Rahasia Hiolo Kumala Jilid 31

Jilid 31

BERBICARA sampai disitu, tangan kirinya menyilang ke samping, cahaya hijau lantas bergemerlapan, tahu-tahu ditangan kanannya telah bertambah dengan sebilah senjata kaitan berwarna hijau kemala.

Selama malang melintang diseluruh kolong langit, belum pernah To koh itu didesak orang hingga mundur berulang kali, tak heran kalau hawa napsu membunuhnya saat ini sudah membara dan ia telah bersiap-siap untuk beradu jiwa.

Coa Wi-wi belum pernah melihat senjata kaitan kemala milik Wan Hong giok, tapi dia tahu kalau Wan Hong giok mempunyai julukan sebagai Giok kau Nio cu (perempuan cantik kaitan kemala).

Tanpa terasa dia berpikir lagi, “Sangat jarang jago dalam persilatan yang menggunakan senjata kaitan kemala, jangan- jangan dia mempunyai hubungan yang erat dengan enci Wan….?”

Berpikir sampai disitu, dia lantas bertanya dengan merdu, “Apakah cianpwe mempunyai hubungan dengan enci Wan Hong giok….”

“Tak usah banyak bicara!” tukas To koh berbaju abu-abu.

Tiba tiba ia menyerang dengan jurus Thian kong im in (Cahaya Langit Bayangan Awan). Cahaya hijau yang menyilaukan mata segera menyebar keseluruh langit, senjata kaitan kemalanya dengan membawa deruan angin serangan yang tajam sepera mengurung sekujur tubuh lawan. Berbareng itu juga, senjata hud tim ditangan kirinya tidak mengganggu, dengan tajam ia serang pinggang musuh.

Serangan yang dilancarkan satu dengan senjata kaitan yang lain dengan senjata hud tim ini memang benar-benar amat hebat, tenaga yang bersifat keras serta tenaga im bersifat lunak digunakan hampir bersamaan waktunya, dan akibatnya sungguh jauh diluar dugaan.

Coa Wi-wi semakin naik darah, pikirnya, “Kutanya engkau secara baik-baik, bukannya dijawab malahan sama sekali tak kau gubris, sudah pasti aku tak ada hubungannya dengan enci Wan!”

Sepasang alis matanya kontan berkenyit, dia bermaksud untuk memaksa Tokoh berbaju abu-abu itu mengundurkan diri dari sana, atau bilamana keadaan memaksa, terpaksa dia akan dibunuh.

Mendadak Tokoh berbaju abu-abu itu menarik kembali serangannya sambil mundur, cahaya hijau yang semula menyelimuti seluruh angkasapun seketika ikut leyap tak berbekas.

Sementara Coa Wi-wi masih tertegun cahaya hijau kembali berkilauan memancar diudara tiba-tiba tokoh berbaju abu-abu itu menyambitkan senjata kaitan kemalanya kedepan, diiringi cahaya kilat senjata itu meluncur ke arah mulut gua.

“Toan bok See ling, berhenti kamu!” hardiknya Tanpa mengindahkan musuh tangguh masih berada

didepan mata, Coa Wi-wi segera berpaling, tampak seorang kakek bermuka merah berjenggot putih secara diam-diam sedang mendekati mulut gua. Ketika senjata kaitan kemala itu menyergap punggung kakek itu, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa kakek bermuka merah tadi berkelit ke samping.

“Traaaaang….!” senjata kaitan kemala itu menumbuk diatas dinding batu disisi mulut gua hingga menimbulkan percikan bunga api, lalu dengan menerbitkan suara keras jatuh ketanah.

Kejut dan marah Coa Wi-wi menyaksikan kejadian tersebut, sekalipun tenaga dalam yang dimilikinya cukup lihay, tapi pertama karena pengalamannya masih cetek dan lagi tak menyangka kalau ada orang bakal menyusup datang, kedua dia berdiri dengan membelakangi mulut gua, ditambah pula kakek itu memiliki tenaga dalam yang demikian sempurnanya hingga dapat mengelabuhi ketajaman mata dan pendengarannya. Maka dalam keadaan gugup, ia tak sempat untuk memikirkan kenapa secara tiba tiba To koh berbaju abu- abu membantu pihaknya.

Dengan kecepatan yang luar biasa tubuhnya menerjang ke muka, lalu dengan menghimpun tenaga sebesar dua belas bagian, sebuah pukulan dahsyat dilepaskan.

Waktu itu, kakek bermuka merah sedang berusaha mempercepat gerakannya untuk masuk ke gua, betapa terperanjatnya ketika secara tiba-tiba muncul segulung tenaga tak berwujud yang menekan dadanya dengan amat dahsyat, ia tercekat.

“Budak ingusan, ternyata tenaga dalamnya benar-benar amat sempurna!” demikian pikirnya dihati.

Tergopoh-gopoh dia berkelit ke samping lalu murdur delapan depa kebelakang. Sebagai jago kawakan, kakek itu memang menang pengalaman, begitu mundur, tangannya bekerja cepat.

Cahaya hijau yang gemerlapan kembali memancar diudara, tahu- tahu dia sudah meloloskan sepasang senjata pit penotok jalan darah yang terbuat dari sumpit bambu dan panjangnya dua depa, sambil putar badan dia lindungi sekujur tubuhnya dari ancaman serangan. 

Tapi tindakannya itu cuma suatu perbuatan yang berlebihan, karena tak usah dilindungi pun tak bakal ada orang yang manfaatkan kesempatan tersebut untuk melukainya.

Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Coa Wi-wi menghadang didepan gua.

“Toan bok See liang!” ejek Tokoh bertnju abu-abu itu sambil tertawa dingin, “dengan cara begitulah nama besarmu selama ini kau dapatkan?”

Sekalipun licik dan banyak pengalaman, toh panas juga pipi Toan bok See liang setelah mendengar sindiran itu, untung mukanya memang merah tadi kejengahan tersebut tak sampai terlalu kentara, tapi dia toh tersenyum juga.

“Pada hakekatnya memang tak punya nama besar, kenapa musti takut kehilangan nama?” dia menjawab.

Lalu setelah berhenti sebentar, tegurnya kembali dengan suara dalam, “Kau ingin bermusuhan dengan perkumpulan kami?” Sambil mengebaskan senjata Hud timnya, pelan-pelan To koh berjubah abu-abu itu maju mendekat, sahutnya dengan hambar, “Hmmm….! Kau tak usah menggunakan nama Hian- beng-kauw untuk menakut-nakuti orang, sekalipun aku berani mencari gara-gara dengan Thamcu macam kau, lantas apa yang hendak kau lakukan?”

Toan bok See liang tertawa seram.

“Heeehh…. heeehh…. heeehhh….begitupun boleh saja, cuma aku kuatir ilmu silatmu masih tertinggal jauh”

“Cianpwe, senjata kaitan kemalamu!” tiba tiba Coa Wi-wi berteriak keras.

Seraya berseru gadis itu menyambar senjata kaitan kemala yang tergeletak ditanah itu lalu di sambit kearah To koh tersebut.

Coa Wi-wi yang cerdik, dengan cepat ia sudah menduga bahwa To koh berjubah abu-abu itu delapan sampai sembilan puluh persen adalah gurunya Wan Hong giok, sekalipun dia tak tahu kenapa To koh itu melancarkan serangan keji kearahnya, tapi dia tetap menganggapnya sebagai sahabat, maka senjata kaitan itu dikembalikan kepadanya.

Setelah itu dengan tergesa gesa dia melirik sekejap ke balik gua yang gelap, tampak baik Hoa In-liong maupun Goan cing taysu sama sama masih bersemedi dengan wajah yang tenang, itu berarti keributan yang berlangsung diluar gua tak sampai mengalutkan konsentrasi mereka.

Setelah perasaannya jadi lega, diapun lantas menuding Toan bok See liang serta membentaknya nyaring, “Kamu bandot tua, mau apa bertindak sembunyi-sembunyi datang kemari? Hayo mengaku!” Selama puluhan tahun hidup mengembara dalam dunia persilatan, belum pernah Toan bok See liang digertak orang sekeras itu, kontan saja ia naik darah.

“Budak sialan, perempuan busuk!” makinya dihati, “berani benar engkau memaki diriku. Hmmm! Tunggu saja pembalasanku….”

Sementara dia masih melamun, tiba-tiba dari arah samping kedengaran ada suara orang menyingkirkan rumput kering, dia lantas berpaling dan tampaklah dua orang laki laki berbaju ungu sedang muncul dari balik hutan bambu dan menghampirinya.

Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, Toan bok See liang merasa mendapat akal bagus, cepat digapenya dua orang laki-laki itu.

Dua orang laki-laki berbaju ungu itu sebetulnya datang bersama Toan bok See liang, tapi ketika kakek bermuka merah itu hendak menyusup kedalam gua secara diam-diam, maka untuk menghindari ren cana tersebut mengalami kegagalan total, diperintahnya dua orang itu menunggu didalam jembatan bambu.

Tapi kini, lantaran jejak Toan bok See liang sudah ketahuan, serta-merta mereka ikut munculkan diri pula.

Ketika melihat Toan bok See liang memberi tanda, salah seorang diantara dua laki-laki itu segera mengambil keluar sebuah bom udara dari sakunya kemudian bom udara tadi dibanting ke atas batu.

Dengan senjata kaitan yang terhunus, To koh berbaju abu abu itu mencaci maki, “Tua bangka Toan bok, kau memang manusia yang tak tahu malu, karena tak bisa menangkan orang, lantas kau minta bantuan?”

Mau dicegah sudah tak sempat lagi dan…. “Ceeeeessss….!” segumpal cahaya merah memancar ke

angkasa, disusul kemudian….”Blang!” suatu ledakan dahsyat

menggelegar di angkasa.

Cahaya bintang berwarna keemas-emasan seketika menyebar ke empat penjuru dan membentuk huruf Hian beng, pelan-pelan huruf tadi melayang makin menjauh sebelum akhirnya lenyap tak berbekas.

Dalam waktu singkat, dari ujung langit sebelah depan situ bermuncul cahaya emas yang jumlahnya mencapai enam sampai tujuh buah.

Menyaksikan kesemuanya itu To koh berjubah abu-abu itu merasa terperanjat, segera pikirnya, “Aaaah….! Tak kunyana kalau kawan jago dari Hian-beng-kauw telah berkumpul semua dikota Kim-leng, mungkinkah ada sesuatu masalah besar yang hendak mereka lakukan?” 

Tiba-tiba Coa Wi-wi berseru, “Cianpwe, benarkah dia adalah Thiamcu dari markas besar perkumpulan Hian-beng- kauw?”

To koh berbaju abu-abu itu berpaling, ketika menyaksikan sepasang biji matanya yang jeli sedang memandang ke arahnya dengan wajah penuh kepanikan, dia lantas berpikir, “Aaai…. dengan wajah secantik ini dan tenaga dalam sesempurna itu! sekalipun anak Giok belum ketimpa musibah, dia belum tentu bisa menandinginya….yaa, dalam segala- galanya dia memang jauh lebih hebat daripada anak Giok!” Sekalipun To koh tersebut mempunyai watak yang tangguh, keras dan tabah, toh rasa putus asa sempat pula menerabas dalam hatinya.

Sementara itu Toan bok See liang telah berseru kembali sambil tertawa seram, “Budak ingusan, aku akan menyuruh engkau rasakan betapa lihaynya ilmu silat Toan bok loya mu!”

Coa Wi-wi mengernyitkan sepasang alis matanya, lalu berpikir, “Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan kongkong untuk menyembuhkan luka racun yang diderita jiko? Padahal aku sendiri juga tak tahu apa gerangan maksud tujuan To koh tersebut, lebih baik aku turun tangan saja lebih dulu, dari pada menanti sampai gembong gembong Hian- beng-kauw telah berkumpul semua, waktu itu menyesal-pun tak ada gunanya”

Karena berpendapat demikian, rasa belas kasihannya segera ditarik kembali, sambil melompat ke muka bentaknya nyaring, “Sambutlah seranganku ini!”

Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan. “Bagus sekali seranganmu itu!” seru Toan bok See liang

dengan dahi berkerut.

Sepasang lengannya bergerak cepat, dengan Tiam hiat pit (pena penotok jalan darah) yang berada ditangan kanan dia totok pergelangan tangan lawan Tiam hiat pil yang ada ditangan kiri dengan membentuk tujuh delapan buah bayangan, secara beruntun mengancam jalan darah penting diiga sebelah kiri musuh.

Bukan saja serangannya ganas dan dahsyat, cukup dirasakan dari desingan angin tajam yang di hasilkan dari serangan tersebut, sudah dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimilikinya betul-betul amat sempurna.

Dalam waktu singkat, dua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

“Toan bok See liang!” tiba-tiba To koh berbaju abu-abu itu mengejek lagi dengan suara sinis, “mukamu memang cukup tebal, sebagai seorang cianpwe masa untuk bertarung melawan seorang nona cilik yang bertangan telanjang saja musti menggunakan sepasang sen jata Tiam hiat pit? Dimana kau taruh mukamu?”

To koh itu memang bertujuan untuk menghanyutkan konsentrasi Toan- bok See liang, buktinya ucapan tersebut semuanya dilancarkan dengan tenaga dalam yang sempurna, hingga semua kata-kata itu dapat terdengar olehnya dengan amat jelas.

Toan bok See liang bukan orang bodoh, tentu saja dia mengetahui tujuan musuhnya, kendati begitu toh saking gemasnya ia sampai menggertak gigi menahan emosi.

“Rabib busuk!” sumpahnya dihati “silahkan kau berkaok- kaok terus mengucapkan kata-kata yang tak genah, suatu hari….

Pada mulanya dengan mengandalkan kehebatan Tiam hiat pit nya, ia masih bisa menyerang dan bertahan dengan sempurna, tapi setelah hawa amarah mulai membakar perasaannya, permainan silatnya sedikit banyak ikut terpengaruh.

Padahal pantangan yang paling penting bagi jago persilatan yang sedang bertarung adalah konsentrasi yang sempurna, salah sedikit saja dalam setiap tindakannya akan berakibat besar bagi pertahanannya, apalagi menghadapi Coa Wi-wi yang mempunyai tenaga dalam jauh lebih sempurna daripada dirinya.

Coa Wi-wi segera tertawa dingin, badannya berputar ke samping, telapak tangannya segera berputar setengah lingkaran busur serangan itu seperti juga melambung seperti juga suatu tipuan belaka, tapi tahu-tahu sudah berada tiga depa disamping Toan bok See liang dan langsung membacok pinggang lawan.

Berdiri semua bulu kuduk di tubuh Toan bok See liang, peluh dingin hampir membasahi seluruh tubuhnya, masih untung dia adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman dalam berutus-ratus kali pertarungan, sekalipun terancam mara bahaya ia tak sampai gugup. Pada detik terakhir sebelum jiwanya terancam, ia berhasil meloloskan diri dari ancaman.

Sekalipun demikian, bahu kirinya toh sempat termakan sebuah pukulan….

“Daak….!”dengan sempoyongan ia mundur tujuh langkah, cahaya hitam berkilauan dan tahu-tahu Tiam hiat pit yang berada ditangan kirinya sudah mencelat sejauh tiga kaki dari tempat semula, mungkin tulang bahunya terhantam sampai remuk.

Kagum juga Coa Wi-wi atas kelihayan tenaga dalam lawan setelah musuhnya berbasil meloloskan diri dari serangan Ji yung bu wi (dua kegunaan tanpa tempat), jurus kelima dari ilmu Su siu hua heng-ciang.

Dia tak tega untuk melancarkan serangan lebih jauh, maka sambil menarik kembali serangannya, gadis itu berkata, “Lebih baik cepat cepatlah pulang….” “Budak cilik dari keluarga Coa!” tiba-tiba To koh berbaju abu-abu itu menyela daii samping, “untuk melenyapkan kejahatan, harus dibasmi seakar-akarnya, apa lagi yang musti disungkankan?”

Mendengar teriakan itu, Coa Wi-wi berpaling. “Cianpwe, selama manusia masih ada kemauan untuk

bertobat, kita tak boleh membunuhnya secara keji!” sahut

gadis itu cepat.

“Baik, kalau engkau hendak berbelas kasihan biar aku yang melakukan untukmu!”

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, senjata hud timnya di sapu kemuka, menyusul kemudian badannya ikut maju dua kaki dan dia langsung menyergap dada Toan bok See liang.

“Perempuan hina!” teriak Toan bok See liang saking gusarnya sampai tertawa seram, “kau manusia yang tak tahu malu, beraninya hanya menyerang orang yang sedang terluka!”

Sekalipun luka hanya terjadi pada sebuah lengan belaka namun karena tulang bahunya yang remuk, ini menyebabkan rasa sakit yang bukan kepalang dikala ia menghimpun tenaga dalamnya.

Dalam keadaan demikian, satu-satunya tindakan yarg bisa dilakukan hanyalah mengandalkan sebatang senjata Tiam hiat pit-nya untuk menyelamatkan diri.

Sambil melontarkan serangkaian serangan yang amat dahsyat, To koh berbaju abu-abu itu kembali mengejek, “Perbuatan pinto sekarang tak lebih cuma belajar mengikuti cara yang biasa kalian pakai, tentu saja kalau dibandingkan dengan perkumpulan kalian, aku masih ketinggalan jauh sekali”

Sementara itu Coa Wi-wi sudah mundur kemulut gua, disitu dia ikut berpikir, “To koh ini amat membenci akan segala kejahatan, sayang aku tak tahu siapa julukan kependetaannya? Benarkah dia adalah gurunya enci Wan….?”

Dalam waktu singkat Toan bok See liang sudah terjerumus dalam keadaan yang sangat berbahaya, setiap saat kemungkinan besar jiwanya bakal terancam.

Dua orang laki laki berbaju ungu yang ada di tepi gelanggang segera saling berpandangan sekejap, tiba-tiba mereka loloskan pedang lalu menerkam ke belakang punggung To koh berbaju abu-abu itu.

Berkenyit sepasang alis mata Coa Wi-wi melihat perbuatan itu, ia siap sedia turun tangan.

Tapi sesuatu tindakan dilakukan, To koh berbaju abu-abu yang berada ditengah arena pertarungan telah membentak keras, “Bangsat, kalian pingin mampus!”

Tangan kirinya segera diayun ke muka, dua rentetan cahaya hitam secepat kilat menyambar ke depan….

Dua jeritan ngeri yang menyayatkan hati menggelegar memecahkan kesunyian, dua orang laki-laki berbaju ungu itu membuang pedang mereka lalu roboh terkapar ditanah, sesaat kemudian jiwa mereka telah melayang meninggalkan raganya. Coa Wi-wi mengamati kedua korban itu, rupanya sebatang jarum emas berwarna kebiru-biruan yang jelas amat beracun telah menanjap diantara sepasang alis mata mereka.

Alis yang telah berkenyit kini makin meratap, Coa Wi-wi merasa bahwa orang orang Hian-beng-kauw meski pantas dibunuh, tapi cara To-koh berbaju abu-abu itu melaksanakan pembunuhan itu cukup teramat keji….

Toan bok Se liang yang cilik tak sudi membuang setiap kesempatan yang tersedia dengan begitu saja, dikala To koh berbaju abu-abu itu mengayunkan tangannya untuk mejepaskan jarum emas tadi, cepat-cepat ia merubah taktik pertahanannya menjadi taktik serangan, dengan suatu sodokan maut ia tusuk jalan darah Keng bun hiat ditubuh lawan.

Berada dibawah ancaman seperti ini, sekalipun sapuan dari To koh itu mungkin akan berhasil mengejar lengan kiri Toan bok See liang, namun dia sendiri harus membayar serangan itu dengan sebuah tusukan pena. Dalam posisi diatas angin seperti ini, sudah tentu dia tak mau membayar mahal setiap serangannya, serta-merta tubuhnya mengegos ke samping melepaskan diri dari ancaman, namun dengan tindakan itu maka sapuan Hud tim-nya juga mengerai sasaran yang kosong.

To koh berbaju abu-abu itu marah sekali, dia putar senjata kaitan kemala hijaunya seraya berseru, “Sayang…. benar- benar amat sayang! Thamcu markas besar perkumpulan Hian- beng-kauw yang gagah perkasa harus tewas di bukit Ki po san tanpa suara dan tanpa diketahui siapapun jua”

Toan bok See liang memang sedang gelisah sekali menghadapi situasi yang semakin kritis itu, dia berpikir dihati, “Sungguh aneh, sudah sekian lama bom udara itu diledakkan, kenapa belum nampak juga seorang manusiapun yang datang kemari?”

Dia memang tak malu menjadi Thamcu markas besar perkumpuhn Hian-beng-kauw, sekalipun menghadapi mara bahaya, pikirannya sama sekali tak panik, tidak pula terlintas niat untuk melarikan diri, dengan sikap yang amat tenang ia malah berseru, “Hmmm….! Jangan takabur dulu, tak akan segampang apa yang kau bayangkan….”

“To koh berjubah abu abu itu mendengus dingin lalu menerkam kemuka, kaitan kemala hijau dan senjata Hud tim dilancarkan secara berbareng dengan amat dahsyatnya.

Toan bok See liang menyadari kesulitan yang di hadapi, dia pun mengerti lambat laun tenaganya akan makin melemah dan soal menang kalah hanya tinggal soal waktu belaka.

Kendatipun demikian ia tak mau menyerah dengan begitu saja, kalau bisa mengulur waktu sedetik dia akan manfaatkan waktu sedetik itu untuk menunggu datangnya bala bantuan. Tiam hiat pit dimainkan sedemikian rupa sehingga pertahanannya boleh dibilang benar-benar amat tangguh.

Dengan demikian, meskipun To koh berbaju abu-abu itu berhasil merebut kedudukan diatas angin, toh tak mungkin baginya untuk merebut kemenangan dalam dua tiga gebrakan belaka.

Coa Wi-wi mengikuti sejenak jalannya pertarungan itu, ia tahu dalam seratus gebrakan kemudian, To koh berbaju abu- abu itu akan berhasil membinasakan Toan bok See liang, ia jadi teringat kembali dengan Goan cing taysu dan Hoa In-liong yang berada dalam gua, dengan langkah lebar dia lantas menerobos masuk ke dalam gua itu. Dalam gua cuma dua kaki, dan lagi tiada liku-liku atau tikungan barang satupun, maka sekalipun tak usah masuk kedalam, orang sudah dapat melihat keadaan gua itu dengan amat jelasnya.

Diam-diam ia menghampiri kedua orang itu dan diamatinya paras muka mereka dengan seksama, tampak Hoa In-liong duduk bersila dengan wajah yang sangat tenang, sama sekali tidak ditemukan hal-hal yang mencurigakan, ini membuat hatinya merasa sangat girang.

Waktu itu telapak tanean kanan Goan cing taysu masih menempel diatas jalan darah Leng tay hiat ditubuh Hoa In- liong, Coa Wi-wi mengernyitkan alis matanya lalu berpikir, “Sebentar lagi, orang-orang dari Hian-beng-kauw akan berdatangan kemari, dengan andalkan sepasang telapak tangan jelas aku tak akan mampu menandingi empat tangan, sedang gua ini amat dangkal suara apapun yang terjadi disini pasti akan terdengar sampai di luar, padahal bila sedang bertempur tak mungkin aku bisa mengurusi mereka, wah, bagaimana baiknya….”

Dipikir pulang pergi ia merasa selalu bingung, bahkan makin lama semakin gelisah

Tiba- tiba Goan-cing taysu membuka sepasang matanya, ditengah kegelapan sorot matanya itu ibarat kilat yang membalah angkasa, nona itu amat gembira, bibirnya sudah bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi sebelum sepatah katapun sempat diutarakan, Goan cing taysu telah mengirim suaranya dengan ilmu menyampaikan suara, “Hong ji sedang bersemedi” bisiknya selembut lalat, dalam keadaan demikian tak boleh ia terganggu oleh suara berisik, lebih baik kita bercakap-cakap dengan ilmu menyampaikan suara saja”

Setelah berhenti sebentar ia bertanya lebih jauh. “Siapa yang sedang bertarung diluar sana?”

“Ooh….yang sedang bertarung adalah seorang To koh yang tak kuketahui siapa mamanya dengan Toan bok See ling, Thamcu dari markas besar perkumpulan Hian-beng-kauw” jawab Coa Wi-wi dengan ilmu menyampaikan suara, menurut dugaan Wi-ji, To koh tersebut pastilah….”

Tiba-tiba ia merasa bahwa Goan cing taysu tidak mengetahui siapakah Wan Hong giok itu, maka sesudah berhenti sebentar dia menambahkan, “Wan Hong giok adalah….”

Kembali ia merasa situasi amat mendesak dan tak mungkin membuang banyak waktu hanya untuk membicarakan persoalan yang ada gunanya, maka ia cuma menerangkan secara ringkas saja.

Waktu itu telapak tangan Goan cing taysu masih menempel diatas punggung Hoa In-liong, maka tanyanya, “Bagaimana keadaannya, baik kan?”

Goan-cing taysu mengangguk, dengan ilmu menyampaikan suara yang sempurna dia menyahut, “Kedahsyatan racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhnya betul betul diluar dugaan, mungkin sampai fajar menyingsing nanti baru akan berhasil didesak ke dalam jalan darah aneh diluar syaraf”

Diam diam Coa Wi-wi menghitung didalam hati, sekarang waktu baru kentoagan ketiga, itu berarti masih ada dua jam sebelum fajar menyingsing, kenyataan itu membuat hatinya amat gelisah. “Jalan darah aneh diluar syaraf?” tanyanya keheranan” dimana letak jalan darah aneh itu? Kongkong, kenapa tak bisa didesak keluar?”

“Jalan darah itu letaknya ada di Kiu san hiat” sahut Goan cing taysu,” alasan yang sesungguhnya sulit untuk diterangkan dengan sepatah dua patah kata belaka, pokoknya pertahaakan saja mulut gua itu baik-baik, bilamana keadaan amat mendesak aku dapat menutup ketujuh lubang indera Liong-ji agar tidak sampai mengalami gangguan dari luar”

Baru saja Coa Wi-wi ingin mengajukan pertanyaan lagi, tiba-tiba dari luar gua berkumandang suara teguran yang berat, “Toan bok Tou thamcu, kenapa malam ini kau terkecoh? Perlu minta bantu dari kami dua bersaudara tidak?”

Tertegun Coa Wi-wi sudah mendengar perkataan itu, diam- diam pikirnya dihati, “Aneh, siapa lagi yang datang?

Tampaknya mereka bukan anggota Hian-beng-kauw, tapi kalau di dengar dari pembicaraan tersebut jelas mereka bukan sahabat kami”

Sementara dia masih melamun, Toan bok See liang sudah menyahut dengan nada dingin, “Tua bangka Leng hou tak usah mengejek terus, sudah disepakati oleh semua pihak bahwa tiga perkumpulan besar membentuk perserikatan yang saling bantu membantu, apakah kau hendak mencari penyakit buat dirimu sendiri….”

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut jelas kedengaran napasnya tersengkal-sengkal dan perkataannya terbata-bata, ini menunjukkan kalau keadaannya sangat bahaya.

Suara berat dan kasar yang kedengaran tadi kembali bersuara, kali ini diiringi gelak tertawa ya yang menyeramkan. “Haaaahhh…. haaahh…. haaahhh…. bagaimana pendapatanmu loji?”

“Aku rasa apa yang dikatakan tua bangka Toan bok memang ada tiga bagian yang masuk diakal” jawab suara lain yang serak-serak basah.

“Perserikatan tiga perkumpulan?” pikir Coa Wi-wi dengan perasaan tercekat, bukankah itu berarti perserikatan antara perkumpulan Hian-beng-kauw, Kiu-im-kauw serta Mo-kauw? Padahal cita-cita jiko adalah membasmi hawa sesat dari muka bumi, itu berarti dikemudian hari ia bakal menemui kesulitan yang jauh lebih. Tapi kalau ditinjau dari keadaannya sekarang, rupanya persekutuan itu tak bisa berlangsung sebagaimana yang diharapkan….”

Karena tertarik, gadis itu pasang telinga dan memperhatikan pembicaraan tersebut lebih jauh.

Ketika itu suara pertempuran masih kedengaran jelas, itu berarti pertempuran belum mereda.

Tiba-tiba kedengaran To koh berbaju abu-abu itu berseru sambil tertawa dingin.

“Leng hou Ki, Leng hou Yu, kalian Seng sut pay sudah menganiaya murid kesayanganku, hayo beri keadilan dulu kepadaku!”

“Heeehhh…. heeehhh…. heeehhh….” sang lotoa Leng hou Ki tertawa seram, “sudah dengar belum loji? Ada orang menagih hutang kepada kita”

Sang loji Leng hou Yu ikut tertawa seram. “Dengan bekal ilmu yang cetek berani mengembara dalam dunia persilatan, hmm! sekalipun mampus juga tak perlu menyalahkan orang lain, anggap saja nasibnya yang lagi sebal. Heeehhh…. heeehhh…. heeehhh….cuma, kalau ingin menuntut keadilan juga boleh, kenapa tidak kemari saja?”

“Bagus sekali!” teriak To koh berjubah abu-abu itu sambil tertawa seram, “rasain pukulanku ini….”

Tiba-tiba permainan kaitan kemala serta hud timnya diperkencang, rupanya To koh itu berniat untuk membinasakan Toan bok See liang lebih dahulu, kemudian baru membereskan dua bersaudara Leng hou.

Menyaksikan kejadian itu, Leng hou Ki tertawa terbahak- bahak.

“Haahh…. haahh…. haaahhh….loji, kalau kita tidak turun tangan lagi, niscaya Toan bok toa thamcu akan berpulang ke alam baka”

Berbareng dengan selesainya ucapan itu, terdengar ujung baju tersampok angin, menyusul kemudian desingan angin pukulan yang amat dahsyat menggelegar di angkasa.

Terkesiap Coa Wi-wi setelah mengetahui bahwa dua bersaudara Leng hou akan turun tangan bersama, sebab dari suara pembicaraan Leng hou Ki tadi, ia dapat meraba bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang itu teramat sempurna, dengan seorang lawan seorang saja To koh berjubah abu-abu itu belum tentu menang, apalagi jika kedua orang itu turun tangan bersama….

“Wahai manusia she Leng hou” kedengaran Tokoh berjubah abu-abu itu membentak marah,” sebetulnya kalian masih punya muka tidak” Leng hou Yu tertawa terbahak bahak.

“Haahhh…. haahhh…. haahhh….siapa yang tidak tahu kalau kami dua bersaudara selalu turun tangan bersama, baik untuk menghadapi seorang musuh ataukah harus menghadapi berlaksa-laksa orang prajurit”

Kegusaran yang berkoban didalam dada To koh berjubah abu-abu itu sungguh luar biasa, tapi ia tak berkutik, maka teriaknya dengan suara lantang.

“Budak dari keluarga Coa, kau sudah mampu mungkin?” Buru-buru Coa Wi-wi melirik sekejap ke dalam gua, ia liat

Goan cing taysu susah memejamkan matanya lagi, maka

diapun menerobos keluar dari dalam gua.

Waktu itu si To koh berjubah abu-abu berada dalam posisi yang berbahaya sekali dibawah kerubutan dua orang kakek jangkung yang mengenakan juba warnah kuning dengan ikat pinggang perak berukirkan naga, sedangkan Toan bok See liang sudah mundur ke tepi hutan sambil mengatur napasnya yang tersengkal-sengkal.

“Manusia-manusia yang tak tabu malu!” bentak nona itu dengan marah.

Bagaikan burung walet yang terbang keluar dari sarangnya, berbareng dengan dilancarkannya sebuah pukulan, ia menerjang tubuh Long hou Ki.

Bagi jago lihay yang sedang bertarung, panca indera mereka biasanya diletakan di empat arah delapan penjuru, sejak semula dua bersaudara Leng hou sudah mengetahui kalau ada seorang nona yang cantiknya bagaikan bidadari sedang menerobos ke luar dari gua.

Sekalipun kecantikan nona itu membuat mereka kagum, namun ilmu meringankan tubuhnya lebih lebih membuat hatinya tercekat, buru-buru Leng hou Ki melepaskan juga sebuah pukulan untuk menangkis tibanya ancaman itu.

“Blaaarg….”ketika dua buah telapak tangan saling bertemu, suatu ledakan keras menggelegar di udara.

Tubuh Coa Wi-wi hanya tersendat sedikit, sebaliknya Leng hou Ki terdesak mundur selangkah, ini menyebabkan rasa terkejutnya makin menjadi.

Ditatapnya anak gadis itu tajam-tajam, lalu secara tiba-tiba dia membentak, “Lo-ji!”

Secara beruntun Leng hou Yu melepaskan dua buah pukulan yang mendesak mundur To koh berjubah abu-abu itu, lalu sambil berpaling dia bertanya, “Ada apa?”

Tokoh berjubah abu-abu itu adalah seorang perempuan berwatak angkuh, sikap masa bodoh yang diperlihatkan musuhnya diartikan sebagai suatu penghinaan baginya, tentu saja ia tak dapat menawan diri, dalam hati ia menyumpah, “Setan tua, sialan kamu! Rupanya kau pingin mampus”

Tiba tiba senjata kaitan kemalanya mengeluarkan jurus Jian bong it mo (sisa warna mekar terhapus musnah), suatu jurus ampuh dari ilmu Pek shia kou hoat (ilmu kaitan awan hijau).

Cahaya hijau gemerlapan menyilaukan mata, tahu-tahu dia sudah mengancam depan dada Leng hou Yu. Bersamaan waktunya, senjata Hud tim yang berada ditangan kanannya diputar ke bawah lalu menyodok jalan darah Ki bun hiat sebelah kiri dari musuhnya itu.

Dua jurus serangan sama-sama merupakan jurus ancaman yang tangguh dan mengerikan, kendatipun tenaga dalam yang dimiliki Leng hou Yu lebih tinggi daripada musuhnya, tapi dalam keadaan pandang enteng lawannya, ia toh dibikin kalang kabut juga.

Masih untung dia memiliki tenaga dalam hasil latihan selama enam puluh tahun lebih, dalam keadaan kritis ia sama sekali tidak panik, sambil menarik napas panjang tubuhnya melompat mundur ke belakang.

“Breeet….!” luka sih memang tidak, tak urung serangan itu berhasil menyambar dadanya serta merobek sebagian dari bajunya.

Berhasil dengan serangannya itu, To koh berjubah abu-abu itu menarik kembili senjata kaitan nya seraya mengejek, “Setan tua, sekarang kau sudah tahu lihaynya diriku bukan?”

Dua orang bersaudara Leng hou adalah manusia-manusia buas yang sudah tersohor namanya, penghinaan semacam ini belum pernah dialami sepanjang hidupnya, bayangkan saja, mana mungkin mereka dapat menelan hinaan tersebut dengan begitu saja?

Saking gusarnya mereka tertawa seram. “Bagus! Bagus!” serunya berulang kali.

Ditengah gelak tertawanya yang menyeramkan ia mengangkat lengan kanannya ke atas, lalu diantara suara gemerutukan yang nyaring, tiba tiba saja lengannya bertambah panjang setengah depa dari keadaan semula, kemudian selangkah demi selangkah didekatinya To koh berjubah abu-abu itu….

“Itulah dia ilmu Thong pit mo ciang (Lengan penghubung pukulan iblis)….!” pekik To koh berjubah abu-abu itu dihatinya.

Kewaspadaan segera dipertingkat, senjata kaitan kemalanya diangkat ke atas dan ia berdiri dengan mulut membungkam.

“Loji” kembali Leng hou Ki berkata secara tiba-tiba, “sasaran kita berada disini, sekalipun terdapat masalah yang lebih besarpun, sudah seharusnya kalau kita kesampingkan lebih dahulu”

Semua orang tahu bahwa dua bersaudara Leng hou adalah manusia manusia buas yang tak kenal perikemanusiaan, sepantasnya setelah niat membalas dendam timbul dihati mereka, tak mungkin niat tersebut diurungkan ditengah jalan.

Tapi anehnya, setelah Leng hou Yu mendengar perkataan itu, serentak dia menarik kembali kekuatannya lalu mundur ke samping Leng hou Ki.

“Lotoa, apakah budak itu she Coa?” tanyanya kemudian sambil mengawasi gadis tersebut.

Karena Leng hou Yu membatalkan niatnya untuk melancarkan serangan, diam-diam To koh berjubah abu-abu itu menghembuskan napas lega, ia sadar bahwa tenaga dalam yang dimilikinya bukan tandingan dua bersaudara Leng hou, sudah barang tentu diapun tak berani sembarangan menghadapi mereka…. Tiba-tiba Coa Wi-wi berbisik kepada To koh berjubah abu- aba itu dengan ilmu menyampaikan suara, “Cianpwe bersediakah kau menjaga mulut masuk gua itu?”

Sekalipun hawa napsu membunuh yang berkobar dihati To koh berjubah abu-abu itu sudah jauh berkurang, toh tertegun juga dia setelah mendengar tawaran itu.

“Kau tidak takut pinto masuk kedalam gua dan melakukan sesuatu perbuatan yang tidak menguntungkan terhadap orang yang berada dalam gua?” tanyanya dengan ilmu menyampaikan suara pula.

“Aku tahu cianpwe adalah gurunya enci Wan, masa engkau tidak memberi muka untuk enci Wan

“Waaah, setelah kena ditebak jitu isi hatiku, aku jadi kurang leluasa untuk turun tangan lagi” Pikir To koh berbaju abu-abu itu kemudian. Untuk sesaat dia cuma termenung sambil membungkam diri.

Dengan ilmu menyampaikan suara, kembali Coa Wi-wi berkata, “Cianpwe, kongkongku sedang membantu jiko Hoa In-liong mengusir racun ular keji dari tubuh nya, kau bersedia membantu dia bukan?”

Perkataan itu diutarakan dengan nada lembut dan setengah merengek, tanpa sadar To koh berbaju abu-abu itu mendekati mulut gua.

“Siapa itu kongkongmu? Berapa waktu yang masih dibutuhkan?” tanyanya kemudian dengan suara dingin.

Coa Wi-wi tahu bahwa permintaannya telah di kabulkan, rasa gelisah yang semula menyeliputi perasaannya, kinipun menjadi agak gela. “Kongkongku adalah seorang pendeta, gelarnya adalah Goan cing!” sahutnya kemudian.

Setelah berhenti,ia berkata lagi, “Waktu yang dibutuhkan mungkin antara dua jam”

Belum pernah To koh berjubah abu-abu itu mendengar nama seorang padeei yang menggunakan gelar Goan cing taysu, tapi dari tenaga dalam yang dimiliki Coa Wi-wi dia tahu bahwa kongkongnya pasti seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi maka setelah mendengar perkataan itu dia lantas berjaga-jaga dimulut gua.

“Cianpwe, bolehkah aku tahu siapa namamu.” Coa Wi-wi lagi. Rupanya pertanyaan itu sama sekali diluar dugaan To koh berjubah abu abu itu, dia tampak tertegun.

“Pinto tidak mempunyai gelar kependetaan” sahutnya setelah merenung sebentar,” aku hanya seorang Rahib liar”

Setelah berhenti sebentar, ujarnya kembali, “Pusatkan saja semua perhatianmu untuk menghadapi musuh, kurangi berbicara. Perhatikan baik-baik kedua orang dihadapanmu itu sebab kedua orang bajingan itu adalah adik seperguan dari Tang Kwik-siu, beberapa macam ilmu hitamnya tak boleh dianggap terlampau enteng”

Sementara mereka sedang melangsungkan pembicaraan dua bersaudara Leng hou juga sedang bercakap-cakap dengan ilmu menyampaikan suara.

Untuk sesaat lamanya, suasana jadi bening dan sepi, dibawah sorot sinar rembulan, hanya kedengaran suara angin yang meng-goyangkan tumbuhan bambu…. Kalau menghadapi keadaan seperti ini, siapapun tidak akan percaya kalau beberapa menit sebelumnya disana telah berlangsung suatu pertarungan sengit yang nyaris mengakibatkan korbannya jiwa.

Tiba-tiba Leng hou Ki berkata kepada Toan bok See liang, “Toan bok See liang, apakah engkau mengetahui jelas asal usul dari dayang cilik itu?”

Toan bok See liang yang sedang bersemedi sambil menyembuhkan luka yang dideritanya segera menyahut, “Budak ingusan itu baru muncul sejak sepuluh hari berselang, siapapun tidak tahu asal usulnya….”

“Aaah…. ngaco belo, omongan yang ngawur!” tukas Leng hou Yu tiba-tiba dengan suara dingin.

Toan bok See liang sebetulnya sudah mendendam kepada dua orang itu lantaran mereka cuma berpeluk tangan belaka menyaksikan jiwanya terancam ditangan orang, tapi lantaran ia menyadari bahwa tenaga dalamnya masih kalah setingkat jika dibandingkan mereka, maka perasaan mendendamnya itu hanya disimpan dalam hati.

Namun, setelah mendengar perkataan yang terakhir ini, rasa bencinya makin menjadi, segera pikirnya dihati, “Setan tua Leng hou, tak usah berlahak sok! Lihat sana nanti, sampai kapan gaya tengikmu itu bisa berlangsung! Asal keluarga Hoa telah disisihkan Hmm! Jangan harap pihak Seng Sut pay bisa bercokol terus dalam dunia!”

Dalam pada itu Leng hou Ki telah bertanya lagi, “Siapakah yang bersembunyi di dalam gua?” “Hmmm…. hmmm….tentang soal ini lebih baik tanyakan saja secara langsung kepada budak itu” jawab Toan bok See liang sambil tertawa kering.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya ia kembali berpikir, “Jika ditinjau dari cara dayang itu menjaga gua tersebut secara mati-matian, kebanyakan orang yang berada dalam gua itu adalah Hoa yang si bocah keparat itu, siapa tahu kalau racuu ular kejinya sudah kambuh dan kini sedang berbaring didalam gua sambil menantikan saat ajalnya tiba….

hmm, akan kucoba untuk menakut-nakuti setan tua Leng hou itu….”

Tiba-tiba ia berkata kembali, “Siapa tahu kalau didalam gua itu adalah seorang cianpwe dari dayang tersebut yang sedang melatih ilmu? Heeehhh…. heeebhh…. heeehh….sekalipun kalian berdua memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, belum tentu kehebatan orang itu sanggup kalian hadapi”

Coa Wi-wi tidak tahu kalau orang itu hanya ngaco belo belaka, berdebar jantungnya setelah mendengar ucapan itu.

“Masa Toan bok See liang sudah tahu akan rahasia tersebut?” pikirnya.

Dua bersaudara Leng hou adalah gembong-gembong iblis yang sangat berpengalaman, pikiran mau pun perasaan mereka tajam sekali, cukup hanya sekilas pandangan saja mereka sudah tahu kalau ucapan dari Toan bok See liang itu bukan benar-benar muncul dari hati sanubari yang jujur.

Dengan suara yang menyeramkan Leng hou Yu segera berseru, “Hmmm! Kendatipun Hoa Thian-hong yang berada di dalam gua itu, tak mungkin kami dua bersaudara akan merasa jeri!” Buru-buru Leng-hou Ki menengok kedalam gua, tapi sayang meskipun gua itu cetek namun tertutup oleh tumbuhan bambu yang lebat. To koh berjubah abu-abu itu juga menghadang dimulut gua, kendatipun tenaga dalamnya cukup sempurna, pemandangan dalam itu tidak berhasil juga dilihat jelas.

Karena itu, setelah merenung sebentar, serunya ke arah gua dengan disertai tenaga dalam penuh, “Hei, jago lihay dari manakah yang berada didalam gua….”

Sebenarnya Coa Wi-wi telah memutuskan untuk sebiasanya mengulur waktu, selama dua bersaudara Leng hou tidak turun tangan lebih dulu, maka diapun akan menanti tanpa reaksi.

Akan tetapi, setelah Leng hou Ki berteriak-teriak dengan pengerahan tenaga dalam yang sempurna, ini mengakibatkan suaranya begitu nyaring seperti suara genta yang memekikkan telinga, gadis itu mulai kuatir bila teriakan tadi mengganggu konsentrasi Hoa In- liong.

Dengan cepat diputuskan untuk bertindak lebih dahulu membereskan musuh musuhnya, maka ia menukas dengan ketus, “Berkaok kaok seperti setaa kelaparan…. hmm, bangsat! Lebih baik tutup saja bacotmu, di dalam gua tak ada orangnya!”

Setelah babatan kilat dilontarkan untuk membabat pinggang Leng-hou Ki….

Leng hou Ki tertawa seram,

“Heeh…. hheehh…. heehh….budak ingusan, kau terlampau takabur!” Sejak dipaksa berada diposisi bawah angin oleh gadis itu, dia sudah mulai tak puas dengan musuhnya, sebab itu dengan menggunakan jurus Hou ing jut kun (Burung belibis muncul bergerombol) dia melancarkan serangan balasan.

Sebagaimana dihari-hari biasa, dua bersaudara Leng hou selalu turun tangan bersama-sama, begitu Leng hou ki turun tangan, otomatis Leng hou Yu ikut mengerubuti pula.

Baru pertama kali ini Coa Wi-wi menghadapi musuh dengan tenaga dalam sesempurna ini, begitu musuh turun tangan bersama, gadis itu mulai merasakan tekanan yang kian lama bertambah berat.

“Hebat amat kedua orang itu” pikirnya dihati, “radahal Hu yan kiong setingkat dengan mereka berdua, kenapa tenaga dalam yang dimiliki orang itu begitu tak becus?”

Dua bersaudara Leng hou juga tak kalah kagetnya menghadapi musuh yang masih muda belia itu, soal jurus serangan jelas memang tangguh dan luar biasa, yang lebih hebat lagi adalah pancaran tenaga pukulan yang dihasilkan dari sambaran telapak tangannya itu. Demikian tinggi dan sempurnanya tenaga dalam gadis itu membuat mereka sukar untuk mempercayainya.

“Hebat betul gadis ini” demikian pikirnya, “jangan-jangan dia pernah makan Leng ci atau sebangsanya, kalau tidak, masa tenaga dalamnya selihay itu?”

Pertarungan berlangsung makin seru, ditengah hembusan angin pukulan yang menderu-deru, sekejap mata ratusan jurus sudah lewat tanpa terasa.

Sejak pertama pertarungan itu masih berlangsung agak sungkan-sungkan, masing-masing pihak masih menjajaki kekuatan yang dimiliki lawannya tapi lama-kelamaan, setelah hawa amarah dan napsu ingin menang semakin berkobar dihari mereka, pertarungan itu meningkat ke suatu pertarungan yang betul-betul mengerikan.

Hampir segenap kekuatan yang mereka miliki dikerahkan keluar untuk saling menjatuhkan, angin taupan menderu-deru membuat pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, keadaan amat mengerikan.

Makin lama To koh berjubah abu-abu itu mengikuti jalannya pertarungan, semangatnya makin merosot pula, pikirnya;

“Bukan saja gadis ini memiliki kecantikan bak bidadari dari kahyangan, tenaga dalamnya juga teramat sempurna, yaaa…. sungguh…. anak Giok sudah pasti tak punya harapan!”

Baru saja menghela napas sedih, tiba-tiba dari kaki bukit nun jauh disana tampak munculnya belasan sosok boyangan manusia, hatinya tercekat, dia tahu bala bantuan dari Hian- beng-kauw telah berdatangan.

Gerak tubuh belasan sosok bayangan manusia itu amat cepat seperti hembusan angin, dalam waktu singkat mereka sudah berada didalam gelanggang.

Sebagai pimpinan rombongan adalah seorang kakek bermata kecil berjenggot panjang, dia bukan lain adalah Beng Wi-cian, Thamcu ruang Thian ki dalam perkumpulan Hian- beng-kauw, dibeiakangnya adalah empat orang Ciu Hoa yang mengenakan pakaian berwarna hijau pupus, sedang dipaling akhir adalah delapan orang kakek berbaju hitam. Begitu tiba digelanggang, perhatian Beng Wi-cian segera terhisap oleh jalannya pertarungan antara Coa Wi-wi melawan dua bersaudara Leng hou.

Hembusan angin pukulan menderu-deru, pasir debu beterbangan, ibaratnya gelombang dahsyat ditengah samudra yang mengocok air laut, suasana pada waktu itu sangat mengerikan,

“Saudara Beng!” tiba-tiba Toan bok See liang menyapa.

Beng Wi-cian berpaling, melihat noda darah membasahi ujung bibirnya, lengan kiri terkulai lemah dan senjata Tiam hiat pit nya tinggal sebatang hnigga keadaannya tampak mengenaskan, dengan kaget dia lantas memburu ke depan.

“Saudara Toan bok, kenapa kau….” serunya.

Tapi perkataan itu segera terhenti sampai ditengah jalan, ia melirik sekejap ke arah Coa Wi-wi dan segera dipahami apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Toan bok See liang tertawa getir, menanti Beng Wi-cian dan rombongan teLih menghampirinya, ia baru bertanya dengan suara lirih, “Bukankah kaucu sudah datang? Sekarang dia ada dimana?”

“Suhu sedang mempersiapkan pembukaan upacara peresmian esok pagi” jawab Ciu Hoa lotoa dengan cepat, “sekarang ia berada di markas besar!”

“Apa yang menyebabkan timbulnya pertarungan ini?” tanya Beng Wi-cian pula dengan dahi berkerut.

Toan bok See liang memandang sekejap To koh berbaju abu-abu yang berada belasan kaki dimulut gua itu, lalu sahutnya, “Ketika aku lewat disini, kebetulan kusaksikan dayang cilik itu sedang bertarung melawan Siok bi….”

Sejak muncul disitu, oleh karena ditengah gelanggang sedang berlangsung pertarungan yang seru, dan lagi To koh berjubah abu-abu itu berdiri membelakangi sinar rembulan tanpa bergerak ataupun berbicara, maka Beng Wi-cian tidak menaruh perhatian kepadanya, tapi kini mengikuti sinar mata Toan bok See liang ia berpaling ke mulut gua dan baru tahu kalau disitu berdiri seseorang.

Sambil berseru tertahan, serunya dengan nada tercengang, “Oooh….jadi dia pun sudah masuk ke daratan Tionggoan?”

“Perselisihan sudah terbuka!” kata Toan bok See liang sambil menggigit bibir, bila berjumpa lagi di kemudian hari, kita bunuh bangsat itu dengan cara apapun”

“Aku kuatir kurang begitu baik kata Beng Wi-cian dengan alis mata berkernyat, dia….”

Tiba-tiba To koh berjubah abu-abu itu berkata, “Wahai Beng Wi-cian, apa yang sedang kau kasak-kusukkan dengan Toan bok si setan tua itu?”

Meskipun tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna, namun lantaran deruan angin pukulan memekikkan telinga ditengah gelanggang, maka apa yang mereka bicarakan tak dapat terdengar de ngan jelas.

Beng Wi-cian tertawa terbahak-bahak, dari tempat kejauhan ia menjura dan memberi hormat, katanya, “Sudah puluhan tahun lamanya kita tak pernah bersua, sungguh tak nyana kecantikan Go hujin masih juga seperti sedia kala….” Dengan alis mata berkernyit To koh berjubah abu-abu itu segera menukas dengan dingin, “Sudah lama pinto menjauhkan diri dari keramaian keduniawian, panggilan tersebut lebih baik cepat-cepatlah kau tarik kembali”

Setelah berhenti sejenak, dengan sedikit mencemooh ia berkata lebih lanjut!”

“Kini engkau sudah mendapat kedudukan yang sangat tinggi, apalagi sebagai seorang Thamcu dari suatu perkumpulan besar, aku jadi kagum sekali sebab ternyata engkau masih belum melupakan diriku”

Paras muka Beng Wi-cian berubah hebat cuma sebagai seorang manusia yang berakal panjang dan matang dalam pengalaman, ia dapat meuguasahi diri dengan cepat.

Hanya sebentar saja paras mukanya sudah putih kembali seperti sediakala, kepada Toan bok See liang ujarnya, “Aku lihat Thia Siok bi berjaga-jaga dimulut gua, apakah dibalik gua itu ada hal-hal yang tidak beres?”

“Aku sendiri kurang begitu tahu” jawab Toan bok See liang. Tapi setelah berpikir sebentar, katanya pula, “Mungkin Hoa

Yang si bocah keparat yang berada didalam gua tersebut!”

Begitu menyinggung soal Hoa In-liong serentak, kawan Ciau Hoa jadi naik darah.

Dengan perasaan penuh dendam Ciu Hoa long berkata, “Keponakan minta diberi perintah untuk memeriksa isi gua tersebut!”

“Jangan!” Toan bok See liang gelengkan kepalanya berulang kali.” tenaga dalam yang dimiliki Thia Siok bi sangat tinggi, engkau masih ketinggalan jauh bila dibandingkan dirinya”

Beng Wi-cian menyapu sekejap sekeliling gelanggang, kemudian bisiknya lirih, “Aku rasa lebih baik biarkan dua bersaudara Leng hou bertarung lebih dulu dengan budak tersebut, tentu saja lebih baik lagi kalau kedua duanya terluka parah”

Sekalipun tiga perkumpulan berkaok-kaok menyatakan telah membentuk perserikatan, padahal mereka tak ada yang sudi tolong menolong apalagi bantu membantu, otomatis perserikatan hanya berlangsung di bibir belaka tanpa adanya suatu kenyataan.

Tiba-tiba Leng hou Ki yang sedang bertarung berteriak keras, “Wahai budak ingusan, apakah Coa Goan hou adalah bapakmu?”

Rupanya dua bersaudara Leng hou merasa kehilangan muka setelah sekian lamanya bertarung tanpa berhasil menundukkan Coa Wi-wi, padahal berada didepan mata sekian banyak jago-jago Hian-beng-kauw. Untunglah mereka memang cerdik dan banyak tipu muslihatnya, setelah berpikir sebentar segera ditemukan suatu cara yang baik untuk mengatasi keadaan itu.

Betul juga, Coa Wi-wi segera merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya keheranan, “Sungguh mencengangkan, darimana mereka bisa tahu akan hal ini?”

Sementara itu, dua bersaudara Leng hou telah mengeluarkan ilmu pukulan Le sim toh si ciang hoat untuk mengimbangi permainan Yu sin ci lek suatu ilmu jari yang telah dipergunakan lebih dahulu. Seenteng burung walet, Coa Wi-wi berkelebat kesana kemari menghindarkan diri dari totokan jari Leng hou Yu, kemudian sebuah pukulan dilepaskan ke arah Leng hou Ki seraya bentaknya, “Kamu tak usah banyak bicara!”

Leng hou Yu menyusul maju ke muka, sambil melepaskan juga sebuah pukulan dahsyat ke punggung Coa Wi-wi, serunya lantang, “Kalau benar, masih banyak persoalan yang perlu dibicarakan, kalau bukan yaa sudahlah”

Coa Wi-wi segera berpikir, “Sudah banyak tahun ayahku lenyap tak ada kabar beritanya, kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mendapatkan sedikit kabar tentang dirinya?”

Berpendapat demikian, sambil putar badan melepaskan sebuah pukulan, dia berseru, “Cepat katakan!”

Leng hou Ki mengegos ke samping menghindarkan diri dari ancaman itu, lalu tertawa tergelak.

“Budak ingusan, jawab dulu benar atau tidak?” Coa Wi-wi termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, ia merasa bahwa kesempatan sebaik itu tak boleh dilewatkan dengan begitu saja, maka katanya, “Kalau benar lantas kenapa?”

Leng hou Ki mendengus dingin.

“Hmmm….belasan tahun berselang, perkumpulan kami berhasil menangkap seorang laki-laki setengah baya yang bernama Coa Goan hou….

Kontan Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya setelah mendengar perkataan itu. “Huuuh….Mo-kauw itu perkumpulan apa? Kalau cuma mengandalkan sedikit kepandaian yang kalian miliki, masih terlampau jauh bila dibandingkan dengan kepandaian ayahku!”

Dengan tanpa sadar, ucapan tersebut sama artinya telah mengakui bahwa Coa Goan hon adalah ayahnya.

Lenghou Ki tertawa seram.

“Heehhh…. heehh…. heehhh…. akupun tak akan menyangkal” katanya, “ilmu silat yang dimiliki Coa Goan hou memang benar-benar terhitung suatu kepandaian yang luar biasa”

“Masa dia benar adalah ayah?” pikir Coa Wi-wi. “Panik, gelisah dan tak tenang bercampur aduk dalam

perasaan gadis itu, kalau bisa dia ingin sekali kembali ke dalam gua dan mengajak Goan cing taysu serta Hoa In-liong untuk bersama-sama memperbincangkan persoalan itu.

Meskipun gelisah, toh sikapnya diluaran tetap tenang. “Hmm….! Bukan sama seorang didunia ini yang bernama

Coa Goan-hou, siapa tahu kalau orang yang kalian tangkap adalah orang lain?”

“Heeehh…. heeeh…. heeehh….baik itu bapakmu atau bukan, ada satu hal akan kuberitahukan kepadamu” ujar Leng hou Yu dengan nada yang menyeramkan.

Telapak tangan dan jari tangan berputar demi kian rupa melepaskan delapan buah serangan berantai yang amat gencar. Dalam kejutnya seketika itu juga Coa Wi-wi terdesak mundur lima enam langkah kebelakang, ditambah pula waktu itu Leng hou Ki ikut menyerang dengan sepenuh tenaga, sekejap mata Coa Wi-wi sudah terdesak dibawah angin.

Sekalipun keadaannya sudah terancam bahaya, gadis itu masih tidak melupakan untuk mengetahui keadaan ayahnya, dengan suara lantang serunya, “Apa yang hendak kau katakan?”

Betapa bangganya Leng hou Ki setelah menyaksikan siasatnya mendatangkan hasil, dia tertawa terbahak-bahak.

“Haaahh…. haaahh…. haaahh…. kalau engkau ingin tahu, akupun akan memberitahukan kepadamu. Setelah Coa Goan hou berhasil ditangkap, tubuhnya telah kami cincang menjadi berkeping-keping lalu dibuang ke laut Seng sut hay sebagai um an ikan hiu!”

Tentu saja Coa Wi-wi tidak percaya dengan perkataan itu, toh pikirannya sempat dikacaukan hingga posisinya semakin terdesak dan jiwaaya terancam mara bahaya.

To koh berjubah abu-abu itu jadi kaget sekali menjumpai keadaan itu, dengan gusar dia membentak, “Budak tolol, masa kau percaya dengan begitu saja obrolan dari dua orang bajingan tua itu?”

Karena ditegur, Coa Wi-wi segera sadar kembali kalau dirinya sedang ditipu, pikirnya dalam hati, “Kenapa kau harus mengurusi persoalan yang belum jelas? Sekalipun dua orang bajingan tua ini kubunuh” juga tak ada salahnya”

Setelah berpikir demikian, tanpa terasa hawa napsu membunuh yang belum pernah terlintas diwajahnya kini menyelimuti seluruh benaknya, dengan wajah sedingin salju dan sepasang alis bekernyit, secara beruntun ia lancarkan belasan buah serangan berantai untuk meneter musuhnya habis-habisan.

Kesepuluh jurus serangan itu, semuanya merupakan jurus terampuh dari ilmu pukulan Su siu hua heng ciang, dan tiap serangan yang dilancarkan semuanya mengandung tenaga pukulan sebesar dua belas bagian, begitu dahsyat serangan itu ibaratnya ombak dahsyat yang mengamuk ditengah samudra, ibaratnya juga bukit Thay san yang menindih diatas kepala. Hebat, dahsyat dan sangat menggetarkan sukma.

Paras muka bersaudara Leng hou berubah hebat, mereka berkelit kesamping lalu berdiri berjajar, empat buah telapak tangan dilancarkan berbareng, dengan susah payah mereka bendung tibanya ancaman itu sepenuh tenaga, meski demikian toh semua pukulan itu susah dibendung, mereka didesak hingga musti mundur berulang kali.

Ditengah belasan jurus serangan terantai itu, dua bersaudara Leng hou berhasil didesak mundur sejauh delapan- sembilan langkah, bukan begitu saja, malah sebanyak tiga kali jiwa mereka terancam bahaya hingga nyaris terbunuh, keadaan mereka benar-benar mengenaskan.

Kejadian ini segera menggemparkan seluruh gelanggang, semua orang tahu bahwa dua bersaudara Leng hou masing- masing memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan, apalagi jika mereka turun tangan bersama, pada hakekatnya cuma Hoa Thian-hong seorang didunia ini yang sanggup menghadapinya.

Tapi nyatanya sekarang, dua orang jago tangguh itu berhasil didesak Coa Wi-wi hingga mengenaskan keadaannya, tidak heran kalau semua orang jadi terkesiap dibuatnya. Sementara pertempuran masih berkorbar dengan serunya, suara langkah manusia berkumandang dari balik hutan bambu, disusul munculnya anggota Hian-beng-kauw yang jumlahnya mencapai enam tujuh puluh orang lebih, dengan cepat mereka menyumbat mulut gua dia membendung hutan bambu.

Dari lereng bukit masih juga kelihatan munculnya bayangan manusia, diantara mereka yang datang agak akhir, terdapat juga tujuh-delapan orang jago dari Mo-kauw, meski mereka mendekati sisi ge lenggang dan bersiap sedia untuk ikut pula dalam pertarungan itu, tapi pertempuran yang selang berlangsung terlampau dahsyat, apalagi melibatkan jago-jago kelas wahid, ini menyebabkan mereka tak mampu untuk mengambil bagian, apa yang bisa dilakukan tak lebih hanya berdiri, terbelalak dengan mata melotot.

Waktu itu baik Toan bok See liang maupun Beng Wi-cian sama-ssma telah dibuat terkesiap oleh kelihayan musuhnya, dalam keadaan begini mereka mulai berpikir untuk bekerja sama dengan pihak Mo-kauw untuk menyingkirkan musuh tangguh tersebut.

Maka setelah melirik sekejap ke arah medan petarungan, berkatalah Toan bok See liang, “Saudara Beng, luka yang kuderita cukup parah, semua kekuasaan pada malam ini kulimpahkan kepadamu, pimpinlah saudara-saudara kita dan jangan biarkan budak ingusan itu tetap hidup.

“Kalau begitu siau-te akan melancangi kekuasanmu” jawab Beng Wi-cian, setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, ujarnya lebih lanjut, “Segenap jago lihay kita telah berkumpul disini. Hmm sekalipun budak itu memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, tak mungkin dia akan mampu untuk menghadapi serangan kita apalagi dia harus melindungi pula mulut gua itu” Dia lantas memberi tanda kepada anak buahnya, anggota Hian-beng-kauw yang sudah terlatih itu segera bertindak cepat, dalam waktu singkat mereka telah menyebarkan diri dan membentuk kepungan setengah lingkaran dengan mulut gua batu itu sebagai pusat sasaran. Kemudian senjata tajam pun diloloskan.

Dibawah pantulan sinar rembulan yang berwarna keperak- perakan kilapan cahaya senjata mereka menambah hawa pembunuhan yang semakin menggidikkan disekitar tempat itu.

Sebagaimana diketahui gua batu itu berada dibawah sebuah tebing yang curam, dengan dilakukannya pengepungan tersebut, maka seluruh jalan mundur boleh dibilang teiah terbendung.

Rupanya Beng Wi-cian masih tak lega hatinya dengan tindakan itu, dipanggilnya sepuluh orang jago lagi dan kepada mereka dibisikkan sesuatu.

Belasan jago itu segera menerima perintah dan berlalu dari sana, rupanya mereka mendapat tugas untuk berputar kepuncak bukit sebelah belakang dan memeriksa apakah disitu ada jalan tembusnya atau tidak.

Thia Siok bi atau To koh berjubah abu-abu itu sebenarnya sedang mengikuti jalannya pertarungan antara Coa Wi-wi dengan dua bersaudara Leng hou, tapi setelah menyaksikan kejadian itu, hatinya tercekat, dan dia segera berpikir, “Kalau begitu keadaannya, kemungkinan besar jiwaku bakal ikut melayang di tempat ini, aaai….”

Kendatipun To koh itu mempunyai watak yang sangat aneh, namun jiwa ksatrianya tetap terpelihara. Walaupun dia tahu bahwa situasinya pada saat itu sangat berbahaya, tak pernah terlintas dalam benaknya untuk melarikan diri dari sana. Ia malah menghela napas dan meneruskan perhatiannya mengawasi jalannya pertarungan itu meski dengan perasaan yang kesal.

Sejelek-jeleknya, dua bersaudara Leng-bou mempunyai hasil latihan selama puluhan tahun, tenaga dalam yang mereka miliki cukup sempurna, dalam posisi yang amat kritis dan tidak menguntungkan itu, mereka masih berusaha dengan sekuat tenaga untuk membendung datangnya semua serangan dari Coa Wi-wi itu.

Sebaliknya Coa Wi-wi sendiri, sudah enam kali dia ulangi ke depan jurus serangan berantai dari ilmu pukulan Su siu hua heng ciang tersebut namun semua serangannya itu tidak menghasilkan apa-apa, kenyataan ini membuat dia merasa kagum sekali, pikirnya, “Tenaga dalam yang dimiliki kedua orang ini betul-betul luar biasa hebatnya, padahal mereka adalah adik seperguruan dari Tang-kwik Siu aaai…. entah bagaimanakah kepandaian Tang Kwik-siu Sendiri sebagai ciang bunjin dari Mo-kauw?”

Aku jadi menguatirkan masa depan jiko….”

Tiba-tiba Leng hou Ki membentak keras, “Toan bok See liang!”

Berbareng dengan seruan itu, sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke depan.

Diam-diam Toan bok See liang tertawa dingin, pikirnya, “Rasain kamu sekarang setan tua Leng hou, enak bukan kalau dibuat kerepotan oleh budak tersebut? Hmmm!” Karena ditegur, sudah barang tentu dia tak bisa berdiam diri saja, maka sesudah berpikir sebentar sabutnya, “Ada apa?”

Meskipun gusar dihati kecilnya, sebisa mungkin Leng hou Ki mengendalikan perasaannya itu, sepasang telapak tangannya diayun bersama untuk membendung serangan Kong loan tiat ing (keras dan lunak mengalir secara bergilir) dari Coa Wi-wi, kemudian serunya dengan lantang, “Cepat serang ke dalam gua….”

Tapi hanya sampai ditengah jalan saja seruan itu tiba-tiba ia membungkam kembali.

Kiranya karena cemas secara tiba-tiba Coa Wi-wi telah menyerang dengan jurus Ban wu kui kun (Segala benda bersumber dan tanah), suatu jurus serangan yang paling dahsyat daya pengaruhnya dalam ilmu pukulan Su siu bua heng ciang, karena keteter hebat maka dia tak punya kesempatan untuk melanjutkan kembali kata-katanya.

Sekalipun begitu, Toan bok See liang maupun Beng Wi-cian sudah memahami teriakan tadi, secara tiba-tiba mereka menyadari bahwa menghadapi musuh secara bersama jauh lebih penting dari pada hal-hal lainnya….

Karena itu setelah berunding sebentar, tiba-tiba Beng Wi- cian membentak keras, “Delapan tua melindungi markas!

Kalian ikut aku menyerbu ke dalam gua….!”

Dengan langkah lebar dia mengitari gelanggang pertempuran dan menghampiri mulut gua itu.

Dengan wajah yang kaku tanpa emosi, delapan orang kakek berbaju hitam mengikuti dibelakangnya. Coa Wi-wi yan g sedang bertempur sempat melirik sekejap kearah gerak gerik mereka, kewaspadaannya segera meningkat, mendadak ia membentak nyaring, “Manusia she Beng, kau sudah bosan hidup?”

Sebenarnya nona itu bermaksud menghalangi jalan pergi mereka, tapi Leng hou Ki yang licik sudah tertawa terbahak- bahak.

“Haaahh…. haaahh…. haaahh…. dayang busuk, mau kemana kau? Pertarungan diantara kita toh belum selesai!”

“Criiiit….!”dengan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya dia melepaskan sebuah sodokan. Segulung desingan angin tajam segera menyambar ke arah jalan darah Hong wi hiat ditubuh Coa Wi-wi.

Dua bersaudara Leng hou memang bukan manusia sembarangan, dengan andalkan pengalaman mereka dalam menghadapi pertarungan, tentu saja bukan pekerjaan yang gampang bagi Coa Wi-wi untuk mengundurkan diri dari gelanggang pertarungan.

Dikala Coa Wi-wi putar badan sambil melancarkan serangan, Leng hoau Yu telah menerjang pula dengari garangnya, mau tak mau terpaksa gadis itu harus melayani serangan-serangan itu, dan pertarungan sengitpun kembali berkobar.

Beng Wi-cian tidak buang peluang tersebut dengan begitu saja, cepat-cepat dia melewati disisi pertarungan dan menyerbu ke mulut gua.

Sementara itu Thia Siok bi sudah mempersiapkan senjata kaitan kemalanya, begitu musuh mendekat diapun membentak, “Beng Wi-cian, berhenti kamu!” Beng Wi-cian baru berhenti setelah berada tiga kaki dari mulut gua, ia merangkap tangannya lalu menjura.

“Go hujin, maafkanlah kami, aku harap hujin bersedia menyingkir dari situ dan memberi kesempatan kepada kami untuk memasuki gua itu!”