Tiga Maha Besar Jilid 12

 
Jilid 12

Pek Siau-thian mendendam sambil menggertak gigi, bentaknya keras-keras, “Ayoh serang…. aku akan mengalah sejurus bagimu, dan mulai sekarang hubungan kita sebadai suami istripun putus sampai di sini saja!”

Kho Hong-bwee tertawa, tiba-tiba ia menerjang kedepan sambil melepaskan serangan, cahaya berkilauan memancar dari tubuh pedang lemas itu, desingan tajam memekikkan telinga.

Pek Siau-thian putar senjata ototnya dengan disertai desiran tajam, pisau bulan sabit dan duri segi tiga diatas tali otot itu di liputi cahaya putih dan baru laksana kilat melancarkan serangan balasan.

Kho Hong-bwee menggoyangkan pedang lemasnya. Sreeet! tiba-tiba ia menebas lengan kanan Pek Siau-thian.

Senjata tajam yang dipergunakan suami istri berdua itu sama-sama tidak lengkap, ketika dilancarkan sama-sama merasa kurang leluasa, namun jurus serangan yang dipergunakan sama-sama ganas dan keji, tanpa terasa pertarungan itupun berlangsung jauh lebih bengis dan mengerikan sekali….

ooooOoooo 58

KEDUA orang itu sama-sama bertempur dengan andalkan kecepatan melawan kecepatan, dalam sekejap, mata dua puluh gebrakan sudah lewst, kedua belah pihak sama-sama berusaha untuk merebutkan kedudukan yang lebih menguntungkan. Dalam pada itu, dari pihak perkumpulan Hong-im-hwie, hanya malaikat kedua Sim Ciu seorang yang masih sanggup melakukan pertarungan, dari pihak perkumpulan Thong-thian- kauw hanya Pia Leng-cu seorang, sedangkan dari pihak golongan pendekar, tenaga dalam yang dimiliki Hoa Hujin sudah menyusut hingga tak mungkin bisa melakukan pertarungan lagi, sedang Ciu Thian-hau dari gunung Huan San, Suma Tiang-cing jago pedang bernyawa sembilan, Chin Giok-liong, Bong Pay serta harimau pelarian Tiong Liau telah menderita luka yang parah, kecuali mereka yang telah binasa dalam pertarungan, hanya Cu Im taysu, Cu Thong dewa yang suka pelancongan, Tio Sam-koh, Chin Pek-cuan, Biau-nia Sam- sian serta Chin Wan-hong delapan orang saja yang masih sanggup melanjutkan pertarungan.

Tapi kekuatan beberapa orang itu jika di bandingkan dengan kekuatan perkumpulan Sin-kie-pang yang begitu besar dan dahsyat ten tu saja ibaratnya telor melawan batu.

Selain itu rombongan manusia aneh yang menyerupai setan itu masih ada seratus orang lebih, andaikata rombongan manusia-manusia itu ada minat uniuk bertempur melawan pihak perkumpulan Sin-kie-pang secara dipaksa mereka masih mampu melakukan perlawanan tapi kalau berbicara mengenahi kekuatannya sudah tentu pihak mereka masih tertinggal jauh sekali.

Sekarang dalam tubuh perkumpulan Sin-kie-pang sendiri terjadi perselisihan, sisa laskar yang kalah perang sama-sama mengharapkan kemenangan dari Kho Hong-bwee sebab jika perempuan itu yang menang maka sisa laskar yang kalah perang itu masih ada kemungkinan untuk melanjutkan hidup, sebaliknya kalau Pek Siau-thian yang menang maka dia pasti akan menggunakan tindakan keji untuk membunuh mereka semua. Kendatipun semua orang berharap agar Kho Hong-bwee yang menang namun ditinjau dati sisuasi yang terbentang dabm gelanggang saat itu harapan menang bagi perempuan itu kelihatan tipis sekali sementara anggota perkumpulan Sin- kie-pang telah berbaris rapi didepan mulut lembah dan menyambut jalan keluar mereka.

Dalam keadaan seperti ini kecuali berdiam diri sambil menantikan perubahan situasi selanjutnya tiada kemungkinan bagi sisa laskar yang kalah perang itu melarikan diri.

Tiba-tiba terdengar Pek Siau-thian membentak keras, senjata ruyung emasnya disertai desiran angin tajam melancarkan serangan yang berkali lipat lebih dahsyat.

Keseriusan dan ketegangan menyelimuti paras Kho Hong- bwee yang cantik jelita, pedang lemasnya terbentang kian kemari jurus demi jurus dilancarkan tiada hentinya, terhadap serangan gencar yang dilepaskan oleh Pek Siau-thian ia sama sekali tak ambil gubris bahkan melihatpun tidak.

Sistim bertempur yang lebih mengutamakan menyerang daripada pertahanan dan selalu mencari kesempatan untuk beradu jiwa ini sudah berada dalam dugaan Pek Siau-thian sebagai seorang ketua perkum pulan besar yang berambisi tentu saja ia tak sudi beradu jiwa dengan istrinya sendiri tetapi kepandaian silat mereka berada dalam keadaan seimbang lama kelamaan ia mulai kepayahan untuk menghadapi cara bertempur istrinya yang nekad itu, ia mulai keteter bebat.

Dalam sekejap mata kedua oiang itu sudah melangsungkan kembali pertarungan sengit sebanyak dua puluh gebrakan namun siapapan gagal untuk merebut kemenangan.

Pek Siau-thian sendiri walaupan tidak ingin mengadu jiwa dengan istrinya, dalam hati keclnya diapun tak ingin membinasakan istrinya yang cantik jelita itu ia mulai sadar jika pertarungan itu dilanjutkan lebih jauh maka akhirnya akan terjadi tragedi yang menyedihkan bati

Kecemasan dan kejelisahan membuat hatinya jadi mendongkol sekali.

Meskipun begitu toh dia adalah seorang pemimpin yang cekatan, hatinya yang kalut tidak sampai mengacaukan permainan jurus serangannya, setelah bertempur beberapa jurus lagi ia membentak keras, “Tunggu sebentar!”

Tubuhnya loncat kebelakaug dan menyingkir sejauh dua tombak dari tempat semula.

Kho Hong-bwee menjengek dingin, katanya, “Kalau engkau bersedia mengaku kalah, ayoh cepat serahkan tanda perintah Hong-lui-leng tersebut kepadaku!!”

“Heeeh, heeehh heeeh, sekali menjadi suami istri selamanya tetap saling mencintai, siapa menang siapa kalah toh sama saja?”

“Kalau begitu ayoh cepat serahkaa tanda perintah Hong-lui- leng itu kepadaku!” bentak Kho Hong-bwee dengan gusar.

Pek Siau-thian tersenyum.

“Suami istri asalnya tetap satu, serahkan tanda perintah Hong-lui-leng kepadamu bukanlah suatu perbuatan yang memalukan!”

Ia lantas berpaling sambil membentak, “Soh-gie, serahkan Hong lui-leng itu kepadaku!” Pek Soh-gie terperangah, ia maju kedepan dan segera persembahkan tanda perintah Hong-lui-leng tersebut kepada ayahnya.

Semua orang melongo dan tak tahu apa maksud serta tujuan dari Pek Siau-thian, melihat wajahnya berseri-seri dan sikapnya yang santai, mereka tahu bahwa ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang ini sedang menjalankan siasat.

Setelah mencekal tanda perintah itu, Pek Siau-thian membentak keras, “Pelindung hukum bagian depan, harap terima perintah!”

Dari balik barisan pelindung hukum panji kuning berkelebat keluar delapan orang kakek tua sambil memberi hormat mereka berseru, “Hamba siap menunggu perintah!!”

“Jaga hujin baik-baik, kalian tak boleh menang tak boleh kalah, dan tak boleh melukai hujin barang seujung rambutpun, siapa berani melanggar akan kupenggal kepalanya.”

Mendengar seruan tersebut Kho Hong-bwee jadi amat gusar dan bentaknya keras-keras, “Pek Siau-thian, engkau berani perintahkan anak buahmu untuk mengeroyok aku?”

Pek Siau-thian tersenyum

“Engkau masih bersikap kekanak-kanakan, apa boleh buat? hari ini terpaksa aku harus menyusahkan dirimu!”

“Kurang ajar!” bentak Kho Hong-bwee dengan gusar, tubuhnya menerjang kedepan dan pedangnya langsung membabat ke tubuh lawan.

Pek Siau-thian mengegos kesamping dan melayang beberapa tombak kebelakang sementara kedelapan orang kakek tua itu segera maju kedepan dan menghadang jalan pergi Kho Hong-bwee.

Perempuan setengah umur itu jadi amat gusar, dengan sorot mata yang tajam ia sapu sekejap wajah dari kedelapan orang kakek itu, lalu bentaknya keras-keras, “Kurang ajar, jadi kalian benar-benar berani untuk bertempur melawan aku?”

“Hujin harap jangan marah!” kata kedelapan orang kakek tua itu sambil memberi hormat, “hamba terpaksa harus berbuat demikian, harap engkau sudi memberi maaf!”

Dalam pada itu, Pek Siau-thian dengan suara lantang berseru, “Mulai detik ini perkumpulan Hong-im-hwie telah bubar, enam propinsi di wilayah Kang-pak akan masuk menjadi wilayah kekuasaan perkumpulan Sin-kie-pang, ketua Jin! apa yang hendak kau utarakan lagi?”

Jin Hian, Sim Cu dan nenek dewa bermata buta berunding sebentar dengan suara lirih, kemudian baru berseru, “Mulai sekarang perkumpulan Hong-im-hwie memang telah bubar, wilayah Kang-pak mau jadi kekuasaan siapa bukan urusan kami, kami segan untuk mengurusinya….”

Sejak lengannya kutung, masa depannya pun ikut hancur berantakan apalagi setelah perkumpulannya ditumpas lawan, hatinya benar-benar putus asa dan tak punya semangat lagi, dalam pembicaraan bukan saja suaranya lemah bahkan nadanya lirih dan membuat hati orang ikut beriba.

Pek Siau-thian berusaha menekan rasa bangga dan gembiranya didalam hati, ia segera berpaling kesamping lain dan berteriak pula, “Perkumpulan Thong-thian-kauw telah bubar, semua kuil akan dibongkar dan wilayah Kanglam akan dikuasai oleh perkumpulan Sin-kie-pang, kaucu! apakah engkau ada usul lain?” Sejak tadi Thong-thian Kaucu telah berunding dengan paman gurunya Pia Leng-cu, mendengar pertanyaan tersebut ia segera menjawab dengan suara hambar.

“Perkumpulan Thong-thian-kauw akan tinggalkan wilayah Kanglam pangcu mau menduduki wilayah tersebut atau tidak terserah pada kemauanmu sendiri.

Sepasang kakinya yang dihancurkan oleh ledakan kotak emas milik Siang Tang Lay membuat imam tua itu menderita jauh lebih parah dari pada keadaan Jin Hian meskipun anak murid perkumpulannya masih ada beberapa orang namun ilmu silat mereka rata-rata lemah sekali, meskipun ada Pia Leng-cu tapi kekuatan pihak perkumpulan Sin-kie-pang terlalu besar dan tak mungkin bisa dilawan lagi, oleh sebab itulah kecuali ngaku kalah tiada jalan lain lagi baginya.

Pek Siau-thian gembira sekali sorot matanya yang tajam segera dialihkan ke arah barak yang di huni para pendekar.

Sebelum ia sempat buka suara Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san telah tertawa terbahak-bahak, teriaknya dengan cepat, “Golongan pendekar telah ditumpas rata dengan tanah, dunia persilatan akan dimiliki oleh Pek Siau-thian seorang, benar-benar mengagumkan…. benar-benar mengagumkan….”

Ucapannya bernada tajam dan penuh mengandung sindiran.

Pek Siau-thian mendengus dingin, diam-diam pikirnya, “Kelompok manusia-manusia itu binal dan tak takut mati sukar untuk mendidik mereka jadi penurut, kalau rumput liar tidak dibasmi sampai akar-akarnya bila angin musim semi berhembus maka bibit rumput akan tumbuh kembali, lebih baik kubasmi saja mereka semua hingga tak berbekas. Setelah mengambil keputusan di hati, ia lantas berkata, “Bulan sembilan tanggal sembilan nanti perkumpulan Sin-kie- pang akan merayakan hari jadinya yang kedua puluh dikota Kay hong, semua jago yang ada di kolong langit harus menghadiri perayaan tersebut apa bila ada yang tak mau pergi harap menyatakan pendapatnya mulai sekarang.

Ucapan itu bernada perintah dan memaksa orang harus menuruti kemauan hatinya.

Terdengar Ik cu berkata dengan cepat, “Perayaan sebesar itu sudah sepantasnya untuk dihadiri, sampai waktunya pinto pasti akan membawa orang untuk menyampaikan selamat kepadamu….”

Jin Hian dalam baraknya ikut berseru pula, “Mulai detik ini aku orang she Jin sudah menjadi burung yang terlepas, tentu saja dengan senang hati aku akan menghadiri perayaan besar itu.”

‘Terima kasih aras kesediaan kalian!” seru Pek Siau-thian dengan angkuh.

Tiba-tiba terdengar Tio Sam-koh tertawa dingin dan berkata, Pek Siau-thian, engkau tak usah sombong, jangan harap kami bersedia untuk tunduk dibawah perintahmu, mau bacok, mau cincang ayoh silahkan.

Pek Siau-thian memang ada niat untuk membasmi semua kelompok pendekat, mendengar ucapan dari Thio Sam-koh tersebut, ia segera pergunakan kesempatan itu sebaik- baiknya.

Dengan muka membesi bentaknya keras-keras, “Pelindung panji kuning, ayoh maju dan tekuk mereka semua!!” Suara sahutan yang gegap gempita bergema memecahkan kesunyian, Cukat racun Yau Sut dengan memimpin hampir seratus orang pelindung hukum panji kuning bagaikan air bah yang menjebolkan tanggul langsung menerjang ke arah kelompok pendekar.

Kho Hong-bwee yang menyaksikan kejadian itu jadi amat gusar, pedangnya diputar kencang dan membabat seorang kakek tua di hada pannya, kemudian ia terjang kemuka.

Criing! dengungan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, seorang kakek tua yang berada disisi kiri menyentilkan ujung jarinya yang tepat bersarang diujung pedang Kho Hong-bwee, membuat serangan tersebut segera menceng kesamping.

Kegusaran yang berkobar dalam dada Kho Hong-bwee memuncak, ia putar pedang emasnya dan…. Sreeet! sekali lagi ia lancarkan sebuah bacokan maut.

Pek Kun-gie yang selama ini membungkam terus dalam seribu bahasa, tiba-tiba menyerang dari arah samping.

Kedelapan orang kakek tua itu merupakan jago-jago kelas satu dalam perkumpulan Sin-kie-pang, mereka disebut sebagai pelindung hukum bagian depan, tugas mereka adalah melindungi keselamatan pangcu dan merupakan orang kepercayaan dari Pek Siau-thian.

Walaupun kedelapan orang itu adalah orang-orang lihay yang hanya bertahan belaka, namun serbuan Kho Hong-bwee dan anaknya sama sekali tak mampu untuk menjebolkan kurungan tersebut. Dipihak lain, Cukat racun Yau Sut dengan memimpin hampr seratus orang jago lihay, ibarat gulungan ombak ditengah samudra segera menerjang ke arah barak yang di huni oleh para pendekar golongan putih.

Para jago dari golongan pendekar yang masih sanggup berdiri segera munculkan diri untuk menyambut datangnya serangan tersebut, tapi jumlah mereka tak lebih dari tiga belas orang, untuk menghadapi serangan sedahsyat itu keadaan benar-benar bagaikan telur melawan batu.

Tiba-tiba Lan-hoa Siancu berteriak keras, “Li hoa, Ci wi, kalau kita tidak mengadu jiwa lagi, maka kita akan berbuat kesalahan besar terhadap Siau long!”

“Benar, bagaimanapun juga kita harus melayani serbuan mereka dengan sepenuh tenaga!” sahut Li-hoa Siancu.

Sambil berbicara, ketiga orang kakak beradik seperguruan itu segera menyerbu ke depan lebih dahulu dan masing- masing orang menyebarkan diri untuk membendung serbuan lawan yang dahsyat bagaikan gulungan ombak samudra itu.

Terdengar Cukut racun Yau Sut membentak keras. “Ayoh lancarkan serangan!”

Begitu perintah dilepaskan para jago yang berada di barisan paling depan sama-sama mengayunkan telapaknya dan melepaskan satu pu kulan yang maha dahsyat.

Kawanan pelindung hukum yang tergabung dibawah panji kuning ini merupakan sekawanan jago yang memiliki ilmu silat yang amat lihay, tenaga pukulan mereka yang bergabung jadi satu benar-benar amat dahsyat bagaikan gulungan ombak menghancurkan dermaga, desiran tajam memekikkan telinga kekuatan serta daya penghancurnya amat mendebarkan hati orang.

Biau-nia Sam-sian yang berada di paling depan dengan cepat tertumbuk oleh gulungan angin pukulan yang dahsyat bagaikan angin puyuh itu, badan mereka tak mampu berdiri tegak dan dengan langkah sempoyongan mundur beberapa langkah ke belakang.

Tio Sam-koh serta Cu Thong sekalian yang menyusul dibelakangnya tak mampu berdiri pula semua jago terdorong mundur beberapa langkah dari posisi semula.

Walaupun begitu kepandaian melepaskan racun dari wilayah Biau memang mempunyai ciri-ciri khas serta keistimewaan yang luar biasa, tatkala Lan-hoa Siancu bertiga menerjang maju kedepan tadi, bubuk racun yang dapat merobohkan orang lain telah dilepaskan secara ber tubi-tubi.

Kendatipun Cukat racun Yau Sut dapat menyaksikan tingkah laku mereka dengan seksama dan sudah melepaskan pukulan dari tempat kejauhan namun ada empat orang anak buahnya yang tetap keracunan serta roboh tak berkutik lagi diatas tanah.

Menyaksikan kelihayan ilmu racun musuh, Cukat racun Yau Sat merasa amat terperanjat, rasa waspada yang timbul dalam hati kecilnya makin dipertingkat sambil menahan napas, perlahan-lahan tubuhnya bergerak kedepan, pukulan demi pukulan dilancarkan secara bertubi-tubi.

Kekuatan angin pukulan yang maha dahsyat itu bergabung jadi satu membentuk gelombang serangan yang luar biasa dahsyatnya, pukulan itu langsung menerjang para jago dari kalangan lurus, membuat Cu Im taysu serta Cu Thong yang berkepandaian tinggipun kena didesak mundur kebelakang hingga tak sanggup mempertahankan kuda-kudanya.

Setelah mundur berulang kali, para jago telah mengundurkan diri kembali kedalam barak, angin pukulan dahsyat segera menerbangkan meja dan kursi membuat keadaan pada saat itu ibaratnya suatu daerah yang ketimpa angin topan.

Dalam barak terdapat beberapa orang jago yang sedang menderita luka, melihat musuh tangguh menyerbu masuk kesana, anak murid dari Siang Tang Lay segera melindungi guru mereka dan menyingkir kesamping, Chin Pek-cuan membopong putranya Giok Liong, Cu Thong membopong Bong Pay dan Chin Wan-hong memayang Hoa Hujin mengundurkan diri dari tempat itu.

Untuk beberapa saat lamanya suasana jadi kalut dan kacau balau, agaknya para jago segera akan musnah dibantai orang- orang perkumpulan Sin-kie-pang.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari atas atap barak berkumandang suara bentakan seorang perempuan yang sangat nyaring, “Pek Siau-thian! kabut yang telah kusebarkan adalah kabut Kiu tok ciang dari wilayah Biau, kalau engkau belum juga tahu diri maka pelindung hukummu itu akan memperoleh ganjaran yang setimpal.”

Ucapan itu bernada datar dan tawar tapi setiap patah kata bergema amat tajam dan nyaring didengar, Cukat racun Yau Sut sekalian beserta Pek Siau-thian yang berdiri ditempat kejauhan kontan dibuat terkesiap hatinya mendengar perkataan itu, sadarlah mereka bahwa ditempat itu sudah hadir seorang jago persilatan yang berilmu silat amat tinggi. Sorot mata mereka segera dialihkan ke arah mana berasalnya suara itu, diatas atap barak duduklah seorang perempuan muda berdandan suku Biau yang telanjang kaki, lengannya dan dadanya kelihatan separuh, perempuan itu berwajah cantik jelita, berkulit putih bersih dan bersikap amat santai.

Tiba tiba jeritan kaget bergema saling susul menyusul, dalam waktu singkat separuh bagian pelindung hukum dari panji kuning perkumpulan Sin-kie-pang yang hadir disitu roboh terkapar keatas tanah dan tak berkutik lagi.

Pek Siau-thian amat terperanjat sekali, panji Hong-lui-leng digoyangkan berulang kali, bentaknya keras, “Mundur! mundur…. mundur….!”

Pada waktu itu Cukat racun Yau Sut sekalian sudah dibikin ketakutan hingga sukma serasa melayang tinggalkan raganya, mendengar tanda perinlah itu bagaikan gulungan angin topan mereka segera saling berebut untuk mengundurkan diri dari situ, seakan-akan mereka sedang mengalirkan diri dari pintu neraka.

Dalam sekejap mata, disamping empat orang yang roboh terkapar lebih dahulu, diatas tanah telah bertambah dengan dua puluh tujuh sosok tubuh manusia yang semuanya terdiri dari jago-jago lihay kelas satu dalam dunia persilatan.

Dalam pertarungan dengan andalkan ilmu silat, untuk merobohkan seorang musuh merupakan suatu pekerjaan yang sulit, tapi sekarang dalam waktu singkat ada dua puluh orang lebih yang roboh tak berkutik lagi, dari sini bisa terbukti bahwa ilmu racun dari wilayah Biau memang benar-benar mengerikan sekali. Saking gusar dan mendongkolnya, sekujur badan Pek Siau- thian gemetar keras, sambil menatap perempuan muda berdandan suku Biau itu dengan sorot mata tajam tegurnya dengan suara menyeramkan, “Apakah engkau adalah pemilik lembah Hu liong kok dari wilayah Biau??”

Perempuan cantik suku Biau itu tertawa. “Tebakanmu sedikitpun tak salah, aku adalah Kiu-tok

Sianci”

Sementara itu Biau-nia Sam-sian serta Chin Wan-hong secara beruntun telah melayang keluar dari dalam barak, sambil berlarian mereka sama-sama berseru lantang.

“Suhu….!”

Dengan sorot mata berkilat, Kiu-tok Sianci menyapu sekejap ke arah keempat orang itu, kemudian dengan muka membesi, ujarnya dingin, “Hmm! kalian sudah menurunkan pamor kalian sendiri, apakah kamu semua masih punya muka untuk berjumpa dengan aku?”

Telapaknya dikebas kedepan, segulung angin pukulan yang tajam seketika merobohkan keempat orang itu dari atas barak.

Pek Siau-thian tertawa dingin tiada hentinya.

“Heehh…. heehb…. heehh…. antara perkumpulan Sin-kie- pang dengan pihak lembah Hu-liang-kok pernah mengikat janji bahwasanya kedua belah pihak tidak akan saling mengganggu maupun saling menyerang, dalam kenyataan engkau telah meracuni anak buahku sebanyak dua puluh orang lebih, jadi maksudmu tersebut hendak kau batalkan?” “Tentu saja batal!” jawab Kiu-tok Sianci hambar, “tapi perjanjian ini batal ditangan orang-orang perkumpulaa Sin-kie- pang, engkau tak usah salahkan kami orang-orang dari lembah Hu-liang-kok”

“Apa maksudmu?”

Kiu-tok Sianci mendengus dingin.

“Hmm! selama ini pihak lembah Hu-liang-kok kami selalu menutup diri pergaulan dunia luar, kami tak mencampuri urusan dari siapapun tapi kalian orang-orang dan pihak perkumpulan Sin-kie-pang telah meracuni Hoa Thian-hong dengan racun keji kemudian menghantar masuk kedalam lembah Hu-liang-kok kami, memaksa aku harus menerima Chin Wan-hong sebagai muridku. Kalau perjanjian ini hendak dibatalkan maka kalian perkumpulan Sin-kie-pang yang harus bertanggung jawab dalam soal ini.”

Mendengar perkataan itu Pek Siau-thian terperangah dibuatnya, meskipun alasan yang dikemukakan sedikit terlalu memaksa namun kenyataan memang demikian, untuk beberapa saat ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun tanpa sadar lagi ia melotot sekejap ke arah Pek Kun-gie dengan pandangan gemas.

Setelah suasana hening beberapa saat lamanya, Pek Siau- thian memerintahkan Yau Sut untuk mengirim orang mengangkut kembali kedua puluh sosok pelindung hukum panji kuning yang terkapar di tanah.

Cukat racun Yau Sut segera memerintahkan sepasukan pria kekar berbaju hitam untuk melaksanakan tugas tersebut.

Sepasukan pria kekar berbaju hitam ini merupakan anak buah dari tiga ruang bagian luar, diantara para jago yang hadir dalam lembah Cu-bu-kok dewasa ini mereka terhitung manusia yang berkepandaian rendah dalam pikiran Yau Sut dengan kedudukan Kiu-tok Sianci yang begitu tinggi dan terhormat tak mungkin sampai dia melepaskan racun keji terhadap kawanan manusia itu.

Terdengar Kiu-tok Sianci dengan suara dingin berseru, “Dalam lingkaran tiga tombak disekitar barak ini tak mungkin dilalui siapapun, jangan dikata manusia, burungpun tak mungkin bisa melewati tempat ini, aku harap kalian semua menghentikan langkah kakimu itu!”

Sebenarnya kawanan manusia baju hitam itu sudah merasa amat kuatir sekali atas keselamatan jiwa mereka apa lagi setelah mendengar ancaman dari Kiu-tok Sianci itu, kontan jantungnya merasa berdebar keras tapi berhubung peraturan perkumpulan yang begitu ketat, siapapun tak berani membangkang perintah tersebut.

Begitulah, sekalipun mereka sudah tahu bahwa sebentar lagi mereka semua akan melangkah masuk kedalam lingkaran tiga tombak dari sisi barak, namun dengan langkah lebar orang-orang itu masih tetap melanjutkan perjalanannya.

Bluuk! bluuk! bluuk! sebelum kawatan manusia baju hitam itu sempat mencapai hadapan para pelindung hukum yang terkapar diatas tanah, secara beruntun orang-orang itu roboh terjengkang keatas tanah dan sama sekali tak berkutik lagi.

Kiu-tok Sianci yang duduk diatas atap barak masih tetap seperti sedia kala, semua orang tak ada yang melihat bagaimana caranya orang itu melepaskan racun kejinya, dari sini semakin dapat dibuktikan betapa dahsyat dan luar biasanya kepandaian melepaskan racun yang dimiliki perempuan suku Biau ini. Pek Siau-thian merasa terkejut bercampur gusar, pikirnya didalam hati.

“Kabut kiu tok ciang yang ditebarkan disekitar tempat ini pastilah merupakan sebangsa racun yang tak berwarna maupun berbau yang melayang diudara sehingga membuat setiap orang yang tersentuh seketika keracunan dan tak bisa berkutik lagi, dengan cara apakah aku harus menahan serangan racun itu?”

Otaknya berputar keras, segala kecerdikannya diserahkan untuk memecahkan persoalan itu, namun akhirnya toh usaha itu mengalami jalan buntu.

Karena gelisah bercampur cemas, hawa amarahnya segera berkobar membakar hatinya, paras mukapun dari merah padam berubah jadi hijau membesi.

Tiba-tiba terdengar Kho Hong-bwee berkata dengan suara dingin, “Bukankah sudah kukatakan sejak tadi, rembulan yang bulat akhirnya akan lonjong, air yang penuh pasti akan meluber, sekarang engkau harus mempercayai kebenaran dari ucapanku itu, ikutilah nasehatku dan serahkan tanda perintah Hong-lui-leng tersebut kepadaku, biarlah aku yang bereskan masalah selanjutnya!”

“Hmmm! aku orang she Pek tak rela mengaku kalah dengan begitu saja!” teriak Pek Siau-thian penuh kegusaran.

Dengan tanda perintah Hong-lui-leng ki nya dia tuding kemuka, kemudian bentaknya keras-keras, “Yau Sut pimpin barisan pelindung panji kuning menyerang dari sayap kiri, Ho Kee-sian pimpin anak buah tiga ruang dalam menyerang langsung dari bawah mimbar, sisanya siapkan anak panah dan menunggu perintah!” Ratusan orang anggota perkumpulan Sin-kie-pang sama- sama menyabut, suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong.

Cukat racun Yau Sut serta telapak pembalik langit Ho Kee- sian segera tampil ke depan dan membentak, “Ikuti aku!”

Dalam sekejap mata Cukat racun Yau Sut dengan memimpin enam tujuh puluh orang pelindung hukum panji kuning menerobos dari bawah barak, mengitari belakang rombongan manusia-manusia aneh dan menerjang masuk ke arah barak yang dihuni para jago.

Telapak pembalik langit Ho Kee-sian dengan memimpin semua pelindung hukum dan Tiang Cu dari tiga ruang dalam yang berjumlah hampir dua ratus orang dengan melingkari mimbar menerjang masuk ke arah barak yang dihuni para pendekar dari sayap kanan.

Kesempurnaan barisan dari orang-orang perkumpulan Sin- kie-pang serta kedisiplinan mereka melaksanakan perintah, benar-benar tak dapat dibandingkan dengan kelompok manusia-manusia lain di kolong langit, serbuan yang dilaksanakan secara serentak oleh dua tiga ratus orang ini betul-betul dahsyat ibarat gulungan ombak ditengah samudra, walaupun serentak namun sama sekali tidak kacau, kecepatan gerakan mereka serta kecepatan mereka mengepung sasarannya begitu dahsyat, membuat siapapun yang melihat jadi terperanjat dan berkobar keras.

Kiu-tok Sianci sendiri diam-diam dibuat serba salah setelah menyaksikan serbuan te sebut, ia sadar bahwa kemampuan yang dimilikinya masih belum mampu untuk mengatasi keadaan tersebut. Dalam keadaan tergesa-gesa ia segera melayang turun dari atas barak dan langsung menghadang serbuan yang dipimpin oleh Yau Sut, bentaknya dengan suara lantang, “Lan hoa, Li hoa! hadang sebelah kanan sebentar lagi Siau Long akan datang kemari”

“Siau Long ada dimana?” teriak Lan-hoa Siancu.

Sementara pembicaraan sedang berlangsung, telapak pembalik langit Ho Kee-sian dengan memimpin para jago lihay dari tiga ruang dalam telah menyerbu masuk ke dalam barak.

Ketika para pendekar mendengar bahwa Hoa Thian-hong sebentar lagi akan tiba di sana, semua orang merasakan suatu perasaan gembira yang sangat aneh, mereka semua segera terjun kedalam gelanggang dan masing-masing orang dengan penuh semangat menyambut datangnya serangan dari pihak lawan.

Pek Kun-gie sendiri, ketika mendengar dari mulut Kiu-tok Sianci bahwasanya sebentar lagi Hoa Thian-hong akan muncul disana, dalam hati kecilnya segera berpikir, “Sekarang orang- orang perkumpulan Sin-kie-pang sedang mengerubuti ibu dan sahabat-sahabatnya jika dia sampai melihat kejadian ini mungkin sampai akupun akan dibenci olehnya….”

Ingatan tersebut belum sempat berkelebat dalam benaknya hingga selesai dengan cepat, gadis itu sudah merampas sebilah pedang dan langsung lari ke arah mimbar.

Pek Siau-thian jadi amat gusar setelah menyaksikan tingkah laku putrinya ia membentak keras,

“Budak ingusan….” Badannya menerjang maju kedepan dan menyambar tubuh gadis itu.

Dengan suara dingin Kho Hong-bwee segera berseru. “Jangan urusi orang lain kita pun harus bertempur hingga

salah satu diantaranya mampus!”

Sreet….! Sreeet….! dua bacokan pedang memaksa Pek Siau-thian terpaksa harus mundur dua langkah kebelakang.

Kegusaran yang berkobar dalam benak Pek Siau-thian tak terkendalikan lagi.

Senjata pecut lemasnya segera dikibaskan ke luar dan melancarkan sebuah serangan balasan.

Suasana pada waktu itu kalut sekali, Pek Siau-thian terlibat kembali dalam suatu pertempuran yang sengit melawan istrinya sendiri. Kiu-tok Sianci sendiri menahan serbuan dari Yau Sut beserta anak buahnya berjumlah tujuh puluh orang lebih.

Berbicara dalam hal ilmu silat, sudah tentu Kiu-tok Sianci tak mungkin berhasil menghela serbuan jago-jago sebanyak itu tapi karena pertama ruang gerak disekitar barak itu amat sempit dan kecil, kedua, semua orang jeri akan nama besar Kiu-tok Sianci maka sewaktu melihat perempuan itu menerjang datang semua orang sama-sama menyingkir kebelakang.

Setelah berhasil mendesak mundur para jago, Kiu-tok Sianci secepat kilat melayang di angkasa dan berputar satu lingkaran mengitari Hoa Hujin serta Siang Tang Lay sekalian yang terluka dan tak dapat maju bertempur kemudian tanpa memperdulikan musuh-musuhnya lagi ia langsung menerjang ke arah Ho Kee-sian beserta para jagonya.

Yau Sut agak terperangah sewaktu dilihatnya Kiu-tok Sianci meninggalkan mereka semua dan malahan berpindah ke pihak lain, sebagai seorang jago yang gampang curiga satu ingatan berkelebat dalam benaknya membuat ia segera menghentikan gerakan tubuhnya.

Lain halnya dengan para jago lain yang kurang cermat, orang-orang yang berada dikedua belah sisinya dengan cepat menerjang ke muka dengan maksud membinasakan Hoa Hujin sekalian yang sedang terluka.

Siapa tahu baru saja menerjang sejauh beberapa depa ke arah depan tanpa sempat mendengus berat enam orang jago sudah roboh tak berkutik lagi diatas tanah.

Diam-diam Cukat racun Yau Sut merasa terkesiap, buru- buru ia perintahkan anak buahnya untuk hentikan gerakan mereka.

Sementara itu Hoa Hujin sekalian tepat berada dihadapan mereka dan jaraknya hanya dua tiga tombak belaka, mereka tahu, andaikata orang-orang itu bisa ditangkap maka tanpa bertempur lebih jauh kemenangan telah berada ditangan mereka.

Tapi tempat dimana Kiu-tok Sianci berputar tadi telah membentuk sebuah dinding pemisah yang tak berwujud, siapapun tak punya keberanian untuk melewati dinding pemisah tersebut.

Telapak pembalik langit Ho Kee-sian adalah ketua dari ruang Thian leng tong pada saat itu dengan pemimpin dua ratus orang jago dari huan han telah menerjang masuk ke dalam barak lewat sayap sebelah kanan dengan pukulan- pukulan yang berat dan dahsyat mereka paksa Biu nia Sam sian sekalian terdesak mundur beberapa langkah kebelakang, menggunakan peluang yang sangat baik itulah pasukan segera dipecah menjadi dua bagian dan mengepung gerombolan para pendekar itu dari sisi kiri maupun kana, dalam waktu singkat suasana jadi makin kritis bagi pihak kaum lurus dan nampaknya sebentar lagi mereka akau berhasil menyerbu masuk kedalam barak.

Pada saat yang gawat itulah Kiu-tok Sianci berhasil mencapai tempat kejadian, semua orang yang sudah tahu akan kelihayan ilmu ra cun dari perempuan itu, sama-sama mengundurkan diri kebelakang setelah melihat kehadirannya.

Apa lacur Pek Kun-gie dengan babatan pedangnya yang kalap pada waktu itu sudah tiba disitu dan memutuskan jalan mundur mereka, suasana jadi kalut dan barisanpun jadi kacau, semua orang berusaha menghindarkan diri dari babatan- babatan maut gadis itu.

Himpit menghimpit terjadi diantara sesama anggota perkumpulan Sin-kie-pang, banyak orang yang tergelincir roboh keatas tanah, membuat suasana yang kacau bertambah kalut rasanya.

Dalam pada saat itulah, dari mulut lembah Cu-bu-kok tiba- tiba bergema suara bentakan seseorang, “Pek Siau-thian!”

Bentakan tersebut begitu keras ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, semua orang merasakan telinganya bergetar keras dan amat sakit rasanya.

Pek Siau-thian merasa amat terperanjat, andaikata serangan Kho Hong-bwee secara mendadak tidak mengendor, mungkin lengan kanannya sudah tertebas kutung. Pada waktu ilu masih ada seratus dua rasus orang anggota perkumpulan Sin-kie-pang yang menyumbat mulut lembah, dengan demikian orang yang berada dalam lembah dapat untuk melihat pemandangan diluar lembah.

Terdengarlah seseorang dengan nada gemetar berseru keras, “Lapor pangcu, Hoa Thian-hong telah muncul kembali!!”

Dari suara pelapor yang gemetar dan tersendat-sendat dapat diketahui bahwa hati orang itu sudah keder dibuatnya.

Pek Siau-thian semakin naik pitam, ia segera membentak keras, “Kembali yaa kembali, apa yang musti di takuti?? lepaskan dia masuk kedalam lembah!”

Bagaikan embok laut yang membelah ke samping, para jago perkumpulan Sin-kie-pang yang menyumbat mulut lembah sama-sama menyingkir kesamping hingga terbukalah sebuah jalan lewat.

Hoa Thian-hong dengan mencekal pedang bajanya melangkah masuk kedalam lembah, pelayan tua nya Hoa In mengikuti dibelakang pemuda itu.

Pada dasarnya Hoa Thian-hong memiliki badan yang kekar dan wajah yang berwibawa, kini ia nampak jauh lebih bersemangat dan agung sekali, seakan-akan seorang manusia yang baru saja muncul dari penggodokan dalam tungku pat kwa, begitu agung dan berwibawanya membuat setiap orang dalam lembah itu diam-diam mengaguminya.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan kilat, Pek Siau- thian menatap wajah Hoa Thian-hong tanpa berkedip, ketika dilihatnya selangkah demi selangkah si anak muda itu menghampiri kehadapannya, entah apa sebabnya tiba-tiba muncul suatu perasaan dengki yang aneh sekali dalam hati kecilnya”

Suasana dalam lembah Cu-bu-kok diliputi keheningan yang luar biasa, sorot mata setiap orang ditujukan keatas wajah Hoa Thian-hong, orang-orang dari pihak kaum pendekar termasuk juga Siang Tang Lay dan Kiu-tok Sianci sama-sama melelehkan air matia karena kegirangan, paras muka mereka semua menampilkan perasaan lega dan gembira.

Diam-diam Pek Siau-thian menyumpah dalam hati kecilnya, “Sialan! kenapa aku musti jeri kepadanya?”

Semua perhatiannya segera dipusatkan jadi satu, sambil menekan pergolakan hatinya, ia berkata dengan ketus, “Bukankah engkau sudah pilih jalan untuk kabur sejauh- jauhnya dari tempat ini? mau apa engkau datang lagi kemari, mungkin sudah bosan hidup?”

Hoa Thian-hong menjura dan memberi hormat kemudian sahutnya, dengan wajah serius, “Aku sama sekali tidak pergi jauh, ambisi pangcu yang begitu besar sungguh membuat hatiku merasa sangat kagum”

Bicara sampai disitu, ia merogoh sakunya dan ambil keluar sebuah kotak kecil terbuat dari kumala sambil diserahkan ketangan Hoa In, perintahnya, “Serahkan batang Leng-ci ini untuk ibuku, Hoa In menyambut kotak itu dengan tangannya dan segera lari menuju ke arah barak, Ci-wi Siancu buru-buru nampakkan diri dari balik garis yang diselimuti kabut kiu tok ciang dan menerima kotak kumala tadi, sementara itu Kiu-tok Sianci telah ambil kembali botol kumala putih dari sakunya dan berbisik kepada Lan-hoa Siancu dengan suara lirih, “Cepat kita tarik kembali semua kabut kiu tok cian ini, masalah yang sedang kita hadapi pada taat ini hanya bisa selesai dengan menyerahkan semua persoalan tersebut ketangan siau liong!”

Lan-hoa Siancu menerima botol kumala itu dan segera berlarian keempat penjuru untuk menarik kembali kabut racun yang telah tersebar luas ditengah udara.

Dipihak lain, Pek Siau-thian telah memandang sekejap ke arah Hoa Thian-hong dengan pandangan dingin, kemudian dengan alis mata berkenyit ujarnya, “Seringkali ada pepatah kuno yang mengatakan, bila dalam suatu negara muncul seorang yang berbakat, maka keharuman namanya akan mencapai beberapa ratus lamanya, engkau berbakat bagus, berkemauan besar, punya keberanian dan rejeki bagus, aku merasa sangat kagum pada dirimu!”

“Aku hanya seorang pemuda yang belum tamat belajar, untuk memimpin dunia persilatan selama puluhan tahun mendatang masih belum pantas untuk tiba gilirannya pada diriku!”

“Hmm! hal ini sudah tentu!” sela Pek Siau-thian dengan suara dingin.

“Tapi juga tidak pada giliran pangcu!, sambung Hoa Thian- hong lebih jauh dengan cepat.

“Kurang ajar, aku tidak percaya!” bentak Pek Siau-thian penuh kegusaran.

Hoa Thian-hong menengadah keatas dan tertawa nyaring. “Haahh…. haahh…. haahh…. kenyataan memang begitu,

sekalipun engkau tidak percaya juga harus mempercayai!” Sambil menuding ke arah rombongan manusia-manusia aneh berbentuk setan itu, ia melanjutkan, “Coba pangcu lihat, danrimana asal mula datangnya rombongan manusia aneh itu?”

Pek Siau-thian melirik sekejap ke arah rombongan manusia aneh bagaikan setan itu, kemudian jawabnya dengan suara tawa, “Huuh….! generasi muda dari perkumpulan Kiu-im- kauw, engkau anggap aku adalah manusia macam apa? kau anggap dalam mataku telah kemasukan pasir?”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, paras muka semua orang yang hadir dalam lembah Cu-bu-kok itu sama- sama berubah hebat, sampai-sampai manusia aneh yang selama ini hanya membungkam terus dan sama sekali tak pernah mengucapkan sepatah katapun ikut berubah wajah.

Hoa Thian-hong mengangguk tanda membenarkan, setelah itu tanyanya lagi, “Apakah pangcu tahu, siapakah kaucu dari perkumpulan Kiu-im-kauw pada generasi yang lalu?”

“Siapa?” bentak Pek Siau-thian. Hoa Thian-hong tertawa santai.

“Aku sendiripun tak tahu siapakah orang itu, tapi aku pernah melihat sendiri bahwa orang itu adalah seorang perempuan, setelah, memberi perintah kepada orang-orang aneh ini, dia masuk kedalam tandu warna-warni itu dan digotong masuk kedalam lembah ini, sayang pada itu semua pikiranku tertuju untuk mendalami kelemahan-kelemahan dalam permainan pedangku, sehingga duduk persoalan yang lebih jelas tak sempat kudengar”

“Huuh! kalau cuma seorang perempuan saja, aku rasa sekali lihay maka kelihayannya tak akan melampaui kehebatanku dan tak akan melampaui kehebatanmu juga orang she Hoa….!”

Hoa Thian-hong menggeleng dan tertawa.

“Engkau kelitu besar jika mempunyai pikiran begitu, kesabaran orang ini luar biasa sekali, dan aku merasa tak mampu untuk menangkan dirinya”

Pek Siau-thian segera mendengus dingin.

“Hmm! kesabaran yang luar biasa? aku rasa orang yang lain belum tentu mempunyai kesabaran yang luar biasa, aku telah mengambil keputusan, bila hutang piutang diantara kita sudah dibikin beres maka segera akan kuundang kemunculannya.

“Ternyata ia sudah punya perhitungan sendiri dalam hati kecilnya….” pikir Hoa Thian-hong dalam bati, “kemampuannya menguasai dunia peralatan benar-benar bukan diperoleh dari hasil untung-untungan….!”

Berpikir sampai disini, dengan muka serius ia lantas berkata, “Jadi pangcu sudah ambil keputusan untuk membereskan kelompok kami lebih dahulu?”

“Tentu saja!”

Paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi serius sekali, ia berseru, “Aku minta agar pangcu menarik kembali semua anak buahmu sebab untuk berduel satu lawan satu engkau masih bukan tandinganku!”

Mendengar perkataan itu, Pek Siau-thian merasa amat gusar sekali tapi sesaat kemudian pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia teringat kembali akan beberapa kali pengalamannya dalam menghadapi serangan maut Hoa Thian-hong, hal itu membuat semangatnya jadi kendor.

“Bangsat cilik ia sudah pasti telah berhasil menyelami arti kata yang tercantum dalam catatan kiam keng” pikirnya dalam hati, andaikata dugaanku tidak keliru mungkin kepandaian silatku benar-benar sudah bukan tandingannya lagi”

Berpikir sampai disini, dia segera menggertak gigi dan mengibarkan panji Hong-lui-leng nya.

“Kalian semua mundur kebelakang!” bentaknya keras- keras.

Cukat racun Yau Sut serta Telapak pembalik langit Ho Kee- sian yang mendapat perintah itu segera memimpin anak buahnya masing-masing untuk mengundurkan diri kebelakang, dua tiga ratus orang jago perkumpulan Sin-kie-pang segera mengepung sekitar lembah itu dengan rapatnya.

Kho Hong-bwee yang menjumpai keadaan tersebut jadi gusar sekali, ia segera membentak keras, “Pek Siau-thian, engkau masih punya muka atau tidak?”

Pek Siau-thian mendengus dingin.

“Hmm! memelihara tentara seribu hari apakah persoalannya hanya punya muka atau tidak?”

“Haaah haaahh haaah perkataan pangcu memang tepat sekali” sela Hoa Thian-hong sambil tertawa, “memelihara tentara seribu hari, yang penting adalah dipergunakan disaat yang perlu, ini hari silahkan eng kau gunakan segenap tenaga yang kau miliki” Kemudian sambil berpaling kebelakang dia membentak, “Hoa In>, mundur dari situ!”

Hoa In terperangah.

“Bukankah lebih baik hamba berada disini saja?” serunya kemudian dengan suara terbata-bata.

“Cepat mundur dari sini! dari pada kehadiranmu merepotkan aku saja”

Hoa In melongo dan termangu-mangu, akhirnya perlahan- laha ia mengundurkan diri dari gelanggang dan berjaga-jaga diluar arena.

Sepeninggalnya Hoa In, Hoa Thian-hong alihkan sorot matanya mengawasi Wajah Pek Siau-thian kemudian dengan suara dingin katanya, “Dengan pedang baja ini berada ditangan sekalipun berada diantara seriba prajurit sepuluh ribu kuda untuk menebas batok kepa la pancu bagiku adalah suatu pekerjaan yang sangat gampang ibaratnya mengambil barang dalam saku sendiri aku lihat lebih baik pangcu segera mengundurkan diri dari tempat ini”

Pek Siau-thian benar-benar merasa amat gusar sekali pecut lemasnya seketika dikebaskan kedepan melepaskan serangan- serangan gencar yang mematikan.

Sejak menyaksikan keadaan ibunya dan saudara seperjuangan lainnya banyak yang mati atau terluka, hawa amarah sudah berkobar dalam dada Hoa Thian-hong hingga mencapai keadaan yang tak terkendalikan lagi, sekarang pemuda itu betul-betul tak mampu menahan kesabarannya lagi. Pemuda itu punya tujuan untuk mengalahkan Pek Siau Than, karenanya ia tunggu hingga senjata pecut lemas pihak lawannya hampir bersarang diatas tubuhnya dan jurus serangan yang digunakan Pek Siau-thian sudah mendekati pada akhirnya, secara tiba-tiba ia baru gerakan pedang bajanya melepaskan serangan balasan.

Serangan yang dilancarkan kedua orang itu sama cepatnya dan hanya berlangsung dalam sekejap mata, orang lain belum sempat mengikuti jalannya pertarungan itu, tahu-tahu cahaya hitam berkelebat lewat dan pedang baja itu secepat kilat sudah menghantam diatas pisau berbentuk bulan sabit yang terikal diatas pecut lemas tersebut.

“Cniing….! benturan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, pecut lemas yang kena dihantam oleh pedang baja itu tiba-tiba terpental dan balik menyerang ke arah kepala Pek Siau-thian sendiri.

Sementara itu pisau berbentuk bulan sabit serta duri beracun yang terikat diatas pecut lemas tadi, setelah termakan getaran keras dari pedang baja itu seketika patah semua jadi beberapa bagian ibarat hujan gerimis, semua patahan dan hancuran senjata itu langsung menyambar ke arah sekujur badan Pek Siau-thian….

Menghadapi kejadian yang sama sekali tak terduga itu, ketua perkumpulan Sin-kie-pang ini jadi amat terperanjat sekali hingga sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya, dalam keadaan kritis dan berbahaya ia tidak memperdulikan soal kedudukan ataupun gengsi lagi buru-buru badannya dijatuhkan ke arah belakang dengan gerakan jembatan gantung ia menghindari serangan lawan lalu tubuhnya menggelinding ke samping dan meloloskan diri dengan tergopoh-gopoh. Melesat menghantam tubuh Pek Siau-thian, hancuran pisau bulatan sabit serta duri beracun itu meluncur terus kebelakang dan menyambar para jago yang berada disekeliling gelanggang.

Untung para jago yang berada disekitar gelanggang adalah jago-jago lihay berkepandaian tinggi, kalau tidak niscaya diantara mereka ada yang roboh karena tersambar oleh senjata hancuran itu

Hoa Thian-hong merasa gusar sekali, dia tak sudi melepaskan lawannya dengan begitu saja, melihat musuhnya berhasil lolos dari serangan yang pertama ia segera enjotkan badan dan berkelebat kehadapan Pek Siau-thian, pedangnya berkelebat ke arah depan langsung membabat pinggang lawan.

Serangan ini dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, tapi enteng seakan-akan tiada sesuatu benda apapun, sedikit pun tidak membawa suara desiran barang sedikitpun jua.

Belum sempat Pek Siau-thian bangkit berdiri, sambaran pedang itu sudah meluncur datang menghajar pinggangnya, dalam keadaan terkesiap bercampur kaget jago tua dari perkumpulan Sin-kie-pang ini menjerit kaget.

Dua buah serangan yang dilancarkan Hoa Thian-hong ini terlalu cepat sekali begitu cepatnya membuat dua tiga ratus orang anggota perkumpulan Sin kis pang yang mengepung Hoa Thian-hong disekitar arenapun belum sempat melakukan sesuatu gerakan apapun.

Jikalau pemuda ini ada maksud membinasakan Pek Siau- thian, maka asal pedangnya dilanjutkan babatannya kedepan, niscaya jago tua itu akan kehilangan jiwanya. Mendadak, dalam benaknya terlintas bayangan tubuh dari Pek Kun-gie, pemuda itu jadi sangsi dan ia jadi tak tega untuk melanjutkan babatannya itu.

Meskipun tak tega membinasakan lawannya, namun rasa benci dan mendendam masih berkecamuk dalam benak si anak muda ini, pedang bajanya segera dibelokan keluar menyambar para pelindung hukum panji kuring yang berjajar disebelah kanan, sementara kakinya melancarkan sebuah tendangan kilat yang membuat Pek Sian Thian mendengus berat, tubuhnya mencelat ketengah udara dan terkapar diluar gelanggang.

Traang….! Traang….! bentrokan nyaring bergema saling susul menyusul, dimana pedang bajanya berkelebat disitulah empat lima ba tang senjata tersambar putus.

Pada waktu itulah bentakan keras bergema, orang-orang yang berkerumun diluar gelanggang mulai mengepang dan menyerang kedepan.

Menyaksikan serangan yang dilancarkan para jago lihay itu, Hoa Thian-hong merasa gusar sekali, pikirnya, “Kawanan manusia laknat ini sudah lama melakukan perbuatan jahat, entah berapa orang baik dan manusia budiman yang menemui ajalnya ditangan mereka? ini hari kalau aku tidak membantai beberapa orang diantaranya aku rasa tindakanku ini kurang adil….”

Setelah ambil keputusan dalam hati kecilnya, nafsu membunuh yang sangat tebal seketika memancar keluar dari balik matanya sedang baja dibabat kedepan dan langsung menerjang ke arah Cukat racun Yau Sut yang berada dihadapannya. Menyaksikan terjangan si anak muda itu Cukat racun Yau Sut amat terkesiap sehingga keringat dingin mengucur keluar membasai seluruh tubuhnya untung ia pandai melihat gelagat, ketika dilihatnya paras muka Hoa Thian-hong berubah jadi menyeramkan sekali dan langsung menerjang ke arahnya, buru-buru ia berkelebat kebelakang dan segera mengundurkan diri kedalam gerombolan orang banyak.

Hoa Thian-hong yang amat gusar jadi tertawa keras, pedang bajanya menyambar kesana kemari bagaikan gulungan badai salju, ia terus menerus mengejar Cukat racun Yau Sut kemanapun dia pergi, daya serangan yang terpancar keluar dari ujung pedangnya amat dahyat dan berat membuat siapapun tak sanggup mempertahan diri.

ooooOoooo 59

Pek Siau-thian yang tulang pantatnya kena ditendang sehingga hampir saja beberapa tulangnya patah, dengan susah payah melayang turun ditepi gelanggang dengan sepasang kaki masih menempel diatas tanah.

Setelah berhasil merguasahi diri dan menekan rasa sakit diatas pantatnya, jago tua dari perkumpulan Sin-kie-pang ini segera a-lihkan sorot matanya ke arah gelangang.

Ia saksikan juru pikirnya atau Kunsu dari perkumpulannya, Cukat racun Yau Sut sedang melarikan diri terbirit-birit kesana kemari dengan penuh ketakutan, sedangkan Hoa Thian-hong mengejar terus dari belakangnya, pedang baja yang berat menyambar kian kemari tiada tandingan, setiap jago yang berpapasan dengannya segera mengun durkan diri atau berusaha menghindarkan diri, bagi mereka yang agak mundur kebelakang, setiap kali senjatanya terbentur dengan pedang baja lawan kontan patah jadi beberapa bagian dan terlepas dari cekalan, keadaan pada saat itu boleh dibilang luar biasa sekali

Peristiwa yang berlangsung pada saat ini terjadi dalam waktu yang amat singkat semua jago dibuat terkesiap menghadapi peristiwa tersebut, bagi mereka yang ada dibawah barak dan tak dapat melihat jelas keadaan gelanggang sama-sama memanjat keatas meja, suara bisikan dan pembicaraan berkecambuk jadi satu membuat suasana jadi gaduh.

Chin Pek-cuan nampak amat girang sekali, sambil mengelus jenggotnya ia memuji tiada hentinya.

Biau-nia Sam-sian menuding kesana kemari sambil berkaok-kaok mereka paling banyak bicara dan paling banyak tertawa.

Tio Sam-kohb tersenyum simpul dengan wajah berseri-seri mendadak ia saksikan Hoa Hujin tetap duduk tak berkutik ditempat semula dengan nada gusar segera bentaknya, “Hong ji ayoh cepat bimbing hujin bangun!”

Chin Wan-hong amat terperanjat, buru-buru dia bangunkan Hoa Hujin dan memayangnya agar bisa melihat jelas keadaan ditengah gelanggang.

Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san walaupun sedang menderita luka parah, pada saat ini ia berdiri diatas sebuah meja, makin memandang makin emosi hingga akhirnya tak sabar lagi ia berteriak keras, “Seng ji! bunuh saja bangsat itu sampai mampus!”

Hoa Thian-hong sendiri setelah mengejar lama sekali namun tidak berhasil menyusul Cukat racun Yau Sut, hatinya sudah amat panas sekali apa lagi sekarang setelah mendengar teriakan tersebut, hawa amarahnya langsung berkobar dan nafsu membunuhpun menyelimuti seluruh wajahnya, ia tidak kenal belas kasihan lagi dalam serangan-serangan berikutnya.

Dalam sekejap mata, jeritan ngeri berkumandang tiada hentinya ibarat harimau diantara domba tak seorangpun yang dapat membendung ataupun menahan serangan serta terjangannya.

Setelah pemuda itu melakukan pembantaian, para jago menghindarkan diri dibuatnya, dimana pedang bajanya meyambar lewat semua orang pada menghindarkan diri dengan tergopoh-gopoh.

Kegusaran yang berkobar dalam benak Pek Siau-thian tak sanggup dikendalikan lagi, ia tak menyangka perkumpulan Sin kie pa?ng yang didirikan dengan susah payah dan menguasai dunia persilatan tanpa tandingan, kini tak mampu menahan serangan seorang pemuda dengan sebilah pedang bajanya, dalam keadaan sedih bercampur penasaran timbullah niatnya untuk berbuat nekad dan mempertahankan hasil karya nya ini dengan pertaruhan jiwa sendiri.

Dengan cepat ia menyingkap baju dan meloloskan sepasang pedang pendek yang me-mancarkan cahaya sangat tajam, sambil mencekalnya ditangan, jago tua itu langsung menerjang ke arah Hoa Thian-hong.

Sementara itu posisi Cukat racan Yau Sut kian lama kian terdesak hebat dan hadangan serta tameng yang dia andalkan pun kian menipis, tatkala dilihatnya Hoa Thian-hong mengejar terus tiada hentinya seakan-akan pemuda itu sudah ambil keputusan untuk menghabisi jiwanya, ia makin ketakutan dibuatnya, sampai-sampai sukmanya serasa melayang tinggalkan raganya. Dengan cepat ia putar badan dan menerobos sedalam gerombolan manusia yang ada diluar gelanggang.

Diam-diam Hoa Thian-hong mendengus dingin, pikirnya, “Sekalipun engkau naik kelangit atau masuk kebumi, ini hari aku bersumpah akan binasakan dirimu!”

Pedang bajanya diayun kedepan menciptakan sebuah jalan lewat dan pemuda itu mengjar lebih jauh.

Tiba-tiba Pek Siau-thian menerjang datang dari sisinya, sambil membentak keras jago tua itu melepaskan satu serangan kilat ke arahnya.

Menghadapi sergapan tersebut, Hoa Thian-hong merasa amat gusar ia segera membentak, “Kurang ajar akan kutebas dulu sebuah lehermu!”

Pedang baja digetarkan keras-keras, dengan jurus Hong ku cay thian atau burung besar terbang di angkasa, ia balas melancarkan serangan kilat….

Tenaga dalam yang disalurkan Hoa Thian-hong dalam pedang bajanya pada saat ini dalam kenyataan tak mungkin bisa ditandingi oleh Pek Siau-thian.

Terlihatlah pedang baja itu berkelebat lewat dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, meskipun dilepaskan bela kangan namun tiba disasaran lebih duluan, langsung ujung pedangnya membabat lengan jago tua itu.

“Thian-hong….!” tiba-tiba terdengar Pek Kun-gie menjerit lengking dengan nada yang sangat terperanjat. Diam-diam Hoa Thian-hong menghela nafas panjang, pedang bajanya dicukil keatas berulang kali, bukan lengan yang diarah kini, dia menghajar sepasang pedang pendek dari Pek Siau-thian….

“Criing! Criing!” dua bilah pedang pendek itu tergetar keras dan segera mencelat keangkasa.

Paras muka Pek Siau-thian pucat keabu-abuan, ia berdiri terperangah ditempat semula tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata-pun, tubuhnya kaku bagaikan patung.

Ujung baju lengan kaitannya tersambar robek dan meninggalkan sebuah bekas darah yang amat dalam.

Sementara itu Cukat racun Yau Sut yang melarikan diri kedalam kerumunan orang banyak benar-benar sudah pecah nyalinya, paras muka orang itu sudah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, ketika ia berpaling kebelakang maka tampaklah Hoa Thian-hong telah menyusul datang dibelakang tubuhnya.

Ia benar-benar terdesak hebat dan tak tahu ke mana ia harus pergi, dengan sangat ketakutan sorot matanya berkeliaran kesana kemari berusaha mencari jalan keluar.

Dengan cepat Hoa Thian-hong berkelebat kedepan dan menghadang jalan pergi orang she Yau itu, sambil tertawa dingin katanya, “Sehari engkau tak mati, berarti sehari pula ada umat manusia di kolong langit yang mati ditanganmu!”

Pedangnya segera berkelebat kedepan dan melancarkan sebuah bacokan maut.

Cukat racun Yau Sut benar-benar sudah pecah nyali karena ketakutan, buru-buru ia gunakan gerakan keledai malas bergelinding ditanah, dengan menggelinding bercampur merangkak ia menyingkir sejauh satu dua tombak keluar gelanggang.

Dalam perkiraan Hoa Thian-hong, Cukat racun Yau Sut pasti tak akan berhasil lolos dan bacokan pedangnya itu, maka dalam serangan tersebut ia tidak menggunakan seluruh tenaga yang dimilikinya, tak nyana ternyata orang itu begitu sudi menggunakan gerakan yang paling rendah dan memalukan itu untuk menghindarkan diri.

Si anak muda itu jadi penasaran sekali, dengan cepat badannya berkelebat kedepan dan sekali lagi melancarkan serangan yang mematikan.

Keadaan dari Cukat racun Yau Sat pada waktu itu betul- betul amat runyam, sukmanya terasa melayang tinggalkan raga karena ta kutnya, dalam keadaan kritis dan jiwanya terancam bahaya ia lupa akan segala-galanya, yang dipikirkan saat ini hanyalah bagaimana caranya selamatkan selembair jiwanya dari ancaman tersebut.

Mendadak ia putar badan dan kabur ke arah barak dimana kelompok manusia-manusia aneh bermuka setan berkumpul, sambil lari mendekati kelompok manusia aneh itu jeritnya berulang kali.

“Kaucu…. tolonglah aku! kaucu…. tolonglah aku!” Terperangah Hoa Thian-hong mendengar jeritan tersebut,

ia segera menghentikan gerakan tubuhnya dan lupa untuk mengejar lebih jauh.

Keadaan itu benar-benar sangat aneh bampir saja membuat para jago yang hadir dilembah Cu-bu-kok itu jadi tertegun dibuatnya, semua orang tahu bahwa Cukat racun Yau Sut adalah kunsu atau juru pikir dari perkumpulan Sin-kie- pang, berada dihadapan umum bukannya ia minta tolong kepada pangcu perkumpulannya, malahan minta tolong kepada orang lain.

Hal ini dengan cepat memberi keterangan kepada semua orang, bahwasanya Cukat racun Yiu Sit bukan lain adalah mata-mata yang dikirim kelompok manusia aneh itu untuk menyelinap kedalam tubuh perkumpulan Sin-kie-pang….

Sementara itu tampaklah Cukat racun Yau Sut telah kabur kedalam barak tersebut, tiba-tiba ia jatuhkan diri dan berlutut dihadapan kelompok manusia aneh itu sambil beteriak keras, “Kaucu…. tolonglah aku! kaucu….”

“Bangsat! manusia laknat!” maki Pek Siau-thian dengan penuh kegusaran.

Bersamaan dengan diutarakannya bentakan itu, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya ia menerjang maju kedepan, segenap tenaga dalam yang dimililiknya dihimpunnya kedalam telapak lalu dihantam keatas balok kepala Cukat racun Yau Sut dengan sepenuh tenaga….

“Praakk….!” diiringi suara benturan nyaring, batok kepala Cukat racun Yau Sut terhajar sampai hancur berantakan, isi benak nya tercecer di mana-mana mengotori seluruh badan Pek Siau-thian.

Pada waktu itulah seorang manusia aneh berbadan bagaikan prajurit setan tampil ke depan, ditangannya ia membawa gembrengan dan sebuah alat pukulan dan alat tersebut dibunyikan bertalu-talu.

Suara gemblengan yang berat dan mantap bergema diselurub lembah, membuat suasana kacau yang semula menyelimuti lembah Cu-bu-kok per lahan-lahan pulih kembali dalam keheningan.

“Breeenng-….! Breenng….! Breeenng….” bunyi gembrengan bergema tiada hentinya, suara yang keras memancar seluruh lembah Cu-bu-kok dan mendengung ditelinga setiap orang, begitu keras suaranya hingga terasa amat memekikkan telinga.

Ketika suara gembrengan itu berbunyi untuk ketiga kalinya dari antara rombongan pelindung panji kuning perkumpulan Sin-kie-pang tiba-tiba melangkah keluar tiga orang jago dengan tindakan yang lebar mereka tinggalkan barisan dan langsung menggabungkan diri dengan rombongan para jago dari perkumpulan Kiu-im-kauw tersebut.

Ketika Pek Siau-thian mengamati ketiga orang yang keluar barisan itu ternyata mereka adalah Che It Hun, Lim Kui serta Ke Teng Pok.

Ketiga orang itu disebut orang sebagai Kui im sam kui atau tiga setan dari per kumpulan Kiu-im-kauw, dahulu memang merupakan anak buah dari perkumpulan Kiu-im-kauw.

Sewaktu mereka menggabungkan diri dengan perkumpulan Sin-kie-pang, secara terus terang ketiga orang itu sudah menjelaskan asal usul mereka dan Pek Siau-thian pun telah mengetahui siapa yang sedang dihadapi.

Sekarang, meskipun dalam hati merasa gusar sekali karena ketiga orang jago itu berlalu tanpa pamit, namun hawa amarahnya masih dapat dikendalikan.

Siapa tahu setelah ketiga orang itu keluar barisan, tindakan itu diikuti pala oleh dua orang lain, melanjutnya disusul pula oleh delapan orang. Dibelakang delapan orang itu mengikuti satu orang, setelah satu orang mengikuti pula dua orang….