Tiga Maha Besar Jilid 17

 
Jilid 17

“BAGAIMANA kalau orang lain yang makan?” tanya kakek penjual bakmi sambil menerima uang itu. “Kecuali ini hari aku yang menjamu, selanjutnya tak ada hubungan apa-apa dengan nonaku!”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

“Kalau engkau berani menganiaya Siau biau ji Hmm! warung bakmi ini akan kuobrak abrik sampai rata dengan tanah, jenggotmu akan kucabuti semua hingga tak mampu hidup di sini lagi.”

Kepada rekan-rekan lainnya dia melanjutkan, “Kalau kehidupan kalian alami kesulitan pergilah cari Ko toako! Siau biau ji paling kecil diantara kalian, pengalamannya paling dangkal, kalian jangan mengganggu dirinya!”

Bocah-bocah itu sama-sama mengiakan, sedang Siau biau ji sambil menangis sesenggukan katanya, “Engkoh Ngo ko, kemana engkau pergi aku mau ikut terus jangan tinggalkan aku seorang diri!”

“Tidak mungkin, setelah tiba diperkampungan Liok Soat Sanceng nanti aku akan mintakan ijin kepada enso agar utus orang datang kemari untuk menyambut dirimu.”

“Kenapa musti tunggu tiga tahun?” seru siau biau ji dengan air mata bercucuran.

Siau Ngo-ji termenung sebentar, kemudian jawabnya, “Paling lama tiga tahun, mungkin juga kurang dari itu…. Nah! pergilah bermain-main, aku harus segera kembali.”

“Ngoko, cengkerikmu!” seru siau biau ji sambil berikan tabung bambu itu kepada kakaknya. “Aku tak mau bermain itu lagi, buat kau!” Siau hiau ji mengangguk.

“Ngo ko, ajarin aku ilmu silat agar kalau berkelahi aku bisa lebih tangguh “

“Sekarang tak ada waktu, lain kali saja,” setelah memberi salam kepada rekan-rekannya ia menambahkan, “Nah, sampai jumpa lain waktu, aku pergi dulu!”

Sambil mengingat-ingat terus persoalan tentang ilmu hioloo darah pembetot sukma, bocah itu dengan cepat kembali ke rumah penginapan.

Beberapa jalan raya sudah diseberangi, ketika ia tiba satu tombak dari pintu penginapan, tiba-tiba bayangan manusia munculkan diri dari bawah wuwungan rumah, sambil menampakkan diri ia meregur lirih, “Saudara cilik, tunggu sebentar!”

Siau Ngo-ji terperanjat dan mundur dua langkah, ketika mengang-kat kepalanya bocah itu kontan merasa terperanjat.

Seorang gadis yang cantik jelita bagaikan bidadari berdiri dibawah lampu jalan yang remang-remang, meskipun suasana agak gelap namun kecantikan wajah dara itu sangat mengikat hati, sampai Siau Ngo-ji yang masih kecilpun diam-diam mengagumi.

Gadis itu menengok sekejap sekeliling tempat itu, kemudian mengundurkan diri ke bawah wuwungan rumah, seraya menggape bisiknya, “Saudara cilik, kemarilah! aku punya urusan penting hendak disampaikan ke padamu!” “Engkau adalah Pek Kun-gie!” tegur Siau Ngo-ji tanpa bergerak.

Gadis cantik itu tersenyum dan mengangguk. “Engkau kenal aku? Ohh! Thian-hong yang beritahu

kepadamu?”

Siau Ngo-ji berdiri melongo, pikirnya, “Aduh mak, betul- betul cantik! apalagi kalau tertawa, waduh bikin hati orang syuur-syuuran…. Hoa toako bisa menampik cintanya, itu menandakan kalau toako betul-betul seorang lelaki yang hebat!”

Sementara itu Pek Kun-gie sudah menggape lagi sambil berseru, “Kemarilah! jangan berdiri ditenhah jalan, aku punya kabar penting hendak disampaikan kepadamu”

Siau Ngo-ji melangkah maju tapi sekilas bayangan terlintas dalam benaknya, tiba-tiba ia teringat akan Chin Wan-hong, bocah itu segera merasakan hatinya hangat dan segar seolah- olah tersorot oleh cahaya sang surya.

Pada mulanya bocah ini adalah seorang anak yatim piatu yang tak punya sanak tak punya keluarga, sedari kecil hidup gelandangan dikota Lok yang, ia kenyang disiksa, hidup menderita dan tak kenal apa artinya kasih sayang.

Meskipun Hoa Hujin, Hoa Thian-hong dan Tio Sam-koh sangat baik terhadap dirinya, kasih sayang itu adalah kasih yang umum dan sama sekali tidak merangsang daya rasanya yang hebat, lain halnya dengan Chiu Wan Hong.

Dara ini bukan saja harus melayani mertuanya dan suaminya, diapun sangat kasih dan menaruh perhatian terhadap Siau Ngo-ji, terutama sekali wataknya yang halus berbudi dan sifat kewanitaan yang tegitu tebal ditambah ketulusan dan kehangatan kasih seorang ibu tercermin begitu tebalnya, membuat setiap ucapan dan gerak-geriknya mengandung kasih sayang dan perhatian yang tak terhingga bagi Siau Ngo-ji.

Walaupun kasih sayang dan perhatian itu ditampilkan secara sederhana dan wajar, namun kesemuanya timbul dari dasar sanu bari yang suci dan sama sekali tiada suatu paksaan atau pura-pura, karena itulah Siau Ngo-ji merasakau daya rangsangan yang besar atas kebaikan yang pernah diterimanya selama ini.

Teringat akan ensonya, timbullah rata permusuhan yang tebal terhadap Pek Kun-gie yang cantik jelita, bocah itu tak berkutik dari tempat semula dan tegurnya ketus.

“Darimana kau kenal diriku?”

Agak terperangah Pek Kun-gie menyuksikan perubahan sikap bocah itu, jawabnya kemudian, “Aku lihat setiap hari kau bergaul dengan Thian-hong, kalian sering bercakap dan bergurau dengan mesrahnya, tentu saja kuk nali dirimu!”

“Hmm! Hoa toako adalah suami dari enso ku, tentu saja mesrah dengannya, berita penting apa yang hendak kau katakan? sampaikan saja kepadaku, kalau ingin ketemu Hoa toako…. Huuh! jangan mimpi”

Ucapan tersebut sangat menusuk hati Pek Kun-gie, parasnya berubah hebat, lama sekali ia baru pulih kembali seperti sedia kala.

“Engkau adalah sanak dari keluarga Hoa? ataukah sanak dari keluarga Chin Wan-hong?” tanyanya kemudian. “Hmm! enso adalah nyonya muda dari keluarga Hoa, maka aku boleh dianggap sanak dari keluarga Hoa juga sanak dari keluarga Chin”

Pek Kun-gie mengerutkan dahinya, dengan muka murung ia berbisik, “Usiamu masih muda dan tak tahu urusan, memandang diatas wajah Thian-hong aku tak mau ribut dengan kau….”

Siau Ngo-ji segera tertawa dingin, tukasnya, “Kau tak mau ribut, justru aku ingin ribut, ayoh jawab apa mau mu menguntit terus perjalananku?”

Hawa nafsu membunuh yang tebal melintas diatas wajah Pek Kun-gie, dia maju dan siap melancarkan serangan maut.

Sebagai putri ketua perkumpulan Sin-kie-pang yang dibesarkan dibawah asuhan ayahnya yang berkekuasaan besar, ia sudah terbiasa bersikap angkuh dan tinggi hati, kalau bukan mencintai Hoa Thian-hong tak mungkin dia sudi hidup menderita, namun sifat tersebut hanya berlaku khusus buat Hoa Thian-hong seorang, bagi orang lain watak angkuh dan kejamnya masih berlaku seperti sedia kala.

Kadangkala kekuatan yang terpancar akibat cinta memang sangat besar, ketika ia maju kedepan tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya.

Kalau bocah ini aku lukai, Thia Hong pasti akan gusar kepadaku, aku tak boleh sembrono.

Cepat ia tahan tubuhnya dan berseru, “Beritahu kepada Thian-hong, katakan ada orang hendak gunakan siasat busuk untuk mencelakai jiwa lo hujin dan dirinya, aku akan menunggu disini, cepat suruh dia keluar!” Stan ngo ji kerutkan dahinya dan tertawa dingin.

“Heeeh…. heeeh…. heeehh aku saja tidak gelisah, kenapa kau musti ribut? bukankah orang Mo-kauw hendak celakai mereka dengan ilmu hioloo darah pembetot sukmanya?”

Tertegun Pek Kun-gie mendengar ucapan tersebut, serunya keheranan, “Ilmu hioloo darah pembetot sukma? ilmu apaan itu? bukan itu yang kumaksudkan, cepat panggil Thian-hong!”

“Huuhh! kalau ingin adakan pertemuan dengan Hoa toako katakan saja terus terang, pakai akal-akalan segala. Huuhh! tak tahu malu,” batin Siau Ngo-ji, “dianggap dengan perkataan seperti itu, aku lantas ketakutan?”

Berpikir begitu, dengan acuh tak acuh dia pun berkata lagi, “Tidak sukar kalau suruh aku panggilkan Thian-hong, tapi kabar ini musti aku laporkan kepada enso dulu, kemudian suruh enso yang beritahu toako, setuju tidak?”

Secara lapat-lapat Pek Kun-gie merasakan hatinya sakit seperti diiris, pikirnya, “Aaai…. keadaan sekarang ibarat harimau turun gunung yang dianiaya kawanan anjing, ooh Thian-hong kenapa kau tidak keluar? apakah kau tidak tahu semalam aku menunggu dirimu ditluar?”

“Bagaimana? setuju tidak?” terdengar Siau Ngo-ji menegur dengan uara ketus, “kalau beritahu saja kepadaku biar aku yang sampaikan, kalau urusan benar serius maka diam-diam akan kusampaikan kepada toako cuma, engkau tetap tak bisa bertemu dengan toako!”

Pek Kun-gie menghela napas panjang. “Baiklah akan kuceritakan garis besarnya saja,

sampaikanlah kepada toako!” “Bicara pulang pergi kau hanya ingin bertemu dengan toako…. Huuh baiklah ceritakan garis besarnya kepadaku dan nanti akan kuper-timbangkan lagi”

“Sebetulnya….”

Tiba-tiba terdengar dengusan dingin yang menyeramkan memecahkan kesunyian, bagaikan sambaran kilat sesosok bayangan manusia menubruk ke arah Pek Kun-gie.

Merasakan datangnya ancaman, Pek Kun-gie terperanjat dan loncat kebelakang, teriaknya keras-keras, “Cepat lari pulang”

Belum habis kata-kata itu diutarakan, bayangan tadi kembali menerjang untuk kedua kalinya ke arah Pek Kun-gie dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Pek Kun-gie putar telapak dan cabut pedangnya, cahaya tajam berkilauan dan ia balas menyerang dengan pedang lemasnya.

Menyaksikan kejadiau itu, Siau Ngo-ji jadi panik, pikirnya, “Aduuh celaka, kalau Pek Kun-gie mampus, maka berita itu tak bisa disampaikan kepada toako.”

Sebagai bocah yang cerdik, dia segera bertindak cepat, sambil kabur kepenginapan ia berteriak keras, “Hoa toako, cepat keluar Kiu-im Kaucu, Pia Leng-cu….”

oooooOooooo 66 BELUM habis ia berseru, dari atap penginapan menggema bentakan gusar dari Hoa Thian-hong.

“Kiu-im Kaucu, aku orang she Hoa sudah menanti disini!”

Ternyata bayangan marusia yang menyergap Pek Kun-gie bukan lain adalah Kiu-im Kaucu, dia bermaksud membekuk gadis itu dalam satu gebrakan, diluar dugaan sambutan pedang dari gadis itu cukup tangguh membuat tubuhnya meleset dari sasaran, tangan kanannya segera menyodok lewati jaring pedang dan menotok tubuh dara itu.

Kembali Hoa Thian-hong membentak, “Libat pedang!”

Cahaya hitam secepat kilat meluncur kedepan dan menusuk punggung Kiu-im Kaucu.

Walaupun selisih jarak ada dua tombak, namun pancaran hawa ki kang dari ujung pedang telah mengancam jalan darah Leng tay hiat dipunggung Kiu-im Kaucu, memaksa jago tua itu cepat-cepat harus melindungi diri.

Dengan hati terperanjat Kiu-im Kaucu mundur kebelakang dan melayang beberapa tombak kesamping.

Cahaya hitam lenyap dari udara Hoa Thian-hong berdiri di tengah jalan dengan gagah, mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Lega hati Pek Kun-gie setelah lolos dari ancaman, sambil tuding Kiu-im Kaucu ujarnya, “Thian-hong, ia telah menyusun rencana keji, besok pagi….”

“Budak cilik, rupanya kau sudah bosan hidup!” seru Kiu-im Kaucu dengan nada seram. Peras muka Hoa Thian-hong berubah, ia menghadang didepan Pek Kun-gie sambil berseru dengan suara dalam, “Kun Gie, mundurlah agak jauh!”

Pedang bajanya diayun dan segera mengebas keudara kosong.

Pek Kun-gie tertegun, ketika ia angkat kepala tampaklah diujung pedang baja milik Hoa Thian-hong telah menempel tiga batang duri racun yang panjangnya beberapa cun serta berwarna hitam tak mengkilap.

Ketiga batang duri racun itu meluncur tanpa menimbulkan suara ataupun kerlipan cahaya, sementara tangan kiri Kiu-im Kaucu memegang tongkat kepala setan, tangan kanan tertutup dibalik baju yang lebar dan sama sekali tidak nampak sesuatu gerak apa pun, sergapan macam itu boleh dibilang sangat lihay sekali.

Istri Hoa Thian-hong adalah seorang ahli racun yang lihay, sedikit banyak pemuda itupun kenal dengan kepandaian tersebut, dari warna duri racun itu ia tahu bahwa bahan racun yang digunakan pada ujung senjata tersebut merupakan racun yang amat jahat, tanpa terasa peluh dingin membasahi tubuhnya, iapun semakin waspada menghadapi Kiu-im- kauwcu yang kejam.

Ssraeotara itu telah terperangah sebentar” Pek Kun-gie segera berseru lantang, “Thian-hong, orang itu mempunyai maksud jahat kepadamu, jangan kau ampuni ampuni jiwanya?….

“Aku tahu, turunlah ke bawah wuwungan rumah!” Tiba-tiba Siau Ngo-ji berseru, “Toako, apa yang kau lihat? kalau benda yang beracun, simpanlah dan nanti tunjukkan kepada enso!”

“Cepat pulang, dan jangan tetap berada diluaran!” bentak Hoa Thian-hong dengan gusar.

“Enso suruh aku menjaga disini, sekalian awasi sekitar gelanggang kalau ada orang yang hendak menyergap dirimu!”

Setiap perkataannya tak lupa mengucap kan kata enso dan rupanya sengaja di tujukan kepada Pek Kun-gie.

Dara itu berubah wajahnya, ia merasakan hatinya seperti di tusuk-yusuk oleh pisau yang tajam, Hoa Thian-hong sendiri tentu saja mengerti pula maksud tujuan bocah itu, pikirnya dihati, “Kurangajar, rupanya dia memang sengaja sedang menyakiti hati Kun Gie….”

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa ia robek bajunya untuk bungkus duri beracun tadi dan segera dilempar kebelakang, hardiknya, “Ayoh cepat kembali kerumah penginapan!”

Siau Ngo-ji pungut bungkusan itu dan berpikir.

“Toako sudah kehilangan muka, kalau aku teruskan olok- olok ini niscaya dia akan gusar….”

Berpikir sampai disitu, segera teriaknya, “Toako tak usah gugup, aku akan undang kedatangan enso!” sambil berseru dia kabur kedalam penginapan.

Hoa Thian-hong segera berpikir dalam hati. “Setan cilik ini pilih kasih dan terlalu condong kepadi enci Hong, kalau ia betul-betul undang ensonya, waah…. Kun Gie pasti akau dibuat serba salah….”

Berpikir sampai disitu, ia berpaling ke arah Pek Kun-gie dan berkata, “Cepatlah pulang kerumah, jangan berdiam diluaran, kalau aku bisa keluar rumah pasti akan….”

Sebetulnya pemuda itu hendat bilang, kalau dia bisa keluar rumah pasti akan berkunjung kebukit Toa pa san untuk menjenguk dirimu, tapi ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya, ia teringat kalau dia sudah punya istri sedang dara itu masih perawan maka kata yang hampir meluncur segera di telan kembali.

Senyum kemurungan tersungging diujung bibir Pek Kun- gie, katanya, “Engkau tak usah menguatirkan aku, Kiu-im Kaucu kejam dan punya rencana busuk dia hendak….”

Sambil tertawa seram Kiu-im Kaucu segera menukas, “Pek Kun-gie, meskipun dari dulu kaum pria tidak setia pada janji, dan kaum wanita gampang jatuh cinta, namun keadaanmu benar-benar menggelikan hati.”

Merah jengah selembar wajah Pek Kun-gie, teriaknya dengan gusar, “Lebih baik jangan kau campuri urusan kami!”

“Hmm! dia tak boleh mencampuri, aku nenek tua justru akan mencampuri kau mau apa?” tiba-tiba suara Tii Sam-koh menggelegar ditengah udara.

Bersama dengan kehadirannya, toya baja tersebut mengiringi deruan angin tajam langsung menghajar batok kepala gadis itu. Hoa Thian-hong jadi gegetun, serunya dengan gelisah, “Eee…. nenek Sam popo….”

Dengan suatu gerakan yang manis, Pek Kun-gie mengegos kesamping, setelah lolos dari ancaman tersebut dengan gusar ia membentak pedangnya menyambar kemuka melepaskan serangan balasan.

Hoa Thian-hong semakin gelisah, dengan nada setengah merengek serunya, “Nenek Sam popo, berhenti! jangan main serang…. ada persoalan kita selesaikan secara baik-baik!”

Tio Sam-koh sama sekali tidak menggubris, serangan toyanya makin gencar dan jurus maut dilepaskan secara bertubi-tubi membuat Pek Kun-gie tak sanggup menahan diri dan terjerumus dalam keadaan yang sangat berbahaya.

Hoa Thian-hong semakin gelisah hingga mendepak kakinya berulang kali, sebagai keturunan seorang terhormat pemuda itu tak berani turun tangan terhadap Tio Sam-koh, maka ia cuma bisa gelisah tanpa sanggup melakukan sesuatu apapun.

Kiu im kaicu yang menyaksikan kejadian itu, dalam hatipun segera berpikir, “Agaknya budak itu mengetahui rencana besarku, ia berusaha membaiki bocah keparat she Hoa, sedang keparat dari keluarga Hoa masih cinta kepada budak itu dan tak tega melihat gadis itu mampus ditangan orang…. inilah suatu pertunjukkan yang menarik hati!”

Kemudian pikiran lain berkelebat pula dalam benaknya, “Ilmu silat yang dimiliki Pek Siau-thian sangat lihay, diapun berhasil mempelajari isi catatan ilmu pedang Kim keng bu kui, kemajuan yang diraih pasti luar biasa, kekuatannya mungkin jauh lebih ampuh dari keadaan tempo hari, selama Pek Kun- gie masih hidup keluarga Hoa dan keluarga Pek tak mungkin bentrok satu sama lain, itu berarti Kiu-im Kaucu harus menghadapi musuh dari dua arah, sebaliknya kalau nenek itu membunuh Pek Kun-gie, maka dendam kesumat pasti terjalin antara dua keluarga, sedang Kiu-im Kaucu akan mencari untung dari situasi ini, aku harus manfantkan peluang ini sebaik-baiknya….!”

Berpikir sampai disitu, dia tertawa seram dan berseru, “Pek Kun-gie, cepat kabur dari sini, engkau cantik dan menarik, cepat atau lambat Hoa Thian-hong pasti tunduk dibawah gaunmu, kalau nyawamu keburu mampus, ooooh sayang sekali!”

Tio Sam-koh segera membatin, “Betul juga perkataannya, siluman rase ini cantik bagaikan bidadari yang turun dari kahyangan, Hong ji jauh bukan tandingannya. Setiap pria sudah pasti akan terpikat oleh kecantikannya itu, kalau siluman rase ini di biarkan hidup, akhirnya Seng ji pasti terjatuh kedalam pelukannya lebih baik cepat dibunuh, daripada memelihara harimau di kandang domba.”

Berpikir sampai disini, permainan toyanya dipergencar, serangan maut dilepaskan bertubi-tubi memaksa Pek Kun-gie kerepotan dan kian lama kian terdesak hebat.

Hoa Thian-hong merasakan hatinya panas bagaikan minyak mendidih, ia berputar disekitar gelanggang sambil bersiap sedia bila Pek Kun-gie menjumpai mara babaya, ia siap memberi pettolongan.

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu berteriak lagi.

“Pek Kun-gie, cepat pergi! jangan engkau paksa Hoa Thian- hong berkelahi sendiri dengan Tio Lo tay kalau sampai terjadi begitu, ooh! kasihan Hoa Thian-hong, dia akan dicemooh orang sebagai manusia yang berani melawan tingkatan tua!” Hoa Thian-hong gusar sekali, hardiknya, “Kalau engkau menghasut terus, jangan salahkan kalau aku orang she Hoa bertindak kurangajar!”

“Binatang cilik, enyah dari sini!” bentak Tio Sam-koh dengan gesar.

Weeess! toyanya disapu kedepan dengan gerak mendatar.

Meskipun berilmu tinggi, Hoa Thian-hong tak berani melawan, ia segera mengegos kesamping.

Sapuan toya itu mengena disasaran kosong, menggunakan kesempatan yang baik ini, Pek Kun-gie gigit bibir dan melepaskan satu serangan balasan yang hebat.

Hawa amarah yadg berkobar dalam dada Tio Sam-koh makin memuncak, permainan toyanya segera berubah, ia kurung Pek Kun-gie dibawah bayangan toyanya yang berlapis lapis dan mendesaknya habis-habisan.

Hoa Thian-hong makin gelisah hingga hampir saja mengucurkan air mata, ia lihat Pek Kun-gie makin kepayahan dan terkurung kembali dalam lapisan toya Tio Sam-koh.

Tiba-tiba nenek tua itu membentak nyaring diiringi desiran angin tajam, toya baja itu menghantam batok kepala Pek Kun- gie.

Serangan itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, tak sempat bagi Pek Kun-gie untuk menghindar, dalam gugupnya dia angkat pedang lemasnya untuk menangkis.

Hoa Thian-hong amat terperanjat, ia tahu sambaran toya itu luar biasa dahsyatnya kalau ditangkis dengan pedang niscaya gadis itu akan mati konyol, dalam gelisahnya tanpa berpikir panjang ia segera menubruk kemuka dan melindungi Pek Kun-gie dengan tubub sendiri

Tio Sam-koh makin gusar menyaksikan kejadian itu namun dia pun tak bisa lanjutkan serangannya untuk menghajar Hoa Thian-hong, dengan mendongkol terpaksa ia miringkan toyanya kesamping dan menyambar disamping pemudi itu.

Hoa Thian-hong segera menggulung tubuh Pek Kun-gie dengan lengan kirinya kemudian mundur dengan cepat, menanti Tio Sam-koh memburu kedepan, dua orang muda mudi itu sudah jauh mundur kebelakang.

Diam-diam Kiu-im Kaucu merasa gegetun, pikirnya, “Sayang…. oooh. sungguh sayang…. kalau sambaran toya itu dilanjutkan niscaya dua orang muda mudi itu sudah mampus!”

Setelah melangsungkan pertarungan sengit, seluruh tenaga Pek Kun-gie sudah terkuras habis, rambutnya jadi kusut dan bajunya basah oleh keringat, mukanya yang cantik berubah merah padam, napasnya tersengkal dan hampir saja tak mampu berdiri tegak.

Hoa Thian-hong merasa amat kasihan, sebagai pemuda yang berjiwa kesatria ia iba dan terharu melihat Pek Kun-gie menderita karena dia, rasa cintanya atas gadis itu makin menebal.

Terdengar Tio Sam-koh membentak dengan gusar, “Binatang cilik! engkau berani melindungi perempuan rendah itu? kau sudah lupa dengan peringatan dari Kiu-tok Sianci?”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang, wajahnya amat sedih, pikirnya dihati, “Masalah ini ibarat simpul tali mati kalau aku sudah mampus urusan ini baru selesai….!” Dengan ilmu menyampaikan suara bisik-nya kepada dara itu.

Gie!, bersediakah engkau turuti omonganku?”

Beberapa patah kata yang singkat dan sederhana mendatangkan perasaan mesrah yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, bagi Pek Kun-gie, perasaannya jadi hangat dan dua titik air mata jatuh berlinang, ia mengangguk lirih.

Hoa Thian-hong tertawa sedih.

“Aku minta cepatlah pulang kerumah dan temani ibumu engkau bersedia….?”

Tio Sam toh naik pitam, bentaknya dengan penuh kegusaran.

“Aku larang kalian berbicira dengan ilmu menyampaikan suara!”

Pek Kun-gie tertegun beberapa saat, lalu dengan air mata bercacaran dia mengangguk.

“Aku bersedia, tapi…. kapan kau datang menjenguk aku?” Sekali lagi Tio Sam-koh hentakkan toya-nya keatas tanah,

dengan langkah lebar ia maju kedepan, kembali teriaknya, “Bagus! bagus sekali! binatang cilik perempuan rendah…. berani benar kalian mengikat janji…. rupanya kalian punya hubungan gelap….”

Tiba-tiba Kiu-im Kaucu tertawa, dia menyindir lagi.

Pek Kun-gie, kalau engkau tidak sadar terus, rumah tangga orang yang bahagia segera akan berantakan. Tio Sam-koh terkesiap, pikirnya, “Benar juga perkataan itu! kecantikan perempuan rendah itu luar biasa, ia mati-matian memikat Seng ji, sedang bocah keparat itu rupanya sudah terpikat oleh kecantikannya, sekarang masih bisa dicegah hubungan itu karena Siau Ih masih hidup, tapi setelah Siau Ih mati dan binatang ini tak ada yang urus, dengan ilmu silatnya yang ampuh siapa lagi yang bisa menghalangi hubungan cintanya? Hong ji jujur dan berhati lemah tak mungkin ia bisa kendalikan tingkah pola suaminya, sekalipun Kiu-tok Sianci munculkan diri belum tentu ia mampu kalahkan binatang itu…. bukankah rumah tangga yang ba hagia benar-benar akan jadi berantakan?”

Sementara itn Pek Kun-gie sedang berbisik dengan sedih. “Katakanlah! sepuluh? delapan tahun? sekalipun sepanjang

masa aku hanya menanti jawabanmu, aku segera menantikan kedatangan mu dirumah.”

Air mata bercucuran membasahi wajah Hoa Thian-hong, sahutnya, “Gi! engkau harus tahu keadaanku, aku”

“Bagus bagus sekali!” pikir Tio Sam-koh dihati, “binatang binatang terkutuk! rupanya engkaupun menaruh hati kepadanya, perasa an tersebut tak berani kau perlihatkan karena desakan keadaan. Hmm kalau suatu hari keadaan telah berubah, apa saja yang dapat kau lakukan??”

Dengan sorot mata berapi-api dan penuh pancaran cahaya nafsu membunuh, nenek tua itu putar toya dan menerjang kembali.

Hoa Thian-hong terkesiap, dia maju dan menghadang didepan Pek Kun-gie, serunya sambil tertawa paksa, “Sam popo….!” “Tutup mulut! aku tahu kalau Pek Kun-gie kubunuh maka selamanya engkau akan membenci diriku.”

“Seng ji tak berani membenci Sam po po” bisik Hoa Thian- hong dengan air mata bercucuran.

Tidak sempat pemuda itu selesaikan perkataannya, Tio Sam-koh telah menukas, “Kalau mau membenci silaukan membenci, aku adalah sahabat ibumu, dengan mata kepala sendiri aku lihat Hong ji kawin dengan kau. Hmm! seorang lelaki ingin kawin dua kali? Kemana larinya tanggung jawab mu? Untuk selamatkan keluarga Hoa, kehidupan Hong ji dan nama baik kita semua, ini hari aku bersumpah akan bunuh Pek Kun-gie sampai mampus, sekalipun kau akan membenci aku, aku tak ambil perduli…. pokoknya Pek Kun-gie tak bakal hidup tinggalkan tempat ini!”

Hoa Thian-hong amat terperanjat, peluh dingin membasahi tubuhnya, sekarang ia telah paham apa sebabnya Tio Sam- koh berkeras akan membunuh Pek Kun-gie, rupanya tidak lain tidak bukan dia ingin melindungi nama baik keluarga Hoa.

Dalam pada itu, Tio Sam-koh telah putar toya sambil menubruk maju, dengan muka menyeringgai, bentaknya, “Ayoh cepat enyah dari sini atau segera putar pedang layani seranganku, kalau tidak….”

Hoa Thian-hong tercekat hatinya, sambil menghadang didepan Pek Kun-gie, ia berteriak, “Kun Gie cepat lari….”

Pek Kun-gie dapat merasakan gawatnya situasi, kalau ia tidak pergi maka Hoa Thian-hong pasti akan melindungi dirinya dan pemuda itu bakal mampus termakan sapuan toya Tio Sam-koh, dengan hati perih dan menangis tersedu-sedu dara itu segera putar badan dan tinggalkan tempat itu. Tio Sam-koh adalah seorang nenek tua yang benci segala kejahatan, sejak lama dia sudah mendendam pada anggota perkumpulan Sin-kie-pang, setelah nafsu membunuhnya berkobar sukarlah untuk dicegah kembali, melihat Pek Kun-gie kabur dia segera membentak dan mengejar dari belakang.

Hoa Thian-hong amat terperanjat, cepat-cepat ia mengejar pula dari belakang.

Kiu-im Kaucu tertawa seram, tiba-tiba ia berseru, “Hoa Thian-hong, mau lari kemana? sambutlah sebuah seranganku.”

Weeesss! sebuah sapuan dahsytat segera di lontarkan. Hoa Thian Hoag sangat membenci akan ketajaman lidah

Kiu-im Kaucu yang selalu menghasut perpecahan diantara mereka, justru karena hasutannya membuat Tio Sam kob bersikeras akan bunuh Pek Kun-gie, ia kuatir dara itu bakal mati termakan hasutan dari Kiu-im Kaucu, sebab watak dari Tio Sam-koh sudah sangat dikenal olehnya.

Makin dipikir ia semakin gusar, sambil tertawa seram pedangnya dibacok kedepan.

“Criing….!” benturan keras terjadi, pedang dan toya saling membentur satu sama lain nya, letupan bunga api bermuncratan keem pat penjuru, dengan tubuh gemetar keras mereka sama-sama tergetar mundur satu langkah

Sejak dilahirkan belum pernah Hoa Tniao Hong mengalami kegusaran seperti hari ini, darah panas dalam dadanya terasa bergolak keras, dengan penuh kemarahan ia menerjang kemuka dan bentaknya nyaring, “Sambutlah bacokanku ini!” Dengan gerakan membacok rata bukit Hoa san, suatu jurus yang sederhana tapi cepat bagaikan sambaran kilat, pemuda itu lancarkan sebuah bacokan dahsyat ke arah musuhnya.

Kiu-im Kaucu tak ingin adu tenaga lebih jauh, sebab ia tahu tenaga dalam pemuda itu tidak berada dibawahnya, tapi dalam keadaan begitu mau tak mau terpaksa ia harus menyambut datangnya bacokan dengan jurus menyeberangi samudra dengan jembatan emas.

“Criing….!” sekali lagi terjadi benturan keras, pedang baja membacok keras diatas toya kepala setan membuat batu hijau yang diinjak Kiu-im Kaucu hancur berkeping-keping, sepasang kakinya terbenam sedalam dua tiga tun.

Dengan kalap Hoa Thian-hong membentak kembali, “Makanlah bacokanku ini!, makan bacokan ini! makan bacokan….”

Criiing! Criiing! Criing! benturan nyaring berpadu dengan bentakan kalap menciptkan suara tajam yang memecahkan kesunyian ditengah malam itu, begitu nyaring suaranya sampai separuh kota Lok yang jadi gempar dibuatnya.

Sesaat kemudian pintu penginapan terbentang, Chin Wan- hong sambil memayang mertuanya lari ke arah jalan raya.

Tampaklah sepasang kaki Kiu-im Kaucu sudah terbenam ditanah sebatas lutut, rambutnya terurai lucu, mukanya menyeringai seram sementara Hoa Thian-hong sambil putar pedang bajanya membacok tubuh Kiu-im Kaucu dengan kalap, bentakan-bentakan dahsyat menggelegar tiada hentinya membuat pemuda itu ibaratnya iblis yang sudah gila.

Pemandangan yang terbentang didepan mata pada waktu itu benar-benar mendebarkan hati, dua orang jago lihay dengan putar dua macam senjata yang berbeda saling membacok dengan dahsyatnya.

Hoa Hujin amat terperanjat, ia tak habis mengerti apa sebab terjadinya pertarungan itu, meskipun ilmu silatnya sudah punah, pengalaman dan pengetahuannya bertambah luas.

Dalam sekilas pandangan ia telah mengetahui bahwa posisi Kiu-im Kaucu masin kuat dan belum kalah, kendatipun keadaannya sangat mengenaskan, sedang putranya walaupun berada dipihak penyerang namun sama sekali tidak meraih keuntungan apa-apa, bila pertarungan seperti ini dilanjutkan maka akhirnya lebih baik korban jiwa daripada merebut kemenangan.

Chin Wan-hong dengan air mata bercucuran segera berseru, “Ibu, apa yang telah terjadi?”

Hoa Hujin angkat bahu, tiba-tiba ia membentak keras, “Seng ji, serang tubuh bagian bawah!”

Sejak kecil Hoa Thian-hong sudah biasa menuruti perkataan ibunya, meskipun sekarang pikirannya sudah kabur terpengaruh hawa amarah namun pendengarannya masih tajam.

Mendengar seruan terebut, tanpa berpikir panjang lagi pedangnya segera berputar menyapu tubuh bagian bawah dari Kiu-im Kaucu.

Ketua dari perkumpulan Kiu-im Kaucu ini membentak nyaring, tiba-tiba toyanya disilang kebawah…. Traaang! sekali lagi terjadi ben trokan nyaring, nenek tua segera loncat naik keudara dan menggunakan daya pantul tersebut badannya meleset sejauh empat tombak dari tempat semula. Hoa Thian-hong melotot besar, dengan sinar berapi-api ia memburu kedepan dengan langkah lebar.

“Engkoh Hong, jangan dikejar! jerit Chin Wan-hong sambil menangis.

Kiu-im Kaucu sendiri tanpa mengucapkan sepatah katapun segera berlalu dari sana sambil menyeret toya kepala setannya, suara gemerincingan yang nyaring mengiringi langkahnya yang sempoyongan.

Meskipun langkahnya lambat, Hoa Thian-hong jauh lebih lambat lagi, ternyata pemuda itu tak mampu menyusul lawannya.

Pada saat itulah Tio Sam-koh muncul dari seberang jalan, ketika mereka berpapasan nenek she Tio itu dengan muka hijau membesi dan amat tak sedap dipandang segera melancarkan satu serangan keatas kepala Kiu-im Kaucu.

Atas datangnya ancaman itu Kiu-im Kaucu sana sekali tak berkutik, menanti toya baja hampir mengenai kepalanya dia baru tarik senjatanya untuk menangkis.

Traaang….! benturan nyaring memekikkan telinga, Tio Sam-koh merasa telapak tangannya jadi pecah, toya baja mencelat keudara dan jatuh diatas atap rumah.

Tio Sam-koh tertegun, ketika Kiu-im Kaucu lewat disisinya dengan sempoyongan ia tak tahu musti mengejar atau menghindar.

Hoa Hujin dengan alis berkernyit segera berseru kepada menantunya, “Luka dalam yang diderita Seng ji amat parah, cepat bimbing dia pulang kepenginapan!” Buru-buru Chin Wan-hong menyusul kedepan, sambil memayang suaminya ia berbisik lembut, “Engkoh Hong, ibu suruh kau kembali, tak usah dikejar lagi!”

Hoa Thian-hong terperangah, ia lirik sekejap ke arah Tio Sam-koh lalu putar badan dan kembali kepenginapan.

Demikianlah, dibawah bimbingan istrinya, Hoa Thian-hong kembali kedalam kamar, Hoa Hujin dan Tio Sam-koh mengikuti dibelakangnya, lewat sesaat Siau Ngo-ji muncul pula sambil memikul toya nenek Sam popo nya, semua orang membungkam dan suasana amat sunyi.

Chin Wan-hong Sangat menguatirkan keselamatan suaminya, lama kelamaan habislah sabarnya, ia segera berbisik lembut kepada suaminya, “Engkoh Hong, cepatlah semedi dan atur pernapasan, luka dalammu sangat parah, kalau tidak diobati maka luka itu akan semakin parah!”

Hoa Thian-hong mengangguk, tapi ia tetap tak berkutik dari tempat semula.

Chin Wan-hong memelelehkan air matanya, ia berpaling ke arah mertuanya dan berharap Hoa Hujin yang suruh pemuda itu duduk bersemedi.

Hoa Hujin kerutkan dahinya rapat-rapat, setelah hening sebentar akhirnya sambil tertawa ia berkata, “Sam-koh, menang kalah adalah kejadian yang umum bagi kita orang persilatan, ceritakanlah apa yang telah terjadi?”

“Pek Kun-gie telah mampus diujung toya ku!” teriak Tio Sam-koh dengan penuh kegusaran. Paras muka Hoa Hujin dan Chin Wan-hong berubah hebat, lebih-lebih gadis she Chin, sambil menjerit kaget tubuhnya gemetar keras.

Tiba-tiba Hoa Thian-hong berseru tertahan, ia muntah darah segar hingga seluruh tubuhnya basah oleh darah….

Chin Wan-hong semakin ketakutan, ia segera menggunakan secarik kain untuk menyeka noda darah diujung bibir suaminya, bibir bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu namnn tak sepatah katapun yang sanggup di utarakan keluar.

Rupanya ketika Siau Ngo-ji belum kembali juga, semua orang merasa kuatir dan segera menyuruh Hoa Thian-hong mengamati dari atas atap rumah sekalian meronda disekitar sana untuk mencegah ada musuh menyusup masuk.

Baru saja pemuda itu meronda, tiba-tiba dia saksikan Kiu- im Kaucu menyergap Pek Kue Gie, ia segera menburu ketempat kejadian un tuk memberi pertolongan.

Siau Ngo-ji sendiri setelah lari kembali kepenginapan, segera menceritakan kejadian itu kepada semua orang, Tio Sam-koh ingin melihat keadaan dan ikut keluar rumah, siapa tahu malah terjadi kejadian seperti diatas, karena itu Hoa Hujin berdua yang tinggal dikamar sama sekali tak tahu apa yang sudah terjadi.

Sekarang ketika Hoa Hujin mendengar laporan yang mengatakan bahwa Tio Sam-koh telah membunuh Pek Kun- gie dan dari sikap dan gerak-geriknya yang gusar sama sekali tak menunjukkan kebohongannya, segera mengira apa yang dikatakan benar-benar telah terjadi, sambil berusaha tetap tenang diapun berkata, “Kalau toh sudah dibunuh yaaa sudahlah, dua puluh tahun terakhir memang ada delapan sembilan puluh persen jago dari golongan lurus dan sesat yang telah mampus, mereka yang takdir harus mampus akhirnya tetap mampus, yang harus hidup tetap akan hidup, mereka yang sudah mati tak akan bangkit kembali, buat apa kita pusing memikirkan persoalan ini?”

“Siapa yang bilang aku pusing?” teriak Tio Sam-koh penuh kemarahan.

“Sam popo, sudahlah jangan bicara lagi!” pinta Chin Wan- hong dengan sedih.

“Hnm aku senang bicara, siapa yang berani melarang aku?” Hoa Hujin tertawa paksa.

“Nenek tua, toh tak ada orang yang bilang perkataanmu salah, buat apa musti berteriak-teriak?”

Kepada putranya ia melanjutkan, “Aku tahu Pek Kun-gie mencintaimu, kalau dibicarakan dia memang patut dikasihani apalagi kedatangannya pada malam ini adalah untuk memberi kabar buruk untukmu pergilah untuk urusi layonnya dan simpan dalam kuil, aku rasa orang-orang dari Sin-kie-pang pasti akan mengangkutnya kembali ke bukit Toa pa san.”

“Ibu….!” pinta Chin Wan-hong dengan alis mata bercucuran, “bagaimana kalau kita angkut kembali ke perkampungan Liok Soat Sanceng dan dikubur dalam kuburan keluarga kita?”

“Tak mungkin, pertama tak cocok dengan adat istiadat dan kedua Pek Siau-thian belum tentu setuju!”

Perlahan-lahan Hoa Thian-hong bangkit berdiri, bisiknya dengan suara kaku, “Ananda segera pergi!” Ia putar badan dan melangkah ke pintu.

“Gelinding kembali!” tiba-tiba Tio Sam-koh membentak nyaring.

Hoa Thian-hong kembali kehadapan nenek tua itu sambil bertanya, “Sam popo masih ada pesan apa?”

Dari sikapnya yang kaku dan suaranya yang kosong dan hampa, Chin Wan-hong tahu bahwa suaminya amat sedih hingga kelewat batas, ia jadi murung sekali, kepada Hoa Hujin pintanya, “Ibu, bolehkah aku menemani engkoh Hong?”

Hoi hujin berpikir sebentar, lalu mengangguk, “Baiklah, hati-hatilah dijalan dan hadapi semua urusan dengan seksama!”

Tiba-tiba Tio Sam-koh tertawa dingin, katanya, “Pek Kun- gie belum mampus! ketika aku mengejar dan beri sebuah babatan, sayang babatan itu tidak mengena disasaran….

Haaah…. haaah sayang! sayang! haaah…. haah…. itulah balasannya!”

Sekujur badan Hoa Thian-hong bergetar keras, matanya melotot bulat dan menatap Tio Sam-koh tanpa berkedip.

oooooOooooo 67

“SAM POPO!” rengek Chin Wan-hong dengan sedih, “aku tahu engkau paling sayang Hong ji, tapi bagaimana keadaan Pek Kun-gie? apa yang musti disayangkan? apa pula yang kau artikan sebagai balasannya, Sam popo, berilah keterangan yang jelas!” Tio Sam-koh tertawa dingin.

“Heeeh…. heeeh…. heeeehh…. pukulan toyaku meleset dari sasaran, apakah aku tak patut merasa sayang? soal balasan…. haaah…. haaah…. lebih baik tak usah dibicarakan lagi.”

“Hey nenek tua, kau ikut jadi edan?” tegur Hoa Hujin. “Hmm! jadi kalian ingin tahu?”

“Benar! persoalan ini menyangkut masalah besar, tentu saja kami ingin tahu.”

Tio Sam-koh tertawa seram.

“Heeh…. heeh…. heeeh…. baiklah, aku akan beritahukan kepada kalian, Pek Kun-gie telah lolos dari ayunan toyaku dan dia ditawan orang lain”

“Ditawan siapa?” tanya Hoa Hujin keheranan. “Pia Leng-cu!”

Paras muka Hoa Hujin berubah hebat, hatinya jauh lebih bergetar daripada mendengar berita kematian Pek Kun-gie.

Tiba-tiba Hoa Thian-hong sempoyongan, sekali lagi ia muntah darah segar.

Chin Wan-hong merasakan hatinya sakit bagaikan di iris- iris, cepat ia bimbing suaminya dan merengek, “Engkoh Hong, engkau harus jaga diri, memandang diatas wajah ibu, kau harus jaga diri!” Setelah berhenti sebentar, lanjutnya, “Ibu perkumpulan Thong-thian-kauw boleh dikata hancur ditangan Pek Siau- thian, apalagi Pia Leng-cu berhasil tangkap Pek Kun-gie, dara itu pasti akan dibunuh….”

“Kalau dibunuh sih tak perlu dikuatirkan!” kata Hoa Hujin sambil menghela napas panjang, “yang kutakuti justru….”

“Lalu bagaimana sekarang?” seru Chin Wan-hong pula dengan murung, tiba-tiba ia sadar apa yang dimaksudkan sebagai kejadian yang menakutkan itu, anggota badannya jadi dingin dan tubuhnya gemetar keras.

“Aaai!” Hoa Hujin menghela napas panjang, “dendam kesumat antara kedua belah pihak amat dalam, kecantikan Pek Kun-gie kelewat batas, sebagai siluman dari Thong-thian- kauw yang merupakan kawanan manusia cabul, aku takut kalau Pia Leng-cu….”

“Ibu” tiba-tiba Chin Wan-hong berlutut dengan air mata bercucuran.

Hoa Hujin kembali menghela napas panjang. “Katakanlah, kalau ingin bicara asal tidak melanggar

kebiasaan umum dan bertentangan dengan perbuatan seorang kesatria, aku pasti akan ijinkan!”

Tio Sam-koh melotot bulat, dengan gusar selanya, “Siau Ih! apa maksud perkataanmu itu? engkau bilang perbuatanku telah melanggar kebiasaan umum dan bertentangan dengan perbuatan seorang kesatria?”

“Sam-koh, jangan ribut dahulu,” sahut Hoa Hujin sambil tertawa, “sekarang dihadapan anak-anak akan kukatakan sesuatu hal untuk menghilangkan rasa curiga yang mencekam hatimu”

“Katakan!” seru Tio Sam-koh sambil tertawa dingin. Air muka Hoa Hujin berubah jadi amat serius, katanya,

“Kecantikan Pek Kun-gie ibaratnya bidadari yang turun dari

kayangan, dia merupakan incaran dari setiap pria dan pemuda di dunia, Hong ji berbakti dan jujur, dia adalah contoh menantu yang paling baik, sedang aku Bun Siau-ih belum tua….”

“Maksudmu aku Tio Sam-koh sudah tua reyot dan tak berguna lagi?! tukas nenek itu marah.

Hoa Hujin tersenyum, dengan serius lanjutnya, “Nenek tua, ringkasnya saja aku katakan, keluarga Hoa dapat memperoleh Hong ji sebagai menantu, kejadian ini merupakan sesuatu yang beruntung bagi keluarga kami dan aku Bun Siau-ih sudah merasa amat puas serta tidak mengharapkan apa-apa lagi, kau anggap aku bisa sia-siakan dirinya?”

Semua orang membungkam dalam seribu bahasa, sebab perkataan itu bukan saja tegas bahkan meyakinkan.

Walaupun ilmu silat yang dimiliki Hoa Hujin sudah punah, tapi kegagahan serta jiwa kesatrianya masih merupakan lambang kebenaran bagi kaum lurus didunia persilatan, ia tak akan bicara sembarangan. mencemooh orang dengan seenaknya atau memuji seseorang tanpa dasar yang kuat, kejujuran serta keterbukaannya ini sangat dikagumi dan dihormati umat persilatan dan apa yang dikatakan tegar bagaikan emas. Oleh sebab itulah walaupun Tio Sam-koh seorang jago yang berwatak keras, akan tetapi hatinya takluk dan kagum sekali terhadap jago wanita itu.

Chin Wan-hong terharu sekali hingga air mata bercucuran, sapanya lirih, “Ibu….”

“Bangunlah, mari kita bicarakan lebih jauh!” ujar Hoa Hujin lembut.

Tio Sam-koh segera berpaling dan melotot gemas ke arah Hoa Thian-hong, katanya ketus, “Hey, mengertikah engkau dengan kata yang berbunyi, Ibu bijaksana istri setia? keluarga Hoa bukan keluarga kecil yang kampungan, engkau harus sadar akan hal ini.”

“Selamanya Seng ji selalu cinta dan hormat kepada enci Hong” sahut Hoa Thian-hong.

“Kalau memang begitu, kularang engkau mencintai orang lain!” hardik Tio Sam-koh.

Melihat suaminya dibuat tersipu-sipu, Chin Wan-hong segera menukas, “Meskipun Pek Kun-gie berasal dari keturunan gerombolan persilatan, tapi dia pribadi adalah seorang gadis yang suci bersih….”

“Jangan memuji musuh! kembali Tio Sam-koh memotong dengan nada geram.

Chin Wan-hong tertegun, ketika dilihatnya paras muka mertuanya tetap wajar, ia memberanikan diri dan berkata lagi kepada diri Tio Sam-koh, “Sam popo, walaupun Pek Kun-gie berasal dari lumpur namun ia sendiri sama sekali tidak ternoda, dia benar-benar seorang nona yang luar biasa, andaikata orang lain yang menggantikan kedudukannya, mungkin sedari dulu-dulu mereka sudah terjerumus kedalam lembah kenistaan!”

“Goblok! engkau lupa, ketika untuk pertama kalinya dia menyiksa dan menganiaya Seng ji? Hmmm! sampai matipun aku tak akan melupakan kejadian ini”

“Siksaan terjadi karena cinta, dia hanya ingin paksa engkoh Hong untuk tunduk kepadanya dan sama sekali tiada maksud mencelakainya, seorang manusia sejati tak akan mengingat dendam lama, seorang kesatria tak akan mengingat masalah yang sepele, buat apa kita ingat kejadian yang sudah lampau?”

Sorot matanya dialihkan keatas wajah Hoa Hujin, kemudian melanjutkan, “Ibu, keluarga kita terkenal karena dasar hidup kita adalah kebajikan dan kebenaran, karena itu engkoh Hong disegani dan dihor mati rekan-rekan persilatan, kalau kita biarkan Pek Kun-gie terjatuh ke tangan Pia Leng-cu tanpa berusaha ditolong, umat persilatan pasti akan mentertawakan kita.”

“Bodoh amat budak ini!” pikir Tio Sam-koh dihati, “dia hanya tahu mencari muka di hadapan suaminya, apa tak terpikir olehnya bagaimana akibat dari perbuatannya itu?”

Dalam keadaan terdesak, tiba-tiba dia lihat Siau Ngo-ji duduk terpekur disudut ruangan dengan wajah melongo, dengan gusar dan gemas ia segera mengerling sekejap ke arahnya.

Melihat kerlingan itu, Siau Ngo-ji putar biji matanya dan diam-diam melirik sekejap ke arah Hoa Hujin.

Dengan ilmu menyampaikan suara, buru-buru Tio Sam-koh berbisik, “Jangan kuatir, kalau punya akal setan utarakan keluar, kalau ada apa-apa akulah yang akan bertanggung jawab!”

Mendengar bisikan itu, Siau Ngo-ji segera berteriak keras, “Aduuh…. enso!…. aduh….”

“Ada apa?! tanya Chin Wan-hong tercengang.

Dengan muka panik dan penuh kegelisahan Siau Ngo-ji berseru, “Isi perut toako mengalami luka yang sangat parah, kenapa tidak kau buatkan obat agar bisa dia minum?”

“Tiada obat yang lebih baik….”

“Ah, luka yang kuderita cuma luka kecil! tukas Hoa Thian- hong dengan cepat” asal beristirahat sebentar tentu akan sembuh dengan sendirinya, tak usah minum obat lagi!”

Selesai berkata, ia lantas duduk di kursi dan mulai mengatur pernapasan untuk menyembuhkan luka tersebut.

Sebaliknya Siau Ngo-ji masih tetap ngotot dengan pendiriannya, dengan muka serius dia berkata lagi, “Duduk bersemedi sambil atur pernapasan memang penting tapi minum obatpun merupakan hal yang penting juga”

“Betul!” Sambung Tio Sam-koh dengan cepat, “itu namanya pengobatan luar dalam, dengan begitu pastilah luka yang diderita akan sembuh dengan lebih cepat lagi”

“Dewasa ini musuh tangguh sedang mengitari kita dan toako adalah jenderal perang kita, “Enso! lebih baik cepat- cepatlah buatkan obat agar kesehatan toako segera pulih kembali seperti sedia kala” “Baik, baik aku segera akan membuatkan obat baginya” jawab Chin Wan-hong dengan gugup.

Buru-buru ia lari ke tepi pembaringan, membuka buntalannya dan membuat obat mujarab.

Sebenarnya gadis ini sudah mempersiapkan serangkaian penjelasan, permohonan serta cengli-cengli yang menerangkan bahwa Hoa Thian-hong harus segera berangkat untuk menolong Pek Kun-gie tetapi setelah dipotong oleh Siau Ngo-ji dengan teriakan-teriakannya maka persoalanpun untuk sementara waktu jadi tertunda.

Hoa Hujin sendiri pun bukan manusia sembarangan, dalam hati diapun sudah mempunyai perhitungan sendiri mengenai kejadian tersebut, akan tetapi berhubung jejak Pia Leng-cu sukar ditemukan dan diapun menyadari betapa sulitnya pekerjaan menolong orang ini maka apa yang dipikir hanya disimpan dalam hati dan tak sampai diutarakan keluar.

Dalam pada itu, Chin Wan-hong telah mengambil sebutir obat ditambah lagi dengan beberapa macam rumput obat setelah ditumbuk semua jadi bubuk maka hancuran bubuk tersebut digilas menjadi serbuk halus.

Siau Ngo-ji yang nakal diam-diam menyelinap ke samping ensonya kemudian berbisik lirih, “Enso, banyak bicara pasti akan ketahuan boroknya inilah penyakitku yang paling parah”

“Kenapa?” tanya Chin Wan-hong keheranan.

“Engkau adalah menantu yang belum lama mengalami malam pengantin, selama berada didepan mertua lebih baik banyak kerja kurangi bicara, meskipun tidak mengharapkan jasa, paling sedikit tidak pula merugikan diri sendiri, terutama dalam masalah Pek Kun-gie, alangkah baiknya kalau engkau berdiam diri, jangan kau urusi apa yang akan toako lakukan, daripada mencari penyakit bagi diri sendiri dikemudian hari.

“Tapi Pek Kun-gie adalah seorang nona yang sangat baik” bisik Chin Wan-hong.

“Ssstt jangan keras-keras!” desis Siau Ngo-ji sambil tempelkan jari tangannya di bibir, “di kolong langit memang banyak nona yang baik, tapi enso baik kepada toako belum tentu baik kepadamu”

“Ah masa iya, kalau baik pada toako tentu baik pula kepadaku!”

“Aduuh enso, janganlah berlagak bodoh!” seru Siau Ngo-ji dengan cepat, “kalau ada sebiji kue, alangkah baiknya kalau dinikmati sendiri, kenapa mesti kau bagikan untuk orang lain?”

Diam-diam Chin Wan-hong tertawa geli, dia tidak menggubris obrolan bocah itu lagi, sambil membawa cawan air teh dan obat yang baru dibuat ia menghampiri suaminya.

Siau Ngo-ji yang konyol segera berseru keras, “Toako, ketahuilah langit biar besar bumi biar lebar, yang penting umur kita biar paling panjang, usia bibi paling panjang, usia mu nomor dua dan cepat-cepatlah minum obat lantas naik pembaringan dan tidur….”

Hoa Thian-hong tidak berbicara apa-apa, ia terima obat itu dan sekali teguk menghabiskan isinya, kepada istrinya diam- diam ia lempar sebuah kerlingan penuh rasa terima kasih.

Chin Wan-hong balas mengerling sekejap ke arah suaminya, dibalik sorot matanya yang lembut penuh berisikan pengertian yang mendalam. Sepasang suami istri ini saling berpandangan menggantikan ucapan, apa yang dibicarakan pun persoalan yang menyangkut diri Pek Kun-gie, walaupun Siau Ngo-ji cerdik dan banyak akal tentu saja sebagai bocah tentu saja ia tak akan menduga sampat ke situ.

Setelah menerima mangkuk obat yang kosong, Chin Wan- hong kembali ke tepi pembaringan, kepada Hoa Hujin bisiknya lirih.

Ibu, menolong orang ibarat menolong kebakaran, persoalan ini tak dapat ditunda-tunda lagi.

Mendengar bisikan itu, Tio Sam-koh semakin panik, dengan mendongkol ia lantas melotot ke arah Siau Ngo-ji.

“Bocah setan! Ide setan apa lagi yang telah kau usulkan?” “Aku tidak mengemukakan ide apa-apa!” jawab Siau Ngo-ji

dengan gugup.

Tio Sam-koh semakin gusar.

“Huh! Aku lihat kau berkemak-kemik disisi telinga Hong ji, kemudian Hong ji berkemak-kemik pula disamping telinga ibunya kalau bukan engkau yang keluarkan usul, lantas siapa lagi?”

Dengan gemas ia ayun telapak tangannya siap menggaplok.

Siau Ngo-ji jadi ketakutan, dia lari kedepan dan bersembunyi dibelakang Chin Wan-hong.

“Urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan aku” serunya dengan gelisah. Pada saat itulah dari luar pintu terdengarlah suara langkah kaki orang, disusul pelayan mengetuk pintu.

“Sam po po, ada urusan penting!” Siau Ngo-ji segera berseru.

Ia lari keluar dan membuka pintu, kemudian bocah itu muncul kembali sambil membawa secarik kertas, sambil diangsurkan kedepan Tio Sam-koh ujarnya lirih, “Surat ini ditulis Ko toako, silahkan Sam po po membaca lebih dulu.”

Tio Sam-koh mendengus dingin, dia sambar kertas tadi dan dibaca isinya,

“Kiu-im Kaucu telah mengundurkan diri keluar kota, sekarang ia bercokol diatas sebuah perahu pembesar, anak buahnya dalam perahu itu banyak sekali, belum jelas apa rencana selanjutnya.

tertanda: Ko Tiay.”

Selesai membaca isi surat itu, Hoa Hujin lantas tertawa dan berkata, “Wah, kalau pihak lawan mau turun tan an disungai, keadaan jadi makin serius!”

“Toako, bagaimana dengan ilmu berenangmu?” tanya Siau Ngo-ji.

“Kalau dipaksakan sih masih mampu! Aku sendiripun kalau dipaksakan masih mampu, tapi bagaimana dengan Sam po po?”

Tio Sam-koh tertawa dingin. “Heeeh…. heehh…. heehh…. aku nenek tua tak dapat dibandingkan dirimu, aku adalah ayam daratan, sekali tercebur kedalam air lantas tenggelam!”

“Aku juga begitu!” seru Siau Ngo-ji lagi, terapung cuma sebentar lalu tenggelam kedalam air, bagaimana dengan enso?”

“Aku sama sekali tak mampu” jawab Chin Wan-hong dengan wajah murung bercampur kesal.

Setelah berhenti sebentar, sambungnya kembali, “Arus di sungai huang-ho amat deras, celaka kalau pihak musuh melubangi dasar perahu setelah kita berada ditengah sungai, dalam keadaan begitu perahu kita pasti tenggelam, sekalipun Hoa toako punya kepandaian yang lihay belum tentu dia mampu melindungi kita semua”

Kalau kita tak berani menyeberangi sungai, memangnya kita harus bercokol terus di sini?” sela Tio Sam-koh dengan berangnya.

“Kawanan manusia itu terlalu menghina orang!” seru Hoa Thian-hong pula dengan marah, aku ingin sekali memberi….”

Tiba-tiba ia menengok ke arah ibunya dan membungkam. “Pihak musuh jauh lebih kuat daripada kita, menurut

pendapatku alangkah baiknya kalau sementara waktu kita hindari pertarungan dengan kekerasan” ujar Hoa Hujin.

Sesudah berpikir sebentar, ia melanjutkan, “Bagaimana dengan lukamu?”

“Luka ananda tak berapa, ibu tak usah menguatirkan!” “Dengan daya diriku sebagai beban, memaksakan diri untuk menyeberangi sungai adalah suatu tindikan yang terlalu menempuh bahaya, kalau kita pindah kedermaga lain, rasanya keadaanpun tak akan jauh berbeda, satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh seka rang adalah berdiam dulu disini untuk beberapa saat, kemudian baru mencari akal lain”

“Tapi kita musti berdiam disini sampai kapan?” seru Tio Sam-koh dengan cepat.

Hoa Thian-hong tertawa.

“Bagaimanapun toh kita tak ada urusan, apa salahnya kalau kita ajak pihak musuh untuk beradu kepandaian sampai pada akhirnya?”

Kepada Hoa Thian-hong ujarnya pula, “Untuk sementara waktu kita tak usah menentukan jadwal pemberangkan, sekarang pergi sambangi dulu engkoh cilik she Ko itu kemudian baru selidiki lagi kekuatan pihak lawan, setelah mendapat pelajaran tadi aku pikir Kiu-im Kaucu serta orang- orang dari Mo-kauw tak akan berani datang lagi, selidikilah jejak musuh dengan secermat mungkin, engkau tak usah terburu-buru pulang kesini”

Siau Ngo-ji yang cerdik segera tergerak hatinya sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Aaah, tidak benar, dibalik ucapan tersebut rupanya mengandung maksud lain, bukankah terangkan hujin suruh toako selidiki jejak dari Pia Leng-cu serta menyelamatkan Pek Kun-gie?”

Berpikir sampai disitu, dia lantas menimbrung dari samping, “Kalau toako hendak menyambangi Ko toako, ajaklah aku! akan kutunjukkan tempat tinggalnya” “Siau Ngo-ji tak usah ikut, lebih baik kau berdiam saja dirumah penginapan!” seru Hoa Hujin kembali, “mulai besok kau harus belajar membaca dan menulis, siang hari waktu senggang boleh membicarakan soal ilmu silat, jangan kau pedulikan urusan lain lagi, baik situasi gawat atau aman, tugasmu hanya belajar membaca dan menulis!”

Agak tertegun Siau Ngo-ji setelah mendengar perkataan itu, kemudian dengan alis berkenyit dan muka masam serunya, “Oooh bibiku yang baik, bagi seorang ahli silat asal kenal tulisan toh sudah lebih dari cukup!”

“Bagi seorang lelaki sejati, kalau tak bersekolah mana mungkin bisa mengatasi masalah besar, Sengji! kau boleh berangkat” kata Hoa Hujin dengan serius.

Hoa Thian-hong segera mengiakan, setelah memberi hormat kepada ibunya dan Tio Sam-koh, berangkatlah pemuda itu tinggalkan ruang penginapan.

Siau Ngo-ji adalah seorang bocah gelandangan yang sejak kecil sudah hidup terlunta-lunta ditengah jalan raya, karena penghidu pannya itu maka perkembangan jiwapun terpengaruh oleh lingkungannya, ia hanya tahu apa artinya budi dan setia kawan, tapi tak tahu arti kasih sayang, ia menyayangi Chin Wan-hong karena gadis itu memperha tikan dirinya, karena itu dia kuatir kalau Hoa Thian-hong menggunakan kesempatan itu pergi menolong Pek Kun-gie.

Hanya saja karena berani dihadapan Hoa Hujin, maka ia tak berani bertindak semaunya sendiri.

Ketika dilihatnya Hoa Thian-hong sudah berlalu, buru-buru ia mengerling ke arah Tio Sam-koh dan mengharapkan bantuan dari nenek itu untuk menghalangi kepergian toakonya. Siapa tahu Tio Sam-koh adalah seorang jago perempuan yang bersifat blak-blakan, sudah tentu ia tak mengerti apa maksudnya kerlingan tersebut, setelah tertegun sebentar akhirnya aengan gusar dia menegur, “Eh setan cilik, mau apa kau kerling sana melirik kesini? Mau main setan dengan aku?!”

Siau Ngo-ji dibikin serba salah jadinya, dalam keadaan begini mau tertawa susah mau menangispun tak dapat, kembali ia putar biji matanya kemudian berseru, “Oh iya, aku lupa mengatakan sesuatu kepada toako”

Sambil berseru ia lantas lari keluar kepintu.

“Siau Ngo-ji, apa yang hendak kau katakan kepada toakomu?!” tegur Hoa Hujin.

“Aku mau beritahu kepada toako, dimana Ko toako sekarang berada!” sahut bocah itu sambil berpaling.

“Coba katakan dulu, dia ada dimana?” “Di See su….”

“Kau keliru!” jawab Hoa Hujin sambil tertawa, “saat ini ini pasti ada ditepi sunngai, ayoh cepat naik pembaringan dan tidur!”

Siau Ngo-ji garuk-garuk kepalanya yang tak gatal lalu menjawab, “Ooh iyaayaa…. semestinya dia ada ditepi sungai, maklum! pikiranku lagi kalut sehingga tak sempat berpikir panjang”

Dalam pada itu, Hoa Thian-hong sendiri sepeninggalnya dari rumah penginapan segera melayang naik keatas atap rumah dan bergerak menuju kepintu kota sebelah utara, sepanjang perjalanan tiada hentinya ia berpikir.

“Ibu adalah seorang pendekar wanita yang berjiwa besar, memandang diatas wajah Pek hujin sudah pasti ia setuju kalau kutolong Pek Kun-gie dari ancaman maut, yang paling mengagumkan adalah enci Hong, ia berjiwa besar dan berhati welas, bukan saja melupakan sekali pengalaman pahitnya dimasa lampau, malahan ia bantu bicara untuk kebaikan Kun Gie.”

Menyusul diapun berpikir lagi, “Bagai manapun juga aku harus memburu kesana dan memolong Kun Gie hingga lolos dari mara bahaya, bagaimanapun juga tujuanku hanya menolong orang, asal dia bisa diselamatkan dan kuantar kembali kegunung, awan hitam yang menyelimuti angkasapun akan buyar dengan sedirinya.”

Berpikir sampai disitu, diapun sudah tiba dipintu kota sebelah utara, ditengah kesunyian yang mencekam, tiba-tiba pemuda itu mendengar ada suara panggilan yang merdu berkumandang datang, “Thian-hong!”

Hoa Thian-hong terperanjat dan segera menghentikan langkah kakinya, cepat ia berpaling ke arah mana berasalnya suara panggilan itu.

Disebelah barat adalah sebuah bangunan loteng yang tinggi, jendela yang mungil perlahan-lahan terbentang lebar, dibawah cahaya lampu tampaklah seraut wajah cantik munculkan diri didepan mata.

Dengan ketajaman mata Hoa Thian-hong, hanya sekilas memandang ia segera kenali perempuan itu sebagai Giok Teng Hujin, hatinya berdetak keras dan untuk sesaat ia agak gelagapan. Sementara itu Giok Teng Hujin telah menggape ke arahnya sambil berbisik lirih, “Ayoh kemarilah, masa kau bisa kutelan?”

Terpaksa Hoa Thian-hong harus keraskan hati dan meloncat keatas loteng, katanya, “Cici, mau apa disitu? Saat ini siaute masihb ada urusan penting yang harus segera diselesaikan….”

“Periksa dulu sekitar tempat ini, kalau tak ada orang cepat masuk kemari, kita berbicara didalam saja!” pinta Giok Teng Hujin.

Hadiah Leng-ci dari perempuan ini bukan saja telah memunahkan racun teratai Tan hwe tok lian yang bersarang ditubuh Hoa Thian-hong, bahkan selama berlangsungnya pertarungan sengit dilembab Cu-bu-kok, sisa Leng-ci mujarab itu sudah menyelamatkan pula jiwa Suma Tiang-cing, Bong Pay serta Chin Giok-liong, itu berarti pemuda tersebut sangat berhutang budi terhadap dirinya.

Sebaliknya perempuan itu menaruh rasa cinta yang membara terhadap si anak muda itu, rasa cintanya yang begitu besar membuat perempuan tersebut rela berbuat apa saja dengan pemuda kekasihnya ini.

Hoa Thian-hong yang sadar bahwa ia berhutang budi kepadanya, tak berani menampik atau menegur tingkah laku perempuan ini, oleh sebab itulah di hari-hari biasa dia takut sekali kalau berjumpa dengan gadis ini.

Dan sekarang jalan perginya sudah terhadang, dalam keadaan demikian sulitnya bagi Hoa Thian-hong untuk meloloskan diri. Dengan muka berseri Giok Teng Hujin melirik sekejap ke arah pemuja itu, kemudian omelnya, “Eeh…. kenapa berdiri melongo terus disitu? ayoh cepat menggelinding masuk kemari”

Hoa Thian-hong angkat bahunya, dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa ia menerobos masuk kedalam jendela.

Giok Teng Hujin tersenyum manis, setelah pemuda itu masuk maka jendelapun ditutup rapat-rapat.

Tempat itu adalah sebuah kamar tidur dari kaum gadis, pembaringan terbuat dari gading dengan kelambu warna putih, sepreinya merah jambu dan bantalnya bersulamkan sepasang burung belibis, sepasang lilin yang berukirkan naga dan burung hong memancarkan sinarnya dengan terang benderang membuat suasana dalam kamar itu jadi terang dan bergairah.

Ditepi pembaringan sudah tersedia sebuah meja perjamuan, diatas meja tersedia sepasang sumpit, sepasang cawan, seteko arak wangi dan sebuah cawan kecil yang terbuat dari kaca, isinya adalah cairan warna putih.

Pui Che-giok dayang pribadi Giok Teng Hujin dengan wajah penuh senyuman berdiri di samping meja sedang Soat-ji rase berbulu salju itu mendekam diatas permadani tepat dibawah jendela.