Tiga Maha Besar Jilid 21

 
Jilid 21

SEMENTARA itu dengan pandangan mata yang tajam Kiu- im Kaucu telah mengamati Pek Kun-gie dari atas sampai kebawah, memandang kecantikan wajahnya yang mempesonakan hati ditambah pula kemanjaan dan kelincahannya, timbul rasa tertarik pada dara ini.

Dia lantas berpaling ke arah Yu beng tiam cu yang berdiri disisinya dan berkata setengah bisik, Coba lihat, gadis itu cantik jelita, umur nya masih muda, diapun belum dibikin rusak oleh kebiasaan-kebiasaan buruk dari dunia persi latan, aku jadi ingin sekali untuk menerimanya sebagai muridku.

Mendengar ucapan ketuanya, Tham cu istana neraka tertawa lirih, jawabnya dengan cepat, “Kalau memang begitu, kita bekuk saja gadis itu dalam keadaan hidup-hidup!”

Kiu ini kaucu segera menggeleng.

“Aku tidak ingin memperolehnya dengan cara kekerasan, apalagi main rampas, yang paling kuutamakan adalah ketulusan hati serta kesetiaan hatinya!”

“Kalau begitu kita loloh saja dia dengan secawan obat pemabuk sehingga daya ingatannya hilang.”

Kembali Kiu-im Kaucu menggeleng.

“Gadis itu sangat agung dan berwibawa kecuali cantiknya seperti bidadari dari kahyangan, baik budi maupun perasaan hati nya amat kukagumi sekali, kalau kita hilangkan perasaanya itu dengan obat, bukankah yang kuperoleh cuma kerangka tubuhnya belaka? Aku toh hendak menjadikan dirinya sebagai pewaris ilmu silatku, jangan sampai watak maupun perasaan hatinya dimatikan dengan begitu saja”

“Wah, kalau memang begitu, hamba sendiripun jadi tak tahu apa yang musti dilakukan!”

Pembicaraan tersebut dilakukan dengan sangat lirih, karena itu kecuali mereka berdua, tak ada yang mendengar.

Sementara perahu yang dalang dari kiri dan kanan sudah makin mendekat, akhirnya sisi perahu mereka saling menyentuh dan berdempetan.

Kiu-im Kaucu segera enjotkan badan dan melayang keatas perahu dari Hoa Thian-hong, sambil mengetuk lantai geladak dengan toya kepala setannya, ia berseru ketus, “Pia Leng-cu, untuk terakhir kalinya kuperingatkan kepadamu, serahkan pedang baja dan pedang emas itu kepadaku, kemudian menggabungkan diri dengan Kiu-im-kauw kami, sebelum kuambil tindakan yang lebih tegas, aku harap enpkau suka memberikan jawaban yang tegas!”

Pia Leng-cu tidak menjawab, dalam hati pikirnya, “Kalau kupersembahkan pedang baja dan pedang emas itu kepadanya, kemudian menyerahkan diri kepada Kiu-im Kaucu, itu berarti sepanjang hidupku tiada harapan lagi bagiku untuk tampil didepan masyarakat si luman ini, sudah pasti jiwaku terancam…. aiiih, bagaimana baiknya sekarang ini?”

Otaknya diperas untuk memecahkan persoalan itu, akhirnya ia merasa tak rela untuk menyerah kalah dengan begitu saja, timbullah satu ingatan jahat dalam benaknya, ia hendak mengikat Hoa Thian-hong lebih dahulu kemudian akan suruh pemuda itu melindungi keselamatan jiwanya. Berpikir sampai disini, tanpa banyak bicara lagi ia cabut keluar pedang baja itu dan segera diserahkan kembali ketangan Hoa Thian-hong.

Pemuda itu agak tertegun oleh tindakan Pia Leng-cu yang sangat sekali tak terduga ini, tepi cepat ia menerimanya dan disisipkan dibalik ikat pinggangnya, kemudian barulah dia berpaling ke arah Kiu-im Kaucu dan berkata sambil tertawa, “waah…. kalau begini ceritanya, kaucu bakal menemui banyak kesulitan lagi untuk mendapatkan pedang ini!”

Rupanya Pek Kun-gie menduga kalau Kiu-im Kaucu bakalan turun tangan, cepat dia loncat kesisi Hoa Thian-hong dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan dangan pedang lemas terhunus.

Sekali lagi Kiu-im Kaucu mengamati dara muda itu dengan pandangan mata yang tajam, dia awasi dari atas kepala Pek Kun-gie hingga ke ujung kakinya, makin dipandang hatinya terasa makin tertarik, apalagi oleh kecantikan wajahnya yang mempesonakan hati.

Tak tahan lagi sambil tertawa ujarnya dengan lembut, “Pek Kun-gie, untuk kesekian kalinya kuulangi kembali tawaranku, bersediakah engkau menjadi muridku dan mempelajari seluruh ilmu silat yang kumiliki?”

“Hmm! Pek Kun-gie mendengus dingin, untuk kalahkan kami saja tak mampu, kenapa aku musti menjadi muridmu? Huuh…. suatu lelucon yang tak lucu!”

Kiu-im Kaucu tertawa lirih.

“Kami?” serunya, “engkau maksudkan Hoa Thian-hong? Memangnya aku lebih lemah kalau dibandingkan dengan dirinya?” “Sekalipun tidak begitu, diapun tidak jauh lebih lemah dari pada dirimu, daripada menjadi muridmu apa salahnya kalau aku berlatih dari dirinya….?”

Sekali lagi Kiu-im Kaucu tertawa mengikik. “Tapi, dia toh sudah….”

Sebenarnya dia hendak mengatakan, “dia toh sudah beristri, memangnya engkau dapat hidup sepanjang masa dengan dia?”

Ketika ucapan tersebutt sudah mencapai ujung bibirrya, tiba-tiba ia merasa tak tega, ia kuatir ucapan tersebut menyinggung perasaan halus dari gadis itu, maka setelah kata-kata tadi mencapai ujung bibirnya, cepat ia batalkan niatnya dan menelan kembali ucapan yang tak sempat diutarakan itu.

Perlu diketahui, semakin tinggi ilmu silat yang dimiliki seseorang, semakin serius dia pandang perlunya seorang pewaris, sebab kalau kepandaian silat yang lihay itu sampai musnah karena tidak di wariskan kepada murid pandai, maka nama besar maupun ilmu kepandaiannya akan ikut masuk liang kubur bersama kematiannya.

Keadaan tersebut tak jauh bedanya dengan seorang keluarga ilyader, sekalipun dia kaya, dia punya harta kekayaan setinggi gu nung, namun jika dia tak punya keturunan maka bila sang milyuner itu mati, jatuh ke tangan siapakah harta kekayaannya itu dia tak akan tahu.

Oleh karena itulah, makin kaya seseorang makin besar keinginannya punya keturunan malahan anak tak cukup dia akan cepat-cepat berharap datangnya seorang cucu. Lain halnya dengan orang miskin, sekalipun tidak punya keturunan mereka tak akan jadi risau, toh kalau mati tidak ada harta kekayaaan yang musti dibingungkan.

Nah, begitu pula keadaannya dengan orang yang belajar silat, makin tinggi ilmu silatnya semakin panik dia mencari pewaris.

Kiu-im Kaucu walaupun lihay dia tetap seorang manusia, sebagai manusia dengan sendirinya diapun tak luput dari watak egois yaitu mementingkan diri sendiri,

Selain dia menginginkan seorang pewaris yang dapat menguasai semua ilmu silatnya diapun berharap agar tahtanya sebagai ketua perkumpulan Kiu-im-kauw bisa terjatuh pula ketangan muridnya, dengan begitu iapun tak usah risau atau kuatir bila kedudukan yang tinggi itu terjatuh ketangan orang lain.

Selain itu Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang amat cantik, benar-benar cantik jelita, makin dipandang makin mempersonakan, makin dilihat makin kesemsem, membuat siapapun yang sudah menaruh perhatian kepadanya segan untuk alihkan perhatiannya lagi.

Bagi Hoa Thian-hong pribadi, ia belum pernah mengamati wajah Pek Kun-gie dengan seksama, jangankan dara itu bahkan istrinya sendiri Chin Wan-hong pun tak pernah diamati dengan seksama, tentu saja anak muda itu tak dapat menemukan dimana letak daya tarik dari dara itu.

Sudah tentu kaum wanita jauh lebih cermat memandang kaumnya sendiri dari pada seorang lelaki mengamati seorang wanita, sekalipun paras muka Kiu-im Kaucu tidak terlalu cantik namun dia sendiripun bukan termasuk seorang dari tipe jelek, walau begitu terhadap kecantikan Pek Kun-gie ia sama sekali tidak menaruh rasa iri atau cemburu.

Tujuan dari Kiu-im Kaucu hanya ingin menerima dirinya sebagai murid, maka gadis itu diamati dengan seksama siapa tahu makin dilihat makin kesemgem, ia merasa kecantikan dan kebagusan dara itu ibaratnya sekuntum bunga mawar yang indah, kalau tidak dipandang masih mendingan, makin di pandang orang akan makin tertawan, sehing ta akhirnya timbullah keinginan untuk memetiknya.

Rasa heran dan tak habis mengerti terlintas dalam benak Hoa Thian-hong ketika dilihatnya perempuan itu menggawasi sekujur badan Pek Kun-gie dengan liar, dalam hati pikirnya

“Aneh benar perempuan itu, jangan-jangan ia termasuk perempuan bangsa lesbian. Hiih! Lebih baik dijauhi saja”

Karena pendapatnya itu, cepat-cepat dia tarik Pei Kun Gie kesamping tubuhnya dan berbisik, “Berdiri sajalah disamping situ, sebelum ada perintah dariku jangan turun tangan secara sembarangan.”

Kiu-im Kaucu dapat menyaksikan pula semua gerak-gerik dari sepasang muda mudi ini, dalam hati diapun berpikir.

“Sudah terang bocah ini amat mencintai Pek Kun-gie, waah! Kalau begini terus keadaannya, sudah pasti disuatu hari ia akan mengawini perempuan ini. Heeeh…. heeeh…. heeehh…. kalau mulai sekarang aku berhasil menarik budak itu kedalam perkumpulanku, siapa tahu kalau bocah itupun akhirnya akan bergabung pala dengan Kiu-im-kauw??”

Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa tergelak dan berkata, “Hoa Thian-hong, tunggu sajalah disamping situ, aku hendak melangsungkan suatu pertarungan yang sejujurnya dengan kau, agar kamu dapat mengaku kalah dengan hati puas.”

Bicara sampai disitu, dengan langkah lebar ia lantas menghampiri Pia Leng-cu.

“Eeh…. engkau terhitung seorang enghiong atau bukan?” bentak Pia Leng-cu dengan gusar.

Kiu-im Kaucu tertawa sinis.

“Huuhh….! Kalau seorang kuucu, seorang lelaki sejati, mungkin saja taktik itu akan mendatangkan hasil, sayang aku bukan seorang manusia sejati, tidak doyan aku dengan permainan macam itu.”

Tiba-tiba toya kepala setannya diayun kedepan dengan jurus Tay san ya leng (Bukit Tay san menindihi kepala) dan langsung menghajar batok kepala lawan.

Serangan itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, bergidik hati Pia Leng-cu menghadapi ancaman itu, dalam gugup dan gelisahnya, cepat-cepat dia kerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk meluncur ke arah samping.

Kiu-im Kaucu tertawa dingin, telapak tangannya diayun kedepan melepaskan sebuah pukulan udara kosong ke arah imam tua itu.

Pia Leng-cu masih berada diudara ketika serangan tersebut menyambar tiba, betapa terperanjatnya imam tua itu ketika merasakan datangnya terjangan yang maha ampuh itu, dalam keadaan begitu terpaksa dia lepaskan pula sebuah pukulan untuk menangkis ancaman tadi. Ketika dua gulung angin pukulan saling membentur satu sama lainnya, Pia Leng-cu mendengus tertahan, sesudah muntah darah segar dia terkulai ditanah dalam keadaan tak sadarkan diri.

Keadaan dari Pia Leng-cu waktu itu boleh dikata sudah terlampau payah, pertama hawa murninya aidah amat minin, kedua tubuhnya masih berada ditangah udara, serangan balasan yang ia lepaskan dalam keadaan gugup itu sama sekali tak mengandung tenaga sampai sebesar lima bagian, tentu saja pukulan seperti itu tak mungkin bisa menandingi kelihayan lawannya.

Dalam keadaan tak sadarkan diri, tubuhnya terjerumus kedalam sungai, untung anak buah Kiu-im-kauw masih siap disekitar sana, badannya segera disambar dan terus dilemparkan kembali keatas geladak perahu.

Dalam pada itu, ketiga buah perahu itu sudah berantai kembali menjadi satu, pasukan katak yang masih berada dalam air sama-sama loncat naik keatas perahu, sementara kursi kebesaran dari Kiu-im Kaucupun telah diangkut keatas perahu itu.

Setelab duduk, ketua dari Kiu-im-kauw itu berkata, “Le tiamcu! tua bangka hidung kerbau itu amat licik dan terlalu banyak akal busuknya, menurut pendapatku, untuk mendapatkan pedang emas tersebut terpaksa kita harus beri suatu peringatan diatas tubuhnya!” 

Tiamcu dari ruang siksaan bernama Le Kiu gi, mendengar peringatan tersebut ia segera bungkukkan badan memberi hormat dan menjawab, “Hamba akan turus tangan sendiri untuk bereskan tua bangka hidung kerbau ini, maksud kaucu apakah dia masih diberi kesempatan untuk hidup….” “Orang ini tak bisa digunakan lagi, di musnahkan saja!” tukas Kiu-im Kaucu sambil ulapakan tangannya.

Dengan sangat hormat Le Kiu gi ia segera menghampiri imam tua itu dan menotok jalan darah kakunya setelah itu diapun menepuk sebuah jalan darah diatas punggung nya.

Pia Leng-cu menghembuskan napas panjang, perlahan- lahan ia tersadar kembali dari pingsannya.

Pek Kun-gie mengawasi terus gerak-gerik dari orang she Le itu, dari semua perbuatannya yang cekatan, ia lantas berbisik kesisi telinga Hoa Thian-hong, “Orang ini adalah seorang penjagal, dia hidup dengan menjagali manusia, aku amat kenal dengan tabiat manusia seperti ini sebab dalam perkumpulan Sin-kie-pang kami pun terdapat manusia sebangsa ini”

Hoa Thian-hong tidak memberi tanggapan, dia malah berbisik dengan ilmu menyampaikan suara, “Setelah masalah itu selesai, maka tibalah giliran kita untuk mendapat kesulitan, sebentar akan kuusahakan suatu akal untuk mengirim kau naik kertas daratan lebih dahulu”

“Tidak! aku tidak mau! jerit Pek Kun-gie sambil goyangkan kepalanya berulang kali.

“Kalau engkau tidak pergi lebih dahulu, bagaimana mungkin aku bisa meloloskan diri? Hoa Thian-hong pura-pura marah.

Pek Kun-gie menggigit bibirnya kencang-kencang, dengan air mata bercucuran sahutnya setengah terisak, “Aku ingin berada disampingmu, kalau harus mati aku ingin mati disisimu!” “Aku tak ingin mampus, aku tak ingin mati konyol, aku ingin hidup segar bugar!” tukas sang pemuda dengan muka keras.

Akhirnya dengan sedih Pek Kun-gie mengangguk. “Baiklah…. aku akan menuruti perkataanmu, bagaimanapun

juga…. tiba-tiba ia berhenti dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya.

Sementara dua orang itu masih berkemak kemik bicara sendiri, Le Kiu gi telah selesai menggeledah seluruh badan Pia Leng-cu, apa yang diduga ternyata tidak meleset, pedang emas benar-benar tidak berada dalam sakunya, walau begitu tiamcu dari tuang siksa inipun tidak terlalu terburu nafsu untuk menanyainya.

Sarung pedang dari Boan liong po kiam ia lepas dari punggang sang imam kemudian diperiksa pula dengan seksama, tapi sarung itu kosong dan tak ada sesuatu bendapun yang ada didalamnya maka sarung tadi diserahkan kepala sang dara yang memegang pedang pusaka itu.

Kemudian barulah dia berkata kepada Pia Leng-cu. “Bertindaklah bijaksana, serahkan pedang emas itu kepada

kami, daripada engkau musti mengalami siksaan badaniah yang terlalu berat!”

Pia Leng-cu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, ia tahu dalam keadaan begini tak mungkin kalau ia tidak bicara, dengan suara dingin segera jawabnya, “Pedang itu aku simpan dalam sebuah ruang rahasia di kuil It goan koan yang ada dikota Cho ciu!”  Le Kiu gi mengangguk, rupanya dia percaya dengan pengakuan itu, dari sakunya dia ambil keluar sebatang jarum Cu bun toh kut teng (paku penebus tulang yang tampak pagi tak kelihatan sore) lalu mencekeram tangan kanan Pia Leng-cu dan tanpa mengucapkan sepatah katapun menancapkan paku tadi kedalam ibu jari sang imam tua tersebut.

Rasa sakit yang tak terhingga membuat Pia Leng-cu memperdengarkan suatu jeritan lengking yang menyayatkan hati, jeritan itu begitu keras hingga menggema diseluruh angkasa, membuat siapapun yang mendengarkan ikut merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Menyaksikan kesemuanya itu Hoa Thian-hong berpikir didalam hati.

“Imam tua itu memang pantas mampus, tapi tidak semestinya disiksa secara begitu keji!”

Berpikir sampai disitu dengan muka penuh kemarahan ia segera melangkah maju kadepan.

Pek Kun-gie bukan gadis yang bodoh, dari tingkah laku sang anak muda tentu saja ia tahu apa yaeg hendak dia lakukan, cepat dia memburu kemuka dan menghalangi jalan perginya.

Ini disebabkan, pertama ia sudah terbiasa menyaksikan kejadian seperti ini, kedua ia tak rela kalau Hoa Thian-hong mencari gara- gara yang mengakibatkan menyusahkan diri sendiri dan ketiga ia sangat membenci Pia Leng-cu, maka sedapat mungkin ia menghalangi niat Hoa Thian-hong untuk memberikan bantuannya. “Siluman hidung kerbau itu sudah kenyang menganiaya kita, pantaslah kalau dia terima ganjaran hidup…. Thian-hong! Jangan kau campuri urusannya!” bisik dara itu dengan lirih.

Hoa Thian-hong segera berpikir, “Imam tua itu toh sudah menjadi tawanan orang, aku menang tak berhak untuk mencampuri urusan ini, toh mencampuri juga tak ada gunanya, memang aku sanggup untuk membebaskan imam tua itu?”

Akhirnya ia menghela napas panjang dan berjalan menuju ke belakang buritan, dia tidak ingin menyaksikan perbuatan kotor yang tak berperi kemanusiaan itu.

Melihat anak muda itu menuju kebelakang, Pek Kun-gie segera menyusul pula dibelakangnya.

Paku penembus talang Cu bun toh kut teng dari Le Kiu gi panjangnya cuma satu cun, namun bentuknya aneh dan seperti gergaji, diatasnya telah dipolesi dengan sejenis racun keji yang mempunyai kekuatan pembusukan yang amat dahsyat.

Bila paku Cu bun toh kut teng itu ditancapkan ke tubuh seseorang, maka korbannya akan merasakan suatu penderitaan dan suatu siksaan yang luar biasa hebatnya, kendati pun seorang pria sejati yang bertulang besi otot kawat, tak urung akan menjerit ngeri pula.

Bisa dibayangkan betapa sakitnya ketika raku beracun itu ditancapkan diujung ibu jari, suatu bagian sensitip yang bisa menim bulkan rasa sakit beratus-ratus kali lebih hebat.

Sementara itu Pia Leng-cu sudah menggigit keras saking sakitnya, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya, mukanya pucat pasi, sorot matanya buram, keadaan dari imam tua ini sangat mengenaskan sekali.

Sebaliknya sikap Le Kiu gi amat santai, seolah-olah sama sekali tidak terjadi suatu apapun, perlahan ia merogoh kedalam sakunya dan ambil keluar paku Cu bun toh kut teng yang kedua kemudian mencekeram pula jari telunjuk tangan kanan imam tua itu, paku tersebut siap ditancapkan pula kesana….

Kali ini Pia Leng-cu benar-benar merasa ketakutan setengah mati, sukmanya serasa melayang tinggalkan raga, cepat dia berteriak keras, “Pedang emas itu ada didalam kota Lok yang, percayalah dengan pengakuan ini, aku mengaku dengan sejujurnya, berilah kematian yang lebih cepat kepadaku.

Le Kiu gi tertawa dingin.

“Heeehh…. heeehh…. heeehh…. luas kota Lok yang mencapai ratusan li persegi, sedang pedang emas itu sangat kecil bentuknya, siapa tahu engkau sembunyikan disudut yang mana?”

Keringat sebesar kacang kedelai telah mengucur keluar bagaikan hujan deras, dengan nada setengah merengek katanya, Pedang emas itu ada diatas loteng sebuah rumah obat, rumah obat itu berada didepan penginapan Ciat seng, aku bersedia menghantar kalian kesana untuk mengambil pedang emas itu, aku mohon berilah kematian yang cepat kepadaku.

Le Kiu gi mendengus sinis. “Hmmm! Itupun musti dilihat dulu apakah pedang emas itu asli atau palsu, bila barang palsu, Heeehh…. heeehh…. heeehh…. aku masih harus banyak bertanya kepadamu!”

Bicara sampai disini, sorot matanya segera dialihkan ke arah Kiu-im Kaucu guna minta pertimbangan.

Kiu-im Kaucu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, tiba- tiba ia menengadah sambil berseru, “Hoa Thian-hong!”

Anak muda itu maju menghampiri sambil bertanya, “Kaucu ada petunjuk apa lagi?”

Kiu-im Kaucu tertawa angkuh, sambil menatap lawannya dia mengejek dengan suara nyaring, “Engkau dapat menilai sendiri bukan atas situasi yang terbentang dibadapanmn? Nah, apa yang hendak kau lakukan?”

Hoa Thian-hong tertawa.

“Aku bukannya sengaja memanaskan hatimu, tapi berbicara sesungguhnya baik berduel satu lawan satu, beradu dengan tangan kosong atau senjata, baik tarung diperahu atau dalam air belum tentu kaucu sanggup mengungguli diriku, tentu saja kalau engkau kerahkan segenap kekuatanmu yang tersedia sekarang, aku mengakui bukan tandingan, cuma….”

“Cuma untuk mencabut nyawamu maka aku harus membayar dengan sesuatu pengorbanan yang sangat besar, bukan begitu maksudmu? sambung Kiu-im Kaucu sambil tertawa dingin.

Hoa Thian-hong tersenyum. “Berbicara sesungguhnya kalau engkau main kerubut terpaksa akupun akan kerahkan segenap kemampuan yang kumiliki untuk memberi perlayanan sebaik-baiknya dan tanggung….”

“Tanggung bagaimana? bentak Kiu-im Kaucu.

“Bukannya aku sengaja omong besar dan menyombongkan diri jika aku sudah mulai tutun tangan dengan pertaruhan selembar jiwaku, maka kecuali kaucu seorang, kematian yang berjatuhan dari pihak anak buah mu akan banyak sekali susah dihitung, bila Kiu-im-kauw ingin berdiri kembali dalam dunia persilatan, terpaksa harus membangun dan mendirikan sekali lagi!”

Tertegun hati Kiu-im Kaucu sehabis mendengar perkataan itu, ia termenung sebentar lalu jawabnya sambil tertawa, “Ilmu meringankan tubuh yang kau miliki amat sempurna, seandainya engkau ambil taktik menghindar yang berat dan memilih yang ringan, belum tentu aku mampu menahan dirimu terus menerus, aku tidak percaya engkau pasti mampu berbuat begitu, tapi akupun tak berani memastikan kalau engkau tak sanggup, walau begitu aku bukanlah seorang manusia yang bodoh, buat apa aku musti paksakan suatu pertarungan massal dengan engkau? Untuk memaksa engkau masuk perangkap, aku sudah menyiapkan suatu siasat baru yang jauh lebih bagus”

Tiba-tiba Pek Kun-gie berteriak deagan lantang, “Kau engkau merasa punya kepandaian, hayolah kita naik keatas daratan kalau ketika itu kau mampu kalahkan kami berdua, aku bersedia angkat dirimu menjadi guru”

Hoa Thian-hong tertawa santai, ia menjura ke arah Kiu-im Kaucu dan berkata, “Aku mohon petunjuk!” Kiu-im Kaucu kembali tertawa.

“Aku tak usah paksa kalian untuk terjun kedalam air, diujung perahu ini saja aku akan bertarung melawan kau Hoa Thian-hong, sementara anak buahku akan membekuk Pek Kun-gie, membeseti kulit badannya dan melemparkan tubuhnya kedalam sungai sebagai umpan ikan, aku ingin lihat apa yang bisa kau lakukan?”

Paras muka Hoa Thian-hong berubah hebat, untuk sesaat lamanya dia cuma bisa termenung dengan mulut membungkam.

Walaupun ucapan itu diutarakan secara bergurau, akan tetapi memang sangat masuk diakal, bila benar-benar sampai terjadi begitu maka niscaya anak muda itu akan dibuat pusing tujuh keliling.

Pek Kun-gie sama sekali tidak ambil perduli akan kejadian itu, sambil ayun pedang lemasnya dia berseru, “Akulah yang akan menyayat kulitmu, membetoti ototmu, memotong lidahmu, mencincang tubuhmu dan membuang badanmu ke sungai sebagai umpan ikan….”

Bukannya marah karena dia dicaci maki oleh dara tersebut, Kiu-im Kaucu malahan tertawa terbahak-bahak, Hoa Thian- hong serta anak buah Kiu-im-kauw juga tak kuasa menahan gelinya sehingga ikut tertawa, suasana jadi ramai sekali”

Terbayang sewaktu untuk pertama kalinya Hoa Thian-hong berjumpa dengan Pek Kun-gie, waktu itu gadis itu sangat angkuh, jumawa dan tak pandang sebelah matapun terhadap orang lain, sebagai putri kesayangan dari ketua perkumpulan Sin-kie-pang, bukan saja angkuh dan tinggi hati dalam tindak tanduknya, malahan mendatangkan rasa dongkol dan mangkel bagi yang diperintah. Semua perkataan maupun perbuatannya dikala itu membangkitkan rasa antipatih bagi orang lain, membuat semua orang tak senang hati kepadanya.

Tapi sekarang tindak tanduknya sama sekali berubah, malahan boleh dibilang bertolak belakang.

Kobaran api cinta memadamkan semua keangkuhan dan tinggi hati nya, api asmara yang panas telah membangkitkan sifat kewanitaannya yang murni.

Selama Hoa Thian-hong berada disampingnya, tanpa disadari ia berusaha keras untuk memancarkan semua keindahan dan daya tariknya seorang dara, daya tarik itu termasuk juga kelincahan, kesucian dan lemah lembut, pokoknya walaupun sedang berbuat sesuatu yang kasar, kekasaran itu tertutup oleh kelembutan sehingga mendatangkan rasa simpatik bagi siapapun.

Atau tegasnya saja walaupun sedang memaki orang, makianya separuh adalah sungguh-sungguh dan separuh yang lain cuma gurauan, membuat orang yang mendengar tak merasa sakit hati, tidak jadi gusar malahan timbul rasa perasaan yang gatal-gatal aneh.

Apalagi kalau perbuatan itu dilakukan oleh seorang gadis muda yang cantik jelita macam Pek Kun-gie, tentu saja makian itu kedengaran semakin menawan hati.

Meskipun merasa geli, perasaan hati Hoa Thian-hong sangat berat, dia tahu Kiu-im Kaucu tak mungkin akan menyelesaikan persengketaan itu dengan begitu saja, jika apa yang Kiu-im Kaucu katakan benar-benar dilaksanakan, ia yakin tiada kemampuan untuk melindungi keselamatau jiwa Pek

Kun-gie, maka sekalipun sudah termenung dan putar otak beberapa saat lamanya, pemuda itu masih belum sanggup menemukan cara pemecahan yang jitu.

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa ringan dan berkata “Hoa Thian-hong, aku ingin bertanya kepadamu,

bagaimana hubunganmu dengan Ku Ing-ing dari perkumpulan

kami?”

Merah padam selembar wajah Hoa Thian-hong mendengar pertanyaan itu, ia terbelalak dengan mulut melongo, untuk sesaat dia tak mampu memberikan jawaban yang tepat.

Melihat anak muda itu tersipu-sipu, tanpa pikir panjang Pek Kun-gie segera menanggapi dengan dingin, “Kami sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan Ku Ing-ing!”

“Ku Ing-ing bukan lain adalah Giok Teng Hujin” jawab Kiu- im Kaucu sambil tertawa, aku sedang bertanya kepada Hoa Thian-hong kalau engkau tak tahu urusan lebih baik janganlah turut campur!”

“Aku sengaja mau turut campur kau mau apa? ngotot Pek Kun-gie dengan cepat”, kami benar-benar tidak punya hubungan apa-apa dengan Giok Teng Hujin.

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba dia berpaling ke arah Hoa Thian-hong dan bertanya dengan suara lirih, “Bagaimana hubunganmu dengan dirinya?”

Hoa Thian-hong semakin jengah dibuatnya, untuk beberapa saat lamanya muka, telinga sampai lehernya pada berubah jadi merah semua bagaikan kepiting rebus.

Kiu-im Kaucu tertawa mengikik, katanya lagi, “Ku Ing-ing memang terlalu besar nyalinya, dia telah mencuri sebatang Leng-ci berusia seribu tahun milikku dan dihadiahkan kepadamu, coba bayangkan saja seberapa besar dosanya itu?”

Hoa Thian-hong sangat terperarjat, dalam waktu sekejap mata mukanya berubah jadi pucat pias seperti mayat.

Kiu-im Kaucu tersenyum, ia tatap wajah anak muda itu tajam-tajam, kemudian ujarnya lebih jauh, “Mungkin engkau tidak percaya dengan perkataanku ini, dalam kenyataan semua anggota perkumpulan Kiu im kiu mengetahui akan kejadian ini, bila suatu hari aku berhasil menangkap kembali Ku Ing-ing, maka akan kuhadapkan dirinya denganmu agar kau tahu bila apa yang kuucapkan sama sekali tidak bohong”

“Aku tak akan mengucapkan terima kasih kepadamu” kata Hoa Thian-hong sambil menjura, “bila kaucu mempunyai satu keinginan, silahkan diutarakan dengan terus terang! Bila kau inginkan pedang baja ini, sekarang juga akan kupersembahkan kepada mu”

Berbicara sampai disini, dia lantas, angsurkan pedang baja itu kedepan, lanjutnya, Pedang ini telah dipolesi dengan racun, silahkan kaucu mencucinya dengan air cuka!”

Kiu-im Kaucu tertawa, dengan sorot mata yang amat tajam bagaikan kilat ia menatap wajah Hoa Thian-hong tanpa berkedip, tiada sepatah katapun yang dia ucapkan, pedang baja itupun sama sekali tidak diterimanya….

Rupanya Pek Kun-gie merasa keberatan kalau pedang tersebut diserahkan orang dengan begitu saja, ia segera menyindir, “Eeh, pedang itu akan diberikan kepada mu, ketika mendapatkan kitab pusaka kiam keng, kuucapkan selamat kepadamu karena kepandaian silat yang kau miliki nomor satu didunia, pedang baja itupun termasuk sebilah benda mustika, kalau dibandingkan masih cukup untuk ditukar dengan Leng-ci berusia seribu tahunmu itu, pedang tersebut diserahkan kepadamu sebagai imbalan dari Leng-ci mu, dengan demikian kita sudah impas, siapapun tidak berhutang budi lagi!”

Mendengar perkataan itu Kiu-im Kaucu segera merenpadah dan tertawa terbahak-bahak, lama sekali ia baru berhenti tertawa, kepa da Hoa Thian-hong ujarnya, Kitab pusaka Kiam keng hanya berguna barimu tapi sama sekali tak bermanfaat bagiku, bagi pandanganku Hmm! Pedang baja tersebut sama sekali tak kupandang barang sekejappun.

“Lalu apa tujuan kaucu mengejar Pia Leng-cu mati-matian dan apa pula maksudmu untuk ikut merampas pedang baja milikku ini, tanya Hoa Thian-hong dengan alis mata berkenyit.

Kiu-im Kaucu tertawa.

Dikolong langit dewasa ini hanya engkau seorang yang mampu menandingi kepandaian silatku, aku sangat berharap apabila kita bisa saling mengukur kepandaian secara adil, siapa kalah dia harus berlatih kembali kepandaiannya dengan ketekunan sendiri, tapi kalau ada salah satu pihak yang meminjam kepandaian yang diwariskan jago lampau…. bukankah tindakan ini terhitung sangat tak adil?”

“Ucapan kaucu sangat masuk diakal, aku merasa amat kagum!”

“Nah, karena itulah salah satu diantara kedua belah senjata itu harus terjatuh ke tanganku, baik itu pedang emasnya atau pedang bajanya” sambung Kiu-im Kaucu sambil tersenyum, “pokoknya asal salah satu diantaranya berada ditanganku, berarti pula kitab pusaka Kiam keng tersebut tak mungkin akan terjatuh ketanganmu, itu berarti pula engkau tak dapat meminjam kepandaian dari malaikat pedang Gi Ko untuk mempertingkat kemampuannu dalam mengalahkan aku!” Hoa Thian-hong mengangguk sambil tertawa.

“Sudah jamak kalau setiap manusia punya pandangan serta jalan pikiran demikian, aku tak dapat menyalahkan engkau!”

Disamping itu akupun tidak berharap apa bila kitab pusaka Kiam keng itu sampai terjatuh kepihak ketiga, sebab kalau sampai begitu maka dunia persilatan pasti akan menjadi kalut, itu berarti pula aku harus berhadapan lagi dengan seorang musuh tangguh yang baru.

“Kalau toh memang begitu, bagaimana caramu untuk menyelesaikan masalah ini?” tanya Hoa Thian-hong tercengang.

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu menengadah dan tertawa terbahak- bahak.

“Haaah…. haaah…. haaah…. masalah ini memang sulit untuk disele saikan, akan tetapi aku sudah memikirkan suatu cara penyelesaian yang bagus, entah engkau bisa menyanggupi atau tidak?”

“Bagaimana cara penyelesaianmu itu?” tanya Hoa Thian- hong agak tertegun “asal urusan bisa dibikin beres secara damai, tentu saja aku dapat mempertimbangkan dengan seadil dan sebijaksana mungkin”

0000O0000

73

KEMBALI Kiu-im Kaucu tertawa tergelak. “Aku memang sudah mempunyai suatu cara penyelesaian yang bagus, bukan saja urusan bisa dibikin beres, malahan kita bisa merubah peperangan menjadi perdamaian, merubah kebengisan menjadi keten-traman, cuma saja…. aku justru kuatir kalau kamu berdua tak tahu diri!”

“Aah! Kalau memang ada cara yang begitu bagusnya, kenapa tidak kaucu usulkan sedari tadi?” kata Pek Kun-gie sambil tertawa. “Aah, aku bisa menebak maksud hati kaucu, bukankah engkau hendak menjodoh kan Giok Teng Hujin dengan dirinya?”

Bicara sampai disitu, sang gadis segera menunjuk ke arah Hoa Thian-hong yang berdiri disampingnya.

Hoa Thian-hong merasa bersalah, mendengar kata-kata itu merah padamlah selembar wajahnya karena jengah, dia pura- pura marah dan segera bentaknya, “Huus….! Kun gie, jangan sembarangan bicara.”

Pek Kun-gie tertawa cekikikan, sambil menuding anak muda itu kembali dia menggoda, “Kamu ini, pintarnya cuma main gertak Hmm! Tampangnya saja jujur dan kalem, padahal bagaimana isi yang sebenarnya siapa yang tahu?”

Dari pembicaraan yang sedang berlangsung, Kiu-im Kaucu dapat mengamati perubahan wajah si anak muda itu, pikirnya di hati, “Kalau dilihat dari kejengahan serta rasa menyesal yang ditunjukkan bocah itu, mungkin saja dia memang punya hubungan istimewa dengan Ku Ing-ing…. heeem…. heeem…. apa salahnya kalau kutakut-takuti dirinya? Akan kulihat bagaimana reaksinya nanti….”

Karena berpendapat demikian, dengan muka dingin menyeramkan ia lantas berseru, “Ku Ing-ing berulang kali melanggar perintahku, sekarang ia sudah dianggap sebagai seorang pengkhianat dari perkumpulan Kiu-im-kauw, hukuman lima pedang manyincang badan, siksaan api dingin melelehkan sukma sudah lama menantikan dirinya, siapa yang ambil perduli dia mau dikawinkan dengan siapa?”

Mendengar perkataan itu, paras muka Hoa Thian-hong kontan berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, ia merasa amat terkejut bercampur gugup hingga tanpa sadar jantungnya berdetak keras.

Pek Kun-gie ikut gugup menyaksikan keadaan kekasihnya, ia segera berpikir dihati, “Aaai…. semuanya salah aku yang terlalu cerewet, kalau tidak kuungkap tentang soal itu, Kiu-im Kaucu pasti tak akan mengungkap pula persoalan ini kalau Hoa Thian-hong tidak tahu urusan ini masih mendingan kalau dia sudah tahu pastilah dia tak akan berpeluk tangan belaka….!”

Saking gugup dan gelisahnya semua kesusahan segera dilampiaskan keatas badan Kiu-im Kaucu, dia ingin mencari muka dihadapan kekasihnya, maka dengan muka penuh kemarahan dan mata melotot besar, hardiknya ke arah Kiu-im Kaucu, “Mau hukum mampus peghianat dari pergururanku atau tidak, urusan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kami, tapi kalau kau anggap kesalahan Giok Teng Hujin adalah disebabkan dia curi Leng-ci mustiksmu untuk dihadiahkan kepada kami…. hmmm Hmm Dari sini menunjukkan betapa cepatnya pikiranmu dan betapa sempitnya jiwamu, baik, hutang ini kami terima, katakan saja apa yang kau kehendaki, mau turun? Mau adu kepandaian?

Kami pasti akan melayani dengan senang hati”

Setiap kali dara ini mengartikan Hoa Thian-hong, dia selalu menggunakan istilah kami sebagai pengganti nama pemuda itu, dengan sendirinya dia hendak mengartikan bahwa antara Hoa Thian-hong dengan dirinya merupakan satu bentuk tubuh yang menunggal, urusan dari Hoa Thian-hong berati pula urusan dari Pek Kun-gie.

Sudah tentu Kiu-im Kaucu dapat menangkap arti sebenarnya dari perkataan itu, dia segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Haahh…. haah…. haahh…. engkau sendiripun ibaratnya patung arca yang menyeberangi sungai, untuk menyelamatkan diri sendiripun tidak mampu masih ingin mencampuri urusan orang lain?”

Perkataan itu sangat menusuk perasaan hati Pek Kun-gie, kontan hawa amarahnya berkobar, sambil membentak dia putar pedang lemasnya siap menerjang ke arah musuhnya.

Tapi Hoa Thian-hong keburu menarik tangannya sehingga dia tak bisa melanjutkan niatnya.

Walaupun begitu kemarahan yang berkobar dalam hati Pek Kun-gie belum sirap dia melotot ke arah Kiu-im Kaucu dengan mata berapi-api, sementara pedang lemasnya dikebaskan kesana kemari sehingga berbunyi desiran tajam….

Kiu-im Kaucu pura-pura tidak melihat kesemuanya itu, kembali dia melanjutkan kata-katanya, “Berbicara terus terang, sekalipun nyali Ku Ing-ing amat besar dia tak akan berani mengkhianati aku secara terang-terangan, menurut dugaanku cepat atau lambat dia pasti akan datang menyerahkan diri untuk menunggu dijatuhi hukuman setimpal, jika berkeras hati akan mencampuri urusan ini, silahkan saja datang kemarkas waktu saat hukuman dilaksanakan nanti!”

Hoa Thian-hong ikut berpikir didalam hati, “Ku Ing-ing adalah murid dari perkumpulan Kiu-im-kauw, kalau dia bersedia menyerahkan diri, itu berani urusan tersebut adalah urusan ramah tangga dari Kiu-im-kauw sendiri, aku sebagai orang luar tidak sepantasnya kalau mencampuri urusan ini…. tapi haruskah aku berpeluk tangan belaka? Dia mati lantaran aku, bagaimana pertanggungan jawabku bila aku cuma diam melulu?”

Berpikir sampai disitu, ia semakin murung rasanya. Beberapa saat kemudian pemuda itu baru berkata, “Kaucu,

bukankah engkau mengatakan ada cara penyelesaian yang

bisa merubah peperangan menjadi perdamaian, merubah kebengisan menjadi ketentraman? entah bagaimana caranya itu? Silahkan kau utarakan keluar.”

Dari sikapnya yang lesu dan lemas, tampaknya pemuda ini sudah tertekan batinnya sehingga menunjukkan nada akan menyerah.

Melihat keadaan musuhnya, Kiu-im Kaucu bergirang dalam hati, ia segera tertawa tergelak.

“Haah…. haahh…. haahh…. sebenarnya caraku ini teramat sederhana, suruh saja Pek Kun-gie angkat diriku sebagai guru asal dia sudah menjadi muridku maka memandang diatas wajahnya, aku bersedia menghapuskan semua pertikaian yang melibatkan kita berdua, bukankah dengan begitu peperangan akan berubah jadi perdamaian, kebengisan berubah jadi ketentraman?”

“Oooh…. begitu tinggi kau pandang diriku? Sungguh bikin hatiku terperanjat karena tak tahan!” ejek Pek Kun-gie sambil mencibirkan bibirnya deagan sinis.

Hoa Thian-hong sendiri pun mengerutkan dahinya. “Semua orang tahu kalau ilmu silat yang kaucu miliki sangat lihay, apalagi engkau merupakan seorang kaucu dari suatu perkum pulan besar, tawaranmu ini memang boleh dianggap suatu rejeki nomplok!“

Kiu-im Kaucu tidak menanggapi, sorot matanya dialihkan ke arah Pek Kun-gie, lalu berkata sambil tertawa, “Hey budak, sudah kaudengar semua? Rejeki atau bencana hanya engkau seorang yang menentukan!”

Pek Kun-gie mencibirkan bibirnya, dia segera melengos ke arah lain dan tetap membungkam.

Hoa Thian-hong yang berada disisinya melanjutkan, “Untuk menerima murid dan mewariskan ilmu silat, bisa berjalan lancar apabila sudah disetujui oleh kedua belah pihak, jika kaucu suruh aku yang menetapkan…. aku rasa hal ini terlalu kelewat batas!”

Kiu-im Kaucu tertawa terbahak-bahak.

“Haahh…. haahhh…. haahh…. Pek Kun-gie sudah dibikin pusing oleh cinta, dia telah kehilangan pegangan untuk mengambil keputusan, apa yang kau katakan ia selalu turuti dengan seratus persen, sudah tentu aku tak akan main paksa, aku hanya berharap engkaulah yang bantu mewujudkan kebaikan ini”

Pek Kun-gie merasa malu bercampur mendongkol tatkala dirinya dikatakan sudah dibikin pusing oleh cinta sehingga kehilangan pegangan, dengan penuh kemarahan dia berteriak, “Engkau jangan ngaco belo tak karuan, kau…. kau sendiri yang tak punya pegangan!”

Walaupun sedang berada dalam keadaan gusar, namun dara itu tak sanggup membantah ucapan itu. Melihat keadaan tersebut, gelak tertawa Kiu-im Kaucu makin menjadi, suara tertawanya semakin keras.

Pek Kun-gie semakin mendongkol bercampur marah, sambil mendepak depakkan kaki nya keatas geladak, teriaknya berulang kali, “Huuh! kau jahat, kau sembunyikan golok dibalik senyuman, kau banci! kau seram kau tak tahu diri, kau licik dan main akal, kau tak tahu malu”

Semakin keras gadis itu memaki, semakin nyaring Kiu-im Kaucu tertawa, akhirnya gadis itu menarik kata malu itu jadi amat panjang, keras dan hampir boleh dikata setengah menjerit, barulah Kiu-im Kaucu berhenti tertawa, meski begitu mukanya sudah berubah jadi merah padam, napasnya tersengkal-sengkal.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa kuatir bercampur gelisah, dia tahu Kiu-im Kaucu bukan sebangsa manusia yang gampang putus asa, setelah ada tujuan biasanya dia berusaha terus sampai apa yang di cita-citakan tercapai, jika tidak segera dicarikan akal yang tepat untuk menyelesaikan persoalan ini, sukarlah masalah itu bisa diselesaikan.

Pek Kun-gie sendiri adalah seorang putri jagoan persilatan, ia tak dapat membedakan mana yang baik mana yang buruk, hanya saja dia memang tidak bermaksud mengangkat Kiu-im Kaucu sebagai gurunya, sehingga keadaan pada waktu itu ibaratnya hanya mengagumi burung bangau tidak mengagumi sang dewa.

Seandainya bukan disebabkan karena Hoa Thian-hong, tentu saja dia sangat berharap bisa mendapat seorang guru yang pandai seperti Kiu-im Kaucu, tapi bagi pandangan Hoa Thian-hong, Kiu-im Kaucu adalah seorang jago dari golongan sesat dan lagi dia pun terhitung seorang gembong iblis yang disegani orang, prinsipnya siapa yang dekat dengan gincu akan jadi merah, siapa yang dekat tinta akan jadi hitam, sekalipun seorang yang berhati bajik bila sampai mengangkat seorang jahat sebagai gurunya, maka perangai maupun tindak tanduknya pasti akan terpengaruh.

Sudah tentu karena prinsipnya ini, anak muda itu tak sudi menganjurkan kepada Pek Kun-gie untuk mengangkat Kiu-im Kaucu sebagai gurunya.

Tapi situasi yang dihadapinya sekarang jauh berbeda, bila ia tak bisa menentukan pilihannya sebagai sahabat maka berarti pula mereka harus berhadapan sebagai musuh, dalam keadaan yang gawat seperti ini sudah tentu hatinya jadi panik.

Paras muka Kiu-im Kaucu berubah hebat ketika dilihatnya Hoa Thian-hong tetap memburgkam dalam seribu bahasa, dengan suara tajam tiba-tiba ia membentak, “Aku harus berangkat ke kota Lok yang untuk mengambil pedang emas, setuju atau tidak hayo cepat kasih jawaban yang terang!”

Hoa Thian-hong tidak langsung menjawab, kembali dia berpikir, “Semestinya aku harus menolak penawarannya itu secara tegas, tapi kalau aku berniat demikian, pihak lawan tentulah akan menggunakan kekerasan, padahal jumlah musuh amat banyak, susah kalau mau melawan pakai kekerasan”

Sementara ia masih merasa amat panik tiba-tiba perahu mereka bergerak melewati sebuah kanal yang amat sempit, walaupun arus air sangat deras akan tetapi jarak antara perahu dengan daratan jadi makin bertambah dekat.

Tanpa berpikir panjang lagi ia segera menyambar tnbuh Pek Kun-gie dan loncat ke arah perahu yang berada disebelah kanan. “Hoa Thian-hong!” bentak Kiu-im Kaucu dengan amat gusar, engkau benar-benar tak tahu diri.

Hoa Thian bong sama sekali tidak menggubris bentakan itu, kepada Pek Kun-gie bisiknya, “Naiklah keatas daratan letih dulu!”

Tertegun hati Pek Kun-gie mendengar bisikan itu, sebelum dia paham dengan apa yang telah terjadi, tiba-tiba sepasang kakinya sudah dicengkeraman oleh Hoa Thian-hong.

Semua gerakan yang dilakukan anak muda itu cepat sambaran kilat, begitu sepasang kaki Pek Kun-gie sudan dicengkeram tiba-tiba ia putar badannya dan memalingkan tubuh Pek Kun-gie satu lingkaran di udara, bentaknya dengan nyaring, “Pergi!”

Sepisang tangan dilepakkan tahu-tahu dia sudah melempar tubuh dara itu menuju ke atas daratan.

Pek Kuo gie ketakukan sehingga menjerit lengking, ia merasa angin tajam menderu-deru disisi telinganya, dadanya terasa amat sesak.

Daya luncur dara itu amat cepat, ibarat anak anak panah yang terlepas dari busurnya, sebelum rasa kagetnya tersapu lenyap, tahu- tahu daya luncur itu sudah menjadi lemah.

Dalam keadaan begitu ia segera berjumpulitan sekenanya, dan tahu-tahu sepasang kakinya sudah mencapai daratan, walaupun selamat tiba dipantai tak urung paras mukanya telah berubah jadi pucat pias seperti mayat….

Gerakan yang dilakukan Hoa Thian-hong ini sangat aneh dan sama sekali diluar dugaan siapapun, Kiu-im Kaucu dibikin teramat gusar sehingga mukanya berubah jadi hijau membesi, ia segera loncat bangun dari tempat duduknya.

Kendatipun begitu, diam-diam diapun merasa amat kagum dengan tidakan berani dari anak muda tersebut.

Haruslah diketahui, apabila seseorang tidak memiliki kekuatan pada lengan sebesar lima enam ribu kati, maka sulitlah untuk melemparkan tubuh seseorang sejauh dua puluh kaki lebih dan lagi apabila terlalu besar kekuatan yang digunakan kemungkinan besar orang yang dia lempar akan menderita luka dalam yang cukup parah.

Kiu-im Kaucu sadar dia sediri belum tentu sanggup melakukan seperti apa yang dilakukan pemuda itu.

Setelah tertegun beberapa saat lamanya, Kiu-im Kaucu segera tertawa seram, serunya, “Hoa Thian-hong, jadi engkau bersikeras akan memusuhi diriku?”

Kiu-im Kaucu merupakan seorang manusia yang aneh, gembira atau marah sukar diikuti dari perubahan wajahnya, Hoa Thian-hong sangat kuatir terhadap keanehannya itu.

Dengan cekatan dia cabut keluar pedangnya dan disilangkan didepan dada, lalu dengan serius berkata.

Pia Leng-cu adalah seorang jago yang kedudukannya sudah terpojok, aku bisa memaklumi kalau dia berusaha menukar pedangku dengan Pek Kun-gie yang ditangkap sebagai sandera, sebaliknya kaucu adalah seorang jago besar yang disegani seluruh jagad, nama besarmu cemerlang dan mencapai semua pelosok, aku benar-benar merasa tak puas kalau engkau hendak menggunakan cara yang sama dengan yang digunakan Pia Leng-cu untuk memaksa aku!” Beberapa patah kata ini tidak sombong juga angkuh tapi apa adanya, tentu saja Kiu-im Kaucu tak mampu membantah barang sekecappun.

Setelah membungkam lama sekali, akhirnya ia tenawa dingin dan mengejek, “Hmm! Jadi kalau begitu engkau berharap kita melakukan pertarungan untuk menyelesaikan persoalan ini?”

“Aku rela mati dalam pertarungan dari pada menanggung derita karena sakit hati”

Kembali Kiu-im Kaucu berpikir didalam hati, “Keberanian bocah ini mengagumkan sekali, rasa percaya pada diri sendirinya sangat tinggi, ia tidak merendahkan diri pun tidak menyombongkan diri, aaai! Manusia macam begini memang sulit untuk dilayani”

Sementara ia masih termenung, Tiamcu istana neraka yang berada disisinya mendadak berbisik, “Orang ini sangat tangguh, jangan dilayani dengan kekerasan!”

Kiu-im Kaucu mengerutkan dahinya, dengan ilmu menyampaikan suara ia segera bertanya, “Kalau tidak dilayani dengan kekerasan berarti harus dilayani dengan kecerdikkan, engkau punya akal bagus?”

“Selama Hoa Thian-hong masih berada di sini, Pek Kuo Gie tentu tak akan melarikan diri dari seputar daratan sana” bisik Tiam cu istana neraka dengan suara lirih, “kenapa kaucu tidak perintahkan orang untuk naik keatas daratan dan membekuk dirinya lebih dahulu?”

“Emmm…. bagus sekali usul ini” batin Kiu-im Kaucu. Tanpa sadar ia berpaling ke arah daratan, waktu itu Pek Kun-gie memang sedang berlarian disepanjang pantai, tanpa kuasa dia lantas berpaling ke arah seorang kakek disisinya sambil berseru, “Seng tongcu, cepat naik kedaratan! Bekuk dulu budak tersebut”

Betapa terkejutnya Hoa Thian-hong mendengar perintah itu, dia segera berpaling sambil membentak nyaring, “Kun Gie, cepat kabur kembali ke kota Lok yang, jangan berke-liaran terus disini”

Pek Kun-gie yang ada didaratan agak tertegun, tapi cepat dia loncat turun dan lenyap dibalik tanggal.

Kiu im kaccu terbahak-bahak, ia berseru lagi, Sekalipun batok kepala budak itu dipenggal, dia tentu tak akan kabur seorang diri dari sini. Seng tongcu! naik segera kedaratan dan bekuk budak itu sampai dapat.

Kakek she Seng itu adalah tongcu bagian penerimaan anggota, sambil menjura dia mengiakan lalu loncat ketengah sungai.

Hoa Thian-hong sendiripun dapat memaklumi perasaan Pek Kun-gie, dia sadar gadis itu tak akan tinggalkan tempat itu seorang diri, sudah pasti dia hanya sembunyi dibalik tanggul sambil mengikuti secara diam-diam.

Bila Kakek she Seng itu sampai naik keatas daratan, niscaya gadis itu bakal kena di bekuk.

Pemuda itu sendiri dapat pula menyaksikan keadaan yang terbentang diseputarnya, kalau dia sampai terjun kedalam air sudah pasti kekalahan berada dipihaknya, mau loncat kedaratan sudah terang tak mungkin karena perahu itu bergerak ditengah-tengah sungai. Dalam gugup dan gelisahnya pemuda itu membentak keras, sambil menerjang kedepan pedangnya langsung membabat pinggang kakek she Seng dari ruang penerimaan anggota itu.

Kiu-im Kaucu sangat terperanjat, dengan cekatan ia menerjang maju, hardiknya, “Seng tongcu, hati-hati!”

Tongkat kepala setannya secepat kilat diayun kemuka langsung membabat ke arah pinggang Hoa Thian-hong.

Arah yang diserang adalah bagian yang mematikan, dalam keadaan begini mau tak mau Hoa Thian-hong harus berganti jurus untuk melindungi diri, cepat pedangnya berputar balas menusuk ke tubuh lawan.

Dalam sekejap mata, suatu pertarungan sengit yang menggetarkan langit dan bumi telah berlangsung diatas geladak perahu.

Tongcu ruang penerimaan anggota baru yang berhasil lolos dari ancaman maut itu segera menyusup kesamping perahu, walau begitu peluh dingin telah membasahi tubuhnya.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia kabur menuju buritan perahu, setelah jauh meninggalkan Hoa Thian-hong dia baru mence burkan diri kedalam sungai….

Sejak terjun kedalam dunia persilatan, Hoa Thian-hong selain hidup ditengah kancah pertarungan yang serba sulit dan membahayakan jiwanya, lingkungan semacam itu lambat laun mendidik dirinya menjadi seorang pemuda yang tabah, berani serta bersemangat. Setelah berhadapan dengan musuh tangguh dihari itu, sebelum terjadi pertarungan ia selalu berusaha untuk menghindari suatu pertarungan yang tak berarti, tapi begitu pertarungan tak bisa dihindari lagi, segala pikiran bercabang dibuang jauh-jauh, semua kekuatan dan pikirannya dipusatkan jadi satu untuk melayani serangan-serangan musuh, terhadap ketujuh puluh orang anggota Kiu-im-kauw yang berdiri disekitar gelanggang, dia sama sekali tidak ambil perduli.

Luas ujung perahu itu cuma sekitar lima laki, sedang senjata yang digunakan kedua belah pihak sama-sama senjata berat, pedang ba ja milik Hoa Thian-hong panjangnya mencapai empat depa, sedangkan toya kepala setan milik Kiu- im Kaucu panjangnya mencapai delapan depa, begitu penarungan berkobar terpaksa sisa orang yang lain harus menyingkir keburitan perahu atau dua perahu yang lainnya.

Dalam keadaan begini jangankan main keroyokan dengan jumlah banyak, bahkan ikut serta dalam pertarungan itupun susah.

Untuk menghindari sergapan dengan senjata rahasia, Hoa Thian-hong menempatkan diri disebelah luar dengan punggung menghadap ke arah sungai, kakinya berdiri tegak bagaikan batu karang, maju atau mundur semuanya pakai aturan.

Sedangkan Kiu-im Kaucu bertarung dengan maksud paksa anak muda itu tercebur kedalam air, maka dari itu toya kepala setannya berulang kali melancarkan serangan yang amat gencar.

Namun Hoa Thian-hong sama sekali tidak mengalah dengan begitu saja, setiap serangan diimbali dengan serangan, tiap desakan dibalas dengan desakan, walaupun sudah bertarung beberapa waktu, posisinya tetap tak bergeming dari posisi semula.

Dalam pertarungan yang berlangsung kali ini, Kiu-im Kaucu bertindak jauh lebih hati-hati, semenjak pengalaman pahit yang dideritanya belum lama berselang, ia tahu kalau tenaga dalam yang mereka miliki berada dalam posisi yang seimbang, jika pertarungan harus dilangsungkan dengan keras lawan keras, maka kedua belah pihak akan sama-sama menelan kerugian yang amat besar.

Sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, tentu saja dia amat menyayangi jiwa sendiri, ia tak ingin melakukan pertarungan yang mengakibatkan kedua belah pihak sama- sama menelan kerugian, sebab sekalipun menggunakan kekerasan, belum tentu ia mampu mendesak Hoa Thian-hong hingga tercebur kedalam sungai.

Beberapa saat kemudian, kedua belah pihak sudah bertarung sebanyak tiga puluh gebrakan, babatan pedang maupun sambaran toya semuanya dilakukan dengan gesit dan enteng, sepanjang pertarungan berlangsung kedua macam senjata itu tak pernah saling membentur satu sama lainnya.

Sementara itu tengah hari sudah hampir menjelang, tapi awan gelap menutupi seluruh jagad, sang surya belum muncul di angkasa membuat udara yang remang-remang menambah seramnya suasana.

Ombak menggulung makin besar, arus mengalir makin deras, perahu yang bergerak dengan saling bergandeng itu kadangkala harus saling membentur satu sama lain, goncangan-goncangan keras itu membuat pertarungan yang sedang berlangsung diujung perahu berlangsung makin ramai. Beberapa kali Kiu-im Kaucu melepaskan serangan berantainya untuk mendesak lawan, namun semua ancaman itu selalu gagal untukc memaksa Hoa Thian-hong terdesak mundur barang setengah langkahpun, lambat laun dia mulai berpikir, “Bocah ini berdiri dengan membelakangi sungai, keadaan tersebut ibaratnya bintang buas yang masuk perangkap, kalau aku mendesak kelewat batas, dia pasti akan jadi nekad dan menyerang diriku habis-habisan, apa salahnya kalau kuulur waktu sedapat mungkin? Asalkan budak dari keluarga Pek itu berhasil kubekuk kemenangan sudah pasti berada ditanganku….!”

Berpikir sampai disini, ia memperlunak serangannya walaupun masih mengurung musuhnya dengan ketat.

Hoa Thian-hong sendiri tiada bernafsu melangsungkan pertarungan jarak panjang, karena ia masih berada di atas perahu musuh, begitu Kiu-im Kaucu memperlunak serangannya, dari semula jadi tuan rumah, pedangnya berkelebat sedemikian rupa melancarkan serangan-serangan gencar yang mematikan.

Dalam waktu singkat, pedang bajanya melepaskan serangkaian serangan berantai dengan jurus Im yang ji kek (dingin dan panas dua unsur kekuatan)>, Su kok ciong bong (Kesunyian mencekam empat penjuru , Liong cian hi ya (Pertarungan naga di tengah belukar) serta Hong hui cay tian (Biang lala terbang di angkasa).

Semua serangan yang digunakan olehnya merupakan serangkaian serangan mematikan yang amat dahsyat, tampaklah cahaya hitam menyelimuti seluruh angkasa, tiada desiran yang mendengung diudara, yang ada cuma sambaran bayangan tajam yang mendirikan bulu roma. Sepenuh tenaga Kiu-im Kaucu melayani serangan gencar musuhnya, toya kepala setannya berputar memekikan telinga, bayangan hitam menyelimuti angkasa bagaikan bukit bersusun, walaupun pertarungan sudah berlangsung lama akan tetapi ia belum menunjukkan tanda-tanda akan kalah.

Demikianlah, kedua orang itu saling berusaha merebut posisi yang lebih menguntungkan, setiap kesempatan yang tersedia di manfaatkan dengan sebaik-baiknya, tiap jengkal tanah diperebutkan mati-matian. tanpa terasa tiga puluh gebrakan sudah lewat.

Walau begitu posisi mereka masih tetap seimbang, kekuatan mereka ibaratnya setali tiga uang, siapapun gagal untuk merebut posisi diatas angin, sampat disitu kedua orang itu sama-sama kaget bercampur terkesiap.

Makin lama pertarungan itu berlangsung, Kiu-im Kaucu merasa makin ierperanjat, sebab ilmu silat yang dimiliki Hoa Thian-hong sekarang jauh lebih maju kalau dibandingkan sewaktu diseleng-garakannya pertemuan besar Kian ciau tay hwee, kematangan dalam jurus pedang maupun dalam hal tenaga dalam sama sekali jauh berbeda dengan keadaan dimasa itu.

Haruslah diketahui, ketika pertemuan Kian ciau tay hwee diseleng garakan, Hoa Thian-hong baru saja memahami inti sari yang tercakup dalam catatan Kiam keng bu kui, meskipun ilmu pedangnya mengalami kemajuan yang pesat namun belum membaur seratus persen, kematangannya masih jauh dari harapan tapi setelah mengalami penyelidikan serta latihan yang tekun selama banyak waktu, hasil yang diraih sekarang ini meningkat beberapa kali lipat jika di bandingkan dulu. Untung yang dihadapinya saat itu adalah Kiu-im Kaucu yang lihay, andaikata berganti dengan orang lain, mungkin satu juruspun tak sanggup menahan.

Begitulah, makin lama pertarungan berlangsung Kiu-im Kaucu makin terkesiap, timbullah rasa was-was dalam hatinya, ia membatin jika kemajuan pasat yang dicapai bocah itu dalam ilmu silat demikian besarnya, maka kalau keadaan dibiarkan berlangsung beberapa bulan lagi, tanpa berlatih kitab kiam keng pun, bocah itu sudah amat sulit tandingi.

Kalau hal ini sampai terjadi, bukankah itu berarti kursi kebesaran sebagai manusia nomor wahid dikolong langit akan terjatuh ke tangan anak muda itu?

Mempertimbangkan kerugian yang bakal dicapai ini, rasa iri dan dengki segera timbul dalam benaknya, hawa nafsu membunuh pun ikut berkobar menyelimuti seluruh benaknya, dia segera ambil keputusan untuk lenyapkan musuh tangguh ini dari muka bumi.

Baru saja ingatan jahat itu melintas dalam benaknya, dan belum terpikirkan olehnya bagaimana cara untuk merebut kemenangan, tiba-tiba dari atas tanggul ditepi pantai berkumandang suara tertawa yang amat merdu bagaikan genta.

“Eeh…. tiamcu istana nerakaa, kalau punya nyali, hayo seberang kemari, mari kita bergebrak sebanyak tiga ratus jurus!”

Tiamcu istana neraka amat terkejut, ketika dia berpaling maka terlihatlah Pek Kun-gie sedang berdiri diatas tanggul sambil menuding ke arahnya dan mencaci maki, mukanya berseri seri dan penuh rasa bangga, sementara bayangan tubuh dari Seng tongcu lenyap tak berbekas, entah kenama kaburnya kakek tua itu.

Sambil bertolak pinggang dengan tangan kirinya, dan menuding ke arah perahu dengan pedang lemasnya, Pek Kun- gie tertawa mengikik.

“Hiiih…. hiiih…. hiiih…. Kiu-im Kaucu! ejeknya, “anak buahmu itu terlalu tak becus, cuma sekali ayun pedang batok kepala nya sudah terpenggal lepas dari kepalanya, haaah…. haaah…. haaahh maaf, maaf, terpaksa aku musti bikin hati kaucu menjadi susah!”

Sementara itu Hoa Thian-hong telah menyerang musuhnya dengan jurus Kiu thian cu lay (sembilan langit penuh seruling), serangan itu dilancarkan begitu cepat ibaratnya anak panah yang terlepas dari busurnya kemudian ia membentak keras, “Kun Gie, hayo cepat pergi dari situ, jangan bikin kacau lagi ditempat ini!”

“Baik!” jawab Pek Kun-gie dari atas daratan, aku segera kembali ke kota Lok yang dan mencari pedang emas itu lebih dulu!”

Habis berkata ia segera putar badan dan berlalu dari sana. Tiamcu istana neraka mengecutkan dahinya rapat-rapat,

kepada Kiu-im Kaucu yang sedang terlibat dalam pertarungan sengit, serunya dengan suara lantang, “Ilmu silat yang dimiliki Seng tongcu sangat lihay, dengan kepandaian yang dimiliki budak itu tak mungkin dia bisa dibikin keok, sudah pasti pihak musuh mendapat bala bantuan yang tersembunti dibelakang tanggul….!”

Baru saja lari beberapa langkah, tiba-tiba Pek Kun-gie berhenti dan berpaling kembali, ia berseru dengan nyaring, “Eehh Kiu-im Kaucu, cepatlah kirim beberapa orang anak buahmu yang berilmu tinggi untuk mengejar aku, kalau sudah terlambat menyesal tak ada gunanya!”

Tiamcu istana neraka naik darah, dengan dahi berkerut segera serunya, “Hamba mohon perintah uutuk naik kedarat guna membekuk budak itu, harap kaucu akan mengabulkan!”

“Baik!” sahut Kiu-im Kaucu dengan suara dalam, “Kerahkan segenap kekuatan yang tergabung dalam istana neraka untuk naik ke darat, bekuk Pek Kun-gie sampai dapat”

Tiamcu istana neraka mengiakan, sambil ulapkara tangannya ia segera terjun kedalam air, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Secara beruntun sembilan belas orang anak buah istana neraka ikut terjun pula kedalam sungai, dengan cepat mereka berenang menuju ke arah daratan….

Melihat itu, Hoa Thian-hong segera berpikir, “Kedudukan tiamcu istana neraka dalam Kiu-im-kauw sangat tinggi, posisinya hanya setingkat dibawah kaucu seorang, bisa dibayangkan kalau ilmu silat yang dimilikinya pasti amat lihay, waah…. kalau Kun Gie tidak cepat pergi, dia pasti akan kena dibekuk!”

Berpikir sampai disitu, ia lantas membentak nyaring, “Kun Gie, cepat kabur!”

“Mau kabur kemana?” ejek Kiu-im Kaucu sinis.

Tongkat kepala setannya tiba-tiba melayang kedepan melancarkan sebuah serangan kilat. Serangan tersebut berkekuatan sangat besar, lihaynya luar biasa.

Diam-diam Hoa Thian-hong terkesiap, cepat dia mundur selangkah kebelakang, pedang bajanya meluncur ke bawah dan tiba-tiba menekan diatas toya lawan, sambil menempel diatas toya itu cepat ia babat jari tangan lawan.

“Ilmu pedang bagus!” puji Kiu-im Kaucu

Cepat tangan kirinya ditarik kembali, tangan kanannya menekan ke arah bawah dan memakai jurus Tay san ya teng (menindik kepala dengan butit Tay san, dia sergap musuhnya.

Ilmu silat yang dimiliki dua orang itu sama-sama lihay dan sudah mencapai taraf yang luar biasa, walaupun serangan dan jurus yang dipakai amat sederhana, tiada sesuatu yang aneh, tetapi dalam kenyataan tersimpan daya penghancur yang luar biasa.

Begitulah serangan mereka semuanya memakai taktik gerak pendek tapi cepat dan jurus serangan dibuat sesederhana mungkin, dalam keadaan demikian bukan saja seseorang harus mempunyai tenaga dalam yang sempurna, daya pencipta yang cemerlang, dia pun musti pandai memberikan reaksinya atas ancaman yang tiba, sedikit salah bertindak niscaya akan berakibat fatal.

Ketika Hoa Thian-hong menghadapi serangan toya yang membabat datang dengan kecepatan luar biasa itu, ia tahu kecuali menangkis dengan pedangnya tiada jalan lain yang bisa dipakai.

Namun pemuda itupun menyadari betapa gawatnya situasi diseputarnya, dia tak ingin adu tenaga dengan musuh, sebab sekali adu kekuatan maka akibatnya pasti fatal. Kalau toh jumlah kekuatan kedua belah pihak seimbang, cara ini pasti akan dilayani olehnya, namun sekarang dia hanya seorang diri sedangkan musuh berjumlah amat banyak, sekali terjerumus niscaya dia bakal mati konyol ditangan lawan.