Tiga Maha Besar Jilid 23

 
Jilid 23

SETELAH udara cerah kembali, pertarungan yang berlangsung antara kedua orang itu berjalan semakin gencar dan seru, tampaknya dewa yang suka pelancongan sudah terdesak dibawah angin, hal ini memaksa dia untuk menarik kembali sikap main-mainnya. Cepat kipasnya diselipkan keatas punggung kemudian sepasang telapak tangannya berputar kencang untuk menolong keadaannya yang telah terdesak.

Beberapa lembar kitab catatan Ci yu jit ciat itu mula-mula didapatkan oleh dewa yang suka pelancongan, kemudian diserahkaa kepada Hoa Thian-hong, setelah pemuda itu melatihnya kemudian diserahkan kepada ibunya dan Hoa Hujin mewariskan pula kepada Bong Pay.

Oleh karena itu ketiga jurus serangan menyerang sampai mati itu termasuk pula serangan mematikan yang paling diandalkan oleh Cu Thong.

Ilmu pedang yang dimiliki Hoa Thian-hong sangat tinggi, kepandaian tersebut menutupi ilmu silatnya yang lain, selain itu berhubung ketiga jurus serangan tersebut terlalu sadis dan pasti mencabut nyawa korbannya bila terkena, maka jarang sekaili pemuda itu memakainya dalam setiap pertarungan.

Disamping itu perangai Hoa Thian-hong memang rada berbeda, karena itu selama digunakan oleh pemuda itu, ilmu Ci yu jit ciat tersebut mempunyai sifat yarg sama sekali berbeda pula.

Lain halnya dengan Cu Thong, setiap tusukan maupun babatan telapak tangannya semua mengandung nafsu membunuh yang sangat tebal, andaikata musuh yang dihadapinya tidak memiliki kepandaian silat yang sangat tangguh, tentu mereka akan berusaha menyingkir sejauh- jauhnya.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah saling bertarung sebanyak empat puluh gebrakan lebih, setiap serangan Kek Thian-tok selalu merebut posisi yang lebih menguntungkan namun setiap kali juga kena dipaksa mundur kembali oleh pukulan maut Cu Thong.

Dengan demikian posisi untuk sesaat berlangsung dalam keadaan seimbang, walau begitu ilmu langkah Loan ngo heng mi sian tun hoat dari orang she Kek ini memang sangat lihay, berulang kali Cu Thong berusaha merobohkan musuhnya namun selalu gagal, kalau ditinjau dari keadaan itu tampak nya kedua belah pihak sama-sama sulit untuk saling merobohkan.

Setelah beberapa saat mengikuti jalannya pertarungan itu, tiba-tiba Pek Kun-gie berbisik kepada Hoa Thian-hong, “Sekarang tentunya engkau tahu bukan, apa sebabnya setiap anggota perkumpulan Kiu-im-kauw diwajiban untuk melatih ilmu langkah itu?”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang.

“Aaaii…. ilmu langkah tersebut mengandung gerakan ngo heng yang amat rumit dan kacau, im yang dibolak balik jadi tak karuan memang manfaatnya luar biasa sekali, paling sedikit kalau mereka telah menguasai ilmu langkah tersebut, jika bertarung digelanggang tidak sampai dibikin menderita kalah secara menyedihkan”

Pek Kun-gie melirik sekejap ke arah pemuda itu lalu mengomel.

“Huuh! Aku baru saja ngomong sekecap, tapi kau cuat-cuit terus ngomong setumpuk!”

“Baik, baik, kalau begitu, silahkan engkau yang berbicara!”

Pek Kun-gie tertawa, katanya kemudian, “Ilmu langkah tersebut mengandung gerakan Ngo heng yang amat rumit dan kacau, im yang dibolak balik jadi tak karuan, memang manfaatnya luar biasa sekali, paling sedikit kalau mereka telah menguasai ilmu langkah tersebut, jika bertarung digelanggang tidak sampai terkalahkan!”

Hoa Thian-hong berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar, pikirnya dihati, “Gimana sih bocah ini? Apa yang dia katakan sama persis menjiplak kata-kataku barusan? Lalu apa yang berbeda?”

Ia sudah menggerakkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi dia takut gadis itu malu kalau ditegur didepan umum, maka akhirnya niat itu dibatalkan.

Tiba-tiba terdengar dewa yang suka pelancongan berseru dari tengah gelanggang, “Setan tua she Kek, sedari kapan engkau menggabungkan diri dengan pengumpulan Kiu-im- kauw?”

Aku adalah bawahan lama dari kaucu yang lalu, tua bangka! Kalau mau berkentut kenapa tidak sekalian dikeluarkan? ejek Kek Thian-tok dengan ketus.

Pek Kun-gie segera menutupi hidungnya sambil menimbrung dari samping, “Waah…. bau apaan ini, aduuh baunya luar biasa! Pasti setan tua itu yang sedang kentut bau!”

Hoa Thian-hong tersenyum melihat kebinalan gadis itu, cepat bisiknya dengan lirih, “Jangan ngaco belo terus, coba lihat biji mata Kiu-im Kaucu yang liar terus-terusan ditujukan ke arahmu, kau musti hati-hati menjaga diri, jangan sampat kena dibekuk batang lehernya oleh dia!”

Pek Kun-gie merasa sangat bangga sambil bersandar dibahu anak muda itu, sahutnya, “Dia selalu berharap agar aku bisa menjadi muridnya, Hmm! Kalau engkau berani tinggalkan aku lagi, aku segera akan menggabungkan diri dengan Kiu-im-kauw, aku akan bunuh orang, bakar rumah, pokoknya khusus melakukan perbuatan-perbuatan jahat”

Hoa Thian-hong tertawa santai, dia alihkan perhatiannya untuk mendengarkan pembicaraan dari Co Thong.

Sapa sangka dewa yang suka pelacongan jadi segan bertanya lagi setelah dikacau oleh Pek Kun-gie.

Perkumpulan Kin im kau adalah suatu organisasi yang amat rahasia, tiga puluh tahun berselang mereka pernah bikin onar dan kekacauan dalam dunia persilatan, tetapi berhubung gerak-gerik mereka teramat rahasia dan tak pernah melakukan perbuatannya secara terbuka maka asal usul dari para anggotanya jarang diketahui oleh khalayak umum.

Dalam kemunculannya kembali dalam dunia persilatan kali ini, Kiu-im Kaucu berkeyakinan untut menguasai seantero jagat dan merebut kursi kebesaran sebagai pemimpin Bu lim, karena keyakinan itulah maka dia munculkan diri dalam pertemuan besar Kian ciau tay hwe secara terang-terangan.

Tujuannya sengaja adalah menaklukkan seluruh kekuatan persilatan yang hadir disana, siapa tahu Hoa Thian-hong telah tampil kedepan untuk menguasai ketenangan dan kesetabilan dalam dunia persilatan, dalam keadaan begitu maka keadaan dan Kiu-im Kaucu ibaratnya menunggang diatas pungguag harimau, tetap begitu susah mau turun tak mungkin, terpaksalah dia lanjutkan pertikaiannya melawan Hoa Thian- hong.

Dewa vang suka pelancongan Cu Thong pernah mendengar nama Kek Thian-tok di masa silam, hanya keterangan mengenai orang ini tidak begitu jelas dan lagi tidak begitu mengetahui tentang asal usul perguruannya, setelah pertarungan berlangsung seru, beberapa kali dia hendak memancing lawan nya untuk mencari tahu asal usul orang she Kek ini, sayang pertarungan telah berlangsung amat sengit, tenaga untuk bicarapun ngotot, maka diapun batalkan keinginannya itu.

Kek Thian-tok sendiri diam-diam merasa gusar bercampur mendongkol setelah gagal untuk rebut kemenangan dalam waktu singkat, tiba-tiba ia menerjang kemuka sambil melancarkan serangan, gerakan itu sangat berbahaya namun hebat, secara beruntun dia lepaskan delapan buah serangan berantai yang gencar.

Kedelapan buah serangan itu rata-rata berkemampuan sangat tinggi dengan disertai desiran tajam yang memekikkan telinga, gerak tubuh Cu Thong bagaimanapun juga tak sanggup menandingi kecepatan lawan nya, dia selalu terlambat dalam melepaskan pukulan, lama-kelamaan posisinya makin terdesak dibawah angin.

Ketika kedelapan buah serangan itu dapat dipunahkan dengan susah payah gerak tubuhnya sudah makin lamban, walaupun ketiga jurus serangan dari Ci yu jit ciat masih berpengaruh besar, namun ia tak mampu menggunakannya dengan jitu.

Melihat keadaan musuhnya yang mulai payah, Kek Thian- tok merasa kegirangan, dia mendengus dan tiba-tiba berputar kebelakang tubuh Cu Thong, sambil ayun telapak tangannya kedepan, hardiknya, “Kena!”

Dewa yang yang suka pelancongan merasa tercekat ia tahu tak mungkin untuk menghindar dalam keadaan begini, dalam situasi demikian cepat dia sambut datangnya serangan tersebut dengan jurus Si gou bong gwat (Badak memandang rembulan).

Posisi Cu Thong sangat tidak menguntungkan, tangkisan yang dilakukan dalam keadaan tergesa-gesa ini kurang tangguh dalam posisi dan tenaga murni yang disalurkan tak mencapai lima bagian, jika keras lawan keras dilangsungkan niscaya dewa yang suka pelancongan yang akan menderita kerugian besar.

Tapi Kek Thian-tok tidak melanjutkan serangannya itu, ia percaya dengan kecepatan gerak tubuhnya dan yakin kemenangan berada ditangannya maka sedapat mungkin ia menghindari suatu penghamburan tenaga secara sia-sia, terutama sekali dari pihak lawan masih ada empat orang musuh yang siap menanti.

Karena itu dikala Cu Thong putar badan sambil menyambut ancaman tersebut, cepat ia gerakkan tubuhnya dan berputar kembali kebelakang lawan sambil barengi dengan sebuah pukulan.

Rasa kaget dan gusar berkecamuk dalam dada Cu Thong, tanpa berpikir panjang lagi dia putar badan sambil menyambut pula da tangnya ancaman tersebut.

Dalam gerakan ini Cu Thong dipaksa untuk menyambut ancaman tersebut dengan telapak tangan kirinya, sudah tentu kekuatan yang terpancar keluar jauh lebih lemah.

Tapi Kek Thian-tok Kembali menyia-nyiakan kesempatan baik itu, dia terlalu mengandalkan kecepatan gerak bedannya, sambil tertawa tergelak untuk ketiga kalinya dia menyelinap kebelakang punggung musuhnya. Gerak tubuh ini boieh dibilang ibarat bayangan hitam tubuh sendiri, kemanapun dia berputar bayangan sendiri pasti akan mengikuti dibelakangnya, melihat kesemuanya itu tak urung paras muka Hoa Thian-hong, Kho Hong-bwee serta Pek Kun- gie berubah hebat.

Berulang kali Hoa Thian-hong ingin maju untuk menolong, tapi Kiu-im Kaucu telah menduga sampai kesitu, dengan muka menyeringai seram toya kepala setannya diangkat tinggi keudara, asal pemuda itu bergerak maka diapun akan barengi dengan sebuah sergapan.

Dari hubungan antara putrinya dengan Hoa Thian-hong, Kho Hong-bwee yakin kalau perkawinan diantara mereka berdua tak bisa dihindari, ia merasa kalau toh perkumpulan Sin-kie-pang rela di korbankan sebagai mas kawin, kenapa ia tidak jual pula gengsinya untuk membelai kawanan jago dari golongan putih?

Maka dengan cepat ia melayang maju ke depan sambil berseru, “Kek tongcu, gerakan tubuhmu sangit indah, pinni mohon petunjuk darimu….!”

“Kho Hong-bwee!” bentak Kiu-im Kaucu dengan gusar, “engkau mengerti akan peraturan Bu lim atau tidak?”

“Peraturan Bu lim apaan?” tanya Kho Hong-bwee pura-pura berlaga pilon.

Sedari tadi Kho Hong-bwee sudah merasa kurang enak untuk mencampuri pertempuan yang sedang berlangsung antara Cu Thong melawan Kek Thian-tok, apalagi di tegur secara terang-terangan oleh Kiu-im Kaucu, merah padam selembar wajahnya karena jengah. Ia menghentikan gerak tubuhnya ditengah-tengah jalan dan ragu-ragu untuk dilanjutkan kembali.

Sementara itu Kek Thian-tok sudah merasakan gawatnya situasi, dia tahu asal Kho Hong-bwee terjun kedalam gelanggang maka kemenangan yang sudah pasti bakal diraih akan tersapu lenyap.

Dalam keadaan begini dia ambil keputusan untuk bertindak cepat, telapak tangannya segera ditekan kebawah melepaskan sebuah pukulan yang mematikan.

Kek Thian-tok memang bertindak cukup cerdas, ketika ia berputar mengikuti dibelakang punggung Cu Thong, serangan tersebut dilan-carkan tepat menunggu dikala lawannya terpaksa harus menangkis dengan tangan kirinya, dalam keadaan begini tenaga yang terpancar keluar dengan sendirinya akan lemah sekali.

Bila pukulan itu sampai bersarang dipunggung Cu Thong, niscaya isi perut jago tua itu akan hancur dan remuk.

Berbicara sesungguhnya, Dewa yang suka pelancongan hanya kalah dalam hal ilmu meringankan tubuh, sedang dalam kepandaian lain boleh dakata mereka seimbang.

Ketika merasakan datangnya desiran angin tajam dari belakang, ia segera menyadari kalau serangan tersebut tak mungkin bisa dihindari lagi, dalam bahaya ia menggertak gigi sambil putar badan, setelah melepaskan diri dari ancaman yang membahayakan jiwanya, ia sambut pukulan itu dengan keras lawan keras.

“Pleeetak….!” pukulan dahsyat dari Kek Thian-tok itu bersarang telat diatas bahu kiri Cu Thong, membuat tulang bahunya itu hancur berkeping-keping, dengan sempoyongan ia mundur enam langkah kebe-lakang sebelum akhirnya dapat berdiri tegak.

Cepat Haputule memburu kemuka dan memayang tubuh jago tua itu, Dewa yang suka pelancongan hanya tersenyum sambil gelengkan kepalanya, diam-diam dia menggepos tenaga untuk menekan golakan hawa darah dirongga dadanya, kemudian sambil melotot ke arah lawannya dia berseru, “Tua bangka she Kek, kekalahan yang ku derita tidak terlalu penasaran, lain hari aku pasti akan mohon pentunjuk lagi darimu!”

“Setiap saat akan kulayaki keinginanmu” sahut Kek Thian- tok sambil tertawa angkuh.

Sewaklu terjadi pertarungan sengit selama beberapa hari dalam pertemuan Kian ciau tay hwe tempo hari, banyak musnah di tangan Cu Thong sementara dia sendiri sama sekali tidak menderita luka barang sedikitpun.

Tapi ini hari hanya bertarung melawan Kek Thian-tok seorangpun, bahu kirinya kena dihajar sampai remuk hingga lengannya sudah pasti akan menjadi cacad, tak heran kalau Kek Thian-tok merasa amat bangga dengan keberhasilannya itu.

Walaupun begitu kejujuran serta sikap terbuka dari Cu Thong yang berani mengaku tentang kekalahannya jarang pula ditemui dalam dunia persilatan puluhan tahun terakhir, sedikit banyak mereka merasa kagum juga akan kebesaran jiwanya ini.

Terdengar Kek Thian-tok tertawa terbahak-bahak, serunya dengan suara lantang, “Pek hujin, bukankah engkau akan memberi petunjuk kepadaku? Aku yang tak becus siap menantikan pelajaran darimu!” Waktu itu Kho Hong-bwee sudah terlanjur maju, tentu saja ia tak dapat menolak tantangan musuhnya, ia lantas melirik sekejap ke arah kaki kanan Kek Thian-tok seraya berkata dengan hambar, “Silahkan engkau gunakan senjata!”

“Hujin, ketajaman mata mu sungguh hebat!” puji Kek Thian-tok sambil tertawa.

Dia lantas menyingkap kaos kakinya dan cabut keluar sebuah senjata penotok jalan darah yang berwarna kuning emas, Pek Kun-gie segera berpikir dihati, “Ilmu langkah yang dimiliki orang ini sangat lihay dan sukar diikuti, kalau ibu terjun sendiri kegelanggaag hingga jatuh kecun-dang, waah…. suatu pengorbanan yang sama sekali tak ada harganya.”

Berpikir sampai disitu ia segera cabut keluar pedang lemasnya dan melayang kedepan tapi diam-diam dia telah mencawil tubuh Hoa Thian-hong….

Melihat putrinya telah maju, Kho Hong-bwee mengerutkan dahinya rapat-rapat, dia segera menegur, “Kun Gie, bayo mundur! ilmu silat yang dimiliki Kek tongcu sangat lihay, engkau bukan tandingannya!”

Sambil menghadang dihadapan ibunya, Pek Kun-gie menjawab, “Ibu, betapa tinggi dan terhormatnya kedudukanmu, untuk melayani seorang tongcu jelek macam begitu, kenapa engkau musti turun tangan sendiri? Tak ada harganya untuk menodai tanganmu!”

Kemudian sambil berpaling ke arah Kek Thian-tok ujarnya dengan ketus.

“Ilmu langkahmu memang lumayan, aku akan ajak engkau untuk bertarung beberapa gebrakan!” Pedang lemasnya langsung ditebas kedepan melepaskan sebuah babatan dahsyat.

Dalam hati Kek Thian-tok kegirangan setengah mati, segera pikirnya dalam hati, “Aaah…. rupanya Thian memang memberi suatu kesempatan yang baik bagiku untuk membekuk Pek

Kun-gie, asal bocah perempuan ini dapat kubekuk maka dengan sendirinya Hoa Thian-hong akan serahkan pedang emas itu sebagai barang tukaran…. aku harus baik-baik manfaatkan peluang baik ini!”

Ketika dilihatnya Kho Hong-bwee tidak mundur, malahan cabut pedang pusakanya sambil berdiri ditepi gelanggang, ia lantas tahu maksud perempuan itu, tentunya dia bersiap sedia memberikan bantuannya jika Pek Kun-gie menemui bahaya.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, dia sadar bila serangannya gagal maka tiada kesempatan yang kedua untuk mengulangi kembali perbuatannya itu.

Maka dengan cepat dia mengegos kesamping untuk menghindari tebasan pedang lawan, bukannya melancarkan serangan balasan, dia malah menelikung tangan kanan sendiri yang mencekal senjata kebelakang punggung, sementara untuk melayani serangan musuh dia cuma memakai tangan kirinya belaka.

Dengan tindakannya itu maka Kho Hong-bwee jadi merasa tak enak hati kalau tetap bersiaga disitu, serta-merta dia ikut mundur kebelakang.

Pek Kun-gie mendongkol sekali menyaksikan perbuatan lawannya, dengan suara dingin ia berseru, “Aku tidak percaya kalau engkau mampu menangkan pedang lemasku hanya mengandalkan tangan kiri!” Kek Thian-tok segera menengadah dan tertawa terbahak- bahak….

“Haahh…. haahh…. haahh…. sekalipun hanya mengandalkan tangan kiri, aku masih punya kemampuan yang lebih untuk merobohkan engkau, jika dalam tiga puluh gebrakan aku tak mampu menangkan dirimu, tangan kiri ini akan segera kutebas kutung!”

Bukannya mundur, sang badan malah menerjang maju kedepan, cepat tangan kirinya berkelebat kemuka mencekeram pergelangan tangan kanan Pek Kun-gie.

Gadis itu mendengus dingin, cepat dia putar pergelangan tangan kanannya dan secara beruntun melatcarkan tiga buah serangan berantai.

Ketiga jurus serangan tersebut kesemuanya merupakan jurus-jurus serangan paling top yang pernah dimilikinya, Kek Thian-tok ada has rat untuk menyelinap kebelakang punggungnya, akan tetapi setelah menyaksikan permainan pedang gadis itu ibaratnya burung merak yang memenangkan sayapnya, hingga jalan pergi dikedua belah sampingnya terkunci, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia mundur kebelakang.

Secara beruntun dia mundur tiga langkah kebelakang, walaupun terdiri dari tiga langkah namun dalam kenyataan dilakukan hampir bersamaan waktunya, bahkan tidak terlalu jauh atau terlalu dekat, dia mundur tepat menghindari jangkauan dari ketiga buah bacokan berantai itu.

Walau begitu tubuhnya masih tetap berada dihadapan Pek Kue Gie, bukan saja sikapnya amat santai malahan sekulum senyuman terhias diujung bibirnya. Setelah menghindari serangan terantai dari dara itu, tiba- tiba Kek Thian-tok tertawa tergelak, tangannya diputar dan diayun kemuka melancarkan sebuah pukulan gencar.

Serangan itu sepintas lalu kelihatan enteng dan sama sekali tiada sesuatu yang istimewa, dalam kenyataan terselip rangkaian perubahan yang sukar diraba sebelumnya, Kek Thian-tok yakin kalau Pek Kun-gie pasti akan terjerumus kedalam kepungannya, maka begitu pukulan dilepaskan tak kuasa lagi dia tertawa bangga.

Pek Kun-gie benar-benar tak dapat melihat keampunan dari serangan lawan, pedang le-masnya cepat berputar keatas, kemudian secepat kilat membabat perggelangan tangan musuh.

Kek Thian-tok jadi angkuh dan jumawa, ia menoleh kekiri kanan dengan santai, sementara sikutnya ditekuk, kemudian dengan dua jari tangannya ia menyodok kemuka menotok urat nadi pada pergelangan tangan Pek Kun-gie….

Cepat dan ganas perubahan serangan ini, bagaikan kena dipagut ular berbisa, cepat Pek Kun-gie menarik kembali tangannya dengan ketakutan.

“Kun Gie, hayo mundur!” bentak Kho Hong-bwee dengan cepat, ia sadar bila pertarungan dibiarkan berlangsung terus, niscaya putrinya akan menderita kekalahan.

Rupanya Hoa Thian-hong sendiri pun sudah tahu kalau Kek Thian-tok mengandung maksud tak baik, menyaksikan keadaan itu cepat ia melangkah maju kemuka.

“Heehh…. heehhh…. heehhh…. mau apa boleh mulai!” tegur Kiu-im Kaucu sambil tertawa seram, ia ikut melangkah setindak kedepan, “kalau engkau merasa tanganmu sudah gatal, mari, akan kulayani keinginanmu itu….”

Pada hakekatnya semua kejadian itu berlangsung hampir bersamaan waktunya, belum habis serangan yang pertama Kek Thian-tok telah menyusulkan serangan berikutnya.

Terlihatlah ia putar perggelangan tangan, dari suatu gerak totokan mendadak berubah jadi kebasan, walaupun arah yang diancam masih tetap urat nadi dipergelangan tangan kanan Pek Kun-gie, akan tetapi kecepatannya lebih hebat dan serangan itupun kian ganas. 

Betapa tercekatnya hati Pek Kun-gie menghadapi ancaman tersebut, cepat sepasang kakinya menjejak permukaan tanah dan melompat mundur kebelakang, maksudnya hendak menghindari ancaman maut tadi.

Siapa sangka Kek Thian-tok yang lihay sudah memperhitungkan sampai kasitu, walaupun tangan kanannya masih ditelikung ke belakang, tapi secara diam-diam ia selalu waspada dan mempersiapkan diri untuk menghadapi sergapan Kho Hong-bwee, sedangkan tangan kiri nya seperti ular lincah yang sedang menari, menyergap, menyerang tiada hentinya, dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, bagaikan bayangan saja ia membuntuti terus kemana Pek Kun-gie pergi

Tiba-tiba Haputule menyergap kedepan, setibanya dibelakang punggung Kek Thian-tok, ia putar pedang pendeknya dan langsung menusuk punggung jago lihay itu.

“Kek tongcu, hati-hati dengan sergapan!” cepat Kiu-im Kaucu memperingatkan dengan hati kaget. Sudah sedari tadi Haputule mengincar musuhnya, sergapan yang dilancarkan secara mendadak ini boleh dibilang amat dahsyat ibaratnya gulungan ombak yang menghantam batu karang.

Betapa terperanjatnya Kek Thian-tok setelah mendengar peringatan dari kaucunya, ingatan kedua belum sempat terlintas, tahu-tahu segulung desingan angin pedang yang tajam telah menyergap punggungnya.

Uatung dia lihay dan berpengalaman luas, walaupun kaget dan gugup menghadapi sergapan maut tersebut, sempat juga ia keluarkan ilmu langkah Loan ngo heng mi sian tun hoatnya yang hebat itu, secepat petir ia mengegos ke samping.

“Traaang….!” Ditengah suatu dentingan nyaring, senjata penotok jalan darah emas milik Kek Thian-tok serta pedang pendek milik Haputule berbareng terjatuh keatas tanah.

Cara menghindar yang dilakukan Kek Thian-tok boleh dibilang cepatnya bukan kepalang, akan tetapi Haputule sendiripun bukan seorang manusia biasa, terutama permainan pedang pendeknya boleh di kata memiliki suatu keistimewaan yang khusus.

Ketika ia merasa tusukan pedangnya meleset dan mengenai sasaran yang kosong, cepat telapak tangannya disodok kemuka, pedang pendeknya segera dilontarkan kemuka….

Kendatipun sambitan itu belum sanggup menembusi punggung Kek Thian-tok, akan tetapi sempat juga melukai pergelanaan tangan kirinya, sebuah mulut luka sedalam satu cun segera membekas pada pergelangan tangannya itu, untung tak sampai memutuskan urat nadinya. Sekalipun begitu Kek Thian-tok jadi naik darah, sambil memegangi pergelaagan tangan kanannya yang terluka, ia melesat dua kaki jauhnya dari tempat semula lalu sambil menggertak gigi menahan emosi, teriaknya, “Anjing cilik! Bila aku tak mampu membereskan selembar jiwa anjingmu, aku bersumpah tak akan hidup sebagai manusia!”

Sebagai seorang keturunan suka Fibulo, meskipun kecil usianya keberanian Haputule boleh dibilang melebihi siapapun, bukan jengah setelah mendengar ancaman itu, dia malahan maju untuk pungut kembali pedang pendeknya kemudian sekali ayun kakinya ia menyepak senjata milik Kek Thian-tok itu sampai mencelat jauh kedepan sana.

Dipihak lain, Hoa Thian-hong telah mengalihkan sorot matanya keatas wajah Kiu-im Kaucu, kemudian ujarnya, “Kaucu, apakah engkau ada minat untuk melangsungkan suatu pertarungan sungguh-sungguh yang akan menentukan mati hidup kita berdua?”

“Heeeh…. heeeh…. heehh…. ku memang berhasrat untuk melangsungkan pertarungan semacam itu, cuma aku punya satu syarat!”

“Apa syaratmu itu?” tanya Hoa Thian-hong sambil tersenyum.

“Engkau benar-benar tak paham atau sudah tahu pura-pura bertanya lagi?” tegur Kiu-im Kaucu agak mendongkol.

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

“Kalau toh engkau merasa tak paham baiklah! Akan kujelaskan kepadamu, jika aku yang menang maka engkau harus serahkan pedang emas itu kepadaku, aku rasa syatar ini tidak terlalu memberatkan engkau bukan?” “Bagaimana kalau kami yang menang?” sambang Pek Kun- gie secara tiba-tiba dengan nada mengejek.

Kiu-im Kaucu tertawa dingin, ia tidak menggubris anak dara itu, sebaliknya kepada Hoa Thian-hong ujarnya lagi, “Bila engkau yang menang, maka akan kubuka sangkar untuk melepaskan burung gereja yang tersekap didalamnya, persoalan tentang Ku Ing-ing yang berkhianat tidak akan ku teruskan lebih lanjut!”

“Wah…. tidak bisa, tidak bisa, syarat macam begitu cuma menguntungkan pihakmu saja!” teriak Pek Kun-gie dengan penasaran, “memangnya apa sangkut paut antara mati hidup Ku Ing-ing dengan kami?”

“Budak ingusan, hayo tutup mulutmu!” bentak Kho Hong- bwee dengan marah, “urusan ini adalah urusan pribadi Hoa kongcu lebih baik kau tak usah turut campur!”

Sambil meleletkan lidahnya, Pek Kun-gie segera tutup mulut dan tak berani komentar lagi.

Sementara itu, Hoa Thian-hong sedang berpikir dihatinya, “Kiu-im Kaucu pasti tak akan percaya kalau kuterangkan bahwa pedang emas itu belum kutemukan, padahal Pia Leng- cu sudah mampus…. waah! Kalau pedang emas itu tak berada dalam loteng kecil itu, akulah yang bakalan menjadi sasaran!”

Berpikir sampai disitu, dia lantas mengangkat pedang baja yang berada ditangannya seraya berkata dengan serius, “Baiklah, bila kaucu yang menang maka pedang baja ini segera kuserahkan kepadamu sebaliknya kalau beruntang aku yang menang aku harap kaucu aegera membebaskan Ku Ing- ing dari segala tuduhan.” “Waah tidak adil!” teriak Pek Kun-gie lagi.

“Sekalipun tidak adil, apa daya kita?” sahut Hoa Thian-hong sambil tersenyum.

“Lhoo apa maksudmu?” Hoa Thian-hong tertawa.

“Jika aku sampai kalah, jangan toh senjata ini tak mampu kulindungi, bahkan nyawa pun ikut melayang, sebaliknya kalau aku yang beruntung menang, kecuali memohon kebebasan buat Ku Ing-ing, apalagi yang bisa kita mintakan?”

“Kalau kita yang menang, kenapa tidak suruh kecoak tua itu gorok leber untuk bunuh diri?” seru Pek Kun-gie sambil menuding ke arah Kiu-im Kaucu yang langsung melotot gusar sehabis mendengar perkataan itu.

Hoa Thian-hong tertawa geli.

“Aaah, kamu masih muda dan tidak akan mengerti urusan, kalau cuma syarat-syarat kecil saja yang kua ajukan, mungkin kaucu yang terhormat ini sanggup untuk mengabulkan, tapi kalau kita pertaruhkan selembar jiwanya…. waah, paling banter toh cuma omong kosong belaka, akhirnya juga tak mungkin terwujud!”

Sepasang alis mata Kiu-im Kaucu kontan berkernyit, dengan marah ia berteriak, “Hey, bocah keparat! Berdasarkan apa engkau berani mengatakan begitu dihadapan ku?”

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Sebatang Leng-ci betusia seribu tahun yang jelas milik pribadi Ku Ing-ing, ternyata kaucu sudi-sudinya menipu kami dengan mengatakan benda itu milik kaucu…. Huuh. Cukup ditinjau dari perbuatanmu ini, dapat kutarik kesimpulan sampai dimanakah karakter dan akhlak dari kaucu?”

Kontan Kiu-im Kaucu tertawa dingin tiada hentinya. “Bocah keparat, engkau jangan omong sembarangan yaa!

Engkau tahu, setiap nyawa dari anggota Kiu-im-kauw telah menjadi milikku pribadi, apalagi barang-barang milik mereka! Hmm…. peraturan macam begini bukan dimulai sejak aku memegang tampuk pimpinan, sekarang hayo kita buktikan, pengetahuan siapa yang picik dan jalan pikiran siapa yang benar?!”

“Penjelasan macam begitu rasanya terlelu dipaksakan, tapi untuk diakal juga….!” pikir pemuda itu dihati.

Dengan paras muka serius dia lantas berkata, “Baiklah, kita tak usah ribut-ribut terus, akan kuturuti syarat yang kau ajukan itu. Nah, sekarang harap kaucu suka memilih seorang saksi yang akan bertindak sebagai juri dalam pertarungan ini!”

Pek Kun-gie penasaran karena dianggapnya pertaruhan semacam itu sangat tidak adil, disamping itu diapun tahu bahwa Hoa Thian-hong tidak mempunyai keyakinan untuk menangkan pertarungan itu, berbicara sesungguhnya ia tidak mengharapkan terjadinya pertarungan macam ttu.

Tapi dara itupun merasa tak berdaya untuk menghalangi niat si anak muda tersebut, dalam bingungnya tiba-tiba ia mendengar perkataan tadi, dengan wajah berseri dia lantas tampil kedepan seraya berseru, “Hitunglah aku sebagai salah semang jurinya!”

Kiu-im Kaucu mengerling sekejap ke arah Pek Kun-gie, sebelum mengucapkan sesuatu, mendadak ia berpaling ke arah lain seraya menghardik, “Siapa yang berada disitu? Hayo pada keluar….!”

Rupanya dibalik dinding rumah telah bersembunyi beberapa orang, cuma orang-orang itu berilmu tinggi maka selain Hoa Thian-hong dan Kiu-im Kaucu, tak ada yang mengetahuinya.

Setelah Kiu-im Kaucu menegur, barulah semua orang alihkan pandangan matanya ke arah mana, empat orang jago silat perlahan-lahan munculkan diri dari balik sebuah loteng sempit disisi kiri mereka.

Keempat orang itu mengenakan jubah panjang berwarna kuning dengan rambut digulung menjadi satu seperti potongan kaum tosu, ujung bajunya mencapai pergelangan tangan hingga sekilas pandangan mirip dengan jubah kaum pendeta, hanya badannya bagian dada mereka dibiarkan terbakar sehingga tampaklah dadanya yang bidang dan berotot….

Sepatu mereka terbuat dari kain dengan kaus putih setinggi lutut, pada pinggang masing-masing terikat sesuatu tali pinggang yang cukup lebar dan menyolok.

Dandanan dari keempat orang itu persis satu sama lainnya, satu-satunya yang berbeda hanyalah warna ikat pinggangnya belaka.

Orang pertama yang berjalan dipaling depan adalah seorang kakek bermuka merah padam, ikat pinggang yang dikenakan berbentuk seekor naga yang terbuat dari emas, naga emas tersebut panjangnya sembilan depa dengan bentuk kepala selebar cawan arak, badannya kecil tipis sejari kelingking dengan sisik emas yang amat hidup, walaupun tubuhnya panjang seperti tali tapi cakar, sisik maupun jarinya terukir sangat hidup, sekilas pandangan orang akan mengira benda itu sebagai seekor naga yang betul-betul hidup.

Kalau tiga orang yang berjalan didepan berpotongan jelek dengan hidung yang mekar seperti sapi, bibir tebal dan bertampang kriminil, maka orang keempat yang ada dibelakang masih sangat muda dengan bibir yang merah, gigi yang putih dan wajah yang tampan, cuma sayang matanya memancarkan hawa nafsu membunuh yang tebal sehingga membuat tak sedap orang yang memandang.

Dengan langkah yang tebar keempat orang itu keluar dari tempat persembunyiannya dan menuju ke tengah gelanggang.

Kakek tua yang berjalan dipaling depan bertangan kosong, orang kedua membawa sebuah hiolo yang memancarkan sinar merah darah, asap tipis masih mengepul keluar dari balik hiolo tadi, walaupun sedang berjalan namun asap tipis itu tetap mengepul lurus ke angkasa, membuat siapapun yang memandang jadi tercengang dan keheranan.

Bukan begitu saja, bahkan dari balik hiolo itu terdengarlah serentetan suara yang aneh, seakan-akan terdapat berpuluh- puluh ekor makhluk berbisa sedang merangkak.

Ketika empat orang itu berjalan menuju ketengah gelanggang, mula-mula sepasang mata Pek Kun-gie memandang sebuah sabuk naga emas yang dikenakan kakek paling depan dengan pandangan tertegun, kemudian ketika sinar matanya beralih kewajah pemuda berwajah tampan yang ada dipaling belakang, tak tahan lagi ia menjerit kaget.

Hoa Thian-hong tertegun dan alihkan pula sorot matanya kedepan, dengan cepat dia kenali pemuda itu sebagai Kok See-piauw, murid Bu-liang Sinkun yang pernah dikenalnya sedari dulu. Sementara itu, semua orang telah menduga bahwa kawanan jago berjubah kuning ini adalah orang-orang Mo- kauw dari Seng sut hay, cuma mereka sama-sama tercengang ketika dilihatnya Kok See-piauw berada satu rombongan dengan orang-orang itu, sebab sepengetahuannya pemuda itu bukanlah anak murid dari Mo-kauw.

Setibanya ditengah gelanggang, dengan jelalatan kakek tua itu menyapu sekejap paras muka setiap orang yang hadir disitu, kemudian tertawa terkekeh kekeh.

“Haaah…. haaah…. haahh…. bukankah ada orang hendak adu kepan-daian silat? Biarlah aku yang menjadi saksi, tanggung aku bertindak dengan seadil-adilnyanya dan tidak sampai berat sebelah”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, orang yang membawa hiolo merah darah itu sudah tiba di tengah gelanggang, dia letakkan hiolo tersebut persis di tengah- tengah yang memisahkan Kiu-im Kaucu serta Hoa Thian-hong sesudah itu ia berlutut sambil berkemak kemik seperti sedang mendoakan sesuatu, Kok See-piauw maupun laki-laki setengah baya yang lain ikut berlutut, sikap maupun mimik wajah mereka amat serius dan bersungguh-sungguh….

Menyaksikan tingkah laku mereka, Hoa Thian-hong lantas berpikir dalam hatinya, “Sudah lama aku dengar pihak Seng Sut pay memiliki tokoh-tokoh silat yang ampuh dan berilmu tinggi, aku rasa kedatangan mereka pasti tidak membawa maksud baik, aku harus waspada sehingga tidak sampai jatuh kecundang ditangan lawan….!”

Sementara masih termenung, mendadak ia saksikan Kiu-im Kaucu sedang mengawasi hiolo merah darah itu dengan paras muka takut bercampur waspada, tanpa terasa diapun pertinggi kewaspadaannya sendiri.

Kepada kakek bermuka merah itu ujarnya, “Bolehkah aku mengetahui siapa namamu? Dan apa tujuanmu datang kemari?”

“Pinto bernama Tang Kwik-siu, bila kedatanganku akan ceroboh dan tak tahu diri harap kongcu jangan mentertawakan!” habis berkata kakek baju kuning itu terbahak-bahak.

Haputule yang berada disisi Hoa Thian-hong segera berbisik dengan suara lirih, “Dia adalah ciangbunjin dari perguruan Seng sut pay, locou dari Mo-kauw yang tersohor itu.”

Perguruan Seng sut pay bermarkas besar di wilayah Seng sut hay, ilmu silat mereka sangat aneh dan berdiri sendiri, anak murid yang diterima mereka secara resmi tidak terlalu banyak, akan tetapi berhubung setiap murid menerima murid lagi dan tiap cucu murid menerima murid pula, maka pengaruh perguruan itu meluas sampai meliputi wilayah Ceng hay, luar perbatasan, Mongolia, Tibet serta See ih, malah pengaruhnya amat besar dikalangan rakyat sekitar sana.

Oleh sebab dandanan mereka tosu bukan tosu, padri bukan padri itulah maka perkumpulan itu disebut orang sebagai Mo- kauw, dengan begitu maka ciangbun cousu dari perguruan Seng sut pay sama juga dengan cikal bakal dari Mo-kauw.

Setelah disergap satu kali dikala berada dirumah penginapan tempo hari sebetulnya Hoa Thian-hong segan untuk berpura-pura memakai segala tata cara, tapi terpikir olehnya bagaimanapun juga orang itu adalah cikal bakal suatu perkumpulan besar, maka ia menjura sambil berkata, “Oh, kiranya Tang Kwu kaucu, bila ti ak mengenal dirimu harap suka di maafkan!”

Tang Kwik-siu menengadah dan tertawa terbahak-bahak. “Haehh…. haahh…. haahh…. ketika aku berangkat menuju

ketimur, sering kudengar orang berkata bahwa jago silat yang

ada didatatan Tionggoan banyaknya luar biasa, tapi diantara sekian banyak jago hanya Hoa kongcu dan Kiu-im Kaucu saja yang terhitung lihay.”

Kiu-im Kaucu tak senang hati ketika mendengar namanya disebut belakangan daripada Hoa Thian-hong, sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa dingin katanya, “Obrolan mulut orang lain tak bisa dipandang sebagai ucapan yang benar, bila engkau tidak puas bagaimana kalau too yu terhitung salah satu peserta dalam pertarungan ini?”

“Bagus…. bagus sekali, memang lebih pantas kalau kalian dua orang kaucu bertarung lebih dulu” teriak Pek Kun-gie sambil bertepuk tangan kegirangan, “hayo cepat kalau ingin adu jotos, mari kita buktikan kaucu mana adalah kaucu asli dan kaucu yang mana lagi adalah kaucu gadungan!”

Tang Kwik-siu tertawa lebar.

“Nona, bila kupandang parasmu yang cantik jelita bagaikan bidadari dari khayangan maka kurasa engkau pastilah Gadis paling cantik didaratan Tionegoan, Pek Kun-gie adanya bukankah begitu??”

Merah padam selembar wajah Pek Kun-gie karena jengah, dalam hati dia lantas berpikir, “Tampangnya memang jelek dan mengerikan, tapi ucapannya sedap didengar, Emmm sungguh, tak kusangka manusia sebuas itu pandai mengambil hati orang….” Diam-diam ia lantas menjawil ujung baju Hoa Thian-hong seraya berbisik lirih, “Aku lihat orang ini tidak terlalu jahat bila sampai bertempur nanti, ampunilah selembar jiwanya!”

“Tak usah banyak komentar, hayo mundur ke sisi bibi sana? kata Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Pek Kun-gie tertawa cekikikan, bukannya bersembunyi disamping ibunya, dia malahan lari kebelakang punggung Hoa Thian-hong.

Kok See-piauw sendiri, sejak datang kesana, ia sudah mulai tak tenteram hatinya, sepasang matanya yang bulat senantiasa melotot dan memperhatikan wajah Pek Kun-gie.

Jauh sebelum Hoa Thian-hong terjun ke dalam dunia persilatan, Kok See-piauw sudah tergila-gila oleh kecantikan wajah Pek Kun-gie, dengan segala daya upaya ia berusaha merebut hatinya, sekalipun harus mengorbankan segala- galanya

Sejak Hoa Thian-hong muncul diantara mereka berdua, iapun tahu bahwa Pek Kun-gie penuju oleh ketampanan Hoa Thian-hong, tapi karena hubungan kedua orang itu terhalang oleh pelbagai kesulitan dan persoalan, maka sekalipun cemburu dia masih mampu mengendalikan diri, sedikit banyak hal ini disebabkan ia masih mempunyai harapan untuk maju dan menangkan perlombaan cinta ini.

Tapi sekarang, setelah dilihatnya kedua orang itu bermesrahan dengan intimnya, ia mulai sadar bahwa perhitungannya tempo hari meleset malahan mungkin hubungan itu bisa diteruskan kejenjang perkawinan, dalam kecewa dan putus asanya, api cemburu yang semula masih dapat dikendalikan kontan saja meledak, ia merasa tiada kebencian yang lebih hebat daripada kebencian yang dideritanya saat ini.

Paras mukanya berubah jadi pucat pasi seperti mayat, sepasang matanya melotot bengis, dengan penuh kemarahan ia melotot sekejap ke arah Hoa Thian-hong, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan langkah lebar ia menghampiri hiolo merah darah itu, setelah duduk bersila disisinya, tiba-tiba sepasang telapak tangannya ditusukkan kedalam hiolo tersebut….

Sementara itu hujan lebat baru berhenti, permukaan air yang menggenangi jalan itu setinggi beberapa senti, akan tetapi Kok See-piauw tidak menggubris ia duduk bersila diatas genangan air itu.

Begitu sepasang telapak tangannya ditusuk kedalam hiolo merah darah itu terdengarlah suara gemerisikan keras tadi menggema semakin santar, rupanya terdapat berribu-ribu ekor makhluk beracun yang sedang memperebutkan hidangan nikmat.

Kok See-piauw menggigit bibir menahan sakit, kulit wajahnya berkerut kencang hingga tampak mengerikan sekali, sekalipun harus menahan siksaan dan penderitaan yang hebat namua ia tidak mengeluh ataupun memerintih.

Menyaksikan tingkah laku yang aneh dari anak muda itu, semua orang tertegun dan berdiri terbelalak, siapapun tak tahu permainan setan apakah yang sedang dilakukan orang- orang itu.

Sementara semua orang masih tercengang, Tang Kwik-siu telah tertawa tergelak seraya berkata, “Muridku yang paling kecil Kok See-piauw belum lama terjun kedalam perguruanku, tapi ia ingin cepat-cepat menguatkan ilmu silat nya, maka apabila ada sesuatu perbuatannya yang lucu harap kalian semua jangan mentertawakan!”

Suara gemerisik yang timbul dari dalam hiolo merah darah itu cukup menggetarkan hati Pek Kun-gie sehingga bulu kuduknya pada berdiri, mula-mula ia masih tahan, tapi lama kelamaan sambil bersembunyi dibelakang Hoa Thian-hong bentaknya dengan gusar, “Kok See-piauw! Kalau ingin melatih ilmu silatmu, lebih baik enyahlah jauh-jauh dari sini, jangan bikin muak hati orang saja!”

Kok See-piauw melotot penuh kegusaaan, setelah melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong dengan padangan dingin, ia pejamkan kembali matanya dan duduk bersila sambil atur pernapasan.

Tang Kwik-siu kelihatan sangat gembira bercampur bangga, setelah memandang sekejap ke arah Hoa Thian-hong dan Kiu-im Kaucu, kembali ujarnya dengan suara nyaring.

Kalau memang kamu berdua ada niat untuk melangsungkan duel, apa salahnya kalau sekarang juga pertarungan itu dilangsungkan, ingin kusaksikan sampai dimanakah kelihayan ilmu silat yang kalian berdua miliki…. haah…. haah…. haah…. tidak keberatan bukan.

Baik Hoa Thian-hong maupun Kiu-im Kaucu sama-sama bukan orang bodoh, tentu saja mereka tahu bahwa orang ini bermaksud jahat dan ia mengharapkan pertarungan antara mereka berdua berkobar hingga dialah yang akan menarik keuntungan sebagai nelayan yang mujur.

Sekalipun begitu, mereka berdua segan untuk membongkar rahasia kelicikannya ini. Lama sekali Kiu-im Kaucu termenung sambil putar otak, akhirnya kepada Hoa Thian-hong ia berkata, Ikan akan berlompatan disamudra yang luas, burung burung akan terbang leluasa di angkasa yang lebar, sampai dimanakah luasnya ilmu silat tak seorang pun yang bisa mengukur, aku rasa hanya manusia-manusia terbelakang yang tak becus saja yang bergairah untuk mendapatkan peninggalan orang kuno, contohnya pedang emas itu, benda inilah yang merupakan bibit penyakit dan sumber bencana, banyak orang yang tak becus ilmu silatnya berharap mendapatkan kepandaian itu agar bisa meninggikan derajatnya, Kalau engkau bersedia menuruti perkataanku dan menghancurkan benda tadi dihadapan umum, aku pikir persoalanpun bisa diselesaikan secara baik baik!”

000O000

76

JELAS sekali tujuan dari perkataan Kiu-im Kaucu, asal Hoa Thian-hong bersedia melenyapkan pedang emas itu dihadapan umum, maka pertarungan serta perselisihan antar kedua belah pihak dapat dibikin habis sampai disini saja dan diapun bersedia mengalah kepada pemuda ini untuk mengundurkan diri dari sana.

Mendengar penawaran tadi, Hoa Thian-hong berpikir didalam hatinya, “Kiu-im Kaucu jelas merupakan seorang musuh yang amat tangguh, kalau ditambahi Tang Kwik-siu dan Kok See-piauw maka posisiku akan terjepit, jelas untuk menggebah mereka pergi bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, tapi…. pedang emas itu belum terjatuh ketanganku, bagaimana caranya aku bisa musnahkan benda itu?” Pek Kun-gie segera tampil kedepan setelah dilihatnya anak muda itu membungkam dengan dahi berkerut, ia tahu banyak persoalan yang berkecamuk dalam benaknya.

“Pedang emas itu belum berhasil kami temukan!” katanya dengan suara lantang, “bila engkau tidak percaya yaa sudahlah, sebab dalam kenyataan benda itu memang belum terjatuh ketangan kami, jika engkau kurang puas dan ingin mencari gara-gara, silahkan turun tangan dengan segera, akan kulayani semua kehendak hatimu!”

Kho Hong-bwee mengerutkan dahinya setelah menyaksikan tingkah pola putrinya, dengan suara keras ia menegur.

“Budak ingusan, engkau jangan sinting sampai lupa dengan hari kelahiran sendiri, memangnya engkau tidak tahu kalau ilmu silat yang dimiliki kedua orang kaucu itu sangat tinggi, engkau masih belum punya tempat untuk ikut campur dalam urusan ini!”

Pek Kun-gie melirik sekejap ke arah Kiu-im Kaucu, tatkala dilihatnya perempuan itu sedang melotot ke arahnya dengan penuh ke gusaran, dengan hati tak senang ia mundur kesamping.

Sambil tersenyum segera Hoa Thian-hong berkata, “Kaucu, bicara yang sejujurnya, pedang emas itu belum berhasil kami temukan, sekalipun kuulangi sampai berpuluh-puluh kali rasanya engkau tetap tidak akan percaya, bukan begitu?”

“Benar, aku memang tidak percaya!”

“Kalau tidak percaya tanya sama Pia Leng-cu, tanya sendiri pedang emas itu ia sembunyikan dimana?” teriak Pek Kun-gie dengan penuh kegusaran. Padahal Pia Leng-cu sudah mati ditusuk Haputule, jelas maksud dari Pek Kun-gie menyuruh Kiu-im Kaucu bertanya kepada orang yang sudah mati adalah bersifat ejekan saja, karena orang Kiu-im-kauw memang gemar menyaru sebagai malaikat elmaut, iblis, sukma gentayangan dan sebangsanya.

Kalau ucapan itu bisa menghilangkan kecurigaan lawan masih rada mendingan, justru dengan bantahan dari Pek Kun- gie ini, maka Kiu-im Kaucu maupun Tang Kwik-siu semakin yakin dan percaya kalau pedang emas itu betul-betul sudah terjatuh ke tangan Hoa Thian-hong.

Tiba-tiba Tang Kwik-siu tetawa lebar, setelah memandang sekejap sekitar tempat itu katanya.

“Aku rasa benda yang sedang kalian pertaruhkan toh pedang baja itu, kenapa musti mengungkit-ungkit soal pedang emas lagi? kan persoalan itu sama sekali tak ada sangkut pautnya!”

“Tua bangka bangkotan, tua-tua keladi makin tua makin menjadi, senang ya kalau dunia jadi kacau balau?” maki Pek Kun-gie dengan gusar,”hmmm….! Kalau engkau berani memanaskan suasana lagi, jangan salahkan kalau kuberi pelajaran yang setimpal kepadamu!”

“Budak ingusan, kenapa engkau selalu bicara tak karuan, tidak takut ditertawakan orang?!” hardik Kho Hong-bwee lagi.

Kiu-im Kaucu segera menengadah dan terbahak-bahak. “Haahh…. haahh…. haahh…. Tang Kwik-siu, engkau cerdik,

licik dan banyak tipu muslihatnya, gayamu persis seperti orang daratan Tionggoan, mungkin orang tak akan percaya kalau engkau berasal dari tempat gersang jauh diluar perbatasan situ, sayangnya kecerdasanmu itu sama sekali tidak bermanfaat bagi pandangan kami, tipu muslihat pasaran mu itu seolah olah permainan seorang anak kecil dalam pandangan kami. Bila engkau bersedia menuruti anjuranku, lebih baik janganlah pakai tipu-tipuan, langsungkan saja masalah ini dengan kekerasan, daripada engkau mendapat malu dan ditertawakan orang banyak.”

“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. benar juga perkataanmu itu, pinto merasa terterima kasih atas nasehatmu itu” ujar Tang Kwik-siu sambil tertawa aneh.

Sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh. “Hoo Tok telah meminjam ilmu pekikkan darah dari

perguruan Seng sut pay kami.”

“Siapakah Hoo tok itu?” sela Kiu-im Kaucu.

“Nama mendiang guruku!” jawab Haputule dengan dingin, “nama Siang Tang Lay di peroleh sesudah ia mendapat nama didaratan Tionggoan”

“Hoo tok pernah membicarakan pula soal pedang emas dengan diriku” lanjut Tang Kwik-siu lebih jauh, “apa toh yang kalian perebutkan? kau tidak lebih cuma sejilid kitab ilmu pedang? Huuhh, bagi orang-orang Seng sut pay kami, benda macam itu sih belum sampai dipandang sebelah matapun, ketahuilah maksud kedatangan pinto ke wilayah timur kali ini adalah disebabkan maksud tujuan lain.

“Apakah tujuanmu?” tanya Pek Kun-gie ingin tahu.

Dengan pandangan aneh Tang Kwik-siu melirik sekejap ke arah dara itu, kemudian sambil menunjuk Kok See-piauw yang duduk bersila didepan hiolo merah darah, sahutnya, “Dia telah kuterima sebagai muridku, telah kujanjikan kepadanya untuk bantu membuat perhitungan terhadap musuh-musuhnya, selain itu akupun telah berjanji akan membantu dia hingga menduduki tahta sebagai Bengcu dari dunia persilatan!”

“Haaah…. haaah…. haaah…. sungguh menggelikan, sungguh lucu…. hampir saja gigiku pada copot saking gelinya!” ejek Pek Kun-gie sambil terbahak-bahak.

“Kun gie, jangan ribut!” bentak Hoa Thian-hong dengan suara rendah.

Pek Kun-gie menjulurkan lidahnya sambil menunjukkan muka setan, kembali ejeknya dengan lirih, “Eeeeh, kamu bawa cermin tidak? Aku harap engkau bisa melihat dulu tampangmu diatas cermin!”

Sementara itu Kiu-im Kaucu telah berkata sambil tertawa seram, “Waah, kalau sampai terwujud keinginan mu itu, bukankah daratan Tionggoan akan jatuh dibawah pemerintahan orang-orang Seng sut pay? Haahh…. haahh…. haah…. meskipun latah, rupanya ada orang yang jauh lebih latah dari aku!”

Tangkwik Siu tertawa.

“Bagaimana jadinya nanti, masih sukar diramalkan mulai sekarang, dari pihak kami memang mengharapkan begitu, tapi berhasil atau tidak tergantung pada kemampuan Kok See- piauw sendiri!”

Berbicara sampai disitu, dia lantas mengayunkan jari tangannya dan melancarkan sebuah tabokan keatas kepala Kok See-piauw dari tempat kejauhan.

Pukulan udara kosong yang dilepaskan dari kejauhan ini sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun, ini membuat Hoa Thian-hong maupun Kiu-im Kaucu jadi tertegun, mereka tak pernah menyangka kalau ilmu pukulan yang dimiliki pihak Seng sut pay begitu halus dan lembutnya hingga sekilas pandangan seakan-akan suatu pukulan yang pura-pura.

Kok See-piauw bergidik dan sekujur badannya gemetar keras, lalu sepasang matanya dipentangkan lebar-lebar, sorot mata yang tajam segera memancar keluar, sepasang tangannya waktu diangkat keluar dari balik hiolo, maka terlibatlah pada setiap jari tangannya masih menempel berbagai macam makhluk beracun antara lain ular berbisa, kalajengking, kelabang, laba-laba, tokek serta pelbagai jenis binatang lain yang aneh bentuknya dan tak diketahui namanya, tubuh yang berwarna-warni cukup membuat hati orang jadi bergidik rasanya.

Hanya sekejap memandang makhluk-makhluk berbisa itu, Pek Kun-gie kontan menjerit kaget lalu buru-buru menyingkir kesamping, disitu gadis cantik itu muntah-muntah karena mual.

Makhluk beracun sebangsa itu seringkali dijumpai orang, tapi perlu diketahui makhluk yang dipelihara dalam hiolo itu justru jauh berbeda bentuknya dengan makhluk biasa, bukan saja warnanya jauh berubah malahan bentuknya ikut-ikutan pula berubah jadi kukoay.

Jangan orang lain, bahkan Kiu-im Kaucu sendiripun merasa perutnya mual dan hampir saja dia muntah, cepat jago lihay ini melengos ke arah lain.

Ketika belasan ekor makhluk aneh itu terangkat dari hiolo, tubuh mereka berliuk-liuk tiada hentinya dengan kencang, rupa-rupanya bi natang itu tak ingin meninggalkan hiolo tersebut namun merekapun tak sudi lepaskan hidangan lezat yang telah tergigit, maka meskipun masih tetap memagut mangsanya, tubuh merekapun ikut bergerak ingin turun kedalam hiolo.

Kulit muka Kok See-piauw berkerut kencang! tiba-tiba ia kebaskan tangannya keras-keras, seetika itu juga kawanan makhluk beracun yang masih menggigit ujung jarinya pada rontok kembali kedalam hiolo.

Laki-laki baju kuning yang berada disampingnya segera maju kemuka dan menyebarkan bubuk obat kedalam hiolo tadi, Kemudian cepat membopongnya mundur kebelakang.

Sesudah terpagut aneka ragam makhluk beracun, sepasang telapak tangan Kok See-piauw berubah jadi merah membekak, tapi ia getarkan tangannya berulang kali sehingga warna di tanggannya itu perlahan lahan pulih kembali jadi putih seperti sedia kala, dari situ bisa ditarik kesimpulan bahwa sari racun yang telah terhisap masuk ke dalam tubuhnya telah tersalur ke dalam peredaran darahnya.

Diam-diam tercekat hati Hoa Thian-hong setelah menyaksikan kesemuanya itu, pikirnya dihati, “Ilmu pukulan Kiu pit sin ciang miliknya sudah termasuk sejenis pukulan yang sangat beracun, apalagi kalau dibantu dengan sari racun dari makhluk-makhluk sebanyak itu, sudah pasti siapapun yang terkena pukulan itu niscaya jiwanya melayang tinggalkan raganya!”

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Kok See-piauw sudah loncat bangun dan berjalan menghampiri ke arahnya.

Menyaksikan kejadian itu, pucat pias selembar wajah Pek Kun-gie, segera bentaknya, “Hey, orang She Kok, apa yang hendak engkau lakukan?” Kok See-piauw sama sekali tidak menggubris bentakan itu, dia tepuk tangan satu kali dan membentak dengan wajah menyeringai seram.

“Hoa Thian-hong, aku orang she Kok ingin minta petunjuk beberapa jurus pukulanmu, beranikah engkau menerima tantanganku ini?”

Hoa Thian-hong kerutkan dahinya, lalu sambil tertawa menjawab.

“Biasanya engkau pengecut dan kecil nyalinya, sekarang berani juga menantang orang berduel, haaah…. haaah…. haaah…. kalau dugaanku tidak keliru, tentunya engkau punya kekuatan yang bisa diandalkan bukan? Baiklah, akan kujajal sampai dimanakah kelihayanmu itu!”

“Eeeh engkau pakai pedang saja!” teriak Pek Kun-gie dengan gelisah, terbayang kembali akan makhluk-makhluk beracun yang berada dalam hiolo itu, tak kuasa lagi bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Hoa Thian-hong segera tertawa, “Kalau aku gunakan pedangmk, dia pasti bukan tandinganku!” katanya.

“Kalau kau segan memakai pedang, biar aku saja yang menghadapi kurcaci ini!” teriak Pek Kun-gie dengan gemas, pedang lemas nya segera diayun dan dia menerjang kedepan.

Sekali sambar Hoa Thian-hong menarik kembali gadis itu kesisi tubuhnya, ujarnya sambil tertawa, Jangan gugup dulu, aku rasa kalaupun angin pukulannya beracun, belum tentu pukulan itu berhasil menghantam ke atas badanku, aku rasa dibalik kesemuanya itu pasti tersimpan hal-hal yang tidak beres, biar aku saja yang mencoba kehebatannya itu!” Dewa yang suka pelancongan Cu Thong tiba-tiba menimbrung dari samping dengan suara dingin.

“Apa gunaya ribut-ribut dengan manusia durjana yang bejat moralnya itu, sekali tusuk habisi saja nyawa anjingnya!”

Hoa Thian-hong agak tertegun, sebagai seorang pemuda yang selalu taat pada perkataan orang tua, ia merasa segan untuk menolak perintahnya, maka setelah Cu Thong berkata demikian iapun tak banyak bicara lagi.

Sambil meloloskan pedang bajanya, kepada Tan kwik Siu ia berkata sambil tertawa.

“Aku hendak menggunakan senjata untuk mencoba kepandaian kalian, kuharap kalian guru dan murid bersedia untuk maju bersama-sama”

Tergelak Tang Kwik-siu setelah mendengar tantangan itu. “Haahh…. haahh…. haaah…. tidaklah aneh kalau ada orang

mengincar pedang milikmu, rupanya semua ilmu silat yang

kau miliki hanya terletak di atas sebilah pedang tersebut!”

Pek Kun-gie yang berada disamping anak muda itu tiba-tiba menimbrung dari samping, “Hey, aku libat tata bahasamu sempurna dan caramu berbicara halus, aku rasa tentunya engkau sangat memahami bukan tentang segala kebudayaan yang berlaku dalam daratan Tionggoan?”

Tang Kwik-siu agak tertegun, tapi sejenak kemudian sahutnya, “Semasa masih muda, seringkali pinto melakukan perjalanan kedaratan Tionggoan, wilayah seluas Kwan liok boleh dibilang meru-pakan tempat-tempat pesiar yang seringkali aku kujungi” “Baik, kalau engkau sering bersiar kemana-mana, maka aku ingin tanya tempat bers earah apa saja yang terdapat disekitar kota Lok yang ini….?”

Semua orang tercengang dan tidak habis mengerti ketika secara tiba-tiba gadis itu mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan tempat kenamaan disekitar kota Lok yang.

Tang Kwik-siu kelihatan bangga sekali, ujarnya dengan diiringi gelak tertawa yang nyaring, Menurut apa yang pinto ketahui, disekitar kota Lok yang terdapat tempat tinggal dan gedung di mana Locu serta Khong hucu pernah memberikan ajaran kepada murid-muridnya, selain itu ada jembatan Thi an kim kiau, An lok oh, Pit bui si, kuil Pek bi si, istana sang cing kiong, Cing swan te leng, bukit bong san, pintu naga serta hutan Kwan lim, coba katakan nona, selain tempat-tempat itu apakah masih ada tempat lain yang kiranya lebih indah?”

“Oooh….! Rupanya dikota Lok yang terdapat begitu banyak tempat-tempat kenamaan, sayang badanku sudah lelah dan tak punya tenaga lagi, kalau tidak harus kukunjungi tempat- tempat itu!” pikir Hoa Thian-hong dihatinya.

Sementara itu, Pek Kun-gie sudah tertawa terkekeh, katanya, “Tak kusangka engkau memang hafal dengan daerah dalam wilayah Tionggoan, memang tak salah sekitar kota Lok yang memang tiada tempat lain kecuali tempat-tempat tadi.”

Betapa bangganya Tang Kwik-siu, sambil mengelus jenggotnya ia tertawa tergelak.

“Haaah…. haaah…. haaah membaca selaksa jilid buku, melakukan perjalanan sejauh selaksa li, serta mempelajari delapan macam ilmu senjata adalah tiga kegemaranku sejak dilahirkan didunia ini!” katanya. Ketika menyinggung soal delapan belas macam ilmu senjata, dia sengaja memperkeras suaranya sehingga semua orang kedengaran jelas.

Tampaklah ia memang sengaja sedang mengejek dan mentertawakan Hoa Thian-hong yang pandai dalam ilmu pedang saja, kecuali itu kepandaian lain tak mampu dilakukan.

Pek Kun-gie segera mendengus dingin.

“Hmm Aku ingin bertanya kepadamu, hutan Kwan lim itu letaknya ada dimana?”

Tang Kwik-siu tertawa.

Hutan Kwan lim disebut pula kuburan raja, disitulah Kwan Kong dikebumikan, walaupun sewaktu menemui ajalnya Kwan Kong berada di Keng lam, tapi sejak orang-orang dari kerajaan Go takluk kepada pihak Goei, dengan segala kebesaran dan upacara yang meriah, Co Cho telah memindah jenasahnya kemari, sudah dua kali aku berkunjung kesi tu, disekitar baugunan tumbuh banyak pohon siong, tempat itu terasa nyaman dan rindang, benar-benar suatu tempat rekreasi yang indah.

Belum pernah Tang Kwik-siu diajak bercakap-cakap dengan seorang gadis yang cantik jelita seperti Pek Kun-gie, tidaklah heran kalau makin berbicara ia semakin bersemangat, hingga akhirnya tak terbendung lagi iapun membicarakan apa saja yang ingin di bicarakan.

Rupanya Pek Kun-gie muak mendengarkan perkataannya itu, cepat dia goyangkan tangannya sambil menukas, “Sudah, sudah cukup! Anggap saja engkau memang sudah dua kali berkunjung kesana. Aku cuma ingin tahu, siapakah Kwan Kong itu?”

Tang Kwik-siu tertegun sesaat, kemudian katanya, “Kwan Kong atau Kwan Yu bernama juga Kwan Ing tiang, dia adalah seorang panglima perang yang tersohor pada jaman Siok han, bukan saja hapal dengan buku pelajaran Cun ciu, wataknya jujur, gagah dan bijaksaaa, senjata yang diandalkan adalah sebilah golok twan to berukir naga hijau yang beratnya mencapai tujuh puluh dua kati, setelah meninggal semua orang menyembah dirinya sebagai Bu Seng (malaikat ilmu silat), dengan Lau Pi….”

“Cukup, cukup!” tukas Pek Kun-gie sambil goyangkan tangannya berulang kali “itu berarti semua malaikat ilmu silat kita kebanyakan mengandalkan sebilah golok bukan, lalu apa bedanya golok dengan pedang? toh sama-sama pisaunya!”

Sekarang semua orang baru tahu, rupanya gadis itu sengaja berputar kayun membicarakan ini itu, tujuannya tak lebih hanya untuk membela Hoa Thian-hong.

Kok See-piauw makin cemburu, api benci dan dendam berkecamuk dalam benaknya, sambil menjerit marah dia langsung menubruk kedepan dan menghantam tubuh anak muda itu.

Hoa Thian-hong menarik muka, pedang bajanya diputar kencang lalu batas membacok kedepan.

Dahsyat dan tajam serangan pedangnya ini, neskipun dalam keadaan gusar, Kok See-piauw tak berani menyambut dengan keras lawan keras, sambil merendahkan tubuhnya cepat ia bergeser kesamping, lalu dari situ dia melancarkan satu serangan lagi. Hmm! Sekalipun ilmu pukulan dan tenaga dalamnya telah mendapat kemajuan yang pesat, paling-paling toh cuma begitu saja” pikir Hoa Thian tong dalam hati, asal ku hadapi dirinya dengan pedang baja, bukan suatu pekerjaan yang sulit jika ingin kucabut jiwanya, cuma kalau ia kubunuh dengan begitu saja orang lain tentu akan mentertawakan aku!”

Sementara otaknya berputar sebuah tusukan pedang kembali di lancarkan kedepan.

Kok See-piauw menang nekad dan ada maksud adu nyawa, apa lacur ilmu pedang yang dimiliki Hoa Thian-hong terlalu lihay, hal ini memaksa ia tak sanggup mendekati tubuhnya, dalam keadaan terpaksa ia harus menyingkir ke samping kemudian melepaskan serangan lagi dari samping.

Apabila Hoa Thian-hong ingin bereskan nyawanya, dengan gampang hal itu akan terlaksana, akan tetapi ia segan untuk membereskan nyawanya, dia cukup berharap agar Kok See- piauw lah yang tahu diri dan mundur dengan teratur.

Tang Kwik-siu memang pernah mendengar orang berkata bahwa Hoa Thian-hong terhitung jagoan kelas satu di dunia ini, cuma mimpipun ia tak mengira kalau permainan pedang baja si anak muda itu demikian dahsyatnya hingga sukar diatasi.

Setelah memperhatikan sekejap permainan pedang lawan, dengan paras muka berubah hebat teriaknya, “See piau, hayo mundurl”

Kok See-piauw bukanlah seorang yang goblok, meskipun ia tahu bahwa kepandaian silatnya bukan tandingan lawan, akan tetapi ia tetap menerjang dan mundur bagaikan seekor harimau edan. Ketika mendengar panggilan tadi, cepat ia mundur kebelakang dengan hati mengumpat.

Tiba-tiba dilihatnya Pek Kun-gie berada tak jauh dari sisinya, cspat ia putar badan dan ganti menerjang si anak dara itu.

Betapa gusarnya Hoa Thian-hong menyaksikan kejadian itu, ia meluncur kemuka dan menghadang dihadapan Pek Kun-gie, sambil tertawa dingin pedangnya langsung disodok kedepan dan menusuk dada lawan.

Walaupun berada dalam keadaan gusar, Hoa Thian-hong masih belum berminat untuk melukai musuhnya, bukan saja tusukan pedang itu tidak ditujukan pada bagian tubuh yang mematikan, bahkan sewaktu mencapai punggung musuh, dari suatu seragan tusukan, tiba-tiba berubah jadi serangan tabokan, dengan tenaga sebesar tiga bagian ia gebuk punggung Kok See-piauw keras-keras.

Kalau dilihat kekuatannya memang amat kecil, namun cukup telak bagi Kok See-piauw, ia menjerit keras dan roboh terjengkang ke atas tanah, tulangnya amat sakit bagaikan retak, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup bangkit kembali.

Hijau membesi raut wajah Tang Kwik-siu, saking mendongkolnya selangkah demi selangkah dia maju ke depan lalu ujarnya.

“Ilmu silat yang dimiliki Hoa kongcu memang terbukti kehebatannya, sudah jelas anak muridku ini bukan tandinganmu, biarlah untuk meriahkan suasana ijinkan pinto untuk minta petunjuk barang satu dua jurus dari diri Hoa kongcu!” Seraya berkata dia lantas melepaskan tali ikat pinggangnya yang berwarna emas itu.

Hoa Thian-hong tertawa dingin, tiba-tiba ia simpan kembali pedang bajanya sembari menjawab, “Kalau Tang kwik kaucu ingin bertarung, baiklah akan kusambut permainan pukulan dari kaucu itu!”

“Hey, apa yang ingin kau lakukan?” omel Pek Kun-gie dengan suara terperanjat.

Hoa Thian-hong tersenyum.

“Kedua orang kaucu ini sama-sama tertarik pada pedang bajaku ini, maka aku ingin mencoba bagaimana kalau kulayani tanpa menggunakansenjata tajam!”

Kemudian ia menjura kepada Tang Kwik-siu dan melanjutkan, “Silahkan kaucu!”

Tang Kwik-siu tertawa, ujarnya.

“Bila dalam dua ratus gebrakan pinto menderita kalah, seketika itu juga aku akan pulang ke Seng sut hay dan semenjak itu tak akan menginjak daratan Tionggoan barang selangkahpun!”

“Ikat pinggangmu harus ditinggal pula di sini!” teriak Pek Kun-gie menambahkan.