Rahasia Hiolo Kumala Jilid 37 (Tamat)

Jilid 37 (Tamat)

BU JIAN TOOTIANG tertegun.

“Tentu saja keluarga Hoa adalah keluarga yang bijaksana dan mengutamakan ditegakkannya keadilan dan kebenaran, siapapun didunia ini tahu, masa aku tak tahu?”

Tanpa tedeng aling-aling Hoa In-liong mendesak lebih jauh, “Kalau toh kalian sudah menganggap keluarga Hoa bukan mendapat nama dengan menyusup atau mencuri, apakah tootiang tidak merasa bahwa keputusan tootiang untuk mengorbankan jiwa demi memancing kemunculan kembali gurumu adalah suatu perbuatan yang menyinggung perasaan kami? Hendak kau taruh kemana wajah keluarga Hoa kami?”

“Maksud ji-kongcu….”

“Aku hendak mengueapkan sepatah kata yang kurang sedap lagi” tukas Hoa In-liong kembali, “jelek-jelek perguruan kalian sudah mempunyai sejarah selama ratusan tahun, dengan susah payah akhirnya berbentuklah suatu perkumpulan besar apakah kalian berharap perguruan yang dibangun dengan susah payah oleh sucoumu akan runtuh akibat kehilangan banyak kekuatan intinya?”

Bu jian tootiang termenung sebentar, kemudian menjawab dengan wajah serius, “Nasehat ji-kongcu memang benar dan pinto mengakui kesalahan kami ini, kini pinto sekalian berdiam di kuil Sam goan koan di selatan kota, bila kongcu ada urusan penting, berilah kabar kepada kami” Hoa In-liong tahu kalau mereka sudah terlampau lama hidup mengasingkan diri, kehidupan keduniawian membuat mereka tak betah, karenanya ia tidak menahan lebih jauh, rombongan itu dihantar sampai diluar penginapan dengan senyuman dikulum.

Sekembalinya kedalam halaman, ia saksikan Ho Kee sian sedang berdiri bergendong tangan sambil menyaksikan gunung-gunungan serta bebungahan yang rusak oleh pedang Hoa In-liong.

Ketika menjumpai anak muda itu telah kembali, ujarnya dengan dahi berkerut, “Ilmu pedang dari Liong sauya masih belum dapat mengejar kehebatan ji kohya tempo dulu.”

“Ilmu silat ayah memang libay sekali” jawab Hoa-In liong sambil tertawa, “selama hidup aku memang tak sanggup melampaui kehebatannya”

Setelah termenung sejenak, katanya kembali, “Empek Ho, bagaimana kalau kau berdiam disini saja? Ruangan yang kusewa besar sekali, belasan orang menginap disinipun tak akan menjadi soal” Ho Kee sian memang ingin selalu berada disamping Hoa In-liong, tentu saja ia menyanggupi tawaran tersebut dengan cepat.

“Baik!” katanya sambil mengangguk.

“Kalau begitu menginaplah disini mulai hari ini!”

“Liong sauya” ujar Ho Kee sian setelah berpikir sejenak, “kalau ruangan ini bisa muat belasan orang, bagaimana kalau kita panggil tiga empat orang lagi untuk melayanimu?” “Memangnya kau anggap aku adalah bocah cilik?” seru Hoa In-liong sambil tertawa geli.

Ho Kee sian tersenyum dan tidak menjawab dia ulapkan tangannya lalu keluar dari rumah penginapan.

Hoa In-liong tidak menghantar kakek itu sampai dipintu, ia menitahkan orang untuk memperbaiki kebun dan bunga yang penuh bacokan pedang itu, dua tiga jam kemudian pekerjaannya telah beres.

Tengah hari itu, Kongsun Peng mengajak sekawanan pemuda mengunjungi Hoa In-liong di penginapan, mereka berbincang-bincang hampir tiga jam lamanya sebelum mohon diri.

Malamnya Ho Kee sian muncul kembali diiringi empat orang jago bekas anggota Sin ki pang, rata-rata mereka berusia enam puluh tahun.

Hoa In-liong segera menitahkan pelayan untuk menambah pembaringan, suasana meujadi ribut, akhirnya begitu urusan beres semua orangpun naik tempat tidur untuk beristirahat.

Keesokan haranya, ketika Hoa In-liong sedang berjalan- jalan dalam halaman, tiba-tiba ia menyaksikan pelayan muncul sambil mengajak lima enam orang, sebelumnya memang sudah berpesan bila ada orang datang berkunjung, tamunya boleh langsung dibawah masuk.

Betapa gembiranya Hoa In-liong setelah menjumpai tamunya itu, sebab empat orang pemuda gagah yang berjalan dipaling depan tak lain adalah Coa Cong-gi, Yu Siau lam, Li Poh seng dan Ko Siong peng, sedang dipaling belakang adalah seorang kakek gagah berusia lima puluh tahunan, dia tak lain adalah Kok Hong seng, pengurus rumahnya keluarga Coa. Meski gembira, diam-diam diapun curiga, pikir nya, “Aneh kenapa Kok Hong seng ikut datang? Kenapa tidak nampak adik Wi? Juga saudara Ek bong, kemana perginya….”

Kelima orang itupun merasa gembira sekali dapat berjumpa dengan Hoa In-liong, Coa Cong-gi yang paling berangasan tak bisa menahan diri lagi, ia memburu kedepan dan menarik sepasang tangan pemuda itu.

“Saudara In liong!” serunya sambil tertawa, “aku telah aku mengetahui kalau kau sedang memanggil angin menurunkan hujan di kota Si ciu….”

Kontan saja Hoa In-liong tertawa tergelak. “Haaahhh….haaahhh…. haaahhh…. perkataan saudara

Cong gi tidak cocok, kau musti tahu hanya bangsa dewa atau siluman yang bisa memanggil angin menurunkan hujan. Siaute toh bukan dewa ataupun siluman, nama mungkin bisa mengundang angin memanggil hujan?”

“Hmm….! Memangnya kau anggap perbuatanmu itu bukan mengundang angin memanggil hujan?” seru Coa Cong-gi dengan mata melotot, se tiap orang persilatan yang ada didunia telah bertumplek di kota Si-ciu, kalau bukan mengundang angin memanggil hujan lantas apa namanya?”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, keempat orang itu sudah berkerumun kedepan, Hoa In-liong tak sempat bergojek terus, dia buru buru menjura sambil tertawa.

“Saudara-saudara sekalian, Kok congkoan, baik-baikkah kalian selama ini….?”

Ko Siong peng tertawa. “Adik In liong, kau musti tahu, sepanjang perjalanan kami menuju kemari, yang kami dengar hanya kata-kata sanjungan orang terhadap kehebatanmu, semua orang merasa kagum oleh keberanian Hoa ji kongcu, yaa, tindakanmu inii boleh dibilang telah menggetarkan seluruh kolong langit, tentu saja namamu juga ikut tersohor sampai dimana-mana”

Dengan kening berkerut Hoa In-liong menggeleng.

“Pohon yang terlalu besar hanya akan menimbulkan angin, nama yang terlalu terkenal cuma mendatangkan bencana, kalau bukan keadaan yang memaksa tak mungkin siaute melakukan semua perbuatan ini di kota Si ciu”

“Lantas apa yang memaksa kau berbuat demikian?” tanya Yu Siau lam dengan perasaan ingin tahu.

“Biar aku saja yang menebak” sela Li Poh seng, “bila dugaanku tidak keliru, tentunya adik In liong sedang mamancing perhatian umat persilatan terhadap gerak-gerik ketiga buah perkumpulan besar itu bukan? Tentunya kau kuatir mereka disergap atau ditunggangi oleh unsur-unsur jahat tersebut sehingga kena dilenyapkan dari muka bumi, bukan demikian?”

Hoa In-liong tersenyum.

“Aaah…. aku berbuat demikian tak lain untuk memperbaiki posisi pihak kita yang sudah kian terdesak saja, asal kita terjaga jaga di kota Si ciu, maka andaikata pihak Hian-beng- kauw, Kiu im kau dan Mo kau sungguh-sungguh berani datang menyerang, bukan saja kita dapat menghajarnya sampai kepala pusing, selain itu kitapun dapat memperbaiki posisi kita menjadi jauh lebih menguntungkan” “Tepat sekali!” seru Coa Cong-gi sambil tertawa, “kita dapat menghajar mereka sampai terbirit-birit dan seorangpun jangan dikasih tetap tinggal hidup”

Hoa In-liong tersenyum, tiba-tiba ia melihat seorang pelayan sedang menguber seorang pengemis kecil yang mengenakan baju compang camping, melihat itu dia lantas berteriak, “Berhenti!”

“Hei mau apa kamu?” seru Coa Cong-gi keheranan, “masa seorang pengemis kecilpun ikut membasmi iblis?”

Hoa In-liong telah menduga kalau pengemis kecil itu disuruh Cia Yu cong untuk menyampaikan kabar, ia lantas menggape seraya berseru”

“Saudara cilik, kemarilah!”

Pengemis kecil itu lari kedepan, pelayan tersebut ingin menghalangi tapi gagal, terpaksa ia berteriak.

“Siau gau ji, tunggu sebentar, apa hakmu memasuki tempat seperti ini….?”

Sambil memburu kedepan ia berusaha menangkap bahu pengemis kecil itu, tapi dengan cekatan pengemis tersebut berkelit kesamping, lalu sambil membelalakkan matanya ia berseru, “Kau jangan terlalu memandang rendah diriku, apa tidak kau lihat kalau orang lain menganggap aku sebagai tamu terhormat ? Kalau tidak begitu mana aku berani masuk?”

Hoa In-liong tertawa lebar, sambil mengulapkan tangannya kepada sang pelayan serunya, “Saudara cilik itu adalah seorang tamu kehormatan, biarlah dia kemari!” Pelayan itu agak tertegun, tapi akhirnya ia berlalu juga meski sembari menggerutu.

Betapa bangganya pengemis cilik itu, kepada pelayan tadi teriaknya dengan lantang, “Hei, coba lihat! Bagaimana?”

Sementara itu Hoa In-liong telah mengamati wajah pengemis cilik itu, kemudian sapanya dengan ramah, “Saudara cilik, apakah kau bernama Siau gou ji? Apakah seorang loya she Cia yang menyuruh kau datang?”

Pengemis cilik itu agak tertegun, lalu menggelengkan kepalanya.

“Bukan! Aku disuruh orang Tan toaya menyampaikan sepucuk surat!” sahutnya.

Setelah berhenti sebsntar, ia menambahkan, “Yaa, benar!

Akulah Siau gou ji”

Sewaktu mengucapkan nama tersebut, lagaknya luar biasa, seakan-akan dia adalah seorang yang tersohor namanya dikolong langit.

“Masakah dugaanku keliru?” pikir Hoa In-liong,

Dalam pada itu Coa Cong-gi telah tertawa terbahak-bahak. “Haaahhh….haaah….haaahhh….Siau gau ji? Kenapa belum

pernah kudengar nama ini?” godanya.

Dengan gemas Siau gau ji melotot beberapa kejap kearah Coa Cong-gi, lalu balas ejeknya, “Memangnya namamu pernah kudengar?” “Kau toh belum tahu siapa namaku, darimana kau tahu kalau namaku belum pernah kau dengar?”

“Aaaa…. pokoknya aku tahu kau toh bukan Ji-kongcu dari keluarga Hoa? Jelas namamu belum pernah kudengar”

Yu Siau lam tersenyum.

“Dari mana kau tahu kalau dia bukan ji-kongcu? Kau tahu siapakah diantara kami yang merupakan ji-kongcu?” katanya.

“Huuuh….masa Hoa ji-kongcu macam dia, nyentrik, jelek dan seperti orang bloon?” sambil menuding kearah Hoa In- liong ia berkata lebih jauh, “sudah rasti dialah Jiya dari keluarga Hoa, hmm….hmm…. coba lihat Jiya dari keluarga Hoa ini, yaa ganteng, yaa sopan, yaa pintar….”

Tiba-tiba ia terbungkam, rupanya pengemis itu kehabisan bahan untuk mengampak.

“Hei bocah busuk, pandai betul kau mengampak!” ejek Coa Cong-gi sambil tertawa tergelak.

Hoa In-liong pun mengetahui kalau Siau gou ji adalah seorang bocah yang cerdik, terutama sepasang biji matanya yang mengerling lincah, segera pikirnya;

“Tempo dulu paman Ngo siok juga begini keadaannya, tapi sekarang dia adalah seorang jagoan yang hebat”

Tiba-tiba timbul perasaan simpatiknya terhadap bocah itu, katanya kemudian sambil tertawa, “Saudara cilik, ada kabar apa?”

Pengemis cilik itu merogoh sakunya yang berlubang dan mencari setengah harian lamanya, ketika dicabut kembali ternyata tangan itu hampa, ia lantas menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sembari mengomel, “Aduuuh celaka! Jangan-jangan hilang….”

“Hilang?” jerit Coa Cong-gi terkejut.

Sebaliknya Hoa In-liong segera terbahak-bahak. “Haaahhh….haaah….haaahh….lepaskan sepatumu!”

perintahnya, Siau gou ji kelihatan kaget, cepat cepat serunya,

“Aaah…. betul! Betul! Kenapa aku tidak berpi kir sampai kesitu?”

Kok Hong-seng, Yu Siau lam dari Li Poh seng ikut memperhatikan sepatu Siau gou ji, betul juga sepatu itu masih baru, tak mungkin dikenakan oleh manusia semacam itu, tanpa terasa mereka tersenyum penuh arti.

Siau gou ji berjongkok dan membuka sepatu barunya, betul juga disana terdapat selembar lipatan kertas, dengan sepasang tangannya kertas itu diangsurkan kehapadan Hoa

In-liong, katanya dengan wajah murung sekali, “Hoa jiya….”

“Mau apa kau?” tegur Hoa In-liong sambil tertawa cekikikan.

“Tan toaya bilang, bila berita ini sudah disampaikan, Hoa kongcu tentu akan memberi hadiah kepadaku”

“Kalau cuma itu, kenapa tidak kau keluarkan surat itu sejak tadi?” seru Ko Siong peng sambil tertawa.

Merah padam selembar wajah Siau gou ji, saking jengahnya dia sampai gelagapan dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun. “Kau masih belum cukup pintar” kata Hoa In-liong sambil tertawa, “dengan kemampuan seperti itu masa hendak mengadu kepandaian denganku? Angkat dulu diriku sebagai gurumu, dan belajar sepuluh tahun lagi….”

“Lalu sambil berpaling ke arah Kok Hong seng lanjutnya, “Kok Koankeh, dapatkah kau melayani sejenak keperluan saudara cilik ini?”

Kok Hong seng telah menganggap pemuda ini sebagai calon Kohya dari keluarga Coa, mendengar perkataan itu ia lantas tertawa.

“Apa perintah ji kongcu, harap utarakan saja” katanya.

Semenjak rahasianya dibongkar Hoa In-liong, Siau gou ji dibuat tak tenang hatinya, waktu itu ia sudau siap-siap mengambil langkah seribu.

Tiba-tiba Hoa In-liong memanggilnya lagi, bahkan sambil membelai rambutnya yang kusut dan kotor ujarnya, “Saudara cilik, bila kau suka, bagaimana kalau tinggal saja bersama- sama kami?”

Termenung sebentar Siau gou ji sesudah mendengar perkataan itu, tiba-tiba matanya menjadi merah, bibirnya terbuka seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun suaranya seperti tersumbat dalam tenggorokan, tak sepotong perkataanpun yang sanggup diucapkan.

Tapi akhirnya ia toh manggut-manggut juga, meski sejenak kemudian kembali menggeleng.

“Mei, monyet kecil! Tahukah kau bahwa tawaran ini merupakan suatu rejeki besar bagimu?” pekik Coa Cong-gi dengan wajah tercengang. Siau gou ji tertunduk sedih, katanya sambil menahan sesenggukan, “Aku tak pantas menerima kebaikan ini, mana kotor mana goblok lagi, aku hanya membuat orang menjadi jemu saja”

“Aaaah…. tak usah terlampau rendah diri” hibur Hoa In- liong dengan lembut, “dulu akupun begini juga keadaannya, tak menjadi soal”

Dia lantas mengulapkan tangannya kepada Kok Hong seng dan menitahkannya untuk membantu pengemis itu berganti pakaian, membersihkan badan dan mengisi perut.

Li Pon seng yang menjumpai hal itu diam-diam mengerutkan dahinya, lalu berkata, “Pertarungan terbuka sudah menjelang didepan mata, mau apa kau menyeret seorang bocah yang tak pandai bersilat untuk turun serta dalam pertikaian ini? Tidak pantas rasanya….”

Hoa In-liong tertawa.

“Siau gou ji adalah seorang anak yang pintar, terlalu sayang kalau bocah seperti ini dipendam bakatnya, karena itu aku ingin menghadiahkan kepada paman Ngo siok sebagai muridnya”

Kemudian kertas itu diambil dan dibawa isinya, terlihat surat itu berbunyi demikian, “Semalam, seorang gadis cantik jelita yang membawa tongkat kepala setan dengan memimpin banyak orang menginap di perkampungan keluarga Cho di barat laut kota, pagi ini Tang kwik Siu memimpin belasan orang menginap di kebun keluarga Chan yang sudah tak terpakai diluar kota, sedang dirumah penginapan keluarga Ong diutara kota agaknya dihuni pula seorang gadis baju hitam serta pelayannya” Dibawah surat itu tertera nama “Cia Yucong”

“Rupanya dia yang memberi kabar” pikir Hoa In-liong kemudian, “kalau diingat kembali bahwa pertama dia adalah orang yang punya nama, kedua jasanya terlalu banyak, tak mungkin dia akan berhubungan langsung dengan seorang pengemis cilik, ehmm….! Cara kerja orang ini boleh juga, mana teliii mana hati-hati lagi….tak malu dinamakan orang yang berpengalaman”

“Eeeh….coba aku lihat, apa yang ditulis itu? Siapa yang menulis?” seru Coa Cong-gi tiba-tiba dengan tak sabar.

Hoa In-liong menyerahkan surat itu kepada Coa Cong-gi, lalu katanya dengan tertawa, “Orang yang menulis surat ini adalah seorang jagoan tersohor di wilayah utara, dia bilang Bwe Su yok maupun Tang kwik Siu telah berdatangan semua, entah Seng To cu berada dimana sekarang?”

“Haaahhh….haaahhh….haaahhh….bagus sekali!” Coa Cong- gi terbahak-bahak, “Kalau semua keramaian sudah berda- tangan, maka kita boleh bekerja dengan sepuas-puasnya, ganyang saja mereka semua sampai bertobat-tobat….”

“Hei, jangan kau anggap semua urusan bisa diselesaikan secara gampang….”

“Lantas apakah adik In liong sudah mempnnyai rencana yang bagus untuk menghadapi musuh?” tanya Li poh seng.

“Rencana apa? Paling-paling cuma menghadapi perubahan situasi dengan segala kemampuan yang dimiliki”

Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa getir lanjutnya, “Yang paling penting, walaupun jumlah sahabatku terlalu banyak tapi tak seorangpun yang sanggup menghadapi kelihayan Tang kwik siu, bila kita main kerubut, sekalipun musuh bisa kita bereskan, kerugihan dipihak kita pasti amat besar apalagi….”

“Aaah….jangan terlalu mengunggulkan kehebatan orang lain” teriak Coa Cong-gi penasaran, “kata kongkong, kau pasti sanggup mengalahkan setan tua itu”

Dengan cepat Hoa In-liong menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Lain kali mungkin saja bisa, tapi sekarang masih ketinggalan jauh sekali”

Kembali Coa Cong-gi menggetarkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi Hoa In-liong sudah terlanjur berpaling ke arah Yu Siau lam sambil bertanya, “Apakah empek dan bibi sudah ada kabarnya?”

Yu Siau lam menjadi sedih, tapi sikapnya masih tenang. “Belakangan ini aku belum mendapat kabar apa-apa”

sahutnya, “jadi aku tak tahu bagaimana kah perlakuan orang-

orang Hian-beng-kauw terhadap mereka berdua”

Terdengar Coa Cong-gi berseru, “Sebetulnya aku sudah mengusulkan, lebih baik kita satroni saja bukit Gi bong san, semua orang mendukung usulku ini, anehnya justru dia yang tidak setuju….coba kau pikir, mengherankan tidak?”

Hoa In-liong membatin, “Saudara Siau lam berbuat demikian tentu dimaksudkan untuk melindungi keselamatan semua orang, ketenangan semacam ini tak mungkin bisa dilakukan orang lain, aai….bisa dibayangkan betapa pedih perasaannya” Sambil menghela napas katanya kemudian, “Orang baik selalu dilindungi Thian, semasa hidupnya empek dan bibi selalu beramal bagi kesejahteraan manusia, Thian pasti akan melindungi keselamatannya, tak usah kuatir saudara Siau lam”

Yu Siau lam manggut-manggut, katanya dengan suara dalam, “Kau tak usah mencabangkan pikiran untuk memikirkan persoalan itu, pusatkan saja semua perhatianmu untuk bertempur melawan tiga perkumpulan besar”

Diam-diam Hoa In-liong menghela napas. “Kemana perginya saudara Ek hong….”ia berbisik

kemudian.

Li Poh seng ikut bersedih hati, jawabnya.

“Sampai kini saudara Ek hong masih belum diketahui jejaknya, hal ini memang cukup membuat orang merasa gelisah”

Hoa In-liong termenun tidak menjawab, meskipun timbul kecurigaan dalam hatinya karena peristiwa antara Wan Ek hong dengan Coa Wi-wi, namun ia merasa kurang baik untuk mengutarakan persoalan itu secara terbuka, hanya secara diam-diam ia berpikir, mungkinkah Wan Ek hong tak mau munculkan diri karena tak senang hati lantaran perkataan dari Coa Wi wi itu?

Tiba-tiba Coa Cong-gi bertanya, “Tahukah kau kenapa adikku tidak datang?”

Hoa In-liong memang ingin menanyakan persoalan itu, karenanya cepat-cepat ia mengangguk. “Adikku telah pergi ikut kongkong, kata kongkong dia hendak bersemedi disuatu tempat yang terpencil untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya, selain adikku, Cia In juga ikut….”

“Bagaimana keadaan kongkong?” jerit Hoa In-liong dengan wajah berubah hebat.

Coa Cong-gi mengerutkan dahinya.

“Kau tak perlu kaget dan tercenung, kongkong bilang keadaannya tidak apa-apa”

Hoa In-liong kembali berpikir sesudah mendengar perkataan itu, “Dengan kelapangan dada kongkong, sekalipun didunia ini terjadi peristiwa besar, ia selalu memandangnya secara tawar, tentu saja keadaannya tidak seenteng apa yang dikatakan….”

Tentu saja apa yang menjadi beban pikirannya tak sampai diucapkan keluar, ia coba berpaling, dilihatnya Yu Siau lam, Li Poh-seng maupun Ko Siong peng sedang berdiri me1ongo, agaknya mereka masih belum mengetahui tentang tindakan Goan cing taysu yang membantu menyempurnakan tenaga dalamnya dengan ilmu Wan kong-koan teng tersebut.

Ia termenung sebentar, akhirnya ia merasa ada baiknya jangan membicarakan persoalan itu.

Tiba-tiba Coa Gong gi berkata lagi.

“Oya, kongkong menitahkan kepadaku untuk menyampaikan sepatah kata kepadamu!”

“Apa kata kongkong?” “Kongkong bilang, hati yang bijaksana adalab hati Buddha, dengan dasar hati yang bijaksana, kau boleh melakukan apapun juga, cuma meski kecerdikanmu cukup namun kebesaran jiwa dan kelembutan hatimu masih ketinggalan jauh, maka kongkong menasehati kepadamu agar lebih banyak melatih diri”

Hoa In-liong mengangguk.

“Nasehat dari dia orang tua akan selalu terukir dalam hatiku” sahutnya.

Mendadak Coa Cong-gi tertawa tergelak, katanya. “Haaahhh….haaahhh….haahhh….padahal aku selalu

berangggapan kalau kebajikan dan kelembutan hatinya

terlampau berlebihan, watak semacam itu tidak cocok dengan perasaanku. Aaai….! Coba kalau menurut watakku, mau pukul segera pukul, mau berkelahi segera berkelahi, buat apa membicarakan soal kelembutan hati segala?”

“Kontan saja semua orang tertawa tergelak mengiringi ucapannya yang cukup kocak itu.

Tiba-tiba seseorang mneanggapi sambil tertawa lantang, “Tepat sekali perkataan itu, memang sudah seharusnya begitu! Memang sepantasnya begitu!”

“Dari balik pintu ruang samping muncul Ho Kee sian yang berjalan menghampiri sambil tertawa tergelak.

“Siapa kau?” seru Coa Cong-gi cepat.

“Dia adalah empek Ho dan beraama Kee sian” Hoa In-liong mem perkenalkan simbil tertawa “dulu ia lebih dikenal orang sebagai Tangan sakti pembalik….” “Cukup, cukup” tukas Ho Kee sian tertawa, “apa gunanya Liong sauya menyinggung kembali soal julukan perampokku dimasa lalu?”

Hoa In-liong tersenyum, ia lantas perkenalkan kedua belah pihak, kemudian beberapa orang itu masuk ke ruang tengah dan duduk tanpa urutan siapa tuan rumah siapa tamu, dan pembicaraanpun segera berlangsung.

Hoa In-liong coba menanyakan tempat pengasingan Goan cing taysu dan Coa Wi wi serta berapa lama waktunya, siapa tahu Coa Cong-gi sendiripun tidak tahu, ini menyebabkan soal tersebut sementara waktu harus ditunda lebih dulu, kendatipun hatinya amat kangen. 

Malam itu, Coa Cong-gi sekalian menginap di sana, untung halaman yang disewa In liong sangat luas, bukan saja ada ruang tamunya, ada kamar tidurnya ada pula kamar bacanya, disitulah Kok Hong seng dan Siau gou ji menginap malam itu”

Tengah malam seorang diri Hoa In-liong melayang keluar dari penginapannya menuju penginapan Ong keh di utara kota.

Rumah penginapan itu jauh lebih kecil bentuknya daripada rumah penginapan “Thian-hok”, disana tak ada halaman tersendiri yang disewakan kamar kelas satupun cuma terdiri dari lima bilik, suasana gelap gulita tiada cahaya.

Dalam suratnya Cia Yu cong tidak menerangkan Si Leng jin dan pelayannya menginap dikamar yang mana, tapi Hoa In- liong menduga mereka tentu memilih ruangan yang terpencil. Maka sesudah termenung sebentar, timbul ingatan dalam benak anak muda itu untuk menimbulkan suara, ia beranggapan andaikata berbuat demikian dua orang itu tentu akan segera munculkan diri.

Tapi sebelum rencananya dilaksanakan, dari balik sebuah kamar tiba-tiba berkumandang suara helaan napas panjang serta suara langkah kaki yang berisik, disusul kemudian ia saksikan sesosok bayangan ramping muncul dari balik jendela secara lamat-lamat.

Satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan suatu gerakan secepat sambaran kilat ia menerobos masuk lewat jendela.

Kamar itu memang gelap, tapi tidak menjadi batangan bagi Hoa In-liong yang mempunyai ketajaman mata bagaikan kilat, ia sudah menyaksikan seorang gadis berbaju hitam yang berhidung mancung, berbibir mungil dan menyoren sebilah pedang pendek di-pinggangnya berdiri dalam ruangan itu, gadis itu bukan lain adalah gadis baju hitam yang pernah dijumpai baik dalam gedung keluarga Suma maupun dibukit Ciong san.

Ketika mendengar suara berisik berasal dari jendela, dengan terkejut gadis baju hitam itu memutar badannya, cahaya tajam berkilauan dan tahu-tahu pedang pendeknya sudah diloloskan.

Hoa In-liong terbahak-bahak, sambil maju kemuka memberi hormat katanya, “Bila kedatangan telah mengganggu ketenangan nona, harap sudilah dimaafkan”

Nona berbaju hitam itu tidak nampak terkejut meski bertemu dengannya, malah sekilas perasaan girang menghiasi wajahnya, sambil masukkan pedangnya kedalam sarung tegurnya dengan dingin, “Tengah malam buta begini, mau apa kau datang kemari?”

“Aaah….! Kalau dilihat dari caranya bersikap mungkin ia sudah menduga akan kedatanganku” pikir Hoa In-liong.

Sambil tertawa ringan diapun berkata, “Sehari tidak bertemu bagaikan berpisah tiga tahun, terutama setengah tahun belakangan ini, hatiku benar-benar merasa gundah dan tidak tenang, karenanya bila dalam tindakanku kurang hormat harap nona suka memaafkan”

Merah padam selembar wajah nona baju hitam itu, bibirnya mencibir seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun jengah untuk diutarakan keluar.

Mendadak dari arah pintu kedengaran suara manusia berkumandang, disusul suara Si Nio menegur, “Nona, siapa yang datang?”

“Kau tak usah turut campur, sana, pergi tidur!”

“Apakah bocah buyung she Hoa yarg telah datang?” Si Nio kembali bertanya.

Hoa In-liong terbahak-bahak mendengar perkataan itu. “Haaahhh….haaahh….haaahhh….pujian saudara hanya

membuat aku menjadi malu saja”

“Bagus kekali perbuatanmu….” si nona baju hitam menjerit. “Kraaaaakkk….! tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Si Nio

yang berwajah penuh codet dan bekas bacokan itu sudah muncul sambil melototi Hoa In-liong dengan mata tajam. “Mundur dari sini!” bentak nona baju hitam itu dengan perasaan tak senang hati.

“Tapi, dia….” dengan perasaan ragu-ragu Si Nio menuding kearah Hoa In-liong.

Paras muka si nona baju hitam itu makin mengerikan, dengan gusar teriaknya lagi, “Masa perkataanku pun tak mau kau turuti? Memangnya kau sudah tidak menganggap diriku sebagai majikanmu lagi?”

Si Nio tercenung sesaat lamanya, kemudian setelah melotot sekejap Hoa In-liong dengan gemas, selangkah demi selangkah ia mengundurkan diri dari situ.

Dengan lemah gemulai nona baju hitam itu maju kemuka dan menutup kembali pintu kamar. Hoa In-liong tersenyum, katanya kemudian, “Jika dilihat dari sikapnya yang begitu garang, waah rupanya dia hendak menelanku hidup-hidup bila aku berbuat kurang menguntungkan atas diri nona”

“Berbicara dari ilmu silat yang dimiliki kongcu, bukankah tindakan itu sama artinya dengan mencari kematian buat diri sendiri?”

“Haahh….haahhh….haaahhh…. nona Si….”

Hoa In-liong tertawa tergelak, tiba-tiba ia meralat panggilannya, “mungkin nona merasa heran bukan darimana aku bisa tahu nama nona?”

Nona baju hitam itu mencibirkan bibirnya, “Huuuh…. apanya yang aneh, paling-paling kau bisa menebaknya karena Si Nio juga berasal dari keluarga Si” “Tapi aku mengetahui juga kalau nona bernama Leng jin, apakah nona tidak tercengang?” kata Hoa In-liong lagi sambil tertawa.

“Betul juga, nona berbaju hitam itu menunjukkan perasaan tercengang, tapi sesaat kemudian dengan suara hambar ia berseru, “Jadi kau sudah berjumpa dengan budak itu?”

“Rupanya antara dia dengan nona baju putih itu mempunyai hubungan permusuhan yang dalam” batin Hoa In- liong.

Sementara itu Si Leng jin, si nona baju hitam itu sudah mendekati meja lalu mengeluarkan korek api dan bermaksud menyulut lampu lentera yang ada dihadapannya.

Sebelum lentera itu disulut, Hoa In-liong telah merampas korek api tadi dan memadamkannya kembali.

“Hei apa maksudmu?” teriak Si Leng jin dengan gusarnya. “Coba nona terka” Hoa In-liong masih tersenyum.

Si Leng jin tidak langsung menjawab, diam-diam pikirnya, “Hoa In-liong adalah orang yang tidak jujur, jangan biarkan dia melakukan perbuatan yang kurangajar….”

Tiba-tiba perasaannya bergetar keras, tanpa sadar ia meraba gagang pedangnya dan pelan-pelan mengundurkan diri ke belakang.

Dari sakunya Hoa In-liong mengeluarkan sebuah kipas bergagang emas, lalu sambil menggoyangkannya ia berkata, “Nona tak usah kuatir, aku hanya merasa bahwa cahaya bintang dan rembulan sudah cukup menerangi seluruh jagad, buat apa kita musti memasang lampu? Tak usah kuatir, aku tidak bermaksud apa-apa”

“Tapi ruangan ini gelap gulita” teriak Si Leng jin gusar,” tidakkah kau merasa bahwa perbuatanmu ini….”

Sebenarnya ia hendak berkata bahwa laki dan perempuan yang tak ada ikatan tak pantas berada dalam satu ruangan, tiba-tiba gadis itu merasa malu untuk mengucapkannya, tentu saja perkataanpun terhenti ditengah jalan.

Hoa In-liong masih tetap tenang, seakan-akan tak pernah terjadi suatu kejadian apapun, ia coba memperhatikan suasana dalam ruangan, ternyata kecuali sebuah pembaringan, sebuah meja dan dua buah kursi tak ada barang lainnya.

Setelah duduk, ia menuding kursi yang lain dengan kipasnya sambil berkata, “Nona silahkan duduk pula!”

“Lebih baik aku berdiri saja, kau tak usah banyak urusan” tukas Si Leng jin ketus, bahkan berdiri makin menjauh.

Hoa In-liong tidak berbicara lagi, dia menggoyangkan kipasnya dan berkata lagi, “Begitu nona tahu kalau aku mengetahui nama nona, kau segera mengatakan kalau muridnya Hian-beng-kauwcu yang memberitahukan ke padaku, itu berarti orang yang mengetahui nama nona pasti teramat sedikit sekali….”

“Tentu saja jauh ketinggalan bila dibandingkan kepopuleran Hoa ji-kongcu yang tersohor dimana-mana” tukas Si Leng jin.

“Anehnya, kenapa kau tidak mengatakan kalau aku telah bertemu sendiri dengan Hian-beng-kauwcu? Aku rasa kaucu itu pasti mengenal diri nona bukan….?” Ketika menyinggung soal Hian-beng-kauwcu, tiba-tiba dari balik mata Si Leng jin yang bening memancar keluar rasa benci yang tebal, katanya lantang, “Kalau eugkau bertemu dengannya memang dianggap sekarang kau bisa duduk dengan tenang di sini?”

“Itu berarti dia mempunyai dendam kesumat dengan Hian- beng-kauwcu” pikir Hoa In-liong.

Sementara diluaran katanya, “Ooo….benarkah Hian-beng- kauwcu adalah manusia yang demikian lihaynya?”

“Hmmm….! Sampai waktunya bila kau bertemu dengannya, maka kau akan mengetahui dengan sendirinya”

Tiba-tiba Hoa In-liong menyimpan kembali kipasnya, kemudian dengan wajah serius berkata, “Nona, aku yakin apa yang kau ketahui tentu banyak sekali, bila kau bersedia memberi petunjuk, aku pasti akan membalas budi kebaikanmu itu….”

“Kalau aku enggan menjawab?” tanya Si Leng jin sambil mencibirkan bibirnya.

“Aku tahu nona pasti mempunyai kisah pengalaman yang menyedihkan hati, sedang perbuatan inipun hanya akan mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak, masa nona tidak bersedia melakukannya dengan senang hati….?”

“Yaa, betul! Justru aku memang tak senang hati”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya serta menunjukkan perasaan tak senang hati, ia berpikir, “Dengan maksud baik aku memohon bantuanmu, tapi kau malah menolak dengan cara yang begini kasar, tidakkah kau merasa bahwa perbuatan ini sangat keterlaluan?”

Sementara itu Si Leng jin telah berkata lagi, “Walaupun aku berdua memiliki ilmu silat yang rendah, meskipun kami cuma dua orang yang tak berguna, tapi selamanya tak pernah tunduk oleh pengaruh kekuatan”

“Oooh….rupanya dia adalah seorang nona yang tinggi hati dan tak suka menerima bantuan orang” pikir Hoa In-liong.

Berpikir sampai disitu, ia lantas tersenyum dan berkata lagi, “Kalau begitu, bagaimana kalau anggap saja aku yang memohon kepada nona?”

Si Leng jin tertegun, bibirnya bergetar keras namun tak sepatah katapun yang terlontar keluar.

“Nona….” kembali Hoa In-liong berkata dengan suara berat.

“Kraaaakk….!” tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Si Nio muncul kembali dalam ruangan tersebut.

Ia langsung menghampiri Si Leng jin, kemudian serunya dengan cemas, “Nona, kabulkanlah permintaannya!”

Si Leng jin menunduk dan memandang permukaan lantai dengan termangu, sahutnya, “Dulu engkau yang ngotot menolak hal ini, sekarang engkau juga yang menyetujuinya, tidak, tidak bisa!”

Si Nio tertegun.

“Tapi….tapi….aku berbuat demikian kan demi kebaikan nona….” serunya tergagap. “Tidak!” tukas Si Leng jin ketus.

Tiba-tiba ia memutar badannya menghadap kearah dinding, bahunya bergetar keras menahan isak tangisnya.

Si Nio menjadi gelagapan dibuatnya, ia memandang majikannya seperti orang kebingungan.

“Nona Si masih belum puas?” Hoa In-liong berkerut kening. “Kau cengar-cengir sedikitpun tidak menunjukkan

keseriusan, siapa yang mau menyanggupi tawaranmu?” jawab

Si Leng jin tanpa berpaling.

Begitu ucapan tersebut diutarakan, tak tahan lagi meledaklah isak tangisnya yang memedihkan hati.

“Keras kepala amat nona ini….bocah yang terlampau tinggi hati beginilah keadaannya” pikir anak muda itu, diapun tersenyum.

“Menurut nona, lantas apa yang musti kita laku kan….?”tanyanya kemudian.

Sambil menghadap terus ke dinding kata Si Leng jin, “Bila aku tak mau menjawab, sudah tentu Hoa kongcu pun tak mau perjalananmu sia-sia belaka, bukankah kaupun akan menahan marah terus?”

Kerena perkataan itu diucapkan sambil sesenggukan, maka meskipun hanya dua tiga patah kata saja, namun membutuhkan waktu setengah harian lamanya.

Tergelaklah Hoa In-liong karena geli. “Aaah…. rupanya nona telah melukiskan diriku sebagai seorang iblis sesat saja, baiklah! Kalau kau beranggapan demikian, apa boleh buat? Terpaksa aku harus mengundurkan diri dengan perasaan hati yang sangat kecewa”

Si Leng jin termenung beberapa saat lamanya, ia seperti lagi berpikir, tiba-tiba ujarnya, “Kalau memang begitu, kau harus bersumpah dulu sebelum aku menceritakan keadaan yang sesungguhnya”

Sambil berkata pelan-pelan ia memutar kembali tubuhnya.

Air mata masih membasahi pipinya, nona itu kelihatan amat bersedih hati dan bikin hati orang iba saja hatinya, cukup mengge-tarkan perasaan siapapun jua.

Sekalipun sedang marah, lembek juga perasaan Hoa In- liong setelah menyaksikan keadaan itu, ia berpikir, “Aaaai….walaupun kekuatan dua orang ini terlalu minim, namun kesombongan serta keras kepala mereka luar biasa sekali, bagaimanapun juga sudah sepantasnya kalau kubantu usaha mereka”

Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa getir dan berkata, “Nona, buat apa kau terlalu memaksa orang lain? Ketahuilah, aku bersedia membantumu karena timbul dari sanubariku, buat apa kau memaksa aku untuk bersumpah pula?”

Tiba-tiba Si Nio mengundurkan diri dari situ, kemudian merapatkan kembali pintu ruangan.

“Baiklah” kata Si Leng jin kemudian, “akan kuceritakan apa yang kuketahui, cuma tidak terlalu banyak yang bisa kuterangkan, mungkin saja kau akan kecewa, tapi hakekatnya aku tidak akan menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu, percayalah!” “Untuk berterima kasihpun sudah tak sempat, mana aku berani mencurigai nona?” cepat cepat Hoa In-liong memberi hormat.

“Mari kita bercakap-cakap diluar kota saja!” ajak si nona kemudian sambil membesut air mata.

Ia menjejakkan sepasang kakinya siap menerobos keluar lewat daun jendela.

Tentu saja Hoa In-liong tahu, ia berbuat demikian karena kuatir dibalik dinding ada telinganya, sambil tersenyum ia menghalangi, katanya, “Aku rasa tempat inipun cukup baik, buat apa kita musti berpayah payah makan angin malam di luar kota?”

Dia membuat api dan menyulut lampu lentera yang ada dimeja.

“Ditempat ini juga?” kata Si Leng jin sambil memutar badan.

“Yaa!” Hoa In-liong tertawa, “buat apa nona musti banyak menaruh curiga?”

Kontan saja Si Leng jin tertawa dingin. “Heeehhh….heeehhh….heeehhh…. Hoa kongcu, kau

anggap kepandaian silatmu sudau mencapai tingkatan yang

tinggi sehingga setiap musuh yang mendekati tempat ini dapat kau temukan?”

“Hmmm….yang lain tak usah dibicarakan, cukup berbicara soal jago-jago dalam Hian-beng-kauw, jago lihay yang lebih hebat dari kongcu mungkin puluhan orang banyaknya, kau anggap kepandaianmu sanggup mengalahkan mereka?”

Sekalipun mengomel terus, toh nona itu duduk juga.

“Oooh…. begitu banyakkah jago lihay dari Hian-beng- kauw?” kata Hoa In-liong kemudian dengan dahi berkerut.

“Jadi Hoa kongcu menganggap siau li sengaja mengibul untuk menakut-nakuti dirimu?”

“Tentu saja tidak!” anak muda itu tertawa.

Betapa mendongkolnya Si Leng jin menyaksikan pemuda itu masih belum percaya juga, sambil tertawa dingin ia mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, katanya, “Kalau Hoa kongcu ingin cepat-cepat mengetahui latar belakang perkumpulan Hian-beng-kauw, siau li….”

“Yang ingin kuketahui secepatnya adalah asal usul serta pengalaman hidup nona pribadi” tukas Hoa In-liong tiba-tiba.

Jawaban ini membuat Si Leng jin tertegun.

“Setiap lelaki sejati selalu beranggapan bahwa persoalan yang menyangkut keadaan umum jauh lebih penting, apalagi pengalaman hidup maupun asal usul siau li sangat biasa, lebih baik tak usah dibicarakan”

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, ia mengambil kembali kipasnya lalu….

“Sreeeeetr….” dibentangkan lebar-lebar.

“Orang lelaki didunia ini mungkin saja akan berbuat demikian” begitu katanya, “tapi aku adalah orang yang lain daripada yang lain, semenjak kecil aku sudah memiliki cara berpandangan yang lain, aku lebih mengutamakan perempuan cantik….”

Panas rasanya pipi Si Leng jin karena jengah, dia melengos ke samping lain dan tak berani menatap pemuda itu lagi.

Terdengar Hoa In-liong berkata lebih lanjut, “Apalagi menghadapi nona yang begitu cantik dan menawan hati, apakah aku tega membiarkan kau ketimpa musibah tanpa memberi bantuan apa apa juga? Mana hatiku bisa tenteram membiarkan kau sengsara dan tersiksa batinnya?”

Ucapan itu setengahnya benar dan setengahnya bohong, tapi sudah cukup menggetarkan perasaan Si Leng jin.

Ia termenung sesaat lamanya, kemudian berkata, “Asal usulku mempunyai hubungan yang erat sekali dengan Hian- beng-kauw, mau membicarakan yang lama lebih dulu adalah sama saja. karena itu lebih baik kita membicarakan soal Hian- beng-kauw saja lebih dulu”

“Terserah kemauan nona” cepat-cepat Hoa In-liong menjura.

Pelan pelan Si Leng jin berpaling, kemudian ujarnya, “Siau li sudah beberapa kali bertemu dengan Hian-beng-kauwcu….”

“Siapakah namanya?” “Entahlah!”

Tapi sesudah termenung sebentar, ia berkata lagi, “Tapi aku percaya nama yang ia sebutkan pasti nama palsu” Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali, “Belum tentu” ia menyabut, “aku tahu Hian-beng-kauwcu adalah seorang manusia yang tinggi hati dan latah, mungkin saja ia tak mau berubah namanya dengan nama lain”

“Pernah kau dengar seorang jago persilatan yang bernama Si Piau?” tanya Si Leng jin sambil tersenyum.

Hoa In-liong berpikir sebentar lalu tertawa getir.

“Mungkin seorang gembong iblis yang belum pernah terjun dalam dunia persilatan!” katanya kemudian.

Diluar ia berkata demikian, diam-diam pikirnya, “Hian-beng- kauwcu mempunyai ikatan dendam dengan ayah ibuku, itu berarti dahulu orang itu pernah melakukan pula perjalanan dalam dunia persilatan, cuma….”

Walaupun ia cerdas, namun menghadapi persoalan yang aneh dan tak masuk diakai ini, melengkong juga anak muda itu dibuatnya.

Kedengaran Si Leng jin berkata lagi, “Iblis itu masih kuat dan gagah, mukanya tidak termasuk kategori wajah bengis, yang paling menyolok ia mengenakan sebuah jubah panjang berwarna merah, orang perkumpulan menyebutnya kaucu, sedang ia sendiri membahasai diri sebagai Sinkun….”

“Apakah Kiu-ci Sinkun?” tiba-tiba Hoa In-liong menyela. “Darimana kau bisa tahu?” Si Leng jin membelalakkan

sepasang matanya lebar-lebar, “Tidak aneh kalau aku merasa ilmu silat yang tercantum dalam batas buku kemala hijau itu kenapa bisa mirip dengan ilmu silat yang digunakan beberapa orang Ciu Hoa” pikir Hoa In-liong, “ternyata dugaanku tidak meleset, tapi….mungkinkah Kiu-ci Sinkun masih mempunyai ahli waris yang lain….?”

Berpikir sampai disitu, diapun berkata, “Aku dapat berkata demikian, sebab aku pernah menyaksikan ilmu silat yang digunakan Ciu Hoa mirip sekali dengan ilmu silat aliran istana Kiu ci kiong”

“Tapi ilmu silat yang dimiliki Kiu-ci Sinkun belum pernah tersiar dalam dunia persilatan, darimana Hoa kongcu bisa tahu?” Si Leng jin nampak sangat tercengang.

“Secara kebetulan aku pernah mendapatkan suatu benda yang memuat ilmu silat aliran Kiu-ci Sinkun sebab itulah aku mengetahui hal ini dengan jelas”

Si Leng jin menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun akhirnya ia tutup mulut kembali dan membatalkan maksud sebenarnya.

Tentu saja Hoa In-liong mengetahui apa yang dipikirkan, dia tersenyum lalu dari sakunya mengambil keluar batas buku yang terbuat dari kemala hijau itu.

“Silahkan periksa nona!” katanya.

Si Leng jin tertegun, pikirnya, “Begitu percaya ia serahkan benda tersebut kepadaku, tampaknya ia benar-benar telah menganggapku sebagai sahabatnya….!”

Meski begitu diapun kuatir seandainya Hoa In-liong melancarkan sergapan secara tiba-tiba, maka sambil menengadah, ia mengawasi wajah pemuda itu dengan sepasang biji matanya yang jeli. “Hoa kongcu” ujarnya kemudian, “aku dengan Hian-beng- kauw mempunyai ikatan dendam yang lebih dalam dari samudra, kalau toh engkau mempunyai benda tersebut, bersediakah kau penuhi keinginanku?”

“Benda ini tiada kegunaan yang terlampau besar bagiku, bila nona sangit membutuhkannya, terimalah saja benda ini”

Si Leng jin tidak sungkan-sungkan, Ia menerima batas buku kemala hijau dan dimasukkan kedalam saku.

Lalu setelah termenung sebentar, tiba-tiba katanya, “Hoa kongcu, aku merasa sedikit kurang percaya dengan perkataanmu itu….”

Sikap maupun nada suaranya jauh lebih lembut dan lunak daripada keadaan sebelumnya.

Hoa In-liong agak tertegun, kemudian sambil tertawa ia bertanya, “Bagian manakah yang menurut nona sangat meragukan?”

“Saat ini Hoa kongcu sedang bermusuhan dengan Hian- beng-kauw, seandainya kau ingin menguasahi juga ilmu silat yang dimiliki Hian-beng-kauwcu, hal tersebut dapat kau pelajari dari benda tersebut, kenapa kau mengatakan tak ada kegunaan yang besar?”

“Ooooh….rupanya nona maksudkan hal itu” “Apakah aku salah menyangka?”

“Bukannya aku sengaja mengibul atau terlampau membanggakan diri, begitu untuk mengalahkan orang-orang bawahan Hian-beng-kauwcu semu dah membalikkan telapak tangan sendiri, sebaliknya untuk menghadapi Hian-beng- kauwcu tak mungkin aku bisa mengatasinya dengan cara mempelajari pula ilmu sealiran dengannya, sebab ilmu silat iblis itu tentu sudah dilatih sedemikian sempurna sehingga sukar ditemukan titik kelemahannya, itu berarti bukan pekerjaan yang mudah bagiku untuk mengatasi kepandaiannya dengan kepandaian yang sealiran dengannya”

Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan, “Tentu saja secara otomatis benda tersebut tak ada gunanya bagiku, betul tidak?”

Si Leng jin menghela napas panjang. “Aaaaaai….kenyataan memang begitu, dan aku pun musti

menerima kebaikanmu dalam hati saja”

Tiba-tiba ia mengeluarkan kembali batas buku kemala hijau itu lalu diangsurkan kehadapan Hoa In-liong.

“Harap Hoa kongcu menerima kembali benda ini!” katanya.

Hoa In-liong termenung sebentar, lalu sambil tertawa berkata, “Waaaah….kalau begitu, aku kan menjadi orang yang plin plan? Sudah diberikan orang lain sekarang diterima kembali?”

Sambil gelengkan kepalanya ia menerima kembali batas buku kemala hijau tersebut.

“Kau toh memang orang plin plan, apanya yang musti diherankan?” kedengaran Si Leng jin berkata sambil tertawa.

Sebenarnya kapan saja dan dimana saja nona ini selalu diliputi kemurungan dan kesedihan, seakan-akan tak pernah ia ketahui tingginya langit dan tebalnya bumi, dan seolah-olah pula tak tahu kalau didunia ini penuh kegembiraan. Sekalipun jauh berbeda bila dibandingkan dengan sikap dingin dari Bwee-Su yok, namun toh sama-sama menimbulkan kesan bagi siapapun bahwa mereka adalah orang-orang yang tak bisa diajak bergaul.

Tapi setelah tersenyum sekarang, ibaratnya matahari yang tiba tiba muncul dimusim salju yang dingin, seketika melumerkan perasaan beku siapa-pun dan mendatangkan perasaan hangat.

Senyumannya begitu bebas, begitu lebar dan muncul dari sanubari yang dalam, hal ini membuat gadis itu tampak lebih cantik, lebih menawan dan mempersonakan hati siapapua juga.

Hoa In-liong ikut berseri oleh kegirangan, segera ia berpikir, “Entah persoalan apa yang membuat ia murung kesal dan selalu bersedih hati? Padahal dia lebih cocok merupakan seorang gadis periang yang selalu gembira, kemurungan dan kesedihan cuma menimbulkan kesan aneh bagi siapa pun yang memandangnya….”

Hoa In-liong merasa kemurungan dan kesedihan yang sepanjang tahun menyelimuti gadis itu hanya merupakan siksaan yang paling kejam, ia ingin menanggulangi hal itu bagi si nona.

00000O00000

39

NONA, bolehkah aku mengetahui riwayat hidupmu….?” katanya kemudian dengan nada lirih. “Soal itu tak usah disinggung!” tukas Si Leng jin dengan cepat.

Sesudah berhenti sebentar, katanya kembali dengan suara sedih, “Sebetulnya aku tidak ingin mengatakannya kepadamu, tapi sekarang, aku sudah berubuh pikiran.

“Memang lebih baik kau katakan kepadaku, sebab dengan begitu akan mengurangi pula siksaan batinmu” ujar Hoa In- liong lembut.

Si Leng jin mengangguk lirih, tiba-tiba ia tertawa. “Ada baiknya kuceritakan dulu secara ringkas soal

organisasi dalam perkumpulan Hian-beng-kauw” katanya.

Setelah berpikir sebentar, ia berkata lagi, “Dibawah kekuasaan Hian-beng-kauwcu, agaknya masih terdapat seorang Hu kaucu….”

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Hoa In- liong, tiba-tiba selanya, “Siapakah nama Hu kaucu tersebut?”

“Aku hanya mendengar orang memanggilnya sebagai Go hu kaucu, siapakah nama yang sebenarnya aku kurang bsgitu tahu”

“Oooh….rupanya suami Thia siok bi adalah Hu kaucu perkumpulan Hian-beng-kauw saat ini” pikir Hoa In-liong, “tak aneh kalau ia seperti segan untuk membicarakan masalah itu, akan tetapi Hong giok….”

Kedengaran Si Leng jin melanjutkan kembali kata-katanya, “Lebih ke bawah lagi adalah Pemimpin Markas besar, thamcu ruang langit, thamcu ruang bumi dan thamcu ruang manusia, tiap ruang terbagi pula dalam sektor sektor bagian luar dan bagian dalam, setiap bagian mempunyai kantor-kantor cabang disetiap wilayah, rata-rata mereka adalah kawanan jago yang memiliki ilmu tinggi. Yang paling luar biasa adalah sekawanan manusia aneh yang dipelihara dalam istana Ban yu tian, setiap jago yang ada disitu semuanya merupakan jago-jago lihay yang berilmu tinggi….”

Mendengar keterangan terssbut, Hoa In-liong segera berpikir didalam hati, “Konon dalam istana Kiu ci kiong tempo dulu juga terdapat istana Ban yu tian, jikalau iblis itu mengangkat dirinya sebagai Kiu ci-sinkun, tentu saja istana yang dibangunpun akan mirip pula dengan istana Kiu ci kiong tempo dulu….”

Setelah berpikir sampai disitu, ia lantas bertanya, “Selihay- lihaynya ilmu silat yang dimiliki kawanan manusia aneh tersebut, rasanya kepandaian mereka tentu berada dibawah kepandaian Hian-beng-kauwcu sendiri bukan?”

Si Leng jin tertegun kemudian sahutnya, “Yaa….sudah tentu kepandaian silat mereka berada dibawah kepandaian Hian-beng-kauwcu sendiri”

Tiba-tiba Hoa In-liong menengadah dan tertawa terbahak- bahak.

“Haaahhh….haaahh….haaahh….kalau toh kawanan manusia itu tidak lebih hanya budak-budak peliharaan Hian-beng- kauwcu, pantaskah mereka disebut sebagai sekawanan manusia aneh?”

Baru saja Si Leng jin tertegun dibuatnya, mendadak….” Sreceeett!” serentetan desingan angin tajam menyambar masuk kedalam ruangan dan langsung menyergap tubuh Hoa In-liong. Jelek-jelek Hoa In-liong terhitung seorang jago yang sangat tanagguh, sudah barang tentu ia tidak membiarkan badannya termasuk oleh sambitan tersebut, kepalanya segera dimiringkan ke samping, dengan sedikitpun tidak panik atau gugup ia membiarkan serangan tadi lewat dari sisinya.

“Plaaaakk….!” batu itu melesat lewat dan menghantam dinding pintu ruangan.

Gelak tertawa nyaring segera berkumandang memecahkan kesunyian, seseorang berseru dari luar jendela, “Bocah muda, kau berani sembarangan berbicara, caramu itu sudah sepantasnya kalau diberi pelajaran yang setimpal”

Secepat sambaran kilat Hoa In-liong melompat keluar lewat jendela, lalu bertanya, “Hei bukankah kau hendak memberi pelajaran kepadaku? Kenapa kabur dari sini?”

Bentakan tersebut diutarakan bagaikan guntur yang membelah angkasa, seluruh penginapan dibuat menjadi gaduh dan tamu-tamu yang menginap disitupun tersentak bangun.

Meski demikian tak seorangpun yang berisik atau bersuara, sebab mereka tahu pertikaian antara kawanan manusia dari dunia persilatan tak boleh dicampuri, karenanya suasana masih tetap hening dan sepi.

Hoa In-liong sudah melompat keatas atap rumah, dari kejauhan sana ia menyaksikan sesosok bayangan sedang meluncur kearah timur laut, satu ingatan cepat melintas dalam benaknya, pengejaran segera dilakukan.

“Hoa kongcu….” tiba-tiba kedengaran Si Leng jin berteriak memanggil. Hoa In-liong segera menghentikan langkah kakinya, seraya berpaling ia berkata, “Nona Si, orang itu harus dilenyapkan dari muka bumi, kembalilah ke kamarmu dan tunggu aku disitu.”

Sementara pembicaraan sedang berlangsung, bayangan manusia itu sudah berkelebat diatas dinding kota sana lalu lenyap.

Pemuda itu sangat gelisah, sekuat tenaga ia melakukan pengejaran.

Tiba-tiba di atas dinding kota, bayangan manusia itu kelihatan sedang berlarian puluhan tombak jauhnya didepan sana, ia segera mengerahkan segenap tenaganya untuk mengejar.

Ia tak mau kehilangan jejak orang itu, sebab kalau didengar dari nada perkataannya jelas orang itu anggota Hian- beng-kauw, berbahaya sekali keselamatan Si Leng jin berdua bila orang ini dibiarkan kabur.

Pengejaran dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, dalam waktu singkat kota Si ciu sudah jauh ketinggalan.

Pengejaran kembali dilakukan sekian waktu, mendadak Hoa In-liong menyaksikan bayangan manusia didepan sana berhenti.

“Berbicara dari ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu. jelas ia adalah seorang jago yang sangat tangguh” pikir anak muda itu kemudian. “Bukan pekerjaan yang ringan bagiku bila ingin merebut kemenangan darinya….” Sementara otaknya masih berputar, ia sudah berada dihadapan orang itu, ternyata dia adalah seorang kakek berbaju hijau yang bermuka merah seperti apel masak.

Kedengaran kakek berjubah hijau itu tertawa terbahak- bahak.

“Haaahh….haaahh….haaahh….bocah muda, mau apa kau susul diriku?”

Hoa In-liong segera menghentikan langkahnya.

“Tak ada gunanya banyak membicarakan soal yang tak berguna, aku hanya ingin bertanya kepadamu, mau kusekap sementara waktu ataukah hendak terkubur selamanya disini?”

Ucapan tersebut diucapkan amat santai dan enteng, seakan-akan ia tidak memandang sebelah matapun terhadap musuhnya.

Berkobar hawa amarah kakek itu, dengan suara keras bentaknya, “Bocah keparat, kau terlalu latah, aku….”

Mendadak ia seperti menyadari sesuatu, sambil tertawa terbahak bahak katanya kemudian, “Licik betul kau si bocah muda, jelek-jelek begini asam garam yang pernah kumakan jauh lebih banyak darimu, memangnya kau anggap perahuku bakal terjungkir dalam selokan?”

Hoa In-liong memang bermaksud memanasi hatinya sehingga kesadarannya agak terganggu, apabila hal ini sampai terjadi maka kemenangan tentu lebih mudah diraih untuk pihaknya. Namun dia harus mengakui juga kepintaran kakek tersebut, ia memuji atas ketelitiannya disamping memperingati diri sendiri agar jangan terlampau memandang enteng lawan.

Pedang antiknya segera dicabut keluar, lalu katanya, “Akupun bicara yang sesungguhnya, mau dituruti atau tidak terserah kepadamu!”

Kakek berjubah hitam itu memandang pedang antik itu sekejap, lalu katanya, “Apakah sudah bersiap sedia untuk melakukan duel satu lawan satu denganku?”

“Kalau kau sudah tahu, itu lebih bagus”

Pedangnya segera diputar sambil melancarkan bacokan ke depan.

Kakek itu tidak melirik barang sekejappun terhadap lawannya, sikapnya begitu santai seakan-akan tak pernah terjadi suatu apapun, kemudian sambil menengadah tertawa terbahak-bahak.

“Sayang….sungguh amat sayang!”

Sekalipun Hoa In-liong orangnya aneh dan binal, jiwanya tetap gagah dan perkasa, karena kakek berjubah hijau itu tidak menangkis maupun berkelit dari serangannya.

“Apa yang patut disayangkan?” tegurnya.

“Kau anggap siapakah lohu ini?” tanya Kakek berjubah hijau sambil menarik kembali gelak tertawanya.

“Mungkin kau adalah salah seorang diantara kawanan manusia yang dipelihara Hian-beng-kauwcu dalam istana Ban yu tian” “Sayang….sayang…. lohu merasa sayang bagimu, sebelum duduknya persoalan diketahui dengan jelas, ternyata kau sudah melakukan perbuatan seenaknya sendiri, padahal kau harus tahu, dalam situasi yang amat berbahaya ini, yang paling kau utamakan adalah ketelitian….”

Diam-diam Hoa In-liong tertawa dingin, lalu ejeknya, “Waah….lagaknya saja seperti seorang cianpwe yang sedang menasehati anak muda…. Hmm, sebutkan dulu siapa namamu!”

“Kita kan tidak akan melakukan hubungan? Buat apa musti melaporkan nama segala?”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya, lalu menjawab, “Sayang keadaan tidak mengijinkan kau menuruti kehendak sendiri, bagaimanapun juga malam ini aku hendak menjajal kepandaianmu!”

Bagaimana selanjutnya? Dan siapakah kakek berjubah hijau itu? Benarkah dia adalah salah satu diantara kawanan manusia aneh yang dipelihara Hian-beng-kauwcu dalam istana Ban yu tian nya?

Siapa pula Hian-beng-kauwcu yang mempunyai dendam lebih dalam dari samudra dengan keluarga Hoa itu?

Untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, silahkan mengikuti lanjutan dari cerita ini dalam judul barunya, “NERAKA HITAM”

TAMAT