Tiga Maha Besar Jilid 27

 
Jilid 27

Dari gerak-gerik serta sikap cemas dayang tersebut, Hoa Thian-hong dapat menduga pula kalau dara tersebut hendak melaporkan sesuatu, sesudah tertegun sebentar, akhirnya dia bertanya, “Ada persoalan apa lagi yang hendak kau sampaikan kepada diriku? Cepatlah katakan!”

“Barusan budak pergi ke kantor cabangnya perkumpulan Sin-kie-pang untuk mencari tahu jejak kongcu, ada seorang kakek yang bernama Lau Cu cing dengan membawa empat orang kakek tua yang rata-rata berumur seratus tahun keatas sedang mencari berita kongcu pula ketempat itu, budak lantas bertanya kepada orang she Lau itu ada urusan apa hendak mencari kongcu, dia menjawab katanya ada persoalan maha penting yang hendak di bicarakan dengan kongcu, maka budak lantas membawa mereka semua datang kemari sekarang mereka sedang menanti kehadiran kongcu diluar kuil!”

Betapa terperanjatnya Hoa Thian-hong sesudah mendengar laporan itu, serunya, “Empat orang kakek tua berusia seratus tahun keatas datang mencari aku?” “Emmmm!” Pui Che-giok mengangguk, “rambut mereka telah beruban semua, tapi badannya masih tegap dan langkahnya masih mantap, rupa-rupanya mereka berilmu semua!”

Kiu-im Kaucu yang ikut mendengarkan laporan tersebut ikut merasakan jantungnya berdebar keras, pikirnya dihati, “Untuk mencari seorang manusia yang berusia delapan puluh tahun saja sudah sukarnya bukan kepalang, apalagi keempat orang itu bisa hidup mencapai seratus tahun, malahan kumpul pula menjadi satu, apabila bukan tokoh-tokoh silat yang berilmu tinggi, tak ,ungkin mereka bisa mencapai usia setinggi itu. Heeehh…. heeehh…. setelah anak jadah ini memperoleh bantuan empat jago lihay, aku kan semakin tak bisa mengganggu dirinya lagi? Sialan!”

Perlu diketahui, bila seseorang yang berusia seratus tahun keatas berlatih terus ilmu silatnya dengan tekun dan rajin, maka kelihayan ilmu silat yang dimilikinya boleh dibilang sudah mencapai tingkat kesempurnaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, apalagi sekaligus muncul empat orang bersamaan waktunya, tidaklah heran kalau Ku im kaucu dibikin bergidik hatinya selelah mendengar berita tersebut.

Dengan dahi berkerut Hoa Thian-hong termenung sebentar, kemudian gumannya seorang diri.

“Entah siapakah keempat orang ini? Tang Kwik-siu telah membakar gedung tempat tinggal Lau Cu cing dan kini keempat orang kakek tua itu datang mencari aku, dus berarti persoalan yarg hendak mereka bicarakan dengan diriku juga pasti menyangkut masalah percarian harta karun dibukit Kiu ci san!”

Ketika Kiu-im Kaucu mendengar soal menggali harta dibukit Kiu ci san, jantungnya ikut berdebar keras sehingga hampir saja ia menjerit kaget saking emosinya, segera ia berpikir dihati.

Masalah sebesar ini kenapa tidak kuketahui barang sedikitpun juga! Aaah…. benar, Tang Kwik-siu bagaimanapun juga adalah seorang ketua suatu perkumpulan besar, kedudukannya sangat tinggi dan dia adalah seorang yang menjaga gengsi berbeda dengan Siang Tang Lay yang pergi datang ibaratnya sukma gentayangan, andaikata tiada suatu persoalan yang penting dan serius, tak mungkin manusia semacam dia bersedia datang kedaratan Tionggoan!”

Sementara dia masih termenung, Hoa Thian-hong telah berpaling ke arah Cu Im taysu seraya bertanya.

“Sebagai orang yang lebih muda sudah sepantasnya kalau memberi hormat kepada kaum angkatan tua, taysu, tolong pergilah ke luar sebentar dan wakililah boanpwe untuk menyambut kedatangan kakek kakek tua itu!”

Cu Im taysu kelihatan ragu mukanya murung dan keberatan untuk tinggalkan tempat itu, sinar matanya malahan dialihkan ke wajah Kiu-im Kaucu.

Rupanya ia kuatir sepeninggalnya dari situ, kedua belah pihak terjadi bentrokan lagi sehingga pertarungan kembali berlangsung bila sampai demikian kejadiannya, tanpa kehadirannya disitu berarti hanya akan melemahkan posisi pihaknya belaka.

Sebagai seorang jago yang berpengalaman luas, tentu saja Kiu-im Kaucu juga bisa menebak isi hati orang, tiba-tiba ia menengadah sambil tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…. haaahhhh…. haaahhh…. Hoa Thian-hong, benarkah engkau akan beradu jiwa denganku?” “Keadaanku sekarang ibaratnya anak panah diatas busur, bagaimanapun juga panah ini harus dilepaskan!” sahut sang pemuda sambil menarik mukanya.

“Haaahhh…. haaahh…. haaahhh…. kembali Kiu-im Kaucu tertawa terbahak bahak, kalau kulihat dari pedang bajamu yang sudah tiada, tentunya kitab Kiam keng telah berhasil kau dapatkan bukan?”

Hoa Thian-hong tertawa dingin.

“Heehhh…. heeehh…. heeehhh…. kitab Kiam keng berada disakuku, cuma sayang tak mungkin akan kugunakan benda tersebut untuk di tukarkan dengan engkau!”

Kiu-im Kaucu tertawa, “Tentu saja, tentu saja…. tak usah kau katakan, aku juga sudah dapat menebak suara hatiku….Hmm! Sekalipun ilmu silat yang kau miliki setingkat lebih tinggipun, aku tak nanti akan jeri apalagi takut kepadamu!”

Setelah berhenti sebentar, dia ulapkan tangannya seraya berkata lebih jauh, “Pergilah dari sini! Kujamin tak akan mencelakai nyawa Ku Ing-ing, bila isi Kiam keng sudah kau pelajari, maka aku akan menantang engkau untuk berduel lagi dihadapan para orang gagah dari seluruh kolong langit, bila dalam pertarungan itu engkau berhasil mengung-guli diriku, Ku Ing-ing akan segera kuserahkan kembali kepadamu!”

Betapa girangnya Cu Im taysu setelah mendengar perkataan itu, cepat dia menyambung, “Kalau memang kaucu sudah berjanji begini, itulah lebih bagus lagi, aku percaya sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, apa yang telah kaucu katakan tak akan disesali kembali, Thian- hong! Hayo kita pergi!” Hoa Thian-hong sendiri dalam hati kecilnya sedang berpikir, “Kiu-im Kaucu adalah seorang manusia yang licik dan banyak akalnya, mana ia sudi memberi keuntungan bagiku? Aaai….!

Cu Im taysu memang kelewat jujur orangnya, masa ia belum tahu betapa lihaynya orang ini….?”

Walaupun dia bisa berpikir sampai disitu namun gagal untuk mencari tahu dimanakah letak maksud dan tujuan Kiu- im Kaucu dengan tindakannya itu, untuk sementara waktu si anak muda ini jadi serba salah dibuatnya, mau pergi tapi bagaimana? kalau tidak pergi, lantas bagaimana?

Terdengar Pui Che-giok berkata lagi dari sisi gelanggang, “Menerima siksaan api dingin melelehkan sukma, ibaratnya melubangi batok kepala sambil menyulut lampu langit, bila dileleh kan selama tujuh hari tujuh malam lamanya korban akan kehabisan tenaga ibaratnya lentera yang kehabisan minyak, hawa murninya akan banyak terkuras, dan sekalipun bisa hidup diapun tak ubahnya seperti seorang manusia cacad lainnya!”

Ucapan itu entah ditujukan kepada siapa tapi semua orang bisa menduga bahwa perkataan tersebut sengaja ditujukan kepada Hoa Thian-hong.

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa nyaring, kemudian ujarnya, “Engkau toh bukan anggota Kiu-im-kauw kami, darimana engkau bisa tahu seluk beluk siksaan ini sedemikian jelasnya?”

Dengan memberanikan diri Pui Che-giok menatap tajam lawannya, lalu menjawab, “Nona yang memberitahukan kepadaku!”

Kiu-im Kaucu segera tertawa. “Haaah…. haaahh…. bagus, bagus sekali. Kiranya sedari dulu ia sudah mengetahui betapa lihaynya siksaan api dingin melelehkan sukma, jadi kalau begitu ia sudah tahu kelihayannya tapi sengaja melanggar perataran untuk mencobanya sendiri? Bagus, kalau begitu biarlah dia tahu rasa sekarang.”

Mendengar kata-kata sudah tahu tapi sengaja melanggar sendiri sakit rasanya hati Hoa Thian-hong, ia tahu kesemuanya ini adalah lantaran dia, karena mesalah dirinya membuat Giok Teng Hujin harus menerima siksaan lahir maupun batin…. begitu sakit hatinya serasa bagaikan diiris-iris dengan pisau.

“Bebaskan dia dari siksaan tersebut!” teriak pemuda itu dengan penuh kebencian “bila engkau bersedia membebaskan dia, aku pun tak akan melatih ilmu dalam kitab Kiam keng, setiap saat akan kunantikan tantanganmu untuk melangsungkan duel satu lawan satu, bila engkau berhasil menangkan diriku, kitab Kiam keng akan kuserahkan kepadamu sebaliknya kalau engkau kalah maka nona Giok Teng Hujin harus engkau lepaskan!”

“Perkataan seorang kuncu berat bagaikan bukit, sampai waktunya aku pasti akan menantikan kedatanganmu untuk melangsungkan duel tersebut, sekarang juga akan kubebaskan dirinya dari siksaan tersebut.”

Jawaban ini terlalu cepat dan sama sekali diluar dugaan, untuk sesaat lamanya Hoa Thian-hong dibikin tertegun dan tak mampu berkata-kata.

Dia cukup mengetahui sampai dimanakah kekuatan ilmu silat yang dimilikinya sekarang, pada hakekatnya ia tiada keyakinan untuk menangkan lawannya, dan sekarang ternyata pihak lawan menyanggupi tantangannya dengan begitu jelas, itu berarti bila ia tiada memiliki suatu kepandaian yang bisa diandalkan keampuhannya, tak mungkin perempuan itu begitu cepat memberikan keputusannya.

Sementara itu Cu Im taysu kembali sudah berkata, “Empat orang kakek tua itu sedang menanti kedatangan kita diluar kuil, mari kita sambut kedatangannya!”

Sebenarnya Hoa Thian-hong ingin membuktikan dengan mata kepala sendiri bagai mana Kiu-im Kaucu membatalkan siksaan yang menimpa Ku Ing-ing alias Giok Teng Hujin, akan tetapi setelah diajak pergi oleh Cu Im taystu terpaksa ia manggut dan siap berlalu dari situ.

Tiba-tiba Pui Che-giok maju kedepan, dengan muka rada takut-takut ia berkata, “Kongcu, aku…. aku ingin tetap tinggal di sini untuk melayani nona”

Hoa Thian-hong memang merasa ada baiknya kalau dayang itu tetap tinggal disana untuk melayani nonanya, tapi diapun kuatir kalau Kiu-im Kaucu berbuat tidak senonoh atas diri dayang ini, mengingat Pui Che-giok secara terangkan berani melawan ketua tersebut, mendengar permintaan itu, bukannya menjawab sorot mata yang setajam sembilu malahan dialihkan ke arah ketua perkumpulan Kiu-im-kauw.

Sebagai seorang jago kawakan yang berpengalaman luas, tentu saja Kiu-im-kauwcu dapat menangkap maksud hati lawannya, dia segera tertawa tergelak dengan nyaring

Haaah…. haaaah…. haaahh…. majikan susah anjing ikut susah, majikan gembira anjingpun ikut gembira, jangan kau anggap aku adalah seorang manusia yang jiwanya picik, tak mungkin kususahkan seorang dayang yang sama sekali tak ada artinya bagi pandanganku, biarkan saja ia tinggal disini untuk menemani majikannya….” Begitu Kiu-im Kaucu telah memberikan persetujuannya, Pui Che-giok sambil membopong Soat-ji lantas mengundurkan diri ke samping dengan mulut membungkam, ini bukan dikarenakan Kiu-im Kaucu menunjukkan sikapnya yang terbuka maka ia berterima kasih kepadanya. 

Cu Im taysu dan Suma Tiang-cing yang mengikuti pula kejadian tersebut, dalam hati kecilnya ikut membatin, “Bila Ku Ing-ing tidak mempunyai kelebihan sebagai seorang majikan yang baik, tidak mungkin dayangnya menunjukkan kesetiaan yang luar biasa, aaai! Memang tak bisa disalahkan kalau budak ini bersedia mengorbankan nyawanya untuk merawat majikannya, bila dihari biasapun majikannya bersikap luar biasa puka kepada dayangnya”

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong sedang mengamati pedang mustika Boan liong po kiam yang berada ditangannya, tiba-tiba ia melemparkan senjata itu ke arah Tiamcu istana neraka, kemudian memungut kembali pedang sendiri, setelah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berlalu dari sana,

Co Im taysu dan Suma Tiang-cing sendiri pun tidak banyak bicara, mereka segera berlalu pula mengikuti dibelakang si anak muda itu.

Sungguh cepat gerakan tubuh tiga orang jago tersebut, selang sesaat kemudian mereka sudah tiba diluar kuil.

Benar juga diseberang jalan dekat kuil It goan koan berdirilah empat orang kakek tua berambut putih. Lao Cu cing berdiri di samping dan sedang bercakap-cakap dengan badan setengah dibungkukan tanda menghormat. Walaupun tetap utuh dan putih mulus, badannya gagah dan langkahnya tegap, sedikitpun tidak kelihatan ketuaannya ataupun loyo karena dimakan usia.

Jenggot mereka rata-rata sepanjang dada, yang terpendek pun sadah mencapai dua depa, membuat siapa pun yang memandang keempat orang itu, segera timbullah perasaan menghormat.

Demikian pula keadaannya dengan Hoa Thian-hong, Cu Im taysu serta Suma Tiang-cing, tanpa disadari timbul rasa menghormat dalam hati kecil mereka, dengan langkah yang menghormat mereka maju menghampirinya.

Hoa Thian-hong berjalan dipaling depan, lantaran dialah yang dicari oleh keempat orang kakek tua itu, dari kejauhan ia telah menjura kepada Lau Cu cing seraya berkata, “Berhubung ada urusan penting, boanpwee telah datang terlambat, mohon para lojin dan wangwe sekalian sudi memberi maaf yang sebesar besarnya.”

Lau Cu cing segara balas memberi hormat. “Kongcu tak perlu sungkan-sungkan!” sahutnya.

Kemudian dia memperkenalkan kakek-kakek tua itu urut dengan tempat mereka berdiri, sambil menunjuk ke arah samping kiri dia berkata, Kakek tua yang ini adalah kong co (ayahnya kakek) ku, sedang orang tua ini dari marga Gan, orang tua ini dari marga Li, sedang orang tua ini dari marga Po yang.

Buru-buru Hoa Thian-hong maju kedepan sambil memberi hormat dalam-dalam, katanya, “Aku yang muda Hoa Thian- hong, menjumpai para orang tua sekalian!” “Pinceng Cu Im, menjumpai orang tua berempat kata Cu Im taysu pula seraya memberi hormat”

Sedang Suma Tiang-cing sambil maju memberi hormat katanya, “Aku yang muda Suma Tiang-cing menjumpai cianpwe berempat!”

Setelah berhadapan muka dengan keempat orang kakek tua itu sekaligus, beberapa orang jago ini membahasakan dirinya dengan kedudukan yang rendah, sebab bicara soal tingkat mereka kalah tingkat sampai empat generasi.

Lau Cu cing sendiri lantas memperkenalkan pula dua orang jago itu kepada keempat kakek tua tadi, “Taysu ini adalah seorang hiap kek (jago tua) dari golongan kaum beragama, sedang Suma tayhiap juga merupakan enghiong diantara sekalian pendekar, mereka adalah pendekar-pendekar sejati yang disanjung dan dihormati umat persilatan.”

Buru-buru Cu Im taysu serta Suma Tiang-cing mengucapkan beberapa patah kata merendah.

Senyum ramah selalu menghiasi wajah ke empat orang kakek tua itu, selesai berkenalan, Kong co dari Lau Cu cing itu lantas tertawa tergelak seraya berkata, “Kalian semua tak usah sungkan-sungkan, Haah…. haaah…. haaahh bila ada tempat untuk berbicara, kami berempat ada urusan penting hendak dibicarakan dengan diri Hoa kongcu!”

Sebelum Hoa Thian-hong sempat menjawab, Cu Im taysu telah berseru lebih dahulu, “Tempatnya ada dan tak jauh dari tempat ini, biarlah siau ceng yang membawa jalan.”

Habis berkata dia lantas berjalan lebih dahulu meninggalkan tempat tersebut. Jarak antara kuil It goan koan dengan pintu kota timur memang sangat dekat, Cu Im taysu segera membawa beberapa orang itu menuju keluar kota.

Walaupun usianya sudah menanjak lebih dari satu abad, ternyata gerak-gerik keempat orang kakek tua itu masih lincah dan enteng, Lau Cu cing sendiripun pernah berlatih ilmu silat maka gerak langkahnya tegap lagi cepat, dengan begitu perjalanan pun bisa dilakukan dengan sangat cepat.

Selang sesaat kemudian, sampailah mereka disebuah kuil kecil.

Kuil kecil itu letaknya sendirian diluar kota, penghuni kuil itu cuma seorang pendeta tua yang bergelar It piau, dia adalah seorang sahabat karib Cu Im taysu selama banyak tahun.

Setiap kali Cu Im taysu berkunjung ke kota Cho ciu, dia selalu menginap dalam kuil ini, maka setibanya didepan pintu kuil, ia lantas membuka pintu depan dan mempersilahkan semua orang untuk masuk keruang tengah.

Ketika fajar baru saja menyingsing, It piau taysu baru saja menyelesaikan doa paginya, ketika mendengar suara langkah manusia dia lantas bangkit berdiri dari kursi bantalnya.

Cepat Cu Im taysu menjura seraya berkata, “Maaf, kembali Cu Im akan mengganggu ketenangan suheng untuk beberapa waktu.”

IT piau hweesio balas memberi hormat, bibirnya bergerak sedikit tapi tak sepatah katapun yang diucapkan, ia lantas mengundurkan diri dari ruangan tersebut. Di belakang ruang kuil tersebut merupakan dua buah kamar kecil, yang satu dipakai untuk tempat tinggal It piau hweesio, sedangkan yang lain biasanya ditempati Cu Im taysu.

Ketika tiba didepan pintu, It piau hwesio memberi hormat kepada sekalian tamunya, ketika semua orang sudah masuk kedalam ruangan, hwesio itu membawa sebuah kasur duduknya dan masuk kedalam.

Menunggu para tamunya telah duduk semua, Cu Im taysu baru berkata sambil tertawa, “It piau suheng adalah seorang padri yang tuli lagipula bisu, dia bukan orang persilatan, maka bila kalian ada urusan yang hendak dibicarakan, utarakan saja dengan blak-biakan, sebab sekalipun kita undang kedatangannya kemari, belum tentu ia bersedia untuk mendengarkan!”

Hoa Thian-hong alihkan sinar matanya keatas wajah Lan Cu cing serta keempat orang kakek tua itu, kemudian dengan serius ia bertanya, “Entah ada persoalan apakah cianpwe berempat datang mencari diriku yang muda ini?”

Kakek Po yang memandang sekejap ke arah Liu Cu cing, ruparya kekek ini menyuruh dia untuk berbicara lebih dahulu.

Lau Cu cing mengangguk, maka diapun berkata, “Baiklah, ceritaku kumulai dari peristiwa yang terjadi kemarin malam!”

Dari mulut Hoa Thian-hong, baik Cu Im taysu maupun Suma Tiang-cing telah mengetahui kalau rumah kediaman Lau Cu sing telah terbakar, sedang dewa yang suka pelancongan Cu Thong meninggalkan surat yang memerintahkan Hoa Thian-hong agar segera berangkat menuju kebukit Kiu ci san.

Semenjak menghadapi peristiwa yang serba membingungkan ini, mereka bertiga sama-sama ingin mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, malahan beberapa kali mereka hendak bertanya langsung kepada Lau Cu cing, tapi setiap kali diurungkan niatnya itu maka ketika Lau Cu cing akan menceritakan sendiri peristiwa yang telah terjadi, mereka segera pasang telinga baik-baik.

Dengan suara perlahan Lau Cu cing mulai bercerita, “Tengah malam kemarin, lima orang jago silat berbaju kuning tiba-tiba menyerbu masuk kedalam rumahku, mereka berkata akan menjumpai kongco ku yang masih hidup. Ayahku dan kakekku sudah lama meninggal dunia, sedangkan kongco ku masih sehat wal’afiat dan hidup digunung Huang-san, sudah enam puluh tahun lamanya tak pernah pulang rumah barang sekali pun, sedangkan kami dari buyut buyutnya secara teratur datang berkunjung kebukit Huang-san untuk membayanginya, oleh sebab Kong cu berpesan agar kejadian ini selalu dira-hasiakan maka tetangga tetangga kami tak seorangpun yang mengetahui akan kejadian ini”

Ia berhenti sebentar, kemudian sambungnya lebih jauh, “Kelima orang manusia berbaju kuning itu terdiri dari empat laki laki dan seorang perempuan, tiga orang diantaranya bermuka jelek sekali, sedangkan pria yang masih muda dan gadis yang masih kecil itu berwajah bagus dan menarik, terutama yang perempuan cantiknya bak bidadari dari kahyangan akhirnya aku tahu kalau dia Pek Kun-gie putri ketua dari Sin-kie-pang. Kedatangan mereka amat garang dan kasar, katanya jejak kongcu kami akan dicari sampai ketemu terutama Pek Kun-gie, ia selalu menyinggung soal harta karun, katanya kalau aku tidak memberikan pengakuannya maka seluruh keluarga kami akan dibantai sampai habis.

Rupanya kakek tua yang menjadi pemimpin rombongan itu kuatir bila rahasianya terbongkar semua, jalan darahnya segera ditotok, ketika itulah Pek Kun-gie tak dapat berbicara lagi” “Jelas dia mempunyai maksud dan tujuan lain, tak mungkin dara itu benar-benar akan melakukan kejahatan” sela Hoa Thian-hong dengan cepat.

Lau Cu cing tidak memberikan tanggapannya, kembali dia melanjutkan penuturannya.

“Sepanjang hidup cayhe hanya tahu ber kat makan buah dewa yang tak ternilai harganya, maka Kongco kami bisa hidup sampai lebih dari saiu abad, aku sama sekali tidak tahu menahu tentang soal harta karun, apa lagi setelah kulihat kedatangan kelima orang itu tidak mengandung maksud baik, lebih lebih tak berani kukatakan kalau Kong co kami hidup dibukit Huang-san. Ketika itulah tiba-tiba Pek Kun-gie berkata “Aku lihat keempat orang itu sudah….”

Kata-kata berikutnya tidak dilanjutkan, tiba-tiba saja orang she Lau itu membungkam.

Tentu saja Hoa Thian-hong sekalian tahu bahwa kata selanjutnya tentulah kata mati, Lau Cu cing tak berani melanjutkan kata- katanya oleh karena menyangkut kong co serta teman-temannya.

Selang sesaat kemudian, ia baru meneruskan kata-katanya lebih jauh, “Betapa gusar dan mendongkolnya hatiku setelah mendengar gadis itu menyumpahi kongco ku, rasa marah dan tak senang hati ku ini segera terpancar diatas wajahku, ternyata kakek yang menjadi pemimpin rombongan itu cukup cerdas dan cekatan, dari perubahan wajahku dia lantas tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya kepada empat orang lainnya, ‘Cousu ya sangat cerdas dan perhitungannya tak pernah meleset, kalau tidak lantaran kecerdikannya ini tak mungkin beliau berhasil mendapatkan sebutir mutiara Lip cu dan sejilid kitab pusaka Thian hua ca ki diantara beribu-ribu orang pencari harta.’ Heemmm…. heeehmmm…. ia telah memperhitungkan bahwa keempat orang laki laki itu akan hidup selama seratus lima puluh tahun lamanya, tak mungkin keempat orang itu bisa cepat mati!”

Terlanjur mengatakan kata mati, air muka Lau Cu cing segera berubah hebat dan menunjukkan sikap gugup dan perasaan tak tenang.

Hoa Thian-hong bertiga cuma bisa saling berpandangan dengan mulut melongo, beribu-ribu orang datang mencari harta karun, peristiwa itu pastilah suatu peristiwa besar yang pernah menggemparkan seluruh kolong langit, bila cuma berita kosong belaka mereka belum tentu akan percaya, tapi sekarang empat kakek tua berusia seabad lebih yang pernah mengalami sendiri peristiwa tersebut duduk dihadapan mereka, mau tak mau terpaksa ketiga orang itu harus mempercayainya juga.

Membayangkan kembali peristiwa yang terjadi dimasa lampau, tak kuasa lagi Cu Im taysu bertanya, “Apakah kitab pusaka Thian hua Ci ki termasuk sebagai suatu kitab pusaka ilmu silat?”

Tapi setelah perkataan itu dilontarkan ke luar, padri ini baru merasa bahwa ia sudah terlanjur bicara yang tidak senonoh, buru-buru sambungnya lagi.

“Pinceng tidak berniat serakah atau ingin mendapatkannya, pertanyaanku hanya lantaran rasa ingin tahu belaka!”

Tiba-tiba ia merasa tidak tenang hatinya, cepat tambahnya lagi, “Omintohud, rasa ingin tahu adalah perbuatan bodoh dan omong kosong, dosa…. dosa….”

Semua orang merasa geli menyaksikan tingkah laku padri ini, tapi teringat betapa serius dan berusahanya padri itu untuk mengekang diri, timbul pula rasa hormat dihati mereka, maka tak seorangpun berani tertawa.

Tiba-tiba Po-yang Lojin berkata, Thian hua adalah nama manusia, dia merupakan murid paling kecil dari Kiu-ci Sinkun, orang ini she Cho dan waktu mati baru berusia dua puluh tahunan, tapi ilmu silatnya sangat tinggi, ilmu kepandaiannya yang dipelajarinya adalah jurus-jurus paling ampuh dari pelbagai perguruan dan partai besar yang ada didunia.

“Dari pelbagai perguruan dan partai besar? sela Suma Tiang-cing dengan hati terperanjat.

“Betul, ilmu silatnya meliputi pelbagai perguruan dan partai besar” sahut Po-yang Lojin, “Cho Thian-hua berbakat bagus dan berotak cerdik, tapi lantaran ilmu silat yang dipelajarinya terlalu banyak, terlalu ruwet dan tak mungkin baginya untuk mengingat semua intisari serta kelihayannya selain itu diapun mempunyai tujuan tertentu, maka setiap kali setelah mempelajari sejenis ilmu silat, diam-diam ia membuat catatan sendiri dalam sejilid kitab, lama kelamaan terjadilah sebuah catatan Ilmu silat yang kemudian diberi nama Thian hua ca ki!”

Sekarang Hoa Thian-hong baru paham dengan duduknya persoalan, ia lantas berseru, “Tak beran kalau ilmu silat yang dimiliki Tang Kwik-siu amat banyak ragamnya, macam gado- gado, tapi semuanya tidak sempurna dan tidak matang, rupanya ia belajar menurut catatan kitab Thian hua ca ki tersebut….! sekarang aku baru mengerti rahasia ini!”

“Sampai dimanakah macam ragamnya kepandaian silat orang itu?” tanya Suma Tiang-cing. Ia pandai ilmu pukulan Tong pit sin kin ilmu iblis hua kut mo ciang, ilmu sakti kim kong ciat eng. ilmu jari Yu seng sin ci dan aneka ragam lagi banyaknya.

Sepasang mata Sama Tiang cing melotot besar karena tertegun, serunya kemudian, Waah…. waah…. gado-gado, benar-benar ilmu gado-gado. Lo wangwe! Silaukan kau lanjut kan penuturanmu.

Lau Cu cing mengangguk.

Setelah kupikir-pikir, segeralah kurasakan bahwa duduk persoalan nya amat rumit.

“Cu Im suheng!” tiba-tiba terdengar It piau hwesio memanggil dari arah dapur.

Cu Im taysu ingin mendengarkan cerita dari Lau Cau cing, maka dia hanya mengiakan belaka, apa mau dikata It piau hwesio kembali memanggil lagi dengan lantang, terpaksa Cu Im taysu bertanya dengan suara setengah berteriak, “Suheng, ada urusan apa engkan panggil diriku?”

“Kalian sedang membicarakan soal harta karun, aku tak berani pergi kesitu!” seru It piau hwesio.

Tertegun Hoa Tbian hong setelah mendengar ucapan tersebut, segera katanya, “Biar aku yang muda pergi kesana!”

Dia lantas masuk kedapur, selang sesaat kemudian pemuda itu sudah muncul kembali sambil membawa senampan nasi dan sayur mayur yang tidak berjiwa, katanya, “Lo suhu itu menutupi telinganya sendiri dengan kain, tak heran kalau pembicaraan kita tak terdengar olehnya” “Omintohud!” seru Cu Im taysu sambil tertawa, “It piau suheng baru benar-benar terhitung sebagai seorang padri yang saleh, kalau aku, haaah…. hahh…. haahh…. aku pantas disebut bwesio sontoloyo, haha haha.”

Hoa Thian-hong ikut tertawa, dia lantas menghidangkan nasi dengan sayur mayur itu kedepan semua orang.

Begitulah, sambil bersantap semua orang mendengarkan Lau Cu cing melanjutkan kembali penuturannya, “Aku tak berani memberitahukan tempat tinggal engkong co ku kepada mereka namun tak mungkin aku membungkam dalam seribu bahasa, sesudah putar otak akhirnya kujawab bahwa engkong co ku beserta ketiga orang rekannya suka berpesiar ketempat- tempat kenamaan, susah untuk menemukan jejak mereka, tapi aku bersedia untuk menemukan kembali jejaknya.

Rupanya….Tang Kwik-siu tahu bahwa tiada gunanya menggunakan kekerasan atas diriku dan lagi merekapun tidak punya waktu untuk menungga terlalu lama, akhirnya dia panggil muridnya yang membawa sebuah hiolo warna merah darah untuk maju kedepan, dari dalam hiolo tersebut Tang Kwik-siu menangkap seekor kelabang aneh yang tubuhnya berbintik-bintik hitam, bajuku dising-singkan lalu kelabang itu dibiarkan menggigit pergelangan tangan kiriku. Dalam keadaan demikian, sekalipun kegusaran memuncak dalam benakku, pada hakekatnya aku tak punya kemampuan untuk memberi perlawanan apa-apa”

“Sungguh tak ku nyana Tang Kwik-siu begitu keji dan bejat moralnya, bila sampai bertemu lagi lain waktu, pasti akan kusuruh ia rasakan kelihayanku!” kata Hoa Thian-hong dengan gusar.

Lau Cu cing melirik sekejap ke arah si anak muda itu, kemudian ujarnya lebih jauh. “Setelah Tang Kwik-siu membiarkan kelabangnya menggigit perge-langan tanganku, sambil menyingsingkan bajunya Pek Kun-gie mendadak berkata sambil tertawa, “Hahaha Lau Cu cing, akupun pernah merasakan bagaimana enaknya dipagut kelabang, tampaknya kita memang senasib sependeritaan, ba gaimana kalau kita angkat saudara saja, engkau jadi kakak dan aku jadi adik!” pada mulanya aku mengira dara itu cuma berolok-olok, tapi setelah pergelangan tangan kirinya diperlihatkan kepadaku, barulah kuketahui bahwa dia memang mengalami nasib yang sama seperti akui”

Bicara sampai disitu, dia lantas menyingsingkan ujung bajunya dan memperlihatkan bekas gigitan kelabang itu kepada Hoa Thian-hong.

Pada pergelangan tangan kirinya terdapat dua titik merah sebesar kacang hijau yang menongol keluar, sedang disisi bengkak itu terdapat bekas gigitan binatang yang melekuk kedalam, ia tahu bahwa ucapan orang itu tak salah.

Terbayang kembali bagaikan ngerinya Pek Kun-gie bila digigit kelabang, ia merasa tak tega bercampur menguatirkan keselamatan gadis itu.

Setelah menurunkan kembali ujung bajunya, Lau Cu cing melan-jutkan kembali kata-katanya, “Tang Kwik-siu berkata kepadaku bahwa racun keji kelabang itu sudah menyusup ke dalam darahku, empat puluh sembilan hari kemudian racun itu baru mulai bekerja, dan bila tidak diobati maka aku akan tewas dalam keadaan mengerikan, katanya kecuali obat pemunahnya didunia ini tiada obat lain yang bisa mengobati racun tersebut!”

Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, setelah itu sambungnya lebih jauh, “Ia memerintahkan cayhe untuk menemukan jejak engkong co ku atau salah seorang diantara empat kakek tua yang dimaksudkan, kemudian empat puluh hari kemudian berangkat ke kota karesidenan Sam kang di propinsi Kwang-se untuk bertemu dengannya, bila aku tidak datang maka jiwaku akan melayang, bahkan bila urusannya telah selesai maka dia akan membantai pula keluargaku!”

“Bagaimana jawaban lo wangwe?” tanya Suma Tiang-cing. “Aku hanya mengiakan belaka, tidak ku berikan jawaban

yang tegas dan memastikan!”

“Kalau memang begitu, tidak pantas kalau mereka lepaskan api dan membakar rumah tinggal lo wangwe!” kata Hoa Thian- hong.

“Api itu bukan dilepaskan mereka, tapi Pek Kun-gie yang membakar rumahku malahan diapun hendak mencelakai pula jiwa anak istriku!” Liu Cu cing menerangkan dengan tertawa.

“Kurang ajar, keji amat perbuatannya!” bentak Hoa Thian- hong dengan penuh kegusaran.

Tampaknya Lau Cu cing sudah mengetahui kalau Hoa Thian-hong mempunyai hubungan istimewa dengan Pek Kun- gie, ia lantas tersenyum dan berkata lagi, “Nona Pek berkata begini kepadaku, “Lau Cu cing, kita toh sudah angkat saudara sepantasnya kalau kuberi tanda mata atas peristiwa ini….!”

Memang lihay sekali cara nona itu melepaskan api, belum sempat kutangkap maksud kata-katanya, dia sudah melepaskan segulung bubuk obat keatas lampu lentera, diiringi suara ledakan besar api segera menjilat ruangan.

Tampaknya Tang Kwik-siu ada maksud untuk memadamkan api tersebut, tapi tak sempat, ia hanya berdiri termangu. Berbeda dengan Pek Kun-gie, ia kelihatan bangga sekali, sambil menuding kepadaku, katanya lagi, “Engkau tak usah sakit hati bagaimanapun juga engkau toh tak akan bisa temukan jejak engkong co mu, sekalipun engkau berhasil temukan orangnya, cepat atau lambat toh tetap mati, kelabang itu merupakan binatang paling keji dikolong langit, sekalipun orang yang digigit diberi obat pemunah, diapun cuma bisa bertahan hidup selama setengah tahun belaka!”

Mendengar ucapan tersebut, Tang Kwik-siu jadi marah dan mencaci maki tapi Pek Kun-gie juga berteriak-teriak keras.

“Apa yang dia jeritkan?” tanya Hoa Thian-hong dengan kemarahan masih berkobar dalam benaknya.

Nona Pek berteriak begini, “Kita sudah berjanji bahwa aku tak akan melarikan diri, tak akan membocorkan rahasia indentitasku, tak akan membongkar rahasia, toh tak pernah dalam perjanjian itu melarang aku bunuh orang dan lepaskan api? Engkau mengaku sebagai seorang cikal bakal suatu perguruan besar, kenapa ucapanmu tidak bisa dipercaya, kenapa perbuatanmu tak pegang janji?”

Berbicara sampai disitu, tiba-tiba nona Pek ayun telapak tangannya hendak menghajar anakku paling kecil, serangannya bukan ma in-main tapi suatu serangan yang amat ganas, untungnya Tang Kwik-siu bertindak cukup cekatan, ia berbasil menangkap nona Pek sehingga terhindarlah anakku dari kematian!”

Mendengar sampai disitu, dengan dahi berkerut Suma Tiang-cing segera berkata, “Rupanya semua kelembutan dan kehalusan Pek Kun-gie cuma pura-pura belaka…. Hmmm!

Kalau memang begitu, mulai hari ini Thian-hong tak boleh memperdulikan dirinya lagi” Suma Tiang-cing adalah saudara angkat dari Hoa Goan-siu, berbicara soal hubungan maka kecuali ibunya boleh dibilang enciknya ini merupakan orang yang paling dekat hubungannya dengan pemuda itu.

Justru oleh karena adanya hubungan yang sangat erat, Suma Tiang-cing berani mengutarakan perintahnya yang amat tegas.

Hoa Thian-hong sebagai angkatan yang lebih rendah, tentu saja tak berani membangkang perintahnya itu, Tercekat hati Thian-hong setelah mendengar perkataan itu, tapi iapun tidak berhasil menemukan alasan yang tepat untuk menangkis perintah tadi, terpaksa dengan kepala tertunduk dia mengiakan barulang tali.

Sekalipun begitu, rasa sedih dan murung sempat juga meliatas diatas wajahnya.

Lau Cu cing sendiri, diam-diampun berpikir, Nama besar Hoa Thian-hong telah menggetarkan seluruh kolong langit, dan lagi dia masih muda, sepantasnya kalau anak muda berjiwa panas dan mudah jadi sombong atau jumawa, tapi kenyataannya dia tetap sederhana dan penurut, kejadian ini benar-benar luar biasa sekali.

Perlu diketahui, walaupun ilmu silat dan kesuksesan berusaha dapat membuat orang menaruh hormat, tapi masih ada bagian lain yang tidak menghormati ataupun mengaguminnya, tapi ada sebagian orang lantaran wataknya mulia dan berbudi luhur maka bukan saja orang banyak yang mengaguminya, malahan jumlah orang yang menaruh rasa kagum kadangkala jauh lebih besar dan banyak. Begitu pula halnya dengan Lau Cu cing kalau Hoa Thian- hong hanya hebat dalam ilmu silat dan tinggi kedudukannya dalam dunia persilatan, belum tentu dia akan mengaguminya, tapi justru karena wataknya yang halus budi dan jujur ia jadi amat kagum.

Tiba-tiba dia menengadah dan tertawa terbahak-bahak, kemudian katanya pula.

Hoa kongcu, bicara sejujurnya, ketika kemarin malam aku lihat engkau berada serombongan dengan orang-orang Sin- kie-pang, timbul perasaan tak senang dihatiku, karenanya meskipun aku mempunyai kesulitan, rahasia tersebut tidak sampai kubocorkan dihadapanmu apalagi setelah kuketahui bahwa hubunganmu dengan nona Pek sangat akrab, semakin besar rasa antipatiku yang muncul dalam hatiku.

00000o00000

82

MERAH padam selembar wajah Hoa Thian-hong karena jengah, buru-buru katanya.

Lo wangwe, boanpwe bukanlah manusia yang tak tahu bagaimana menyayangi diri sendiri, akan tetapi pada hakekatnya banyak kejadian yang berada dalam dunia ini yang memaksa orang tak mampu mengendalikan diri, kendatipun harus disertai dengan pengorbanan yang besar, tapi mau tak mau perbuatan itu harua dilakukan juga, boanpwee sudah berusaha untuk bergerak terus lebih keatas, apa daya kemampuanku memang terbatas, akhirnya toh tetap terjerumus kembali menurut aliran perubahan.

Cepat Lau Cu cing ulapkan tangannya. “Kongcu tak usah terlalu merasa rendah diri, aku sudah memahami watak serta perangai kongcu, akupun bisa memahami setiap perbuatan yang kau lakukan pasti didasari oleh alasan yang kuat, tak heran ka lau aku jadi salah paham karena tak tahu duduk persoalan yang sebenarnya”

Tiba-tiba Suma Tiang-cing ikut menghela napas panjang dan berkata dengan lirih, “Aaai…. namaku Kiu mia kiam kek (jago pedang sembilan jiwa) kudapatkan dengan lumuran darah, siapa yang tidak tahu kalau aku Suma Tiang-cing adalah laki-laki berhati keras, tapi toh hari ini aku harus mengadu jiwa lantaran ingin menolong jiwa seorang gadis, aaai….! Mungkin inilah yang dinamakan apa boleh buat bila keadaan sudah begitu…. heeh heehh heehh mendingan kalau orang lain tahu akan duduk persoalannya kenapa aku sampai adu jiwa ka-rena seorang gadis, bila orang itu tak tahu duduknya perkara bukankah mereka juga akan menaruh perasaan salah paham kepadaku?”

Berbicara sampai disini, ia lantas berpaling kembali ke arah Hoa Thian-hong seraya berkata lebih jauh, “Aku segan untuk mencampuri urusanmu dengan budak dari keluarga Pek, mau bagai mana terserah pada kemauanmu sendiri….!”

Tertegun Hoa Thian-hong sesudah mendengar perkataan itu, tapi diam-diam diapun bersyukur karena ia bebas dari ikatan yang memberatkan pikirannya, walaupun begitu pemuda itu tak dapat menunjukkan rasa girangnya, karena tanpa sadar soal Pek Kun-gie dan Giok Teng Hujin berbarengan berkecamuk dalam benaknya.

Tiba-tiba terdengar Lau Ca cing tertawa nyaring, lalu berkata, “Hoa kongcu, sekarang apakah engkau sudah dapat menduga apa sebabnya Pek Kun-gie membakar rumahku dan melukai cucuku?” “Oou….! Kenapa?” seru Hoa Thian-hong dengan muka tertegun.

Cu Im taysu adalah seorang padri yang berbudi luhur, dia ingin sekali membuat semua orang yang ada didunia ini jadi orang baik semua, dari pembicaraan tersebut segera diketahui olehnya bahwa dibalik pertanyaan itu tentu ada penjelasan lebih jauh, segera selanya, “Sekalipun Pek Kun-gie adalah putri Pek Siau-thian, tapi ia pribadi sebenarnya tidak bernama jelek, apalagi setelah menjadi sahabat Thian-hong, wataknya pasti banyak mengalami perubahan, Kalau toh dia bisa melakukan perbuatan seperti membakar rumah, membunuh orang, sudah pasti dibalik kesemuanya itu dia mempunyai maksud serta tujuan tertentu…. bukan begitu?”

Lau Cu cing tersenyum.

“Tadi aku masih belum bisa memecahkan persoalan ini tapi barusan tiba-tiba dapat kupahami mengapa nona Pek sampai berbuat demikian, sudah pasti ia sengaja membakar rumahku dan ingin membunuh cucuku dengan tujuan untuk merangsang aku mengharapkan aku sangat membenci kepada mereka, asalkan aku telah menaruh rasa benci kepada mereka, sudah tentu akupun tak akan tunduk oleh ancaman Tang Kwik-siu atau dengan perkataan lain dia bermaksud untuk menggagalkan rencana Tang Kwik-siu untuk mencari harta karun”

Cu Im taysu segera bertepuk tangan sambil tertawa. “Haaah…. haaah…. haaahh…. benar, perkataan ini memang

cocok sekali, tak nyana nona Pek sangat cerdik cuma…. perbuatannya membakar rumah kelewat ganas, apalagi ingin melukai jiwa orang lain, tindakan semacam ini tidak dibetulkan, untung saja tak ada yang sampai korban jiwa, Thian-hong kalau lain kali bertemu kembali, engkau harus baik baik memperingatkan dirinya!”

Merah padam wajah Thian-hong karena malu, dengan perasaan kikuk dia lantas mengangguk.

Setelah itu baru ujarnya lagi kepada Lau Cu cing, “Pek hujin dari perkumpulan Sin-kie-pang adalah seorang pemimpin yang bijaksana, bila bertemu nanti boanpwe akan minta kepadanya untuk mengganti kerugian yang telah wangwe derita, boanpwe tanggung Pek hujin tak akan menolak!”

“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. meskipun aku bukan seorang milyuner, tapi kalau cuma sebuah rumah gedung masih tak menjadi beban pemikiranku, biarlah maksud baik Hoa kongcu kuterima didalam hati saja!”

Dalam pada itu, Po-yang Lojin berempat telah selesai bersantap pagi, Suma Tiang-cing segera mengalihkan pembicaraan kepokok persoalan yang sebenarnya, tentu saja ia merasa riku untuk langsung menyinggung soal harta karun, maka dengan jalan memutar kayun, dia bertanya dengan lantang.

“Po yang locianpwee, tadi boanpwe mendengar locianpwe menyebut tentang diri Kiu-ci Sinkun, mungkinkah dia adalah seorang tokoh persilatan yang berilmu silat sangat tinggi?”

Po-yang Lojin membereskan rambutnya yang kusut, lalu mengangguk tanda membenarkan.

“Ehmm! Dikolong langit yang serba aneh ini sering terdapat manusia-manusia yang dinamakan Kutu busuk, setan arak, gila harta, setan perempuan, coba kalian pikirkan lagi masih ada setan-setan apa lainnya yang belum kusebutkan??” Hoa Thian-hong tersenyum, ia tidak menjawab tapi saling berpandangan dengan rekan-rekan lainnya, siapapun tidak paham dengan maksud perkataannya itu.

Akhirnya Suma Tiang-cing berkata, “Ada sejenis manusia yang gemar sekali berjudi, begitu tergila gilanya sampai tak bisa ditolong lagi, orang menyebut mereka sebagai setan judi!”

Sambil tertawa Cu Im taysu ikut angkat bicara, “Pinceng mempunyai seorang sahabat yang tiada kesenangan lain kecuali main catur, begitu tenangnya dia bermain catur sampai tiap menit tiap detik selalu bermain tak hentinya, kalau kebetulan bertemu tandingan permainan dilakukan siang malam, kalau tak ada lawan bertanding dibelinya gula-gula dan menyuruh anak tetangganya untuk melayani dia bermain kalau tak bisa dia lantas mengajarnya, bagi orang ini lebih baik tidak makan daripada tidak main catur, orang banyak sebut dia sebagai setan catur!”

“Ada setan judi ada setan catur, apakah ada manusia jenis lain?” tanya Po-yang Lojin sambil tertawa, “Boanpwe pernah dengar ada orang gila pangkat, entah benarkah ada manusia manusia yang gila pangkat dan kedudukan?”

Po-yang Lojin tersenyum dan mengangguk.

“Ada, memang didunia ini banyak terdapat manusia yang gila pangkat dan kedudukan. Mereka ada manusia-manusia yang sekolah ingin pintar, setelah pintar ingin punya kedudukan, setelah dapat kedudukan ingin naik pangkat, setelah naik pangkat pingin jadi pembesar, sudah jadi pembesar ingin jadi kaisar, bahkan berbuat dengan cara yang rendah apapun asal tujuannya tercapai, manusia seperti itu disebut manusia yang gila pangkat dan kedudukan!” Mendadak Suma Tiang-cing seperti menyadari akan sesuatu, dia lantas berkata, “Berbicara soal ilmu silat mungkinkah ada orang yang gila ilmu?”

Kali ini Po-yang Lojin tertawa tergelak dengan nyaringnya. “Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. orang yang suka

belajar ilmu silat memang banyak, tapi orang yang berai benar gila ilmu jarang sekali ditemui dikolong langit!”

“Locianpwe, mungkinkah Kiu-ci Sinkun adalah seorang manusia gila ilmu….?” tanya Hoa Thian-hong.

“Bukan!” orang tua itu menggeleng.

Hoa Thian-hong jadi tertegun, pikirnya di hati, “Kalau bukan terus, bukankah sia-sia belaka pembicaraan yang berlangsung selama ini?”

Sementara dia masih termenung, Po-yang Lojin telah berkata kembali, “Bukan saja Kiu-ci Sinkun gila ilmu bahkan karena gilanya ia jadi kesemsem karena kesemsemnya jadi kalap, dan saking kalapnya jadi kesetanan, dia adalah seorang kesetanan ilmu!”

“Weh, kalau begitu dia pastilah seoleng tokoh silat yang luar biasa sekali, ilmunya tentu lihay dan tingkah lakunya kokoay, apakah locianpwe bersedia untuk menceritakan riwayatnya?” tanya Cu Im taysu dari samping.

Kakek tua she Lau yang menjadi engkong co nya Lau Cu cing tiba tiba menyela, “Pada waktu itu orang persilatan yang berjumpa dengannya menyebut dia sebagai Sinkun, tapi kalau berada dibelakangnya orang tidak menyebut sebagai Kiu-ci Sinkun lagi melainkan Kiu si sinmo, iblis sakti ini terhitung manusia paling berdosa didalam dunia persilatan sejak dulu sampai sekarang, perbuatannya luar biasa sekali, sering kali apa yang di anggap khayalan bagi orang lain telah diciptakan menjadi kenyataan olehnya, pengaruhnya bagi dunia persilatan boleh dibilang luar biasa besarnya”

Kakek tua she Lau menghela napas panjang, kemudian menyambung, “Dunia persilatan yang ada disaat itu sudah dibikin kacau balau tak karuan olehnya, tapi justru karena tingkah lakunya maka terciptalah dunia persilatan pada saat ini, mungkin juga sisa-sisa pengaruh keedanannya itu masih akan mempengaruhi pula dunia persilatan pada seratus tahun mendatang!”

Ucapan kakek tua she li ini cukup menggetarkan hati semua orang, baik Hoa Thian-hong maupun Suma Tiang-cing dibuat tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo sesudah mendengar ucapan tersebut, mereka dibikin kebingungan dan tidak habis mengerti.

Terdengar kakek tua she Gan menyambung pula, katanya, “Jiko Sute, biarlah toako yang memberi keterangan kepada mereka, dengan begitu semua orang tidak dibuat kebingungan tak habis mengerti, coba lihatlah bukankah mereka melongo karena kebingungan sendiri?”

Kakek tua ahe Li dan kakek tua she Lau segera mengangguk dan sama-sama berpaling ke arah Po-yang Lojin.

Agak lami Po-yang Lojin termenung, rupanya ia berusaha untuk mengumpulkan kembali semua daya ingatannya, setelah itu baru ujarnya perlahan lahan, “Kiu-ci Sinkun dilahirkan kurang lebih seratus delapan puluh tahun berselang, sejak kecil sudah gemar belajar silat, ketika berusia belasan tahun dia belajar ilmu dari Huan Teng, seorang guru silat kenamaan di jaman itu, Huang Teng bergelar Sinkun {pukulan sakti} katanya ilmu silat yang dimiliki berasal dari jilid kitab pusaka yang bernama Po-kia Sinkun, hampir separuh hidupnya habis untuk belajar ilmu, tidaklah heran kalau kepandaian silat yang dimilikinya benar-benar hebat. Dengan semangat yang menyala-nyala Kiu-ci Sinkun berangkat menjumpai guru silat itu dan mohon agar ia diterima menjadi muridnya, apa mau dikata Huan Teng mempunyai suatu peraturan yang khusus bagi orang yang hendak menjadi muridnya, dan lagi tanpa kecuali semuanya harus melakukan persyaratannya iu”

“Bagaimana peraturannya?” tanya Suma Tiang-cing.

Kalau dibicarakan soal peraturannya, maka lebih tepat kelau dikatakan balas jasa, apabila orang hendak belajar silat kepadanya maka dia musti bersedia membawa balas jasa yang cukup besar atau mempunyai orang kenamaan yang bersedia menjamin kwalitetnya, atau bila hal ini tidak mungkin, maka si pukulan sakti Huan teng ini akan mencoba dulu ketekunan serta kerajinannya. Yang dimaksudkan mencoba ketekunan dan kerajinan disini adalah menjadi pelayan keluarga Huan selama empat tahun lamanya, setelah lewat empat tahun baru akan ditetapkan apakah dia dapat diterima atau tidak.

“Bagi mereka yang mempunyai kekayaan atau mempunyai kenalan orang besar tenta saja persyaratan itu tak susah untuk diatasi,” kata Cu Im taysu sambil tertawa, “sedangkan Kiu-ci Sinkun tidak berhata pun tak ada kenalan orang besar, masa dia bersedia manjadi jongos orang selama empat tahun?”

“Memang begitulah kenyataannya, waktu itu usia Kiu-ci Sinkun baru belasan tahun, sekalipun harus menjadi pelayan selama empat tahun, tupanya soal itu tak menjadi halangan baginya. Justru karena ambisinya yang besar maka dia terima syarat tersebut. Sejak menjadi jongosnya keluarga Huan, setiap pagi hari ia saksikan anak murid Huan Teng berlatih ilmu, ia merasa tangannya jadi gatal dan ingin belajar, akhirnya saking tak tahannya dia telah melanggar pantangan yang sebelumnya telah ditetapkan oleh Huan Teng….!”

Bercerita sampai disitu, ia berhenti untuk meneguk air teh setegukan, sesudah tenggorokannya basah, barulah sambungnya lebih jauh, “Tidak sampai beberapa bulan lamanya ia menjadi jongosnya keluarga Huan, secara diam- diam ia telah mencuri belajar semua ilmu silat yang sedang dilatih oleh murid-muridnya Huan Teng, ia mencuri lihat mencuri belajar dan mencuri untuk melatihnya, tapi kejadian ini bara saja berlangsung selama beberapa hari, perbuatannya ketahuan Huan Teng, bayangkan saja mencuri belajar ilmu silat orang lain adalah pantangan paling besar bagi umat persilatan, apalagi Huan Teng adalah seorang jago yang kurang terbuka pikirannya, dalam gusar dan mendongkolnya ia lantas menangkap Kiu-ci Sinkun dan mengha jarnya habis- habisan sehingga nyaris mati konyol setelah dihajar, dia diusir dari perguruan dalam perkiraan Huan Teng urusanpun akan berakhir sampai disitu saja. Siapa tahu justru karena perbuatannya ini, membuat dunia persilatan sejak hari itulah mengalami banyak perubahan.”

“Pandai amat kakek tua ini bercerita” pikir Hoa Thian-hong didalam hati, “sekali pun perlahan-lahan tapi menawan hati, membuat para pendengarnya sedikitpun tidak merasa gelisah.”

Sementara itu Po-yang Lojin telah bercerita kembali, Kiu-ci Sinkun adalah seorang anak yatim piatu, sejak diusir dari keluarga Huan, dia hidup terlunta-lunta dipinggir jalan sebagai seo rang pengemis, keadaan ini berlangsung hampir setengah tahun lamanya, luka yang dia deritapun perlahan-lahan jadi sembuh kembali, sejak itulah rasa bencinya terhadap pukulan sakti Huan Teng merasuk ketulang sumsum. Dia ada maksud belajar ilmu dari guru lain dan bila ilmunya berhasil diyakinkan maka dia akan menuntut balas, tapi perasaannya selalu tak tenang karena ia hanya sempat mencuri belajar beberapa jurus ilmu Po-kia Sinkun milik Huan Teng, maka suatu hari ia tak dapat mengendalikan perasaan hatinya lagi, diam-diam ia menyusup kedalam gedung keluarga Huan dan masuk kekamar tidurnya Huan Teng, sudah beberapa bulan ia menjadi jongosnya keluarga Huan maka tanpa mengalami kesulitan apapun ia berhasil masuk kekamar tidur bekas gurunya ini dan mencuri kitab pusaka yang disayang Huan Teng melebihi sayangnya pada jiwa sendiri itu.

“Benar-benar besar sekali nyali orang ini, cuma tidak sepatutnya ia menjadi pencuri!” kata Cu Im taysu sambil tertawa tergelak.

Pada umumnya orang jadi nekad karena mata gelap, tapi ada pula sementara orang yang nekad untuk melindungi diri sendiri, seperti perbuatan dari Kiu-ci Sinkun ini, sama sekali tak ada hubungannya dengan kenekadan serta keberaniannya, di a hanya gila ilmu dan gila belajar ilmu, lantaran ilmu silat dia berbuat segala sesuatu tanpa perhitungan yang masak, keberanian manusia semacam ini kadangkala memang lebih hebat dari keberanian orang biasa.

“Aku rasa Huan Teng pasti tak akan berpeluk tangan belaka setelah dia tahu kitab pusakanya dicuri orang, lalu bagaimanakah selanjutnya setelah ia tahu kejadian ini?” tanya Suma Tiang-cing dari samping.

Setelah Huan Teng mengetahui kalau kitab pusakanya dicuri oleh Kiu-ci Sinkun, ia lantas menjelajahi seluruh daratan Tionggoan untuk mencari jejaknya, tapi sayang usahanya ini tidak mendatangkan hasil apa-apa, Kiu-ci Sinkun yang dicari sama sekali tidak ditemukan jejaknya. Dua tahun kemudian, tiba-tiba Kiu-ci Sinkun munculkan diri di dalam dunia persilatan, bahkan melakukan pula suatu perbuatan terang- terangan yang amat menggemparkan semua umat persilatan.

“Perbuatan aneh apakah itu?” tanya Hoa Thian-hong dengan perasaan tercengang.

“Pada waktu itu dikota Kay hong hidup seorang jago pedang yang bernama Kongsun Tong, permainan ilmu pedangnya sudah tersohor sekali didunia persilatan, ilmu pedangnya itu dinamakan It ci hui kiam (pedang satu huruf) diantara seluruh ilmu pedang yang ada didunia ini, kepandaiannya terhitung ilmu silat tingkat tinggi. Kiranya setelah berhasil mencuri kitab Po-kia Sinkun dari rumah keluarga Huan, Kiu-ci Sinkun telah menyembunyikan diri ditengah gunung untuk mempelajaiinya, tidak sampai setahun seluruh ilmu dalam kitab itu sudah dipelajari habis, karena takut dikejar Huan Teng dia bersembunyi selama satu tahun lagi digunung untuk memperdalam ilmunya, lama kelamaan kegemarannya untuk belajar ilmu yang lain tak bisa dibendung lagi, berangkatlah dia ke kota Kay Hong dan mencari Kongsun Tong untuk membicarakan suatu barter….”

“Barter bagaimanakah itu?” tanya Hoa Thian-hong.

“Kiu-ci Sinkun mengeluarkan sejilid kitab salinan ilmu Po-kia Sinkun untuk ditukarkan dengan sejilid kitab salinan ilmu pedang It Ci hui kiam milik Kongsun Tong, ia berharap agar Kongsun Tong bersedia m nerima tukar menukar itu.”

Mendengar cerita tersebut, semua orang tak dapat menahan gelinya lagi, tertawalah beberapa orang jago itu dengan nyaring. Suma Tiang-cing segera berkata, “Mungkin Kin ci sinkuc adalah seorang tolol yang otaknya terlalu sederhana dan tidak tahu keadaan.”

Po-yang Lojin menggeleng.

“Kecerdasan orang ini luar biasa sekali dan jarang ditemui dikolong langit, oleh karena dalam benaknya ia cuma memikirkan soal ilmu silat belaka, maka bila dia sudah berminat akan suatu ilmu, dengan cara dan jalan apapun akan ditempuh olehnya untuk mendapatkan apa yang diinginkan, kendatipun perbuatannya itu melanggar kebiasa n orang dan cukup bikin tercengang orang lain!”

“Benar, sahabatku si setan catur juga demikian” sela Cu Im taysu dengan cepat.

Setelah berhenti sebentar, ia tertawa dan gelengkan kepalanya.

“Terlalu banyak cerita lucu tentang orang ini, bila lain waktu ada waktu pasti akan kuceritakan!”

Po-yang lojin tersenyum, ia melanjutkan kembali penuturannya, “Rupanya Huan Teng memandang peristiwa hilangnya kitab pusaka Po kia kun boh merupakan suatu peristiwa yang paling memalukan baginya, diapun tahu jika berita ini sampai disiarkan dan semua orang didunia mengetahui akan kejadian ini, maka Kiu-ci Sinkun akan semakin tak berani unjuk kan diri, karena itu sejak kejadian sampai detik itu rahasia tersebut tetap disimpan baik-baik, orang lain tak seorangpun yang mengetahui akan kejadian ini. Begitulah setelah Kongsu Tong mendengar permintaannya dan memeriksa pula kitab tersebut, walaupun dihati merasa amat terkejut tapi dia manyanggupi permintaan orang, bahkan bersedia pula untuk menyiapkan sejilid salinan ilmu pedangnya untuk ditukarkan dengan kitab itu, Kiu-ci Sinkun masih muda dan kurang pengalaman, iapun tak tahu betapa liciknya orang lain, ia menganggap orang lain tentu sama pula kebaikannya seperti dia, maka untuk sementara waktu berdiamlah dia dikota Kay hong sambil menunggu Kongsun Tong selesai membuatkan sebuah salinan kitab ilmu pedang baginya.”

“Mungkinkah Kongsun Tong juga bukan seorang manusia baik-baik?” tanya Suma Tiang-cing.

Po-yang Lojin mengelus jenggotnya yang panjang dan tertawa.

“Sebagus-bagusnya seseorang toh tetap ada cacadnya, sejelek jeleknya manusia toh ada pula kebaikannya, sekalipun didalam masyarakat ada orang yang berwatak baik, dibalik kebaikannya itu pasti ada wataknya yang jelek, susah untuk menentukan baik buruk dari pandangan sekilas saja, begitu pula dengan Kongsun Tong, ia tak bisa dikatakan orang baik pun tak bisa dikatakan orang jahat”

“Omintohud, perkataan lojin memang sangat tepat dan sangat mengena sekali dilubuk hati setiap orang….” puji Cu Im taysu.

Ia lantas berpaling ke arah Hoa Thian-hong dan menambahkan, “Thian-hong, engkau harus ingat baik-baik perkataan dari Po-yang Lojin ini, sebagai seorang pendekar sejati sudah menjadi kewajibanmu untuk maju terus pantang mundur, tapi bukan berarti boleh membunuh orang secara sembarangan, sebab manusia yang benar-benar bejad dan jahat sehingga tak setitik kebaikanpun dimilikinya jarang sekali terdapat didunia ini, sejahat jahatnya orang ia masih tetap memiliki kebaikan walaupun perbandingannya jauh sekali!” “Boanpwe akan mengingat selalu nasihat ini, dan tak akan kucelakai orang lain dengan sembarangan!” sahut Hoa Thian- hong sam bil manggut.

Suasana hening untuk sementara waktu, terdengarlah Suma Tiang-cing bertanya lagi setelah memandang sekejap ke arah Po-yang Lojin, “Locianpwe, bagaimanakah caranya Kongsun Tong mengatasi persoalan yang dihadapinya ini?”

“Setelah menerima kitab salinan ilmu pukulan tersebut, sekali dipandang Kongsun Tong sudah tahu kalau isinya tidak palsu, tapi ia curiga kalau inti sari dari ilmu pukulan tersebut telah dihilangkan dengan begitu saja. Sebab menurut jalan pikirannya, kitab Po kia kun boh adalah kitab pusaka andalan keluarga Haun, jelas tak mungkin kalau kitab tersebut dapat dicuri oleh seorang anak muda, ia lantas menaruh curiga kalau Huan Teng sedang mengatur siasat busuk untuk menjatuhkan nama baiknya, sengaja ia mengirim seorang bocah dengan membawa kitab pusaka yang tidak komplit untuk ditukar dengan rahasia ilmu silatnya, setelah ia berbasil menguasai ilmu pedangnya maka datanglah jago itu untuk menghancurkan nama baiknya.

“Berpikir sampai disitu, betapa gusarnya Kongsun Tong, tapi dikarenakan Kiu-ci Sinkun cuma seorang bocah belasan dan lagi jelek jelek dia juga seorang tamu, maka sebagai orang kenamaan ia tak mau bertempur melawan bocah tak bernama itu, dia lantas kembali kekamar dan ambil keluar sejilid kitab pedang, kepada Kiu-ci Sinkun ujarnya, “Coba lihatlah kitab pedangku ini, tulisannya mencapai beberapa puluh laksa kata, jurusnya seratus satu dan gambarnya seratus satu pula, kalau musti disalin maka membutuhkan waKtu yang sangat lama, terutama karena tiada pembantu yang bisa dimintai pertolongannya, aku harap engkau suka sabar menanti sebab sedikitnya dua puluh hari baru bisa selesai!” Kitab itu memang antik bentuknya dan padat isinya, semakin gatal rasanya Kiu-ci Sinkun untuk mendapatkannya, apa mau dikata, isi kitab itu memang tebal maka ia berjanji akan kembali lagi kesitu satu bulan mendatang, dan waktu itulah barter akan dilaksanakan oleh ke dua belah pihak”

“Sebenarnya rencana busuk apakah yang telah disusun oleh Kongsun Tong itu?”

“Kongsun Tong tersohor namanya karena ilmu pedangnya yang lihay, kecuali ilmu lainnya bahkan terhadap kitab pusaka Po kia kun boh tersebutpun sama sekali tidak tertarik, dia malahan menaruh curiga kalau Huan Teng mengadung maksud jahat dan mengirim orang untuk membohongi ilmu silatnya sendiri, maka dia ambil keputusan untuk menggunakan akal busuk melawan akal busuk, bukan saja akan membari kelihayan kepada Huan Teng, mumpung menggunakan kesempatan yang sangat baik inipun dia akan angkat nama hingga tersohor dikolong langit”

“Dengan cara apa ia laksanakan rencananya berdasarkan siasat lawan siasat itu?” tanya Hoa Thian-hong seraya tertawa.

“Sepeninggal Kin ci siokun, diam-diam Kong sun Tong membuat sepucuk surat dan mengutus orang untuk segera menyampaikan kepada Huao Teng, didalam surat itu diterangkan bahwa ada orang yang bendak menukar kitab pusaka Po kia kua boh miliknya dengan kitab ilmu pedangnya, dan diharapkan kedatangannya untuk menangkap pencuri, selain itu diam-diam iapun mengumpulkan sekawanan jago kenamaan dari dunia persilatan untuk bertindak sebagai saksi, menurut perhitungannya andaikata Huan Teng benar-benar kecurian maka jikalau pencurinya berhasil ditangkap dan barang yang tercuri dapat dikembalikan kepada pemiliknya sudah pasti Huan Teng akan merasa sangat berterima kasih kepadanya, sebalikuya kalau kejadian ini meru pakan siasat busuk dari orang itu, maka berada dihadapan kawanan jago persilatan Kongsun Tong akan menantang Huan Teng untuk berduel, bukan saja rencana busuknya akan dibongkar dan dibeberkan didepan mata jago kenamaan, bila ia berhasil kalahkan Huan Teng bukankah nama besarnya akan semakin tersohor lagi dikolong langit….?”

Suma Tiang-cing tertawa tergelak sesudah mendengar cerita itu, serunya tanpa terasa, “Siasat ini mempunyai manfaat rangkap, baik kiri maupun kanan semua akan mendatangkan hasil yang menguntungkan dirinya, rupa- rupanya pendekar pedang ini memang luar biasa sekali!”

Po yang lojtn tersenyum.

Ketika Huan Teng menerima surat pemberitahuan itu, tentu saja buru-buru ia berangkat memenuhi undangan, sementara sekawanan jago persilatan yang diundang Kongsun Teng ju-ga telah berdatangan pula pada waktunya. Nah, ketika saat yang dijanjikan telah tiba, Kiu-ci Sinkun dengan membawa salinan kitab pusaka Po kia kun boh datang kerumah Kongsun Tong dengan wajah berseri-seri, setellah masuk kegedung dan menemukan banyak jago hadir disana, terutama pukulan sakti Huan Teng yang sudah bersiap-siap dengan wajah penuh kema rahan, sadarlah pemuda itu kalau dia sudah dihianati Kongsun Tong, setelah kejadian menjadi begini sudah pasti barter tak mungkin dilangsungkan, untuk kabur juga tak ada harapan, terpaksa dengan keraskan kepala ia maju terus kedlam rumah itu untuk menghadapi kenyataan.

“Bagaimana akhirnya??” tanya Cu Im taysu cepat, rupanya ia sangat tertarik oleh kisah tersebut.

Cukup perkasa tindakan Kiu-ci Sinkun, sebelum Pukulan sakti Huan Teng menegur dirinya, serta-merta ia sudah berkata lebih dulu. Aku sudah dua tahun menjadi jongos di rumahmu, kau sudah menghajar pula tubuhku setengah mati, sebagai gantinya aku telah mencuri kitab pusakamu dan melatihnya selama dua tahun, aku rasa urusan ini tiada faedahnya dibicarakan berlarut larut. Kini kitab tersebut telah kusembunyikan disuatu tempat yang sangat rahasia letaknya, kecuali aku siapapun jangan harap bisa temukan benda itu, sekarang aku nembawa sejilid kitab salinannya, bila kau bersedia maka kitab salinan ini akan kuserahkan dahulu kepadamu, urusan dibikin beres sampai disini saja, sebaliknya kalau engkau tetap merasa tidak terima, maka kita harus menyelesaikannya dengan ilmu silat, bila kau menang, kitab salinan ini kuserahkan dulu kepadamu, lalu kuantar engkau untuk mengambil kitab aslinya, selain itu kau hendak menghukum diriku dengan cara apapun aku tak akan membangkang atau coba menghindarinya”

“Andaikata Kiu-ci Sinkun yang menang?” tanya Hoa Thian bong.

Po-yang Lojin tertawa setelah mendapat pertanyaan itu, sahutnya, “Pertanyaan semacam ini hanya kau seorang yang mengajukan, orang lain tak akan berpikir sampai disini, waktu itu Kiu-ci Sinkun berkata pula, “Andaikata aku yang menang, maka kitab Kun boh tersebut menjadi milikku, kau tak boleh mencari gara-gara lagi dengan aku, sedangkan akupun tak akan mencelakai jiwamu, engkau boleh pulang kerumah dan melatih kembali ilmu silatmu, tiga tahun kemudian datanglah mencari aku dan kita bertanding lagi, coba kita lihat siapakah yang lebih cepat memperoleh kemajuan dalam latihannya?”

Bercerita sampai disini, Po-yang Lojin sendiripun tak dapat menahan diri sehingga gelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa nyaring, “Saudara sekalian, Kiu-ci Sinkun memang, benar-benar seorang manusia luar biasa, sejak jaman dahulu sampai sekarang, bukan saja kelakuannya aneh, tindak tanduknya juga luar biasa sekali, karena itulah dengan tidak bosan-bosannya kuceritakan kisah dimasa mudanya kepada kalian, kalau tidak begini sudah pasti kalian tidak akan percaya dengan tindak tanduknya dimasa kemudian.”

“Silahkan locianpwee melanjutkan ceritanya, kami sudah pasang telinga baik-baik” kata Hoa Thian-hong.