Tiga Maha Besar Jilid 07

 
Jilid 07

SETELAH pria itu menangis, maka Chin Wan-hong, Biau-nia Sam-sian, tiga harimau dari keluarga Tiong yang teringat akan kematian Hoa Thian-hong sama-sama tak dapat menahan diri dan ikut menangis pula.

Dewa yang suka pelancongan Cu Tong adalah salah seorang diantara sepasang dewa bersama-sama dengan Dewa geledek, sedang Suma Tiang-cing adalah saudara angkat diri Hoa Goan-siu, walaupun sanak namun mereka adalah sahabat karib, semua orang segera diliputi oleh kesedihan membuat suasana penuh diliputi kedukaan.

Dengan susah payah, akhirnya terdengar panitia berseru kembali, “Dipersilahkan para orang gagah yang tergabung dalam kelompok perkampungan Liok Soat Sanceng mengundurkan diri….”

Semua orang dengan menahan sedih dan air mata, mengundurkan diri kembali kedalam barak, panitia segera mempersilahkan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang maju memberi hormat.

Dengan dipimpin oleh Pek Siau-thian, ratusan orang anggota perkumpulan Sin-kie-pang sama-sama maju kedepan untut memberi hormat kepada arwah-arwah anggota perkumpulan Sin-kie-pang yang gugur dalam pertemuan besar Pek beng hwee. Haruslah diketahui, upacara penghormatan untuk arwah yang telah tiada merupakan adat yang dipegang teguh setiap orang pada masa itu, arwah yang telah tiada dianggap sebagai orang besar. Karena itu meskipun Pek Siau-thian adaloh seorang ketua perkumpulan namun sikapnya selama upacara selalu serius dan bersungguh-sungguh, hal ini dimaksudkan asar menarik simpati dari anak buahnya.

Setelah perkumpulan mereka, maka giliran Hong-im-hwie maju memberi hormat.

Baru Saja pihak Perkumpulan Hong-im-hwie selesai melakukan penghormatan, tiba-tiba dari luar lembah Cu-bu- kok secara lapat-lapat dengaran tangisan setan.

Setelah itu, tampaklah para jago perkumpulan Sin-kie- pang, Hong-im-hwie serta Thong-thian-kauw yang bertugas diluar lembah sama-sama lari terbirit-birit masuk kedalam lembah, dua orang imam dari Thong-thian-kauw dengann wajah pucat pias lari menuju kehadapan Thian Sengji, tangannya menuding keluar lembah dengan gemetar, beberapa saat kemudian mereka baru mampu bersuara.

“Lapor Tamcu, setan-setan penasaran yang telah mati dengan darah mengalir dari ketujuh lobang inderanya itu, te…. telah…. telah hidup kembali!”

Mendengar laporan itu, Thian Sengcu merasa terkejut bercampur gusar, bentaknya, “Omong kosong!, dengan mata kepalaku sendiri telah kuperiksa bahwa mereka telah mampus semua, mana mungkin bisa hidup kembali?”

“Makhluk-makhluk aneh itu telah dibuang kedalam sebuah jurang di bukit sebelah kiri dan dikubur dalam satu liang, tapi…. tapi….” “Tapi kenapa?” bentak Thian Sengcu dengan gusar.

“Mereka semua telah hidup kembali, sambil ribut dan menangis mereka menuju kemari dan agaknya segera akan tiba disini, aduh mak! itu mereka telah datang!”

Ditengah pembicaraan, suara isak tangis dan jeritan setan telah bergema memenuhi seluruh lembah, makhluk setan berwajah seram dan berambut awut-awutan itu sambil berdesak-desakan muncul kembali didalam lembah.

Setan-setan itu pada dasarnya berwajah menyeramkan, ditambah darah mengalir keluar dari tujuh lubang inderanya membuat wajah makhluk-makhluk itu nampak lebih seram.

Dalam waktu singkat, makhluk setan yang memakai belenggu kehilangan kaki tangan atau lidahnya menjulur keluar itu sudah ber kumpul semua dibawah panggung persembahan, mereka semua pada menjerit dan menangis hingga suasana jadi amat ribut.

Ci-wi Siancu jadi ketakutan setengah mati, dengan badan gemetar dan gigi saling beradu ia mendekati Hoa Hujin dan berbisik lirih, “Hujin, suhu telah menghadiahkan sedikit kabut sembilan bisa ke padaku dengan pesan agar racun itu jangan digunakan sembarangan, bagaimana kalau sekarang kulepaskan racun itu agar makhluk-makhluk setan itu….”

Agaknya takut ia kalau perkataannya kedengaran oleh makhluk setan tersebut, perkataannya makin lama semakin lirih, Hoa Hujin termenung sebentar, kemudian menjawab, “Engkau tak usah terburu nafsu lebih dahulu, selama mereka tidak mengganggu kita lebih baik kitapun tak usah mengganggu mereka” Sementara pembicaraan masih berlangsung, Thong-thian Kaucu serta Thian Seng cu dengan memimpin sekelompok anak muridnya telah mengepung rapat-rapat ketujuh puluh dua orang makhluk setan itu, tetapi makhluk-makhluk aneh itu masih tetap menjerit dan menangis, terhadap pengepungan tersebut mereka sama sekali tidak ambil perduli.

Dengan muka penuh kegusaran Thian Seng cu segera menghardik, “Pertemuan besar Kian cian tayhwee diadakan untuk mengenang arwah-arwah orang gagah yang semasa dalam dunia merupakan orang kenamaan, perduli kalian semua adalah setan atau manusia, ayoh cepat mengirim seorang pemimpin untuk berbicara, apabila kalian mengharapkan sesuatu maka perkumpulan Thong-thian-kauw kami pasti akan berusaha memenuhinya….”

Baru saja ucapan terebut diutarakan keluar, dari luar lembah Cu bo kok tiba-tiba berkumandang datang suara jeritan lengking yang amat menusuk pendengaran, diikuti suara gembrengan dan tambur bergema tiada hentinya.

Beberapa saat kemudian pekikkan lengking dan suara tetabuhan gembrengan dan tambur itu sudah tiba dimilut selat, tujuh puluh dua orang makhluk setan yang sedang menangis dan menjerit itu segera membungkam dalam seribu bahasa, semua berdiri kaku ditempat semula tanpa berkutik barang sedikitpun juga.

Bayangan hitam berkelebat memasuki lembah tersebut, sekelompok setan dan makhluk aneh dibawah iringan suara gembrengan dan tambur memosuki gelanggang dengan teratur.

Barisan tersebut adalah suatu barisan aneh yang tidak pernah nampak di kolong langit, berjalan dipaling depan adalah dua orang prajurit setan berbaju hitam yang membawa sebuah gembrengan sebesar lima depa, seorang setan berbaju merah dengan membawa sebuah alat pemukul gembrengan tersebut mengikuti irama langkah kaki.

Dibelakang gembrengan berjalanlah empat orang prajurit setan pembuka jalan yang memakai baju warna-warni, berwajah pucat pias, menyoren senjata garpu pada pundaknya dan menunggang kuda jempolan yang tinggi besar.

Yang paling mengerikan, ternyata keempat ekor kuda itu sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun ketika berjalan, seakan-akan kuda itu adalah sukma-sukma Kuda yang tidak bernyawa lagi.

Dibelakang prajatit pembuka jalan adalah tiga puluh enam sosok arwah penasaran, diantaranya terdapat setan gantung, setan mati tenggelam, setan mati terbakar serta setan lainnya.

Ada setan yang mati secara mengerikan terlindas roda kereta, tubunnya penuh berlumuran darah dan isi perutnya bergelantungan diluar, ada pula setan yang mati karena dipenggal, batok kepalanya dipegang ditangan.

Yang lebih seram lagi adalah setan perempuan yang membopong bayi berusia satu dua tahunan, separuh bagian batok kepala bayi itu sudah hancur tidak karuan, otaknya pada mengalir keluar, namun matanya ma sih berputar tiada hentinya membuat orang yang menyaksikan kejadian itu merasa ngeri dan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Dibelakarg ketiga puluh enam sosok setan itu adalah lima orang setan pria yang sudah lanjut usia, didepannya berjalan seso-sok setan yang tinggi dan kurus, rambut dan janggutnya awut-awutan tidak karuan, matanya melotot keluar, sepasang lengannya mengenakan borgol sedang tengkuknya membawa rantai, rupanya setan tersebut adalah setan penasaran yang mati dalam penjara.

Dibelakang kelima sosok setan tua itu, mengikuti sekawanan prajurit setan yang menggotong delapan buah tandu berwarna hitam, empat buah tandu yang ada didepan duduklah empat setan pria yang kekar, sedangkan empat tandu yang ada dibelakang tertutup rapat, mungkin isinya adalah setan perempuan.

Dibelakarg kedelapan bush tandu tadi, mengikuti sebuah tandu besar yang megah, indah dan berukirkan burung hong dan naga, tandu tersebut digotong oleh delapan sosok prajurit setan, seorang bocah perempuan berusia sebelas dua belas tahunan dengan baju warna merah dan rambut dikepang mengikuti disisi tandu tersebut.

Sembilan buah tandu itu berjalan menuju kebawah mimbar, empat pria setan yang duduk ditandu loncat lebih dahulu diikuti dengan horden pada empat tandu lainnya terbuka dan perlahan-lahan melayang turun empat setan perempuan, hanya tandu indah yang nampak megah dan besar itu saja tiaak menunjukkan suatu gerakan apapun.

Jumlah rombongan setan itu seluruhnya melampaui seratus orang lebih, barisan sebesar ini benar-benar luar biasa, para jago dari Sin-kie-pang, Hong lm Hwee, Thong-thian-kauw dan pendekar dari golongan lurus tak berani memandang enteng lagi, untuk beb rapa saat lamanya suasana jadi hening dan diliputi keseriusan.

Thong-thian Kaucu yang berada diatas mimbar dan menunggu beberapa saat lamanya, namun dari balik tandu besar yang megah itu sama sekali tidak ada gerak-gerik apapun, hal ini menggusarkan hatinya, imam tua tersebut segera membentak. “Pinto Thian Ik-cu mohon tanya, diantara rombongan para malaikat ini apakah ada seorang wakil untuk berbicara?”

Dari balik tandu yang terakhir melayang keluar sesosok setan perempuan, sambil maju kedepan jawabnya, “Aku adalah Tiam cu dari istana neraka terimalah hormat dari kami….!”

Tiam cu dari istana neraka ini mengenakan jubah hitam yang lebar, rambutnya terurai sepanjang pinggang dengan sebuah bunga kertas sebesar mangkuk menghiasi kepalanya, diatas dada terukirlah sebuah uang kertas yang memancarkan cahaya keperak-perakan, mukanya pucat dan gerak-geriknya enteng sekali, nada suara ketus dan adem membawa hawa setan yang sangat tebal.

Dengan pandangan yang tajam, Thong-thian Kaucu mengamati Tiam cu dari istana neraka itu beberapa saat lamanya, kemudian dengan alis mata berkenyit, pikirnya, “Ooooh…. aku benar-benar sudah bertemu dengan setan hidup!”

Imam tua itu segera mendongak dan tertawa terbahak- bahak.

“Haaah…. haaah…. haaah…. rupanya Tiam cu yang telah tiba, maafkanlah kalau pinto tidak melakukan penyambutan”

“Tidak berani” jawab Tiam cu istana neraka, “bila kedatangan kami terlalu gegabah harap engkau juga bersedia memaafkan”

Thong-thian Kaucu tersenyum, ia segera menuding ke arah makhluk- makhluk setan yang berada disekitarnya kemudian bertanya, “Setan-setan penasaran itu apakah merupakan anak buah Tiam cu semua….?”

Tiam cu istana neraka adalah seorang gadis yang berparas cantik dan berpotongan badan menawan, usianya baru dua puluh tahunan, andaikata dia adalah seorang manusia maka sepantasnya kalau merupakan seorang gadis yang sangat menawan hati, sayang mukanya pucat, ucapannya kaku dan dingin serta dari tubuhnya memancarkan hawa setan yang tebal, membuat siapapun yang memandang merasakan hatinya bergidik.

Thong-thian Kaucu memandang sekejap ke arah tandu besar yang indah dan megah itu, kemudian bertanya lagi, “Tandu tersebut berukirkan naga dan burung hong, bentuknya megah din indah, entah Tiam cu manakah yang berada dalam tandu tersebut?”

“Tandu itu berisikan kaucu kami!”

Semua pertanyaan yang diajukan segera dijawab, tapi jawabanya selalu singkat dan sederhana, seakan-akan perempuan itu segan untuk banyak berbicara.

Mendengar perkataan itu Thong-thian Kaucu segera tertawa terbahak-bahak, serunya, “Haahh…. haahh…. hahhh…. sungguh tak kusangka kecuali kaucu dari sekte agama Thong-thian-kauw masih ada kaucu lainnya lagi, kalian Tong kaucu kalian berasal dari perkumpulan mana? dan siapa pula sebutan dari kaucu kalian itu?”

“Maaf, tak dapat diberitahukan!”

Tong Thian Kaacu mengerutkan dahinya. “Mengapa kaucu kalian tidak turun dari tandu? apakah harus menunggu sampai aku turun tangan sendiri untuk membukakan tandu baginya?” ia menegur.

Diatas wajah Tiam cu istana mereka yang dingin dan pucat, tiba-tiba melintas nafsu membunuh yang tebal, engkau harus membukakan tandu dan mempersilahkan kaucu kKami untuk turun dari tandu!”

Thong-thian Kaucu merasa amat gusar sekali, sambil berpaling bentaknya

“Pek Lian, maju dan bukalah tabir tandu tersebut!”

Seorang imam cilik berbaju merah mengiakan dan maju kedepan dengan langkah lebar.

Cing lian, Pek lian adalah dua orang murid kesayangan Thian Ik-cu, ilmu silat yang dimiliki kedua orang ini jauh melampaui kakak seperguruan lainnya, bukan saja kelicinan bahkan akalpun banyak sekali dan melebihi siapapun.

Sementara itu, Pek Lian dengan langkah lebar berjalan melewati kawanan makhluk setan itu dan mendekati tandu besar, meskipun wajahnya saram sekali tidak menampilkan perasaan takut, akan tetapi secara diam-diam ia telah melakukan siap siaga dan sedikit pun tidak berani bertindak secara gegabah.

Tong Taian Kaucu pun berjaga-jaga bila pihak lawan melakukan penyergapansecara tiba-tiba, sepasang matanya yang tajam mengawasi gerak-gerik Pek Lian tanpa berkedip.

Tampak Pek Lian berjalan menuju kedepan tandu besar itu kemudian menyingkap tabir yang menutupi tandu tersebut, siapa tahu sorot matanya menemui tandu yang kosong melompong, tidak ada manusia disitu pun tak ada bayangan barang sedikit pun jua.

Menyaksikan akan hal itu, Pek lian nampak tertegun, pada saat itukah seorang setan pria yang memakai kopiah kebesaran, berbaju orang pangkat dan bermuka warna hijau memetangkan mulutnya melakukan penyerbuan, segulung hawa dingin langsung meluncur ke arah tenggorokan Pek lian.

Sementara itu Pek lian sedang putar badan siap berlalu dari sana, ketika merasakan segulung hawa dingin secara tiba-tiba menyerang tengkuknya kemudian mengikuti bagian belakang menyerang tulang punggungnya, ia jadi amat terperanjat hingga tanpa terasa sekujur badannya gemetar keras.

Thong-thian Kaucu yang menyaksikan kejadian itu merasa terkejut bercampur gusar, sebenarnya ia hendak menghardik tetapi ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya, ia merasa pihak lawan sama sekali tidak turun tangan kecuali meniup belaka, dalam anggapannya tiupan tersebut tidak mungkin akan melukai muridnya, apalagi kalau per soalan itu dibongkar malah tidak menguntungkan pihaknya, maka sambil menahan diri ia pura-pura tidak tahu.

Pek lian segera putar badan dan melotot sekejap ke arah setan berpakaian pembesar itu dengan penuh kegusaran, kemudian dengan langkah lebar ia berjalan balik ke arah mimbar.

Siapa tahu baru saja badannya maju selangkah, tubuhnya terasa makin dingin dan kian lama kian bertambah kaku, belum mencapai sepuluh langkah rasa dingin telah merasuk ketulang sumsumnya membuat giginya saling beradu dan badan menjadi kaku. Pek lian tahu bahwa gelagat tidak menguntungkan pihaknya, buru-buru ia tarik napas dan bermaksud untuk mengatur perasaan, siapa lahu keadaan sudah terlambat, sebelum hawa murni sempat disalurkan, sekujur badannya sudah gemetar keras kemudian roboh terjengkang keatas tanah.

Thong-thian Kaucu yang menyaksikan kejadian itu merasa amat terperanjat, segera bentaknya, “Thian seng….”

Sebelum mendapat perintah, Thian Sengcu laksana kilat telah malompat kedepan dan memayang tubuh Pek lian yang sedang roboh ketanah, ia rasakan tangan dan tubuh bocah itu sudah berubah jadi dingin bagaikan es, hawa dingin yang sangat aneh serasa menyusupi setiap tubuh imam cilik tersebut, dalam bingung dan tidak habis mengertinya buru- buru ia loncat kembali kesisi tubuh Thian Ik-cu.

Thong-thian Kaucu segera mengamati pula imam cilik itu sekejap, ia lihat sepasang mata Pek Lian terpejam rapat-rapat, giginya menga tup kencang sementara bibirnya telah berubah jadi biru, mukanya pucat ke hijau-hijauan dan keadaan tersebut tidak jauh berbeda dengan orang yang mati karena kedinginan.

Maka nadi dan jantung Pek lian diperiksa dengan seksama, ia temukan bahwa denyutan nadi imam cilik itu sudah tiada dan jan tungnya telah berhenti berdetak, hal itu menunjukkan bahwa jiwanya sudah melayang dan tak tertolong lagi.

Peristiwa ini benar-benar suatu kejadian yang sangat mengerikan, sebuah tiupan mampu membinasakan jiwa manusia andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun tak akan percaya atas kejadian tersebut, tapi sekarang kenyataan sudah ada di depan mata membuat semua orang mau tak mau terpaksa harus mempercayai. Thong-thian Kaucu merasa amat gusar sekali hingga seluruh wajahnya berubah jadi hijau membesi sambil ulapkan tangannya ia berseru, “Hantar dia kepada tiga orang susiok untuk diteliti, coba diperiksa dimanakah letak mulut lukanya?”

Mendengar perkataan itu, Thian Seng cu segera membopong mayat Pek Lian dan balik kedalam barak.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat sekali lagi, Thong-thian Kaucu menyapu sekejap kawanan manusia aneh dan makhluk- makhluk setan itu kemudian prkirnya, “Diatas langit masib ada langit, diatas manusia masih ada manusia nampaknya kemunculan kelompok baru ini bukan suatu kelompok yang biasa….”

Berpikir demikian, ia berusaha keras untuk menekan hawa amarah yang bergolak dalam dadanya sambil memandang setan berdandan pembesar itu, tegurnya, “Dan engkau….

Tiam cu apa lagi?”

“Aku adalah Tiam cu ruang penyiksaan” jawab setan berdandan pembesar itu dengan suara menyeramkan, bilamana kaucu ingin memberi petunjuk dengan senang hati akan kulayani keinginanmu itu.

Thong-thian Kaucu mendengus dingin, ia berpaling dan memandang sekejap ke arah Tiam cu istana neraka, lalu tegurnya, “Kenapa kaucu kalian belum juga datang kemari?”

“Kaucu kami sudah lama sekali hadir di tempat ini, setiap orang yang punya mata dapat melihat dengan amat jelas”

Tang Thian Kaucu menjadi terkejut, sorot matanya segera berputar menyapu sekeliling tempat itu. Pada waktu itu, bukan saja Thong-thian Kaucu merasa terperanjat, bahkan semua orang yang ada didalam gelanggangpun sama-sama merasa terkejut dan curiga, untuk beberapa saat lamanya sorot mata semua orang berputar kian kemari untuk mencari jejak pemimpin kelompok setan tersebut.

Tiba-tiba…. sorot mata Thong-thian Kaucu berhenti pada tandu kecil yang ditumpangi Siang Tang Lay, satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya membuat ia seperti menyadari akan sesuatu, tak tahan lagi imam tua itu tertawa terbahak-bahak.

“Haaah…. haahh…. haaah…. Siang Tang Lay, rupanya kesemuanya ini adalah hasil permainan setanmu. Haahh…. haah…. haahh…. sudah sepantasnya sedari permulaan tadi pinto harus dapat berpikir sampai kesitu, badanmu cacad dan gerak-gerikmu tidak leluasa mana engkau berani andalkan kekuatan empat orang muridmu untuk berkunjung kedaratan Tionggoan guna mulakukan pembalasan dendam….”

Tetapi dengan cepat Siang Tang Lay gelengkan kepalanya berulang kali, sembari tertawa nyaring, jawabnya, “Dugaan Kaucu keliru besar, dengan kemampuan yang kumiliki rasanya masih belum mampu menciptakan hasil karya sebesar itu haaa…. haaah…. haaaah.”

Tertegun hati Thong-thian Kaucu , kembali ia berpikir, “Kalau ditinjau dari gerak-gerik kedelapan orang makhluk aneh bertandu itu jelas mereka semua adalah jago-jago lihay yang berke pandaian amat tinggi, kecuali kakek tua ini siapa lagi yang bisa mendidik mereka jadi demikian lihay?”

Hoa Hujin serdiripun dibuat kebingungan dan tidak habis mengerti, dengan ilmu me-nyampaikan suara ia lantas berbisik, “Siang heng.! sebenarnya manusia-manusia itu berasal dari mana?”

“Apakah engkau tahu?”

Siang Tang Lay mengerutkan dahinya, dengan ilmu menyampaikan suara pula dia menjawab, “Sepanjang perjalananku menuju ketimur kali ini meskipun membawa pula sedikit anak buah, tetapi aku tidak mengetahui tentang asal usul dan kelompok manusia-manusia aneh tersebut”

Diam-diam Hoa Hujin merasa terperanjat, setelah termenung sebentar kembali ia bertanya, “Entah putri kesayanganmu mengetahui tentang persoalan ini atau tidak….?”

“Apa?” seru Siang Tang Lay dengan hati terperanjat.

Dalam pada itu, Thong-thian Kaucu yang berada diatas mimbar tiba-tiba berkata lagi sambil tertawa, “Pinto tak akan ambil perduli kalian sebagai manusia atau setan, dan tak mau tahu.siapakah kaucu kalian, pinto hanya ingin mengetahui apa maksud kalian datang kemari? dan apa pula tujuannya?”

“Kami semua banya mendapat perintah untuk datang kemari” jawab Tiam cu istana neraka dengan suara dingin, “dimanakah letak maksud dan tujuannya, lebih baik engkau tanyakan sendiri kepada kaucu kami”

Thong-thian Kaucu benar-benar dibikin gusar oleh sikap lawan yang ketus, ia ingin segera turun tangan untuk membinasakan setan perempuan yang rupanya merupakan pemimpin rombongan tersebut, tetapi menyaksikan jumlah mereka yang mencapai ratusan orang dan kekuatannya nampak mengerikan sekali, segera ia tekan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya. Sambil menuding barak disisi kiri, serunya, “Kalau memang kedatangan kalian adalah sedang melaksanakan perintah maka tunggu sajalah disamping sebelah situ, bilamana kaucu kalian sudah munculkan diri, undanglah dia untuk berbicara dengan pinto”

Tiam cu istana neraka tidak banyak bicara lagi, dia segera ulapkan tangannya dan bergerak menuju kebarak lebih dahulu, kawanan setan lainnya segera mengikuti dari belakang.

Dalam sekejap mata kelompok makhluk setan tersebut sudah masuk kedalam barak semua dan menempati ruang kosong antara barak yang ditempati kawanan pendekar dari kalangan lurus pihak perkumpulan Hong-im-hwie….

Siang Tang Lay tidak ambil perduli terhadap gerak-gerik kawanan makhluk setan lagi diam-diam tanyanya kepada Hoa Hujin dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti, “Hujin, barusan engkau mengatakan putri kesayanganku, jangan-jangan kau artikan aku masih mempunyai seorang putri?”

“Giok Teng Hujin yang berada diseberang sana apakah bukan putri kesayangan Siang heng?” tanya Hoa Hujin dengan dahi berkerut.

“Siapa?” seru Siang Tang Lay lagi sambil menahan rasa kejutnya.

Hoa Hujin segera menuding ke arah Giok Teng Hujin yang berada dibarak seberang, sahutnya, “Nona itu mengaku dirinya bernama Siang Hoa dan ia mengakui sebagai putri kesayangan Siang heng!” Aneh….! suatu kejadian yang sangat aneh seru Siang Tang Lay sambil gelengkan Kepalanya berulang kali, sepanjang hidup aku tak pernah kawin dan tak pernah pula mendekati kaum wanita darimana bisa muncul seorang nona yang mengakui sebagai putriku? benar-benar kejadian yang lucu dan bikin orang tidak habis mengerti….

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua jago merasa terperanjat, mula-mula dalam perkiraan para jago pastilah Siang Tang Lay yang menyuruh putrinya untuk menyusup kedalam tubuh Thong-thian-kauw sehingga dikemudian hari gerakannya itu banyak membantu usaha pembalasan dendamnya.

Siapa tahu kenyataan yang terpapar didepan mata menunjukkan lain, Siang Tang Lay tidak berputri dan ucapan Giok Teng Hujin tidak lebih hanya uniuk membohongi Hoa Thian-hong belaka.

Hoa Hujin makin berpikir semakin curiga, maka ia segera memaparkan kisah hubungan antara Hoa Thian-hong dengan Giok Teng Hujin kepada diri Siang Tang Lay.

Sehabis mendengar keputusan tersebut, Pedang sakti yang menyapu daratan Tionggoan ini segera tertawa dan berkata, “Oooh….! kiranya begitu, bukan saja aku tidak berputri bahkan pedang emaspun hanya ada sebatang, tidak seperti apa yang dikatakan terdiri dari pedang jantan dan pedang betina, rupanya perempuan tersebut hanya berbohong untuk menggirangkan hati putramu belaka, perkataannya sama sekali tak boleh dipercaya”

Hoa Hujinpun segera tertawa. “Persoalan ini sih tidak penting, katanya, “cuma saja dengan adanya peristiwa tersebut maka jejak dari pedang emas itu jadi le bih sulit untuk ditemukan”

Tiba-tiba terdengar Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san berseru sambil menuding kedepan.

“Saudara sekalian coba lihatlah kedepan, rupanya ketiga orang pentolan bajingan itu saling merundingkan sesuatu.”

Semua orang segera berpaling ke arah ten ah gelanggang, tampaklah para imam dari Thong-thian-kauw ada yang berbisik-bisik dengan pihak Sin-kie-pang, sedang anak buah Sin-kie-pang ada yang berbisik-bisik kepada anggota Thong- thian-kauw, sedangkan pada barak dekat mulut lembah sana, pihak perkumpulan Sin-kie-pang dengan Hong-im-hwie pun saling bertukar kurir untuk menyampaikan berita.

Tio Sam-koh segera mendengus dingin, ujarnya dengan suara berat.

“Saudara-saudara sekalian harap waspada dan perhatikan baik-baik, jika pertarungan massal terjidi maka kita semua harus ber-sama-sama menyerang pihak perkumpulan Sin-kie- pang bunuh dahulu Pek Siau-thian dan Bu liang loojin kemuiian baru bergerak menuju kepi hak Hong-im-hwie….”

“Tidak, tukas Hoa Hujin dengan cepat,” kita harus bergerak menuju barak Thong-thian-kauw lebih dahulu dan berusaha untuk melenyapkan Hian Leng-cinjin. Pia Long cia jin, Cin Leng-cinjin serta imam-imam tua dari angkatan Thian!”

Mendengar ucapan tersebut, Tio Sam-koh jadi tercengang, serunya, “Yan-san It-koay, Liong ban siangsat, nenek buta semuanya merupakan pembunuh dari Hoa Goan-siu, mengapa keempat orang itu tidak berusaha untuk dilenyapkan lebih dahulu?”

“Tiga bibit bencana dari dunia persilatan semuanya merugikan bagi umat persilatan di kolong langit, tetapi kalau berbicara tentang mencelakai rakyat kecil maka hanya pihak Sin-kie-pang serta Thong-thian-kauw saja yang sering melakukan perbuatan terkutuk itu, seandainya kedua perkumpulan ini bisa dibasmi, maka kendatipun kita semua harus mati dan dendam sakit hati Goan Siu tidak terbalaspun, kematian kita tak perlu disesalkan….”

“Hujin benar-benar seorang yang bijaksana, aku merasa sangat kagum….” Puji Siang Tang Lay dengan sikap menghormat.

Sesudah berhenti sebentar, cahaya berkilat memancar keluar dari wajahnya, ia melanjutkan, “Begini saja, biarlah aku yang bertempur pada babak pertama, seandainya arwah Hoa tayhiap melindungi kita, siapa tahu kalau aku dapat membinasakan beberapa orang bajingan tua lebih dahulu sehingga bibit bencana bagi umat persilatan dapat dilenyapkan”

Berbicara sampai disitu, ia segera memerintahkan anak muridnya untuk menghantar dirinya menuju keluar barak.

Empat orang pemuda berpakaian ringkas itu segera mendorong kursi beroda tersebut dan menghantar Siang Tang Lay menuju ke bawah mimbar, mukanya menghadap kemulut selat dan empat orang pemuda tadi mundur kebelakang berdiri berdampingan dibelakang kursi.

Sambil meogempos hawa murninya, Siang Tang Lay segera berseru lantang, “Pedang emas milikku sebenarnya telah terjatuh ketangan siapa? harap orang yang merasa membawa pedangku itu maju kedepan dan menjawab pertanyaanku!”

“Siang looji” seru Jin Hian dengan suara dingin dan ketus, “engkau cumi bisa mengigau belaka disiang hari bolong, membuat aku jadi muak dan bosan!”

Siang Tang Lay tidak ambil gubris, ditunggunya beberapa saat lamanya disitu, tatkala tidak nampak seorang manusiapun yang mun culkan diri, maka ia berseru, “Kalau ada orang yang pernah melihat pesan terakhir dari Malaikat pedang Gi Ko, harap segera tampil kedepan.”

Thong-thian Kaucu yang duduk didalam barak segera tertawa dan menjawab, “Siapapun tahu kalau kuburan pemendam pedang dari malaikat pedang Giok berada diatas puncak Ciat im hong, dan pedang mustikanya sejak ratusan tabun berselang telah di ambil orang, dalam kuburan kosong sama masih ada pesan terakhirnya lagi?”

Siang Tang Lay tertawa, sekali lagi ia berseru dengan suara lantang, “Barang siapa yang pernah membaca pesan akhir yang tercatat dalam kuburan pemendam pedang harap segera tampil kedepan, kalau sampai menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik ini, maka menyesal kemudian tak ada gunanya….”

0000O0000

51

Tiba-tiba dari luar selat berkumandangdatang suara bentakan seseorang dengan suara yang amat nyaring, “Siapa yang membicarakan pesan terakhir dari Gi Ko? serahkan nyawamu kepadaku….!” Mendengar seruan itu, Siang Tang Lay nampak tertegun kemudian sorot matanya di alihkan ke arah mulut selat.

Tampaklah seorang pemuda berbadan kekar sambil mencekal pedang baja dengan langkah sempoyongan bergerak masuk kedalam lembah.

“Hoa Thian-hong….!!”

Jeritan kaget berkumandang memecahkan kesunyian, semua orang didalam barak kiri dan kanan hampir serentak pada bangkit berdiri.

Ci-wi Siancu jadi girang bercampur kaget, segera teriaknya, “Pek Siau-thian sialan, siapa bilang kalau siau long sudah mati!”

Ia larik tangan Chin Wan-hong dan segera maju menyongsong kedatangannya.

“Keras tapi lincah!” bentak Hoa Thian-hong dengan suara keras.

Pedang bajanya berputar dan langsung membabat ke arah batok kepala kedua orang gadis tersebut.

Serangan pedangnya itu cepat bagaikan sambaran kilat, namun sama sekali tidak disertai desiran angin tajam, dalam sekali ayunan cahaya hitam tahu-tahu sudah tiba diatas batok kepala Ci-wi Siancu.

“Aah….! Ci-wi Siancu berteriak kaget dengan hati terkesiap, dalam gugupnya dengan cepat ia angkat sepasang lengannya untuk melindungi batok kepalanya. Mimpipun gadis itu tak pernah menyang kakalau Hoa Thian-hong bakal mencabut jiwanya, lagipula serangan pedangnya itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, kendatipun seseorang telah mengadakan persiapan pun susah untuk melepaskan diri dari ancaman tersebut.

Untung Hoa Hujin sudah merasakan ketidak beresan yang menimpa putranya hingga dia ikut maju kedepan, pada saat yang kritis, dengan cepat Ci-wi Siancu ditarik kebelakang hingga lolos dari ancaman pedang maut tersebut.

Ci-wi Siancu merasa malu bercampur gusar, dengan uring- uringan bentaknya keras-keras, “Siau Long! kau inngin mampus?”

Tampaklah pakaian yang dikenakan Hoa Thian-hong compang camping tak karuan, badannya berlumuran darah dan rambutnya awut-awutan tidak karuan dengan wajah yang mengenaskan ia berdiri tertegun.

Sepasang matanya liar sekali dan jauh berbeda dengan keadaan semula, setelah melotot sekejap ke arah Hoa Hujin ia segera putar badan menuju ke arah Siang Tang Lay.

Ci-wi Siancu yang menyaksikan kejadian itu jadi tertegun, segera teriaknya, “Hujin, kenapa siau long sama sekali tidak kenali dirimu juga?”

“Kalian berdua kembalilah lebih dahulu kedalam barak, aku dapat menyelesaikan persoalan ini!”

Ci-wi Siancu segera mengiakan dan sambil menarik tangan Chin Wan-hong buru-buru mengundurkan diri dari gelanggang sedangkan Hoa Hujin sendiri dengan sorot mata yang tajam mengawasi gerak-gerik Hoa Thian-hong tanpa berkedip, ia kuatir kalau si anak muda itu melukai Siang Tang Lay.

Dengan langkah sempoyongan bagaikan orang mabuk, Hoa Thian-hong berjalan menuju kehadapan Siang Tang Lay, sambil menuding dengan pedang bajanya, ia membentak, “Engkaukah yang sedang membicarakan soal pesan yang tertinggal dalam kuburan pemendam pedang?”

Dengan pandangan tajam Siang Tang Lay mengawasi sekejap wajah si anak muda itu, kemudian sambil gelengkan kepala dan tersenyum, jawabnya, “Aku tidak mempunyai keberanian sebesar itu, Thong-thian Kaucu yang mengatakan akan hal itu”

Sinar mata Hoa Thian-hong segera berkeliaran memandang empat penjuru, teriaknya dengan gusar, “Thong-thian Kaucu , ayoh gelinding keluar untuk menemui aku!”

Thong-thian Kaucu yang menjumpai peristiwa itu, diam- diam berpikir didalam hatinya, “Kenapa peristiwa aneh terjadi berulang kali pada hari ini? aai…. suatu alamat yang kurang baik”

Perlahan-lahan ia turun dari mimbar dan menjawab sambil tertawa, “Aku berada disini, ada urusan apa engkau mercari aku?”

Hoa Thian-hong mengamati sekejap imam tua tersebut, kemudian bentaknya lagi, “Engkau adalah Thong-thian Kaucu

? bagaimana dengan pesan terakhir dalam kuburan pemendam pedang? bagaimana dengan malaikat pedang, Gi Ko?”

“Haah…. haahh…. haahh…. aku belum pernah melihat pesan terakhir dalam kuburan pemendam pedang….” “Tolol!” bentak Hoa Thian-hong dengan penuh kegusaran.

Pergelangan berputar, lalu pedangnya secara tiba-tiba melancarkan sebuah sapuan kedepan

Thong-thian Kaucu jadi amat terperanjat, buru-buru ia loncat mundur sejauh delapan depa kebelakang.

Ciu It-bong yang berada diatas atap barak segera tertawa tergelak sesudah menyaksikan kejadian itu, serunya, “Haaah…. Haaah…. Haaah…. Hoa Thian-hong, engkau benar- benar gagah sekali!”

“Siapa engkau?” seru Hoa Thian-hong sambil menengadah keatas.

“Haaah…. Haaah…. Haaah aku adalah Ciu It-bong, sahabat karibmu! Pek Siau-thian bajingan tua itu benar-benar pandai mengibul dan omong besar, katanya engkau telah dibunuh olehnya sehingga membuat aku yang mendengar kabar ini jadi sedih sekali, hampir saja aku menggorok leher sendiri.”

Hoa Thian-hong anggukkan kepalanya tanda mengerti, tiba-tiba ia berpaling dan membentak keras.

“Pek Siau-thian! enyah keluar dari tempat persembunyianmu….”

Wajahnya menghadap ke arah barak yang dihuni para pendekar dari kalangan lurus, hal ini membuktikan bahwa kesadaran otaknya sudah kacau hingga sama sekali tidak mengenali kembali siapakah yang bernama Pek Siau-thian itu.

Kok See-piauw yang menyaksikan kejadian tersebut, dengan alis mata berkenyit segera berkata, “Paman Pek, boanpwee ingin maju untuk beradu kekuatan dengan bajingan itu sekalian balaskan dendam kematian adik Kun Gie!”

Terdengar Bu Liang Sinkun mendeogus berat hawa gusar berkobar dalam dadanya dan nampak jelas tertera didepan mata.

Pek Siau-thian tertawa seram, jawabnya, “Bocah keparat itu sudah memperoleh penemuan aneh ilmu silatnya sudah mencapai tingkat yang tinggi, sehingga akupun belum tentu bisa menangkan dirinya aku rasa hian tit lebih bukan tandingannya.”

Selesai berkata perlahan-lahan ia bangkit berdiri.

Bun Siau-ih adalah perempuaa yang licik dan sukar diduga hatinya kata Bu Liang Sinkun secara tiba-tiba. Aku akan menjaga disamping arena untuk mencegah sergapan secara tiba-tiba darinya.

Selama ini Pek Siau-thian tak berani maju lantaran persoalan ini, ketika mendengar kakek tua itu bersedia untuk membayangi dirinya dari samping gelanggang, ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang ini segera menjura mengucapkan terima kasih dan segera ke luar dari barak.

Hoa Thian-hong melototkan sepasang matanya bulat-bulat, sambil mengawasi dua orang yang sedang mendekati ke arahnya itu, bentaknya, “Pek Siau-thian!”

“Hmmm! coba bocah cilik, engkau benar-benar sudah gila atau sedang pura-pura gila? tegur Pek Siau-thian dengan suara dingin. Agaknya Hoa Thian-hong tak mengerti dengan perkataan tersebut, biji matanya berputar liar sedang mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Cu It Bong yang ada diatas atap barak segera berteriak, “Hoa Thian-hong, Pek looji sedang memaki diri mu.

“Pek loo ji yang mana?” tanya Hoa Thian-hong sambil menengadah keatas atap.

“Pek Siau-thian!”

Hoa Thian-hong jadi amat gusar tubuhnya menerjang maju kedepan dan pedangnya segera melancarkan sebuah babatan.

Serangan pedang itu dilancarkan dengan gencar dan dahsyat sekali, dalam kejut dan gusarnya buru-buru Pek Siau- thian loncat mun dur sejauh lima depa kebelakang.

“Bagus!” bentak Hoa Thian-hong, “keras tapi lincah!” Kembali ia lancarkan satu tusukan dahsyat.

Melihat kelihayan musuhnya, Pek Siau-thian amat terperanjat, diam-diam pikirnya, “Sungguh tak nyana bocah keparat ini berlatih rangkaian ilmu pedangnya yang keras dan kasar menjadi begitu enteng tak bersuara dan kecepatannya melebihi sambaran petir, untung otaknya sudah agak sinting, kalau masih segar bugar niscaya aku sudah bukan tandinganya lagi….!”

Berpikir sampai disitu, tangan kanannya segera berputar kencang melancarkan serangan balasan, sebentar menghantam sebentar membabat, sebentar lagi menusuk dan sebentar lagi menyodok, seluruh kepandaian silat yang dimilikinya dikerahkan keluar untuk melawan serangan- serangan dari pedang baja lawan, sementara tangan kirinya bagaikan hembusan angin puyuh memainkan jurus ampuh dari ilmu pukulan Ceng hoan sian hong toan hun ciangnya untuk meneter lawan.

Pertempuran sengit yang berlansung pada saat ini segera memikat hati setiap perhatian orang, kelihayan ilmu silat yang dimiliki kedua orang ini jauh diluar dugaan setiap orang, membuat Bu Liang Sinkun yang disebut sebagai manusia paling ampuh di kolong langit dewasa inipun mengerutkan dahinya, semangat ambisinya tanpa terasa ikut lenyap beberapa bagian.

Tiba-tiba terdengar Hoa Thian-hong membentak keras. “Peraturan menurut langit, kerugian pasti tersisa, tenaga

masih kurang, kekerasan bukanlah kekasaran, keras tapi lincah, lunak bukanlah lemah….”

Setiap kali mengucapkan sepatah kata pedang yang berada dalam genggamannya segera melancarkan satu serangan maut yang memaksa Pek Siau-thian mau tak mau harus terdesak mundur satu langkah lebar kebelakang, ketika pemuuda itu mengutarakan kata yang terakhir, secara beruntun enam buah serangan maut tersebut berhasil memaksa Pek Siau-thian untuk mundur sejauh satu dua tombak lebih dari tempat semula.

Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang mengejutkan hati setiap orang, ketua perkumpulan Sin-kie- pang yang tersohor akan kelihayannya ternyata didesak dibawah angin dan bahkan menderita kekalahan secara mengenaskan sekali.

Hoa Hujin, Bu Liang Sinkun maupun Thong-thian Kaucu ikut bergerak berbarengan dengan menggesernya tubuh kedua orang itu. Siang Tang Lay pun memerintahkan anak muridnya untuk mendorong kursi rodanya mengikuti bergesernya arena pertarungan yang sedang berlangsung.

Semua jago dalam barak dikedua belah pihak pada bangkit berdiri dan keluar dari barak masing-masing, Cukat racun Yau Sut dengan memimpin ketiga orang tongcunya dan seluruh pelindung hukum dibawah panji kuning ikut terjun kedalam gelanggang dan membuat posisi setengah lingkaran.

Melihat posisi yang dilakukan pihak lawan, para pendekar dan golongan lurus segera terjun pula kedalam gelanggang membentuk posisi pada separuh lingkaran yang lain.

Situasi dalam gelanggang berubah jadi sangat tegang, setiap saat pertarungan massal bakal terjadi.

Beberapa kali Bu Liang ingin turun tangan untuk mengerubuti pemuda tersebut, tetapi menyaksikan Hoa Hujin mengawasi terus gerak-geriknya dengan tajam membuat jago tua ini tak berari bergerak secara sembarangan.

Cukat racun Yau Sut pun ikut bergerak mengikuti bergesernya gelanggang pertarungan, tetapi berhubung pihak Thong-thian Kaucu seria Hong-im-hwie masih tetap bersikap tenang belaka, ia tak berani bertindak secara gegabah.

Pertarungan sengit berlangsung entah beberapa lamanya, tiba-tiba terdengar Hoa Thian-hong membentak keras, “Rendah diri harus mundur, mundur akibat rendah diri sendiri….!”

Setelah melancarkan sebuah tusukan, tiba-tiba ia lancarkan pula sebuah tusukan yang lain. Dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, Pek Siau-thian hanya mampu menahan tujuh buah serangan pedang yang pertama, terhadap datangnya ancaman pedang yang terakhir ini, ia merasa tobat dan benar- benar tak mampu untuk mempertahankan diri lagi, dalam keadaan terdesak terpaksa ia jatuhkan diri keatas tanah dan berguling ke arah samping.

Menyaksikan keadaan ketuanya yang begitu mengenaskan, para anggora perkumpulan Sin-kie-pang jadi amat terperanjat untuk meng-hindari serangan Hoa Thian-hong lebih jauh, mereka segera membentak dengan suara yang keras bagaikan guntur.

Tenaga dalam yang dimiliki orang itu lihay sekali, bentakan yang dilakukan secara serentak oleh ratusan orang angagota perkumpulan Sin-kie-pang itu boleh dibilang benar-benar luar biasa sekali.

Hoa Thian-hong nampak terperanjat dan segera berdiri tertegun ditempat semula, seranganpun tidak dilancarkan Kembali.

Perlahan-lahan Pek Siau-thian bangkit berdiri lalu menghembuskan nafas panjang, tiba-tiba dari sorot matanya memancar cahaya yang sangat tajam, ia berbisik, “Semua yang rahasia harus dijaga ketat, pedang baja asli bocorkan rahasia langit”

“Apa?” bentak Hoa Thian-hong sambil loncat mundur kebelakang.

“Hmmm! tak ada kedua kalinya lagi, pikirkan sendiri apa yang kukatakan barusan!” sahut Pek Siau-thian dengan dingin. Telapaknya segera diputar melancarkan satu serangan, sedang tubuhnya dengan dahsyat menerjang kedepan.

Ulangi sekali lagi! hardik Hoa Thian-hong.

Agaknya kegusaran pemuda ini sudah mencapai pada puncaknya, pedang baja berputar, dengan jurus Thian hoo san atau bintang menyebar dilangit terbuka, ia kirim sebuah tusukan kilat, cahaya hitam yang menyilaukan mata menyebar keseluruh udara.

Suatu serangan yang sangat bagus! “teriak Ciu It-bong dari atap barak.

Hawa gusar yang bergolak dalam dada Pek Siau-thian

betul-betul sudah memuncak, sambil menggertak gigi serunya, “Ini hari kalau aku tak dapat membinasakan dirimu, aku bersumpah tak akan hidup sebagai manusia!”

Sepasang telapaknya bekerja bersama, dalam waktu singkat ia lancarkan belasan jurus serangan berantai, memaksa Hoa Thian-hong harus berputar secara kacau.

Hoa Hujin dan Bu Liang Sinkun sekalipun segera ikut bergerak mengikuti perubahan tersebut.

Dalam pertempuran yang sedang berlangsung pada saat ini, kedua belah pihak sama sama mengandung niat untuk membunuh pihak lawannya, masing-masing pihak berusaha sedapat mungkin dan tidak mengindahkan pertaruhan apapun.

Menurut keinginan masing-masing pihak, mereka ingin turun tangan serentak dan membunuh lawannya dalan waktu singkat, tetapi sebelum yakin dapat menangkan pertarungan tersebut, semua pihak tidak ingin bergerak secara gegabah, karena itulah untuk sementara waktu semua pihak tak berani bertindak secara ngawur.

Hoa Thian-hong sendiri yang pikirannya tidak beres, dalam waktu singkat terdesak di bawah angin, belum lama pertarungan berlangsung beberapa kali ia sudah menemui ancaman bahaya….

Para pendekar dari kalangan lurus yang menyaksikan kejadian itu secara bersiap siaga untuk memberi pertolongan setiap saat, sedangkan anak buah dari perkumpulan Sin-kie- pang pun semakin mendesak kedepan semakin dekat, mereka siap sedia melakukan penyerangan secara serentak.

Selama terjadinya pertarungan itu, pihak Thong-thian-kauw dan Hong-im-hwie tetap berpeluk tangan belaka, sementara makhluk-makhluk aneh yang asal usulnya tidak jelas itupun tetap betdiam diri belaka.

Tiba-tiba terdengar Hoa Thian-hong membentak keras, “Ulangi sekali lagi!”

Pek Siau-thian mendengus dingin, tubuhnya berputar secepat kilat, dalam waktu singkat ia sudah kurung tubuh pemuda itu dalam lingkaran angin pukulan Ceng hoan sian hong toan hun ciangnya.

Li-hoa Siancu yang menyaksikan gelagat tidak menguntungkan, buru-buru berseru dengan suara lantang, “Semua yang rahasia harus dijaga ketat, pedang baja asli bocorkan rahasia langit”

“Tidak benar!” teriak Hoa Thian-hong dengan penuh kegusaran, “ulangi sekali lagi!” Diam-diam Hoa Hujin merasa amat terperanjat, pikirnya, “Hong ji sudah berada dalam keadaan setengah gila, entah bencana atau rejeki yang diterima olehnya….!”

Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, tiba-tiba ia saksikan Pek Siau-thian melancarkan pukulan secara berantai, membuat ilmu pedang dari Hoa Thian-hong kacau balau, ia jadi terkejut dan buru-buru menggerakkan tubuhnya siap menerjang ke depan.

“Bun Siau-ih!” bentak Bu Liang Sinkun dengan cepat.

Badannya memotong tengah jalan, sebuah pukulan dahysat dilepaskan ke arah depan.

Sejak permulaan Hoa Hujin telah menduga sampai disitu, diam-diam pikirnya, “Biarpun hidupku sekarang lebih singkat sepuluh tahun, ini hari aku harus membereskan dahulu jiwa orang ini!”

Berpikir demikian, ia tidak memperdulikan keselamatan putranya lagi, tiba-tiba dengan gerakan yang dahsyat bagaikan geledek tubuh nya berhenti ditengah jalan dan sepasang kakinya memantek diatas tanah, sebuah pukulan yang maha dahsyat langsung dilepaskan ke arah depan.

Disinilah kelicikan dan kelihayan dari Pek Siau-thian, peristiwa Hoa Hujin melukai nenek bermata buta ketika sedang berlatih ilmu dalam gua kuno bukannya tidak diketahui olehnya, namun peristiwa tersebut sama sekali tidak disampaikan kepada Bu Liang Sinkun.

Menanti gembong iblis tersebut secara tiba-tiba menyaksikan diatas telapak tangan Hoa Hujin tersembur keluar cahaya hitam yang menyilaukan mata, ia baru terperanjat, untuk menghindarkan diri pada saat itu sudah tak sempat lagi.

“Blaaam! sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya menimbulkan benturan dahsyat yang sangat memekikkan telinga, Hoa Hujin masih tetap berdiri ditempat semula, hawa hitam yang berada diantara alis matanya nampak berkelebat lewat dan menunjukkan rasa kesakitan, tapi sejenak ke mudian telah lenyap tak berbekas.

Sebaliknya Bu Liang Sinkun menjerit ngeri, tubuhnya mundur kebelakang dengan sempoyongan, darah hitam memancar keluar dari mulutnya dan dalam waktu singkat hawa hitam sudah menyelimuti seluruh wajahnya, keadaan jago tua itu nampak kritis sekali.

Meskipun ilmu pukulan Kiu pit sinciang amat lihay, tapi kalau dibandingkan dengan pukulan maut dari Hoa Hujin masih terpaut jauh sekali.

Dalam pada itu, pada saat yang bersamaan Pek Siau-thian telah berhasil memaksa Hoa Thian-hong untuk membuka pertahanan tubuhnya, kemudian diiringi gelak tertawa seram, kepalanya langsung menghantam ke arah dada lawan.

Bentakan keras bergeletar memecahkan kesunyian, Ciu Thian-hau dari gunung Huang-san serta jago pedang bernyawa rangkap sembilan Suma Tiang-cing bersama-sama menerjang kedepan, sedangkan Cukat racun Yau Sut berserta para jagonya ikut menerjang pula kemuka. 

Gerakan tubuh Ciu Thian-hau cepat bagaikan kilat dan tak ada orang yang melampaui dirinya, sekali enjot ia sudah rentangkan tangannya melancarkan satu pukulan ke arah Pek Siau-thian. Merasakan datangnya ancaman tersebut, Pek Siau-thian merasa amat terperanjat, segera pikirnya, “Entah siapakah setan jelek ini?”

Sebuah tendangan dilancarkan mendepak tubuh Hoa Thian-hong dari hadapannya, jurus serangan dirubah dan ia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

“Blaaamm….!” ditengah benturan keras, tubuh kedua orang jago itu sama-sama tergetar mundur kebelakang ketika saling berpandangan diatas wajah masing-masing pihak terlintas ra- sa kaget dan tertegun.

Mendadak terdengar Siang Tang Lay berseru dengan suara nyaring, “Harap saudara semua berhenti bertempur, dengarkan dahulu perka taanku….!”

Pek Siau-thian ulapkan tangannya dan berseru, “Semua anggota perkumpulan Sin-kie-pang mundur!”

Mendapat perintah dari ketuanya, Cukat racun Yau Sut serta para jago lainnya segera mengundurkan diri dari kalangan.

Semua kejadian itu berlangsung secara berurutan dan memakan waktu yang amat singkat, tubuh Bu Liang Sinkun yang terlukapun belum sampai roboh keatas tanah.

Kok See-piauw menjerit kaget, ia segera lari maju kedepan dan berteriak, Bu Liang Sinkun membuka sedikit kelopak matanya dan menjawab dengan nada sedih.

“Aku sudah tak kuat lagi….” Setelah berbenti beberapa saat dengan amat lemah sambungnya lebih jauh, “Cepatlah pergi dari sini, orang lain berhati licik dan tidak menguntungkan bagi kita…. pergilah….”

Belum habis kata-katanya, hawa hitam yang menyelimuti wajahnya semakin tebal, akhirnya tubuh orang itu berkelejit dan tak berkutik lagi.

“Suhu….!” jerit Kok See-piauw.

Ia segera membopong tubuh Bu Liang Sinkun keatas pundaknya kemudian setelah melotot sekejap ke arah Hoa Hujin dengan sinar kebencian, pemuda itu putar badan dan kabur dari situ

Suasana yang kalut dan kacau perlahan-lahan berubah jadi tenang kembali, beberapa patah kata yaog diucapkan Bu Liang Sinkun sebelum ajalnya telah menimbulkan kewaspadaan dihati masinh-masing pihak.

Terdengar Siang Tang Lay dengan suara dingin berseru, “Pek Siau-thian, benarkah engkau hendak langsungkan pertarungan masal dengan pihak kami?”

Pek Siau-thian memutar biji matanya dan melirik sekejap ke arah Thong-thian Kaucu , kemudian pikirnya, “Menurut rencana yang telah disepakati, mereka akan menyerbu masuk kedalam gelanggang bersamaan waktunya, tapi dalam kenyataan kedua orang tua bangka tersebut masih tetap berpeluk tangan belaka…. Hmn! apa dianggapnya aku adalah seorang manusia bodoh?”

Berpikir sampai disini ia segera ulapkan tangannya dan berlalu dari gelanggang. Dalam waktu singkat semua jago dari perkumpulan Sin-kie- pang telah mengundurkan diri kedalam baraknya, sorot mata para pendekar dari golongan luruspun segera dialihkan ke arah Thian Ik-cu.

Teng Thian Kaucu yang ditatap seperti itu, dalam hati kecilnya merasa terkesiap, kemudian sambil tertawa terbahak- bahak ia meloncat mundur tiga tombak kebelakang.

Setelah imam tua itu mengundurkan diri, perlahan-lahan Hoa Hujin tundukkan kepalanya melirik sekejap ke arah telapak sendiri, ia melihat hawa hitam yang tertanam dalam telapaknya telah tawar beberapa bagian, tanpa terasa lagi perempuan itu menghela napas panjang dan berpikir, “Kalau dilihat keadaan ini rupanya setelah melancarkan dua kali pukulan lagi maka keadaanku akan menyerupai lampu lentera yang kenabisan minyak….”

Tiba-tiba terdengar Siang Tang Lay berseru, “Kaucu tolong tanya pertemuan besar Kian ciau tayhwee yang kau selenggarakan ini akan dilangsungkan berapa hari?”

“Akan kuselenggarakan selama tujuh hari tujuh malam,” jawab Thong-thian Kaucu sambil tertawa nyaring.

Siang Tang Lay menengadah memandang cuaca di angkasa lalu berkata lagi, “Sekarang sudah jam sebelas siang satu hari satu malam telah lewat!”

Ternyata sang surya tak dapat memancarkan cahayanya kedalam lembah tersebut, meskipun udara cerah dan siang hari sudah menjelang tetapi suasana dalam lembah itu masih tetap samar.

Thong-thian Kaucu tertawa katanya, “Siang sicu, engkau tanya-tanya waktu ada apa sih?” Kami semua yang datang kemari adalah tamu, kalau memang upacara Kian ciau tayhwee akan diselenggarakan selama tujuh hari lamanya, bagaimanapun kaucu sudah sepantasnya kalau sediakan makanan dan mi numan buat kami, masa engkau akan suruh kami semua mati kelaparan disini?”

“Haah…. haah…. haah…. sayur berantakan, arak sih sudah kami persiapkan, tapi aku takut para orang gagah sama-sama menaruh curi ga karena itu tak berani kupersembahkan ke luar”

Siang Tang Lay tersenyum.

“Kaucu adalah seorang pemimpin suatu perkumpulan besar, masa engkau begitu rendah de-rajatnya hingga meracuni sayur dan arak? lagi pemberian itu toh dari pihak panitia, aku rasa tak pantas kalau engkau tidak menyediakan sayur dan arak buat tetamunya….”

“Perkataan Siang sicu memang tepat sekali!” habis berkata sambil tertawa imam tua itu segera mengundurkan diri.

Sepeninggal Thong-thian Kaucu , Siang Tang Lay segera berpaling ke arah Hoa hujjn dan berkata sambil tertawa, “Serangan yang hujin lancarkan sungguh dahsyat membuat aku merasa kagum sekali!

Hoa Hujin tertawa getir.

“Siang heng adalah seorang maha guru, dalam hal ilmu silat aku rasa persoalan yang berhubungan dengan aku Bun si tak akan lolos dari ketajaman mata Siang heng bukan?” Siang Tang Lay tersenyum, diantara kerutan dahinya terlintas rasa sedih yang tebal, katanya, “Hujin dan para tayhiap sekalian harap segera mengundurkan diri kedalam barak, aku disini masih ada sedikit persoalan hendak diselesaikan lebih dahulu”

Hoa Hujin melirik sekejap ke arah putranya kemudian berjalan balik lebih dahulu kedalam barak.

Chin Wan-hong yang menyaksikan sikap Hoa Thian-hong kaku dan termangu-mangu tanpa berkutik barang sedikitpun jua, diam-diam segera menarik ujung baju Tio Sam-koh sambil berbisik, “Popo coba lihatlah keadaannya….”

Tio Sam-koh sambil membawa toyanya segera melangkah maju dengan tindakan lebar, teriaknya, “Seng ji, masih kenal dengan diriku?”

“Ulangi sekali lagi!” bentak Hoa Thian-hong dengan gusar.

Tiba-tiba pedangnya berputar dan melancarkan sebuah bacokan searah tubuh nenek tua itu.

Tio Sam-koh segera putar menangkis datangnya babatan pedang tadi, bentaknya, “Binatang, rupanya engkau memang sudah sinting!”

Terdengar suara bentrokan Hoa Thian-hong tahu-tahu telah berhasil memapas kuntung toya baja dari Tio Sam-koh.

Menyaksikan senjatanya kutung, Tio Sam-koh nampak tertegun lalu makinya dengan marah-marah, “Binatang cilik, rupanya engkau ingin mampus?”

Nenek tua ini ingin sekali maju kedepan untuk memberi gaplokan nyaring keatas pipinya, tetapi karena kuatir tersambar pedang bajanya, untuk beberapa saat lamanya ia malahan berdiri menjublek.

Siang Tang Lay tersenyum.

“Tio loo thay tak usah gusar, aku punya akal untuk menyelesaikan persoalan ini”

Kalau memang ada akal, cepatlah sadarkan bocah keparat ini, aku harus baik-baik memberi pelajaran kepadanya” seru Tio Sam-koh dengan sepasang alis berkernyit.

“Sam-koh, Hong ji, kembalilah kemari, jangan mengganggu lagi!” terdengar Hoa Hujin berteriak dan dalam barak.

Dengan gemas Tio Sam-koh melotot sekejap ke arah Hoa Thian-hong, sedang Chin Wan-hong memungut kutungan toya dari atas tanah dan bersama-sama kembali kedalam barak.

Sepeninggalnya kedua orang itu, Siang Tang Lay diam- diam berpikir dalam hatinya, “Nyonya ini tidak malu disebut sebagai seorang pemimpin yang luar biasa, cukup ditinjau dari kejadian ini sudah terlihat jelas betapa besar jiwanya!”

Berpikir demikian, ia lantas membisik didalam telinga Hoa Thian-hong dengan ilmu menyampaikan suara, “Berjaga ketat, sikap waspada dan rahasia pedang mengusir setan, bocorkan rahasia langit!”

Mendengar bisikan itu, Hoa Thian-hong merasakan sekujur badannya gemetar keras, ia segera berpaling dan menatap tajam wajah Siang Tang Lay.

Melihat sikap pemuda itu, kembali Siang Tang Lay berpikir. “Rupanya pemusatan pikiran yang keliru mengakibatkan bocah ini mengalami keadaan jalan api menuju neraka, kesadaran otaknya sama sekali belum punah”

Berpikir demikian, dengan ilmu menyampaikan suara ia segera berkata kembali.

“Tadi Pek Siau-thian telah membohongi dirimu, sekarang aku akan membacakan kembali uraian rahasia pedang yang asli dari depan hingga kebelakang, dengarkanlah baik-baik!”

Setelah berhenti sebentar, ia segera membaca dengan suara amat lirih….

“Peraturan menurut langit, kerugian pasti tersisa, tenaga masih kurang, kekerasan bukanlah kekasaran, keras tapi lincah, lunak bu kanlah lemah, rendah diri harus mundur, mundur akibat rendih diri untuk diri sendiri, berjaga ketat, sikap waspada dan rahasia pedang pengusir setan, bocorkan rahasia langit!”

Hoa Thian-hong membelalakkan sepasang matanya lebar- lebar, sorot mata kaget dan tercengang terlintas diatas wajahnya, bibir bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu na-mun akhirnya niat tersebut dibatalkan.

Dengan ilmu menyampaikan suara, sekali lagi Sang Tang Lay mengulangi rahasia ilmu pedang tersebut, kemudian tanyanya, “Sudah kau dengar jelas perkataanku? kau masih belum ingat, tanyakan kepadaku, kalau sudah hapal sama sekali, anggukkan lah kepalamu!”

Hoa Thian-hong menggetarkan bibirnya mengulangi pembacaan rahasia itu dengan suara lirih, kemudian ia mengangguk. Tiba-tiba terdengar Ciu It-bong yang berada diatap barak berteriak.

“Hoa Thian-hong, apa yang sedang kalian lakukan?” “Jangan berisik!” bentak Hoa Thian-hong dengan gusar. Siang Tang Lay tertawa, diam-diam bisiknya lagi.

“Bocah baik, tempat ini sudah diliputi badai pembunuhan yang tiada taranya, kemungkinan besar baik buruk, cantik jelek akan binasa bersama-sama, tiada seorangpun yang bisa hidup keluar dari sini, usiamu masih muda dan masa depanmu masih cemerlang, guna kanlah kesempatan baik ini untuk berlalu dari sini, tinggalkan tempat ini sebaik-baiknya….!”

Mendengar bisikan itu, Hoa Thian-hong nampak tertegun, lalu per-lahan-lahan putar badan memandang sekejap ke arah semua orang yang berada didalam lembah tersebut, kebingungan dan kemurungan makin tebal menyelimuti wajahnya.

Siang Tang Lay menghela napas panjang, dengan ilmu menyampaikan suara ujarnya lagi dengan lembut, “Anak baik, tempat ini tak ada yang perlu kau kenang kembali, cepatlah berlalu dari sini!”

Sekali lagi Hoa Thian-hong nampak tertegun dan memandang kembali semua orang yang ada didalam lembah itu, mukanya semakin sangsi seakan-akan masih ada sesuatu hal yang mencurigakan hatinya.

Siang Tang Lay mengerutkan dahinya, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, sambil berpaling ia segera berseru, “Hoa In!” Hoa In segera memburu maju kedepan sambil bertanya, “Siang ya ada urusan apa?”

Dengan ilmu menyampaikan suara Siang Tang Lay berpesan, “Siau Koan-jin kalian agak kurang waras otaknya, tetap berada dalam lembah hanya akan mendapatkan bencana kematian baginya, bawalah keluar dari lembah ini dan pergilah jauh-jauh menanti otaknya telah sadar kembali, kalian baru mengambil keputusan kembali”

Ucapan tersebut sesuai dengan kehendak hati Hoa In tapi sesudah berpikir sebentar ia jadi sedih kembali, dengan ilmu menyampaikan suara serunya, “Perkataan yang diucapkan Siang ya memang tidak salah sayang majikan kami….”

“Aku yang akan bertanggung jawab dihadapan Cu bo mu itu” tukas Siang Tang Lay dengan cepat, “pertemuan besar akan segera berlangsung persoalan ini tak boleh ditunda kembali, cepatlah pergi!”

Hoa In segera berpikir didalam hati kecilnya, “Apabila tiga kekuatan besar dalam dunia persilatan bersatu padu dengan kekuatan kami beberapa puluh orang meskipun dapat membalas dendam rasanya untuk mempertahankan hidup bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, aku Hoa In tidak takut mati, tapi Siau Koan-jin adalah satu-satunya keturunan keluarga Hoa, terlalu sayang kalau diapun jatuh jadi korban.”

Berpikir sampai disini, ia segera ambil keputusan dan tanpa memperdulikan maksud hati Hoa Hujin lagi, ia segera memberi hormat kepada Siang Tang Lay sambil berkata, “Hamba akan mendengarkan perintah dari Siau ya, berada dihadapan Cu bo harap Siau ya suka menasehati dengan beberapa patah kata….” “Aku sudah tahu, kalian pergilah!” kata Siang Tang Lay sambil berseru.

Hoa In tidak ragu-ragu lagi, sambil berpaling ke arah Hoa Thian-hong, teriaknya keras, “Siau Koan-jin ikutlah hamba!”

Dengan langkah lambat ia berjalan munuju kemulut lembah.

Hoa Thian-hong nampak tertegun, sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Siang Tang Lay.

Setelah jago pedang sakti yang menyapu daratan Tionggoan ini memberikan rahasia pedang kepadanya, dalam anggapan si anak muda itu Siang Tang Lay adalah manusia yang patut dipercaya.

Melihat sikap pemuda itu Siang Tang Lay segera tertawa dan berkata dengan ramah.

“Anak baik, ikutilah dia berlalu dari sini, malaikat pedang Gi Ko sedang menantikan kedatanganmu diluar lembah”

Air muka Hoa Thian-hong agak berubah, sambil membawa pedang bajanya dengan langkah lebar ia segera menyusul kedepan.

Cukat racun Yau Sut yang menyaksikan Hoa In dan Hoa Thian-hong keluar dari lembah itu, timbullah rasa curiga dalam hati kecilnya ia segera berbisik, “Pangcu perlukah kita menghadang jalan pergi kedua orang itu?”

“Hmm….” Pek Siau-thian termenung.

Belum sempat ia memberi jawaban terdengar Siang Tang Lay tiba-tiba berseru, “Pek Siau-thian!” Ketua dari perkumpulan Sin-kie-pang itu segera bangkit berdiri serunya dengan nada tak senang.

“Ada urusan apa engkau memanggil diriku?”

“Haah…. haahh…. haahh, diantara kalangan hitam, engkau Pek Siau-thian adalah manusia yang paling gagah, cepatlah kemari, li hatlah aku akan membuat hatimu jadi terperanjat”

“Tua bangka itu sengaja mengulur waktu” bisik Cukat racun Yau Sut dengan suara lirih, “tujuannya tidak lain adalah hendak melindungi bocah keparat itu keluar lembah, Pangcu jangan sampai tertipu oleh siasat licinnya”

Pek Siau-thian mengangguk, sebelum ia sempat memberi keputusan, Hoa Thian-hong telah berjalan keluar dari selat lembah tersebut.