Rahasia Hiolo Kumala Jilid 34

Jilid 34

TIANG HENG TO KOH tertawa dingin.

“Aaah…. kamu si setan cilik, terlalu banyak akal busukmu, kali ini bibi Ku kuatir terperangkap lagi, maka lebih baik tidak kusapa dirimu….

Suara pembicaraan tersebui makin lama berkumandang semakin lirih, dan akhirnya tak kedengaran lagi, jelas Tiang heng To koh sudah berlalu dari sana.

Setelah kepergian dua orang perempuan itu, Goan cing taysu kembali berpaling kearah Cia In, lalu ujarnya, “Nona Cia, kalau toh gurumu sudah berkata begitu, apakah kau bersedia mengikuti lolap selama beberapa hari?”

“Bila cianpwe bersedia mtnampung diriku, hal ini merupakan suatu keuntungan besar buat siau-li” jawab Cia In sambil bungkukkan badan meranti hormat.

Tiba-tiba Coa Wi-wi mengomel lagi, “Kongkong, kenapa kau biarkan orang-orang Mo kau itu pergi dengan begitu saja?”

Goan cing taysu menghela napas, bukannya menjawab dia malahan balik bertanya, “Anak Wi, kau yakin dengan ilmu kepandaianmu, berapa orang ysng bisa kau hadapi?” “Untuk menghadapi dua orang setan tua she Leng hou itu, anak Wi yakin masih bisa mengatasinya jawab Coa Wi-wi setelah termenung dan berpikir sebentar.

Hoa In-liong gelisah sekali, dia tidak berminat mengikuti pembicaraan itu, kembali pikirnya, “Waaah…. kenapa pembicaraan ini belum berakhir juga?” Tampaknya To koh tadi atau gurunya Wan Hong giok menaruh perasaan kurang senang terhadap diriku, kalau terlambat kesana bisa jadi kemarahannya akan semakin memuncak tapi….”

Tiba-tiba Goan cing taysu memotong lamunannya, “Anak Liong, yakinkah kau untuk menghadapi Tang kwik Siu?”

“Meskipun anak Liong sudah memperoleh bimbingan serta bantuan kongkong, tapi aku yakin kepandaianku setingkat masih berada dibawahnya”

Goan cing taysu alihkan kembali perhatiannya ke wajah Cia In dan Cia Sau-ay sekalian belasan orang nona.

“Dan sekalian nona….” lanjutnya.

“Harap cianpwe jangan menyertakan siau-li sekalian” tukas Cia In sambil gelengkan kepalanya berulang kali, “kami tidak mempunya kepandaian apa-apa, paling banter juga cuma bisa membantu berteriak sambil memberi semangat, atau kalau terpaksapun hanya dapat menahan kaum keroco dari Mo kau”

“Ah, nona sekalian terlalu sungkan” kata Goan cing taysu sambil tersenyum.

Setelah berhenti sebentar, dia berkata legi “Berbicara sesungguhnya, bukan lolap sengaja memandang hina orang lain, tapi yang jelas To yu tadi juga bukan tandingan dari Tang kwik Siu, kalau sampai terjadi pertarungan massal, bukan saja sisa anggota Mo kau akan turun tangan semua, pihak Hian-beng-kauw juga tak mungkin hanya berpeluk tangan belaka”

“Tapi…. kenapa kongkong melupakan dirimu sendiri?” seru Coa Wi-wi tercengang.

Mendengar pertanyaan ini, Goan cing taysu tertawa getir. “Lolap sudah tak punya kekuatan lagi, pada hakekatnya

keadanku sekarang jauh lebih lemah dari seorang manusia biasa!”

Kontun saja ucapan tersebut seruan tertahan dan keluan heran dari Coa Wi-wi serta sekalian nona nona dari Cian li kau.

Hoa In-liong juga tercengang, dengan kaget serunya agak terbata-bata, “Tentu….tentunya…. anak Lionglah penyebabnya, anak Liong lah yang telah mencelakai kongkong…. “

“Pada hakekaknya apa yang ada sebetulnya tak ada, apa yang ada sebetulnya ada, siapa bilang engkau yang mencelakai diriku?” jawab Goan cing taysu dengan lembut, anak Liong, aku cuma bisa berharap kau melatih diri lebih tekun, sehingga tidak menyia-nyiakan pertemuan kita kali ini”

Hoa In-liong cuma bisa mengiakan berulang kali. “Kongkong, sebetulnya apa yang telah terjadi dengan

dirimu?” seru Coa Wi-wi lagi dengar cemas. “Tidak apa-apa, asal beritirahat sebentar niscaya tenagaku akan pulih kembali”

Berbicara sampai disitu, Goan cing taysu segera mengulapkan tangannya.

“Anak Liong, kau boleh pergi lebih dulu, bukankah To yu itu menunggu kedatangan di kaki bukit?”

“Betul kongkong!” jawab Hoa In-liong tergagap, tapi keadaan kongkong sekarang….”

Goan cing taysu tertawa. “Lolap baik sekali!” tukasnya.

Hoa In-liong kembali ragu-ragu sebentar, dia berpaling memandang ke arah Coa Wi-wi, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu kemudian dibatalkan.

Sesudah sangsi sejenak, akhirnya dia menjadi nekad, tiba- tiba serunya, “Adik Wi, baik-baiklah menjaga diri!”

Kemudian sambil memberi hormat kepada Cia In sekalian, ujarnya pula lebih lanjut, “Cici sekalian, terima kasih banyak atas bantuan kalian! Sebagai orang sekeluarga rasanya siau te pun tak usah banyak berbicara bukan?”

“Jiko, tunggu sebentar!” tiba-tiba Coa Wi wi berteriak keras, Lalu dia berpaling dan katanya kepada Goan cing taysu, “Kongkong, bagaimana kalau kutemani jiko lebih dahulu?”

Goan cing taysu tertawa ringan. “Masa kau tidak dapat menangkap maksud sebenarnya dari To yu itu? Dia hanya berharap jiko mu bisa menjumpainya seorang diri, kalau kaupun turut serta, belum tentu kehadiranmu akan disambut dengan senang hati….!”

Lalu dia ilapkan tangannya kepada Hoa In-liong sambil serunya kembali, “Nah, cepatlah pergi!”

Sekiali lagi Hoa In-liong melirik sekejap kearah Coa Wi wi, kemudian dia putar badan dan cepat-cepat berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Coa Wi-wi menncibirkan bibirnya yang kecil mungil, jelas nona itu lagi tak senang hati.

Cia Sau ay mendepak-depakkan pula kakinya dengan gemas, sambil melirik sekejap ke arah Cia lIn, bisiknya jengkel”

“Huuuh….! Betul-betul hatinya sudah busuk!”

Cia In cuma tertawa mendengar omelan saudara seperguruannya itu, katanya kemudian, “Ji sumoay, sekarang kaupun harus memimpin sumoay-sumoay sekalian pulang ke rumah!”

Sementara itu Hoa In-liong sudah tiba di kaki bukit, dari tempat kejauhan dia sudah menyaksikan Thia Siok bi berdiri dibawah sebatang pohon kui.

Sebenarnya dia hendak menyapa To koh itu, tapi ketika dilihatnya Thia Siok bi hanya melirik sekejap kearahnya dengan dingin, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun meninggalkan tempat itu, terpaksa ia telan kembali kata- katanya dan mengikuti dengan mulut membungkam. Suasana tetap hening dan diliputi kebungkaman meski sudah menyeberangi sungai Tiang-kang dan meneruskan perjalanan melalui jalau raya menuju ke Hway-im.

Lama kelamaan habis sudah kesabaran Hoa In-liong, akhirnya dia menegur, “Cianpwe, bagaimanakah keadaan nona Wan?”

Thia Siok bi pura-pura tidak mendengar, setelah hening kembali sesaat dia baru menjawab dengan serius, “Pokoknya dia masih dapat bernapas!”

“Waduh, alot benar perkataan ciaapwe ini” pikir Hoa In- liong, “rupanya dia sudah menaruh kesan yang kurang baik kepadaku, atau memang wataknya yang begitu….”

Dia tertawa paksa, lalu bertanya lagi, “Cianpwe, boleh aku tahu kini nona Wan berada dimana?”

Thia Siok bi hanya mendengus, tiada jawaban yang terdengar.

Setelah ketanggor batunya, Hoa In-liong tidak banyak bertanya lagi, dengan kepala tertunduk dia melanjutkan berjalan.

Begitulah, yang satu berjalan didepan sedang yang lain mengikuti dibelakang bagaikan gulung asap ringan mereka berlarian dijalan raya tersebut.

Dengan kepandaian silat yang mereka berdua miliki tentu saja kecepatan gerak mereka sangat luar biasa, bagi orang awam biasa, mereka hanya merasakan berhembusnya angin dingin, ketika mereka mengadah, tahu-tahu dua orang itu sudah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat mereka berada.

Waktu itu tengah hari baru menjelang, terik panasnya matahari terasa menyengat badan.

Tiba-tiba Thia Siok bi memperlambat gerakan tubuhnya, lalu birkata dengan suara dingin, “Pinto masih ingat didepan sana terdapat sebuah warung makan, kita bersantap dulu sebelum melanjutkan perjalanan!”

“Tapi boanpwe belum lapar” sahut Hoa In-liong sambil memperlambat pula langkah kakinya.

Padahal semenjak kemarin malam dia belum mengisi perut, apalagi setelah berlangsungnya pertarungan sengit, perutnya semenjak tadi sudah gemerutukan minta diisi.

“Kau tidak lapar, aku toh lapari” kata Thia Siok bi tiba-tiba dengan nada yang ketus.

Hoa In-liong tertegun, menyusul kemudian sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya.

Meskipun cianpwe ini mempunyai watak yang dingin dan tak sedap, rupanya dia cukup memahami perasaan orang….” demikian pikirnya.

Tak lama kemudian, dari tempat kejauhan muncul tanah hijau yang amat rindang, banyak warung makan berjajar ditepi jalan.

Kedua orang itu semakin memperlambat langkah kakinya, mengikuti orang-orang yang lain mereka masuk kewarung dan mencari tempat duduk. Warung warung darurat yang didirikau disepanjang jalan itu meski terbuat dari bambu alat-alat makan yang dipakaikan sudah kelewat jaman, tapi suasananya amat nyaman, udarapun terasa segar, suatu tempat beristirahat yang amat serasi.

Hoa In-liong mencoba untuk memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, ia lihat sebagian besar tamu dalam warung itu adalah kaum pedagang serta kaum pelancong, tidak kelihatan seorang jago persilatan pun.

Ketika orang-orang dalam warung itu menjumpai munculnya seorang pemuda tampan bersama seorang To koh setengah umur, mereka hanya memandang sekejap lalu melanjutkan daharan masing-masing, tak seorang pun berani memperhatikan lebih lama.

Rupanya sang pelayan juga mengetahui kalau kedua orang tamunya adalah jago-jago persilatan, tergopoh-gopoh ia menyiapkan hidangan untuk tamu istimewanya itu.

Sambil hersantap, Hoa In-liong bertanya, “Cianpwe, selama ini kau berdiam dimana? Kalau tak ada urusan lain, bersediakan main selama beberapa hari dirumahku?”

Thia Siok bi meletakkan sumpitnya dan menjawab dingin, “Aku akan tinggal diluar perbatasan!”

Hoa In-liong tertegun, sampai sumpit dan mangkuknya diletakkan kembali kemeja.

“Bukankah cianpwe telah bentrok dengan pihak Hian-beng- kauw? Aku lihat Toan bok See liang dan Beng Wi cian menaruh perasaan benci dan mendendam terhadap diri cianpwe?” “Tak usah kuatir, meskipun pinto berada dimulut harimau, tapi kedudukanku sekokoh bukit Thay-san”

Menyaksikan To koh tersebut, kembali Hoa In-liong berpikir didalam hatinya, “Dia begitu tenang, sedikit pun tidak gugup atau panik meski mara bahaya telah berada didepan mata, jangan-jangan hubungannya dengan Hian-beng-kauw memang mendalam sekali?”

Maka sesudah termenung sejenak, dia bertanya lagi, “Apakah cianpwe kenal dengan salah seorang dari anggota Hian-beng-kauw….?”

Sebetulnya Thia Siok bi tidak ingin menjawab, tapi diapun merasa tak tega untuk mendiamkan pemuda itu, akhirnya setelah termenung jawabnya secara diplomatis, “Yaa, pinto memang mempunyai hubungan dengan seseorang dari perkumpulan tersebut!”

Dengan kaucu nya?”

Thia Siok bi segera menggeleng.

“Tapi orang itu pasti mempunyai kedudukan jauh diatas Toan bok See liang dan Beng Wi cian bukan?” desak Hoa In- liong lebih jauh.

“Kau tak perlu memancing-mancing dengan cara itu, percuma usahamu itu bakal sia-sia belaka sebab pinto tak mungkin akan buka suara, mengenai keadaan dalam perkumpulan Hian-beng-kauw….”

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, “Nak, tentunya kau tidak membiarkan pinto menjadi seorang kurcaci penjual teman kan?” oooooOooooo 35

SETELAH To koh itu mengutarakan alasannya, tentu saja Hoa In-liong tak dapat mendesak lebih jauh, sebab bila ia sampai berbuat demikian sama artinya dengan ia memaksa To koh itu menjadi seorang penjahat penjual teman. Hoa In-liong tersenyum.

“Perkataan cianpwe terlampau serius, sekalipun boanpwe mempunyai nyali sebesar gajah, tak nanti aku berani berbuat demikian” katanya.

“Kalau begitu janganlah bertanya”

“Baik!” jawab Hoa In-liong sambil tertawa lirih.

“Hei, apa yang kau tertawakan?” kembali Thia Siok bi menegur dengan wajah membesi, “tak usah menggunakan akal setan untuk menjebak aku, sebab kalau ingin memancing sepotong kata dari mulut pinto adalah percuma, lebih baik kau tak usah bermimpi disiang hari bolong”

“Aku kuatir cianpwe marah, tak berani ku utarakan!” kata Hoa-In-liong kemudian.

Thia Siok bi berpikir sebentar, lantas pikirnya, “Aku jadi ingin tahu soal apakah yang membuat ia tertawa kegelian….”

Karena ingin tahu, dengan kening berkerut dia pun berkata, “Coba katakanlah secara terus terang, pinto berjanji tidak akan marah….!”

Diam-diam Hoa-In-liong tertawa geli, tapi diluaran dia berpura-pura apa boleh buat, katanya setengah terpaksa, “Cianpwe, bukan aku yaog ingin bicara tapi cianpwe yang memaksa aku untuk mengutarakan lho.”

“Sudah tak usah main akal-akalan lagi hayo cepat katakan!” tukas Thia Siok bi setengah memaksa.

Dengan senyum dikulum ujar Hoa In-liong, “Boanpwe sedang berpikir, mungkinkah sahabat cianpwe yang berada dalam perkumpulan Hian-beng-kauw itu adalah seorang manusia dari marga Go….”

Begitu kata Go disinggung, paras muka Thia Siok bi kontan berubah hebat. Melihat gelagat itu buru-buru Hoa In-liong tutup mulut.

Setelah hening sesaat, paras muka Thia Siok bi pelan-pelan menjadi lembut kembali, katanya, “Sejak semula pinto sudah banyak mendengar otang berkata bahwa engkau itu licik dan banyak tipu muslihatnya, pada hakekatnya kau adalah seekor kancil yang sukar dilawan. Pada mulanya aku masih belum percaya, tapi sekarang aku baru tahu bahwa berita itu bukan cuma kabar berita kosong belaka”

“Agaknya dugaanku memang tak salah!” pikir Hoa In-liong, “jelas orang yang dimaksudkan sebagai sahabatnya dalam Hian-beng-kauw pada hakekatnya tak lain adalah bekas suaminya”

Meski dia berpikir demikian dihati kecilnya, tapi diluaran pemuda itu berkata lain, “Cianpwe, aku cuma mendengar kabar itu dari orang lain, tentu saja belum tentu benar.

Jelek-jelek begini boanpwe toh seorang pemuda yang gagah dan berterus terang….” “Gagah dan terus terang?” Thia Siok bi tertawa kegelian, “bocah wahai bocah, kau memang tak tahu malu, masa ada orang memuji diri sendiri? Baru kali ini kutemui orang bermuka tebal seperti kau”

Hoa In-liong semakin gembira lagi karena To koh itu tak menunjukkan rasa gusar, sambil tertawa cekikikan katanya.

“Cianpwe kau telah berjanji tak akan marah, kenapa kau telah menjadi cemburu? Wah, saking tak tenangnya hampir saja jantung boanpwe ikut copot, untungnya….”

Thia Siok-bi tak dapat menahan rasa gelinya lagi, dia tertawa terkekeh-kekeh, hardiknya, “Masa orang seperti kau bisa merasa tak tenang? Huuh, kalau matahari bisa terbit dari langit barat, aku baru akan percaya”

Lantaran tujuannya sudah tercapai, Hoa In-liong tidak mendesak lebih lanjut, sambil tersenyum ia melanjutkan kembali santapannya.

Thia Siak bi tidak berbicara pula, ia meneruskan santapannya dengan kepala tertunduk.

Meskipun tidak mempunyai gelar kependetaan, Thia Siok bi termasuk seorang pengikut agama To yang saleh, dia pantang minum arak, takaran perutnya juga kecil hanya semangkuk nasi sudah cukup mengenyangkan perutnya.

Hoa In-liong sendiri, walaupun besar takaran makannya tapi dia bersantap dengan cepat, sejak tadi dia sudah berhenti makan karena kenyang.

Diatas meja tersedia juga sepoci arak, padahal pemuda itu gemar minum, tapi lantaran berada dihadapan Thia Siok bi, sebelum To koh itu memberi ijin dia tidak menyentuh barang secawan-pun melainkan sambil menggoyang goyangkan kipasnya dia sabar menanti.

Thia Siok bi melirik sekejap kearahnya, kemudian berpikir, “Bocah ini terlampau cerdik, dan lagi mempunyai waktu yang cukup ulet, tampaknya sebelum kusinggung sedikit rahasia yang dia inginkan, tak mungkin bocah ini akan berdiam diri”

Karena berpikir demikian diapun berkata.

“Tampaknya pinto memang tak bisa menangkan dirimu, apa yang ingin kau ketahui? Nah katakanlah!”

Sambil menyimpan kembali kipasnya jawab Hoa In-liong, “Kalau dibicarakan sesungguhnya memalukan sekali, meskipun boanpwe dan pihak Hian-beng-kauw sudah berulang kali terjadi adu kekuatan, tapi hingga kini aku masih belum mengetahui siapakah kaucu mereka….”

“Maaf, maaf!” tukas Thia Siok bi sambil goyangkan tangannya berulang kali, “aku sudah terlanjur punya janji, sehingga rahasia ini tak mungkin kubongkar. Buat apa buru- buru ingin tahu? Cepat atau lambat kan kau bakal tahu?”

Sesudah berhenti sebentar, dia menambahkan, “Pinto hanya bisa memberitabukan kepadamu kalau orang ini mempunyai dendam sakit hati sedalam lautan dengan keluargamu”

“Aaah….omongan semacam ini bukankah sama artinya dengan perkataan yang tak ada gunanya?” pikir Hoa In-liong, “tidak sedikit gembong iblis yang mampus ditangan nenek dan ayahku dimasa lalu, siapa tahu Hian-beng Kaucu itu murid siapa?” Karena ia tak bisa menebak siapa gerangan Hian-beng Kaucu itu, lagipula Thia Siok bi juga tidak bersedia memberitahukan rahasia ini, terpaksa ia bertanya lagi, “Betulkah markas besar perkumpulan Hian-beng-kauw terletak di bukit Gi hong san?”

“Darimana kau dapatkan berita? tanya Thia Siok bi tercengang.

“Oooh…. aku tidak memperolehnya dari siapapun, seorang sahabat boanpwe lah yang berhasil menyelidikinya sendiri, hanya saja betul atau tidak, harap cianpws beri petunjuk kepadaku”

Thia Siok bi termenung sebentar, lalu dengan nada minta maaf katanya lirih, “Aaai….mengenai soal itu, pinto hanya bisa minta maaf, sebab aku benar-benar tak dapat memberi pertanda atau ketegasan apa-apa, maafkanlah daku!”

Sepintas lalu meskipun ucapan itu kedengaranoya tidak memberi petunjuk apa-apa, padahal kalau dicamkan lebih dalam dapat diartikan pula sebagai satu pengakuan yang mengatakan bahwa dugaan pemuda itu memang benar, Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu ujarnya sambil tertawa, “Waaah…. kalau begitu banyak masalah yang cianpwe, kuatirkan aku jadi bingung sendiri persolan yang manakah yang harus kutanyakan….”.

Thia Siok bi kembali termenung beberapa saat lamanya. “Pinto hanya dapat memberitahukan satu hal kepadamu

katanya kemudian.

“Silahkan diucapkan cianpwe!” ujar Hoa In-liong dengan wajah serius. “Rasa benci Hian-beng Kaucu terhadap keluargamu boleh dibilang lebih dalam dari samudra, entah darimana kemampuan yang dimiliki, ternyata dia dapat mengundang munculnya beberapa orang gembong iblis sakti untuk membantu pihaknya.

“Sekalipun dia mempunyai jago-jago iblis sakti, memangnya keluarga Hoa dari Im-tiong-san tak anggup uutuk mengatasinya?” pikir Hoa In-liong didalam hati.

Ketika Thia Siok bi menyaksikan sikap acuh tak acuh dari anak muda itu, dengan suara dalam dia lantas menegur, “Hoa Yang, apakah kau lupa dengan ajaran ku to yang mengatakan bahwa orang yang tekebur selamanya pasti kalah?”

Hoa In-Iiong terperanjat, wajahnya berubah menjadi serius kembali.

“Aku yang muda mohon petunjuk!”

“Kau jangan terlampau pandang remeh manusia-manusia itu, sebab kendatipun ayahmu sendiri, bila sudah mengetahui kekuatan yang dimiliki Hian-beng-kauw dewasa ini, belum tentu dia sanggup untuk mengatasinya….!”

Rupanya To koh setengah umur ini tak berani terlalu banyak berbicara, sampai diseparuh jalan, tiba-tiba saja perkataannya terhenti.

Melihat itu, kembali Hoa In-liong berpikir, “Kau dilihat dari sikapnya itu, jelas janjinya antara dia dengan Hian-beng-kauw mencakup pula janji dari Hian-beng-kauw yang tak akan menganggu dirinya, sebaliknya diapun tak boleh membocorkan rahasia dari Hian-beng-kauw. Aaa…. kalau begini ketat dia pegang rahasia, jangan harap aku akan berhasil untuk mendapatkan berita penting” Tiba-tiba Thia Siok bi berkata lagi, “Tampaknya orang tua dari nona Coa itu sudah terjatuh ketangan orang-orang Mo kau, cuma anehnya, meski suhengnya Tang kwik Siu adalah seorang jago yang hebat, Goan cing taysu bukannya tak mampu mengatasinya, tapi kenapa Goan cing taysu justru membiarkan mereka pergi dengan begitu saja? Apakah engkau tahu apa sebabnya?”

“Kalau dugaanku tak salah, hal ini sebagian besar dikarenakan beliau sudah kehilangan hampir sebagian besar tenaganya karena harus membantu aku untuk mendesak keluar daya kerjanya racun keji dari dalam tubuh, oleh karena beliau merasa bahwa tenaga dalam yang dimilikinya sudah tak cukup untuk merobohkan orang-orang Mo kau, terpaksa mereka dibiarkan pergi dengan begitu saja. Aaai…. seandainya empek Coa sampai terjadi apa-apa, akulah penyebab yang mengakibatkan dia menderita”

“Ibaratnya nasi sudah menjadi bubur, toh urusannya telah berkembang menjadi begini, menyesali diri sendiri juga tak ada gunanya” hibur Thia Siok bi.

Setelah berhenti sebentar dia bertanya lagi, “Jikalau tenaga dalamnya memang sebagian besar telah lenyap, kenapa dia masih sanggup untuk mendemontrasikan ilmu Lian tay siu- tok (menyeberang lintas mimbar teratai) dan Kou sim ciong (genta pengetuk hati) dua macam ilmu maha sakti itu?”

Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu jawabnya, “Rupanya dia orang tua telah menggunakan sisa tenaga dalam yang berhasil dihimpunnya dari sela-sela tubuhnya, cuma keadaan tersebut rupanya berhasil diketahui oleh Seng To cu, karena itulah dia baru mengucapkan kata-kata sepeti bagaikan sedang minum air panas atau dingin, yang minumlah yang tahu” Diam-diam Thia Siok bi manggut-manggut, dia merasa bagaimanapun juga orang asal Liok soat Ban ceng memang merupakan kawanan manusia yang luar biasa. Dia menghela napas berat.

“Aaai….Seng To cu itu terhitung pula seorang manusia yang hebat, kalau sampai membiarkan Mo kau dan Hian-beng- kauw bekerja-sama, bukankah kedudukanmu menjadi berbahaya sekali?”

Tiba-tiba dia tertawa dan menambahkan, “Aaah….belum tentu benar pembicaraan kita ini, jangankan Seng To cu belum tentu mengetahui rahasia tersebut, sekalipun mengetahui dengan yakin toh dia tetap kuatir untuk bertarung melawan Goan cing taysu, bukankah demikian?”

“Persoalan ini sangat rahasia dan besar sekali artinya, harap cianpwe, jangan membocorkan kepada siapapun” tiba- tiba Hoa In-liong meminta dengan sangat.

“Aaah….!Kamu ini menganggap pinto itu manusia macam apa?” Thia Siok bi rada uring-uringan.

Hoa In-liong menjadi tersipu-sipu sendiri, terpaksa dia tertawa.

“Bila dilihat dari cara cianpwe ini menutup rahasia Hian- beng-kauw, jelas dia adalah seorang manusia yang dapat dipercaya” demikian ia berpikir dihati, “yaa, perkataanku barusan memang berlebihan, bukan kebaikan yang diperoleh aku justru malah menimbulkan ketidak senangan dalam hatinya”

Baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba berkumandang suara derap kaki kuda yang ramai diselingi bunyi keleningan, mula mula suara itu kedengaran masih jauh, tapi dalam waktu singkat sudah makin mendekat, suaranya memekikkan telinga malah dilihat dari gerakan tersebut, jelas kuda-kuda itu merupakan kuda jempolan yang bisa menempuh seribu li dalam sehari.

Sebagai orang persilatan, tidak terkecuali Hoa In-liong maupun Thia Siok bi kebanyakan memang menyukai kuda jempolan dan pedang mustika tanpa terasa mereka berpaling keluar warung.

Diantara debu yang beterbangan di angkasa tampak seekor kuda jempolan berlari mendekat dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Sedemikian cepatnya kuda itu lari, sampai dengan ketajaman mata Hoa In-liong pun dia hanya sempat menyaksikan kalau kuda itu berbulu hitam dan penunggangnya bertubuh ramping, jelas potongan badan seorang nona muda.

Sayangnya ia tak sempat menyaksikan raut wajah sinona itu sebab larinya kuda itu terlalu cepat, lagi pula ia memandang dari samping, hingga apa yang dilihat kurang begitu jelas.

Ketika mendengar derap kaki kuda yang ramai tadi, para tamu dalam warung bersama-sama melongok keluar pula, tapi namun mungkin mereka bisa menyaksikan sesuatu kecuali bayangan kuda, mereka cuma tahu kalau sesosok bayangan manusia duduk diatas pelana.

Setelah kuda hitam itu lewat, suasana menjidi gaduh, semua orang bersama sama mbiubicarakan kehebatan kuda tadi. Hoa In-liong sendiri juga teringat kembali akan kuda liong ji nya, setelah ditangkap Cia In dikota Keng-bun tempo hari, kuda itu tak diketahui lagi jejaknya, tapi dia tidak terlalu menguatirkan, se bab dia percaya bahwa liong ji sudah mengerti perasaan manusia, orang awam biasa tak mungkin bisa menungganginya, sedang jago silat tak akan lega untuk melukainya, kalau bertemu dengan rekan-rekan ayahnya, mereka pasti akan kenali pemilik kuda itu, atau kemungkinan juga kuda tersebut sudah pulang lebih dulu ke perkampungan Liok-Soat san ceng.

Sementara dia masih melamun, tiba-tiba terdengar Thia Siok bi berseru tertahan, “Hei, aneh benar! Kenapa budak, itu ikut datang?”

Telapak tangan kanannya segera menekan sisi meja, lalu bagaikan seekor burung raksasa dia melayang keluar dari warung makan itu.

“Cianpwe….” seru Hoa In-liong gelisah.

“Tunggu saja disitu sebentar!” tukas Siok bi dari kejauhan.

Sebetulnya Hoa In-liong sedang bangkit berdiri, tapi sesudah mendengar perkataan itu dia duduk kerrbali, pikirnya, “Aku saja tak dapat melihat jelas raut wajah nona itu, masa dengan tenaga dalam yang lebih rendah dari aku dia bisa melihat jelas siapakah orang itu? Ahh….betul orang itu pasti orang yang sangat dikenalnya, sebab itu meski sepintas lalu saja dia segera kenali orangnya”

Dalam pada itu, para tamu lainnya dalam warung itu hanya duduk terbelalak dengan mulut melongo, satu dua diantaranya sempat pula menarik Hoa In-liong, tampaknya mereka kuatir kalau pemuda itupun berubah menjidi burung dan ikut terbang, hingga untuk sesaat suasana jadi hening tak kedengaran sedikit suarapun.

Terhadap lirikan-lirikan dari para pelancong dan para pedagang, Hoa In-liong bersikap pura-pura tidak melihat, ia menunggu beberapa saat lagi, ketika Thia Siok bi yang ditunggu-tunggu belum datang juga, akhirnya ia putuskan untuk minum arak sambil membuang kekesalan.

Isi poci arak itu tidak terlalu banyak, tak lama kemudian sudah habis termiaum, maka diapun berseru, “Hei pelayan, minta satu poci arak lagi!”

Pelayan sudah bersiap siap disana sejak tadi, mendengar panggilan itu dia mengiakan dengan nada takut, sepoci arak baru dengan cepat sudah dihantarkan, sedang poci kosong diambil pergi.

Tergelak Hoa In-iioug melihat takut-takut dari pelayan itu, tegurnya, “Eeeh….memangnya aku ini malaikat jahat? Kenapa musti takut terhadapku?”

“Yaa….yaa….yaya memang malaikan bengis….! Sebenarnya pelayan itu hendak mengatakan kalau dia bukan malaikat bengis, siapa tahu saking gugupnya ia sampai salah berbicara punya mengatakan tidak, dia malah membenarkan karuan saja kontan mukanya jadi pucat pias seperti mayat.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dia mengeluarkan sekeping uang perak dan dilemparkan ke meja lalu berkata lagi, “Itu, boleb kauambil! Daripada kau tuduh aku ingin makan gratis”

Pelayan tersebut bungkukan badannya berulang kali. “Yaya, tak usah banyak-banyak, tak usah banyak-banyak” katanya lagi dengan gugup.

Padahal sejak tadi matanya, mengincar terus kepingan uang perak itu, kalau bisa sekali comot uang itu masuk ke saku sendiri.

Tentu saja Hoa In-liong dapat merasakan isi hati orang, kembali dia tertawa katanya sambil mengulapkan tangannya berulang kali, “Sana, bawa semua, sisanya untukmu!”

Buru-buru pelayan itu mencomot uang perak tadi kemudian mengucapkan terima kasih berulang kali, setelah itu buru-buru dia kabur kewarung belakang, seakan akan kuatir kalau Hoa In-liong menjadi menyesal.

Hoa In-liong tersenyum, dia berpiling lagi keluar warung.

Tiba tiba ia menangkap berkelebatnya sesosok bayangan manusia, bayangan tersebut buru-buru kabur kesemak belukar dan menyembunyikan diri.

Meski hanya sekilas pandangan, ia kenali orang itu sebagai majikan kecilnya Si Nio atau nona berbaju ungu itu.

Semula pemuda itu bermaksud untuk menyusulnya, tapi kemudian berpikir, “Ketika melihat aku disini, dia lantas menyembunyikan diri, sudah jelas nona itu enggan untuk bertemu dengan aku, kalau sampai ku susul kesana, dia pasti akan menemui aku secara terpaksa, dalam keadaan yang serba kaku tiada manfaat apa-apa yang bakal kudapatkan, malah kalau sampai Thia cianpwe kembali kesini dan tidak menemui diriku, urusan akan semakin runyam”

Karena berpendapat demikian, maka ia duduk kembali ditempatnya semula…. Sementara itu para tamu dalam warung sedang berbisik- bisik entah apa yang mereka bicarakan, suaranya lembut sukar didengar, tapi ada kemungkinan menyangkut tingkah laku Hoa In-liong yang seenaknya sendiri tanpa memperdulikan apakah disekitarnya, ada orang atau tidak itu…. Kembali setengah jam sudah lewat, akhirnya penasaran Hoa In-liong, dia berpikir.

“Tak mungkin suhunya nona Wan akan beradu kecepatan dengan kuda jempolan tersebut, tentunya dia akan memanggil namanya, tapi kenapa begini lama? Masa kalau bercakap- cakap juga membutuhkan waktu selama ini….”

Ingatan tersebut baru saja melintas dalam benaknya, tiba- tiba terdengar teriakan Thia Siok bi bergema dari depan warung, “Hoa Yang, hayo kita lanjutkan perjalanan!”

Hoa In-liong tidak membuang waktu lagi, diaa bangkit dan melayang keluar dari warung itu.

Baru saja dia berada diluar pintu, Thia Siok bi te1ah

menge-rahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk melanjutkan perjalanan.

Buru-buru dia menyusul kemuka, teriaknya, “Hei cianpwe, siapa gerangan nona tadi?”

“Hmni….! Kamu hanya pandainya menanyakan soal nona….!” dengus Thia Siok bi tanpa menghentikan gerakan tubuhnya.

Jawaban itu cukup membuat pemuda kita meringis serba salah.

“Cianpwe, buat apa kita musti terburu-buru?” kembali serunya. “Ya, kita musti terburu-buru karena harus menempuh perjalanan sejauh lima ratus li”

Hoa In-Iiong mempercepat langkahnya dan menerjang maju ke depan, kembali dia berseru, “Kita akan kemana?”

“Ke Hway-im!”

Setelah melirik sekejap, dengan dahi berkerut dia berkata kembali, “Hematlah tenagamu, perjalanan yang akan kita tempuh bukan suatu perjalanan dekat”

“Oooh….tak menjadi soal, aku yang muda masih sanggup untuk menahan diri” sahut Hoa In-liong sambil tertawa.

Thia Siok bi mendengus dan tidak berbicara lagi, tiba-tiba ia mempercepat larinya.

Hoa In-liong tarik napas dalam-dalam, hawa murninya dihimpun kembali dan terpaksa dia harus menyusul dibelakang To koh tersebut.

Demikianlah, dua orang itu melakukan perjalanan amat cepat, dari tengah hari sampai magrib mereka tak pernah berhenti, akhirnya napaspun mulai ngos-ngosan dan ketika itulah mereka mengurangi kecepatan masing masing….

“Hoa Yang, perlu beristirahat tidak?” tiba-tiba Thia Siok bi menegur.

“Tidak usah, boanpwe masih sanggup untuk bertahan sampai kota Hway-im….”sahut pemuda itu.

“Baik, kita lanjutkan perjalanan!” Tiba tiba To koh setengah umur itu mempercepat langkahnya kabur kedepan.

Sambil menyusul dibelakangnya, Hoa In-liong berpikir, “Oooh….tampaknya dia belum mengerahkan segenap tenaga dalamnya, kalau begitu penilaianku tempo hari salah besar, sebab meski tenaga dalam yang dimiliki cianpwe ini masih bukan tandingan Tang kwik Siu, akan tetapi ilmu meringankan tubuhnya lihay banget”

Kurang lebih jam satu tengah malam, akhirnya muncul juga sebuah benteng kota yang amat besar ditengah kegelapan sana, kota tersebut bukan lain adalah kota Hway-im pusat lalu lintas antara wilayah utara dan selatan terutama bagi propinsi Kang ci.

Dengan bermandikan keringat tiba-tiba Thia Siok bi menghentikan perjalanannya, dengan napas tersengkal dia berseru, “Hoa Yang, mari kita atur pernapasan dulu, bila tenaga kita sudah pulih kembali baru masuk kota”

Hoa In-liong ingin cepat-cepat bertemu dengan Wan Hong giok, segera sahutnya, “Boanpwe tidak lelah, bagaimaua kalau cianpwe memberitahukan kepadaku dimana muridmu berada, aku ingin segera menjumpai nona Wan”

Thia Siok bi berpaling, ditemuinya meski peluh membasahi seluruh badan Hoa In-liong dan napasnya agak tersengkal, tapi yang aneh wajahnya tetap kelihatan segar, kesegaran itu tak jauh berbeda dengan keadaan disiang hari tadi.

Bila kesegaran pemuda itu dibandingkan dengan wajah layu dirinya yang kecapaian, sudah tentu tampak perbedaan yang menyolok. “Aneh betul” demikian pikirnya dengan tercengang, “sekalipun Hian-beng Kaucu atau Seng To cu tak mungkin kesegaran mereka akan semakin bertambah setelah menempuh perjalanan sejauh lima ratus li”

Tentu saja To koh setengah umur itu tak pernah menduga kalau Goan cing taysu telah menambah tenaga dalam Hoa In- liong dengan ilmu Wan kong lip teng (Cahaya Bulan Mencapai Puncak), suatu kepandaian maha sakti dari kalangan agama Buddha.

Setelah melakukan perjalanan jauh tanpa berhenti, bukan kelelahan yang didapatkan pemuda itu, justru tenaga murni yang diperolehnya dari Goan cing taysu semakin membaur dengan tenaga dalam milik sendiri. Otomatis air mukanya kelihatan makin segar.

Hoa In-liong pribadi meskipun tahu akan proses tersebut, diapun tidak menduga kalau hasilnya luar biasa, diam-diam dia semakin berterima kasih atas kebaikan taysu tersebut.

Thia Siok bi tampak termenung sebentar, kemudian ujarnya, “Kalau toh engkau belum lelah, mari sekarang juga kita masuk ke dalam kota”

“Cianpwe….”

“Tak usah banyak bicara” tukas Thia Siok bi, toh kita sudah ada perjanjian dimuka, bila ketemu musuh maka kaulah yang musti maju untuk beradu jiwa”

Sekali melompat dia sudah naik lebih dulu keatas dinding kota.

Buru-buru Hoa In-liong mengikuti dibelakangnya. Bangunan rumah berderet-deret bagaikan sisik ikan dalam kota itu, dibawah cahaya rembulan suasana diliputi keheningan, kecuali gonggongan anjing diujung gang sana tak kedengaran sedikit su arapun.

Sesudah mengatur pernapasan kata Thia Siok bi, “Anak Giok berdiam didalam kuil Hian biau koan di utara kota, ketua kuil tersebut Keng it To koh adalah sahabat karib pinto”

“Koancu tersebut tentunya seorang jago lihay bukan?” sela anak muda kita.

“Dugaanku keliru besar, dia justru tak pandai bersilat”

Sementara pembicaraan berlangsung, perjalanan sama sekali tidak berhenti, mereka berlarian melewati atap rumah yang berjejer-jejer. Akhirnya sampailah dimuka sebuah To koan yang berdinding merah dan dikelilingi pohon bambu.

Meskipun bangunan kuil itu megah dan tanahnya luas, tapi suasananya hening dan nyaman, suatu tempat pertapaan yang amat serasi.

Thia Siok bi membawa pemuda itu menuju kehalaman belakang, lalu bisiknya, “Keheningan malam telah mencekam seluruh jagad, kalau kita masuk sambil mengetuk pintu, maka kedatangan kita ini pasti akan mengganggu nyenyaknya orang tidur, mari kita masuk sendiri-seodiri saja”

Hoa In-liong mengangguk, dia melompati dinding pekarangan dan hinggap di atas gunung-gunungan, ditepi kolam dikelilingi kebun bunga yang indah tampaklah sebuah bangunan kecil yang mungil.

Ketika pemuda tersebut memandang ke arah bangunan itu, hampir saja air matanya bercucuran saking terharunya. Cahaya lampu menerangi ruangan itu terang benderang, jendela terpentang lebar dan Wan Hong-giok sambil bertopang dagu duduk ditepi jendela sambil memandang rembulan di angkasa dengan termangu, badannya kurus kering mukanya pucat, air mata membasahi pipi dan kelopak matanya, betapa kusut dan layunya gadis itu!”

“Ooooh….dia begitu kurus” pekik Hoa In-liong, didalam hati. “karena akulah dia ternoda dan ilmu silatnya punah, dia…. dia….sedang aku ketika berada dibuka Yan-san….”

Tiba-tiba Wan Hong-giok bergumam dengan suara yang memedihkan hati, “Malam ini adalah malam keberapa? In liong….ooohh In-liong…. kau berada dimuna? Tidak rindukah kau kepadaku?”

Ia menggelengkan kepalanya berulang kali, kembali gumamnya, “Tidak! Aku tidak minta kau rindu kepadaku, sebab kalau begini maka kau tak akan senang hati, aku hanya ingin menyaksikan kau dapat hidup penuh kegembiraan, aku…. sekalipun melupakan diriku juga tidak, mengapa….”

Selanjutnya gadis itu menggumankan pula kata-kata cinta yang tak terhitung banyaknya, dalam pelampiasan kata-kata cintanya itu dia hampir saja melupakan diri, dia tidak mengharapkan balasan dari lawannya, dia hanya ingin menunjukkan kalau cintanya kepada Hoa In-liong lebih dalam dari samudra, lebih tinggi dari langit….

Hoa In-liong tak dapat menahan diri lagi, air matanya jatuh bercucuran karena terharu, setengah berbisik dia memanggil.

“Hoag giok….” Betapa terperanjatnya Wan Hong giok mendengar panggilan itu, tiba-tiba ia berpaling.

Sayang tenaga dalamnya waktu itu sudah buyar, jangan dibilang Hoa In-liong berdiri ditengah kerumungan bunga, sekalipun berdiri ditengah tanah lapang, belum tentu ia dapat melihatnya dengan jelas.

Nona itu berusaha mencari sumber datangnya suara itu tapi tidak berhasil, akhirnya dengan sedih dia menghela napas.

“Yaaa….! Aku terlalu terkenang kepadanya, sampai suaranya pun ikut terkenang.”

Tiba-tiba ia tundukkan kepalanya, lalu dengan sedih bersenandung lirih,

“Air jernih siang malam mengalir di loteng merah.

Sukma yang lemah bergentayangan mengitari nirwana yang indah.

Kapan impian indahku akan menjadi kenyataan? Mengapa kau tak datang? Mengapa kau tak datang? Mungkinkah takut menderita kemurungan….?”

Bait-bait tersebut merupakan bait dari syair cinta yang sudah berusia lama, bukan saja penuh mengandung nada cinta, terutama peng harapannya yang luar biasa, membuat siapapun tahu kalau gadis malang itu sedang merindukan kekasihnya mengharapkan kunjungan idaman hatinya. Air mata bercucuran membasahi seluruh wajahnya Hoa In- liong, diam-diam dia melompat jendela dan berdiri di belakang Wan Hong-giok, kemudian sambil membelai rambutnya yang hitam mulus bisiknya lembut, “Hong giok!”

Kasihan sekali Wan Hong-giok, sejak ilmu silatnya punah, hampir boleh dibilang ia seperti orang awam biasa, sekalipun Hoa In-liong sudah berdiri dibelakangnya ia belum merasa.

Akhirnya setelah pemuda itu membelai rambutnya, gadis itu baru sadar dan berpaling.

Ditatapnya Hoa In-liong dengan termangu-mangu lama….lama sekali, dia baru berbisik lirih, “Kemarin kau sudah datang, mengapa hari ini kembali? Kalau terlalu sering kau datang kemari adik Wi bakal tak senang hati”

Tiba-tiba Hoa In-liong merasa hatinya sakit sekali, pikirnya. “Oooh…. dia masih mengira pertemuan ini adalah

bertemuan dalam alam impian, dia…. aku memang seorang

pemuda yang kejam, aku orang yang tak tahu cinta….”

Sebagai diketahui, Hoa In-liong adalah seorang pemuda romantis yang gemar berpacaran, setelah di pengaruhi oleh emosi nyaris dia muntahkan darah segar.

Buru-buru pemuda itu mengerahkan tenaga dalamnya dan mengatur napas, darah yang bergolak keras itu berusaha ditekan kembali.

Selesai mengatur pernapasan, dia baru berkata dengan lembut.

“Adik Wi tidak akan tak senang hati atas kedatanganku ini!” Wan Hong giok mengagangguk dan tertawa bodoh.

“Yaa, aku tahu adik Wi memang gadis yang polos dan baik hati!”

Hoa In-liong makin berduka oleh sikap gadis itu, cepat serunya, Hong giok, pertemuan ini bukan dalam impian, camkan! Semuanya adalah kenyataan, bukan cuma impian belaka!”

Mula-mula Wan Hong giok agak tertegun, kemudian bisiknya seperti orang bodoh, “Kenyataan? Kenyataan?”

Biji matanya yang jeli mengerling kesana kemari tangannya diulurkan kedepan seakan-akan hendak menyentuh tubuh Hoa In-liong serta membuktikan babwa kejadian itu memang suutu kejadian yang sungguhan.

Tapi….secara tiba-tiba ia menarik kembali tangannya seperti mendadak kena dipagut ular, rupanya dia kuatir bila sentuhan tersebut kosong ma a impian indahnya akan tercabik-cabik dan idaman hatinya yang berada dihadapannya akan lenyap dengan begitu saja.

Sambil menahan lelehan air matanya Hoa In-liong maju kemuka dan memeluk tubun Wan Hong giok dengan psauh kemesrahan, bisiknya dengan lembut, “Sekarang kau sudah percaya bukan?”

“Sekujur badan Wan Hong giok gemetar keras, tiba-tiba meledak isak tangisnya.

“Oooh In liong….”

Dia menyusupkan kepalanya kedalam pelukan pemuda itu dan balas memeluknya dengan penuh kemesrahan. Dalam kejut dan girangnya, gadis itu merasakan pula kesedihan yang luar biasa, sambil memeluk erat-erat tubuh Hoa In-liong, dia menangis sejadinya, hingga dalam waktu singkat, sebagai besar pakaian yang dikenakan Hoa In-liong sudah basah kuyup.

“Jangan menangis! Jangan menangis….” bisik Hoa In-liong sambil membelai rambutnya yang mulus.

Untuk sesaat pemuda itupun hampir melupakan segala- galanya termasuk keadaan disekelilingnya.

Beberapa saat kemudian, Wan Hong giok baru pelan-pelan menjadi tenang kembali, sambil menyembunyikan kepalanya dipelukan orang, dia berbisik lirik, “Baik-baikkah engkau selama ini?”

“Aku baik sekali, justru kaulah yang harus baik-baik menjaga diri!”

ketika dilihatnya gadis itu masih memeluknya erat-erat, seolah olah takut kalau sampai lepas tangan, maka pemuda idamannya akan lenyap dengan begitu saja, tersenyumlah Hoa In-liong.

“Bagaimana kalau kita duduk dulu baru berbicara lagi?” bisiknya kemudian.

Wan Hong giok yang berada dalam pelukan itu mengangguk, dia melepaskan pula rangkulannya.

Setelah duduk Hoa In-liong baru memeriksa sekejap suasana dalam ruangan itu, dia lihat kamar itu bersih sekali, kecuali pembaringan yang di atur dengan rapi, hanya terdapat sebuah meja dengan empat buah kursi, sebuah lilin kecil menerangi ruangan tersebut.

Pedih rasanya pemuda itu, pikirnya, “Gadis secantik dia tidak sepantasnya kalau berdiam ditempat seperti ini”

Rupanya Wan Hong giok merasakan apa yang dipikirkan pemuda itu, sambil tersenyum tiba-tiba ujarnya, “Aku senang sekali dengan tempat seperti ini, mana bersih mana sunyi lagi!”

Hoa In-liong tertawa paksa.

“Malam semakin larut, kenapa kau belum tidur?” bisiknya, “tahukah kau bahwa caramu ini hanya akan merusak kesehatan saja?”

Wan Hong giok tertawa.

“Aku belum ingin tidur!” jawabnya singkat.

Tapi satelah berhenti sebentar, dia berkata lagi, “Padahal tidak tidur juga tak menjadi soal, coba lihat! Bukankah aku tetap sehat wal’afiat?”

Dengan perasaan sedih, kasihan dan lara, Hoa In-liong mengawasi raut wajahnya yang cantik tapi kurus dan sayu itu, kemudian setelah tertegun sesaat bisiknya lagi, “Kau…. kau kelihatan lebih kurus”

Sambil tertawa Wan Hong giok gelengkan kepalanya berulang kali, dia tidak berkata apa-apa.

Hoa In-liong tidak tahu yang diartikan gadis itu tidak bertambah kurus ataukah menjadi soal, pemuda itu berdiri tertegun. “Kau…. kau….” Tiba-tiba Wan Hong giok mengalikan pokok pembicaraan ke soal lain, tanyanya, “Bagaimana kau bisa tahu kalau aku berada di sini?”

Hoa In-liong tahu kalau gadis tersebut tak ingin terlalu banyak membicarakan soal itu, maka segera jawabnya, “Suhumu yang mengajak aku kemari!”

Padahal Wan Hong-giok sudah tahu kalau pasti gurunya yang memimpin pemuda itu ke situ, pertanyaan itu memang sengaja diajukan untuk mengalihkan pokok pembicaraan saja.

Maka sambil manggut-manggut dia bertanya lagi. “Sekarang, dia orang tua berada dimana?”

Hoa In-liong tidak menjawab, dia cuma berpikir didalam hati, “Sejak masuk kedalam kamar ini, aku tidak terlalu memperhatikan dirinya lagi, tapi jelas cianpwe yang sangat menguatirkan kese-lamatan muridnya itu pasti bersembunyi disekitar tempat ini”

Baru saja dia akan menjawab, ketika secara tiba-tiba berhembus lewat angin tajam, diantara cahaya lilin yang bergoncang-goncang, Thia Siok bi sudah muncul didalam ruangan.

“Suhu….” pekik Wan Hong giok dengan sedih.

Dia melompat kedepan dan menubruk kedalam rangkulan Thia Siok-bi, kemudian melelehkan isak tangisnya.

Air mata meleleh keluar dan membasahi pula pipi Thia Siok bi, dengan mulut membungkam dia cuma bisa membelai rambut muridnya. Akhirnya setelah hening beberapa saat lamanya Thia Siok- bi memanggil dengan suara lirih, “Anak Giok!”

“Ada apa suhu?” dengan muka yang basah oleh air mata Wan Hong giok menengadah.

Makin sedih perasaan Thia Siok-bi menyaksikan betapa layu dan kurusnya wajah gadis itu, tapi dia paksakan juga sebuah senyuman.

“Masuklah dulu ke dalam, suhu ingin bercakap-cakap dengan Hoa kongcu” katanya.

Hoa In-liong terkesiap, dengan cepat dia berpikir, “Rupanya din hendak membicarakan nasib Wan Hong giok dengan diriku, wah…. apa dayaku?”

“Rupanya Wan Hong giok juga menduga sampai kesitu, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Tidak! Aku tidak mau!”

Mula-mula Thia Siok-bi agak tertegun, lalu sambil berpura- pura marah serunya lagi, “Masa perkataan suhupun tidak kau turuti?”

“Oooh suhu! keluh Wan Hong-giok dengan sedih, mari kita pulang keluar perbatasan saja, tecu sudah bosan dengan daratan Tionggoan”

Thia Siok bi tertawa getir.

“Anak bodoh masa selama hidup kau hendak mengikuti suhumu? Sebagai anak perempuan, akhirnya toh kau harus…. Sebelum kata menikah sempat meluncur keluar, tiba-tiba Thia Siok bi menghentikan ucapannya, dia kuatir Wan Hong giok akan menjadi sedih setelah mendengar perkataan itu, apalagi sejak kesucian tubuhnya ternoda.

Siapa taha justru sikap gurunya ini semakin menambah kepedihan hati Wan Hong giok, isak tangisnya makin menjadi.

“Oooh…. suhu, tecu tak mau menikah, teca rela mendampingi suhu sepanjang masa”

“Aaai…. tapi suhu tak perlu kau dampingi terus” keluh Thia Siok bi sambil menghela napas.

Sambil menahan isak tangisnya yaug keras kata, Wan Hong giok lagi, “Suhu kalau kau sudah tak maui aku lagi, biarlah tecu mencari sebuah biara dan cukur rambut menjadi pendeta disitu”

“Anak Giok….”

“Atau kalau tidak, di To koan inipun boleh juga”

Hoa In-liong hanya bisa berdiri membungkam menyaksikan adegan tersebut, tanpa disadari air matanya ikut meleleh keluar membasahi pipinya.

Thia Siok bi tampak agak tertegun, tiba-tiba dia mengalihkan sorot matanya, dengan sinar mata setajam sembilu bentaknya, “Hoa Yang!”

Hoa In-liong terkesiap, dengan cepat dia menyahut, “Hoa Yang!” Kembali Thia Siok bi berkata dengan suara dingin, “Tahukah engkau apa yang menyebabkan muridku menjadi begini?”

“Yaa, dosa boanpwe memang tak terampuni!” bisik Hoa In- liong dengan air mata berlinang.

“Kalau memang begitu, kau harus memberi pertanggungan jawab kepada muridku”

Hoa In-liong tertegun, dengan penuh kesangsian ia menatap kedua orang perempuan itu bergantian, tak sepatah katapun sanggup diucapkan.

Sekalipun pemuda itu suka bermain cinta, tapi dia sangat memandang tinggi apa artinya cinta itu, ternodanya Wan Hong giok dalam pandangannya merupakan suatu peristiwa yang patut disesalkan, cuma bila dia musti mengikat janji dengan begitu, lantas bagaimana penyelesaiannya dengan Coa Wi wi?

Sekalipun belum terlalu lama pergaulannya dengan Coa Wi wi, tapi secara diam-diam kedua belah pihak sudah saling mengikat janji, boleh dibilang cinta mereka dimulai sejak pandangan pertama.

Maka kalau berbicara soal istri, Coa wi-wi adalah orang yang paling pantas untuk kedudukan itu.

Apalagi meski dia binal tapi peraturan rumah tangganya sangat ketat, soal perkawinanpun merupakan masalah besar, tak mungkin baginya untuk menyanggupi tanpa berunding dulu dengan orang tuanya. Yaa sekarang dia setuju, bila lain waktu ayahnya menyatakan keberatan, lantas bagaimana….? Hoa In-liong tidak ingin menjadi seorang pemuda yang mencla mencle, terutama mengingkari ucapannya sendiri. Sebagai seorang pemuda yang bijaksana, sebagai seorang laki-laki sejati terutama sebagai keturunan orang ternama, pemuda itu tak mau berbuat gegabah sebelum memutuskan sesuatunya dia ingin renungkan dan pertimbangkan dulu masalahnya masak-masak.

Sebab itu, sekian lamanya pemuda itu tetap membungkam, dia tak tahu bagaimana musti memberikan jawabannya.

Tiba-tiba Wan Hong giok mengeluh sambil menangis tersedu-sedu, “Oooh….suhu, kau tak usah memaksanya, tecu rela menjadi pendeta dan hidup mengasingkan diri….”

“Kau tak usah banyak bicara” bentak Thia Siok bi, “akulah yang berhak mengaturkan segala sesuatunya untukmu!”

“Tapi kalau suhu hendak memaksa tecu untuk kawin, lebih baik tecu mati saja!”

Thia Siok bi, tidak menggubris muridnya lagi, dia berpaling ke arah Hoa In-liong dan bentaknya kembali, “Ayoh, cepat beri keputusan yang tegas….”

Hoa In-liong tertegun. “Boanpwe…. “

Terbayang kembali raut wajah ayahnya yang keren dan suara neneknya yang penuh wibawa, pemuda itu menjadi gelagapan dan tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

Tiba-tiba Wan Hong giok berpekik sedih. “Oooh suhu….maafkanlah ketidak berbaktinya muridmu ini….!”

Sambil meronta dari rangkulan Thia Siok bi, dia lari kedepan dan menumbukkan kepalanya di atas dinding ruangan.

Sejak berangkat meninggalkan bukit Yan san tempo dulu, sebetulnya Wan Hong giok sedang melanjutkan perjalanannya menuju ke utara didampingi Ki ji, kebetulan Thia Siok bi yang kangen dengan muridnya juga dalam perjalanan menuju ke Tionggoan, akhirnya mereka berpapasan dan saling berjumpa di tengah jalan.

Kejut dan marah Tbia Siok bi menyaksikan keadaan muridnya yang mengenaskan itu, dia mendesak muridnya agar menceriterakan musibah apa yang telah menimpa dirinya, tapi Wan Hong giok bersikeras tetap membungkam, akhirnya dari Ki ji lah To koh itu berhasil mengetahui duduknya persoalan….

To koh itupun mendapat tahu kalau muridnya bisa menjadi begini karena demi keselamatan seorang keturunan keluarga Hoa Yang bernama Hoa Yang alias Hoa In-liong. Maka setelah pikir punya pikir dia merasa hanya ada satu jalan untuk membuat muridnya gembira lagi, yaitu mengawinkan muridnya itu dengan Hoa In-liong.

Begitulah sesudah menyusun rencana, akhirnya Thia Siok bi meninggalkan kedua orang itu di kota Hway-im, sementara dia sendiri segera berangkat ke kota Kim leng.

Padahal Thia Siok-bi juga tahu akan urusannya lebih sulit daripada naik kelangit, tapi apa boleh buat, demi kebahagian muridnya dia harus berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya, kalau terpaksa diapun akan memaksa Hoa In-liong untuk mengawini muridnya.

Wan Hong giok sendiri sebetulnya amat mencintai Hoa In- liong boleh dibilang setiap waktu setiap saat selalu merindukan pemuda itu, tapi sejak ternoda ia merasa tubuhnya sudah kotor dan tidak pantas untuk mendampingi Hoa In-liong lagi, sudah menjadi tekadnya semenjak dulu bahwa ia lebih suka menghabisi nyawa sendiri daripada harus kawin dengan pemuda pujaannya.

Sebab itulah ketika Thia Siok bi memaksa pemuda itu untuk menerima lamaran, dengan perasaan yang hancur luluh gadis itu menjadi nekad dan ingin menghabisi nyawa sendiri.

Tentu dua orang jago silat yang hadir dalam ruangan itu tak akan membiarkan dia mati penasaran….„

Sebelum kepalanya sempat membentur diatap dinding, Hoa In-liong sudah menyusup kehadapannya serta merangkul gadis itu kedalam pelukannya….

Sejak ilmu silatnya musnah, kesehatan badan Wan Hong giok lebih rapuh dari orang lain, apalagi setelah mengalami pukulan batin yang cukup berat, sejak tadi dia sebetulnya sudah tak tahan, maka begitu dirangkul oleh Hoa In-liong, pingsanlah gadis itu.

Thia Siok bi putus asa bercampur kecewa, menyaksikan tekad muridnya yang lebih baik mati daripada kawin, teringat pula kedudukan keluarga Hoa Yang begitu tinggi dalam dunia persilatan ser ta ternodanya Wan Hong giok, dia betul-betul merasa tak ada harapan untuk melangsungkan apa yang diharapkan. Sambil mendepak-depakkan kakinya ketanah, serunya dengan penuh kebencian, “Sudahlah, sudahlah….percuma!”

Tiba-tiba ia merampas tubuh Wan Hong giok dari dukungan Hoa In-liong, kemudian melompat keluar dari jendela.

Mula-mula Hoa In-liong tertegun, menyusul kemudian sambil mengejar keluar teriaknya dengan gemetar, “Cianpwe, nona Wan….”

Sambil berpaling tiba-tiba Thia Siok-bi mengancam, “Kalau engkau berani menyusul kami, jangan salahkan kalau pinto tak akan sungkan-sungkan lagi”

Sementara Hoa In-liong masih tertegun, sambil mendengus dingin Thia Siok bi sudah berangkat menuju ke utara.

Hoa In-liong cuma bisa berdiri termangu-mangu sambil melamun, “Ibuku dan mama (Chin Wan hong) paling menyayangi diriku, mereka pasti berdiri dipihakku, sedang nenek dan ayah meski keras dan keren, rasanya setelah kuterangkan mereka akan menjadi tahu, berarti kesulitan pertama bisa kuatasi. Adik Wi baik hati dan suka memaafkan kesalahanku, rasanya diapun bisa memahami posisiku saat ini….”

Berpikir simpai disitu, pemuda itu segera memutuskan untuk menyusul Wan Hong giok berdua, dengan suara lantang dia berteriak, “Cianpwe, harap berhenti.”

Teriakan itu cukup keras, apalagi ditengah keheningan malam yang mnyelimuti seluruh jagad, teriakan tersebut hampir terdengar diseparuh bagian kota Hway-im.

Pemuda itu sudah mengambil keputusan, apapun yang terjadi, dia akan menikahi Wan Hong giok Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya tidak berada dibawah kepandaian Thia Siok bi, apalagi To koh setengah umur itu harus membawa seorang yang lain, ketika berada dikaki dinding kota mereka berhasil disusul oleh pemuda itu.

Dengusan dingin bergema memecahkan kesunyian, melihat pemuda itu menyusul datang Thia Siok bi segera memutar tubuhnya, lalu senjata Hud tim nya disapu kedepau menghantam batok kepala lawan.

Hoa In-liong sedikitpun tidak bergerak, sekalipun serangan sudah berada di depan mata, ia tidak berniat untuk menghindarkan diri.

Bayangkan saja betapa dahsyatnya serangan itu kalau sampai kena sasaran niscaya pemuda itu akan mampus.

Thia Siok bi, amat bersedih hati atas tragedi yahg menimpa murid kesayangannya, karenanya dalam melancarkan sapuan tersebut diam-diam ia sertakan pula tenaga serangan sebssar dua belas bagian.

Seandainya serangan itu sampai menghajar telak ditubuh Hoa In-liong, kalau tidak matipun paling sedikit akan terluka parah.

Tapi setelah ia saksikan betapa murung dan sedihnya anak muda itu, terutama sikap pasrahnya terhadap nasib, secara tiba-tiba saja melunakkan hatinya.

“Aaai…. Sudahlah.” begitu dia berpikir, “toh dalam kejadian ini dia memang tak bisa disalahkan!”

Disaat yang terakhir dia menarik kembali sebagian besar tenaga dalamnya, seranganpun dimiringkan kesamping, dengan begitu senjata Had tim tersebut hanya mengejar bahu kiri Hoa In-liong.

Sianak muda itu mendengus tertahan, bahu kirinya robek dan tubuhnya ikut roboh terjungkal dari atas dinding pekarangan.

Thia Siok bi menghela napas sedih, sambil membopong tubuh Wan Hong giok dia berlarian menuju keutara.

Sambil menahan rasa sakit Hoa In-liong melompat kembali keatas dinding pekarangan, kemudian teriaknya keras-keras, “Cianpwe, harap tunggu dulu, aku yang muda bersedia menerima perintahmu!!”

Malam yang sepi keheningan yang merccekam, hanya suara teriakannya yang berkumandang sampai nun jauh disana, namun tiada jawaban dari Thia Siok bi.

“Ji-kongcu!” tiba-tiba seseorang mamanggil dengan suara yang lembut merayu.

Hoa In-liong segera berpaling, ternyata Ki ji yang datang, maka serunya dengan gelisah, “Nonamu sudah kembali kekota King-leng, lebih baik kau cepat cepat pulang!”

Kemudian tidak menunggu jawaban lagi dia melompat turun dari dinding pekarangan itu dan kabur ke utara.

“Eehh…. ji-kongcu! Bagaimana dengan kau sendiri?” teriakan Ki ji masih sempat berkumandang dari belakang sana.

“Aku masih ada urusan!” pemuda itu menjawab tanpa berpaling lagi. Sesudah menitahkan Ki ji agar segera pulang kerumah, pemuda itu tak ada minat untuk menggubrisnya lebih jauh, dengan kecepatan paling tinggi dia bergerak keutara, kearah mana Thia Siok bi melenyapkan dirinya tadi….

Berapa waktu sudah lewat pengejaran masih berlangsung terus, namun orang yang disusul tidak tampak juga batang hidungnya.

“Rupanya To koh itu memang tidak bermaksud menjumpai aku” akhirnya dia berpikir, “yaa, kalau memang begitu, dikejar terus juga tak ada gunanya….”

Menurut perhitungannya Thia Siok bi tak mungkin bisa pergi terlampau jauh, meskipun ilmu meringankan tubuhnya sempurna, toh dia musti membopong Wan Hong giok sebagai suatu beban, sepantasnya kalau dia tak bisa lari cepat.

Tapi sudah sekian lama dia melakukan pengejaran, pemuda itu percaya kecepatan larinya tidak berada dibawah To koh tersebut tapi kenyataannya sudah semakin lama dia mengejarnya, tapi orang yang di cari-cari belum ketemu juga, ini membuktikan kalau mereka memang sengaja menghindari pertemuannya.

Karena berpendapat demikian, pemuda itu menghentikan kembali pengejarannya, lalu bergumam seorang diri, “Lebih baik aku berjalan selangkah lebih duluan, kemudian kujaga jalanan menuju ke utara ini, dengan demikian, mereka berdua pasti tak akan menyangka, dan kesempatan untuk menemukan jejak merekapun akan semakin bertambah besar”

Dari kota Hway-im menuju ke utara memang tersedia beberapa buah jalan, tapi jalan pemerintah cuma ada satu. Sekarang yang paling dikuatirkan anak muda itu adalah bila berdua memilih jalan kecil, bahkan memilih jalan bukit yang lebih sukar untuk menghindari pertemuan dengannya.

Maka sesudah mempertimbangkannya sekian waktu, akhirnya dia memutuskan untuk mencegat dikota Si ciu saja.

Setelah mengambil keputusan, dia menentukan arah dan berangkat menuju ke arah barat laut.

Perjalanannya kali ini dilakukan dengan mengerahkan segegap ilmu meringankan tubuh yang dikuasahinya, seperti hembusan angin puyuh saja badannya berkelebat maju ke depan….

Jarak antara kota Hway im sampai di kota Si ciu memang tidak terlampau jauh, tapi bagaimanapun juga orang harus beristirahat sebelum meneruskan perjalanannya, apalagi belum lama berselang pemuda itu sudah melakukan perjalanan sejauh lima ratus li tanpa berhenti dengan begitu maka tenaga dalam yang terbuangpun tidak akan terlampau banyak.

Hoa In-liong yang berpengalaman tidak tahu namun setiap menit setiap detik dia selalu membabayangkan wajah Wan Hong giok yang layu, membayangkan tragedi yang menghancur lumatkan perasaan gadis itu, dia merasa sakit hati, dia ingin menggunakan segenap kekuatan yaug dimilikinya untuk melampiaskan semua kekesalan, membuang semua kemurungan yang mengganjal hatinya sebab itu dia melakukan perjalanan tanpa hentinya.

Apa yang terjadi kemudian? Tenaga dalamnya bukan saja tidak menjadi habis lantaran tindakan tersebut, malah sebaliknya hawa murni itu mengalir semakin lancar, kian ngotot dia berlari kian segar badannya dan kian bertambah cepat pula larinya. Lama kelaman sadarlah pemuda tersebut atas keajaiban itu, dia tahu kesemuanya ini adalah berkat pemberian dari Goan cing taysu,

“Demi aku, entah berapa banyak yang dikorbankan dia orang tua?” demikian ia berpikir, “bila aku tahu diri, dan menghambur-hamburkan tenaga pemberiannya, bukankah perbuatan ini sama halnya dengan menyia-nyiakau pengorbanan dia orang tua?”

Karena berpikir demikian, maka pemuda itu segera merubah rencananya semula, setelah tiba di kota Siciu, sambil mencari jejak Wan Hong-giok dan gurunya, diam-diam diapun melatih ilmu silatnya dengan lebih tekun.

Keesokan harinya ketika sore menjelang tiba, Hoa In-liong telah tiba di kota Si ciu dan masuk lewat pintu sebelah timur.

Sebagaimana diketahui, Hoa In-liong itu orangnya tampan, dandanannya perlente dan gerak-geriknya mencerminkan seorang anak hartawan yang gagah perkasa, tapi bahu kirinya basah oleh noda darah, keistimewaan tersebut dengan cepat menarik perhatian orang banyak.

Terhadap sikap keheranan orang banyak itu Hoa In-liong berpura-pura tidak melihat, dia menuju ke rumah penginapan Tay hok yang merupakan rumah penginapan terbesar di kota Si ciu dan memesan sebuah ruangan yang tersendiri, lalu selelah mencuci badan dan bersantap, dia memanggil seorang pelayan, memberinya sekeping uang perak seraya berpesan, “Belikan kain putih sekodi dan bahan baju yang persis dengan pakaianku ini, cepatan sedikit!”

Pelayan itu menerima uang tersebut dan ber-bongkok- bongkok sambil mengiakan, padahal dihati dia menggerutu, “Aneh betul orang ini, buat apa kain putih sebanyak itu? Masa mau berkabung?”

Baru saja dia memutar badannya, tiba-tiba Hoa In-liong memanggil lagi, “Hei pelayan!”

“Tuan masih ada perintah apa lagi?” buru-buru pelayan itu memutar badannya.

“Tolong pinjamkan juga alat menulis dari kasir!”