Tiga Maha Besar Jilid 16

 
Jilid 16

SEMENTARA dia masih termenung sambil memikirkan persoalan itu, Kiu-im Kaucu telah membisikkan sesuatu ketelinga Pek Kun-gie. Dengan paras muka pucat pias bagaikan mayat, gadis itu secara beruntun mundur beberapa langkah kebelakang, sekujur badan-nya gemetar keras membuat atap rumah itu gemerisik suaranya.

0000O0000

64

KIU-IM KAUCU menyeringai seram, sambil tertawa keras serunya lagi, “Bagaimana? sekarang engkau pasti sudah percaya bukan, kalau aku hendak mencabut nyawa Hoa Thian- hong, maka soal itu bisa kulakukan dengan gampang sekali!”

“Hmm! selamanya perhitungan manusia tak dapat menangkap garis yang ditetapkan oleh takdir, selamanya dia akan lolos dari bahaya karena dilindungi oleh Thian!”

Hoa Thian-hong sendiripun berpikir dalam hatinya, “Kelicikan dan kekejaman Kiu-im Kaucu benar-benar melebihi kejahatan dari kelompok musuh yang sudah lewat, entah dia mempunyai siasat keji apa lagi sehingga begitu punya keyakinan untuk cabut nyawaku dengan mudah?”

Sementara ia masih termenung, Kiu-im Kaucu telah ulapkan tangannya sambil berkata, “Kalau toh engkau percaya kalau dia selalu dilindungi oleh Thian, pergilah tinggalkan tempat ini!”

Tapi dengan cepat Pek Kun-gie gelengkan kepalanya. “Aku tidak jadi pergi!” katanya.

Kiu-im Kaucu tertawa licik. “Tidak pergi juga malah lebih baik, engkau cantik jelita dan belum pernah kujumpai ada seorang nona yang mempunyai paras muka secantik dirimu. Aaai! sayang Hoa Thian-hong keparat cilik itu punya mata tidak berbiji”

“Jangan maki dirinya!” bentak Pek Kun-gie dengan gusar.

Baiklah, kalau toh engkau masih tetap tidak sadar dari lamunanmu yang kosong, akan kubuktikan kesemuanya dengan kenyataan, aku akan membuktikan sehingga engkau tahu kalan Hoa Thian-hong sebenarnya sama sekali tidak cinta kepadamu.

Mendengar perkatan itu, Pek Kun-gie berdiri termangu- mangu, beberapa waktu kemudian dia baru bertanya dengan suara gemetar, “Cara api yang hendak kau gunakan untuk membuktikan bahwa dia…. dia tidak mencintai aku!”

Kiu-im Kaucu tertawa licik.

“Cara itu sebenarnya sederhana sekali, mulai sekarang masuklah jadi anggota perkumpulan Kiu-im-kauw kami, anggap saja engkau sudah kena kutawan, cara ini sebenarnya terpaksa sekali tapi apa boleh buat lagi? toh kita hanya akan membuktikan apakah Hoa Thian-hong bakai muncul untuk menolong dirimu atau tidak!”

“Kenapa?” seru Pek Kun-gie dengan paras muka tercengang dan tak habis mengerti.

“Coba jawablah, seandainya aku berhasil menawan Thian- hong dalam keadaan hidup-hidup, bukankah engkau akan pertaruhkan jiwamu untuk menolong dia hingga lolos dari bahaya?” “Hem! kepandaian silatnya jauh lebih hebat dari engkau, tak mungkin kau mampu untuk menawan dirinya” seru Pek Kun-gie sambil mendengus dingin.

Kiu-im Kaucu tertawa kering.

“Jangan persoalkan kepandaian silat siapa yang lebih tinggi, jawab saja pertanyaanku ini! andaikata aku berbasil menangkap dirinya, apakah engkau akan menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut?”

“Tentu saja! tentu saja aku akan menyelamatkan jiwanya….Hmm! andaikata engkau mencelakai jiwanya, maka aku bersumpah tidak akan hidup berdampingan dengan dirimu, dan selama aku masih hidup maka aku akan selalu musuhi dirimu sehingga akhirnya engkau berhasil kubasmi dari muka bumi!”

“Tepat sekali perkataanmu itu!” seru Kiu-im Kaucu sambil menyeringai seram, “oleh karena kau mencintai Hoa Thian- hong maka engkau larang orang lain melukai dirinya, sebaliknya kalau Hoa Thian-hong benar-benar mencintai dirinya maka dengan sendirinya diapun melarang siapa pun melukai engkau, setelah engkau masuk jadi anggota perkumpulan Kiu-im-kauw kami, apabila Hoa Thian-hong menolong jiwamu itu berarti dia memang mencintai engkau, sebaliknya kalau dia tidak ambil peduli tentang persoalan ini dan tak mau tahu tentang mati hidupmu, itu berarti dalam hati kecilnya memang sama sekali tak pernah memikirkan tentang dirimu….!”

Hoa Thian-hong yang bersembnnyi ditempat kegelapan, diam-diam berpikir didalam hati. “Perempuan itu sangat lihay dalam hal berbicara, entah apa tujuannya memancing Kun Gie untuk masuk jadi anggota perguruannya, sungguh licik ketua ini!”

Tampaklah Pek Kun-gie gelengkan kepalanya dan menegaskan, “Aku tak mau mencoba hatinya!”

“Kenapa?” tanya Kiu-im Kaucu tercengang setelah terperangah beberapa waktu.

“Aku mengetahui tentang perasaan hatinya dan aku percaya kepadanya, kesemuanya itu sudah lebih dari cukup bagiku. Hmm! cin ta berada dalam kepercayaan, tak boleh dicoba mengertikah engkau akan teori ini?”

Kembali Kiu-im Kaucu tertawa licik.

“Aaaai, aku tak habis mengerti, kenapa di dunia terdapat seorang perempuan yang tergila-gila oleh seorang pria hingga kesadaran otakpun sampai terganggu.”

“Aku senang begini, kau mau apa?” potong Pek Kun-gie dengan penuh kegusaran, asal aku cinta padanya, peduli amat dia cinta kepadaku atau tidak, itu urusan pribadiku dan kau tak usah mencampuri urusanku itu”

Paras muka Kiu-im Kaucu yang pada dasarnya berwarna pucat, kini lerlintas oleh hawa nafsu membunuh yang sangat tebal tapi hanya sebentar saja telah lenyap kembali, ia tertawa licik sambil berseru, “Kalau begiti pergilah tinggalkan tempat ini, kalau tidak aku akan segera akan mencabut jiwamu, akan kulihat Hoa Thian-hong akan membalaskan dendam bagimu atau tidak?”

Pek Kun-gie mendengus dingin. “Hmm! engkau hendak mencelakai dirinya dengan menggunakan akal licik, aku sengaja tak mau pergi, engkau mau apa?”

“Kalau begtiu, artinya engkau sudah bosan hidup didunia dan ingin mencari kematian buat diri sendiri”

Sambil tertawa seram ketua dari perkum pulan Kiu-im-kauw itu segera menerjang kedepan dan melancarkan sebuah cengkeraman maut.

Pek Kun-gie dengan cekatan loncat kesamping untuk menghindarkan diri, ia singkap gaunnya dan cabut keluar sebilah pedang lemas yang memarcarkan cahaya tajam.

Pertama-tama Kiu-im Kaucu agak tertegun, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya dan segera berseru, “Oooh…. engkau juga menggunakan pedang lemas? apakah ibumu yang ajarkan kepandaian itu kepadamu?”

“Engkau tak usah mencampuri urusanku!” tukas Pek Kun- gie dengan ketus.

Bukannya gusar, Kiu-im Kaucu malah tertawa tergelak. “Haaaah…. haaahh…. haaahhh…. walaupuna ku sudah

lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, tapi aku

mengetahui dan memahami semua ilmu silat yang ada didunia serta asal usul dari manusia-manusia kenamaan da am kolong langit.”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Aku mengerti apa sebabnya secara tiba-tiba engkau menggunakan pedang!”

Pek Kun-gie tertegun lalu tertawa dingin. “Heehh…. heehh…. heehh…. aku menguasai beraneka ragam ilmu silat, aku senang memakai senjata apa itu toh urusan pribadiku sendiri, kenapa engkau musti mencampuri urusanku?”

Kiu-im Kaucu tertawa licik.

“Memang betul perkataanmu itu, mau pakai senjata apa memang urusan pribadimu, tapi pedang lemas adalah sejeais senjata yang paling sukar dipelajari, dari dulu engkau tidak memiliki dasar yang cukup kuat, tak mungkin kalau tanpa sebab engkau ganti memakai senjata lain, mungkin hal ini ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini….”

“Peristiwa apa?”

Kiu-im Kaucu tertawa keras, “Haahh…. haahh…. haahh…. baru-baru ini ayah mu mendapat kesempatan untuk membaca seluruh isi catataa Kiam keng Poh kui, mungkin ia telah ajarkan seluruh isi catatan tersebut dan menyuruh engkau ganti belajar ilmu pedang….Hmm…. hmmmm. tebakanku ini tidak keliru bukan?”

“Keliru besar!” teriak Pek Kun-gie dengan gusar.

Kiu-im Kaucu mengerutkan dahinya, dengan nada tak percaya dia balik bertanya, “Dimana letak kesalahannya?”

Senyum manis tersungging diujung bibir Pek Kun-gie, dengan wajah berseri dia menjawab, “Bukan ayahku yang ajarkan kepandaian tersebut kepadaku, tapi Thian-hong lah yang mewariskan kepandaian sakti itu kepadaku!”

“Eeei, kapan sih aku lelah ajarkan catatan ilmu pedang Kiam keng Poh kui tersebut kepadanya?” batin Hoa Thian- hong. Sementara itu Kiu-im Kaucu telah tertawa seram.

“Haah…. haahh…. haahh…. perduli siapakah yang telah ajarkan kepandaian itu kepadamu, pokoknya hari ini aku akan menawan dirimu, akan kulihat apakah ada orang yang akan menolong engkau atau tidak?”

Laksana sambaran kilat, ia segera menerjang kedepan sambil melancirkan sebuah totokan….

Setelah perempuan tua itu ambil keputusan untuk menawan orang, tentu saja sulit bagi Pek Kun-gie untuk melarikan diri.

Hoa Thian-hong yang bersembunyi ditempat kegelapan segera menyadari akan mara bahaya yang mengancam Pek Kun-gie, ia tahu apabila dirinya tidak muncul tepat pada waktunya, gadis itu niscaya akan terjatuh ketangan Kiu-im Kaucu.

Menyadari betapa kritisnya situasi pada waktu itu, tanpa banyak pikir lagi si anak muda itu segera munculkan diri, dengan suara dalam serunya, “Kaucu, harap ampuni jiwanya…. sambutlah penghormatan dari aku orang she Hoa”

Kiu-im Kaucu amat terperanjat, cepat-cepat ia melayang kembali ketempat semula.

Rasa malu bercampur gusar berkecamuk dalam dadanya, diatas paras mukanya yang pucat tiada berdarah terlintas warna merah dadu karena jengah, katanya dengan dingin, “Hmm! aku mengira untuk selamanya engkau akan menghindari diriku, tak tahunya ada juga waktunya untuk terpaksa munculkan diri dari tempat persembunyiannya” Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong segera berpikir didalam hatinya, “Meskipun orang ini amat licik dan berbahaya, tapi masih punya perasaan malu, ia tahu orang tua menganiaya kaum muda adalah suatu perbuatan yang memalukan, kalau dibandingkan kawanan iblis dimasa lalu, dia memang mempunyai moral yang jauh lebih tinggi….!”

Berpikir sampai disitu ia segera tertawa nyaring, setelah menjura ujarnya lagi, “Aku dengar kaucu berdiam dirumah penginapan Tiang seng dipintu kota sebelah utara, sekarang aku memang bermaksud untuk menyambangi dirimu disana!”

Diam-diam Kiu-im Kaucu merasa amat terperanjat, ia sama sekali tidak menyangka kalau Hoa Thian-hong mengetahui tentang jejaknya, dengan cepat dia balas memberi hormat sambil menyahut, “Kata menyambung kalau tak berani kuterima, sejak kau menikah sampai sekarang, aku belum sempat memberi selamat kepadamu, harap suka dimaafkan….”

“Kalau terlalu sungkan!” kata Hoa Thian-hong sambil tertawa, sorot matanya segera dialihkan ke arah Pek Kun-gie.

Sementara itu gadis she Pek itu berdiri dengan air mata bercucuran, sorot matanya yang sayu memandang wajah Hoa Thian-hong tanpa berkedip, diatas wajahnya yang suram tersungging satu senyuman manis, bibirnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun yang kedengaran.

Selama beberapa hari gadis ini tak enak makan tak nyenyak tidur, dia hanya berharap bisa bertemu dengan kekasih hatinya, dan sekarang setelah orang yang diimpi- impikan telah muncul didepan mata, ia merasa hatina remuk rendam, sakit sekali bagaikan di sayat dengan pisau tajam. Banyak rintangan yang telah dihadapi, banyak kesedihan yang telah dialami dan sekarang kekasih hatinya muncul didepannya, tapi ia tak dapat menubruk kedepan dan berbaring dalam pelukannya, banyak kata mesrah ingin diutarakan tapi tak sepatah katapun dapat dilontarkan keluar, yang ada hanya kesedihan, kesengsaraan serta siksaan batin yang tak terlukiskan hebatnya.

Lama sekali ia termenung akhirnya tersungginglah satu senyuman diatas wajahnya yang murung dan sayu, bibirnya bergetar keras dan muncullah serentetan suaara yang amat lirih, “Thian…. Hong….!”

Dua barisan air mata jatuh berlinang membasahai pipinya. Hoa Thian-hong merasakan hatinya amat sakit, pikirnya,

“Selama ini dia selalu mencintai aku, kalau tak ada diriku maka sering kali dia menganggap aku telah sehari dengan dirinya, dia selalu mengatakan kalau aku cinta kepadanya, bahkan sekarang dihadapan Kiu-im Kaucu pun bersikap demikian, kalau aku bersikap agak dingin kepadanya maka dia pasti akan kehilangan muka, betapa jengah dan malunya nanti….”

Sebagai seorang pria yang cukup romantis, dia tak tega membuat seorang gadis sengsara dan malu karena urusan kecil, tanpa sadar dia ulurkan tangannya kedepan dan mengape ke arah gadis itu.

Maksudnya dia suruh Pek Kun-gie mendekati ke arahnya dan berdiri diaampingnya, tapi ia sama sekali tak tahu kalau gerakannya yang amat sederhana itu telah disalah artikan oleh dara tadi, bagi sang gadis yang sedang dimabok cinta, ia telah mengartikan uluran tangan itu sebagai suatu maksud yang amat mendalam…. Mula-mula Pek Kun-gie agak tertegun, kemudian dengan badan gemetar tiba-tiba ia menjerit sambil menangis, “Oooh….Thian-hong.”

Dia segera menubruk kedepan dan menjatuhkan diri kedalam pelukan si anak muda itu.

Dalam kejut dan girangnya, dara itu telah melupakan segala-galanya, isak tangis tak dapat dikendalikan lagi dan meluncurlah dari balik bibirnya.

Pada saat ini ia peluk tubuh Hoa Thian-hong erat-erat, jatuhkan diri kedalam rangkulannya dan menangis tersedu- sedu, dalam sekejap mata pakaian si anak muda itu sudah basah oleh air mata, sambil membelai rambat Kun Gie yang panjang, bisiknya dengan lembut, “Jangan menangis, berdirilah kesamping…. aku akan beradu kepandaian lebih dahulu dengan Kiu-im Kaucu….”

Belum habis dia berkata, mendadak dari dalam rumah penginapan berkumandang suara yang amat gaduh, suara itu amat lirih dan tak begitu jelas tapi serentetan suitan panjang yang tinggi melengking segera menyusul dibelakang dan menggema di angkasa.

Hoa Thian-hong amat terperanjat, ia segera menengadah dan menyaksikan sesosok bayangan manusia sambil mengempit seseorang melayang kekar dari halaman belakang rumah penginapan itu, sambil membawa suitan panjang yang melengking laksana sambaran kilat orang itu kabur menuju ke arah selatan.

Gerak tubuh orang itu sangat cepat dan sama sakali tidak berada dibawah kepandaian Hoa Thian-hong maupun Kiu-im Kaucu, pekikan nyaringnya membelah kesunyian ditengah malam buta, hanya sebentar saja bayangan hitam tadi sudah lenyap dari pandangan mata.

Pada saat yang bersamaan, Kiu-im Kaucu pun berlalu dengan gerakan yang amat cepat, dalam sekejap mata ia sudah mengejar jauh kedepan dan lenyap dibalik kegelapan.

Hoa Thian-hong amat terperanjat, kepada Pek Kun-gie segera serunya dengan hati cemas, “Cepat pulang kerumah, dan jangan sembarangan pergi ke-mana-mana…. tahu?”

Tanpa menunggu jawaban ia segera loncat turus dari atas atap rumah dan didalam dua kali loncatan ia sudah tiba dirumah penginapan, dengan gerak tubuh yang sangat cepat ia menerjang masuk kedalam ruangan dimana ibunya berada.

Terlihatlah pintu kamar sudah diterjang orang sehingga hancur jadi berpuluh-puluh keping dan tersebar dimana-mana, dinding ruang an ambruk selebar tiga empat depa, hancuran kayu dan batu bata berterakan dimana-mana, bahkan pembaringanpun sampai penuh debu.

Ketika ia melayang turun didalam ruangan itu tampaklah Hoa Hujin, Tio Sam-koh, Chin Wan-hong dan Siau Ngo-ji berkumpul diluar kamar, kecuali Hoa Hujin masih bersikap tenang, paras muka tiga orang lainnya boleh dibilang telah berubah hebat.

Setelah mengetahui kalau keempat orang itu berada dalam keadaan selamat, Hoa Thian-hong merasa hatinya lega sekali, ia mendekati ibunya seraya berbisik, “Ibu, tentunya engkau sangat terkejut?”

Hoa Hujin tersenyum. “Engkau telah anggap aku sebagai nenek tua dari dusun yang sama sekali tak berguna?”

Tiba-tiba Chin Wan-hong berseru, “Engkoh Hong, kabut kiu tok ciang tidak mungkin bisa ditarik kembali, kita harus cepat- cepat memusnahkannya daripada terhembus angin dan menyebar kemana-mana sehingga meracuni mereka yang tak bersalah.”

“Lalu bagaimana caranya untuk memusnahkan kabut beracun itu?”

“Untuk memusnahkan pengaruh dari kabut racun itu sih mudah sekali, justru aku kuatir kalau sampai membakar rumah ini sehingga menimbulkan kebakaran!”

“Tidak jadi soal, musnahkan kabut beracun itu dan aku akan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang bakal terjadi.”

Sementara itu para tamu yang menginap dirumah penginapan tersebut telah terbangun dari tidurnya karena terperanjat, mereka sama-sama bergerombol disekitar sana menonton keramaian.

Chin Win Hoog segera meminjam lilin yang dibawa salah seorang tamu dan sekali sentil, cahaya api dengan cepatnya meluncur kedepan menyambar ketengah ruangan yang penuh dengan debu itu.

Ledakan keras terjadi, cahaya api menjilat keempat penjuru, tapi Hoa Thian-hong bertindak cepat, telapak kirinya segera diayun kedepan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Weeess….! desiran angin tajam menderu-deru, termakan oleh kekuatan yang terpancar dari angin pukulan, bunga api itu menggumpal jadi satu membentur bulatan api yang menggelinding diudara, hanya dalam sekejap mata cabaya api tadi sudah padam.

Menyaksikan kedahsyatan itu, Siau Ngo-ji segera berteriak keras, “Waaduuh…. ilmu silat apaan itu?”

“Bocah ingusan, ilmu telapak tak bisa kau bandingkan deagan ilmu pedang!” seru Tio Sam-koh sambil tertawa.

Hoa Thian-hong pun tersenyum, ujarnya, “Pukulan itu adalah jurus Kun siao ci tao dari Ciu It-bong, aaai…. sayang orang berbeda jalan sehingga harus menerima akhir yang mengenaskan, kalau dihitung-hitung aku masih berhutang budi kepada dirinya”

Tiba-tiba Siau Ngo-ji menuding keatas wajah Hoa Thian- hong dan berseru dengan nada tercengang, “Eeei…. Hoa toako, engkau barusan menangis!”

“Aaah…. ngaco belo apa lagi yang hendak kau katakan?!” seru Hoa Thian-hong sambil tertawa paksa.

Ia segera berpaling ke arah lain.

Sementara itu orang yang menonton keramaian berkumpul kurang lebih beberapa tombak jauhnya, dari beberapa orang itu, setelah ditegur oleh Siau Ngo-ji sehingga Hoa Thian-hong buru-buru harus berpaling ke arah lain untus menyembunyikan bekas air mata yang belum Kering, secara tiba-tiba ia temukan ada sepasang biji mata yang jeli sedang awasi pula dirinya dari balik kerumunan orang banyak, tapi sewaktu melihat pemuda itu berpaling ke arahnya, orang itu buru-buru menyembunyikan diri. Tak usah diawasi dengan lebih seksama lagi, si anak muda itu tahu kalau orang itu bukan lain adalah Pek Kun-gie, diam- diam dia merasa amat murung bercampur kuatir, pikirnya, “Dia begitu terpikat olehku, mungkin gadis itu bisa mengikuti aku sampai ke wilayah San see…. waahh…. bagaimana caranya aku selesaikan persoalan ini?”

Tiba-tiba pemilik rumah penginapan munculkan diri, setelah memberi hormat ia bertanya, “Tuan…. see…. sebenarnya…. apa yang telah terjadi?”

Hoa Thian-hong segera tarik kembali lamunannya dan menyahut, “Oooh…. barusan ada pencuri mau mengambil barang milik kami, kamar ini sudah tak dapat dipakai lagi, apakah masih ada kamar yang lain?”

Chin Wan-hong yang berada disamping segera menyambung, “Semua kerugian yang terjadi ditempat ini akan kami ganti, hitunglah semua kerusakan dan minta uang gantinya besok pagi!”

“Ooh…. tak usah diganti, tak usah diganti….!” seru pemilik rumah penginapan itu berulang kali.

Kemudian dengan cepat ia mendekati searang pedagang yang ikut tonton keramaian dan membisikkan sesuatu dengan suara yang amat lirih.

Pedagang itu tampak agak terperanjat, dengan muka penuh rasa hormat ia segera berkata, “Ooooh…. tentu harus mengalah! sudah sepantasnya mengalah…. aku segera akan membereskan barang-barang milikku!”

Ia putar badan dan segera berlalu. Hoa Thian-hong yang mempunyai daya pendengaran yang amat tajam, sempat menangkap pembicaraan tersebut, ia lihat ketika pemilik rumah penginapan itu menyebut namanya dan minta pedagang itu pindah ke lain kamar, hatinya jadi merasa tak enak di samping itu diapun tahu kalau Pek Kun-gie belum berlalu dari sana karena kuatir ketahuan maka hatinya jedi kebat kebit tak karuan, peluh dingin tanpa terasa membasahi seluruh tubuhnya.

Beberapa saat kemudian pemilik rumah penginapan itu telah muncul kembali dan mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam kamar.

Orang-orang yang menonton keramaianpun segera pada bubaran, diam-diam Hoa Thian-hong melirik ke arah orang- orang yang bergerombol itu setelah dilihatnya Pek Kun-gie tidak berada diantara mereka, tanpa terasa ia menghembuskan nafas panjang dan membimbing ibunya masuk kedalam kamar.

Dalam kamar tersebut baik diluar maupun didalam ruangan terdapat tempat tidur, Hoa Thian-hong melirik kembali keluar pintu kemudian dalam hati kecilnya diam-diam berdoa

“Budak bodoh, cepat-cepatlah pulang kerumah dan tak usah berkeliaran lagi disekitar tempat ini…. apalagi berdiri seperti orang bodoh didepan jalan….”

Habis berdoa ia segera menutup pintu kamarnya.

Dalam pada itu, Hoa Hujin telah bersandar diatas pembaringan, ujarnya dengan lirih, “Seng ji, apakih engkau sudah berjumpa dengan musuh? kenapa begitu cepat telah kembali kemari?”

“Ananda berbicara dengan Kiu-im Kaucu diseberang jalan sana, pertarungan belum sampai berlangsung, ketika mendengar suara gaduh Kiu-im Kaucu segera mengejar orang itu sedang ananda segera kembali kemari….!”

Mendengar perkataan itu, sepasang biji mata Siau Ngo-ji yang jeli segera berputar kesana kemari kemudian berhenti diatas dada Hoa Thian-hong yang basah, diam-diam dia menunjukkan muka setannya.

Tanpa sadar Hoa Thian-hong ikut menundukkan kepalanya memandang keatas dada sendiri, ia lihat pakaian bagian dadanya masih basah, dan tempat itu bukan lain adalah tempat yang basah terkena air mata dan Pek Kuti Gie tadi.

Kenyataan tersebut membuat hatinya jadi gugup dan kebat kebit tak karuan, cepat-cepat ia geserkan badannya dan berdiri membelakangi cahaya lentera.

Ketika dia kembali kerumah penginapan tadi, air mata yang menodai pipinya belum kering dan semua orang dapat melihat akan hal itu, tapi tak ada seorang pun yang meraruh curiga terhadap kejadian tersebut, semua orang tahu pemuda itu gelisah karena memikirkan keselamatan dari ibunya sehingga mengucurkan air mata, oleh sebab itu Tio Sam-koh yang biasanya cerewetpun sama sekali tak mengajuhkan suatu pertanyaanpun.

Siau Ngo-ji adalah bocah nakal yang cerdik, diapun paling teliti memeriksa keadaan orang, dengan kebiasaannya itulah bocah tadi berhasil temukan tanda yang sukar diduga orang.

Hoa Thian-hong yang telah berbuat sesuatu tanpa ingin diketahui orang lain jadi kuatir sekali apabila Siau Ngo-ji berteriak, dengan muka penuh senyuman ia berkata, “Aku lihat orang yang kabur itu mengempit seseorang, aku mengira salah seorang anggota keluarga kita ada yang kena tangkap karena itu hatiku merasa amat gelisah. Siau Ngo-ji, tentunya engkau juga dibuat terkejut bukan?”

Siiu ngo ji tertawa cekikikan.

“Hiiihh…. hiiihh…. hiiihhh enso sangat baik kepadaku, membelikan pakaian baru, celana baru, sepatu baru untukku dan membantu pula menyisiri rambutku, hatiku akan selalu condong kepadanya, karena perasaan istimewa ini aku selalu kuatir apabila toako sampai berjumpa dengan seorang manusia yang lihay dan kena ditawan olehnya…. kalau sampai begitu kan berabe….”

Hoa Thian-hong mengerti bahwa dibalik perkataannya masih terdapat perkataan lain, buru-buru ia tertawa kering dan alihkan pokok pembicaraan kesoal lain.

“Sebenarnya siapa sih yang telah melakukan sergapan ketempat ini sehingga dinding tembokpun jadi jebol? ibu cepatlah cerita kepadaku!”

Hoa Hujin tertawa.

“Kali ini jasa Siau Ngo-ji paling besar, biarlah dia saja yang bercerita!”

“Benar! Siau Ngo-ji memang paling pandai bicara” sokong Hoa Thian-hong.

Siau Ngo-ji cepat-cepat goyangkan tangannya berulang kali seraya berseru, “Eeeei eeeeeii kalau ada persoalan dapat kita rundingkan secara baik-baik, toako! engkau tak usah menyanjung-nyanjung diriku”

Setelah berbatuk ringan, dia melanjutkan “Kesuksesan yang berhasil kita capai hari ini tidak lain adalah berkat kelihayan dari enso, aku tak berani rebut pahala ini ini, enso! lebih baik engkau saja yang berbicara kepada toako, agar rasa kejutnya dapat segera hilang”

Chin Wan-hong adalah seorang perempuan yang jujur dan polos, tentu saja dia tak tahu kalau kedua orang itu sedarg main setan, dia segera berpaling kepada mertuanya sambil berkata, “Ibu, kalau engkau hendak beristirahat, biarlah kami bercakap-cakap ditempat luar saja!”

“Fajarpun sebentar lagi akan menyingsing, mari kita bercakap-cakap di sini saja kemudian segera lanjutkan perjalanan, nanti aku akan tidur dalam kereta saja!”

Dengan lembut Chin Wan-hong menganguk, kepada suaminya dia segera berkata, “Setelah engkau pergi maka akupun siapkian kabut beracun disekitar ruangan, Siau Ngo-ji bilang lebih baik kita pasang jebakan disegala penjuru ruangan, agar orang yang berani menyergap kesitu segera terjatuh kedalam perangkap dan tak bisa kabur lagi, aku turuti jalan pikirannya itu dan segera mengatur dua tempat jebakan diluar pintu”

Sementara pembicaraan sedang berlangsung, diam-diam Hoa Thian-hong mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengeringkan pakaiannya yang basah oleh air mara, kemudian sambil tersenyum dia bertanya, “Jebakan apakah yang telah kau siapkan?”

Kami minta ibu untuk memperhitungkan gerak langkah yang bakal dilakukan pihak musuh, sebab andaikata orang yang melakukan sergapan itu adalah seorang jago lihay kelas satu, maka begitu mendorong pintu kamar dan merasakan adanya racun disekitar tempat itu, dengan cepat dia pasti akan mengundurkan diri, dalam keadaan demikian…. Ketika Siau Ngo-ji menyaksikan ensonya bicara ragu-ragu, tak tahan lagi dia segera menyambung, “Kami telah letakkan sebaskom air bekas cuci kaki keatas tiang pengtari dan mengikat baskom itu dengan seutas tali yang di hubungkan dengan pintu, apabila pintu terbuka maka baskom berisi bekas air cuci kaki itu akan tumpah, dan apabila orang itu mundur kembali air kotor itu dengan tepat akan menimpa batok kepalanya….”

“Kenapa musti pakai air bekas cuji kaki?” tanya Hoa Thian- hong sambil tertawa.

Menurut bibi, apabila yang datang adalah jago sebangsa Pia Leng-cu maka guyuran iir tersebut tak mungkin bisa menimpa tubuhnya, kalau air itu diberi racun maka jika meleset dari sasaran kan sayang sekali, oleh sebab itu kami putuskan untuk menggunakan air bekas cuci kaki, untuk melengkapi kebutuhan kami ini, nenek Sam popo secara khusus telah cuci kakinya satu kali”

“Kentut busuk”, bentak Tio Sam-koh dengan gusar!, malam yang mana aku nenek tua tak pernah cuci kaki? siapa bilang aku cuci kaki secara khusus?”

“Benar…. benar….!” seru Siau Ngo-ji dengan gelisah, nenek Sam popo setiap hari memang cuci kaki….”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Menurut bibi, apabila orang itu merasakan sesuatu yang aneh muncul dari atas kepalanya, maka jikalau orang itu adalah Pia Leng-cu atau Kiu-im Kaucu, mereka pasti akan menghindarkan diri ke arah samping kanan, sebaliknya kalau orang itu adalah jago lihay dari Mo-kauw, mereka pasti akan menghindar sesamping kiri, karena pendapat tersebut maka kami meletakkan sedikit obat racun yang setaraf lihaynya dengan kabut kiu tok ciang disisi sebelah kanan, jika ada orang menghindar kesana dan bubuk racun terhembus angin maka racun itu segera akan berterbangan keangkasa, dan apabila Pia Leng-cu atau Kiu-im Kaucu yang datang, mereka pasti akan menggeletak keatas tanah.”

Hoa Thian-hong terpikir sebentar, kemudian berkata, “Ilmu langkah Huan im tun hoat atau bayangan semua lolos di angkasa dari pihak Mo ku memang berputar menurut kebalikan dari tangkah Tay kek, dan itu berarti mundurnya ke arah sebelah kiri, apa yang telah kalian siapkan disana?”

“Hiihh…. hiihh…. hiihh…. air dewa!” jawab Siau Ngo-ji sambil tertawa cekikikan

“Air dewa?”

“Air kencing dari bocah keparat itu!” teriak Tie Sam-koh dengan suara keras.

Hoa Thian-hong tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haaah…. haaahhh masa air kencingpun bisa dipakai untuk melawan musuh lalu apakah alasannya sehingga jebakan yang dipasang dikedua belah pihik terbagi atas yang ringan dan yang berat?”

Siau Ngo-ji tak menjawab pertanyaan itu sebaliknya sambil tertawa dia balik bertanya, “Ketika toako baru saja kembali keruangan ini, apakah engkau tidak mencium bau pesing??”

“Kenapa? oooh…. jadi yang datang adalah orang-orang dari perkumpulan Mo-kauw?”

“Perkataanmu tepat sekali, anakan iblis cilik terkena kabut racun Kiu tok ciang dan roboh seketika, dalam gugupnya gembong iblis tua menyepak pispot isi air kencingku hingga tumpah, karena ketakutan ia segera melarikan diri terbirit- birit.”

“Kalau cerita yang agak jelas dong!” sela Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Siau Ngo-ji ambil sebuah cawan air teh dan meneguk habis isinya, kemudian ujarnya lagi, “Enso bilang kabut kiu tok ciang tidak tersedia dalam jumlah banyak, maka hanya bisa disebarkan dibelakang pintu, sedang obat pemabok Mi hun san adalah bubuk obat yang mempunyai…. eeei Enso, mempunyai apa….?”

“Mempunyai perbedaan dalam bentuk tapi persamaan dalam kasiat!”

“Aaah! benar, mempunyai perbedaan dalam bentuk tapi sama dalam kasiat sambung Siau Ngo-ji sambil menepuk kepalanya, sayang jumlah yang tersediapun tidak banyak dan cuma bisa disebar disuatu sudut yang sama!”

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Menurut jalan pikiranku, andaikata kita berhasil menangkap Pia Leng-cu maka hal ini jauh lebih baik lagi, bukan saja kita dapat lenyapkan seorang musuh besar, bahkan dapat pula merampas kembali pedang emas yang berada ditangannya, bukankah itu berarti sekali tepuk mendapat dua lalat? sebaliknya kalau bangsat dari Mo-kauw adalah jago yang paling lihay dari perkumpulannya, kitapun bisa tangkap iblis itu dan sekali bacok menghabisi nyawanya, sekalipun anak murid dan cucu muridnya mencari balas buat kami juga tak mengapa…. sebaliknya kalau bajingan itu hanya jago kelas dua belaka dari perkumpulan Mo-kauw maka kalau kita bunuh orang itu, maka segera akan mengundang kembali kehadiran jago yang lebih lihay…. dalam keadaan seperti ini kita toh tidak bakalan rugi”

“Sungguh hebat daya pikiranmu! puji Hoa Thian-hong sambil acungkan jempolnya.

Siau Ngo-ji melirik sekejap ke arah pakaian dada Hoa Thian-hong, ketika dilihatnya bagian yang basah telah mengering, dia segera tertawa kembali sambil berseru

“Toako, sekarang engkau sudah boleh tak usah menyanjung diriku lagi!….”

“Jangan ngaco belo tak karuan, bicara lah yang serius!” tegur Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Siau Ngo-ji berhenti sebentar, kemudian sambungnya lebih jauh, “Oleh karena itu kami letakkan bubuk racun pemabok itu disebelah kanan, khusus lami tujukan untuk menghadapi Pia Leng-cu atau Kiu-im Kaucu, sedangkan air dewaku diletakkan disebelah kiri untuk disuguhkan kepada tamu-tamu dari pihak Mo-kauw…. Heehh…. heehh…. baru saja pekerjaan kami selesai, eeei…. yang ditunggu-tunggu telah datang!”

“Apakah waktu itu semua orang berada didalam kamar?” “Benar, sebenarnya aku ingin mengintip keluar untuk

melihat situasi, tapi karena ilmu silat yang kumiliki terlalu dangkal, si apapun tidak setuju kalau aku keluar dari pintu!”

“Bagaimana kemudian?! tanya Hoa Thian-hong lagi sambil tertawa.

“Kemudian…. waah! suatu pertunjukkan baguspun berlangsung, tanpa mendergar sedikit suarapun tiba-tiba palang pintu kamar putus dengan sendirinya dan pintupun segera terbentang lebar, dari luar pintu menerjang masuk seorang marusia berbaju kening, siapa tahu baru saja kakinya menginjak pintu kamar tiba-tiba ia roboh terkapar diatas lantai, sementara disisi pintu telah bertambah dengan seorang makhluk tua berbaju kuning pula, sungguh cepat gerak-gerik makhluk tua itu, entah bagaimana caranya tahu-tahu ia sudah menyambar kaki makhluk cilik dan menyeretnya keluar dari kamar, tidak meleset dari dugaanku…. ooh…. bukan! bukan…. tidak meleset dari dugaan bibi, ia memang benar-benar berbelok seperti yang diharapkan”

“Eeei…. bagaimana sih ceritanya?”

Bagaimana lagi? karena terperanjat makhluk tua baju kuning itu loncat mundur ke belakang dan cepat mundur kebelakang tiang penglari yang sudah kami pasang alat jebakan, tak ampun lagi air cuci kaki dari nenek Sam-popo segera tumpah kebawah dan hampir saja mengguyur kepala makhluk tua tersebut, dengan cepat makhluk tua itu menengadah dan melancarkan sebuah pukulan udara kosong dengan jurus mendorong jendela memandang rembulan, baskom berisi air cuci kaki itu kontan mencelat entah kemana, diikuti suara gaduh yang sangat keras, pispot berisi air kencing ikut tersambar sampai tumpah tak karuan, ia segera menjerit bagaikan babi disembelih, tanpa buang waktu lagi segera melarikan diri terbirit-birit….”

“Hmm! rupanya engkau suka sekali mendengar kisah cerita dari orang-orang yang jual dongeng dialun-alun?” goda Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Siau Ngo-ji mengerutkan dahinya.

Mendengarkan orang jual dongeng? Hmm dikota Lok yang banyak dijumpai orang seperti itu, dirumah minum teh yang tersohor pun ada lima orang tapi cerita Hong sin pang dari Sun ji macu manusia topeng itu paling menarik, aku adalah tamu terhormatnya yang sudah menjadi langganan tetap walaupun hujan badai aku tetap selalu hadir

“Huuuhh! tamu terhormat apa? paling-paling tamu di kolong meja!” ejek Tio Sam-koh sambil mencibirkan bibirnya.

Siau ngoji kontan melotot, teriaknya, “Eeeei nenek sam popo! seorang pria sejati tak takut berasal dari kalangan rendah kalau tak punya uang sih diatas meja atau di kolong meja juga sama-sama mendengarkan!”

“Bocah busuk!” maki Tio Sam-koh dengan marah, “kenapa matamu melotot-melotot? pingin minta hadiah ditempeleng yaa?”

Aku tidak takut ditempeleng, kalau ada alasan yang kuat dan benar, aku harus beri penjelasan sampai terang.

Hoa Hujin tertawa geli, ia segera bangkit dan duduk dipembaringan, kemudian tegurnya, “Siau Ngo-ji, jangan ribut-ribut lagi! mari aku beri pelajaran ilmu silat kepadamu, tapi kalau engkau tidak tekun, jangan salahkan kalau nenek Sam popo benar-benar akan menghadiahkan sebuah tempelengan kepadamu.”

Kletak…. keetak….! bunyi roda kereta kuda yang berputar dengan cepat diatas jalan berbatu, ditengah sorot cahaya sang surya yang telah condong kesebelan barat, rombongan dari Hoa Hujin memasuki kota Lok yang.

Ketika kereta masuk sedalam kereta, seorang pengemis cilik loncat naik keatas kereta dan membisikkan sesuatu kesisi telinga Siau Ngo-ji. Bocah yang duduk diatas kursi kusir segera mengangguk sambil berseru, “Aku sudah tahu!

“Apakah mendapat kabar dari Ko toako mu?” buru-buru Hoa Thian-hong bertanya.

Siau Ngo-ji gelengkan kepalanya.

“Kabar dari Haputule, dia bilang ada urusan yang harus segera dikerjakan, untuk sementara waktu dia tak akan berjumpa dengan toako”

Kemudian kepada sang kusir kereta serunya pula, “Hey kusir, belok kekiri! “

Kusir kereta segera putar kemudi dan berbelok kesebelah kiri, beberapa saat kemudian sampailah mereka didepan sebuah sebuah penginapan….

Setelah mendapat kamar, ketiga orang perempuan itu segera mandi dan tukar pakaian, sedang Siau Ngo-ji tarik Hoa Thian-hong kesamping ruangan sambil berbisik, “Setelah makan malam nanti, mari kita jalan-jalan ke kota dan mencari musuh, kalau bisa kita bekuk dulu gembong-gembok iblis itu agar pada gelagapan dan tahu kelihayan kita”

0000O0000

65

SIAPA yang kau maksudkan?! tanya Hoa Thian-hong. Perduli amat siapakah orang itu, Kiu-im Kaucu juga boleh,

imam tua juga boleh atau gembong iblis dari Mo-kauw juga lumayan, asal mereka menginap didalam kota, aku pasti berhasil menyelidikinya” Hoa Thian-hong segera gelengkan kepalanya.

“Caramu itu tak bisa digunakan, kabut racun kiu tok ciang sudah kita gunakan, aku tak dapat meninggalkan ibuku dengan begitu saja”

Siau Ngo-ji segera busungkan dada sambil berseru lirih, “Jangan kuatir, kota Lo yang adalah daeah kekuasaanku, tanggung beres, tak mungkin bisa terjadi sesuatu yang ada diluar dugaan”

“Tidak mungkin!” kembali Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya, “sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya toh jatuh pula keatas tanah, lebih baik kita jangan lakukan tindikan yang terlalu mengundang resiko besar”

Tertegun Siau Ngo-ji mendengar jawaban tersebut, kembali ia barbisik lirih, “Sebelah timur kota Lok yang merupakan pusat segala hiburan dan keramaian kota”

“Pusat segala keramaian?”

“Benar! pusat dari segala keramaian dan hiburan kota!” seru Siau Ngo-ji dengan gelisah, “ditepi jembatan Lok yang ada pasar malam, ramainya bukan kepalang, mau makan apapun aku bisa mendapatkannya secara gratis!”

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong segera berpiir didalam hatinya, “Oooh…. rupanya dia cuma ingin bermain- main belaka, hampir saja hatiku tertarik oleh obrolannya!”

Berpikir sampai disitu, dia segera gelengkan kepala berulang kali sambil berkata, “Aku tak akan keluar dari pintu rumah, engkaupun tak boleh keluar tinggalkan tempat ini, kalau lain kali ada kesempatan maka akan kubawa dirimu untuk pesiar segala penjuru dunia, kemana engkau suka kesitu aku temani engkau untuk bermain”

Siau Ngo-ji segera mengerutkan dahinya erat-erat.

“Aku sama sekali tidak ingin bermain!” keluhnya, “Haputule itu bodoh dan tidak mengerti adat istiadat dari orang Tionggoan, kalau sampai ketemu Pia Leng-cu, bisa-bisa jiwanya ikut melayang!”

“Ooh…. serius amat persoalan ini!” seru Hoa Thian-hong dengan alis mata berkenyit.

“Oleh sebab itulah kita harus keluar rumah untuk mencarinya, dan lagi dia pasti mempuayai alasan tertentu sehingga menyembunyikan diri dikegelapan, kita harus menanyakan persoalan ini kepadanya!”

Tiba-tiba pitu kamar terbuka, dan Tio Sam-koh munculkan diri sambil berteriak, “Siau Ngo-ji, tingkah lakumu sangat mencurigakan, apa lagi yang sedang kau bicarakan?”

Buru-buru Siau Ngo-ji loncat kedepan dan menyahut sambil tertawa, “Ooh…. tidak apa-apa, toako sedang mambicarakan soal ilmu silat dengan aku, nenek Sam Popo engkau silahkan cuci kaki, air bekas cuci kakimu jangan sampai tumpah lho! baunya…. huuh, sedap….” 

Tio Sam-koh mendengus dingin, ia jewer telinga Siau Ngo-ji dan menyeretnya masuk kedalam kamar.

Lewat beberapa saat kemudian, arak dan sayur telah dihidangkan, beberapa orang itu duduk mengitari meja dan santap bersama-sama. Hoa Thian-hong tidak minum arak dihadapan ibunya, lebih- lebih Chin Wan-hong sebagai seorang perempuan yang menjaga gengsi, ia menghindari minuman keras seperti itu, hanya Siau Ngo-ji seorang yang ribut minta arak walaupun begitu takaran minumannya terbatas sekali, cuma secawun kecil.

Selesai bersantap, biji mata Siau Ngo-ji mengerling tiada hentinya memberi kode kepada Hoa Thian-hong, tapi pemuda itu pura-pura tidak melihat dan sama sekali tidak menggubris kerlingan itu.

Tiba-tiba Hoa Hujin tertawa dan menegur, “Siau Ngo-ji, engkau ingin keluar rumah untuk bermain-main?”

“Tidak! aku tidak ingin! buru-buru Siau Ngo-ji gelengkan kepalanya berulang kali”, aku adalah penduduk asli kota Lok yang, sudah bosan aku bermain disekitar tempat ini lagipula sudah tak ada tempat lain yang menarik bagiku, buat apa musti lelah keliling kota?”

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, “Barusan ada orang mencari aku untuk diajak main, tapi aku segera menolak ajakannya!”

“Siapa sih yang ajak engkau? kenapa aku tak melihat?” tanya Hoa Thian-hong keheranan.

Mereka bersembunyi ditempat kegelapan, kalau toako tidak memper-hatikan tentu saja tidak melihat, meskipun kami adalah teman lama namun tidak pergi juga tidak menjadi soal.

“Kalau begitu jangan pergi” seru Chin Wan-hong, “daripada menggangu pelajaran silatmu!”

Siau Ngo-ji anggukkan kepalanya berulang kali Perkataan enso memang benar!

Tiba-tiba dengan wajah merengek dia melanjutkan, “Mungkin sampai sekarang mereka masih menunggu aku diluar, biar kusuruh mereka pulang dulu.”

Hoa Hujin tertawa geli menyaksikan tingkah lakunya yang kocak, ia segera berseru, “Sudahlah, tak usah berpura-pura lagi….! pergilah bermain sebentar besok pagi engkau harus tinggalkan kota Lok yang, sudah sepantasnya kalau minta diri lebih dahulu kepada sahabat-sahabat lamamu!”

“Benar! kita semua adalah teman-teman sewaktu masih berkaki telanjang, sekarang aku sudah bersepatu, kalau aku tidak temui mere ka mungkin orang lain akan mengatakan aku jadi sombong dan lupa teman”

“Kami masih punya sedikit uang, berapa banyak sih teman- temanmu itu….? kita hadiahkan sepasang sepatu baru buat setiap orang!”

Siau Ngo-ji goyangkan tangannya berulang kali. “Bukan…. bukan begitu maksudku! bertelanjang kaki

artinya masih miskin dan menganggur, memakai sepatu artinya sudah punya kedudukan dan hidup lebih enak! kata- kata tersebut adalah kata-kata kangouw untuk mengatakan sesuatu, bukan terus berarti kami benar-benar ingin membeli sepatu baru!”

Hoa Hujin tersenyum.

“Baik! pergilah untuk menjamu sahabat-sahabat lamamu, tapi engkau musti hati-hati, kalou seorang pria sejati, lelaki jantan punya keberanian untuk keluar rumah, maka dia musti cekatan dan pandai melihat gelagat, kalau sampai tertangkap orang maka kejadian itu kurang cemerlang bagi diri sendiri.

“Bibi tak perlu kuatir!” sahut Siau Ngo-ji dengan hati gelisah, “selama Hoa toako mendampingi aku, semua malaikat atau iblis akan menghindarkan diri, siapa yang berani cari gara-gara dengan diriku?”

“Aku segan untuk keluar rumah” potong Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Siau Ngo-ji jadi tercengang.

“Bukankah toako harus mencari Haputule serta Ko toako?” Hoa Thian-hong kembali tersenyum.

“Haputule telah menyembunyikan diri, itu berarti posisinya jauh lebih aman, aku memang ingin sekali berjumpa dengan Ko toako mu itu!”

“Bagus sekali, kalau begitu mari kita segera berangkat, Ko toako juga ingin menyambangi toako, ayoh kita segera berangkat!”

“Kenapa musti terburu nafsu? ini hari au akan jaga rumah, lain hari saja baru a ku kunjungi Ko toako mu itu”

Melihat ajakannya ditampik, Siau Ngo-ji menghela nafas panjang.

“Aaaaiii….! baiklah, kalau begitu terpaksa aku harus pergi seorang diri.” “Bawalah uang disaku, cepat pergi dan cepat kembali!”’ ujan Chin Wan-hong, dari sakunya ambil keluar sebuah kepingan uang perak dan dicerahkan kepada bocah itu.

Memandang uang perak yang diangsurkan kepadanya, Siau Ngo-ji tertawa.

“Heeeh…. heeeeh…. heeeehbh teman-temanku semua adalah sahabat yang miskin, memang tak ada salahnya kalau membawa sedikit uang, lagi pula aku masih punya sedikit hutang-hutang lama, setelah besok berangkat entah sampai kapan baru kembali lagi? kalau hutang terlalu lama rasanya memang kurang enak, cuma uang itu terlalu banyak, satu dua tahil perak sudah lebih dari cukup.”

“Bawa kemari!” seru Tio Sam-koh.

Setelah menerima uang perak itu, dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ia gunting uang perak tersebut, dalam waktu singkat uang perak yang beratnya mencapai sepuluh tahil itu sudah terpotong-potong jadi sepuluh potongan kecil, bukan saja bentuknya sama bahkan beratnya pun tak jauh berbeda.

Chin Wan-hong ambil dua kepingan kecil uang perak itu dan diserahkan kepada Siau Ngo-ji sambil berpesan, “Ini hari engkau tak boleh minum arak lagi, jangan berkelahi dengan orang, cepat-cepat pulang untuk berlatih ilmu silat!”

Siau Ngo-ji mengangguk, sambil melototi kepingan uang perak yang ada ditangannya, ia coba untuk memencetnya dengan kedua belah jari tapi perak itu terasa keras sekali, tanpa sadar sambil menjulurkan lidahnya ia berseru, “Cctt…. cctt…. cctt.! kepandaian apaan itu? tampaknya benar-benar kalo lebih hebat dari pada ilmu Liong jiau kang!” “Bawa ke toko dan timbangkan kepingan uang perak itu, sekeping satu tahil, kalau beratnya tidak betul bawa kembali kemari!” seru Tio Sam-koh lagi dengan dingin.”

Tertegun Sau ngo ji setelah mendengar ucapan itu, akhirnya sambil memberi hormat dia berkata, “Hiiih…. hiihh…. Siau Ngo-ji punya mata tak kenal gunung Tay san, ini hari baru kutahu kelihayan nenek Sam popo, pulangnya nanti aku pasti akan membawa oleh-oleh yang enak untukmu, dan lain hari aku ingin belajar ilmu menggunting perakmu, yang hebat itu”

“Huhh….! cepat enyah….” hardik Tio Sam-koh ia pukul pantat Siau Ngo-ji dengan toyanya dan melempar tubuh bocah itu keluar dari pintu.

Siau Ngo-ji menjerit kaget, setelah selamat mencapai tanah diam-diam ia baru menggerutu, “Oooh! sungguh lihay”

Pantatnya diraba, untung tak sakit, buru-buru ia kabur dari rumah penginapan.

Setelah keluar dari pintu, ia bersuit ke arah tempat gelap, kemudian seraya ulapkan tangannya dengan langkah lebar Siau Ngo-ji berjalan kejalan raya, dalam sekejap mata segerombol bocah mengikuti dibelakangnya, yang paling tua berumur lima enam belas tahunan, yang terkecil berumur lima enam tahun, semuanya adalah bocah-bocah gelandangan dari kota Lok yang.

Setelah menyeberangi beberapa jalan raya, sampailah mereka didepan kedai penjual bakmi, seorang kakek tua sedang masak mie diluar, dari kejauhan Siau Ngo-ji telah berteriak keras, “Hey lo thio, siapkan arak, sayur dan hidangan lezat! kami akan bayar kontan, sekalian lunasi hutang-hutang lamaku!” Bersamaan dengan ucapan tadi, sekawanan bocah gelandangan itu bagaikan hembusan angin berebutan cari tempat duduk, kursi ditarik meja digeser, suasana hiruk pikuk dan ramai sekali.

Seorang perempuan tua menghampiri mereka, setelah mengamati Siau Ngo-ji tiba-tiba serunya dengan kaget.

“Eee….! Siau Ngo-ji, kaya mendadak?”

“Oooh…. jangan kuatir!” jawab Siau Ngo-ji sambil rogoh sakunya dan ambil sekeping uang perak, “Nih! simpan dulu uang itu dalam kas, setelah habis makan kita bikin perhitungan….”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Tenggorokanku sakit, ini hari tak minum arak, sediakan secawan air teh bagiku!”

Bocah yang berusia paling kecil itu membawa sebuah tabung bambu, sanbil mendekati Siau Ngo-ji dan merangkak naik keatas kursi ujarnya, “Ngo ko, kenapa sih Hoa toako tak ikut keluar?”

“Dia tak bisa keluar karena masih ada urusan, bagaimana dengan Tiat Pak Ong?”

Bocah itu baru berusia lima enam tahunan dan bernami Siau Biau ji, dia merupakan sahabat karib Siau Ngo-ji, sementara itu sambil angsurkan tabung kecil tadi, sahutnya, “Makan malam sudah kuberikan, selama engkau tak ada dirumah, aku tak berani mengadunya dengan milik orang lain.” Siau Ngo-ji membuka tutup tabung, isinya ternyata seekor cengkerik berwarna hitam, Siau Ngo-ji mengilik cengkeriknya seben tar, ketika dilibatrya binatang itu tetap segar, ia tutup kembali tabung bambu itu sambil berkata, “Selama beberapa hari ini, ada orang yang menganiayai engkau?”

Siau Ngo-ji menggeleng.

“Tidak ada yang berani, kawan-kawan telah menerima kabar dan tahu kalau engkau sudah angkat saudara dengan Hoa toako, mereka bersikap sangat baik kepadaku!”

“Engkoh Siau ngo” seru seorang bocah yang bernama Hek niu, “Hoa toako sudah wariskan ilmu silatnya kepadamu?”

“Hmm! dari siapa Hoa toako belajar ilmu silat, dari situ pula aku belajar silat, soal ini tak usah dibicarakan lagi, kapan Ko toako kembali kesini dan sekarang dia ada dimana?” tanya Siau Ngo-ji dengan alis mata berkenyit.

“Sore tadi Ko toako sudah kembali ke kota, kami pada mencari dirinya tapi tak ke temu, entah dia sudah pergi kemana lagi?”

“Loo kok aneh?! gumam Siau Ngo-ji.

Sementara itu sayur dan arak telah dihidangkan, semua orang segera angkat cawan untuk menyatakan selamat kepada Siau Ngo-ji, sedang bocah itu angkat cawan air tehnya menerima ucapan selamat itu.

Tiba-tiba bocah yang berumur agak tuaan berkata, “Siau Ngo-ji, kemarin bocah keparat dari keluarga Lau datang lagi mencari gara-gara dengan kita, perselisihan ini harus segera di bereskan, aku rasa lebih baik kita hajar saja orang-orang itu biar kapok!” Siau Ngo-ji segera goyangkan tangannya berulang kali.

“Ilmu silat ynng sekarang kupelajari sudah mencapai tingkatan yang lain daripada yang lain, bocah keparat itu bukan tandingan ku lagi, kalau sampai kehilangan nyawa buat aku sih bisa kabur sambil cuci tangan, tapi bagaimana dengan kalian semua? kamu semua terpaksa harus angkat kaki dari kota Lok yang!”

Setelah behenti sebentar, sambungnya lebih jauh, “Eei, selama dua hari belakangan ini apa kalian melihat ada orang yang berdandan menyolok masuk kedalam kota? misalnya sebangsa hweesio…. atau imam…. atau orang persilatan berjubah kuning, atau perempuan yang cantik! pokoknya mereka-mereka yang punya mata bersih dan kening menonjol keluar?”

“Ooh ada” jawab siau biau ji cepat, “ada hweesio bau, imam hidung kerbau serta manusia jelek berbaju kuning, mereka semua hebat-hebat nampaknya ada juga perempuan yang cantik sekali, begitu cantiknya sampai aku ogah berkedip!”

Cahaya tajam memancar keluar dari balik mata Siau Ngo-ji. “Ceritalah yang jelas dari awal sampai akhir, jangan ada

yang kelewatan!”

“Betul, siau biau ji! kalau cerita musti yang jelas” tukas Hek niu dari samping, engkoh siau ngo ayoh teguk secawan arak”

Siau Ngo-ji sedang memikirkan sesuatu, ia lantas menjawab.

Enso larang aku minum arak diluaran, siau biau ji….” Tiba-tiba ia sadar kalau terlanjur bicara, dengan cepat tambahnya, “Ooh…. tenggorokanku benar-benar lagi sakit!”

“Kenapa sih?” tanya siau biau ji, “apakah ensomu galak sesaki seperti anjing beranak?”

“Huuss! jangan sembarangan ngomong, ensoku adalah perempuan paling baik didalam jagad, ilmu silatnya juga hebat apalagi ilmu racun dan obat-obatanya…. waah! tak bisa dilukiskan deh hebatnya, sampai akupun cuma mendengarkan perkataaanya seorang…. ooh iya, bagaimana ceriteranya? makhluk jelek berbaju kuning itu pernah kujumpai, bagaimana dengan dia?”

Sau biau ji membasahi bibirnya dengan ludah, lalu bercerita, “Selama beberapa hari belakangan ini kami selalu berjaga-jaga dipintu kota selatan, pagi tadi muncul dua orang makhluk aneh berbaju kuning, waktu kutengok mukanya…. hiiiii….! ngeri deh, jeleknya bukan kepalang….”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Makhluk tua yang punya jenggot merah berjalan didepan, yang rada muda dan punya hidung seperti samai mengikuti dibelakangnya, dia memanggul sesosok tubuh manusia nampaknya kena penyakit gila atau ayan…. mukanya bengkak seperti labuh, tangannya penuh tutul-tutul merah seperti cacar…. hiiihh! pokoknya ngeri deh.”

“Ehmm! orang itu terkena racun jahat dari wilayah Biau” Siau Ngo-ji menjelaskan, bagaimana selanjutnya?”

“Setelah cari kamar dirumah penginapan Kong goan, yang mudaan itu keluar rumah seorang diri, rupanya dia pergi beli obat dikedai…. selanjutnya Ji hau yang membuntuti, biar dia saja yang cerita!” Sambil berseru bocah itu tuding seorang bocah dihadapannya.

Bocah hitam yang berada dihadapannya segera melanjutkan cerita itu, “Siau biau ji tetap jaga dipintu kota, sedang aku buntuti beberapa orang baju kuning itu, aku menyusup masuk kedalam rumah penginapan lewat pintu belakang, ku lihat mereka bertiga mendapat kamar di ruang sebelah barat, aku lantas ingat dengan perkataan dari Ko toako, katanya orang yang berilmu silat tinggi bisa menangkap ja tuhnya bunga dan daun pada jarak sepuluh tombak, aku tak berani terlalu mendekat dan terpaksa mendorong pintu dikamar sebelahnya”

“Bukankah diatas dinding kamar ada lubang untuk mengintip?” tanya Siau Ngo-ji.

Ji hau angkat cawan araknya dan meneguk abis isinya, kemudian menjawab, “Benar, aku masih ingat diatas dinding papan terdapat sebuah lubang kecil untuk mengintip kamar itu, seberangnya persis pembaringan dikamar seberang, kita toh sering kali melihat siluman laki dan perempuan saling bergumul dan saling menindih…. aduuh asyiiknya!”

“Jangan bicara yang tak penting, bagaimana seterusnya? aku harus segera pulang seru Siau Ngo-ji dengan dahi berkerut.

Ji hau melengak sebentar, kemudian melanjutkan, “Ketika aku mendorong pintu kamar sebelah aduuuh maknya! seorang kakek tua berjenggot putih sedang duduk bersila didalam kamar itu, ketika aku melongok kedalam, sepasang mata kakek itu segera terbuka lebar, yaa mama! sepasang biji matanya memancarkan sinar yang dingin dan tajam, aku jadi ketakutan sampai kakiku jadi lemas, hampir saja aku jatuh semaput.”

Sambil menuding ke arah Ji hau, Siau bi ji tertawa geli dan mengejek, “Haaah…. haaahh…. haaahh engkoh siau ngo, karena ketakutan dia sampai terkencing-kencing hingga celananya basah kuyup, sungguh memalukan”

Merah padam selembar wajah Ji hau, serunya dengan penasaran, “Maknya! kalau bicara jangan sembarangan, kalau engkau yang melihat sinar mata itu, mungkin sukmapun seraya melayang meninggalkan raga….”

Bocah-bocah itu tergelak tertawa, sampai kakek penjual bakmi pun ikut tertawa terbahak-bahak.

Siau Ngo-ji gebrak meja menghentikan gelak tertawa itu, hardiknya dengan suara dalam, “Jangan gaduh! Ji hau, teruskan ceriteramu”

Bocah-bocah itu berhenti tertawa, suasanapun pulih kembali dalam kesunyian.

Terdengar Ji hau melanjutkan kembali kata-katanya, “Dalam gugupnya, aku segera melarikan diri terbirit-birit, untung kakek tua itu tidak berteriak sehingga aku kena digebuk oleh pelayan rumah penginapan itu, aku kabur ketengah tumpukan barang dan menyembunyikan diri, beberapa saat kemudian pelayan muncul sambil membawa sebuah gentong besar, isi gentong itu adalah air bersih, lewat sebentar lagi orang baju kuning yang rada mudaan itu muncul sambil membopong sebungkusan besar obat-obatan serta segentong cuka.”

Bocah itu berhenti sebentar, setelah makan sayur asin dan buru-buru menelannya kedalam perut, sambungnya lebih jauh, “Aku sangat ingin mengintip kedalam dan pingin tahu permainan setan apa yang sedang dilakukan, setelah maju mundur setengah harian, akhirnya aku besarkan nyali dan ngeloyor masuk kedalam halaman kemudian merangkak kebawah jendela, siapa tahu sebelum aku bangkit berdiri tiba- tiba aku dengar pintu kamar berbunyi dan makhluk tua itupun berbicara!”

Apa yang dia bicarakan? Ji hau menghembuskan nafas panjang lalu menjawab, “Dia bertanya, “Bagaimana dengan tempat yang dipilih?” lalu seorang lain menjawab, “Tempatnya sudah dipilih, terletak di tengah tumbuhan ilalang ditepi seberang sungai!” kemudian makhluk tua itu bertanya lagi, “bahan-bahan untuk hioloo darah sudah kau siapkan komplit?” orang yang satu menyahut, “Oh sudah, sudah siap semua!” makhluk tua itu bertanya lagi, “makhluk-makhluk beracunnya juga sudah siap?” orang yang lain menjawab, “sudah kusiapkan semua!”

Suasana hening untuk sesaat lalu orang itu menyambung kembali, “Suhu tak usah kuatir, asal mereka menginjak kedaratan, tanggung akan terluka oleh ilmu Hiat teng koh hun to hoat kita!”

Mendengar sampai disitu, Siau Ngo-ji kerutkan dahinya rapat-rapat dan bergumam, “Ilmu sakti hioloo darah pembetot sukma? ilmu sihir apaan itu….? mungkin ilmu jahat yang amat keji….”

“Aku sendiripun tidak tahu ilmu apaan itu, mereka mengatakan begitu maka akupun sampaikan kepadamu tanpa mengurangi sepatah katapun!”

“Bagaimana selanjutnya? cepat katakan!” seru Siau Ngo-ji dengan gelisah. Dengan muka mewek Ji hau melanjutkan, “Kemudian…. waah! menarik sekali, baru saja aku mencuri dengar pembicaraan itu, tiba-tiba jendela dibuka dan seorang baju kuning yang mudaan itu melongok keluar, tengkukku langsung dicengkeram seperti anak kucing kemudian melemparkan ke tubuhku keluar dari halaman, kakiku belum sempat menginjak tanah terdengar makhluk tua baju kuning itu sudah membentak keras, ‘tangkap kembali! mampusi bocah itu!’ waaduuh, aku semakin ketakutan, untung Lo Thian ya masih lindungi aku, kebetulan aku terjatuh ketumpukan rumput kering diistal kuda, cepat-cepat aku menggelinding ketanah dan menerobos keluar lewat lubang anjing disudut tembok, makhluk kecil itu goblok sekali ketika ia sampai diluar, aku sudah ngeloyor kedalam rumah penggiling tahu disamping rumah penginapan itu dan sembunyikan diri.”

“Macam apakah kakek tua yang duduk bersila dikamar sebelah makhluk tua itu?” tanya Siau Ngo-ji kemudian dengan suara berat.

“Jenggotnya putih, rambutnya putih, bajunya putih dan raut wajahnya bersih rada gagah!”

Siau Ngo-ji alihkan pandangannya ke arah siau biau ji, dan tanyanya lagi, “Selain makhluk aneh baju kuning, apakah masih ada orang-orang yang menyolok lagi masuk kedalam kota?”

“Kami lihat seorang perempuan berbaju hitam, berwajah putih dan berambut uban dengan membawa sebuah tongkat hitam dengan kepala setan terukir digagangnya masuk ke dalam kota, tampaknya mirip dengan Kiu-im Kaucu yang pernah kami dengar, aku suruh siau kwik menguntilnya, siapa tahu baru ikuti beberapa jauh, mendadak perempu ao itu lenyap tak berbekas dan sampai sekarang tidak ketemu lagi!” “Selain itu?”

Seorang perempuan cantik yang membawa rase putih juga masuk kedalam kota, wajah nya mirip Giok teng hujn tapi betul atau tidak entahlah, selain itu ada pula seorang perempuan muda yang menunggang kuda, wajahnya cantik jelita dan boleh dibilang bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan!”

“Perempuan itu adalah Pek Kun-gie!” seru Siau Ngo-ji dengan amat gusarnya, “ia merecoki Hoa toako terus menerus. Hmm! kalau sampai ketemu dengan aku, pasti akan ku maki habis-habisan, perempuan yang tak tahu malu!”

“Kenapa sih musti dimaki?” tanya Siao biau ji keheranan, perempuan itu cantiknya bukan kepalang, kalau aku sih tak tega un tuk mencaci maki dirinya…. kasihan!”

Siau Ngo-ji segera tertawa dingin.

“Heeh…. heehh…. heehh…. kau anggap enso ku jelek? kecantikan wajahnya mungkin sepuluh kali lipat lebih hebat daripada perempuan yang bernama Pek Kun-gie itu.

Ia bangkit berdiri dan ambil keluar sekeping perak, sambil diserahkan kepada kakek penjual bakmi, pesannya, “Uang itu aku titipkan disini, kalau siau biau ji tak punya uang uutuk makan, biar dia makan mie ditempatmu, tiga tahun kemudian aku akan bayar kekurangannya, berapa saja kekurangan itu pasti akan kubayar….”