Tiga Maha Besar Jilid 11

 
Jilid 11

BILA berbicara tentang ilmu silat, diantara laskar panji kuning dari perkumpulan Sin-kie-pang itu banyak diantaranya yang memiliki ilmu silat jauh diatas tiga dewi dari wilayah Biau, tentang hal ini Biau-nia Sam-sian sendiripun mengetahui, jika mereka menerobos masuk kedalam arena berarti mereka harus menempuh mara bahaya.

Tetapi kepandaian racun dari wilayah Biau sudah amat tersohor di kolong langit, sedikit banyak para jago dari perkumpulan Sin kie nang sudah menaruh rasa segan terhadap ketiga orang gadis itu, karenanya ketika tiga orang gadis itu berkelebat lewat, semua ang gota perkumpulan Sin- kie-pang sama-sama menutup pernapasan sambil bergeser kesamping, pukukan gencar dilepaskan keudara kosong.

Setelah Lan-hoa Siancu melayang diudara, ia lihat dibawahnya penuh dengan manusia dari perkumpulan Sin-kie- pang hingga sukar untuk mencari tempat untuk berpijak, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa ia membentak keras, “Kalau kalian masih ingin hidup, ayoh cepat menyingkir dari situ….!”

Ilmu melepaskan racun dari Kiu-tok Sianci memang luar biasa sekali, Biau-nia Sam-sian telah mendapat warisan langsung dari gurunya, kemampuan mereka untuk membunuh orang benar-benar luar biasa sekali. Baru saja tiga orang itu melayang turun ke atas permukaan, tujuh delapan orang telah roboh tak sadarkan diri diatas tanah, dalam sekejap mata para korban mengeluarkan buih putih dari mulutnya, ada pula yang mukanya berubah jadi hitam, ada yang merintih sambil berguling, ada pula yang berkelejit seperti sekarat, hal ini membuat para jago dari perkumpulan Sin kie Pong jadi ketakutan dan sama-sama menghindarkan diri.

Tetapi setelah orang-orang itu mengundurkan diri sejauh beberapa tombak, mereka segera lancarkan pukulan kembali ke arah lawannya, angin pukulan yang maha dahsyat menggulung tiba dari empat penjuru, hal ini memaksa tiga dewi dari wilayah Biau tak mampu berdiri terlalu lama dan terpaksa melayang kembali ketengah udara.

Pertempuran berdarah ini berlangsung dari malam sampai pagi dan dari pagi sampai malam, banyak korban telah berjatuhan darah berceceran diseluruh permukaan tanah.

Sisa laskar dari perkumpulan Hong-im-hwie yang masih hidup bisa dihitung dengan jari, laskar dari perkumpulan Thong-thian-kauw pun makin surut dan lemah hingga akhirnya tinggal beberapa gelintir.

Han Leng cu serta Liong-bun Siang-sat sekalian kehilangan semangat bertempur, namun dibawah desakan dan teteran Hoa Hujin sekalian, terpaksa mereka harus melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga.

Lembah Cu-bu-kok telah berubah jadi kuburan massal, mayat yang bergelimpangan diatas permukaan hancur tak menjadi rupa apalagi setelah di injak-injak oleh para laskar yang masih saling baku hantam, keringat bercampur darah membasahi pakaian para jago yang masih bertempur, keadaan mereka mengenaskan sekali…. Situasi dalam gelanggang pertarungan kembali mengalami perubahan, dari kelompok pendekar yang masih tetap bertahan tinggal Hoa Hujin, Tio Sam-koh, Cu Im taysu, Chin Pek Lian, Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san serta dewa yang suka melancong Cu Thong, enam orang selain itu masih ada lagi Biau-nia Sam-sian serta sisa tiga orang murid Siang Tang Lay yang masih hidup.

Sedang yang lain kebanyakan sudah roboh terkapir diatas genangan darah, ada yang luka parah dan ada pula yang telah menemui ajalnya

Ditengah sengitnya pertempuran suara terompet kembali bergema di angkasa, mendengar tanda rahasia, Cukat racun Yau Sut sekalian segera membentak keras dan menggerakkan senjata mereka tidak ambil perduli apakah lawannya dari pihak Thong-thian-kauw, Hong-im-hwie atau kaum pendekar, setiap orang diserang dan dibunuh secara kalap.

Perubahan yang berlangsung secara mendadak dan sama sekali diluar dugaan ini sangat mengejutkan dan menggusarkan hati para laskar dari perkumpulan Thong-thian- kauw serta Ho Im Hwee, mereka jadi kelabakan, gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Thian Ik-cu naik pitam, ditengah kobarnya api amarah dan perasaan dendam, ia segera menurunkan perintah kepada seluruh anggota perkumpulannya yang masih tersisa diluar gelanggang untuk menyerbu kedalam arena pertarungan, tapi imam-imam muda yang sama sekali tak berpengalaman itu bukan tandingan diri pasukan panji kuning, tidak selang beberapa saat semua pasukan, berhasil ditumpas habis.

Jin Hian pun merasa sangat mendongkol, dia memaki dan menyumpah, saking marahnya hawa murninya sampai menyumbat tenggorokan membuat ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Nenek dewa bermata buta yang terluka parah hanya dapat duduk termanggu diatas tempat duduknya tanpa berkutik, setelah mengetahui bahwa perkumpulan Hong-im-hwie berhasil ditumpas habis, ia jadi kecewa dan putus asa hingga selama ini mulutnya membungkam terus.

Darah mengucur keluar derasnya dari mulut luka lengan kiri Jin Hian yang kutung, ia tidak memiliki kemampuan untuk bertempur lagi, hawa murninya saat itu berjalan terbalik, keadaannya bagaikan orang menderita jalan api menuju neraka namun tak seorangpun yang menggubris atau memberi pertolongan kepadanya.

Dalam kancah pertarungan yang kalut itulah Hoa Hujin dengan menghimpun sisa tenaganya berbasil menghajar Hian Leng cu hingga isi perutnya hancur dan menemui ajalnya.

Pada saat yang bersamaan sebuah pukulan danysat dari Cukat racun Yau Sut berhasil mampir punggung malaikat pertama Sim Kian hingga gembong iblis itu maju sempoyongan.

Menggunakan kesempatan itulah Cu Im taysu segera putar senjata sekopnya dan menusuk dada Sim Kian hingga tembus.

Tiba-tiba dari atas tebing sebelah kanan berkumandang datang suara seorang perempuan dengan suara yang amat nyaring, “Sau Tha turutkan perintah dan hentikan pertempuran!”

Mendengar seruan itu sekujur badan Pek Siau-thian gemetar keras, ia masih ingat Sau Tha adalah nama kecilnya yang jarang diketahui orang, di kolong langit dewasa ini hanya satu orang yang menyebut dirinya dengan nama itu, dan dia bukan lain adalah istrinya yang selama ini dirindukan namun hidup berpisah dengan dirinya.

Terdengar Pek Soh-gie berteriak sambil menangis, “Ibu….!”

Pek Siau-thian pun tak mampu menahan golakan perasaan hatinya, ia ikut memanggil, “Hong Bwee!”

Dari tengah udara melayang turun seorang tokoh berbadan ramping berwajah cantik, ditangan kanan Too koh itu menegang sebuah Hud tim sedangkan tangan kirinya mencengkam seorang gadis cantik, dia bukan lain adalah putri bungsu Pek Siau-thian yaitu Pek Kun Gei.

Dengan rasa kejut bercampur girang, Pek Soh-gie segera lari kedepan dan memeluk Pek Kun-gie erat-erat, teriaknya, “Moay-moay, kami mengira engkau telah mati!”

Paras muka Pek Kun-gie yang cantik kelihatan kurus dan layu, butiran air mata mengembang dalam kelopak matanya, bibir yang kecil mungil kelihatan berkemak kemik, namun tak sepatah katapun yang me-luncur keluar.

Tokoh cantik itu bukan lain adalah istri Pek Siau-thian yang telah hidup berpisah selama banyak tahun, Kho Hong-bwee adanya.

Sudah belasan tahun lamanya Pek Siau-thian tak pernah berjumpa dengan istrinya ini, sekarang setelah berhadapan muka dengan istrinya yang tetap cantik itu, ia tak dapat menguasai pergolakan emosi didalam hatinya, hampir saja ia menubruk kedalam arena memeluk istrinya dan menangis sepuas puasnya.

Terdengar Kho Hong-bwee berkata dengan serius. “Sau Tha! cepar turunkan perintah dan tarik kembali pasukanmu, aku ada persoalan yang hendak dirundingkan denganmu!”

Pek Siau-thian terperangah. “Ada urusan apa….!”

Ia merasakan pikirannya kalut tekali, bicara sampai disitu ia segera membungkam dan segera angkat tinggi-tinggi tanda perintah Hong-lui-leng-nya sambil membentak, “Hentikan penarungan dan tarik semua pasukan!”

Suara terompet berbunyi nyarirg, ratusan orang pasukan panji Kuning yang sedang bertempur segera menarik kembali serangannya dan mengundurkan diri diri gelanggang pertarungan.

Waktu datang cepat bagaikan ombak, waktu surutpun cepat tak terkirakan, memenandakan betapa tertib dan disipliannya organisasi perkumpulan Sin-kie-pang.

Dalam Sekejap mata, dalam lembah Cu bu koh hanya tersisa pandangan yang mengenaskan, sehabis pertempuran massal, hawa pem bunuhan telah lenyap dan seluruh gelanggang diliputi keheningan dan kesepian yang mengerikan dan memilukan hati.

Ditengah darah yang berceceran diseluruh permukaan tanah, mayat bergelimpangan dimana-mana, kutungan badan berserakan disana-sini, di malam yang sunyi dan cahaya bintang yang redup, kuntungan senjata yang memenuhi permukaan memantulkan cahaya yang menyilaukan mata. Angin malam berhembus sepoi-sepoi, bau amis darah tersebar mengikuti tiupan angin, diantara mayat yang bergemlimpaugan bergema, serentetan suara rintihan yang lemah dan lirih, rintihan tersebut sahut bersahutan dan memperdengarkan nada penderitaan dan siksaan.

Bayangan manusia bergerak ditengah kegelapan, membalikan mayat-mayat dalam gelanggang dan berusaha mencari rekan-rekan yang terluka parah dan belum putus nyawa.

Dalam keadaan begitu, Hoa Hujin kelihatan lemah sekali, seakan-akan seseorang yang baru sembuh dari suatu penyakit yang berat, tenaga dalam yang dimilikinya sudah semakin lemah ibaratnya lampu lentera yang kehabisan minyak, ia berdiri sempoyongan ditengah ceceran darah. Chin Wan-hong segera memburu kesisinya, memayang tubuh perempuan itu dan perlahan-lahan diajak mundur kedalam barak.

Chin Pek-cuan pertama-tama mencari putranya lebih dahulu, ia temukan Chin Giok-liong menggeletak ditengah genangan darah tanpa berkutik, meskipun tubuhnya termakan oleh lima bacokan golok dan sebuah tusukan pedang, ternyata jiwanya belum melayang.

Air mata bercucuran membasahi wajib Chin Pek-cuan yang tua berkeriput, ia terharu dan wajahnya menunjukkan rasaa gembira dan bangga.

Ditengah mayat-mayat yang bergelimpangan, Tiga dewi dari wilayah Biau berhasil temukan Tiga harimau dari keluarga Tong. Harimau pelarian Tiong Liu masih hidup, sedangkan istrinya yakni Harimau ompong Tiong loo Poo cu serta putra Harimau bisu Tiong Long karena lukanya yang terlampau parah ternyata sudah lama mati. Cu Im laysu temukan jenasah dari It sim hweesio, sedang Cui Thian Hau menemukan tubuh Su Tiang Cing, jago pedang bernyawa sembilan ini benar-benar bernyawa rangkap, meskipun tulang rusuknya ada lima biji yang patah dan isi perutnya hampir remuk namun jiwanya belum melayang, lapi Ciu Thian-hau yang membopong tubuhnya baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba mereka roboh terjengkang keatas tanah, ternyata jago lihay dari gunung Huang-san ini pun tak kuat menahan lukanya.

Dewa yang suka pelancongan Cu Thong menemukan tubuh Bong Pay, pemuda yang berjiwa besar ini bertempur sampai titik darah penghabisan, terakhir kalinya ia kena di hantam oleh Cukat racun Yau Sut sehingga roboh terjengkang keatas tanah.

Dalam pertarungan massal, pukulan yang dilepaskan Yau Sut rupanya tidak sepenuh tenaga, sekalipun begitu Bong Pay tak sanggup menahan diri dan keaadaannya pada saat itu kelihatan kritis sekali.

Ciong Lian-khek, tiga orang murid Siang Tang Lay beserta jago pedang rambut hijau Yap Su Ciat, beberapa orang jago mati dalam pertarungan tersebut, hanya Tio Sam-koh seorang yang sama sekali tidak ciderfa.

Secara beruntun setelah bertempur melawan Thian Seng cu, Sing Siu cu, Ngi Ing tojin serta dua orang sutenya Thian Seng cu yakni Thian Keng toojin dan Thian Ing toojin dari perkumpulan Thong-thian-kauw, sepanjang pertarungan berlangsung sudah amat banyak musuh yang terbunuh kecuali badan terasa lelah dan tanaga terhisap habis, pperempuan lihay itu sama sekali tidak luka atau cidera.

Dengan begitu dia adalah satu-satunya jago dari golongan pendekar yang paling pemberani dan paling beruntung, Semua orang bekerja keras menolong mereka yang luka dan menying-kirkan mereka yang telah mati, semua jago bekerja dengan mulut membungkam, hal ini membuat suasana jadi hening dan sepi, kendatipun bayangan manusia bergerak kesana kemari tiada hentinya.

Dari pihak perkumpulan Thong-thian-kauw kecuali ketuanya sendiri yaitu Thian Ik-cu yang masih hidup, tinggal Pia Leng-cu dan enam belas orang imam cilik.

Keenam belas orang imam cilik itu bekerja keras menggotong yang luka menyingkirkan yang telah mati, pulang pergi hampir puluhan kali banyaknya namun pekerjaan itu belum iuga selesai, sementara napas mereka sudah tersengkal-sengal dan keringat membasahi seluruh badan.

Sebagian besar anak murid perkumpulan Thong-thian-kauw ini menemui ajalnya dalam serangan kilat yang dilancarkan oleh jago-jago dari perkumpulan Sin-kie-pang yang dahsyat ibarat angin musim gugur yang merontokkan daun.

Dari pihak perkumpulan Hong-im-hwie kecuali nenek dewa bermata buta serta Jin Hian yang tidak ikut terjun kedalam gelanggang, hanya malaikat kedua Sim Ciu seorang yang selamat.

Jin Hian dan Sim Ciu segera bekerja keras mencari rekan- rekannya yang terluka, setelah bersusah payah akhirnya kedua orang itu berhasil menemukan sembilan orang yang belum putus nyawa, dan cepat kesembilan orang itu digotong kedalam barak dan diberi pertolongan.

Memandang sisa mayat yang bergelimpangan ditengah gelanggang sebagian besar terdiri dari anggota perkumpulan mereka, dua orang jago lihay itu jadi putus asa dan segan untuk mengurusinya lebih jauh.

Diantara para korban yang terluka maupun mati binasa ternyata tidak terdapat seorangpun anggota perkumpulan Sin- kie-pang, dalam pertumpahan darah yang benar-benar mengerikan itu, perkumpulan Thong-thian-kauw serta Hong- im-hwie yang menggetarkan sungai telaga tertumpas sama sekali dan sejak detik itu sudah lenyap dari percaturan dunia persilatan.

Posisi segi tiga yang dipertahankan selama puluhan tahunpun sudah hancur berantakan, sekarang tinggal perkumpulan Sin-kie-pang yang merajai kolong langit, mulai detik itu rupanya hanya orang-orang dan perkumpulan Sin- kie-pang yang akan malang melintang menguasaku seluruh jaigad, kendatipun masih ada sisa perlawanan dari golongan pendekar, tetapi kekuatan mereka jika dibandingkan maka kaum pendekar boleh dibilang sudah ketinggalan jauh, keadaan mereka ibaratnya telur beradu dengan batu.

“Pasang lentera!” tiba-tiba Pek Siau-thian membentak keras.

Suaranya keras dan lantang hingga menggema diseluruh lembah, suara itu penuh wibawa dan mengerikan sekali, seakan-akan diucapkan oleh malaikat sakti yang baru turun dari kahyangan.

Suara langkah kaki manusia bergema diseluruh tempat, dalam waktu singkat semua lembah sudah bermandikan cahaya Lampu lentera.

Selain beratus-ratus buah lentera, para anggota perkumpulan Sin-kie-pang memasang pula beratus-ratus buah obor besar, cahaya api yang berkilauan membuat lembah Cu- bu-kok bagaikan ditengah hari bolong, semua suasana ngeri dan menyeramkan yang semula menyelimuti lembah itu segera tersapu lenyap, tinggal suasana gembira dan penuh keagunggan yang menyala-nyala.

Beratus-ratus orang angota perkumpulan Sin-kie-pang berbaris rapi disepanjang mulut lembah, mereka berdiri dengan tegap gagah dan penuh disiplin, sementara sisa laskar perkumpulan Thong-thian-kauw, Hong-im-hwie dan para pendekar ditambah dengan kelompok manusia aneh menyerupai setan masih tetap berdiam diri didalam barak masing-masing.

Seluruh lembah Cu-bu-kok diliputi keheningan dan kesunyian yang mencekam, begitu sepinya sehingga jarum yang jatuhpun kedengaran. sorot mata semua orsng sama- sama ditunjukan keatas tubuh Pek Siau-thian, mereka ingin lihat tindakan apakah yang hendak dilakukan olehnya untuk menyelesaikan persoalan ini.

Angin malam berhembus sepoi-sepoi menyiarkan bau amis darah yang sangat memuakkan, obor yang menyala besar memancarkan suara peletak yang membisingkan telinga, mengacaukan ketegangan dan keheningan yang mencekam seluruh lembah.

Pek Siau-thian berdiri tegak diatas meja dengan muka merah bercahaya, tangan kanannya mengelus jenggot sementara tangan kiri nya mercekal tanda perintah Hong-lui- leng yang memancarkan cahaya keemasan.

sepasang matanya yang memancarkan cahaya tajam perlahan-lahan bergeser kekiri dan kekanans.

Setelah memandang sekejap ke arah sisa laskar perkumpulan Hong-im-hwie, ia mengawasi pula kelompok manusia aneh yang berbadan seperti setan itu, pikirnya didalam hati, “Mungkin kelompok manusia ini terdiri dari manusia-manusia yang telah lama mengasingkan diri dan baru saja terjun kembali kedalam dunia persilatan, dipandang dari ketenangannya yang menyerupai bukit karang, seakan-akan tak pandang sebelah matapun terhadap pertumpahan darah yang sudah terjadi, bisa dibayangkan kalau pemimpin mereka pas tilah merupakan seorang jago yang benar-benar luar biasa sekali.

Setelah berhenti sebentar, ia berpikir lebih jauh. “Kesempurnaan dalam hal ilmu silat yang diutarakan adalah

bukti kenyataan, tak mungkin ilmu itu langsung datang dari langit, meskipun jumlah kelompok manusia aneh itu ada seratus orang lebih, jika dianggap sepatuhnya merupakan jago lihay dan separuhnya lagi jago berkepandaia biasa, itupun jumlahnya baru beberapa puluh orang belaka, apalagi manusia super sakti dalam seratus tahun paling banyak satu dua orang belaka dan itupun kalau aneh dari sini bisa kutarik kesimpulan bahwa sekalipun kedatangan mereka agak mendadak toh tak mungkin bisa membendung serbuan kilat dari jago-jago perkumpulan Sin-kie-pang yang kuhimpun selama hampir dua puluh ta nun lamanya….”

Setelah berpikir pulang pergi beberapa saat lamanya, ia merasa bahwa kehadiran kelompok manusia aneh tersebut bukan merupakan suatu ancaman yang serius.

Sorot matanya segera dialihkan ke arah kelompok para pendekar.

Selama dua hari ini secara beruntun Hoa Hujin telah membinasakan Bu Liang Sinkun, Hian Leng cu dan Cing Leng cu tliga orang. Ketiga orang jago lihay itu rata-rata memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan, kehebatan ilmu silat mereka pun masing-masing memiliki keistimewaannya

masing-masing dan kematangannya telah mencapai p da taraf tiada kelemahan lagi.

Jika Hoa Hujin ingin mencari kemenangan dengan andalkan jurus serangan, maka walaupun bertempur selama tiga hari tiga malam jangan harap bisa robohkan tiga orang itu sekaligus.

Perempuan sakti itu berhasil membinasakan tiga orang lawan tangguhnya, kesemuanya itu mengandalkan tenaga kekerasan yang disebut siasat satu tenaga menundukkan sepuluh kumpulan, dengan hawa murni yang sargat kuat, sangat beracun dan sangat bebat hingga tiada tandingan ia cabut nyawa ketiga orang itu dengan kekerasan.

Tapi setelah tiga orang itu mati, seluruh tenaga dalam yang dilatih Hoa Hujin dengan susah payah dalam gua kunopun ludas tak berbekas, kini ia tinggal bawah dasar yang tak berguna, bukan saja ilmu silatnya punah bahkan luka dalam yang ia deritapun kambuh lagi, tubuhnya jauh lebih lemah dari orang lain dan tentu saja tak mungkin bisa bergebrak lagi melawan orang lain.

Kecuali Hoa Hujin seorang, tak ada manusia lain yang ditakuti oleh Pek Siau-thian lagi, sorot matanya segera dialihkan kesisi kiri.

Tiba-tiba ia ingat bahwa istrinya yang cantik dan kini sudah menjadi pendeta masih berdiri serius dihadapannya, kehadiran perempuan itu telah menghalangi daya pandangannya.

Pek Siau-thian segera mendehem ringan, setelah menenangkan hatinya, ia memberi hormat dan berkata sambil tersenyum, “Hujin harap beristirahatlah kesamping, setelah kuselesaikan semua masalah di sini segera kutemani engkau untuk bercakap-cakap”

Kho Hong-bwee mendengus, lalu berkata dengan nada tawar, “Ini hari engkau berhasil rebut kemenangan total, seharusnya hatimu sudah merasa sangat puas bukan? masih ada persoalan apa lagi yang hendak kau selesaikan sendiri?”

Walaupun perempuan itu sudah berusia setengah baya, tapi berhubung tenaga dalam yang dilatih olehnya mempunyai daya untuk awet muda, maka walaupun sekarang sudah lanjut usia dan mengenakan pakaian pendeta yang longgar, akan tetapi sama sekali tidak mengurangi kecantikan wajahnya sebagai perempuan yang paling cantik sekolong langit dimasa silam.

Sementara itu Pek Siau-thian terperangah, kemudian sambil memberi hormat, katanya, “Hujin, engkau sudah lama meninggalkan kedamaian dunia, aku rasa pekerjaan yang kulakukan ini pasti akan menjemukan hati mu, menurut penglihatanku alangkah baiknya kalau hujin jangan turut campur dalam urusan dunia persilatan.”

Kho Hong-bwee mengernyiikan sepasang alisnya, dengan sorot mata yang tajam ia melirik sekejap ke arah suaminya, kemudian menjawab dengan suara dingin, “Sudah belasan tahun lamanya kita tak pernah berjumpa muka, dalam pertemuan kali ini ternyata engkau lebih memberatkan segala tata cara yang tetek bengek, aku rasa tindakanmu ini disebabkan karena kau berada dihadapan anak buahmu sehingga berharap agar aku suka memberi muka kepada mu daripada mengurangi wibawa dan gengsimu, bukan begitu maksudmu?” Paras muka Pek Siau-thian berubah hebat tapi hanya sebentar saja ia telah jadi tenang kembali seperti sedia kala, sambil tersenyum ia berkata, “Meskipun Sau Tha adalah manusia persilatan yang kasar sedang hujin adalah seorang manusia terpelajar yang menguasai segala bentuk tata kesopanan tapi sejak kita menikah sekalipun pernah terjadi sedikit kesalah pahaman namun selama ini kita saling hormat menghormati sejak kapan Sau tha bersikap kurang hormat kepadamu?”

Sau tha adalah nama kecil dari Pek Siau-thian yang cuma diketahui oleh Kho Hong-bwee seorang.

Terdengar perempuan cantik itu berseru, “Kalau memang begitu aku ingin menanyakan beberapa persoalan kepadamu!”

“Apa yang ingin hujin tanyakan? asal Sau tha mengerti pasti akan kuterangkan hingga jelas!”

“Siapakah yang mendirikan perkumpulan Sin-kie-pang ini?” Pek Siau-thian tertawa.

“Kita suami istri yang bekerja sama untuk mendirikan perkumpulan ini”

“Jadi kalau begitu dalam masalah besar yang menyangkut persoalan perkumpulan, aku punya hak untuk ikut membicarakannya bukan?”

Pek Siau-thian agak tersipu-sipu dengan paras merah padam ia tertawa dan mengangguk.

“Tentu saja kita sudah bersumpah untuk sehidup semati, ada rejeki dinikmati bersama ada bencana ditanggulangi berbareng” Kho Hong-bwee segera ulapkan tamannya mencegah pria itu berbicara lebih jauh, selanya, “Pembicaraan diatas pembaringan lebih baik tak usah diungkap lagi dalam saat seperti ini aku hanya ingin tahu bagaimana caramu untuk menyelesaikaa persoalan yang terjadi pada saat ini?”

Pek Siau-thian tersenyum.

“Usaha dan perjuangan kita setengah abad lamanya bukan cuma bertujuan untuk menangkan pertarungan yang terjadi pada saat ini kita mempunyai tujuan jauh lebih kedepan….”

Sesudah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Apakah engkau masih ingat? ketika kita mendirikan perkumpulan Sin- kie-pang, kita telah berjanji untuk merajai seluruh kolong langit, menggalang babak baru dalam dunia persilatan, membuat suatu karya yang besar serta melaksanakan kebaikan dan kebajikan bagi seluruh umat manusia….?”

Sekali lagi Kho Hong-bwee ulapkan tangannya, dia menukas, “Waktu itu kita masih muda dan tak tahu urusan ucapan yang takabur dan tak tahu diri seperti itu tak pantas diutarakan keluar buat apa engkau selalu ingat dihati?”

00000O00000

57

RASA gusar terlintas diatas wajah Pek Siau-thian, serunya dengan nada marah. Kesemuanya itu adalah harapan kita, cita-cita yang kita susun sejak dahulu dan kini beruntung sekali semua harapan kita menjadi kenyataan, dalam pertemuan ini dunia persilatan telah memasuki babak baru, bukankah itu berarti bahwa perjuangan dan usaha kita selama ini telah mencapai pada hasilnya? “Darimana engkau bisa berkata begitu?” sela Kho Hong- bwee.

Pek Siau-thian berhenti sebentar, kemudian berkata lebih jauh, “Mulai saat ini, barang siapa menyoren pedang maka itu berarti bahwa dia adalah anggota perkumpulan Sin-kie-pang, bukankah itu berarti bahwa dunia persilatan telah bersatu dibawah perintah kita.”

“Bagaimana dengan orang-orang itu?” tanya Kho Hong- bwee sambil menuding ke arah orang-orang yang berada didalam barak, “apakah mereka juga merupakan anak buah dari perkumpulan Sin-kie-pang?”

“Semut merupakan binatang terkecilpun ingin hidup apalagi minusia-manusia yang baru lolos dari kematian, aku rasa mereka akan jadi seorang manusia yang tahu diri”

Kho Hong-bwee tertawa terkekeh.

“Jadi maksudmu, andaikata mereka tak mau takluk kepada perkumpulan Sin-kie-pang, maka itu berarti hanya ada satu jalan kematian saja bagi mereka?”

“Benar! kecuali ditumpas sama sekali, aku rasa tiada jalan lain yang bisa dilakukan!”

Kho Hong-bwee kembali tertawa.

“Andaikata semua orang telah menjadi anggota perkumpulan Sin-kie-pang, bukankah itu berarti perkumpulan Sin-kie-pang sudah tiada tandingannya lagi?”

Perempuan itu betul-betul cantik sekali, meskipun hanya tertawa namun sudah cukup memancarkan daya tarik dan daya pesona yang luar biasa, membuat siapapun serasa terpikat hatinya.

Pek Siau-thian sudan lama tak menyaksikan senyuman dari istri-nya, sekarang ia merasa tertegun dan berdiri melongo, dalam keadaan demikian tentu saja ia tak dapat menangkap arti yang sebenarnya dari perkataan itu.

Terdengar Kho Hong-bwee berkata lebih jauh, “Inilah hasil pengetahuan yang berhasil kutemukan selama belasan tahun menyucikan diri ditempat terpencil, engkau adalah seorang manusia yang berambisi besar dan gemar cari pahala, sekalipun pelaja ran semacam ini dimengerti olehmu, namun engkau tak dapat menerimanya dengan begitu saja”

“Kita toh suami istri yang saling cinta mencintai” tukas Pek Siau-thian dengan cepat, ada persoalan apapun bisa kita bicarakan secara perlahan-lahan, meskipun Sau Tha bodoh dan tidak cerdas, namun aku bersedia menuruti keinginan hatimu.

Kho Hong-bwee tersenyum simpul.

“Kita adalah orang tua yang sudah mempunyai anak dewasa, ucapan yang manis serta cumbu rayu yang tak berguna lebih baik tak usah dibicarakan lagi”

Pek Siau-thian terperangah.

“Sebenarnya apa maksudmu?” ia bertanya.

Kho Hong putar biji matanya yang jeli dan memandang sekejap ratusan anggota perkumpulan Sin-kie-pang yang berjajar dihadapannya kemudian dengan santai berkata, “Perkumpulan Sin-kie-pang didirikan bersama oleh kita berdua, sudah lama aku mengasingkan diri dan keramaian dunia sedang engkau sudah menguasai perkumpulan ini selama belasan tahun lamanya sepantasnya kalau sekarang engkau memberi kesempatan kepadaku untuk memegang kekuasaan dalam perkumpulan ini dan memimpinnya secara muttak selama beberapa lama”

Mula-mula Pek Siau-thian terperangah kemudian menyadari apa yang dimaksudkan, ia tahu istrinya datang dengan membawa tujuan tertentu walaupun diluar bicara amat santai» dalam tujuannya benar-benar serius.

Jago tua ini dibikin serba salah tak tahu apa yang musti dilakukan olehnya, ia takut wibawa dan gengsinya berkurang di hadapan ratusan orang anggota perkumpulannya, setelah berpikir sebentar akhirnya ia memberi hormat dan berkata dengan serius.

Hong Bwee, bagaimanapun juga kita pernah jadi suami istri, meskipun aku tak becus tapi belum pernah ada niat melukai hatimu, ini hari adalah saat yang paling penting bagi kita untuk menentukan kemenangan atau kekalahan, janganlah disebabkan urusan rumah tangga mengakibatkan urusan perkumpulan jadi terbengkalai hingga menghancurkan masa depan sendiri.

Kho Hong-bwee gelengkan kepalanya, dengan tegas ia berseru, “Perkumpulan Sin-kie-pang didirikan oleh kita berdua, urusan perkumpulan maupun urusan rumah tangga boleh dijadikan satu!”

Paras muka Pek Sian Thian yang berwarna merah seketika berubah jadi hijau membesi, serunya, “Hong Bwee, perbuatanmu ini apakah tidak kelewat batas? dengan tinadakanmu semacam itu, engkau letakkan diriku pada posisi yang bagaimana?” “Ikutilah perbuatan yang telah kulakukan selama ini, serahkan tanda perintah Hong-lui-leng kepadaku, lepaskan tanggung jawab mu atas perkumpulan ini dan pilihlah tempat yang kecil dan tenang untuk belajar agama ataupun falsafah, terserah apa kemauanmu dan apa kegemaranmu, pokoknya yang penting adalah umuk mempelajari ilmu un tuk menguasai diri dan merenungkan kembali semua perbuatan yang telah dilakukan selama ini, lima belas tahun kemudian engkau boleh muncul kembali dan perkumpulan Sin-kie-pang akan kuserahkan kembali kepadamu.

Mendengar perkataan itu, dalam hati kecilnya Pek Siau- thian segera berpikir, “Susunan kata-katanya begitu teratur dan lancar, perkataan itiupun diutarakan secara rapi, jelas ia sudah lama memikirkan masalah ini dan merercanakan sebaik- baiknya….”

Selama suami istri itu ribut sendiri, beratus-ratus orang yang hadir disitu hanya membungkam sambil mengikuti dengan seksama, lembah Cu-bu-kok yang begitu luas jadi sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Haruslah diketahui pada waktu itu kekuatan dari perkumpulan Thong-thian-kauw, Hong-im-hwie maupun golongan pendekar boleh dibilang sudah hancur berantakan sama sekali, dalam keadaan begitu mereka tak memiliki kekuatan lagi untuk membendung ataupun melawan kekuatan perkumpulan Sin-kie-pang yang kuat dan dahsyat, andaikata Pek Siau-thian turunkan perintah untnk membantai semua orang yang masih tersisa dalam lembah itu, maka orang-orang itu tak akan memiliki kemungkinan untuk hidup lebih jauh.

Oleh sebab itulah perselisihan paham antara suami istri itu bukan saja mempengaruhi kelangsungan hidup perkumpulan Sin-kie-pang pribadi, bahkan sangat mempengaruhi juga nasib dan kesempatan hidup bagi umat persilatan lainnya. Posisi Pek Siau-thian pada saat itu benar-benar terdesak dan dibuat apa boleh buat, hawa amarah yang memuncak membakar hatinya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, sebab tindakan yang terlalu berangasan dan tanpa perhitungan yang masak akan mengakibatkan lelucon yang bakal di tertawakan orang.

Otaknya segera berputar kencang untuk mencari akal bagus guna mengatasi masalah itu, sementara diluaran ia berkata, “Perkumpulan Sin-kie-pang dirikan bersama oleh kita berdua, semua anggota goan loo mengetahui akan persoalan ini, sebenarnya memang tak jadi soal kalau pucuk pimpinan perkumpulan ini kuserahkan kepadamu, tapi engkau toh seorang perempuan, andaikata engkau yang menjadi pimpinan, aku kuatir para anggota perkumpulan ada yang tak mau tunduk kepadamu”

Kho Hong hwee berdiam diri sebentar, sedang dalam hati kecilnya ia berpikir, “Andaikata pada saat ini aku tak mampu untuk merebut kekuasaan tertinggi itu maka satu-satunya jalan yang harus kutempuh adalah memancing perpecahan dalam tubuh perkumpulan tersebut hingga terjadinya penghianatan diantara para anggota, bagaimanapun juga aku harus berhasil membubarkan perkumpulan ini, darimana kejahatan mereka sudah mengakar daging dan mendatangkan banyak bencana serta malapetakan bagi umat persilatan….”

Berpikir sampai disint, dengan suara dingin ia lantas berkata, “Kun Gie pernah berkata kepadaku, setelah engkau mati maka kekuasaan tertinggi dari perkumpulan Sin-kie-pang akan diserahkan kepadanya, benarkah ucapan itu?”

Pek Siau-thian mengerutkan dahinya rapat-rapat. “Tentang soal ini sulit sekali untuk dilakukan” “Seandainya bukan putrimu yang meneruskan kedudukan tersebut lalu apa gunanya engkau mendirikan dan membangun perkumpulan itu hingga begini besar dan megahnya.

“Andaikata Kun Gie punyai kemampuan untuk memimpin dan dihormati oleh setiap anggota perkumpulannya tentu saja kedudukan ini akan kuserahkan kepadanya kalau tidak maka terpaksa aku mencari ahli waris yang lain.”

Tidak menunggu ia menyelesaikan kata-katanya, Kho Hong-bwee segera menukas dengan cepat, “Kalau memang

begitu tak usah dibicarakan lagi, kalau memang Kun Gie dapat menduduki kursi kebesaran tersebut untuk memimpin perkumpulan apa bedanya antara pria dan wanita? setelah ia diangkat sebagai ketua siapa yang berani membangkang perintahnya lagi? dan lagi toh kita punya hubungan suami istri siapa tak tunduk kepadaku, berarti tidak setia kepadamu, aku rasa lebih baik serahkan saja kekuasaanmu itu dengan lega hati.”

Hawa amarah membakar dalam dada Pek Siau-thian, ia tahu jika perselisihan ini di lanjutkan maka akhirnya yang rugi dia sendiri, maka dengan muka masam serunya, “Hong Bwee, engkau bukanlah seorang perempuan yang bodoh, sepantasnya kalau engkau lebih mementingkan kepentingan umum!”

“Andaikata aku tidak mementingkan kepentingan umum dan mengingat bahwa masalah ini adalah masalah besar, akupun segan untuk berjumpa lagi dengan dirimu.”

Pek Siau-thian jadi amat gusar, nafsu membunuh menyelimuti wajahnya, dengan gemas ia berkata, “Apabila aku tak sudi menyerahkan kekuasaan ini kepadamu engkau mau apa?”

“Kalau aku tetap bersikeras akan merebut kursi pimpinan tersebut, engkau mau apa?” balas Kho Hong-bwee dengan ketus

Pek Siau-thian makin mendongkol, ia tertawa dingin tiada hentinya.

“Heehh…. heehh…. heehh….! apabila engkau benar-benar tak tahu diri, terpaksa aku akan putuskan semua hubungan diantara kita dan mencabut selembar jiwamu”

Kho Hong-bwee balas tertawa dingin.

“Heeehhh…. heeeehh…. heeehh…. aku ingin bertanya kepadamu diantara anak buah perkumpulan Sin-kie-pang apakah ada yang bersedia mewakili dirimu untuk turun tangan tergebrak melawan aku?”

Mendengar perkataan itu Pek Siau-thian terperangah tanpa sadar ia berpaling dan memandang sekejap ke arah anggota perkumpulannya kemudian pikirnya didalam hati, “Andaikata aku Pek Siau-thian memerintahkan anak buahku untuk membunuh istri, perbuatanku ini pasti akan tercemoh orang dan dibuat sebagai suatu lelucon. Heeehhhh…. heeehh…. heeehhh…. keadaanku betul-betul payah sekali”

Ia mengaggap dirinya sebagai seorang pendekar sejati dengan sendirinya sebagai seorang pendekar tidak pantas kalau ia suruh anak buahnya untuk nembunuh istri sendiri.

Tapi pikiran lain segera berkecambuk pula dalam benaknya, ilmu silat yang dimiliki Kho Hong-bwee seimbang dengan dirinya walaupun selama belasan tahun terakhir ia terlatih tekun sehingga ilmu silatnya memperoleh kemajuan yang pesat, namun Kho Hong-bwee yang telah jadi pendeta tak mungkin mengesampingkan soal kepanodaiannya, itu berarti walaupun ada selisih, itu kecil sekail.

Dalam hati ia berpikir kembali.

Aku pernah bertanya kepada Kun Gie kakak beradik, mereka berdua samai tak pernah melihat ibunya berlatih silat, kalau di tinjau dari kemampuan Soh-gie yang begitu tak becus, rasanya ilmu silat yang dimiliki ibunya tak akan mencapai kehebatan yang luar biasa….

Berpikir sampai disitu, hawa amarah yang berkobar dalam dadanya mereda separuh bagian, mukanya segara berubah jadi membesi dengan memperlihatkan kewibawaannya sebagai seorang suami, serunya kepada Kho Hong-bwee dengan suara dingin, “Hong Bwee, aku telah mengambil keputusan yang tegas, meskipun kita suami istri berdua telah lama saling mencintai tapi aku tak akan mengesampingkan soal umum karena masalah pribadi, aku rasa lebih baik beristirahat dahulu kesamping nanti aku akan meminta maaf padamu,” ia berpaling kesamping dan segera membentak, “Soh-gie, Kun Gie bawalah ibumu untuk beristirahat dahulu didalam barak”

Pek Soh-gie maupun Pek Kun-gie yang mendengar perkataan itu sama-sama alihkan sorot matanya ke arah ibu mereka namun kedua orang itu tetap berdiri tegak ditempat semula tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Kho Hong-bwee tertawa dingin, tiba-tiba ia serahkan senjata Hud tim didalam gengga-mannya kepada Kun Gie lalu kepada Pek Siau-thian bentaknya dengan suara dalam. “Dalam peristiwa yang terjadi pada saat ini, aku rasa tak mungkin bisa diselesaikan dengan bersilat lidah belaka, lebih baik kita tentukan siapa kuat siapa lemah dalam adu kepandaian, siapa lebih unggul dialah yang berhak menduduki kursi pimpinan!”

Pek Siau-thian merasa amat gusar.

“Engkau benar-benar akan bertempur melawan diriku?” bentaknya.

“Hmmm! kalau engkau tak mau undirkan diri, terpaksa aku harus menyelesaikan masalah ini lewat adu kepandaian!”

“Pertarungan yang diakhiri setelah saling menutul ataukah bertarung sampai salah seorang diantaranya mampus?” teriak Pek Siau-thian gemas.

“Aku belum akan berakhir jika kemenangan belum sampai jatuh ketanganku, engkau toh seorang pria sejati, kalah satu jurus atau setengah gerakan sudah pantas untuk mengaku kalah sedang aku sebelum mati aku tak akan mengaku kalah”

“Jadi engkau bersikeras untuk mencari kematian?” seru Pek Siau-thian dengan menggigit bibir.

“Susah untuk dikatakan, andaikata beruntung aku bisa menangkan setengah jurus atau satu gerakan darimu bukankah kita dapat hidup lebih jauh?”

Pek Siau-thian menggigit bibirnya hingga berbunyi gemerutuk, setelah keadaan berubah jadi begini maka pertarungan antara suami istripun tak bisa dihindari lagi.

Kalau Kho Hong-bwee lebih mengutamakan kenyataan yakni asal dapat menutulkan pukulannya berarti menang, maka Pek Siau-thian harus merobohkan perempuan itu hingga tak mampu bertempur lagi baru bisa di anggap menang, kejadian itu kalau dipikir kembali sebenarnya memang tidak adil.

Tapi Pek Siau-thian adalah seorang jago persilatan yang memimpin kolong langit, berada dibawah pandangan banyak orang tentu saja ia merasa segan untuk menawar syarat yang diajukkan istrinya, sebaliknya asal ia kena di menangkan setengah gebrakan saja itu berati jerih payahnya selama ini serta masa depannya akan hancur dengan begitu saja.

Jadi kalau dibicarakan sesungguhnya maka pertarungan ini mempanyai sangkut paut yang amat sakit dan perih sekali.

Teringat kembali olehnya, sewaktu suami istri tak akur dan Kho Hong-bwee pergi dengan hati mendoogkol, kesemuanya itu dikarenakan perempuan tersebut merasa sangat tak puas dengan tindak tanduknya yang kejam dan telengas.

Kecuali itu, Kho Hong-bwee sama sekali tak ada tindakan yang dikatakan kelewat batas, ia amat mencintai istrinya yang cantik, dalam pandangannya asal suatu hari ia berbasil menduduki kursi pimpinan tertinggi di kolong langit dan semua orang yang belajar silat tunduk pada komandonya, maka pada saat itu istrinya yang ia cintai pasti akan berubah pikiran dan kembali kedalam pangkuannrya.

Haruslah diketahui, pada waktu itu Pek Siau-thian baru setengah umur dan cinta asmaranya belum paham, sedang Khbo Hong Bwee baru berusia tiga puluh tahunan, kecantikannya belum luntur dan cintanya belum padam, Pek Siau-thian belum pernah dapat melupakan cinta kasihnya dengan perempuan itu dan sifatnya itu memang jamak sebagai seorang pria yang normal. Tetapi, berada dalam keadaan seperti ini, Pek Siau-thian merasa tak rela untuk mengundurkan diri dengan begitu saja, kalau ia tidak ingin roboh maka satu-satunya jalan adalah berusaha merobohkan istrinya dengan ilmu sebangsa totokan, agar perempuan itu tak dapat bertempur lagi, atau jika cara ini tak bisa digunakan, terpaksa harus membinasakan jiwanya.

Pek Siau-thian putar otak habis-habisan berusaha untuk menemukan jalan yang paling baik, akhirnya dia menghela nafas panjang dan bergerak kehadapan Pek Soh-gie, katanya, “Peganglah tanda perintah Hong-lui-leng ini, setelah benda itu berada ditanganmu berarti pula engkaulah yang memegang tampuk pimpinan dalam perkumpulan Sin-kie-pang!”

Dengan lembut Pek Soh Gi mengangguk, ia sambut panji terbuat dari benang emas itu dengan sepasang tangannya, kemudian dipegang dalam pelukannya.

Gadis ini berwatak lembut dan baik hati ia tak kenal kejelekan orang dalam kolong langit, dalam perselisihan yang terjadi antara ayah dan ibunya, iapun tak tahu siapa yang salah siapa yang benar, gadis itu hanya bisa melelehkan air mata belaka.

Pek Siau-thian melirik sekejap ke arah putri sulungnya, kemudian berpikir dalam hati, “Andaikata aku kalah, tentu saja aku harus angkat kaki dan jauh meninggalkan tempat ini, selamanya tak bisa berjumpa muka lagi dengan mereka semua, sebaliknya kalau aku binasakan ibunya, sekalipun gadis ini berhati luhur, tak urung diapun akan membenci diriku sepanjang masa….”

Sorot matanya melirik kembali ke arah putri bungsunya, lalu berpikir lebih jauh, “Tak nyana budak itu berhasil lolos dari kematian, mungkin sewaktu tubuhnya jatuh kedalam jurang kebetulan berhasil disambut oleh ibunya…. Heeh…. heeh…. heeehh…. budak itu mampunyai perasaan hati yang tak berbeda dengan diriku, ia pasti tak akan memperdulikan mati hidupku….”

Berpikir sampai disitu, ia segbera menyingkap pakaiannya dan mengencangkan tali pinggang, lalu selangkah demi selangkah berjalan menuju ketengah gelanggang.

Orang-orang perkumpulan Sin-kie-pang yang menyaksikan ketuanya akan bertarung melawan istrinya dengan cepat daerah sekitar sana dibersihkan dari mayat.

Pek Siau-thian dan Kho Hong-bwee segera terjun kedalam gelanggang dan berdiri saling berhadapan, masig-masing pihak memasang kuda-kuda dan siap bertempur.

Pertarungan yang bakal berlangsung pada saat ini jauh berbeda dengan pertempuran pada umumnya, kedua belah pibak tidak saling menerjang dengan kekasaran, mereka bersikap waspada dan tetap saling menanti.

Seluruh perhatian dipusatkan jadi satu, tenaga dalam dihimpun kedalam telapak dan tubuh merekapun mulai bergeser ke arah samping.

Suami istri ini sama-sama merupakan jago lihay, pergeseran tubuh mereka kian lama kian bertambah cepat, sampai akhirnya bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas yang tersisa di gelanggang hanya bekas-bekas telapak kaki yang samar.

Ujung kaki kedua orang itu sama-sama menuntul diatas permukaan tanah yang penuh genangan darah, namun tak kedengaran sedikit suarapun, darah yang kena terinjak sama sekali tak berkutik, seakan-akan tak pernah ada orang yang lewat situ.

Lembah Cu-bu-kok yang luas dan lebar seakan-akan jadi sebuah lembah yang mati, tak kedengaran sedikit suarapua, beratus-ratus pa sang mata sama-sama ditujukan ketengah gelanggang tanpa berkedip barang sedikitpun juga.

Walaupun sudah berlarian beberapa saat lamanya, kedua belah pihak tak ada yang berani turun tangan, mereka takut kehilangan posisi yang menguntungkan sehingga mengakibatkan kekalahan fatal.

Sambil berlarian mengelilingi arena, diam-diam Pek Siau- thian berpikir dalam hatinya, “Nama besarku sudah menggegarkan seluruh kolong langit, jika aku harus tunjukkan kelemahan dihadapan istri sendiri, bukankah tin-dakanku ini akan ditertawakan orang….?” 

Ingatan tersebut laksana kilat berkelebat dalam benaknya, dengan cepat ia mengambil keputusan, telapak kirinya berputar melindungi badan sedangkan kedua jari tengahn dan telunjuk tangan kanannya tiba-tiba melepaskan serangan tajam.

Terdengar Kho Hong-bwee membentak nyaring, tangan kirinya ditebas kebawah membabat pergelangan musuh, tangan kanannya menyapu kedepan dan laksana kilat melancarkan satu pukulan balasan.

Buru-buru Pek Siau-thian merubah gerakan, tangan kanan menahan serangan lawan dengan gerakan Siang ji bu pit atau bersatu padu melindungi dinding, sedang tangan kanan melancarkan serangan dengan Jurus ciong ing po loh atau burung elang menyambar kelinci, kakinya menyapu keatas dan menyerang lutut Kho Hong-bwee secara tiba-tiba. Ketiga jurus serangan itu dilancarkan berbareng dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, jikalau seseorang tak memiliki ilmu silat yang tinggi serta tenaga dalam sebesar puluhan tahun hasil latihan tak mungkin serangan itu dapat dibendung. 

Tapi Kho Hong-bwee berhasil merebut posisi yang lebih menguntungkan, jurus serangannya segera berubah dan memunahkan ke tiga jurus serangan dari Pek Siau-thian itu hingga lenyap tak berbekas, telapak dan jari menyerang berbareng secepat kilat ia lancarkan serangan balasan.

Dalam waktu singkat Kho Hong-bwee telah melancarkan dua tiga puluh jurus serangan, kedua tiga puluh serangan itu dilancarkan bagaikan hembusan angin puyuh dan hujan badai, Pek Siau-thian yang kehilangan posisi dengan cepat mengerahkan segenap kekuatannya untuk mempertahankan diri, namun ia selalu gagal untuk merebut kembali posisi yang lebih menguntungkan.

Inilah siasat musuh tak bergerak aku tak bergerak, musuh bergerak aku bergerak lebih dahulu.

Pek Siau-thian adalah seorang pria yang berpandangan luas, ia tahu sekalipun sekarang dirinya diserang habis- habisan, tapi suatu ketika ia akan mendapat kesempatan baik untuk rebut kemenangan.

Beberapa saat kemudian, kedua orang itu sudah saling bergebrak hingga mencapai lima enam puluh gebrakan lebih, kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap kemampuannya untuk merobohkan lawan, setiap jurus pertama belum selesai jurus berikutnya segera menyambung lebih jauh, pukulan berantai dilepaskan berkesambungan hingga sukar ditemukan mana kepala mana ekornya….

Para penonton jalannya pertarungan itu sama-sama merasa terkejut bercampur kagum, serangan berantai dari Kho Hong- bwee susul menyusul bagaikan hujan badai yang melanda permukaan bumi, tiada lubang kelemahan yang ditinggalkan, sedangkan Pek Siau-thian sendiri meskipun kehilangan posisi yang menguntungkan namun dengan sepenuh tenaganya ia mampu membendung datangnya lima enam puluh serangan tanpa ada tanda-tanda bakal menderita kalah.

Jurus serangan yang dimiliki kedua orang itu sama-sama ampuh dan cepatnya perubahan yang dilakukan boleh dibilang teah mencapai taraf yang sukar diungkapkan dengan kata- kata.

Para penonton yang ada disamping arena mulai merasakan pandanngannya jadi kabur dan setiap gerakan sukar diikuti dengan seksama sebagian besar jago persilatan yang mengikuti jalannya pertarungan itu hanya merasakan seakan- akan menyaksikan sesosok bayangan manusia yang saling berputar dengan kecepatan bagaikan kilat, lengan mereka berdua saling menyambar kesana kemari dan sama sekali tidak menemukan keindahan ataupun keampuan dari masing- masing gerakan.

Sebaliknya mereka yang memiliki kepandaian yang agak tinggi, walaupun mengikuti separuh bagian yang atas namun separuh bagian yang bawah tertinggal jauh, setelah lama mengikuti jalannya pertarungan mulai merasakan pandangannya kabur, kepalanya pening dan pandangan dihadapannya sama sekali jadi samar.

Diantara beberapa ratus orang jago itu hanya ada beberapa orang saja yang dapat mengikuti semua jalannya pertarungan dengan seksama, tapi berhubung jarak yang terlampau jauh, penglihatan merekapun terhitung payah sekali.

Anggota perkumpulan Sin-kie-pang sebagian besat hanya tahu kalau ilmu silat yang dimiliki pangcunya lihay sekali, tapi mereka tak tahu sampat dimana taraf kelihayan ilmu silat dari Pek Siau-thian, terutama sekali kelihayan dari Kho Hong-bwee, kebanyakan orang merasa banwa peristwa ini benar-benar ada diluar dugaan.

Beberapa saat kemudian, kedua orang itu sudah saling bergebrak hingga mencapai ratusan jurus banyaknya, Kho Hong-bwee selalu memimpin pertarungan itu dan sedikit pun tidak nampak terdesak.

Dalam pada itu, Pek Siau-thian sudah kehabisan tenaga dan mandi keringat, luka ledakan yang dideiitanya akibat pecahan kotak emas milik Siang Tang Lay merekah kembali dan terasa amat sakit, kendatipun luka yang diderita olehnya cuma luka terbakar belaka dan sudah dibungkus dengan bubuk obat.

Dalam pertarungan yang adu cepat dan adu kegesitan ini sedikit banyak luka-luka yang perih sakit dan panas merupakan gangguan yang paling besar lama kelamaan perasaan sakit itu berubah jadi suatu pukulan batin yang sangat berat.

Pek Siau-thian merasa amat terperanjat, segenap tenaga murni yang dimilikinya disalurkan lewat permainan jurus serangan tersebut kian lama serangannya kian semangat ia berusaha menyelesaikan pertarungan adu cepat ini sesingkat mungkin.

Menghadapi pertarungan semacam ini, seseorang membutuhkan konsentrasi yang baik dan tak boleh ada pikiran lain jika pikiran nya sedikit bercabang saja maka segera akan mengakibatkan kekalahan total.

Pek Siau-thian berpengalaman luas tentu saja mengerti akan bahaya tersebut kecuali mengerahkan segenap kekuatan untuk melakukan perlawanan otaknya berputar keras untuk mencari akal guaa memecahkan persoalan itu.

Dalam pada itu, para jago persilatan ysng menonton jalannya pertarungan mulai merasa tegang dan tercekat perasaan hatinya, mereka tahu bahwa pertarungan itu akan segera berakhir dan siapa menang siapa kalah akan segera diketahui, masing-masing orang membelalakkan matanya lebar-lebar, mereka menatap gerak-gerik dua orang itu tanpa berkedip.

Tiba-tiba…. terdengar Kho Hong-bwee membentak nyaring, sepasang telapaknya berputar kencang melancarkan serangan berantai, ibaratnya panah yang berhamburan bagaikan hujan gerimis, jubah pendetanya terungkap lebar, kakinya yang ramping melepaskan tendangan demi tendangan dengan kepandaian Kun It tui atau tendangan dibalik gaun.

Tubuhnya yang kecil ramping beterbangan diudara, kakinya melayang dan meluncur tiada hentinya, tendangan-tendangan berantai Kun It tui meluncur keluar bagaikan jebolnya bendungan sungai.

Serangan berantai seperti itu berlangsung hampir lima puluh gebrakan lebih, tubuh Kho Hong-bwee sama sekali tidak menempel diatas permukaan tanah, seakan-akan beratus- ratus buah tendangan berantai itu dilancarkan dalam satu hembusan napas.

Dibawah gencetan serangan berantai yang lihay dan bertubi-tubi itu, Pek Siau-thian dipaksa hingga terdesak hebat dan kerepotan, untuk melindungi diri badannya mundur kebelakang berulang kali sementara sambaran telapaknya memancarkan angin pukulan menderu yang sangat memekikkan telinga.

Tiba-tiba Pek Siau-thian membentak keras ditengah bentakan badannya meluncur kedepan dan tinggalkan permukaan tanah setinggi dua tiga depa dengan cepat ia melesat beberapa tombak melewati lingkaran.

Para penonton dibikin makin tegang perhatiannya ditujukan ketengah gelanggang dan jeritan kaget tiba-tiba bergema memecahkan kesunyian.

Setelah berhasil berdiri tegak, Pek Siau-thian menatap wajah istrinya dengan paras hijau membesi, kegusaran yang membakar hatinya benar-benar sudah mencapai puncaknya.

Pertarungan yang barusan berlangsung merupakan pertarungan sengit yang jarang ditemui dalam masa hidupnya walaupun ia masih mampu untuk mempertahankan diri, namun hasil dari pertarungan itu membuat ia bergidik bercampur ngeri, dan selamanya perasaan tersebut sukar dilupakan dari benaknya.

Kho Hong-bwee sendiri berdiri kurang lebih delapan sembilan depa dari sisi arena, dadanya naik turun bergelombang, napasnya tersengkal-sengkal dan keringat membasahi tubuhnya, didalam pertarungan yang berlangsung barusan ia telah kerahkan segenap kekuatan yang ia miliki, tapi sayang usahanya menemui kegagalan dan akhirnya toh Pek Siau-thian tak berhasil dirobohkan olehnya.

Kedua orang itu segera atur pernapasan untuk menekan pergolakan darah dalam dada masing-masing. perselisihan pendapat membuat sepasang suami istri ini terpaksa harus melupakan cinta kasih antara mereka, membuat perasaan hati mereka campur aduk tak karuan.

Tapi kedua orang itu mengerti bahwa perpisahan mereka selama belasan tahun sama sekai tidak mengendurkan semangat mereka untuk berlatih ilmu, bahkan kepandaian silat masing-masing pihak berhasil mendapat kemajuan yang cukup pesat, jika pertarungan ini dilanjutkan lebih jauh maka siapapun tak akan merebut kemenangan.

Setelah sunyi beberapa saat, dengan suara dingin Kho Hong-bwee berkata lagi, “Sau tha hunus senjata tajammu!”

Pek Siau Thiag mengerutkan dahinya, paras muka yang telah tenang terlintas kembali hawa kegusaran yang amat tebal, tegurnya, “Dendam permusuhan apakah yang terikat kita berdua?”

“Tidak ada urusan dendam atau permusuhan, yang ada cuma pengaruh iblis yang tebal, Pek Siau-thian semakin gusar.

“Aku adalah manusia kasar dari dunia sedangkan engkau adalah dewi dari sorga, maaf aku tak bisa menangkap perkataanmu yang mengandung arti dalam”

Kho Hong-bwee tertawa getir.

“Teringat ketika diraasa lampau kita punya cita-cita dan tujuan yang sama”

“Benar,” tukas Pek Siau-thian, “kalau ada permulaan buat apa ada ini hari?”

Kho Hong-bwee menghela napas panjang dengan sedihnya. “Pada waktu itu kita masih muda dan tak banyak pengalaman, jalan pemikiran kita pada waktu itu benar-benar keliru besar”

“Hmmm!” dengus Pek Siau-thian penuh kegusaran, “meskipun perkumpulan Sin-kie-pang memiliki anggota yang berpuluh-puluh ribu banyaknya, tapi peraturan perkumpuaan sangat ketat dan tujuan kita amat jelas, bukan saja tak pernah membunuh pembesar untuk memberontak, kami pun tidak….”

Kho Hong-bwee ulapkan tangannya memotong ucapan suaminya yang belum habis, katanya, “Aku ingin bertanya kepadamu, anggota perkumpulan Sin-kie-pang yang berjumlah ratusan ribu orang tak pernah menggerakan badan mereka untuk bekerja, tak pernah menancam padi atau gandum, kecuali bunuh orang, bakar rumah, menindas kaum rakjat jelata tiada perbuatan lain yang lebih mulia, darimana datangnya makanan, minuman serta pakaian bagi orang- orang itu?”

Pek Siau-thian mendengus dingin.

“Thian menciptakan manusia, ia pasti memberi kehidupan bagi ciptaannya, engkau toh sudah belajar agama selama beberapa lama, kenapa cuma urusan itupun tak tahu? padahal setiap umat persilatan mengetahui akan soal ini, aku adalah seorang ahli silat kasar dari dnnia persilatan, sedang engkau adalah istriku, lebih baik kita tak usah membicarakan persoalan itu lagi.”

“Kalau memang begitu, cabut senjatamu dan mari kita lanjutkan pertarungan ini!”

“Sebenarnya apa maksudmu?” bentak Pek Siau-thian amat gusar, “apakah engkau bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan diriku lagi….?” “Oooh! itu sih tidak, aku hanya menginginkan kau serahkan panji Hong-lui-leng kepadaku dan segera mengasingkan diri dari dunia persilatan….!”

Setelah berhenti sebentar sambungnya lebih jauh, “Cuma, kalau kau masih mempunyai rasa sayang terhadap istri, asal kau bubarkan perkumpulan Sin-kie-pang dan menyatakan mundur dari dunia persilatan, aku akan menemui engkau untuk berpesiar keempat penjuru mencari dewa belajar ilmu dan mencari kehidupan yang bahagia serta panjang usia.”

Mula-mula Pek Siau-thian terperangah kemudian satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia bertpikir lebih jauh, “Meskipun usulnya sangat bagus dan menyenangkan tapi aku Pek Siau-thian masih muda dan memimpin dunia persilatan adalah suatu jabatan yang mulia serta patut di banggakan, kenapa aku harus melepaskan kesempatan yang sangat baik untuk menguasai seluruh jagad ini untuk mencari pelajaran dewa yang masih semu itu? bukankah semacam ini merupakan suatu tindakan yang terlalu bodoh?”

Meskipun paras suaminya berubah tenang, sadarlah Kho Hong-bwee ia mengalami masalah yang pelik dan sukar ambil keputusan, segera ujarnya kembali.

“Rembulan setelah bulat akan menjadi lonjong, air setelah penuh akan meluber nasib buruk yang menimpa perkumpulan Hong Im bwee serta Thong-thian-kauw merupakan contoh yang paling bagus, perkumpulan Sin-kie-pang beruntung bisa utuh dan seluruh kejadian ini boleh dibilang merupakan satu keuntungan yang luar biasa, jika engkau mundur dalam keberhasilan maka nama harummu akan dikenang sepanjang masa, dan tindakan ini merupakan suatu tindakan yang cerdas!” Terdengar Pek Kun-gie berseru pula dengan sedih.

“Ayah, perkataan dari ibu tak salah, marilah kita bersama- sama mengundurkan diri dari urusan dunia persilatan, cici dan aku akan berbakti kepada ayah serta melayani dirimu hingga akhir tua nanti”

“Semuda ini sudah harus pergi menunggu ajal, apakah tindakan ini tidak terlalu awal?” bentak Pek Siau-thian penuh kegusaran.

“Usia manusia sampai berapa ratus tahun? darimana engkau bisa pastikan terlalu awal atau tidak?” kata Kho Hong- bwee.

“Bagaimana dengan perkumpulan Sin-kie-pang?” “Bagaimanapun toh mereka bukan anak cucumu, lebih baik

dibubarkan mulai sekarang saja!”

Pek Siau-thian tertawa dingin.

“Heehh…. heehh…. heehh…. apa kau anggap d ngan dibubarkanya orang-orang itu dari ikatan perkumpulan, maka perbuatan tersebut akan mendatangkan keberuntungan bagi umat ma-nusia?”

Dalam hati Kho Hong-bwee segera berpikir, “Perkataan ini benar juga, manusia-manusia itu bukanlah termasuk manusia yang baik, kalau dilepaskan kedalam dunia persilatan mereka pasti akan membuat banyak keonaran, tapi…. jika perkumpulan Sin-kie-pang dibiarkan tetap merajai kolong langit dan perbuatan mereka semena-mena maka lama kelamaan gejala ini akan mengakibatkan rusaknya masyarakat, pihak pendekar akan terbasmi dan selamanya tak bisa bangkit kembali, bencana ini bukan saja amat besar bahkan terlalu dalam, lebih baik aku usahakan sampai perkumpulan ini buyar….”

Setelah mempertimbangkan untung ruginya, perempuan itu segera mengambil keputusan, kepada Pek Siau-thian ia berkata, “Hukum karma selamanya berlaku dalam dunia, barang siapa berani melakukan kejahatan dia pasti akan terima binasa, perkumpulan Sin-kie-pang kita dirikan bersama, kita pula yang bubarkan bukankah begitu sudah layak? biarkan mereka ambil langkah sendiri dalam menentukan garis hidupnya, biarlah mereka mampus jika berani melakukan kejahatan, setelah orang-orang itu lepas dari pengawasan kita, toh berarti sudah bukan termasuk tanggung jawab kita lagi….”

“Jadi kasarnya engkau suruh aku bubarkan hasil karya yang kuperjuangkan dan ku usahakan mati-matian selama dua puluh tahun ini dengan begitu saja?” seru Pek Siau-thian ketus.

“Yaa…. bicara pulang pergi toh akhirnya engkau lebih beratkan nama dan kedudukan daripada kemuliaan akhlak, kalau memang begitu biar kita selesaikan saja masalah ini dalam pertarungan adu jiwa!”

Perempuan itu tak banyak pikir lagi, ia loloskan sebilah pedang lemas yang tipis dan ramping dari pinggangnya, kemudian membentak keras, “Persoalan yang kita hadapi pada saat ini tak mungkin dapat diselesaikan secara damai, itu berarti hubungan suami istri kita berduapun ibaratnya pedang ini”

Criing! ditengah dentingan nyaring, Kho Hong-bwee getarkan pedang lemasnya sehingga ujung pedang seketika putus beberaoa cun dan meluncur ke arah Pek Siau-thian dengan kilatan cahaya perak. Pek Siau-thian bukan orang lemah, ia ayun telapaknya kedepan dan menjepit ujung pedang yang menyambar ke arahnya dengan kedua jari tangannya, sementara paras mukanya berubah jadi pucat kehijau-hijauan dan tak sedap dipandang.

Para jago yang mengikuti jalannya peristiwa itu dari tepi arena pun segera mengetahui bahwa suami istri dua orang itu sudah ambil keputusan untuk menempuh jalan hidup yang berbeda, dalam keadaan begini tak mungkin mereka bisa diakurkan lagi, dan satu-satunya peristiwa yang bakal terjadi hanyalah pertarungan sengit yang akan menentukan siapa menang siapa kalah, siapa hidup siapa mati.

Setelah berhenti beberapa saat lamanya, Pek Siau-thian masukkan kuntungan pedang dalam jepitan jarinya itu kedalam saku, kemudian ia menyikap jubah dan loloskan pula sebuah senjata tajam.

Senjata andalannya berupa sebuah tali panjang yang terbuat dari otot naga, panjangnya satu tombak dua depa, pada ujung sebelah kiri terkait sembilan lembar pisau tajam berbentuk bulan sabit, sedang pada ujung lainnya terpasang sembilan batang duri segi tiga yang amat beracun.

Delapan belas pisau tajam duri segi tiga itu tersebar disepanjang tali otot tersebut, ada yang berselisih jarak beberapa cun, ada pula yang berjarak delapan sampai sembilan cun, nampak nya sangat tak beraturan dan tak tahu apa kegunaannya.

Pek Siau-thian memegang sebilah pisau tajam diantaranya, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia tebas kedua belah ujung senjatanya itu hingga putus beberapa depa, dengan begitu senjata tersebut panjangnya makin menyusut hingga tidak sampai satu tombak, pisau bulan sabit dan duri segi tiga yang tergantung pada senjata itupun tinggal dua belas batang.

Perbuatan ini dilakukan tentu saja dikarenakan Kho Hong- bwee telah mematahkan pula ujung pedangnya sehingga senjata itu cacad, ia tak sudi mencari keuntungan dari utuhnya senjata, karena itu senjata tajam miliknyapun dibikin Cacad sendiri.

Para pendekar dari golongan lurus yang menyaksikan kejadian itu diam-diam merasa kagum juga, kendatipun perbuatannya tidak dapat dibenarkan.

Terdengar Kho Hong-bwee berkata dengan ketus.

Dalam pertarungan ini kita harus saling merobohkan lawan hingga benar-benar tak berkutik, tiada pengecualian dan tiada keistimewaan bagi kedua belah pihak, pertarungan akan berjalan secara adil dan tidak berat sebelah, engkau boleh kerahkan segenap kekuatan yang kau miliki, sedang pedangku juga tak akan kenal apa artinya belas kasihan.

“Maksudmu setelah merobohkan harus segera bangkit untuk lanjutkan pertarungan.

Kho Hong-bwee gelengkan kepalanya.

“Kalau engkau sudah roboh, mungkin untuk selamanya tak akan bisa bangkit kembali!”