Tiga Maha Besar Jilid 20

 
Jilid 20

Kiu-im Kaucu yang duduk dikursi kebesarannya, tiba-tiba menyambung dengan nada mengejek.

“Huuh! Memangnya engkau mampu untuk selamatkan jiwanya?”

Hoa Thian-hong tertawa dingin.

“Menang kalah sampai sekarang toh belum ketahuan, buat apa engkau musti bergembira lebih dulu?”

Dalam pada itu, keenam buah perahu besar dari perkumpulan Kiu-im-kauw telah mengepung rapat perahu yang ditumpangi Hoa Thian-hong, keenam perahu tersebut dihubungkan satu sama lainnya dengan rantai baja yang sangat kuat, hingga dengan begitu terciptalah suatu gelang rantai yang mengitari sekeliling sungai.

Sementara perahu penyeberang yang ditumpangi Hoa Thian-hong hanya berada dua kaki dari perahu pengepung, dalam sekali lompatan sebenarnya kedua belah pihak sanggup untuk meloncat keperahu lawan.

Akan tetapi, berhubung arus air sungai amat deras maka susahlah bila ada orang ingin menyeberang keatas perahu lawan, sebab dalam kenyataan perahu itu masih tetap bergerak mengikuti gerak arus air yang sangat deras itu.

Tercekat hati Pia Leng-cu setelah mengawasi sebentar keadaan disekelilingnya, kepungan musuh terlalu tangguh, dalam keadaan begini tidak sukar baginya kalau ingin selamatkan jiwa sendiri, tapi untuk kabur sambil membawa sandera jelas hal itu hanya suatu impian belaka.

Kembali dia berpikir, “Bila situasi berubah lagi, sudah tentu Hoa Thian-hong akan berubah pikiran pula, apa salahnya kalau kugukan kesempatan itu untuk saling bertukar barang dengan dia mumpung pikirannya belum berubah dan dia belum punya ingatan untuk ingkar janji”

Begitu ambil keputusan dihati, ia segera membentak keras, “Hey bocah keparat, kulabulkan permintaanmu itu, nah! sambutlah dara ini….”

Sekali ayun, dia melempar tubuh Pek Kun-gie ke arah perahu.

Hoa Thian-hong kuatir kalau Kiu-im-kauw lakukan pengacauan ditengah jalan, buru-buru dia maju kedepan dan menyambut tubuh Pek Kun-gie.

Apa yang ia duga ternyata meleset, Kiu-im Kaucu tetap duduk tak berkutik dari tempat duduknya, justru dia memang berharap pertukaran manusia dengan pedang bisa berjalan dengan lancar. Apabila pedang baja itu sudah terjatuh ketangan Pia Leng-cu, itu berarti baik pedang baja maupun pedang emas berada ditangan imam tua dari perkumpulan Thong-thian-kauw ini, asal dia melakukan penyergapan dan penangkapan dengan sepenuh tenaga dia yakin usahanya itu pasti akan berhasil.

Dipihak lain, setelah menerima tubuh Pek Kun-gie, pemuda itu segera menegur lirih, “Gie, engkau terluka?”

Betapa gembiranya Pek Kun-gie setelah berada disamping kekasihnya, ia menggeleng. “Tidak, aku tidak terluka, cuma tangan dan kakiku diikat dengan otot kerbau, pakaianku juga…. juga sudah rusak!”

Hoa Thian-hong mengerutkan dahinya, ia memandang dara itu sekejap, pakaian yang dikenakan adalah sebuah jubah warna hijau yang kedodoran, sekalipun begitu tidak menutupi kecantikan wajahnya.

Cepat ia meraba otot kerbau yang membelenggu tangan kirinya, sekali pencet dengan kelima jari tangennya, otot kerbau yang kuat dan ulet itu seketika terputus jadi beberapa bagian.

“Masuklah kedalam kereta” bisik pemuda itu kemudian, “disitu sudah tersedia pakaian, engkau harus ganti pakaian dengan cepat!”

“Tangan dan kakiku masih kaku, aku tak dapat jalan sendiri! bisik Pek Kun-gie pula dengan aleman”

Terpaksa Hoa Thian-hong merangkul pinggang dara itu menuju ke arah kereta, kemudian menyingkap horden dan membantu pula gadis itu naik kedalam kereta.

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu alihkan sorot matanya ke arah kereta kuda itu, kemudian sambil tertawa nyaring berseru.

“Hmmm Hebat sekali siasatmu untuk mengelabuhi musuh, sampai-sampai akupun kena kau tipu!”

Perasaan hati Hoa Thian-hong agak bergerak.

“Terima kasih atas perhatian dari kaucu, tentunya engkau sudah memberi muka kepadaku” katanya.

“Oooh…. tentu saja!” Hoa Thian-hong tertawa dingin.

“Heeeh…. heeeeh…. heeeh…. perlu engkau ketahui, siasat ini kunamakan mengelabubi langit menyeberangi samudra, sekarang ibuku su dah tiba diutara sungai, apakah kaucu sudah mengetahui akan hal ini?”

Mula-mula Kiu-im Kaucu agak tertegun, menyusul mana sambil tertawa sahutnya, “Perkampungan Liok Soat Sanceng merupakan suatu perkampungan besar dalam dunia persilatan, cepat atau lambat aku bakal ber kunjung keutara, suatu ketika pasti akan kukunjungi pula perkampungan itu. Cuma…. Hmm! Saat ini Hoa ya sedang berada dipung gung harimau, aku rasa lebih baik sementara waktu berjaga disini saja, apa gunanya mengejar kesitu?”

Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Hoa Thian-hong merasa kegirangan, pikirnya, “Kalau kudengar dari jawabannya, jelas rencana matang yang kami susun tidak sampai diketahui olehnya….”

Setelah meninggalkan Giok Teng Hujin, Hoa Thian-hong sama sekali tidak pergi mencari Ko thay, diapun tidak mencari jejak Pek Kun-gie, melainkan kembali kerumah penginapannya.

Disana ia memperoleh laporan yang sangat terperinci dari Ko thay yang mengatakan, bukan saja Kiu-im Kaucu telah membawa anak buahnya menjaga sungai Huan ho, bahkan orang-orang dari Mo-kauw aliran Seng sut pay juga menyiapkan orangnya di tepi seberang untuk melakukan penyergapan.

Maka dipersembabkanlah sebuah siasat bagus untuk melepaskan diri diri incaran musuh. Dalam siasat tersebut dianjurkan kepada Hoa Thian-hong untuk pura-pura membawa keluarganya menyeberangi sungai, tindakannya itu pasti akan memancing perhatian semua

lawan-lawannya, sementara Chin Wan-hong serta Tio Sam- koh bertugas mengawal Hoa Hujin kabur lewat pintu selatan, bukan menyeberangi sungai Hoan ho melainkan hanya berdiam untuk sementara waktu diluar kota Lok yang.

Dengan begitu perhatian dari Hoa Thian-hong pun dapat tertuju pada satu persoalan, ia bisa menggunakan kesempatan yang ada untuk bertarung dengan sepenuh tenaga melawan musuh-musuhnya, sekalian menyelesaikan pula pertikaiannya mengenai masalah kitab pusaka Kiam keng.

Selesai membaca isi surat itu, para jago merasa kagum bercampur terima kasih terhadap enghiong yang muncul diantara kalangan muda itu, maka untuk menghindari terpancingnya pihak musuh sampai dirumah hanya lantaran kitab Kiam keng, disamping itu demi selamatkan pula jiwa Pek Kun-gie dari ancaman, diputuskanlah untuk melakukan semua siasat seperti apa yang telah di atur.

Begitulah, ketika kentongan ketiga sudah tiba, Hoa Thian- hong terlebih dulu meninggalkan rumah penginapan, tak lama kemudian Hoa Hujin dibawah lindungan Chin Wan-hong serta Tio Sam-koh, dengan membawa serta Siau Ngo-ji segera ngeloyor keluar dari rumah penginapan dan diam-diam kabur menuju kepintu kota sebelah selatan.

Walaupun semua persoalan telah diatur secara rapi dan sempurna, tak urung perasaan Hoa Thian-hong masih belum tenang, dia kuatir kalau sampai terjadi sesuatu hal diluar dugaan. Menanti Kiu-im Kaucu telah memberikan tanggapannya dan pemuda itu yakin kalau siasatnya tak sampai bocor, perasaan hatinya baru lega sama sekali.

ooooOoooo 71

SEMENTARA itu api obor telah menerangi seluruh jagad, membuat suasana disekitar sungai jadi terang benderang bagaikan disiang hari.

Tatkala dilihatnya paras muka Hoa Thian-hong menunjukkan rasa gembira, satu ingatan segera melintas dalam benak Kio im kaucu, ia putar otak berusaha untuk memecahkan teka teki itu, diapun bermaksud memancing dari pembicaraan lawan, namun untuk sesaat ia tak berhasil menemukan kata-kata yang dianggapnya cocok.

Tiba tiba terdengar Pia Leng-cu membentak dengan gusar, “Hey manusia she Hoa perkataan seorang lelaki sejati berat laksana bukit, engkau punya muka atau tidak?”

Hoa Thian-hong tertawa, ia cabut pedang baja dari pinggangnya lalu menjawab.

“Rupanya sekalipun engkau harus adu jiwa, incaranmu atas pedang baja tak akan berubah….?”

Pia Leng-cu makin naik darah, teriaknya, “Pek Siau-thian angkuh dan tak pandang sebelah mata kepada orang lain, apa sangkut pautnya antara engkau dengan dia? Kenapa musti kau campuri urusan pribadiku? toh putrinya yang kubekuk, Hmm! Engkau sendiri yang setuju kalau pedang ditukar orang, memangnya aku paksa kan pakai kekerasan?” Dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan itu, kegagahan dan kejantanannya lenyap tak berbekas, sekalipun ucapannya masih keras dan ngotot akan tetapi wajahnya tak urung ikut berubah jadi merah padam.

Berbicara menurut peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan, pertikaian antara Pek Siau-thian dengan Pia Leng- cu sebagai sama-sama umat persilatan dari golongan hitam, Hoa Thian-hong tak berhak untuk ikat ambil bagian, kalau tidak maka dia akan dituduh orang sebagai pemuda yang ikut campur dalam urusan orang karena terpikat oleh pipi licin (perempuan)….

Dengan sorot mata tajam, Hoa Thian-hong memandang sekejap ke arah Kiu-im Kaucu yang duduk dikursi kebesarannya, setelah termenung sebentar ujarnya dengan muka serius, “Apa yang aku orang she Hoa katakan tak pernah diingkari kembali, setelah aku berjanji akan berikan kepadamu, benda itu sudah pasti akan kuserahkan kepadamu!”

“Kalau begitu cepat lempar kemari!” bentak Pia Leng-cu dengan gusar.

“Thian-hong, jangan berikan kepadanya!” tiba-tiba Pek Kun-gie berteriak keras.

Dengan suatu gerak yang cepat ibarat burung walet terbang diudara, ia melayang ke sisi pemuda itu.

Setelah pakaiannya tercabik-cabik oleh sobekan pisau belati Pia Leng-cu, kini dara tersebut telah menggantinya dengan seperangkat pakaian milik Hoa Thian-hong, tentu saja pakaian itu kedodoran baginya. Ujung baju yang terlalu panjang ia gulung keatas, pinggangnya diikat dengan seutas tali pinggang warna putih, dandanannya bukan pria bukan wanita sehingga kelihatan lucu sekali.

Walau begitu wajahnya yang cantik sama sekali tidak hilang karena itu, apalagi setelah berkumpul kembali dengan kekasih hatinya yang dirindukan siang malam, kegembiraan yang bergolak sukar dikendalikan hingga terlibat nyata diatas wajahnya.

Mukanya yang berseri-seri dan senyum yang manis itu membuat paras mukanya yang sudah cantik, kelihatan jauh lebih menawan hati.

Tak tahan Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arahnya lalu tertawa geli.

“Ayoh berdiri disitu saja!” serunya, urusan yang ada disini biar aku sendiri yang selesaikan”

Dengan gemas dan penuh kemarahan, Pek Kun-gie meruding ke arah Pia Leng-cu, lalu mencaci maki dengan gusarnya, “Huuh….! Hidung kerbau itu tak tahu malu, tua bangka belaka, manusia cabul yang bejad moralnya, dia paksa aku untuk mengunggap catatan kiam keng bu kui…. engkoh Hong! Jangan berikan kitab kiam keng tersebut kepada tua bangka sekarat itu, biar dia mampus penasaran….”

Betapa gusarnya Pia Leng-cu ketika mendengar makian itu, kontan sepasang matanya melotot besar, dia hendak balas memaki tapi ketika pandangan matanya terbentur dengan wajah dara itu, dia malah tertegun untuk sesaat tak sepatah katapun mampu diucapkan. Perlu diketahui, sewaktu Pia Leng-cu berada berduaan dengan Pek Kun-gie tadi, berhubung kesatu ruang loteng itu kecil lagi gelap, kedua Pek Kun-gie lagi uringan dan penuh menaruh perasaan benci dan dendam, maka yang tertampak oleh Pia Leng-cu ketika itu hanya potongan badannya belaka, kecantikan yang sesungguhnya dari dara itu sama sekali tidak kelihatan.

Lain halnya dengan keadaan waktu itu, meskipun ia sedang mencaci maki Pia Leng-cu, akan tetapi ucapan itu ditujukan kepada Hoa Thian-hong, dalam pandangan imam tua itu terlihatlah betapa cantik jelita dara itu sekalipun sedang memaki orang mukanya berseri manis, kerlingan natanya menawan hati ditambah pula suaranya lembut seperti genta membuat orang terkesima jadinya.

Dasar seorang imam cabul yang gemar main perempuan, Pia Leng-cu kontan merasakan jantungnya berdebar keras, ia benar-benar terpersona, apalagi terbayang kembali lekukan- lekukan tubuhnya yang putih, halus dan padat berisi itu, tanpa sadar jantungnya berdebar keras, hampir saja ia lupa sedang berada disana.

Hoa Thian-hong sendiri ketika mendengar perkataan dari Pek Kun-gie, sikapnya tetap halus dan sekulum senyum tersungging diujung bibirnya, tapi begitu menjumpai keadaan Pia Leng-cu yang kesemsem dengan mimik wajah yang menakutkan, timbul kembali hawa amarah dalam hatinya.

Ia segera ulapkan tangannya dan berseru.

“Aku toh hanya akan memberikan pedang baja itu, belum pernah kukatakan kalau kitab Kiam keng itu akan kuserahkan kepadanya, menyingkirlah kesamping, aku akan bereskan sendiri persoalan ini!” Pek Kun-gie makin gelisah, kembali dia berseru, “Semua orang bilang kitab kiam keng itu ada didalam pedang bajimu, jangan kau berikan kepadanya!”

“Aku hanya menyetujui untuk serahkan pedang ini kepadanya, namun tak pernah kusanggupi untuk dibawa pergi olehnya, minggirlan kesitu, tak usah kuatir!”

Sungguh gelisah dan panik pikiran Pek Kun-gie, tapi ia tak berani membangkang perintah si anak muda itu, terpaksa dengan hati berat dara itu menyingkir kesimping, diam-diam pedang lemasnya dicabit keluar siap menghadapi sejala kemungkinan yang tidak diizinkan

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong telah menengadah dan memandang sekejap ke arah Pia Leng-cu dengan pandangan dingin, sambil angsurkan pedang baja itu kemuka, hardiknya, “Nih, ambillah!”

Pia Leng-cu agak tertegun, kemudian serunya dengan marah, “Lempar kemari!”

“Hey bangsat cabul, dengarkan baik-baik kata kami ini” teriak Pek Kun-gie dari samping,” kami hanya setuju untuk berikan pedang itu kepadamu, tapi tak pernah menyanggupi dirimu untuk membawa pergi pedang tersebut dari tempat ini, kalau tak takut mampus ambilah!”

Kiu-im Kaucu yang licik dan ingin menjadi nelayan yang untung segera menanggapi dari samping sambil tertawa tergelak.

“Haahh…. haahhh…. haahhh…. Pia Leng-cu ayoh maju dan terima pedang itu! Hoa kongcu adalah seorang pria sejati, tak mungkin dia akan menipu engkau…. hayo maju! Apalagi yang kau takuti….” Dengan kecurigaan hatinya yang sangat tebal, Pia Leng-cu tak ingin maju kemuka sambil menempuh bahaya, akan terapi setelah dipandang oleh belasan pasang mata dengan sorot mata mengejek, hawa amarahnya berkobar juga didalam hati sambil menggigit bibir dia segera melangkah maju kedepan dengan tindakan lebar.

Pek Kun-gie benar-benar kuatir kalau Hoa Thian-hong sungguh menyerahkan pedang baja itu kepada orang, kembali ia berteriak deng an suara keras, “Thian-hong, tak tak usah berbicara soal kepercayaan dengan orang jahat macam dia!”

Sementara itu Pia Leng-cu sudah maju ke muka, jaraknya dengan pedang baja itu tinggal empat lima depa, tatkala mendengar seruan tersebut ia segera menghentikan kembali langkahnya.

Hoa Thian-hong mendengus dingin, ia muak menyaksikan kepe-ngecutan imam tua itu, semakin ragu orang untuk maju ia semakin pandang hina musuhnya.

Melihat Pia Leng-cu kembali berhenti dengan sangsi, ia mengejek sinis serunya, “Api yang telah kukatakan tak pernah kuingkari lagi. Nah ambilah pedang tersebut!”

Sekali tangannya diayun…. Duuuk! Pedang baja sepanjang empat depa itu sudah menancap lurus tepat dihadapan Pia Leng-cu.

Tindakan dari Hoa Thian-hong ini sama sekali diluar dugaan semua orang, dengan pandangan kebingungan Pia Leng-cu, Kiu-im Kaucu maupun puluhan orang anak buahnya, melotot ke arah senjata itu tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun. Lama sekali Pia Leng-cu berdiri tertegun akhirnya ia melirik sekejap ke arah Kiu-im Kaucu.

Imam tua ini sadar, setelah pedang baja tersebut terjatuh ketangannya, pada hakekatnya bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk lolos dari kepungan, malahan mungkin jauh lebih sukar untuk mendekati ke langit.

Walau begitu tak mungkin baginya untuk melepaskan mustika yang berada didepan mata dengan begitu saja….

Akhirnya menggertak gigi ia robek pakaiannnya lalu membungkus pedang itu baik-baik dan menggantungnya diatas punggung.

Tak seorang manusiapun yang bergerak dari tempat kedudukan masing-masing, baik Hoa Thian-hong maupun Kiu- im Kaucu sama-sama mengikuti gerak-gerik sang imam tua tanpa banyak bicara.

Kebungkaman dan ketenangan sang pemuda itu menggelisahkan hati Pek Kun-gie, cepat ia menggoyang lengan si anak muda itu sambil mengomel, “Ayolah, rebut kemoali pedang baja itu, kenapa kau diam melulu?”

“Memangnya kau rela pedang itu diambil bajingan cabul itu?”

Hoa Thian-hong tertawa geli.

“Aah, kamu ini, memangnya gampang ya untuk merampas kembali pedang itu? ilmu silat yang dimiliki cinjin ini sangat lihay, akupun paling banter cuma menang setingkat darinya, apalagi sekarang tak ada senjata yang bisa kupakai lagi, susah rasanya untuk merobohkan dirinya!” “Kalau begitu…. kalau begitu…. tidak sepantasnya kau berikan pedang itu kepadanya” omel Pek Kun-gie sambil mendepak-depakkan kakinya keatas geladak.

Gadis itu betul-betul amat gelisah sehingga ia tak mampu berkata-kata lagi.

Bukannya ikut gelisah, sikap Hoa Thian tong malahan jauh lebih tenang, seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu urusanpun, katanya sambil tertawa, “Sebagai seorang manusia yang hidup di dunia, kita tak boleh mengingkari apa yang telah diucapkan, sekali perkataan sudah ke luar maka kita wajib melaksanakan sampai selesai, kenapa kau musti gelisah? memangnya dia mampu kabur dari sini sambil membawa pedang baja itu?”

Sementara ia masih berbicara, Pia Leng-cu telah selesai membenahi dirinya, pedang baja itu dia gantung dipunggung sementara pedang mustika Poan liong poo kiam dicekal dalam keadaan terhunus, asal ada orang hendak merampas senjata mustika itu maka ia akan terjun kedalam air dan kabur dari situ.

Tentu saja diapun sempat mendengarkan pembicaraan dari Hoa Thian-hong, dan iapun dapat meresapi makna dari ucapan itu, tapi ia tak sudi menyerah dengan begitu saja, prinsipnya selama hayat masih di kandung badan dia akan selalu berusaha sedapat mungkin, sebelum jalan betul-betul menjadi bantu, ia tak mau pasrah nasib dengan begitu saja.

Sekalipun ia sudah membenahi diri dan siap kabur, Hoa Thian-hong sama sekali tidak menggubris dirinya, Kiu-im Kaucu sendiripun tetap duduk tak berkutik ditempat semula, seakan-akan mereka sama sekali tak pandang sebelah matapun atas kejadian tersebut. Betapa malu dan marahnya Pia Leng-cu diperlakukan seperti itu, ia tuding Kiu-im Kaucu dengan pedang mustikanya, lalu membentak nyaring, “Pia Leng-cu ada disini, pedang baja maupun pedang emas kini berada ditangan cinjin mu, kalau engkau tidak kemari lagi, jangan salahkan kalau cinjin tak akan menemani lebih lama”

“Ooh…. silahkan…. silahkan…. kalau mau pergi, silahkan saja terjun kedalam air!” sahut Kiu-im Kaucu sambil tertawa santai.

Kemarahan yang menggelora dalam dada Pia Leng-cu sukar dilukiskan dengan kata-kata, pikirnya, “Nenek bajingan, kalau hari ini aku bisa lolos dari sini. Hmm! Tunggu sajalah pembalasan dari cousu-ya mu…. sialan.”

Berpikir sampai disitu dia lantas loncat keujung perahu dan siap terjun kedalam air.

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Hoa Thian-hong membentak keras.

Pia Leng-cu putar badan lalu berseru, “Bocah keparat, kalau tidak terima, hayo maju kemari, kuhajar kau sampai mampus!”

Pek Kun-gie naik pitam menyaksikan keangkuhan lawan, ia serahkan pedang lemas itu kepada Hoa Thian-hong, kemudian serunya dengan mendongkol.

“Bikin mampus siluman tua itu, cukil keluar sepasang biji mata bangsatnya!”

Hoa Thian-hong tertawa sambil menggeleng. “Percuma! Setibanya dalam air, pedang lemasmu itu tak lebih cuma barang rongsok yang tak ada gunanya, cepat disimpan saja.”

Kemudian sambil berpaling ke arah Pia Leng-cu, serunya, “Aku cuma ingin bertanya kepadamu, bagaimana kepandaianmu didalam air?”

“Perduli amat dengen cousu ya mu!” tukas Pia Leng-cu ketus, “kalau tidak puas silahkan maju dan kita adu kepandaian sampai salah seorang mampus!”

Hoa Thian-hong terawa, katanya, “Kalau aku sih tak mampu, tapi aku rasa kehebatan mu dalam air juga tidak sampai selihay lawan!”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya kembali, “Ikutilah anjuranku, baik-baik berdiri diatas perahu dan tak usah terjun keair, asal engkau masih berada diatas daratan maka cuma aku dan Kiu-im Kaucu berdua yang sanggup melangsungkan pertarungan melawan dirimu, tapi begitu engkau terjun kedalam air, hmm! Coba lihatlah, tujuh delapan puluh orang yang berada disini semuanya adalah musuh-musuh tangguhmu, engkau akan menjadi sate ikan dan nyawamu pasti akan kabur kembali ke akhirat!”

“Bagus…. bagus sekali! Hoa Thian-hong aku lihat makin lama engkau semakin lihay!” seru Kiu-im Kaucu sambil tergelak tertawa, walau sepasang alis matanya berkenyit.

“Penderitaan dan siksaan akan mendidik otak manusia untuk ber pikir keras, memangnya aku orang she Hoa masih kecil?”

Kiu-im Kaucu tertawa, ia tidak ber bicara lagi tapi alihkan sorot matanya ke arah Pia Leng-cu. Semula imam tua itu memakai kain cadar untuk menutupi wajahnya, berhubung dia takut kain cadar itu mengganggu pandangan matanya selama berada didalam air, maka kain cadar tersebut telah dilepas olehnya.

Ucapan Hoa Thian-hong ibaratnya guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, ia tergugah dari impian indahnya, apalagi setelah periksa keadaan disekitar sana, paras mukanya kontan berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sekarang disuruh terjun keair pun mungkin ia tak berani.

Pek Kun-gie sendiri adalah seorang pendekar wanita yang dididik langsung oleh Pek Siau-thian, sedikit banyak diapun pangcu muda dari suatu perkumpulan besar, tentu saja baik kecerdikan maupun jalan pikirannya jauh lebih tangguh dari orang lain.

Sayang ia terbelenggu oleh cinta sehingga watak serta kegagahannya mengalami banyak perubahan, sekalipun begitu bukan berarti dia berubah jadi bodoh.

Sehabis mendengar ucapan dari Hoa Thian-hong itu, cepat dia menyapu sekejap sekeliling gelanggang, apa yang kemudian dilihat membuat hatinya jadi amat terperanjat.

Kiranya anak buah perkumpulan Kiu-im-kauw yang berkumpul disekitar gelanggang mencapai tujuh puluh orang lebih, bukan saja mereka mengenakan pakaian berenang yang tahan air, senjata tajam yang mereka gunakan adalah senjata bangsa tri sula, garpu panjang serta pisau bercabang dua, bahkan ada sebagian diantaranya mempergunakan senjata kaitan pedang dan sebangsanya.

Dari sini dapatlah diketahui kedudukan masing-masing orang, yang bersenjata trisula atau sebangganya jelas merupakan jago-jago lihay di dalam air, sedang senjata pedang atau sebangsanya adalab jago-jago diatas daratan.

Organisasi yang diatur dengan begitu rapihnya ini menunjukkan pula betapa cakapnya Kiu-im Kaucu mengatur anak buahnya.

Belum habis rasa kaget dan curiga terlintas dalam benak imam tua itu, tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa tergelak sambil berkata, “Pia Leng-cu, kalau engkau bersedia masuk kedalam perkumpulan Kiu-im-kauwca, aku bersedia pula memberi kedudukan yang tinggi kepadamu….”

“Heehhh…. heehhh…. heeh…. omong kosong!” tukas Pia Leng-cu dengan cepat.

Kiu-im Kaucu tidak menjawab lagi, dengan seenaknya dia ulapkan tangan dan berseru, “Lubangi perahu mereka!”

Berbareng dengan selesainya ucapan itu, seseorang loncat masuk kedalam air dengan gerak cepat, begitu gesit dan lincah gerakan tubuh orang itu, jelas dia adalah seorang jagoan kelas satu.

Pek Kun-gie menggenggam tangan Hoa Thian-hong erat- erat, kemudian bisiknya dengan cemas, “Mereka akan melobangi perahu kita, ayoh kita terjun saja kedalam air….”

Dalam pada itu dari dasar perahu sudah kedengaran suara ayunan kampak yang menggoncangkan seluruh perahu tersebut.

“Bagaimana dengan kepandaianmu didalam air?” tanya Hoa Thian-hong sambil tersenyum. “Biasa-biasa saja” jawab sang gadis tertegun aai…. akulah yang sudah mencelakai dirimu, tiba-tiba matanya jadi merah dan air mata jatuh berlinang.

“Eeh, kita toh belum tentu mati, kenapa kau musti menangis?” hibur sang anak muda sambil tertawa.

Dia lantas berpaling ke arah Kiu-im Kaucu dan berkata, “Kaucu, sebelum pertemuan Kian ciau tay hwe diselenggarakan, apakah perkumpulan selalu beroperasi diatas samudra?”

Kiu-im Kaucu tersenyum kemudian menghela napas panjang.

“Aaai….! Dua puluh sembilan tahun berselang perkumpulan Kiu-im-kauw terdesak dan tak dapat berdiri lagi dalam dunia persilatan, terpaksa kami mundur ketengah samudra dan hidup selama tujuh belas tahun diantara daratan den lautan, sekaranglah kami baru dapat hidup kembali diatas daratan!”

“Mungkin selama ini kalian hidup di selatan, makanya jarang sekali orang persilatan yang ada didaratan Tionggoan mengetahui akan kejadian tersebut!”

Kembali Kiu-im Kaucu mengangguk sambil tersenyum. “Memang begitulah kenyataannya!”

Suatu benturan keras memotong pembicaraan yang berlangsung, ternyata dasar perahu itu sudah berhasil dilubangi sehingga air sungai segera mengalir masuk sedalam perahu.

Kecuali Hoa Thian-hong, Pek Kun-gie dan Pia Leng-cu, diatas perahu itu masih terdapat sebuah kereta besar serta dua ekor kuda penghela, karena air sungai mengerangi perahu itu, tentu saja kedua ekor kuda yang berada diatas geladak jadi meringkik ketakutan, binatang itu berloncatan kesana kemari dengan panik, membuat perahu iiu semakin oleng jadinya.

Dengan perasaan menyesal Hoa Thian-hong memandang sekejap ke arah kuda-kuda itu, kemnudidn pikirnya, “Arus sungai sangat deras, tak mungkin kuda-kuda itu sanggup berenang ketepian, lebih baik kulepaskan saja tali pengikatnya sehingga mereka bisa berloncatan dengan lebih leluasa.

Karena berpikir demikian, diapun loncat kedepan dan melepaskan tali pengikat kuda itu.

Pia Leng-cu teramat benci terhadap diri Kiu-im Kaucu, dengan seram ia tertawa panjang kemudian serunya, “Hey, Kiu-im Kaucu! Katanya perkumpulan Kiu-im-kauw mengembara selama tujuh belas tahun diatas samudra, lalu dua belas tahun kemudian kalian bersembunyi dimana?”

Paras muka Kiu-im Kaucu berubah jadi dingin menyeramkan, dia cuma melotot dan sama sekali tidak menjawab.

Keadaan dari Pek Kun-gie saat itu ibaratnya burung kecil yang jinak, kemanapun Hoa Thian-hong pergi dia mengikuti terus disampingnya, sekalipun mereka ada dalam keadaan bahaya, rejeki ataupun bencana sukar diramalkan, namun matanya tetap berseri-seri, sekulum senyum manis menghiasi bibirnya.

Sambil menarik ujung baju sang anak muda, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa, “Kiu-im Kaucu tak berani mengakui letak sarangnya, engkau tahu kenapa dia tak berani menjawab?” Memanya kenapa?! tanya Hoa Thian-hong keheranan. “Dia kuatir kalau engkau menyerbu ke dalam sarangnya!” Hoa Thian-hong tertawa tergelak karena geli.

“Haahh…. hahh…. haaah…. kamu ini kok ada-ada saja, ngaco belo!”

Sementara itu Kiu-im Kaucu telah berseru pula sambil tertawa, “Pek Kun-gie, kalau engkau bersedia menjadi muridku, semua ilmu kepandaian yang kumiliki akan kuwariskan kepadamu, tapi kalau engkau menampik terpaksa akan kusuruh englau mati didasar sungai dan menjadi santapan gorombolan ikan”

“Hmmm! Kalau memang jantan ayoh kita berduel diatas daratan” tantang Pek Kun-gie sambil cibirkan bibirnya,” kalau engkau bisa kalahkan kami berdua, aku pasti akan angkat engkau sebagai guruku!”

Tiba-tiba terdengar ledakan keras menggema dari dasar perahu, sebuah lubang besar kembali muncul didasar perahu penyeberang itu, air sungai mengalir masuk makin deras, kuda-kuda itu meronta makin kuat, kereta besar itu telah roboh terbalik, tampaknya sebentar lagi perahu itu bakal tenggelam ke dasar sungai.

Pia Leng-cu berdiri di ujung perahu, sementara Hoa Thian- hong sambil memegang pergelangan tangan Pek Kun-gie berdiri di sisi perahu, mereka sama sekali tidak bergerak sementara sorot matanya mengawasi gerak-gerik disekitarnya untuk mengikuti situasi.

Tiba-tiba Pek Kun-gie membentak nyaring. “Hey hidung kerbau! Kembalikan pedang baja itu, kalau tidak engkau akan mampus tenggelam didasar sungai”

Pia Leng-cu menggerakkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi tak sepatah katapun yang mampu diutarakan keluar, dalam situasi yang sangat gawat ini dia tak berani pecahkan perhatian, semua kosentrasi ditunjukan kesatu arah.

Kembali Pek Kun-gie berteriak dengan suara lantang, “Kembalikan pedang baja itu kepada kami, akan kami tahankan Kiu-im Kaucu bagimu asal engkau dapat menyingkirkan musuh-musuh yang lain, maka siahkan terjun ke air dan kabur, tanggung harapanmu untuk hidup tetap ada.”

Mendengar perkataan itu, Kiu-im Kaucu tertawa terbahak- bahak.

“Haaah…. haaah…. haaah…. budak cilik, sungguh bagus akal dan idemu itu!”

Tiba-tiba perahu yang mereka tumpangi bergetar keras, menyusul perahu itu tenggelam dua depa kedalam air, begitu air sudah menggenangi seluruh ruangan perahu, dengan sendirinya perahu itupun tenggelam kedasar sungai makin cepat.

Tiba-tiba Pia Leng-cu enjotkan badan dan meyayang ke arah perahu musuh yang ada disebelah timur.

Bentakan-bentakan keras menggelegar di angkasa, para jago yang ada diatas perahu sama-sama ayun senjata mereka menyongsong kedatangan tubuh imam tua itu, maksud mereka hendak paksa sang imam tercebur kedalam air sungai. Diantara kawanan jago yang hadir dalam gelanggang waktu itu hanya Kiu-im Kaucu dan Hoa Thian-hong yang paling disegani Pia Leng-cu, sementara sisanya yang lain sama sekali tak dipandang barang sekejappun olehnya.

Begitu mencapai permukaan perahu dia langsung ayun pedangnya membantai kawanan jago itu, ia telah mengambil keputussn untuk berusaha membasmi anak buah Kiu-im Kaucu sebanyak mungkin, sehingga daya tekanan yang muncul dari kawanan jago itu bila dia sampai tercebur kedalam air tidak sampai terlalu besar.

Pedang pusaka boan liong poo kiam diputar sedemikian rupa hingga menciptakan selapis bianglala hijau ditengah udara, kemudian secepat kilat mengurung batok kepala musuh-musuhnya.

Perahu yang ditumpangi Kiu-im Kaucu berada disebelah barat, sedang perahu yang ada disebelah timur hanya ditumpangi oleh kawanan jago yang berkedudukan paling rendah serta berilmu silat paling rendah.

Sudah tentu jago-jago itu bukan tandingan Pia Leng-cu yang lihay, bilamana serangan yang dilancarkan lewat udara itu tidak ce pat dihindari, niscaya kawanan jago dari perkumpulan Kiu-im-kauw itu bakal mampus diujung senjata.

Kiu-im Kaucu yang berada agak jauh dari sasaran tak mungkin bisa memberikan pertolongannya, terpaksa ia berseru keras, “Buyar!”

Perintah inilah yang sedang ditunggu-tunggu kawanan jago tersebut, secepat kilat mereka menghindar kesamping dan bubar keempat penjjru. Dengan kecepatan bagaikan kilat Pia Leng-cu meluncur keatas perahu, sekali sentak ia sudah berdiri diatas kemudi perahu itu, pedangnya dilintangkan didepan dada dan berdiri angkuh tanpa ber cakap-cakap.

Kakinya yang pincang belum sembuh seratus persen, walaupun begitu sama sekali tidak mempengaruhi kelincahan tubuhnya, semua gerak-gerik dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Kendatipun begitu anakbuah perkumpulan Kiu-im-kauw bukan gerombolan kurcaci yang tak becus, mereka masing- masing mempunyai guru yang pandai ditambah ilmu gerakan tubuh Luan ngo heng mi sian tun yang lihay dari perkumpulan, wajib yang mereka pelajari, sekali meloncat mereka semua sudah kabur jauh dari lawannya.

Menyaksikan kehebatan lawannya, diam-diam Pia Leng-cu merasa kaget bercampur tercengang.

Hoa Thian-hong masih tetap bertindak tenang, ia baru menarik tangan Pek Kun-gie untuk loncat ke arah perahu sebelah timur yang diduduki Pia Leng-cu setelah perahu sendiri seluruhnya tenggelam dan musuh di perahu lawan tersapu bersih.

Sungguh enteng gerakan tubuh si anak muda itu, sekali enjot badan tahu-tahu dia sudah melayang turun disisi Pia Leng-cu, jaraknya cuma empat depa saja dari imam tua itu.

Pihak perkumpulan Kiu-im-kauw sama sekali tak memberi perlawanan atau mencegah gerakan si anak muda itu, mungkin hal ini di karenakan Kiu-im Kaucu sendiri sama sekali tak memberi perintah apapun. Pia Leng-cu merasa mendongkol sekali menyaksikan kejadian tersebut, dia berdiri diatas kemudi dengan uring- uringan, sebaliknya Pek Kun-gie merasa amat bangga sambil mengerling sekejap ke arah musuhnya dia mengejek dengan dingin, “Kalau pedang baja itu tidak kau kembalikan kepada kami, sekalipun kau terbang kelangit atau masuk kedalam tanah, kami tetap akan membuntuti dirimu serta berusaha untuk menghabisi nyawamu”

Dalam pada itu, perahu penyeberang yang ada ditengah kepungan telah tenggelam kedasar sungai, yang masih sisa tinggal enam buah perahu besar milik perkumpulan Kiu-im- kauw, mereka tetap melingkar jadi satu tanpa bergerak satu sama lain.

Sementara fajar telah menyingsing, obor telah dipadamkan namun anak buah dari Kiu-im Kaucu belum melakukan pergerakan apa-apa, rupanya mereka masih menunggu perintah selanjutnya dari ketua mereka.

Kiu-im Kaucu sendiri rupaya sudah menyadari, kalau penyelesaian dalam persoalan hari ini harus dilakukan olehnya sendiri, dia bangkit dari tempat duduknya dan bergerak menuju ke arah tiga perahu yang ada disebelah timur dengan menelusuri pinggiran perahu. 

Begitu ketuanya bangkit berdiri, delapan orang laki perempuan yang berada di belakangnya ikut bangkit dan mengikuti dibelakang ketuanya, jelas orang-orang itu mempunyai kedudukan yang agak tinggi dalam perkumpulan Kiu-im-kauw.

Pia Leng-cu putar otaknya memikirkan persoalan itu, ia merasa tak mungkin bisa menangkan kehebatan Kiu-im Kaucu walau pun bertarung diatas geladak perahu apalagi dipihak lawan masih terdapat begitu banyak jago lihay, jelas dia tak mungkin bisa menahannya.

Bila pedang baja itu tidak dikembalikan kepada Hoa Thian- hong, sudah tentu pemuda itu tak akan memberikan bantuannya, tapi kalau pedang itu buru-buru dikembalikan dengan begitu saja, ia merasa rugi besar.

Akhirnya setelah peras otak memikirkan persoalan itu, dia ambil keputusan untuk terjun saja kedalam air dan kabur lewat sungai.

Setelah ambil keputusan, ia segera enjotkan badannya, ibarat anak panah yang terl pas dari busurnya imam tua itu meluncur ketengah sungai dan menyelam kedalam air.

Menyaksikan perbuatan musuhnya, Kiu-im Kaucu segera mengetuk toyanya keatas lantai geladak.

“Bekuk orang itu!” bentaknya.

Dalam waktu singkat kawanan jago yang ada diatas perahu sama-sama terjun kedalam air dan menyelam kedasar sungai, dari tujuh puluh jago yang siap sedia ada separuh di antaranya sudah turun tangan, diatas perahu tinggal dua puluh orang lebih.

Pek Kun-gie makin gelisah, sambil menggoyankan lengan Hoa Thian-hong serunya dengan cemas, “Bagaimana sekarang? Pedang baja itu tak boleh sampai lenyap, jangan biarkan senjata itu terjatuh ketangan musuh!”

Hoa Thian-hong tertawa getir. “Sekalipun tak boleh hilang, apa daya kita sekarang? Coba lihat, begitu banyak anak buah Kiu-im-kauw yang sudah terjun ke dalam sungai, jelas kita bukan tandingannya!”

Air dalam sungai Huang-ho kuning berlumpur, ditambah pula dengan derasnya arus membuat ombak menggulung dengan besar, ketajaman mata Hoa Thian-hong memang luar biasa, namun sekarang ia tak sanggup mengikuti jalannya pertarungan didasar sungai.

Ia hanya lihat baik Pia Leng-cu maupun anak buah dan Kiu- im-kauw tak ada yang muncul lagi keatas permukaan air untuk berganti nafas, dari kemampuan yang dimiliki orang-orang itu, jelas kepandaian berenang mereka hebat sekali.

Kiu-im Kaucu yang berada diatas geladak perahu diam- diam berpikir pula dihati, “Setelah kehilangan senjatanya, ilmu silat Hoa Thian-hong pasti banyak berkurang kehebatannya, inilah kesempatan yang paling baik bagiku untuk merobohkannya, tapi…. kalau toh dia tak punya pegangan yang kuat memangnya pedang itu mau diserahkan kepada orang lain dengan begitu saja? Aaaah…. tak mudah rasanya untuk membekuk bocah itu!”

Mengetahui kesulitan yang bakal dihadapi, Kiu-im Kaucu mengambil keputusan untuk pusatkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk membekuk Pia Leng-cu.

Dia ulapkan tangannya, melihat tanda yang diberikan sang ketua, dua puluh orang yang masih tersisa diatas perahu segera memecahkan diri jadi dua rombongan.

Yang separuh meloncat kesisi kiri perahu untuk memutuskan rantai besi, kemudian memutar kemudi perahu ke arah pantai sebelah kiri, sedangkan separuh yang lain dengan melindungi ketuanya dengan menunggang perahu besar yang ada disebelah kanan berputar ke arah kanan.

Dengan begitu maka perahu yang ditumpangi Hoa Thian- hong serta Pek Kun-gie beserta sisa empat buah perahu yang lain tertinggal disana.

Menyaksikan kejadian itu, Hoa Thian-hong segera membentak keras, “Cepat putuskan rantai-rantai besi itu!”

Sambil berseru dia loncat kedepan dan memegang kemudi perahu.

Cepat Pek Kun-gie cabut keluar pedang lemasnya dan meloncat keujung perahu, sekali tebas dia kutungi rantai besi disana, lalu loncat pula kebelakang perahu dan mematahkan pula rantai yang mengi kat buritan perahu.

Dengan sorot mata yang tajam Hoa Thian-hong menyapu permukaan sungai, waktu itu ada sebagai anak buah perkumpulan Kiu-im Kaucu yang munculkan diri diatas permukaan air untuk tukar napas, ditinjau dari posisi mereka, semuanya berada kurang lebih delapan sembilan kaki disebelah kanan.

Maka dia segera putar kemudi perahu dan menggerakan perahu rampasan itu menuju ketempat kejadian.

Tiba-tiba Pia Leng-cu munculkan diri diatas permukaan air, setelah menghirup napas panjang ia menyelam kembali kedalam air, bersamaan itu pula tujuh delapan orang anak buah perkumpulan Kiu-im Kaucu muncul disekeliling tempat kejadian.

Melihat kesemuanya itu paras muka Pek Kun-gie berubah hebat. “Oooh…. sungguh lihay” serunya, “kalau keadaannya begini terus, jelas tak ada harapan bagi Pia Leng-cu untuk kabur dari tempat ini!”

“Engkau bisa pegang kemudi?! tiba-tiba Hoa Thian-hong bertanya dengan muka murung.

Pek Kun-gie mengangguk, ia segera pegang kemudi perahu.

“Jangan terlalu mendekati mereka” perintah Hoa Thian- hong, “hati-hati kalau pihak Kiu-im-kauw melubangi dasar perahu kita lagi!”

Bicara sampai disitu ia lantas menyingkap bajunya dan cabut keluar sebuah senjata trisula yang tajam dan loncat ketepi perahu.

“Thian-hong jangan terjun kedalam air!” pekik Pek Kun-gie sangat kuatir.

“Aku tahu!” jawab Hoa Thian-hong sambil mengangguk.

Sementara itu perahu yang ditumpangi Kiu-im Kaucu sudah bergerak menuju kepantai sebelah kanan, sedangkan perahu yung ditumpangi Hoa Thian-hong masih ada ditengah sungai, pertarungan yang berlangsung dalam air terjadi ditengah sungai antara kedua buah perahu itu.

Sisa perahu yang ada disebelah kiri berjaga-jaga pada jarak kurang lebih delapan kaki dari gelanggang pertarungan, berada dalam keadaan seperti ini sulitlah bagi Pia Leng-cu kalau dia ingin kabur keatas daratan…. Untuk bertarung dalam air, maka pertama itu harus tinggi dalam teknik berenang kedua dia harus punya ketajaman mata yang luar biasa, dan ketiga harus tahan lama berada dalam air.

Uatung Pia Leng-cu mempunyai kepandaian berenang yang lihay, kalau tidak ia tak akan berani mengejar Hoa Thian-hong ketengah sungai menumpang sampan kecil.

Sekalipun dia lihay, jago-jago dari perkumpulan Kiu-im- kauw banyak sekali jumlahnya, rata-rata merekapun berilmu tinggi dalam soal berenang, dalam waktu singkat ia sudah dibikin pusing tujuh keliling oleh kedahsyatan musuhnya.

Ketika ia terjun keair untuk kabur ke arah daratan tadi seorang kakek tua berambut putih segera mengejar dibelakangnya, meski pun ditengah gulungan ombak dan aliran arus yang deras namun dalam jarak tiga kaki, orang itu masih sempat melihat jelas bayangan tubuh dari Pia Leng-cu.

Belum sampai dua panahan jauhnya, imam tua itu sudah kena dihadang olehnya, baru bertarung lima gebrakan orang- orang dari Kiu-im-kauw sudah mengepung disekitar sana, dalam keadaan begitu sulitlah bagi Pia Leng-cu untuk kabur dengan leluasa.

Dibawah pimpinan Kiu-im Kaucu semuanya terbagi jadi dua istana dan tiga ruangan.

Dua istana terdiri dari istana neraka atau Yu beng tian serta istana siksaan.

Tiam cu yang memimpin ruang neraka adalah seorang perempuan, sedang tiam cu yang memimpin ruang siksa adalah seorang lelaki berusia lima puluh tahunan. Sedangkan ketiga ruangan itu terdiri dari ruangan Ing kian tong, cuan to tong, serta Su li tong.

Ketiga orang tongcu dan kedua orang tiam cu itu merupakan lima orang panglima perang dari Kiu-im-kauwccu, mula pertama Giok Teng Hujin sendiripun merupakani anggota ruang Yu beng tiam, cuma ilmu silatnya masih tak dapat dibandingkan dengan kehebatan kelima orang ini.

Baik kedua orang tiam cu maupun ketiga orang tongcu semuanya hadir dalam gelanggang saat ini, waktu diselenggarakannya pertemuan Kiam ciau tay hwe mereka juga hadir cuma waktu itu dandanan mereka aneh-aneh persis dengan makhluk halus.

Dan hari ini mereka mengenakan pakaian sutera hitam yang perlente, dengan ikat kepala warna hitam pula, jangan kan Hoa Thian-hong sekalipun Pia Leng-cu juga tidak mengenali identitas mereka.

Pada waktu itu ketua istana neraka bertugas menjaga diperahu sebelah kiri untuk menghalangi niat kabur Pia Leng- cu menuju pantai utara, Tiam cu ruang siksa, Ing kiam tongcu serta Su li tongcu bertugas melindungi keselamatan Kiu-im Kaucu sedangkan tugas menang-kap orang dalam air diserahkan kepada tongcu ruang penyebaran ajaran.

Formasi ini sebenarnya diatur khusus untuk menghadapi Hoa Thian-hong, tapi yang masuk perangkap sekarang bukanlah si anak mudu itu melainkan Pia Leng-cu.

Tongcu ruang penyebaran agama itu bernama Bong Seng, umurnya lima puluh tahunan dan bersenjatakan sebelah kaitan tajam berkepala harimau, setelah ada dalam air jangan kan menghadapi serbuan anak buah yang lain, untuk menghadapi jago tua ini pun Pia Leng-cu sudah dibikin kewalahan, apalagi serangan yang dilancarkan musuh- musuhnya dari empat arah delapan penjuru secara bergilir, tentu saja lambat laun imam tua itu tak kuasa menahan diri.

Untung Pia Leng-cu sendiripun memiliki kelebihan- kelebihan, pertama tenaga dalamnya amat sempurna, kedua ketajaman matanya luar biasa dan ketiga pedang boan liong poo kiam yang diandalkan sangat tajam, maka untuk beberapa waktu dia masih sanggup mempertahankan diri.

Selain itu Bong Seng tak berani turun tangan keji hingga membinasakan imam tua ini, sebab pedang emas itu ada ditangannya dan tongcu tersebut kuatir kalau pedangnya sudah disembunyikan ketempat lain.

Maka ia gunakan taktik berperang gerilya, kalau musuh menyerang secara ganas maka mereka pada kabur menjauh, sebaliknya kalau penahanan musuh agak mengendor, mereka segera menyerang dengan gencar, asal imam tua itu sudah lelah dan kehabisan tenaga maka sudah pasti dia bakal dibekuk dalam keadaan hidup-hidup.

Manusia yang bernama Bong Seng ini amat pandai ilmu berenang, sepanjang pertarungan berlangsung dia selalu memancing Pia Leng-cu agar bertarung di tengah sungai.

Pia Leng-cu buta arah yang ada disekitarnya, boleh dibilang ia tak tahu dimana kini posisinya waktu itu, setelah bertempur beberapa saat ia merasa hawa murninya hampir habis, cepat pedang mustikanya di ayun keluar menyingkirkan ancaman musuh kemudian menyusup keluar dari permukaan air sungai.

Setelah berada diluar air barulah Pia Leng-cu mengetahui kalau dia masih berada diiengah sungai, ombak menggulung disana sini, kedua belah pantai tampak jauh diujung sana, sekarang dia baru merasa terkesiap dan ketakutan. Ingatan kedua belum sempat terlintas, tiba-tiba kakinya tertusuk oleh senjata trisula sehingga tembus kedalam tulang, sakitnya bukan kepalang sampai peluh dingin membasahi tubuhnya.

Betapa gusar dan gelisahnya imam tua itu, cepat ia menyelam Kembali kedalam air sam il melepaskan sebuah tusukan balasan.

Orang yang berhasil melukai dirinya tak lebih hanya seorang anak bauh perkumpulan Kiu-im-kauw, sekalipun ia berhasil melukai musuhnya akan tetapi dia sendiripun mampus dengan dada tertusuk oleh pedang.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik ini, Bong Seng menyusup keluar dengan kelincahan seperti ular air, senjata kaitannya secepat kilat langsung menyambar ke arah pinggang Pia Leng-cu.

Serangan dari senjata kaitan ini cepat sukar terbayang dengan ingatan, Pia Leng-cu tercekat, sukma serasa melayang tinggalkan raganya.

Dalam gugup dan gelisahnya cepat ia putar pedang sambil ikut menggeliat kesamping, dengan jurus Ya can pat hong (pertarungan massal di delapan penjuru) dia tangkis datangnya ancaman tersebut.

Bong Seng tak berani menyentuh senjata lawan dengan kekerasan, merasakan datangnya sambaran tersebut terpaksa ia tukar gerakan berganti jurus, sekalipun begitu pinggang Pia Leng-cu termakan pula oleh sobekan senjata kaitan itu sehingga muncul sebuah mulut luka sepanjang empat cun, darah segar segera berhampuran dalam air. Waktu itu Hoa Thian-hong berdiri di tepi perahu, jaraknya dengan Pia Leng-cu hanya beberapa kaki, tapi ketika diketahuinya sekitar perahu penuh dengan anak buah dan perkumpulan Kiu-im-kauw, dia kuatir ada orang yang melubangi dasar perahunya lagi.

Cepat dia memberi tanda kepada Pek Kun-gie dan perintahkan dia untuk menjauhi tempat kejadian,

Tiba-tiba Pia Leng-cu menyusup keluar dari permukaan air, lalu serunya dengan suara lantang, “Hoa Thian-hong!”

Si anak muda itu agak tertegun, sebelum ia sempat buka suara imam tua itu sudah menyelam kembali kedalam air.

Pek Kun-gie putar kemudi perahu itu dan menggerakkan perahunya ke arah pantai sebelah kiri, serunya dengan nyaring, “Selama gunung nan hijau, kita tak usah bakal kehabisan kayu bakar, lebih baik kita mendarat dulu kemudian baru berusaha untuk merebut kembali pedang baja itu!”

Pertarungan yang berlangsung dalam air telah mencapai puncak ketegangan, punggung Pia Leng-cu kembali tersambar oleh senjata kaitan Bong Seng, meskipun lukanya tidak terlalu parah namun nyalinya benar-benar telah pecah, ia merasa keselamatan jiwanya jauh lebih penting dari pada segalanya, maka begitu menyusup keluar dari dalam air kembali ia berteriak keras, “Hoa Thian-hong….!”

“Jangan kita gubris dirinya!” cepat Pek Kun-gie berseru.

Hoa Thian-hong mengerutkan dahinya, kemudian menjawab, “Kun Gie, dekatkan perahu kita kesana!” “Kita tak boleh menolong siluman tosu itu!” seru gadis itu sangat gelisah, kalau tidak maka kita pasti akan terseret kedalam bencana….”

“Dia toh sudah mohon kepada kita, tak mungkin kita berpeluk tangan tanpa memberikan bantuannya, lagipula pedang baja itu toh lebih baik kita ambil kembali dari tangannya, daripada musti merampas pakai kekerasan dan kekuatan”

Sembari berkata ia lantas menyambar sebuah gala yang panjang dan mengawasi keadaan di tengah sungai dengan seksama.

Pek Kun-gie tak berani membantah perintah si anak muda itu, terpaksa ia putar kemudi dan jalankan perahu itu mendekati kembali gelanggang pertarungan.

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu berseru dengan nada menyeramkan, “Hoa Thian-hong, engkau sudah bosan hidup rupanya?”

“Engkau sendiri yang pingin mampus! balas Pek Kun-gie dengan penuh kemarahan.

Hoa Thian-hong sendiri cuma tertawa getir dan tidak menjawab.

Sekarang siapapun dapat melihat kelihayan dari perkumpulan Kiu-im-kauw, bagi Hoa Thian-hong jangankan kabur dari situ, untuk menyelamatkan diri sendiripun masih merupakan suatu tanda tanya besar.

Berada dalam keadaan begini, tentu saja mencampuri urusan orang lain berarti mencari jalan kematian bagi diri sendiri, apa yang diucapkan Kiu-im Kaucu sedikitpun tidak salah.

Sementara itu Pia Leng-cu yang sedang bertempur didalam sungai telah mencapai pada puncak kegawatan, dia kerahkah segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menyusup keluar dari permukaan air, kemudian jeritnya setengah merengek, “Hoa Thian….”

“Hmm! Tak nyana engkau adalah seorang pengecut berjiwa kerdil, seorang manusia kurcaci yang takut mampus!” maki Hoa Thian-hong dengan penuh kegusaran.

Sambil memaki, gala panjagnya laksana kilat diayunkan ke arah tengah sungai.

Keadaan dari Pia Leng-cu sudah payah sekali, bagaikan orang tenggelam yang mendapat pertolongan, cepat dia menubruk ke arah tongkat gala yang diulurkan ke arahnya itu.

Ketiga buah jari tangan kirinya sudah terpapas kutung, waktu itu masih dibalut dengan kain, dalam gugupnya terpaksa ia buang pedang pusaka boan liong poo kiam kedalam air dan mencekal gala panjang itu erat-erat.

“Naik!” bentak Hoa Thian-hong sambil menyentak gala panjang itu keangkasa.

0000O0000

72

MENGIKUTI getaran tersebut, Pia Leng-cu melesat ketengah udara dengan membentuk gerak setengah lingkaran busur, begitu mencapai permukaan geladak ia lepas tangan dengan lemas, sambil duduk bersila di ujung perahu, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau.

Sementara itu tongcu ruang penyebaran agama Bong Seng telah muncul pula dari permukaan sungai dengan tangan kanan membawa senjata kaitan, tangan kiri membawa pedang boan liong poo kiam milik Pia Leng-cu

Dengan lincah ia berenang ke arah perahu ketuanya dan loncat naik keatas perahu.

Sambil persembahkan pedang mustika itu kepada ketuanya, tongcu itu memberi hormat seraya berkata, “Hamba berusaha untuk menangkap buronan itu dalam keadaan hidup, maka semua serangan tidak kulakukan dengan sepenuh tenaga!”

Kiu-im Kaucu mengangguk sambil tersenyum. “Memang itulah yang aku kehendaki” katanya.

Setelah menerima pedang Boan liong poo kiam, senjata itu diperiksa dan ditelitinya dengan seksama akhirnya keistimewaan yang terdapat pada gagang pedang itu ditemukan olehnya.

Ternyata gagang pedang itu kosong tengahnya, ujung gagang tertutup oleh sekrup dan diatas sekrup tertempel sebutir mutiara sebesar buah kelengleng, ketika penutupnya dibuka ternyata isi ruang dalam gagang pedang itu kosong melompong, tidak tampak sebuah bendapun.

Menyaksikan hal itu, Yu beng tiam cu segera berseru, “Imam tua itu licik dan banyak akal, tampaknya pedang emas itu tidak berada pula dalam sakunya!” Kiu-im Kaucu tertawa dan mengangguk.

“Delapan puluh persen pedang itu sudah disembunyikan disuatu tempat yang rahasia, tak susah untuk mengetahui letak tempat persembunyian itu, kita bekuk saja dia dalam keadaan hidup-hidup lalu kita siksa dia sampai mengaku…. Untung dia takut mampus, tak mungkin terlintas ingatan untuk bunuh diri!”

Dia serahkan pedang pusaka itu kepada seorang gadis yang berdiri dibelakangnya, kemudian perintahkan kekasihnya untuk jalankan perahu itu mendekati perahu yang ditumpangi Hoa Thian-hong.

Dalam pada itu perahu yang diparkir di arah kiri pantai telah bergerak pula menuju ketengah sungai, dengan begitu perahu yang ditumpangi Hoa Thian-hong terjepit diantara dua perahu musuh, sementara ssliaai puluh orang pasukan katak dari perkumpulan Kiu-im-kauw telah munculkan pula dirinya diatas permukaan air, perahu dari Hoa Thian-hong dikepung rapat-rapat sehingga tak mungkin kabur lagi.

Menyaksikan situasi yang amat gawat, Pek Kun-gie tahu kalau harapan bagi mereka untuk kabur dari situ tipis sekali.

Ia jadi mendongkol bercampur gusar, sambil melotot ke arah Pia Leng-cu hardiknya, “Serahkan kembali pedang baja itu!”

Pia Leng-cu sedang duduk atur pernapasan diujung perahu, ketika mendengar teguran itu dia agak melengak, seakan- akan kejadian itu sama sekali berada diluar dugaannya.

Hoa Thian-hong sendiri gelengkan kepala sambil menghela napas panjang, sambil melangkah maju kedepan katanya, “Aaai….! Orang ini memang tak dapat di tolong lagi, agaknya kita musti pakai kekerasan untuk menghadapi dirinya!”

Dengan gusar Pia Leng-cu loncat bangun, teriaknya marah- marah.

“Ooh…. jadi engkau tolong orang mengharapkan pahala?

Hmm! enghiong hoohan macam apaan kamu ini?” Hoa Thian-hong tertawa.

“Aku memang bukan seorang enghiong hoohan, tapi engkau, haahh…. haahh…. haaah! engkau lebih-lebih tak pantas dianggap sebagai seorang manusia!”

Sekali tangan kirinya diayun kemuka, dem ngan jurus Kun- siu-ci-tauw (perlawanan binatang-binatang yang terkurung) dia kirim sebuah pukulan gencar kedepan.

Pia Leng-cu menyadari sampai dimanakana kelihayan tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong, sudah tentu serangan tersebut tak berani disambutnya dengan keras lawan keras.

Mau memunahkan diapun tak mampu, sebab serangan itu aneh dan maha sakti, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia bungkukan badan dan menghindar kesamping

“Turun!” hadik sang pemuda lantang.

Tiba-tiba gerak pukulannya mematah kebawah dan menyapu ke arah samping arena.

Dalam sangkaan Pia Leng-cu, dengan berkelit ke arah samping maka serangan lawan dapat dihindari dengan mudah, siapa tahu pinggangnya terasa jadi kencang dan tahu-tahu segulung angin pukulan yang sangat tajam telah menyusup tiba.

Sampai dimana rasa kaget dan ngeri yang melintas dalam benaknya sukar dilukiskan dengan kata-kata, dalam gugupnya cepat ia loncat ke arah samping untuk menghindar.

Sekilas ingatan berkelebat dalam benak Hoa Thian-hong, ia berpikir

“Andaikata dia kupaksa untuk mencebur kembali kedalam air maka imam tua ini pasti akan terjatuh ketangan lawan!. Aaai! selama berada di sungai aku memang tak bisa bergerak dengan leluasa, tempat ini merupakan daerah kekuasaan dari Kiu-im Kaucu, kendatipun pedang baja itu dapat kurebut kembali belum tentu aku mampu melindunginya, lebih baik sementara waktu kubiarkan dulu dibawa siluman tosu ini….”

Berpikir sampai disitu, ia lantas tarik kembali telapak tangannya sambil membentak, “Kembali!”

Pada hakekatnya intisari dari kepandaian silat yang dimiliki malaikat pedang Gi Ko berbunyi demikian,

Wujud pedang mengungguli tiada pedang, pedang berat mengungguli pedang enteng, dan semua keunggulan dan keampuhan dari pelajaran itu sudah tercantum dalam catatan Kiam keng bu kui, karena itu apa yang merupakan inti pelajaran dari catatan kiam keng bu kui tidak lebih adalah pelajaran-pelajaran tentang mengangkat yang berat ibarat ringan memunahkan yang kuat menjadi lunak.

Hoa Thian-hong telah nempelajari isi dari catatan kiam keng bu kui tersebut, hal ini membuat permainan ilmu pedangnya yang semula kuat dan penuh tenaga menjadi enteng dan lincah, sedikitpun tidak terpengaruh oleh emosi malahan kelihatannya sangat enteng, padahal kalau benar- benar dihadapi barulah terasa sampai dimanakah kedahsya- tan daya hancur yang dimiliki dari permainan pedangnya itu.

Justru karena ia telah memahami intisari dari taktik perubahan lunak dan keras itu, maka dengan sendirinya permainan ilmu pukulan yang dia milikipun ikut mengalami perubahan.

Perlu diketahui jurus Kun-siu-ci-tauw itu diciptakan oleh Ciu It-bong, tapi dalam permainan Hoa Thian-hong sekarang baik dalam gerakan maupun dalam hal perubahannya hanya sebagian yang masih bertahan, sedang dalam soal kekuatan tenaga, cepat lambatnya gerakan serta tipu daya serangan tersebut telah mengalami perubahan yang sangat besar, bahkan boleh dibilang bertolak belakang, walaupun begitu justu daya kekuatannya malah jauh lebih mengerikan.

Ketika termakan oleh pukulan yang amat dahsyat tadi, Pia Leng-cu sudah berada delapan sembilan depa dari sisi perahu, tiba-tiba ia mendengar Hoa Thian-hong membentak kembali.

Saat itulah segulung tenaga murni yang maha dahsyat meluncur tiba dan mengisap lubuhnya ke arah belakang, tak bisa dikuasai lagi tubuh Pia Leng-cu segera terjengkang dan melayang kembali ke arah belakang.

Sebenarnya imam tua itu terhitung seorang jago lihay yang menggetarkan sungai telaga, sayang belakangan ini beberapa kali dia harus jatuh kecundang ditangan Kiu-im Kaucu serta Hoa Thian-hong, hal ini membuat nyali jadi pecah dan hatinya bertambah jeri.

Oleh karenanya baru saja bertemu muka dan pertarungan belum sempat dilangsungkan, ia sudah dibuat keder setengah mati, justru karena keadaannya itu maka diantara sepuluh bagian tenaga murninya ada tujuh bagian tak mampu digunakan

Sekarang terhisap pula oleh sesuatu kekuatan yang besar hingga membuat tubuh tertarik kembali kebelakang, hatinya jadi gugup dan sangat gelisah, untuk beberapa saat dia tak tahu apa yang musti dilakukan.

Padahal kalau pada hari-hari biasa, aaal dia goyangkan badan dan mencelat ke arah samping, maka dengan sangat mudah dia akan terlepas dari pengaruh tenaga hisapan tersebut.

Dasar nyalinya sudah pecah, bukan saja ia kuatir kalau Hoa Thian bong menambahi dengan sebuah pukulan lagi, diapun sangat kuatir kalau sampai tercebur kembali kedalam sungai sehingga disergap oleh kawanan pasukan katak dari pihak Kiu- im-kauw.

Dalam gugupnya ia banya bisa meronta dan celinggukan dengan kebingungan, tiada suatu reaksi apapun yang dilakukan olehnya.

Menanti tubuhnya sudah mencapai kembali permukaan geladak, tahu-tahu ia sudah berdiri menghadap ke arah sungai dengan punggung persis didepan Hoa Thian-hong.

Kalau waktu itu Hoa Thian-hong berhasrat untuk merampas kembali pedang bajanya, maka hal itu bisa dilakukannya denpan sangat gampang.

Namun si anak muda itu bukan seorang pemuda yang suka mengingkari janji sendiri, ia merasa tindakannya kurang gentlemen jika barang yang telah diberikan kepada orang lain harus dirampas kembali dengan kekerasan. Akhirnya dia menghela napas dan sama sekali tidak menyentuh pedang baja tersebut barang sebentarpun.

Menyaksikan kejadian itu Kiu-im Kaucu segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haah…. haah…. Hoa Thian-hong!” serunya, “tampaknya kolong langit akan jatuh ketanganmu dan diperintah oleh kalian utusan khusus dari keluarga!”

Ucapan itu bernada tajam, tanpa sadar Pek Kun-gie membayangkan kembali kata-kata itu dan menghubungkan kata utusan khusus dari keluarga itu menjadi ‘Urusan khusus dari suami yang telah berkeluarga’ matanya langsung jadi merah dan tak tahan lagi gadis ini ingin menangis sejadi- jadinya.

Namun akhirnya hanya titik air mata yang jatuh berlinang membasahi pipinya, dengan suara ketus ujarnya kepada Kiu- im Kaucu, “Huuuh….! Engkau membawa senjata toya kepala setanmu, sedang pedang baja kami telah diambil oleh seorang manusia yang tak tahu malu, anak buahmu banyak tak terhitung sedang kami cuma berdua…. Hmmm! Aku lihat mulai hari ini semua enghiong diseantero jagat akan tunduk dibawah perintahmu seorang”

Paras muka Pia Leng-cu berubah hebat ketika mendengar dirinya dimaki sebagai seorang manusia yang tak tahu malu, bibirnya sudah bergerak siap memaki.

Agaknya Hoa Thian-hong telah menduga sampai kesitu, baru saja dia menggerakkan bibirnya, dengan pandangan dingin diliriknya imam itu sekejap.

Pia Leng-cu seketika merasa hatinya malu bukan kepalang, cepat ia tutup mulutnya kembali dan tundukkan kepala.