Rahasia Hiolo Kumala Jilid 20

Jilid 20

SAMBIL berseru, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya ia menerjang maju ke muka, telapak tangan kanannya langsung mencengkeram dada Hu-yan Kiong.

“Bangsat yang tak tahu diri, rupanya kau ingin mampus!” bentak Hu-yan Kiong sangat gusar.

Telapak tangan kanannya segera diputar, kemudian membacok urat nadi diatas pergelangan tangan Leng-ji dengan serangan dahsyat.

Ternyata gerakan tubuh Leng-ji cukup lincah, ketika serangan tersebut hampir mengena di atas pergelangan tangannya, dengan cekatan dia berputar ke belakang punggung Hu-yan Kiong, kemudian teriaknya dengan nada lengking, “Bagus…. Bagus sekali! Engkau berani membokongi aku….? Kurang ajar!”

Gerak serangannya segera dirubah, kali ini ia menonjok iga kiri musuhnya.

Jelas dalam serangannya kali ini, Leng- ji sudah berniat melukai musuhnya di bawah serangan tersebut. Begitu serangan dilancarkan, terasalah desingan tajam sebagai ujung tombak menerjang ke luar dan langsung menusuk jalan darah Ki bun hiat di tubuh Hu-yan Kiong. Cepat dan tajam serangan itu, tampaknya segera akan bersarang di tubuh lawan.

Para anak buah Hu yan Kiong yang menyaksikan kejadian itu sama sama berteriak kaget, mereka masing-masing pada menyerbu ke muka siap memberikan pertolongan.

Padahal orang-orang itu bersikap terlalu berlebihan. Sikap tegang merekapun sebetulnya tak berarti apa-apa. Sebab bila Hu-yan Kiong tidak memiliki serangkaian ilmu silat yang maha dahsyat, apakah Mo-kauw kaucu tega melimpahkan tugas berat ini di atas pundaknya? Apakah ia legakan

hati membiarkan dia yang memimpin “rombongan penyelidik” itu menuju daratan Tionggoan?

Sementara kawanan jago itu siap menubruk kedepan untuk memberikan pertolongannya, serangan yang dilancarkan

Leng-ji sudah bersarang telak pada sasarannya.

Akan tetapi, meskipun pukulan itu bersarang telak, Hu-yan Kiong sedikitpun tidik menderita cedera barang sedikitpun jua. Sebaliknya Leng-ji yang menjerit kesakitan, menyusul kemudian secara beruntun dia mundur tujuh delapan langkah dengan sempoyongan. Akhirnya bocah itu tak sanggup berdiri tegak, ia jatuh terduduk diatas tanah tak mampu bergerak lagi.

Ternyata Hu-yan Kiong pernah mendapat warisan ilmu silat yang sangat lihay dari seorang tokoh silat maha sakti dan ilmu tersebut khusus digunakan untuk melindungi keselamatan jiwa dari ancaman musuh yang datang secara tiba-tiba.

Ilmu melindungi badan itu disebut Gi hiat ki-khi-ceng-han (menggeser kedudukan jalan darah, menghimpun kekuatan menggetarkan ancaman). Bukan saja dalam waktu singkat ia dapat menggeser kedudukan jalan darahnya yang terancam, secara otomatis hawa murninya dapat dihimpun pula untuk menggetarkan serangan musuh.

Atau dengan perkataan lain semakin besar tenaga serangan yang dilancarkan musuh, semakin besar pula tenaga pantulan yang dihasilkan oleh serangan tersebut. Sebaliknya makin lambat pukulan yang menyerang makin enteng pula tenaga pantulan yang dihasilkan. Untunglah Leng-ji yang masih kecil memiliki tenaga pukulan yang tidak terlampau berat. Kalau tidak, penderitaan yang diperoleh dari serangan tersebut mungkin bukan hanya tergetar mundur belaka.

Sementara itu Cwan Wi sedang berusaha dengan sepenuh tenaga untuk menguruti jalan darah di tubuh Hoa In-liong, saking gelisahnya peluh sebesar kacang kedelai telah membasahi sekujur tubuhnya.

Ketika secara tiba-tiba mendengar jeritan ngeri dari Leng-ji, ia tampak terkejut dan cepat cepat berpaling.

Tampaknya waktu itu Hu-yan Kiong sedang memandang kearahnya sambil tertawa dingin. Tangannya diulapkan memberi Komando seraya serunya dengan nyaring, “Tawan sekalian orang itu dan kita gusur mereka semua dari sini!”.

Perkataan itu sombong lagi pula dingin, seakan akan Cwan Wi sekalian sudah mencari burung dalam sangkar, kura-kura dalam tempurung. Seolah-olah mereka tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan dan bakal menjadi tawanan mereka.

Leng-ji adalah kacung Cwan Wi yang bergaul akrab semenjak kecil. Hubungan mereka boleh dibilang lebih akrab dari saudara kandung sendiri. Tak terkirakan gusar Cwan Wi ketika dilihatnya kacung bukunya terluka ditangan orang.

Tapi lantaran Hoa In-liong masih tak sadarkan diri lagi pula bantuan yang diberikan sedang mencapai puncak yang paling penting, untuk sesaat dia tak dapat berbuat apa-apa.

Dan sekarang, setelah ia dengar kata-kata Hu-yan Kiong yang begitu tak sedap didengar, amarah yang ditahan- tahannya selama ini tak terkendali. Pada saat yang bersamaan dikala ia bangkit secara di luar dugaan Hoa In-liong telah sadar pula dari pingsannya, hanya Cwan Wi sama sekali tidak merasakan hal itu.

Cwan Wi telah berpikir keras dalam benaknya. Ia merasa daripada mencurahkan segenap perhatian dan tenaganya untuk menolong Hoa In-liong, lebih baik menguasai Hu-yan Kiong lebih dulu kemudian baru menyelesaikan soal-soal lain.

Pertama dengan perbuatannya ini dia dapat membebaskan Leng-ji dari ancaman bahaya maut. Kedua diapun dapat memaksa Hu-yan Kiong untuk menyerahkan obat penawar racun kepadanya.

Ia merasa mempunyai kepercayaan penuh untuk menaklukkan Hu-yan Kiong. Jika pemimpinnya gampang ditaklukkan, otomatis anak buahnya tidak terlampau merisaukan hatinya lagi, dia yakin sekali diserang mereka pasti akan kocar-kacir.

Demikianlah, dengan suatu gerakan yang lebih cepat dari sambaran angin puyuh ia menerkam ke muka dengan hebatnya. Kemarahan dan rasa dendam telah menyelimuti benaknya. Ini membuat wajahnya yang tampan segera dilapisi hawa pembunuh yang betul-betul mengerikan.

Waktu itu, anak buah Hu-yan Kiong sedang bergerak maju ke depan menghampiri Leng-ji yang masih tertuduk di tanah.

Tiba-tiba….salah seorang diantara rombongan kaum iblis itu…. Laki-laki berjubah kuning yang memelihara jenggot pendek telah menjumpai kehadiran Cwan Wi telah menggetarkan hatinya. Tak kuasa lagi dia menjerit kaget dan segera menghentikan langkah kakinya. Jeritan kagetnya itu segera menggetarkan hati rekan-rekan lainnya, juga mengejutkan Hu-yan Kiong pribadi.

Dengan gerakan tubuh yang enteng Cwan Wi melayang turun di samping Leng-ji, lalu dengan gerakan yang tenang dan kalem dia membantu Leng ji untuk menyambung kembali tulang persendian tangan kanannya yang terlepas. Setelah itu baru berpaling ke arah Hu-yan Kiong.

“Kau munafik!. Kau manusia rendah yang tak tahu malu. Bukan cari kemenangan dengan mengandalkan ilmu silat, khusus melukai orang dengan siasat busuk. Hmmm! Jika tahu diri, cepat persembahkan obat penawar kepadaku, mungkin aku bisa mengampuni jiwa kalian dan membiarkan engkau pergi bersama anak buahmu, tapi kalau menampik….

Hmmm….!”

Setelah mendengus dingin ia hentikan kata-katanya.

Sekalipun tidak diberi penjelasan lebih jauh, namun siapapun tahu apa yang dimaksudkan. Apalagi setelah menyaksikan sepasang sinar matanya yang lebih tajam dari sembilu itu menatap wajah musuhnya tanpa berkedip.

Orang lain tidak butuh penjelasan, cukup memandang tatapan matanya yang menggidikkan hati segera akan memahami makna yang sebenarnya dari musuhnya itu.

Pada hakekatnya kawanan jago dari Mo-kauw itu sudah dibuat keder oleh kelihayan serta ketenangan sikap Cwan Wi. Setelah menyaksikan sikapnya yang menggidikkan hati itu, mereka hanya bisa saling berpandangan dengan perasaan tercekat

Bagaimanapun juga, jelek-jelek Hu-yan Kiong adalah seorang pemimpin rombongan. Sekalipun ia rada keder oleh kegagahan musuhnya, perasaan keder itu tidak sampai diperlihatkan dihadapan anak buahnya.

Setelah merenung sebentar, akhirnya ia tertawa seram sambil menegur kembali, “Dalam urusan nomor berapa engkau dalam keluarga Hoa? Siapa namamu….?”

Cwan Wi menjengek dingin, dengan suara sekeras geledek ia membentaknya nyaring, “Kau tak usah banyak omong! Mau bertempur atau berdamai, ayoh cepat mengambil keputusan!”

Keadaan semacam ini membuat Hu-Yan Kiong ibaratnya duduk dipunggung harimau, mau turun sungkan tidak turun takut, tapi untuk menjaga gengsi ia lantas mendengus. “Huh….! Jika bertarung lantas bagaimana?”

Cwan Wi kontan maju selangkah kedepan, ia maju lima depa lebih dekat dengan lawannya, lalu membentak dengan suara dalam, “Rupanya sebelum sampai disungai Huang-ho engkau tak akan matikan perasaanmu. Jika tidak kuberi sedikit pelajaran yang setimpal, engkau tak akan memparsembahkan obat penawarnya dengan suka rela Hmm…. Baiklah!”

Ia berhenti sebentar untuk mendengus dingin, kemudian bentaknya kembali, “Cabut senjatamu! Akan kubikin engkau takluk dengan hati yang rela dan puas!”

Ucapan tersebut diutarakan secara langsung dan tanpa tedeng aling aling sedikitpun tiada tanda untuk memberi muka kepada musuhnya untuk membela diri.

Dari mendongkol bercampur malu Hu yan Ki-ong jadi naik pitam, tiba-tiba ia tertawa seram. “Haa…. haa…. haa…. Baik…. Baik! Akan lohu saksikan sampai dimanakah kelihayan ilmu silat keluarga Hoa kalian!” “Weesss!”

Sabuk naga perak putihnya dengan membawa tenaga serangan yang maha dahsyat segera menyambar ke muka dengan jurus It-cu-keng-thian (sebuah tongkat menyungging langit).

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba suara bentakan dari Hoa In- liong berkumandang kembali ke udara.

Baik Hu-yan Kiong maupun Cwan Wi sama-sama tertegun dan alihkan pandangan matanya kearah mana berasalnya suara itu.

Hoa In-liong dengan pedang terhunus sedang berjalan menghampiri mereka dengan langkah tegap.

Cwan Wi rada tertegun sebentar, kemudian sambil menubruk maju ke depan teriaknya penuh kegembiraan, “Jiko…. Oooh Jiko….! Kau…. Kau…. tidak apa-apa bukan?”

Hoa In-liong mengulurkan tangan kirinya untuk menyambut tubrukan Cwan Wi, pelan-pelan ia mengangguk. “Aku tidak apa-apa. Terima kasih banyak atas kedatanganmu yang begitu tepat pada saatnya. Kalau tidak, waah…. Mungkin aku yang bodoh sudah menjadi tawanan orang”

Walaupun mulutnya berbicara terus, tidak berarti kakinya berhenti berjalan, terpaksa Cwan Wi harus mengikuti dibelakangnya untuk maju bersama.

Sambil berjalan kembali ujarnya, “Tak usah bicarakan tentang soal ini, kalau toh engkau tidak mengapa, lebih baik kita segera berlalu dari sini!” “Tidak! kita tak dapat tinggalkan sempat ini dengan begitu saja. Bukankah kau dengar sendiri kakek itu mengatakan bahwa dia sangat ingin merasakan sampai dimanakah kelihayan ilmu silat keluarga Hoa? Apakah kita musti membiarkan dia merasa kecewa? Tidak bukan? Nah!

Keinginan orang musti kita penuhi sebagaimana mestinya”

Mendengar perkataan itu Cwan Wi tertegun. “Tapi apakah Jiko sudah dapat turun tangan?” tanyanya.

Hoa In-liong tersenyum. “Sekalipun orang lain telah menggunakan siasat busuk dan akal keji untuk mengecundangi diri kita. Sebagai anggota keluarga Hoa, kita harus tunjukkan contoh yang baik kepada mereka, bukankah demikian saudara Cwan?”

Anak muda ini tidak langsung menanggapi pertanyaan orang, sebaliknya membicarakan soal lain. Dari sini dapat diketahui bahwa racun yang bersarang dalam tubuhnya belum terpunahkan dari tubuhnya.

Atau dengan perkataan lain, seandainya ia dapat turun tangan, itupun dilakukan dalam keadaan terpaksa.

Walaupun demikian, oleh karena alasan yang diajukan pemuda itu masuk di akal sekalipun Cwan Wi merasa sangat gelisah, dia juga tak mampu mengatakan apa-apa.

Hu-yan Kiong sendiri rada terperanjat ketika dilihatnya Hoa In-liong secara tiba tiba menghampiri dirinya dengan langkah yang tegap dan gagah. Dia malah mengira siksaaan “ular kecil menggigit hati” nya sudah tidak mempan lagi terhadap anak muda itu.

Akan tetapi setelah ia mendengar tanya jawab dari kedua orang lawannya, perasaan kuatirnya segera tersapu lenyap dari hatinya. Ia jadi sangat lega. “Bagus sekali! Bagus sekali!” katanya kemudian “Bila engkau dapat mengandalkan ilmu silat yang kau katakan sangat lihay itu untuk mengalahkan aku walau cuma satu jurus saja, lohu segera akan angkat kaki dari sini!”

Hoa In-liong tertawa ewa. “Mengundurkan diri dari sini sudah pasti akan kau lakukan, tapi kau musti berjanji bahwa Wan Hong-giok akan kau lepaskan dan makhluk-makhluk racun yang berpesta pora diatas tubuhnya kau tarik kembali”

Sebelum Hu-yan Kiong memberikan jawabannya, Cwan Wi telah menukas dengan suara yang amat gelisah:…. “Tidak boleh begitu saja, diapun harus meninggalkan obat penawar untukmu!”

Hoa In-liong tersenyum, ia berpaling dan ditatapnya wajah rekannya lekat-lekat. “Adik Wi kau tak usah terlampau kuatir! Jangan bingung, siksaan yang dikatakannya sebagai ular sakti menggigit hati itu tak nanti bisa merenggut jiwaku. Jika aku tak berkemampuan untuk memunahkan kepandaiannya itu, lain kali dia pasti akan mengandalkan kepandaian tadi untuk malang melintang dalam dunia persilatan dan berbuat kejahatan dimana-mana. Hmmmm! Waktu itu dunia persilatan pasti akan dibikin kuatir olehnya. Kalau sampai begitu, akan ditaruh dimanakah wajah kita-kita ini….?”

Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, ketika Hu-yan Kiong terbahak-bahak. “Haa…. haa…. haa…. Aku lihat rasa ingin menangmu benar-benar besar sekali. Tapi jalan pikiranmu yang terlampau kanak-kanakan bikin orang merasa kasihan. Hmmm….! Jika ular saktipun dapat kau punahkan, tak nanti lohu akan menggunakan senjata ampuh tersebut khusus untuk menghadapi dirimu” “Dapat atau tidak kupunahkan pengaruh racun tersebut adalah urusan pribadiku sendiri, lebih baik engkau tak usah menguatirkan bagi keselamatan jiwaku”

Cwan Wi sendiri ketika itu merasa setengah percaya setengah tidak, ia ikut menimbrung, “Jiko, benarkah engkau punya keyakinan untuk memunahkan pengaruh racun itu? Menurut Toako, sin-hui atau ular sakti adalah sejenis racun yang mirip dengan Ku-tok racun ganas yang bisa menyusup sendiri kedalam tubuh manusia melalui ilmu macam hypnotis, bahkan aku dengan bibi sendiripun tak mampu untuk memunahkan pengaruh racun yang amat jahat itu!”

Diam-diam Hoa In-liong merasa terkejut sehabis mendengar ucapan itu, sampai-sampai paras mukanya juga ikut berubah.

Ternyata ia merasa yakin kalau Toanio-nya yakni Chin Wan-hong mampu untuk mengobati pengaruh racun ganas dari jenis apapun jua. Maka dari itu dalam pikirannya, racun yang diidapnya sekarang tak perlu terlampau dikuatirkan, toh akhirnya ia bisa minta pertolongan Toanio-nya untuk punahkan pengaruh racun itu.

Tapi sekarang, setelah Cwan Wi menyatakan bahwa ibunya pun tidak memiliki kemampuan untuk memunahkan racun tersebut, dia baru mulai kuatir bercampur gelisah. Selain cemas diapun mulai memahami apa sebabnya Toako mengutus orang untuk mencegah dirinya pergi ke bukit Yan- san untuk memenuhi janji.

Tapi….perkataan sudah terlanjur diutarakan keluar, apakah dia harus menyesali ucapan tersebut?

Tidak! Tentu saja tidak! Dia adalah pemuda yang angkuh dan keras kepala. Dia ingin menjadi contoh yang bisa ditiru oleh segenap umat persilatan didunia. Diapun tak ingin tunduk di bawah perintah orang. Karena itu setelah berpikir sebentar, akhirnya dia memutuskan untuk pasrahkan mati hidupnya pada nasib.

Sekalipun akhirnya racun Sin-hui yang diidapnya tak berhasil di punahkan, dia juga tak menjilat kembali kata-kata yang telah diutarakan keluar itu sehingga nantinya dibuat bahan godaan oleh musuhnya.

Disamping itu,setelah anak muda itupun merasa bahwa tugasnya yang terpenting pada saat ini adalah mengusir orang-orang Mo-kauw dari daratan Tionggoan. Soal menolong diri sendiri, lebih baik dipikirkan nanti saja.

Demikianlah, mengambil keputusan, ia pun tertawa ewa. “Adik Wi tak perlu kuatir” katanya kemudian, “Sejak kecil aku sudah kebal terhadap segala jenis racun. Aku rasa kalau cuma ular kecil saja masih belum cukup untuk merenggut nyawaku. Sekarang berdirilah disamping gelanggang dan lindungilah aku dari situ. Sebab aku hendak memberi suatu pelajaran bagaimana caranya menjadi seorang manusia yang berbudaya halus kepada suku-suku asing yang masih biadab ini. Biar mereka tahu bahwa ilmu silat daratan Tionggoan bukan ilmu silat sembarangan!”

Setelah berhenti sebentar, pelan-pelan sinar matanya dialihkan kewajah kawanan jago Mo-kauw itu dan ujarnya kembali dengan wajah amat serius. “Sekarang, engkau boleh segera melancarkan serangan!”

Waktu itu paras muka Hoa In-liong telah mengalami perubahan, ini dapat terlihat oleh Cwan Wi dengan jelasnya.

Sebagai orang manusia cerdas, seketika itu juga ia mengerti bahwa racun yang mengeram ditubuh Hoa In-liong benar-benar sudah terlalu dalam. Jika ia harus bertempur dengan memaksakan dirinya, maka keselamatan jiwanya akan terancam bahaya maut.

Rupanya rasa simpatiknya terhadap Hoa In-liong sudah menjurus pada suatu perasaan simpatik yang khusus. Begitu kuatirnya ia atas keselamatan Hoa In-liong jelas tercermin di wajahnya.

“Tidak! Tidak boleh!” Demikianlah ia berteriak dengan suara yang amat gelisah, “Jiko, engkau saja yang melindungi aku dari sisi gelanggang. Biar aku saja yang hajar bandot tua yang tak tahu diri itu”

Hu-yan Kiong yang selama ini hanya membungkam, tiba- tiba tertawa dingin dengan nada yang sinis. “Hee…. hee…. he…. Sauya, menurut pendapatku, lebih baik engkau jangan mencampuri urusan yang bukan merupakan urusan pribadimu.”

Cwan Wi bukannya mundur sebaliknya malah maju ke muka dan menghadang dihadapan Hoa In-liong, dengan mata melotot besar teriaknya lantang, “Kau berani bertempur melawan aku? Hmm….! Jika tidak berani, cepat tinggalkan obat penawar racun, tarik kembali semua makhluk makhluk jelekmu yang beracun dan enyah dari sini, menggelinding pulang ke Seng-sut-hay”

“Haa…. haa…. haa…. Bocah muda, rupanya sebelum dikasi pelajaran yang setimpal, kau pandainya cuma ngebacot melulu dengan kata-kata yang tak sedap di dengar. Hmm…. Tahukah engkau apa maksud kedatanganku kemari? Apa yang kau andalkan sehingga begitu berani mengusir….”

“Tutup bacot anjingmu!” Tukas Cwan Wi dengan wajah membenci, “Ayoh cepat turun tangan! Bukankah engkau hendak menangkap kami semua? Kenapa tidak juga turun tangan?”

“Kenapa lohu musti bertempur melawan dirimu?” Hu-yan Kiong balik bertanya dengan dahi berkerut.

“Kurang ajar! Orang ini betul betul membingungkan” Teriak Cwan Wi makin marah, “Bukankah barusan kau telah bersiap sedia untuk turun tangan….?”

Dengan wajah serius Hu-yan Kiong manggut-manggut. “Yaa, betul! Barusan aku memang ada maksud untuk sekalian membekuk dirimu, sebab waktu itu aku menyangka bahwa engkau juga berasal dari keluarga Hoa. Tapi sekarang, setelah kuketahui bahwa kau sibocah cilik bukan keturunan dari keluarga Hoa, maka niatku yang pertama tadi terpaksa kubatalkan. Lohu tidak ingin menanam bibit permusuhan lagi dengan pihak lain. Oleh sebab itulah kuanjurkan kepadamu agar jangan mencampuri urusan yang bukan menjadi urusanmu”.

Tanpa berpikir panjang Cwan Wi langsung berteriak, “Siapa bilang kalau aku bukan….”

Tiba-tiba perkataannya berhenti sampai ditengah jalan, paras mukapun tanpa sadar berubah jadi semu merah.

Terdengar Hu-yan Kiong tertawa terbahak-bahak. “Haa…. haa…. haaa…. Engkau tak usah berdebat lagi. Keturunan dari Hoa Thian-hong sudah dikenal oleh setiap umat persilatan di dunia ini. Padahal engkau sebut istri Hoa Thian-hong sebagai bibi, ini sudah jelas membuktikan kalau engkau bukan anaknya. Ketahuilah wahai anak muda, kedatangan lohu kali ini kedaratan Tionggoan adalah untuk menjumpai keluarga Hoa. Urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan dirimu.

Sekalipun selama pembicaraan tadi kau kurang senonoh kepadaku, tapi aku tak ingin mencari urusan dengan dirimu. Karenanya lebih baik kau tak usah mencampuri urusan kami lagi, mengerti….?”

Orang ini betul-betul seorang manusia yang licik sekali, sudah jelas ia takut terhadap kelihayan Cwan Wi. Sudah jelas dia ingin mencari keuntungan dari keadaan Hoa In-liong yang lemah. Karena ia tidak berharap Cwan Wi ikut serta dalam pertarungan itu, maka dengan kelihayannya bersilat lidah, ia beralih seakan-akan sedang melaksanakan perintah atasan saja dan sikapnya tak berani membantah perintah atasan, maksudnya agar musuh yang disegani itu tidak turut campur dalam pertikaian mereka.

Bagaimanapun juga, Cwan Wi masih terlampau muda untuk dibandingkan dengan Hu-yan Kiong yang tua bangkotan, tentu saja ia tak sampai menduga akan kelicikan orang. Untuk sesaat ia jadi gelagapan dan tak mampu menanggapi ucapan lawan.

Ho In-liong merupakan seorang pemuda yang keras kepala, meski dia adalah seorang Kuncu, seorang laki-laki sejati. Sejak pertama kali tadi ia memang sudah berencana untuk mengadakan duel satu lawan satu dengan Hu-yan Kiong untuk menguji kepandaian masing-masing.

Karena itu, setelah dilihatnya Cwan Wi terpojok oleh kata- kata lawan sehingga tak mampu menjawab, cepat ia menarik tangannya sambil berkata lembut, “Adik Wi, beristirahatlah dulu disitu! Jika akhirnya aku tak sanggup menandingi kelihayan musuh, kau boleh turun tangan menggantikan kedudukanku. Waktu itu baik engkau berdalih ingin menolong aku atau ingin balaskan dendam bagiku, dengan sangat mudahnya semua itu bisa kau pakai sebagai alasan. lagipula, bagaimanapun juga nama baik ayahku tak dapat hancur ditanganku. Mengertikah engkau dengan kata-kataku ini?”. Setelah menyinggung tentang nama baik Hoa Thian-hong, Cwan Wi benar-benar tak berani mencegah lagi.

Dengan perasaan berat hati ia menengadah dan mengawasi wajah pemuda itu lekat-lekat, kemudian mengangguk lirih. “Aku mengerti” sahutnya, “Jiko, kau harus hati-hati lho!”

Tersenyum Hoa In-liong melihat kekuatiran orang, ditepuknya bahu anak muda itu pelan kemudian menengadah kedepan memandang Hu-yan Kiong seraya berkata, “Aku orang she-Hoa tidak biasa berbuat pura-pura. Terus terang kuakui bahwa hingga sekarang Sin-hui atau racun ular kecil yang mengeram ditubuhku belum punah, tentu saja tenaga dalamku setingkat lebih rendah dari biasanya. Tapi jika engkau ingin mencari kemenangan dengan memanfaatkan keadaanku ini, maka perhitunganmu itu meleset sama sekali. Tidak segampang itu kau akan peroleh kemenanganmu. Malah kuanjurkan kepadamu, lebih baik bertindaklah lebih berhati hati agar nyawamu tidak ikut kabur”

“Huuuh! Lagakmu soknya bukan kepalang” ejek Hu-yan Kiong dengan sombongnya, “Jangan nasehati aku untuk berhati hati, karena engkau sendirilah yang harus berhati hati menghadapi diriku. Tapi Hee…. hee…. hee…. Engkaupun tak perlu kuatir, sebab aku pasti akan mengampuni jiwamu”

“Kau tak usah mengampuni jiwaku. Aku hanya berharap bila engkau menderita kekalahan nanti, simpanlah kembali semua makhluk jelekmu itu dari tubuh sang dara dan lepaskan Wan Hong-giok dari tahananmu!”

Hu yan Kiong segera mencibirkan bibirnya dan tertawa licik dengan sinisnya. “Memangnya kau sendiri tidak menginginkan obat penawar untuk racun yang mengeram dalam tubuhmu?” “Aku orang she Hoa yakin masih sanggup untuk melebur sari racun yang bersarang ditubuhku hingga lenyap sama sekali. Kau tak usah menguatirkan keselamatan jiwaku”

Sembari berkata, dia masukkan kembali pedang antiknya kedalam sarungnya….

“Eeeeh. Kenapa kau? Kenapa tidak menggunakan pedang?” tegur Hu-yan Kiong dengan dahi berkerut.

“Aku rasa ilmu pedang dari aku orang she Hoa tentunya sudah kau saksikan bukan? Padahal diantara kita tidak terikat dendam sakit hati atau permusuhan apapun jua. Aku tidak punya rencana untuk membinasakan dirimu!”

“Waaah….Tidak boleh begitu! Tidak boleh begitu!” Tiba-tiba Leng-ji berteriak lengking, “Orang itu mempunyai ilmu silat istimewa, tenaga pukulan tak sanggup melukai dirinya….”

Kalau Leng-ji cemas, maka Cwan Wi lebih-lebih gelisah lagi, dia ikut berteriak, “Jiko, bila engkau tak mau menggunakan pedang, biarlah aku saja yang maju menggantikan dirimu”

Sambil berteriak ia maju ke depan dan siap menerjang diri Hu-yan Kiong yang berada dihadapannya.

Dengan cepat Hoa In-liong menggerakkan lengan kirinya untuk menarik lengan pemuda itu, katanya sambil tersenyum, “Adik Wi, dengarkan dulu perkataanku. Pedang itu tajam dan tidak bermata. Setiap kali digunakan tentu akan mengakibatkan bercucurannya darah kental. Padahal tujuan kita kali ini adalah untuk menolong orang, kita harus belajar berbuat kebajikan. Selain daripada itu, akupun telah menggunakan pedang untuk membunuh salah seorang diantara mereka, maka aku pikir semestinya merekapun harus diberi kesempatan untuk merasakan pula kelihayanku dalam bidang ilmu lainnya”

“Aaah….Kamu ini sok pintar, sok berlagak bijaksana. Kalau kau tidak bunuh bandot tua itu, dialah yang akan membinasakan dirimu”, teriak Leng-ji dengan cemas.

“Tidak mungkin!” ujar Hoa In-liong sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, “Tujuannya adalah menangkap aku hidup hidup, agar dia bisa membawa aku pulang ke Seng-sut- hay dan ditukar dengan pahala besar baginya”

Hu-yan Kiong terbahak-bahak dengan kerasnya. “Haa…. haa…. haa…. Bagus sekali! Anggaplah engkau memang cerdik dan pandai menebak jalan pikiran orang. Nah, untuk kecerdasanmu itu, akupun akan memberi keringanan- keringanan untukmu pribadi. Mari kita beri batas pertarungan sampai seratus gebrakan belaka. Jikalau dalam seratus gebrakan engkau dapat mempertahankan diri tidak kalah juga tidak menang, maka anggap saja aku yang kalah dan segala sesuatunya terserah pada keputusanmu”

Orang ini menyangka bahwa ilmu silat yang di milikinya sudah mencapai puncak kesempurnaan. Apalagi tenaga pukulan macam ilmu telapak tangan maupun ilmu jari sama sekali tidak berguna terhadapnya. Ditambah pula Hoa In-liong sudah terkena racun jahat dari ular kecil, sudah pasti tenaga dalamnya akan mengalami penurunan secara drastis, delapan puluh persen kemenangan berada dipihaknya.

Oleh karena ia yakin kalau kemenangan pasti berada dipihaknya, maka sambil berbicara sabuk naga peraknya diikatkan kembali diatas pinggangnya.

Sesudah pihak musuhpun mengikat kembali senjata ikat pinggangnya, Cwan Wi agak sedikit berlega hati, namun ia toh berkata kembali memperingatkan iblis tua itu, “Kuperingatkan kepadamu, jangan bertempur dengan gunakan akal busuk.

Sebab jika kau pakai siasat licik, maka akupun tak akan memperdulikan apakah kalian bertarung dengan janji atau tidak, aku bisa main kerubut untuk membinasakan dirimu!”

Hu-yan Kiong tertawa sombong, dia segera menjura. “Hoa loji, sekarang engkau boleh melancarkan serangan terlebih dahulu.!”

“Hati-hatilah!” kata Hoa In-liong,

Dia maju kedepan dan sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.

Dalam serangan tersebut terseliplah inti sari dari suatu kepandaian yang luar biasa. Tenaga serangan tidak terpancar keluar sekaligus, sedang arah serangan meliputi batok kepala, wajah serta dada Hu-yan Kiong. Itu berarti serangan tersebut bisa berupa serangan sungguhan, bisa pula berupa serangan tipuan.

Dalam keadaan demikian, bilamana Hu-yan Kiong tidak dapat menghadapi secara tetap, dia terluka parah seketika itu juga.

Menyaksikan gerak serangan musuhnya, dimana-dimana Hu-yan Kiong merasa terperanjat, cepat pikirnya, “Huuuh….! Tak kunyana kalau bocah keparat ini memiliki ilmu silat yang benar-benar luar biasa lihainya. Aku tak boleh menghadapinya secara gegabah”

Ia tidak berani berayal lagi, kepalannya segera dirangkap menjadi satu sambil berebut maju ke depan. Dengan sistim pertarungan keras lawan keras dia sambut datangnya ancaman tersebut. “Bagus….!” bentak Hoa In-liong keras-keras.

Lengan kirinya lantas diangkat mengimbangi gerakan tubuhnya yang berputar kencang. Dengan jurus oh-hau-po-yo (hariman lapar menerkam kambing) suatu gerakan membacok yang tajam dia babat bahu dan punggung lawan….

Sebelum mendapat tugas untuk berkunjung ke daratan Tionggoan, Hu-yan Kiong telah diberi kesempatan oleh Tang- kwik Siu, itu cikal bakal Mo-kauw untuk menyelidiki pelbagai kepandaian silat yang diandalkan Hoa Thian-hong tempo dulu.

Maka begitu melihat datangnya serangan tersebut, ia lantas mengerti bahwa serangan ini diciptakan berdasarkan gerak jurus “Kun siu ci tau” (perlawanan binatang yang terkurung) yang amat tersohor itu, maka dia mengambil keputusan untuk tidak melayaninya secara keras lawan keras.

Pengalamannya menghadapi serangan musuh sudah amat matang dan pengalamannya cukup kawakan. Setelah ia dapat menebak aliran gerak jurus yang dipergunakan musuhnya, tentu saja ia telah mempersiapkan pula jurus pemecahannya.

Tampak sepasang kakinya menjejak permukaan tanah, kemudian badannya menjauhkan diri ke sisi kiri. Berbareng dengan gerakan itu tiba-tiba terdengar suara jari-jari tangan serta persendian tulang yang bergemerutukan nyaring.

Hoa In-liong tertegun. Cepat iblis tua melompat ke udara, telapak tangan kanannya direntangkan seperti cakar kuku garuda. Diiringi bentakan nyaring yang menggelegar dia hantam dada Hoa-In liong.

Itulah ilmu pukulan Siu-gong-kun, sebuah ilmu pukulan udara kosong yang maha dahsyat. Siu-gong-kun atau ilmu pukulan udara kosong merupakan sejenis ilmu silat yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan. Tapi dalam kitab pusaka Thian-hua Cha-ki, hal tersebut tercatat dengan jelasnya.

Sebagaimana diketahui, kitab catatan Thian-hua cha-ki yang sangat luar biasa itu dulu diserahkan kepada Tiangsunpoh untuk disimpan secara baik-baik. Sedang Tiangsunpoh mempunyai hubungan persahabatan yang begitu akrab dengan Pek Siau-thian. Oleh sebab itu dia seringkali berkunjung ke perkampungan Liok soat-san-ceng.

Hoa In-liong amat disayang oleh gwa-konya, diapun disayang oleh Tiangsunpoh. Karena itu anak muda tersebut pernah juga menyaksikan kitab pusaka Thian-hua Cha-ki.

Tidaklah aneh kalau dia segera mengenali ilmu pukulan yang dipergunakan Hu-yan Kiong sekarang adalah ilmu pukulan udara kosong. Bayangkan sendiri, mungkinkah Hu- yan Kiong dapat melukai pemuda tersebut dengan gampang setelah lawannya juga memahami gerak pukulan yang dia pergunakan?

Sekalipun demikian, Hoa In-liong hanya tahu bahwa ilmu tersebut adalah ilmu gerakan Siu-gong-kun. Soal dimanakah letak inti kekuatan dan inti kelihayan dari ilmu pukulan tersebut, ia kurang begitu tahu.

Untuk menghadapi ancaman semacam itu, jari tangannya segera ditegangkan sekeras tembak, kemudian disodok keatas udara dimana telapak tangan musuh sedang mengancam tiba.

Hu-yan Kiong tertawa terbahak-bahak. Dari pukulan kepalan ia cepat merubah serangannya menjadi pukulan telapak tangan. Begitu desingan angin serangan musuh terhindar, ia balas menyodok pusar dari Hoa In-liong.

Hoa In-liong sendiripun diam-diam merasa terkejut, kecepatan musuhnya dalam berganti jurus, pikirnya, “Tampaknya orang ini hapal sekali dengan gerakan jurus serangan dari keluarga Hoa. Bukan saja ia dapat menghindari setiap serangan tipuan dengan serangan tipuan. Melepaskan serangan balasan tepat pada waktunya. Bahkan kecepatan gerak serangannya melebihi sambaran petir, ini berarti mereka memang sudah memikirkan gerakan pemecahan terhadap ilmu silat kami. Aku tak boleh menggunakan aturan pada umumnya untuk melayani dia, apalagi hanya menyerang dengan jurus-jurus serangan dari ilmu Ci-yu-jit-ciat serta Hu- in-ciang-hoat”

Rupanya serangan totokon jari tangan yang dipergunakan barusan tak lain adalah perubahan dari lmu sakti Ci-yu-jit-ciat.

Untuk melancarkan serangan dengan ilmu Ci-yu-jit-ciat tersebut, orang bisa menyerang baik dengan ilmu telapak tangan maupun dengan ilmu totokan jari. Yang sama adalah semua serangan tertuju untuk mendobrak pertahanan lawan. Sulit bagi orang yang tidak mengetahui gerak pukulan tersebut untuk memecahkannya.

Oleh sebab itu, dikala Hoa In-liong saksikan pukulan musuh tiba-tiba dirubah menjadi ilmu telapak tangan dan pusarnya yang terancam oleh serangan tersebut, tahulah dia bahwa Hu- yan Kiong telah berhasil menyelidiki inti kekuatan dari kepandaiannya dan telah mempersiapkan pula ilmu pemecahannya.

Tak sempat ia berpikir terlampaulama dalam keadaan seperti ini, sebuah tendangan kilat segera dilancarkan kedepan. Menyusul kemudian telapak tangannya dibalik segera membabat keluar, menyapu jalan darah Oh-keng-hiat disisi telinga Hu-yan Kiong.

Baik pukulan telapak tangan maupun tendangan kilat tersebut, semuanya dilancarkan dikala ia memutar badannya sambil menghindari serangan musuh. Sekalipun demikian, tenaga serangannya sangat kuat sehingga menimbulkan desingan angin tajam yang memekakkan telinga.

Hu-yan Kiong tidak menyangka sampai kesitu. Setelah serangan tajam musuhnya tiba didepan mata, ia baru terperanjat. Cepat tubuhnya melambung ke udara sambil mundur tiga langkah ke belakang.

Bagaimanapun juga Hu-yan Kiong bukan termasuk manusia sembarangan, jelek-jelek dia juga merupakan seorang jago kawanan yang berpengalaman luas. Begitu mundur ia segera mendesak maju lagi ke depan.

Tiba-tiba ia membentak keras, lengan kanannya berbunyi gemerutukan nyaring. Rupanya ia telah mengeluarkan ilmu pukulan Lei sim toh sin siang (pukulan pemisah hati pem betot sukma) yang paling diandalkan perkumpulan Mo-kauw.

Sungguh dahsyat dan cepat ancaman tersebut. Dalam waktu singkat tahu-tahu kepalan musuh sudah muncul didepan anak muda itu.

Padahal pada waktu Hoa In-liong sedang mempersiapkan sebuah serangan kilat untuk meneter lawannya. Ketika bayangan telapak tangan tiba-tiba muncul di depan mata dan langsung mengancam kepalanya, tidak ragu-ragu lagi lengan kirinya di kebutkan ke muka. Sekali lagi dia gunakan ilmu pukulan Hu in ciang hoat untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut…. “Ploook!”

Suatu benturan nyaring segera terjadi dengan dahsyatnya ketika sepasang telapak tangan saling beradu. Kedua belah pihak sama-sama bergetar keras oleh tenaga pantulan yang dihasilkan dari benturan itu.

Secepat kilat mereka memutar badannya untuk membuang sisa tenaga yang masih mendesak tubuh mereka, kemudian secepat kilat mereka saling menyodok saling menyerang lagi dengan serunya.

Baik Hoa ln-liong maupun Hu-yan Kiong sama-sama merupakan jago silat kelas satu dalam dunia persilatan. Dalam benturan yang barusan terjadi, mereka lantas tahu bahwa kekuatan yang dimiliki lawannya seimbang dengan kekuatan yang mereka miliki. Merekapun paham, tak mungkin mereka bisa cari kemenangan dengan mengandalkan tenaga dalam yang sempurna, sebab siapapun tak bisa mengalahkan lawannya.

Ini berarti menang kalahnya pertarungan harus dicari dengan mengandalkan sempurnanya jurus serangan serta luasnya pengalaman mereka dalam menghadapi pertempuran.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah saling menyerang, saling menerjang dengan serunya. Dibalik serangan gencar terselip suatu pertahanan yang tangguh, sebentar saja tiga buah gebrakan sudah lewat tanpa terasa.

Serangkaian pertarungan sengit itu ibaratnya hembusan angin puyuh dan hujan badai, begitu gencar. Begitu ganasnya membuat para penonton yang mengikuti jalannya pertarungan dari tepi gelanggang harus menahan nafas dan menekan rasa tegangnya. Ilmu silat yang dipelajari Hoa In-liong sebetulnya sangat luas dan terdiri dari inti-inti kepandaian yang tak terkirakan dahsyatnya. Setiap pukulan, setiap totokan yang dia lancarkan semuanya tertuju pada bagian-bagian mematikan di tubuh musuhnya.

Sayang racun Sin-hui (ular kecil sakti) yang mengeram dalam tubuhnya belum punah. Kehadiran racun itu otomatis mempengaruhi juga daya konsentrasinya. Setiap kali dia kuatir kalau racun dalam tubuhnya tiba-tiba kambuh dan mempengaruhi badannya. Sebab itu sepanjang pertarungan berlangsung, ia tak berani menggunakan tenaga terlampau besar.

Dia selalu kuatir, jika seandainya serangan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga tidak mencapai pada sasarannya, kesempatan tersebut segera akan dimanfaatkan lawan untuk balas mendesaknya. Karena itu setiap kali ada kesempatan baik untuk merebut kemenangan, kesempatan itu selalu dibuang dengan begitu saja. Tentu saja kejadian ini membuat Cwan Wi yang mengikuti jalannya pertarungan dari tepi gelanggang jadi cemas bercampur gegetun.

Tak bisa dibantah lagi kalau Hu-yan Kiong adalah seorang tokoh sakti perkumpulan Mo-kauw yang sangat diandalkan perkumpulannya. Ilmu silat yang dia pelajari terdiri dari aneka ragam yang tak terhitung jumlahnya, bahkan boleh dibilang kepandaiannya tidak berada dibawah kepandaian Tang-kwik Siau dimasa jayanya.

Tetapi, lantaran Hoa In-liong selalu bersikap waspada dan hati-hati. Selalu melayani musuhnya dengan jurus serangan yang tangguh dan serangan yang dipakaipun memiliki perubahan yang tak terduga, maka dia jadi ragu-ragu untuk melepaskan serangan yang mematikan. Dia kuatir masuk perangkap dan terjebak oleh akal licik lawannya. Demikianlah, sekejap mata kemudian lima enam puluh tujuh jurus kembali sudah lewat. Tampaknya walaupun batas seratus jurus sudah dilampaui menang kalah belum tentu dapat ditetapkan dengan pasti.

Sementara itu Leng-ji sudah beranjak dan duduk disamping Cwan Wi. Ketika dilihatnya pertarungan berlangsung makin lama serrakin hebat, akhirnya ia jadi habis sabarnya, diam- dian bisiknya dengan suara yang lirih, “Siau….Sauya, sudah kau hitung jumlah jurusnya?”

“Ssst….! Jangan berisik” omel Cwan Wi dengan suara kesal. “Tidak bisa….! Tidak bisa begitu….” teriak Leng-ji lagi

dengan cemas. “Sekarang sudah mencapai sembilan puluh

tiga jurus. Jika Ji kongcu tidak melancarkan lagi serangan serangan yang mematikan bagaimana mungkin pertarungan ini bisa diakhiri secara menguntungkan….?”

Waktu itu seluruh perhatian dan konsentrasi Cwan Wi tertuju pada jalannya pertarungan. Mendengar pertanyaan itu dengan rada mendongkol ia lantas berseru, “Lalu bagaimana caranya, untuk mengakhiri pertarungan secara menguntungkan?”

“Makhluk sialan itu tidak mempan dibabat atau ditotok. Bila Ji kongcu tidak menggunakan pedang, itu berarti pertarungan yang lebih lamapun hanya suatu pertarungan yang menghamburkan tenaga dengan percuma. Aku lihat lebih baik engkau turun tangan sendiri saja!”

Tampaknya Cwan-Wi jengkel sekali dengan kecerewetan kacungnya, sambil berpaling dengan muka marah, ia berseru, “Kamu ini cerewetnya bukan main. Hati-hati kamu kalau sampai ocehanmu membuyarkan konsentrasi dari Ji kongcu. Lihat saja nanti, akan kuhajar mulutmu atau tidak”

Kontan Leng-ji mencibirkan bibirnya. “Hemmmm….

Memangnya Leng-ji cuma asal ngomong? Semua perkataanku kan kata-kata yang sejujurnya!”

Selama pembicaraan itu berlangsung, setiap patah kata mereka diutarakan dengan suara yang nyaring. Tentu saja Hoa In-liong serta Hu-yan Kiong yang berada ditengah gelanggang dapat mendengar semua pembicaraan tersebut dengan amat jelas.

Diam-diam Hoa In-liong mulai menyesal, dia berpikir, “Yaa…. kalau begitu memang akulah yang salah perhitungan. Jika sejak pertama kali tadi kugunakan pedang, tak nanti pertarungan ini kulangsungkan dengan begitu ngotot dan bersusah payah”

Lain halnya Hu-yan Kiong, dia jadi sangat gembira sesudah mendengar perkataan itu, gerutunya di hati, “Aku memang betul-betul tolol! Yaa, betul juga perkataan kacung sialan itu. Apa yang musti ku kuatirkan? Baik tenaga pukulan maupun tenaga totokan kan sama sekali tidak mempan terhadap diriku. Kenapa tidak kugunakan kelebihanku ini untuk memusatkan semua perhatian dan kekuatanku untuk melancarkan serangan? Haa…. haa…. haa…. untunglah kedua orang bocah cilik itu memperingatkan diriku. Kalau tidak, mungkin dalam seratus gebrakan mendatangpun pertarungan ini tak bisa dimenangkan olehku. Kalau sampai demikian adanya, akan ditaruh dimanakah wajahku ini?”

Berpikir sampai disitu, seketika itu juga semangat tempurnya berkobar kembali. Dia segera membuka serangannya dengan serangkaian pukulan bertubi-tubi yang amat tangguh. Dalam waktu singkat, permainan serangannya juga ikut berubah. Dari ilmu pukulan Thian-mo-ciang, Hu-kut-sin-kun sampai Tay-jiu-eng dari kalangan Buddha, Sian ki-ci-lek, Tong- pit-mo-ciang dan Ngo kui-im-hong-jiau semuanya dikeluarkan secara berantai.

Bayangkan saja bagaimana dahsyatnya serangan maut yang rata-rata menggunakan jurus aneh yang belum pernah dijumpai dikolong langit ini? Dalam waktu singkat dari atas kepala sampai lambung, dada dan kaki Hoa In-liong berada dibawah kurungan angin pukulannya.

Dengan adanya perubahan tersebut, keadaan Hoa In-liong lah yang semakin parah, ia terdesak hebat.

Sejak mendengar seruan dari Leng-ji yang membuat hatinya menyesal, konsentrasinya sudah tak dapat pulih kembali seperti sedia kala. Apalagi setelah diserang secara gencar oleh Hu-yan Kiong, seketika itu juga dia kehilangan posisinya yang menguntungkan. Selangkah demi selangkah ia mundur terus kebelakang. Dalam keadaan begini ia sudah tidak memiliki kemampuan lagi untuk melancarkan serangan balasan.

Dalam waktu singkat, sekujur badan Hoa In-liong mandi keringat. Nafasnya yang tersengkal-sengkal secara lapat-lapat dapat kedengaran jelas. Dia masih memiliki ilmu meringankan tubuh yang bisa diandalkan sehingga setiap saat dia bisa berkelebat kekiri atau berkelit ke kanan. Setiap terancam bahaya, ancaman itu dapat dipunahkan dengan begitu saja.

Kini serangan lawan sudah mencapai jurusan yang ke sembilan puluh sembilan. Satu jurus lagi berarti batas seratus jurus sudah akan terpenuhi, asal Hoa In-liong dapat mempertahankan diri terhadap serangan musuhnya yang terakhir ini, maka berarti pula kemenangan berada dipihaknya.

Serta merta suasana berubah jadi amat tegang. Setiap orang yang berada ditepi gelanggang melototkan sepasang matanya bulat-bulat, terutama sekali siau Leng-ji.

Kacung buku ini tak kuasa mengendalikan emosinya. Tanpa sadar ia bersorak gembira, “Tinuggal satu jurus! Tinggal satu jurus! Ji kongcu, kau musti lebih berhati-hati lagi!”

Tiba-tiba Hoa In-liong berpekik nyaring. Tubuhnya secepat kilat melambung ke udara, menyusul kemudian ia berjumpalitan beberapa kali diangkasa. Setelah itu dengan kaki di atas, kepala dibawah dia membuat gerakan setengah busur dengan jurus Ciong-eng-tian-ci (burung elang membentangkan sayap), langsung dengan membawa desingan angin tajam menyambar batok kepala Hu-yan Kiong.

Kiranya sejak kehilangan posisi yang menguntungkan, keadaan Hoa In-liong sudah keteter hebat sehingga terdesak dibawah angin. Menghadapi ancaman yang datangnya bertubi-tubi itu, saking lelahnya dia sudah mandi keringat.

Betapa murung dan kesalnya anak muda itu menghadapi keadaan yang sangat tidak menguntungkan tersebut, sementara tekanan musuh dirasakan makin lama semakin kuat. Tiba-tiba ia mendengar teriakan gembira dari Leng-ji yang mengatakan tinggal satu jurus lagi. Rasa gelisah yang kemudian muncul seakan-akan merubah kekuatan dalam tubuhnya menjadi satu kali lipat lebih dahsyat dari keadaan semula.

Harus diterangkan disini, ketika itu Hoa In-liong sedang mencapai pada usia yaug muda dan kuat-kuatnya tenaga manusia. Ditambah lagi wataknya yang tinggi hati dan tak sudi menyerah pada kekuatan lawan. Dalam keadaan semacam ini ia tak sudi mencari kemenangan dengan membonceng kesempatan baik yang tersedia baginya. Namun diapun tak ingin dikalahkan lawannya sehingga mempengaruhi nama baik keluarga Hoa, di samping ambisinya untuk menegakkan nama besar untuk dirinya sendiri.

Karena itu begitu mendengar suara teriakan dari Leng-ji, seketika itu juga sifat angkuh dan tinggi hatinya terangsang kembali. Ia tidak memperdulikan lagi apakah racun Sin-hui yang bersarang dalam tubuhnya telah kambuh atau tidak, segenap tenaga murni yang dimilikinya langsung dikerahkan keluar. Setelah melambung ke udara dan terlepas dari lingkaran pengaruh angin serangan Hu-yan Kiong, dia melayang kesamping untuk melepaskan diri dari cengkeraman lawan.

Begitulah, setelah dia berhasil melayang di udara, tubuhnya segera berjumpalitan beberapa kali dan menerjang kembali ke bawah. Lengan kirinya langsung diayun kedepan melepaskan segulung angin pukulan yang sangat kuat. Sementara jari tengah tangan kanannya dengan jurus “menyerang sampai mati” menyodok jalan darah Hoa kay hiat di tubuh Hu-yan Kiong.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini berlangsung dalam sekejap mata.

Dalam pada itu, Hu-yan-Kiong baru saja menyerang jalan darah Cian-keng-hiat dibahu Hoa In-liong dengan jurus Sin liong tam jiau (naga sakti unjukkan cakar).

Ketika itu jalan pemikirannya amat sederdana.

Dianggapnya meskipun Hoa In-liong berhasil menghindarkan diri dari serangannya, tapi dalam mundurnya yang dilakukan secara gugup. Asal dia mengejar lagi dengan gerakan jurus yang tak berubah, pastilah pihak musuh akan dibuat kelabakan setengah mati.

Asal musuh telah dibikin kelabakan, maka dia tak akan memperdulikan apakah serangannya sudah melewati jurus yang keseratus atau tidak. Dengan suatu ancaman maut akan disusulnya pemuda itu dan bila perlu menghajarnya lebih dulu sampai terluka parah.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali berada diluar dugaannya. Menanti ia temukan bahwa bayangan tubuh dari Hoa In-liong secara tiba-tiba sudah lenyap tak berbekas. Angin pukulan yang maha dahsyat serta totokan jari tangan yang tajam tiba-tiba sudah menyelinap di atas badannya.

Kejadian ini sangat mengejutkan dari Hu-yan Kiong, juga mengejutkan diri Cwan Wi.

Rupanya Cwan Wi kuatir Hu-yan Kiong betul-betul kebal terhadap serangan pukulan dan serangan jari lawan yang mengakibatkan Hoa In-liong mengalami nasib seperti apa yang dialami Leng-ji yakni terhantam balik oleh tenaga sin- kang pelindung tubuhnya, maka ditengah jeritan kagetnya cepat ia memburu kedalam gelanggang untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Padahal Hu-yan Kiong sendiripun dibuat gugup dan kelabakan setengah mati oleh datangnya ancaman yang muncul secara diluar dugaan. Dalam keadaan begini, dia kehilangan daya kemampuannya untuk menguasai diri, sehingga jeritan kagetnya hampir berkumandang bersamaan waktunya dengan jeritan Cwan Wi.

Disaat Cwan Wi melayang keudara dan menerjang masuk kedalam gelanggang, serangan dahsyat dari Hoa In-liong sudah bersarang telak diatas bahu Hu-yan Kiong, sedang totokan jari tangan kanannya menyodok telak dada iblis tua itu.

Hu-yan Kiong segera mendengus tertahan. Sepasang tangannya memegang dada dengan muka berkerut keras. Dengan sempoyongan dia mundur ke belakang sambil menahan rasa sakit.

“Kau…. Kau….” teriaknya dengan suara terperanjat.

Akhir dari pertarungan ini betul-betul berada diluar dugaan siapapun jua, sampai Cwan Wi sendiripun kebingungang tak berketentuan. Untuk sesaat dia cuma berdiri melongo-longo.

Pucat pias paras muka Hoi In-liong, tapi ia berdiri tegak bagaikan malaikat, dengan suara yang amat serius katanya, “Aku telah menangkan pertarungan ini, sekarang engkaupun harus mewujudkan janjimu. Setelah melepaskan nona Wan, harap segera angkat kaki dari sini!”

Hu-yan Kiong muntah-muntah darah segar. Bibirnya bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi setelah merenung sejenak maksud itu dibatalkan.

Ia memutar badannya menghadap anak buah Ia irinya ditepi gelanggang, dan ujarnya, “Tarik kembali semua alat persembahan, tinggalkan korban disitu dan kita segera pergi dari sini”

Kemudian sambil menghadap kembali kearah Hoa In-liong, ia berkata lebih jauh, “Hoa loji, aku lihat engkau adalah seorang enghiong yang gagah perkasa. Aku tak tega membiarkan engkau mati tersiksa. Maka secara terus terang kuakan beri tahu kepadamu racun sakti San-hui-si-sim (ular sakti menggigit hati) dari perkumpulan kami tak dapat dipunahkan oleh siapapun jua. Maka kuanjurkan kepadamu bila engkau mulai merasa tak tahan, cepat-cepatlah datang ke perkumpulan kami untuk minta obat penawarnya!”

Hoa-In-liong tersenyum. “Mati hidup manusia ditentukan oleh Yang Kuasa. Lebih baik engkau tak usah menguatirkan keselamatanku, Nah! Silahkan pergi dari tempat ini!”

Sementara itu, anak murid kau telah melaksanakan perintah pemimpinnya untuk menarik kembali semua makhluk beracun yang berada diatas tubuh Wan Hong-giok.

Hu-yan Kiong segera tertawa dingin, diapun tidak banyak berbicara lagi. Dibawah bimbingan seorang laki-laki berjubah kuning, mereka berlalu dari bukit Yan-san.

Angin gunung berhembus sepoi-sepoi, suasana diatas puncak Yan-san kembali diliputi keheningan.

Suasana di sekitar bukit itu tidak menjadi cerah karena kepergian orang-orang dari Mo-kauw itu. Wan Hong-giok masih berbaring diatas tandunya dengan badan setengah telanjang. Sementara paras muka Hoa In-liong makin lama berubah semakin pucat kelabu, hampir-hampir tak tampak warna merah darah.

Cwan Wi dan Leng-ji juga masih berdiri tertegun ditempat semula. Tampaknya kedua orang itu masih tidak percaya dengan kenyataan yang berlangsung didepan mata mereka.

Akhirnya…. Akhirnya Hoa In-liong berdiri dengan tubuh gemetar keras, tiba-tiba ia berteriak. “Adik Wi….”

Mendengar panggilan itu Cwan Wi berpaling dengan hati terperanjat. Cepat-cepat dia memburu maju ke depan, serunya dengan nada yang cemas bercampur kaget, “Jiko…. Jiko! Kau…. kenapa kau?” Gemetar yang mengguncangkan tubuh Hoa In-liong makin lama semakin keras. Nada suaranya juga ikut berubah, ia hanya bisa berbicara dengan suara tersendat-sendat, “Aku…. Aku…. Meskipun menang sebenarnya akulah yang kalah….”

Sebelum kata-kata itu sempat diakhiri, sekujur badannya telah goncang semakin keras, akhirnya ia tak kuasa menahan diri lagi….

Cepat Cwan Wi memburu maju ke depan dan memayang tubuhnya. “Keee…. kenapa kau? Kenapa kau…. ? Jiko! Jiko…. Kenapa kau….?” Teriaknya dengan cemas. “Apakah kau terluka oleh pukulan bandot tua itu?”

Hoa In-liong menggeleng. “Tidak, aku tidak dilukainya, hanya…. hanya…. Racun…. racun ular sakti itu….”

“Apa….?” Jerit Cwan Wi dengan jantung yang berdebar keras, “Kau maksudkan racun ular sakti itu mulai kambuh?”

Hoa In-liong menganguk. Dia seperti hendak mengucapkan sesuatu karena bibirnya bergerak-gerak. Namun anak muda itu sudah tidak bertenaga lagi untuk mengutarakan isi hatinya.

Waktu itu Hoa In-liong sedang merasakan suatu penderitaan yang luar biasa hebatnya. Keringat sebesar kacang kedelai membasahi seluruh jidatnya. Sinar matanya yang jeli kini sudah pudar. Gemetar yang mengguncangkan tubuhnya semakin bertambah keras. Keadaan semacam itu mirip sekali dengan seseorang yang mendekati sekaratnya.

Cwan Wi menyadari gawatnya keadaan anak muda itu, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Dia seperti orang yang kebingungan, kehilangan akal sehat. Anak muda itu hanya bisa berdiri dengan kelabakan bagaikan anak ayam kehilangan induknya.

Leng-ji yang berada disampingnya cepat berseru. “Siau sauya, cepat baringkan Ji kongcu ke tanah! Jika Ji kongcu dibiarkan berdiri terus, kesehatannya pasti akan semakin terganggu. Coba lihat! Racun ular jahat itu mulai kambuh. Pastilah hal ini terjadi karena ji-kongcu menggunakan tenaga yang berlebihan sewaktu bertempur tadi”

Cepat cepat Cwan Wi membaringkan Hoa In-liong ke tanah. Ia membiarkan tubuh anak muda itu bertindih diatas pahanya. Kemudian telapak tangan kanannya ditempelkan diatas pusar dan hawa murnipun disalurkan masuk kedalam tubuhnya.

“Jiko!” Ia berkata dengan lembut, “Berbaring saja ditumpuan badanku. Biar kucoba untuk menyalurkan hawa murni. Siapa tahu kalau hawa murniku itu berhasil mendesak keluar racun ular jahat yang mengeram dalam tubuhmu”

Lembut dan halus sekali ucapan tersebut, seakan-akan

kata-katanya itu memang betul betul muncul dari sanubarinya.

Setetes air mata terasa jatuh berlinang membasahi pipinya dan membasahi wajah Hoa In-liong.

Merasakan itu Hoa In-liong tertawa getir. “Aaaai…. Adik Wi, aku merasa amat cocok sekali dengan dirimu. Aku pun merasa gembira sekali dapat berkumpul dengan dirimu. Sebagai seorang pria kau jangan berhati lemah. Kau musti tabah dan berjiwa keras, jangan gampang mengucurkan air mata. Lapi pala, andaikata aku sampai tertimpa sesuatu musibah, engkau juga yang harus membalaskan dendam bagi diriku, kenapa….? kenapa….?” Mendadak alis matanya berkerut, nafasnya juga ikut memburu, sehingga kata kata yang belum selesai itu tak sempat dilanjutkan sampai habis….

Ketika Hoa In-liong mengatakan bahwa dia menyukai dirinya, serta merta paras muka Cwan Wi berubah jadi semu merah.

Siapa tahu kata-kata itu tak berakhir, karena ia segera menyaksikan Hoa In-liong mengerutkan dahinya dengan nafas memburu. Wajahnya kelihatan sekali betapa menderitanya dia.

Betapa terkejutnya Cwan Wi menyaksikan kejadian itu, dia segera berteriak keras, “Jiko….! Jiko!”

Dengan lemah Hoa In-liong mengulapkan tangannya. “Adik Wi, Aku…. Aku tak tahan lagi. Tolong…. Tolong tariklah kembali tenagamu….”

Cwan Wi menurut, ia tarik kembali telapak tangan kanannya, kemudian dengan penuh rasa kuatir tanyanya kembali, “Jiko, bagaimana rasanya badanmu sekarang?”

Dengan nafas tersengkal-seng Hoa In-liong menengadah. “Saat ini isi perutku terasa sakitnya bukan kepalang. Tentulah apa yang dinamakan ular sakti menggigit hati sedang mewujudkan kenyataannya!”

“Engkau terlalu keras kepala, tak mau mendengarkan perkataanku” omel Cwan Wi sambil berkerut kening, “Coba kalau kau turuti perkataanku memaksa bandot tua itu menyerahkan obat penawarnya, tentu kau tidak akan merasakan penderitaan seperti ini” Ketika berbicara sampai disitu, matanya kembali jadi merah dan air matapun jatuh bercucuran.

Sekali lagi Hoa In-liong ulapkan tangannya. “Jangan menangis! Jangan menangis! Adik Wi, aku tidak percaya kalau apa yang dikatakan sebagai siksaan “ular sakti menggigit hati” itu mampu merenggut nyawaku. Aku hanya percaya bahwa yang lurus pasti dapat menangkan yang sesat. Aku akan berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki untuk memusnahkan pergaruh racun itu dari dalam tubuhku!”

“Jiko! Apakah tidak kau dengar perkataan dari tua bangka itu?” keluh Cwan-Wi dengan sedih. “Dia bilang racun ular sakti menggigit hati tak dapat dipunahkan oleh siapapun. Racun itu adalah racun ganas hasil ciptaannya. Jika ia sudah berkata demikian, sudah pasti ucapannya bukan gertak sambal belaka!”

“Setiap benda yang berasal dari alam semesta, sadah pasti ada lawan tandingannya” kata Hoa In-liong dengan suara hambar. “Terus terang kuberitahukan kepadamu, aku pernah mendapat warisan ilmu sakti dari seorang tokoh silat. Ilmu semedi tersebut berbeda jauh dengan ilmu semedi yang sering sekali kita lihat. Siapa tahu kalau kepandaian tersebut akan bermanfaat sekali bagiku”.

Leng-ji memang belum mengenal arti kesal atau murung, tapi ia lebih gelisah dari siapapun jua. Ketika mendengar perkataan itu, segera teriaknya dengan cepat, “Kalau memang begitu, ayoh cepatlah dicoba….”

Dengan perasaan apa daya Hoa In-liong menggelengkan kepalanya. Pelan-pelan dia alihkan sinar matanya keatas tubuh Wan Hong-giok yang setengah telanjang itu. “Adik Wi!” katanya lagi, “Apakah nona Wan masih belum juga sadar dari pingsannya?” Cwan Wi ikut berpaling kearah Wan Hong-giok, kemudian sambil berkerut kening omelnya, “Kamu ini memang keterlaluan. Masa dalam keadaan seperti inipun engkau masih mempunyai kegembiraan untuk mengurusi orang lain!”

Hoa In-liong tertawa getir. “Adik Wi” katanya kemudian, “Apakah engkau sudah lupa akan maksud tujuanku datang kemari? Keadaan nona Wan sangat mengenaskan dan patut dikasihani, lihatlah tubuhnya….”

Belum sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, Cwan Wi telah menyela dari samping, “Yaa, aku tahu, dia mempunyai rahasia besar yang hendak disampaikan kepadamu!”

Sampai disitu, dia lantas berpaling kepada Leng-ji, sambil katanya, “Engkau saja yang pergi kesitu, coba tengok bagaimana keadaan nona Wan!”

Tampaknya Leng-ji juga tak puas dengan sikap Hoa In- liong yang suka mencampuri urusan orang lain. Tapi lantaran Cwan Wi yang memerintahkan tentu saja ia tak berani membantah. Maka setelah ragu-ragu sejenak akhirnya selangkah demi selangkah ia maju kedepan.

Melihat Leng-ji maju dengan langkah yang sangat lambat, dalam hati Hoa In-liong menghela napas panjang, pikirnya, “Yaa…. Bagaimanapun juga, adik Wi memang masih terlalu muda. Perasaan hatinya hanya tahu tertuju pada seseorang belaka. Aaaaii….! Dia begitu memperhatikan diriku. Aku yang menjadi Jiko-nya benar-benar tak kuasa menanggung beban untuk membuka pikirannya serta memberi pelajaran bagaimana caranya melimpahkan kasih sayang kepada segenap umat manusia” Jika Hoa In-liong berpikir demikian, maka berbeda dengan kemurungan yang mencekam perasaan Cwan Wi ketika itu.

Tatkala dilihatnya seluruh perhatian dan seluruh rasa kuatir Hoa In-liong hanya tertuju pada diri Wan Hong-giok seorang, tanpa terasa lagi dengan kening berkerut dia mengomel, “Jiko, bagaimana sih kamu ini? Leng-ji toh sudah menghampirinya. Bagaimana keadaan Wan Hong-giok pun sebentar lagi bakal ketahuan, buat apa kau demikian menguatirkan keselamatan jiwanya? Oya, bukankah tadi kau berkata bahwa kau memiliki sejenis ilmu semedi yang bisa digunakan untuk memunahkan racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhmu? Kenapa kau tidak….?”

“Tak usah terlalu buru-buru….” Tukas anak muda itu.

Cwan Wi jadi kurang senang hati, dia pun kembali menyela, “Kau tidak cemas maka akulah yang sangat cemas! Kenapa tidak bercermin dulu untuk memeriksa tampang wajahmu?

Tahukah engkau betapa mengerikannya raut wajahmu pada saat ini?”

Perkataan itu bukan suatu olok-olokan tapi memang begitulah kenyataan. Raut wajah Hoa ln-liong ketika itu memang benar-benar menakutkan sekali. Diantara warna kelabu yang menghiasi wajahnya tampak warna hitam melapisi mukanya di sana-sini. Otot-ototnya pada menonjol keluar. Ditambah pula kulitnya pada berkerut menahan penderitaan. Dari sini dapat diketahui bahwa siksaan yang dirasakan dalam perutnya bukannya berkurang sebaliknya justru makin bertambah.

Sampai di manakah penderitaan yang dialami dalam tubuhnya, tentu saja Hoa In-liong jauh lebih jelas dari siapapun. Maka dari itu ia sama sekali tidak gusar oleh makian Cwan wi, bahkan rasa terima kasihnya malahan semakin berlipat ganda

Iapun tertawa getir, lalu katanya dengan lembut, “Adik Wi, bukan berarti aku tak tahu sayang pada kesehatanku sendiri. Tapi justru lantaran ilmu semedi tersebut berbeda sekali dengan ilmu semedi pada umumnya. Lagipula akupun baru belajar belum lama, maka sampai sekarang aku belum berani melakukannya secara sembarangan….”

Pertama karena rasa ingin tahu dan kedua karena gelisah.

Sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya Cwan Wi telah menukas kembali, “Kalau memang begitu, lantas apa yang musti dilakukan?”

“Pikiran dan perasaan hatiku musti tenang lebih dulu, tenaga dalam arti leluasa tanpa ikatan. Padahal keadaan nona Wan hingga sekarang masih belum kuketahui. Hal ini masih merupakan beban dalam pikiranku. Bayangkan sendiri, jika pikiran dan perasaan belum mencapai ketenangan total, betapa berbahayanya bila semedi itu kulakukan secara dipaksakan. Bahaya yang mengancam jiwaku pasti akan berlipat ganda lebih besar lagi”

Sesudah mendengar penjelasan tersebut, Cwan Wi jadi tertegun. Ia merasa heran juga curiga, namun tidak berkata apa-apa.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Leng-ji menjerit kaget, menyusul kemudian ia berteriak-teriak keras, “Kurangajar, mampus sialan! Nona…. Oooh bukan….bukan….bukan…. Ji kongcu, cepatlah kemari!”

Hoa In-liong merasa amat terkejut, ia segera meronta dan bangun terduduk. Oleh karena mendengar jeritan kaget yang muncul secara tiba-tiba itu, perasaan hatinya bergolak keras. Karena pergolakan itu isi perutnya jadi teramat sakit….

Tak tahan lagi ia mendengus tertahan, kemudian tak bisa dicegah lagi anak muda itu roboh terjengkang ke atas tanah.

Cepat Cwan Wi menguruti dadanya dengan tangan kanan.

Kembali omelnya dengan wajah murung, “Coba lihat tampangmu itu! Sekalipun nona Wan mengalami kejadian diluar dugaan, gelisahpun apa gunanya?”

Sambil merasa sakit yang luar biasa, Hoa In-liong berbisik dengan napas tersengal, “Adik Wi…. To…. Tolong pergilah kesitu…. Coba tengoklah keadaannya”

Dengan dahi berkerut Cwan Wi menghela nafas panjang, ia segera berteriak, “Leng-ji, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa kau berlagak sok bingung macam monyet kena terasi?”

Paras muka Leng-ji diliputi kegusaran dan rasa mendongkol, ia menjawab dengan suara lantang, “Bajingan- bajingan Mo-kauw adalah manusia yang berhati busuk. Coba lihatlah, meskipun mereka mengatakan akan lepaskan nona ini, nyatanya sebelum pergi mereka telah menancapkan sebatang jarum beracun di atas dada nona Wan. Kemudian bermain gila pula disekitar pusar dan perut bawah nona ini”.