan orang muridnya, mereka lantas kabur dari bukit Kiu ci san.”

“Kenapa musti berbuat begitu?” tanya Hoa Thian-hong tercengang.

“Apalagi sebabnya kalau bukan takut dirampas orang lain, banyak orang yang menderita akibat mencari harta, banyak yang kehilangan rumah kehabisan harta kehilangan ayah atau anak lantaran harta tersebut, apalagi mereka yang kehilangan kitab pusaka perguruannya, sekalipun sudah berusaha banyak tahun toh tak ada hasilnya, tentu taja mereka tak akan biarkan orang-orang Seng Sut pay yang bukan termasuk bilangan daratan Tionggoan mendapat keuntungan itu, cuma aku dengar katanya pihak Teng sut pay kehilangan pula  sejenis barang pusaka yang tersimpan dalam istana Kiu ci kiong, apakah benar atau tidak berita ini?”

“Setelah cianpwe berempat mendapatkan buah merah apakah kalian lanjutkan penggalian?” tanya pemuda Hua.

“Setelah kami makan buah merah itu, menurut suara hati memang ingin melanjutkan penggalian, tapi setelah dipikir kembali, kami toh tidak kehilangan apa-apa, sebiji buah merah indah merupakan penemuan yang luar biasa sekali apalagi mengingat begitu banyak pencari harta hanya kami saja yang berhasil mendapatkan mustika, itu berarti pula Thian sudah memberikan kemurahannya kepada kami, jika kami lanjutkan penggalian bukankah sama artinya kami adalah orang yang kemaruk harta? Oleh karena itu setelah berunding akhirnya kami berempat mengundurkan diri dari tempat itu….”

“Aaai! Orang bilang mereka yang tahu diri selalu dilindungi Thian, demikian pula dengan kami empat bersaudara, belum lama kami mengundurkan diri dari tempat penggalian, tiba- tiba diatas bukit itu kembali terjadi bencana tanah longsor disertai ledakan-ledakan aneh, beratus-ratus orang penggali harta tak sempat kabur dan tersapu o-leh air bah, menyusul kemudian terjadi pula gempa bumi dan tanah merekah, dalam waktu singkat arena penggalian kembali mengalami perubuhan besar, mereka yang mati semakin banyak lagi, cuma mayat mayat itu lenyap tak berbekas entah tersapu air bah entah tertanam keperut bumi.

Kakek Lan yang selama ini hanya membungkam terus, tiba- tiba menghela napas berat, lalu berkata, “Aaai! Kalau berbicara tentang keadaan yang sangat mengerikan pada hari itu, seolah-olah Lo Thian Ya menjadi gusar karena keserakahan dan kerakusan umatnya sehingga ia menurunkan bencana besar itu untuk menghukum mereka!” Hoa Thian-hong dan Suma Tiang-cing saling berpandangan sekejap, kedua orang ini sama sekali tidak mempunyai niat serakah atau kemaruk harta, tapi mereka merasa bila sesuatu benda mustika kalau dibiarkan terpendam terus didasar tanah maka lama-kelamaan benda itu akan musnah dengan sendirinya, bila sampai demikian keada- annya, maka sama artinya mereka berbuat keji terhadap benda alam, mereka hilangkan arti kegunaan yang sebenarnya dari benda-benda alam tersebut, oleh sebab itu mereka berdua mempunyai pendapat yang sama, yakni cepat-cepat menggali keluar benda mustika itu agar bisa dimanfaatkan oleh umat manusia.

Bagaimanapun juga Thian menciptakan segala sesuatu yang ada didunia ini untuk dipakai serta dimanfaatkan oleh umatnya, benda yang tercipta ada, bukan dimaksudkan untuk dimusnahkan dengan begitu saja oleh alam itu sendiri.

Akan tetapi, setelah mendengar perkataan dari Lan lojin, tanpa terasa dua orang jago ini jadi terbungkam.

Terdengar Po-yang Lojin berkata, “Selama ini kami empat bersaudara hidup mengasingkan diri dibukit Huang-san, kehidupan kami dilewatkan dengan penuh riang gembira dan bebas merdeka, tapi secara tiba-tiba pada akhir tahun ini kami semua telah menyadari akan sesuatu hal, kami merasa apa bedanya antara usia panjang dan usia pendek? Kami sudah diberi berkah oleh Thian untuk hidup berumur panjang, maka sepantasnya kalau kitapun berkewajiban untuk memberikan semua benda ciptaan alam kepada umat manusia didunia ini, kami harus membantu umat manusia untuk menemukan kembali harta karun yang terpendam didasar perut bumi sehingga bisa dinikmati pula oleh manusia-manusia lain, disamping itu dapat pula kami cegah agar tiada manusia lagi yang mengorbankan jiwanya dengan percuma lanlaran urusan harta karun. Liu lojin menyambung pula, “Yaa….! Tampaknya takdir memang menghendaki demikian, harta karun dibukit Kiu ci san memang sudah waktunya untuk muncul didunia ini, selesai berunding, kami empat bersaudara segera tinggalkan bukit Huang-san dan langsung menuju kota Cho Ciu, maksud kami akan mencari ananda Cu cing serta mencari tahu lebih dahulu keadaan dalam dunia persilatan, apa mau dikata ketika kami tiba dirumahnya telah bertemu pula dengan kejadian yang dilakukan Tang Kwik-siu, kami lantas semakin menyadari bahwa takdir telah berkata demikian, sekalipun kami tidak munculkan diri toh gerakan menggali harta karun yang ketiga kalinya segera akan dilangsungkan.

“Agar semuanya berjalan lancar, persoalan ini harus diatasi dengan serius dan hati-hati, ujar Gan lojin pula, kalau tidak, kuatirnya sebelum harta karun itu berhasil diambil, peristiwa tragis kembali sudah berlangsung”

“Locianpwee berempat!” kata Suma Tiang-cing dengan serius, “aku yang muda percaya bahwa kalian berempat telah mempunyai rencana yang matang, bolehkah kami ikut tahu bagaimana caranya kita harus turun tangan?”

“Bagaimana pula kita harus melaksanakan pergerakan ini sehingga bilamana harta karun itu tergali keluar, tak sampai terjadi perebutan secara kasar yang mengakibatkan terjadinya badai pembunuhan yang mengerikan dalam dunia persilatan?”

Sambil menunjukkan ibu jarinya, Po-yang Lojin berkata dengan suara sangat dalam, “Yang terutama adalah mencari seorang manusia yang bijaksana, berjiwa besar daa berpengaruh besar untuk memimpin pergerakan ini, tapi orang tersebut harus mempunyai tiga syarat yang penting satupun syarat tersebut tak boleh kurangi!” “Apa saja ketiga buah syaratnya itu?” tanya Cu Im taysu dengan dahi berkerut.

“Pertama orang ini harus berilmu silat sangat tinggi, kepandaiannya itu dapat menekan dan mengendalikan manusia-manusia berambisi besar seperti halnya dengan Tang Kwik-siu”

“Locianpwe, tahukah engkau bahwa dalam dunia persilatan dewasa ini masih terdapat manusia yang lebih berambisi dan lebih tamak daripada Tang Kwik-siu?” tiba-tiba Hoa Thian- hong menyela.

“Siapakah orang itu?” tanya Po-yang Lojin dengan kaget. “Orang itu adalah Kiu-im Kaucu” jawab Suma Tong cing

segera, “orang ini keji, berambisi besar dan berilmu tinggi, sedikitpun tidak kalah bila dibandingkan dengan Tang Kwik- siu!”

Po-yang Lojin mengangguk beberapa kali, ujarnya lagi, “Kedua, orang yang memimpin gerakan penggalian ini mesti seorang yang bijaksana dan lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, dia tak boleh berwatak mata duwitan, tak boleh punya watak serakah dan kemaruk harta, andaikata barang mustika yang dicari berhasil ditemukan maka benda-benda itu musti diserahkan kepada siapa yang berhak mendapatkan benda itu, kecuali bagian yang berhak ia terima, ia tak boleh menggambil bagian orang lain.”

“Waah…. syarat yang kedua ini memang sulit ditemukan pada tubuh orang persilatan,” seru Suma Tiang-cing, “tapi tak usah kuatir sekalipun Suma Tiang-cing tak berani mengatakan aku memiliki watak seperti itu, namun aku dapat menemukan manusia semacam itu!”